Lagu/Tarian/Alat Musik
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Lagu/Tarian/Alat Musik > Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Total Views: 127990 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 6 |  1 2 3 4 5 6 > 

template - 06/10/2009 03:17 PM
#1
Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Contoh Post :

Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
kotjokotjo - 06/10/2009 07:08 PM
#2

PERTAMAX

Kaskus ID : kotjokotjo
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Campursari
Sumber : http://hurek.blogspot.com/2009/10/campursari-itu-musik-apa.html
Keterangan :
Apa itu musik campursari??

Spoiler for campursari

Oleh MUSAFIR ISFANHARI

Dosen Musik Universitas Negeri Surabaya


Istilah campursari dikenal awal 1970-an, ketika RRI Stasiun Surabaya memperkenalkan acara baru, yaitu lagu-lagu yang diiringi musik paduan alat musik berskala nada pentatonis (tradisional Indonesia) dan berskala nada diatonis (Barat).

Tapi sesungguhnya, paduan antara musik tradisional Indonesia dengan musik Barat bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelum campursari ada, banyak musisi kelas dunia yang sudah melakukannya, antara lain Claude Achille Debussy (komposer Perancis, 1862–1918), Bella Bartok komponis Hunggaria, 1881– 1945).

Lalu Colin Mc Phee (komponis Amerika 1930-an) membuat komposisi diberi judul “Tabuh-tabuhan”. Kemudian Wheeler Backet, pada 1960-an membuat satu komposisi paduan antara musik Indonesia dan Barat yang dipentaskan di Amerika Serikat. Wheeler menampilkan seperangkat gamelan diiringi orkestra. Judul komposisinya “The Dedication to Indonesia”.

Dari Indonesia ada F.A. Warsono (1960-an). Pada 1975, Guruh Soekarno Putra bersama grup Guruh Gipsy memerkenalkan paduan musik Bali dan musik Barat. Lagu-lagunya antara lain, Indonesia Mahardika, Barong Gundah, dan lain lain.
Tentu saja, campursari yang kita dengar sekarang berbeda dengan campursari 1970-an. Apalagi dengan campursarinya Debussy, Bartok, atau Mc Phee.

Campursari memang sedang mencari bentuk baku. Sejatinya, campursari adalah musik hybrida hasil perkimpoian silang antara musik Barat dan musik tradisional Indonesia.

Ada baiknya kita memerhatikan Rumusan Ki Hajar Dewantara tentang Kebudayaan:

(1) lahir, tumbuh, berkembang, berbuah, sakit, tua, mundur dan akhirnya mati;

(2) kimpoi dan berketurunan, kumpul tak bersatu, berasimilasi, manunggal melahirkan bentuk baru;

(3) Mengalami seleksi, yang kuat akan hidup, yang lemah akan mati; (4) Menyesuaikan dengan alam (kodrat) dan zaman (masyarakat).
Mengacu hal tersebut, Campursari masuk ketegori nomor 2 (dua) kimpoi dan berketurunan, manunggal melahirkan bentuk baru.

Sekarang, kita amati lebih jauh bezzeting (perlengkapan/peralatan) musik campursari. Peralatan campursari terdiri antara 12 sampai 15 instrumen, terbagi atas 5 sampai 6 instrumen diatonis (kibor I dan II, bass gitar, cuk/ukulele, cak/banyo dan drum set). Sisanya alat musik berskala nada pentonis, antara lain gender, kendang set, saron, peking, dan lain-lain.

Persoalannya kemudian, bagaimana memadu dua sistem tangga nada pentatonis jawa dengan diatonis barat yang berbeda sistem tangga nadanya itu?

TANGGA NADA PENTATONIS

Mari kita urai perbedaan kedua sistem tangganada tadi. Dalam musik tradisional Karawitan Jawa (pentatonis) yang terdiri dua tangganada/laras : pelog dan slendro (kira kira sama dengan mayor dan minor) satuan jaraknya disebut cent, jarak antara satu nada dengan nada yang lain disebut sruti (interval).

Dalam satu gembyang (sama dengan musik diatonis: satu oktaf) terdapat 1.200 cent, hal ini sama dengan satu oktaf juga berjarak 1.200 cent juga. Perbedaannya terletak pada pembagian sruti antara satu nada dengan nada yang lain.

Dalam sisttm tangga nada karawitan Jawa, baik pelog maupun slendro hanya berisi lima nada Yaitu 1 (ji) – 2 (ro) – 3 (lu) – 5 (mo)– 6 (nem) 1 (ji). Perbedaannya terletak pada srutinya. Untuk slendro mempunyai sruti yang sama besar, yaitu masing masing 240 cent. Sedang untuk pelog ada perbedaan jarak, besar dan kecil.

TANGGANADA DIATONIS

Sementara itu di tangga nada yang berskala nada diatonis mempunyai 1.200 cent juga, namun terdapat 12 nada (papan putih dan hitam) mempunyai interval/sruti yang sama, yaitu masing masing 100 cent. Perbedaan interval/sruti antara dua sistem tangga nada (pentatonis dan diatonis) ini berakibat Ketinggian nada ( pitch) juga berbeda, sehingga ketika dua nada dari dua sistim yang berbeda ini dipadukan/disatukan akan terdengar paduan bunyi yang disonan (paduan bunyi yang memberi kesan tidak tenang dan gelisah).

Hal inilah yang banyak dipersoal an kalangan musisi campursari.

PERBANDINGAN SKALA NADA


1 (ji) 2 (ro) 3 (lu) 5 (mo) 6 (nem)
Do Re Mi Fa Sol La Si

Dalam diagram di atas tampak jelas perbedaan ketinggian nada (pitch) antara satu sistem tangga nada. Inilah, (seperti yang sudah ditulis di atas) menjadi paduan bunyi yang disonan. Walau seorang teman saya pemusik kontemporer mengatakan, “Dalam musik kontemporer masalah disonan kan bukan sesuatu hal yang tabu”.

Lalu, bagaimana penyelesaiannya? Jalan keluar yang banyak dilakukan musisi campursari adalah melaras ulang instrumen karawitan menjadi berskala nada diatonis. Dengan demikian, bunyi instrumen karawitan akan menyatu dengan instrumen diatonis.

Tapi persoalannya tidak berhenti sampai di situ saja. Karena, hakikat musik sesungguhnya ada pada sistem tangga nadanya. Banyak kalangan musisi tradisi keberatan dengan pelarasan ulang alat musik karawitan yang berskala nada pentatonis menjadi diatonis. Karena ciri dari alat musik karawitan adalah sistem tangga nadanya.

Memang tone colour tetap berasa karawitan, tapi sudah tidak punya ‘jiwa’ dan ‘ruh’ karawitan. Ibarat gadis Eropa diberi pakaian tradisional Jawa, pakai jarit, pakai suweng, berselendang, rambut disanggul, namun ketika berjalan tak tampak gandes luwes-nya putri Jawa. Tak tampak juga (seperti yang ada disyair salah satu lagu langgam jawa : “Mlakune koyo macan luwe”).

Ini tentu PR bagi musisi campursari, bagaimana menyandingkan instrumen musik Barat dengan instrumen karawitan dengan tetap berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Masyarakat menunggu kreativitas musisi campursari. Karena ada kesan yang tidak bisa dihindari, ada sistem tangga nada yang dikalahkan dan ada sistem tangga nada yang dimenangkan.
sive - 06/10/2009 07:23 PM
#3
sinden - lingsir wengi
Kaskus ID : sive
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : SINDEN lingsir wengi
Sumber : -
Keterangan: lagu ini sempet jadi primadona di lounge..gak tau kenapa buat kebanyakan orang lagu ini menakutkan..padahal ini salah satu warisan budaya leluhur jugaD


Spoiler for lyric sinden lingsir wengi

Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Quote:

"Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo Tangi nggonmu guling
awas jo ngetoro
aku lagi bang wingo wingo
jin setan kang tak utusi
dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet..."
verditch - 06/10/2009 07:52 PM
#4

kaskus ID : verditch

kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

bentuk karya : Lirik Lagu Dek Sangke

sumber : http://organisasi.org/dek_sangke_provinsi_sumatra_selatan_palembang_lirik_lagu_daerah_dan_musik_nasio nal_indonesia

keterangan : ini adalah lirik lagu Dek Sangke salah satu lagu daerah asal sumatra selatan

Spoiler for lirik lagu
Dek sangke aku dek sangke
Awak tunak ngaku juare
Alamat badan kan sare
Akhirnya masuk penjare

Dek sangke aku dek sangke
Cempedak babuah nangke
Dek sangke aku dek sangke
Cempedak babuah nangke

Dek sangke aku dek sangke
Ujiku bujang tak batanye tua bangke
Anaknye lah gadis gale
Dek sangke gadis tegile

Dek sangke aku dek sangke
Cempedak babuah nangke
Dek sangke aku dek sangke
Cempedak babuah nangke

Dek sangke aku dek sangke
Ujiku gadis tak batanye jande mude
Anaknye lah ade tige
Dak sangke bujang tegile

Dek sangke aku dek sangke
Cempedak babuah nangke
Dek sangke aku dek sangke
Cempedak babuah nangke

---
romedaldz - 06/10/2009 08:57 PM
#5

kaskus ID : romedaldz
kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik
bentuk karya : Lirik Lagu Ondel Ondel
sumber : http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg207947.html
keterangan : ini adalah lirik lagu Ondel Ondel salah satu lagu daerah asal Betawi


Quote:

Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel

Spoiler for "Lirik Lagu Ondel Ondel"
Nyok kite nonton ondel2...nyok..
Nyok kite ngarak ondel2...nyok..
Ondel-ondel ada anaknye...woi...
Anaknya igel ter-iteran..oi...

Mak bapak ondel-ondel ngibing..ser...
ngarak penganten disunatin..ser...
goyangnya asik ndut2tan..dut...
e..nyang ngibing igel2lan..gel...

Reff: Plak dumblang dumblang plak..plak..
gendang nyaring di tepak
yang ngiringin nandak, pade surak-surak.
tangan iseng jahilin
kepale anak ondel-ondel, taroin puntungan rambut kebakaran..

Anak ondel-ondel jejingkrakkan...krak...
kepalanye nyale bekobaran..wung...
Nyang ngiring pade kebingungan..ngung..
Disiramin aer comberan...byur...

kembali ke reff dst.


ilovekaskusiloveindonesiakiss
SpawnTheAnthony - 06/10/2009 11:43 PM
#6

Kaskus ID : SpawnTheAnthony

Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

Bentuk karya : Lirik Lagu BUTET

Sumber : http://rapolo.wordpress.com/2009/02/10/lagu-batak-butet/

Keterangan : Lagu daerah asal Sumatera Utara.

Spoiler for lirik lagu BUTET

Lirik Lagu BUTET

Butet dipangungsian do apangmu ale butet
Damargurilla damardarurat ale butet
Damargurilla damardarurat ale butet
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Butet sotung ngolngolan ro hamuna ale butet
Pai ma tona manang surat ale butet
Pai ma tona manang surat ale butet
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Butet tibo do mulak au apangmu ale butet
Masunta ingkon saut do talu ale butet
Masunta ingkon saut do talu ale butet
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Butet haru patibu ma magodang ale butet
Asa adong da palang merah ale butet
Da palang merah ni negara ale butet
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

penyimaksejati - 07/10/2009 12:14 AM
#7

Kaskus ID : penyimak sejati
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : keroncong
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong
Keterangan :

Spoiler for keroncong

Keroncong merupakan nama dari instrumen musik sejenis ukulele dan juga sebagai nama dari jenis musik khas Indonesia yang menggunakan instrumen musik keroncong, flute, dan seorang penyanyi wanita.

Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel

Dalam bentuknya yang paling awal, moresco diiringi oleh musik dawai, seperti biola, ukulele, serta selo. Perkusi juga kadang-kadang dipakai. Set orkes semacam ini masih dipakai oleh keroncong Tugu, bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh komunitas keturunan budak Portugis dari Ambon yang tinggal di Kampung Tugu, Jakarta Utara, yang kemudian berkembang ke arah selatan di Kemayoran dan Gambir oleh orang Betawi berbaur dengan musik Tanjidor (tahun 1880-1920). Tahun 1920-1960 pusat perkembangan pindah ke Solo, dan beradaptasi dengan irama yang lebih lambat sesuai sifat orang Jawa.

Pem-"pribumi"-an keroncong menjadikannya seni campuran, dengan alat-alat musik seperti

* sitar India
* rebab
* suling bambu
* gendang, kenong, dan saron sebagai satu set gamelan
* gong.

Saat ini, alat musik yang dipakai dalam orkes keroncong mencakup

* ukulele cuk, berdawai 3 (nilon), urutan nadanya adalah G, B dan E; sebagai alat musik utama yang menyuarakan crong - crong sehingga disebut keroncong (ditemukan tahun 1879 di Hawai, dan merupakan awal tonggak mulainya musik keroncong)
* ukulele cak, berdawai 4 (baja), urutan nadanya A, D, Fis, dan B. Jadi ketika alat musik lainnya memainkan tangga nada C, cak bermain pada tangga nada F (dikenal dengan sebutan in F);
* gitar akustik sebagai gitar melodi, dimainkan dengan gaya kontrapuntis (anti melodi);
* biola (menggantikan Rebab);
* flut (mengantikan Suling Bambu);
* selo; betot menggantikan kendang
* kontrabas (menggantikan Gong)[2]

Penjaga irama dipegang oleh ukulele dan bas. Gitar yang kontrapuntis dan selo yang ritmis mengatur peralihan akord. Biola berfungsi sebagai penuntun melodi, sekaligus hiasan/ornamen bawah. Flut mengisi hiasan atas, yang melayang-layang mengisi ruang melodi yang kosong.

Bentuk keroncong yang dicampur dengan musik populer sekarang menggunakan organ tunggal serta synthesizer untuk mengiringi lagu keroncong (di pentas pesta organ tunggal yang serba bisa main keroncong, dangdut, rock, polka, mars).


iloveindonesia ilovekaskus
capt_alfons - 07/10/2009 01:23 AM
#8

Kaskus ID : capt_alfons
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik
Bentuk karya : Tarian Tor Tor Batak Toba - Sumatera Utara
Sumber : http://budaya-indonesia.org/iaci/Tari_Tor_Tor
Keterangan: Penjelasan Singkat Tentang Tarian Tor Tor

Spoiler for Artikel Tari Tor Tor Batak

Tari to-tor adalah tarian yang gerakannya se-irama dengan iringan musik (Margondang) yang dimainkan dengan alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak, dan lain-lain. Menurut sejarahnya tari tor-tor digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh, dimana roh tersebut dipanggil dan "masuk" ke patung-patung batu (merupakan simbol dari leluhur), lalu patung tersebut tersebut bergerak seperti menari akan tetapi gerakannya kaku. Gerakan tersebut meliputi gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan. Jenis tari tor-tor pun berbeda-beda, ada yang dinamakan tortor Pangurason (tari pembersihan). Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar yang mana lebih dahulu dibersihkan tempat dan lokasi pesta sebelum pesta dimulai agar jauh dari mara bahaya dengan menggunakan jeruk purut. Ada juga tor-tor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan). Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja, tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi disebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung). Kemudian tor-tor Tunggal Panaluan merupakan suatu budaya ritual. Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah, maka tanggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Banua Gijjang (Dunia Atas), Banua Tonga (Dunia Tengah) dan Banua Toru (Dunia bawah) Tor-Tor pada jaman sekarang untuk orang Batak tidak lagi hanya diasumsikan dengan dunia roh, tetapi menjadi sebuah seni karena Tor-Tor menjadi perangkat budaya dalam setiap kegiatan adat orang Batak.



Bagi kaskuser yang tertarik melihat seperti apa tarian tor tor tersebut silakan kunjungi https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=121031024&postcount=5
seehoonks - 07/10/2009 01:43 AM
#9

Kaskus ID : seehoonks
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Lirik Lagu Manuk Dadali
Sumber : [CODE]http://organisasi.org/manuk_dadali_sunda_provinsi_jawa_barat_lirik_lagu_daerah_musik_nasional_t radisional_indonesia[/CODE]
Keterangan : Ini lirik lagu 'Manuk Dadali' dari daerah Jawa Barat

Mesat ngapung luhur
jauh di awang awang

Meberkeun jangjangna
bangun taya karingrang

Kukuna ranggaos reujeung pamatukna ngeluk
Ngepak mega bari hiberna tarik nyuruwuk

Saha anu bisa nyusul kana tandangna
gadang jeung partentang taya badingan nana

Dipika gimir dipika serab ku sasama
Taya karempan ka sieun leber wawanenna

Manuk dadali manuk panggagahna
Perlambang sakti Indonesia jaya

Manuk dadali pang kakoncarana
Resep ngahiji rukun sakabehna

Hirup sauyunan tara pahirihiri
Silih pikanyaah teu inggis bela pati

Manuk dadali ngandung siloka sinatria
Keur sakumna warga di nagara Indonesia
akang.maul - 07/10/2009 09:43 AM
#10
Tarling
TARLING

Kaskus ID : akang.maul
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Lagu / Musik
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tarling
Keterangan :
Kesenian khas daerah gw nih gan...

Spoiler for Info
Tarling
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel

Tarling merupakan kesenian khas dari wilayah pesisir timur laut Jawa Barat (Indramayu-Cirebon dan sekitarnya). Bentuk kesenian ini pada dasarnya adalah pertunjukan musik, namun disertai dengan drama pendek. Nama "tarling" diambil dari singkatan dua alat musik dominan: gitar akuistik dan suling. Selain kedua instrumen ini, terdapat pula sejumlah perkusi, saron, kempul, dan gong.

Awal perkembangan tarling tidak jelas. Namun demikian, pada tahun 1950-an musik serupa tarling telah disiarkan oleh RRI Cirebon dalam acara "Irama Kota Udang", dan menjadikannya populer. Pada tahun 1960-an pertunjukan ini sudah dinamakan "tarling" dan mulai masuk unsur-unsur drama.

Semenjak meluasnya popularitas dangdut pada tahun 1980-an, kesenian tarling terdesak. Ini memaksa para seniman tarling memasukkan unsur-unsur dangdut dalam pertunjukan mereka, dan hasil percampuran ini dijuluki tarling-dangdut (atau tarlingdut). Selanjutnya, akibat tuntutan konsumennya sendiri, lagu-lagu tarling di campur dengan perangkat musik elektronik sehingga terbentuk grup-grup organ tunggal tarling organ. Pada saat ini, tarling sudah sangat jarang dipertunjukkan dan tidak lagi populer. Tarling dangdut lebih tepat disebut dangdut Cirebon.
e-New - 07/10/2009 04:09 PM
#11
[Tarian-Artikel] Dero/Modero
Dero/Modero


Kaskus ID: e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Tarian-Artikel
Sumber : fritz blog
Keterangan : Tarian persahabatan, kekerabatan, kedamaian dari [B]Poso [pamona] - Morowali [mori][/B]

Quote:


Pict:

Dengan baju adat
Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel

Tanpa baju adat
Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Spoiler for Dero/Modero

Dero/Modero adalah tarian dengan formasi melingkar yang diikuti ratusan orang, dikenal masyarakat Poso-Morowali, Sulawesi Tengah [Sulteng], sebagai tarian perdamaian. peserta tari tersebut juga saling berpegangan tangan yang menandakan rasa persatuan dan persahabatan, meski sebelumnya tidak saling mengenal. Dero biasanya dilakukan pada malam hari, seusai warga menghadiri acara pesta pernikahan, pesta panen [Padungku] atau acara lainnya.
Bahkan hingga menjelang matahari terbit, Dero masih tetap berlanjut. tarian itu biasanya diiringi musik organ tunggal [sekarang, - dulunya memakai gong kecil] dengan dua penyanyi. Penyanyinya umumnya juga melantunkan lagu berbahasa daerah atau lagu populer lainnya dengan iringan irama agak cepat. tempo lagu yang agak cepat membuat penari Dero lebih bersemangat, bergoyang sambil berputar searah jarum jam atau sebaliknya.
Dalam situasi normal, dero dipentaskan malam hari, usai acara pesta pernikahan, pesta panen [Padungku] atau acara lainnya. Sering pula dero digelar sampai pagi dengan penuh suka cita. lupa waktu tak masalah karena begitulah sebagian cara masyarakat Poso-Morowali menikmati perdamaian. Dero menjadi arena persahabatan sekaligus perdamaian. lihat saja, dalam Dero, setiap orang bebas masuk ke dalam lingkaran. dan langsung menggandeng tangan orang di sebelahnya. tidak ada yang pernah menolak penggandengan tangan itu karena dero memang ajang untuk bergembira dan mencari sahabat tanpa peduli apa agamanya.
Tari Dero ini juga disebut dengan Tari Pontanu, jenis tari pergaulan di mana para penonton diajak ikut menari dengan saling bergandengan tangan membentuk lingkaran. tarian asal Poso dan Morowali, Sulawesi Tengah itu selalu dilakukan pada setiap acara-acara pernikahan, pesta panen [Padungku] dan syukuran lainnya di Poso-Morowali. tari Dero itu masih tetap dipertahankan di beberapa kampung di Poso-Morowali hingga kini.
e-New - 07/10/2009 04:39 PM
#12

LALOVE

Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Alat Musik - Artikel
Sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=573&uid=
Keterangan : Alat kesenian lalove, sebagai alat pengiring tari tradisional [dari sulawesi tengah - Suku Kaili]

Spoiler for Lalove
Alat kesenian lalove berfungsi sebagai alat pengiring tari tradisional disamping alat lain seperti gendang. Tari tradisional ini dalam bahasa daerahnya di sebut balia, yang terdiri dari beberapa jenis. Pada mulanya lalove ini tidak sembarang ditiup, sebab bagi orang-orang yang biasa kerasukan roh mendengarnya maka dengan spontanitas orang tersebut akan kerasukan. Itulah sebabnya lalove tersebut tidak sembarang orang yang meniupnya, rebatas pada orang-orang tertentu dan di sebut bule. Lalove ini sangat penting kedudukannya dalam mengiringi tarian upacara penyembuhan, sebab apabila salah irama para penari yang udah kerasukan roh, akan marah dan mengamuk. Upacara penyembuhan dilaksanakan pada malam hari, lamanya upacara berdasarkan lamanya pasien yang kerasukan kadang-kadang sampai siang. Tetapi akhir-akhir ini alat tersebut telah banyak dipakai untuk mengikuti/ mengiringi tarian tradisional yang telah dikreasikan. Namun demikian anak-anak/ remaja masih belum mampu menggunakannya, sehingga hanya orang-orang yang telah berumur yang mampu meniupnya secara sempurna.

Bahan: Buluh dan Rotan.
Bentuk: Bulat Panjang, seperti suling. Warna: Kuning kecoklat-coklatan.

Cara pembuatannya:
1. Memilih bahan dengan cara mencari buluh yang sudah tua dan lurus. Buluh untuk lalove ini, dicari dan pilih buluh yang tumbuh digunung atau di bukit-bukit, dan rumpun yang terletak paling tinggi.
2. Sebelum menebang atau mengambil buluh tersebut, terlebih dahulu dibuatkan upacara untuk minta izin kepada penghuni/ penguasa di bukit tersebut. Upacara ini menguguhkan sesajen berupa ayam putih yang diambil darahnya sedikit lalu dilepas. Disamping itu adapula makanan, sambil membacakan mantera-mentera.
3. Selesai upacara, lalu memilih bulu yang paling tinggi, lurus dan sudah tua, dan ditebang sambil mengucapkan tebe (permisi), sebanyak 3 (tiga) batang.
4. Buluh-buluh tadi dibawa ke sungai, setelah dikeluarkan ranting-ranting, dan kemudian di sungai yang diikuti oleh pembuatnya.
5. Oleh pembuat memilih buluh yang terlebih dahulu hanytut dari buluh lainnya, dan buluh tersebut merupakan pilihan utama.
6. Buluh pilihan tersebut dipotong seruas-ruas, lalu dialirkan lagi kesungai untuk mendapatkan ruas yang utama sebagai pilihan untuk dibuat lalove.
7. Bulu yang dipotong tadi dianginkan sampai kering. Salah satu ruas buku tidak dikeluarkan. Pada bagian buku ini disayat sedikit, kemudian dililit dengan rotan yang telah diraut, sehingga antara sayatan dan lilitan rotan ada lubang untuk masuknya udara dari dalam mulut. Pada bagian yang bertolak belakang dengan bagian yang disayat tadi buat lubang sejumlah enam (6) dengan jarak yang sama tiap tiga lubang dan antara tiap tiga lubang ± 5 cm, sedangkan jarak tiap lubang ± 2 cm.
8. Untuk memperbesar suara lalove tadi pada ujungnya ditambah dengan buluh yang lebih besar, sehingga ujung lalove tadi dapat masuk dalam buluh tadi. Buluh untuk menambah besar suara lalove disebut solonga.
9. Keadaan pengrajin lalove akhir-akhir ini bila dibandingkan pada masa lalu kelihannya agak kurang, namun pada sisi lain nampaknya masih ada usaha untuk melestarikannya.

Usaha ini dikaitkan dengan dikembangkannya usaha melestarikan musik tradisional, tetapi tidak ada lagi upacara-upacara pemilihan buluh, tetapi cukup dengan memilih bulu yang berkualitas baik.

Cara memainkan
1. Dimainkan dalam posisi duduk, pada waktu malam.
2. Pada ujung yang dilit pada rotan diletakkan pada bibir dan ujung yang satunya dijepit oleh jari kaki.
3. Jari-jari tanga kiri (3 jari), telunjuk, jari tengah, dan jari manis menutup tiga lubang bagian atas, begitu pula pada 3 (tiga) lubang pada bagian bawah. Kadang-kadang ibu jari tangan kanan digunakan, apabila Lalove tersebut agak panjang sehingga posisi kaki agak terjulur ke depan.
4. Pada lubang sayatan yang dililit dengan rotan, napas dihembuskan, dan jari-jari tangan dapat bergerak tutup buka pada lubang-lubangnya.
5. Apabila suaranya kurang merdu, dapat diatur dengan cara mengatur rotan pelilit tadi.

Persebaran
Karena alat ini pada mulanya digunakan untuk mengiringi tari tradisional Balia, maka perebarannya terbatas pada orang atau kelompok yang mengadakan upacara balia sebagai upacara penyembuhan orang sakit. Namun demikian akhir-akhir ini dimana orang atau kelompok balia sudah mulai berkurang, tetapi dipihak lain ada usaha menggunakan lalove ini sebagai pengiring tari tradisional yang telah dikreasi. Nampaknya masih didominasi oleh pengikut balia, akan tetapi kaum remaja sudah mulai mencintainya, walau masih perlu belajar banyak.


SANTU

Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Alat Musik - Artikel
Sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=665&uid=
Keterangan : Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat untuk penghibur pelepas lelah dikala senggang [dari sulawesi tengah - Suku Kaili]

Spoiler for Santu
Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat untuk penghibur pelepas lelah dikala senggang, atau pengisi waktu ambil bersenandung. Disamping itu alat ini juga sebagai alat komunikasi diantara para anggota kelompok sosial, sehingga ada kontak jiwa bagi para pemainnya, sehingga menambah eratnya hubungan dan perkenalan. Apabila seseorang berada ditempat lain dan ia ingin memainkan santu, maka ia dapat berhubungan dengan orang ditempat dan dipinjamkanlah alat itu kepadanya, karena ada rasa kebersamaan.
Pada masa sebelum masuknya alat-alat kesenian modern dipedesaan alat kesenian tradisional ini tersebar kepelosok-pelosok khususnya didaerah pertanian. Setelah masuknya alat kesenian yang mutakhir, maka alat ini dengan sendirinya terdesak, dan juga karena kurang digemari oleh remaja sekarang.

Cara memainkan
Alat kesenian santu ini dimainkan dalam posisi duduk bersila dengan cara dipetik atau dipukul. Tangan kiri memegang alat pada bagian tengah dengan posisi miring atau ditidurkan diatas kaki (paha) dan tangan kanan memetiknya, atau dipukul-pukul dengan kayu bulat yang kecil. Dengan demikian atau memukul-mukulkan kayu pada tali ( kulit bambu itu sendiri), dapat menimbulkan bunyi. Alat kesenian ini dapat dimainkan oleh orang tua, dewasa, anak-anak, laki-laki dan perempuan. Dimainkan pada sore hari, malam hari, atau diwaktu senggang di rumah atau pondok-pondok disawah, dan dimainkan tidak dengan alat lain, kecuali bila kehendak untuk memainkannyadengan alat kesenian lain, seperti paree, tadilo, mbasi-mbasi dan lain-lain.

Cara pembuatannya.
Bahan: Bambu kayu dan rotan.
Bentuk: Bulat panjang (bentuk bambu). Warna: Sama dengan warna bambu yang kering.
Sebelum alat kesenian Santu ini dibuat terlebih dahulu memilih bambu yang berkualitas baik (Volo lau bahasa Kaili), dan batang yang tua lagi tebal. Bambu pilihan itu dipotong seruas-seruas dengan panjang ± 45 cm garis menengahnya ± 8 cm, dan buku-buku ruasnya pada kedua ujung tidak dikeluarkan sehingga tidak tembus pandang. Bambu yang masih mentah, pada salah satu sisinya, bagian kulit luar dicungkil dengan parang atau pisau selebar ± 1/3 cm sampai 1/2 cm., sebanyak 4 (empat) yang merupakan tali. Kulit bambu yang dicungkil sebagai tali, pada kedua bagian ujungnya ditongkat/ dipotong dengan kayu setebal + 1 cm, sampai 1 1/2 cm. Sebelum ditongkat/ dipotong dengan kayu, terlebih dahulu pada kedua ujung bambu dililit dengan rotan (poale, Kaili) ± 5 cm, dari tiap ujung. Rotan pelilit (poale) ini dibuat agar kulit bambu yang berbentuk tali tidak terangkat ke ujung. Pada bagian tengah tepat dibawah tali dibuat 2 (dua) lubang yang bergari tengah ± 2 cm, dan diantara 2 (dua) lubang dipasang kayu penompang setinggi ± 2 cm - 3 cm agar talinya menjadi tegang.
e-New - 07/10/2009 04:40 PM
#13

TADILO

Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Alat Musik - Artikel
Sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=667&uid=
Keterangan : Alat kesenian tadilo ini berfungsi sebagai alat kesenian penghibur, dan untuk membunuh kesunyian, dimalam hari atau sore hari [dari sulawesi tengah - Suku Kaili]

Spoiler for Tadilo
Alat kesenian tadilo ini berfungsi sebagai alat kesenian penghibur, dan untuk membunuh kesunyian, dimalam hari atau sore hari. Dapat pula alat berfungsi tidak secara langsung yakni saling merasakan perasaan masing-masing, sambil berbicara dengan teman untuk mencurahkan segala isi hati atau sambil bergurau. Dengan demikian ada rasa persahabatan yang erat antar teman lewat penggunaan alat kesenian tadilo ini.
Sampai sekarang alat kesenian ini sudah jarang dikenal karena persebarannya sudah sempit, karena digeser oleh alat kesenin modern. Hanya ada daerah yang masih mampu bertahan dan masih dikenal di desa-desa, ialah di Kecamatan Sindue. Kalau pada mulanya hampir semua desa di Tanah Kaili, mengenal persis akan alat ini, karena persebarannya hampir merata kepelosok desa. Tidak diketahui secara pasti, mengapa alat ini disebut tadilo, karena beberapa warga tidak mampu menjelaskan apa sebab alat itu disebut tadilo. Yang jelas mereka mampu membuatnya dan dapat memainkannya.

Cara memainkan.
Alat kesenian tadilo tesrebut dipegang dengan salah tangan dalam posisi ditidurkan. Pemainnya dalam keadaan duduk bersila atau dengan cara lain, apakah dengan cara menjulurkan kedua kaki atau dengan cara melipat kaki sebelah. Yang penting alat tersebut dapat dimainkan. Bahkan dalam keadaan berdiripun dapat dimainkan.
Tangan yang satu memukul-mukul tali senar tadi dengan ukuran panjang ± 15 cm. Alat kesenian ini dapat mengiringi walau hanya sebagai senandung saja yang berupa pantun-pantun daerah. Semua umur dapat memainkannya, namun yang paling banyak menggunakan adalah kamu remaja lalaki dan perempuan, disamping para orang tua. Dimainkan pada malam hari atau sore hari dikala suasana hening dan aman dari gangguan bunyi-bunyi yang lain. Tempat bermain biasanya di pondok, dikebun, disawah, dan kadang-kadang pula di pelataran rumah.

Cara pembuatan.
Bahan: Bambu, kayu dan rotan.
Bentuk: Bulat panjang. Warna: Sama seperti bambu yang kering (kekuning-kuningan).
Sebelum membuat alat ini, terlebih dahulu memilih bahan bambu (volo lau), yang lurus tua, dan ruasnya agak panjang. Bambu dipotong satu ruas dengan panjang ± 50 cm, dan garis menengahnya ± 8 cm, dan pada kedua ujung ruas bukunya tidak dikeluarkan, sehingga tidak tembus pandang. Bambu yang dipotong dengan ukuran tersebut diatas siap untuk dibulatkan alat tadilo tersebut. Dalam keadaan mentah bambu itu dicungkil dengan ukuran lebar ± 1/2 cm sebagai tali senar sebanyak 2 (dua) tali. Jarak antara tali senar yang dicungkil ± 1/2 cm.
Cara mencungkil kulit bambu luar tadi yakni menggunakan ujung pisau atau parang dengan at-hati sekali. Sebelum kulit bambu yang dicungkil padi diganjal pada kedua ujungnya, terlebih dahulu di lilitkan rotan yang dianyam sehingga apabila kedua kulit bambu yang terlepas dua ujungnya. Pada bagian tengah bambu, yakni dibawah rentangan kedua tali, dibuatkan lubang dengan ukuran ± 1 x 2 cm yang berfungsi sebagai penggema suara. Selesai pembuatan lubang, kedua tali tadi diangkat sedikit untuk dikencangkan, dan dipasang kayu persegi panjang kedua ujungnya sebagai pengganjal untuk lebih mengencangkan talinya. Tidak ada upacara untuk mengambil bahan bambu tersebut, oleh karena itu orang bebas membuat alat tersebut dengan alat tersebut dengan syarat bambu yang lurus dan sudah tua. Kalau bambu yang dimaksud tumbuh secara liar, maka orang yang mengambilnya harus mengucapkan tabe (permisi) sebelum memotongnya. Keadaan pengrajin akhir-akhir ini sudah langa, dan sudah jarang orang menggunakan atau memakainya.


buset.. gak bisa nulis panjang-panjang o
e-New - 07/10/2009 04:41 PM
#14

PUREE

Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Alat Musik - Artikel
Sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=657&uid=
Keterangan : Alat kesenian ini berfungsi hanyalah untuk hiburan saja [dari sulawesi tengah - Suku Kaili]

Spoiler for Puree
Alat kesenian ini berfungsi hanyalah untuk hiburan saja. Pada mulanya, walaupun alat ini untuk hiburan tetapi juga sebagai komunikasi dalam kehidupan sehari-hari antar manusia, tetutama bagi remaja tempo dulu. Sebab dengan alat ini mereka saling kenal lewat syair lagu yang menyentuh perasaan. Dengan demikian mempererat hubungan dan persatuan dalam masyarakat dan kehidupanseni sehari-hari. Persebaran alat ini pada waktu dulu ditemukan hampir ada ditiap desa, tetapi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi alat kesenian ini terdesak karena kebanyakan orang lebih suka dengan alat kesenian yang baru.

Cara memainkan
Memainkan alat kesenian ini cukup hanya digenggam dengan salah satu tangan, dan ibu jari menutup lubang, kemudian alat dipukul-pukulkan pada tapak tangan yang lain, sebagian kaki (paha atau lutut) dan bahkan ada yang memukul-mukulkan pada bagian kepala. Sambil memukul-mukulkan, diiringi pula dengan senandung yang berisikan syair-syair yang dapat mengubah perasaan pendengarnya. Pukulan-pukulan tersebut berganti-ganti, ke telapak tangan, ke bagian kaki atau kepala mengikuti irama lagu dan perasaan pemegangnya. Pukulan-pukulan itu tidak terlalu keras tetapi disesuaikan perasaan antara keras dan lembut. Untuk dapat mengubah-ubah bunyi, dapat diatu dengan cara membuka ibu jari dan menutupnya pada lubang. Alat ini dapat dimainkan oleh orang tua remaja perempuan dan laki-laki dan dimainkan pada sore hari utamanya pada malam hari, disaat-saat yang hening dan sunyi. Dimainkan dalam posisi duduk bersila dapat pula pada waktu duduk diatas kayu atau batu, juga dapat dimainkan pada waktu berjalan/ berdiri. Alat ini dimainkan tanpa alat lainnya.

Cara pembuatan.
Bahan: Bulu tuli dan rotan
Bentuk: Berbentuk jepitan atau garpu tala sama seperti Paree.
Warna: Coklat kekuning-kuningan (sama dengan warna bulu yang sudah tua).
Untuk membuat alat kesenian ini diperlukan buluh Tui yang tua lurus dan kualitet yang baik. Satu buah alat kesenian hanya diperlukan satu ruas saja. Bahan lain untuk pembuatan alat ini seutas rotan yang telah diraut. Sebelum dibuat, buluh terlebih dahulu dikeringkan dan disamping itu masih ada alat yang digunakan untuk membuat sayatan, yakni parang atau pisau yang tajam. Membuat alat kesenian ini sama seperti membuat paree. Buluh Tui yang digunakan adalah buluh tui yang salah satu ruasnya tidak dilubangi, sehingga tidak tembus pandang. Pada dua sisi yang bertolak belakang disayat kira-kira 2/3 bagian atau 3/5 dari arah bukunya langsung ke ujung buluh yang tak ada ruasnya, sehingga alat ini berbentuk seperti jepitan. Sejajar dengan bagian buluh yang tidak disayat dibuat satu lubang besarnya dapat ditutup dengan ibu jari. Pada pangkal buluh dekat bukunya dililitkan dengan rotan yang berfungsi sebagai cincin, sebagai penangkal agar buluhnya tidak mudah pecah atau terbelah. Keadaan pengrajin alat kesenian ini hampir-hampir tidak dapat ditemukan lagi, dan kalau ada yang membuatnya semata-mata hanya untuk kepentingan diri sendiri, atau berupa pesanan dari penggemar alat kesenian tradisional sebagai koleksi. Ungkapnya para pengrajin alat kesenian ini disebabkan kurangnya peminat, memerlukan waktu dan tenaga untuk memadukan dengan alat kesenian tradisional lainnya, dan karena didesak oleh alat kesenian mutakhir yang masuk menyusup sampai ke desa-desa.


YORI

Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Alat Musik - Artikel
Sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=675&uid=
Keterangan : Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat hiburan pribadi, karena suaranya tidak terlalu keras [dari sulawesi tengah - Suku Kaili]

Spoiler for Yori
Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat hiburan pribadi, karena suaranya tidak terlalu keras. Sebagai penglipur lara, untuk menghalau rasa sunyi, atau sebagai pengisi waktu saja. Suaranya dapat didengar sekitar 3 - 10 meter, dimainkan dengan tidak alat lain. Alat kesenian pada mulanya sebagai alat komunikasi antara remaja, untuk menyampaikan perasaannya. Sebab dari bunyi dapat diartikan oleh orang lain lalu dibalas sesuai dengan maksudnya. Begitulah mereka sering berbalas bunyi seakan bercerita langsung. Mungkin karena pembuatannya yang memerlukan ketekunan, kehati-hatian, dan alat kesenian yang mutahir semakin banyak, maka persebaran alat ini sudah punah, disamping pengrajinnya pun sudah langkah. Pada mulanya alat ini banyak tersebar ke desa-desa dimana banyak pohon enau atau sagu yang tumbuh.

Cara memainkannya.
Ibu jari tangan kanan dimasukan ketali yang berbentuk cincin (gelang) dan jari-jari tangan kiri memegang bambu/ bulu tui yang talinya agak panjang. Yori diangkat dan dimasukan kedalam mulut, ibu jari tangan kanan berfungsi sebagai penahan Yori agar tidak bergerak atau tidak bergoyang. Yori ditiup dalam mulut seperti halnya bermain harmonika. Pada waktu pemain meniup jari tangan kiri yang memegang bulu tui, menyentak-sentak tali untuk menggetarkan selaput penggetar yang berbentuk garpu tala dan ibu jari tangan kanan menahan yori, agar tidak tergeser dari mulut. Lidah diusahakan agar tidak menyentuh yori, dengan maksud supaya selaputnya tetap bergetar. Dalam permainan yori berfungsi nafas sangat menentukan sekali untuk mengatur nada, disamping fungsi tangan kiri juga menentukan getarannya. Alat ini dapat dimainkan oleh orang tua, dewasa anak-anak, laki-laki dan perempuan, pada waktu malam hari atau sore hari yang tenag. Dapat dimainkan pada posisi duduk, berdiri, berjalan atau berbarin.

Cara pembuatan.
Bahan: Kulit pelepah enau. Tali yang dibuat dari kulit kayu.
Bentuk: Pipih dan ada lubang yang berbentuk garpu tala ditengahnya. Ukurannya, panjang ± 15 cm, lebar ± 2 cm. Warna : Coklat seperti warna pelepah enau yang kering.
Memilih bahannya, yakni pelepah enau yang bagus, dan tumbuhan sebangsa nenas (teruntu bahasa Kaili) untuk baha pembuat talinya. Pelepah enau yang telah dipilih tadi, dikeluarkan bagian dalamnya (gadingnya) dengan hati-hati agar tidak pecah (terbelah). Bagian dalamnya yang dikelurkan, disayat dengan pisau tajam. Pada bagian tengahnya disayat/ diiris dengan pisau tajam dan dibentuk seperti garpu tala. Kedua ujungnya dilubangi, dan diikatkan tali. Ujung kanan talinya berbentuk cicin (gelang) untuk tempat ibu jari, dan pada ujung kirinya diikatka pula tali sambil diikat sambung dengan sepotong bambu tui, untuk tempat memegang. Keadaan pengrajinnya sekarang ini sangat langkah dan hampir-hampir tidak ditemukan lagi.



argh.. capek mindahinnya dari sini.. o
https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=1331588

mod/admin ada fasilitas move post kan? yukk pindahin dong dari trit aslinya.. D
capek eijke.. o
ichaelmago - 07/10/2009 06:38 PM
#15
Lagu
BUBUY BULAN

Kaskus ID : ichaelmago
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Lagu - Artikel
Sumber : http://organisasi.org/bubuy_bulan_sunda_provinsi_jawa_barat_lirik_lagu_daerah_musik_nasional_tradisio nal_indonesia
Keterangan : Bubuy Bulan adalah lagu tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Lagu ini diciptakan oleh Benny Korda.

Spoiler for Lirik Lagu
Bubuy bulan
Bubuy bulan sangray bentang
Panon poe
Panon poe disasate

Unggal bulan, unggal bulan
Unggal bulan abdi teang

Unggal poe,unggal poe
Unggal poe oge hade

Situ Ciburuy
laukna hese dipancing
Nyeredet hate
Ningali ngeplak caina

Duh eta saha nu ngalangkung
unggal enjing
Nyeredet hate
Ningali sorot socana
Elison.ID - 07/10/2009 07:14 PM
#16
Piso Surit
Kaskus ID : Elison.ID
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Lirik Lagu PISO SURIT
Sumber : http://www.geocities.com/merga_silima/lirik/pisosurit.htm
Keterangan : Ini lirik lagu dari Sumatera utara (BATAK KARO), Cipt : Djaga Depari

Spoiler for lirik
Piso surit... Piso surit...
Terdilo dilo... terpingko pingko...
Lalap la jumpa ras atena ngena | 2x

Ija kel kena tengahna gundari
Siangna menda turang atena wari
Entabeh nari nge mata kena tertunduh
Kami nimaisa turang tangis teriluh

Engo engo me dagena
Mulih me gelah kena
Bage me nindu rupa agi kakana

Tengah kesain keri lengetna
Remang mekapal turang seh kel bergehna
Tekuak manuk ibabo geligar
Enggo me selpat turang kite-kite ku lepar

Piso surit... Piso surit...
Terdilo dilo... terpingko pingko...
Lalap la jumpa ras atena ngena

Engo engo me dagena
Mulih me gelah kena
Bage me nindu rupa agi kakana | 2x
lucky girl - 07/10/2009 08:25 PM
#17

Kaskus ID : lucky girl
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : lirik lagu Yamko Rambe Yamko
Sumber : http://organisasi.org/yamko_rambe_yamko_provinsi_papua_irian_jaya_lirik_lagu_daerah_dan_musik_nasiona l_indonesia
Keterangan : ini lirik lagu Yamko Rambe Yamko dari Papua/Irian Jaya

Spoiler for lirik
Hee yamko rambe yamko aronawa kombe
Hee yamko rambe yamko aronawa kombe

Teemi nokibe kubano ko bombe ko
Yuma no bungo awe ade
Teemi nokibe kubano ko bombe ko
Yuma no bungo awe ade

Hongke hongke hongke riro
Hongke jombe jombe riro
Hongke hongke hongke riro
Hongke jombe jombe riro

alphabet - 07/10/2009 10:15 PM
#18

kaskus ID : alphabet

kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

bentuk karya : Lagu Soleram

sumber : http://organisasi.org/soleram_provinsi_riau_lirik_lagu_daerah_dan_musik_nasional_indonesia

keterangan :Soleram - Provinsi Riau ::: Lirik Lagu Daerah dan Musik Nasional Indonesia

Spoiler for lirik lagu
Soleram
Soleram
Soleram
Anak yang manis
Anak manis janganlah dicium sayang
Kalau dicium merah lah pipinya

Satu dua
Tiga dan empat
Lima enam
Tujuh delapan
Kalau tuan dapat kawan baru sayang
Kawan lama ditinggalkan jangan

---

Note :
Indonesian old traditional song
Free public song & non commercial copyrighted song lyric
alphabet - 07/10/2009 10:16 PM
#19

kaskus ID : alphabet

kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

bentuk karya : Lagu Injit-Injit Semut

sumber : http://organisasi.org/injit_injit_semut_lirik_lagu_daerah_dan_musik_nasional_indonesia

keterangan : Injit Injit Semut ::: Lirik Lagu Daerah dan Musik Nasional Indonesia

Spoiler for lirik lagu
Jalan jalan ke Tanah Deli
Sungguh indah tempat tamasya
Kawan jangan bersedih
Mari nyanyi bersama sama

Kalau pergi ke Surabaya
Naik prahu dayung sendiri
Kalau hatimu sedih
Ya rugi diri sendiri

Naik prahu ke Pulau Sribu
Sungguh malang nasibku
Punya teman diambil orang
Ramai sungguh Bandar Jakarta
Tempat orang mengikat janji
Walau teman tak punya hati
Senang dapat bernyanyi

Reff :
Injit injit semut
Siapa sakit naik diatas
Injit injit semut walau sakit
Jangan dilepas

---

Note :
Indonesian old traditional song
Free public song & non commercial copyrighted song lyric
damncountry - 07/10/2009 10:17 PM
#20

Kaskus ID : damncountry
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : lirik lagu waktu hujan sore-sore
Sumber :http://laguambon.blogspot.com/2008/12/waktu-hujan-sore-sore.html
Keterangan : ini lirik lagu waktu hujan sore-sore, lagunya enakk:

[PHP]Waktu hujan sore-sore
kilat sambar pohon kenari
E jujaro deng mongare
mari dansa dan manari

Pukul Tifa toto buang
kata balimbing dikareta
sio nyong hati tuang
jangan geser tinggal beta

e . . . manari sambil goyang badan e
manari lombo, pegang lenso manisse
la rasa rame, jangan pulang dolo e . .

e . . . manari sambil goyang badange
manari lombo, pegang lenso manisse
la rasa rame, jangan pulang dolo e . .
Rasa rame, jangan pulang dolo e

Waktu hujan sore-sore
kilat sambar pohon kenari
E jujaro deng mongare
mari dansa dan manari

Pukul Tifa toto buang
kata balimbing dikareta
sio nyong hati tuang
jangan geser tinggal beta

e . . . manari sambil goyang badange
manari lombo, pegang lenso manisse
la rasa rame, jangan pulang dolo e . .
Rasa rame, jangan pulang dolo e
[/PHP]
Page 1 of 6 |  1 2 3 4 5 6 > 
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Lagu/Tarian/Alat Musik > Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel