Handicraft/Kerajinan/Ukiran
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Handicraft/Kerajinan/Ukiran > Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel
Total Views: 24181 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 2 of 2 |  < 1 2

t45lim - 06/08/2010 01:36 AM
#21

kaskus ID : t45lim

kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran

bentuk karya : Ukiran Dari Tana Toraja

sumber : http://lomardasika.blogspot.com/2010/03/indahnya-seni-ukiran-dari-toraja.html

Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel

Ukiran Toraja adalah salah satu bukti kekayaan budaya yang dimiliki oleh Tana Toraja. Ukiran ini biasanya dapat dengan mudah ditemukan di sekujur bagian Tongkonan, baik rumah ataupun lumbung padi, serta di Erong. Ukiran lainnya yang dapat dengan mudah anda temukan adalah ukir-ukiran yang dibuat menjadi hiasan dinding untuk oleh-oleh atau corak di peralatan rumah tangga.
Ukir-ukiran Toraja umumnya berbentuk suatu motif tertentu walaupun ada juga yang spesial seperti ayam jantan, angsa, Tongkonan dan pemandangan. Motif-motif ukiran umumnya memiliki nama seperti Pa’ Tedong untuk ukiran motif kerbau dan Pa’ Erong untuk ukiran motif peti mati. Motif-motif yang diukir umumnya berbentuk melingkar, bulat, kotak-kotak dan bersiku. Warnanya sendiri kurang lebih hitam (warna dasar papan kayu), putih, merah dan kekuningan. Warna-warna ini diambil dari alam semua. Jadi bisa dikatakan pewarnaan ukiran berlangsung alami. Misalnya saja warna kekuningan berasal dari tanah liat dan putih berasal dari getah. Uniknya, setelah kering, warna-warna ini tidak luntur namun bersifat seperti warna cat pada umumnya.
erdicht - 13/08/2010 06:47 PM
#22

Kaskus ID : erdicht
Kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran
Bentuk Karya : Artikel Seni Patung
Sumber : hiip://id.wikipedia.org/wiki/Gatotkaca
Keterangan : Seni Patung Modern dengan tema Karakter Pewayangan

Spoiler for Artikel Gatotkaca
Gatotkaca (bahasa Sanskerta: घटोत्कच; Ghattotkacha) adalah seorang tokoh dalam wiracarita Mahabharata yang dikenal sebagai putra Bimasena atau Wrekodara dari keluarga Pandawa. Ibunya yang bernama Hidimbi (Harimbi) berasal dari bangsa rakshasa, sehingga ia pun dikisahkan memiliki kekuatan luar biasa. Dalam perang besar di Kurukshetra ia banyak menewaskan sekutu Korawa sebelum akhirnya gugur di tangan Karna.

Di Indonesia, Gatotkaca menjadi tokoh pewayangan yang sangat populer. Misalnya dalam pewayangan Jawa ia dikenal dengan ejaan Gatutkaca (bahasa Jawa: Gathutkaca). Kesaktiannya dikisahkan luar biasa, antara lain mampu terbang di angkasa tanpa menggunakan sayap, serta terkenal dengan julukan "otot kawat tulang besi".
[CODE]http://id.wikipedia.org/wiki/Gatotkaca[/CODE]


Spoiler for Artikel ttg patungnya
Patung Gatotkaca adalah patung asli produk Indonesia yang dibuat oleh Shuura. Shuura adalah sebuah perusahaan yang menjual produk berupa action figure dan atau action statue yang mengangkat tokoh-tokoh mitos dari Indonesia. Perusahaan ini didirikan oleh lima orang yang telah berteman sejak masa kuliah mereka. Persamaan visi dan misi serta hobi mereka menjadi dasar didirikannya Shuura. Produk-produk Shuura seluruhnya adalah buatan Indonesia asli.
[CODE]http:/shuuraindonesia.com[/CODE]


Spoiler for gambarnya
Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel
verditch - 23/09/2010 07:35 PM
#23

kaskus ID : verditch

kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran

bentuk karya : Artikel Singkat Mengenai Karambit

sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Karambit

keterangan : salah satu senjata tradisional indonesia

Spoiler for
karambit atau kerambit adalah pisau genggam kecil, pisau melengkung dari Asia Tenggara, khususnya kepulauan Asia tenggara. Sebagaimana dibuktikan oleh akar etimologisnya, kerambit berasal dari Jawa , menurut cerita rakyat, itu terinspirasi oleh cakar kucing besar. Seperti senjata sebagian besar kawasan melayu, pada awalnya merupakan alat pertanian dirancang untuk menyapu akar, mengumpulkan batang padi dan alayt pengirikan padi. dirancang untuk senjata seperti itu menjadi lebih melengkung untuk memaksimalkan potensi pemotongan. Karambit akhirnya tersebar melalui jaringan perdagangan Indonesia dan kontak dekat dengan negara-negara tetangga, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina dan Thailand.

sejarah
sebenarnya pemakaian kerambit itu di Jawa ada karena sejarahnya sebagai senjata kaum tani agraria, yang tidak dipakai kesatria (kelas prajurit) yang dilatih di keraton atau istana. jadi kerambit adalah senjata rakyat biasa.

Buku sejarah di Eropa mengatakan bahwa tentara di Malaysia dan Indonesia dipersenjatai dengan keris di pinggang dan tombak di tangan mereka, sedangkan kerambit itu digunakan sebagai upaya terakhir ketika senjata lain pejuang yang hilang dalam pertempuran. Meskipun demikian, akhirnya populer di kalangan wanita yang akan mengikat senjata ke rambut mereka untuk digunakan dalam membela diri. Bahkan saat ini, guru silat menganggapnya sebagai senjata feminin. Para prajurit Bugis Sulawesi terkenal untuk keahlian mereka dalam memakai kerambit. Saat ini Kerambit adalah salah satu senjata utama silat dan umumnya digunakan dalam seni bela diri Filipina juga.

jenis
terdapat banyak sekali jenis-jenis karambit,dan untuk kerambit tradisional dari indonesia adalah;

[*]kerambit kuku bima
[*]kerambit kuku Hanuman
[*]kerambit kuku macan
[*]kerambit Sumbawa
[*]kerambit Lombok
[*]lawi ayam



[spoiler=gambar]Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel
[/spoiler]
gideonjack - 28/11/2010 12:13 AM
#24

Kaskus ID : gideonjack
Kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran
Bentuk Karya : Artikel Tentang kain ULOS
Sumber : http://www.silaban.net/2006/10/07/ulos/
Keterangan : Macam-macam jenis Ulos (Kain khas Batak)
Spoiler for artikel
ULOS adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang, yang melambangkan ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak-anaknya atau antara seseorang dan orang lain, seperti yang tercantum dalam filsafat batak yang berbunyi: “Ijuk pengihot ni hodong.” Ulos penghit ni halong, yang ertinya ijuk pengikat pelepah pada batangnya dan ulos pengikat kasih sayang diantara sesama.

Pada mulanya fungsi Ulos adalah untuk menghangkan badan, tetapi kini Ulos memiliki fungsi simbolik untuk hal-hal lain dlam segala aspek kehidupan orang Batak. Ulos tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang Batak. Setiap ulos mempunyai ‘raksa’ sendiri-sendiri, ertinya mempunyai sifat, keadaan, fungsi, dan hubungan dengan hal atau benda tertentu.

Dalam pandangan suku kaum Batak, ada tiga unsur yang mendasarkan dalam kehidupan manusia, iaitu darah, nafas, dan panas. Dua unsur terdahulu adalah pemberian Tuhan, sedangkan unsur ketiga tidaklah demikian. Panas yang diberikan matahari tidaklah cukup untuk menangkis udara dingin dipemukiman suku bangsa batak, lebih-lebih lagi diwaktu malam.Menurut pandangan suku bangsa batak, ada tiga sumber yang memberi panas kepada manusia, iaitu matahari, api dan Ulos. Ulos berfungsi memberi panas yang menyihatkan badan dan menyenangkan fikiran sehingga kita gembira dibuatnya.

Dikalangan orang batak sering terdengar ‘mengulosi’ yang ertinya memberi Ulos, atau menghangatkan dengan ulos. Dalam kepercayaan orang-orang Batak, jika (tondi) pun perlu diulos, sehingga kaum lelki yang berjiwa keras mempunyai sifat-sifat kejantanan dan kepahlawanan, dan orng perempuan mempunyai sifat-sifat kethanan untuk melawan guna-guna dan kemandulan.

Dalam hal mengulosi, ada aturan yang harus dipatuhi, antara lain orng hanya boleh mengulosi mereka yang menurut kerabatan berada dibawahnya, misalnya orang tua boleh mengulosi anak, tetapi anak tidak boleh mengulosi orang tua. Jadi dalam prinsip kekerabatn Batak yang disebut ‘Dalihan Na tolu’, yang terdiri atas unsur-unsur hula-hula boru, dan dongan sabutuha, seorang boru sam sekali tidak dibenarkn mengulosi hula-hulanya. Ulos yang diberikan dalam mengulosi tidak boleh sebarangan, baik dalam macam maupun cara membuatnya.

Sebagai satu contoh, ulos ragidup yang akan diberikan kepada Boru yang akan melahirkan anak sulungnya haruslah yang memenuhi syarat-syarat tertentu, yakni ulos yang disebut ‘ulos sinagok’. Untuk menulosi pembesr atau tamu kehurmat, ‘Ulos ragidup silingo’, iaitu ulos yang diberikan kepada mereka yang dapat memberikan perlindungan (mangalinggomi) kepada orang lain. Berdasarkan raksanya, dikenal bebera macam ulos:1. Ulos ragidup

yang tertinggi darjatnya, sangat sulit pembuatannya. Ulos ini terdiri atas tiga bahagian, iaitu dua sisi yang ditenun sekaligus, dan satu bahagian tengah yang ditenum tersendiri dengan sangat rumit. Bahagian tengahnya terdiri ata tiga bahagian, iaitu bahagian tengah atau badan, dan dua bahagian lainnya sebagai ujung tempat pigura lelaki (pinarhalak hana) dan ujung tempat pigura perempuan (pinarhlak boru-boru). Setiap pigura diberi beraneka ragam lukisan, antara lain ‘antiganting sigumang’, batuhi ansimun, dsb.

Warna, lukisan, serta cork (ragi) memberi kesan seolah-olah ulos benar-benar hidup, sehingga orng menyebutnya ‘ragidup’, iaitu lambang kehidupan. Setiap rumah tangga Batak mempunyai ulos ragidup. Selain lambang kehidupan, ulos ini juga lambang doa restu untuk kebahagian dalam kehidupan, terutama dalam hal keturunan, yakni banyak anak (gabe) bagi setiap keluarga dan panjang umur (saur sarimatua). Dalam upacara adat perkahwinan, ulos ragidup diberikan oleh orng tua pengantin perempuan kepada ibu pengantin lelaki sebagai ‘ulos pargomgom’ yang maknanya agar besannya ini atas idzin Tuhan YME tetap dapat melalui bersama sang menantu anak dari sipemberi ulos tadi.

2. Ulos ragihotang

juga termasuk berdarjah tinggi, namun cara pembuatannya tidak serumit ulos ragidup. Hotang bererti rotan, dan raksa ulos ini mempunyai keistimewaan yang dapat diikuti dari keempat umpasannya. Ulos ini digunakan untuk mengulosi seseorng yang dianggap picik dengan harapan agar Tuhan akan memberikan hasil yang baik, dan orng yang rajin berkerja. Dalam upacara kematian, ulos ini dipaki untuk membungkus jenazah, sedangkan kepada upacara pengkuburan kedua kalinya, untuk membungkus tulang-belulangnya. Ulos sibolang juga digolongkan sebagai ulos berdarjat tinggi, sekalipun cara pembuatannya lebih sederhana.

3. Ulos sibolang

semula disebut sibolang sebab dibeikan kepada orang yang berjasa untuk ‘mabulangbulangi’ (menghurmati) orang tua penggantin perempuan untuk mengulosi ayah pengantin lelaki sebagai ‘ulos pansaniot’. Dalam suatu pesta perkahwinan, dulu ada kebiasaan memberikan ‘ulos siholang si toluntuho’ oleh orang tua pengantin perempuan kepada menantunya sebagai ulos bela (ulos menantu). Pada ulos si toluntuho ini raginya tampak jelas mengambarkan tiga buah tuho (bahagian) yang merupakan lambang Dalihan Na Tolu.

Mengulosi menantu lelaki dimaksudkan agar ia selalu berhati-hati dengan teman-teman semarga, dan faham siapa yang harus dihurmati; memberi hurmat kepada semua kerabat pihak isteri; dan lemah lembut terhadap keluarganya. Selain itu, ulos ini diberikan kepada seorang wanita yang tinggal mati suaminya sebagai tanda menghurmati jasanya selama menjadi isteri almarhum. Pembeian ulos tersebut biasanya dilakukan pada waktu upacara bekabong, dan dengan demikian juga dijadikan tanda bagi wanita tersebut bahawa ia telah menjadi seorang janda. Ulos-ulos lain yang digunakan dalam upacara adat, antara lain, ‘ulos meratur’ dengan motif garis-garis yang mengambarkan burung atau banyak bintang tersusun teratur.

Biasanya ulos ini digunakan sebagai ‘ulos parompa’ dengan harapan agar setelah anak pertama lahir akan menyusul kelahiran anak-anak lain sebanyak burung atau bintang yang terlukis dalam ulos tersebut. Jenis lain adalah ‘ragi botik, ragi angkola, sirata, silimatuho, holean, sinar labu-labu, dsb. Dari besar kecil biaya pembuatannya, ulos dapat dibedakan dalam tiga golongan:

- Ulos nametmet, yang ukurng panjang dan lebarnya jauh lebih kecil, tidak digunakan dalam upacara adat, melainkan untuk dipakai sehari-hari. Yang termasuk dalam golongan ini antara lain ulos sirampat, ragi huting, namarpisaran, dan sebagainya.

- Ulos nabalga; adalah ulos kelas tinggi atau tertinggi. Jenis ulos ini pada umumnya digunakan dalam upacara adat sebagai pakaian resmi atau sebagai ulos yang diserahkan atau diterima. Yang termasuk didalam golongan ini ialah: sibolang, runjat jobit, ragidup atau ragi hidup, dsb. Cara memakai ulos bermacam-macam tergantung pada situasinya.

Ada orng memaki ulos dibahunya (dihadang atau sampe-sampe) seperti pemakaian selendang berkebaya; ada yang memakainya sebagai kain sarong (diabithon), ada yang melilitkannya dikepala (dililitohon) dan ada pula yang mengikatnya secara ketat dipinggang. Erti dan fungsi kain selendang tenun khas Batak ini sejak dulu hingga sekarang tidak mengalami perubahan, kecuali bebera variasi yang disesuaikan dengan kodisi sosial budaya. Ulos kini tidk hany berfungsi sebagai lambang penghangat dan kasih sayang, melainkan juga sebagai lambang kedudukan lambang komunikasi, dan lambang solidaritas.
Page 2 of 2 |  < 1 2
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Handicraft/Kerajinan/Ukiran > Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel