Poetry
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Romansa, Tuhan, dan Kematian
Total Views: 965 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 2 |  1 2 > 

Mr.Makarov - 04/10/2012 07:15 PM
#1
Romansa, Tuhan, dan Kematian
Salam kenal dan salam berbahagia.

Saya disini mo berbagi puisi2 yang sebenernya udah lama saya tulis2 tapi belom sempet saya pindahin ke tempat2 digital. Sekalian nyari tempat penyimpanan juga sekalian mo minta ditanggapin soalnya kalo dikekep sendiri kan ga akan ada yang nanggepin selain bingung juga mo minta tanggepan ke sapa... hehehe

Mungkin saya banyak terinspirasi dari pemikiran2 schopenhauer atau dostoyevsky dan bahkan mungkin nietzsche. Filsuf2 kesukaan saya.

Soal interpretasi, saya lebih memilih menyerahkannya pada pembacanya saja hehe

Puisi pembukaan dari saya :
Spoiler for First entry
Requiem Cinta

Sayang
Lihatlah merah tanganku ini
Ini bukan darah
Melainkan keringat cucuran nadi
Kasih
Hembusan nafas yang berderu
Bukanlah penanda akhir hdupku
Melainkan nafsu bersamamu dalam mimpi
Cinta
Rasakah kau dingin tubuh?
Peluklah aku dengan mesra
Agar kuindra harum tubuhmu
Mr.Makarov - 04/10/2012 07:31 PM
#2
Tahanan Melankoli
Aku disini tak pernah mencari kebahagian
Aku disini hanya ingin meraih ijin dari sang waktu
Untuk merengkuh di balik kaki-kakinya
Untuk sekedar mengadu sebuah ungkapan rindu
Yang tak sempat tersampaikan
Membusuk

Melankolia malam itu
Hanya sebuah permainan kata sendu
Tak beranjak pergi
Ah... bukan tangisan
Hanya tetesan-tetesan air stalakmit
Dari bongkahan gua hati yang ternganga
Kataku
Mr.Makarov - 05/10/2012 06:24 AM
#3
Berisik!
Quote:
Berisik!
Berisik!
Berisik!
Berisik!

Semua terdengar sangat bising
Bahkan sebuah bisikan
Apa yang bergolak di pikiran?
Hilang koordinasi

Aku rindu kesepian
Aku merindu ketenangan
Aku ingin menyendiri
Berdua, bertiga, berempat, terlalu berisik bagiku

Aku takut keramaian ini
Aku benci merasa terkepung
Suara2 yang sebelumnya bahkan tak kuhiraukan
Kini terasa menyiksa pikiran

Berisik!
Aku butuh ketenangan
Mr.Makarov - 05/10/2012 06:27 AM
#4
Hujan
Tuhan yang mengutuk jiwa-jiwa dalam hujan
Sumpah serapah tak beraturan
Menggelegar tak berarah
Tak jelas pula penyebabnya

Ibu yang merintik sebab dosa manusia
Menimbun embun dan tetesan air
Sebagai persembahan untuk mahkota
Sang mentari mampir

Rentanya hari pun samar diantara tirai koyak
Kutukan dan tatapan sinis Tuhanmu
Memandangi abstraksi lara
Dari tempat ibu bersimpuh
semangkamenor - 05/10/2012 06:27 PM
#5

ini puisi dari seseorang perempuan yang aku kenal
memang rada2 berbeda dengan puisi TS tapi anggap aja sharing yeee D

Perempuan cantik melukis kekuatan lewat masalahnya
tersenyum saat tertekan
tertawa di saat hati menangis
mendoakan kebaikan di saat hina
mempesona karena mengampuni

Perempuan cantik mengasihi tanpa pamrih
bertambah kuat dengan doa dan pengharapan

Jangan pernah berhenti mengepakkan sayap

biarkan cobaan membuat kita kuat
biarkan derasnya terpaan membuat kita gesit
biarkan jika optimis membuat kita bijak
dalam menyikapi hidup

biarkan jiwa jiwa sabar menjadi penyejuk
di tengah segala duka

hingga kelak akan terjawab

mengapa perjuangan itu pahit?
karena surga itu manis

Amal 14 tahun
Mr.Makarov - 05/10/2012 06:43 PM
#6

Quote:
Original Posted By semangkamenor
ini puisi dari seseorang perempuan yang aku kenal
memang rada2 berbeda dengan puisi TS tapi anggap aja sharing yeee D

Perempuan cantik melukis kekuatan lewat masalahnya
tersenyum saat tertekan
tertawa di saat hati menangis
mendoakan kebaikan di saat hina
mempesona karena mengampuni

Perempuan cantik mengasihi tanpa pamrih
bertambah kuat dengan doa dan pengharapan

Jangan pernah berhenti mengepakkan sayap

biarkan cobaan membuat kita kuat
biarkan derasnya terpaan membuat kita gesit
biarkan jika optimis membuat kita bijak
dalam menyikapi hidup

biarkan jiwa jiwa sabar menjadi penyejuk
di tengah segala duka

hingga kelak akan terjawab

mengapa perjuangan itu pahit?
karena surga itu manis

Amal 14 tahun


Makasih buat sharingnya sis... puisinya bagus.. terutama kata2 yang terakhir... Mengapa perjuangan itu pahit? Karena surga itu manis...
Mr.Makarov - 05/10/2012 07:36 PM
#7
Tuhanmu
Aku melihat Tuhanmu malam itu
Diam membisu nanar dan sendu

Menatap rapat lekat langit malam
Hampa menanti pengharapan

Aku melihat Tuhanmu malam itu
Khidmat diantara simpuh

Sinarnya tembaga yang meredup
Sepi diantara lampion-lampion hidup

Aku melihat Tuhanmu malam itu
Bergerak penuh malu

Yang kau sebut diantara mimpimu
Melantun semu berarah tak tentu

Namun aku bukan Tuhanmu
Yang bisa membuatmu percaya
Jika untukmu bahagia
Semua akan kulakukan untukmu
LuguPeopLe - 05/10/2012 08:17 PM
#8

Jerit keras tak kudengar ditelingaku
namun hanya bisa ku pahami gerak bibirmu
apa yang kau katakan setelah aku berhenti bernafas
untuk mengakhiri hari ini setelah ku dapati bahagia bersamamu
Mr.Makarov - 08/10/2012 09:49 PM
#9
Layar putih
Kau memberiku rentang waktu
Bernafas sejenak
Untuk mengulang kembali rasaku
Untuk bawa ku kembali menjejak

Aku ingin kembali meringis
Merasa kenikmatan rasa perih
Bukan rasa sedih
Hanya kepahitan yang membangkitkan

Lirih ku berujar rindu
Menatap matamu tak bersamaku
Melihat telapakmu melambai sendu

Tak kudapati waktu berhenti untukku
Bergerak perlahan menjauh
Mengangkat sauh menurunkan kayuh
Bergerak terus menjauh
Mr.Makarov - 08/10/2012 10:55 PM
#10

Quote:
Original Posted By LuguPeopLe
Jerit keras tak kudengar ditelingaku
namun hanya bisa ku pahami gerak bibirmu
apa yang kau katakan setelah aku berhenti bernafas
untuk mengakhiri hari ini setelah ku dapati bahagia bersamamu


Kematian tak mendengar
Tuli
Namun angannya menghidupi dunia
Melampaui barzah
Melintas mahsyar
Mr.Makarov - 09/10/2012 01:12 PM
#11
Pesan angin malam
Aku mengirim pesan untukmu malam itu
Bukan surat
Kubiarkan angin malam melarutkan pesan malam itu
Dibawanya terbang entah kemana

Aku mengirim pesan untukmu malam itu
Memberi tahu bahwa aku cinta kamu
Namun angin malam melarutkan pesan malam itu
Dibawanya bersama oksigen dan percikan api

Aku mengirim pesan untukmu malam itu
Ungkapan lirih rindu dan penyesalan
Saat angin malam melarutkan pesan malam itu
Dibawanya dengan mesra dan indah

Aku mengirim pesan untukmu malam itu
Sudahkah ia sampai kepadamu?
Yang bersama mesra dan indahnya langit malam itu
Ungkapan perasaanku kepadamu, kekasihku
Mr.Makarov - 10/10/2012 12:08 AM
#12
Aku Dia Kamu

Aku bukan dirinya
Mungkinkah kami sama?
Aku beda

Dia bukan diriku
Satir ini terasa pilu
Sekali saja pandang diriku

Aku adalah aku
Dia adalah dia
Aku yang menangis dari dalam kalbu
Bukan dia yang pergi sambil tertawa

Aku bukan dia
Tolong berhentilah
Dia bukan aku
Jadi pandanglah aku
Mr.Makarov - 10/10/2012 12:36 AM
#13
Syair Izrail
Quote:
Aku elegi
Satir dunia
Rekuiem jiwa - jiwa

Mr.Makarov - 11/10/2012 04:46 PM
#14
Apokrima Malaikat Jahat
Panggillah aku dengan lembut
Malaikat itu menatapku
Kapankah kau akan mengarung?
***
Tidak
Kau Tuhanku
Bukan
Tuhanku dia
***
Kebaikanmu cinta kasihmu
Tiada lagi yang kutunggu
Maukah kau menetap, tuan?
Senjamu hilang kini
***
Larik berurai serat pekat padat
Kuciptakan untukmu sahaja
Hanya untukmu, tuan
Kuingin kau menetap
Mr.Makarov - 11/10/2012 11:41 PM
#15
Aku sahaya
Aku bahagia
Sakit tapi rasa nikmat
Aneh memang tampak
Masochist katanya

Aku mengerti
Cinta adalah pengorbanan
Yang kuharap hanya bahagiamu
Untukmu, diriku ku menghamba

Mungkinkah kau kan percaya?
Tiada pasti ku rasa
Tapi percuma
Demi siapa sahaya patut bertanya?
Mr.Makarov - 13/10/2012 02:40 PM
#16
Kenangan
Aku
Meteorit yang menghujam bumi
Yang habis terbakar langit
Bersolek sekejap
Lalu mati di atmosfer

Aku
Bagian buruk jahitan itu
Tak ada yang melirik
Hanya dibiarkan terjahit

Aku
Hanya terbujur kaku di sudut ruang
Bingkai usang
Dimangsa debu berumur dan terjaring
Mr.Makarov - 14/10/2012 09:35 AM
#17
Takut
Bilamana namaku tersebut
Akankah ku bahagia?
Kapankah aku kan menangisi?
Tertawapun terhenyak

Siapa yang akan bersenda gurau?
Terpekur terpaku
Diam hening senyap
Suara-suara pun terlelap

Menunggu pun rasanya
Seribu tahun? Sejuta tahun?
Tenggelam dalam peluh
Air mata sublim dengan udara

Lembab lebam
Paranoid fobia
Menyublim perasaan
Mr.Makarov - 17/10/2012 08:43 AM
#18
Kerinduan
Aku melihat langit
Jingga hingga ke batas tapal
Melintasi puncak Ural
Berakhir di horizon biru

Bulan yang penuh
Memanggil dan menyapa malam
Ramai
Namun bukan pasar malam

Duduk terdiam terpaku
Tanah yang mulai mengering
Ranting yang meranggas
Jatuh perlahan ke pangkuanku

Mr.Makarov - 17/10/2012 09:37 PM
#19
Renta
Bataspun menjadi bias
Hirau saja
Di lembayung, duduk

Keriput bercerita pada semua
Putih rambut
dan rentanya otot

Manis pahit kehidupan
Garis mata yang mengalir
Bukan kesedihan
Bukti ketegaran

Mr.Makarov - 18/10/2012 12:55 AM
#20
Aku sudah bahagia
Aneh.. mungkin... tapi aku hanya bisa melihat padamu. Aku merasa takut. Hilangnya dirimu, membuatku takut.
Aku mungkin tidak akan kembali ke dunia. Aku ingin menatapmu dari balik jeruji panas disini.

Bilamana, Tuhan mengutukku. Aku lah yang terkutuk. Aku menghilang.
Mungkinkah iblis dan setan itu akan setia bersamaku disini? Pikiranku melambung tinggi. Tak kembali. Takut.

Darah. Nanah. Peluh. Paduan yang indah. Seperti warna kesukaanmu. Hanya itu yang kuingat
Dapatkah ku kembali? Sudah terlambat mungkin. Aku bahagia disini.

Berkawan dengan lolongan jeritan siksa yang nyata. Sangat nyata.
Kini aku percaya. Tutup mata terhadap logika. Logika yang menutup mata.

Berkobar dan terus membara. Layaknya semangatku. Orang buta yang hilang arah
Siapa yang akan menuntunku? Aku tau sudah terlambat. Aku sudah bahagia disini.
Page 1 of 2 |  1 2 > 
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Romansa, Tuhan, dan Kematian