Handicraft/Kerajinan/Ukiran
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Handicraft/Kerajinan/Ukiran > Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel
Total Views: 24181 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 2 |  1 2 > 

template - 06/10/2009 03:32 PM
#1
Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel
Contoh Post :

Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel
verditch - 06/10/2009 08:10 PM
#2

kaskus ID : verditch

kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran

bentuk karya : artikel tentang ukiran khas palembang

sumber : http://karimsh.multiply.com/journal/item/16

keterangan : ini adalah artikel tentang ukiran khas palembang

Spoiler for artikel
Penerapan ukiran kayu Palembang banyak digunakan untuk ornamen bangunan rumah tradisional Palembang (rumah limas). Ada juga berbagai bentuk kerajinan ukiran khas Palembang seperti lemari hias berbagai ukuran, dipan, akuarium, bingkai foto dan cermin, kotak sirih, sofa, pembatas ruangan, dan sebagainya.

Ukiran kayu Palembang (Sumatera Selatan) memiliki gaya, motif, dan warna yang khas. Kayu yang digunakan adalah kayu berkualitas, terutama kayu tembesu. Semua ukiran kayu Palembang bermotifkan bunga mawar dengan variasi cat warna emas, hitam, dan merah tua.

Gaya ukiran Palembang adalah dekoratif dengan teknik rendah, tinggi dan tembus (terawang). Sedangkan motif seni ukiran yang umum digunakan tersebut dikenal dengan nama pohon kemal

[spoiler=bentuk ukiran]Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel


[/spoiler]
prasadha - 07/10/2009 07:51 AM
#3

ID: Prasadha
Kategori: Artikel tentang wayang golek

Spoiler for sekilas ringkasan tentang wayang golek

Wayang Golek adalah suatu seni pertunjukan wayang yang terbuat dari boneka kayu, yang terutama sangat populer di wilayah Tanah Pasundan.Wayang Golek adalah suatu seni pertunjukan wayang yang terbuat dari boneka kayu, yang terutama sangat populer di wilayah Tanah Pasundan.

Wayang golek saat ini lebih dominan sebagai seni pertunjukan rakyat, yang memiliki fungsi yang relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun material. Hal demikian dapat kita lihat dari beberapa kegiatan di masyarakat misalnya ketika ada perayaan, baik hajatan (pesta kenduri) dalam rangka khitanan, pernikahan dan lain-lain adakalanya diriingi dengan pertunjukan wayang golek.


sumber: [CODE]http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_golek[/CODE]

Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel

sumber gambar: [CODE]http://antoys.files.wordpress.com/2009/04/wayang-golek.jpg[/CODE]
aeroplen261 - 07/10/2009 09:19 AM
#4

kaskus ID : aeroplen261

kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran

sumber : ane..nambain aja gan..dulu ane bikin thread di the lounge..
tentang wayang golek juga...disitu ada sumbernya kok...

nih gann..
Tokoh-tokoh wayang golek[with pic]

iloveindonesia
aicachan - 07/10/2009 04:44 PM
#5
Kerajinan Khas Tasikmalaya
kaskus ID : aicachan

kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran

bentuk karya : artikel tentang kerajinan tangan khas Tasikmalaya

sumber : http://www.kampungtasik.com/tasikmalaya.html

keterangan : ini adalah artikel tentang kerajinan tangan khas Tasikmalaya

Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel

Sejak tahun 1980, Tasikmalaya telah menjadi salah satu pusat industri kerajinan di Indonesia. Dikota ini terdapat puluhan ribu usaha kecil kerajinan yang memproduksi berbagai jenis produk seperti bordir, sutera, batik, mebeler, alas kaki, aneka jenis produk kerajinan seperti anyaman bambu, pandan, mendong dan produk-produk kerajinan lainnya yang memiliki nilai seni untuk dekorasi rumah.


Produk kerajinan Tasikmalaya telah dipasarkan keberbagai wilayah di Indonesia bahkan telah dijual luas ke mananegara. Produk kerajinan yang anda beli atau lihat di tempat lain seperti Yogyakarta, Bali atau Jakarta mungkin saja dibuat dan berasal dari kota Tasikmalaya.


Jika suatu saat anda berkunjung ke Bandung, sempatkan diri anda untuk mengunjungi Tasikmalaya, karena disini anda akan kagum ketika melihat begitu banyak produk kerajinan berkualitas tinggi yang dipasarkan dengan harga sangat terjangkau. Tinggal pilih, cindera mata apa yang akan ada beli untuk di bawa pulang.
scootrace - 11/10/2009 02:16 PM
#6

kaskus ID : scootrace

kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran

bentuk karya : artikel tentang kerajinan kain Tenun khas Nusa Tenggara Timur

sumber : http://tamanbudayantt.org/welcome.htm

keterangan : ini adalah artikel tentang kerajinan Tenun tradisional khas Nusa tenggara timur


Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel
sejuta bintang - 11/10/2009 06:54 PM
#7

Kaskus ID : sejuta bintang

Kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran

Bentuk Karya : Batik Tanah Liek (Liat) dari Sumatra Barat (Minangkabau)

Sumber : berani.com

Keterangan : Artikel Batik Tanah Liek dari Sumatra Barat (Minangkabau)

Spoiler for Batik Tanah Liek

Batik Tanah Liek Direndam di Air Tanah Liat
Padang - Sumbar - 9-May-2008

Sejak lama, Tanah Minang atau Sumatra Barat terkenal dengan bordir dan sulamannya. Namun, sesungguhnya Tanah Minang masih menyimpan satu jenis kain yang tidak kalah indahnya. Kain itu dikenal dengan sebutan ”batik tanah liek”.

Kalau dilihat sekilas, batik tanah liek tidak jauh berbeda dengan batik umumnya. Misalnya, batik Solo. Warna dasar batik kebanyakan berwarna cokelat. Motifnya pun agak mirip. Namun, batik tanah liek punya keunikan tersendiri.

Dicelup di Air Tanah

”Tanah liek dalam bahasa Minang (Padang) berarti tanah liat. Jadi, batik tanah liek artinya batik tanah liat,” jelas Raizal Rais, seorang perancang busana di Jakarta. Bagaimana mungkin batik dari tanah liat?

Begini. Tanah liat di sini digunakan sebagai media perendam. Prosesnya, kain yang telah dilukis oleh malam (lilin), biasanya direndam dahulu dalam cairan pewarna. Gunanya untuk menghasilkan warna yang kita inginkan. Setelah kering, kain dicelup ke dalam air panas untuk menghilangkan lilinnya. Nah, dalam pembuatan batik tanah liek, cairan pewarna untuk merendam kain adalah larutan air dari tanah liat. Biasanya proses perendaman dengan air tanah liat ini berlangsung selama seminggu. Hasilnya, kain batik memiliki warna dasar cokelat tanah. Itulah bedanya.

Rumah Gadang

Bagaimana dengan motifnya? ”Sebenarnya, motif batik tanah liek mirip dengan batik umumnya. Misalnya, ada yang mirip dengan motif batik pesisir. Motifnya burung hong, udang, dan tanaman,” jelas Raizal Rais.

Lalu, adakah motif khusus yang menggambarkan Tanah Minang itu sendiri? ”Tentu ada. Tanah Minang atau Minangkabau memiliki bentuk rumah panggung yang khas. Namanya, Rumah Gadang. Nah, motif Rumah Gadang inilah yang ikut dimasukkan sebagai motif batik tanah liek,” jelasnya.

Lanjutnya, di Sumatra Barat, daerah yang masih menghasilkan batik ada di Kota Painan, Dharmasraya, Bukit Tinggi, dan Solok. Dahulu, batik tanah hanya dipakai oleh para datuk untuk upacara khusus. Para datuk memakainya dalam bentuk selendang yang dilingkarkan pada leher. Sedangkan kaum perempuan menyampirkan selendang itu di bahu. Caranya, ujung kain pertama dililit dua kali di bahu kiri. Ujung lainnya disampirkan di tangan kanan melalui bagian belakang badan.

Kini, batik tanah liek bisa dipakai oleh siapa saja.
verditch - 17/10/2009 06:06 PM
#8

kaskus ID : verditch

kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran

bentuk karya : artikel mengenai keris (salah satu senjata khas Indoesia)

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Keris

keterangan :ini adalah artikel mengenai keris

Spoiler for Keris
Keris adalah senjata tikam khas Indonesia, atau mungkin lebih tepat Nusantara. Berdasarkan dokumen-dokumen purbakala, keris dalam bentuk awal telah digunakan sejak abad ke-9. Kuat kemungkinannya bahwa keris telah digunakan sebelum masa tersebut.

Penggunaan keris sendiri tersebar di masyarakat rumpun Melayu. Pada masa sekarang, keris umum dikenal di daerah Indonesia (terutama di daerah Jawa, Madura, Bali/Lombok, Sumatra, sebagian Kalimantan, serta sebagian Sulawesi), Malaysia, Brunei, Thailand, dan Filipina (khususnya di daerah Mindanao). Di Mindanao, bentuk senjata yang juga disebut keris tidak banyak memiliki kemiripan meskipun juga merupakan senjata tikam.

Keris memiliki berbagai macam bentuk, misalnya ada yang bilahnya berkelok-kelok (selalu berbilang ganjil) dan ada pula yang berbilah lurus. Orang Jawa menganggap perbedaan bentuk ini memiliki efek esoteri yang berbeda.

Selain digunakan sebagai senjata, keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supranatural. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.

Tata cara penggunaan keris berbeda-beda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Sementara itu, di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan.

Selain keris, masih terdapat sejumlah senjata tikam lain di wilayah Nusantara, seperti rencong dari Aceh, badik dari Sulawesi serta kujang dari Jawa Barat. Keris dibedakan dari senjata tikam lain terutama dari bilahnya. Bilah keris tidak dibuat dari logam tunggal yang dicor tetapi merupakan campuran berbagai logam yang berlapis-lapis. Akibat teknik pembuatan ini, keris memiliki kekhasan berupa pamor pada bilahnya.

Bagian-bagian keris

Sebagian ahli tosan aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapan lainnya, yaitu warangka (sarung) dan bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut keris.

Pegangan keris atau hulu keris

Pegangan keris (bahasa Jawa: gaman) ini bermacam-macam motifnya, untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari , pertapa, hutan ,dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia.

Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu.

Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) ,weteng dan bungkul.

Warangka atau sarung keris

Warangka, atau sarung keris (bahasa Banjar : kumpang), adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati, cendana, timoho, dan kemuning). Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading.

Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka, yaitu jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong, dan gandek.

Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi , misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkimpoian, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang).

Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman , pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana.

Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) .

Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak, emas . Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian.

Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat , serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).

Wilah

Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub, bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll.

Pada pangkal wilahan terdapat pesi , yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.

Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam, wilut , dungkul , kelap lintah dan sebit rontal.

Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija, atau keris tidak lazim.

Tangguh keris

Di bidang perkerisan dikenal pengelompokan yang disebut tangguh yang dapat berarti periode pembuatan atau gaya pembuatan. Hal ini serupa dengan misalnya dengan tari Jawa gaya Yogyakarta dan Surakarta. Pemahaman akan tangguh akan membantu mengenali ciri-ciri fisik suatu keris.

Beberapa tangguh yang biasa dikenal:

* tangguh Majapahit
* tangguh Pajajaran
* tangguh Mataram
* tangguh Yogyakarta
* tangguh Surakarta.

Keris Pusaka terkenal

* Keris Mpu Gandring
* Keris Pusaka Setan Kober
* Keris Kyai Sengkelat
* Keris Pusaka Nagasasra Sabuk Inten
* Keris Kyai Carubuk
* Keris Kyai Condong Campur
* Keris Taming Sari

[spoiler=gambar keris]Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel


[/spoiler]
Wieke89 - 17/10/2009 09:53 PM
#9
kain Tapis (Lampung)
Kaskus ID = Wieke89
kategori = handicraft/kerajinan/ukiran-artikel
bentuk karya = artikel tentang kain khas Lampung
sumber = http://sudar4news.wordpress.com/2008/02/19/sejarah-kain-tapis-lampung/
keterangan = ini artikel tentang sejarah dan cara pembuatan kain tapis (dari Lampung)

Spoiler for
Spoiler for isi artikel itu
Kain Tapis merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung dalam menyelaraskan kehidupannya baik terhadap lingkungannya maupun Sang Pencipta Alam Semesta. Karena itu munculnya kain Tapis ini ditempuh melalui tahap-tahap waktu yang mengarah kepada kesempurnaan teknik tenunnya, maupun cara-cara memberikan ragam hias yang sesuai dengan perkembangan kebudayaan masyarakat. Menurut Van der Hoop disebutkan bahwa orang lampung telah menenun kain Brokat yang disebut Nampan (Tampan) dan kain Pelepai sejak abad II masehi. Motif kain ini ialah kait dan konci (Key and Rhomboid shape), pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal. Juga terdapat motif binatang, matahari, bulan serta bunga melati. Dikenal juga tenun kain tapis yang bertingkat, disulam dengan benang sutera putih yang disebut Kain Tapis Inuh. Hiasan-hiasan yang terdapat pada kain tenun Lampung juga memiliki unsur-unsur yang sama dengan ragam hias di daerah lain. Hal ini terlihat dari unsur-unsur pengaruh taradisi Neolithikum yang memang banyak ditemukan di Indonesia. Masuknya agama Islam di Lampung, ternyata juga memperkaya perkembangan kerajinan tapis ini. Walaupun unsur baru tersebut telah berpengaruh, unsur lama tetap dipertahankan. Adanya komunikasi dan lalu lintas antar kepulauan Indonesia sangat memungkinkan penduduknya mengembangkan suatu jaringan maritim. Dunia kemaritiman atau disebut dengan jaman bahari sudah mulai berkembang sejak jaman kerajaan Hindu Indonesia dan mencapai kejayaan pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan islam antara tahun 1500 1700.

Bermula dari latar belakang sejarah ini, imajinasi dan kreasi seniman pencipta jelas mempengaruhi hasil ciptaan yang mengambil ide-ide pada kehidupan sehari-hari yang berlangsung disekitar lingkungan seniman dimana ia tinggal. Penggunaan transportasi pelayaran saat itu dan alam lingkungan laut telah memberi ide penggunaan motif hias pada kain kapal. Ragam motif kapal pada kain kapal menunjukkan adanya keragaman bentuk dan konstruksi kapal yang digunakan. Dalam perkembangannya, ternyata tidak semua suku Lampung menggunakan Tapis sebagai sarana perlengkapan hidup. Diketahui suku Lampung yang umum memproduksi dan mengembangkan tenun Tapis adalah suku Lampung yang beradat Pepadun.

Bahan dan Peralatan Tenun Tapis Lampung

Bahan Dasar Tapis Lampung : Kain tapis Lampung yang merupakan kerajinan tenun tradisional masyarakat Lampung ini dibuat dari benang katun dan benang emas. Benang katun adalah benang yang berasal dari bahan kapas dan digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kain tapis, sedangkan benang emas dipakai untuk membuat ragam hias pada tapis dengan sistim sulam. Pada tahun 1950, para pengrajin tapis masih menggunakan bahan hasil pengolahan sendiri, khususnya untuk bahan tenun. Proses pengolahannya menggunakan sistim ikat, sedangkan penggunaan benang emas telah dikenal sejak lama.

Bahan-bahan baku itu antara lain : • Khambak/kapas digunakan untuk membuat benang. • Kepompong ulat sutera untuk membuat benang sutera. • Pantis/lilin sarang lebah untuk meregangkan benang. • Akar serai wangi untuk pengawet benang. • Daun sirih untuk membuat warna kain tidak luntur. • Buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu kejal untuk pewarna merah. • Kulit kayu salam, kulit kayu rambutan untuk pewarna hitam. • Kulit kayu mahoni atau kalit kayu durian untuk pewarna coklat. • Buah deduku atau daun talom untuk pewarna biru. • Kunyit dan kapur sirih untuk pewarna kuning.

Pada saat ini bahan-bahan tersebut diatas sudah jarang digunakan lagi, oleh karena pengganti bahan-bahan diatas tersebut sudah banyak diperdagangkan di pasaran. Peralatan Tenun kain Tapis : Proses pembuatan tenun kain tapis menggunakn peralatan-peralatan sebagai berikut : • Sesang yaitu alat untuk menyusun benang sebelum dipasang pada alat tenun. • Mattakh yaitu alat untuk menenun kain tapis yang terdiri dari bagian

Alat-alat : • Terikan (alat menggulung benang) • Cacap (alat untuk meletakkan alat-alat mettakh) • Belida (alat untuk merapatkan benang) • Kusuran (alat untuk menyusun benang dan memisahkan benang) • Apik (alat untuk menahan rentangan benang dan menggulung hasil tenunan) • Guyun (alat untuk mengatur benang) • Ijan atau Peneken (tunjangan kaki penenun) • Sekeli (alat untuk tempat gulungan benang pakan, yaitu benang yang dimasukkan melintang) • Terupong/Teropong (alat untuk memasukkan benang pakan ke tenunan) • Amben (alat penahan punggung penenun) • Tekang yaitu alat untuk merentangkan kain pada saat menyulam benang emas.
[/spoiler]
kalo cape bacanya, silakan liat contoh kain tapis biar cepet tau tentang kain Tapis
D
Spoiler for contoh gambaran kain Tapis
Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel


ps=gw ga ada darah Lampung tapi gw tau beberapa hal tentang Lampung karena gw pernah tgl di sana selama 16 thn dan gw sangat bangga akan karya hulun (orang) Lampung karena merupakan karya orang Indonesia
iloveindonesia
verditch - 18/10/2009 10:55 AM
#10

kaskus ID : verditch

kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran

bentuk karya : Artikel Mengenai Senjata Rencong

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1299/rencong

keterangan : ini adalah artikel tentang rencong (senjata tradisional dari Aceh)

Spoiler for Rencong
Rencong (Reuncong) merupakan senjata tradisional dari daerah Aceh, Indonesia, bentuknya seperti huruf L, tetapi bila dilihat lebih dekat, seperti kaligrafi tulisan Bismillah. Rencong termasuk dalam kategori senjata dagger/belati (bukan pisau ataupun pedang).

Asal usul

Sebelum rencong dikenal, masyarakat Aceh telah menggunakan senjata yang disebut siwah. Jenis senjata ini tidak memiliki gagang, sehingga cukup menyulitkan ketika digunakan untuk berperang, terutama ketika senjata ini sudah berlumuran dengan darah. Senjata ini menjadi licin dan mudah terlepas dari genggaman karena lumuran darah tersebut. Oleh karena itu, atas perintah Sultan Alaiddin Riayat Syah Al-Kahhar yang berkuasa pada waktu itu, maka dipanggil para pandai besi untuk mengubah siwah dengan model terbaru yang tidak menyulitkan ketika digunakan untuk berperang. Para pandai besi ini akhirnya menambahkan gagang yang berbentuk huruf Ba (huruf kedua dalam aksara Arab) pada siwah tersebut. Selanjutnya senjata ini dikenal dengan nama reuncong atau rincong, di dalam bahasa Indonesia disebut rencong.

Senjata rencong yang sudah ada sejak akhir abad ke-19 ini merupakan salah satu senjata yang digunakan untuk berperang melawan penjajah Belanda, khususnya pada perang Aceh yang berlangsung antara tahun 1873-1904 M. Secara simbolik, senjata ini cukup berjasa sebagai senjata pusaka yang membangkitkan semangat juang para perajurit Aceh. Hampir semua perajurit dan pimpinan gerilya Aceh menyelipkannya di pinggang selama mereka berjuang memepertahankan tanah kelahiran mereka, termasuk para wanita, seperti Tjut Nyak Dien dan pahlawan wanita lainnya.

Jenis-jenis

Ada beberapa jenis rencong di daerah Aceh ini, di antaranya: (1) reuncong meucugek, yaitu rencong yang gagangnya memiliki penahan dan perekat yang di dalam bahasa lokal dikenal dengan cugek atau meucugek; (2) reuncong meupucok, yang di atas gagangnya dibuat pucuk yang terbuat dari ukiran logam, umumnya dari emas. Pada bagian pangkal gagang dihiasi emas bermotif tumpal (pucuk rebung), di tampuk gagang diberi permata, sementara sarungnya dibuat dari gading yang diberi ikatan emas; (3) reuncong pudoi, yaitu rencong yang gagangnya hanya berbentuk lurus dan pendek sekali, sehingga dikenal pula dengan rencong yang belum sempurna. Ini diindikasikan pada nama pudoi, yang berarti kekurangan atau belum sempurna; dan (4) reuncong meukure, yaitu sejenis rencong yang matanya diberi hiasan tertentu seperti gambar ular, lipan (kelabang), bunga dan lain-lain.

Rencong pada umumnya dibagi menjadi empat bagian: mata rencong (bilah), punting rencong, ulee rencong (hulu, gagang atau pegangan) dan sarung rencong (warangka). Bentuk bilah rencong agak melengkung dengan bagian ujung yang runcing, tetapi tidak seperti keris. Oleh karena itu, sebagai senjata fisik, ia lebih kuat dan tampak kokoh bila dipegang. Seluruh sisi depannya tajam, sedangkan sisi punggungnya yang tajam hanya kira-kira tiga perempat bagian yang dekat dengan pucuknya. Sisi depan dekat hulu pada pangkal bilah terdapat bentuk ukiran seperti kembang kacang terbalik. Bagian ini disebut bengkuang rencong, dan merupakan stilisasi dari kuku burung garuda, atau rajawali.

Sarung rencong dan hulunya dapat dibuat dari kayu biasa, gading atau tanduk kerbau. Untuk memperkuat sekaligus memperindah, sarung ini diikatkan dengan beberapa kepingan logam berbentuk cincin yang disebut klah. Klah ini terbuat dari kuningan, perak, atau emas. Sedangkan ulee rencong dapat dihias dengan perak atau emas yang berukir.

Pada awalnya fungsi rencong hanya sebagai salah satu senjata untuk membela diri dan melawan musuh-musuh seperti penjajah Belanda. Selain itu, juga digunakan sebagai kelengkapan pakaian adat setempat. Cara mengenakannya adalah dengan menyelipkan di balik lipatan kain sarung pada perut si pemakai. Hulu rencong menghadap ke arah tangan kanan, sedangkan badannya diselipkan pada kedudukan miring, condong ke kanan pula. Secara simbolis, hal ini agaknya untuk memudahkan si pemakai mencabut rencong tersebut jika ada keperluan tertentu. Namun, fungsi rencong saat ini sudah bertambah. Ia juga dijadikan sebagai cendramata untuk diberikan kepada tamu-tamu seperti pejabat pemerintahan atau orang-orang yang datang berkunjung ke negeri Serambi Mekah ini.

Cara Membuat Rencong

Rencong dibuat dengan menggunakan peralatan tradisional seperti pembakaran besi hingga merah seperti bara api. Untuk membuat mata rencong, terlebih dahulu bahan bakunya dibakar hingga merah, lalu dipukul hingga terbentuk seperti sebilah pisau yang berujung lancip. Sedangkan untuk membuat gagang rencong adalah dengan cara mengebor bahan bakunya, kemudian mengukir sesuai dengan yang diinginkan. Selain itu, ada pula cara pembuatan gagang ini dengan menggunakan gerinda dan pisau. Untuk meluruskan tanduk kerbau yang masih bengkok digunakan kayu sebagai penjepitnya. Selanjutnya, gagang ini dihaluskan dengan gosokan amplas atau daun serumpit serta abu dapur. Setelah bilah dan gagang diolah, maka dilanjutkan dengan memasukkan bilah ke lubang yang ada di bagian ujung gagang, kemudian disarungkan dengan klah dan diikat dengan kawat tembaga, hingga bilah rencong tersebut benar-benar kuat di gagangnya.

Nilai simbolis

Berkaitan dengan nilai simbolis, senjata khas masyarakat Aceh ini memiliki keunikan dan mengandung nilai filosofis berkenaan dengan agama Islam. Hal ini terlihat pada model pembuatannya, khususnya pada gagangnya yang berbentuk huruh Ba, sebagai singkatan dari kata bismillah dalam bahasa Arab. Kata tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Aceh sangat berpegang teguh pada ajaran Islam. Selain itu, kata rencong sudah menjadi bahasa simbol bagi daerah yang berada di paling barat Indonesia ini. Ketika Aceh disebut, biasanya selalu diiringi dengan frase Tanah Rencong. Selain itu, ada pula frase Serambi Mekah, yang menegaskan bahwa masyarakat daerah Aceh ini sangat kental dalam mengamalkan ajaran agama Islam.

[spoiler=gambar rencong]Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel


[/spoiler]
verditch - 18/10/2009 06:38 PM
#11

kaskus ID : verditch

kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran

bentuk karya : Artikel tentang Mandau ,senjata suku dayak dari kalimantan

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mandau

keterangan : ini adalah artikel mengenai Mandau (salah satu senjata tradisional suku dayak dari kalimantan)

Spoiler for Mandau
Mandau adalah senjata tajam sejenis parang berasal dari kebudayaan Dayak di Kalimantan. Mandau termasuk salah satu senjata tradisional Indonesia. Berbeda dengan arang, mandau memiliki ukiran - ukiran di bagian bilahnya yang tidak tajam. Sering juga dijumpai tambahan lubang-lubang di bilahnya yang ditutup dengan kuningan atau tembaga dengan maksud memperindah bilah mandau.

Kumpang

Kumpang adalah sarung bilah mandau. Kumpang terbuat dari kayu, dilapisi tanduk rusa, dan lazimnya dihias dengan ukiran. Pada kumpang mandau diberi tempuser undang, yaitu ikatan yang terbuat dari anyaman uei (rotan). Selain itu pada kumpang terikat pula semacam kantong yang terbuat dari kulit kayu berisi pisau penyerut dan kayu gading yang diyakini dapat menolak binatang buas. Mandau yang tersarungkan dalam kumpang biasanya diikatkan di pinggang dengan jalinan rotan.

Ambang

Ambang adalah sebutan bagi mandau yang terbuat dari besi biasa. Sering dijadikan cinderamata. Orang awam atau orang yang tidak terbiasa melihat atau pun memegang mandau akan sulit untuk membedakan antara mandau dengan ambang karena jika dilihat secara kasat mata memang keduanya hampir sama. Tetapi, keduanya sangatlah berbeda. Namun jika kita melihatnya dengan lebih detail maka akan terlihat perbedaan yang sangat mencolok, yaitu pada mandau terdapat ukiran atau bertatahkan emas, tembaga, atau perak dan mandau lebih kuat serta lentur, karena mandau terbuat dari batu gunung yang mengandung besi dan diolah oleh seorang ahli. Sedangkan ambang hanya terbuat dari besi biasa.

Bahan baku dan harga

Menurut literatur di Museum Balanga, Palangkaraya, bahan baku mandau adalah besi (sanaman) mantikei yang terdapat di hulu Sungai Matikei, Desa Tumbang Atei, Kecamatan Sanaman Matikei, Samba, Kotawaringin Timur. Besi ini bersifat lentur sehingga mudah dibengkokan. Mandau asli harganya dimulai dari Rp. 1 juta rupiah. Mandau asli yang berusia tua dan memiliki besi yang kuat bisa mencapai harga Rp. 20 juta rupiah per bilah. Bahan baku pembuatan mandau biasa dapat juga menggunakan besi per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan dan besi batang lain. Piranti kerja yang digunakan terutama adalah palu, betel, dan sebasang besi runcing guna melubangi mandau untuk hiasan. Juga digunakan penghembus udara bertenaga listrik untuk membarakan nyala limbah kayu ulin yang dipakainya untuk memanasi besi. Kayu ulin dipilih karena mampu menghasilkan panas lebih tinggi dibandingkan kayu lainnya.

Mandau untuk cideramata biasanya bergagang kayu, harganya berkisar Rp. 50.000 hingga Rp. 300.000 tergantung dari besi yang digunakan. Mandau asli mempunyai penyang, penyang adalah kumpulan-kumpulan ilmu suku dayak yang didapat dari hasil bertapa atau petunjuk lelulur yang digunakan untuk berperang. Penyang akan membuat orang yang memegang mandau sakti, kuat dan kebal dalam menghadapi musuh. mandau dan penyang adalah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan turun temurun dari leluhur.

[spoiler=gambar mandau]Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel


[/spoiler]
BatikSalem - 10/01/2010 07:00 PM
#12

kaskus ID : BatikSalem

kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran

bentuk karya : Artikel Mengenai Batik Salem

sumber : http://batiksalem.blogspot.com/2009/11/history-of-batik-salem.html (dirangkum dari berbagai sumber)

keterangan : ini adalah artikel tentang sejarah Batik Salem

Spoiler for sejarah Batik Salem
The name of Batik Salem was not as famous as the home of batik Solo, Yogyakarta, or Pekalongan in the public ear. Batik production was still limited to the domestic industry. But who would have thought the public made batik and Bentarsari Bentar Village, Salem District, Brebes has advantages not possessed by any of batik in other areas.

How the history of batik presence in the community of Salem who was Sundanese culture ? According to the story, around 1917 an official from the Pekalongan daughter visited Salem area. In this area, the princess fall in love with a local youth. They eventually married and settled in the village of Bentar. Since then the community, especially women get to know batik which transmitted the princess.

Salem batik crafters do not equal to the crafters of Yogya, Solo, or Pekalongan. In the third area artisans make batik in industrial, while in Salem-scale production of batik is still the household. However, Salem's batik products no less than the other local production of batik handicraft exhibition area. In the Government held in Semarang, Central Java Province a few years ago, acknowledged salem's batik most original of all types of batik. Where's the salem's batik originality? Characteristic of batik craftsmen retained until the salem is now 100% homemade hand.

In other areas, this habit has long abandoned by the craftsmen, because they are less productive and efficient. There are several advantages compared with hand made batik with the stamp batik. Most of all, the work is more artistic batik hand. Value that makes the hand-made batik hunted by collectors. In addition, hand-made batik also is longer in terms of age.

There are 20 types of motifs are made salem's batik crafters. Of the 20 motifs, three of which are the best and most favored buyers. The third type of motive can not be produced in industrial, but can only be made by hand. It was only an experienced craftsman for years and have the extra precision that can do it. The third motive is the motive kopi pecah, manggar, and sawat rantai. (Suwandono-37s)
sejuta bintang - 15/01/2010 08:10 PM
#13

Kaskus ID : sejutabintang
Kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran
Bentuk Karya : Artikel Tentang Kerajinan Keris
Sumber : http://heritageofjava.com/portal/article.php?story=20090324030212499
Keterangan : Macam-macam Pamor dan Namanya Pada Keris

Spoiler for pamor keris

Nama untuk pamor keris berlaku juga untuk tosan aji lainnya seperti Tombak, Wedung, Pedang dsb. Khusus pamor yang pemilih yang biasanya diperuntukan untuk kedudukan tertentu atau karakter tertentu, sebaiknya di “tayuh” dahulu apakah cocok atau tidak sedangkan yang tidak pemilih bisa dimiliki oleh siapa saja.

WOS WUTAH.
Pamor yang paling banyak dijumpai, bentuknya tidak teratur tetapi tetap indah dan umumnya tersebar dipermukaan bilah. Ada yang berpendapat pamor ini pamor gagal, saat si empu ingin membuat sesuatu pamor tetapi gagal maka jadilah Wos Wutah. Tetapi ini dibantah dan beberapa empu dan pamor ini memang sengaja dibuat serta termasuk pamor tiban.

Pamor ini berkhasiat baik untuk ketentraman dan keselamatan pemiliknya, bisa digunakan untuk mencari rejeki, cukup wibawa dan disayang orang sekelilingnya, pamor ini tidak pemilih.

NGULIT SEMANGKA
Sepintas seperti kulit semangka, tuahnya seperti Sumsum Buron, memudahkan mencari jalan rejeki dan mudah bergaul pada siapa saja dan dari golongan manapun. Pamor ini tidak memilih dan cocok bagi siapa saja.

TAMBAL.
Mirip goresan kuas besar pada sebuah bidang lukisan. Tuahnya biasanya menambah kewibawaan dan menunjang karier seseorang. Menurut istilah Jawa bisa menjunjung derajat. Pamor ini termasuk pemilih dan tidak setiap orang cocok.

PULO TIRTO.
Seperti Wos Wutah hanya gumpalan gambarnya terpisah agak berjauhan, seperti bentuk pulau pada peta. Tuahnya sama dengan pamor Wos Wutah.

SUMSUM BURON.
Pamor ini juga mirip Wos Wutah, gumpalan juga terpisah agak berjauhan seperti Pulo Tirto hanya agak lebih besar dan lebih menyatu. Tuahnya baik, tahan godaan dan murah rejeki serta tidak pemilih.

MELATI RINONCE.
Bentuknya mirip pamor Rante tetapi umumnya bulatannya lebih kecil dan tidak berlubang. Bulatan itu berupa pusaran pusaran mirip dengan pamor Udan Mas tetapi agak lebih besar sedikit.

Tuahnya mencari jalan rejeki dan menumpuk kekayaan. Untuk pergaulan juga baik, pamor ini tidak memilih dan bisa digunakan siapa saja.

RANTE.
Tuah utama pamor ini adalah untuk menampung dan mengembangkan rejeki yang didapat. Bisa mengurangi sifat boros, tetapi bukan pelit.

Cocok untuk semua orang baik digunakan berdagang atau berusaha. Bentuknya agak mirip pamor Melati Rinonce, hanya bedanya pada bulatannya ada semacam gambar “lubang”.

ADEG.
Pamor Adeg banyak dijumpai, tergolong pamor pemilih tetapi lebih banyak yang cocok daripada tidak. Tuahnya terutama sebagai penolak, ada yang menolak guna-guna, ada yang menolak wabah, angin ribut, banjir dan lainnya. Ada yang hanya menolak satu sifat ada yang beberapa sifat penolakan.

MRAMBUT.
Sepintas seperti Adeg, bahkan ada yang menyamaratakan dengan membuat istilah baru Adeg-Mrambut. Padahal sebenarnya lain. Pamor Mrambut alurnya terputus-putus. Tuahnya hampir sama dengan pamor Adeg. Tergolong pemilih, tidak semua orang cocok.

SEKAR LAMPES.
Tuah dari pamor ini mirip dengan pamor Tumpal Keli. Hanya pada pamor Sekar Lampes umumnya juga mengandung tuah yang menambah kewibawaan pemakainya dan tergolong pamor yang tidak pemilih.

ILINING WARIH.
Rejeki yang lumintu, walaupun sedikit demi sedikit tetapi selalu ada saja. Itulah yang utama tuah dari Ilining Warih. Selain soal rejaki, pamor ini juga baik untuk pergaulan. Tidak memilih dan umumnya cocok untuk siapapun.

BLARAK NGIRID.
Disebut juga kadang dengan “Blarak Sinered”, tapi ada juga yang menyebut Blarak Ngirid lain dengan Blarak Sinered. Tuah utamanya menambah kewibawaan dan juga baik untuk pergaulan karena disayang orang sekelilingnya, baik pihak atasan atau bawahan. Pamor ini tergolong pemilih.

RON PAKIS.
Mirip sekali dengan Blarak Ngirid, hanya pada bagian tepinya seolah ada sobekan. Tergolong pemilih dan tuahnya untuk kewibawaan serta keberanian (tatag-bhs jawa). Baik dimiliki oleh orang yang berkecimpung dibidang Militer dan Keprajuritan.

KOROWELANG.
Juga hampir sama dengan Blarak Ngirid atau Ron Pakis, tetapi “daun” nya lebih besar dan lebih menyatu. Tuahnya juga hampir sama dengan Blarak Ngirid, tetapi fungsi pergaulannya lebih besar dari fungsi wibawanya. Beberapa keris dengan pamor ini (tidak semua) baik juga untuk mencari jalan rejeki. Tergolong pamor pemilih.

RON GENDURU.
Ada yang menyingkat menjadi RONGENDURU atau menyebut RON KENDURU. Agak mirip Ganggeng Kanyut tetapi relatif susunannya lebih teratur dan rapi. Tuahnya berkisar pada kewibawaan dan rejeki. Baik digunakan untuk pengusaha yang punya banyak anak buah. Tergolong pamor pemilh.

MAYANG MEKAR.
Bentuknya indah sekali seperti daun Seledri, tuahnya memperlancar pergaulan dan dikasihani orang sekeliling. Beberapa diantaranya malah bertuah memikat lawan jenis. Tergolong pamor pemilih.

WIJI TIMUN.
Menyerupai biji ketimun. Hampir sama dengan pamor Uler Lulut tetapi lebih kecil dan lonjong. Tuahnya juga untuk mencari jalan rejeki. Ada sedikit unsure kewibawaan. Baik untuk pedagang maupun untuk pengusaha. Pamor ini agak pemilih.

KENONGO GINUBAH.
Tuahnya menarik perhatian orang. Pergaulannya baik dan diterima digolongan manapun. Tetapi pamor ini termasuk pemilih.

WALANG SINUDUK.
Bentuknya mirip dengan satai belalang. Posisi belalang-belalangnya bisa miring kekiri, bisa kekanan. Tuah utamanya mempengaruhi orang lain. Wibawanya besar sehingga baik dimiliki oleh pemuka masyarakat, guru, pemimpin politik. Tergolong pamor pemilih.

TUMPAL KELI.
Tuahnya baik untuk pergaulan. Bisa menunjang karier karena pemiliknya akan disayang atasan. Termasuk pamor tidak pemilih.


sejuta bintang - 15/01/2010 08:21 PM
#14

Kaskus ID : sejutabintang
Kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran
Bentuk Karya : Artikel Tentang Kerajinan Keris
Sumber : http://heritageofjava.com/portal/article.php?story=20090324030212499
Keterangan : Macam-macam Pamor dan Namanya Pada Keris

Spoiler for macam2 pamor keris

BENDOSEGODO.
Bentuknya menyerupai bulatan menggumpal dari bawah keatas. Tuahnya untuk jalan rejeki dan pergaulan serta ketentraman rumah tangga. Tergolong tidak pemilih.

MELATI SINEBAR.
Mirip pamor Tetesing Warih, merupakan bulatan bersusun rangkap tiga atau lebih tetapi bulatannya tidak sempurna betul dengan garis tengah sekitar 1 cm. Tempatnya ditengah bilah dan jarak satu bulatan dengan lainnya sekitar 1 cm atau lebih. Pamor ini tergolong tidak pemilih dan tuahnya untuk mencari rejeki.

MANIKEM.
Tergolong pamor langka dan hanya dijumpai dikeris muda terutama tangguh Madura. Bentuknya mirip Melati Rinonce atau Melati Sato-or tetapi garis penghubung antar bulatan-bulatannya lebih gemuk, lebih lebar. Sedangkan bulatannya juga lebih lebar dibandingkan Melati Rinonce, bahkan ada yang hampir menyentuh tepi bilah. Tergolong tidak pemilih dan bertuah memudahkan mencari rejeki.

SEKAR KOPI.
Ditengah bilah ada pamor yang menyerupai garis tebal dari sor-soran sampai dekat ujung bilah. Dikiri kanan garis tebal ini terdapat lingkaran-lingkaran bergerombol atau berkelompok. Satu kelompok terdiri dari dua atau tiga lingkaran menempel pada garis tebal seolah-olah biji kopi menempel pada tangkai bijinya. Tuahnya memperlancar rejeki tergolong tidak pemilih tetapi termasuk pamor langka.

BONANG RINENTENG.
Ada yang menyebutnya Bonang Sarenteng, agak mirip dengan pamor Sekar Kopi tetapi bulatannya hanya satu. Boleh dikiri-kanan secara simetris atau selang seling. Baik Bonang Rinenteng ataupun Sekar Kopi, bulatannya seperti pusaran di pamor Udan Mas. Tergolong tidak pemilih dan memudahkan mencari rejeki.

JUNG ISI DUNYA.
Bentuknya mirip Putri Kinurung. Bedanya bulatan-bulatan kecil yang terdapat pada “kurungan” bulatan relatif lebih besar. Ada juga yang bentuknya sepintas mirip pamor Bendo Segodo. Tuahnya untuk “menumpuk” kekayaan dan tidak pemilih.

WULAN-WULAN.
Di Jawa Timur disebut Bulan-Bulan. Mirip Melati Sinebar atau mirip Bendo Segodo. Bedanya pada pamor Wulan-Wulan , bagian tengahnya berlubang jelas. Tuahnya memudahkan mencari jalan rejeki dan mengikat langganan. Sering disimpan ditoko atau warung.

TUNGGAK SEMI.
Pamor ini terletak ditengah Sor-soran, bentuk seperti tampak digambar samping. Berkombinasi dengan pamor Wos Wutah. Tuahnya untuk mendapatkan rejeki walau bagaimanapun kecilnya. Tidak termasuk pamor pemilih.

BAWANG SEBUNGKUL.
Bentuknya memang mirip bungkul bawang, berlapis-lapis. Paling sedikit ada lima lapisan dan terletak di sor-soran. Tuahnya dibidang rejeki , untuk pengembangan modal. Cocok untuk orang yang bekerja di Bank dan pengembangan modal. Tidak pemilih.

UDAN MAS.
Pamor ini banyak dicari orang, terutama pedagang dan pengusaha. Bentuknya merupakan pusaran atau gelang-gelang berlapis, paling sedikit ada tiga lapisan. Letaknya ada yang beraturan dan ada yang berserakan. Pamor ini sering pula berkombinasi dengan Wos Wutah atau Tunggak Semi. Manfaatnya untuk mencari rejeki dan tidak pemilih.

SISIK SEWU.
Seperti gambar sisik ikan, tetapi bila diperhatikan seperti pamor Udan Mas menggumpal menjadi satu, namun pamor ini kurang begitu dikenal, mungkin karena memang jarang. Selain untuk rejeki juga untuk meningkatkan wibawa. Cocok bagi pengusaha dengan banyak karyawan.

PUTRI KINURUNG.
Bentuknya menyerupai gambaran danau dengan tiga atau lebih “pulau” ditengahnya. Letaknya ditengah sor-soran. Tuahnya untuk memudahkan mencari rejeki dan mencegah sifat boros. Bisa diterima dikalangan manapun. Tidak pemilih.

GUMBOLO GENI.
Sering juga disebut “Gumbolo Agni” atau “Gumbolo Gromo”. Letaknya ditengah sor-soran dan gambarnya seperti “binatang Kala” dengan posisi ekor seperti menyengat. Tuahnya baik, wibawanya besar dan bisa untuk “singkir baya”, baik dimiliki oleh pimpinan sipil ataupun militer. Termasuk pamor pemilih.

sejuta bintang - 31/01/2010 03:44 PM
#15

Quote:
Original Posted By sejuta bintang
Kaskus ID : sejuta bintang

Kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran

Bentuk Karya : Batik Tanah Liek (Liat) dari Sumatra Barat (Minangkabau)

Sumber : berani.com

Keterangan : Artikel Batik Tanah Liek dari Sumatra Barat (Minangkabau)

Spoiler for Batik Tanah Liek

Batik Tanah Liek Direndam di Air Tanah Liat
Padang - Sumbar - 9-May-2008

Sejak lama, Tanah Minang atau Sumatra Barat terkenal dengan bordir dan sulamannya. Namun, sesungguhnya Tanah Minang masih menyimpan satu jenis kain yang tidak kalah indahnya. Kain itu dikenal dengan sebutan ”batik tanah liek”.

Kalau dilihat sekilas, batik tanah liek tidak jauh berbeda dengan batik umumnya. Misalnya, batik Solo. Warna dasar batik kebanyakan berwarna cokelat. Motifnya pun agak mirip. Namun, batik tanah liek punya keunikan tersendiri.

Dicelup di Air Tanah

”Tanah liek dalam bahasa Minang (Padang) berarti tanah liat. Jadi, batik tanah liek artinya batik tanah liat,” jelas Raizal Rais, seorang perancang busana di Jakarta. Bagaimana mungkin batik dari tanah liat?

Begini. Tanah liat di sini digunakan sebagai media perendam. Prosesnya, kain yang telah dilukis oleh malam (lilin), biasanya direndam dahulu dalam cairan pewarna. Gunanya untuk menghasilkan warna yang kita inginkan. Setelah kering, kain dicelup ke dalam air panas untuk menghilangkan lilinnya. Nah, dalam pembuatan batik tanah liek, cairan pewarna untuk merendam kain adalah larutan air dari tanah liat. Biasanya proses perendaman dengan air tanah liat ini berlangsung selama seminggu. Hasilnya, kain batik memiliki warna dasar cokelat tanah. Itulah bedanya.

Rumah Gadang

Bagaimana dengan motifnya? ”Sebenarnya, motif batik tanah liek mirip dengan batik umumnya. Misalnya, ada yang mirip dengan motif batik pesisir. Motifnya burung hong, udang, dan tanaman,” jelas Raizal Rais.

Lalu, adakah motif khusus yang menggambarkan Tanah Minang itu sendiri? ”Tentu ada. Tanah Minang atau Minangkabau memiliki bentuk rumah panggung yang khas. Namanya, Rumah Gadang. Nah, motif Rumah Gadang inilah yang ikut dimasukkan sebagai motif batik tanah liek,” jelasnya.

Lanjutnya, di Sumatra Barat, daerah yang masih menghasilkan batik ada di Kota Painan, Dharmasraya, Bukit Tinggi, dan Solok. Dahulu, batik tanah hanya dipakai oleh para datuk untuk upacara khusus. Para datuk memakainya dalam bentuk selendang yang dilingkarkan pada leher. Sedangkan kaum perempuan menyampirkan selendang itu di bahu. Caranya, ujung kain pertama dililit dua kali di bahu kiri. Ujung lainnya disampirkan di tangan kanan melalui bagian belakang badan.

Kini, batik tanah liek bisa dipakai oleh siapa saja.


Keindahan Batik Minangkabau Nan Langka

Tenunan berbenang emas yang cantik (kain balapak) sudah merupakan ciri khas pakaian adat Minangkabau. Keindahannya sering kali di nilai dengan “barek” atau seberapa berat kain tersebut. Karena memang kain tenun berbenang emas tersebut cukup berat bila di kenakan.
Namun tidak banyak yang tahu bahwa Minangkabau mempunyai tenunan khas berupa batik yang tidak kalah indahnya. Batik Minangkabau ini disebut batik tanah liek, karena batik yang asalnya dari Minangkabau ini salah satu pewarnanya adalah tanah liek, yaitu tanah liat.

Bila dilihat dari bahan pewarna yang digunakan dan cara pembuatan, teknologi pembuatan batik tanah liet ini merupakan teknologi tertua dalam pembuatan batik di Indonesia. Diduga batik ini muncul dari pengaruh kebudayaan Cina. Nenek moyang orang Minangkabau diduga datang melalui rute ini. Mereka berlayar dari daratan Asia (Indo-Cina) mengarungi Laut Cina Selatan, menyeberangi Selat Malaka dan kemudian memudiki sungai Kampar, Siak, dan Inderagiri (atau; Kuantan). Sebagian di antaranya tinggal dan mengembangkan kebudayaan serta peradaban mereka di sekitar Kabupaten 50 Koto sekarang. Pada perkembangannya, batik tanah liet ini hanya dibuat beberapa orang perajin seperti di Tanah Datar. Tapi kerajinan ini hilang tanpa jejak sejak zaman peperangan, mungkin zaman pendudukan Jepang.

Motif batik tanah liet banyak terinspirasi dari binatang-binatang seperti kuda laut dan burung hong yang merupakan motif kuno batik minangkabau ini. Dari 9 motif yang ada, 6 motif fauna dan 1 motif flora yaitu kaluak paku yang digunakan untuk pinggiran kain. Sedang motif lainnya berupa lukisan non figur.

Warna batik hanya ada dua, warna tanah dan hitam. Warna tanah didapatkan dari merendam kain dalam larutan tanah liat. Biasanya proses perendaman memakan waktu seminggu lamanya. Sedangkan warna hitam diperoleh dari larutan kulit jengkol yang direndam dalam air. Ada bermacam-macam sumber pewarna alam lain yang digunakan batik tanah liet ini. Ada yang dari kulit jengkol, kulit rambutan, gambir, kulit mahoni, daun jerami dan masih banyak akar-akar lainnya yang juga digunakan.

Karena harganya yang tergolong mahal, dahulu batik tanah liet hanya dipakai untuk upacara khusus saja. Pada acara itu pun hanya dipakai oleh ninik mamak dan bundo kanduang, atau panutan adat Para datuk memakainya dalam bentuk selendang yang dilingkarkan pada leher. Sedangkan kaum perempuan menyampirkan selendang itu di bahu. Caranya, ujung kain pertama dililit dua kali di bahu kiri. Ujung lainnya disampirkan di tangan kanan melalui bagian belakang badan. Selendang ini selalu dipertahankan oleh orang Minang sebagai kerajinan peninggalan nenek moyang.
sejuta bintang - 31/01/2010 04:30 PM
#16

Kaskus ID : sejutabintang
Kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran
Bentuk Karya : Artikel Tentang Kerajinan Kayu
Sumber : http://www.cimbuak.net/content/view/510/36/
Keterangan : Seni Kayu Ukir Pandai Singkek

Spoiler for Artikel

Dari Budaya Jadi Rupiah

Chan Umar menjadi bukti bahwa sejarah seni ukir pernah tumbuh dan berkembang di bumi Sumbar. Elma Yulnita sukses meraup rupiah setelah beralih profesi dari pengajar menjadi perajin tenun songket
Sumatra Barat tidak hanya terkenal dengan keindahan alam. Daerah tersebut juga tersohor dengan kekayaan budaya. Satu di antaranya adalah seni ukir yang berpusat di Nagari Pandai Sikek, Padang Panjang, 20 kilometer dari Bukittinggi, Sumbar. Di daerah tersebut terdapat sebuah kios sederhana milik Chan Umar yang bisa menjadi bukti bahwa seni ukir pernah tumbuh dan berkembang di Sumbar.

Chan membuka usahanya dengan dibantu oleh 12 orang karyawan. Ide ukiran sebagian besar berasal dari Chan. Para karyawan dipekerjakan untuk mendukung produksi mulai dari proses pemotongan kayu surian atau suren sebagai bahan baku utama, hingga tahap pengukiran dan pewarnaan. Mereka bekerja dengan teliti. Keunggulan produk yang dihasilkan Chan berasal dari kecermatannya menorehkan motif dan menentukan warna. Tidak heran jika ukiran ala Chan terkenal hingga ke mancanegara. "Bule itu kira-kira 10 persen [konsumen] dari produk saya," kata Chan. Para turis biasanya memilih ukiran kayu berukuran kecil sebagai suvenir.

Chan Umar telah mempelajari seluk beluk teknik ukiran sejak 30 tahun silam. Gurunya adalah tokoh ukir yang biasa dipanggil Pak Tuo. Berkat kesungguhannya itu, Chan kini termasuk salah seorang perajin yang disegani. Untuk menjaga agar seni ukir tidak punah, Chan menularkan keterampilan ukirnya kepada kaum muda.

Selain ukiran kayu, daerah Nagari Pandai Singkek juga terkenal dengan kerajinan tenun songket. Pangsa pasar produk itu terutama berasal dari kalangan menengah ke atas. Konsumen tenun songket kian hari kian meningkat. Melihat gejala seperti itu, Emma Yulnita tidak membuang kesempatan. Elma yang semula berprofesi sebagai pengajar, banting setir menjadi perajin tenun songket.

Usahanya dimulai pada 1986 dengan modal Rp 150 ribu. Saat itu, dia masih memproduksi barang-barang seadanya, seperti tempat lipstik, dompet, dan rumah adat Minang. Usahanya kemudian mencuat setelah empat tahunan menggeluti bisnis kerajinan. "Di tahun `90-an ada rezeki dikit, kebetulan ada tender dari Hotel Pusako sampe `96," tutur Elma.

Ketekunannya menggeluti bisnis tenun songket mendatangkan berkah. Dia kini menjadi perajin yang terbilang sukses. Pengusaha yang mengaku hafal 20 motif dari 200 motif tenun ini belakangan juga memproduksi barang sesuai pesanan dengan berbagai modifikasi. Produk Elma tidak sekadar menjadi koleksi atau hiasan di dalam rumah. Kini konsumen dengan bangga menggunakan produk itu pada acara-acara resmi.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)

sejuta bintang - 31/01/2010 04:38 PM
#17

Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran
Bentuk Karya : Artikel Tentang Kerajinan Perak
Sumber : http://www.sabili.co.id
Keterangan : Kerajinan Perak dari Koto Gadang, Sumatera Barat

Spoiler for kerajinan perak

Duka Perajin Perak Koto Gadang

Perajin perak Koto Gadang diambang kehancuran. Bahan baku yang melangit, minimnya kunjungan wisatawan asing dan kurangnya perhatian pemerintah menjadi problem utamanya.

Perjalanan menuju Kenagarian Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat bisa ditempuh sekitar 30 menit dari Bukittinggi. Dengan jalan pintas, melewati Ngarai Sianok, jarak 10 km ini terasa lebih cepat dibanding melalui kawasan Padang Luar.

Selain itu, ketika melintasi kawasan ini, pengunjung harus menyeberangi batang (sungai) dan mendaki ngarai berselimut belantara lebat. Jalur alternatif menuju tanah kelahiran Rohana Kudus, wartawati pertama Indonesia ini pun sudah mulus.

Memasuki Nagari Koto Gadang, Anda disambut oleh uniknya arsitektur rumah adat dan indahnya Gunung Singgalang, yang menjulang di belakangnya. Sawah terbentang berpetak-petak menyemarakkan panorama nagari tempat lahirnya sejumlah tokoh nasional seperti, H Agus Salim, Emil Salim dan St Sjahrir.

Selain indahnya alam, kawasan ini juga dikenal sebagai sentra Industri kerajinan perak, sulaman, renda, tenun dan songket. Meski bukan penghasil perak, tapi berbagai kerajinan perak menjadi sektor andalan di nagari ini selama berpuluh-puluh tahun, selain berpetani dan PNS. Tapi kini, para perajin ‘menjerit’ karena menurunnya penjualan.

Saat gempa 6 Maret 2007, nagari ini juga porak poranda. Pasca gempa, perajin mencoba bangkit. Namun, penjualan tetap sepi, karena wisatawan asing sebagai pembeli utama tak lagi berkunjung ke kawasan ini.

Beberapa perajin perak yang ditemui Sabili wajahnya tampak lesu. Menurut mereka, selain sepi pembeli, bahan baku yang didatangkan dari Bengkulu, Bonjol Pasaman dan Pesisir Selatan harganya semakin hari semakin tinggi. Akibatnya, harga jual produk pun mengalami kenaikan drastis.

Zulkirwan, perajin perak yang akrab dipanggil Leo, sesuai nama tokonya Silver Work Leo mengaku, sejak maraknya gangguan keamanan di beberapa daerah, disusul bencana alam yang datang silih berganti, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, kedatangan turis asing menurun drastis.

Para perajin pun mengalami kesulitan. Saat ini Koto Gadang hanya disinggahi turis domestik dan dari Malaysia. Jumlahnya pun tidak seberapa. “Mereka hanya sekadar melihat-lihat tanpa membeli,” ujarnya.

Beberapa perajin berspekulasi dengan memasarkan kerajinan mereka ke luar daerah. Namun, hasilnya sama saja. Saat Sabili berada di tokonya ini, terlihat sejumlah kerajinan perak yang sarat ukiran unik. Ada miniatur rumah gadang, jam gadang, pedati, kereta, sepeda motor, hingga liontin dan cincin berukir perak yang unik dan menarik.

Harganya pun relatif terjangkau, antara Rp 10 ribu sampai Rp 3 jutaan, bahkan ada yang mencapai Rp 12 juta. Kini, omset penjualannya hanya Rp 4–5 juta per bulan. Karenanya, dibanding dengan proses pembuatan, sebenarnya tak sebanding lagi.

Sebab, untuk menyelesaikan satu produk kerajinan perak memerlukan waktu beberapa hari.

Biasanya, ia bersama lima karyawannya berkarya pada malam hari. Sebelum 1995, Leo bisa mengantongi keuntungan bersih hingga Rp 20 juta per bulan.

Kondisi yang sama juga dialami oleh Siti Aisyah (40). Menurutnya, dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM menyebabkan daya beli masyarakat semakin menurun.

Ia mengaku, sebelum 1995 omset penjualannya mencapai Rp 15 juta sampai Rp 20 juta per bulan. “Kini omset per bulan tinggal Rp 2 juta sampai Rp 3 juta.

Ditampung “Amai Setia”

Koto Gadang sangat beruntung memiliki tokoh legendaris sekaliger Rohana Kudus. Wartawati pertama di Indonesia yang menerbitkan surat kabar “Soenting Melajoe” ini sukses mendidik para wanita di kawasan ini dengan berbagai keterampilan.

Satu satunya warisan Rohana Kudus adalah Yayasan Kerajinan “Amai Setia.” Yayasan ini berfungsi sebagai pusat kerajinan yang menampung dan memasarkan kerajinan masyarakat Koto Gadang.

Yayasan “Amai Setia” ini juga memiliki museum yang menyimpan sejumlah foto dan benda sejarah warisan Minangkabau masa saisuak (dulu kala). Menurut pengelola “Amai Setia” Siska (28) dan Wita (39), pusat kerajinan ini didirikan 11 Februari 1911.

Yayasan ini juga dikenal sebagai organisasi wanita pertama di Minangkabau sekaligus menjadi sekolah kerajinan putri.

“Dulu, setiap ada pasar malam dan pameran, Amai Setia selalu buka stand. Tapi sekarang jarang mengingat kurangnya wisatawan,” ujar Siska.

Meski begitu, hingga saat ini Amal Setia tetap dipercaya oleh para pengrajin untuk memasarkan produk-produknya. Apalagi, yayasan ini selalu melakukan pembayaran kontan terhadap produk yang dibelinya. Selain dipasarkan di Koto Gadang, barang-barang souvenir ini juga dipasarkan melalui cabang Amai Setia di Jakarta dan beberapa kota lain.

Menanggapi kondisi para perajin, Sekretaris Walinagari Koto Gadang Khaidir (36) menegaskan, pemerintahan nagari telah melakukan pembinaan terhadap perajin, tapi karena daya beli masyarakat menurun akibatanya daya serap konsumen pun menurun.

“Pemerintahan akan tetap melakukan pembinaan dan mencarikan bapak angkat sehingga kerajinan perak masyarakat tetap bisa berjalan,” ujarnya.

Para perajin tak hanya merindukan bapak angkat yang bisa mengangkat usaha mereka menembus pasar manca negara, tapi juga bimbingan menjadi wirausaha sejati, dukungan manajemen dan permodalan. (Muhammad Subhan)


Cerita yang lain :
Kerajinan Amai Setia Koto Gadang
the-ray-man - 25/02/2010 09:25 PM
#18

kaskus ID : the-ray-man

kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran

bentuk karya : kerajinan tangan suku dayak

sumber : http://borneo-arts.blogspot.com/2009...an-tangan.html

keterangan :

Spoiler for ,


Perisai/Kelembit/Keliau

Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel


Merupakan alat penangkis dalam peperangan melawan musuh. Perisai terbuat dari kayu yang ringan tapi tidak mudah pecah. Bagian depan perisai dihiasi dengan ukiran, namun sekarang ini kebanyakan dihiasi dengan lukisan yang menggunakan warna hitam putih atau merah putih. Motif yang digunakan untuk menghias perisai terdiri dari 3 motif dasar:

1. Motif Burung Enggang ( Kalung Tebengaang )
2. Motif Naga/Anjing ( Kalung Aso' )
3. Motif Topeng ( Kalung Udo' )

Selain sebagai alat pelindung diri dari serangan musuh, perisai juga berfungsi sebagai: - Alat penolong sewaktu kebakaran / melindungi diri dari nyala api - Perlengkapan menari dalam tari perang - Alat untuk melerai perkelahian - Perlengkapan untuk upacara Belian Kini perisai banyak dijual sebagai souvenir / penghias dekorasi rumah tangga.

Ulap Doyo

Kain dari serat daun doyo ini merupakan hasil kerajinan yang hanya dibuat oleh wanita-wanita suku Dayak Benuaq yang tinggal di Tanjung Isuy. Tanaman doyo yang menyerupai pandan tumbuh dengan subur di Tanjung Isuy. Serat daunnya kuat dan dapat dijadikan benang untuk ditenun. Tenunan doyo ini kemudian sering diolah menjadi pakaian, kopiah, dompet, tas, hiasan dinding dan lain sebagainya.

Anjat

Alat berbentuk seperti tas yang terbuat dari anyaman rotan dan memiliki dua atau tiga sangkutan. Anjat biasanya digunakan untuk menaruh barang-barang bawaan ketika bepergian.

Bening Aban


Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel

Alat untuk memanggul anak yang hanya terdapat pada masyarakat suku Dayak Kenyah. Alat ini terbuat dari kayu yang biasanya dihiasi dengan ukiran atau dilapisi dengan sulaman manik-manik serta uang logam.

Sumpitan

Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel


Alat yang biasa digunakan untuk berburu atau berperang yang dikenal oleh hampir seluruh suku Dayak di Kalimantan. Alat ini terbuat dari kayu ulin atau sejenisnya yang berbentuk tongkat panjang yang diberi lubang kecil untuk memasukkan anak sumpitan. Sumpitan dilengkapi dengan sebuah mata tombak yang diikat erat pada ujungnya dan juga dilengkapi dengan anak sumpitan beserta wadahnya (selup).

Seraong

Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel

Topi berbentuk lebar yang biasa digunakan untuk bekerja di ladang atau untuk menahan sinar matahari dan hujan. Kini banyak diolah seraong-seraong ukuran kecil untuk hiasan rumah tangga.

Mandau

Merupakan senjata tradisional khas suku Dayak yang menyerupai pedang. Mandau terbuat dari besi dengan gagang terbuat dari kayu atau tulang. Sebelum pembuatan dimulai, terlebih dahulu dilakukan upacara adat sesuai dengan tradisi dari masing-masing suku Dayak.

Manik


Kerajinan manik-manik khas suku Dayak biasanya dibuat menjadi pakaian, menghias topi/seraong maupun bening aban. Kini banyak hasil kerajinan manik-manik yang diolah menjadi tas, kalung, gelang, gantungan kunci dan aneka macam hiasan lainnya.
the-ray-man - 25/02/2010 09:45 PM
#19

kaskus ID : the-ray-man

kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran

bentuk karya : Sejnata tradisional kepulauan bangka belitung

sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Bangka_Belitung#Senjata_tradisional

keterangan :


Spoiler for ,


* Parang bangka


bentuknya seperti layar kapal. Alat ini digunakan terutama untuk perkelahian jarak pendek. Senjata ini mirip dengan golok di Jawa, namun ujung parang ini dibuat lebar dan berat guna meningkatkan bobot supaya sasaran dapat terpotong dengan cepat. Parang yang berdiameter sedang atau sekitar 40 cm juga dapat digunakan untuk menebang pohon karena bobot ujungnya yang lebih besar dan lebih berat.



* Kedik

adalah alat tradisional yang digunakan sebagai alat pertanian. Alat ini digunakan di perkebunan terutama di kebun lada. Dalam menggunakannya si pemakai harus berjongkok dan bergerak mundur atau menyamping. Alat ini digunakan dengan cara diletakkan pada tanah dan ditarik ke belakang. Alat ini efektif untuk membersihkan rumput pengganggu tanaman lada. Kedik biasanya digunakan oleh kaum wanita karena alatnya kecil dan relatif lebih ringan. Kedik hanya dapat digunakan untuk rumput jenis yang kecil atau rumput yang tumbuh dengan akar yang dangkal, bukan ilalang.



* Siwar Panjang
Cacingpushup - 27/07/2010 01:23 AM
#20
Asal muasal seni ukir Jepara
Kaskus ID:cacingpushup
Kategori: Handicraft/ukiran/kerajinan tangan
Bentuk karya: Artikel tentang tentang ukiran Jepara
Sumber:www.gojepara.com

LEGENDA SENI UKIR JEPARA
Dikisahkan seorang ahli seni pahat dan lukis bernama Prabangkara yang hidup pada masa Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, pada suatu ketika sang raja menyuruh Prabangkara untuk membuat lukisan permaisuri raja sebagai ungkapan rasa cinta beliau pada permaisurinya yang sangat cantik dan mempesona. Lukisan permaisuri yang tanpa busana itu dapat diselesaikan oleh Prabangkara dengan sempurna dan tentu saja hal ini membuat Raja Brawijaya menjadi curiga karena pada bagian tubuh tertentu dan rahasia terdapat tanda alami/khusus yang terdapat pula pada lukisan serta tempatnya/posisi dan bentuknya persis. Dengan suatu tipu muslihat, Prabangkara dengan segala peralatannya dibuang dengan cara diikat pada sebuah laying-layang yang setelah sampai di angkasa diputus talinya.

Dalam keadaan melayang-layang inilah pahat Prabangkara jatuh di suatu desa yang dikenal dengan nama Belakang Gunung di dekat kota Jepara.
Di desa kecil sebelah utara kota Jepara tersebut sampai sekarang memang banyak terdapat pengrajin ukir yang berkualitas tinggi. Namun asal mula adanya ukiran disini apakah memang betul disebabkan karena jatuhnya pahat Prabangkara, belum ada data sejarah yang mendukungnya.
Page 1 of 2 |  1 2 > 
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Handicraft/Kerajinan/Ukiran > Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel