Arsitektur
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Arsitektur > Arsitektur - Artikel
Total Views: 18463 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 3 |  < 1 2 3

verditch - 18/10/2010 08:23 PM
#41

kaskus ID : verditch

kategori : Arsitektur

bentuk karya : Artikel Mengenai Rumah Rakit Palembang

sumber : melayuonline.com

keterangan : part-1

Spoiler for

Quote:
Rumah Rakit Sungai Musi

Arsitektur - Artikel

1. Asal-Usul

Sungai Musi merupakan urat nadi kota Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. Dalam catatan Belanda, pada awal abad ke 19, kota ini disebut "Venesia Dari Timur" atau kota air, karena lebih dari 100 sungai dan anak sungai mengalir di dalam kota ini. Menurut data statistik kota Palembang, seluas 52,24 persen kawasan ini merupakan perairan. Dengan kondisi alam yang demikian, masyarakat banyak memanfaat angkutan sungai sebagai alat transportasi baik di dalam kota maupun untuk berhubungan dengan daerah lain.

Banyaknya sungai tidak saja berpengaruh terhadap alat transportasinya, tetapi juga pada arsitektur bangunan untuk tempat tinggal para penduduk. Pemilihan lokasi untuk tempat tinggal, misalnya, biasanya mempertimbangkan beberapa faktor diantaranya kedekatan dengan sumber mata air, sumber makanan, dan lokasi mata pencahariannya. Bagi masyarakat Palembang, keberadaan sungai-sungai berfungsi sebagai sumber makanan, mata pencaharian, dan terutama sumber air. Dalam arsitektur yang mempunyai konsep built environment, bangunan selalu dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya. Dengan kata lain, kondisi alam secara langsung akan mempengaruhi perilaku manusia termasuk dalam merancang bentuk arsitektur rumahnya.

Salah satu bangunan yang merupakan ciri khas masyarakat yang hidup di daerah sungai adalah rumah Rakit. Rumah Rakit merupakan tempat tinggal tetap (tidak berpindah-pindah) yang terapung. Rumah jenis ini terbuat dari kayu dan bambu dengan atap kajang (nipah), sirap dan belakangan ini menggunakan atap seng (bahan yang lebih ringan). Rumah Rakit dibangun di atas sebuah Rakit, baik yang terbuat dari rangkaian balok-balok kayu ataupun dari bambu-bambu. Pintu pada rumah rakit bisanya ada dua, satu menghadap ke sungai dan yang satunya lagi menghadap ke daratan. Jendelanya, biasanya, berada pada sisi kiri dan kanan dinding rumah Rakit, tetapi ada juga yang berada di sisi kanan dan kiri pintu masuk rumah. Rumah Rakit bukan sekadar hunian darurat. Sejumlah rumah Rakit merupakan warisan lintas generasi yang tahan dihuni puluhan tahun, meskipun bambu yang mendasari Rakit dan tiang penambat perlu diganti secara periodik.

Agar bangunan rumah Rakit tidak berpindah-pindah tempat, keempat sudutnya dipasang tiang yang kokoh. Ada kalanya untuk memperkokoh posisi dari rumah Rakit, bangunan diikat dengan menggunakan tali besar yang terbuat dari rotan dan diikatkan pada sebuah tonggak kokoh yang ada di tebing sungai. Keberadaan tali tersebut sebagai antisipasi jika tonggak pada keempat pojok rumah Rakit rusak atau lapuk.
rumah rakit

Rumah Rakit adalah bentuk rumah yang tertua di kota Palembang dan mungkin telah ada pada zaman kerajaan Sriwijaya. Pada zaman Kesultanan Palembang semua warga asing harus menetap di atas Rakit termasuk warga Inggris, Spanyol, Belanda, Cina, Campa, Siam, bahkan kantor Dagang Belanda pertama berada di atas Rakit, lengkap dengan gudangnya. Rumah Rakit ini selain sebagai tempat tinggal juga berfungsi sebagai gudang, dan kegiatan ekonomi.

Oleh karena perubahan pola pikir manusia dan keterbatasan bahan-bahan untuk membuat rumah Rakit, jumlah rumah Rakit semakin hari semakin sedikit. Kondisi ini diperparah oleh munculnya anggapan dari pihak pemerintah daerah bahwa keberadaan rumah Rakit membuat kumuh pemandangan sungai. Selain itu, rumah Rakit juga dianggap sebagai sumber pencemaran sungai karena penghuninya membuang sampah dan kotoran langsung ke sungai. Adanya pendapat bahwa rumah Rakit merupakan simbol kekumuhan dan sumber pencemaran tidak jarang menjadi alasan untuk menggusur keberadaan rumah Rakit.

Padahal jika dikelola dengan baik, keberadaan rumah Rakit dapat menjadi penopang perekonomian daerah, misalnya sebagai komoditi wisata. Hanya saja yang harus dipikirkan adalah bagaimana agar penghuni asli rumah Rakit juga dapat menikmati keuntungannya. Jika tidak, pengembangan rumah Rakit menjadi komoditi wisata hanya akan menyebabkan terusirnya penghuni asli rumah Rakit. Bukan mustahil, dengan alasan untuk mendukung pariwisata daerah, rumah-rumah Rakit digusur dan dihancurkan, penghuninya diusir dan digantikan dengan para pelaku bisnis. Eksistensi rumah Rakit akan beralih kepemilikan akibat isu global pariwisata

Pembangunan kembali rumah-rumah Rakit oleh pemerintah daerah untuk mendukung pariwisata daerah tentu merupakan langkah strategis untuk menjaga kelestarian rumah Rakit, hanya saja jika penghuni asli tidak diikutsertakan dalam gerak pembangunan pariwisata, bukan mustahil, pembangunan merupakan bencana bagi penduduk asli.
rumah rakit
Rumah Rakit tidak saja berfungsi sebagai tempat tinggal,
tetapi juga untuk kegiatan ekonomi.

2. Bahan dan Tenaga

a. Bahan-Bahan

* Bambu. Bahan utama pembuatan rumah Rakit adalah Bambu. Bambu yang digunakan adalah bambu jenis manyan. Bambu ini di samping tahan lama juga besar-besar sehingga cukup bagus digunakan sebagai pelampung agar bisa mengambang di atas permukaan air. Di samping bahan untuk membuat bagian bawah rumah Rakit, bambu juga digunakan untuk membuat dinding, yaitu dengan cara dicacah dan direntangkan, pelupuh.
* Balok kayu. Selain mengunakan bambu, adakalanya pelampung menggunakan balok kayu.
* Papan. Untuk membuat dinding rumah Rakit, selain menggunakan bambu, juga sering menggunakan papan.
* Ulit, sejenis daun yang dianyam. Bahan ini digunakan untuk membuat atap rumah Rakit.
* Rotan. Rotan yang digunakan ada dua macam, yaitu rotan selinep dan rotan sago. Rotan selinep adalah rotan kecil yang digunakan untuk mengikat bagian atas rumah Rakit, sedangkan rotan sago adalah rotan yang digunakan untuk mengikat bambu-bambu yang digunakan sebagai bahan pelampung.

b. Tenaga

Tenaga yang dibutuhkan untuk membuat rumah Rakit sama dengan membuat rumah jenis lainnya, yaitu:

* Tenaga perancang.

Untuk membangun rumah Rakit, orang yang akan membangun rumah bertanya terlebih dahulu kepada para orang tua bagaimana rancangan rumah yang cocok dan baik untuk mereka.

* Tenaga ahli.

Setelah mendapatkan informasi dari tenaga perancang, orang yang hendak membangun rumah langsung menghubungi tenaga ahli.

* Tenaga umum.

Tenaga umum dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian-bagian yang membutuhkan tenaga banyak orang, misalnya pembuatan bagian bawah (pelampung) rumah Rakit dan pemasangan atap. Tenaga umum biasanya terdiri dari para tetangga dan kaum kerabat.

3. Pemilihan Tempat

Tempat mendirikan rumah Rakit adalah daerah aliran sungai, oleh karena itu penentuan tempat tergantung pada ada tidaknya perairan yang masih bisa digunakan sebagai tempat untuk mendirikan bangunan. Arah rumah Rakit pada awalnya menghadap ke daratan tetapi saat ini, misalnya, karena pertimbangan pariwisata, telah dirubah mengadap ke tengah sungai. Dengan kata lain, rumah-rumah Rakit yang ada pada saat ini umumnya dibangun menghadap ke tengah sungai.

Bersambung ke part-2
verditch - 18/10/2010 08:27 PM
#42

kaskus ID : verditch

kategori : Arsitektur

bentuk karya : Artikel Mengenai Rumah Rakit Palembang

sumber : melayonline.com

keterangan : part-2

Spoiler for
...
Quote:
4. Tahapan Pembangunan Rumah Rakit

a. Persiapan

1) Musyawarah

Sebelum membangun rumah, satu hal yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah musyawarah antara suami dan istri. Musyawarah ini berkaitan dengan kesiapan finansial untuk membangun rumah. Setelah musyawarah antara suami-istri selesai, dilanjutkan dengan musyawarah dengan keluarga dekat dan tetangga sekitar. Dalam musyawarah tersebut, orang yang hendak mendirikan rumah mengabarkan bahwa dia hendak membangun rumah.

2) Pengadaan bahan

Bambu merupakan bahan utama untuk membuat rumah Rakit. Untuk mendapatkan bambu ada dua cara yang dapat dilakukan, yaitu mencari sendiri di hutan atau memesan kepada pedagang bambu. Bambu yang dicari sendiri ke hutan ataupun dipesan kepada pedagang bambu, ukurannya disesuaikan dengan peruntukannya, misalnya untuk pelampung, dinding atau langit-langit.

b. Tahap Pembangunan

Setelah semua bahan-bahan terkumpul, pembangunan rumah Rakit dapat segera dilakukan. Pendirian rumah Rakit secara garis besar terdiri dari tiga tahap, yaitu: pembangunan bagian bawah, bagian tengah, dan bagian atas. Adapun proses pembuatannya sebagai berikut:

1) Bagian Bawah

Bagian bawah dari rumah Rakit merupakan bagian terpenting. Bagian ini, menentukan kokoh tidaknya rumah Rakit. Oleh karena itu, pembangunan bagian bawah rumah Rakit dilakukan secara cermat, mulai dari pemilihan bahan (bambu-bambu) sampai pada proses merangkai bahan-bahan tersebut menjadi pelampung. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut:

1. Bambu-bambu yang dipersiapkan sebagai pelampung dilubangi pada ujung dan pangkalnya.
2. Setelah itu, kemudian dirangkai dengan memasukkan sepotong kayu sebagai pasak pengikat. Setiap rangkaian bambu terdiri dari 8 sampai 12 batang bambu. Proses merangkai batang bambu ini disebut mengarang.
3. Jumlah rangkaian batang bambu yang dibuat berjumlah 6 sampai 8 ikatan.
4. Rangkaian tersebut kemudian ditumpuk menjadi satu ikatan yang tersusun. Susunan bambu tersebut berjumlah 48 sampai 96 batang bambu. Agar ikatan pada rangkaian bambu tersebut semakin kuat, maka selain menggunakan pasak pengikat, juga diikat dengan menggunakan rotan.
5. Kemudian rangkaian bambu tersebut dihubungkan dengan balok-balok kayu yang dipasang melintang sehingga menjadi sebuah lanting (lantai).
6. Agar ikatan semakin kuat, pada jarak antara setengah sampai satu setengah meter, lanting tersebut diikat dengan rotan.
7. Selesainya pengikatan pada lanting, maka pembuatan bagian bawah rumah Rakit sudah selesai.

2) Bagian Tengah

1. Setelah pembuatan bagian bawah Rumah Rakit selesai, yang ditandai dengan keberadaan lanting, maka proses selanjutnya adalah pemasangan sako. Sako ditegakkan di atas alang yang berada pada bagian atas lanting. Namun sebelum ditegakkan, sako terlebih dahulu diberi puting.
2. Dilanjutkan dengan pemasangan alang panjang. Alang panjang diletakkan pada bagian atas sako.
3. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan jenang. Seperti halnya sako, pada ujung jenang diberi puting yang digunakan untuk menghubungkan bagian atas jenang dengan alang panjang.
4. Dilanjutkan dengan pemasangan sento-sento. Sento menjadi tempat dilekatkannya dinding rumah Rakit.
5. Setelah jenang dan sento selesai dipasang, selanjutnya adalah pemasangan dinding rumah Rakit. Dinding rumah Rakit dibuat dari pelupuh yang bagian ujung, pangkal dan tengahnya diberi pengapit. Pelupuh adalah bambu yang dicacah dan direntangkan. Pelupuh tersebut dipaku pada jenang dan sento-sento.
6. Selanjutnya pemasangan pintu dan jendela. Pada tahap ini juga dibuat ruangan untuk dapur, khususnya jika dapur yang dibuat berada dalam satu bangunan rumah Rakit.
7. Selesainya pemasangan pintu dan jendela berarti pembangunan rumah Rakit bagian tengah telah selesai.

3) Bagian Atas

Pembangunan bagian atas rumah Rakit ditandai dengan pemasangan alang panjang, kasau, dan atap. Proses pembuatan bagian atas rumah Rakit adalah sebagai berikut:

1. Pemasangan alang panjang di atas sako dan jenang.
2. Pemasangan kuda-kuda. Kuda-kuda dipasang di atas alang panjang dan dihubungkan dengan alang sunan.
3. Dilanjutkan dengan pemasangan kasau. Setelah kasau terpasang semua, kemudian ujung-ujung kasau dipotong agar rata.
4. Setelah pemasangan kasau selesai, atap segera dipasang. Bahan atap terbuat dari daun nipa. Daun nipa tersebut dilekatkan pada sako dengan cara diikat dengan rotan. Ada juga yang menggunakan seng sebagai atap rumah.
5. Dilanjutkan dengan pemasangan langit-langit ruangan. Langit-lagit ruangan dibuat menggunakan pelupuh.

Selesainya pemasangan langit-langit berarti pendirian rumah Rakit sudah selesai dan rumah sudah siap untuk ditempati. Untuk menempati rumah yang baru selesai dibangun tersebut, pemilik rumah terlebih dahulu mengadakan selamatan dan mencari hari baik.

5. Bagian-Bagian Rumah Rakit

Rumah Rakit merupakan bangunan rumah tinggal tetap (tidak berpindah-pindah) yang terapung. Secara garis besar, rumah Rakit dapat dibagi menjadi dua bagian saja, yaitu untuk tempat tidur dan untuk kegiatan sehari-hari. Pada bagian untuk kegiatan sehari-hari, biasanya juga digunakan sebagai tempat menerima tamu. Dapur, jika berada dalam satu bangunan, biasanya berada di sisi luar ruang tidur. Tetapi terkadang ruangan untuk dapur dibangun terpisah.

6. Ragam Hias

Rumah Rakit pada dasarnya tidak mempunyai hiasan-hiasan, hanya saja pada rumah Rakit modern dihiasi ukiran timbul khas Palembang (berupa stilisasi daun dan kembang) dengan warna merah hati dan emas yang mencolok.
rumah rakit
Pembangunan rumah Rakit dengan hiasan khas Palembang

7. Nilai-Nilai

Pendirian rumah Rakit merupakan bentuk adaptasi masyarakat Palembang yang berada di daerah perairan. Pengetahuan terhadap arsitektur bangunan dan bahan-bahan yang digunakan, merupakan hasil dari membaca dan memahami fenomena alam dan sosial di daerah setempat.

Pembangunan rumah Rakit yang didahului dengan musyawarah antara suami dan istri menunjukkan bahwa antara suami dan istri mempunyai posisi yang sejajar. Musyawarah dengan kerabat dekat dan tetangga sekitar merupakan salah satu cara untuk menjaga tata pergaulan masyarakat. Anggota masyarakat yang mendirikan bangunan tanpa mengadakan musyawarah dapat dianggap sebagai prilaku yang kurang beradab atau tidak tahu adab. Orang tua merasa dilangkahi dan yang muda merasa ditinggalkan. Dalam forum musyawarah, hal-hal yang dibahas diantaranya adalah pantangan dan larangan serta adat dan kebiasan yang harus dijalankan. Oleh karena itu, forum musyawarah merupakan media untuk melestarikan tradisi masyarakat. Musyawarah merupakan media untuk melembagakan dan mewariskan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. (AS/bdy/14/11-07).

Referensi:

* Mahyudin Al Mudra, 2004, Rumah Melayu; Memangku Adat Menjemput Zaman, Yogyakarta, Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerjasama dengan Penerbit AdiCita.
* Moh. Alimansur, dkk., 1990, Arsitektur Tradisional Daerah Sumatera Selatan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1990 / 1991.
* Andre Kusprianto, “Rumah yang Mengapung di Atas Air”, dalam http://home.unpar.ac.id/~ars/arjau/indonesia/pustaka/borneo.htm, diakses tanggal 24 Oktober 2007
* Muhammad Husein, “Eksistensi Rumah Rakit Terancam; Lebih Kedepankan Program Pariwisata”, dalam http://www.indomedia.com/sripo/2007/06/24/2406H04.pdf, diakses tanggal 24 Oktober 2007
* Musi di Sinilah Hidupku, dalam http://www.indosiar.com/v2/culture/culture_read.htm?id=29753&tp=teropong, diakses tanggal 24 Oktober 2007
* Nur Hidayati, “Membangun Kehidupan di Rumah Rakit”, dalam http://www.kompas.com/kompas-cetak/0304/23/daerah/242817.htm, diakses tanggal 24 Oktober 2007
* Nur Hidayati, “Menyusuri Kisah Tepian Sungai Musi,” dalam http://www.kompas.com/kompas-cetak/0409/04/Pon/1248243.htm, diakses tanggal 24 Oktober 2007
* Puluhan Rumah Rakit Dipindah, dalam http://www.sumeks.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=24116&Itemid=56, diakses tanggal 24 Oktober 2007
* Rumah Rakit Sungai Musi, dalam http://mycityblogging.com/palembang/2007/07/14/rumah-Rakit-sungai-musi/, diakses tanggal 24 Oktober 2007
* Rumah Rakit, dalam http://www.bappeda.palembang.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=19&Itemid=26, diakses tanggal 24 Oktober 2007
* Rumah Rakit, dalam http://kotapalembang.blogspot.com/2007/06/rumah-Rakit.html, diakses tanggal 24 Oktober 2007
* Rumah Rakit, dalam http://www.palembang.go.id/2007/?mod=12&id=36, diakses tanggal 24 Oktober 2007


[spoiler=gambar]Arsitektur - Artikel
[/spoiler]
lhefi - 17/05/2011 05:19 PM
#43

Id kaskus : Lhefi

Katagori : Arsitektur

Bentuk Karya : Artikel Istana Maimoon

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Istana_Maimoon

Keterangan : Istana Maimoon

Quote:
Istana Maimoon merupakan sebuah istana yang terletak di Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Dibangun pada tahun 1886. Istana ini di rancang oleh seorang arsitek Italia dan diselesaikan di tahun 1888 semasa pemerintahan Sultan Mahmud Al Rasyid. Dewasa ini istana tersebut masih didiami oleh keluarga–keluarga sultan. Ruangan pertemuan, foto–foto keluarga kerajaan Deli, perabot rumah tangga Belanda kuno dan berbagai senjata, terbuka bagi masyarakat yang ingin mengunjunginya.

Satu blok dari istana Maimun kearah timur, berdiri Mesjid Raya dengan arsitek yang menawan merupakan daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Medan dan sangat mengagumkan.
KaroCyber - 24/09/2011 01:40 AM
#44

Id kaskus : KaroCyber

Katagori : Arsitektur

Bentuk Karya : Artikel Rumah adat Karo

Sumber : sumber

Keterangan : Rumah Adat Suku Karo,Sumatera Utara

Spoiler for KARO

Rumah Adat Karo
Arsitektur - Artikel

Pada masyarakat Karo terdapat suatu rumah yang dihuni oleh beberapa keluarga, yang penempatan jabu-nya didalam rumah tersebut diatur menurut ketentuan adat dan didalam rumah itu pun berlaku ketentuan adat, itulah yang disebut dengan rumah adat Karo. Rumah adat Karo ini berbeda dengan rumah adat suku lainnya dan kekhasan itulah yang mencirikan rumah adat Karo. Bentuknya sangat megah diberi tanduk. Proses pendirian sampai kehidupan dalam rumah adat itu diatur oleh adat Karo, dan karena itulah disebut rumah adat.

Berdasarkan bentuk atap, rumah adat karo dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

a. Rumah sianjung-anjung
Rumah sianjung-anjung adalah rumah bermuka empat atau lebih, yang dapat juga terdiri atas sat atau dua tersek dan diberi bertanduk.

b. Rumah Mecu.
Rumah mecu adalah rumah yang bentuknya sederhana, bermuka dua mempunyai sepasang tanduk.

Sementara menurut binangun, rumah adat Karo pun dapat dibagi atas dua yaitu:

a. Rumah Sangka Manuk.
Rumah sangka manuk yaitu rumah yang binangunnya dibuat dari balok tindih-menindih.

b. Rumah Sendi.
Rumah sendi adalah rumah yang tiang rumahnya dibuat berdiri dan satu sama lain dihubungkan dengan balok-balok sehingga bangunan menjadi sendi dan kokoh. Dalam nyanyian rumah ini sering juga disebut Rumah Sendi Gading Kurungen Manik.

Rumah adat Karo didirikan berdasarkan arah kenjahe (hilir) dan kenjulu (hulu) sesuai aliran air pada suatu kampung.
Jabu dalam Rumah Adat

Rumah adat biasanya dihuni oleh empat atau delapan keluarga. Penempatan keluarga-keluarga itu dalam bagian rumah adat (jabu) dilakukan berdasarkan ketentuan adat Karo. Rumah adat secara garis besar dapat dibagi atas jabu jahe (hilir) dan jabu julu (hulu). Jabu jahe terbagi atas jabu bena kayu dan jabu lepar benana kayu. Demikian juga jabu kenjulu dibagi atas dua, yaitu jabu ujung kayu dan jabu rumah sendipar ujung kayu. Inilah yang sesungguhnya disebut sebagai jabu adat. Rumah-rumah adat empat ruang ini dahulunya terdapat di Kuta Buluh, Buah Raja, Lau Buluh, Limang, Perbesi, Peceren, Lingga, dan lain-lain.

Ada kalanya suatu rumah adat terdiri dari delapan ruang dan dihuni oleh delapan keluarga. Malahan kampung Munte ada rumah adat yang dihuni oleh enam belas keluarga. Dalam hal rumah adat dihuni oleh delapan keluarga, sementara dapuar dalam rumah adat hanya ada empat, masing-masing jabu dibagi dua, sehingga terjadilah jabu-jabu sedapuren bena kayu, sedapuren ujung kayu, sedapuren lepar bena kayu, dan jabu sedapuren lepar ujung kayu.

Adapun susunan jabu dan yang menempatinya adalah sebagai berikut:

1. Jabu Benana Kayu.
Terletak di jabu jahe. Kalau kita kerumah dari ture jahe, letaknya sebelah kiri. Jabu ini dihuni oleh para keturunen simantek kuta (golongan pendiri kampung) atau sembuyak-nya.
Fungsinya adalah sebagai pemimpin rumah adat.

2. Jabu ujung Kayu (anak beru).
jabu ini arahnya di arah kenjulu rumah adat. Kalau kita masuk kerumah adat dari pintu kenjulu, letaknya disebelah kiri atau diagonal dengan letak jabu benana kayu. Jabu ini ditempati oleh anak beru kuta atau anak beru dari jabu benana Kayu.
Fungsinya adalah sebagai juru bicara jabu bena kayu.

3. Jabu Lepar Benana Kayu
Jabu ini di arah kenjahe (hilir). Kalau kita kerumah dari pintu kenjahe letaknya disebelah kanan, Penghuni jabu ini adalah sembuyak dari jabu benana kayu.
Fungsinya untuk mendengarkan berita-berita yang terjadi diluar rumah dan menyampaikan hal itu kepada jabu benana kayu. Oleh karena itu, jabu ini disebut jabu sungkun berita (sumber informasi).

4. Jabu lepar ujung kayu (mangan-minem)
Letaknya dibagian kenjulu (hulu) rumah adat. Kalau kita masuk dari pintu kenjulu ke rumah adat, letaknya di sebelah kanan. Jabu ini ditempati oleh kalimbubu jabu benana kayu. Oleh karena itu, jabu ini disebut jabu si mangan-minem.
Keempat jabu inilah yang disebut dengan jabu adat, karena penempatannya harus sesuai dengan adat, demikian juga yang menempatinya ditentukan menurut adat. Akan tetapi, adakalanya juga rumah adat itu terdiri dari delpan atau enam belas jabu.

5. Jabu sedapuren benana kayu (peninggel-ninggel).
Jabu ini ditempati oleh anak beru menteri dari rumah si mantek kuta (jabu benana kayu), dan sering pula disebut jabu peninggel-ninggel. Dia ini adalah anak beru dari ujung kayu.

6. jabu sidapuren ujung kayu (rintenteng).
Ditempati oleh sembuyak dari ujung kayu, yang sering juga disebut jabu arinteneng. Tugasnya adalah untuk engkapuri belo, menyerahkan belo kinapur (persentabin) kepada tamu jabu benana kayu tersebut. Oleh karena itu, jabu ini disebut juga jabu arinteneng.

7. Jabu sedapuren lepar ujung kayu (bicara guru).
Dihuni oleh guru (dukun) atau tabib yang mengetahui berbagai pengobatan. Tugasnya mengobati anggota rumah yang sakit.

8. Jabu sedapuren lepar benana kayu
Dihuni oleh puang kalimbubu dari jabu benana kayu disebut juga jabu pendungi ranan. Karena biasanya dalam runggun adat Karo persetujuan terakhir diberikan oleh puang kalimbubu.

Sumber: Darwin Prinst (Adat Karo)
Page 3 of 3 |  < 1 2 3
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Arsitektur > Arsitektur - Artikel