BERITA DAN POLITIK
Home > CASCISCUS > BERITA DAN POLITIK > Pendiri PK: Sikap Zalim dan Arogan Makin Tenggelamkan PKS di Pemilu 2014
Total Views: 2413 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 3 |  1 2 3 > 

Nubiethooolll - 17/10/2012 10:35 AM
#1
Pendiri PK: Sikap Zalim dan Arogan Makin Tenggelamkan PKS di Pemilu 2014
Pendiri PK: Sikap Zalim dan Arogan Makin Tenggelamkan PKS di Pemilu 2014
Tuesday, 16 October 2012 08:07

Pendiri PK: Sikap Zalim dan Arogan Makin Tenggelamkan PKS di Pemilu 2014
Ustadz Yusuf Supendi, pendiri PKS

itoday - Sikap elit PKS yang tidak mencerminkan wakil rakyat, kezaliman dan penuh arogansi akan mengakibatkan suara partai partai berlambang padi kapas dan bulan sabit ini semakin anjlok dalam Pemilu 2014. "Elit PKS yang arogan, tergiur uang dan kekuasaan semakin menurunkan PKS dalam Pemilu 2014," kata pendiri PK, Yusuf Supendi kepada itoday, Selasa (16/10). Menurut Yusuf Supendi, jika hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), PKS memperoleh tiga persen, itu hanya sebatas hasil optimistis. "Berdasarkan rasionalitas dan fakta yang ada di lapangan pada Pemilu 2014 perolehan suara nasional PKS dalam kisaran dua persen," ungkapnya.

Kata Yusuf Supendi, menurut sejumlah kader dan simpatisan, jika pemilu 2014 PKS meraup suara dua persen adalah mukjizat. "Apakah mungkin, jika kezaliman melekat, mukzijat itu akan mendekat?" tanya Yusuf Supendi. Selain itu, ia juga mengatakan, sikap yang ditunjukkan elit PKS juga akan ditinggalkan massa pemilih mengambang (swing voters) yang tidak memiliki loyalitas. "Massa ini awalnya simpatik terhadap PKS akan semakin cerdas dalam menilai dan menentukan pilihan, dan kemungkinan akan menentukan pilihan barunya," pungkasnya.
http://www.itoday.co.id/politik/pendiri-pk-sikap-zalim-dan-arogan-makin-tenggelamkan-pks-di-pemilu-20 14


Survei LSI: Partai dan capres Islam semakin tak diminati, termasuk PKS
Senin, 15 Oktober 2012 03:21:00

Hasil Survey Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebut, elektabilitas calon presiden dan partai Islam terus menurun. Turunnya elektabilitas capres ini karena tokoh-tokoh populer partai Islam kalah pamor dari tokoh-tokoh dari partai nasionalis. "Tokoh-tokoh partai Islam seperti Hatta Rajasa, Suryadharma Ali, Muhaimin Iskandar dan Lutfi Hasan memiliki tingkat pengenalan rendah, rata-rata masih di bawah 60 persen," ujar peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Adjie Al Alfarabi, saat menyampaikan hasil survei di kantornya, Jakarta Timur, Minggu (14/10).

Sementara, tokoh-tokoh partai nasionalis seperti Megawati Soekarnoputri, Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto dan Wiranto tingkat popularitasnya di atas 60 persen. Rendahnya popularitas tokoh partai Islam berpengaruh terhadap dukungan publik pada mereka. "Hatta Rajasa 3,2 persen, Muhaimin Iskandar 0,3 persen, Suryadharma Ali 2,1 persen dan Lutfi Hasan Ishaaq 0,8 persen," tandasnya. Ada pun dukungan terhadap tokoh dari partai nasionalis rata-rata mencapai persentase di atas 15 persen. Yakni Megawati Soekarnoputri 20,2 persen, Prabowo Subianto 19,3 persen dan Aburizal Bakrie 18,1 persen.

Jika kondisi dalam survei ini tetap bertahan, lanjut Adjie, maka peluang tokoh partai Islam untuk maju sebagai calon Presiden pada Pemilu 2014 mendatang sangat kecil. Karena dengan perolehan suara seperti itu, maka tokoh partai Islam hanya akan menjadi capres divisi tiga. "Capres divisi tiga adalah capres yang dukungan terhadap partai politik maupun kandidat presidennya masih kecil. Capres divisi tiga juga bukan berasal dari tiga partai besar perolehan suara," imbuh Adjie.

Terkait elektabilitas partai Islam yang terus menurun, hasil survey menunjukkan jika Pemilu digelar hari ini perolehan suara untuk partai Islam hanya 21,1 persen. Padahal pada pemilu pertama tahun 1955, partai Islam secara keseluruhan memperoleh suara 43,7 persen. "Pada Pemilu pertama tahun 1955, secara keseluruhan partai Islam memperoleh suara 43,7 persen, perolehan ini terus menurun dari waktu ke waktu," tambahnya. Pada Pemilu 1999 atau Pemilu pertama setelah masa Orde Baru, kata Adjie total suara partai Islam juga mengalami penurunan menjadi 36,8 persen. Perolehan suara ini sempat mengalami kenaikan pada Pemilu selanjutnya, yakni pada Pemilu 2004 di mana partai Islam mendapatkan perolehan suara 38,1 persen.

Namun jumlah itu kembali mengalami penurunan tajam pada Pemilu 2009 menjadi 25,1 persen. Survei yang dilaksanakan LSI pada 1 hingga 8 Oktober 2012 dengan mengambil sampel 1200 responden, perolehan suara partai Islam menunjukkan kembali tren penurunan menjadi 21,1 persen. "Ini fakta menarik. Penduduk kita mayoritas Islam, tetapi tidak menjadikan partai Islam sebagai pilihan. Islam menjadi aspek yang lebih bersifat pribadi dan tidak terwujud dalam aspirasi masyarakat," jelas Adjie.

Hasil survey ini menegaskan, parpol Islam tidak masuk dalam 5 besar jika Pemilu diselenggarakan hari ini. Hal ini, justru berbanding terbalik dengan partai berbasis nasionalis, seperti Partai Golkar, PDIP, Partai Demokrat, Partai Gerindra 5,2 persen, dan Partai Nasdem. "Parpol berbasis nasional atau kebangsaan adalah partai yang berasaskan pancasila atau basisnya adalah non agama," kata dia.

Beberapa alasan mendasar yang menyebabkan turunnya partai Islam, seperti menyangkut keinginan masyarakat yang tidak menginginkan politik nasional beraroma agama. Penegasan ini didasarkan atas angka sebesar 67,8 persen pemilih muslim yang lebih memilih partai nasionalis. "Islam Yes, Partai Islam No, jargon ini sudah menjadi kenyataan. Bukan sekedar ide atau gagasan yang disampaikan Cak Nur (Nurcholish Madjid)," imbuhnya.
http://www.merdeka.com/politik/survei-lsi-partai-dan-capres-islam-semakin-tak-diminati.html


Pemilu 2014, partai Islam tenggelam?
Jumat, 31 Agustus 2012 08:47:21

Prediksi bahwa perolehan suara partai Islam atau berbasis massa Islam terus merosot dalam setiap pemilu, seolah ditegaskan oleh dua hasil survei belakangan ini. Survei Kompas dan Charta Politika yang sama-sama dilakukan pada Juli lalu menunjukkan perolehan suara PPP, PKB, PAN dan PKS berada di bawah 4 persen. Survei Kompas yang dirilis lebih dulu lewat pemberitaan di Harian Kompas, Selasa (24/7), menunjukkan peroleh suara PKS 2,5 persen, PAN 1,8 persen, PPP 1 persen dan PKB 0,4 persen. Hasil survei nasional pada 16-19 Juli ini telah membuat empat partai menengah itu menjadi kelompok partai kecil.

Hasil yang tidak jauh berbeda ditunjukkan oleh survei nasional Charta Politika yang dilakukan pada 8-22 Juli lalu. Dalam rilisnya kemarin, Charta memperlihatkan hasil perolehan suara PKS 3,9 persen, PPP 2,7 persen, PKB 2,6 persen dan PAN 1,9 persen. Jika UU Pemilu tetang ambang batas parlemen 3,5 persen diterapkan, PPP, PKB, PAN gagal lolos ke DPR. Tren merosotnya partai Islam atau berbasis massa Islam memang sudah tampak dari dua pemilu terakhir, 2004 dan 2009. Pada 2004, total perolehan suara partai Islam atau berbasis massa Islam sebanyak 37 persen. Kalah dengan perolehan perolehan partai nasionalis (Golkar, PDIP dan Demokrat) sebesar 45 persen. Pada 2009, total kekuatan partai Islam atau berbasis massa Islam di parlemen turun menjadi 22 persen.

Kekuatan terbesar partai Islam atau berbasis massa Islam dicapai pada pemilu demokratis pertama tahun 1955. Dipimpin Partai Masyumi, perolehan partai Islam atau berbasis massa Islam mencapai 44 persen. Angka ini masih di bawah partai nasionalis yang menjadi kekuatan terbesar saat itu. Hasil studi Mujani, Liddle dan Ambardi menunjukkan walaupun mayoritas pemilih Indonesia beragama Islam (88 persen), total perolehan suara partai Islam atau berbasis massa Islam tidak menggambarkan mayoritas tersebut. Mereka menyebut telah terjadi tren sekularisasi elektoral bagi pemilih Islam di Indonesia.

Dalam Kuasa Rakyat (2012), Mujani, Liddle dan Ambardi berpendapat ada beberapa alasan terjadinya sekularisasi electoral tersebut. Pertama, secara umum tidak ada diferensiasi program yang ditawarkan partai Islam atau berbasis massa Islam dibanding partai lain. Kedua, diskursus politik pasca reformasi tidak lagi mengedepankan perdebatan ideologi Islam dan nasionalis/sekular. Ketiga, karena rasionalitas pemilih yang semakin tinggi. Jadi apakah partai Islam atau berbasis massa Islam akan tetap bertahan atau tenggelam, pemilu 2014-lah yang akan menjawabnya.
http://www.merdeka.com/politik/pemilu-2014-partai-islam-tenggelam.html

--------------

Kayaknya PKS, PKB, PAN dan PPP ... kalau akhirnya terdesak di Pemilu 2014 dan Pilpres 2014, mereka akan bergabung dengan Gerindra dan mengusung Prabowo untuk Capres 2014 kelak, dan wakilnya akan mereka ambilkan dari salah satu tokoh parpol Islam itu.
dataman - 17/10/2012 10:40 AM
#2

semoga partai berbasis agama tenggelam untuk selama-lamanya

amin ye bot.
stoving - 17/10/2012 10:39 AM
#3

Nah bener khan , aliansi masyarakat kaskus ampir mirip mirip gitu ,UDAH BERUBAH HALUAN , BERUBAH KIBLAT ,KIBLAT SEKARANG KEPADA UANG & KEKUASAANcapedes
krupukalengan - 17/10/2012 10:43 AM
#4

Partai apapun udah ga ane percaya. :cool
SOEHART0 - 17/10/2012 10:47 AM
#5

ada gak ya partai kaskus indonesia ? isinya kaskuser semua gitu bingung
orenazionale - 17/10/2012 10:50 AM
#6

yaa beginilah kalau agama cuma dijadiin alat buat merebut kekuasaan..ane gak bakal rela kalo ayat2 suci didagangin sm politikus macam mereka mad:
baujengkol - 17/10/2012 10:50 AM
#7

wah ternyata warga Indonesia semakin pintar :2thumbup
Nubiethooolll - 17/10/2012 10:56 AM
#8

Pendiri PK: Sikap Zalim dan Arogan Makin Tenggelamkan PKS di Pemilu 2014

PKS Sebaiknya Mulai Percaya Hasil Survei LSI
15 October 2012 | 14:54

Terserah anda mau mengartikan apa ucapan Ketua Fraksi PKS DPR RI, Hidayat Nur Wahid. Entah itu pernyataan pribadi atau resmi partai, HNW menyatakan tak terlalu percaya terhadap hasil survei tentang penurunan suara partai-partai Islam pada Pemilu Legislatif 2014 mendatang.

Sebelumnya, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) melalui salah satu penelitinya, Adjie Alfaraby, pada Minggu (14/10/2012), memprediksi nasib partai-partai Islam pada Pemilu 2014 bakal melemah. Adjie juga mengatakan bahwa partai dan tokoh Islam hanya akan menjadi komplementer alias pelengkap saja. (Tempo.com, Senin, 15/10/2012).

Tidak hanya itu, Adjie juga mengungkapkan hasil survei yang menyatakan perolehan suara partai-partai Islam merosot di bawah 5 persen, bahkan hingga 2 sampai 3 persen saja. Dengan temuan itu, Adjie memprediksi jika Pemilu dilaksanakan hari ini, maka hanya 2 atau 3 partai Islam yang nantinya lolos ke parlemen.

Ada banyak analisa yang beredar perihal merosotnya suara partai-partai Islam tersebut. Salah satunya ialah menguatnya fenomena slogan “Islam Yes, Partai Islam No”. Slogan yang pernah dilontarkan oleh cendekiawan muslim, Alm. Nurcholis Madjid pada pidatonya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada medio 1980-an.

Berkaca dari sejarah Pemilu di Indonesia, partai-partai Islam memang tak pernah berhasil untuk memenangi Pemilu di Indonesia. Partai Masyumi dan NU, sebagai representasi partai Islam, dalam sejarahnya selalu kalah oleh suara dari partai berideologi kebangsaan non sektarian, seperti PNI -misalnya.

Demikian pula pada sejarah Pemilu di era Orde Baru, PPP juga tak pernah berhasil meraup suara mayoritas, kalah oleh Golkar yang nasionalis kebangsaan. Hanya pada era reformasi-lah partai-partai Islam mampu mencuri minat masyarakat untuk melabuhkan suaranya. PKS adalah salah satu contoh nyata dari partai Islam yang sempat menyeruak di tengah-tengah dominasi partai nasionalis.

Dengan berkaca pada sejarah perolehan suara partai-partai Islam sepanjang Pemilu pada beberapa orde, maka alasan fenomena slogan menjadi tak relevan untuk diungkapkan. Ada alasan yang lebih rasional untuk menganalisa sebab penurunan suara partai-partai Islam dan mengapa mereka tak pernah meraih suara mayoritas.

“Jualan” partai Islam layak untuk dikemukakan. Sebab, selama ini partai-partai Islam cenderung “menjual” isu-isu yang sektarian dengan dalih mengatasnamakan agama. Seperti Piagam Jakarta, misalnya. Belum lagi menyangkut perilaku moral para kader partai Islam dan keputusan-keputusan partai yang sering dianggap kurang populer dan oportunis. Juga basis massa partai yang “itu-itu” saja, seperti terlihat pada PKB dengan NU-nya, dan PAN dengan Muhammadiyah-nya.

Jadi, jika partai Islam ingin menjadi mayoritas dan bertahan di kancah politik Indonesia, maka lebih baik partai-partai Islam mulai berpikir untuk membenahi komoditas “jualan” mereka. Misalnya, dengan lebih berkutat pada isu-isu global yang mencakup masalah bangsa, seperti kemiskinan, dsb. Dengan berkutat pada isu-isu sektarian, partai Islam sulit untuk bertaham di tengah-tengah dominasi partai berlandaskan kebangsaan.

Atau -barangkali- partai Islam boleh mempertimbangkan usulan agar inklusif dan tidak ekslusif. Lebih terbuka pada semua khalayak komponen bangsa. Partai Islam bisa mengganti ideologi partainya dengan nasionalis kebangsaan, tidak dengan Islam -misalnya. Namun, bukan berarti mereka tak memperjuangkan Islam, melainkan sebagai strategi agar “jualan” mereka laku keras di mata publik. Ansich, tanpa berideologi Islam-pun sebagai asas partai, partai-partai Islam tetap bisa memperjuangkan nilai-nilai Islam, ketimbang memperjuangkan Islam secara kupasan luar belaka.

Karenanya, Hidayat, partainya dan partai-partai bernafaskan agama lainnya lebih baik mulai percaya untuk selanjutnya berbenah diri ketimbang meremehkan hasil survei LSI di atas.
http://politik.kompasiana.com/2012/10/15/pks-sebaiknya-mulai-percaya-hasil-survei-lsi/501915/
nubisenior - 17/10/2012 10:58 AM
#9

Aghh,....jgn kan Cuman partai.
Sekalipun itu tuhan jg gue masukin penjara.ga Ada tempat buat partai agama2an. Semuanya Cuman muslihat
sarymin - 17/10/2012 11:00 AM
#10

Quote:
Original Posted By orenazionale
yaa beginilah kalau agama cuma dijadiin alat buat merebut kekuasaan..ane gak bakal rela kalo ayat2 suci didagangin sm politikus macam mereka mad:


setuju gan,agama saat ini dijadikan dagangan politik,ayat2 suci banyak di umbar untuk tujuan kepentingan politik...ini justru menimbulkan kemurkaan.

kemaren waktu pilgub,liat aja dikaskus...ayat2 suci alqur'an di umbar untuk memenangkan satu calon dengan tujuan menyerang calon lain yg bukan beragama muslim....sangat mengerikan.
EkstraPedaz. - 17/10/2012 11:01 AM
#11

bagus deh kalau jualan agama sudah nggak laku.. kasihan juga agamanya diobral demi kepentingan tertentu.. D
dadadumdum - 17/10/2012 11:10 AM
#12

nonton bokep di pariporno, nohope:

berseberangan dengan KPK di komisi 3 tentang pencabutan wewenang penyadapan dan penyidikan nohope:

rakyat tidak akan lupa siapa dan dari partai mana asalnya..o

berubahlah sebelum partai penghianat amanah rakyat semakin ditinggalkan batas
bnzcomp - 17/10/2012 11:23 AM
#13

dulu sih sempat suka sama nih partai

tapi sekarang mah ga deh, orang2 di atasnya pada munafik , mikirin duit melulu sama jatah jabatan
michiel02 - 17/10/2012 11:28 AM
#14

Quote:
Original Posted By bnzcomp
dulu sih sempat suka sama nih partai

tapi sekarang mah ga deh, orang2 di atasnya pada munafik , mikirin duit melulu sama jatah jabatan


Yang dibawahnya pada bego2 apa yah? Udah jelas2 para pemimpinnya melenceng dari ajaran dasar. Akibat sistem cuci otak, ga mampu mikir lagi deh para pengikutnya. Di luar golongannya yang terlihat cuma babi, setan dan yahudi ngakak
teng.tong - 17/10/2012 11:31 AM
#15

Quote:
Original Posted By bnzcomp
dulu sih sempat suka sama nih partai

tapi sekarang mah ga deh, orang2 di atasnya pada munafik , mikirin duit melulu sama jatah jabatan



kagak amanah, pucat lah para pencoblos ngacir:
stoving - 17/10/2012 11:36 AM
#16

ini pasti garagara HNW berobat ke TONG FANGngakaksngakaks ADA YG SIMPEN GAK YA FOTONYA
darknetwork - 17/10/2012 11:49 AM
#17

masyarakat udah pinter. liat aja foke yang katanya dapet dukungan pks dengan massa sekian ratus ribu. akhirnya tetep kalah juga.

prabowo 2014? gk minat ane milih makhluk satu itu. kelaut aja najis
12inmyheartz - 17/10/2012 12:01 PM
#18

bingung sih sebenernya gan kalo politik, bakalan ribet dah kalo urusan agama di bawa ke politik , politik kan sarang setan
susunade - 17/10/2012 12:02 PM
#19

sudah melenceng jauh dari pertama di dirikan cd
Gayus. - 17/10/2012 12:06 PM
#20

Quote:
Original Posted By stoving
ini pasti garagara HNW berobat ke TONG FANGngakaksngakaks ADA YG SIMPEN GAK YA FOTONYA


yang ini ya gan.....
lumayan nih buat kenang2an....ngakaks

Pendiri PK: Sikap Zalim dan Arogan Makin Tenggelamkan PKS di Pemilu 2014


satu satu aku sayang ibu
Page 1 of 3 |  1 2 3 > 
Home > CASCISCUS > BERITA DAN POLITIK > Pendiri PK: Sikap Zalim dan Arogan Makin Tenggelamkan PKS di Pemilu 2014