Karesidenan Madiun
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > JAWA TIMUR & BALI > Karesidenan Madiun > ۞[Apa&Siapa] Yang Membuat Kars.Madiun Dikenal۞
Total Views: 7471 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 2 of 5 |  < 1 2 3 4 5 > 

Tithit Kejepit - 10/06/2009 03:15 PM
#21

Quote:
Original Posted By konserius
dawet ayu (jabung ponorogo) DD


Spoiler for dawet


۞[Apa&Siapa] Yang Membuat Kars.Madiun Dikenal۞



Dawet Jabung (jodoh ditangan lepek)


Dawet satu ini, cukup sensasional. Bukan saja rasanya, tapi juga cerita menarik dibaliknya. Namanya, Dawet Jabung, lokasinya, di Desa Jabung arah ke Pondok Gontor, Ponorogo. Di perempatan jalan ini akan ditemui banyak penjual dawet Jabung.
Selain dawet, di meja akan terhidang berbagai aneka goreng-gorengan, seperti tetel, pisang, tahu, tempe, trimbil, dan pia-pia.
Penjualnya kebanyakan perempuan muda dan berparas ayu.
Ditemani dua orang berondong, Adam (co-driver) dan Anton (my fotographer), kita wira-wiri dulu nggak langsung masuk warung. “Nyari penjual yang puaaalinnnggg ayu,” alasan si Anton.

Penjual yang berparas ayu ini akan menyodorkan mangkok di atas lepek. Nah, dari cara mengambil mangkok ini, bisa dilihat apakah orang tersebut warga Ponorogo atau pendatang luar kota. Bagi pembeli luar kota, lepek (piring kecil ) yang di bawahnya jangan diambil sebab menurut cerita, jika ada pembeli laki-laki yang mengambil lepek, dan si penjual membiarkannya berarti sang penjual bersedia “Menikah” dengan laki-laki tersebut, sebaliknya jika laki-laki tersebut sengaja mengambil lepek berarti ia “Naksir” terhadap penjualnya.

Spoiler for bakul dawet


۞[Apa&Siapa] Yang Membuat Kars.Madiun Dikenal۞



Entah kebetulan atau tidak, seorang pembeli dari luar kota, tanpa sengaja mengambil mangkok bersama lepeknya. “Mas, mangkoknya saja yang diambil,” ingat si penjual. Ketika ditanya alasannya, si Mbak hanya menyahut “Lepeknya buat tutup gula, nanti diserbu lalat,” tolaknya haluss. Ssttt…saya kasak-kusuk sama si Anton, “Mbak’nya jelas nolak, wong sudah tuwirr,” bisik saya.

Di saat lain, Adam temen saya iseng mencoba mengambil lepeknya, lalu si embak malah berjuang mati-matian menarik lepek. “Wakaka…itu artinya kamu ditolak tahu he..he..he,” komentar saya. Jelas ajalah ditolak ama si embak tuh si Adam modelnya, ngga jelas apalagi rambutnya petal..he..he ..sorry yo dam !

Faktanya : Penjual dawet jabung memang ayuuuuu ! tapi menurut Mbah Sumini pelopor dawet jabung, tidak ada critanya penjual dawet digondol sama pembeli cuman gara-gara lepeknya diambil..!huahaaa..jadi cuman gosip gitu lho!

Foto : by Anton Kusnanto
sumber
konserius - 10/06/2009 10:43 PM
#22

kripik tempe*..doctor:
iam not junker - 11/06/2009 11:53 AM
#23



۞[Apa&Siapa] Yang Membuat Kars.Madiun Dikenal۞


۞[Apa&Siapa] Yang Membuat Kars.Madiun Dikenal۞




Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok , namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya . Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan 'kerasukan' saat mementaskan tariannya .

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.

Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar,

Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.

Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

Tarian Reog Ponorogo yang ditarikan di Malaysia dinamakan Tari Barongan. Deskripsi akan tarian ini ditampilkan dalam situs resmi Kementrian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia. Tarian ini juga menggunakan topeng dadak merak, topeng berkepala harimau yang di atasnya terdapat bulu-bulu merak, yang merupakan asli buatan pengrajin Ponorogo . Permasalahan lainnya yang timbul adalah ketika ditarikan, pada reog ini ditempelkan tulisan "Malaysia" dan diaku menjadi warisan Melayu dari Batu Pahat Johor dan Selangor Malaysia - dan hal ini sedang diteliti lebih lanjut oleh pemerintah Indonesia. . Hal ini memicu protes dari berbagai pihak di Indonesia, termasuk seniman Reog asal Ponorogo yang berkata bahwa hak cipta kesenian Reog dicatatkan dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004 dan diketahui langsung oleh Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia . Ribuan Seniman Reog pun menggelar demo di depan Kedutaan Malaysia . Berlawanan dengan foto yang dicantumkan di situs kebudayaan, dimana dadak merak dari versi Reog Ponorogo ditarikan dengan tulisan "Malaysia" , Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Muhammad Zain pada akhir November 2007 kemudian menyatakan bahwa "Pemerintah Malaysia tidak pernah mengklaim Reog Ponorogo sebagai budaya asli negara itu. Reog yang disebut “barongan” di Malaysia dapat dijumpai di Johor dan Selangor karena dibawa oleh rakyat Jawa yang merantau ke negeri jiran tersebut .


video
andreabonceli - 11/06/2009 11:30 PM
#24

Quote:
Original Posted By konserius
kripik tempe*..doctor:


Luuuggghhh,,kok kripik tempe..,doctor:hammer:
andreabonceli - 13/06/2009 12:52 AM
#25

Air terjun NGANCAR,,,ada yg udah ke sana??
Tithit Kejepit - 13/06/2009 02:27 PM
#26

Quote:
Original Posted By andreabonceli
Air terjun NGANCAR,,,ada yg udah ke sana??


udah, tp itukan ga begitu terkenal
kalo berdasarkan judul thread
ya yg dikenal secara luas
MQaddict - 27/06/2009 12:00 PM
#27
Pondok Tegalsari & Ki Ageng Hasan Besari

Pada paroh pertama abad ke-18, hiduplah seorang kyai besar bernama Kyai Ageng Hasan Bashari atau Besari di desa Tegalsari, yaitu sebuah desa terpencil lebih kurang 10 KM ke arah selatan kota Ponorogo. Di tepi dua buah sungai, sungai Keyang dan sungai Malo, yang mengapit desa Tegalsari inilah Kyai Besari mendirikan sebuah pondok yang kemudian dikenal dengan sebutan Pondok Tegalsari.

Dalam sejarahnya, Pondok Tegalsari pernah mengalami zaman keemasan berkat kealiman, kharisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di Pondok ini. Mereka berasal dari hampir seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Karena besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok, bahkan pondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar, misalnya desa Jabung (Nglawu), desa Bantengan, dan lain-lain.

Jumlah santri yang begitu besar dan berasal dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang itu menunjukkan kebesaran lembaga pendidikan ini. Alumni Pondok ini banyak yang menjadi orang besar dan berjasa kepada bangsa Indonesia. Di antara mereka ada yang menjadi kyai, ulama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, negarawan, pengusaha, dll. Sekadar menyebut sebagai contoh adalah Paku Buana II atau Sunan Kumbul, penguasa Kerajaan Kartasura; Raden Ngabehi Ronggowarsito (wafat 1803), seorang Pujangga Jawa yang masyhur; dan tokoh Pergerakan Nasional H.O.S. Cokroaminoto (wafat 17 Desember 1934).

Dalam Babad Perdikan Tegalsari diceritakan tentang latar belakang Paku Buana II nyantri di Pondok Tegalsari. Pada suatu hari, tepatnya tanggal 30 Juni 1742, di Kerajaan Kartasura terjadi pemberontakan Cina yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi Susuhuhan Kuning, seorang Sunan keturunan Tionghoa. Serbuan yang dilakukan oleh para pemberontak itu terjadi begitu cepat dan hebat sehingga Kartasura tidak siap menghadapinya. Karena itu Paku Buana II bersama pengikutnya segera pergi dengan diam-diam meninggalkan Keraton menuju ke timur Gunung Lawu. Dalam pelariannya itu dia sampai di desa Tegalsari. Di tengah kekhawatiran dan ketakutan dari kejaran pasukan Sunan Kuning itulah kemudian Paku Buana II berserah diri kepada Kanjeng Kyai Hasan Besari. Penguasa Kartasura ini selanjutnya menjadi santri dari Kyai wara` itu; dia ditempa dan dibimbing untuk selalu bertafakkur dan bermunajat kepada Allah, Penguasa dari segala penguasa di semesta alam.

Berkat keuletan dan kesungguhannya dalam beribadah dan berdoa serta berkat keikhlasan bimbingan dan doa Kyai Besari, Allah SWT mengabulkan doa Paku Buana II. Api pemberontakan akhirnya reda. Paku Buana II kembali menduduki tahtanya. Sebagai balas budi, Sunan Paku Buana II mengambil Kyai Hasan Besari menjadi menantunya. Sejak itu nama Kyai yang alim ini dikenal dengan sebutan Yang Mulia Kanjeng Kyai Hasan Bashari (Besari). Sejak itu pula desa Tegalsari menjadi desa merdeka atau perdikan, yaitu desa istimewa yang bebas dari segala kewajiban membayar pajak kepada kerajaan.

Setelah Kyai Ageng Hasan Bashari wafat, beliau digantikan oleh putra ketujuh beliau yang bernama Kyai Hasan Yahya. Seterusnya Kyai Hasan Yahya digantikan oleh Kyai Bagus Hasan Bashari II yang kemudian digantikan oleh Kyai Hasan Anom. Demikianlah Pesantren Tegalsari hidup dan berkembang dari generasi ke generasi, dari pengasuh satu ke pengasuh lain. Tetapi, pada pertengahan abad ke-19 atau pada generasi keempat keluarga Kyai Bashari, Pesantren Tegalsari mulai surut.

Alkisah, pada masa kepemimpinan Kyai Khalifah, terdapat seorang santri yang sangat menonjol dalam berbagai bidang. Namanya Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyainya dan Kyai pun sayang kepadanya. Maka setelah santri Sulaiman Jamaluddin dirasa telah memperoleh ilmu yang cukup, ia diambil menantu oleh Kyai dan jadilah ia Kyai muda yang sering dipercaya menggantikan Kyai untuk memimpin pesantren saat beliau berhalangan. Bahkan sang Kyai akhirnya memberikan kepercayaan kepada santri dan menantunya ini untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor.
Yz_Byte - 27/06/2009 01:55 PM
#28

Quote:
Original Posted By Tithit Kejepit
Spoiler for dawet


۞[Apa&Siapa] Yang Membuat Kars.Madiun Dikenal۞



Dawet Jabung (jodoh ditangan lepek)


Dawet satu ini, cukup sensasional. Bukan saja rasanya, tapi juga cerita menarik dibaliknya. Namanya, Dawet Jabung, lokasinya, di Desa Jabung arah ke Pondok Gontor, Ponorogo. Di perempatan jalan ini akan ditemui banyak penjual dawet Jabung.
Selain dawet, di meja akan terhidang berbagai aneka goreng-gorengan, seperti tetel, pisang, tahu, tempe, trimbil, dan pia-pia.
Penjualnya kebanyakan perempuan muda dan berparas ayu.
Ditemani dua orang berondong, Adam (co-driver) dan Anton (my fotographer), kita wira-wiri dulu nggak langsung masuk warung. “Nyari penjual yang puaaalinnnggg ayu,” alasan si Anton.

Penjual yang berparas ayu ini akan menyodorkan mangkok di atas lepek. Nah, dari cara mengambil mangkok ini, bisa dilihat apakah orang tersebut warga Ponorogo atau pendatang luar kota. Bagi pembeli luar kota, lepek (piring kecil ) yang di bawahnya jangan diambil sebab menurut cerita, jika ada pembeli laki-laki yang mengambil lepek, dan si penjual membiarkannya berarti sang penjual bersedia “Menikah” dengan laki-laki tersebut, sebaliknya jika laki-laki tersebut sengaja mengambil lepek berarti ia “Naksir” terhadap penjualnya.

Spoiler for bakul dawet


۞[Apa&Siapa] Yang Membuat Kars.Madiun Dikenal۞



Entah kebetulan atau tidak, seorang pembeli dari luar kota, tanpa sengaja mengambil mangkok bersama lepeknya. “Mas, mangkoknya saja yang diambil,” ingat si penjual. Ketika ditanya alasannya, si Mbak hanya menyahut “Lepeknya buat tutup gula, nanti diserbu lalat,” tolaknya haluss. Ssttt…saya kasak-kusuk sama si Anton, “Mbak’nya jelas nolak, wong sudah tuwirr,” bisik saya.

Di saat lain, Adam temen saya iseng mencoba mengambil lepeknya, lalu si embak malah berjuang mati-matian menarik lepek. “Wakaka…itu artinya kamu ditolak tahu he..he..he,” komentar saya. Jelas ajalah ditolak ama si embak tuh si Adam modelnya, ngga jelas apalagi rambutnya petal..he..he ..sorry yo dam !

Faktanya : Penjual dawet jabung memang ayuuuuu ! tapi menurut Mbah Sumini pelopor dawet jabung, tidak ada critanya penjual dawet digondol sama pembeli cuman gara-gara lepeknya diambil..!huahaaa..jadi cuman gosip gitu lho!

Foto : by Anton Kusnanto
sumber


yang enak dawet jabung tu depan pasar jabung..
Zack Cluzhoo - 29/06/2009 09:55 AM
#29

Quote:
Original Posted By Yz_Byte
yang enak dawet jabung tu depan pasar jabung..


Enak nang Yu TARI...,DDD
bungl0n - 29/06/2009 12:31 PM
#30

wduh, thread ini dikuasai om MQ beserta turunannya.. wkwk! btw PT.INKA, ikut donk,
tizansuya - 01/07/2009 09:11 AM
#31

sambel pecel
tizansuya - 01/07/2009 09:29 AM
#32

Quote:
Original Posted By Tithit Kejepit
udah, tp itukan ga begitu terkenal
kalo berdasarkan judul thread
ya yg dikenal secara luas


jo ngono gan nek gak di promosekne kapan terkenale sopo ngerti mbesuk dadi terkenal hayoo.......
Sang Prameswari - 21/07/2009 02:25 PM
#33

Spoiler for pict bandwith killer


۞[Apa&Siapa] Yang Membuat Kars.Madiun Dikenal۞




Ratih Sanggarwati
Perempuan
Islam
Ngawi, Jawa Timur, 08 Desember 1962
peragawati, model, pemain sinetron, pengusaha, penulis


Kariernya bermula saat Ratih Sang masuk SMU di Madiun. Ia mengikuti Lomba Pemilihan Putri Indonesia yang diselenggarakan oleh majalah Gadis, satu-satunya majalah remaja masa itu. Ratih Sang menjadi salah seorang dari 20 finalis ajang itu, bahkan terpilih sebagai Puteri Photogenic Lux 1980. Prestasi tersebut membawanya ke Jakarta. Sayapnya semakin mengembang setelah ia berhasil terpilih sebagai None Jakarta 1983. Karir Ratih Sang mulai berkembang saat dirinya mulai menggeluti dunia model. Postur tubuhnya yang menarik dan ideal, 172 cm dan 60 kg, membantunya menjadi bintang catwalk. Hal tersebut bukan penunjang utama kesuksesannya. Kesuksesannya adalah karena ketekunannya dalam menggeluti karir. Mode merupakan art yang seakan mengalir dalam darahnya.

Tahun 1997 Ratih Sang mulai melepas kegiatannya sebagai model karena hamil. Namun bukan berarti dia lepas dari dunia modeling. Ratih Sang kemudian mendirikan model agency, sebuah sekolah model dan kursus pengembangan kepribadian yang ia beri nama, `Ekpose`. Sekolah itu ia dirikan bersama beberapa rekan seprofesi, peragawati papan atas, Kintan Umar dan Larasati.

Tahun 2000, Ratih Sang memutuskan untuk mengenakan jilbab. Hal itu tidak menghalanginya untuk melanjutkan kiprahnya di dunia hiburan Indonesia. Meski tak berlenggak-lenggok lagi di catwalk, Ratih Sang tetap berkarya. Ratih Sang menulis buku-buku tentang mode. Di antara karyanya adalah "Tampil Anggun Dengan Busana Muslim Ala Ratih Sang", "Jubah Ratih Sang: Satu Pola Beragam Gaya", "Kiat Menjadi Model Profesional", "Kata Mata dan Hati dan Kerudungmu Tak Sekedar Cantikmu". Awal Oktober 2007 (pada pertengahan bulan puasa), Ratih Sang meluncurkan buku ketiganya tentang kerudung, yaitu Kerudung Anggun.[1] Ratih Sang juga mempunyai sebuah butik busana muslim. "Sang Saqinah" merupakan nama butiknya yang telah dirintis sejak tahun 2001.

Tak hanya dunia model, Ratih Sang juga mencoba dunia teater dan seni peran. Ia memulai bermain teater sejak 1981, waktu itu ia ditawari Remy Sylado. Teater pertamanya dipentaskan di Flores Room di Hotel Borobudur dan teater kedua dipentaskan di Graha Bakti Budaya bersama Renny Djayusman. Pada pementasan kedua itulah, Ratih Sang dipercaya sebagai peran utama bersama Renny Djayusman. Ratih Sang juga bermain dalam sinetron "Salwa"(2006) yang ditayangkan oleh stasiun televisi Indosiar. Ratih Sang juga mempelopori ajang Pemilihan Model Muslimah tingkat nasional. Kontes ini diadakan tahun 2004 dan 2005.

Ratih Sang juga merambah dunia tarik suara dengan merilis album religius pada bulan September 2007. Album berjudul "Bumi Telah Renta" diambil dari bait puisi yang selama ini ia bacakan. Meski album ini berlabelkan Ratih Sanggarwati, namun Ratih Sang tidak ikut menyumbangkan suara dalam album ini. Ratih Sang hanya sebagai penulis lagu, sementara RASI Band yang mengumandangkan lagu.

Ratih Sang menikah dengan Isman Budisepta Zen. Dari pernikahan ini, mereka mempunyai 3 orang anak, Dhianya Nuasnigi Zen,Sanyadwia Ghinasni Zen dan Danyafatima Hasnuagi Zen.
Gondrong Keren - 22/07/2009 10:54 AM
#34



۞[Apa&Siapa] Yang Membuat Kars.Madiun Dikenal۞



Umar Kayam (lahir di Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932 – wafat di Jakarta, 16 Maret 2002 pada umur 69 tahun) merupakan seorang sosiolog, novelis, cerpenis, dan budayawan berkebangsaan Indonesia.

Dia menjabat sebagai Guru Besar Sastra Universitas Gadjah Mada (1978-1997) juga pernah antara lain menjadi Direktur Jenderal (Dirjen) Radio, Televisi, Film Departemen Penerangan (1966-1969) serta Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972).

Ia juga pernah memerankan Presiden Soekarno, pada film Pengkhianatan G 30 S/PKI.

Umar Kayam wafat pada 16 Maret 2002 setelah menderita patah tulang paha pangkal kiri. Umar Kayam meninggalkan seorang istri dan dua anak.
Gondrong Keren - 22/07/2009 11:15 AM
#35

PANGKALAN TNI AU ISWAHJUDI




Sejarah singkat.

Lanud lswahjudi dibangun Belanda pada tahun 1939 digunakan untuk keperluan Militer ( Militaire Luchvaart) dengan nama Pangkalan Udara Maospati. Pada saat pecah perang pasifik tahun 1941 dijadikan basis kekuatan tentara sekutu di Pulau Jawa.

Ketika Belanda menyerah kepada Jepang Tanggal 8-3-1942 Pangkalan Udara Maospati dikuasai Angkatan Laut Jepang (Kaigun Kokusho). Disamping Angkatan Laut ditempatkan pula Batalyon Angkatan Darat (Rikugun) yang bertugas sebagai Pasukan Pertahanan Pangkalan. Pangkalan ini juga digunakan untuk menyimpan segala jenis motor pesawat buatan Jepang. Jika pangkalan lain memerlukan mesin pesawat maka dipasok dari Pangkalan Maospati.

Setelah Jepang menyerah kapada sekutu dan Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Pangkalan Udara Maospati dikuasai oleh laskar-laskar perjuangan saat itu. Perubahan nama Pangkalan Udara Maospati menjadi Pangkalan TNI AU lswahjudi berdasarkan Surat Keputusan Menteri I Panglima Angkatan Udara Nomor: 564 Tanggal 4 Nopember 1960.

Dengan berkembangnya peran Lanud Iswahjudi dalam perebutan Irian Jaya, menjadi Pangkalan Udara Utama (Lanuma). Saat ini Pangakalan TNI AU lswahjudi merupakan Lanud tipe A dengan sebutan Lanud lswahjudi.


Riwayat Singkat Iswahjudi.

Iswahjudi lahir di Surabaya tanggal 15 Juli 1918 putra ke dua Bapak Wiromiharjo pegawal Suiker Syudikat jaman Belanda. Setelah tamat HIS kemudian melanjutkan ke MULO dan AMS di Malang, selanjutnya mengikuti Sekolah Penerbang di Kalijati. Menikah dengan gadis bernama Suwarti pada tanggal 27 Maret 1944.

Setelah Indonesia merdeka, Iswahjudi merasa terpanggil untuk ikut dalam perjuangan bangsa Indonesia. Pergi ke Jogyakarta bergabung dengan Adi Sucipto untuk mengembangkan kekuatan Dirgantara Nasional. Beberapa kali mendapat kepercayaan untuk menerbangkan pesawat dan Jogyakarta ke tempat-tempat lain guna menggugah semangat para pemuda pejuang dan meningkatkan kekuatan Dirgantara Nasional.

Tahun 1947 diserahi jabatan Komandan Pangkalan Udara Maospati. Dalam jabatan ini Iswahjudi didampingi Nurtanio dan Wiweko Supono, tokoh terkenal sebagai perintis Industri Penerbangan Tanah Air. Dan Maospati Iswahjudi dipindahkan ke Bukit Tinggi untuk merintis pembangunan Pangkalan Udara serta membina Organisasi AURI di sana.

Awal Desember 1947 Iswahjudi mendapat tugas ke Luar Negeri bersama Halim Perdana Kusuma, untuk membawa pulang pesawat AVRO ANSON VA-BBY yang dibeli pemerintah Indonesia. Dalam perjalanan kembali ke Tanah Air mengalami musibah, pesawat yang dikemudikan jatuh di Tanjung Hantu Malaysia pada tanggal 14 Desember 1947, kedua perintis TNI AU yakni Iswahjudi dan Halim Perdana Kusuma gugur pada saat itu.


Visi Misi

Visi. Mewujudkan Pangkalan Udara Model yang diawaki oleh “Airman” pejuang yang profesional.

Misi:
- Membina dan menyiapkan satuan-satuan dalam jajaran Lanud lswahjudi.
- Mengumpulkan dan merekam data guna penyempurnaan taktik dan teknik operasi dan latihan.
- Melaksanakan pembekalan dan pengadaan materiil bagi satuan-satuan dalam jajaran Lanud.
- Menyelenggarakan pemeliharaan Alutsista sampai dengan tingkat sedang.
- Menyelenggarakan pemeliharaan sarana dan prasarana serta fasilitas pendukung
- Menyelenggarakán pembinaan potensi dirgantara
- Koordinasi dengan instansi lain dan mengajukan saran kepada satuan atas

Saat ini Komandan Lanud iswahjudi dijabat oleh Marsekal Pertama TNI Dede Rusamsi penerbang pesawat tempur F-5/Tiger II, yang lahir di Tasikmalaya pada tanggal 19 Desember 1957, alumni AAU 1981, Sekbang angkatan 27 tahun 1981


Satuan-satuan Dalam Jajaran Lanud Iswahudi

* Wing 3 Tempur. Satuan pelaksana pembina teknis dalam rangka kesiapan operasi awak pesawat yang berada dalam jajaran Lanud lswahjudi. Saat mi Komandan Wing 3 Tempur dijabat oleh Kolonel Pnb Dody Trisunu.
* Skadron Udara 3. Satuan Pelaksana yang mengelola dan mengoperasikan pesawat tempur F-16/Fighting Falcon. Saat ini Komandan Skadron Udara 3 dijabat oleh Letkol Pnb Age Wiraksana, S.I.P, MA.
* Skadron Udara 14. Satuan pelaksana yang mengelola dan mengoperasikan pesawat tempur F-SE/Tiger II. Saat ini Komandan Skadron Udara 14 dijabat oleh Letkol Pnb Syamsul Rizal.
* Skadron Udara 15. Satuan pelaksana yang mengelola dan mengoperasikan pesawat tempur Hawk MK-53. Saat ini Komandan Skadron Udara 15 dijabat oleh Mayor Pnb Teddy Rizaliadi, S.T.
* Skadron Teknik 042. Satuan pelaksana perbaikan pesawat hingga tingkat sedang. Saat mi Komandan Skadron Teknik 042 dijabat oleh Letkol Tek lsdwiyanto
* Pomau. Satuan pengaman fisik dan penegak tata tertib dan disiplin. Saat ini Komandan Satpomau dijabat oleh Mayor Porn Denny R. Permana.
* Rumah Sakit Lanud Iswahjudi. Rumah Sakit Kelas III, menyelenggarakan dukungan kesehatan untuk kegiatan operasi dan latihan. Saat mi Kepala Rumah sakit Lanud lswahjudi dijabat oleh Letkol Kes dr. Alex Chandra, Sp.OG

Disamping satuan-satuan dalam jajaran Lanud Iswahjudi, juga terdapat satuan-satuan Insub diantaranya:

* Skadron 463 Paskhas, dibawah jajaran Wing 3 Paskhas-Korpaskhas.
* Depo Pemeliharaan 20 dan Depo Pemeliharaan 60 dibawah jajaran Koharmatau
* Sekolah Bahasa dibawah jajaran Skadik 505-Wing Dikum-Kodikau.

Gondrong Keren - 26/07/2009 03:04 PM
#36

Raden Tumenggung Yosonegoro (R.T. Yosonegoro) adalah Bupati Magetan pertama, yang menjabat dari tahun 1675-1703. Ia lahir dengan nama kecil Basah Bibit atau Basah Gondokusumo dan merupakan cucu dari Raden Basah Suryaningrat.

R.T. Yosonegoro diwisuda sebagai penguasa wilayah Magetan pada tanggal 12 Oktober 1675, sekaligus tanggal tersebut menjadi tanggal lahir resmi Kabupaten Magetan.

Bupati Yosonegoro wafat pada tahun 1703 dan bersama mendiang istrinya dimakamkan di makam Setono Gedong di Desa Tambran Kecamatan Magetan.
Gondrong Keren - 29/07/2009 02:25 PM
#37


Gunung Lawu (3.265 m) terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api "istirahat" dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous.

Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.

Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, mausoleum untuk keluarga presiden kedua Indonesia, Suharto.

Gunung Lawu sangat populer untuk kegiatan pendakian. Setiap malam 1 Sura banyak orang berziarah dengan mendaki hingga ke puncak. Karena populernya, di puncak gunung bahkan dapat dijumpai pedagang makanan.

Pendakian standar dapat dimulai dari dua tempat (basecamp): Cemorokandang di Tawangmangu, Jawa Tengah, serta Cemorosewu, di Sarangan, Jawa Timur. Gerbang masuk keduanya terpisah hanya 200 m.

Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air: Sendang (kolam) Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 dan Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5.

Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 selter dengan jalur yang relatif telah tertata dengan baik.

Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih nge-track. Akan tetapi jika kita lewat jalur ini kita akan sampai puncak lebih cepat daripada lewat jalur Cemorokandang. Pendakian melalui Cemorosewu jalannya cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata.

Jalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Pos ke4 baru direnovasi,jadi untuk saat ini di pos4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Biasanya kita tidak sadar telah sampai di pos 4.

Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat telaga Sarangan dari kejahuan. Jalur dari pos 4 ke pos 5 sangat nyaman, tidak nge-track seperti jalur yang menuju pos 4. Di pos2 terdapat watu gedhe yang kami namai watu iris(karena seperti di iris).

Di dekat pintu masuk Cemorosewu terdapat suatu bangunan seperti masjid yang ternyata adalah makam.Untuk mendaki melalui Cemorosewu(bagi pemula) janganlah mendaki di siang hari karena medannya ga nguatin untuk pemula.

Di atas puncak Hargo Dumilah terdapat satu tugu.

Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.

Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Keraton Yogyakarta.

Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.

Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani.

Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak lahir putra Raden Fatah, dari Dara Jingga lahir putra Pangeran Katong.

Raden Fatah setelah dewasa agama islam berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak).

Melihat kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.

Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.

Saat itu Sang Prabu bertitah, "Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.

Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini.

Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.
Gondrong Keren - 06/08/2009 09:18 AM
#38



۞[Apa&Siapa] Yang Membuat Kars.Madiun Dikenal۞



DR. H. Soekarwo, SH, M.Hum (lahir di Madiun, Jawa Timur, 16 Juni 1950; umur 59 tahun) adalah Gubernur Jawa Timur periode 2009-2014.

Soekarwo menamatkan pendidikannya di SR Negeri Palur Madiun (1962), SMP Negeri 2 Ponorogo (1965), serta SMAK Sosial Madiun (1969). Gelar sarjana hukum diperolehnya di Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya (1979), sementara gelar pascasarjana hukum di Universitas Surabaya (1996), dan gelar doktornya di Universitas Diponegoro Semarang (2004).

Soekarwo mengawali karirnya sebagai Pegawai Negeri Sipil. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendapatan Provinsi Jawa Timur, dan terakhir sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur (2003-2008). Ia juga dipercaya sebagai Komisaris Utama Bank Jatim sejak tahun 2005.

Soekarwo terpilih sebagai Gubernur Jawa Timur dalam Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur yang diselenggarakan selama dua putaran (putaran pertama tanggal 23 Juli 2008 dan putaran kedua tanggal 4 November 2008) serta pemilihan ulang putaran kedua di Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang tanggal 21 Januari 2009. Pelantikan Soekarwo sebagai Gubernur dan Saifullah Yusuf sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur dilaksanakan pada tanggal 12 Februari 2009 oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto.
anak.singkong - 24/12/2009 01:30 PM
#39

sup:
pLinThenG - 24/12/2009 03:37 PM
#40

mantaf gan !!!
Page 2 of 5 |  < 1 2 3 4 5 > 
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > JAWA TIMUR & BALI > Karesidenan Madiun > ۞[Apa&Siapa] Yang Membuat Kars.Madiun Dikenal۞