Spiritual
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > Syarah AQIDAH Ahlus Sunnah wal Jamaah (Manhaj Salaf)
Total Views: 2326 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 2 of 7 |  < 1 2 3 4 5 6 7 > 

pejamata - 09/10/2012 08:16 PM
#21
alhamdulillah
Quote:
Original Posted By pejamata
numpang belajar disini ...

ada 2 thred dengan judul yang sama : akidah Ahlus Sunah Wal jama'ah (Aswaja)

tapi ada beda di dalam kurungnya, tapi mudah2an perbedaan yang tidak mendasar ....


Quote:
Original Posted By zzz.zzz
ikut tambahin tentang aqidah ahlus sunnah wal jamaah:

Aqidah Asy’ariyyah adalah aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang mengajarkan bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang wajib yang berjumlah 20 sifat. Begitu juga yang mustahil 20 sifat dan yang jaiz 1 sifat dan yang lainnya yang dapat diketahui dari buku-buku tauhid seperti Kitab Sifat Dua Puluh karangan Habib Usman bin Yahya dan kitab lainnya

Adapun aqidah Asmaa wa sifaat adalah bagian aqidah kelompok yang dikenal dengan Wahabiyyah, dalam aqidah ini mereka mengajarkan bahwa aqidah terbagi tiga bagian yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Ukuhiyyah dan Asmaa wa sifaat.

Perbedaan yang prinsip antara 2 kelompok diatas diantaranya dengan aqidah asmaa wa sifaat mereka berkeyakinan bahwa Allah dengan Zat Nya bersemayam diatas A’rsy sedangkan Ahlussunnah menta’wilkan ayat yang dijadikan dalil oleh mereka yaitu Firman Allah
اَلرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Bahwa Allah tidak bersemayam dengan Zat Nya diatas ‘Arsy secara singkat perbedaan antara keduanya bahwa Ahlussunnah menggunakan ta’wil dalam ayat2 sifat dengan ta’wil yang layak bagi Allah swt dengan segala kesucian Nya sedang mereka tidak menerimanya

yg menentang fatwa imam imam madzhab dan perbuatan dan fatwa imam imam terdahulu, maka mereka tidak disebut ahlussunnah waljamaah, seperti wahabi, dll

mereka tidak mendalaminya, karena akidah aswaja adalah pertengahan antara qadariyah dan jabariyah, namun mereka tetap memvoniskan hal itu pada aswaja, seperti wahabi yg memvonis aswaja ahli bid'ah dan syirik

dari majelisrasulullah.org


Quote:
Original Posted By pejemm
dari majelis rasulullah dapat didownload beberapa file sebagai berikut :

kenalilah aqidahmu

jawaban atas pertanyaan aqidah


Quote:
Original Posted By pejemm
EKALONGAN - Jelang pelaksanaan Kongres IPNU-IPPNU pada 19 Juni lalu, Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Kota Pekalongan Jum'at lalu sowan atau bersilaturrahim ke tokoh ulama Pekalongan Al Habib Muhammad Luthfi untuk minta do'a restu agar kongres bisa berjalan dengan lancar.



Acara kunjungan yang diikuti sekitar 25 pengurus baru periode 2009-2011 berlangusng Ahad (7/6) kemarin malam selama satu jam sejak pukul 20.00 WIB.

Di hadapan segenap pengurus IPNU IPPNU Kota Pekalongan, Al Habib Luthfi meminta kepada seluruh kader IPNU IPPNU untuk dapat menjaga keutuhan khitthah Nahdlatul Ulama, sebab dengan cara ini IPNU IPPNU tidak tercemar dan terkontaminasi dengan hiruk pikuknya dunia politik.

Menurut Al Habib Luthfi yang juga Rais Am Idaroh Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah, IPNU dan IPPNU sebagai kader termuda NU adalah usia yang sangat rawan terhadap berbagai pengaruh negatif khususnya yang berbau instan.

Gerakan Wahabi dan Islam fundamentalis ujar Habib, adalah merupakan gerakan upaya mendeligitimasi ajaran para salafus shalih yang telah lama diamalkan oleh kalangan penganut faham ajaran ahlus sunnah wal jama'ah.



“Jika kader muda NU tidak waspada, maka akan banyak terjadi tahlil dan yasin lenyap dari rutinitas kegiatan masjid dan musholla yang dimiliki NU,” demikian Habib.

Oleh karena itu, pintanya, agar kader-kader IPNU IPPNU dimanapun tempatnya untuk lebih banyak melakukan silaturrahmi ke ulama dan kiai NU, biar ada komunikasi secara intensif, hal ini sekaligus sebagai upaya pencegahan gerakan wahabi yang sudah mulai dilakukan secara terang-terangan.

Yang terpenting adalah bagaimana IPNU dan IPPNU lebih fokus pada bidang garapan di pengkaderan, sehingga anak-anak usia sekolah di lingkungan Lembaga Pendidikan Ma'arif NU khususnya tidak kehilangan pegangan, ujar Al Habib Luthfy.

Hal senada juga pernah disampaikan Ketua PCNU kota Pekalongan H Ahmad Rofiq pada saat pembukaan Rakercab IPNU IPPNU Kota Pekalongan pekan lalu tentang orientasi bidang garapan ke pengkaderan.

Pasalnya, sebagai organisasi di sayap pelajar, IPNU IPPNU memiliki tugas pembekalan, khususnya tentang pemahaman ajaran ahlus sunnah wal jama'ah. Dengan program ini, harap Rofiq, kader IPNU IPPNU akan memiliki bekal yang cukup untuk mempertahankan ajaran NU di masa yang akan datang. (amz/IPNUonline )

www.habiblutfiyahya.net


alhamdulillah, mudah2an dapat dipahami \)
pejamata - 09/10/2012 08:24 PM
#22
menambahkan dari suryalaya (1)
Khidmat Manaqib

AQIDAH AHLI SUNNAH WALJAMAAH DAN PEWARISNYA
Oleh : KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab


Setiap Bulan Robiul Awwal memperingatikelahiran Nabi Muhammad SAW dan bulanini (Rabiul-Tsani) memperingati wafatnya Sulthonul Auliya Syaikh Abdul Qodir Al-Jaelani. Mengapa mereka diperingati ? dikarenakan mereka banyak jasanya. Seperti dibulan Rabiul Awwal diperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tidak lain dikarenakan jasa Beliau banyak sekali.adanya kita serta alam yang ada disekitar ini berkat jasa Nabi Muhammad SAW, sampai Imam Busyairi memuji Beliau dalam Kasidah Burdah : �Bagaimana mungkin Beliau junjunan mengharapkan dunia, kalaulah tidak ada Beliau pasti duniapun tidak akan pernah ada�.

Itulah inti Aqidah Ahlus-sunnah wal jamaah yang sebenarnya. Akan tetapi di dunia ini ada kelompok yang sengaja menginginkan hilangnya Aqidah diatas, dengan alasan tidak masuk akal (irasionil). Kita menghormati semangat mereka yang telah berpikir agar Islam tidak dikotori oelh pemikiran keliru. Tetapi sayangnya mereka memandang keliru sesuatu yang tidak keliru, akibat pemikiran mereka yang keliru.
Ibarat kita naik mobil menuju Jogya, sopir mengetahui jalan dan kita tidak, lalu kita katakan kepada sopir yang sedang menyetir : �salah jalannya, seharusnya kekiri!�, Sopir bertanya : �Pernahkah Bapak ke Jogya ?�. Kita menjawab Belum�. Tidak tahu malah sok tahu, ini menyesatkan.

Di dunia Islam sekarang ini banyak orang seperti di atas, karena penampilannya meyakinkan, dengan memakai dalil Al-Quran dan Hadits, suara dan lafalnya bagus, maka orang awam pun mengangguk-angguk.
Bagaimana caranya agar Aqidah di atas masuk otak ? Diperlukan proses, marilah ikuti proses diri kita : Pak Zezen sekarang 48 tahun yang 2 tahun lagi menjadi 50 tahun. Tadinya seorang pemuda, dan sebelum menjadi pemuda Pak Zezen itu adalah anak-anak. Sebelum anak-anak adalah bayi, dan sebelum bayi tadinya janin, dan sebelum janin adalah segumpah daging dan sebelumnya lagi adalah setetes air mani. Air mani itu berasal dari saripati makanan yang tadinya berasal dari tanah.

Melihat proses itu berarti Pak Zezen masih bersaudara dengan Coet, masih sepupu dengan genteng dan batako. Pantas Imam Ali Krw berkata : �Mengapa masih ada kaum yang takabur di muka bumi, padahal awalnya hanya setetes mani menjijikkan dan akhirnya menjadi bangkai bau busuk�.
Enak saja kita berjalan di atas tanah, makan minum pun dari tanah. Seakan-akan kita yang berkuasa terhadapnya dan memerintah denganseenaknya.
Ingatlah ! disaat kekuasaan itu dicabut (maut tiba), berbalik tanah yang akan mengamcam kita.
Kalau kita beribadah dan berdzikir, tanahpun berkata : �Ya Allah ! Kami bersyukur ternyata hamba-Mua yang menginjak punggungku serta memakan makanan dariku itu menghambakan dirinya kepada-Mu�.
Manakala seseorang itu berbuat dosa dan durhaka kepada Allah, sang tanah berkata :�Ya Allah ! Kami sangat benci, ternyata hamba-Mu yang menginjak punggungku dan mengambil manfaat makanan dariku itu tidak mau menghambakan diri kepada-Mu�. Maka disaat memasuki liang kubur tanahpun menjawab kepada orang-orang sholeh : �Marhaban bika Ya Habibi (Selamat datang wahai kekasihku!)�, bagaikan sang ibu memeluk anaknya yang sudah lama tidak bertemu.
Sebaliknya kepada orang durhaka, mengatakan :�Inilah yang ditunggu-tunggu, kurang ajar ! Kau menginjak punggungku serta memanfaatkanku selama hidupmu tetapi kau tidak mau beribadah kepada yang membuatku. Inilah balasannya� Sang tanah pun menjepit orang itu sampai tulang rusuknya hancur berantakan.

Darimanakah asalnya tanah ? Profesor dari AS, Cina atau Jepang pun tidak akan tahu. Dalam kitab �Sirrul Asror� dijelaskan bahwa tanah termasuk bumi semuanya berasal dari Nur Muhammad itulah Allah menciptakan alam ini. Maka dalam Kasidah diatas disebutkan �tidak akan ada bumi dan kita ini tanpa Dia� Bukan Nabi Muhammad yang menciptakan tetapi Allah menciptakan semua makhluk-Nya bersumber dari cahaya Dia.
Aqidah seperti diatas semakin dikikis di bumi. Boleh menduga bahwa hal ini disengaja agar orang muslim jauh dari Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah, sehingga orang makin tidak lagi memiliki kekuatan rohaniah. Kadangkala kita yang mengaku Ahlus Sunnah Wal Jamaah disamping mempunyai kelebihan, banyak sekali kekurangannya. Seperti contoh orang Iran yang dikatakan Syiah (dengan tidak mengomentari ke-Syiah-annya) mempunyai kemampuan rohaniah yang lebih. Buktinya kalau mereka berziarah ke makam Rasulullah di Madinah atau ke Baqi, kuat untuk berdiri berjam-jam dengan memakai pakaian serba hitam sambil menunggu penuh kekhusuan : �Ya Syayyidi Ya Rosululloh� beribu-ribu jumlah mereka khusu dan mencucurkan air mata.

Lain jemaah haji dari negara Indonesia, mereka datang dan terus tawasul, membaca Al-Ikhlas dan Falaq-binnas terus pulang dan mengobrol kembali.
Bersyukur dengan adanya PP. Suryalaya yang mengembangkan pendidikan Dhouq (rasa), dimana pendidikan rasa ini dirasakan sangat kurang di Indonesia.
Di Indonesia yang berkembang itu rasa cinta kepada harta, tahta dan wanita, apalagi �dicekoki� berbagai film India yang mengajarkan cinta sejati dengan ciri harus mati bersama.
Di Indonesia pendidikan rasa ini sangat keliru, seharusnya pendidikan rasa yang diajarkan adalah rasa cinta kepada Allah, cinta Rasul dan rasa cinta kepada orang-orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Apakah kita mencintai guru ? Cintakah kita kepada Pangersa Abah ? Apakah uang kita lebih banyak diberikan kepada Baitul Maal atau untuk membeli rokok dan baso ?
Belum kesenangan-kesenangan lainnya seperti nonton sepak bola, sampai lupa melaksanakan sholat dan lainnya.
Mari berusaha mendidik rasa cinta kepada Rasul dengan memperbanyak shalwat. Setiap ada majelis membaca shalawat dalam shalat membaca shalawat, khotaman,manaqib, sebelum dan setelah berdxikir membaca shalawat. Bahkan setiap ada kesempatan terus memperbanyak shalawat, dengan tujuan memohon limpahan rahmat dari Allah atas Nabi Muhammad SAW yang besar jasanya.

Apakah belum cukup rahmat Allah kepada Nabi Muhammad SAW ? Sudah cukup, Beliau sudah sempurna. Adapun masih memohon limpahan rahmat Allah atas Beliau tidak lain demi kepentingan kita. Kalau diibaratkan adalah gelas yangsudahpenuh, kenapa harus diisi ? Agar airnya terkucur ke bawah untuk kita semua. Membaca sholawat itu selain memohon untuk Nabi Muhammad SAW, sebenarnya adalah taktik cerdik untuk kita.
Umpamanya ada seorang majikan yang mempunyai 2 orang pembantu bernama Asep dan KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab. Asep seorang pembantu yang rajin, sedangkan KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab pembantu yang malas.

Suatu hari KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab ada keperluan meminjam uang Rp. 300 Ribu. Sudah diperhitungkan kalaubagi Asep jangankan meminjam, mintapun pasti diberi. Sedangkan bagi KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab minjampun tidak akan diberi, apalagi meminta. KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab tidak kehabisan taktik, lalu pergi ke majikannya dengan memakai nama Asep. Belum berkata apa-apa sang majikan sudah memarahi KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab �Mau apa kesini? Minta duit? Tidak akan diberi�. Gertak majikan. Maka KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab berkata : �Tidak, saya meminjam uang untuk Asep� seketika itu langsung sang majikan memberikan uang yang dibutuhkan.
Setelah berhasil mengelabui majikan dengan pebuh tertawa KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab menemui Asep. �Ada apa tertawa cekikikan?� Tanya Asep. �Karena sulit meminjam ke Bos, aku minjam namamu dan berhasil� Jawab KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab.

Begitu juga kita kepada Allah :�Ya Allah ampuni saya, panjangkan usia dan perbanyak rizki saya� Menjawablah Allah : �Enak saja minta, kamu pemalas dan pendusta� Lalu cari kekasaih Allah yang sangat dicintai-Nya yaitu Nabi Muhammad SAW :�Ya Allah berilah rahmat� Allah pun menjawab : �Untuk siapa? Untukmu ?� �Tidak, untuk kekasih-Mu Nabi Muhammad SAW� �Oh! Kukira untukmu, nih ambil� sete;ah berhasil menghadap Nabi Muhammad SAW sambil berkata : �Saya diberi rahmat untukmu� Nabi Muhammad SAW menjawab sambil tersenyum : �ambil saja ! yang butuh kamukan�, termasuk berdoa kepada para pewaris Rasul, yaitu para wali Allah, seperti kita berdoa bagi Pangersa Abah sebenarnya bukan untukBeliau justru untuk kita semua.

Selanjutnya jasa Nabi Muhammad SAW adalah menyebarkan agama Islam. Beliaulah yang menyebarkannya sampai kemana-mana, sehingga sampai ke tanah Jawa. Lalu dilanjutkan oleh para pewarisnya seperti Wali Songo dan para penyebar sebelumnya. Diantara penyebar Islam sebalum Wali Songo adalah Syaikh Qurrotul �Ain di Cimalaya Karawang, Sayyid Kiansantang di Garut dan lainnya. Apakah sering mengirim Fatihah kepada mereka ? Rasanya belum dikarenakan tidak disebut nama mereka, padahal Pangersa Abah mendidik kita untuk selalu mengirim Fatihah kepada semuanya tanpa terkecuali dengan kata singkat �Wa Jamiu Ahli Thuruqi� tidak benar kalau ahli Tarekat hanya cinta kepada ahli silsilahnya saja, bahkan seluruh ahli Tarekat dikirim Fatihah.
pejamata - 09/10/2012 08:27 PM
#23
menambahkan dari suryalaya (2)
Termasuk Pangersa Abah disamping berziarah rohaniah, juga secara badaniah bersama ikhwan melaksanakan ziarah ke berbagai tempat para wali termasuk Wali Songo. Ini menunjukkan bahwa TQN PP. Suryalaya PP Suryalaya tidak eksklusif.
Sayangnya orang berbondong-bondong ziarah ke Wali yang sudah meninggal dan tidak mau datang kepada Wali yang masih hidup. Mungkin disebabkan pemahaman masyarakat bahwa para Wali harus sudah mati dan hidup di masa lalu. Sehingga kalau ada wali yang masih hidup, mereka tidak percaya dan mereka mengatakan tidak ada Wali yang masih hidup.
Padahal mereka pun tadinya hidup dan kita mengatakan hidup waktu dulu itu sekarang. Maka sekarangpun kalau dikatkaan nanti (misalnya 100 tahun lagi), pasti menjadi dulu. Sebenarnya para wali yang diziarahi itu tadinya hidup. Diwaktu hidupnya mereka berjuang, beribadah kepada Allah dan mengamalkan tharekat lalu oleh Allah diberi karomah sampai diangkat dan setelah wafat dirasakan barokahnya.

Seorang waliyullah adalah seorang yang bertaqwa kepada Allah dengan sempurna, hatinya bersih, dekat dengan Allah, sangat Tawadhu, ahli ibadah, sangat menjaga syariay, menjaga perasaan orang lain,hidup dengan arif dan bijaksana, serta banyak diberi limpahan karomah oleh Allah kepadanya dan orang-orang yangn dekat kepadanya.
Pernahkah merasakan karomah dari Allah ? apakah yang dirasakan itu karomah anda atau Guru ? Sebenarnya karomah itu adalah karomah Guru karena itu setelah beberapa hari usai kunjungan Syaikh Hisyam Kabbani ke PP Suryalaya, muncullah dalam situs mereka diinternet sebuah judul besar �KUNJUNGAN KE WALI AGUNG DI TIMUR JAUH�. Kita malah kagok menyebut Guru sebagai Waliyulloh. Tugas Rasul itu dilanjutkan oleh mereka orang-orang yang mendapat perintah dari Allah. Ada yang diberi sebagian besar ilmu Allah, ada yang hanya diberi ilmu dhohir saja, dan ada yang diberi ilmu bathin saja, dan ada yang diberi ilmu dhohir dan bathin sekaligus seperti Pangersa Abah. Beliau diberi ilmu dhohir sebagai kyai yang pernah mesantren dibeberapa pesantren. Selain itu Beliau diberi ilmu bathin dan diberi kepercayaan untuk memberikannya kepada orang lain. Adapun orang lain mau menerima ataupun tidak, bagiBeliau tidak menjadi masalah. Ibarat Rasul yang telah menyampaikan perintah Allah kepada umatnya. Bahkan banyak manusia yang mengambil manfaat walaupun tidak mengikuti ajaran serta pendidikan yang diberikannya. Begitulah kebijakan seorang Syaikh Mursyid.

www.suryalaya.org

-------------------------

mudah-mudahan sumbangsih atas copastan diatas, tidak menjadiken perbedaan yang menimbulken pertengkaran .. bagaimanapun juga hal-hal diatas telah menjadi pandangan mayoritas di indonesia ... amin
jual.buku.islam - 09/10/2012 11:45 PM
#24

Quote:
Original Posted By zzz.zzz
ikut tambahin tentang aqidah ahlus sunnah wal jamaah:

Aqidah Asy’ariyyah adalah aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang mengajarkan bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang wajib yang berjumlah 20 sifat. Begitu juga yang mustahil 20 sifat dan yang jaiz 1 sifat dan yang lainnya yang dapat diketahui dari buku-buku tauhid seperti Kitab Sifat Dua Puluh karangan Habib Usman bin Yahya dan kitab lainnya

Adapun aqidah Asmaa wa sifaat adalah bagian aqidah kelompok yang dikenal dengan Wahabiyyah, dalam aqidah ini mereka mengajarkan bahwa aqidah terbagi tiga bagian yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Ukuhiyyah dan Asmaa wa sifaat.


sedikit tanggapan dari saya sebelum lanjut..

Pertama, Istilah Ahlul Sunnah Wal Jamaah sudah dikenal jauh sebelum lahirnya Abul-Hasan Al-Asy’ariy, Istilah Ahlul Sunnah Wal Jamaah sudah ada pada zaman sahabat, disana saja sudah dapat dilihat kekeliruannya.

Sifat 20. Pensifatan dengan hal tersebut saja baru ada pada zaman Abul-Hasan Al-Asy’ariy, dan sebenarnya Abul-Hasan Al-Asy’ariy sendiri cuma mensifati 13 sifat sedangkan yang 7 sifat lagi ditambahkan oleh Abu Mansur Maturidi.

Kalau memang aqidah sifat 20 tersebut merupakan aqidah Ahlul Sunnah Wal Jamaah, dengan sangat dipersilahkan agan menunjukan riwayatnya kalau Sahabat, Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in maupun Imam yang 4 meyakini atau menyimpulkan hal yang sama seperti akan sifat 20 tersebut.

Jadi bagusnya benar "kenalilah aqidahmu" biar ntar ngak salah.

Quote:
Original Posted By zzz.zzz
Perbedaan yang prinsip antara 2 kelompok diatas diantaranya dengan aqidah asmaa wa sifaat mereka berkeyakinan bahwa Allah dengan Zat Nya bersemayam diatas A’rsy sedangkan Ahlussunnah menta’wilkan ayat yang dijadikan dalil oleh mereka yaitu Firman Allah
اَلرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Bahwa Allah tidak bersemayam dengan Zat Nya diatas ‘Arsy secara singkat perbedaan antara keduanya bahwa Ahlussunnah menggunakan ta’wil dalam ayat2 sifat dengan ta’wil yang layak bagi Allah swt dengan segala kesucian Nya sedang mereka tidak menerimanya

yg menentang fatwa imam imam madzhab dan perbuatan dan fatwa imam imam terdahulu, maka mereka tidak disebut ahlussunnah waljamaah, seperti wahabi, dll

mereka tidak mendalaminya, karena akidah aswaja adalah pertengahan antara qadariyah dan jabariyah, namun mereka tetap memvoniskan hal itu pada aswaja, seperti wahabi yg memvonis aswaja ahli bid'ah dan syirik

dari majelisrasulullah.org


Maksut agan dibawah ini..?

‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu. (Sahabat)


حَدَّثَنَا بَحْرُ بْنُ نَصْرِ بْنِ سَابِقٍ الْخَوْلانِيُّ 548; قَالَ: ثنا أَسَدٌ، قَالَ: ثنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَاصِمِ ابْنِ بَهْدَلَةَ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: " مَا بَيْنَ سَمَاءِ الدُّنْيَا وَالَّتِي تَلِيهَا مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ كُلِّ سَمَاءٍ مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ وَبَيْنَ الْكُرْسِيِّ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَالْعَرْشُ فَوْقَ السَّمَاءِ، وَاللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَوْقَ الْعَرْشِ، وَهُوَ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ "
Telah menceritakan kepada kami Bahr bin Nashr bin Saabiq Al-Khaulaaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Asad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari ‘Aashim bin Bahdalah, dari Zirr bin Hubaisy, dari Ibnu Mas’uud, ia berkata : “Jarak antara langit dunia dan langit di atasnya sejauh perjalanan selama 500 tahun. Jarak antara setiap langit dengan langit lainnya sejauh perjalanan selama 500 tahun. Jarak antara langit ketujuh dan kursi sejauh perjalanan selama 500 tahun. Dan ‘Arsy di atas langit, dan Allah tabaaraka wa ta’ala berada di atas ‘Arsy. Ia mengetahui apa yang kalian lakukan” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhiid, hal. 242-243, tahqiq : Dr. ‘Abdul-‘Aziiz Asy-Syahwaan; Daarur-Rusyd, Cet. 1/1408 H].

Maalik bin Anas rahimahullah (w. 179 H).


حدثني أبي رحمه الله حدثنا سريج بن النعمان حدثنا عبدالله بن نافع قال كان مالك بن أنس يقول الايمان قول وعمل ويقول كلم الله موسى وقال مالك الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء
Telah menceritakan kepadaku ayahku rahimahullah : Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’maan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Naafi’, ia berkata : “Maalik bin Anas pernah berkata : ‘Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, Allah berbicara kepada Muusaa, Allah berada di atas langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat – tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah, hal. 280 no. 532, tahqiq : Dr. Muhammad bin Sa’iid Al-Qahthaaniy; Daaru ‘Aalamil-Kutub, Cet. 4/1416 H. Diriwayatkan juga oleh Abu Daawud dalam Masaail-nya hal. 263, Al-Aajuriiy dalam Asy-Syarii’ah, 2/67-68 no. 695-696, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad hal. 401 no. 673, Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 7/138, dan Ibnu Qudaamah dalam Itsbaatu Shifaatil-‘Ulluw hal. 166 no. 76].

‘Abdullah bin Al-Mubaarak rahimahullah (w. 181 H).

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحِ الْبَزَّازُ، ثنا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ، عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ، قَالَ: قِيلَ لَهُ: كَيْفَ نَعْرِفُ رَبَّنَا؟ قَالَ: " بِأَنَّهُ فَوْقَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى الْعَرْشِ، بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ "
Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Ash-Shabbaah Al-Bazzaaz : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Hasan bin Syaqiiq, dari Ibnul-Mubaarak. Syaqiiq berkata : Dikatakan kepadanya : “Bagaimana kita mengetahui Rabb kita ?”. Ia (Ibnul-Mubaarak) berkata : “Bahwasannya Allah berada di atas langit yang ketujuh, di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya”[Diriwayatkan oleh Abu Sa’iid Ad-Daarimiy dalam Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah, hal. 39-40 no. 67, tahqiq : Badr Al-Badr; Ad-Daarus-Salafiyyah, Cet. 1/1405 H. Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhaariy dalam Khalqu Af’aalil-‘Ibaad 2/15 no. 13-14 dan ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 22 & 216 dan Al-Baihaqiy dalam Al-Asmaa’ wash-Shifaat no. 903].

Ahmad bin Hanbal rahimahullah (w. 241 H).


وهو على العرش فوق السماء السابعة. فإن احتج مبتدع أو مخالف بقوله تعالى {وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيد} وبقوله عز وجل : {وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ} أو بقوله تعالى : {مَا يكُونُ مِنْ نَجْوى ثلاثة إلا هُوَ رَابِعُهُمْ} ونحو هذا من متشابه القران
“Ia (Allah) berada di atas ‘Arsy, di atas langit ketujuh. Sesungguhnya ahli bid’ah atau orang yang menyimpang dari kebenaran berhujjah dengan firman-Nya : ‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya’ (QS. Qaaf : 16), atau dengan firman-Nya : ‘Dan Ia (Allah) bersama kalian di mana saja kalian berada’ (QS. Al-Hadiid : 4), atau dengan firman-Nya : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya’ (QS. Al-Mujaadilah : 7), dan yang lainnya dari ayat-ayat Al-Qur’an yang mutasyaabih” [As-Sunnah oleh Ahmad bin Hanbal melalui kitab Al-Masaail war-Rasaail Al-Marwiyyatu ‘anil-Imaam Ahmad fil-‘Aqiidah oleh ‘Abdullah Al-Ahmadiy, 1/318-319; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1412 H].

Catatan : Penjelasan Al-Imaam Ahmad itu menggugurkan klaim kelompok Asyaa’irah yang mengklaim bahwa lafadh Allaahu ‘alal-‘Arsy atau yang semisalnya itu sifatnya mutasyaabih. Justru mafhum yang terambil dari perkataan beliau, lafadh itu adalah muhkam (jelas); dan yang samar (mutasyaabih) adalah lafadh nash-nash yang menyatakan bahwa Allah ta’ala bersama hamba-Nya.

Dan ini sekaligus bantahan dari Abul-Hasan Al-Asy’ariy setelah rujuk dari aqidah sebelumnya.

Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah (w. 324 H).
وأجمعوا . . أنه فوق سماواته على عرشه دون أرضه ، وقد دل على ذلك بقوله : {أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض}، وقال : {إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه}. وقال : {الرحمن على العرش استوى}، وليس استواءه على العرش استيلاء كما قال أهل القدر، لأنه عز وجل لم يزل مستوليا على كل شيء

“Dan mereka (para ulama Ahlus-Sunnah) bersepakat..... bahwasannya Allah berada di atas langit-langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, bukan di bumi-Nya. Dan hal itu ditunjukkan melalui firman-Nya : ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu’ (QS. Al-Mulk : 16). Dan Allah berfirman : ‘Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya’ (QS. Faathir : 10). Allah berfirman : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwaa’ di atas 'Arsy’ (QS. Thaha : 5). Dan bukanlah yang dimaksud istiwaa’-nya Allah di atas ‘Arsy itu adalah istilaa’ (menguasai) sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Qadariyyah. Karena Allah ‘azza wa jalla senantiasa berkuasa atas segala sesuatu” [Risaalatun ilaa Ahlits-Tsaghr oleh Abul-Hasan Al-Asy’ariy, hal. 231-234, tahqiq : ‘Abdullah bin Syaakir Al-Junaidiy; Maktabah Al-‘Uluum wal-Hikam, Cet. 2/1422 H].

Dan Masih banyak lagi dalil yang menjelaskan ketinggian Allah di atas semua mahluk-Nya.

Ana cuma minta sama agan, perkataan Sahabat, Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in atau Imam yang 4 yang mengartikan Istiwaa' dengan Istilaa'.

Sambil menunggu agan ana lanjut dulu postingan ana tentang Syarah Aqidah Shahihah Ahlul Sunnah Wal Jama'ah sesuai Manhaj Salaf.

Khusus yang ana bold merah, itu ta'wil dari siapa gan..? Bisa dibawakan dalilnya dari Al-Quran dan Sunnah atau Sahabat atau Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in atau Imam yang 4...?
jual.buku.islam - 09/10/2012 11:53 PM
#25
Pertama : Agama islam adalah agama yang haq (benar)
Oleh :
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Islam secara bahasa (etimologi) adalah berserah diri, tunduk, atau patuh.

Adapun menurut syari’at (terminologi), definisi Islam berada pada dua keadaan:

Pertama: Apabila Islam disebutkan sendiri tanpa diiringi dengan kata iman, maka pengertian Islam mencakup keseluruhan agama, baik ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), seluruh masalah ‘aqidah, ibadah, keyakinan, perkataan dan perbuatan. Jadi pengertian ini menunjukkan bahwa Islam adalah pengakuan dengan lisan, meyakininya dengan hati dan berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla atas semua yang telah ditentukan dan ditakdirkan. [1]

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Ibrahim Alaihissallam:

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Ketika Rabb-nya berfirman kepadanya: ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.’” [Al-Baqarah: 131][2]

Ada juga yang mendefinisikan Islam dengan:

َاْلإِسْتِسْلا 614;مُ ِللهِ بِالتَّوْحِيْد 616; وَاْلإِنْقِيَا 583;ُ لَهُ باِلطَّاعَةِ وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ.

“Berserah diri kepada Allah dengan cara mentauhidkan-Nya, tunduk patuh kepada-Nya dengan melaksanakan ketaatan (atas segala perintah dan larangan-Nya), serta membebaskan diri dari perbuatan syirik dan orang-orang yang berbuat syirik.”[3]

Kedua: Apabila Islam disebutkan bersamaan dengan kata iman, maka yang dimaksud dengan Islam adalah perkataan dan amal-amal lahiriyah yang diri dan hartanya terjaga [4] dengan perkataan dan amal-amal tersebut, baik dia meyakini Islam ataupun tidak. Sedangkan kalimat iman berkaitan dengan amalan hati.[5]

Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka): ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: ‘Kami telah tunduk,’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu...” [Al-Hujuraat: 14]

Dengan Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhiri serta menyempurna-kan agama-Nya yang dianut ummat sebelumnya untuk para hamba-Nya. Dengan Islam pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakan kenikmatan-Nya dan meridhai Islam sebagai agama. Agama Islam adalah agama yang benar dan satu-satunya agama yang diterima Allah, agama (kepercayaan) selain Islam tidak akan diterima Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah adalah Islam.” [Ali ‘Imran: 19]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran: 85]

Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan kepada seluruh manusia untuk memeluk agama Islam karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk seluruh manusia.

Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah Rasul (utusan) Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang memiliki keajaan langit dan bumi, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang menghidupkan dan Yang me-matikan.’ Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada Kalimat-kalimat-Nya (Kitab-kitab-Nya) dan ikutilah ia, agar kamu mendapat petunjuk.”[Al-A’raaf: 158]

Hal ini juga sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّـةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.

“Demi (Rabb) yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar seseorang dari ummat Yahudi dan Nasrani tentang diutusnya aku (Muhammad), kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya (Islam), niscaya ia termasuk penghuni Neraka.” [6]

Mengimani Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, artinya membenarkan dengan penuh penerimaan dan kepatuhan pada seluruh apa yang dibawanya, bukan hanya membenarkan semata. Oleh karena itulah Abu Thalib (paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) termasuk kafir, yaitu orang yang tidak beriman kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun ia membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia membenarkan pula bahwa Islam adalah agama yang terbaik.

Agama Islam mencakup seluruh kemaslahatan yang terkandung di dalam agama-agama terdahulu. Islam memiliki keistimewaan, yaitu cocok dan sesuai untuk setiap masa, tempat dan kondisi ummat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Dan Kami turunkan Al-Qur-an kepadamu dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai batu ujian terhadap Kitab-kitab yang lain...” [Al-Maa-idah: 48]

Islam dikatakan cocok dan sesuai di setiap masa, tempat, dan kondisi ummat maksudnya adalah berpegang teguh kepada Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan ummat, bahkan dengan Islam ini ummat akan menjadi baik, sejahtera, aman dan sentausa. Tetapi harus diingat bahwa Islam tidak tunduk terhadap masa, tempat dan kondisi ummat sebagaimana yang dikehendaki oleh sebagian orang. Apabila ummat manusia menginginkan keselamatan di dunia dan di akhirat, maka mereka harus masuk Islam dan tunduk dalam melaksanakan syari’at Islam.

Agama Islam adalah agama yang benar, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan kemenangan kepada orang yang berpegang teguh kepada agama ini dengan baik, namun dengan syarat mereka harus mentauhidkan Allah, menjauhkan segala (bentuk) perbuatan syirik, menuntut ilmu syar’i, dan mengamalkan amal yang shalih.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur-an) dan agama yang haq (benar), untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” [At-Taubah: 33]

Juga dalam firman-Nya:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَ 606;َّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَن 617;َ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَن 617;َهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana telah Dia jadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [An-Nuur: 55]

Quote:
[1]. Lihat Mufradaat Alfaazhil Qur-aan (hal. 423, bagian سَلِمَ), karya al-‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani dan Ma’aarijul Qabuul (II/20) oleh Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami.
[2]. Lihat juga QS. Al-Baqarah: 208 dan QS. Ali ‘Imran: 19.
[3]. Al-Ushuuluts Tsalaatsah oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan Syarah Tsalaatsatil Ushuul (hal. 68-69) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
[4]. Dirinya terjaga maksudnya tidak boleh diperangi (dibunuh); dan hartanya terjaga maksudnya yaitu tidak boleh diambil (dirampas).
[5]. Lihat Ma’aarijul Qabuul (II/21), karya Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami, cet. I, Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah dan Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam oleh al-Hafizh Ibnu Rajab.
[6]. HR. Muslim (I/134 no. 153), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
jual.buku.islam - 09/10/2012 11:56 PM
#26
Pertama : Agama islam adalah agama yang haq (benar)
Islam adalah agama yang sempurna dalam ‘aqidah dan syari’at. Di antara bentuk kesempurnaannya adalah:

1. Islam memerintahkan untuk bertauhid dan melarang perbuatan syirik.

2. Memerintahkan untuk berbuat jujur dan melarang bersikap bohong.

3. Memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang bersikap zhalim.

4. Memerintahkan untuk bersikap amanah dan melarang bersikap khianat.

5. Memerintahkan untuk menepati janji dan melarang ingkar janji.

6. Memerintahkan untuk berbakti kepada ibu-bapak serta melarang mendurhakai keduanya.

7. Islam menjaga agama dan Islam mengharamkan seseorang murtad (keluar dari agama Islam).

8. Islam menjaga jiwa. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla mengharam-kan pembunuhan dan penumpahan darah ummat Islam. Islam memelihara jiwa, oleh karena itu Islam mengharamkan pem-bunuhan secara tidak haq (benar), dan hukuman bagi orang yang membunuh jiwa seorang Muslim secara tidak haq adalah hukuman mati.

9. Islam menjaga akal. Oleh karena itu, Islam mengharamkan setiap yang memabukkan seperti khamr, narkoba dan rokok.

10. Islam menjaga harta. Oleh karena itu, Islam mengajarkan amanah (kejujuran) dan menghargai orang-orang yang amanah bahkan menjanjikan kehidupan bahagia dan Surga kepada mereka. Dan Islam juga melarang mencuri dan korupsi serta mengancam pelakunya dengan hukuman potong tangan (sebatas pergelangan).[7]

11. Islam menjaga nasab (keturunan). Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla mengharamkan zina dan segala jalan yang membawa kepada zina.[8]

12. Islam menjaga kehormatan. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla mengharamkan menuduh orang baik-baik sebagai pezina atau dengan tuduhan-tuduhan lain yang merusak kehormatannya.

Dalil-dalil bahwa Islam menjaga jiwa, harta dan kehormatan kaum Muslimin di antaranya:

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ، وَأَمْوَالَكُم 618;، وَأَعْرَاضَكُم 618;، بَيْنَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا، فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا، لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ...

“Sesungguhnya darah kalian, harta benda kalian, kehormatan kalian, haram atas kalian seperti terlarangnya di hari ini, bulan ini dan negeri ini. Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir...” [9]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ.

“Lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim.” [10]

Dari Buraidah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَتْلُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ زَوَالِ الدُّنْيَا.

‘Terbunuhnya seorang Mukmin lebih berat (urusannya) di sisi Allah daripada lenyapnya dunia.’” [11]

Bahkan darah seorang Muslim lebih mulia dari Ka’bah yang mulia.[12]

Secara umum Islam memerintahkan agar berakhlak yang mulia, bermoral baik dan melarang bermoral buruk. Islam juga memerintahkan setiap perbuatan baik dan melarang perbuatan yang buruk.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan ber-buat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah me-larang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengam-bil pelajaran.” [An-Nahl: 90]

Islam didirikan atas lima dasar. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَـامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ.

“Islam dibangun atas lima dasar: (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, (2) menegakkan shalat, (3) membayar zakat, (4) berpuasa di bulan Ramadhan, dan (5) menunaikan haji ke Baitullaah.”[13]

Rukun Islam ini wajib diimani, diyakini dan wajib diamalkan oleh setiap Muslim dan Muslimah.

Rukun Pertama: Kesaksian tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Azza wa Jalla dan (bahwa) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba serta Rasul-Nya, merupakan keyakinan mantap yang diekspresikan dengan lisan. Dengan kemantapannya itu, seakan-akan ia dapat menyaksikan-Nya.

Syahadah (kesaksian) merupakan satu rukun padahal yang disaksikan itu ada dua hal, ini dikarenakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penyampai risalah dari Allah Azza wa Jalla. Jadi, kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan Allah Azza wa Jalla merupakan kesempurnaan kesaksian لاَ إِلهَ إِلاَّ الله, tidak ada sesembahan yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali Allah.

Syahadatain (dua kesaksian) tersebut merupakan prinsip dasar keabsahan dan diterimanya semua amal. Amal akan sah dan diterima bila dilakukan dengan keikhlasan hanya karena Allah Azza wa Jalla dan mutaba’ah (mengikuti) Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ikhlas karena Allah Azza wa Jalla merupakan realisasi dari syahadat (kesaksian) laa ilaaha illallaah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Sedangkan mutaba’ah atau meng-ikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan realisasi dari pada kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya.

Faedah terbesar dari dua kalimat syahadat tersebut adalah membebaskan hati dan jiwa dari penghambaan terhadap makhluk dengan beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja serta tidak mengikuti melainkan hanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rukun Kedua: Menegakkan shalat artinya beribadah kepada Allah dengan melaksanakan shalat wajib lima waktu secara istiqamah dan sempurna, baik waktu maupun caranya. Shalat harus sesuai dengan contoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيتُمُوْنِي أُصَلِّي.

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” [14]

Salah satu hikmah shalat adalah mendapat kelapangan dada, ketenangan hati, serta menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar. [15]

Rukun Ketiga: Membayar zakat artinya beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla dengan menyerahkan kadar yang wajib dari harta-harta yang harus dikeluarkan zakatnya.[16]

Salah satu hikmah membayar zakat adalah membersihkan harta, jiwa dan moral yang buruk, yaitu kekikiran serta dapat menutupi kebutuhan Islam dan kaum Muslimin, menolong orang fakir dan miskin.

Rukun Keempat: Berpuasa di bulan Ramadhan artinya beribadah hanya kepada Allah dengan cara meninggalkan makan, minum, jima’ (bercampur) antara suami isteri dan hal-hal yang dapat membatalkannya dari mulai terbit fajar shadiq sampai terbenam matahari.

Salah satu hikmah berpuasa di bulan Ramadhan adalah melatih jiwa untuk meninggalkan hal-hal yang disukai karena mencari ridha Allah Azza wa Jalla.
Rukun Kelima: Menunaikan (ibadah) haji ke Baitullah (rumah Allah) artinya beribadah hanya kepada Allah dengan menuju al-Baitul Haram (Ka’bah di Makkah al-Mukarramah) untuk melaksanakan syi’ar atau manasik haji.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang pertama-tama dibangun untuk (tempat beribadah) manusia adalah Baitullah yang berada di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” [Ali ‘Imran: 96]

Salah satu hikmah menunaikan haji ke Baitullah adalah melatih jiwa untuk mengerahkan segala kemampuan, harta, dan jiwa agar tetap taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itulah, haji merupakan salah satu macam dari jihad fii sabiilillaah.[17]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]

Quote:
[7]. Lihat QS. Al-Maa-idah: 38.
[8]. Lihat QS. Al-Israa': 32.
[9]. HR. Al-Bukhari (no. 67, 105, 1741) dan Muslim (no. 1679 (30)), dari Sahabat Abu Bakrah Radhiyallahu anhu
[10]. HR. An-Nasa-i (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no. 1395). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sha-iih Sunan an-Nasa-i dan lihat Ghaayatul Maraam fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal wal Haraam (no. 439).
[11]. HR. An-Nasa-i (VII/83), dari Buraidah Radhiyallahu anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan an-Nasa-i dan lihat Ghaayatul Maram fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal wal Haraam (no. 439).
[12]. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 3420), dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah.
[13]. Mutafaqun ‘alaihi. HR. Al-Bukhari dalam Kitaabul Iimaan pada bab Qaulun Nabi j بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ (no. 8), Muslim dalam Kitaabul Iimaan bab Arkaanul Islaam (no. 16), Ahmad (II/26, 93, 120, 143), at-Tirmidzi (no. 2609) dan an-Nasa-i (VIII/107).
[14]. HR. Al-Bukhari (no. 631), dari Sahabat Malik bin Khuwairits.
[15]. Lihat QS. Al-Ankabut: 45.
[16]. Lihat QS. Al-Baqarah: 43.
[17]. Diringkas dan ditambah dari kitab Syarah Ushuulil Iimaan (hal. 4-10) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
jual.buku.islam - 10/10/2012 12:12 AM
#27
Dimanakah Allah ? – Ini Jawaban Al-Imaam Maalik bin Anas rahimahullah
Permasalahan ‘dimanakah Allah’ adalah permasalahan krusial yang di jaman dulu para imam kita dari kalangan salaf mudah menjawabnya dengan jawaban sederhana, namun menjadi susah oleh generasi setelahnya. Generasi khalaf, terutama yang berafiliasi dengan kelompok Asyaa’irah, membuat aneka jawaban yang susah untuk dimengerti, mempersulit diri sendiri. Dulu, ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada seorang budak wanita ‘dimanakah Allah’, dengan mudah dijawab : ‘Di atas langit’. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun membenarkannya.


Tidak terkecuali Imam Daaril-Hijrah, Maalik bin Anas rahimahullah. Beliau pun – sebagaimana salaf beliau dari kalangan shahabat dan taabi’iin – menjawab dengan jawaban yang mudah, ringkas, dan jelas. Berikut riwayatnya :

حدثني أبي رحمه الله حدثنا سريج بن النعمان حدثنا عبدالله بن نافع قال كان مالك بن أنس يقول الايمان قول وعمل ويقول كلم الله موسى وقال مالك الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء

Telah menceritakan kepadaku ayahku rahimahullah : Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’maan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Naafi’, ia berkata : “Maalik bin Anas pernah berkata : ‘Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, Allah berbicara kepada Muusaa, Allah berada di langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat – tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah, hal. 280 no. 532; shahih].

Diriwayatkan juga oleh Abu Daawud dalam Masaail-nya hal. 263, Al-Aajuriiy dalam Asy-Syarii’ah, 2/67-68 no. 695-696, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad hal. 401 no. 673, Ibnu ‘Abdil-Barr dlam At-Tamhiid 7/138, dan Ibnu Qudaamah dalam Itsbaatu Shifaatil-‘Ulluw hal. 166 no. 76.
Suraij bin An-Nu’maan bin Marwaan Al-Jauhariy, Abul-Hasan (atau Abul-Husain) Al-Baghdaadiy; seorang yang tsiqah, sedikit melakukan kekeliruan. Wafat tahun 117 H [Taqriibut-Tahdziib, hal. 366 no. 2231].

‘Abdullah bin Naafi’ bin Abi Naafi’ Ash-Shaaigh Al-Makhzuumiy, Abu Muhammad Al-Madaniy; seorang yang tsiqah, shahiihul-kitaab, namun pada hapalannya terdapat kelemahan (layyin). Wafat tahun 206 H [idem, hal. 552, no. 3683].
Namun, kalangan Asyaa’irah[2] lagi-lagi berusaha menafikkan atsar ini. Mereka melemahkannya dari faktor ‘Abdullah bin Naafi’, karena sebagian huffadh mengkritik hapalannya. Namun alasan ini tidaklah valid. Disamping pujian ulama tentang ketsiqahannya secara khusus[3], maka ia juga dikenal shaahibu Maalik dalam periwayatan dan lebih diutamakan dibanding yang lainnya.

Ibnu Sa’d rahimahullah berkata :

كان قد لزم مالك بن أنس لزوما شديدا لا يقدم عليه أحد

“Ia melazimi Maalik bin Anas dengan amat sangat, tidak ada seorang pun yang mendahuluinya”.

Ibnu ‘Adiy rahimahullah berkata :

روى عن مالك غرائب ، و هو فى رواياته مستقيم الحديث
[/SIZE
]“Ia meriwayatkan beberapa riwayat ghariib dari Maalik. Dan ia dalam riwayatnya (Maalik) mustaqiimul-hadiits”.

Ibnu Ma’iin rahimahullah berkata :
[SIZE="4"]
وعبد الله بن نافع ثبت فيه

“Dan ‘Abdullah bin Naafi’ tsabt dalam riwayat Maalik”.

Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata :

كان عبد الله بن نافع أعلم الناس برأى مالك و حديثه ، كان يحفظ حديث مالك كله ثم دخله بآخرة شك

“’Abdullah bin Naafi’ adalah orang yang paling mengetahui tentang pendapat dan hadits Maalik. Ia menghapal semua hadits Maalik, namun timbul keraguan di akhir hayatnya”.

Abu Daawud rahimahullah berkata :

وكان عبد الله عالما بمالك ، و كان صاحب فقه

“’Abdullah adalah seorang ‘aalim tentang Maalik, seorang ahli fiqh”.

Ahmad bin Shaalih Al-Mishriy rahimahullah berkata :

كان أعلم الناس بمالك، و حديثه

“Ia adalah orang yang paling mengetahui tentang Maalik dan haditsnya”.
[lihat : Tahdziibut-Tahdziib, 6/52].
jual.buku.islam - 10/10/2012 12:15 AM
#28
Dimanakah Allah ? – Ini Jawaban Al-Imaam Maalik bin Anas rahimahullah
Dan khusus Al-Imaam Ahmad (yang perkataannya di atas sering dijadikan alasan untuk melemahkan atsar ini), maka beliau menyepakati apa yang dikatakan Al-Imaam Maalik bin Anas rahimahullah dengan periwayatan dari ‘Abdullah bin Naafi’ ini.

حدثنا أبو الفضل جعفر بن محمد الصندلى قال : حدثنا الفضل بن زياد قال : سمعت أبا عبد الله أحمد بن حنبل يقول : قال مالك بن أنس : الله عز وجل في السماء وعلمه في كل مكان ، لا يخلو منه مكان ، فقلت : من أخبرك عن مالك بهذا ؟ قال : سمعته من شريح بن النعمان ، عن عبد الله بن نافع

Telah menceritakan kepada kami Abul-Fadhl Ja’far bin Muhammad Ash-Shandaliy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Ziyaad, ia berkata : Aku mendengar Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata : Telah berkata Maalik bin Anas : “Allah ‘azza wa jalla berada di langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat. Tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya”. Lalu aku (Al-Fadhl bin Ziyaad) berkata : “Siapakah yang mengkhabarkan kepadamu dari Maalik perkataan ini ?”. Ahmad berkata : “Aku mendengarnya dari Syuraih bin An-Nu’maan, dari ‘Abdullah bin Naafi’” [Diriwayatkan oleh Al-Aajuriiy dalam Asy-Syarii’ah, no. 696].

Dan kemudian ia (Ahmad) berhujjah dalam masalah ‘aqidah ini seperti dikatakan Maalik, sebagaimana terdapat dalam riwayat :

فقال يوسف بن موسى القطان شيخ أبي بكر الخلال قيل لأبي عبد الله : الله فوق السماء السابعة على عرشه بائن من خلقه وقدرته وعلمه بكل مكان قال : نعم هو على عرشه ولا يخلو شيء من علمه

Telah berkata Yuusuf bin Muusaa Al-Qaththaan, syaikh Abu Bakr Al-Khallaal : Dikatakan kepada Abu ‘Abdillah : “Apakah Allah berada di atas langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, serta kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya ada di setiap tempat ?”. Ia (Ahmad) menjawab : “Benar, Allah ada di atas ‘Arsy-Nya, tidak ada sesuatupun yang luput dari ilmu-Nya” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal sebagaimana disebutkan oleh Adz-Dzahabiy dalam Al-‘Ulluw hal. 130; shahih].

Banyak riwayat-riwayat Al-Imam Ahmad yang menjelaskan hal yang semisal.
Al-Laalikaa’iy rahimahullah berkata :

وقال عز وجل (يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ) وقال : (أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ)وقال : (وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً) فدلت هذه الآيات أنه تعالى في السماء وعلمه بكل مكان من أرضه وسمائه . وروى ذلك من الصحابة : عن عمر ، وابن مسعود ، وابن عباس ، وأم سلمة ومن التابعين : ربيعة بن أبي عبد الرحمن ، وسليمان التيمي ، ومقاتل بن حيان وبه قال من الفقهاء : مالك بن أنس ، وسفيان الثوري ، وأحمد بن حنبل

“Dan Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya’ (QS. Faathir : 10). ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang’ (QS. Al-Mulk : 16). ‘Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga’ (QS. Al-An’aam : 61). Maka ayat-ayat ini menunjukkan bahwasannya Allah ta’ala berada di atas langit dan ilmu-Nya berada di setiap tempat di bumi dan langit-Nya. Dan diriwayatkan hal itu dari kalangan shahabat : ‘Umar, Ibnu Mas’uud, Ibnu ‘Abaas, Ummu Salamah; dan dari kalangan tabi’iin : Rabii’ah bin Abi ‘Abdirrahmaan, Sulaimaan At-Taimiy, Muqaatil-bin Hayyaan; dan dengannya dikatakan oleh para fuqahaa’ : Maalik bin Anas, Sufyaan Ats-Tsauriy, dan Ahmad bin Hanbal” [Syarh Ushuulil-I’tiqaad, hal. 387-388].

Al-Qaadliy ‘Iyaadl Al-Maalikiy rahimahullah berkata :

قال غير واحد سمعت مالكا يقول : الله في السماء وعلمه في كل مكان

“Lebih dari satu orang yang berkata : Aku mendengar Maalik berkata : ‘Allah berada di atas langit dan ilmu-Nya berada di setiap tempat” [Tartiibul-Madaarik, 2/43 – melalui perantaraan Masaailul-‘Aqiidah Allatii Qararahaa Aimmatul-Maalikiyyah oleh Abu ‘Abdillah Al-Hammaadiy, hal. 183, taqdim : Masyhur Hasan Salmaan; Ad-Daarul-Atsariyyah, Cet. 1/1429 H].

Abul-Mutharrif ‘Abdurrahmaan bin Haaruun Al-Qanaaza’iy Al-Maalikiy rahimahullah berkata :

وفي هذا الحديث - يعني حديث الأمة السوداء - بيان أن الله تبارك وتعالى في السماء، فوق عرشه، وهو في كل مكان بعلمه،....

“Dan dalam hadits ini – yaitu hadits budak wanita hitam – terdapat penjelasan bahwasannya Allah tabaaraka wa ta’ala berada di atas langit, di atas ‘Arsy-Nya. Dan Dia berada di setiap tempat dengan ilmu-Nya...” [Syarh Al-Muwaththa’, hal. 269 – melalui perantaraan Masaailul-‘Aqiidah Allatii Qararahaa Aimmatul-Maalikiyyah, hal. 184].

Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah menjelaskan ijma’ perkataan Al-Imaam Maalik di atas dengan perkataannya :

علماء الصحابة والتابعين الذين حمل عنهم التأويل قالوا في تأويل قوله عز وجل (مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاثَةٍ إِلا هُوَ رَابِعُهُمْ) هو على العرش، وعلمه في كل مكان، وما خالفهم في ذلك أحد يحتج بقوله

“‘Ulama dari kalangan shahabat dan taabi’iin yang diambil ta’wil mereka berkata tentang ta’wil firman-Nya ‘azza wa jalla : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya’ (QS. Al-Mujaadilah : 7) : ‘Allah berada di atas ‘Arsy, dan ilmu-Nya berada di setiap tempat’. Tidak ada seorangpun yang dijadikan hujjah perkataannya yang menyelisihi mereka” [Itsbaatu Shifaatil-‘Ulluw oleh Ibnu Qudaamah, hal. 166 no. 77].

Perlu dicatat, Ibnu ‘Abdil-Bar rahimahullah adalah fuqahaa’ dan ahli-hadits madzhab Maalikiyyah yang tentunya lebih mengetahui madzhab Al-Imaam Maalik dibandingkan lainnya.

Dan saya tutup dengan perkataan Adz-Dzahabiy rahimahullah :

وعن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : ((ما بين السماء القصوى والكرسي خمسمائة عام، وبين الكرسي والماء كذلك، والعرش فوق الماء، والله فوق العرش، ولا يخفى عليه شيء من أعمالكم)). رواه اللالكائي والبيهقي، بإسناد صحيح عنه

“Dan dari ‘Abdullah bin Mas’uud radliyllaahu ‘anhu, ia berkata : ‘Jarak antara langit yang paling tinggi dengan kursi adalah limaratus tahun. Begitu juga jarak antara kursi dengan air. Dan ‘Arsy berada di atas air. Dan Allah berada di atas ‘Arsy, tidak ada sesuatupun tersembunyi atas-Nya dari amal-amal kalian’. Diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dan Al-Baihaqiy dengan sanad shahih darinya” [Al-‘Arsy, 2/129, tahqiq : Prof. Muhammad bin Khaliifah At-Tamiimiy; Adlwaaus-Salaf, Cet. 1/1420 H].

Kesimpulannya : Shahih perkataan Al-Imaam Maalik bin Anas rahimahullah bahwasannya Allah ta’ala berada di atas langit, dan ilmu-Nyalah yang berada di setiap tempat. Inilah madzhab salaf, bukan madzhab Asyaa’irah.

NB : Kira-kira, orang-orang Asyaa’irah jika ditanya : ‘dimanakah Allah ?’ dapat langsung bergegas menjawab : ‘di atas langit’ gak ya ?.

Bisa dibaca di sini beserta komentar-komentarnya

Wallaahu a’lam.
jual.buku.islam - 10/10/2012 12:33 AM
#29
Jawaban atas tuduhan Salafi Pemalsuan Perkataan Al-Imam Malik rahimahullah
Ada seseorang yang menamakan dirinya sebagai Abu Salafy yang mengatakan bahwa Wahaby-Salafy (yang kemudian ia sebut sebagai Mujassimah – sebagaimana kebiasannya) telah berdusta atas nama Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah. (dan ternyata banyak juga yang termakan fitnahannya. )

Berikut perkataannya sebagaimana yang tertera di

Perkataan Abu Salafi
Quote:
Kaum Mujassimah Berbohong Atas Nama Imam Malik

Selain memalsu atas nama Abu Hanifah, kaum Mujassimah juga memalsu atas nama Imam Malik.

Mereka mangatakan bahwa Imam Malik berkata:

الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.

“Istiwâ’ sudah diketahui, kaif (cara/bentuk) tidak diketahui, beriman kepadanya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.”

Abu Salafy:

Ucapan itu tidak benar pernah diucapkan oleh Imam Malik, baik dengan sanad riwayat shahih, hasan maupun dhaif dengan kedha’ifan ringan. Barang siapa mengaku selain itu hendaknnya ia membawakan bukti dan menjelaskannya. Dan kami insyaallah siap mendiskusikannya di sini.

Stitmen benar pernah diucapkan Imam Malik adalah:

الكيف غير معقول والاستواء منه غير مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.

“Al kaif/bentuk/cara tidak masuk akal/tidak bisa diakal-akalkan, istiwâ’ tidak majhûl, beriman kepadanya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah (baru dimana sebbelumnya tidak ada).”

Ucapan ini jelas membubarkan anggapan kaum Mujassimah.


Jawabannya.

Silakan perhatikan baik-baik apa yang dikatakannya di atas. Anda katakan bahwa “Salafy-Wahabiy” memalsu perkataan Al-Imam Malik dan menyembunyikan perkataan beliau dengan lafadh yang sebenarnya. Maka saya katakan :

1.Jika yang Anda maksud adalah bahwa “Salafy-Wahabiy” yang Anda anggap sebagai Mujassimah adalah orang yang membuat-buat perkataan tersebut, maka itu adalah keliru. Perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah :

الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.

“Istiwaa’ itu telah diketahui (maknanya), kaifiyah-nya tidak diketahui (majhuul), beriman kepadanya adalah wajib, dan menanyakan tentangnya adalah bid’ah”

bukanlah buatan Salafy-Wahabiy. Apakah Anda tidak pernah membuka-buka kitab sehingga bisa menemukan perkataan Al-Imam Malik bin Anas ini dari para ulama terdahulu ? Simak perkataan Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam Tafsir-nya :

قال مالك رحمه الله: الاستواء معلوم - يعني في اللغة – والكيف مجهول، والسؤال عن هذا بدعة. وكذا قالت أم سلمة رضي الله عنها

“Telah berkata Malik rahimahullah : ‘Al-Istiwaa’ adalah diketahui (ma’luum) – yaitu (diketahui) dalam bahasa (‘Arab) – , kaifiyah-nya tidak diketahui (majhuul), bertanya tentang hal ini adalah bid’ah’. Hal yang sama juga dikatakan oleh Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhaa” [Tafsir Al-Qurthubi (Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’aan), 7/219-220, tahqiq : Hisyaam Samiir Al-Bukhariy; Daar ‘Aalamil-Kutub, Cet. Thn. 1423, Riyadl – atau 9/239, tahqiq : Dr. ‘Abdullah bn ‘Abdil-Muhsin At-Turkiy; Muassasah Ar-Risalah, Cet. 1/1427, Beirut]

Juga Al-Ghazzaaliy dengan lafadh :

.....واتباع ما تشابه من الكتاب والسنة. كما روي عن مالك - رحمه الله- أنه سُئل عن الاستواء، فقال: "الاستواء معلوم، والإيمان به واجب، والكيفية مجهولة، والسؤال عنه بدعة

“……Dan mengikuti apa-apa serupa dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebagaimana diriwayatkan dari Maalik rahimahullah bahwasannya ia pernah ditanya tentang al-istiwaa’. Maka beliau menjawab : ‘Al-Istiwaa’ itu diketahui (ma’luum), beriman kepadanya adalah wajib, kaifiyah-nya tidak diketahui (majhuul), dan bertanya tentangnya dalah bid’ah” [Fashlut-Tafriqah Bainal-Kufr waz-Zindiqah, hal. 88; Cet. 1/1353 H].

Juga Al-Imam Abu Bakr bin Al-‘Arabiy rahimahullah dengan lafadh :

وقال مالك أنه لم يتأول. ومذهب مالك رحمه الله أن كل حديث منها معلوم المعنى ولذلك قال للذي سأله : الاستواء معلوم والكيفية مجهولة

“Dan telah Malik bahwasannya ia tidak men-ta’wil-kannya. Madzhab Malik rahimahullah mengatakan bahwa semua hadits tentang sifat adalah diketahuinya maknanya. Oleh karena itu beliau berkata kepada orang yang bertanya kepadanya : ‘Al-Istiwaa’ diketahui (ma’luum), kaifiyyah-nya tidak diketahui (majhuul)” [‘Aaridlatul-Ahwadziy, 3/166; Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, tanpa tahun].

Al-Imam Al-Juwainiy rahimahullah dengan lafadh :

الاستواء معلوم والكيفية مجهولة والسؤال عنه بدعه

“Al-Istiwaa itu diketahui (ma’luum), kaifiyyah-nya tidak diketahui (majhuul), dan bertanya tentangnya adalah bid’ah” [Al-‘Aqiidah An-Nidhaamiyyah, hal. 23; Mathbaqah Al-Anwaar, Cet. Thn. 1948, Kairo].

Dan yang lainnya.

Apakah di sini Anda akan mengatakan bahwa Al-Juwainiy, Al-Qurthubiy, Ibnul-‘Arabiy, Al-Ghazaliy, dan yang lainnya yang menukil perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah dengan lafadh : Al-Istiwaa’ ma’luumun (istiwaa’ itu diketahui)…dst. adalah pendusta atau telah melakukan pemalsuan sebagaimana perkataan yang Anda alamatkan pada Wahaby-Salafy ? Saya kira tidak, dan semoga saja tidak. Anda lakukan itu hanyalah karena sentimen terhadap ‘Salafy-Wahabiy’.

Lazim diketahui bahwa diperbolehkan membawa perkataan secara makna dari perkataan ulama selama makna tersebut tidak terlalu melenceng/berbeda dengan perkataan yang sebenarnya. Para ulama memberi kelonggaran dalam permasalahan nukilan ini, kecuali jika nukilan tersebut bertentangan dengan perkataan yang asli. Ini wajib diingkari. Kelonggaran yang diberikan ulama dalam menukil perkataan ulama lain ini salah satunya disebabkan karena penukilan tersebut hanya ingin mengambil faedah. Selain itu, ia juga bukan nukilan hadits yang menuntut sama seperti sumbernya. Bahkan, dalam hadits pun sering kita temui para ulama menukil secara makna. Saya berikan contoh : Hadits yang disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Arba’uun (hadits no. 28) :

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ،

“Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla, mendengar dan taat kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak”.

Perhatikan kalimat yang saya garis bawah. An-Nawawi rahimahullah menisbatkan hadits di atas kepada Sunan Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Coba Anda cek di dua kitab Sunan tersebut. Atau dalam kitab hadits yang enam. Insya Allah Anda tidak akan mendapati lafadh seperti itu. Beliau (Al-Imam An-Nawawi rahimahullah) membawakan hadits tersebut secara makna. Kalaupun Anda ingin mengoreksi, Anda cukup mengatakan bahwa Al-Imam An-Nawawi rahimahullah keliru dalam masalah ini. Tidak perlu Anda katakan bahwa beliau telah memalsu periwayatan/perkataan dari Al-Imam At-Tirmidzi dan Abu Dawud atau bahkan mengatakan memalsu perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, sangat berlebihan kiranya jika ada orang yang menukil perkataan Al-Imam Malik secara makna Anda katakan sebagai pendusta, telah memalsukan, atau perkataan yang semisal.

Kesimpulan di point ini adalah bahwa tuduhan Anda bahwa Salafy Wahabiy memalsukan perkataan Al-Imam Malik rahimahullah adalah berlebihan, ceroboh, ngawur, lagi tidak benar.
jual.buku.islam - 10/10/2012 12:34 AM
#30
Jawaban atas tuduhan Salafi Pemalsuan Perkataan Al-Imam Malik rahimahullah
2. Perkataan Al-Imam Malik yang disertakan dengan sanadnya tentang istiwaa’ terdapat sedikit perbedaan lafadh namun yang mempunyai kemiripan satu dengan yang lainnya. Akan saya bawakan beberapa diantaranya :

Al-Imam Abu ‘Utsman Isma’il bin ‘Abdirrahman Ash-Shaabuniy rahimahullah (373-449 H) :

أخبرنا أبو محمد المخلدي العدل ، ثنا أبو بكر عبد الله بن محمد بن مسلم الإسفراييني، ثنا أبو الحسين علي بن الحسن، ثنا سلمة بن شبيب،ثنا مهدي بن جعفر بن ميمون الرملي ، عن جعفر بن عبد الله قال: جاء رجل إلى مالك بن أنس يعني يسأله عن قوله : الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى كيف استوى؟ قال فما رأيته وجد من شيء كوجده من مقالته ، وعلاه الرحضاء ، وأطرق القوم ؛ فجعلوا ينتظرون الأمر به فيه ، ثم سُرِّي عن مالك فقال: ( الكيف غير معقول، والاستواء غير مجهول ، والإيمان به واجب ، والسؤال عنه بدعة ، وإني لأخاف أن تكون ضالاً ) ثم أمر به فأخرج

“Telah mengkhabarkan kepada kami Abu MuhammadAl-Mukhalladiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr ‘Abdullah bin Muhammad bin Muslim Al-Isfiraayiiniy : Telah menceritakan kepada kami Abul-Husain ‘Ali bin Al-Hasan : Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib : Telah menceritakan kepada kami Mahdiy bin Ja’far bin Maimun Ar-Ramliy, dari Ja’far bin ‘Abdillah ia berkata : “Datang seorang laki-laki kepada Maalik bin Anas, yaitu menanyakan kepada beliau tentang firman Allah : ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’ ; bagaimana istiwaa’-nya Allah itu ?”. Perawi berkata : “Belum pernah aku melihat beliau (Malik) marah sedemikian rupa seperti marahnya beliau kepada orang itu. Tubuhnya berkeringat, orang-orang pun terdiam. Mereka terus menantikan apa yang akan terjadi. Kemudian setelah keadaan Al-Imam Malik kembali normal, beliau berkata : “Kaifiyah-nya tidaklah dapat dinalar, istiwaa’ sendiri bukan sesuatu yang majhul, beriman kepada adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Dan sesungguhnya aku takut kamu berada dalam kesesatan”. Kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk dikeluarkan dari majelisnya [‘Aqidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits, hal. 38-39, tahqiq : Badr bin ‘Abdillah Al-Badr; Adlwaaus-Salaf, Cet. 2/1415].

Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain Al-Baihaqiy rahimahullah (384-458 H) :

أخبرنا أبو بكر أحمد بن محمد بن الحارث الفقيه الأصفهاني أنا أبو محمد عبد الله بن محمد بن جعفر بن حيان المعروف بأبي الشيخ ثنا أبو جعفر أحمد بن زيرك اليزدي سمعت محمد بن عمرو بن النضر النيسابوري يقول : سمعت يحيى بن يحيى يقول : كنا عند مالك بن أنس فجاء رجل فقال : يا أبا عبد الله الرحمن على العرش استوى، فكيف استوى؟ قال : فأطرف مالك رأسه حتى علاه الرحضاء ثم قال : الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة، وما أراك إلا مبتدعًا. فأمر به أن يخرج

“Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Al-Haarits Al-Faqiih Al-Ashfahaniy : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin Ja’far bin Hayyaan yang terkenal dengan nama Abusy-Syaikh : Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ahmad bin Zairak Al-Yazdiy : Aku mendengar Muhammad bin ‘Amr bin An-Nadlr An-Naisaburiy berkata : Aku mendengar Yahya bin Yahya berkata : “Kami pernah berada bersama Maalik. Maka datanglah seorang laki-laki yang bertanya : ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’; bagaimana Allah ber-istiwaa’ ?”. Perawi berkata : Malik pun memalingkan kepalanya hingga tubuhnya berkeringat. Kemudian beliau berkata : “Istiwaa’ itu tidaklah majhul, kaifiyah-nya tidak dapat dinalar, beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Tidaklah aku melihatmu melainkan seorang mubtadi’”. Maka beliau memerintahkan agar orang tersebut dikeluarkan dari majelisnya” [Al-Asmaa’ wash-Shifaat, 2/305-306, tahqiq : ‘Abdullah bin Muhammad Al-Haasyidiy; Maktabah As-Suwaadiy].

Abul-Qaasim Hibatullah bin Al-Hasan Al-Laalika’iy rahimahullah (w. 418 H) :

ذكره علي بن الربيع التميمي المقري قال ثنا عبد الله ابن أبي داود قال ثنا سلمة بن شبيب قال ثنا مهدي بن جعفر عن جعفر بن عبد الله قال جاء رجل إلى مالك بن أنس فقال يا أبا عبد الله الرحمن على العرش استوى كيف استوى قال فما رأيت مالكا وجد من شيء كموجدته من مقالته وعلاه الرحضاء يعني العرق قال واطرق القوم وجعلوا ينتظرون ما يأتي منه فيه قال فسرى عن مالك فقال الكيف غير معقول والاستواء منه غير مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة فإني أخاف أن تكون ضالا وامر به فأخرج

Telah menyebutkan kepadanya ‘Aliy bin Ar-Rabii’ At-Tamimiy Al-Muqri’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Abi Dawud, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Mahdiy bin Ja’far, dari Ja’far bin ‘Abdillah, ia berkata : Datang seorang laki-laki kepada Maalik bin Anas. Ia berkata : “Wahai Abu ‘Abdillah, ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’; bagaiman Allah beristiwaa’ ?”. Perawi berkata : “Belum pernah aku melihat beliau (Malik) marah sedemikian rupa seperti marahnya beliau kepada orang itu. Tubuhnya berkeringat, orang-orang pun terdiam. Mereka terus menantikan apa yang akan terjadi. Maka keadaan Al-Imam Malik kembali normal, beliau berkata : “Kaifiyah-nya tidaklah dapat dinalar, istiwaa’ sendiri bukan sesuatu yang majhul, beriman kepada adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Dan sesungguhnya aku khawatir kamu berada dalam kesesatan”. Kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk dikeluarkan dari majelisnya. [Syarh Ushuulil-I’tiqad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah, hal. 398, tahqiq : Ahmad bin Mas’ud bin Hamdaan; desertasi S3].

Perhatikan apa yang tertulis di atas.

Jika yang Anda maksud adalah bahwa ‘Salafiy Wahabiy’ tidak pernah membawakan lafadh yang Anda bawakan, maka itu sangat tidak benar. Tiga matan kitab yang saya punyai dan sebutkan di atas semuanya di-takhrij dan di-tahqiq oleh ahli ilmu ‘Salafy-Wahabiy’ yang banyak dijual di pasaran dan disebarkan di berbagai media (termasuk internet). Selain itu, bertaburan kalimat Al-Imam Malik rahimahullah dengan lafadh-lafadhnya dibawakan dibawakan oleh ulama ‘Salafy-Wahabiy’. Saya ambil contoh :

Perkataan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah – tokoh pertama yang sangat Anda benci - :

وروى الثقاة عن مالك أن سائلا سأله عن قوله: {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} فقال: "الاستواء غير مجهول والكيف غير معقول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة

“Para perawi terpercaya telah meriwayatkan dari Maalik bahwasannya ada seorang penanya yang bertanya kepada beliau tentang firman Allah : ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’, maka beliau berkata : ‘Al-Istiwaa’ itu tidaklah majhul, kaifiyah-nya (bagaimananya) tidak dapat dinalar, beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentannya adalah bid’ah” [lihat Bayaan Talbiis Al-Jahmiyyah, 2/35; Muassasah Qurthubah].

Perkataan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah – tokoh kedua yang sangat Anda benci - :

فالسلف لا يقولون بورود ما لا معنى له لا في الكتاب ولا في السنة, بل يقولون في الاستواء مثلا: الاستواء غير مجهول والكيف غير معقول والإقرار به إيمان, والجحود به كفر"

“Para ulama salaf tidaklah mengatakan terhadap nash-nash yang datang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah itu tidak mempunyai makna. Namun mereka mengatakan dalam hal istiwaa’ – misalnya - : ‘Istiwaa’ itu tidaklah majhul, kaifiyyah-nya tidak dapat dinalar, menetapkannya adalah iman, dan mengingkarinya adalah kufur” [Masaailul-Jaahiliyyah, hal. 181, tahqiq : Yusuf bin Muhammad As-Sa’iid; Daarul-Majd, Cet. 1/1425 H].

Perkataan Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah – tokoh ketiga yang sangat Anda benci – saat menukil perkataan Ibnu Taimiyyah :

فقول ربيعة ومالك : الاستواء غير مجهول , والكيف غير معقول , والإيمان به واجب , موافق لقول الباقين : أمروها كما جاءت بلا كيف , فإنما نفوا على علم الكيفية ولم ينفوا حقيقة ......

“Perkataan Rabi’ah dan Maalik : ‘Al-Istiwaa’ tidaklah majhul, kaifiyyah-nya tidak dapat dinalar, dan beriman kepadanya adalah wajib; berkesesuaian dengan dengan perkataan yang lain : ‘Perlakukanlah ia (apa adanya) sebagaimana datangnya tanpa menanyakan bagaimana’. Sesungguhnya yang dinafikkan adalah ilmu tentang kaifiyyah, bukan menafikkan hakekat dari sifat itu sendiri…..” [Majmu’ Fataawaa wa Maqaalaat, 2/101].

Perkataan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah – tokoh keempat yang sangat Anda benci – juga menukil dan menjelaskan perkataan Al-Imam Malik dan Rabi’ah (guru Al-Imam Malik) rahimahumallah dalam pengantar kitab Mukhtashar Al-‘Ulluw [hal. 36; Al-Maktab Al-Islamiy, Cet. 2/1412].

Masih sangat banyak hal yang dapat ditampilkan. Namun setidaknya beberapa contoh di atas sudah mencukupi, kecuali bagi mereka yang telah buta matanya. Tidak ada yang disembunyikan oleh ‘Wahabi-Salafiy’ – sebagaimana tersirat dalam tulisan Anda.
jual.buku.islam - 10/10/2012 12:35 AM
#31
Jawaban atas tuduhan Salafi Pemalsuan Perkataan Al-Imam Malik rahimahullah
3.Perkataan Anda : Ucapan ini jelas membubarkan anggapan kaum Mujassimah ; jika itu ditujukan kepada ‘Wahabi-Salafiy’, maka maaf : Anda telah salah alamat, salah berpikir, dan salah dalam berhujjah. Justru ucapan Al-Imam Malik tersebut menjadi hujjah dalam penetapan dhahir makna. Dan,…….. di bagian mana kalimat beliau yang dapat ‘membubarkan’ sebagaimana yang Anda klaim ? Dan apa pula yang ‘bubar’ itu ?

Makna perkataan Al-Imam Malik rahimahullah : ‘Al-Istiwaa’ tidaklah majhul, kaifiyyah-nya tidak dapat dinalar’ ; adalah makna istiwaa’ itu bukan sesuatu hal yang asing untuk dipahami. Dalam bahasa Arab, ghairu majhuul itu sangat identik dengan ma’luum alias diketahui (maknanya). Oleh karena itu, sebagian ulama membawakan perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah tersebut secara makna dengan lafadh : ‘al-istiwaa’u ma’luumun = istiwaa’ itu diketahui maknanya. Bukan dengan jalan ta’wil. Persis seperti perkataan Al-Qurthubi rahimahullah :

الاستواء معلوم - يعني في اللغة

“Istiwaa’ itu diketahui – yaitu dalam bahasa (‘Arab)”.

Jika disebutkan bahwa istiwaa’ itu ‘diketahui dalam bahasa’, maka artinya adalah diketahui maknanya dalam bahasa ‘Arab – yaitu makna dhahir, makna hakekat yang cepat ditangkap oleh indera dan pikiran.

Apabila Anda cermati perkataan orang yang bertanya kepada Malik bin Anas rahimahullah : “Wahai Abu ‘Abdillah, ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’; bagaiman Allah beristiwaa’ ?” ; dapat diambil satu pengertian bahwa si penanya ini sudah mengerti hakekat makna istiwaa’, sehingga kemudian ia menanyakan bagaimananya istiwaa’ Allah itu dilakukan. Atas pertanyaan ini, Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah mengingkari pertanyaan kaifiyyah yang diajukan oleh orang tersebut.

Maka, Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata :

هذا أن الظاهر يعني به أمران أحدهما أنه لا تأويل لها غير دلالة الخطاب كما قال السلف الإستواء معلوم وكما قال سفيان وغيره قراءتها تفسيرها يعني أنها بينة واضحة في اللغة لا يبتغى بها مضائق التأويل والتحريف وهذا هو مذهب السلف مع إتفاقهم أيضا أنها لا تشبه صفات البشر بوجه إذ الباري لا مثل له لا في ذاته ولا في صفاته

“Lebih jauh lagi, yang dhahir (nampak) – dari nash tersebut – terbagi menjadi dua macam : Pertama, tidak ada penakwilan padanya selain apa yang diindikasikan oleh redaksinya, sebagaimana yang dikatakan oleh ulama salaf : al-istiwaa’ ma’luumun (istiwaa’ itu diketahui maknanya). Sebagaimana juga yang dikatakan oleh Sufyan dan yang lainnya : ‘Apa yang dibaca itu adalah tafsirannya’. Maksudnya adalah bahwa kata tersebut amat jelas menurut bahasa. Tidak selayaknya diganggu dengan interpretasi (ta’wil) dan penyelewengan makna (tahrif). Inilah madzhab salaf dan kesepakatan mereka bahwa sifat-sifat tersebut sama sekali tidak menyerupai sifat manusia, sebab Allah tidak ada permisalan bagi-Nya, tidak pada Dzat-Nya tidak pula pada sifat-Nya” [Al-‘Ulluw, hal. 183, tashhiih : ‘Abdurrahman Muhammad ‘Utsmaan; Al-Maktabah As-Salafiyyah, Cet. 2/1388 H].

Sekali lagi, mana kalimat yang Anda anggap sebagai ‘pembubaran’ itu ? Perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah adalah hujjah bagi kami untuk Anda, bukan sebaliknya. Sungguh sangat aneh bagi saya ketika Anda memakai perkataan Al-Imam Malik rahimahullah yang lain untuk menghujjahi kami :

الرحمن على العرش استوى كما وصف به نفسه ولا يقال كيف ، وكيف عنه مرفوع…

“Ar Rahmân di atas Arys beristiwâ’ sebagaimana Dia mensifati Diri-Nya. Dan tidak boleh dikatakan: Bagaimana? Dan bagaimana itu terangkat dari-Nya… “.

Perkataan di atas adalah untuk menetapkan sifat istiwaa’ sebagaimana makna dhahir nash yang datang tanpa ta’wil, yaitu : sesuai dengan yang Allah sifatkan bagi diri-Nya.

Untuk memperjelas, sebaiknya Anda memperhatikan perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah yang lain :

وقال عبد الله بن أحمد بن حنبل في الرد على الجهمية حدثني أبي حدثنا شريح بن النعمان عن عبد الله بن نافع قال قال مالك بن أنس : الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء

Telah berkata ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam kitab Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami Syuraih bin An-Nu’maan, dari ‘Abdullah bin Naafi’, ia berkata : Telah berkata Maalik bin Anas : “Allah berada di atas langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat, tidak terlepas dari-Nya sesuatu” [Dikeluarkan oleh ‘Abdullah dalam As-Sunnah, hal. 5, Abu Dawud dalam Al-Masaail hal. 264, Al-Ajurriy hal. 279, dan lain-lain – lihat Al-‘Ulluw, hal. 103. Sanad riwayat ini shahih].

Ini sangat sesuai dengan penjelasan Al-Imam Mujahid rahimahullah – murid Ibnu ‘Abbas – mengenai firman Allah istawaa ‘alal-‘Arsy :

علا على العرش

“Ia berada tinggi di atas ‘Arsy” [HR. Al-Bukhari].

Sesuai pula dengan penjelasan Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu :

والعرش على الماء والله عز وجل على العرش يعلم ما أنتم عليه

“’Arsy berada di atas air, dan Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy, yang mengetahui apa-apa yang kalian lakukan” [HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir; shahih].

Dari sini dapat kita ambil pemahaman bahwasannya istiwaa’ Allah itu adalah sesuai dhahirnya, bahwa Dia ber-istiwaa’ di atas langit, sedangkan ilmu-Nya berada di setiap tempat. Ini berbeda dengan ‘aqidah sebagian Asy’ariyyah yang meyakini bahwa Allah tidak berada di atas langit, namun ia berada di setiap tempat. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah itu tidak berada dimana-mana, tidak di dalam alam atau di luar alam. Tidak di atas, tidak di bawah. Jika kita tanya kepada mereka : “Dimanakah Allah ?”. Maka mereka menjawab dengan teori bermacam-macam dan jawaban yang susah dicerna lagi memusingkan kepala.

Padahal Rasululah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah membenarkan jawaban seorang budak ketika beliau bertanya kepadanya : “Dimanakah Allah ?”. Maka budak tersebut menjawab : “Di atas langit” [Diriwayatkan oleh Muslim, Malik, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ahmad, Ad-Daarimiy, dan yang lainnya].

Maka, kita jika ditanya : “Dimanakah Allah ?”. Kita jawab dengan mudah dan singkat : “Di langit”. Ia ber-istiwaa’ (bersemayam) di atas langit. Namun nampaknya Abu Salafy dan orang yang sepahaman dengannya tidak cukup dengan jawaban yang tertera di dalam hadits ini.

Di akhir pembahasan ini dapat kita katakan bahwa seluruh tulisan dan ucapan Abu Salafy terhadap “Salafy-Wahabiy” (yang sebenarnya adalah Ahlus-Sunnah) yang berisi tuduhan pemalsuan perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah adalah tidak benar, keliru, kurang pengetahuan, ngawur, dan hanya omong kosong belaka. Apalagi jika ia ingin memakai perkataan tersebut untuk mendukung hujjahnya, maka klaim ini adalah salah alamat.

Semoga tulisan ini ada manfaatnya. Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
jual.buku.islam - 10/10/2012 12:50 AM
#32
Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam bertanya kepada seorang budak "Dimana Allah"
Melanjutkan pembahasan di artikel Shahih Hadits Mu’aawiyyah bin Al-Hakam Tentang ‘Dimana Allah, pada kesempatan kali ini saya akan membawakan jalan riwayat lain yang dibawakan oleh Maalik bin Anas rahimahullaah dalam kitab Al-Muwaththa’ tentang hadits Jaariyyah. Sebagaimana diketahui, bahwa kitab Al-Muwaththa’ mempunyai kedudukan yang tinggi di kalangan muhadditsiin, bahkan ia disebut sebagai pokok pertama dalam kitab-kitab hadits sebelum Shahih Al-Bukhaariy – sebagaimana dikatakan Ibnul-‘Arabiy [‘Aaridlatul-‘Ahwadziy, 1/5]. Hadits-hadits yang disebutkan dalam Al-Muwaththa’ merupakan hujjah yang dipakai oleh Al-Imaam Maalik bin Anas rahimahullah.

Berikut yang tertera dalam Al-Muwaththa’ (4/35 no. 1601, tahqiq : Saalim Al-Hilaaliy & 5/1128-1129 no. 2875, tahqiq : Muhammad Mushthafa Al-A’dhamiy) :

حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ هِلَالِ بْنِ أُسَامَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ أَنَّهُ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ جَارِيَةً لِي كَانَتْ تَرْعَى غَنَمًا لِي فَجِئْتُهَا وَقَدْ فُقِدَتْ شَاةٌ مِنْ الْغَنَمِ فَسَأَلْتُهَا عَنْهَا فَقَالَتْ أَكَلَهَا الذِّئْبُ فَأَسِفْتُ عَلَيْهَا وَكُنْتُ مِنْ بَنِي آدَمَ فَلَطَمْتُ وَجْهَهَا وَعَلَيَّ رَقَبَةٌ أَفَأُعْتِقُهَ 575; فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْنَ اللَّهُ فَقَالَتْ فِي السَّمَاءِ فَقَالَ مَنْ أَنَا فَقَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْتِقْهَا

Telah menceritakan kepadaku Maalik, dari Hilaal bin Usaamah, dari ‘Atha’ bin Yasaar, dari ‘Umar bin Al-Hakam, bahwasannya ia berkata : "Aku menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata : "Wahai Rasulullah, budak perempuanku mengembala kambing milikku. Saat aku mendatanginya, ternyata kambingku telah hilang satu ekor. Lalu aku tanyakan kepadanya (tentang hal tersebut), ia menjawab : ‘Kambing itu telah dimakan serigala’. Aku merasa menyesal dengan kejadian tersebut, dan aku hanyalah manusia biasa, maka aku pun menampar wajahnya. Aku memiliki seorang budak, maka apakah aku harus memerdekakannya?". Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam lantas bertanya kepada budak tersebut : "Di mana Allah?". Ia menjawab : "Di langit". Beliau bertanya lagi : "Siapakah aku?". Ia menjawab : "Engkau Rasulullah". Lalu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Bebaskanlah ia !” [selesai].

Ada hal yang perlu diperhatikan dalam sanad riwayat di atas. Al-Imam Maalik rahimahullah telah keliru saat menyebutkan ujung sanad hadits di atas dengan ‘Umar bin Al-Hakam. Dan ini telah dikoreksi oleh sejumlah ulama, di antaranya :

1. Al-Imaam Asy-Syaafi’iy rahimahullah.
Beliau juga meriwayatkan hadits ini dari jalan Imam Maalik, lalu berkata terkait penyebutan ‘Umar bin Al-Hakam :

وهو معاوية بن الحكم، وكذلك رواه غير مالك، وأظنه مالك لم يحفظ اسمه

“Ia adalah Mu’aawiyyah bin Al-Hakam. Dan seperti itulah yang diriwayatkan perawi lain selain Maalik. Aku kira, Maalik tidak hapal nama perawi itu” [lihat Ar-Risaalah, hal. 76 no. 243, tahqiq Ahmad Syaakir. Lihat pula Al-Umm, 6/707 no. 2617, tahqiq : Rif’at Fauziy ‘Abdul-Muthallib].

2. Imaam Muslim rahimahullah.
Beliau dalam At-Tamyiiz sebagaimana terdapat dalam Athraaf Al-Muwaththa’ berkata :

ومعاوية بن الحكم مشهور برواية هذا الحديث في قصة الجارية والكهان والطيرة، قال : ولا نعلم أحدًَا سماه (عمر) إلا مالك، حتى وهم فيه

“Dan Mu’aawiyah bin Al-Hakam masyhuur dengan riwayat hadits ini dalam kisah Jaariyyah, dukun, dan thiyarah. Kami tidak mengetahui seorang pun yang menamakannya ‘Umar kecuali Maalik, sehingga ia mengalami keraguan di dalamnya”.

3. Al-Imaam Ad-Daaruquthniy rahimahullah.
Beliau berkata saat mengomentari beberapa perselisihan dan tarjih jalan-jalan riwayat Mu’aawiyyah bin Al-Hakam berkata :

ورواه مالك بن أنس عن هلال، ووهم فيه فقال : عن عطاء بن يسار عن عمر بن الحكم، وذلك مما يعتد به على مالك في الوهم

“Dan diriwayatkan oleh Maalik bin Anas dari Hilaal, dan ia mengalami keraguan di dalamnya. Ia berkata : ‘Dari ‘Athaa’ bin Yasaar, dari ‘Umar bin Al-Hakam’. Itu terhitung sebagai bagian dari keraguan/kekeliruan Maalik (dalam periwayatan)” [Al-‘Ilal, 6/82].

4. Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah.
Beliau berkata :

وأكثر الرواة عن مالك يقولون : عمر بن الحكم، وهو من أوهام مالك في اسمه.

“Kebanyakan para perawi (yang meriwayatkan) dari Maalik berkata : ‘Umar bin Al-Hakam. Ini termasuk keragu-raguan Maalik dalam (penyebutan) namanya” [At-Talkhiishul-Habiir, 3/222].

5. Dan lain-lain.
Ada pendapat lain, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr, bahwa kekeliruan/keraguan (wahm) itu berasal dari Hilaal.
Namun yang benar – wallaahu a’lam - , keraguan (wahm) tersebut berasal dari Maalik bin Anas sebagaimana dikatakan jumhur muhadditsiin. Hal ini dikuatkan oleh riwayat Al-Baihaqiy [As-Sunan Al-Kubraa, 7/387] dan ‘Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimiy [Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah, hal. 38-39 no. 62] – dengan sanad shahih – yang membawakan riwayat Maalik tentang hadits Jaariyyah yang berasal dari Yahyaa bin Yahyaa dari Maalik; dengan menyebutkan Mu’aawiyyah bin Al-Hakam.

Namun, apapun itu, tidaklah membuat hadits ini menjadi lemah karena kekeliruan Maalik dengan menyebut ‘Umar bin Al-Hakam. Tidak ada ulama yang melemahkan hadits Maalik ini, kecuali penyebutan wahm sebagaimana telah dituliskan di atas. Dan itu telah dikoreksi sejumlah ulama. Oleh karena itu, hadits Maalik ini shahih dengan tartib sanad : Maalik bin Anas, dari Hilaal bin Usamah, dari ‘Atha’ bin Yasaar, dari Mu’aawiyyah bin Al-Hakam radliyallaahu ‘anhu.
Al-Imaam Asy-Syaafi’iy berhujjah dengan hadits di atas pada kitab Al-Umm dalam masalah pembebasan budak, tanpa mengatakan adanya kelemahan.
Walhasil, hadits ini adalah shahih, tidak ada idlthiraab di dalamnya sebagaimana klaim As-Saqqaaf dan para muqallid-nya.

Semoga sedikit yang ditulis ini ada manfaatnya.
jual.buku.islam - 10/10/2012 01:08 AM
#33
Kedua: MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAH
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa dua kalimat syahadah merupakan dasar sah dan diterimanya semua amal. Kedua kalimat ini memiliki makna, syarat-syarat dan rukun-rukun yang harus diketahui, diyakini, diimani dan diamalkan oleh seluruh kaum Muslimin.

Makna kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Makna dari kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (laa ilaaha illallaah) adalah:

لاَ مَعْبُوْدَ بِِِِِحَقٍّ إِلاَّ اللهُ.

“Tidak ada sesembahan yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Ada beberapa penafsiran yang salah tentang makna kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (laa ilaaha illallaah), dan kesalahan tersebut telah menyebar luas. Di antara kesalahan tersebut adalah:[[1]

1. Menafsirkan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan لاَ مَعْبُوْدَ إِلاَّ اللهُ (tidak ada yang diibadahi kecuali Allah), padahal makna tersebut rancu karena jika demikian, maka setiap yang diibadahi, baik benar maupun salah, berarti Allah.

2. Menafsirkan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan لاَ خَالِقَ إِلاَّ اللهُ (tidak ada pencipta kecuali Allah), padahal makna tersebut merupakan sebagian dari makna kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dan ini masih berupa Tauhid Rububiyyah saja, sehingga belum cukup. Inilah yang diyakini juga oleh orang-orang musyrik.

3. Menafsirkan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan لاَ حَاكِمِيَّةَ إِلاَّ اللهُ (tidak ada hakim (penguasa) kecuali Allah), pengertian ini pun tidak mencukupi karena apabila mengesakan Allah hanya dengan pengakuan atas sifat Allah Yang Maha Penguasa saja namun masih berdo’a kepada selain-Nya atau menyelewengkan tujuan ibadah kepada sesuatu selain-Nya, maka hal ini belum termasuk definisi yang benar.

Syarat-Syarat Kalimat [2] لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Syarat Pertama: اَلْعِلْمُ (al-‘ilmu)

Yaitu mengetahui arti kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (laa ilaaha illallaah).
Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali hanya Allah...” [Muhammad: 19]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Melainkan mereka yang mengakui kebenaran, sedang mereka orang-orang yang mengetahui.” [Az-Zukhruf: 86]

Yang dimaksud dengan “mengakui kebenaran” adalah ke-benaran kalimat laa ilaaha illallaah. Sedangkan maksud dari “sedang mereka orang-orang yang mengerti” adalah mengerti dengan hati mereka apa yang diucapkan dengan lisan.

Dalam hadits shahih dari Sahabat ‘Utsman Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

“Barangsiapa yang meninggal dunia dan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, maka ia masuk Surga.”[3]

Syarat Kedua: اَلْيَقِيْنُ (al-yaqiin)

Yaitu yakin serta benar-benar memahami kalimat laa ilaaha illallaah tanpa ada keraguan dan kebimbangan sedikit pun.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِم 618; وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan dirinya, merekalah orang-orang yang benar.” [Al-Hujuraat: 15]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

...أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُوْلُ اللهِ لاَ يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ، غَيْرَ شَاكٍّ فِيْهِمَا، إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

“... Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali hanya Allah dan bahwasanya aku (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah utusan Allah, tidaklah seorang hamba menjumpai Allah (dalam keadaan) tidak ragu-ragu terhadap kedua (syahadat)nya tersebut, melainkan ia masuk Surga.”[4]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

...اذْهَبْ بِنَعْلَيَّ هَاتَيْنِ، فَمَنْ لَقِيْتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ...

“... Pergilah dengan kedua sandalku ini, maka siapa saja yang engkau temui di belakang kebun ini yang ia bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, dengan hati yang meyakininya, maka berikanlah kabar gembira kepadanya dengan masuk Surga.” [5]

Maka, syarat untuk masuk Surga bagi orang yang mengucap-kannya, yaitu hatinya harus yakin dengannya (kalimat Tauhid) serta tidak ragu-ragu terhadapnya. Apabila syarat tersebut tidak ada maka yang disyaratkan (masyrut) juga tidak ada. Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata:

اَلْيَقِيْنُ اْلإِيْمَانُ كُلُّهُ وَالصَّبْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ.

“Yakin adalah Iman secara keseluruhan, dan sabar adalah sebagian dari iman.”[6]

Tidak ada keraguan lagi bahwasanya orang yang yakin dengan makna laa ilaaha illallaah, seluruh anggota tubuhnya akan patuh beribadah kepada Allah Azza wa Jalla yang tiada sekutu bagi-Nya, dan akan mentaati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena inilah Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu memohon ditambahkan iman dan keyakinan dengan berdo’a:

اَللَّهُمَّ زِدْنَا إِيْمَانًا، وَيَقِيْنًا، وَفِقْهًا.

“Ya Allah, tambahkanlah kepada kami keimanan, keyakinan, dan kefahaman.” [7]

Syarat Ketiga: اْلإِخْلاَصُ (al-ikhlaash)

Yaitu memurnikan amal perbuatan dari segala kotoran-kotoran syirik, dan mengikhlaskan segala macam ibadah hanya kepada Allah.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“... Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)...” [Az-Zumar: 2-3]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah hanya kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya...” [Al-Bayyinah: 5]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفاَعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ.

“Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan: ‘Laa ilaaha illallaah,’ dengan ikhlas dari hati atau jiwanya.” [8]

Quote:
[1]. Lihat ‘Aqiidatut Tauhid (hal. 39-40) oleh Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Ab-dullah al-Fauzan.
[2]. Tentang syarat-syarat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ lihat Ma’aarijul Qabuul (I/333-339) oleh Syaikh Hafizh bin Ahmad Hakami, Tuhfatul Ikhwaan bi Ajwibah Muhimmah Tata’allaqu bi Arkaanil Islaam (hal. 24-26) oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz dan ‘Aqiidatut Tauhiid (hal. 42-45) oleh Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah al-Fauzan.
[3]. HR. Muslim (no. 26), Ahmad (I/65, 69) dan Abu ‘Awanah (I/7), dari Sahabat ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu.
[4]. HR. Muslim (no. 27) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[5]. HR. Muslim (no. 31) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[6]. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari secara mu’allaq dan pasti. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Riwayat ini dimaushulkan (disambungkan) oleh Imam ath-Thab-rani (no. 8544), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud, dengan sanad yang shahih.” (Fat-hul Baari (I/48)).
[7]. Atsar ini diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam as-Sunnah (I/368, no. 797) dan al-Laalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 1704). Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fat-hul Baari (I/48) menyatakan bahwa sanadnya shahih.
[8]. HR. Al-Bukhari (no. 99 dan 6570) dan Ahmad (II/373), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
jual.buku.islam - 10/10/2012 01:10 AM
#34
Kedua: MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAH
Syarat Keempat: اَلصِّدْقُ (ash-shidqu)

Yaitu jujur, maksudnya mengucapkan kalimat ini dengan disertai pembenaran oleh hatinya. Barangsiapa lisannya mengucapkan namun hatinya mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِين َيُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Dan di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,’ padahal mereka itu sesung-guhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak me-nipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” [Al-Baqarah: 8-9]

Juga firman Allah Azza wa Jalla tentang orang munafik:

قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ

“... Mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah...’” [Al-Munafiquun: 1]

Kemudian Allah Azza wa Jalla mendustakan mereka dengan firman-Nya:

وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِين 614; لَكَاذِبُونَ

“... Dan Allah mengetahui bahwasanya engkau adalah utusan-Nya dan Allah bersaksi bahwasanya orang-orang munafik itu berdusta.” [Al-Munaafiquun: 1]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ.

“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Rasul Allah, dengan jujur dari hatinya, melainkan Allah mengharamkannya masuk Neraka.”[9]

Syarat Kelima: اَلْمَحَبَّةُ (al-mahabbah)

Yaitu cinta, maksudnya mencintai kalimat tauhid ini, men-cintai isinya dan apa-apa yang ditunjukkan atasnya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Dan orang-orang yang beriman, sangat besar cinta mereka kepada Allah....” [Al-Baqarah: 165]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: ‘Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Ali ‘Imran: 31]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ: مَنْ كاَنَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ.

“Tiga perkara yang bila ketiga-tiganya terdapat pada seseorang ia akan mendapatkan kelezatan iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, (2) mencintai seseorang semata-mata karena Allah, (3) tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia tidak suka dicampakkan ke dalam api.”[10]

Syarat Keenam: اْلإِنْقِيَادُ (al-inqiyaad)

Yaitu tunduk dan patuh. Seorang Muslim harus tunduk dan patuh terhadap apa-apa yang ditunjukkan oleh kalimat laa ilaaha illallaah, hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengamalkan syari’at-syari’at-Nya, beriman dengan-Nya, dan berkeyakinan bahwasanya hal itu adalah benar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

“Dan kembalilah kamu kepada Rabb-mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” [Az-Zumar: 54]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan dia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” [An-Nisaa': 125]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” [Luqman: 22]

Syarat Ketujuh: اَلْقَبُوْلُ (al-qabuul)

Yaitu menerima kandungan dan konsekuensi dari kalimat syahadat ini, menyembah Allah Azza wa Jalla semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Siapa yang mengucapkan, tetapi tidak menerima dan mentaati, maka ia termasuk dari orang-orang yang difirmankan Allah Azza wa Jalla :

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُون 614; وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaha illallaah (tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah)’ mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: ‘Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?” [Ash-Shaaffaat: 35-36]

Ini seperti halnya penyembah kubur di zaman ini. Mereka mengikrarkan: “Laa ilaaha illallaah,” tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan mereka terhadap kuburan. Dengan demikian berarti mereka belum menerima makna: “Laa ilaaha illallaah.” [11]

Quote:
[9]. HR. Al-Bukhari (no. 128) dan Muslim (no. 32) dari hadits Muadz bin Jabal Radhiyallahu anhu.
[10]. HR. Al-Bukhari (no. 16, 21, 6041) dan Muslim (no. 43 (67)), dari Sahabat Abu Said al-Khudri Radhiyallahu anhu.
[11]. Lihat ‘Aqiidatut Tauhiid (hal. 44).
jual.buku.islam - 10/10/2012 01:11 AM
#35
Kedua: MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAH
Makna Kalimat مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ (Muhammad Rasulullah) [12]

Makna dari syahadat مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ (Muhammad Rasulullah) adalah:

1. طَاعَتُهُ فِيْمَا أَمَرَ, yaitu mentaati apa-apa yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan.

2. تَصْدِيْقُهُ فِيْمَا أَخْبَرَ , yaitu membenarkan apa-apa yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan.

3. اِجْتِنَابُ مَا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ , yaitu menjauhkan diri dari apa-apa yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam larang.

4. أَنْ لاَ يَعْبُدَ اللهَ إِلاَّ بِمَا شَرَعَ, yaitu tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan cara yang telah disyari’atkan. Artinya, kita wajib beribadah kepada Allah menurut apa yang disyari’atkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita wajib ittiba’ kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tentang makna dan konsekuensi kalimat مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ (Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) akan dibahas lebih lanjut pada point ke-24: Wajibnya Mencintai dan Mengagungkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (hal.253).

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
_amrozi_lagi_ - 10/10/2012 07:58 AM
#36

wew Yazid bin Abdur Qadir Jawas matabelo:

bakal ada yg komplen ga nih di mari ama nih ustadz D
cr0wszer0 - 10/10/2012 09:40 AM
#37

^^
wah, dah lama nggak liat nih ID matabelo:


eeeaaa, yg satu Aswaja, yg satu Salaf(y)...
duduk dipojokan aja dah D
jual.buku.islam - 10/10/2012 07:15 PM
#38
Ketinggian Allah ta’ala di Atas Semua Makhluk-Nya
Allah ta’ala berfirman :

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” [QS. An-Nahl : 50].

تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” [QS. Al-Ma’aarij : 4].

Ayat ini merupakan salah satu dalil yang bahwa Allah ta’ala berada di atas makhluk-Nya secara hakiki. Dijelaskan lagi di ayat lain :

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu” [QS. Al-Mulk : 16].
Al-Baihaqiy rahimahullah berkata tentang ayat ini :

وَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَعْنَاهُ: مَنْ فَوْقِ السَّمَاءِ عَلَى الْعَرْشِ، كَمَا قَالَ: فَسِيحُوا فِي الأَرْضِ أَيْ: فَوْقَ الأَرْضِ،

“Dan kami telah menyebutkan bahwa maknanya : Allah yang berada di atas langit di atas ‘Arsy, sebagaimana firman-Nya : ‘Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi (fil-ardli)’ (QS. At-Taubah : 2), yaitu : fauqal-ardli (di atas permukaan bumi)...” [Al-Asmaa’ wash-Shifaat oleh Al-Baihaqiy, 2/334, tahqiq : ‘Abdullah Al-Haasyidiy; Maktabah As-Suwaadiy].

Berikut ini akan saya bawakan beberapa atsar dari para shahabat dan ulama setelahnya yang menjelaskan ketinggian Allah di atas makhluk-Nya, dan Ia di atas langit-langit-Nya lagi beristiwaa’ di atas ‘Arsy-Nya.

1. Zainab bintu Jahsy radliyallaahu ‘anhaa

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَ 575; قَالَ: فَكَانَتْ تَفْخَرُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقُولُ: زَوَّجَكُنَّ أَهْلُكُنَّ، وَزَوَّجَنِي اللَّهُ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ ".قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fadhl : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Tsaabit, dari Anas, ia berkata : “Ayat ini turun berkenaan dengan Zainab bintu Jahsy : ‘Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), maka Kami nikahkan engkau dengannya’ (Al-Ahzab: 37)”. Anas berkata : “Adalah Zainab membanggakan dirinya atas istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata : ‘Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada di atas tujuh langit” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3213, dan ia berkata : “Hadits hasan shahih”].

2. ‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu.

حَدَّثَنَا بَحْرُ بْنُ نَصْرِ بْنِ سَابِقٍ الْخَوْلانِيُّ 548; قَالَ: ثنا أَسَدٌ، قَالَ: ثنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَاصِمِ ابْنِ بَهْدَلَةَ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: " مَا بَيْنَ سَمَاءِ الدُّنْيَا وَالَّتِي تَلِيهَا مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ كُلِّ سَمَاءٍ مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ وَبَيْنَ الْكُرْسِيِّ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَالْعَرْشُ فَوْقَ السَّمَاءِ، وَاللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَوْقَ الْعَرْشِ، وَهُوَ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ "

Telah menceritakan kepada kami Bahr bin Nashr bin Saabiq Al-Khaulaaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Asad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari ‘Aashim bin Bahdalah, dari Zirr bin Hubaisy, dari Ibnu Mas’uud, ia berkata : “Jarak antara langit dunia dan langit di atasnya sejauh perjalanan selama 500 tahun. Jarak antara setiap langit dengan langit lainnya sejauh perjalanan selama 500 tahun. Jarak antara langit ketujuh dan kursi sejauh perjalanan selama 500 tahun. Dan ‘Arsy di atas langit, dan Allah tabaaraka wa ta’ala berada di atas ‘Arsy. Ia mengetahui apa yang kalian lakukan” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhiid, hal. 242-243, tahqiq : Dr. ‘Abdul-‘Aziiz Asy-Syahwaan; Daarur-Rusyd, Cet. 1/1408 H].
Sanadnya hasan.

3. Adl-Dlahhaak bin Muzaahim rahimahullah (w. 105/106 H).

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي زِيَادٍ، قَالَ: ثني نضر بْنُ مَيْمُونٍ الْمَضْرُوبُ، قَالَ: ثنا بُكَيْرُ بْنُ مَعْرُوفٍ، عَنْ مُقَاتِلِ بْنِ حَيَّانَ، عَنِ الضَّحَّاكِ، فِي قَوْلِهِ: مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاثَةٍ إِلَى قَوْلِهِ:هُوَ مَعَهُمْ. قَالَ: هُوَ فَوْقَ الْعَرْشِ، وَعِلْمُهُ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Abi Ziyaad, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Nadlr bin Maimuun Al-Madlruub, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Bukair bin Ma’ruuf, dari Muqaatil bin Hayyaan, dari Adl-Dlahhaak bin Muzaahim tentang firman-Nya : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang’ hingga firman-Nya : ‘melainkan Dia berada bersama mereka’ (QS. Al-Mujaadilah : 7). Ia (Adl-Dlahhaak) berkata : “Ia (Allah) berada di atas ‘Arsy, dan ilmu-Nya bersama mereka, di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam Jaami’ul-Bayaan, 23/237, tahqiq : Ahmad Muhammad Syaakir; Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 1/1420 H].
Catatan : Penyebutan Nadlr bin Maimuun Al-Madlruub ini keliru. Yang benar adalah : Nuuh bin Maimuun Al-Madlruub sebagaimana riwayat ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 592, Al-Baihaqiy dalam Al-Asmaa’ wash-Shifaat no. 909, dan Al-Aajuriiy dalam Asy-Syarii’ah no. 388. Selain itu, ia lah perawi yang meriwayatkan dari Bukair bin Ma’ruuf.
Nuuh bin Maimuun seorang yang tsiqah.
Sanadnya hasan.

4. Sulaimaan At-Taimiy rahimahullah (w. 143 H).

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي خَيْثَمَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ، قَالَ: ثَنَا ضَمْرَةُ، عَنْ صَدَقَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ التَّيْمِيَّ، يَقُولُ: لَوْ سُئِلْتُ: أَيْنَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى؟ قُلْتُ: فِي السَّمَاءِ، فَإِنْ قَالَ: فَأَيْنَ عَرْشُهُ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاءَ؟ قُلْتُ: عَلَى الْمَاءِ، فَإِنْ قَالَ لِي: أَيْنَ كَانَ عَرْشُهُ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْمَاءَ ؟ قُلْتُ: لا أَدْرِي

Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin ‘Ubaid, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Al-Husain, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Abi Khaitsamah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Ma’ruuf, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Dlamrah, dari Shadaqah, ia berkata : Aku mendengar At-Taimiy berkata : “Seandainya aku ditanya : ‘dimanakah Allah ?’, akan aku jawab : ‘Di langit’. Jika ia kembali bertanya : ‘Lalu, dimanakah ‘Arsy-Nya sebelum ia menciptakan langit ?’. Aku akan menjawab : ‘Di atas air’. Dan jika ia bertanya lagi kepadaku : ‘Dimanakah ‘Arsy-Nya dahulu sebelum Allah menciptakan air ?’. Aku akan menjawab : ‘Aku tidak tahu” [Diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad, hal. 401, tahqiq : Ahmad bin Mas’uud Al-Hamdaan; Cet. 2/1411 H].
jual.buku.islam - 10/10/2012 07:20 PM
#39

5. Maalik bin Anas rahimahullah (w. 179 H).

حدثني أبي رحمه الله حدثنا سريج بن النعمان حدثنا عبدالله بن نافع قال كان مالك بن أنس يقول الايمان قول وعمل ويقول كلم الله موسى وقال مالك الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء

Telah menceritakan kepadaku ayahku rahimahullah : Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’maan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Naafi’, ia berkata : “Maalik bin Anas pernah berkata : ‘Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, Allah berbicara kepada Muusaa, Allah berada di atas langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat – tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah, hal. 280 no. 532, tahqiq : Dr. Muhammad bin Sa’iid Al-Qahthaaniy; Daaru ‘Aalamil-Kutub, Cet. 4/1416 H. Diriwayatkan juga oleh Abu Daawud dalam Masaail-nya hal. 263, Al-Aajuriiy dalam Asy-Syarii’ah, 2/67-68 no. 695-696, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad hal. 401 no. 673, Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 7/138, dan Ibnu Qudaamah dalam Itsbaatu Shifaatil-‘Ulluw hal. 166 no. 76].
Sanadnya shahih.

6. ‘Abdullah bin Al-Mubaarak rahimahullah (w. 181 H).

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحِ الْبَزَّازُ، ثنا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ، عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ، قَالَ: قِيلَ لَهُ: كَيْفَ نَعْرِفُ رَبَّنَا؟ قَالَ: " بِأَنَّهُ فَوْقَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى الْعَرْشِ، بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ "

Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Ash-Shabbaah Al-Bazzaaz : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Hasan bin Syaqiiq, dari Ibnul-Mubaarak. Syaqiiq berkata : Dikatakan kepadanya : “Bagaimana kita mengetahui Rabb kita ?”. Ia (Ibnul-Mubaarak) berkata : “Bahwasannya Allah berada di atas langit yang ketujuh, di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya” [Diriwayatkan oleh Abu Sa’iid Ad-Daarimiy dalam Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah, hal. 39-40 no. 67, tahqiq : Badr Al-Badr; Ad-Daarus-Salafiyyah, Cet. 1/1405 H. Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhaariy dalam Khalqu Af’aalil-‘Ibaad 2/15 no. 13-14 dan ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 22 & 216 dan Al-Baihaqiy dalam Al-Asmaa’ wash-Shifaat no. 903].
Sanadnya hasan.

7. Muhammad bin Mush’ab Al-‘Aabid rahimahullah (w. 228 H).

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ أَبُو الْحَسَنِ بْنُ الْعَطَّارِ، قَالَ: سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بنَ مُصْعَبٍ الْعَابِدَ، يَقُولُ: " مَنْ زَعَمَ أَنَّكَ لا تَتَكَلَّمُ وَلا تُرَى فِي الآخِرَةِ، فَهُوَ كَافِرٌ بِوَجْهِكَ، وَلا يَعْرِفُكَ، أَشْهَدُ أَنَّكَ فَوْقَ الْعَرْشِ، فَوْقَ سَبْعِ سَمَوَاتٍ، لَيْسَ كَمَا يَقُولُ أَعْدَاؤُكَ الزَّنَادِقَةُ "

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Makhlad : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin ‘Umar bin Al-Hakam Abul-Hasan bin Al-‘Aththaar, ia berkata : Aku mendengar Muhammad bin Mush’ab Al-‘Aabid berkata : “Barangsiapa yang menyangka bahwasannya Engkau tidak berbicara dan tidak dapat dilihat di akhirat, maka ia kafir terhadap wajah-Mu dan tidak mengetahui-Mu. Aku bersaksi bahwasannya Engkau berada di atas ‘Arsy, di atas tujuh langit. Tidak seperti yang dikatakan musuh-musuh-Mu, yaitu Zanaadiqah” [Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy dalam Ash-Shifaat, hal. 72-73 no. 64, tahqiq : Dr. ‘Aliy bin Muhammad bin Naashir Al-Faqiihiy – dicetak bersama kitab An-Nuzuul lid-Daaruquthniy; Cet. 1/1403 H. Diriwayatkan juga oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 167, An-Najjaad dalam Ar-Radd ‘alaa Man Yaquulu Al-Qur’aan Makhluuq no. 110, dan Al-Khathiib dalam At-Taariikh 4/452].
Sanadnya shahih.

8. Qutaibah bin Sa’iid rahimahullah (w. 240 H).

سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ الثَّقَفِيَّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا رَجَاءٍ قُتَيْبَةَ بْنَ سَعِيدٍ، قَالَ: " هَذَا قَوْلُ الأَئِمَّةِ الْمَأْخُوذِ فِي الإِسْلامِ وَالسُّنَّةِ: الرِّضَا بِقَضَاءِ اللَّهِ، .........وَيَعْرِفَ اللَّهَ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا قَالَ: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى

Aku mendengar Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia berkata : Aku mendengar Abu Rajaa’ Qutaibah bin Sa’iid berkata : “Ini adalah perkataan para imam yang diambil dalam Islam dan Sunnah : ‘Ridlaa terhadap ketetapan Allah…… dan mengetahui Allah berada di langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana firman Allah : ‘Ar-Rahmaan di atas ‘Arsy beristiwa’. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah’ (QS. Thaha : 5)…..” [Diriwayatkan oleh Abu Ahmad Al-Haakim dalam Syi’aar Ashhaabil-Hadiits, hal. 30-34 no. 17, tahqiq : As-Sayyid Shubhiy As-Saamiraa’iy; Daarul-Khulafaa’, Cet. Thn. 1404 H].
Sanadnya shahih.

9. Ahmad bin Hanbal rahimahullah (w. 241 H).

وهو على العرش فوق السماء السابعة. فإن احتج مبتدع أو مخالف بقوله تعالى {وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيد} وبقوله عز وجل : {وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ} أو بقوله تعالى : {مَا يكُونُ مِنْ نَجْوى ثلاثة إلا هُوَ رَابِعُهُمْ} ونحو هذا من متشابه القران

“Ia (Allah) berada di atas ‘Arsy, di atas langit ketujuh. Sesungguhnya ahli bid’ah atau orang yang menyimpang dari kebenaran berhujjah dengan firman-Nya : ‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya’ (QS. Qaaf : 16), atau dengan firman-Nya : ‘Dan Ia (Allah) bersama kalian di mana saja kalian berada’ (QS. Al-Hadiid : 4), atau dengan firman-Nya : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya’ (QS. Al-Mujaadilah : 7), dan yang lainnya dari ayat-ayat Al-Qur’an yang mutasyaabih” [As-Sunnah oleh Ahmad bin Hanbal melalui kitab Al-Masaail war-Rasaail Al-Marwiyyatu ‘anil-Imaam Ahmad fil-‘Aqiidah oleh ‘Abdullah Al-Ahmadiy, 1/318-319; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1412 H].
Catatan : Penjelasan Al-Imaam Ahmad itu menggugurkan klaim kelompok Asyaa’irah yang mengklaim bahwa lafadh Allaahu ‘alal-‘Arsy atau yang semisalnya itu sifatnya mutasyaabih. Justru mafhum yang terambil dari perkataan beliau, lafadh itu adalah muhkam (jelas); dan yang samar (mutasyaabih) adalah lafadh nash-nash yang menyatakan bahwa Allah ta’ala bersama hamba-Nya.

As-Sijziy rahimahullah menukil :

ونص أحمد بن حنبل رحمة الله عليه على أن الله تعالى بذاته فوق العرش، وعلمه بكل مكان

“Dan Ahmad – semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya – mengatakan bahwa Allah ta’ala di atas ‘Arsy dengan Dzat-Nya, sedangkan ilmu-Nya ada di setiap tempat” [Risaalah As-Sijziy ilaa Ahli Zubaid, hal. 125, tahqiq : Muhammad ba-Kariim; Daarur-Raayah, Cet. 1/1414 H].
10. Al-Muzaanniy rahimahullah (w. 264 H).

[عال] على عرشه، وهو دان بعلمه من خلقه، أحاط علمه بالأمور، ....

“Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, Ia (Allah) dekat pada hamba-Nya dengan ilmu-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu....” [Syarhus-Sunnah lil-Muzanniy, hal. 79 no. 1, tahqiq : Jamaal ‘Azzuun].

عال على عرشه، بائن من خلقه، موجود وليس بمعدوم ولا بمفقود

“Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dengan makhluk-Nya. Allah itu ada, bukannya tidak ada dan hilang” [idem, hal. 82].

11. Abu ‘Iisaa At-Tirmidziy rahimahullah (w. 279 H).

وعلمُ الله وقدرته وسلطانه في كل مكان، وهو على العرش كما وصف في كتابه

“Dan ilmu Allah, kemampuan, dan kekuasaan-Nya ada di setiap tempat. Adapun Allah ada di atas ‘Arsy sebagaimana yang Ia sifatkan dalam kitab-Nya” [Al-Jaami’ lit-Tirmidziy 5/403-404 melalui perantaraan kitab ‘Aqiidah Ahlis-Sunnah wal-Jamaa’ah lil-Imaam At-Tirmidziy oleh Abu Mu’aadz Thaariq bin ‘Iwadlillah, hal. 95; Daarul-Wathan, Cet. 1/1421 H].

12. Abu Zur’ah (w. 264 H) dan Abu Haatim Ar-Raaziy (w. 277 H) rahimahumallah.

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُظَفَّرِ الْمُقْرِئُ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَبَشٍ الْمُقْرِئُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي حَاتِمٍ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبِي وَأَبَا زُرْعَةَ عَنْ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي أُصُولِ الدِّينِ، وَمَا أَدْرَكَا عَلَيْهِ الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الأَمْصَارِ، وَمَا يَعْتَقِدَانِ مِنْ ذَلِكَ، فَقَالا: أَدْرَكْنَا الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الأَمْصَارِ حِجَازًا وَعِرَاقًا وَشَامًا وَيَمَنًا فَكَانَ مِنْ مَذْهَبِهِمُ: " الإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، يَزِيدُ وَيَنْقُصُ، ......وَأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى عَرْشِهِ بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ، وَعَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ K بِلا كَيْفٍ، أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا، لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Al-Mudhaffar Al-Muqriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Muhammad bin Habsy Al-Muqriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim, ia berkata : ”Aku pernah bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah tentang madzhab Ahlus-Sunnah dalam ushuuluddiin (pokok-pokok agama) dan apa yang mereka temui dari para ulama di seluruh pelosok negeri dan yang mereka berdua yakini tentang hal itu, maka mereka berdua berkata : ”Kami telah bertemu dengan para ulama di seluruh pelosok negeri, baik di Hijaz, ’Iraq, Mesir, Syaam, dan Yaman, maka yang termasuk madzhab mereka adalah : ”Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah maupun berkurang........ dan bahwasannya Allah ’azza wa jalla berada di atas ’Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana yang Ia sifatkan diri-Nya dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallaahu ’alaihi wa sallam, tanpa menanyakan ’bagaimana’, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Allah berfirman : ’Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [Diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad, 1/176, tahqiq : Ahmad bin Sa’d Hamdaan; Cet. 2/1411 H].
Shahih.
jual.buku.islam - 10/10/2012 07:26 PM
#40
Ketinggian Allah ta’ala di Atas Semua Makhluk-Nya
13. ‘Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimiy rahimahullah (w. 280 H).

فَاللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَوْقَ عَرْشِهِ، فَوْقَ سَمَوَاتِهِ، بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ، فَمَنْ لَمْ يَعْرِفْهُ بِذَلِكَ لَمْ يَعْرِفْ إِلَهَهُ الَّذِي يَعْبُدُ

“Allah tabaraka wa ta’ala berada di atas ‘Arsy-Nya, di atas langit-langit-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Barangsiapa yang tidak mengetahui hal itu, maka itu berarti ia tidak mengetahui tuhan yang ia sembah/ibadahi” [Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah oleh ‘Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimiy, hal. 39 no. 66].

14. Muhammad bin ‘Utsmaan bin Abi Syaibah rahimahullah (w. 297 H).

فهو فوق السماوات وفوق العرش بذاته متخلصا من خلقه بائنا منهم، علمه في خلقه لا يخرجون من علمه

“Allah berada di atas langit-langit dan di atas ‘Arsy dengan Dzat-Nya, terlepas dari makhluk-Nya lagi terpisah darinya. Adapun ilmu-Nya pada makhluk-Nya, mereka (makhluk-Nya) tidak terlepas dari ilmu-Nya” [Al-‘Arsy oleh Muhammad bin ‘Utsmaan bin Abi Syaibah, hal. 291-292, tahqiq : Dr. Muhammad bin Khaliifah At-Tamiimiy; Maktabah Ar-Rusyd, Cet. 1/1418 H].

15. Ibnu Khuzaimah rahimahullah (w. 311 H).

سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ صَالِحِ بْنِ هَانِئٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ، يَقُولُ: مَنْ لَمْ يُقِرَّ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى عَرْشِهِ قَدِ اسْتَوَى فَوْقَ سَبْعِ سَمَاوَاتِهِ، فَهُوَ كَافِرٌ بِرَبِّهِ يُسْتَتَابُ، فَإِنْ تَابَ، وَإِلا ضُرِبَتْ عُنُقُهُ

Aku mendengar Muhammad bin Shaalih bin Haani’ berkata : Aku mendengar Abu Bakr Muhammad bin Ishaaq bin Khuzaimah berkata : “Barangsiapa yang tidak mengatakan bahwasannya Allah ta’ala beristiwa’ di atas ‘Arsy, di atas tujuh lagit, maka ia telah kafir terhadap Rabbnya. Ia diminta untuk bertaubat. Jika mau bertaubat, maka diterima, jika tidak, dipenggal lehernya” [Diriwayatkan oleh Abu ‘Abdillah Al-Haakim dalam Ma’rifatu ‘Uluumil-Hadiits hal. 84; Daarul-Afaaq].
Sanadnya shahih.

16. Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah (w. 324 H).

وأجمعوا . . أنه فوق سماواته على عرشه دون أرضه ، وقد دل على ذلك بقوله : {أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض}، وقال : {إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه}. وقال : {الرحمن على العرش استوى}، وليس استواءه على العرش استيلاء كما قال أهل القدر، لأنه عز وجل لم يزل مستوليا على كل شيء

“Dan mereka (para ulama Ahlus-Sunnah) bersepakat..... bahwasannya Allah berada di atas langit-langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, bukan di bumi-Nya. Dan hal itu ditunjukkan melalui firman-Nya : ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu’ (QS. Al-Mulk : 16). Dan Allah berfirman : ‘Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya’ (QS. Faathir : 10). Allah berfirman : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwaa’ di atas 'Arsy’ (QS. Thaha : 5). Dan bukanlah yang dimaksud istiwaa’-nya Allah di atas ‘Arsy itu adalah istilaa’ (menguasai) sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Qadariyyah. Karena Allah ‘azza wa jalla senantiasa berkuasa atas segala sesuatu” [Risaalatun ilaa Ahlits-Tsaghr oleh Abul-Hasan Al-Asy’ariy, hal. 231-234, tahqiq : ‘Abdullah bin Syaakir Al-Junaidiy; Maktabah Al-‘Uluum wal-Hikam, Cet. 2/1422 H].

17. Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain Al-Aajurriy rahimahullah (w. 360 H).

أن الله عز وجل على عرشه فوق سبع سمواته، وعلمه محيط بكل شيء، لا يخفى عليه شيء في الأرض ولا في السماء

“Bahwasannya Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy-Nya, di atas tujuh langit-langit-Nya. Dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun dibumi dan di langit yang tersembunyi darinya” [Asy-Syarii’ah oleh Abu Bakr Al-Aajurriy, 2/70, tahqiq : Al-Waliid bin Muhammad; Muassasah Qurthubah, Cet. 1/1417 H].

18. Ibnu Abi Zaid Al-Qairuwaaniy rahimahullah (w. 386 H).

وأنه تعالى فوق عرشه المجيدِ بذاته ، وأنه في كل مكان بعلمه

“Allah ta’ala berada di atas ‘Arsy-Nya yang mulia dengan Dzat-Nya, dan bahwasannya Ia berada di setiap tempat dengan ilmu-Nya” [Risaalah Ibni Abi Zaid Al-Qairuwaaniy yang termuat dalam kitab ‘Aqaaidu Aimmatis-Salaf oleh Fawwaaz Ahmad Zamarliy, hal. 163; Daarul-Kitaab Al-‘Arabiy, Cet. 1/1415 H].

وأنه فوق سماواته على عرشه دون أرضه، وأنه في كل مكان بعلمه

“Dan Allah berada di atas langit-langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, bukan di bumi-Nya. Dan bahwasannya ia ada di setiap tempat dengan ilmu-Nya” [Al-Jaami’ hal. 141 melalui perantaraan Masaailul-‘Aqiidah Allatii Qarrarahaa Aimmatul-Maalikiyyah oleh Abu ‘Abdillah Al-Hammaadiy, hal. 199; Ad-Daarul-Atsariyyah, Cet. 1/1429 H].

19. Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ishaaq bin Mandah rahimahullah (w. 395 H).

بيان اخر يدل على أن الله تعالى فوق عرشه بائنا عن خلقه

“Penjelasan lain yang menunjukkan bahwa Allah ta’ala di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya” [At-Tauhiid oleh Ibnu Mandah, hal. 666, tahqiq : Muhammad Al-Wuhaibiy & Muusaa bin ‘Abdil-‘Aziiz Al-Ghushn; Daarul-Hadyin-Nabiy, Cet. 1/1428 H].

ذكر الايات المتلوة والأخبار المأثورة بنقل الرواة المقبولة التي تدل على أن الله تعالى فوق سمواته وعرشه وخلقه قاهرا سميعا عليما

“Penyebutan ayat-ayat dan khabar-khabar ma’tsuur dengan penukilan dari para perawi yang diterima, yang menunjukkan bahwa Allah ta’ala berada di atas langit-langit-Nya, ‘Arsy-Nya, dan makhluk-Nya; berkuasa, Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui” [At-Tauhiid oleh Ibnu Mandah, hal. 761].

20. Ibnu Abi Zamaniin rahimahullah (w. 399 H).

وَهَذَا الْحَدِيثُ بَيَّنَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى عَرْشِهِ فِي السَّمَاءِ دُونَ الأَرْضِ، وَهُوَ أَيْضًا بَيِّنٌ فِي كِتَابِ اللَّهِ، وَفِي غَيْرِ مَا حَدِيثٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ

“Hadits ini menjelaskan bahwa Allah ‘azza wa jalla di atas ‘Arsy-Nya di langit, bukan di bumi. Dan hadits itu juga dijelaskan dalam Kitabullah dan hadits lain dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Ushuulus-Sunnah oleh Ibnu Abi Zamaniin, hal. 113, tahqiq : ‘Abdullah Al-Bukhaariy; Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah, Cet. 1/1415 H].

21. Abul-Qaasim Hibatullah bin Al-Hasan Al-Laalikaa’iy rahimahullah (w. 418 H).

سِيَاقُ مَا رُوِيَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى وَأَنَّ اللَّه عَلَى عرشه فِي السماء وقال عَزَّ وَجَلَّ: إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ. وقال: أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ. وقال تعالى: وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً. فدلت هذه الآية أَنَّهُ تعالى فِي السماء، وعلمه محيط بكل مكان مِن أرضه وسمائه

“Pembicaraan tentang apa-apa yang diriwayatkan dalam firman-Nya ta’ala : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy’ (QS. Thaha : 5). Dan bahwasannya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya di langit. Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya’ (QS. Faathir : 10). Dan firman-Nya ta’ala : ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu’ (QS. Al-Mulk : 16). Dan firman-Nya ta’ala : ‘Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga’ (QS. Al-An’aam : 61). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwasannya Allah ta’ala berada di langit dan ilmu-Nya meliputi seluruh tempat di bumi-Nya dan langit-Nya” [Syarh Ushuulil-I’tiqaad oleh Al-Laalikaa’iy, hal. 387-388].

22. Abun-Nashr As-Sijziy Al-Hanafiy rahimahullah (w. 444 H).

واعتقاد أهل الحق أن الله سبحانه فوق العرش بذاته من غير مماسة

“Dan orang-orang yang menetapi kebenaran berkeyakinan bahwasannya Allah subhaanahu wa ta’ala di atas ‘Arsy dengan Dzaat-Nya tanpa bersentuhan” [Risaalah As-Sijziy ilaa Ahli Zubaid, hal. 126-127].

23. Abu ‘Amru Ad-Daaniy rahimahullah (w. 444 H).

ومن قولهم : أنه سبحانه فوق سماواته، مستو على عرشه، ومستول على جميع خلقه، وبائن منهم بذاته، غير بائن بعلمه

“Dan termasuk di antara perkataan mereka : Bahwasannya Allah subhaanahu wa ta’ala di atas langit-langit-Nya, beristiwaa’ di atas ‘Arsy-Nya, berkuasa atas segala makhluknya. Ia terpisah dari mereka dengan Dzaat-Nya, namun tidak terpisah dengan ilmu-Nya” [Ar-Risaalah Al-Waafiyah hal. 52 melalui perantaraan Masaailul-‘Aqiidah Allatii Qarrarahaa Aimmatul-Maalikiyyah, hal. 194].
Page 2 of 7 |  < 1 2 3 4 5 6 7 > 
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > Syarah AQIDAH Ahlus Sunnah wal Jamaah (Manhaj Salaf)