Poetry
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5
Total Views: 7141 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 8 of 110 | ‹ First  < 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 >  Last ›

Kifarin - 15/10/2012 02:49 PM
#141

Senyum Kosong


Termenung sendiri dalam gelapnya hati

Bersama terpaan angin yang menyapu sampah dihati

Sesungguhnya ada penunggu dalam hati ini

Yang slalu membuat bibir ini tersenyum manis

Namun...

Kini smua tiada berarti

Bimbang yang selalu menyelimuti

Tatkala tiba-tiba seseorang yang lebih berarti memberi arti

Arti untukku pergi dari dari penunggu hati

Mereka sangat mulia dalam hati ini

Namun harus satu diantaranya yang aku pilih

Meski menyakiti si penunggu hati ku

Sejatinya hati ini turut pilu dan tersayat

Kini...

Setiap saat aku hanya bisa memberi senyum

Memberi sesuatu yang tak berarti tuk penunggu hati

Meski senyum indah yang slalu ku berikan,

Namun miris dalam hati, karena itu palsu..

Dan ku tak berdaya menentang seseorang yang memberi arti

Karena Seorang yang memberi arti adalah ibuku...


Senyum bahagiaku untuk menuruti ibu,, senyum indahku untuk penunggu hatiku,,

dan senyum hampa itu kosong berada dalam hatiiku...



by mimi
Kufur - 15/10/2012 02:49 PM
#142

Jodohku


Kamu yang mengharapkanku

Aku bukannya tidak mencintaimu

Aku berusaha menerima cinta bagi yang mencintaiku

Aku berusaha mencintai bagi yang kucintai

Tapi aku tak ingin kau kecewa padaku

Setelah begitu besar keinginanmu kepadaku

Jangan berpikir kamu yang tak pantas untukku

Tapi aku yang tak pantas untukmu atau siapapun

Bagi kamu yang memberi cinta dan mendapatkan cintaku

Semoga kau tak pernah menyesal menerima dan mendapatkanku

Aku hanya ingin membahagiakanmu

Untukmu

Jodohku



by andrea_zein
Kifarin - 15/10/2012 02:50 PM
#143

Siapa Kamu Siapa Aku

Kalau kau membutuhkan aku
Tolong katakan,
Untuk apa.......
Untuk siapa.....
Mengapa......

Kalau kau ingin kenal aku
Katakan.......
Siapa aku....
Bagaimana aku.....

Kalau kau ingin mengajakku
Tuntun tanganku..........
Tunjukkan Jalannya........

Kalau kau berharap ada disampingku
Berkatalah, Katakan.......
Dengan sejujurnya...
aku suka kamu....
aku sayang kamu.....
aku merindukanmu.....


by bagaskara cempaka
Kufur - 15/10/2012 02:51 PM
#144

LULUH

Duka lara yang telah tertanam
Tak mampu lagi terhapus oleh senyum ku
Ku telah mati,
Ku telah hancur
Semua angan dan impian tak dapat lagi ku wujudkan
Ku ingin menatap
Ku ingin menggandeng
Ku ingin membawa
Namun...............
Ada bongkahan batu yang membara
Yang tak mampu untuk ku singkirkan
Apalagi untuk dihadang,
Yang pasti smua kan hancur, luluh lantak
Dan kini,
Aku telah luluh lantak
Dan tak dapat berdamai dengan impian yang tertanam


by bagaskara cempaka
Kifarin - 15/10/2012 02:51 PM
#145

Lalu?


semua berawal dari biasa, dari ketiadaan, dari hambar, dari nol..

kemudian terusik, lalu tergoda, sehingga kosong itu terisi setitik demi setitik..


semakin menolak, semakin bergejolak.. maka nikmatilah..

semakin menahan, semakin terjerat.. jadi mengalirlah..


mengarus bersama derasnya rasa itu menyejukkan..

gelitik gelitik itu usik si jantung hati..

membuatnya terus terisi oleh rasa, terus tergoda..


kemudian penuh..

penuh itu ternyata menyesakkan, sama seperti rasanya ku menolak..

semakin tertahan, semakin bergejolak hingga akhirnya rasaku penat..


aku hampir pecah..

aku tak mau buncah, karena aku tak mau pecah..

kemudian menguap, lalu menghilang..

aku tak mau!



by fean_lophe
Kufur - 15/10/2012 02:52 PM
#146

Surat untuk Ibu

Ibu hari ini aku ulang tahun.


by Aspal_panasku
Kifarin - 15/10/2012 02:52 PM
#147

CERITA ISTRI TENTANG SUAMINYA YANG DUDUK DI MEJA KEKUASAAN

Sayang, berapa kali aku akan menjahit celanamu yang selalu bolong ketika pulang kerja? lantaran sering kau berlarian menerobos hiruk-pikuk peradilan yang dikemas untuk dijual. padahal sudah kuingatkan padamu untuk berhenti dari kerjamu itu. namun kau malah membentakku.

Sayang, berapa kali pula aku melihat kelaminmu membekas goresan-goresan ketika kita hendak bercinta dan mengobatinya lebih dulu, karena ketidak hati-hatianmu menggunakan mesin-mesin intimidasi diantara selangkangan politikmu? padahal sudah kuperingatkan padamu untuk berhenti dari kerjamu itu, tapi kau malah memukulku

Sayang, berapa kali pula aku melihat jemarimu yang putus dan kecacatan nuranimu karena ketidak hati-hatianmu menggunting kertas-kertas birokrasi? padahal tak bosan aku mengingatkan untuk berhenti dari kerjamu itu. namun, untuk kesekian kalinya kau mengunciku dalam gudang rapat-rapat.

Nyatanya tubuhmu termutilasi kekuasaan, hatimu tergadai pada kepentingan-kepentingan.


by PhaRah_chan
Kufur - 15/10/2012 02:53 PM
#148

Jauh Tertidur


malam itu sebener benernya

ia cuma pengen tidur, jauh tidur


perempuan malam di semak belukar

menggigil dalam ketakutan dan kehampaan

anaknya sendiri, bermain di sebuah taman


malammalam, riuh hormon

hotpants, gincu, kutang renda


setelah malam itu, ia benar benar tidur

dengan anaknya menari dibawah bulan


lalu tidur

jauh sekali



haridjogja
04 Oktober 2011
Kifarin - 15/10/2012 02:55 PM
#149

Tampak Bodoh


Itu aku? bukan

Kamu? bukan

Mereka? Bukan

Kita. entahlah

Nyaring dalam kepolosan

Diam ketika benang mengusut

Berlagak demi keegoisan

Ego yang moderat

Bukan, bukan, ini tidak bodoh

Ini pintar, ini cerdas, ini hebat, ini populer

Ea, ea, kepintaran yang membodohi

Licik

Kebodohan yang bermanfaat

Picik

Senyum yang bersahabat

Cekik

Tampaklah bodoh

Maka akan selamat

Tak ada guna berpikir atau berperasaan

Tetaplah tenang dan berhati-hati



by alisze
Kufur - 15/10/2012 02:57 PM
#150

NAIF


Ketika kau rebahkan nafsumu, kau torehkan juga luka

ketika kau goreskan sayangmu, naifku meraja bahwa ini cinta

kuharapkan kasih tulus, tapi semua hanya nirwana sesaat

bergulung dalam ombak ketidakpastian masihkah kau suami yang kukenal


kau katakan aku cemburu pada lautan pada samudra segara

kau katakan aku berlebihan tafsirkan pertemananmu

ku tau itu dusta, karna ketika kau cumbu tak kurasa nafas hatimu

tak kubaca jiwamu meskipun hasrat itu nyata


lalu kau mengamuk membabi buta

hp kau banting berderai, wajah dihantam, jari kau patahkan

ketika kucari kukorek dustamu

lalu kau pergi dengan segala sumpah serapah tanpa lagi tengok kebelakang

kau anggap kami tak lagi ada


kutangisi hari kemarin

kutangisi hari ini

tapi jangan kau terabas naifku, karena tangisku sudah habis untuk esok

kini tak ada lagi tiada, yang ada hanya hampa



by bagaskara cempaka
Kifarin - 15/10/2012 03:00 PM
#151

Hari


Berawal dari malam yang tak ingin usai,

menyambut mentari yang kan menerangi

Berakhir kisah-kisah kelam sang malam

yang di bagi bersama nostalgia embun

cuma itu yang bisa ku persembahkan kepada mu, hari


by mizu
Kufur - 15/10/2012 03:01 PM
#152

SALAH


Pagi itu aku lari

Lelah tanpa mampu berucap

Ma, aku ingin berhenti

Menelan obat yang pahit ku kecap


Aku ingin berhenti

Menghabiskan uang kalian hanya untuk diri ini

Jika memang itu kehendak kalian, gunakan uang itu untuk yang ku ingini

Bukan untuk seonggok racun yang tiap hari melarut ditubuhku


Aku memang sakit

Tapi apa kalian yakin kalian sehat?

Sekarang aku malah tak bisa membedakan mana dikatakan sehat

Dan mana yang diartikan sakit


Pagi itu aku di tengah jalan

Berlari menghampiri mu, Ma

Dari telpon genggam, aku membentak mu

Untuk yang kesekian kalinya ku tegaskan

Sungguh bukan maksudku seperti itu

Aku hanya tak tahan mendengar suara mu gemetar cemas, Ma


Maaf, aku hanya tak ingin terlalu cemas mengetahui begitu paniknya dirimu

Aku tahu langkah yang ku ambil ini salah, aku...selalu salah

Ku benturkan pagar besi gapura di jalan itu ke kepala ku

Sakit, bahkan hingga saat ku ketik tulisan ini. Tapi, biarlah

Karena aku salah. Dan tetap salah...

Karena sakit ini tidak sebanding dengan sakit di hati mu


Tuhan, Kau tak perlu ampuni aku yang teramat durhaka ini

Tapi tolong kabulkanlah pintaku, untuk selalu Kau jaga dia

Malaikat yang Kau ciptakan tuk menjaga ku

: Mama



by Ly_just_a_named
Kifarin - 15/10/2012 03:02 PM
#153

Sedikit Pesan dari Ayahku


Suatu hari ketika aku terlibat pembicaraan dengan ayahku...

“Berhentilah menangis, berhentilah menghardik ketidaksukaanmu terhadap segala aturan-aturan, atau kata-kata kasar. Kita bukan sedang tidak disukai melainkan diajarkan bagaimana menyukai hidup. lihatlah bagaimana tukang batu mengukir hingga menjadi patung, bahkan ia harus menghancurkan keras-keras beberapa bagian diaantaranya. Kita tidak pernah tahu tentang sebuah perjalanan, tapi kita diajak untuk bagaimana melalui perjalanan itu. jiwa kita harus terpotong demi pandang dan pijak yang nyaman. Nanti, ketika kamu beranjak menjadi sepertiku, kamu akan menemui kemagisan dari hidup ini. Kamu akan dipaksa untuk menjadi orang lain, yang bahkan tidak kaukenali sendiri. Lalu didepan mata, ilalang-ilalang itu berubah menjadi labirin-labirin yang akan membingungkanmu dari paruh perjalanan. Kita tersesat, pasti. Kita hilang, mungkin.

Kita ini sedang terjebak, dari kekuatan arus lautan eropa dan amerika. Maka kita butuh ayah yang seperti bebatuan, seperti karang yang mengajarkan bagaimana cara untuk bertahan, bukan pasrah untuk hanyut tanpa perlakuan-perlakuan. Badai sudah megah. Kita terjungkir balik tanpa arah. Kita terbawa oleh kata-kata “fuck you” atau “what the hell”, entah bagaimana ocehan bijak kenari di pucuk pohon pedesaan. aku tidak seberapa suka dengan lagu-lagu korea di ponselmu itu, lagu-lagu barat melankolis yang kamu dengarkan ketika hendak tidur, aku juga tidak suka kamu bercelana dan berbaju ketat, bukan karena apa, aku hanya ingin mendidikmu agar menjadi dirimu sendiri, tetap tegar dalam arus. Namun sekali lagi, aku tidak akan melarangmu, sebab disitulah kamu berpelajaran.

Bertahan, mempertahankan. Bukan tertahan dalam tawanan.

Kini dalam dewasamu, kamu mulai pandai berbicara, mengkritisasi pemikiranku dan membandingkan dengan pikiranmu yang modern. Kamu tidak lagi bercerita tentang apa yang telah kamu alami di dunia luar, tapi berkisar tentang masalah-masalah dari dunia luar yang mendalam. Aku tidak lagi menjadi guru, tapi menjadi editor untuk beberapa yang rumpang dari bicaramu. Aku hanya menjadi pengingat dalam setiap kelupaanmu, pengisi dari jawaban-jawaban yang belum bisa kamu jawab, bukan sebagai penentu dari segala hal tentangmu. Sekali lagi, kecilmu biar aku yang menjadi tukang batu, remajamu biar aku jadi pelindungmu, maka dewasamu biar aku menjadi pengiringmu. Kelak, kamu akan mengenangku “aku ingin menjadi lebih dari ayahku”.


by PhaRah_chan
Kufur - 15/10/2012 03:03 PM
#154

Bukannya Seharusnya Aku di Sini


Bukannya seharusnya aku disini

Tapi seharusnya aku memang tidak disini

Aku hanya ditendang

bagai bola...

Tak lagi boleh ke kandang sendiri


Bukannya seharusnya aku disini

Tapi aku memang tidak disini

Kau hanya akan menggapai udara

Diriku yang tiada


by dahan
Kifarin - 15/10/2012 03:04 PM
#155

APA...??!


sekarang apa..??

mau apa..??

harus berbuat apa..??

ada dimana..???

harus bagaimana..????


ada apa..?

kenapa..??

apa..??

what..??!


tak ada apa-apa..

tidak mau apa-apa..

aku juga tak tahu harus apa..

hmm.. ada dimana-mana..??

Kenapaaa..??!


mungkin tak ada apa-apa..

hmm.. tak ada apa-apa..

ada apa dengan ‘apa’..?!

what’s wrong with ‘what’..?!



by isal rabbanie
Kufur - 15/10/2012 03:05 PM
#156

Kerajaan Damai II

Ayunan pedang menumpahkan darah lawan
Bagai ombak di lautan
Bagai badai di daratan
Bagai petir yang menyambar dari langit

Ksatria-ksatria Kerajaan Damai
Berjatuhan sebagai pahlawan yang gugur
Jiwa mereka menuju bintang yang terang
Menerima kenikmatan tiada akhir

Hati-hati yang dingin menjadi beku
Melihat kepergian pahlawan
Mendengar teriakan pahlawan
Yang membela tanah kelahirannya

Hati-hati yang beku mulai meleleh
Mendengar teriakan semangat
Ksatria-ksatria yang melanjutkan perjuangan
Bagai api yang membakar

Teriakan-teriakan lawan membakar semangat
Membuat para ksatria Kerajaan Damai bagai singa
Siap menerkam mangsanya
Membunuh dengan cakarannya

Perperangan masih berkecamuk
Satu-persatu raga berpisah dari rohnya
Semangat Kerajaan Damai beradu dengan semangat lawan
Laksana pedang yang bertarung
Dengan tajamnya yang bisa membelah bumi

Langit kelam menjadi saksi
Menurunkan hujan tanda tangisannya
Membasahi medan perang
Mengalirkan darah semakin deras

Kerajaan Damai makin terdesak
Pihak lawan menyerang membelah jantung
Dengan kekuatan kegelapan
Menutup cahaya suraga

Rakyat tak peduli dengan sekitar mereka
Membunuh lawan merupakan tujuan
Untuk mencapai kemerdekaan
Yang akan terbang menjauhi mereka

Dengan pedang-pedang setan
Lawan membuka gerbang kemenangannya
Menutup gerbang kebebasan Kerajaan Damai
Menghilangkan semangat dan keberanian

Raja telah pergi jauh meninggalkan rakyat
Melalui panah-panah lawan
Kerajaan Damai telah kalah
Kedamaian selama ini telah hilang
Oleh nafsu-nafsu setan


by pandekaapi
Kifarin - 15/10/2012 03:06 PM
#157

Memikul Derita

Kaki telanjanganya menyusuri jalan setapak yang gelap
Tak hiraukan alar kerdil yang menghalaunya
Ilalang kasar bagai tersunging mengores jejak lulutnya
Bebatuan runcing seakan tertawa menusuk telapak kurusnya
Sebelum matahari mengintai ditempuhnya kesunyian bintang
Di singkirkan pelu yang membasahi mahkotanya yang kian memutih
Di tikungan gang disandarkan tubuh rentanya dekat kayu hitam
sambil merapatkan kemeja usang penuh lubang
di tunggunya tumpangan kawanan sayuran besar

Hingar bingar pagi terasa asam dengan berlalu lalangnya orang
Ia jejaki anak anak tangga dengan ribuan beban dipundak
Kulit keriputnya semakin mengkerut tertindih gumpalan kabut
Lembaran demi lembaran terpunggut dengan senyum berat
Di akhirinya sore dengan sepiring nasi bermandikan kecap tanpa lauk
Gelora lidahnya inginkan lebih tapi lembaran hanya bisa mengecap

Kotor tubuh terasa menyengat setelah senja menjemput
Ditemani udara malam yang mengelitik kulitnya
Ia rebahkan tubuh diatas secarik koran di depan tangga hidup
Di pijitnya Tubuh yang memerah lebam dengan lemah
Sakit yang mengangga serasa enggan meninggalkan tubuh rapuhnya
Bahkan linangan air matanya tak sanggup basuh pedihnya
Tapi dengan tetesan keringat diburunya seteguk nafas untuk terus hidup


by eugene_steffy
Kufur - 15/10/2012 03:07 PM
#158

SAKIT SAAT KAU PERGI

Kicauan burung memaksaku membuka mata yang masih berat ini
Pusing, pengap, gelap...

Namun saat kuterangi dunia dengan karya edison...
Kaget, terhenyak, tersentak saat kudapati kau tak ada disampingku

Hanya secarik kertas yang kautinggalkan diatas bantal
Dan ucapan manis berisikan pesan selamat tinggal

Mengapa,,,mengapa tak kau memilih pergi dariku?
Mengapa,,,mengapa hanya secarik kertas yang tersisa untukku?
Mengapa,,,mengapa tak kau ucapkan langsung padaku perpisahan itu?

Terhuyung, lemas, seakan tak ada gunanya lagi hidup
Karena sebagian nyawaku ada didirimu
Sebagian nafasku ada diparu-parumu

Sakit, sangat sakit karena wangi tubuhmu masih bisa kucium
Hangat tubuhmu masih bisa kurasakan
Bahkan kecup mesra ditiap kata sayang yang kau ucapkan
Masih mengikat erat hatiku...

Duduk, kepala terasa berat saat aku menyadari
Tku harus bertahan, meski kau tak disini
Tapi,,,tak berlebihan jika aku berharap...

Berharap kau akan kembali padaku, ke pelukanku...


by bedhu
Kifarin - 15/10/2012 03:08 PM
#159

Kerajaan Damai I

Di suatu negeri yang jauh
Berdiri sebuah kerajaan makmur
Dikelilingi alam yang kaya
Dihuni oleh jiwa-jiwa yang tenang

Dilindungi para ksatria perkasa
Dibentengi tembok yang kokoh
Dipimpin Raja yang bijaksana
Bersenjatakan keberanian cinta

Matanya tajam bagai pedang
Kata-katanya bagai angin penyejuk
Cengkramannya laksana terkaman singa
Namanya menggetarkan setiap jiwa

Rakyat bersatu bak insan saling cinta
Setia laksana merpati pada pasangannya
Patuh seperti anak pada orang tua
Tiada cacat hampir sempurna

Pada suatu malam tanpa bintang
Setan mengiringi kegelapan
Menuju ke Kerajaan Damai
Membawa pasukan lawan

Teriakan insan yang membela negaranya
Membelah langit yang kelam
Sang Raja melindungi rakyat
Rakyat melindungi Sang Raja
Pertempuran bagai hati yang berkecamuk


by pandekaapi
Kufur - 15/10/2012 03:09 PM
#160

Sentuh, Sentuh

Berulang kali, kau menyakiti
tanpa hati
tak berperi
Kau dewa neraka,
tanpa jeda
berhenti menyiksa
Anggap aku hina
berlumur dosa

Aku bangun istana megah di dunia-ku,
tempat cinta kita singgah. Tapi dalam sejenak,
kau datangkan musim kemarau,
tak izinkan satu belukar pun menghijau.
Ini duniaku, istanaku.
Meski tlah kau usangkan, masih kan slalu ku puja..

Sentuh…..
Sentuh,
Embun pagi
Rinai hujan takkan halangi


by xentra
Page 8 of 110 | ‹ First  < 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 >  Last ›
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5