Medan
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Medan > Kumpulan Legenda Hikayat di Sumatera Utara
Total Views: 50897 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 195 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

yanrusso - 05/05/2009 11:17 AM
#41

LEGENDA PUTRI RUNDUK

Kisah tentang ‘Putri Runduk’ sangat dikenal oleh masyarakat di sepanjang pesisir barat Sumatera Utara, mulai dari Barus sampai ke Natal, meski dengan versi masing-masing

Dari sisi cerita, Putri Runduk tak kalah menarik dengan cerita lain yang ada di bagian lain tanah air kita. Ada cerita tentang Kejadian Danau Toba di Tanah Batak, Malin Kundang dari Minang, Sampuraga dari Mandailing, Putri Hijau dari Melayu Deli, Roro Jonggrang dari Jawa, Nyi Roro Kidul, dll.

Spoiler for "Begini kisahnya"

Pada sekitar abad ke-7 Kerajaan Barus Raya memerintahlah seorang raja yang cukup ternama, Raja Jayadana. Kerajaan yang dibawahinya memasuki era Islam berpusat di Kota Guguk dan Kota Beriang dekat Kadai Gadang sekarang. Pada saat itu ada tiga kota besar di sana termasuk kota. Kerajaan Barus tengah berada di puncak kejayaannya., berkat hasil bumi yang melimpah ruahd an penghasil komoditi langka yang sangat dibutuhkan pada zamannya. Sebutlah itu kapur Barus Raya terdapat pelabuhan tertua di dunia yang menjadi salah satu pusat niaga internasional.

Terpenting dari segala kelebihan”ter” itu, raja Jayadana memiliki seorang permaisuri (Ratu) Puteri Runduk yang cantik jelita. Bersamaan dengan datangnya para saudagar dan pemerintahan negeri asing ke Barus semakin santerlah berita mengenai kecantikan sang Permaisuri. Beberapa raja yang terkesima mendengar beritanya kemudian hari berspekulasihendakmerebut Putei Runduk. Dan sudah tentu, untuk dapat memilikinya bukanlah hal mudah. Raja-raja yang kesemsem asmara antara lain, Raja Janggi dari Sudan, Afrika dan Raja Sanjaya dari kerajaan Mataram. Tentu belum terhitung para saudagar dan pelaut yang isi kantongnya hanya udang dan kepiting. Dua kerajaan besar di atas sampai menggelar kekuatan perang untuk mendapatkan dua kemungkinan : jatuhnya Kerajana Barus yang makmur berikut ratu nan cantk jelita. Tetapi satu orang dari antara mereka, Raja Cina datang memingan baik-baik.

Dalam gelar parade kekuatan ini, Raja Sanjaya dari Jawa berhasil memenangkan pertarungan. Raja Jayadana tewas dan istrinya Puteri Runduk berhasil ditawan. Dia terpaksa ditawan oleh karena tidak mau dipersunting secara baik-baik. Soalnya raja Sanjaya beragama Hindu sedangkan kerajaan Jayadan dikenal sebagai kerajaan Islam dan ini menjadi sesuatu yang prinsip. Maka lahirlah pantun :

Kota Guguk Kota Bariang

Ketiga kota di Muara

Ayam berkokok hari siang

Puteri Runduk ditawan Jawa

Tetapi rupanya diam-diam Raja Janggi menghimpun kekuatan dan menyerang pasukan Sanjaya secara membabi buta. Panik oleh karena pertempuran baru terjadi di wilayah Barus membuat kota Guguk dan pusat istana kerajaan porakporanda. Sementara Raja Janggi berhasil mempecundangi Raja Sanjaya, sekelompok pengawal setia yang tersisa dari istana kerajaan Jayadana bersama para dayang-dayang menyingkirkan Ratu Puteri Runduk dari kerajaan para diktator ke pulau Morsala. Dalam pelarian inilah peralatan yang dibawa rombongan Puteri Runduk berceberan sepanjang pulau-pulau, maka dinamailah pulau-pulau tersebut sesuai nama barang yang tercecer, antara lain : Pulau Situngkus, Pulau Lipat Kain, Pulau Terika, Pualu Puteri dan lain-lain.

Raja Janggi mengejar sampai ke Pulau Morsala dan ketika hendak mendekap ratu yang sudah di muka hiudng,Puteri Runduk memukulkan tongkat bertuah akar bahar (tongkat warisan RajaBarus) ke kepala Raja Janggi. Berikut pantunnya :

Pulau Puteri Pulau Penginang

Ketiga Pulau anak Janggi

Lapik putih bantal bermiang

Racun bermain dalam hati

Servisnya baik karena lapik putih, tapi sayang bantalnya bermiang, orang yang tidur jadi gatalan. Pantun lain pendukung menyebut, lebatlah hujan di Morsala/Kembanglah bunga para utan/bintang di langit punya salah/ombak di laut menanggungkan; pulau Talam Pulau tarika/ketiga pulau lipat kain/sauh putus pendarat patah/haluan berkesar ke jalan lain.

Dalam pengejaran yang tak putus-putus, si wanita lemah nan rupawan Puteri Runduk putus asa dan melompat ke laut…hilang tanpa bekas.

Salah satu pembantunya yang setia bernama Sikambang Bandahari seorang pemuda yang sehari-harinya dalam urusan rumah tangga kerajaan, anak nelayan miskin. Maka, merataplah Sikambang dengan sedihnya, meratap kehilangan majikan, menyesali tindakan bunuh diri sang permaisuri, menyesalsikap brutal raja-raja lalim, menyesali dirinya yang tak kuasa mempertahankan keselamatan Puteri Runduk. Ratapan Sikambang memanjang tak putus-putus, dari hari ke hari, ratapan legendaris yang menyinggung segala aspek, kemashuran, kejayaan, kedamaian sampai gambaran kecantikan puteri-puteri Barus dan sebagainya.

Kerajaan Islam Puteri Runduk pada jayanya kaya dengan seni dan budaya. Abad ke-7 M, masyarakat pesisir sudah memiliki kebudayaan sendiri, berikut keseniannya seperti serampang 12, bersanggu gadang, bakonde, berinai, mengasah gigi, turun air, berkambabodi, berkelambu kain kuning, berpayung kuning, bertabir langit-langit dan sebagainya.


Selmat mengikuti & Mohon bagi cendolnya Gan
erwinjvc - 05/05/2009 03:51 PM
#42

legenda yg menarik...thumbup:

sayangnya aku gak bisa kasih cendol cendolb
yanrusso - 06/05/2009 12:37 AM
#43

Quote:
Original Posted By erwinjvc
legenda yg menarik...thumbup:

sayangnya aku gak bisa kasih cendol cendolb


Sila dukung juga trit ini dengan memberi sumbaggan cerita2 Legendanya Gan

sup:sup:sup:
yanrusso - 06/05/2009 06:31 AM
#44

LEGENDA NAMORA PANDE BOSI

Selama berabad-abad lamanya dan sampai sekarang masyarakat Mandailing mempercayai bahawa Namora Pande Bosi adalah nenek moyang orang-orang Mandailing yang bermarga Lubis.

Spoiler for "Namora Pande Bosi"
Menurut legendanya, Namora Pande Bosi berasal dari Bugis di Sulawesi Selatan. Dalam pengembaraannya dia sampai ke satu tempat yang bernama Sigalangan di Tapanuli Selatan. Kemudian dia berkahwin dengan puteri raja di tempat tersebut dan terkenal sebagai pandai besi yang mulia. Namora Pande Bosi dan isterinya yang bergelar Nan Tuan Layan Bolan mendapat dua orang anak lelaki yang diberi nama Sutan Borayun dan Sutan Bugis. Pada suatu ketika Namora Pande Bosi pergi meyumpit burung ke tengah hutan dan di sana dia bertemu dengan seorang puteri orang bunian dan mengahwininya. Menurut satu cerita, wanita itu adalah orang Lubu (orang asli). Dari perkahwinannya itu, Namora Pande Bosi mendapat dua orang anak lelaki kembar yang masing-masing diberi nama Si Langkitang dan Si Baitang. Ketika kedua anak tersebut masih dalam kandungan, Namora Pande Bosi meninggalkan isterinya dan kembali ke Hatongga. Menjelang dewasa Si Langkitang dan Si Baitang pergi mencari bapa mereka dan menemukannya di Hatongga. Lalu mereka tinggal bersama keluarga bapa mereka di tempat tersebut. Tidak beberapa lama kemudian, terjadilah perselisihan antara anak-anak Namora Pande Bosi itu dengan anak-anaknya bersama puteri raja Sigalangan. Maka Namora Pande Bosi menyuruh anaknya Si Langkitang dan Si Baitang meninggalkan Hatongga. Mereka disuruhnya pergi ke daerah Mandailing dan jika mereka menemukan tempat di mana terdapat dua sungai yang mengalir dari dua arah yang tepat bertentangan (dalam bahasa Mandailing dinamakan muara patontang) di situlah mereka membuka tempat pemukiman baru. Setelah lama mengembara akhirnya Si Langkitang dan Si Baitang menemukan muara patontang, lantas mereka membuka pemukiman baru di tempat itu. Tidak lama setelah ditinggalkan anaknya Si Langkitang dan Si Baitang, Namora Pande Bosi meninggal dunia dan dimakamkan di Hatongga. Makam tersebutlah yang akan dipugar. Isterinya Nan Tuan Layan Bolon yang meninggal kemudian dimakamkan di satu tempat yang bernama Hombang Bide, kurang lebih 2km dari Hatongga. Makamnya masih ada di situ sampai sekarang. Semua keturunan Si Langkitang dan Si Baitang yang menyebar di seluruh tanah Mandailing dan di tempat-tempat lain dikenali sebagai orang-orang Mandailing yang bermarga Lubis. Dalam tarombo marga Lubis yang disusun oleh Raja Junjungan pada tahun 1897, ada juga tercatat bahawa nama isteri Namora Pande Bosi ialah Boru Dalimunte Naparila, artinya puteri Dalimnte yang pemalu. Makam Namora Pande Bosi Dengan petunjuk dari keturunan raja Sigalangan, Makam Namora Pande Bosi ditemukan pada tahun 1963 di Hatongga. Makam tokoh legendaris yang sangat terkenal itu terletak di tengah persawahan penduduk setempat. Makam tersebut berada kurang lebih 2km jauhnya dari Jalan Raya Lintas Sumatra yang melalui desa Sigalangan, kurang lebih 14km jauhnya dari kota Padang Sidimpuan (ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan). Atas usaha sejumlah orang Mandailing bermarga Lubis, kurang lebih 1.6km panjangnya jalan dari desa Sigalangan ke arah makam Namora Pande Bosi sudah dibangunkan sehingga dapat ditempuh dengan kenderaan bermotor (kereta). Tetapi jalan menuju ke makam tersebut, yang panjangnya kurang lebih 232 meter masih harus dibangun supaya dapat dilalui dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan kenderaan. Jika jalan yang panjangnya kurang lebih 232 meter tersebut sudah dibangun, maka para penziarah yang selalu banyak berdatangan mengunjungi Namora Pande Bosi, di antaranya dari Malaysia, akan mudah mendatangi makam yang dimuliakan itu. Menurut rencana jalan yang panjangnya 232 meter itu akan dibangun dengan lebar 3 meter.
yanrusso - 06/05/2009 12:46 PM
#45

LEGENDA SAMPURAGA

Salah satu cerita yang diwariskan secara turun temurun di Mandailing adalah cerita ataupun "Legenda Sampuraga". Dahulu, Sampuraga dan ibunya tinggal di tempat daerah Padang Bolak. Keadaan sangat miskin di tempat ini, sehingga menyebabkan Sampuraga berkeinginan untuk merubah kehidupannya. Dia tidak ingin pekerjaannya hanya mencari kayu bakar setiap harinya. Ia ingin menjadi pemuda yang membayangkan masa depan yang cerah. Kemudian ia berniat untuk merantau dan mohon izin pada ibunya yang sudah sangat tua. Sampuraga meninggalkan orang tuanya dengan linangan air mata. Dia berjanji akan membantu keadaan ibunya apabila telah berhasil kelak. Ibunya kelihatan begitu sedih, karena Sampuraga adalah putera satu-satunya yang dimilikinya. Ia melepas kepergian putranya dengan tetesan air mata.

Sampuraga terus melanjutkan petualangannya dengan kelelahan yang terus menerus. Setelah beberapa lama sampailah ia ke Pidelhi (Pidolo sekarang), dan berdiam disana untuk beberapa waktu. Kemudian dilanjutkannya perjalanannya ke Desa Sirambas. Pada waktu itu Sirambas dipimpin oleh seorang raja yang bernama Silanjang (Kerajaan Silancang). Ditempat ini Sampuraga bekerja keras yang merupakan kebiasannya sejak masa kanak-kanak. Rajapun tertarik dan ingin menjodohkannya pada putrinya. Tentu saja Sampuraga sangat senang setelah mengetahui hal ini. Raja bermaksud membuat pesta besar, semua raja-raja di sekitar Mandailing diundang. Sementara ibunya sangat rindu pada putranya. Sampuraga telah tumbuh menjadi dewasa dengan begitu banyak perubahan. Dia tidak lagi seorang yang miskin seperti dahulu. Dia adalah lelaki yang kaya raya dan menjadi seorang raja. Ketika upacara perkawinan tiba, ibunya dating ke pesta itu berharap dapat berjumpa denga putranya secepatnya. Tetapi apa yang terjadi ??? Sampuraga tidak mengakui kalau itu adalah ibunya. Dia malu kepada istrinya karena ibunya kelihatan sangat tua renta dan miskin, dia menyuruh ibunya untuk pergi dari tempat itu. Sampuraga berkata "Hei orang tua, kamu bukan ibu kandungku, ibuku telah lama meninggal dunia. Pergi…!!!" Sampuraga tidak peduli dengan kesedihan dan penderitaan ibunya. Ibunya pun pergi sambil memohon dan berdo'a kepada Allah SWT, Sampuraga dikutuk oleh ibunya dan kedurhakaannya tidak lain adalah disebabkan oleh kekayannya, ibunya memeras air susunya, Sampuraga lupa bahwa ia pernah disusui oleh ibunya. Atas kehendak Allah SWT, datanglah badai tiba-tiba disekitar tempat istana menjadi banjir dan dihempas oleh air. Sampuraga tenggelam dan tempat itu menjadi Sumur Air Panas. Itulah yang dikenal dengan Air Panas Sampuraga di Desa Sirambas.
yanrusso - 06/05/2009 05:20 PM
#46

sup:
sup:sup:
sup:sup:sup:

Ditunggu sumbangan cerita dan Ijo-ijonya
yanrusso - 07/05/2009 10:12 AM
#47

ASAL USUL ORANG NIAS (Menurut Legenda Nias)

Asal usul orang Nias seringkali menjadi bahan polemik diantara orang-orang Nias, karena hingga saat ini terlalu benyak versi mengenai ASAL USUL ORANG NIAS, dan belum ada satupun diantara pendapat para ahli / para penulis yang dapat dijadikan sebagai suatu yang mutlak kebenarannya yang dapat diterima dan dipercayai oleh orang-orang Nias. Oleh karena itu saya merasa terpanggil untuk menyajikan tulisan ini, yang merupakan rangkuman hasil pengalaman saya dari tua-tua Adat Nias, sebagai pemicu semangat orang-orang Nias agar menelusuri terus tentang asal usul kita.

Menurut Legenda yang sangat dipercayai oleh sebagian masyarakat Nias terutama yang tinggal di pedesaan, bahwa asal usul orang Nias adalah diturunkan dari langit (NIDADA MOROI BA LANGI). Hal ini dilatarbelangi oleh keterbatasan pemahaman / pengetahuan mereka mengenai ilmu pengetahuan, sehingga beranggapan bahwa didunia ini hanya ada satu daratan yaitu hanya daratan Pulau Nias atau TANÖ NIHA, itulah sebabnya orang Nias menyebut dirinya sebagai ONO NIHA.

Mengingat sebagian istilah dalam bahasa Niasnya kurang tepat apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka saya menuliskannya dalam Bahasa Daerah Nias, dan pada penekanan-penekanan tertentu saya juga akan menuliskan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Dan setiap tahapan tertentu saya akan memetik suatu makna yang terkandung didalamnnya, yang dapat menjadi bahan renungan / pembelajaran bagi kita.


Spoiler for "CERITA SELENGKAPNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT :"



Ketika Raja Sirao sudah mulai tua, maka ia pusing tujuh keliling, karena ke 9 orang anak-anaknya semuanya ingin menjadi pengganti Sirao sebagai Raja.

Ke sembilan anak Sirao adalah sebagai berikut :
1. Tuada Bawuadanỡ
2. Tua Zangarỡfa
3. Tua Bela
4. Tua Simanga Buaweto Alitỡ
5. Tua Samadu Sonamo Dalỡ
6. Hia Walangi Adu
7. Gỡzỡ Hela-hela Danỡ
8. Daeli Sanau Talinga
9. Luo Mewỡna

Lalu Sirao memanggil / mengumpulkan ke-9 orang anak-anaknya, mengatakan bahwa : Siapa yang akan menggantikan posisinya sebagai raja, dia akan mempunyai tanda-tanda, yaitu “ Barang Siapa diantara ke-9 anak-anaknya, yang dapat menari seperti burung rajawali atau seperti burung elang diatas ujung tombak khusus sang Raja, maka dialah yang akan menggantikan Sirao sebagai Raja.


Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
 Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu menganggap dirinya sebagai anak raja, sehingga sangat tersinggung dan marah apabila ada yang mengatakan orang Nias ada yang menjadi budak, karena prinsipnya adalah : “ FAOMA ITA ONO NAMADA”, artinya kita adalah sama-sama berasal dari keturunan orang terhormat. Hal ini membuat orang Nias selalu menjaga sikap / perilakunya dilingkungan dimana ia berada. Namun hal ini pula yang membuat kita kadang-kadang terkesan angkuh / sombong.

Tuan Bawuadanỡ putra Raja Sirao yang ke-1, menjawab bahwa karena ia putra yang pertama, maka dialah yang berhak menjadi raja menggantikan Sirao ayahnya setelah meninggal kelak. Lalu Sirao menyuruh Bawuadanỡ, menari diatas ujung tombak dan ternyata ia gagal, dan karena itu maka Bawuadanỡ diturunkan ke bumi yang luas, dan jatuh ditengah-tengah pusaran bumi, sehingga ia menjadi PENOPANG BUMI.

Itulah sebabnya dalam kepercayaan orang tua-tua dulu, melarang seseorang untuk mengucapkan Sumpah Palsu dengan menyebutkan nama Tuada Bawua Danỡ, sebab ia akan marah kalau seseorang melakukan sumpah palsu dengan menyebut namanya, sehingga orang tersebut dalam waktu yang tidak terlalu lama pasti akan mendapatkan hukuman yaitu Kematian.


Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
 Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal dan mengutamakan kejujuran (tidak berdusta atau berkata bohong), sebab kalau tidak jujur maka akan mendapatkan hukuman yaitu Kematian.

Setelah Tuan Bawuadanỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-2 yaitu Tuan Zangarỡfa melompat sambil mengatakan bahwa karena ia putra ke-2, maka dialah yang berhak menjadi raja menggantikan ayahnya Sirao, apabila Sirao meninggal dunia kelak. Dan iapun gagal, sama seperti abangnya Bawuadanỡ, dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh ditengah-tengan air sehingga ia menjadi PENGUASA AIR.

Itulah sebabnya dalam kepecayaan orang tua-tua dulu, dilarang membuang air besar di sungai soalnya Tua Zangarỡfa akan marah karena sumber airnya kotor. Akibatnya dapat menyebabkan kecelakaan / hanyut (Ahani) kalau menyeberangi sungai saat banjir (Mangỡtỡ Molỡ) atau tidak mendapatkan ikan (Lỡ ahulu) kalau hendak memancing atau menjala atau mencari ikan di Sungai.


Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
 Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal dan mengutamakan kebersihan, sebab kalau tidak maka akan mendapatkan hukuman yaitu Hidup Tidak beruntung (sial).

Setelah Tuan Zangarỡfa diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-3 yaitu Tuan Bela, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Zangarỡfa dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh diatas pohon yang besar sehingga ia menjadi PENGUASA POHON.

Itulah sebabnya dalam kepecayaan orang tua-tua dulu, Dilarang keluar rumah kalau sedang hujan campur panas (Teu Sino) dan setelah teu sino biasanya akan dilanjutkan dengan angina kencang dan hujan lebat, sebab Tuada Bela sedang marah karena hutannya banyak yang dirusak, sehingga ia kekurangan tempat berteduh. Orang yang keluar rumah saat itu bisa-bisa sakit atau Tesafo, dan akibat hujan deras beserta angin kencang maka menyebabkan pepohonan bertumbangan dan banjir.

Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
 Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal masalah kesehatan dan menjaga kelestarian lingkungan sebab kalau tidak maka akan mendapatkan hukuman yaitu Penyakit dan Bencana Alam.

Setelah Tuan Bela diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-4 yaitu Tuan Simanga Bua Weto Alitỡ, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Bela dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh diatas batu yang besar sehingga ia menjadi GURU BLACK MAGIC di Nias.

Tuada Simanga Bua Weto Alitỡ dipercayai sebagai kakeknya Laowỡmaru, yang punya cita-cita menghubungkan dataran Nias dengan Dataran Sumatera namun tidak sempat karena dia keburu meninggal.

Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
 Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, dan mengajarkannya kepada anak-anaknya sebab kalau berbuat jahat maka akan mendapatkan hukuman yaitu : Umur tidak panjang dan cita-cita tidak pernah tercapai.

Setelah Tuan Simanga Bua Weto Alitỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-5 yaitu Tuan Samadu Sonamo Dalỡ, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Simanga Bua Weto Alitỡ dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh diatas puncak Gunung Gui-gui (yang merupakan salah satu gunung tertingggi di Nias) sehingga ia menjadi GURU PARA DUKUN DAN TUKANG RAMAL di Nias.

Tuan Samadu Sonamo Dalỡ, dipercayai sebagai gurunya para Dukun dan Tukang Ramal dapat menyembuhkan orang sakit karena bala/guna-guna dan dapat meramal nasib seseorang


Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
 Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal cara-cara pengobatan tradisional dan cara meramal nasib, tapi harus digunakan untuk menolong sesama bukan untuk menyakiti orang lain.


Setelah Tuan Samadu Sonamo Dalỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-6 yaitu Tuan Hia Walangi Adu, Tuan Hia Walangi Luo, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Samadu Sonamo Dalỡ dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh daerah Gomo.Dan setelah Tuan Hia diturunkan ke bumi, maka bumi Nias di bagian Selatan menjadi miring.


Setelah Tuan Hia Walangi Adu, Tuan Hia Walangi Luo diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-7 yaitu Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Hia Walangi Adu, Tuan Hia Walangi Luo dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh daerah bagian Utara Pulau Nias. Dan setelah Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ diturunkan ke bumi, maka bumi Nias melengkung.


Setelah Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-8 yaitu Tuan Daeli Sanau Talinga, Tuan Daeli Sanau Tumbo, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ, dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh di Tỡla Maera Talu Nidanoi. Dan oleh karena Tuan Daeli merupakan anak kesayangan dari Tuan Sirao, maka ketika Tuan Daeli diturunkan ke bumi Tanỡ Niha bersamanya diikutsertakan Seperangkat Perhiasan Emas dan Perak, Peralatan Tombak dan Pedang serta berbagai Alat Timbangan. Dan setelah Tuan Daeli diturunkan ke bumi, maka bumi Nias menjadi rata dan tidak lagi melengkung.

Pada akhirnya satu-satunya Keturunan Tuan Sirao yang tinggal diatas langit yaitu Tuan Luo Mewỡna, yang dipercayai sebagai penguasa Matahari dan Bulan, sehingga kalau hujan turun berarti Tuan Luo Mewỡna sedang bersedih hati, dan kalau bulan purnama yang cerah berarti Tuan Luo Mewỡna sedang senang hati / bergembira.


selamat minikmati ya.........di tunggu cendolbig nya
Lex edward - 07/05/2009 11:34 AM
#48

Quote:
Original Posted By yanrusso
ASAL USUL ORANG NIAS (Menurut Legenda Nias)

Asal usul orang Nias seringkali menjadi bahan polemik diantara orang-orang Nias, karena hingga saat ini terlalu benyak versi mengenai ASAL USUL ORANG NIAS, dan belum ada satupun diantara pendapat para ahli / para penulis yang dapat dijadikan sebagai suatu yang mutlak kebenarannya yang dapat diterima dan dipercayai oleh orang-orang Nias. Oleh karena itu saya merasa terpanggil untuk menyajikan tulisan ini, yang merupakan rangkuman hasil pengalaman saya dari tua-tua Adat Nias, sebagai pemicu semangat orang-orang Nias agar menelusuri terus tentang asal usul kita.

Menurut Legenda yang sangat dipercayai oleh sebagian masyarakat Nias terutama yang tinggal di pedesaan, bahwa asal usul orang Nias adalah diturunkan dari langit (NIDADA MOROI BA LANGI). Hal ini dilatarbelangi oleh keterbatasan pemahaman / pengetahuan mereka mengenai ilmu pengetahuan, sehingga beranggapan bahwa didunia ini hanya ada satu daratan yaitu hanya daratan Pulau Nias atau TANÖ NIHA, itulah sebabnya orang Nias menyebut dirinya sebagai ONO NIHA.

Mengingat sebagian istilah dalam bahasa Niasnya kurang tepat apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka saya menuliskannya dalam Bahasa Daerah Nias, dan pada penekanan-penekanan tertentu saya juga akan menuliskan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Dan setiap tahapan tertentu saya akan memetik suatu makna yang terkandung didalamnnya, yang dapat menjadi bahan renungan / pembelajaran bagi kita.


Spoiler for "CERITA SELENGKAPNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT :"



Ketika Raja Sirao sudah mulai tua, maka ia pusing tujuh keliling, karena ke 9 orang anak-anaknya semuanya ingin menjadi pengganti Sirao sebagai Raja.

Ke sembilan anak Sirao adalah sebagai berikut :
1. Tuada Bawuadanỡ
2. Tua Zangarỡfa
3. Tua Bela
4. Tua Simanga Buaweto Alitỡ
5. Tua Samadu Sonamo Dalỡ
6. Hia Walangi Adu
7. Gỡzỡ Hela-hela Danỡ
8. Daeli Sanau Talinga
9. Luo Mewỡna

Lalu Sirao memanggil / mengumpulkan ke-9 orang anak-anaknya, mengatakan bahwa : Siapa yang akan menggantikan posisinya sebagai raja, dia akan mempunyai tanda-tanda, yaitu “ Barang Siapa diantara ke-9 anak-anaknya, yang dapat menari seperti burung rajawali atau seperti burung elang diatas ujung tombak khusus sang Raja, maka dialah yang akan menggantikan Sirao sebagai Raja.


Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
 Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu menganggap dirinya sebagai anak raja, sehingga sangat tersinggung dan marah apabila ada yang mengatakan orang Nias ada yang menjadi budak, karena prinsipnya adalah : “ FAOMA ITA ONO NAMADA”, artinya kita adalah sama-sama berasal dari keturunan orang terhormat. Hal ini membuat orang Nias selalu menjaga sikap / perilakunya dilingkungan dimana ia berada. Namun hal ini pula yang membuat kita kadang-kadang terkesan angkuh / sombong.

Tuan Bawuadanỡ putra Raja Sirao yang ke-1, menjawab bahwa karena ia putra yang pertama, maka dialah yang berhak menjadi raja menggantikan Sirao ayahnya setelah meninggal kelak. Lalu Sirao menyuruh Bawuadanỡ, menari diatas ujung tombak dan ternyata ia gagal, dan karena itu maka Bawuadanỡ diturunkan ke bumi yang luas, dan jatuh ditengah-tengah pusaran bumi, sehingga ia menjadi PENOPANG BUMI.

Itulah sebabnya dalam kepercayaan orang tua-tua dulu, melarang seseorang untuk mengucapkan Sumpah Palsu dengan menyebutkan nama Tuada Bawua Danỡ, sebab ia akan marah kalau seseorang melakukan sumpah palsu dengan menyebut namanya, sehingga orang tersebut dalam waktu yang tidak terlalu lama pasti akan mendapatkan hukuman yaitu Kematian.


Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
 Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal dan mengutamakan kejujuran (tidak berdusta atau berkata bohong), sebab kalau tidak jujur maka akan mendapatkan hukuman yaitu Kematian.

Setelah Tuan Bawuadanỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-2 yaitu Tuan Zangarỡfa melompat sambil mengatakan bahwa karena ia putra ke-2, maka dialah yang berhak menjadi raja menggantikan ayahnya Sirao, apabila Sirao meninggal dunia kelak. Dan iapun gagal, sama seperti abangnya Bawuadanỡ, dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh ditengah-tengan air sehingga ia menjadi PENGUASA AIR.

Itulah sebabnya dalam kepecayaan orang tua-tua dulu, dilarang membuang air besar di sungai soalnya Tua Zangarỡfa akan marah karena sumber airnya kotor. Akibatnya dapat menyebabkan kecelakaan / hanyut (Ahani) kalau menyeberangi sungai saat banjir (Mangỡtỡ Molỡ) atau tidak mendapatkan ikan (Lỡ ahulu) kalau hendak memancing atau menjala atau mencari ikan di Sungai.


Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
 Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal dan mengutamakan kebersihan, sebab kalau tidak maka akan mendapatkan hukuman yaitu Hidup Tidak beruntung (sial).

Setelah Tuan Zangarỡfa diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-3 yaitu Tuan Bela, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Zangarỡfa dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh diatas pohon yang besar sehingga ia menjadi PENGUASA POHON.

Itulah sebabnya dalam kepecayaan orang tua-tua dulu, Dilarang keluar rumah kalau sedang hujan campur panas (Teu Sino) dan setelah teu sino biasanya akan dilanjutkan dengan angina kencang dan hujan lebat, sebab Tuada Bela sedang marah karena hutannya banyak yang dirusak, sehingga ia kekurangan tempat berteduh. Orang yang keluar rumah saat itu bisa-bisa sakit atau Tesafo, dan akibat hujan deras beserta angin kencang maka menyebabkan pepohonan bertumbangan dan banjir.

Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
 Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal masalah kesehatan dan menjaga kelestarian lingkungan sebab kalau tidak maka akan mendapatkan hukuman yaitu Penyakit dan Bencana Alam.

Setelah Tuan Bela diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-4 yaitu Tuan Simanga Bua Weto Alitỡ, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Bela dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh diatas batu yang besar sehingga ia menjadi GURU BLACK MAGIC di Nias.

Tuada Simanga Bua Weto Alitỡ dipercayai sebagai kakeknya Laowỡmaru, yang punya cita-cita menghubungkan dataran Nias dengan Dataran Sumatera namun tidak sempat karena dia keburu meninggal.

Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
 Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, dan mengajarkannya kepada anak-anaknya sebab kalau berbuat jahat maka akan mendapatkan hukuman yaitu : Umur tidak panjang dan cita-cita tidak pernah tercapai.

Setelah Tuan Simanga Bua Weto Alitỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-5 yaitu Tuan Samadu Sonamo Dalỡ, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Simanga Bua Weto Alitỡ dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh diatas puncak Gunung Gui-gui (yang merupakan salah satu gunung tertingggi di Nias) sehingga ia menjadi GURU PARA DUKUN DAN TUKANG RAMAL di Nias.

Tuan Samadu Sonamo Dalỡ, dipercayai sebagai gurunya para Dukun dan Tukang Ramal dapat menyembuhkan orang sakit karena bala/guna-guna dan dapat meramal nasib seseorang


Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
 Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal cara-cara pengobatan tradisional dan cara meramal nasib, tapi harus digunakan untuk menolong sesama bukan untuk menyakiti orang lain.


Setelah Tuan Samadu Sonamo Dalỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-6 yaitu Tuan Hia Walangi Adu, Tuan Hia Walangi Luo, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Samadu Sonamo Dalỡ dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh daerah Gomo.Dan setelah Tuan Hia diturunkan ke bumi, maka bumi Nias di bagian Selatan menjadi miring.


Setelah Tuan Hia Walangi Adu, Tuan Hia Walangi Luo diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-7 yaitu Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Hia Walangi Adu, Tuan Hia Walangi Luo dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh daerah bagian Utara Pulau Nias. Dan setelah Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ diturunkan ke bumi, maka bumi Nias melengkung.


Setelah Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-8 yaitu Tuan Daeli Sanau Talinga, Tuan Daeli Sanau Tumbo, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ, dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh di Tỡla Maera Talu Nidanoi. Dan oleh karena Tuan Daeli merupakan anak kesayangan dari Tuan Sirao, maka ketika Tuan Daeli diturunkan ke bumi Tanỡ Niha bersamanya diikutsertakan Seperangkat Perhiasan Emas dan Perak, Peralatan Tombak dan Pedang serta berbagai Alat Timbangan. Dan setelah Tuan Daeli diturunkan ke bumi, maka bumi Nias menjadi rata dan tidak lagi melengkung.

Pada akhirnya satu-satunya Keturunan Tuan Sirao yang tinggal diatas langit yaitu Tuan Luo Mewỡna, yang dipercayai sebagai penguasa Matahari dan Bulan, sehingga kalau hujan turun berarti Tuan Luo Mewỡna sedang bersedih hati, dan kalau bulan purnama yang cerah berarti Tuan Luo Mewỡna sedang senang hati / bergembira.


selamat minikmati ya.........di tunggu cendolbig nya


Sorry ya Mas cuma bisa menikmati ceritanya aja, belum bisa nambahi ataupun ngasi Cendol. hehehe...........
yanrusso - 08/05/2009 02:34 AM
#49

Quote:
Original Posted By Lex edward
Sorry ya Mas cuma bisa menikmati ceritanya aja, belum bisa nambahi ataupun ngasi Cendol. hehehe...........


Gak apa yg penting trit ini bisa di nikmati walau hanya sebagian kecil org
VCMAN - 08/05/2009 04:55 AM
#50

^^^
KEEP POST TS thumbup:
Saia sedang memantau perkembangan ne THREAD tuk dimasupkan ke LINK Penting RPM malu:
yanrusso - 08/05/2009 09:59 AM
#51

Quote:
Original Posted By VCMAN
^^^
KEEP POST TS thumbup:
Saia sedang memantau perkembangan ne THREAD tuk dimasupkan ke LINK Penting RPM malu:


Terima kasih nih bang VCMAN
yanrusso - 08/05/2009 11:02 AM
#52

Legenda Mas Merah

"Kisah Percintaan antara Serawak Malaysia dan Medan Labuhan Belawan"

Spoiler for "Kisah Cerita"
Pada tahun 1890 seorang pria bernama Salam tinggal di Serawak Malaysia dan mempunyai abang bernama Amran. Salam telah menjalin hubungan secara diam-diam dengan gadis bernama Rukiah. Hubungan ini tidak diketahui oleh orangtua Salam. Rukiah adalah seorang gadis baik dan berparas cantik.

Ayah Salam ingin menikahkan Amran dengan seorang gadis. Pada suatu hari ia bertanya pada Amran apakah dia ingin menikah. Karena dilihatnya Amran sudah "berumur". Amran menjawab, "Kalau Ayah hendak menikahkan aku, terserah pada Ayah saja,". Konon pada jaman dahulu, pasangan hidup diatur oleh orangtua. Ayahnya kembali bertanya pada Amran, "Siapa yang kau suka untuk menjadi istrimu?". "Terserah siapa yang Ayah suka untuk menjadi istriku, aku ikut saja,". Pilihan satu-satunya gadis yang baik dan cantik di daerah Serawak ialah Rukiah.

Singkat cerita, dinikahkanlah Amran dengan Rukiah. Saat pernikahan mereka, Salam menjadi putus asa. Beberapa waktu kemudian Salam menjumpai Rukiah, dan berkata, "Kalau memang abangku yang menjadi jodohmu, ya sudah, apa yang bisa kita perbuat. Itu sudah kemauan orang tua. Daripada nantinya aku melihat kau bersenang-senang dengan abangku, lebih baik aku pergi dari sini,". Konon Salam melemparkan batu sebanyak tiga buah di tanah Serawak. Ia berkata, "Kalau timbul tiga buah batu yang kulempar di tanah Serawak ini, barulah aku akan pulang,".

Saat pementasan di daerah Medan Labuhan, dengan kehendak Tuhan, Salam bertemu dengan Salmah. Salmah adalah kembang di Medan Labuhan-Belawan. Ayah Salmah bernama H. Kasim. Ibu Salmah berhutang pada seorang keturunan India bernama Tambi namun ia tidak mampu membayar hutangnya. Lalu Tambi mengatakan pada orangtua Salmah, "Kalau memang hutang Anda tidak bisa terbayar, ya sudah,". Namun melihat hutangnya yang tidak terbayar maka H. Kasim kembali berkata pada Tambi, "Untuk mengikat erat persaudaraan bagaimana kalau Salmah saya kawinkan dengan Anda,".

Di saat acara perkawinan Salmah dengan Tambi, pementasan sandiwara ini diundang untuk mengisi acara tersebut. Salam memainkan biola sambil menyanyikan sebuah lagu yang berjudul "Kau adalah Mas Merahku". Isi bait dari lagunya seperti ini:

Sayang Mas Merah jangan merajuk

Mari kemari abang nan bujuk

Kalau ada penawar yang sejuk

Racun kuminum haram tak mabuk

Sayang selasih dibawa dulang

Mekar satu di atas peti

Sayang kekasih Mas Merahku sayang

Biar Bang Salam membawa diri

Mendengar bait ini, Salmah langsung jatuh pingsan. Masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa Salmah adalah Mas Merah yang disebut Salam dalam lagunya. Salam kembali berputus asa dan kemudian pergi ke laut untuk menjadi nelayan di daerah Brandan.

Setelah melaut selama berbulan-bulan, Salam dapat melupakan Salmah. Namun Salmah tidak menyukai Tambi dan akhirnya mereka akhirnya bercerai.

Pulau Kampai awalnya adalah hutan yang lebat. Dan tidak seorang pun dari masyarakat Belawan yang berani membuka lahan hutan Pulau Kampai tersebut. Orang yang dituakan di daerah ini adalah H. Makminias. H. Makminias berkata bahwa ia tidak berani membuka hutan ini. "Yang berani adalah abangku yaitu H. Kasim," tambahnya. H. Kasim adalah ayah Salmah yang tinggal di Belawan.

Maka H. Makminias menjemput H. Kasim beserta anaknya Salmah. Namun, di tengah perjalanan mereka dirampok penyamun yang dikenal dengan Pendekar Nayan (Pendekar Senayan). Mereka diikat di tiang layar. Salmah dibawa ke tempat para penyamun dan ia berteriak meminta pertolongan.

Saat itu Salam bersama temannya Husein sedang melaut di kawasan itu. Mendengar teriakan seorang wanita, Salam hendak menolong namun dihalangi oleh Husein. Husein berkata pada Salam, "Aku tidak berani kesana. Daerahnya sangat angker. Biasanya orang yang pergi kesana pasti tidak bisa kembali pulang,".

Namun keinginan Salam untuk menolong wanita tersebut tidak bisa terhalangi oleh temannya Husein. Akhirnya terjadilah perkelahian antara Pendekar Nayan dengan Salam. Akhirnya Pendekar Nayan kalah dan bertemulah Salam dengan Salmah. H. Kasim yang awalnya tidak menyukai Salam akhirnya berbaik hati.

Salam pergi ke mana saja dengan membawa biola. Dan ia selalu menyanyikan lagu "Kau adalah Mas Merahku". Di daerah itu ada seorang tauke ikan yang merantau dari Malaysia ke Pulau Kampai bernama Tu Awang Muhammadin. Ia membeli ikan-ikan dari para nelayan dan dikenal dengan sifatnya yang baik hati.

Salam yang dulunya menjual ikan di Pulau Sembilan dan Brandan, kini hanya menjual ikannya di Pulau Kampai. Tanpa diketahui Salam, Tu Awang Muhammadin selalu memperhatikan gelagat Salam yang selalu termenung. Ia juga melihat hubungan Salam dengan Salmah yang sudah serius.

Tu Awang Muhammadin menanyakan kepada Salam, "Lam, apakah kau mau menikah? Jangan hanya pergi ke laut saja. Kalau memang engkau mau, akan kunikahkan kalian,".

Salam menjawab, "Terserah Tu Awang saja,". Kemudian Tu Awang kembali menanyakan kepada Salam, "Siapa yang jadi pilihanmu?". Pilihan jatuh pada Salmah.

Mereka menikah selama sepuluh tahun dan tidak mempunyai keturunan. Suatu hari keduanya terkena penyakit cacar. Pada tahun 1920 tepatnya pada hari Jumat pukul 05.00 pagi Salam meninggal, dan disusul oleh Salmah pada pukul 06.00 pagi. Sebelum meninggal Salam berpesan kepada Husein, temannya, "Kalau nanti aku meninggal tolong kuburkan aku berdekatan dengan kuburan istriku, dan tanamkan bunga tanjung di atas nisan kuburan kami berdua,". Bunga tanjung yang ditanam adalah kisah perjalanan cinta Salam sebagai tanda antara Semenanjung Malaysia, Medan Labuhan dan Pulau Kampai.

Hal ini diceritakan Husein kepada teman-temannya, dan cerita ini secara turun-temurun dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai sejarah terjadinya Pulai Kampai.
yanrusso - 09/05/2009 02:09 AM
#53

LEGENDA SIMBUYAK-MBUYAK

Pada masa dahulu, di tanah Dairi ada sebuah negeri Urang Julu namanya. Di negeri itulah hidup sebuah keluarga terdiri dari sembilan orang yaitu ibu, bapak dan tujuh orang anaknya. Negeri itu besar dan penduduknya banyak. Nama anak-anaknya itu mulai dari yang paling tua berturut-turut adalah Simbuyak-mbuyak, Turuten, Pinayungen, Maharaja, Tinambunen, Tumangger dan Anak Ampun. .............

Spoiler for "Lanjutan Cerita"

Adapun si sulung cacat tubuhnya sejak lahir, yaitu tulang belakangnya sangat lemah. Karena itu dia tak bisa berdiri apalagi berjalan seperti saudara-saudaranya yang lain. Melihat keadaan si sulung yang demikian, orang tua itu dengan bijaksana menasehati anak-anaknya; " Manusia memang menginginkan yang sempurna dan yang baik, tapi Tuhan yang menciptakan kita lebih berkuasa dan lebih menentukan.

Jika dikehendakinya dikuranginya kesempurnaan kita, dan jadilah kita seperti abangmu itu. Tetapi walau bagaimana dia adalah yang tertua diantara kalian. Dan dia juga adalah ciptaan Tuhan. Karena itu kalian harus tetap hormat sebagaimana layaknya adik-adik kepada abangnya. Dan jika itu kalian tidak lakukan , maka kalian akan berdosa menurut pandangan Tuhan Yang Maha Pencipta, karena telah membeda-bedakan ciptaan-Nya. Dan semua nasehat itu dilaksanakan dengan baik oleh keenam anaknya itu. Demikianlah ketujuh bersaudara itu hidup rukun dan damai, saling hormat-menghormati satu sama lain.

Lama kelamaan meningkat dewasalah anak-anak itu dan sebagaimana biasanya di Tanah dairi, maka pemuda-pemuda yang sudah meningkat dewasa haruslah meninggalkan kampung halaman, merantau ketempat-tempat sekitar, mencari nafkah untuk hidup. Bermacam-macam pekerjaan yang dapat dilakukan pemuda-pemuda pada waktu itu, dan bahkan juga sampai sekarang ini. Umpamanya mereka mencari kemenya, mengambil mayang ataupun mengumpulkan kapur barur di hutan. Ketika itu kapur barus sangat bagus harnya, harganya berimbang dengan harga emas.

Hanya emas yang ada waktu itu adalah yang rendah mutunya, yakni 8 karat saja. Demikianlah adik Simbuyakmbuyak telah bertekat hendak pergi merantau mencari kapur barus. Ketika hal itu diberitahukan mereka kepada abangnya itu, maka siabang ini pun menyatakan keinginannya, agar diajak turut bersama-sama. " Kalian ikutkanlah aku dalam rombongan. Setidak

Begitulah kata Simbuyak-mbuyak kepada adik-adiknya. Akhirnya mereka pun setuju, begitu pula kedua orang tua mereka. Maka berangkatlah ketujuh bersaudara itu. Perjalanan mereka amat sulit, karena melalui hutan dan lembah serta gunung-gunung. Apalagi dalam perjalan itu mereka harus menggendong abangnya secara berganti-ganti. Dan ditempat-tempat tertentu seperti pendakian dan penurunan, Simbuyak-mbuyak mereka tandu bersama-sama.

Lama kelamaan sampai jugalah mereka ke hutan yang banyak menghasilkan kapur barus. Mereka memilih lereng gunung Sijagar, tempat membuat gubuk untuk ditinggali selama mencari kapur barus itu. Tempat yang mereka pilih itu tepat dipertengahan lereng gunung itu , sesuai dengan permintaan abang mereka Simbuyak-mbuyak.

Caranya mereka menentukan tempat itu ialah dengan jalan mengukur jarak dari kaki sampai ke puncak Gunung. Tepat dipertengahan jarak itu, di lereng gunung Sijagar mereka bangun gubuk. Kayu-kayu yang selama ini dipakai untuk pemikul Simbuyak- mbuyak mereka tanamkan dimuka gubuk. Tak lama kemudian tumbuhlah disana pohon-pohon yang rimbun.

Sampai sekarang ini jenis kayu yang berasal dari tanaman Simbuyak-mbuyak dan adik-adiknya itu masih ada disana, begitu juga bekas tempat perumahan mereka. Dari Gunung Sijagar kalau dilayangkan pandang, maka akan jelas terlihat daerah Manduamas dan Boang terbentang luas. Dan jika pandang diarahkan ke tempat yang lebin jauh , mata kita akan tertumbuk denga laut lepas Samudera Indonesia.

Di kedua lereng gunung Sijagar mengalir dua buah anak sungai . Keduanya bersatu menjadi sebuah sungai yang lebih luas di dataran rendah, dinamakan sungai Sijagar. Sungai ini kemudian bermuara ke laut. Air sungai Sijagar sangat jernih dan bening, dan rasanya sejuk serta segar. Adapun kebiasaan orang mencari kapur barus ialah sepakat, seia sekata . Adalah pantangan bagi mereka untuk bertengkar dan bersengketa bagi mereka sesama pencari kapur barus. " Hanyalah orang seia sekata saja yang mungkin berhasil dalam usaha mereka ", demikian petua yang harus dipegang teguh oleh para pencari kapur barus itu.

Keenam adik Simbuyak-mbuyak mulailah mencari kapur barus ke dalam hutan. Simbuyak-mbuyak sendiri tinggal di gubuk. Sebagai pengisi waktu dia bekerja memintal tali. Ternyata hasil yang diperoleh adik-adiknya itu tidak sebanyak yang diharapkan. Beberapa lama mereka bekerja keras mengumpulkan kapur barus hasilnya tetap mengecewakan mereka. Ada satu hal lagi yang menambah kekecewaan Simbuyak-mbuyak, yakni hasi yang sedikit itu sering-sering habis dimakan abangnya itu.

Dengan demikian hanya sedikit saja kapur barus yang dapoat mereka kumpulkan di gubuk mereka. Pada mulanya mereka masih dapat bersabar melihat tingkah laku abangnya. Tetapi lama kelamaan habis juga kesabaran mereka. Pada suatu kali berkata Si Turuten : " Keadaan kita memang tidak adil. Kita semua bekerja keras, tetapi abang kita yang enak-enak saja memakani hasil-hasil yang berdikit-dikit kita kumpilkan. Jika begini terus-terusan, akan sia-sia sajalah jerih payah kita." Apa yang dikatakan Si Turuten dapat dibenarkan oleh yang lain, namun demikian Tinambunen dan Tumangger tetap berusaha menyabarkan.

" Kita jangan sampai berselisih", kata yang berdua itu kepada yang lainnya. Kemudian ditunjukkannya jalan, " Jika kesepakatan sudah tidak dapat diteruskan, daripada berselisih ditengah hutan ini, lebih baik pulang saja kerumah orang tua". Akhirnya mereka setuju untguk meneruskan usaha-usaha mencari kapur barus itu. Simbuyak-mbuyak sendiri mengetahui ada rasa tidak senang pada beberapa orang adiknya. Tetapi dia selalu saja berbuat seolah-olah tidak tahu.

Dan jika ditanya adiknya apa guna tali yang dipintalnya itu, dia tidak mau menjelaskan, kecuali berkata : " Tunggulah, pada suatu saat nanti, tentu tali ini akan berguna untuk kita semua". Rupanya Simbuyak-mbuyak bukan manusia biasa. Malam hari ketika semua adiknya sudah tidur lelap, maka pergilah dia ke luar menjelajahi hutan. Dia dapat mengetahui mana-mana diantara pohon itu yang berisi kapur barus dan yang tidak. Bahkan dapat juga diketahui sampai bnerapa banyak kapur barus yang ada di dalam pohon.

Namun hal itu tidak pernah diceritakannya kepada adik-adiknya. Dipihak adik-adiknya rasa tidak puaspun terus berkembang. Karena tidak ada lagi jalan lain, maka pada suatu kali di desaknyalah abangnya itu agar mengizinkan mereka pulang , dengan alasan untuk mengambil uang belanja ke kampung. " Paling lama kami akan pergi selama lima malam, dan sesudah itu kami akan berada kembali disini", demikian kata mereka.

Simbuyak menjawab " Jika memang demikian cara yang baik dan yang kita sepakati , maka saya dapat menerimanya". Pergilah kalian pulang, dan biarkan saya tinggal sendiri di gubuk ini", katanya. Hanya permintaannya , kalau durian istimewa milik mereka dikampung sudah berbuah ranum, agar dia dijepu ke Sijagar. Pada waktu itulah dia akan turut pulang guna berpesta dikampung memakan durian dan memotong ternak peliharaan mereka. Jarak antara Sijagar dengan kampung Urang Julu, kira-kira dua hari perjalanan, Karena itu timbul rasa kasihan dihati Tirambunen dan Tumangger terhadap abangnya yang cacat itu hendak ditinggalkan sendirian di dalam hutan. .....Bersambung

yanrusso - 09/05/2009 02:11 AM
#54

LEGENDA SIMBUYAK-MBUYAK (BAG. II)

Spoiler for "Lanjutan dari bagian pertama"
Yang berdua ini meminta supaya diperbolehkan tinggal untuk menemani Simbuyak-mbuyak. Hal itu tidak disetujui oleh Turuten, juga oleh Simbuyak-mbuyak. Tinambunen dan Tumangger mendesak lagi, agar sebaiknya abangnya yang paling tua itu dibawa saja pulang. " Kami berdualah yang menggendongnya selama dalam perjalanan", kata yang berdua itu. Usul inipun tidak disetujui oleh yang lain.

Begitu pula Simbuyak-mbuyak nampaknya lebih suka ditinggalkan dari pada dibawa pulang ke kampung. " Adikku yang aku sayangi", katanya. " Kalian pulanglah bersama-sama. Itulah tandanya seia sekata. Mengenai diriku janganlah kalian susahkan benar. Tinggalkanlah kapur barus yang ada itu untuk bekalku. Jika kalian sampai bertengkar karena keadaanku, itu tidak baik. Tuhan telah menjadikanku dalam keadaan begini.

Dan jika karena itu kalian bertengkar itu artinya kita menyesali Maha Pencipta. Tuhan akan marah, dan orang tua kitapun akan marah terhadap tingkah laku kita itu". Begitulah kata Simbuyak-mbuyak kepada adik-adiknya. Pulanglah keenam adik Simbuyak-mbuyak . Kedatangan mereka di Urang Julu disambut kedua orang tuanya dengan pertanyaan, mengapa sampai Simbuyak-mbuyak ditinggalkan sendirian ditengah hutan.

Mereka menceritakan pengalaman selama mencari kapur barus dan mempersalahkan perbuatan abangnya. Mereka minta pula, agar sebelum berangkat kembali mencari kapur barus, diadakan dulu pesta makan durian istimewa , dan memotong hewan ternak. Tinambunen dan Tumangger mengingatkan akan pesan abang mereka , agar dijemput ke Sijagar, bila pesta akan diadakan. Maka berangkatlah keduanya.

Tanpa menunggu datangnya Simbuyak-mbuyak, Turuten terus saja mengambil galah dan menjolok buah durian istimewa. Durian jatuh dan ternyata masih belum ranum seperti yang dipesankan oleh Simbuyak-mbuyak dulu. Keistimewaan durian yang sebatang itu ialah buahnya hanya satu, tapi bukan main besar dan enak rasanya.

Jika buah itu dibelah, maka besar belahannya itu sampai dua hasta. Sesudah buah durian itu jatuh, maka disembelihlah hewan ternak yang paling gemuk, dan berpestalah keempat bersaudara itu dengan tidak disertai oleh saudara mereka yang tiga orang lagi. Di Sijagar, begitu adik-adiknya berangkat, Simbuyak-mbuyak segera menjelmakan dirinya sebagai seorang pemuda yang gagah dan tampan.

Ketika pada suatu kali ia pergi mandi ke sungai, didapati beberapa kulit durian hanyut terapung-apung. Dan dengan ilmunya dapat ditangkapnya suara ternak yang disembelih di kampungnya. Sekarang tahulah ia, bahwa adik-adiknya sudah melangsungkan pesta di Urang Julu. Selesai mandi pulanglah Simbuyak-mbuyak ke gubuknya. Mulailah dia bekerja merentangkan tali yang selama ini dipintalnya. Tali itu dihubungkannya dengan semua pohon yang sudah terisi dengan kapur barus di hutan itu. Ada sebatang pohon yang penuh dengan kapur sejak dari akar sampai ke pucuknya. Pohon itu amat besar dan tinggi.

Pohon itulah didoakan Simbuyak-mbuyak agar tumbang, dan doanya dikabulkan oleh yang Maha Kuasa. Setelah pohon besar itu jatuh ke tanah, dipotongnyalah sepanjang tujuh depa, tujuh hasta, tujuh jengkal dan tujuh jari. Mendoalah dia kembali, maka terbelah dua kayu itu. Dan kayu itupun bersatu kembal Tinambunen dan Tumangger pun sampailah ke gubuk tempat Simbuyak-mbuyak ditinggalkannya beberapa hari yang lalu. Keduanya tak menampak abangnya di gubuk itu. Yang ada hanyalah tali terentang secara bersimpang siur dari gubuk itu kedalam hutan.

Dan didapatinya pula sebatang pohon terletak dihalaman gubuk pondok dan penuh dengan kapur barus. Potongan pohon itu sangat bagus ujung pangkalnya, karena memang disengaja membuatnya demikian. Didekatinya kayu itu, tampak abangnya terbaring didalam belahannya. Mereka berdua membujuk abangnya itu, tetapi tak berhasil. Dari dalam belahan kayu itu terdengar suara Simbuyak-mbuyak menyampaikan pesannya untuk kedua orang tuanya dan handai tolan lainnya. " Sampaikan salamku dan permohonan maafku kepada mereka semua karena aku harus berangkat", katanya.

Kepada adiknya berdua itu diberitahukannya, bahwa semua kayu yang kena rentangan tali-temali dari gubuk itu, adalah kayu yang banyak berisi kapur barus. "Itulah kalian ambil sebagai pengganti kapur barus yang habis kumakani selama ini" tambahnya. Diapun mengisahkan rencananya semula, bahwa pesta memakan durian dan menyembelih hewan ternak yang gemuk diadakan untuk menyampaikan doa kepada Tuhan. "Pintaku, agar diriku menjelma menjadi seorang pemuda biasa yang sehat tiada cacat seperti ini", kata Simbuyak-mbuyak. Dikatakannya : "keadaan sudah terlanjur begini, dan terimalah kenyataan ini dengan ikhlas tanpa penyesalan".

Kepada adiknya berdua, Tinambunen dan Tumangger diingatkannya, bahwa mereka akan mendapat keturunan yang baik-baik, berbudi dan pandai di kemudian hari. "Itulah karurnia Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kalian berdua", kata abangnya. "Akhirnya semacam pertanda di masa yang akan datang, jika kelak kalian melihat banyak burung pamal di tepi laut yang jumlahnya sampai ribuan ekor, jangan heran, itulah kirimanku, sebagai ganti sekapur sirih menjelang ayah bunda serta handai tolan.

Burung itu akan sangat jinak, dan akan dimasukinya rumah kalian. Tangkaplah, kemudian sembelih, dan makanlah beramai-ramai kirimanku itu", kata Simbuyak-mbuyak. Pertanda lain yang diberitahukannya adalah : "jika angin bertiup kencang disertai hujan lebat turun dari langit akan ada burung inggal-inggal berterbangan di angkasa. Perhatikanlah ekor burung itu. Kalau ekornya diayunkannya arah ke bawah, itu tandanya telah tiba musim manungal dan menanam padi. Tetapi mungkin juga ekornya digerakkannya arah ke samping, menjadi tanda telah berakhirnya musim manungal.

Jangan abaikan tanda-tanda itu karena bila dilanggar tanaman tidak akan menjadi". Sesudah mengucapkan pesan-pesannya itu, minta dirilah Simbuyak-mbuyak kepada kedua adiknya. Begitu suara dari dalam belahan kayu tadi berhenti, maka meluncurlah potongan kayu itu dengan sangat kencangnya. Luncurannya itu seperti perahu yang berlayar dengan lajunya di tengah samudera. Searah dengan tujuan gerak kayu itu, di angkasa terlihat pula serombongan besar burung terbang berkawan-kawan.

Kayu tadi meluncur terus dengan suara gemuruh, dan akhirnya mencebur ke dalam laut. Tinambunen dan Tumangger yang sejak tadi terheran saja melihat peristiwa itu, sekarang baru menyadari dirinya. Keduanyapun menangis dengan sejadi-jadinya, karena sangat sedih ditinggalkannya itu. Di kemudian hari ternyata, bahwa pohon-pohon yang dikenai oleh tali-tali Simbuyak-mbuyak memang banyak mengandung kapur barus. Keenam orang adiknya memperoleh hasil yang banyak pula karena itu. Mereka kemudian menjadi kaya. Tentang Simbuyak-mbuyak tak diketahui lagi keadaannya sesudah itu.

Hanya saja pernah terjadi para penangkap ikan mendapat perolehan yang banyak di sebuah tempat tak jauh dari pantai. Yang mereka ketahui hanya bahwa ikan yang banyak itu berkumpul di sekitar potongan kayu yang hanyut terapung-apung. Orang menduga mungkin kayu itulah yang dulunya yang dipakai Simbuyak-mbuyak meluncur dari dari lereng gunung Sijagar dan kemudian mencebur ke dalam laut. Dan ketika kayu itu dipukul orang dengan maksud bermain-main, terdengar suara dari dalam. Suara itu meminta agar dia dikeluarkan dari kayu itu. Ketika ditanyakan asal usulnya dia menyatakan tak tahu akan hal itu.

Sumber : http://www.pakpakonline.com
addin - 09/05/2009 01:21 PM
#55

Tread yang bagus..
Saya dukung trus nih...
Bisa jadi katalog juga nih kalo ada yg nyari2 legenda masyarakat SUMUT..
Di tunggu teruss ceritanya..
nanti saya akan sumbang cerita lagi..
addin - 09/05/2009 01:24 PM
#56

Quote:
Original Posted By yanrusso
Legenda Lau Kawar

Legenda Lau Kawar merupakan sebuah legenda yang berkembang di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kabupaten yang memiliki wilayah seluas 2.127,25 km2 ini terletak di dataran tinggi Karo, Bukit Barisan, Sumatera Utara. Oleh karena daerahnya terletak di dataran tinggi, sehingga kabupetan ini dijuluki Taneh Karo Simalem. Kabupaten ini memiliki iklim yang sejuk dengan suhu berkisar antara 16o sampai 17oC dan tanah yang subur. Maka tidak heran, jika daerah ini sangat kaya dengan keindahan alamnya. Salah satunya adalah keindahan Danau Lau Kawar, yang terletak di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Air yang bening dan tenang, serta bunga-bunga anggrek yang indah, yang mengelilingi danau ini menjadi pesona alam yang mengagumkan.

Menurut masyarakat setempat, sebelum terbentuk menjadi sebuah danau yang indah, Danau Lau Kawar adalah sebuah desa yang bernama Kawar. Dahulu, daerah tersebut merupakan kawasan pertanian yang sangat subur. Mata pencaharian utama penduduknya adalah bercocok tanam. Hasil pertanian mereka selalu melimpah ruah, meskipun tidak pernah memakai pupuk dan obat-obatan seperti sekarang ini. Suatu waktu, terjadi malapetaka besar, sehingga desa Kawar yang pada awalnya merupakan sebuah desa yang subur menjelma menjadi sebuah danau. Apa sebenarnya yang terjadi dengan desa Kawar itu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat berikut ini!

Spoiler for "Begini KIsahnya...."

Pada zaman dahulu kala, tersebutlah dalam sebuah kisah, ada sebuah desa yang sangat subur di daerah Kabupaten Karo. Desa Kawar namanya. Penduduk desa ini umumnya bermata pencaharian sebagai petani. Hasil panen mereka selalu melimpah ruah. Suatu waktu, hasil panen mereka meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Lumbung-lumbung mereka penuh dengan padi. Bahkan banyak dari mereka yang lumbungnya tidak muat dengan hasil panen. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan tersebut, mereka pun bergotong-royong untuk mengadakan selamatan dengan menyelenggarakan upacara adat.

Pada hari pelaksanaan upacara adat tersebut, Desa Kawar tampak ramai dan semarak. Para penduduk mengenakan pakaian yang berwarna-warni serta perhiasan yang indah. Kaum perempuan pada sibuk memasak berbagai macam masakan untuk dimakan bersama dalam upacara tersebut.
Pelaksanaan upacara juga dimeriahkan dengan pagelaran Gendang Guro-Guro Aron, musik khas masyarakat Karo. Pada pesta yang hanya dilaksanakan setahun sekali itu, seluruh penduduk hadi dalam pesta tersebut, kecuali seorang nenek tua renta yang sedang menderita sakit lumpuh. Tidak ketinggalan pula anak, menantu maupun cucunya turut hadir dalam acara itu.
Tinggallah nenek tua itu seorang sendiri terbaring di atas pembaringannya.
“Ya, Tuhan! Aku ingin sekali menghadiri pesta itu. Tapi, apa dayaku ini. Jangankan berjalan, berdiri pun aku sudah tak sanggup,” ratap si nenek tua dalam hati.

Dalam keadaan demikian, ia hanya bisa membayangkan betapa meriahnya suasana pesta itu. Jika terdengar sayup-sayup suara Gendang Guro-guro Aron didendangkan, teringatlah ketika ia masih remaja. Pada pesta Gendang Guro-Guro Aron itu, remaja laki-laki dan perempuan menari berpasang-pasangan. Alangkah bahagianya saat-saat seperti itu. Namun, semua itu hanya tinggal kenangan di masa muda si nenek. Kini, tinggal siksaan dan penderitaan yang dialami di usia senjanya. Ia menderita seorang diri dalam kesepian. Tak seorang pun yang ingin mengajaknya bicara. Hanya deraian air mata yang menemaninya untuk menghilangkan bebannya. Ia seakan-akan merasa seperti sampah yang tak berguna, semua orang tidak ada yang peduli padanya, termasuk anak, menantu serta cucu-cucunya.

Ketika tiba saatnya makan siang, semua penduduk yang hadir dalam pesta tersebut berkumpul untuk menyantap makanan yang telah disiapkan. Di sana tersedia daging panggang lembu, kambing, babi, dan ayam yang masih hangat. Suasana yang sejuk membuat mereka bertambah lahab dalam menikmati berbagai hidangan tersebut. Di tengah-tengah lahabnya mereka makan sekali-kali terdengar tawa, karena di antara mereka ada saja yang membuat lelucon. Rasa gembira yang berlebihan membuat mereka lupa diri, termasuk anak dan menantu si nenek itu. Mereka benar-benar lupa ibu mereka yang sedang terbaring lemas sendirian di rumah.

Sementara itu, si nenek sudah merasa sangat lapar, karena sejak pagi belum ada sedikit pun makanan yang mengisi perutnya. Kini, ia sangat mengharapkan anak atau menantunya ingat dan segera mengantarkan makanan. Namun, setelah ditunggu-tunggu, tak seorang pun yang datang.
“Aduuuh… ! Perutku rasanya melilit-lilit. Tapi, kenapa sampai saat ini anak-anakku tidak mengantarkan makanan untukku?” keluh si nenek yang badannya sudah gemetar menahan lapar. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mencoba mencari makanan di dapur, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Rupanya, sang anak sengaja tidak memasak pada hari itu, karena di tempat upacara tersedia banyak makanan.

Akhirnya, si nenek tua terpaksa beringsut-ingsut kembali ke pembaringannya. Ia sangat kecewa, tak terasa air matanya keluar dari kedua kelopak matanya. Ibu tua itu menangisi nasibnya yang malang.
“Ya, Tuhan! Anak-cukuku benar-benar tega membiarkan aku menderita begini. Di sana mereka makan enak-enak sampai kenyang, sedang aku dibiarkan kelaparan. Sungguh kejam mereka!” kata nenek tua itu dalam hati dengan perasaan kecewa.

Beberapa saat kemudian, pesta makan-makan dalam upacara itu telah usai. Rupanya sang anak baru teringat pada ibunya di rumah. Ia kemudian segera menghampiri istrinya. “Isriku! Apakah kamu sudah mengantar makanan untuk ibu?” tanya sang suami kepada istrinya.
“Belum?” jawab istrinya.
“Kalau begitu, tolong bungkuskan makanan, lalu suruh anak kita menghantarkannya pulang!” perintah sang suami.
“Baiklah, suamiku!‘ jawab sang istri. Wanita itu pun segera membungkus makanan lalu menyuruh anaknya, “Anakku! Antarkan makanan ini kepada nenek di rumah!” perintah sang ibu.
“Baik, Bu!” jawab anaknya yang langsung berlari sambil membawa makanan itu pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, anak itu segera menyerahkan makanan itu kepada neneknya, lalu berlari kembali ke tempat upacara.
Alangkah senangnya hati sang nenek. Pada saat-saat lapar seperti itu, tiba-tiba ada yang membawakan makanan. Dengan perasaan gembira, sang nenek pun segera membuka bungkusan itu. Namun betapa kecewanya ia, ternyata isi bungkusan itu hanyalah sisa-sisa makanan. Beberapa potong tulang sapi dan kambing yang hampir habis dagingnya.
“Ya, Tuhan! Apakah mereka sudah menganggapku seperti binatang. Kenapa mereka memberiku sisa-sisa makanan dan tulang-tulang,” gumam si nenek tua dengan perasaan kesal.

Sebetulnya bungkusan itu berisi daging panggang yang masih utuh. Namun, di tengah perjalanan si cucu telah memakan sebagian isi bungkusan itu, sehingga yang tersisa hanyalah tulang-tulang. Si nenek tua yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya, mengira anak dan menantunya telah tega melakukan hal itu. Maka, dengan perlakuan itu, ia merasa sangat sedih dan terhina. Air matanya pun tak terbendung lagi. Ia kemudian berdoa kepada Tuhan agar mengutuk anak dan menantunya itu.
“Ya, Tuhan!” Mereka telah berbuat durhaka kepadaku. Berilah mereka pelajaran!” perempuan tua itu memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
Baru saja kalimat itu lepas dari mulut si nenek tua, tiba-tiba terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat. Langit pun menjadi mendung, guntur menggelegar bagai memecah langit, dan tak lama kemudian hujan turun dengan lebatnya. Seluruh penduduk yang semula bersuka-ria, tiba-tiba menjadi panik. Suara jerit tangis meminta tolong pun terdengar dari mana-mana. Namun, mereka sudah tidak bisa menghindar dari keganasan alam yang sungguh mengerikan itu.

Dalam sekejap, desa Kawar yang subur dan makmur tiba-tiba tenggelam. Tak seorang pun penduduknya yang selamat dalam peristiwa itu.
Beberapa hari kemudian, desa itu berubah menjadi sebuah kawah besar yang digenangi air. Oleh masyarakat setempat, kawah itu diberi nama Lau Kawar.
Demikianlah cerita tentang Asal Mula Lau Kawar dari daerah Tanah Karo, Sumatera Utara.


Spoiler for "Pesam Moral yg diambil"

Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Sedikitnya ada tiga pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu pandai mensyukuri nikmat, menjauhi sifat durhaka kepada orang tua, dan menyia-nyiakan amanat.

Pertama, pandai mensyukuri nikmat. Sifat ini tercermin pada sikap penduduk Desa Karo yang telah melaksanakan selamatan setelah mendapat hasil panen yang melimpah ruah. Sifat ini sangat diutamakan dalam kehidupan orang-orang Melayu. Dalam tunjuk ajar Melayu dikatakan:

wahai ananda dengarlah manat,
besyukurlah engkau beroleh nikmat
karunia Allah wajib diingat
supaya hidupmu beroleh rahmat

Kedua, pesan agar menjauhi sifat durhaka kepada orang tua. Kedurhakaan tersebut tercermin pada perilaku anak, menantu, dan cucu si nenek tua renta itu yang telah mengabaikannya. Sifat durhaka kepada orang tua sangat dipantangkan dalam kehidupan orang Melayu. Dalam ungkapan Melayu dikatakan:

kalau durhaka ke orangtua,
dunia akhirat akan merana

Ketiga, sifat menyia-nyiakan amanah. Sifat ini tercermin pada si cucu yang tidak menyampaikan amanah dari ibunya. Dalam kehidupan orang-orang Melayu, sifat ini juga sangatlah dipantangkan. Sebagaimana dikatakan dalam ungkapan orang tua-tua Melayu berikut:

kalau hendak tahu orang durjana,
dia berbuat orang yang kena



Mantap kali cerita nya gan...
aq aja yg lahir dan besar di Karo belum tau cerita legen lau kawar ini..
Mantap Kel Kerina...
yanrusso - 09/05/2009 09:38 PM
#57

Quote:
Original Posted By addin
Mantap kali cerita nya gan...
aq aja yg lahir dan besar di Karo belum tau cerita legen lau kawar ini..
Mantap Kel Kerina...


Terma kasih bung Addin, di tunggu lagi nih sumbangan ceritanya untuk makin melengkapi trit ini
addin - 10/05/2009 09:54 AM
#58

Quote:
Original Posted By yanrusso
Terma kasih bung Addin, di tunggu lagi nih sumbangan ceritanya untuk makin melengkapi trit ini


Siip Boss... Nanti sore saia coba Hunt
yanrusso - 10/05/2009 11:24 PM
#59

Quote:
Original Posted By addin
Siip Boss... Nanti sore saia coba Hunt


Ok thx Din
yanrusso - 12/05/2009 03:00 AM
#60

LEGENDA BERU GINTING SOPE MBELIN

Di daerah Urung Galuh Simale ada sepasang suami istri, yaitu Ginting Mergana dan Beru Sembiring. Mereka hidup bertani dan dalam kesusahan. Anak mereka hanya seorang, anak wanita, yang bernama Beru Ginting Sope Mbelin....


Spoiler for "'Cerita Selengkapnya"

Untuk memperbaiki kehidupan keluarga maka Ginting Mergana mendirikan perjudian yaitu “judi rampah” dan dia mengutip cukai dari para penjudi untuk mendapatkan uang. Lama kelamaan upayanya ini memang berhasil.


Keberhasilan Ginting Mergana ini menimbulkan cemburu adik kandungnya sendiri. Adik kandungnya ini justru meracuni Ginting Mergana sehingga sakit keras. Akhirnya meninggal dunia. Melaratlah hidup Beru Ginting Sope Mbelin bersama Beru Sembiring.

Empat hari setelah kematian Ginting Mergana, menyusul pula beru Sembiring meninggal. Maka jadilah Beru Ginting sope Mbelin benar-benar anak yatim piatu, tiada berayah tiada beribu.

Beru Ginting Sope Mbelin pun tinggal dan hidup bersama pakcik dan makciknya. Anak ini diperlakukan dengan sangat kejam, selalu dicaci-maki walaupun sebenarnya pekerjaannya semua beres. Pakciknya berupaya memperoleh semua harta pusaka ayah Beru Ginting Sope Mbelin, tetapi ternyata tidak berhasil. Segala siasat dan tipu muslihat pakciknya bersama konco-konconya dapat ditangkis oleh Beru Ginting Sope Mbelin.

Ada-ada saja upaya dibuat oleh makcik dan pakciknya untuk mencari kesalahan Beru Ginting Sope Mbelin, bisalnya menumbuk padi yang berbakul-bakul, mengambil kayu api berikat-ikat dengan parang yang majal, dll. Walau Beru Ginting Sope Mbelin dapat mengerjakannya dengan baik dan cepat – karena selalu dibantu oleh temannya Beru Sembiring Pandan toh dia tetap saja kena marah dan caci-maki oleh makcik dan pakciknya.

Untuk mengambil hati makcik dan pakciknya, maka Beru Ginting Sope Mbelin membentuk “aron” atau “kerabat kerja tani gotong royong” yang beranggotakan empat orang, yaitu Beru Ginting Sope Mbelin, Beru Sembiring Pandan, Tarigan Mergana dan Karo Mergana.

Niat jahat makcik dan pakciknya tidak padam-padamnya. Pakciknya menyuruh pamannya untuk menjual Beru Ginting Sope Mbelin ke tempat lain di luar tanah Urung Galuh Simale. Pamannya membawanya berjalan jauh untuk dijual kepada orang yang mau membelinya.

Di tengah jalan Beru Ginting Sope Mbelin bertemu dengan Sibayak Kuala dan Sibayak Perbesi. Kedua Sibayak ini memberi kain kepada Beru Ginting Sope Mbelin sebagai tanda mata dan berdoa agar selamat di perjalanan dan dapat bertemu lagi kelak.

Kemudian sampailah Beru Ginting Sope Mbelin bersama pamannya di Tanah Alas di kampung Kejurun Batu Mbulan dan diterima serta diperlakukan dengan baik oleh Tengku Kejurun Batu Mbulan secara adat.

Selanjutnya sampailah Beru Ginting Sope Mbelin bersama pamannya di tepi pantai. Di pelabuhan itu sedang berlabuh sebuah kapal dari negeri jauh. Nakhoda kapal itu sudah setuju membeli Beru Ginting Sope Mbelin dengan harga 250 uang logam perak. Beru Ginting Sope Mbelin disuruh naik ke kapal untuk dibawa berlayar. Mesin kapal dihidupkan tetapi tidak jalan. Berulang kali begitu. Kalau Beru Ginting Sope Mbelin turun dari kapal, kapal itu dapat berjalan, tetapi kalau dia naik, kapal tidak dapat berjalan. Nakhoda akhirnya tidak jadi membeli Beru Ginting Sope Mbelin dan uang yang 250 perak itu pun tidak dimintanya kembali.

Perjalanan pun dilanjutkan. Ditengah jalan, paman Beru Ginting Sope Mbelin pun melarikan diri pulang kembali ke kampung. Dia mengatakan bahwa Beru Ginting Sope Mbelin telah dijual dengan harga 250 perak serta menyerahkan uang itu kepada pakciknya Beru Ginting. Pakciknya percaya bahwa Beru Ginting telah terjual.

Beru Ginting Sope Mbelin meneruskan perjalanan seorang diri tidak tahu arah tujuan entah ke mana, naik gunung turun lembah. Pada suatu ketika dia bertemu dengan seekor induk harimau yang sedang mengajar anaknya. Anehnya harimau tidak mau memakan Beru Ginting Sope Mbelin, bahkan menolongnya menunjukkan jalan yang harus ditempuh.

Beru Ginting Sope Mbelin dalam petualangannya sampai pada sebuah gua yang dalam. Penghuni gua – yang bernama Nenek Uban – pun keluar menjumpainya. Nenek Uban ini pun tidak mau memakan Beru Ginting Sope Mbelin bahkan membantunya pula. Nenek tua ini mengetahui riwayat hidup keluarga dan pribadi Beru Ginting Sope Mbelin ini.

Atas petunjuk Nenek Uban ini maka secara agak gaib Beru Ginting Sope Mbelin pun sampailah di tempat nenek Datuk Rubia Gande, yaitu seorang dukun besar atau “guru mbelin”. Sesampainya di sana, keluarlah nenek Datuk Rubia Gande serta berkata: “Mari cucu, mari, jangan menangis, jangan takut” dan Beru Ginting Sope Mbelin pun menceritakan segala riwayat hidupnya.

Beru Ginting Sope Mbelin pun menjadi anak asuh nenek Datuk Rubia Gande. Beru Ginting pun sudah remaja dan rupa pun sungguh cantik pula. Konon kabarnya sudah ada jejaka yang ingin mempersuntingnya. Tetapi Beru Ginting Sope Mbelin tidak berani mengeluarkan isi hatinya karena yang memeliharanya adalah nenek Datuk Rubia Gande. Oleh karena itu kepada setiap jejaka yang datang dia berkata : “tanya saja pada nenek saya itu”. Dan neneknya pun berkata kepada setiap orang: “tanya saja pada cucu saya itu!”. Karena jawaban yang seperti itu jadinya orang bingung dan tak mau lagi datang melamar.

Ternyata antara Beru Ginting Sope Mbelin dan nenek Datuk Gande terdapar rasa saling menghargai. Inilah sebabnya masing-masing memberi jawaban pada orang yang datang “tanya saja pada dia!” Akhirnya terdapat kata sepakat, bahwa Beru Ginting mau dikimpoikan asal dengan pemuda/pria yang sependeritaan dengan dia. Neneknya pun setuju dengan hal itu.

Akhirnya, nenek Datuk Rubia Gande pun dapat memenuhi permintaan cucunya, dengan mempertemukan Beru Ginting Sope Mbelin dengan Karo Mergana penghulu Kacaribu, berkat bantuan burung Danggur Dawa-Dawa. Dan kedua insan ini pun dikimpoikanlah oleh nenek Datuk Rubia Gande menjadi suami-istri.

Setelah beberapa hari, bermohonlah Karo Mergana kepada nenek Datuk Rubia Gande agar mereka diizinkan pulang ke tanah kelahiran Beru Ginting Sope Mbelin, karena begitulah keinginan cucunya Beru Ginting itu. Nenek Datuk Rubia Gande menyetujui usul itu serta merestui keberangkatan mereka.

Berangkatlah Beru Ginting Sope Mbelin dengan suaminya Karo Mergana memulai perjalanan. Mereka berjalan beberapa lama mengikuti rute perjalanan Beru Ginting Sope Mbelin dulu waktu meninggalkan tanah urung Galuh Simale. Mereka singgah di kampung Kejurun Batu Mbulan, di pelabuhan di tepi pantai tempat berlabuh kapal nakhoda dulu, melalui simpang Perbesi dan Kuala bahkan berhenti sejenak di situ.

Sampailah mereka di antara Perbesi dan Kuala. Anehnya, di sana mereka pun berjumpa pula dengan Sibayak Kuala dan Sibayak Perbesi. Kedua Sibayak ini sangat bergembira karena dulu mereka pernah memberi kain masing-masing sehelai kepada Beru Ginting Sope Mbelin yang sangat menderita berhati sedih pada waktu itu, dan kini mereka dapat pula bertemu dengan Beru Ginting Sope Mbelin bersama suaminya Karo Mergana.

Jadinya, Beru Ginting Sope Mbelin bersama suaminya Karo Mergana, bermalam pula beberapa lama di Kuala dan Perbesi atas undangan kedua sibayak tersebut. Dan disediakan pula pengiring yang mengantarkan Beru Ginting Sope Mbelin bersama Karo Mergana ke tanah Urung Galuh Simale. Semuanya telah diatur dengan baik: perangkat gendang yang lengkap, makanan yang cukup bahkan banyak sekali. Pendeknya, Beru Ginting Sope Mbelin bersama suaminya diantar dengan upacara yang meriah atas anjuran dan prakarsa Sibayak Kuala dan Sibayak Perbesi yang bijaksana dan baik hati.

Ternyata pakcik Beru Ginting Sope Mbelin dulu – yang juga seorang dukun – mempunyai firasat yang kurang baik terhdapa dirinya. Oleh karena itu pada saat tibanya Beru Ginting Sope Mbelin di kampungnya, pakciknya itu sekeluarga menyembunyikan diri di atas para-para rumah. Akan tetapi akhrinya diketahui juga oleh Beru Ginting Sope Mbelin.

Pakcik dan makcik Beru Ginting Sope Mbelin dibawa turun ke halaman untuk dijamu makan dan diberi pakaian baru oleh Beru Ginting Sope Mbelin. Pakcik dan makciknya itu sangat malu dan tidak mengira bahwa Beru Ginting Sope Mbelin akan pulang kembali ke kampung apalagi bersama suaminya pula yaitu Karo Mergana.

Berbagai bunyi-bunyian pun dimainkan, terutama sekali “gendang tradisional” Karo serta diiringi dengan tarian, antara lain:

a. gendang si ngarak-ngaraki;
b. gendang perang si perangen;
c. gendan perang musuh;
d. gendang mulih-mulih;
e. gendang ujung perang;
f. gendang rakut;
g. gendang jumpa malem;
h. gendang morah-morah;
i. gendang tungo-tungko.
Dan sebagai hukuman atas kekejaman dan kebusukan hati pakcik dan makciknya itu maka tubuh mereka ditanam sampai bahu masing-masing di beranda barat dan beranda timur, hanya kepalanya saja yang nampak. Kepala mereka itulah yang merupakan anak tangga yang harus diinjak kalau orang mau masuk dan keluar rumah adat. Itulah hukuman bagi orang yang tidak berperikemanusiaan yang berhati jahat terhadap saudara dan kakak serta anaknya sendiri.

Sumber: RAPOLO
Page 3 of 195 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Medan > Kumpulan Legenda Hikayat di Sumatera Utara