Papua
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > INDONESIA TIMUR > Papua > PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)
Total Views: 43274 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 7 of 8 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 > 

ZBlackList - 04/05/2011 12:06 PM
#121
Ada Ikan Tak Bermata dari Papua
PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

Ikan tak bermata dan katak yang membawa telur di bagian punggungnya adalah dua dari beragam jenis spesies baru yang ditemukan di sebuah gua di Papua.

Tim peneliti dari Institute Research and Development (IRD) di Montpellier, Perancis menemukannya dalam rangkaian ekspedisi penelitian di gua, sungai bawah tanah hingga hutan belantara di wilayah Lengguru, bagian selatan wilayah leher burung Papua.

"Dalam hal penemuan hal baru, ada banyak hal yang harus diselesaikan di daerah itu, daerah yang sangat sulit untuk diakses tetapi memiliki keragaman hayati yang mengagumkan," kata salah seorang ilmuwan dari IRD, Laurent Pouyaud, dilansir AFP, Jumat (26/11/2010).

Para ilmuwan yang terdiri dari biolog, paleontolog dan arkeolog menelusuri wilayah penelitian tersebut selama tujuh minggu. Wilayah itu dikatakan merupakan labirin tanah kapur yang memungkinkan spesies yang tinggal mengalami isolasi selama jutaan tahun lamanya.

Ikan yang tak memiliki mata serta tak berwarna karena tidak mengalami pigmentasi (produksi pigmen yang menentukan warna kulit) yang ditemukan di salah satu gua adalah penemuan yang paling mengagumkan. "Ikan ini, sepengetahuan kami, merupakan jenis ikan gua pertama yang ditemukan di wilayah Papua," kata Pauyaud.

Sementara para biolog terpesona oleh ikan tanpa mata, para arkeolog juga terpikat oleh temuan lukisan di dinding gua yang dibuat dari alat berbahan cangkang hewan. Temuan tersebut bisa menjadi bukti adanya migrasi orang-orang Asia ke Australia sekitar 40.000 tahun yang lalu.

Penelitian ini merupakan langkah pertama dari sebuah proyek yang direncanakan akan mempelajari keragaman hayati di wilayah Indonesia. Riset tersebut merupakan kerjasama Kementrian Kelautan dan Perikanan dengan perguruan tinggi sains.

Pouyaud mengatakan, keanekaragaman hayati di Papua sendiri saat ini terancam oleh rencana perluasan lahan perkebunan dan tambang.


TKP : http://archive.kaskus.us/thread/6470126
ZBlackList - 04/05/2011 12:11 PM
#122
Misteri Michael Clark Rockefeller, Anak Gubernur New York Korban Kanibalisme di Papua
Saya masukan ke thread ini saja sebagai bahan bacaan dan sejarah D
Berasal dari trit : https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=8210349
TS : https://www.kaskus.co.id/member.php?u=2795057

Misteri Michael Clark Rockefeller, Anak Gubernur New York Korban Kanibalisme di Papua

Quote:
Michael Clark Rockefeller adalah anak Nelson Aldrich Rokfelller, mantan Gubernur New York (1959 – 1973) yang kemudian menjadi Wakil Presiden Amerika pada masa Gerald Ford (1974 – 1977). Tahun 1961 Michael Clark Rockefeller meninggal dunia di pedalaman Papua namun jasadnya belum ditemukan sampai kini. Beredar kabar, dia dibunuh oleh orang dari suku Asmat.

Om Don kemudian mewawancarai sejumlah orang pedalaman di Desa Otjenep dan Desa Pirian, Kecamatan Kasuari, Papua. Di dua desa inilah diyakini Rockefeller ditangkap dan dibunuh. Menurut cerita René S. Wassing kepada berbagai media pada tahun 1961, dirinya bersama Rockfeller dan dua orang pemandu Papua sedang menyusuri sebuah sungai dalam rangka ekspedisi.

Di tengah jalan, perahu tersebut rusak dan terombang-ambing di rawa. Rockefeller lalu menyuruh dua pemandunya untuk berenang mencari bantuan. Setelah ditunggu-tunggu, bantuan tak juga datang, Rockfeller melihat asap di sebuah daratan dan berenang menggunakan bantuan tangki bensin untuk mencapai daratan tersebut. Sementara Wassing menunggu di perahu.

Namun sejak itu, Rockefeller tak pernah kembali. "Tak menutup kemungkinan jika dia memang benar-benar dibunuh, mengingat suku pedalaman di Papua ketika itu masih sangat primitif, kabarnya setelah dibunuh kepala Rockfeller dilubangi dan otaknya dihisap untuk obat menyembuhkan penyakit yang diderita warga pedalaman.

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

foto bersama suku dani:

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

bermain bersama anak suku dani

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

bersama kameranya
karya-karya fotografi yang ia dapatkan di papua sebelum ia hilang

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

film yang menceritakan tentang Michael Clark Rockefeller

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

ZBlackList - 04/05/2011 12:15 PM
#123
Bahasa Dusner dari Papua Terancam Punah
Bahasa Dusner dari Papua Terancam Punah

Quote:
Bahasa terlangka di dunia, Dusner, ternyata berasal dari propinsi Papua, di mana tiga orang yang masih menguasai bahasa itu saat ini sudah berusia lanjut dan sedang terluka akibat bencana alam.

Demikian klaim sejumlah ahli bahasa dari University of Oxford sebagaimana dilansir Straits Times, Rabu (27/4/2011). Dua dari tiga orang yang mampu berbicara bahasa Dusner dikabarkan nyaris meninggal dunia akibat bencana banjir. Sementara, satu lainnya tinggal di dekat gunung berapi ketika gunung itu meletus.

Harian Australia melaporkan, ahli sintaksis Mary Dalrymple sempat terbang ke Papua untuk memahami bahasa tersebut.

"Beberapa bulan ini sungguh menegangkan karena kami menunggu kabar apakah ketiga orang itu selamat dari bencana," jelas Dalrymple.

"Wanita yang tinggal di dekat gunung berapi itu terluka parah. Dia terjebak di sana dan tidak bisa meninggalkan rumah, tapi toh dia selamat," imbuhnya.

Mengingat hanya tiga orang yang masih menguasai bahasa Dusner, dan kini berusia antara 60 dan 70 tahun, Dalrymple berharap bisa mendokumentasikan bahasa tersebut sebelum benar-benar punah.

"Kami baru mengetahui keberadaan bahasa ini tahun lalu. Jika kami tidak mendokumentasikannya sebelum hilang, bahasa ini akan benar-benar punah," pungkas Dalrymple.

Bahasa Dusner digunakan di wilayah Teluk Cenderawasih di propinsi Papua, Indonesia. Menurut Dalrymple, orangtua pembicara bahasa Dusner kemungkinan besar berasal dari Melayu dan tidak terpikir untuk mengajarkan bahasa itu kepada anak-anak mereka karena menganggap mencari pekerjaan lebih penting.

Saat ini terdapat sekira 130 bahasa yang hanya memiliki pengguna kurang dari 10. Secara keseluruhan, terdapat 6.000 bahasa berbeda yang digunakan seluruh penduduk dunia, di mana setengah diantaranya berisiko punah sebelum abad 21 berakhir.


Link : https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=8192088
TS : https://www.kaskus.co.id/member.php?u=2473733
ZBlackList - 04/05/2011 12:23 PM
#124
Hip-Hop Lahir di Papua?
Info unik D


Hip-Hop Lahir di Papua?


Quote:
Sebuah celotehan dengan segenap pembuktian dilakukan koreografer Jecko Siompo. Dengan lantang dan berani Jecko mengumumkan bahwa tarian hip-hop itu lahir di Tanah Papua, Indonesia. Benarkah?

Argumentasi tentang Papua sebagai asal budaya hip-hop dituangkan Jecko melalui pentas tari 'We Came From The East' di Goethe Haus, Menteng, Senin (12/4/2011). Tarian-tarian yang dimainkan oleh 10 'anak buah' Jecko bisa dibilang tidaklah umum.

Sebagai koreografer, Jecko berusaha berpikir logis dan santai tentang dasar --awal mula-- gerakan hip-hop masa kini. Sebut saja, seperti gerakan melompat, robot style, break dance dan lain-lain. Alhasil, Jecko pun kembali ke zaman purbakala di Tanah Papua.

Sulit digambarkan, gerakan 10 penari tersebut seakan asal-asalan. Ada gerakan berjalan membungkuk, berjalan dengan tangan, melompat lalu melata. Jecko yang jebolan seni tari Institut Kesenian Jakarta menyebutnya gerakan tersebut 'animal pop'.

Gerakan-gerakan yang diadopsi Jecko dan 10 penarinya berasal dari gerakan atau tingkah laku binatang. Dari kanguru, ayam, anjing laut, monyet, hingga anjing. Tarian tersebut terus berlangsung selama 1 jam hingga bertemu sebuah tarian hip-hop modern.

Seusai pertunjukan, detikhot menemui mantan dewan juri acara 'Lets Dance' di Global TV itu. Di sela kesibukannya menerima ucapan selamat dan permintaan foto bareng dari penonton, Jecko menjelaskan, pentas 'We Came From The East' sebenarnya sebuah tesis yang ia buat sebagai syarat lulus S2 studi Tarian Hip-Hop di Portland, Maine, Amerika Serikat.

"Sebenarnya akar di Indonesia itu prinsip street dance itu sudah ada, kayak anak-anak main di lantai. Lagi pula hip-hop itu kan sudah kebiasaan orang-orang Jawa, Sumatera, Bali dan sebagainya. Kayak gerakan menyapu halaman dengan membungkuk, mengusir ayam, itu kan gerakan dasar hip-hop. Nah di Amerika atau di New York itu hanya pengembangan saja," ungkap pemeran Hanoman dalam film 'Opera Jawa' karya Garin Nugroho itu.

Menurut Jecko, mestinya hip hop bisa saja berkembang di Indonesia. Namun, itu tidak tidak terjadi karena ketiadaan perkembangan teknologi.

"Jadi gerakan-gerakan tarian Papua masih seperti itu-itu saja. Misalnya saja DJ Box, itu akan terinspirasi dari rebab Betawi (alat musik gesek), nah sekarang berkembang pakai tangan," Jecko memberi contoh.

Kesemua argumentasi tersebut suatu saat dipertanyakan oleh teman-teman Jecko di luar negeri. Apa buktinya hip-hop lahir di Papua? "Hip-hop was born in Papua. You don't have to believe me? But my great-grandmother told me," begitu jawaban Jecko. "Jadi kalau tidak percaya, tanya saja ke nenek moyang saya," lanjutnya setengah berkelakar.

Terlepas dari apakah hip-hop lahir di Papua itu hanya anekdot atau "ilmiah", lewat tarian Jecko ingin menyampaikan sebuah semangat tentang ketimuran. Menurutnya, saat ini Indonesia sebagai bagian dari negara timur, telah kehilangan percaya diri.

"Suatu saat ibu saya di Papua pernah berkata, jika kamu ingin berjalan, jangan takut dengan orang Barat. Karena sinar matahari kita duluan yang merasakan, setelah itu baru orang Barat. Matahari kan terbit dari timur, dalam apapun kita selangkah lebih maju. Mengapa kita tertinggal saat ini?" ujar Jecko.

Semangat ketimuran yang tertuang dalam reportoar tari 'We Came From The East' itu akan dipentaskan Jecko keliling dunia: Berlin (20 - 22 April), Singapore Dance Festival (19 - 20 Agustus) dan di Melbourne International Arts Festival (19 - 22 Oktober).


Link : https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=7946418
ZBlackList - 04/05/2011 12:27 PM
#125
Ditemukan, Situs Penguburan Prasejarah di Papua
Ditemukan, Situs Penguburan Prasejarah di Papua

Quote:
Balai Arkeologi Jayapura menemukan dua situs penguburan prasejarah di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Peneliti Balai Arkeologi Jayapura, Rini Maryone, di Jayapura, Senin (11/4), mengatakan dua situs itu ditemukan di Kampung Kabiding, Distrik Oksibil dan Kampung Wanbakon, Distrik Serambakon.

"Penemuan ini jelas sangat menarik, karena dengan ditemukannya dua situs penguburan itu menunjukkan adanya perbedaan tradisi di daerah pegunungan," katanya. Dia menilai, tradisi penguburan prasejarah di gua oleh suku-suku di Kabupaten Pegunungan Bintang sangat berbeda dengan tradisi penguburan di daerah Pegunungan Tengah lainnya.

Misalnya, katanya, di daerah Wamena oleh Suku Dani dan di daerah Tolikara dimana mereka mengenal tradisi pembakaran mayat. Pada penelitian tersebut, katanya, ditemukan juga jenis alat batu yang terdiri atas alat serpih, kapak persegi, dan alat serut yang ditemukan di dalam dan di luar gua.

"Jika dilihat dari jenis alat yang ditemukan menggambarkan tradisi prasejarah berburu dan meramu," katanya. Selain dua situs penguburan, katanya, Balai Arkeologi juga berhasil menemukan satu situs gua prasejarah yang berkaitan dengan pemujaan di Kampung Okmakok, Distrik Oksibil.

Ia mengharapkan, hasil penelitian itu berguna untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian lanjutan di Kabupaten Pegunungan Bintang. Ia mengharapkan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pegunungan Bintang dapat mengembangkan situs-situs tersebut sebagai objek pariwisata.

"Situs yang ditemukan jelas memiliki nilai budaya yang sangat tinggi dan layak dijadikan objek wisata. Untuk itu sangat diharapkan masyarakat yang tinggal di sekitar situs dapat menjaga dan melestarikan situs tersebut," kata Rini Maryone.(Ant/RAS)


Sumber : Metrotvnews.com
ZBlackList - 04/05/2011 12:30 PM
#126
Asal-Usul Nama Papua
Asal-Usul Nama Papua


Quote:
Sekitar Tahun 200 M, ahli Geography bernama Ptolamy menyebutnya dengan nama Labadios. Belum diketahui maksudnya apa disebut demikian. Di akhir tahun 500 M, pengarang Tiongkok bernama Ghau Yu Kua memberi nama Tungki, dan pada akhir tahun 600 M, Kerajaan Sriwijaya menyebut nama Papua dengan menggunakan nama Janggi.

Nama Tungki dan Janggi telah mengundang berbagai pendapat, kemungkinan nama Tungki yang sudah berubah dalam sebutannya menjadi Janggi atau sebaliknya. Pada akhir tahun 1300, Majapahit menggunakan dua nama, yakni Wanin dan Sram.

Nama Wanin, tentu tidak lain dari semenanjung Onin di daerah Fak-Fak dan Sram, ialah pulau Seram di Maluku. Ada kemungkinan, budak yang dibawa dan dipersembahkan kepada Majapahit berasal dari Onin, dan yang membawanya ke sana adalah orang Seram dari Maluku, sehingga dua nama ini disebut.

Tidore memberi nama untuk pulau ini dan penduduknya sebagai Papa-Ua yang sudah berubah dalam sebutan menjadi Papua. Pada tahun 1545, Inigo Ortiz de Retes memberi nama Nueva Guinee. Dan ada pelaut lain yang memberi nama Isla Del Oro, yang artinya Pulau Emas.

Nama Nueva Guinee kemudian di-Belanda-kan menjadi Nieuw Guinea. Pada tahun 1956, Belanda merubah nama Niew Guinea menjadi Nederlands Nieuw Guinea. Perubahan nama Nieuw Guinea menjadi Nederlands Nieuw Guinea mengandung maksud positive dan maksud negative.

Positivenya ialah karena nama Nieuw Guinea sering dihubungkan dengan sejarah Hindia Belanda (Nederlands Indie), terutama pihak Indonesia sering menggunakan ini sebagai alasan menuntut Nieuw Guinea dari Belanda.

Negativenya ialah bahwa sebelum Nieuw Guinea dijual, lebih dahulu dijadikan milik Belanda. Hal ini terbukti kemudian, bahwa Nederlands Nieuw Guinea bersama Nederlands Onderdaan yang hidup diatasnya, dijual kepada Indonesia pada 1962. Belanda merasa berhak berbuat demikian, karena sejak 1956, West Papua telah dijadikan miliknya.

Apa yang dilakukan Pemerintah Belanda dimasa itu, paralel dengan tindakan Synode Gereja Hervormd Belanda, sebab pada tahun 1956 itu juga, melepaskan tanggung-jawabnya kepada Dewan Gereja-Gereja di Indonesia.

Pada tahun 1961, Komite Nasional Papua yang pertama menetapkan nama Papua Barat. Pada masa Pemerintahan Sementera PBB (UNTEA), menggunakan dua nama, West New Guinea/West Irian.

Pada tanggal 1 Mei 1963, Irian Barat pun resmi menjadi wilayah Republik Indonesia berdasarakan Persetujuan New York yang ditandatangani 15 Agustus 1962. Republik Indonesia masih menggunakan nama Irian Barat.


Namun, Bung Karno sudah mempersiapkan nama kala itu, yang di dapatnya dari salah seorang pejuang tanah air, nama itu ialah Irian Jaya, yang berarti Ikut Republik Indonesia Anti Nedherland dan kata Jaya artinya menang.

Setelah Proklamasi kemerdekaan tanggal 1 Juli 1971, Pemerintah Revolusioner sementara Republik West Papua di Markas Victoria, menggunakan nama West Papua.

Pada tahun 1973, Pemerintah Republik Indonesia di West Papua merubah nama Irian Barat menjadi Irian Jaya.

Pada tahun 2000 nama Irian Jaya kembali menjadi Papua hingga kini.

Nama Papua, aslinya Papa-Ua, asal dari bahasa Maluku Utara. Maksud sebenarnya, bahwa di pulau ini tidak terdapat seorang raja, yang memerintah disini sebagai seorang bapak, itulah sebabnya pulau dan penduduknya disebut demikian.

Papa-Ua artinya anak piatu. Dari sekian nama yang sudah disebut, Komite Nasional Papua pada tahun 1961, memilih dan menetapkan nama PAPUA, karena rakyat disini kelak disebut bangsa Papua dan tanah airnya Papua Barat (West Papua).

Alasan memilih nama Papua, karena sesuai dengan kenyataan, bahwa penduduk pulau Papua sejak nenek moyang tidak terdapat dinasti yang memerintah atau raja disini, sebagaimana yang ada dibagian bumi yang lain. Orang Papua berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah.

Tidak ada yang dipertuan untuk disembah dan tidak ada yang diperbudak untuk diperhamba. Raja-raja yang tumbuh seperti jamur di Indonesia, adalah akibat pengaruh pedagang bangsa Hindu dan Arab dimasa lampau.

Inilah sebabnya maka rakyat Papua anti kolonialisme, imperialisme, dan neo-kolonialisme. Nenek moyang mereka tidak pernah menyembah-nyembah kepada orang lain, baik dalam lingkungan sendiri. Mereka lahir dan tumbuh diatas tanah airnya sendiri sebagai orang merdeka.

Nama Irian adalah satu nama yang mengandung arti politik. Frans Kaisiepo, almahrum, orang yang pertama mengumumkan nama ini pada konperensi di Malino, Ujung Pandang pada tahun 1945, antara lain berkata : “Perubahan nama Papua menjadi Irian, kecuali mempunyai arti historis, juga mengandung semangat perjuangan : IRIAN artinya Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”. (Buku PEPERA 1969 terbitan tahun 1972, hal. 107-108).

Nama Irian diciptakan oleh seorang Indonesia asal Jawa bernama Soegoro, bekas buangan Digul-Atas, tetapi dibebaskan sehabis Perang Dunia kedua dan pernah menjabat Direktur Sekolah Pendidikan administrasi pemerintahan di Hollandia antara tahun 1945-1946.

Perubahan nama Irian Barat menjadi Irian Jaya, terjadi pada tahun 1973, juga mengandung arti politik. Regiem Militer Indonesia tidak menginginkan adanya pembagian Pulau Papua menjadi dua dan berambisi guna menguasai seluruhnya.

Pendirian ini berdasarkan pengalaman tentang adanya dua Vietnam-Selatan dan Utara, tentang adanya dua Jerman-Barat dan Timur, dan tentang adanya dua Korea-Selatan dan Utara. Irian Jaya, Irian yang dimenangkan. Jaya, victoria atau kemenangan. Jika huruf “Y” dipotong kakinya, maka akan terbaca Irian Java alias Irian Jawa.


Sumber : http://archive.kaskus.us/thread/6146814
ZBlackList - 04/05/2011 12:31 PM
#127
Asal-Usul Nama Papua
Baru nyadar dopost p
failoverflow - 12/05/2011 10:18 PM
#128

waaaaaaaaaaaw,banyak pemandangan dan nuansa alam baik flora dan faunanya ya gan \)
nice to PAPUA \)
papuanhiphop - 12/05/2011 10:21 PM
#129

Quote:
Original Posted By Ghoes Green
Hanya ada Di Papua | Only in Papua

Tradisi Makan Pinang di Papua

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

Dilarang makan pinang. Stiker seperti itu sudah umum ditemukan di Bandara Sentani Jayapura, Papua. Larangan seperti itu diperlukan karena kegemaran saudara-saudara kita di Papua mengonsumsi pinang yang menghasilkan air ludah berwarna merah itu bisa membuat lingkungan Bandara Sentani menjadi sangat jorok.

Mereka yang makan pinang ditambah campuran lainnya, sama seperti orang makan sirih yang menghasilkan air ludah berwarna merah. Biasanya air ludah itu dimuntahkan begitu saja di jalan, atau di mana saja. Bisa dibayangkan kalau air ludah itu dibuang di terminal Bandara Sentani maka semua lantai akan berwarna merah, dinding-dinding juga berwarna merah akibat air ludah yang berwarna merah itu.

Jalan-jalan di sekitar terminal Bandara, atau di Kota Jayapura sendiri sebagian memang berwarna merah karena masyarakat dengan seenaknya membuang ludah di jalan atau tempat-tempat lainnya. Kesan jorok pasti terasa, dan kalau tahu penyebab warna merah itu adalah air ludah, maka kita akan hati-hati melangkah agar tidak menginjaknya.

Ada yang mengatakan, ludah berwarna merah itu tidak hanya dibuang di jalan, tapi kadang-kadang dengan sengaja dibuang ke bangunan yang baru dicat, atau lantai yang baru dibangun di sebuah bangunan baru. Yang bisa dilakukan hanyalah menempel stiker seperti larangan makan pinang itu. Dan itu pun rasanya belum tepat karena yang dilarang seharusnya membuang air ludah sembarangan, bukan tradisi makan pinang itu.

Kebiasaan membuang ludah hasil makan pinang itu sama seperti yang terjadi di Myanmar. Penduduk di sana juga terbiasa makan sirih yang dijual di pinggir jalan. Seperti merokok, setiap orang dapat membeli sirih untuk sekali makan. Karena itu, jangan heran di Myanmar jalan-jalan penuh dengan warna merah karena ludah berwarna merah dibuang sembarangan di jalan-jalan.

Kesan yang timbul mengunjungi Bandara Sentani memang sangat tidak nyaman. Semua toilet yang ada di Bandara itu dalam keadaan rusak, walau kata petugasnya sedang direnovasi. Toilet yang ada di terminal kedatangan, dan kebarangkatan semuanya tergenang air. Apalagi yang berada di luar terminal, semua toiletnya sedang ditutup karena alasan sedang dalam perbaikan. Kita khawatir genangan air yang ada di toilet itu selain air kencing dan air lainnya, pasti di dalamnya juga tercampur dengan air ludah yang berwarna merah dari pemakan pinang tersebut.

Dan lebih tidak menarik lagi di hampir semua Bandara di Papua, banyak anggota masyarakat yang bisa masuk sampai ke pinggir landasan tempat pesawat parkir, seperti di Bandara Sentani. Petugas memang berusaha untuk mencegah mereka masuk dan menghalau mereka untuk keluar dari daerah yang sebenarnya tertutup tersebut. Tapi mereka tetap tidak mau keluar dari lingkungan yang terbatas tersebut. Bagaimana faktor keselamatan penerbangan dengan adanya kelonggaran seperti itu.

Pemerintah memang telah berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakat, dan masyarakat juga sebenarnya harus menjaga dan memelihara apa yang telah dibangun oleh pemerintah tersebut. Kita juga harus menjaga kebersihan lingkungan kita, apalagi Papua merupakan salah satu tujuan wisatawan mancanegara, sehingga harus kita jaga kebersihannya dengan tidak membuang ludah sembarangan.

Sumber : Infopapua

Sa tambah ya kk semoga tidak salah kamar malu:


karena pinang itu gula2 papua jadi kaka.. D sa juga kalo su pulkam itu pasti mampir ke mama2 jual pinang beli satu tumpuk.. \)
hahahaee.. D
dontforgetboy - 13/05/2011 11:40 PM
#130

iloveindonesia iloveindonesia

nice info gan ilovekaskus

salam kenal gan D

oia gan aq jg pux bbrp info klo berminat silahkan mampir ksni gan ..

https://www.kaskus.co.id/showthread.php?p=426512116&posted=1#post426512116
dhanu.asmoro - 16/05/2011 08:28 AM
#131

daerah papua barat khususnya KAIMANA tolong diupdate donk...
Terutama Teluk Tritonnya...
iloveindonesia
ɐnʇɐʞɐʞ² - 31/05/2011 09:57 PM
#132

Predator Di Danau Sentani

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

Semula warga hanya tahu ikan eksotik gabus Toraja (Channa striata) yang banyak mengancamkan populasi jenis-jenis ikan Gabus asli Danau Sentani. Ikan gabus asli Danau Sentani (Oxyeleotris heterodon) sendiri, ada dua jenis tergantung ukurannya. Yang kecil seperti gabus biasa namun yang besar bisa seukuran betis kaki orang dewasa.

Ikan-ikan gabus sebesar betis orang dewasa ini dalam bahasa Sentani disebut Khahabei karena hanya dipersembahkan bagi Ondoafi dan juga kaum ibu yang baru selesai melahirkan. Ikan Khahabei ini mengandung banyak protein sehingga dianggap ikan penting dalam budaya masyarakat ditepian Danau Sentani.

Belakangan ikan-ikan asli di Danau Sentani semakin terancam punah akibat populasi ikan-ikan eksotik yang memusnahkan dan menjadi predator bagi ikan-ikan tersebut. Predator , menurut pakar lingkungan dan biologi adalah hewan-hewan atau ikan-ikan yang hidup dengan jalan menangkap dan memakan ikan lain. Biasanya hal ini bisa terjadi kalau populasi ikan-ikan endemik seperti ikan lohan dan ikan gabus Toraja yang jumlahnya semakin banyak di dalam suatu ekosistem.

Nelayan asal Kampung Putali, Luis Monim mengaku saat ini nelayan di sekitar Danau Sentani sulit mendapat ikan gabus asli Danau Sentani. Menurut Luis Monim ikan gabus Toraja (Channa striata) memakan telur-telur ikan gabus sehingga jumlah semakin terbatas.

“Waduh kitorang sekarang kalau mau cari ikan gabus asli Danau Sentani harus menyelam sampai dalam baru bisa dapat. Itupun kalau mujur,” papar Luis Monim kepada Jubi di Pasar Sentani, Jumat (20/5).

Dia menambahkan bukan hanya ikan gabus Toraja saja yang memakan telur ikan gabus asli Danau Sentani tetapi ikan Lohan pun ikut memangsa telur-telur ikan. “Jadi ikan lohan dan ikan gabus Toraja yang memakan telur-telur ikan gabus asli Danau Sentani,” papar Luis Monim. Cilakanya lagi, lanjut dia anak-anak ikan gabus asli Danau Sentani pun jadi santapan ikan Gabus Toraja dan ikan Lohan. Ikan-ikan lohan juga memakan makhluk hidup seperti jangkrik, ikan-ikan kecil, udang, sehingga termasuk pemangsa makluk hidup lainnya.

Peneliti ikan jenis air tawar di Danau Sentani dari Fakultas MIPA, Jurusan Biologi Universitas Cenderawasih (Uncen) Henderita Loisa Ohee mengatakan diduga ada sebanyak 15 jenis ikan air tawar yang diintroduksi ke dalam Danau Sentani. Dia juga mengakui masuknya jenis ikan-ikan baru seperti Gabus Toraja sebagai penyebab punahnya ikan-ikan jenis asli di Danau Sentani termasuk Khahabei, ikan gabus asli Danau Sentani (Oxyeleotris heterodon). Selain faktor masuknya jenis ikan baru atau eksotik menurut Henny Ohee, kandidat Doktor dari Unibersitas Gottingen Jerman ini perubahan suhu air tawar dan sedimentasi Danau Sentani juga mengancam populasi ikan-ikan pelangi asli Danau Sentani (Chilatherina sentaniensis).

Senada dengan Henny, Lindon Pangkali aktivis Lingkungan Hidup dan Koordinator Advokasi Lingkungan Hidup Foker LSM Papua mengatakan aktivitas perlindungan lingkungan masyarakat lokal juga sudah jarang dilakukan. Padahal jaman dulu orang Sentani mengenal tradisi sasi yang dalam bahasa setempat disebut Burekheng. Tradisi Burekheng ini hampir mirip dengan Sasisen dalam kebudayaan masyarakat Biak Numfor dan juga Tiyatiki di masyarakat Depapre Kabupaten Jayapura. “Konservasi tradisional model Burekheng dilakukan oleh setiap klen atau keret,” papar Pangkali, seraya menambahkan mula-mula dipatok kayu-kayu yang berbentuk lingkaran di dalam Danau Sentani. Dalam patok kayu berbentuk lingkaran seperti sero dan memasukan batang-batang sagu serta pelepah dan daun-daun. Dalam sero berbentuk lingkaran ini dibiarkan selang beberapa lama dan akan dipanen sesuai jadwal yang telah disepakati.”Sayangnya tradisi ini sudah jarang dilakukan kemungkinan besar karena populasi ikan yang berkurang sehingga sudah tidak lagi dilakukan,”papar Pangkali.

Namun yang jelas Pangkali mengkritisi kebijakan pemerintah memasukan jenis ikan-ikan baru di dalam Danau Sentani. “Mestinya harus ada penelitian dan pengkajian yang mendalam agar terdapat keseimbangan antara ikan-ikan jenis asli dan juga jenis eksotis dari luar Papua,” papar Pangkali.

Memang harus diakui bahwa berbagai problem mengancam keberlanjutan budidaya ikan endemik dan kelestariannya di Indonesia termasuk di Provinsi Papua khususnya di Danau Sentani karena ekspoitasi yang berlebihan. Selain itu juga faktor, introduksi ikan-ikan jenis lain yang bersifat predator dan kompetitor. Kasus introduksi ikan gabus toraja (Channa striata) di Danau Sentani, mengancam ikan gabus asli Danau Sentani. Hal serupa juga terjadi di Danau Poso dan Malili di Sulawesi Tengah.
Begitupula ancaman kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan pertanian dan pembabatan hutan. Akibat kegiatan pertanian yang menggunakan pupuk anorganik, limpasannya masuk ke sungai dan danau, sehingga mencemari dan merusak habitat ikan endemik.

Hal serupa akan terjadi akibat pembabatan hutan di hulu sungai, tepi danau dan daerah tangkapan air. Proses sedimentasi yang disebabkan oleh limpasan lumpur dari aktivitas pertanian di tepi danau menyebabkan danau semakin dangkal. Juga, pembabatan hutan di hulu menyebabkan sungai mengalami pendangkalan. Otomatis proses sedimentasi yang semakin bertambah setiap tahunnya mengancam hilangnya habitat ikan endemik.

Penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan juga bisa menjadi penyebab hilangnya jenis-jenis ikan endemik dan proses ovulasi ikan di daerah ini. Penyediaan pakan ikan budidaya juga mengancam kelestarian ikan endemik seperti pembuatan pakan ikan dengan memakai ikan-ikan kecil di lokasi Tanjung Hobai Danau Sentani. Pengembangan budidaya keramba mengancam ikan endemik Danau Sentani karena pakannya diambil dari ikan-ikan kecil di danau ini. (Dominggus A Mampioper)

Sumber : Tabloid Jubi
Starfun - 05/09/2011 01:36 PM
#133

maz klo identifikasi flora dan fauna di papua ada gag mazz :addfriends :addfriends cendolbYb
greenfortuner - 07/02/2012 10:50 AM
#134

Quote:
Original Posted By blazz
matabelo:matabelo:matabelo:
INDAHNYA karya ILLAHI dan itu ada di indonesia....
NICE rose:rose:


kapann yaahh bisa ksana????bingungsbingungs
katongpapua - 22/06/2012 02:20 PM
#135

mantab kk,salam kenal .......

[quote=t-shirt nuansa papua] http://www.kaskus.co.id/showthread.php?p=712216307#post712216307 [/quote]
ɐnʇɐʞɐʞ² - 28/07/2012 07:57 AM
#136

Sagu Makanan Khas Papua

Quote:
PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)


Quote:
Jalan-jalan yuk kali ini mencoba bercerita tentang Sagu, makanan khas warga Papua. Bagaimana Sagu didapatkan dan cara pengolahannya. Bagi masyarakat Papua, Sagu adalah salah satu hal yang terpenting dalam hidup mereka. Hanya sebagian kecilnya saja yang sudah mengenal beras atau nasi, sedangkan makanan pokok dan utama mereka tetaplah Sagu.

Untuk memanen Sagu saja, masih banyak masyarakat Papua yang memulainya dengan upacara khusus. Hal tersebut adalah sebagai penghormatan dan rasa terimakasih atas hasil panen yang melimpah dan mampu mencukupi kebutuhan makanan bagi keluarga mereka.

Hamparan tanaman sagu di Papua, diperkirakan adalah yang terluas di dunia, denagn menguasai 85 persen total luas tanaman sagu di seluruh Indonesia. Papua adalah propinsi penghasil sagu terbesar, dan luasnya tak kurang dari 700.000 hektar lahan sagu.

Secara turun temurun, masyarakat Papua mampu memilih bibit sagu yang baik. Dan mereka secara tradisional bergantung kepada alam, serta mengolah sagu dengan tenaga manual. Alat-alatpun mereka ciptakan sendiri menyesuaikan dengan teknik pengolahan sagu yang mereka kuasai. Tak ada bantuan mesin, semuanya mereka kerjakan sendiri.

Tanaman sagu sudah bisa dipanen jika berumur dua sampai tiga tahun. Dalam satu keluarga, mereka bergotong-royong memanen sagu, dan akan mendapatkan sekitar 150 hingga 300 kilogram sagu yang bisa memenuhi kebutuhan makanan mereka selama dua minggu hingga satu bulan. Awalnya, pohon sagu ditebang dan kemudian batangnya dikuliti. Dengan menguliti batang sagu tersebut, didapatkanlah intinya, yang merupakan sagu yang berada di dalam pohon.

Inti pohon sagu tersebut kemudian dibelah hingga didapatkan ukuran yang lebih kecil. Setelah itu, diambil dan ditumbuk. Penumbukan sagu dilakukan dengan alat yang disebut pangkur. Pangkur ini bentuknya lancip, mirip dengan tombak pada ujungnya. Berbentuk menyerupai cangkul yang berfungsi menghancurkan sagu menjadi potongan kecil-kecil menyerupai serat. Yang selanjutnya kemudian dicampur dengan air. Pada proses selanjutnya, sagu akan mengendap dan memisahkan diri dari air, endapan tersebut yang akan dipadatkan dan dibentuk seperti bola atau lontong dan disimpan dalam wadah-wadah khusus.

Wadah khusus tersebut bernama tumang, sebuah keranjang yang terbuat dari rotan tempat menyimpan sagu yang dihasilkan dari pohon. Sagu kemudian dibakar agar lebih awet dalam menyimpan. Jika ingin makan, sagu dapat diolah menjadi bubur atau masakan lain. Lebih nikmat jika dimakan dengan ikan, hewan hasil buruan atau sayur mayor yang mereka temukan di hutan.

Tertarik untuk melihat proses pembuatan sagu secara langsung di bumi Papua?

http://www.jalanjalanyuk.com/sagu-makanan-khas-papua/
ɐnʇɐʞɐʞ² - 28/07/2012 08:02 AM
#137

Lezatnya Menyantap “Lem” dan “Kayu” Khas Papua

Quote:
PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

Papeda dengan kuah Ikan Baretang. Siap disantap. (Foto: Koleksi pribadi)

Quote:
Begitu membaca thema yang ditetapkan Kompasiana Freez tentang kuliner unik, saya langsung teringat dengan makanan khas Papua dan Maluku. Makanan tersebut merupakan makanan kegemaran saya di masa kecil saya di sana sampai pada waktu saya harus pindah ke Bandung untuk kuliah. Sekarang, sudah sangat jarang menyantapnya. Kecuali mendapat kiriman dari Fakfak, Papua.

Mulai dari proses pembuatannya, bentuk, tekstur, dan rasanya makanan ini memang sangat unik. Makanan yang saya maksudkan itu ada dua. Namanya Papeda dan Sagu.

Bentuk, tekstur, dan rasa papeda sangat unik. Karena wujudnya yang lembek itu benar-benar seperti lem yang biasanya dipakai di kantor-kantor pos. Sedangkan sagu adalah sebaliknya, berbentuk batangan-batangan pendek sekitar 10 cm dan sangat keras. Sekeras kayu!

Lalu, bagaimana caranya mengkonsumsi “lem” dan “kayu” ini?

Papeda dan sagu terbuat dari tepung sagu yang diambil dari pohon sagu yang banyak tumbuh di Papua dan Maluku. Baik yang tumbuh secara liar, maupun yang dibudidayakan (secara tradisional). Bahan yang menjadi tepung sagu itu diambil dengan cara menokok batang pohonnya.

Bonggol yang berasal dari batang pohon itu diperas untuk diambil saripatinya. Saripati inilah yang kemudian menjadi tepung sagu yang siap diolah menjadi beraneka macam bahan kue dan makanan. Di Papua yang paling terkenal secara tradisional adalah dua macam makanan yang saya sebutkan di atas.

Saripati yang telah menjadi tepung sagu itu disimpan di wadah-wadah yang terbuat dari dedaunan kering, yang disebut tumang. Tumang-tumang berisi tepung sagu ini disimpan di tempat yang kering dan bersuhu hangat (tidak lembab).


Quote:
PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)


Papeda

Quote:
Untuk membuat papeda tepung sagu diambil secukupnya, diletakkan di dalam sebuah wadah kemudian disiram dengan air panas mendidih sambil diaduk sampai berwujud lembek seperti lem.Untuk mengkonsumsinya biasanya ditemani dengan ikan masak kuah kuning, yang dinamai ikan baretang.

Pertama-tama kuah ikan ditaruh di dalam piring, kemudian papeda diambil dengan cara menggunakan dua buah garpu atau sumpit sambil diputar-putar agar bisa terambil sebanyak yang diinginkan. Lalu, ditaruh di dalam piring yang sudah ada kuah ikan baretangnya itu. Selain untuk dikonsumsi bersama papeda, kuah ikan ini juga berfungsi supaya papeda tidak lengket di piring.

Agar cita rasanya bertambah, dan ada asupan protein dan gizi yang cukup, maka sebaiknya ditambah dengan ikan baretangnya dan sayur. Sayur yang paling pas untuk ini adalah kangkung tumis.

Cara makannya jangan dengan disendok seperti menyendok nasi, tetapi dengan cara sedikit menyedotnya bersama dengan kuah ikannya ke dalam mulut. Terus langsung ditelan. Tidak perlu dikunyah.

Untuk membuat ikan baretang, berikut resepnya singkatnya:

Jenis ikan yang dipakai yang paling cocok adalah kakap merah, mubara, tongkol, atau ikan kembung. Bagi yang suka, resep ikan baretang ini bisa dibuat dari kepala ikan kakap.

Lumuri ikan yang telah dipotong-potong dengan air jeruk dan garam. Diamkan sebenatr supaya meresep.

Bumbunya: bawang merah, bawang putih, sereh, kunyit, lengkuas, jahe, cabe keriting, cabe kecil (kalau mau pedas). Semua bahan ini dihaluskan. Ditumis sampai berbau harum. Masukkan ikan. Tambahkan garam, vetsin, gula, tomat (dipotong-potong), daun jeruk (2 lembar). Kalau suka asam ditambah air jeruk nipis, atau air asam Jawa.

Quote:
PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)
PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)
PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)



Sagu

Quote:
Cara membuat sagu adalah dengan menempatkan tepung sagu di dalam cetakannya. Umumnya berbetuk batang-batangan dengan panjang sekitar 10 cm, diameter sekitar 3 cm. Setelah itu dibakar di atas api menyala sampai benar-benar kering dan keras. Kemudian dikeluarkan dari wadahnya. Didinginkan. Siap disantap.

Siap disantap, bukan berarti Anda bisa langsung mengigit dan mengunyahnya. Karena itu tak mungkin bisa Anda lakukan, atau gigi Anda yang malah patah. Saking kerasnya sagu ini. Untuk mengkonsumsinya ada caranya. Yakni harus terlebih dahulu dicelupkan/direndam sebentar ke dalam air minum, teh manis hangat, atau kopi. Dicelupkan sebentar sampai menjadi agak lunak dan bisa digigit/dikunyah. Jangan terlalu lama, karena akan menjadi terlalu lembek dan rasanya menjadi tidak enak.

Berbicara tentang rasa, rasa sagu ini adalah hambar. Apalagi kalau yang digunakan untuk mencelupkannya itu hanyalah air minum biasa saja. Kalau menggunakan teh manis dan kopi tentu saja ada rasa teh dan kopi itu. Tetapi ini tidaklah cukup untuk bisa benar-benar menikmati lezatnya sagu. Harus ditemani dengan lauk khusus yang paling cocok dengan sagu. Yang bukan lain adalah ikan bakar dicelup sambal kecap. Rasanya benar-benar unik dan sangat lezat.


Quote:
PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)
ɐnʇɐʞɐʞ² - 28/07/2012 08:04 AM
#138

Kampung Asey, Sentra Kerajinan Lukisan Kulit Kayu Khas Papua

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

Quote:
Papua punya banyak tradisi yang tersebar di seluruh pelosok wilayahnya. Danau Sentani misalnya, punya kerajinan lukisan kulit kayuyang dibuat oleh masyarakat Kampung Asey. Otentik, pun menjadi tradisi turun-temurun.

Saya memandangi lukisan yang dipajang di salah satu stan Festival Danau Sentani. Hari itu, Rabu (20/6/2012), adalah pertama kalinya saya jatuh cinta dengan lukisan khas lokal. Garis lukisannya hanya berwarna putih, hitam, dan merah. Namun, tergurat cantik di atas selembar kulit kayu.

Sedikit berbincang dengan sang empunya stan, lukisan itu dibuat oleh suku Kampung Asey yang menempati sebuah pulau mungil. Sesuai nama kampungnya, pulau itu juga bernama Asey. Usut punya usut pulau ini jadi persinggahan

utama bagi para turis asing, terutama asal Eropa.Daya tarik utama wisatawan tentu saja lukisan kulit kayu itu. Beruntung, Sentani Lake Tour yang saya ikuti hari itu punya agenda singgah di Pulau Asey. Asyik!

Kapal berlabuh pukul 11.30 WIT, melewati beberapa pulau mungil hingga akhirnya singgah di Pulau Asey. Dermaga di pulau ini punya gapura selamat datang dengan lambang salib besar di atasnya. Setelah berfoto dengan rombongan tur, saya pun memasuki Kampung Asey.

Pulau ini tergolong mungil, dengan kontur datar lalu menanjak. Di tengahnya terdapat gereja tua yang konon sudah ada sejak pendudukan Belanda. Di ujung dermaga kayu, terhampar lukisan-lukisan kulit kayu yang sangat indah.

Seorang mamak dari Suku Asey sedikit menjelaskan tentang kerajinan ini. Kulit kayu ini diambil dari pohon Ombou yang tumbuh subur di pulau itu.

"Kami mengupas kulitnya memakai perasaan. Dipotong dari bagian yang tipis dulu, habis itu baru dikuliti semuanya pelan-pelan," tutur sang mamak sambil memegang batang pohon Ombou.

Pohon Ombou ini aneh tapi nyata. Ia tumbuh di tempat-tempat tak terduga. Kalau sengaja menanam bibit, ia tak akan tumbuh. Tapi kalau masyarakat setempat baru buka lahan berkebun baru, Ombou selalu muncul!

Tiga warna yang saya sebutkan sebelumnya: putih, hitam, dan merah, berasal dari pewarna alami. Putih dari kapur, hitam dari arang, dan merah dari buah merah Papua yang terkenal khasiatnya itu. Masing-masing lukisan punya motif berbeda dari tiap suku penunggu Danau Sentani.

Ada yang bergambar Suku Asmat, orang Sentani, juga naga. Yang disebut terakhir itu beradasarkan legenda naga raksasa dari Papua Nugini yang terdampar di Danau Sentani. Selain itu, ada pula motif ikan yang disinyalir adalah Hiu Sentani (Pristis Microdon) yang terakhir ditemukan di danau ini pada 1990-an.

Dari sekian banyak motif lukisan ini, satu bentuk yang tak boleh ketinggalan adalah Tifa. Ini adalah alat musik khas masyarakat Sentani yang berbentuk seperti gendang. Selain pada lukisan, motif Tifa juga selalu ditemukan di kain batik khas Papua.

Wisatawan bebas membeli lukisan kulit kayu ini. Mulai ukuran pembatas buku, sampai 3 meter panjangnya. Paling murah Rp 5.000 sampai yang termahal Rp 300.000. Saya pun sukses membeli 6 buah lukisan ukuran kartu pos.
SNSD.BROERY - 02/08/2012 05:36 AM
#139

Sagu enak banget tuh om , tapi sampai 300 ribu ternyata ada ya D
ɐnʇɐʞɐʞ² - 04/10/2012 11:10 AM
#140

Rawa Biru Potensi Wisata Kabupaten Merauke

Quote:
MERAUKE—Kampung Rawa Biru, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, tidak hanya menjadi sumber air bagi masyarakat Merauke. Namun Rawa Biru rupanya berpotensi sebagai objek wisata yang bisa memberikan PAD serta mensejahterakan warga Kampung Rawa Biru.

“Pesona Rawa Biru yang begitu eksotik bisa dijadikan sebagai potensi wisata. Dan ini akan menguntungkan Pemerintah dan warga setempat,”ungkap Koordinator Program WWF Wilayah Selatan Papua, Paschalina CH Rahawarin kepada Bintang Papua soal daya tarik Rawa Biru sebagai objek wisata Kabupaten Merauke.

Menurut Lingke, semua itu bisa terwujud asalkan didukung penuh oleh akses untuk masuk ke Rawa Biru. Pasalnya, aku dia, untuk mempromosikan suatu daerah yang berpotensi wisata, maka daerah tersebut harus disokong oleh infrastruktur yang memadai.

“Jalan itu sangat penting, dan kami berharap Pemkab Merauke bisa membuat jalan untuk nantinya sebagai tracking wisata Rawa Biru,”tuturnya.

Lingke kembali menjelaskan, potensi wisata bagi Rawa Biru sangat luar biasa. Bahkan ia mengakui selama ini cukup banyak para pejabat pusat dan beberapa wisatawan asing yang bertandang ke kampong yang jarak tempuhnya memakan waktu sekitar 3 jam dari jantung Kota Merauke.

“Banyak kekayaan alam di Rawa Biru. Contohnya ikan, burung-burung yang termasuk satwa langka ada disini, yang notabene menjadi tontonan menarik. Jadi kalau akses jalannya bagus, saya rasa Rawa Biru bukan saja menjadi sumber air, tapi potensi wisata yang menguntungkan,”tandasnya. (lea/roy/LO1)



Objek Wisata Merauke Tugu Kembar

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)

Quote:
Obyek wisata sejarah Merauke umumnya berupa monumen atau tugu yang berkaitan dengan peristiwa tertentu, seperti Tugu Pepera yang dibangun pada 17 September 1969 untuk memperingati bersatunya wilayah Irian Barat (sekarang Papua) ke negara Indonesia.

Ada juga tugu peringatan yang berhubungan dengan agama, yaitu 100 tahun masuknya agama Katolik di Merauke (pada 14 Agustus 1905 misionaris Katolik masuk ke Merauke). Sebagian besar warga Merauke beragama Katolik dan Kristen Protestan. Jumlah penduduk diperkirakan mencapai 180.000 jiwa (hasil sensus pada tahun 2005 berjumlah hampir 174.000 orang).

Sewaktu Irian Barat masih dibawah kendali Pemerintah Hindia Belanda, Indonesia menerjunkan sejumlah pasukan untuk merebutnya, termasuk di Merauke yang dipimpin oleh (saat itu) Mayor LB Moerdani (belakangan antara lain menjadi Panglima ABRI). Tepatnya pada 4 Juni 1962. Untuk mengenang peristiwa pendaratan itu dibuatlah Tugu LB Moerdani oleh Pemerintah Daerah Merauke. Obyek wisata ini terletak di Distrik Tanah Miring, kurang lebih 25 kilometer dari Kota Merauke.

Selain itu ada Tugu Sabang-Merauke, tugu kembaran yang hanya terdapat di Sabang dan Merauke. Bentuknya yang sama menggambarkan luas wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Tugu yang masuk ke dalam Distrik Sota ini berjarak sekitar 80 kilometer dari Kota Merauke. Di dekat tugu berdiri pos yang dijaga oleh personil TNI. Tempat yang dulu sepi kini berubah menjadi ramai karena di sekitarnya berjejer warung-warung makanan yang dikelola oleh para pendatang, umumnya berasal dari Pulau Jawa.

Tak jauh dari Tugu Sabang-Merauke, kurang lebih 500 meter, berdiri sebuah tugu yang merupakan garis batas Indonesia dan PNG. Tugu setinggi kira-kira 1,6 meter ini diresmikan pada November 1983. Batas tanda ditetapkan dengan koordinat posisi lintang selatan 8 derajat 25' 45" dan bujur timur 141 derajat 01' 10". Kawasan setelah tugu sebenarnya merupakan daerah tak bertuan (no-man's land) namun sering digunakan pelintas batas sebagai jalan setapak untuk kegiatan ekonomi.



Objek Wisata Merauke Pantai Buti

PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)
Quote:
Pantai Buti adalah pantai yang terletak tidak jauh dari batas kota merauke. pantai ini yang karena letaknya pada bagian timur kota merauke sehingga sangat indah jika melihat terbenamnya mentari jika hari mulai petang dan juga dapat dibuat sebagai tempat rekreasi yang sangat menyenangkan. selain itu juga para nelayan dapat mencari nafkahnya dengan mencari ikan pada pantai ini dikarenakan kota merauke juga kaya akan hasil lautnya. Sedangkan pantai Nasem adalah yang terletak agak jauh dari kota merauke,tetapi karena keindahan dan kesejukan pantai ini membuat pantai ini banyak dikunjungi oleh masyarakat yang tinggal diluar maupun dari dalam kota merauke sendiri.
Page 7 of 8 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 > 
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > INDONESIA TIMUR > Papua > PAPUAPEDIA | Ensiklopedia Papua !!! (Updated)