Karesidenan Kediri
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > JAWA TIMUR & BALI > Karesidenan Kediri > ۞ Apa&Siapa yang Membuat Kars.Kediri Dikenal ۞
Total Views: 3694 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 5 |  1 2 3 4 5 > 

Gondrong Keren - 10/07/2009 03:35 PM
#1
۞ Apa&Siapa yang Membuat Kars.Kediri Dikenal ۞



Thread ini khusus untuk postingan yg berisi sosok, tempat atau perisitiwa
yg membuat Kars.Kediri (Plat AG) dikenal banyak orang
baik secara regional, nasional maupun internasional.
paling tidak, thread menjadi ciri khas Regional Kediri
krn yg ada dalam thread ini hanya ada & terjadi di Kars.Kediri
sekaligus membuat kaskuser lain untuk lebih mengenal Kediri






NO JUNK Here!!!! mad:
iam not junker - 10/07/2009 03:39 PM
#2



reserved 4 index



aylin - 10/07/2009 03:45 PM
#3

yang jelas

PERSIK

ama

TAHU nya mas


bener2 terkenal...

siapa sih yang gak tau PERSIk DDD ( yang jelas yang suka bola. kalo tanya ibu2 yah gak paham )

kalo tahu.... bisa di hitung toko yang jual tahu di kediri... bisa ampe 200an toko tuh DDD

pabrik tahu juga ada beberapa disini DDD
Gondrong Keren - 10/07/2009 03:45 PM
#4

Ratu Joyoboyo, also Sri Mapanji Jayabaya or Jayabhaya, reigned over the Indianized kingdom of Kediri in East Java from AD1135 to 1157. He reunified the kingdom after a split that occurred with the death of his predecessor Airlangga. He is also remembered for his just and prosperous rule, and reputed to have been an incarnation of the Hindu deity Vishnu. He is the archetypal Ratu Adil the just king who is reborn during the dark age of reversal "Jaman Edan" at the end of each cosmic cycle to restore social justice, order, and harmony in the world.

The manggala ("prologue") of the famous Kakawin Bhāratayuddha names Joyoboyo as the patron of the two poets, Mpu Sedah and Mpu Panuluh who wrote this work. Joyoboyo is also described as author of the Pralembang Joyoboyo, a prophetic book that played an important role in the Japanese occupation.

When Japan occupied the Netherlands East Indies, in the first weeks of 1942, Indonesians danced in the streets, welcoming the Japanese army as the fulfillment of the prophecy ascribed to Joyoboyo, who foretold the day when white men would one day establish their rule on Java and tyrannize the people for many years – but they would be driven out by the arrival of yellow men from the north. These yellow men, Joyoboyo had predicted, would remain for one crop cycle, and after that Java would be freed from foreign domination. To most of the Javanese, Japan was a liberator: the prophecy had been fulfilled.

The Japanese freed Indonesian nationalists from Dutch prisons and hired them as civil servants and administrators. In the waning days of 1944, however, it was clear that Japan could not win the war. The Japanese officially granted Indonesia its independence on 9 August 1945, and the commander of Japan's Southeast Asian forces appointed future President Sukarno as chairman of the preparatory committee for Indonesian independence. As one account of Indonesian history puts it, "With the minor exception that three crops had been harvested, Jayabaya's prophecy had been realized."

Many believe that the time for the arrival of a new Ratu Adil is near (as the prophecies put it, "when iron wagons could drive without horses and ships could sail through the sky"), and that he will come to rescue and reunite Indonesia after an acute crisis, ushering in the dawn of a new golden age.

It is believed that Hadi Setyono is the King of Indonesia, known as savior of Indonesian People. He is believed as the just king who is reborn during the dark age of reversal "Jaman Edan" at the end of each cosmic cycle to restore social justice, order, and harmony in the world.
Gondrong Keren - 10/07/2009 03:47 PM
#5

Quote:
Original Posted By aylin
yang jelas

PERSIK

ama

TAHU nya mas


bener2 terkenal...

siapa sih yang gak tau PERSIk DDD ( yang jelas yang suka bola. kalo tanya ibu2 yah gak paham )

kalo tahu.... bisa di hitung toko yang jual tahu di kediri... bisa ampe 200an toko tuh DDD

pabrik tahu juga ada beberapa disini DDD


postingan yg jelas dung
termasuk sejarah persik
atau proses tahu takwa ato tahu pong
bikin postingan yg bermutu dung demi regional baru
Gondrong Keren - 10/07/2009 03:52 PM
#6


Sejarah Persik Kediri

Berdiri : 1950
Julukan : Macan Putih
Sekretariat : Jl. Diponegoro 7 Kediri
Telepon : 0354-686690
Stadion : Brawijaya Kediri
Kapasitas : 20.000

Dalam catatan kearsipan pengurus, Persatuan Sepakbola Indonesia Kediri (Persik) berdiri pada tahun 1950, namun sayang tidak diketahui pasti mengenai tanggal dan bulannya. Sebagai pendiri adalah Bupati Kediri, R Muhammad Machin, karena saat itu Kediri masih berupa kabupaten, tidak ada pemisahan wilayah seperti sekarang, kabupaten dan kota. Dibantu Kusni dan Liem Giok Djie, pertama kali yang dilakukan Machin adalah merancang bendera tim yang tersusun dari dua warna berbeda. Bagian atas berwarna merah dan bawahnya hitam dengan tulisan PERSIK di tengah-tengah dua warna berbeda itu.

Sebagai tim perserikatan yang terdaftar di PSSI, Persik memiliki beberapa klub anggota, diantaranya PSAD, POP, Dhoho, Radio, dan Indonesia Muda (IM). Dalam tiga dekade (1960 hingga 1990-an) prestasi Persik belumlah menonjol bahkan di tingkat nasional pun masih kalah dibandingkan dengan “saudara mudanya” Persedikab Kabupaten Kediri yang pada era 1990-an tercatat dua kali mengikuti kompetisi Ligina.

Namun sejak ditangani Walikota Drs. H. A. Maschut, Persik menunjukkan perubahan. Mengawali debutnya di pentas nasional, Persik merekrut mantan pelatih Tim Nasional PSSI Pra Piala Dunia (PPD) 1986, Sinyo Aliandoe, untuk menangani klub kebanggaan warga Kota Kediri itu dalam Kompetisi Divisi I periode 2000-2001. Di bawah tangan dingin Om Sinyo itulah, para pemain Persik yang merupakan pemain-pemain dari Kediri dan sekitarnya itu mulai diperkenalkan dengan sistem sepakbola modern. Namun hanya dalam waktu satu tahun Om Sinyo berlabuh di Kota Kediri . Setelah itu Persik pun resmi ditangani mantan pemain Timnas PSSI, Jaya Hartono, yang sebelumnya hanyalah asisten Om Sinyo.

Sementara untuk semua urusan baik di dalam maupun di luar stadion, HA Maschut meminta bantuan putra menantunya, Iwan Budianto, yang beberapa tahun sebelumnya menangani Arema Malang. Di tangan Iwan-Jaya itulah, tim berjuluk “Macan Putih” itu unjuk gigi dengan berhasil menyabet gelar juara Kompetisi Divisi I PSSI tahun 2002. Gelar tersebut sekalkigus mengantarkan tim kebanggaan warga Kota Kediri itu “naik kelas” sebagai kontestan Divisi Utama dalam Ligina untuk musim kompetisi IX/2003.

Sejak kompetisi itu digelar pada bulan Januari 2003, Persik sudah mengklaim dirinya sebagai tim dari daerah yang tak sekadar “Numpang Lewat”. Tekad itu terpatri di dalam lubuk sanubari para pemain, sehingga dengan usaha keras dan penuh dramatis, Persik mampu mencuri perhatian publik bola di Tanah Air setelah berhasil memboyong Piala Presiden setelah mengukuhkan dirinya sebagai juara Ligina IX/2003.

Persik mampu memupuskan harapan tim-tim besar, seperti PSM Makassar, Persija Jakarta, dan Persita Tangerang yang saat itu sangat berambisi menjadi kampiun dalam kompetisi paling bergengsi di Jagad Nusantara ini. Piala Presiden itu kembali berlabuh di Kota Kediri setelah Persik berhasil menjuarai kompetisi Divisi Utama Ligina XII/2006 setelah menyudahi perlawanan sengit PSIS Semarang dengan skor 1-0 di partai final yang digelar di Stadion Manahan Solo, September 2006 lalu.

Dipandang Sebelah Mata

Untuk mendapatkan prestasi seperti itu tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Persik yang awalnya dipandang sebelah mata berubah menjadi tim yang lapar akan kemenangan. Ini bisa dilihat di awal-awal kompetisi LBM IX berjalan, Persik terseok-seok bahkan pernah menduduki peringkat ke-13 klasemen sementara.

Perlahan tetapi pasti, kemenangan demi kemenangan diraihnya hingga pada putaran pertama Persik sempat menempati puncak klasemen sementara. Dan di putaran kedua prestasi Pesik semakin stabil hingga kompetisi berakhir Persik sukses menjadi juara.

Dengan diperkuat tiga legiun asing asal Cile, yakni Fernando, Juan Carlos dan Alejandro Bernald, pada tahun 2002 Persik menorehkan tinta emas setelah berhasil menyabet Juara Divisi I PSSI, dimana pertandingan empat besarnya diselenggarakan di Manado. Prestasi itu memastikan Persik masuk Divisi Utama Ligina IX/2003. Namun sebelum ikut kompetisi paling bergengsi di Tanah Air itu, Persik mencatat prestasi gemilang setelah sukses merengkuh gelar juara Piala Gubernur Jatim I/2004 di Surabaya . Gelar itu kembali direbutnya pada Piala Gubernur III/2005 di Gelora Delta Sidoarjo setelah menyudahi perlawanan tim debutan Persekabpas Kabupaten Pasuruan.

Tangan Dingin Di Balik Persik

Prestasi demi prestasi yang ditorehkan Persik, tak bisa lepas dari perjuangan dan kegigihan beberapa tokoh sepakbola Kota Kediri. Sejak tahun 1999 Walikota Drs H.A. Maschut memegang jabatan sebagai Ketua Umum. Ia dibantu J.V. Antonius Rahman yang saat itu menjabat Ketua DPRD Kota Kediri sebagai Ketua Harian Persik dan tokoh sepakbola, Barnadi sebagai Sekretaris Umum.

Namun tak bisa dilupakan pula perjuangan Iwan Budianto sebagai manajer tim untuk mengangkat citra Kota Kediri di bidang sepakbola bersama Eko Soebekti dan Suryadi, masing-masing menempati posisi asisten manajer operasional dan asisten manajer keuangan.

Untuk aristek di lapangan baik pengurus maupun manajemen saat itu mengangkat mantan pemain Niac Mitra Surabaya, Jaya Hartono dibantu mantan pemain Arema Malang, Mecky Tata bertindak selaku asisten pelatih. Nama Iwan Budianto dan Jaya Hartono sudah cukup lama dikenal oleh publik bola di tanah air. Sebelum bergabung dengan Persik, Iwan Budianto pernah menjadi manajer tim Arema Malang pada Ligina V 1998/1999. Saat itu Arema menempati peringkat ketiga grup tengah II.

Sementara Jaya Hartono sudah tidak asing lagi. Selain malang melintang sebagai pemain di beberapa klub Galatama mulai dari Niac Mitra, Petrokimia Putra, BPD Jateng, Assyabaab Salim Group Surabaya, PKT Bontang hingga karirnya di timnas PSSSI selama sepuluh tahun mulai 1986 sampai 1996.

Untuk pertandingan kandang Persik menggunakan Stadion Brawijaya Kediri yang berkapasitas sekitar 15 ribu orang. Sementara untuk kegiatan manajerial Persik dipusatkan di sekretariat Persik di Jl Diponegoro 7 Kediri . No telp dan facsimili 0354-686690. (embe)


sumber
arifsmart - 10/07/2009 03:52 PM
#7

aq kok lagi weruh TS e iki??? regional metu, langsung muncul jg??
Gondrong Keren - 10/07/2009 04:32 PM
#8



۞ Apa&Siapa yang Membuat Kars.Kediri Dikenal ۞



Tahu Kuning Kediri, Atau sering juga disebut Tahu Takwa, merupakan produk unggulan Kediri, Jawa Timur. Makanan yang unik berwarna kuning ini sangat digemari masyarakat Kediri dan sekitarnya. Rasa yang khas, kenyal, bentuk yang unik, berbeda dengan tahu-tahu yang ada di pasaran sekarang ini. Diprediksi mulai diproduksi sekitar tahun 1920-an dan booming pada awal tahun 1950-an. Menjadi oleh-oleh khas Kediri, kota kecil di kaki Gunung Kelud, Jawa Timur.

Pelopor dan Legenda Pabrik Tahu Takwa Kediri
Pelopor industri tahu Kediri adalah Lauw Soe Hoek atau hingga kini lebih dikenal sebagai Bah Kacung. Ia mulai merintis usaha tahu sejak 1912. Saat ini usahanya telah diteruskan oleh cucunya Herman Budiono setelah putranya Yosef Seger Budisantoso (Lauw Sing Hian) meninggal bulan Mei 2008 lalu.


Sejak dahulu sejak pagi buta toko Bah Kacung telah melakukan aktivitasnya. Toko ini telah buka untuk melayani pembelinya sejak jam 6 pagi hingga jam 8 malam. Sebagai penerus generasi ke-3 Herman tetap berusaha menjaga tradisi yang telah ditetapkan oleh kakeknya itu.

Salah satu cara untuk menjaga “citra” tahu Bah Kacung adalah masih tetap mempertahankan cara tradisional dalam membuat tahu Bah Kacung. Peralatannya masih dibuat dari kayu dan batu, serta dikerjakan secara manual dengan tenaga manusia. Bahkan, pembakarannya masih menggunakan kayu. “Dengan menggunakan gilingan ini rasa tahu lebih gurih karena bubur kedelai tidak lumat terlalu halus seperti hasil jika digiling dengan mesin. Bahkan ampas tahunya masih terasa gurih.” Jelas Herman.

Sementara itu, industri tahu Kediri lain sudah lebih maju. Mereka berproduksi dengan peralatan dan kemasan moderen berbahan pengawet, sehingga bisa mengirim tahu ke luar Kediri. Tak heran jika kapasitas produksi Bah Kacung pun terbatas. Malah, sampai sekarang mereka tidak membuka cabang atau menitipkan tahunya ke agen manapun.

Hingga saat ini meski Bah Kacung telah meninggal tahun 1963, namun tahu Bah Kacung masih bisa kita nikmati dan membeli di tokonya yang terletak di Jalan Trunojoyo pecinan kota lama Kediri. Tahu produksi Bah Kacung memang telah menjadi legenda Kediri.

Proses pembuatan
Kedelai direndam dulu selama enam jam. Setelah kulit arinya dapat terlepas, kemudian digiling menjadi adonan bubur halus. Kedelai yang digiling akan berubah menjadi bubur encer kedelai putih.

Selanjutnya, bubur encer putih ini dimasak usahakan Apinya tidak boleh terlalu besar dan juga tidak boleh mati. Jadi, seluruh bagian cairan kedelai bisa matang dengan sempurna.

Lalu setelah matang disaring dengan kain hingga terpisah dengan ampasnya (ampas ini biasanya ada yang membeli untuk diolah menjadi tempe menjes).

Cairan ini harus diaduk perlahan dengan takaran tertentu dicampuri cuka. Setelah menggumpal, barulah adonan lumat ini dituang dalam cetakan. Usai diratakan dan ditekan supaya padat, gumpalan tadi dipres dengan alat dari kayu. Supaya tahunya sama sekali tidak berair, alat pres tadi diberi empat gandulan besi. Masing-masing beratnya 20 kg. Setelah dipres dengan besi selama seperempat jam, tahu dipotong dan siap dijual.

Sampai disini proses pembuatan tahu sudah selesai, dan disinilah bedanya antara tahu biasa dengan tahu takwa atau tahu kuning Kediri, untuk pembuata tahu takwa harus melewati satu proses lagi yaitu Tahu putih tadi harus dimasak dalam campuran air dan tumbukan kunyit, serta sedikit garam. Itu sebabnya, rasa takwa gurih dan sedikit asin. Warnanya juga kuning dan baunya lebih harum ketimbang tahu biasa. Tahu takwa juga enak dimakan begitu saja, tanpa dimasak terlebih dulu.



sumber
dg47 - 10/07/2009 04:43 PM
#9

ini juga yang bikin kediri terkenal

Quote:
The vision for today's Gudang Garam success began back in 1958.

On 26th June 1958, Mr. Surya Wonowidjojo began the business as a 'home industry' selling the kretek cigarette product under the brand Gudang Garam. Using traditional tools, the company initially hired about 50 people only to make the initial production of Kretek Klobot Cigarettes (SKL), kretek cigarettes using dried corn husks as the cigarette wrapper and Hand Made Cigarette (SKT) in the first factory located on the leased land of 1000m2 at Jalan Semampir II/I at Kediri, East Java. Gudang Garam initially produced about 50 millions cigarettes in 1959. In the beginning, the products were sold locally in the immediate Kediri area, but the Gudang Garam fame was soon to spread.

Within 10 years the popularity of the Gudang Garam brand led the founder to consider expansion. In 1969, the company changed its status from a sole proprietorship to a formal partnership. Bank Negara Indonesia (BNI) became Gudang Garam's strong financial partner providing capital support, first in millions of rupiah and later in the billions as the company grew.

In 1971, the status of the company became a Limited Liability Company (PT) and obtained Domestic Capital Investment facilities. The new status allowed PT Gudang Garam to become more progressive in terms of production quality, management and technology. Then, in 1979, PT Gudang Garam began to produce Machine Made Cigarette. The production of Machine Made Cigarette did not affect its labor intensive principle, even It provided more job opportunities.


Mr. Surya Wonowidjojo, passed away in 1985. He left wonderful memories to the whole employees of PT Gudang Garam. In this time, the cigarette industry was becoming more competitive that caused the company to work hard in order to maintain its growth and its employees' welfare the objectives of Mr. Surya Wonowidjojo.

In order to strengthen its capital structure and its financial position, PT Gudang Garam offered and sold a part of its shares to the public through the stock exchanges in Indonesia in 1990.

In 1991, PT Gudang Garam took a long-term strategic decision to diversify. In that year PT Gudang Garam developed an industrial paper business, by establishing PT Surya Pamenang that is also based in Kediri. Currently, 99% of PT Surya Pamenang's shares are owned by PT Gudang Garam.

Prior to this move, the company was reliant on imported materials for packaging, but the entry into this new business assured the constant provision of high quality domestic-sourced packaging material. Today, PT Surya Pamenang has grown beyond the service needs of its parent, PT Gudang Garam, supplying both the wider domestic and overseas export markets.



sumber
r3yboy - 10/07/2009 04:48 PM
#10
Legenda Tahu "Bah Kacung" Kediri
۞ Apa&Siapa yang Membuat Kars.Kediri Dikenal ۞

Spoiler for Pelopor Tahu Takwa
Pelopor dan Legenda di Kediri
Pelopor industri tahu Kediri adalah Lauw Soe Hoek atau hingga kini lebih dikenal sebagai Bah Kacung. Ia mulai merintis usaha tahu sejak 1912. Saat ini usahanya telah diteruskan oleh cucunya Herman Budiono setelah putranya Yosef Seger Budisantoso (Lauw Sing Hian) meninggal bulan Mei 2008 lalu.

Sejak dahulu sejak pagi buta toko Bah Kacung telah melakukan aktivitasnya. Toko ini telah buka untuk melayani pembelinya sejak jam 6 pagi hingga jam 8 malam. Sebagai penerus generasi ke-3 Herman tetap berusaha menjaga tradisi yang telah ditetapkan oleh kakeknya itu.

Menjaga kualitas dan rasa dari tahu dan takwa Bah Kacung. “Tahu kami memang sedikit mahal dari tahu Kediri yang lain di jalan Patimura (dulu: Pejagalan Lor) karena kami memang menjaga mutu dan rasa, tahu Bah Kacung sama seperti dulu.” Kata Herman.

Salah satu cara untuk menjaga “citra” tahu Bah Kacung adalah masih tetap mempertahankan cara tradisional dalam membuat tahu Bah Kacung. Peralatannya masih dibuat dari kayu dan batu, serta dikerjakan secara manual dengan tenaga manusia. Bahkan, pembakarannya masih menggunakan kayu. “Dengan menggunakan gilingan ini rasa tahu lebih gurih karena bubur kedelai tidak lumat terlalu halus seperti hasil jika digiling dengan mesin. Bahkan ampas tahunya masih terasa gurih.” Jelas Herman.

Sementara itu, industri tahu Kediri lain sudah lebih maju. Mereka berproduksi dengan peralatan dan kemasan moderen berbahan pengawet, sehingga bisa mengirim tahu ke luar Kediri. Tak heran jika kapasitas produksi Bah Kacung pun terbatas. Malah, sampai sekarang mereka tidak membuka cabang atau menitipkan tahunya ke agen manapun.

Hingga saat ini meski Bah Kacung telah meninggal tahun 1963, namun tahu Bah Kacung masih bisa kita nikmati dan membeli di tokonya yang terletak di Jalan Trunojoyo pecinan kota lama Kediri. Tahu produksi Bah Kacung memang telah menjadi legenda Kediri.

Proses pembuatan
Saat ini tahu olahan Bah Kacung menggunakan kedelai lokal karena lebih baru dan gurih kata Herman. Kedelai itu dipisahkan dulu kulit arinya. Tujuannya supaya tahu tidak cepat masam. Agar lebih mudah mengupas, kedelai direndam dulu selama enam jam. Setelah kulit arinya dapat terlepas, kemudian digiling menjadi adonan bubur halus. Penggilingnya berupa dua roda batu yang ditumpuk sehingga as rodanya bersatu, dan diberi tangkai kayu untuk memutar. Kedelai yang digiling akan berubah menjadi bubur encer kedelai putih.

۞ Apa&Siapa yang Membuat Kars.Kediri Dikenal ۞

Selanjutnya, bubur encer putih ini dimasak dalam bak dan tungku semen dengan bahan bakar kayu. Mereka tidak menggunakan gas atau minyak tanah. Konon, memasak dengan kayu membuat tahu menjadi matang merata atau lebih tanak. Apinya juga tak boleh terlalu besar dan juga tidak boleh mati. Jadi, seluruh bagian cairan kedelai bisa matang dengan sempurna.

Lalu setelah matang disaring dengan kain hingga terpisah dengan ampasnya (ampas ini biasanya ada yang membeli untuk diolah menjadi tempe menjes).

Cairan ini harus diaduk perlahan dengan takaran tertentu dicampuri cuka. Setelah menggumpal, barulah adonan lumat ini dituang dalam cetakan. Usai diratakan dan ditekan supaya padat, gumpalan tadi dipres dengan alat dari kayu. Supaya tahunya sama sekali tidak berair, alat pres tadi diberi empat gandulan besi. Masing-masing beratnya 20 kg. Setelah dipres dengan besi selama seperempat jam, tahu dipotong dan siap dijual.

Sebagian tahu dibikin takwa. Tahu putih itu harus dimasak dalam campuran air dan tumbukan kunyit, serta sedikit garam. Itu sebabnya, rasa takwa gurih dan sedikit asin. Warnanya juga kuning dan baunya lebih harum ketimbang tahu biasa. Takwa juga enak dimakan begitu saja, tanpa dimasak terlebih dulu.

۞ Apa&Siapa yang Membuat Kars.Kediri Dikenal ۞

Dalam satu hari Herman dapat menghasilkan 200 potong tahu dari 20 kilogram biji kedelai. Memang sangat sedikit karena tidak menjual melalui agen hanya cukup di tokonya saja. Selain itu cara pengolahan juga mempengaruhi dari kuantitas tahu.

“Jika menggunakan gilingan mesin dapat dihasilkan lebih 200 potong tahu dari 20 kilogram kedelai. Tapi menurut ayah saya rasa tahu akan berbeda dari yang biasa kami buat. Karena menggunakan gilingan bubur kedelai akan sangat halus. Bahkan ampasnya sangat sedikit.” Menurut Herman.

Tapi jika pada waktu-waktu tertentu kami akan menambah produksi. Seperti waktu liburan atau hari perayaan. Pembelinya tentu saja tidak hanya dari kota Kediri saja tapi juga luar kota, pelanggan dari zaman Bah Kacung. Tahu dan takwa hasil produksinya memang terkenal berkadar air rendah dan tidak cepat basi.

Saat pembeli memesan tahu tersebut akan dikemas dan diberi label. Bertuliskan, "Perusahaan Tahu dan Takwa Bah Kacung (Cakrawijaya). Terkenal Sejak 1912". Kami tidak membuka cabang/agen dimanapun. Hanya di jalan Trunojoyo 59 – Kediri.

Tetap Menjaga Mutu
Herman Budiono sebagai penerus atau generasi ke-3 dari tahu Bah Kacung ternyata baru saja menerima alih generasi. Karena meninggalnya Yosef Seger Budisantoso (Lauw Sing Hian) beberapa bulan yang lalu.

Saat ditanya bagaimana rencana selanjutnya untuk mengembangkan usaha dari leluhurnya, dia belum dapat memastikan. “Yang terpenting saya harus dapat tetap mempertahankan citra tahu Bah Kacung. Tahu sebagai makanan yang sehat dan bergizi. Tetap melakukannya dengan jujur dan benar. Misalnya tidak menambahkan bahan-bahan yang dapat berbahaya bagi kesehatan. Ini pesan dari turun temurun.” Ungkap Herman.

Namun tidak menutup kemungkinan baginya jika dapat memperbesar usahanya dengan tetap pada prinsip. Karena tahu Bah kacung tidak mengandung bahan pengawet maka dikhawatirkan akan tidak dapat bertahan lama jika dititipkan pada toko-toko lain apalagi di luar kota.


Sedikit informasi mengenai manfaat tahu :

- Tahu dapat menurunkan kolesterol

( “Orang yang ingin menurunkan kolesterol sebaiknya mencoba mengonsumsi tahu atau oatmeal,” ungkap David Jenkins dari University of Toronto seperti yang dikutip AP belum lama ini. Studi yang dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition edisi teranyar ini dilakukan pada 55 orang lelaki dan perempuan usia setengah baya yang mengidap kolesterol tinggi.

Setelah mengikuti diet sehat, partisan tersebut diikutkan pada pola makan beragam, mulai dari kacang almond, tahu, sayuran mentah, dan jenis makanan kedelai lain. Setelah setahun, kolesterol mereka diukur.
Hasilnya, mereka yang mengonsumsi tahu mengalami penurunan kolesterol lebih besar dibanding kelompok pengonsumsi makanan lain. Penurunan ini dapat mencapai 10-20 persen.(sumber) )

- Tahu dapat mencegah kanker payudara

(Sebuah studi lawas sempat dilakukan oleh Anna H. Wu dan rekan-rekannya di University of Southern California, AS. Mereka melakukan studi terhadap 144 perempuan sehat keturunan China di Singapura.
Hasilnya, mereka yang mengonsumsi tahu 25 persen lebih banyak mengalami peningkatan pembentukan estrogen dibanding yang tidak. Tekanan darah mereka juga lebih rendah ketimbang kelompok yang tidak mengonsumsi tahu. (sumber))

- Tahu dapat memperlambat proses penuaan pada wanita karena mengandung isoflavon ( Hormon Estrogen. )

Bila ada tambahan dari juragan, monggo di share beer:

Sudahkan juragan semua makan tahu hari ini ??? D
Gondrong Keren - 10/07/2009 04:56 PM
#11


۞ Apa&Siapa yang Membuat Kars.Kediri Dikenal ۞


Candi Panataran adalah sebuah candi berlatar belakang Hindu (Siwaitis) yang terletak di Jawa Timur, tepatnya di lereng barat daya Gunung Kelud, di sebelah utara Blitar. Kompleks candi ini merupakan yang terbesar di Jawa Timur. Candi ini mulai dibangun dari kerajaan Kadiri dan dipergunakan sampai dengan kerajaan Majapahit. Candi Penataran ini melambangkan penataan pemerintahan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa Timur.

Candi Penataran dipercaya adalah candi Palah yang disebut dalam prasasti Palah, dibangun pada tahun 1194 oleh Raja Crnga (Grenggra) yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Grengalancana Digwijayottungadewa yang memerintah kerajaan Kediri antara tahun 1190 – 1200, sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menetralisasi atau menghindar dari mara bahaya yang disebabkan oleh gunung Kelud yang sering meletus. Kitab Negarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca menceritakan perjalanan Raja Hayam Wuruk, yang memerintah kerajaan Majapahit antara tahun 1350 – 1389, ke candi Palah untuk melakukan pemujaan kepada Hyang Acalapati yang berwujud Girindra (raja penguasa gunung).

Kesamaan nama Girindra yang disebut pada kitab Negarakretagama dengan nama Ken Arok yang bergelar Girindra atau Girinatha menimbulkan dugaan bahwa candi Penataran adalah tempat pendharmaan (perabuan) Ken Arok, Girindra juga adalah nama salah satu wangsa yang diturunkan oleh Ken Arok selain wangsa Rajasa dan wangsa Warddhana. Sedangkan Hyang Acalapati adalah salah satu perwujudan dari Dewa Siwa, serupa dengan peneladanan (khodam) sifat-sifat Bathara Siwa yang konon dijalankan Ken Arok.

Seperti pada umumnya relief candi di Jawa Timur yang dipahat berdasarkan analogi romantika hidup tokoh yang didharmakan di tempat tersebut, relief Ramayana dengan tokoh Rama dan Shinta, dan relief Krisnayana dengan tokoh Krisna dan Rukmini, yang dipahatkan pada dinding candi Penataran dapat dikatakan mirip dengan kisah Ken Arok dan Ken Dedes. Ketokohan Ken Arok sendiri masih menjadi kontroversi antara karakter seorang bandit yang berambisi memperbaiki keturunan setelah mengerti arti cahaya yang terpancar dari gua garbha milik Ken Dedes yang dilihatnya dan kemudian membunuh Tunggul Ametung yang menjadi suami sang nareswari, dengan karakter seorang bangsawan yang mengemban amanat dari mpu Purwa yang merupakan ayahanda Ken Dedes sekaligus keturunan Raja Mpu Sindok untuk mengembalikan kejayaan kerajaan Kanjuruhan yang ditaklukkan oleh kerajaan Kediri, dengan dukungan kalangan brahmana dari kedua kerajaan. Alkisah seluruh mpu dari kerajaan Kediri berpindah ke wilayah Tumapel sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan menjadi penyebab kekalahan Kediri dalam peperangan dengan Tumapel di wilayah Ganter pada tahun 1222. Dibunuhnya mpu Gandring yang tidak menyelesaikan keris pesanan Ken Arok pada waktunya konon juga berkaitan dengan para mpu yang mulai meninggalkan kerajaan Kediri sehingga menimbulkan kecurigaan Ken Arok bahwa Mpu Gandring berpihak pada Kediri. Keris tersebut kemudian diselesaikan oleh mpu yang lain dengan demikian indah sehingga menarik perhatian dan mudah dikenali ketika Kebo Ijo memamerkannya kepada semua orang, sebelum akhirnya keris tersebut digunakan Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung.

Kitab Negarakretagama menyebutkan bahwa Ken Arok dicandikan di daerah Kagenengan, yang dewasa ini masih tersisa sebagai nama desa di wilayah selatan kabupaten Malang, tepatnya di kecamatan Pakisaji. Belum dapat dipastikan apakah desa Kagenengan ini merupakan tempat yang sama yang disebut dalam kitab Negarakertagama, dan apakah luas daerah ini pada zaman itu meliputi wilayah kecamatan Nglegok tempat candi Penataran berada.


Spoiler for blkg bangunan utama


۞ Apa&Siapa yang Membuat Kars.Kediri Dikenal ۞



sumber
aylun - 10/07/2009 04:59 PM
#12

Quote:
Original Posted By Gondrong Keren
postingan yg jelas dung
termasuk sejarah persik
atau proses tahu takwa ato tahu pong
bikin postingan yg bermutu dung demi regional baru


oalah.. yang tentang sejarah to mas

tak pikir sesuatu yang bikin terkenal DDD

okey... cari - cari info dulu.............ngacir:


ini tentang kerajaan kediri
Spoiler for


Latar Belakang

Sesungguhnya kota Daha sudah ada sebelum Kerajaan Kadiri berdiri. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura, yang berarti kota api. Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042. Hal ini sesuai dengan berita dalam Serat Calon Arang bahwa, saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan pindah ke Daha.

Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru, yaitu Daha. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan.

Menurut Nagarakretagama, sebelum dibelah menjadi dua, nama kerajaan yang dipimpin Airlangga sudah bernama Panjalu, yang berpusat di Daha. Jadi, Kerajaan Janggala lahir sebagai pecahan dari Panjalu. Adapun Kahuripan adalah nama kota lama yang sudah ditinggalkan Airlangga dan kemudian menjadi ibu kota Janggala.

Pada mulanya, nama Panjalu atau Pangjalu memang lebih sering dipakai dari pada nama Kadiri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja-raja Kadiri. Bahkan, nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-chia-lung dalam kronik Cina berjudul Ling wai tai ta (1178).

[sunting] Perkembangan Panjalu

Masa-masa awal Kerajaan Panjalu atau Kadiri tidak banyak diketahui. Prasasti Turun Hyang II (1044) yang diterbitkan Kerajaan Janggala hanya memberitakan adanya perang saudara antara kedua kerajaan sepeninggal Airlangga.

Sejarah Kerajaan Panjalu mulai diketahui dengan adanya prasasti Sirah Keting tahun 1104 atas nama Sri Jayawarsa. Raja-raja sebelum Sri Jayawarsa hanya Sri Samarawijaya yang sudah diketahui, sedangkan urutan raja-raja sesudah Sri Jayawarsa sudah dapat diketahui dengan jelas berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan.

Kerajaan Panjalu di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti Ngantang (1135), yaitu Panjalu Jayati, atau Panjalu Menang.

Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah, Kerajaan Panjalu mengalami masa kejayaannya. Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra.

Hal ini diperkuat kronik Cina berjudul Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun 1178, bahwa pada masa itu negeri paling kaya selain Cina secara berurutan adalah Arab, Jawa, dan Sumatra. Saat itu yang berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah, di Jawa ada Kerajaan Panjalu, sedangkan Sumatra dikuasai Kerajaan Sriwijaya.

Penemuan Situs Tondowongso pada awal tahun 2007, yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kadiri diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak informasi tentang kerajaan tersebut.

[sunting] Karya Sastra Zaman Kadiri

Seni sastra mendapat banyak perhatian pada zaman Kerajaan Panjalu-Kadiri. Pada tahun 1157 Kakawin Bharatayuddha ditulis oleh Mpu Sedah dan diselesaikan Mpu Panuluh. Kitab ini bersumber dari Mahabharata yang berisi kemenangan Pandawa atas Korawa, sebagai kiasan kemenangan Sri Jayabhaya atas Janggala.

Selain itu, Mpu Panuluh juga menulis Kakawin Hariwangsa dan Ghatotkachasraya. Terdapat pula pujangga zaman pemerintahan Sri Kameswara bernama Mpu Dharmaja yang menulis Kakawin Smaradahana. Kemudian pada zaman pemerintahan Kertajaya terdapat pujangga bernama Mpu Monaguna yang menulis Sumanasantaka dan Mpu Triguna yang menulis Kresnayana.

buatcintaku - 10/07/2009 07:59 PM
#13

kampung inggris neng toeloengredjo pare

info
https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=1682721 >>> trit asli
https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=2161452 >>> copas from regional sby
dodollll - 11/07/2009 01:42 AM
#14

Di kediri ada yang namanya Mie jawa yah confused:
dan cuma di kediri ada yang namanya mie jawa, bener ga confused:
aylun - 11/07/2009 01:47 AM
#15

Quote:
Original Posted By dodollll
Di kediri ada yang namanya Mie jawa yah confused:
dan cuma di kediri ada yang namanya mie jawa, bener ga confused:


bener bro
ada di stadion brawijaya, di sebelah pintu utama

koq bro tau?? pernah makan yah?
jarwo_ooo - 11/07/2009 01:53 AM
#16

Quote:
Original Posted By aylun
bener bro
ada di stadion brawijaya, di sebelah pintu utama

koq bro tau?? pernah makan yah?


iku mi jogja pak karso...

rasane biasa, tapi regane luar biasa... D

sak iki wis tutup. diganti stik.
dodollll - 11/07/2009 02:08 AM
#17

Quote:
Original Posted By aylun
bener bro
ada di stadion brawijaya, di sebelah pintu utama

koq bro tau?? pernah makan yah?


taon 2004 3 hari di kediri..
di bawa makan kesana sm si Om..

Soto dsana juga enak2 D
Quote:
Original Posted By jarwo_ooo
iku mi jogja pak karso...

rasane biasa, tapi regane luar biasa... D

sak iki wis tutup. diganti stik.


ga ngerti Brader...
Translate pliiis o
arifsmart - 11/07/2009 03:33 AM
#18

Quote:
Original Posted By dodollll
taon 2004 3 hari di kediri..
di bawa makan kesana sm si Om..

Soto dsana juga enak2 D


ga ngerti Brader...
Translate pliiis o


kalo yg dimaksud soto itu soto bok ijo yah??

Mie Jogja dah tutup, sekarang diganti dgn Steak & Iga tapi pemiliknya kayake masih sama
janusandi - 11/07/2009 04:36 AM
#19

keduluan bikin hammer:
dodollll - 11/07/2009 08:47 AM
#20

Quote:
Original Posted By arifsmart
kalo yg dimaksud soto itu soto bok ijo yah??

Mie Jogja dah tutup, sekarang diganti dgn Steak & Iga tapi pemiliknya kayake masih sama


3x makan malam dsana, selalu makan soto (tempat.nya beda2) enak semua kok D

Jadi pengen kesana lagi bingung:


Pagi Kediri D sun:
Page 1 of 5 |  1 2 3 4 5 > 
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > JAWA TIMUR & BALI > Karesidenan Kediri > ۞ Apa&Siapa yang Membuat Kars.Kediri Dikenal ۞