Spiritual
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > Syarah AQIDAH Ahlus Sunnah wal Jamaah (Manhaj Salaf)
Total Views: 2326 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 6 of 7 |  < 1 2 3 4 5 6 7 > 

jual.buku.islam - 18/10/2012 10:34 PM
#101

Quote:
Original Posted By WFZ
asalamualaikum agan TS, mdh2an Allah selalu memberi agan kekuatan untuk beribadah
ane cuma mau nambahin pertanyaan dari agan modmodol tentang Allah yg ada di langit/di atas, yang ane tanyakan:

bila ane ada di utara bumi, ane bilang Allah ada di atas, berarti Allah ada di atas langit di bagian utara

bila ane ada di selatan bumi, ane bilang Allah ada di atas, berarti Allah ada di atas langit di bagian selatan

begitu juga bila ane di barat atau di timur

jadi yang dimaksud di atas itu dimana?, karena bila ada atas berarti ada bawah, di utara, selatan, barat atau timur?


wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

mau agan dimana juga tetap saja langitnya itu-itu juga, tidak akan berubah. jadi jangan terlalu banyak membayangkan dzat Allah, cukup imani seperti dan berhenti atas apa-apa yang Al-Qur’an dan As-Sunah berhenti padanya.

ana rasa agan belum baca postingan sebelum-sebelumnya, tapi langsung loncat kepostingan akhir.

Gpp, sedikit ana bawakan lagi postingan sebelumnya ke sini.
Spoiler for ...

Firman Allah

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” [QS. An-Nahl : 50].

تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” [QS. Al-Ma’aarij : 4]

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu” [QS. Al-Mulk : 16].

Hadits dan Atsar.

حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ هِلَالِ بْنِ أُسَامَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ أَنَّهُ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ جَارِيَةً لِي كَانَتْ تَرْعَى غَنَمًا لِي فَجِئْتُهَا وَقَدْ فُقِدَتْ شَاةٌ مِنْ الْغَنَمِ فَسَأَلْتُهَا عَنْهَا فَقَالَتْ أَكَلَهَا الذِّئْبُ فَأَسِفْتُ عَلَيْهَا وَكُنْتُ مِنْ بَنِي آدَمَ فَلَطَمْتُ وَجْهَهَا وَعَلَيَّ رَقَبَةٌ أَفَأُعْتِقُهَ 575; فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْنَ اللَّهُ فَقَالَتْ فِي السَّمَاءِ فَقَالَ مَنْ أَنَا فَقَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْتِقْهَا

Telah menceritakan kepadaku Maalik, dari Hilaal bin Usaamah, dari ‘Atha’ bin Yasaar, dari ‘Umar bin Al-Hakam, bahwasannya ia berkata : "Aku menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata : "Wahai Rasulullah, budak perempuanku mengembala kambing milikku. Saat aku mendatanginya, ternyata kambingku telah hilang satu ekor. Lalu aku tanyakan kepadanya (tentang hal tersebut), ia menjawab : ‘Kambing itu telah dimakan serigala’. Aku merasa menyesal dengan kejadian tersebut, dan aku hanyalah manusia biasa, maka aku pun menampar wajahnya. Aku memiliki seorang budak, maka apakah aku harus memerdekakannya?". Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam lantas bertanya kepada budak tersebut : "Di mana Allah?". Ia menjawab : "Di langit". Beliau bertanya lagi : "Siapakah aku?". Ia menjawab : "Engkau Rasulullah". Lalu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Bebaskanlah ia !” [selesai].

Zainab bintu Jahsy radliyallaahu ‘anhaa

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَ 575; قَالَ: فَكَانَتْ تَفْخَرُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقُولُ: زَوَّجَكُنَّ أَهْلُكُنَّ، وَزَوَّجَنِي اللَّهُ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ ".قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fadhl : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Tsaabit, dari Anas, ia berkata : “Ayat ini turun berkenaan dengan Zainab bintu Jahsy : ‘Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), maka Kami nikahkan engkau dengannya’ (Al-Ahzab: 37)”. Anas berkata : “Adalah Zainab membanggakan dirinya atas istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata : ‘Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada di atas tujuh langit” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3213, dan ia berkata : “Hadits hasan shahih”].

‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu.

حَدَّثَنَا بَحْرُ بْنُ نَصْرِ بْنِ سَابِقٍ الْخَوْلانِيُّ 548; قَالَ: ثنا أَسَدٌ، قَالَ: ثنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَاصِمِ ابْنِ بَهْدَلَةَ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: " مَا بَيْنَ سَمَاءِ الدُّنْيَا وَالَّتِي تَلِيهَا مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ كُلِّ سَمَاءٍ مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ وَبَيْنَ الْكُرْسِيِّ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَالْعَرْشُ فَوْقَ السَّمَاءِ، وَاللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَوْقَ الْعَرْشِ، وَهُوَ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ "
Telah menceritakan kepada kami Bahr bin Nashr bin Saabiq Al-Khaulaaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Asad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari ‘Aashim bin Bahdalah, dari Zirr bin Hubaisy, dari Ibnu Mas’uud, ia berkata : “Jarak antara langit dunia dan langit di atasnya sejauh perjalanan selama 500 tahun. Jarak antara setiap langit dengan langit lainnya sejauh perjalanan selama 500 tahun. Jarak antara langit ketujuh dan kursi sejauh perjalanan selama 500 tahun. Dan ‘Arsy di atas langit, dan Allah tabaaraka wa ta’ala berada di atas ‘Arsy. Ia mengetahui apa yang kalian lakukan” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhiid, hal. 242-243, tahqiq : Dr. ‘Abdul-‘Aziiz Asy-Syahwaan; Daarur-Rusyd, Cet. 1/1408 H].

Maalik bin Anas rahimahullah (w. 179 H).

حدثني أبي رحمه الله حدثنا سريج بن النعمان حدثنا عبدالله بن نافع قال كان مالك بن أنس يقول الايمان قول وعمل ويقول كلم الله موسى وقال مالك الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء

Telah menceritakan kepadaku ayahku rahimahullah : Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’maan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Naafi’, ia berkata : “Maalik bin Anas pernah berkata : ‘Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, Allah berbicara kepada Muusaa, Allah berada di atas langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat – tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah, hal. 280 no. 532, tahqiq : Dr. Muhammad bin Sa’iid Al-Qahthaaniy; Daaru ‘Aalamil-Kutub, Cet. 4/1416 H. Diriwayatkan juga oleh Abu Daawud dalam Masaail-nya hal. 263, Al-Aajuriiy dalam Asy-Syarii’ah, 2/67-68 no. 695-696, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad hal. 401 no. 673, Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 7/138, dan Ibnu Qudaamah dalam Itsbaatu Shifaatil-‘Ulluw hal. 166 no. 76]

lebih lengkapnya disini

Abul-Hasan Al-Asy’ariy berkata :

وأجمعوا . . أنه فوق سماواته على عرشه دون أرضه

“Dan mereka (ulama Ahlus-Sunnah) telah berijma’ ….. bahwasannya Allah berada di atas langit-langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, dan bukan di bumi-Nya” [Risaalah ilaa Ahlits-Tsaghar hal. 75 – dinukil melalui perantaraan I’tiqaad Ahlis-Sunnah Syarh Ashhaabil-Hadiits oleh Muhammad Al-Khumais, hal. 22; Wizaaratusy-Syu’uun Al-Islaamiyyah wal-Auqaaf wad-Da’wah wal-Irsyaad, Cet. Thn. 1419].


Kalau agan mau mengingkari Firman Allah, Hadits dan Atsar serta perkataan ulama salaf lainnya tersebut silahkan.

Tapi Kami Ahlul Sunnah berhenti atas apa-apa yang Al-Qur’an dan As-Sunah berhenti padanya. dan Kami Ahlul Sunnah tidak mengatakan dan menanyakan yang lain selain ini dikarenakan sikap taslim (berserah diri) dan ridla dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan tidak merasa berat untuk mengatakan sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits”

dimanapun agan berdiri tetap langitnya itu juga, cuma posisi dan tempat agan saja yang berubah.
jual.buku.islam - 18/10/2012 10:40 PM
#102

Quote:
Original Posted By WFZ
Maha suci Allah, Allah ada tanpa tempat dan arah, Allah ada sebelum tempat dan arah diciptakan, Allah tidak membutuhkan tempat dan arah, tempat dan arah yang membutuhkan Allah


Tempat dan arah, jika yang dimaksudkan adalah ruang yang melingkupi sesuatu; maka di sini kita katakan Allah tidaklah dilingkupi oleh tempat (Allah tidak bertempat). Karena, Allah adalah Maha Besar dan tidak ada satu pun makhluk yang dapat melingkupi-Nya. Inilah yang dinafikkan para ulama, bahwa Allah tidak bertempat.

Namun jika tempat di sini maksudnya menunjukkan keberadaan Allah di atas langit (diluar alam) , maka ini adalah benar; sebab Allah sendiri telah berfirman :

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya” [QS. Al-A’raaf : 54].


Imam Ahmad pernah menjelaskan sebuah pendekatan pemahaman tentang hal ini. Beliau berkata :


"Jika engkau ingin tahu bahwasanya Jahmiy adalah seorang pendusta tatkala menyangka bahwsanya Allah di semua tempat bukan pada satu tempat tertentu, maka katakanlah : Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?. Maka ia akan menjawab : Iya.

Katakan lagi kepadanya, "Tatkala Allah menciptakan sesuatu apakah Allah menciptakan sesuatu tersebut dalam dzat Allah ataukah di luar dzat Allah?". Maka jawabannya hanya ada tiga kemungkinan, dia pasti memilih salah satu dari tiga kemungkinan tersebut.

Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia telah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah.

Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakannya di luar dzat Allah kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya maka ini juga merupakan kekufuran tatkala ia menyangka bahwasanya Allah masuk di setiap tempat dan wc dan setiap kotoran yang buruk.

Jika ia mengatakan bahwasanya Allah menciptakan mereka di luar dzatnya kemudian tidak masuk dalam mereka maka ia (si jahmiy) telah meninggalkan seluruh aqidahnya dan ini adalah perkataan Ahlus Sunnah" (Ar-Rod 'alaa Al-Jahmiyyah wa az-Zanaadiqoh hal 155-156)

Perkataan Imam Ahmad أَلَيْسَ اللهُ كَانَ وَلاَ شَيْءَ (Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?) sama dengan perkataan كان الله ولا مكان (Allah dahulu (sendirian) tanpa ada tempat.) Perkataan Imam Ahmad ini di dukung oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam shahihnya

كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

"Dahulu Allah (sendirian) dan tidak ada sesuatupun selainNya" (HR Al-Bukhari no 3191)

Dan kalimat disini memberikan faedah keumuman, yaitu tidak sesuatupun selain Allah tatkala itu, termasuk alam dan tempat.

Meskipun Imam Ahmad mengatakan demikian akan tetapi beliau tetap menetapkan bahwasanya Allah berada di atas. Dari sini kita pahami bahwa penetepan adanya Allah di atas tidaklah melazimkan bahwasanya Allah berada atau diliputi oleh tempat yang merupakan makhluk.
jual.buku.islam - 18/10/2012 10:42 PM
#103

Quote:
Original Posted By abh.Mizan
Apakah Tuhan dalam Syarah AQIDAH Ahlus Sunnah wal Jamaah (Manhaj Salaf) itu laki2 atau perempuan ?? atau bukan laki2 maupun perempuan ??


Apakah ada Al-Quran dan As-Sunnah menetapkannya ..?

Jadi jawabannya : Jawaban-nya : Kami Ahlul Sunnah berhenti atas apa-apa yang Al-Qur’an dan As-Sunah berhenti padanya. dan Kami Ahlul Sunnah tidak mengatakan yang lain selain ini dikarenakan sikap taslim (berserah diri) dan ridla dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan tidak merasa berat untuk mengatakan sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits”
jual.buku.islam - 18/10/2012 10:47 PM
#104
Keenam belas: AHLUS MENOLAK KEYAKINAN WAHDATUL WUJUD' (BERSEMAYAM)
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


Keyakinan wahdatul wujud[1] (meyakini bahwa semua yang ada ini hanya satu) dan i’tiqad bahwa Allah menjelma (hulul) pada makhluk-Nya, maka semua keyakinan ini adalah kufur dan mengeluarkan seseorang dari Islam.[2]

Keyakinan hululiyyah[3] dan ittihadiyyah[4] merupakan jenis kekufuran yang paling buruk. Sama halnya dengan bentuk yang khusus seperti orang-orang yang berkeyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla menitis kepada ‘Isa Alaihissallam, kepada ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu dan sebagian anak cucunya, kepada sebagian raja-raja atau syaikh-syaikh, dan orang yang memiliki bentuk fisik yang indah, atau yang lainnya dari perkataan yang lebih parah kesesatannya dari per-kataan kaum Nasrani.

Orang-orang yang berkeyakinan sesat tersebut berpendapat bahwa hulul dan ittihadnya Allah adalah dalam segala perwujudan hingga meliputi anjing, babi, atau benda-benda najis. Hal tersebut seperti keyakinan orang-orang Jahmiyah dan orang-orang yang mengikuti keyakinan tersebut, seperti Ibnu ‘Arabi, Ibnu Sab’in, Ibnul Faridh, Tilmisani, Balyani, dan selainnya. -Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan-.

Sedangkan jalan para Nabi dan orang-orang yang mengikuti-nya dari orang-orang Mukmin, berkeyakinan bahwa Allah adalah Yang menciptakan alam semesta, Rabb Penguasa langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara keduanya, Rabb Pemilik ‘Arsy yang agung, dan seluruh makhluk adalah hamba-Nya dan semuanya butuh kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” [Al-Faathir: 15]

Juga firman-Nya Subhanahu wa Ta’la:

اللَّهُ الصَّمَدُ

“Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan.” [Al-Ikhlash: 2]

Allah Subhanahu wa Ta'ala berada di atas langit, bersemayam di ‘Arsy-Nya, berpisah dari makhluk-Nya. Meskipun demikian Allah tetap bersama para makhluk-Nya di mana pun mereka berada. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hadiid di atas.[5]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]

Quote:
[1]. Inilah penamaan yang lebih tepat (dengan huruf wawu difat-hah) menurut kaidah bahasa Arab, walaupun lafazh yang lebih masyhur adalah wihdatul wujud.
[2]. Lihat Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah fil ‘Aqiidah (hal. 10).
[3]. Hululiyyah adalah salah satu keyakinan Tashawwuf yang meyakini bahwa Allah menitis kepada makhluk-Nya.
[4]. Ittihadiyyah yaitu keyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya.
[5]. Lihat Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (III/393).
jual.buku.islam - 18/10/2012 10:52 PM
#105
Ktujuh belas: AHLUS SUNNAH MENGIMANI TENTANG AN-NUZUL(TURUNNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA)
Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat tentang wajibnya beriman tentang turunnya Allah Subhanahu wa Ta’ala (an-nuzul) ke langit dunia pada setiap malam. اَلنُّزُوْلُ (an-Nuzul) termasuk di antara Sifat-Sifat Khabariyah Fi’liyyah. Terdapat sejumlah dalil yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit terendah (langit dunia) pada setiap malam. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ، فَيَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِ 610; فَأَغْفِرَ لَهُ.

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam, seraya menyeru: ‘Siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka Aku memperkenankan do’anya, siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku memberinya, dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku mengampuninya.” [2]

Abu ‘Utsman ash-Shabuni (wafat th. 449 H) rahimahullah berkata: “Para ulama ahli hadits menetapkan turunnya Rabb Azza wa Jalla ke langit terendah pada setiap malam tanpa menyerupakan turun-Nya Allah itu dengan turunnya makhluk (tasybih), tanpa meng-umpamakan (tamtsil) dan tanpa menanyakan bagaimana turun-Nya (takyif). Tetapi menetapkannya sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan mengakhiri perkataan padanya (tanpa komentar lagi), memperlakukan kabar shahih yang memuat hal itu sesuai dengan zhahirnya, serta menyerahkan ilmunya kepada Allah.”[3]

Ibnu Khuzaimah rahimahullah (wafat th. 311 H) berkata: “Pembahasan tentang kabar-kabar yang benar sanadnya dan shahih penopangnya telah diriwayatkan oleh ulama Hijaz dan Irak, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang turunnya Allah Azza wa Jalla ke langit dunia (langit terendah) pada setiap malam, yang kami akui dengan pengakuan seorang yang mengaku dengan lidahnya, membenarkan dengan hatinya serta meyakini keterangan yang tercantum di dalam kabar-kabar tentang turunnya Allah Azza wa Jalla tanpa menggambarkan kaifiyahnya (bagaimananya), karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memang tidak menggambarkan kepada kita tentang kaifiyah (cara) turunnya Khaliq kita ke langit dunia dan beliau Shallallahu alaihi wa sallam hanya memberitahukan kepada kita bahwa Rabb kita turun. Sementara itu, Allah Azza wa Jalla dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak menjelaskan bagaimana Allah turun ke langit dunia. Oleh karena itu, kita mengatakan dan membenarkan apa-apa yang terdapat di dalam kabar-kabar ini perihal turunnya Rabb, tanpa memaksakan diri membicarakan sifat dan kaifiyatnya, sebab Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memang tidak mensifatkan kepada kita tentang kaifiyah turun-Nya.[5]

Lalu setelah itu Ibnu Khuzaimah pun menyebutkan sejumlah hadits yang berisi keterangan tentang hal itu, yaitu hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu di atas.

Hadits-hadits yang memuat pengertian seperti ini banyak jumlahnya, bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sampai menuliskan tentang hal tersebut secara khusus dalam bagian kitab-nya Syarah Hadiitsin Nuzuul. Dan di antara yang dikatakan dalam kitabnya itu adalah: “Sesungguhnya pendapat yang mengatakan tentang turunnya Allah pada setiap malam telah tersebar luas melalui Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para Salafush Shalih serta para Imam ahli ilmu dan ahli hadits telah sepakat membenarkannya dan menerimanya. Siapa yang berkata dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, maka perkataan itu adalah haq dan benar, kendati ia tidak mengetahui tentang hakekat dan kandungan serta makna-maknanya, sebagaimana orang yang membaca Al-Qur-an tidak memahami makna-makna ayat yang dibacanya. Karena, sebenar-benar kalam adalah Kalam Allah (Al-Qur-an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam (As-Sunnah).

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan perkataan ini dan yang semisalnya secara umum, tidak mengistimewakan seseorang atas orang lain, dan tidak pula disembunyikannya dari seseorang. Sedangkan para Sahabat serta para Tabi’in menyebutkannya, menukilnya, menyampaikannya dan meriwayatkannya di majelis-majelis khusus dan umum pula, yang selanjutnya dimuat dalam kitab-kitab Islam yang dibaca di majelis-majelis khusus maupun umum, seperti Shahiihul Bukhari, Shahiih Muslim, Muwaththa’ Imaam Malik, Musnad Imaam Ahmad, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa-i, dan yang semisalnya.”[5]

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

وَأَنَّهُ يَهْبِطُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا لِخَبَرِ رَسُوْلِ اللهِ.

“Bahwasanya Allah turun pada setiap malam ke langit dunia berdasarkan kabar dari Rasulullah. Shallallahu alaihi wa sallam” [6]

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah dalam kitabnya menukil perkataan Imam asy-Syafi’i rahimahullah, beliau berkata:

أَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَيَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ.

“Bahwasanya Allah Azza wa Jalla di atas ‘Arsy-Nya di langit-Nya, lalu mendekat kepada makhluk-Nya menurut bagaimana yang Dia kehendaki, dan sesungguhnya Allah turun ke langit dunia menurut bagaimana yang Dia kehendaki.” [7]

Ahlus Sunnah menetapkan tentang turunnya Allah Subhanhu wa Ta’ala ke langit dunia setiap malam sebagaimana mereka menetapkan seluruh sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, orang-orang shalih senantiasa mencari waktu yang mulia ini untuk mendapatkan karunia Allah k dan Rahmat-Nya, mereka melaksanakan ibadah kepada Allah dengan khusyu’, memohon ampunan kepada-Nya dan memohon kebaikan di dunia dan di akhirat. Mereka menggabungkan antara khauf (rasa takut) dan raja’ (rasa harap) dalam beribadah kepada-Nya.

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]

Quote:
[1]. Lihat Syarah Hadiits an-Nuzuul karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq Muhammad bin ‘Abdurrahman al-Khumaiyis, cet. Darul ‘Ashimah-th. 1414 H.
[2]. HR. Al-Bukhari (no. 7494), Muslim (no. 758 (168)), at-Tirmidzi (no. 3498), Abu Dawud (no. 1315, 4733) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 492) dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauhiid (I/280).
[3]. Lihat ‘Aqiidatus Salaf Ash-haabil Hadits (no. 38, hal. 46) oleh Abu ‘Utsman Isma’il bin ‘Abdurrahman ash-Shabuni, tahqiq Badr bin ‘Abdillah al-Badr.
[4]. Diringkas dari Kitaabut Tauhiid (I/275) oleh Imam Ibnu Khuzaimah, tahqiq Samir bin Amin az-Zuhairi, cet. I/ Darul Mughni lin Nasyr wat Tauzi’, th. 1423 H.
[5]. Lihat Majmuu’ Fataawaa (V/322-323) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
[6]. Lihat Manhajul Imaam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah (II/358).
[7]. Lihat Ijtimaa’ul Juyuusy al-Islaamiyyah ‘alaa Ghazwil Mu’aththilah wal Jahmiyah (hal. 122) oleh Imam Ibnul Qayyim, tahqiq Basyir Muhammad ‘Uyun.
jual.buku.islam - 18/10/2012 11:24 PM
#106
Penjelasan : ALLAH LEBIH DEKAT DARIPADA URAT LEHER
Tanya : Apa makna dua ayat berikut :

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [QS. Qaaf : 16].

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ

“Dan Kami lebih dekat dengannya daripada kamu” [QS. Al-Waqi’ah : 85].

Apakah ini menunjukkan bahwa Allah memang dekat dan “menyatu” dengan diri kita ?

Jawab : Makna kedekatan dalam dua ayat di atas tidaklah bermakna bahwa Allah menyatu dengan hambanya (Al-Hulul/Wahdatul-Wujud). Ini adalah aqidah bathil. Makna kedekatan dalam dua ayat tersebut adalah kedekatan malaikat terhadap manusia. Perinciannya adalah sebagai berikut :
§ Pada ayat pertama (QS. Qaaf : 16), sifat “dekat” dibatasi pengertiannya dengan penunjukkan ayat tersebut. Selengkapnya, ayat di atas lengkapnya berbunyi :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ* إِذْ يَتَلَقّى الْمُتَلَقّيَا 606;ِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشّمَالِ قَعِيدٌ * مّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلاّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya; (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan (seseorang) melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [QS. Qaaf : 16-18].

Firman Allah [إِذْ يَتَلَقّى الْمُتَلَقّيَا 606;ِ] : “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya” ; adalah dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas adalah dekatnya dua malaikat yang mencatat amal.

§ Pada ayat kedua (QS. Al-Waqi’ah : 85), kata “dekat” di situ berkaitan dengan keadaan seseorang yang sakaratul-maut. Padahal yang hadir dalam sakaratul-maut adalah para malaikat berdasarkan firman Allah ta’ala :

حَتّىَ إِذَا جَآءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرّطُونَ

“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat Kami akan mewafatkannya, dan malaikat-malaikat Kami itu tidakakan melalikan kewajibannya” [QS. Al-An’am : 61].

Sehingga, …. kedekatan yang dimaksud adalah kedekatan malaikat maut yang diutus Allah untuk mencabut nyawa seorang hamba.

Adapun Allah adalah berada di atas langit dan bersemayam (istiwa’) di atas ‘Arsy, sebagaimana firman-Nya :

أَمْ أَمِنتُمْ مّن فِي السّمَآءِ أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِباً فَسَتَعْلَمُون 614; كَيْفَ نَذِيرِ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang” [QS. Al-Mulk : 16].

الرّحْمَـَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىَ

“Ar-Rahman (Allah) beristiwaa’ di atas ‘Arsy” [QS. Thaha : 5].

Dalam Shahih Al-Bukhari di Bab Firman Allah : Wa kaana ‘Arsyuhu ‘alal-Maa’, Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu menceritakan :

فكانت زينب تفخر على أزواج النبي صلى الله عليه وسلم تقول زوجكن أهاليكن وزوجني الله تعالى من فوق سبع سماوات

Adalah Zainab membanggakan dirinya atas istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, ia berkata : “Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah ta’ala yang berada di atas tujuh langit”.

Dalam riwayat lain : Zainab binti Jahsy berkata :

إن الله أنكحني في السماء

“Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku (dengan Nabi) dari atas langit” [HR. Bukhari 8/176].

Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu berkata :

والعرش على الماء والله على العرش يعلم ما أنتم عليه

‘Arsy itu di atas air dan Allah di atas ‘Arsy. Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan” [Dikeluarkan oleh Imam Thabrani dari Al-Mu’jamul-Kabiir nomor 8987, dengan sanad shahih].

Wallahu a’lam.
modmodol - 19/10/2012 07:26 AM
#107

Quote:
Original Posted By jual.buku.islam
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un berdukas

Jawaban-nya : Kami Ahlul Sunnah berhenti atas apa-apa yang Al-Qur’an dan As-Sunah berhenti padanya. dan Kami Ahlul Sunnah tidak mengatakan dan menanyakan yang lain selain ini dikarenakan sikap taslim (berserah diri) dan ridla dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan tidak merasa berat untuk mengatakan sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits”

Bold.. Cuma Ahlul Bid'ah yang menanyakan kaifiyyah. kalau agan nanya sama Imam Malik udah diusir tuh dari mejelis-nya

Berdo'a semoga agan dapat hidayah rujuk kepada Aqidah Ahlul Sunnah berdukas


Yb...agan gak bisa njawab ya ?...karena sampean hanya mengandalkan ilmu copas.

Mengesampingkan peran akal dalam memahami sifat-Nya adalah suatu hal yg mengingkari Qur'an itu sendiri karena setidaknya Qur'an diturunkan bagi mereka2 bagi mereka yg berpikir.
squal1 - 19/10/2012 07:37 AM
#108

mau nanya nih
bagaimana pendafat ulama salaf dan anda selaku ahlul hadist tentang:
1. orang yang sholatnya jalan 5 waktu tapi kelakuannya tidak mencerminkan syariat islam ?? (contoh: ngomongnya cablak seneng berkata kotor / misuh, g bisa dibilangi oleh orang ke dua)

2. mengenai orang yang bahasanya setengah arab, setengah indo bercelana cungklang berjenggot shalatnya jalan 5 waktu namun senang mencela dan membenci orang pertama
proxymighty - 19/10/2012 08:28 AM
#109

Quote:
Original Posted By modmodol
Yb...agan gak bisa njawab ya ?...karena sampean hanya mengandalkan ilmu copas.

Mengesampingkan peran akal dalam memahami sifat-Nya adalah suatu hal yg mengingkari Qur'an itu sendiri karena setidaknya Qur'an diturunkan bagi mereka2 bagi mereka yg berpikir.


jgn liat copasnya mbah.tapi isinya.
Akal mesti tunduk ama iman.
Bukan akal buat ngakalin iman.apalagi buat ngakalin keberadaan Allah azza wajalla.
Kalo gak gitu,smua org pinter nonis udah masup islam.
Numpang Nyimak lagi ane ah..
Mr.tompel - 19/10/2012 08:46 AM
#110

Assalammu'alaikum, barakallahu fik TS, ana sangat senang dengan kehadiran trit ini, banyak sekali faidah2 yang ada.

Jazakumullah khair untuk TS yang bersedia meluangkan waktunya untuk mengurusi trit ini, semoga Allah menjaga kesehatan antum dan kita semua
submit - 19/10/2012 08:56 AM
#111

cuman mau nanya nih om @ts...
1.gmn tanggapan anda jika seorang aswaja (manhaj salaf) itu mencampur adukkan antara aswaja (manhaj salaf) + tasawuf + supranatural?
2.apakah hanya aswaja (manhaj salaf) yg benar dan yang akan masuk surga?
modmodol - 19/10/2012 09:11 AM
#112

Quote:
Original Posted By jual.buku.islam


tafwidh dan ta'wil sudah bertolak belakang. yang satu menyerahkan maknanya kepada Allah yang satu meta'wilnya o



Tafwidh menurut pemahaman salafi, yg namanya tangan itu sudah dimafhum alias di ketahui maknanya seperti layaknya benda yg jisim dan juga jirim sepeti arti tangan di dalam kamus, akan tetapi ketika disandangkan kepada dzat Allah maka terbentuklah konsep tangan bukan tangan.

What the kamsud ??..Tangan bukan tangan ?..mata bukan mata ? dan betis bukan betis ?

Secara ilmu logika ini sudah runtuh konsepnya dan metode nya.

Tafwidh yg mayoritas ahlus sunnah wal jama'ah ( terkecuali salafi / wahabi ) pegang selama ini adalah ayat mutasyabihat pada kata tangan itu tidak dimaknai sebagai layaknya tangan yg mempunyai makna atau yg sudah di mafhum, akan tetapi bermakna "kosong" yg hanya Allah lah tahu makna dan artinya, layaknya seorang salaf memahami kata-kata seperti kalimat alif lam mim, alif ram ra, yaasiin, kaf 'ain shod, thooha...dll.
Orang.Buta - 19/10/2012 10:03 AM
#113

ini rata2 ayat sama hadistnye yang mutasyabihat semue ye

emang boleh ye berpegangan kepada ayat mutasyabihat..?

bukannye kalo ayat mutasyabih itu lebih baik kita kosongin daripade salah tapsir soalnye bisa jadi pangkal kekupuran D..?

maap kalo saleh2 kate ane cume pengen tau aje D
Orang.Buta - 19/10/2012 10:56 AM
#114

Ada sebuah dialog yang unik antara seorang muslim Jin yang meyakini Allah subhanahu wata‘ala ada tanpa tempat, dengan seorang Wahhabi yang berkeyakinan bahwa Allah subhanahu wata‘ala bertempat. D

Wahhabi berkata: “Kamu ada pada suatu tempat. Aku ada pada suatu tempat. Berarti setiap sesuatu yang ada, pasti ada tempatnya. Kalau kamu berkata, Allah ada tanpa tempat, berarti kamu berpendapat Allah tidak ada.”

Jin menjawab: “Sekarang saya akan bertanya kepada Anda: “Bukankah Allah telah ada tanpa tempat sebelum diciptakannya tempat?”

Wahhabi menjawab: “Betul, Allah ada tanpa tempat sebelum terciptanya tempat.”

Jin berkata: “Kalau memang wujudnya Allah tanpa tempat sebelum terciptanya tempat itu rasional, berarti rasional pula dikatakan, Allah ada tanpa tempat setelah terciptanya tempat. Mengatakan Allah ada tanpa tempat, tidak berarti menafikan wujudnya Allah.”

Wahhabi berkata: “Bagaimana seandainya saya berkata, Allah telah bertempat sebelum terciptanya tempat?”

Jin menjawab: “Pernyataan Anda mengandung dua kemungkinan. Pertama, Anda mengatakan bahwa tempat itu bersifat azali (tidak ada permulaannya), keberadaannya bersama wujudnya Allah dan bukan termasuk makhluk Allah. Demikian ini berarti Anda mendustakan firman Allah subhanahu wata‘ala: “Allah-lah pencipta segala sesuatu.” (QS. az-Zumar ayat 62). Kemungkinan kedua, Anda berpendapat, bahwa Allah itu baru, yakni wujudnya Allah terjadi setelah adanya tempat, dengan demikian berarti Anda mendustakan firman Allah subhanahu wata‘ala: “Dialah (Allah) Yang Maha Awal (wujudnya tanpa permulaan) dan Yang Maha Akhir (Wujudnya tanpa akhir).” (QS. al-Hadid ayat 3).

Demikianlah dialog Jin dengan orang Wahhabi.
Tidak jarang, kaum Wahhabi menggunakan ayat-ayat al-Qur’an untuk membenarkan keyakinan mereka, bahwa Allah subhanahu wata‘ala bertempat di langit. Akan tetapi, dalil-dalil mereka dapat dengan mudah dipatahkan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang sama.

maap ye cuma copas doang D

ane jangan diomelin ye \( \( \(
Orang.Buta - 19/10/2012 11:12 AM
#115

liat model2 orang kaya TS kisss

ane jadi inget pernah baca ini disuatu blog D

ya hampir2 mirip lah si AH sama TS D Peace:

copas disokin kaga ape2 ye iseng2 doang biar rame D

Spoiler for Copasan
Pada tahun 2009, saya pernah terlibat perdebatan sengit dengan seorang Ustadz Salafi berinisial AH di Surabaya. Beberapa bulan berikutnya saya berdebat lagi dengan Ustadz Salafi di Blitar. Ustadz tersebut berinisial AH pula, tetapi lain orang.
Dalam perdebatan tersebut saya bertanya kepada AH: “Mengapa Anda meyakini bahwa Allah subhanahu wata‘ala ada di langit?”
Menanggapi pertanyaan saya, AH menyebutkan ayat-ayat al-Qur’an yang menurut asumsinya menunjukkan bahwa Allah subhanahu wata‘ala ada di langit.

Lalu saya berkata: “Ayat-ayat yang Anda sebutkan tidak secara tegas menunjukkan bahwa Allah ada di langit. Karena kosa kata istawa, menurut para ulama memiliki 15 makna. Disamping itu, apabila Anda berargumentasi dengan ayat-ayat tersebut, maka argumen Anda dapat dipatahkan dengan ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wata‘ala tidak ada di langit. Misalnya Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid ayat 4). Ayat ini menegaskan bahwa Allah subhanahu wata‘ala bersama kita di bumi, bukan ada di langit. Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman: “Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku (Palestina), yang akan memberiku petunjuk.” (QS. ash-Shaffat ayat 99). Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim alaihissalam berkata akan pergi menuju Tuhannya, padahal Nabi Ibrahim alaihissalam pergi ke Palestina. Dengan demikian, secara literal ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala bukan ada di langit, tetapi ada di Palestina.”

Setelah saya berkata demikian, AH tidak mampu menjawab akan tetapi mengajukan dalil lain dan berkata: “Keyakinan bahwa Allah subhanahu wata‘ala ada di langit telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada seorang budak perempuan yang berkulit hitam: “Allah ada di mana?” Lalu budak itu menjawab: “Allah ada di langit.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya; “Saya siapa?” Ia menjawab: “Engkau Rasul Allah.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada majikan budak itu, “Merdekakanlah budak ini. Karena ia seorang budak yang mukmin.” (HR. Muslim).”

Setelah AH berkata demikian, saya menjawab begini: “Ada tiga tinjauan berkaitan dengan hadits yang Anda sebutkan.”
Pertama, dari aspek kritisisme ilmu hadits (naqd al-hadits). Hadits yang Anda sebutkan menurut para ulama tergolong hadits mudhtharib (hadits yang simpang-siur periwayatannya), sehingga kedudukannya menjadi lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah. Kesimpangsiuran periwayatan hadits tersebut, dapat dilihat dari perbedaan setiap perawi dalam meriwayatkan hadits tersebut. Ada yang meriwayatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bertanya di mana Allah subhanahu wa ta‘ala. Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, apakah kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah.
Kedua, dari segi makna, para ulama melakukan ta’wil terhadap hadits tersebut dengan mengatakan, bahwa yang ditanyakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebenarnya adalah bukan tempat, tetapi kedudukan atau derajat Allah subhanahu wata‘ala.”
Lalu orang tersebut menjawab kedudukan Allah subhanahu wata‘ala ada di langit, maksudnya Allah subhanahu wa ta‘ala itu Maha Luhur dan Maha Tinggi.
Ketiga, apabila Anda berargumen dengan hadits tersebut tentang keyakinan Allah subhanahu wata‘ala ada di langit, maka argumen Anda dapat dipatahkan dengan hadits lain yang lebih kuat dan menegaskan bahwa Allah subhanahu wata‘ala tidak ada di langit, bahkan ada di bumi. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat dahak di arah kiblat, lalu beliau menggosoknya dengan tangannya, dan beliau kelihatannya tidak menyukai hal itu. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya apabila salah seorang kalian berdiri dalam shalat, maka ia sesungguhnya berbincang-bincang dengan Tuhannya, atau Tuhannya ada di antara dirinya dan kiblatnya. Oleh karena itu, janganlah ia meludah ke arah kiblatnya, akan tetapi meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kakinya.” (HR. al-Bukhari no. 405).
Hadits ini menegaskan bahwa Allah subhanahu wata‘ala ada di depan orang yang sedang shalat, bukan ada di langit. Hadits ini jelas lebih kuat dari hadits riwayat Muslim, karena hadits ini riwayat al-Bukhari.

Setelah saya menjawab demikian, AH juga tidak mampu menanggapi jawaban saya. Sepertinya dia merasa kewalahan dan tidak mampu menjawab. Ia justru mengajukan dalil lain dengan berkata: “Keyakinan bahwa Allah ada di langit itu ijma’ ulama salaf.”

Lalu saya jawab: “Tadi Anda mengatakan bahwa dalil keyakinan Allah ada di langit, adalah ayat al-Qur’an. Kemudian setelah argumen Anda kami patahkan, Anda beragumen dengan hadits. Lalu setelah argumen Anda kami patahkan lagi, Anda sekarang berdalil dengan ijma’. Padahal ijma’ ulama salaf sejak generasi sahabat justru meyakini Allah subhanahu wa ta‘ala tidak bertempat. Al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi berkata dalam al-Farqu Bayna al-Firaq: “Kaum Muslimin sejak generasi salaf (para sahabat dan tabi’in) telah bersepakat bahwa Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh waktu.” (al-Farq bayna al-Firaq halaman 256). Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi juga berkata dalam al-’Aqidah ath-Thahawiyyah, risalah kecil yang menjadi kajian kaum Sunni dan Wahhabi: “Allah subhanahu wa ta‘ala tidak dibatasi oleh arah yang enam.”

Setelah saya menjawab demikian kepada AH, saya bertanya kepada AH: “Menurut Anda, tempat itu makhluk apa bukan?”

AH menjawab: “Makhluk.”

Saya bertanya: “Kalau tempat itu makhluk, lalu sebelum terciptanya tempat, Allah ada di mana?”

AH menjawab: “Pertanyaan ini tidak boleh, dan termasuk pertanyaan yang bid’ah.”

Demikian jawaban AH, yang menimbulkan tawa para hadirin dari semua kalangan pada waktu itu. Kebetulan pada acara tersebut, mayoritas hadirin terdiri dari kalangan Salafi, anggota jamaah AH.

Demikianlah, cara dialog orang-orang Wahhabi. Ketika mereka tidak dapat menjawab pertanyaan, mereka tidak akan menjawab “Aku tidak tahu” sebagaimana tradisi ulama salaf dulu. Akan tetapi mereka akan menjawab “Pertanyaanmu bid’ah dan tidak boleh.” AH sepertinya tidak mengetahui bahwa pertanyaan Allah subhanahu wa ta‘ala ada di mana sebelum terciptanyan alam, telah ditanyakan oleh para sahabat kepada Nabi Saw., dan Nabi Saw. tidak berkata kepada mereka, bahwa pertanyaan tersebut bid’ah atau tidak boleh.

Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya: “Imran bin Hushain Ra. berkata: “Aku berada bersama Nabi Saw., tiba-tiba datang sekelompok dari penduduk Yaman dan berkata: “Kami datang untuk belajar agama dan menanyakan tentang permulaan yang ada ini, bagaimana sesungguhnya?” Rasulullah Saw. menjawab: “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah.” (HR. al-Bukhari no. 3191).
Hadits ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wata‘ala tidak bertempat. Allah subhanahu wata‘ala ada sebelum adanya makhluk, termasuk tempat. Al-Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dalam as-Sunan berikut ini: “Abi Razin Ra. berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum menciptakan makhlukNya?” Rasulullah Saw. menjawab: “Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertainya. Di atasnya tidak ada sesuatu dan di bawahnya tidak ada sesuatu. Lalu Allah menciptakan ‘Arsy di atas air.” Ahmad bin Mani’ berkata, bahwa Yazid bin Harun berkata, maksud hadits tersebut, Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertai (termasuk tempat). At-Tirmidzi berkata: “hadits ini bernilai hasan”. (Sunan at-Tirmidzi no. 3109).
Dalam setiap dialog yang terjadi antara Muslim Sunni dengan kaum Wahhabi, pasti kaum Sunni mudah sekali mematahkan argumen Wahhabi. Ketika Wahhabi mengajukan argumen dari ayat al-Qur’an, maka dengan mudahnya dipatahkan dengan ayat al-Qur’an yang lain. Ketika Wahhabi mengajukan argumen dengan hadits Nabi Saw., pasti kaum Sunni dengan mudahnya mematahkan argumen tersebut dengan hadits yang lebih kuat. Dan ketika Sunni berargumen dengan dalil rasional, pasti Wahhabi tidak dapat membantah dan menjawabnya. Keyakinan bahwa Allah subhanahu wata‘ala ada tanpa tempat adalah keyakinan kaum Muslimin sejak generasi salaf, kalangan sahabat dan tabi’in. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. berkata: “Allah subhanahu wata‘ala ada sebelum adanya tempat. Dan keberadaan Allah sekarang, sama seperti sebelum adanya tempat (maksudnya Allah tidak bertempat).” (al-Farq baina al-Firaq halaman 256).
jual.buku.islam - 19/10/2012 10:43 PM
#116

Quote:
Original Posted By modmodol
Tafwidh menurut pemahaman salafi, yg namanya tangan itu sudah dimafhum alias di ketahui maknanya seperti layaknya benda yg jisim dan juga jirim sepeti arti tangan di dalam kamus, akan tetapi ketika disandangkan kepada dzat Allah maka terbentuklah konsep tangan bukan tangan.

What the kamsud ??..Tangan bukan tangan ?..mata bukan mata ? dan betis bukan betis ?

Secara ilmu logika ini sudah runtuh konsepnya dan metode nya.

Tafwidh yg mayoritas ahlus sunnah wal jama'ah ( terkecuali salafi / wahabi ) pegang selama ini adalah ayat mutasyabihat pada kata tangan itu tidak dimaknai sebagai layaknya tangan yg mempunyai makna atau yg sudah di mafhum, akan tetapi bermakna "kosong" yg hanya Allah lah tahu makna dan artinya, layaknya seorang salaf memahami kata-kata seperti kalimat alif lam mim, alif ram ra, yaasiin, kaf 'ain shod, thooha...dll.


semuanya sudah jelas kok gan kalau senadainya agan mau baca dan pahami tulisan At-Tafwidl dan Makna Hakiki. Bahkan Nabi Shalallahu alaihi wa sallam sendiri yang mencontohkan dan juga dipahami oleh sahabat.

@Merah..Bedanya Ahlul Sunnah Wal Jamaah dengan agan dan kelompok se ide dan se-aqidah dengan agan disana.

Kami Ahlul Sunnah berbicara sifat Allah sebatas apa yang dikabari oleh Al-Quran dan As-Sunnah, berserah diri dan ridla dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah . Dan tidak merasa berat untuk mengatakan sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Kalau agan berusaha mengedepankan logika dibanding nash dalam berbicara sifat-sifat Allah.
jual.buku.islam - 19/10/2012 10:45 PM
#117

Quote:
Original Posted By Orang.Buta
Ada sebuah dialog yang unik antara seorang muslim Jin yang meyakini Allah subhanahu wata‘ala ada tanpa tempat, dengan seorang Wahhabi yang berkeyakinan bahwa Allah subhanahu wata‘ala bertempat. D

Wahhabi berkata: “Kamu ada pada suatu tempat. Aku ada pada suatu tempat. Berarti setiap sesuatu yang ada, pasti ada tempatnya. Kalau kamu berkata, Allah ada tanpa tempat, berarti kamu berpendapat Allah tidak ada.”

Jin menjawab: “Sekarang saya akan bertanya kepada Anda: “Bukankah Allah telah ada tanpa tempat sebelum diciptakannya tempat?”

Wahhabi menjawab: “Betul, Allah ada tanpa tempat sebelum terciptanya tempat.”

Jin berkata: “Kalau memang wujudnya Allah tanpa tempat sebelum terciptanya tempat itu rasional, berarti rasional pula dikatakan, Allah ada tanpa tempat setelah terciptanya tempat. Mengatakan Allah ada tanpa tempat, tidak berarti menafikan wujudnya Allah.”

Wahhabi berkata: “Bagaimana seandainya saya berkata, Allah telah bertempat sebelum terciptanya tempat?”

Jin menjawab: “Pernyataan Anda mengandung dua kemungkinan. Pertama, Anda mengatakan bahwa tempat itu bersifat azali (tidak ada permulaannya), keberadaannya bersama wujudnya Allah dan bukan termasuk makhluk Allah. Demikian ini berarti Anda mendustakan firman Allah subhanahu wata‘ala: “Allah-lah pencipta segala sesuatu.” (QS. az-Zumar ayat 62). Kemungkinan kedua, Anda berpendapat, bahwa Allah itu baru, yakni wujudnya Allah terjadi setelah adanya tempat, dengan demikian berarti Anda mendustakan firman Allah subhanahu wata‘ala: “Dialah (Allah) Yang Maha Awal (wujudnya tanpa permulaan) dan Yang Maha Akhir (Wujudnya tanpa akhir).” (QS. al-Hadid ayat 3).

Demikianlah dialog Jin dengan orang Wahhabi.
Tidak jarang, kaum Wahhabi menggunakan ayat-ayat al-Qur’an untuk membenarkan keyakinan mereka, bahwa Allah subhanahu wata‘ala bertempat di langit. Akan tetapi, dalil-dalil mereka dapat dengan mudah dipatahkan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang sama.

maap ye cuma copas doang D

ane jangan diomelin ye \( \( \(


Cukup Perkataan Imam Ahmad dibawah ini menjawab syubhat dari golongan jahmiyah atau Mu'tazillah.


Imam Ahmad pernah menjelaskan sebuah pendekatan pemahaman tentang hal ini. Beliau berkata :


"Jika engkau ingin tahu bahwasanya Jahmiy adalah seorang pendusta tatkala menyangka bahwsanya Allah di semua tempat bukan pada satu tempat tertentu, maka katakanlah : Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?. Maka ia akan menjawab : Iya.

Katakan lagi kepadanya, "Tatkala Allah menciptakan sesuatu apakah Allah menciptakan sesuatu tersebut dalam dzat Allah ataukah di luar dzat Allah?". Maka jawabannya hanya ada tiga kemungkinan, dia pasti memilih salah satu dari tiga kemungkinan tersebut.

Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia telah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah.

Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakannya di luar dzat Allah kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya maka ini juga merupakan kekufuran tatkala ia menyangka bahwasanya Allah masuk di setiap tempat dan wc dan setiap kotoran yang buruk.

Jika ia mengatakan bahwasanya Allah menciptakan mereka di luar dzatnya kemudian tidak masuk dalam mereka maka ia (si jahmiy) telah meninggalkan seluruh aqidahnya dan ini adalah perkataan Ahlus Sunnah" (Ar-Rod 'alaa Al-Jahmiyyah wa az-Zanaadiqoh hal 155-156)
jual.buku.islam - 19/10/2012 11:11 PM
#118

Quote:
Original Posted By Orang.Buta
liat model2 orang kaya TS kisss

ane jadi inget pernah baca ini disuatu blog D

ya hampir2 mirip lah si AH sama TS D Peace:

copas disokin kaga ape2 ye iseng2 doang biar rame D



Sedikit tanggapan dari percakapan tersebut.

Soal Allah ada dimana-mana.

Cukup perkataan Imam malik dan Imam Ahmad dan lainnya menjelaskannya yang menjawabnya

Quote:
حدثني أبي رحمه الله حدثنا سريج بن النعمان حدثنا عبدالله بن نافع قال كان مالك بن أنس يقول الايمان قول وعمل ويقول كلم الله موسى وقال مالك الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء

Telah menceritakan kepadaku ayahku rahimahullah : Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’maan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Naafi’, ia berkata : “Maalik bin Anas pernah berkata : ‘Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, Allah berbicara kepada Muusaa, Allah berada di langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat – tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah, hal. 280 no. 532; shahih].

Ahmad bin Hanbal rahimahullah (w. 241 H).

وهو على العرش فوق السماء السابعة. فإن احتج مبتدع أو مخالف بقوله تعالى {وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيد} وبقوله عز وجل : {وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ} أو بقوله تعالى : {مَا يكُونُ مِنْ نَجْوى ثلاثة إلا هُوَ رَابِعُهُمْ} ونحو هذا من متشابه القران

“Ia (Allah) berada di atas ‘Arsy, di atas langit ketujuh. Sesungguhnya ahli bid’ah atau orang yang menyimpang dari kebenaran berhujjah dengan firman-Nya : ‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya’ (QS. Qaaf : 16), atau dengan firman-Nya : ‘Dan Ia (Allah) bersama kalian di mana saja kalian berada’ (QS. Al-Hadiid : 4), atau dengan firman-Nya : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya’ (QS. Al-Mujaadilah : 7), dan yang lainnya dari ayat-ayat Al-Qur’an yang mutasyaabih” [As-Sunnah oleh Ahmad bin Hanbal melalui kitab Al-Masaail war-Rasaail Al-Marwiyyatu ‘anil-Imaam Ahmad fil-‘Aqiidah oleh ‘Abdullah Al-Ahmadiy, 1/318-319; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1412 H].

Al-Muzaanniy rahimahullah (w. 264 H).

[عال] على عرشه، وهو دان بعلمه من خلقه، أحاط علمه بالأمور، ....

“Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, Ia (Allah) dekat pada hamba-Nya dengan ilmu-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu....” [Syarhus-Sunnah lil-Muzanniy, hal. 79 no. 1, tahqiq : Jamaal ‘Azzuun].

Abu ‘Iisaa At-Tirmidziy rahimahullah (w. 279 H).

وعلمُ الله وقدرته وسلطانه في كل مكان، وهو على العرش كما وصف في كتابه

“Dan ilmu Allah, kemampuan, dan kekuasaan-Nya ada di setiap tempat. Adapun Allah ada di atas ‘Arsy sebagaimana yang Ia sifatkan dalam kitab-Nya” [Al-Jaami’ lit-Tirmidziy 5/403-404 melalui perantaraan kitab ‘Aqiidah Ahlis-Sunnah wal-Jamaa’ah lil-Imaam At-Tirmidziy oleh Abu Mu’aadz Thaariq bin ‘Iwadlillah, hal. 95; Daarul-Wathan, Cet. 1/1421 H].


Bantahan tentang yang menda'ifkan Hadits tentang pertanyaan Nabi Shalallahu alaihi wa sallam kepada bidak silahkan baca disini lengkapnya.

Shahih Hadits Mu’awiyyah bin Al-Hakam tentang ‘Dimana Allah’ – dan Bantahan Singkat Bagi yang Mendla’ifkannya dan juga Hadits Jaariyyah Riwayat Maalik bin Anas rahimahullah

silahkan golongan Asy'ariyah yang akarnya jahmiyah atau Mu'tazillah menta'wil sesuka mereka. Toh Perkataan IStri Nabi Shalallahu alaihi wasallam dan Sahabat lebih bisa dipegang dan dipercaya perkataan mereka dibanding kelompok Ahlul Bi'dah tersebut.
Quote:

Zainab bintu Jahsy radliyallaahu ‘anhaa

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَ 575; قَالَ: فَكَانَتْ تَفْخَرُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقُولُ: زَوَّجَكُنَّ أَهْلُكُنَّ، وَزَوَّجَنِي اللَّهُ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ ".قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fadhl : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Tsaabit, dari Anas, ia berkata : “Ayat ini turun berkenaan dengan Zainab bintu Jahsy : ‘Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), maka Kami nikahkan engkau dengannya’ (Al-Ahzab: 37)”. Anas berkata : “Adalah Zainab membanggakan dirinya atas istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata : ‘Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada di atas tujuh langit” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3213, dan ia berkata : “Hadits hasan shahih”].

Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu.

حَدَّثَنَا بَحْرُ بْنُ نَصْرِ بْنِ سَابِقٍ الْخَوْلانِيُّ 548; قَالَ: ثنا أَسَدٌ، قَالَ: ثنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَاصِمِ ابْنِ بَهْدَلَةَ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: " مَا بَيْنَ سَمَاءِ الدُّنْيَا وَالَّتِي تَلِيهَا مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ كُلِّ سَمَاءٍ مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ وَبَيْنَ الْكُرْسِيِّ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَالْعَرْشُ فَوْقَ السَّمَاءِ، وَاللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَوْقَ الْعَرْشِ، وَهُوَ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ "

Telah menceritakan kepada kami Bahr bin Nashr bin Saabiq Al-Khaulaaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Asad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari ‘Aashim bin Bahdalah, dari Zirr bin Hubaisy, dari Ibnu Mas’uud, ia berkata : “Jarak antara langit dunia dan langit di atasnya sejauh perjalanan selama 500 tahun. Jarak antara setiap langit dengan langit lainnya sejauh perjalanan selama 500 tahun. Jarak antara langit ketujuh dan kursi sejauh perjalanan selama 500 tahun. Dan ‘Arsy di atas langit, dan Allah tabaaraka wa ta’ala berada di atas ‘Arsy. Ia mengetahui apa yang kalian lakukan” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhiid, hal. 242-243, tahqiq : Dr. ‘Abdul-‘Aziiz Asy-Syahwaan; Daarur-Rusyd, Cet. 1/1408 H].

Bahkan Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah yang Asy'ariyah menisbatkan golongan mereka atas beliau saja membantah keyakinan mereka.

Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah (w. 324 H).

وأجمعوا . . أنه فوق سماواته على عرشه دون أرضه ، وقد دل على ذلك بقوله : {أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض}، وقال : {إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه}. وقال : {الرحمن على العرش استوى}، وليس استواءه على العرش استيلاء كما قال أهل القدر، لأنه عز وجل لم يزل مستوليا على كل شيء

“Dan mereka (para ulama Ahlus-Sunnah) bersepakat..... bahwasannya Allah berada di atas langit-langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, bukan di bumi-Nya. Dan hal itu ditunjukkan melalui firman-Nya : ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu’ (QS. Al-Mulk : 16). Dan Allah berfirman : ‘Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya’ (QS. Faathir : 10). Allah berfirman : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwaa’ di atas 'Arsy’ (QS. Thaha : 5). Dan bukanlah yang dimaksud istiwaa’-nya Allah di atas ‘Arsy itu adalah istilaa’ (menguasai) sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Qadariyyah. Karena Allah ‘azza wa jalla senantiasa berkuasa atas segala sesuatu” [Risaalatun ilaa Ahlits-Tsaghr oleh Abul-Hasan Al-Asy’ariy, hal. 231-234, tahqiq : ‘Abdullah bin Syaakir Al-Junaidiy; Maktabah Al-‘Uluum wal-Hikam, Cet. 2/1422 H].


Mengenai tempat, sudah ada jawabannya diatas..

ana bawakan lagi nih

Quote:
Tempat dan arah, jika yang dimaksudkan adalah ruang yang melingkupi sesuatu; maka di sini kita katakan Allah tidaklah dilingkupi oleh tempat (Allah tidak bertempat). Karena, Allah adalah Maha Besar dan tidak ada satu pun makhluk yang dapat melingkupi-Nya. Inilah yang dinafikkan para ulama, bahwa Allah tidak bertempat.

Namun jika tempat di sini maksudnya menunjukkan keberadaan Allah di atas langit (diluar alam) , maka ini adalah benar; sebab Allah sendiri telah berfirman :

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya” [QS. Al-A’raaf : 54].


dan juga perkataan Imam Ahmad diatas.

sedikit tambahan...

Mengenai Ketinggian Allah diatas Mahluk-nya silahkan baca

Ketinggian Allah ta’ala di Atas Semua Makhluk-Nya dan Ijmak para ulama tentang keberadaan Allah di atas langit

yang ana minta sama agan, coba bawakan 10 saja perkataan Ulama salaf yang mengatakan Allah ada dimana-mana .
jual.buku.islam - 19/10/2012 11:32 PM
#119
MAJMU FATAWA: Arah (jihat) terkait sifat Allah
Syaikhul Islam pernah ditanya tentang orang yang meyakini “arah” (terkait sifat Allah,red), Apakah dia Mubtadi, Kafir, atau tidak?

Beliau menjawab:

Adapun barang siapa yang meyakini adanya arah, Jika ia berkeyakinan bahwa Allah didalam makhluknya yang Ia diliputi oleh ciptaannya dan dibatasi oleh langit, hingga sebagian makhluk berada diatasnya dan sebagian berada dibawahnya, maka pemilik keyakinan tersebut adalah Ahli bid’ah yang sesat.

Begitupula jika ia berkeyakinan bahwa Allah membutuhkan sesuatu yang membawanya -ke Arsy atau lainnya-, Maka Pemilik keyakina tersebut juga Ahli bid’ah yang sesat.

Begitupula jika ia menjadikan sifat Allah sama dengan Sifat makhluk-makhluknya dengan mengatakan: Istiwa Allah sama dengan istiwa makhlukNya, nuzulNya seperti nuzul makhlukNya, atau yang semisal itu, maka dia juga Ahli bid’ah yang sesat.

Sesungguhnya Kitab dan Sunnah serta akal telah menunjukkan bahwa Allah tidak diserupai makhluknya sedikitpun. Allah juga tidak membutuhkan apapun, terpisah dari makhluknya dan tinggi diatasnya.

Jika orang tersebut berkeyakinan bahwa Al kholiq terpisah dari makhluknya, diatas langitnya bersemayam diatas Arsy terpisah dari makhluknya, Tidak ada sedikitpun unsur makhluk di dalam zatNya dan tidak ada sedikitpun unsurNya didalam makhlukNya, tidak membutuhkan Arsy dan apapun selain Arsy, tidak bergantung kepada satupun dari makhlukNya-meskipun demikian, Dialah yang mengangkat Arsy dan pengangkatan Arsy bergantung kepada qudrahNya-, tidak menyamakan istiwa Allah dengan dengan istiwa segenap makhluk tetapi menetapkan nama-nama dan semua sifat sesuai dengan apa yang telah Ia tetapkan bagi diriNya, menafikan kesamaanNya dengan segenap makhlukNya, meyakini bahwa Allah tidak sama dengan apapun-tidak pada zatnya, sifatnya, maupun perbuatanya-, Maka orang tersebut memiliki keyakinan yang sama dengan dengan ummat dan para imam terdahulu.

Mazhab mereka menyifati Allah sesuai dengan apa yang telah Ia sifatkan bagi diri dan apa yang telah disifatkan oleh RasulNya tanpa Tahrif (perubahan), Ta’thil (Penghilangan), takyif (visualisasi), dan tamtsil (penyerupaan). Mereka meyakini bahwa Allah maha tahu atas segala sesuatu, berkuasa atas segala sesuatu,menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian bersemayam diatas Arsy, benar-benar berbicara kepada Musa, menampakkan diri kepada gunung dan gunung itu pun menjadi hancur terbelah.

Mereka Meyakini bahwa Allah Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya pada seluruh sifat yang telah ia sematkan bagi diriNya, mensucikan Allah dari sifat kurang dan jelek dan menetapkan Sifat kesempurnaan bagiNya, dan meyakini bahwasanya tidak ada siapapun yang menyetarai sifat kesempurnaanya.

Nuaim bin Hammad Al Khazani berkata:

“Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluknya maka Sungguh ia telah kafir, dan barang siapa yang mengingkari apa yang telah Ia sifatkan untuk diriNya maka sungguh ia telah kafir.

Penetapan sifat sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan bagi dirinya atau apa yang telah ditetapkan oleh RasulNya bukanlah Tasybih. Wallahu a’lam.”


Cerita Perdebatan Syaikhul islam tentang jihat dan Tahayyuz

Gambaran dari tuntutan kepada AS Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah-Rahimahullah wa Radiyallahu anhu- ketika ia didatangkan dari Damaskus ke Buraid, ia ditahan di benteng Al Jabal setelah digelarnya pengadilan di Daarunniyabah.

Beliau sampai pada hari kamis tanggal 26 Ramadhan. Kemudian digelar pengadilan pada hari Jum’at tanggal 27 Ramadhan setelah Sholat Jum’at. Disitulah beliau ditahan.

Gambaran dari tuntutan kepada beliau agar berkeyakinan untuk menafikan jihat dan tahayyuz pada Allah, tidak mengatakan bahwa Kalamullah adalah Huruf dan suara tetapi makna-makna yang menyatu dengan dzatnya, dan Allah tidak bisa ditunjuk dengan jemari secara inderawi. Beliau juga dituntut untuk tidak menyebut-nyebut hadits dan ayat-ayat sifat di depan orang awam, tidak menulis surat dengannya, dan tidak menyebut-nyebutnya dalam fatwa.

Beliau Menjawab

Adapun orang yang mengatakan untuk meyakini penafian Jihat dan tahayyuz pada Allah, maka penetepan itu sama sekali tidak terdapat dalam perkataanku. Karena penafian lafadz ini secara mutlak adalah bid’ah, sementara aku hanya mengatakan sesuai dengan yang telah disampaikan oleh kitab dan sunnah serta yang telah disepakati oleh Ummat.

Namun jika orang yang mengatakan hal itu memaksudkan bahwa tidak ada Rabb dilangit, tidak ada ilah diatas arsy, Muhammad tidak mi’raj menghadap tuhannya disana, dan diatas alam hanyalah ketidakadaan, maka ini batil danmenyalahi Ijma umat-umat terdahulu.

Kalau orang yang mengatakan hal itu memaksudkan bahwa Allah tidak diliputi makhluknya dan tidak berada didalam alam, Maka ini jelas merupakan perkataanku. Apa faedahnya mengulang kembali perkataan tersebut?

Adapun orang yang mengatakan : “jangan dikatakan bahwa kalam Allah adalah huruf dan suara yang menyatu denganNya, tetapi kalam adalah makna yang menyatu dengan dzatNya”, Maka ini sama sekali bukan perkataanku. Bahkan perkataan bahwa Alqur’an adalah huruf dan suara yang menyatu denganNya adalah bid’ah, begitu juga perkataan bahwa alqur’an adalah makna yang menyatu dengan DzatNya adalah bid’ah.

Tidak pernah dikatakan oleh seorangpun dari kalangan Salaf. Tidak yang pertama maupun yang kedua. Tidak terdapat sedikitpun perkataanku yang mengandung kebid’ahan, tetapi yang merupakan perkataanku adalah apa yang telah disepakati oleh Salaf bahwasanya Alqur’an adalah Kalamullah bukan makhluk.

Adapun orang yang mengatakan untuk tidak menunjuk kepada Allah dengan jemari sebagai penunjukan inderawi, maka ini bukanlah perkataanku, justeru aku mengatakan untuk mengingkari pernyataan yang telah dibuat-buat oleh ahli bid’ah tentang lafadz-lafadz penafian. Semisal: “Sesungguhnya Allah tidak ditunjuk”. Penafian semacam ini adalah bid’ah juga.

Jika Seseorang memaksudkan bahwasa Allah tidak ditunjuk karena Allah tidak dibatasi oleh makhluknya dan alasan-alasan lain yang mengandung makna yang sohih, maka hal itu adalah benar. Jika yang dimaksudkan bahwa orang yang berdoa kepada Allah tidak mengangkat tangan kepadaNya, maka ini menyelisihi sunnah-sunnah yang telah Mutawattir dari Nabi Shallallahu Alaihi wasallam.

Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi Wasallam

إنّ الله يستحي من عبده إذا رفع يديه أن يردّهما صفرا

Sesungguhnya Allah malu kepada hambanya apabila mengangkat kedua tangan untuk berdoa lalu mengembalikannya dengan tangan hampa[1]

Kalau yang menyebutkan hal itu menganggapnya sebagai Penunjukkan inderawi dan mengatakan itu tidak boleh, Maka tidak diterima perkataan tersebut.

Adapun orang yang mengatakan untuk tidak menampilkan Hadits dan ayat-ayat sifat dihadapan orang awam, maka bagaimana mungkin aku tidak boleh mengajukan hal itu sama sekali dikalangan awam!

Jawabannya adalah sesuai dengan alasan yang Allah telah mengutus Rasulnya untuk orang-orang yang menginginkan bimbingan dan petunjuk.

Rasulullah telah bersabda

من سئل عن علم يعلمه فكتمه، الجمه الله يوم القيامة بلجام من نار

Barang siapa yang ditanya tentang ilmu yang diketahuinya kemudian ia menyembunyikannya, niscaya Allah akan menstempelnya dihari Qiyamat dengan stempel dari Api[2]

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, (Al Baqarah:159)

Orang yang berilmu tidak diperintahkan sesuatu yang dapat menyebabkannya dilaknat oleh Allah.

Allah Maha mengetahui dan segala puji Bagi Allah Rabb semesta Alam

Semoga bermanfaat

MAJMU FATAWA Jilid 5

Quote:
[1] Hadits riwayat Abu Dawud dalam Kitab sholat (1488), Hadits riwayat Turmudzi dalam kitab Doa-doa (3556) ia berkata: Hadits Hasan ghorib, dan Hadits Riwayat Ibnu Majah pada kitab Doa (3865) dari Salman Al Farisi

[2] Hadits Riwayat Abu Dawud dalam kitab ilmu (3658), Hadits riwayat Turmudzi dalam kitab ilmu (2649), Ia berkata: Hadits Hasan, Hadits Riwayat Ibnu Majah dalam al Muqaddimah (261). Hadits riwayat Ahmad 2/263,305, Semuanya dari Abu Hurairah
jual.buku.islam - 19/10/2012 11:37 PM
#120
Fitnah Tajsim [Ibnu Taimiyah]
Jika anda ditanya oleh seseorang “apakah Allah Berjism”? apa jawaban anda?

Jika anda jawab “yah” maka anda belum tentu benar.

Jika anda jawab “tidak” Maka anda kemungkinan salah.

Loh kok. Mumet…. Bingung???

Apa itu Jism?

Pendapat ahli bahasa

Ibnu Mandzur berkata:

الجِسْمُ: جماعة البَدَنِ أَو الأَعضاء من الناس والإِبل والدواب وغيرهم من الأَنواع العظيمة

Aljismu: kumpulan dari badan atau anggota-anggota seorang manusia, onta, binatang berkaki empat, dan lain-lain yang merupakan bagian yang makhluk yang besar.

Para ahli bahasa hanya menggunakan istilah Jism untuk sesuatu yang berat dan padat, mereka tidak menamakan udara sebagai jism dan jasad lain halnya dengan tubuh manusia yang jelas mereka sebut sebagai jism. Pandangan ahli bahasa tentang Jism sesuai dengan firman Allah taala:

وإذا رأيتهم تعجبك أجسامهم

Artinya: Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. (QS al Munâfiqûn:4)

Dalam ayat lain Allah berfirman

وزاده بسطة في العلم والجسم

Artinya: Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.(QS albaqarah:247)

Pendapat ahli filsafat dan Mutakallimin.

Ibnu Taimiyah berkata:

Adapun ahli kalam dan para filosof berselisih tentang makna Jism: Sebagian dari mereka mengatakan bahwa Jism itu adalah sesuatu yang eksis, sebagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang berdiri sendiri, sebagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang tersusun dari atom, sebagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang tersusun dari materi dan gambaran, sebagian lagi mengatakan bahwa bahwa jism adalah sesuatu yang bisa ditunjuk dengan isyarat indra, sebagian lagi mengatakan bahwa jism itu tidak tersusun dari apapun tapi ia justeru yang ditunjuk[1]

Apa yang didefinisikan oleh para mutakallimin dan ahli filsafat sama sekali tidak dikenal dalam bahasa arab baik dalam kitab-kitab maupun syair-syair mereka. Ruh sekalipun ditunjuk, turun, dan naik serta berdiri sendiri namun tidak dinamakan sebagai jism oleh ahli bahasa oleh karena itu mereka menyebutkan istilah jism dan ruh. Disini bisa kita ketahui bahwa “dan” disini berkonsekwensi perbedaan makna (mughayarah).

Teka-teki

Jadi manakah yang anda pilih ketika menjawab yah atau tidak?

Jika dinafikan, lalu bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwa jism itu sesuatu yang bisa ditunjuk, padahal Ahlusunnah dan juga Asyairah beriman bahwa Allah bisa dilihat disyurga. Padahal sesuatu yang dilihat dengan mata adalah sesuatu yang ditunjuki dengan indra.?

Jika dikatakan Allah adalah jism, lalu bagaimana dengan pendapat ahli bahasa yang mengatakan bahwa tubuh dan anggota-anggotanya adalah jism[2]?

Bingungkah anda?

Disinilah perlunya memahami sesuatu secara kompleks dan mendetail.

Ibnu Taimiyah berkata:

أما الكلام في الجسم والجوهر ونفيهما أو إثباتهما , فبدعةٌ

ليس لها أصلٌ في كتاب الله ولا سنة رسوله

ولا تكلم أحدٌ من الأئمة والسلف بذلك نفياً ولا إثباتاً . انتهى

Adapun pembicaraan tentang jism dan jawhar serta penafian dan penetapannya merupakan kebidahan yang tidak memiliki asal dari kitab Allah dan sunnah rasulnya serta tidak pernah dibicarakan oleh seorangpun dari para imam-imam Salaf dengan menafikannya atau menetapkannya.[3]

Dalam tempat lain beliau mengatakan

وأما القول الثالث : فهو القول الثابت عن أئمة السنة المحضة

كالإمام أحمد ومَنْ دونه , فلا يطلقون لفظ الجسم لا نفياً ولا إثباتاً , لوجهين :

أحدهما : أنه ليس مأثوراً , لا في كتاب ولا سنة ,

ولا أثر عن أحد من الصحابة والتابعين لهم بإحسان , ولا غيرهم من أئمة المسلمين ,

فصار من البدع المذمومة .

الثاني : أن معناه يدخل فيه حق وباطل ,

والذين أثبتوه أدخلوا فيه من النقص والتمثيل ما هو باطل ,

والذين نفوه أدخلوا فيه من التعطيل والتحريف ما هو باطل . انتهى

Dan adapun pendapat yang ketiga: itulah pendapat yang tetap dari para imam Sunnah yang murni. Seperti Imam Ahmad dan selainnya. Mereka tidak memutlakkan lafadz jism baik dalam penafian maupun penetapan karena dua hal.

Pertama: hal tersebut tidak ma’tsur baik dalam qur’an, sunnah, maupun atsar sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Tidak juga dari para imam kaum musllimin yang lain. Maka jadilah hal tersebut sebagai bid’ah yang tercela.

Kedua: maknanya yang bisa jadi haq maupun batil.

Orang-orang yang menetapkannya [secara mutlak] bisa masuk dalam penjelekkan dan penyerupaan yang merupakan kebathilan.[4]

Sedangkan orang yang menafikannya [secara mutlak] bisa masuk dalam ta’thil dan tahrif yang merupakan kebatilan.[5] [6]

Kesimpulan

Lafadz jism terkait sifat Allah adalah lafadz yang Muhtamil serta sebuah bahasan muhdats yang diada-adakan oleh para filosof dan Mutakallimun. Sebagai Ahlissunnah kita harus menghindarinya. Jika kita ditanya tentang hal ini maka Ibnu Taimiyah memberikan Jalan keluar dengan perkataannya:

فيقال لمن سأل بلفظ الجسم : ما تعني بقولك ؟

أتعني بذلك أنه من جنس شيء من المخلوقات ؟

فإن عنيتَ ذلك , فالله قد بيَّنَ في كتابه أنه لا مثل له , ولا كفوَ له , ولا نِدَّ له ؛

وقال : ( أفمن يخلق كمن لا يخلق )

فالقرءان يدل على أن الله لا يماثله شيء , لا في ذاته ولا صفاته ولا أفعاله ,

فإن كنتَ تريد بلفظ الجسم ما يتضمن مماثلة الله لشيء من المخلوقات ,

فجوابك في القرءان والسنة . انتهى

Maka direspon bagi siapapun yang bertanya dengan lafadz jism: apa yang anda maksud? Apakah yang anda maksud adalah bahwa Dia termasuk jenis dari makhluknya? Kalau jelas begitu maksudnya, maka Allah telah menjelaskan didalam kitabnya bahwa Dia tidak serupa,setara, dan tidak bersekutu dengan apapun. Allah berfirman: Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?. (QS al Nahl:17). Al Qur’an menunjukkan bahwa Allah tidak diserupai oleh apapun baik zat, sifat, maupun perbuatannya.

Kalau yang engkau maksud dengan lafadz Jism mengandung penyerupaan Allah dengan makhluknya, maka jawaban untukmu ada didalan Alqur’an dan Sunnah.[7]

Selanjutnya beliau menegaskan:

ولهذا اتفق السلف والأئمة على الإنكار على المشبهة الذين يقولون

بصر كبصري , ويدٌ كيدي , وقدم كقدمي . انتهى

Oleh karena itu Salaf telah bersepakat untuk mengingkari Musyabbihah yang mengatakan penglihatan [Allah] seperti penglihatanku, tangan [Allah] seperti tanganku, kaki [Allah] seperti kakiku.[8]

Disini Ahlussunnah dan salaf tidak membicarakan penafian maupun penetapan jism pada Allah, begitu juga lafadz-lafadz lain yang tidak terdapat dalam al Qur’an maupun Sunnah seperti arah dan tahayyuz dan semisalnya. Tetapi Ahlussunnah menyifatkan Allah Taala sesuai dengan apa yang Ia Sifatkan bagi dirinya dalam alQur’an dan apa yang disifatkan oleh Rasulnya. Mereka tidak melangkahi alQur’an dan Hadits.

Imam al Barbahari berkata:

Tidak membicarakan rabb kecuali sesuai dengan apa yang Ia sifatkan bagi dirinya Ajja Wajalla dalam Qur’an dan yang dijelaskan oleh Rasulullah untuk para sahabatnya.[9]

Beliau juga menjelaskan bahwa lafadz-lafadz bid’ah tersebut adalah sumber bid’ah:

Ketahuilah! Semoga Allah memuliakanmu! Kalau saja manusia menahan diri dalam perkara-perkara muhdats, tidak melangkah lebih jauh, dan tidak melahirkan kalimat-kalimat yang tidak pernah datang dari atsar Rasulullah juga sahabatnya,maka niscaya tidak akan ada kebid’ahan[10]

Al Hafidz Abdul Ghani al Maqdisi Rahimahullah menyetujui kaidah seperti ini dengan mengatakan:

“Termasuk Sunnah yang tetap adalah diam dari sesuatu yang tidak datang nashnya dari Rasulullah Shallallâhu alaihi Wasallam atau yang telah disepakati oleh kaum muslimin untuk memutlakkannya dan meninggalkan perselisihan dalam penafian dan penetapannya. Begitu juga pada perkara yang hanya bisa ditetapkan dengan nash Syari’,dan juga pada perkara yang hanya bisa dinafikan dengan dalil Sami’ [11]

Tulisan dan nukilan Ibnu taimiyah juga menjadi bukti bahwa beliau bukanlah seorang mujassimah, Justeru ketika Asyairah membatasi bahwa jism itu adalah satu hal, ternyata ibnu taimiyah telah merinci dan menyikapi lafadz jism dari berbagai isu yang beredar tentang jism menurut berbagai firqah dan mengambil solusi yang wasath.

Semoga bermanfaat

Saudaramu: dobdob

Quote:
[1] Majmû’ Fatâwa Syaikhul islam Ibnu Taimiyah III/32

[2] Sekte karamiyah merupakan golongan Mujassimah yang berkeyakinan Allah adalah Jism dalam artian bertubuh dan bertulang. wal iyadzubillah

[3] Dar ut taahrudh al aql wan naql 4/146

[4] Kalau kita mengatakan Allah jism maka bisa jadi kita akan seperti karamiyah yang menetapkan bahwa Allah adalah seperti tubuh yang terdiri dari tulang dan daging. Waliyadzubillah

[5] Ada yang berpendapat bahwa jism itu yang ditunjuk padahal sesuatu yang terlihat itu adalah sesuatu yang ditunjuki oleh indra. Dengan menafikannya secara mutlak maka bisa jadi kita seperti mu’tazilah yang tidak mengimani bahwa kita bisa melihat Allah diakhirat kelak.

[6] Minhajussunnah Nabawiyyah I/204

[7] Dar ut taahrudh al aql wan naql 10/307

[8] Dar ut taahrudh al aql wan naql 10/309

[9] Syarhussunnah hal. 69

[10] Syarhussunnah hal. 105

[11] Aqâid Aimmatusshalaf hal 132
Page 6 of 7 |  < 1 2 3 4 5 6 7 > 
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > Syarah AQIDAH Ahlus Sunnah wal Jamaah (Manhaj Salaf)