Poetry
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5
Total Views: 7141 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 99 of 110 | ‹ First  < 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 >  Last ›

Kufur - 19/10/2012 07:05 PM
#1961

Kota Membisu di Wajahmu



Melecut gelisah di atas cucuran waktu

menapaki jalan-jalan berliku

kota-kota diam dalam pertapaan

tikungan, perempatan lengang tanpa tiang-tiang kata

kebisingan terpancang jadi tugu

pengap, senyap, seantero kota pun membisu

di wajahmu



Tabir Ulu, 09 Juli 2012



by Adi Suhara
Kifarin - 19/10/2012 07:06 PM
#1962

Wajah di Kamar 103



tentangmu, wajah yang terulur

di bibir kamar 103

ada lipatan kata tak terkuak

berkuncup dalam cakar waktu yang sekejap

lalu lenyap



di garis wajah itu tercantum dua bola mata

kepak-kepak sayap liarnya

merampas cincin embun di jemari daun-daun

lantas, diam-diam menyelinap

dalam senyap



Kaukah itu?

Entahlah!

Di sepetak pagi itu, ku hanya mematung

dalam detak waktu



by Adi Suhara
Kufur - 19/10/2012 07:07 PM
#1963

Tanah Air Beta


Berlari hati tak ingin memberi

Koar lidah menyulut emosi

Koruptor brengsek seolah suci

Kebohongan janji menjadi kebenaran hakiki

Malangnya nasib bunda

Dikeruk habis warga yang hina

Yang muda dihantam narkoba

Yang Tua diangkut KPK

Tak adakah setetes cinta untuk bangsa?

Tetes darah jatuh membanjiri perjuangan mereka

Ditebus tawa terbahak dikursi berbusa

Hanya obral janji

Tanpa jual bukti

Katanya saja sudah merdeka

Ahh..

Turunkan sajalah Sang Saka

Seperti ini hanya menyiksa

Tanah Air Beta Tinggalah Boneka


by Achmad Qayyimel Akbar
Kifarin - 19/10/2012 07:07 PM
#1964

Melarikan Rindu

AKU MENYUSUN RINDU DI DETIKAN WAKTU
BERHARAP HARI-HARI KAN BERLARI MEMBAWA PERGI KESENDIRIANKU
PADA APA AKU KAN MENANCAPKAN HASRAT UNTUK BERTEMU
PADA JALANAN PANJANG YANG KULEWATI TANPAMU
PADA PUNDAKKU YANG TAK LAGI TERSENTUH TANGANMU
PADA KENING YANG SUDAH TAK BASAH OLEH KECUPANMU
DI TEPIAN MALAM AKU MEMILIH UNTUK TERPEJAM

AKU AWALI LANGKAHKU PADA PERJALANAN JAUH MENJAUHI TUBUHMU
MELARIKAN DIRI DARI PENGHARAPAN YANG TAMPAK SEMU
MENANGKIS RASA YANG KIAN GIAT MENCINTAIMU
AGAR TAK RASA LAGI PEDIH MELIHAT KEKASIH MEMILIH YANG LAIN

TAK TAHU PASTI HARI DEPAN
PADA BIMBANG LANGKAHKU PASTI
MENAKHLUKKAN DIRI UNTUK TAK LAGI HASRAT PADAMU

RAGA INI TELAH MEMBUKTIKAN KEBISAANNYA
NAMUN RASA TAK MAU PERGI
IA MENGECAP NAMA YANG TERUS KU BAWA PERGI
MENGGIRING UNTUK BERHARAP PULANG

RINDU INI MASIH MENGGERUS RASAKU
TERTUJU PADA TABIB RINDU BERNAMA TERKASIH
YANG MENGUBAH WAJAH BURUKNYA TAMPAK MESRA SAAT DILANDA CINTA


by Gabriela Pipit Lina
Kufur - 19/10/2012 07:08 PM
#1965

O, Pisau Rindu

... di waktumu yang bergemeretak dan merapuh ambillah cermin paling bening pada kerut dan lipatan wajahmu berapa banyak sudah serbuk maut menghablur? lupakan dan buang jauh-jauh daging dan tulangmu pada kedalaman sunyi di situ tak ada stupa cinta o, stupa cinta! tak ada gerak mercusuar o, tak ada juga pisau rindu o, pisau rindu! segalanya terus saja bergemeretak dan merapuh auh!....

Cilacap, 2012.


by Eddy Pranata PNP
Kifarin - 19/10/2012 07:08 PM
#1966

Kau Masih Belum Mengerjap?

... sepasang mata yang kosong sepertinya tak pernah mengerjap membayangkan sekaligus merindukan ombak yang berdebur dalam rumah cintamu rumah yang terbuat dari berkeping keping mimpi dan sepotong cahaya dari menara paling tinggi di hatimu berkilauan menyilaukan sepasang mata yang kosong sepertinya angin dan debu yang bergumul pun kian terus menyelimuti berkeping-keping mimpi itu ah kau masih belum mengerjap? ....

Cilacap, 2012.


by Eddy Pranata PNP
Kufur - 19/10/2012 07:09 PM
#1967

Di Rimba Ini Batu-Batu Mendesis

... : di rimba ini batu-batu mendesis belukar mengurai sangsi yang sansai dedaunan menguning seperti puisi tak berguna di negeri ini kau bersembunyi di mana? di rimbun edelweis? atau menyelam di telaga dewi? tapi kurasa kau masih dalam kelumunan kabut di pinggang bukit tebing ini begitu curam entah kalau kau memang punya nyali untuk menenggak seluruh embun dan seluruh dada-jiwamu kaujadikan tabung puisi tabung puisi yang selalu siap meledak meledak kapan saja kapan saja!...

Cilacap, 2012.


by Eddy Pranata PNP
Kifarin - 19/10/2012 07:09 PM
#1968

Sajak-Sajak Perih Berhamburan Di Udara

... kau pernah bergulingan di pelabuhan lalu memeluk kabut di ujung pagi? kukira tidak rasa lapar dahagamu di tengah keramaian kota memaksamu hanya mengunyah kata-kata kau krisis kepercayaan pada pelabuhan dan kabut kau berteriak dan berdendang di panggung-panggung dan kau terus melayang-layang di antara gedung tinggi lalu kulihat kau menukik menerabas gerbong-gerbong di stasiun tubuhmu remuk terberai sajak-sajak perih berhamburan di udara!...

Cilacap, 2012.


by Eddy Pranata PNP
Kufur - 19/10/2012 07:10 PM
#1969

Beling Bir Yang Pecah

: tepat di ujung dermaga pelabuhan teluk bayur tubuh ini melepuh beling bir yang pecah telah menggoreskan: kisah orang rantai! berpuluh-puluh tahun rel kereta-api menggigil bergerbong-gerbong batu-bara dan semen-curah sampai juga di pelabuhan tapi darah yang tercecer sepanjang rel di setiap lobang gerbong masih terlihat basah begitu juga batu-remuk tanah-kenyal di bukit putus merobek lipatan-lipatan sejarah saudara, jangan terperanjat kedatanganku dengan tangan-kaki yang masih dirantai! masih dirantai!...

Cilacap, 2012.


by Eddy Pranata PNP
Kifarin - 19/10/2012 07:12 PM
#1970

Tanpa kata: diam

Mengiringi sepi tanpa kata
: diam


by mizu
Kufur - 19/10/2012 07:13 PM
#1971

Ku Kau


ku kayu

angkuh

menjulang tinggi

membelah angin

menerpa badai


kau api

luluhkan ku dengan sentuhmu

buat ku hanyut dalam gelora


ku bakar

separuh ku adalah kau


kau ganas

melumatkku sampai akar


ku abu

meski melawan anginpun, tak mampu


kau hilang

tinggalkanku dalam rapuh


kau pergi

melumatku

tanpa sisa

KU MATI


by seroja
Kifarin - 19/10/2012 07:14 PM
#1972

Entah

aku suka
aku rindu
namun ketika bertemu
kenapa kalbuku begitu kelabu?


by seroja
Kufur - 19/10/2012 07:20 PM
#1973

Persimpangan Tanya dan Temu


Pernahkan kau bertanya,

Jika hari ini hanya satu pertemuan

dan satu pertanyaan:mengapa kau begitu?

Masih saja hari ini satu tanya dan satu pertemuan,

di simpang siur jalan yang membingungkan,

di tengah panas matahari, di persimpangan kegaduhan zaman..

masih tahukah kau, hari ini satu pertemuan itu terjadi,

dan satu tanya bergumam dari celoteh mulut berbisa?

Bagaimana?Sedangkan kau tetap diam dan termangu?

Biasa sajalah, dan tak usah bertanya-tanya lagi dan tak bertemu lagi..

sampai ketemu di persimpangan ke depan.


by Tukijo, S.pd
Kifarin - 19/10/2012 07:20 PM
#1974

Angelina Sondakh di Jam 11.37 Siang

(1)
Siang ini
Di rumahku
Melalui siaran langsung televisi
Aku memasuki sisi lain ruang tatapmu, Angelina Sondakh

(2)
Di satu ruang sempit, di matamu
Aku menghentikan langkah
Dibawah keteduhan kerdipan pandangmu
Kulihat tumpukan butiran sesal teronggok membatu

(3)
Angelina Sondakh,
Kasihan nasibmu
Engkau dibiarkan terperangkap penjara air mata sendirian
Sementara para sahabatmu dulu, tengah menikmati tidur siang

(4)
Kucoba menelusuri dirimu lebih dalam,
Aku beranjak melangkah perlahan menuju ruang hatimu
Ah, aku semakin kasihan padamu
Kulihat hatimu terbujur kaku telah membeku
Tiada siapa-siapa di sana ..

(5)
Angelina Sondakh,
Aku tak kuasa berlama-lama di rumahmu
Do’a ku pada Tuhan
Semoga badai besar yang melanda hidupmu secepatnya segera berlalu.


by Gunawan Wibisono
Kufur - 19/10/2012 07:21 PM
#1975

Malam Nikah, Pagi Cerai

aku hanyalah gelas.cerita yang tak pernah habis.
tuangkan sesukamu.tapi jangan semaumu.
janji ini telah terikat.siap berlayar.
badai ombak dan harapan.

mungkin hanya masa mudalah semuanya indah.tai serasa roti.hujan menyibak berjuta harapan.
apa aku harus menyalahkan modin dan para saksi.
saat cincin melingkar dengan senyuman.
semua tak seperti rencana.
indah yang kita bayangkan.
begitu banyak retakan kita dapatkan.
masihkah kau mampu berlari,menemaniku hingga ujung hari.

dua anak belum cukup.
tak mampu mengimbangi egomu.gelora yang kau siram dengan bensin.
mungkin hanya masa mudalah semuanya indah.tai serasa roti.


by Slamet Enjing
Kifarin - 19/10/2012 07:22 PM
#1976

Angan …..!!


hampir 6 purnama kita berpisah …

jerit tangis semakin membuat kita menggigil

pedih perih…

menghantam seluruh pori pori nadi ku

ingin ku berlari menjemput asa dan mimpi

tapi kita terjerat norma dan etika

yang ada hanya meronta

menghujat ..

menghantam

jiwa dan raga


by Roseninit
Kufur - 19/10/2012 07:23 PM
#1977

Last Post, Farewell to You

Cuma ingin bilang sorry. Jika selama berteman ada yang menyakitkan. Postingan, inbox, komen yang tak pantas mohon dimaafkan. Juga artikel yang tak terbaca karena waktu dan selera. Aku percaya kalian punya hati seluas samudra.

Juga ingin bilang makasih. Untuk pertemanan, komentar, vote, kritikan dan masukan. Semua berharga, semua bermakna. Hanya Tuhan yang akan membalas kebaikan kalian. Semoga persahabatan kita dikekalkan meski tak pernah dipertemukan.

Terakhir, ingin bilang permisi. Karena kaki ini akhirnya musti melangkah pergi. Mungkin tempatku bukan disini. Aku hanya ingin menikmati hidupku sebagai perempuan biasa. Tanpa mimpi tanpa ambisi. Semoga jika kelak ku kembali lagi, masih ada tempat untukku berbagi.

Goodbye my bestfriend…I’m gonna miss you all

by Kareena
Kifarin - 19/10/2012 07:23 PM
#1978

Sisa-sisa Nafas

Aku terdiam, di ujung langit
Masih tak memahami
Apa yang sedang terjadi
Masih tak mengerti
Mengapa semua bisa terjadi

Aku melangkah gontai
Tak pasti, tanpa arah tujuan
Aku mengikuti kemana angin berhembus
Semaunya, tak peduli

Mimpi-mimpiku hilang
Ditelan oleh keserakahan
Harapanku pupus
Ditikam oleh kesombongan

Tapi,
Aku belum mati, kawan
Aku masih bertahan
Dan akan terus bertahan

Dengan sisa-sisa nafas
Dengan guratan takdir


by Andri Saleh
Kufur - 19/10/2012 07:25 PM
#1979

Pak Presiden, Benarkah Kita Sudah Merdeka (BK.. 5)

Negara kita telah merdeka
hitam di atas putih
proklamasi 1945
adalah bukti nyata

Benarkah kita sudah merdeka?
apakah kita sudah merdeka seperti yang kita impikan

apakah kita sudah mempunyai kemerdekaan pada diri kita sendiri
bisa menentukan arah dan langkah masa depan kita sendiri
sudahkah kita merdeka dari rasa takut dan khawatir

sudahkah kita merasa aman
sudahkah kita merdeka dari rasa khawatir
tidak khawatir dengan penjahat saat keluar rumah sendirian di tengah malam
sudahkah kita merasa tenang jika kita pergi sendiri di jalanan tanpa kawan
merdekakah kita atas perasaan aman dan nyaman

Bukankah tujuan merdeka itu kita bisa hidup bersama dalam masyarakat yang adil dan makmur dan sejahtera lahir dan batin
lalu bagaimana saat kita sakit dan tidak mampu bekerja
atau kita benar-benar tidak mampu melakukan apapun
saat ini siapakah yang akan bertanggung jawab saat ini
memberi kita makan dalam ketidakberdayaan
sekedar nasi dan garam pengganjal perut
atau ditambah kelapa muda parut menajdi makanan mewah di saat aku dulu ada

dahulu
ketika negeri ini belum mengenal kata merdeka
belum mengenal pembangunan
belum ada gedung-gedung tinggi yang gagah perkasa
simbol kemajuan bangsa

orang tidak khawatir kelaparan karena ada daun-daunan di kebun belakang
ada ketela yang bisa direbus dengan kayu
semua milik bersama
tidak ada yang tega melihat tetangganya kelaparan
dalam masyarakat gotong royong, kebersamaan, solidaritas

lalu bagaimana sekarang ?
haruskah orang makan batu
atau tanah.. bahkan sekarang tanah kosongpun tak ada lagi
atau kita memasak dengan batu
dengan tumpukan sampah-sampah kering
berebut dengan pemulung

manusia bisa kelaparan dan tidak ada yang peduli
ironinya pembangunan
adalah penghancuran negeriku
ironinya kemerdekaan bangsaku
menimbulkan ketidakmerdekaan pada diri dan jiwa pribadinya
uang
semua harus punya uang
semua diukur dengan uang
semua dihitung dengan harga yang harus dibayar
tidak ada lagi keberssamaan
sama rasa sama rata

lalu bagaimana jika aku tidak punya itu uang
tidak ada lagi dalam kantongku

memasak harus pakai bahan bakar
apaun namanya harus dengan uang

jika aku minum air mentah sudah dicampur dengan pemutih
jika aku minum air kali sudah tidak jernih lagi
semuanya kotor
tidak ada lagi mata air untukku yang papa tempat aku mandi dan membersihkan diri

bahan makanan harus beli
tidak ada lagi ladang tempat untuk menanam

negeri ini merdeka tapi menyisakan kekawatiran
dan bukan gambaran kemerdekaan yang kuinginkan

akankah tiba saatnya
dimana pada suatu waktu
pada suatu keadaan

negeri ini benar-benar milik sendiri
tidak ada kekawatiran
tidak ada ketakutan
kebersamaan
gotong royong
solidaritas

tidaklah perlu kita takut dengan angka pertumbuhan ekonomi
karena pertumbuhan ekonomi hanyalah menyisakan kepedihan baru
kenyataannya kekayaan hanya milik segelintir orang
pertumbuhan dari orang-orang yang itu-itu saja dan bukan milik seluruh rakyat indonesia
jurang semakin besar antara si kaya dan si miskin

angka yang diciptakan oleh manusia

tidaklah perlu takut kita dibilang tidak maju
karena kemajuan hanyalah penindasan kepada diri sendiri
menjadikan diri kita robot
tidak berhati nurani
tidak berjiwa merdeka

kemajuan tehnologi kemajuan karir dan pekerjaan yang tidak mengenal waktu
adalah penindasan kepada anak-anak kita
keturunan kita
karena kita tidak pernah punya waktu bersama mereka
untuk mendidik mereka
dalam sebuah pembelajaran hidup dan pembelajaran ilmu pengetahuan
dan akhirnya kita harus mengakui
bahwa kitalah yang menghancurkan hidup mereka atas nama angka kemajuan ekonomi bangsa juga
dan kita juga yang bertanggung jawab atas kehancuran nilai-nilai luhur yang tidak dimiliki anak cucu kita
di belahan bumi yang lain, bukan di negeri ini
punya hitungan sendiri
di bagian tempat lain yang memang berbeda dengan negeri ini punya cara sendiri untuk mengukur keberhasilannya

disana orang begitu dipuja karena kepandaiannya
orang dihormati karena kekayaannya
pujaan dan penghormatan yang akhirnya melahirkan kerakusan, ketamakan dan keserakahan
melahirkan manusia-manusia robot yang tidak mempunyai hati
melahirkan manusia-manusia keji yang menindas sesamanya
melahirkan manusia-manusia baru yang gila harta dan kekuasaan
melahirkan manusia-manusia gila
keakuan, kesombongan, kecongkakan dan kepongahan
melahirkan nafsu dan angkara murka

Itukah yang ingin kita cita-citakan ?
Tujuan Nusantara
“toto tentrem kerto raharjo gemah ripah loh jinawi”

cita-cita nusantara
cita-cita para leluhur
sudahkah kita berada pada jalan yang benar untuk mencapai cita-cita luhur itu

tujuan nusantara dalam sebuah keseimbangan
diri pribadi
masyarakat dan negaranya
dan alam semesta yang menaunginya

tidak harus menonjolkan dalam satu sisi saja
semua harus seimbang
lahir bathin
jiwa dan raga
jasmani dan rohani

gemah ripah loh jinawi tapi tidak tentrem

tentrem ayem atine tapi tidak bisa makan
tapi ora ngumpul karo sanak kadang
bermasyarakat
bersama dalam kebersamaan

bukankah tujuan hidup tidak ada yang sempurna
tidak semua keinginan bisa kita raih semua

adalah sebuah gabungan dari sebuah keadaan
meletakkan tujuan bahagia

kenikmatan mulut, menempatkan enak dengan rasa
pada sebuah keadaan hati ketika kita makan
bukan saat ketika makanan dikecap didalam mulut
pada apa yang dimakan
hal ini hanya akan membuat manusia selalu kelaparan, menjadikannya rakus
serakah dan tamak
hanya untuk kepentingan isi perutnya

menempatkan kebahagiaan pada materi
kehormatan dan kamukten
menjadikan dirinya haus kekuasaan dan keserakahan akan kekayaan
menumpuk materi dan menindas yang lainnya
karena menghilangkan hak sama rasa sama rata dan sama -sama hidupbersama di dalam masyarakat
menjadi aku adalah aku
dan kamu adalah kamu

atau menempatkan kebahagiaan di dalam hati

menjadikan diri manusia yang bersyukur atas semua yang ada
belajar dalam keseimbangan roso cipto dan karso

bahagia dengan memberikan yang terbaik kepada sesama
percaya bahwa dengan memberi banyak dengan iklas
akan mendapatkan sama banyaknya
bahkan berlipat-lipat

menjaga alam sekitarnya
dalam sebuah harmoni
dalam sebuah keselarasan

keadaan yang membunuh nilai-nilai di dalam diri
nilai-nilai universal
dimanakah kita akan memilih

berkata cukup
bersyukur atas semua yang ada
dan tetap selalu bahagia
kemiskinan adalah suatu keadaan dimana selalu kekurangan
kekayaan adalah suatu keadaan yang selalu kecukupan

kaya atau miskin yang sebenarnya
dan ketika kita merasa kaya
maka kita akan bisa mendidik dan menemani anak-anak kita untuk menjadi anak yang baik
bertanggung jawab terhadap pendidikan lahir dan batinya
dalam keseimbangan

mengisi hidup mereka dengan kebahagiaan bathin yang tidak bisa dihitung dengan angka
menuju sebuah cita-cita
bahagia lahir dan batin
sebagai manusia yang merdeka
merdeka dalam arti sesungguhnya


by Metik Marsiya
Kifarin - 19/10/2012 07:26 PM
#1980

Kebahagiaan yang Terjangkau!

potret keindahan alami
menyejukan mata hati
bathinku tak berisi kata
tapi warna dari cahaya.
***
kebahagiaan dimaknai dengan sederhana
untuk mudah menikmatinya
kebenaran dari kalimat di atas
harus dikhayati dengan bersyukur
***
apa yang harus disyukuri?
banyak orang yang menyayangi
memberikan kesempatan
menaruh kepercayaan
sama-sama maju
saling membangkitkan
menguatkan rohani dan jasmani
menyehatkan jiwa dan raga
menghargai talenta
mendorong semangat
turut berbahagia
dan masih banyak alasan lainnya
***
lebih mudah hidup ini dijalani
mudah tersenyum
merindukan karena tertawa
energi Kasih
light, life, love and laugh
nyata dan terbukti
karena kebahagiaan yang terjangkau!
***
koleksi foto pribadi,
tustel milik pribadi,
anggrek milik orang lain
suster tanaman bernama niki saraswat.


by Niki Saraswati
Page 99 of 110 | ‹ First  < 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 >  Last ›
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5