Kekayaan Alam/Flora & Fauna
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kekayaan Alam/Flora & Fauna > Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel
Total Views: 58557 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 3 |  < 1 2 3

verditch - 04/07/2010 10:16 PM
#41

kaskus ID : verditch

kategori : Kekayaan Alam/Flora & Fauna

bentuk karya : Artikel mengenai Pegunungan Jayawijaya

sumber : https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=160872335&postcount=1

keterangan : salah satu object wisata yg menarik

Spoiler for
Pegunungan Jayawijaya adalah nama untuk deretan pegunungan yang terbentang memanjang di tengah provinsi Papua Barat dan Papua (Indonesia) hingga Papua Newguinea di Pulau Irian. Deretan Pegunungan yang mempunyai beberapa puncak tertinggi di Indonesia ini terbentuk karena pengangkatan dasar laut ribuan tahun silam. Meski berada di ketinggian 4.800 mdpl, fosil kerang laut, misalnya, dapat dilihat pada batuan gamping dan klastik yang terdapat di Pegunungan Jayawijaya. Karena itu, selain menjadi surganya para pendaki, Pegunungan Jayawijaya juga menjadi surganya para peneliti geologi dunia.

Pegunungan Jayawijaya juga merupakan satu-satunya pegunungan dan gunung di Indonesia yang memiliki puncak yang tertutup oleh salju abadi. Meskipun tidak seluruh puncak dari gugusan Pegunungan Jayawijaya yang memiliki salju. Salju yang dimiliki oleh beberapa puncak bahkan saat ini sudah hilang karena perubahan cuaca secara global.

Sejarah terbentuknya Pegunungan Jayawijaya

Menurut teori geologi, awalnya dunia hanya memiliki sebuah benua yang bernama Pangea pada 250 juta tahun lalu. Benua Pangea pecah menjadi dua dengan membentuk benua Laurasia dan benua Eurasia. Benua Eurasia pecah kembali menjadi benua Gonwana yang di kemudian hari akan menjadi daratan Amerika Selatan, Afrika, India, dan Australia.

Pengendapan yang sangat intensif terjadi di benua Australia, ditambah terjadinya tumbukan lempeng antara lempeng Indo-Pasifik dengan Indo-Australia di dasar laut. Tumbukan lempeng ini menghasilkan busur pulau, yang juga menjadi cikal bakal dari pulau dan pegunungan di Papua.

Akibat proses pengangkatan yang terus-menerus, sedimentasi dan disertai kejadian tektonik bawah laut, dalam kurun waktu jutaan tahun menghasilkan pegunungan tinggi seperti yang bisa dilihat saat ini.

Bukti bahwa Pulau Papua beserta pegunungan tingginya pernah menjadi bagian dari dasar laut yang dalam dapat dilihat dari fosil yang tertinggal di bebatuan Jayawijaya.

Puncak-puncak Jayawijaya

* Puncak Jaya 4.860 M.dpl
* Puncak Carstenz 4.884 M.dpl
* Puncak Yamin 4.535 M.dpl
* Puncak Idenberg 4.673 M.dpl
* Puncak Mandala 4.650 M.dpl
* Puncak Trikora 4.730 M.dpl

[spoiler=gambar]Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel
[/spoiler]
di3vil - 16/07/2010 10:16 PM
#42

kaskus ID : di3vil
kategori : Kekayaan Alam/Flora & Fauna
bentuk karya : Artikel Mengenai Zosterops somadikartai
sumber : https://www.kaskus.co.id/showthread.php?p=246994677&posted=1#post246994677
keterangan : Peneliti dari Universitas Indonesia, Mochamad Indrawan dan Sunarto pertama melihatnya di alam pada tahun 1997 dan secara resmi burung ini diperikan pada tahun 2008. Nama jenis diambil dari nama Profesor Soekarja Somadikarta, seorang pakar burung Indonesia terkemuka saat ini


Spoiler for show for
Sumber I : WIKIPEDIA-KACAMATA TOGIAN

Sumber II : www.indonesia.go.id

iloveindonesiaMARI BANGGA JADI ORANG INDONESIA
MARI BERBANGGA APABILA KITA IKUT PEDULI AKAN KEKAYAAN FLORA
DAN FAUNA YANG DIMILIKI INDONESIAiloveindonesia

Kacamata Togian (Zosterops somadikartai) adalah nama sejenis burung anggota suku Zosteropidae. Burung ini bersifat endemik di beberapa pulau bagian dari Kepulauan Togian, Sulawesi. Peneliti dari Universitas Indonesia, Mochamad Indrawan dan Sunarto pertama melihatnya di alam pada tahun 1997 dan secara resmi burung ini diperikan pada tahun 2008. Nama jenis diambil dari nama Profesor Soekarja Somadikarta, seorang pakar burung Indonesia terkemuka saat ini. Berbeda dari anggota Zosterops lainnya, jenis ini tidak memiliki lingkaran putih di seputar mata.

Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil menemukan suatu spesies burung baru dari Kepulauan Togian, Teluk Tomini, Sulawesi Tengah, yakni burung Kacamata Togian.
“Penemuan spesies baru dan pertelaan ilmiah ini dipublikasikan dalam Wilson Journal of Omithology edisi terbaru (Maret 2008), yang merupakan salah satu jurnal omitologi paling terkemuka di Amerika Serikat,” kata Peneliti Senior Dr. Dewi Prawiradilaga pada presentasi spesies di Kepulauan Togian, Sulteng dan peluncuran buku daftar jenis burung Indonesia di Museum Zoologi, LIPI, Cibinong, Jumat (14/3).

ini gan lokasi ditemukannya spesies baru di kepulauan TOGIAN

Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Burung Kacamata Togian dipertelakan dan diperkenalkan bagi ilmu pengetahuan 12 tahun setelah pertama kali diamati di lapangan. Penemuan lapangan dilakukan oleh Indrawan dan Sunarto, peneliti lapangan dari Universitas Indonesia.

Sementara pertelaan jenis baru tersebut diselesaikan melalui kerjasama dengan Dr. Pameia Rasmussen dari Michigan State University, seorang ahli taksonomi terkemuka di dunia yang mengambil spesialisasi spesies burung Asia.

Burung-burung kacamata merupakan kumpulan spesies yang bertubuh kecil, berwarna kehijauan, dan umumnya memiliki lingkar mata berwarna putih. Dalam perilaku, mereka sangat aktif bergerak dalam kelompok-kelompok kecil.

Indonesia memiliki berbagai spesies kacamata atau Zosterops. Di Sulawesi dan pulau-pulau sekelilingnya terdapat tidak kurang dari 10 satuan-satuan spesies dan sub spesies (taksa) yang di dalamnya terdapat enam spesies.

Berdasarkan penelitian terdahulu oleh Rasmussen dkk, jumlah taksa tersebut di Sulawesi dan pulau-pulau kecil di sekelilingnya mencapai 15 taksa, termasuk 9 atau 10 spesies Zostarops.

Sebaran berbagai taksa burung kacamata tersebut kebanyakan tidak tumpang tindih, dan beberapa spesies Kacamata hanya terdapat di satu atau dua bagian Pulau Sulawesi.

Dewi menjelaskan, burung Kacamata Togian berbeda dengan spesies Kacamata lainnya, karena tidak memiliki lingkaran putih di sekeliling mata. Mata spesies Kacamata Togian berwarna kemerahan, dan warna paruhnya lebih kemerahan di bandingkan yang lain.

Sayangnya, pada saat ditemukan, spesies Kacamata Togian harus langsung digolongkan genting kepunahan berdasarkan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Walaupun di daratan utama Sulawesi burung-burung kacamata seringkali melimpah, kacamata Togian tersebut ternyata hanya ditemukan di pesisir beberapa pulau kecil di Kepulauan Togian, Sulawesi Tengah.

Berdasarkan penemuan spesies baru burung kacamata tersebut, Kepulauan Togian pun memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sebagai daerah burung endemik (DBE). Selain itu, berdasarkan kesepakatan pengetahuan konservasi (menggunakan kriteria yang dibuat oleh lembaga pelestarian internasional Bird Life International), hanya dibutuhkan dua spesies endemik (yang hanya terdapat di daerah tersebut, dan tidak terdapat di daerah lain), agar suatu daerah ditetapkan menjadi daerah burung endemik.

Direktur Puslit Biologi, LIPI, Dr. Dedy Damaedi, menyambut baik pentingnya kerjasama internasional, terutama untuk membangun kapasitas ahli biologi dan ahli konservasi bangsa Indonesia.

Menurutnya, mengingat lajunya penebangan hutan serta penurunan hutan tropika dan humida, maka penemuan spesies baru dan pelestariannya kini benar-benar berpacu dengan waktu, karena Indonesia sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi dikawatirkan banyak spesies yang akan punah sebelum sempat dikenal ilmu pengetahuan.
gussobleh - 20/07/2010 09:27 AM
#43

Kaskus ID : gussobleh
Kategori : Kekayaan Alam & Panorama, Flora & Fauna
Bentuk Karya : Artikel tentang Fauna di Indonesia
Sumber : http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/06/24/ArticleHtmls/24_06_2010_017_023.shtml
Keterangan : Berikut ini adalah artikel mengenai beberapa fauna (burung) baru yang diketemukan di Taman Nasional Baluran

Spoiler for
SITUBONDO (Tempo) - Selama sepuluh tahun terakhir, Taman Nasional Baluran (TNB), Situbondo, Jawa Timur, mengidentifikasi 39 jenis burung baru. “Pada 2000 kami hanya mampu mengidentifikasi 150 jenis,” kata Kepala Taman Nasional Baluran Indra Arinal kepada Tempo kemarin.

Dengan ditemukannya 39 jenis burung baru ini, total burung yang telah teridentifikasi sebanyak 189 jenis.

Menurut Indra, kegiatan mengidentifikasi jenis burung itu dilakukan di delapan tipe habitat berbeda di kawasan TNB, di antaranya habitat mangrove, sabana, hutan pantai, hutan dataran tinggi, dan rawa.

Petugas pengendali ekosistem hutan, Swiss Winnasis, mengatakan jenis burung yang baru teridentifikasi itu antara lain jenis cikalang Christmas (Fregata andrewsi), elang tiram (Pandion haliaetus), elang perut-karat (Hieraaetus kienerii), elang-alap Nipon (Accipiter gularis), dan cerek kalung-kecil (Charadrius dubius).

Keanekaragaman jenis burung di TNB, kata Swiss, ada kemungkinan terus bertambah.

Sebab, selain ada burung penetap, Baluran menjadi kawasan singgah bagi burung migran dari Asia bagian utara menuju Australia. “Saat ini ada sekitar 15 jenis burung migran yang mampir di Baluran,” katanya.

Namun, dengan bertambahnya jenis baru, Swiss menyebutkan ada dua spesies burung yang saat ini sudah hilang, yakni jenis takur butok dan punglor. Sedangkan tiga jenis burung lainnya, yaitu jalak putih, elang Jawa, dan merak hijau, saat ini tergolong langka. Dari pengamatan terakhir, jalak putih hanya tersisa tujuh ekor dan elang Jawa satu ekor.

Menurut Swiss, penyebab hilang dan langkanya spesies burung di Taman Nasional Baluran adalah maraknya perburuan liar. Dalam setahun, paling sedikit ada tiga kasus perburuan dalam jumlah besar.

Kepala Taman Nasional Baluran Indra Arinal menambahkan, maraknya perburuan tersebut disebabkan oleh tidak seimbangnya jumlah petugas lapangan dengan luasnya kawasan. “Dengan luas wilayah 25 ribu hektare, TNB hanya memiliki 50 petugas,” ujarnya.

Namun, kata dia, Taman Nasional Baluran telah melakukan sejumlah upaya untuk menekan jumlah perburuan dengan merazia warga yang masuk ke TNB dengan tujuan mencari rumput. “Kebanyakan berasal dari warga desa sekitar,” ujarnya.

● IKA NINGTYAS
allecumi - 10/08/2010 06:10 PM
#44

Kaskus ID : allecumi
Kategori : Kekayaan Alam & Panorama, Flora & Fauna
Bentuk Karya : Artikel tentang Flora & Fauna di Pulau Rambut
Sumber : Klik di sini
Keterangan : Pulau Rambut merupakan Surga Burung Pantai di Utara Jakarta
Spoiler for ISI ARTIKEL
[spoiler=PICT]Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel
Di ketinggian pohon kepuh lebih dari 30 meter dengan jarak lebih dari 100 meter, dua ekor anak Ardea cinerea tampak sangat dekat dari balik viewvinder. Dua ekor anak burung cangak ini paruhnya menganga dan berteriak-teriak kelaparan dalam sarangnya. Induknya yang baru datang cuek saja mendengar teriakan kelaparan anaknya. Di belakangnya, di pohon lain sekitar 50 meter dari sarang ini, gerombolan anak burung Mycteria cinerea sedang berpesta ikan di ranting tertinggi.

Di dalam sarangnya dalam ranting tertinggi pohon kepuh, dua spesies burung air ini tampak tenang dan merdeka menikmati makan siangnya. Sementara itu, rombongan Phalacrocorax sulcirostris dan Nycticorax nycticorax serta keluarga Egretta berterbangan sangat riuh sepulang berburu. Sedangkan di dasar hutan yang sebagian berawa, puluhan spesies Varanus salvator, Phyton reticulatus, dan Boiga dendrophila melata, menunggu burung-burung muda yang belajar terbang terjatuh untuk dimangsa.

Di sudut pandang terjauh di lautan dangkal, Anhinga melanogaster dan Phalacrocorax sedang menyelam mencari ikan. Tanpa terduga, dibelakang saya dalam jarak bidik, sepasang Egretta intermedia sedang melakukan ritual tarian perkawinan dengan koreografi yang sangat cantik. Semua pemandangan menarik ini saya nikmati di habitat aslinya. Dari balik viewvinder kamera digital dengan lensa 500 mm, di batang pohon kepuh dengan ketinggian 30 meter.

Pohon kepuh tempat saya bertengger yang sudah berumur puluhan tahun ini merupakan salah satu flora yang tumbuh di Suaka Margasatwa Pulau Rambut. Ranting dan batang pohon kepuh umumnya berisi sarang burung pecuk padi (Phalacrocorax sulcirostris) dan cangak abu (Ardea cinerea). Sedangkan keluarga Egretta, spesies paling banyak populasinya umumnya lebih suka menghuni ranting dibalik rimbunan daun mangrove. Pohon spesies lain, dihuni oleh kelelawar, bluwok, dan pecuk ular serta burung kicauan. Semua spesies burung dan reptil ini rata-rata kemudian berhasil dijerat oleh sensor digital dan disimpan dalam memory kamera personil komunitas fotografer hidupan liar atau The Wildlife Photographers Community (WPC) yang sedang mendata flora dan fauna Suaka Margasatwa Pulau Rambut. Selain saya yang berada di pohon kepuh, teman-teman lain membidikkan kameranya dari menara yang ada ditengah-tengah hutan.

Selain dihuni oleh burung air endemik Indonesia, Pulau Rambut juga menjadi tempat persinggahan burung migran. Pulau konservasi ini sudah sejak zaman belanda menjadi daerah konservasi yang dilindungi Undang-undang, hingga mereka aman dari gangguan manusia, layaknya di firdaus saja. Selain burung yang aman tenteram, biawak, ular phyton dan ular cincin emas juga sangat makmur disini. Dengan puluhan ribu burung yang menghuni pulau, ketiga predator ini layaknya berada di “padang perburuan abadi.”

Pulau Rambut yang berseberangan dengan pulau wisata, Pulau Untung Jawa dan masuk dalam wilayah Jakarta Utara berjarak hanya 20 menit dari Pelabuhan Tanjung Pasir, Teluk Naga, Tangerang. Dari Pantai Marina Ancol, atau dari Muara Angke jaraknya hanya sekitar 30 menit. Muara Angke dan Tanjung Pasir, merupakan tempat pemberangkatan kapal penumpang ke wilayah kepulauan seribu. Jika akan ke Pulau Rambut, kita tidak bisa langsung kesana. Sebelumnya kita hrus transit dulu ke Untung Jawa. Nah dari Untung Jawa ini kita bisa melanjutkan perjalanan ke Pulau Rambut menggunakan perahu sewaan. Ongkosnya Cuma Rp 50.000,- dengan perahu kecil kapasitas 10-15 orang.

Tapi jangan lupa, tidak semua manusia boleh asal nyelonong ke The Last Paradise of Birds ini. Sebelum memasuki surga kawanan aves, kita harus mendapat surat sakti dulu dari pengelola suaka. Pengelolanya adalah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI, yang bermarkas di Salemba, Jakarta Pusat. Tanpa surat sakti berupa Simaksi (surat izin masuk kawasan konservasi), jangan harap kita bisa melewati penjaga surga, para jagawana dari Dinas Kehutanan dan BKSDA.

Ketika pertama kali mendarat di dermaga surga ini, yang pertama menyambut kita adalah suara teriakan burung dari puluhan spesies marga aves. Selain itu, bau menyengat kotoran burung bercampur dengan air asin dari Laut Jawa juga akan menemani kita sampai kita hengkang dari firdausnya burung.

Surga burung seluas 45 hektar (tahun 1995) ini hampir 50% nya merupakan hutan bakau. Sisanya hutan daratan dan rawa. Ranting dan dahan bakau merupakan rumah bagi sebagian besar Phalacrocorax dan keluarga Egretta. Beberapa daftar penghuni suaka ini adalah kepodang (Oriolus chinensis), dara laut (Steanidai), bluwok/walangkadak (Ibis cinercus), cangak abu (Ardea cinerea), cangak merah (Ardea purpurea), raja udang (Alcedinidae), kowak malam (Nycticorax nycticorax), kowak merah (Nycticorax saledonicus), alap alap putih/tikus (Elanus hypoleucus), culik culik (Edynamis scolopacea), kalong (Pteropus), elang bondol (Haliastur indus), gagak (Corvus), bangau tong tong atau merabu (Leptoptilos javanicus) kucing hutan, srigunting, biawak, pelung mandar, pecuk padi (Phalacrocorax sulcirostris), pecuk ular (Anhinga melanogaster), blekek, blekek kembang, mliwis kembang, roko roko (Plegadis falcinellus), mliwis, kuntul bangau putih, ibis putih, pelatuk besi, ular phyton (Python reticulatus), dan ular cincin emas (Boiga dendrophila).

Di kawasan konservasi ini kita bisa melakukan pengamatan burung melewati jalan yang sudah disediakan. Umumnya di beberapa tempat banyak papan penunjuk yang menyebutkan lokasi beberapa spesies burung bisa ditemui. Jadi memudahkan kita. Bila agak ke tengah, maka kita bisa mengamati seluruh kawasan ini dari menara setinggi + 30 meter. Dari menara pemandangannya sangat menarik. Kita akan disuguhi aktivitas lalu lalang beberapa penghuni kawasan suaka ini. Semua jenis burung akan kelihatan dari puncak menara berkonstruksi besi ini.

Selain berjalan-jalan mengikuti trek yang ada kita juga bisa mengelilingi pulau ini dengan menyusuri pantai. Tidak lama, paling-paling hanya 2 jam saja waktunya untuk menyusuri pantai Pulau Rambut. Di sepanjang pantai kita juga akan disuguhi atraksi burung-burung yang berenang dan menyelam mencari ikan. Kadang kita juga akan bertemu dengan biawak dan nelayan serta penduduk yang sedang memancing. Jika memutuskan menginap, kita bisa menginap di Pulau Untung Jawa. Di Pulau ini, banyak tersedia penginapan murah. Pantainya juga bersih. Malam hari kitapun bisa menyewa perahu kalau mau memancing ikan atau sekedar menjala untuk dibakar dimalam hari.[/spoiler]
verditch - 26/09/2010 11:48 AM
#45

kaskus ID : verditch

kategori : Kekayaan Alam/Flora & Fauna

bentuk karya : Artikel Mengenai Gumuk pasir Parangkusumo

sumber : user hokyaa

keterangan : fenomenal alam satu-satunya di asia tenggara

Spoiler for
Gumuk pasir Parangkusumo terletak 22 Km dari kota Yogyakarta. Adalah salah satu fenomena alam yang terbentuk dari Pasir Kali Opak, Kali Progo yang dibawa dari Gunung Merapi, Gunung Merbabu juga Gunung Sindoro di barat daya wilayah ini. Angin Samudera Hindia yang keras, alun Laut Selatan yang kuat dan dinding karst Gunung Sewu di sebelah timur wilayah ini, mencegah pasir-pasir ini mengendap di dasar laut. Pasir-pasir ini kemudian tertumpuk dengan bentang 50-60 Km, mulai dari Pantai Parangtritis, Pantai Samas hingga Pantai Congot, menciptakan gumuk pasir yang kemudian diukir oleh angin.

[spoiler=gambar]Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel


[QUOTE]gambar selengkapnya bisa dilihat >>>disini
EcL4 - 20/10/2010 12:09 AM
#46
Burung Gereja-Erasia (Passer montanus )
Kaskus ID : EcL4
Kategori : Kekayaan Alam Flora & Fauna
Bentuk Karya : Artikel Burung Gereja-Erasia
Sumber : Penelitian pribadi (KPB Bionic UNY)
Keterangan : Ini adalah jenis burung paling umum d Jawa. d amati d Kampus UNY

Spoiler for Gambar
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel


Spoiler for Artikel Burung Gereja-Erasia

[SPOILER=Nama]Indonesia: Burung Gereja-Erasia
Nama Ilmiah: Passer montanus
Nama Inggris: Eurasian Tree Sparrow
Nama Malaysia: Ciak Urasi


Spoiler for Deskripsi/Gambaran
Berukuran sedang (14 cm), berwarna coklat. Mahkota berwarna coklat berangan, dagu, tenggorokan, bercak pipi dan setrip mata hitam, tubuh bagian bawah kuning tua keabuan, tubuh bagian atas berbintik-bintik coklat dengan tanda hitam dan putih. Burung muda: berwarna lebih pucat dengan tanda khas yang kurang jelas.
Iris coklat, paruh kelabu, kaki coklat.


Spoiler for Suara
Cicitan ramai dan nada-nada ocehan cepat.


Spoiler for Distribusi Global
Erasia, India, Cina, Asia tenggara, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, dan Bali. Hasil introduksi atau migrasi yang baru terdapat di sepanjang Filipina dan Indonesia sampai Australia dan Kep. Pasifik.


Spoiler for Distribusi Lokal & status
Sangat umum di kota-kota dan desa-desa di Sumatera (termasuk pulau-pulau di sekitarnya). Di Jawa, dan Bali merupakan burung yang umum di kota dan desa dimana berlangsung pemrosesan biji-bijian, sampai ketinggian 1.500 m (bebas diperdagangkan dan dipelihara). Di Kalimantan, pertama kali disadari keberadaannya pada tahun 1964, sekarang menetap dengan baik di beberapa kota pesisir dan baru-baru ini juga ditemukan di pedalaman.


Spoiler for Kebiasaan
Berasosiasi dekat dengan manusia. Hidup berkelompok di sekitar rumah, gudang, dll. Mencari makan di tanah, dan lahan pertanian, mematuki biji-biji kecil atau beras. Dalam kelompok pekarangan, menyerbu sawah pada musim panen.


Spoiler for Distribusi d UNY
Teramati d seluruh kampus pusat UNY dengan kategori melimpah. Angka kelimpahan 360,24 (Encounter Rates. Lowen dkk.2000) Jumlah 1.531 ekor.

[/SPOILER]
gideonjack - 22/11/2010 05:27 PM
#47
Pantai Plengkung, Banyuwangi, Ombaknya terbesar kedua di dunia lho.
Kaskus id : gideonjack
Kategori : Kekayaan alam & Panorama, Flora/Fauna
Bentuk Karya : Artikel tentang Pantai Plengkung (Banyuwangi)
Sumber : http://www.kapanlagi.com/a/old/pelengkung-pantai-ganas-yang-terpencil.html

Spoiler for Keterangan
[quote=]Lupakan sejenak keganasan ombak di Bali. Ternyata selain di Bali, ada sebuah pantai di Banyuwangi yang sudaj terkenal di mata peselancar dunia. Tempat ini terkenal dengan sebutan G-Land karena wilayah ini menyerupai huruf "G" jika dilihat dari atas. Sejenak infonya:

Untuk Anda penggemar olahraga surfing yang menginginkan sebuah pengalaman yang menguras adrenalin, bersiaplah untuk berkunjung ke sebuah pantai di Jawa Timur.

Sejenak lupakan tentang Bali, sesaat lupakan ombak menawan di Kuta yang penuh sesak dengan para surfer lokal maupun asing. Bersiaplah untuk menjajal Pantai Pelengkung, Banyuwangi, Jawa Timur.

Kawasan yang dikenal dengan nama G-Land ini mungkin tak seindah pantai-pantai di Bali, namun jika Anda memimpikan ombak yang besar dan ganas, maka ini adalah pilihan tepat untuk dimasukkan dalam daftar tujuan liburan Anda.

Pantai Plengkung terletak 87km dari Banyuwangi, untuk mencapainya pun tak terlalu sulit. Dari Banyuwangi, anda dapat menggunakan kendaraan bermotor menuju ke desa Trianggulasi dengan waktu tempuh 2,5 jam.

Setelah itu, persiapkan kaki anda untuk menempuh perjalanan sejauh 12km (4 jam perjalanan), mengingat kendaraan bermotor tak diijinkan untuk melewati daerah ini demi menjaga kealamiannya.

Bagi yang ingin sampai ke Plengkung tanpa bersusah payah, Anda dapat menggunakan speed boat dari Kota Grajakan atau dari Benoa Denpasar. Jarak tempuh sangat tergantung pada faktor alam, yaitu cuaca dan ombak.

Trio Ganas

Ombak di pantai ini konon hampir setara dengan tiga pantai terbaik di dunia, yang memiliki ombak panjang, tinggi, besar dan keras, yaitu Oahu (Hawaii), Fiji, dan Tahiti. Ketiganya berada di Samudra Pasifik.


surfing in Pelengkung

Panjang ombak G-Land bisa mencapai 2km dan tingginya bisa mencapai 6m. Begitu kerasnya, tak jarang mampu mematahkan papan selancar yang dipakai para peselancar.

Para peselancar papan atas dunia pun pernah mencoba keganasan ombaknya dalam event Quicksilver Pro yang berturut-turut digelar pada 1995-1997. Sayang krisis ekonomi dan kerusuhan yang melanda negeri ini membuat event tersebut dipindah ke negara lain.

Fasilitas

Meski terkesan terisolir, karena dibutuhkan perjuangan untuk mencapainya, pantai Plengkung tetap memiliki fasilitas untuk menjamu para tamunya. Namun bagi anda yang membayangkan akan menemui hotel berbintang di sini, bersiaplah untuk kecewa.

Karena yang ada hanyalah penginapan atau lebih tepat disebut camp. Tak ada listrik, yang ada hanyalah diesel, tak ada siaran TV, yang ada TV yang tak henti-hentinya menayangkan rekaman video bertema selancar.

Namun untuk makanan dan minuman, Anda boleh tersenyum. Karena para pengelola camp ini tetap menyediakan makanan dan minuman sekelas hotel mewah. Meski terbilang 'minim' fasilitas, namun untuk menginap disana, Anda harus merogoh kocek Rp385.000-550.000 permalam, sudah termasuk kaos, ongkos spead boat, makanan dan minuman serta kipas angin (maklum tak ada AC).
[/quote]


Beberapa fotonya gan :
[spoiler=1]Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 2
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 3
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 4
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 5
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 6
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 7
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 8
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 9
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 10
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 11
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 12
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 13
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 14
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 15
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 16
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 17
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 18
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 19
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

Spoiler for 20
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

[/spoiler]
Blitzboy - 24/12/2010 11:42 AM
#48

kaskus ID: Blitzboy
Kategori: Kekayaan alam Flora&Fauna
Bentuk Karya: Pulusan
Sumber: http://alamendah.wordpress.com/2009/07/25/satwa-indonesia-yang-dilindungi/
Keterangan: Informasi emngenai Pulusan
Spoiler for Pulusan
Dalam bahasa inggris disebut Hog Badger. Salah satu habitatnya terdapat di Taman Nasional Gunung Leuser Aceh. Hanya itu yang saya ketahui tentang spisies ini.

Klasifikaksi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mamalia; Ordo: Karnivora; Famili: Mustelidae; Genus: Arctonyx; Spesies: A. collaris. Nama binomial: Arctonyx collaris (Cuvier, 1825).

Spoiler for gambar
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel

iloveindonesiailoveindonesia
dweeee - 24/02/2011 08:48 AM
#49

kaskus ID : dweeee
kategori : kekayaan alam flora dan fauna
Bentuk karya : Coelacanth
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Coelacanth & http://www.indonesiaindonesia.com/f/46786-coelacanth-monster-laut-indonesia/
Keterangan: Legendary Fish

Spoiler for gambar
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel


Spoiler for artikel wiki
Coelacanth (artinya "duri yang berongga", dari perkataan Yunani coelia, "κοιλιά" (berongga) dan acanthos, "άκανθος" (duri), merujuk pada duri siripnya yang berongga) IPA: [ˈsiːləˌkænθ] adalah nama ordo (bangsa) ikan yang antara lain terdiri dari sebuah cabang evolusi tertua yang masih hidup dari ikan berahang. Coelacanth diperkirakan sudah punah sejak akhir masa Cretaceous 65 juta tahun yang lalu, sampai sebuah spesimen ditemukan di timur Afrika Selatan, di perairan sungai Chalumna tahun 1938. Sejak itu Coelacanth telah ditemukan di Komoro, perairan pulau Manado Tua di Sulawesi, Kenya, Tanzania, Mozambik, Madagaskar dan taman laut St. Lucia di Afrika Selatan. Di Indonesia, khususnya di sekitar Manado, Sulawesi Utara, spesies ini oleh masyarakat lokal dinamai ikan raja laut.

Coelacanth terdiri dari sekitar 120 spesies yang diketahui berdasarkan penemuan fosil.


Spoiler for gambar lagi
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel


Spoiler for artikel2

COELACANTH MONSTER LAUT DARI INDONESIA

Koelakan (coelacanth) mungkin adalah salah satu ikan teraneh sekaligus terseram yg pernah ada. Bagaimana tidak, ikan ini memiliki tubuh besar (panjang rata-ratanya 2 m), gigi tajam yg penuh taring, serta tubuh bersisik kasar. Ia memiliki 4 pasang sirip mirip kaki di sisi tubuhnya & bentuknya sepintas mirip arwana (bukan Tukul Arwana). Sebagai tambahan,ikan ini memiliki sirip ekor yg kecil di ujung ekornya. Ikan ini bergerak dengan cara yg sedikit lebih aneh dibanding ikan lainnya. Ia menggerakkan sirip di sisi tubuhnya seperti cara bergerak hewan melata di darat. Jika sirip kanan depannya maju, maka sirip kiri depannya bergerak mundur. Itulah sebabnya ia hanya bisa bergerak lambat di dasar laut

Koelakan hidup di gua-gua bawah laut. Pada siang hari, mereka tidur bersama dan baru keluar mencari makan pada malam hari. Satu hal yg unik adalah, meskipun mereka tidur bersama pada siang hari, mereka hanya berburu sendirian di malam hari. Dan lagi, walaupun bertubuh besar & bertampang menyeramkan, ikan ini bukanlah predator yg ganas. Makanannya hanyalah zooplankton serta hewan dasar laut yg lambat atau sekarat. Hal unik lainnya, ikan ini juga sering menjadi mangsa bagi ikan lain seperti kerapu atau hiu dasar laut, padahal penampilannya yg garang seharusnya membuat pemangsanya takut lebih dulu

Para ahli pertama kali mengetahui koelakan dari fosilnya yg berusia sekitar 360 juta tahun yg lalu, jauh lebih tua dari dinosaurus yg fosil tertuanya berumur 250 juta tahun. Koelakan diperkirakan sudah punah sejak 70 juta tahun yg lalu, bersamaan dengan punahnya dinosaurus. Itulah sebabnya para ahli begitu terkejut ketika ada seseorang yg berhasil menangkap ikan ini hidup-hidup pada tanggal 23 Desember 1938 di Kepulauan Komoro, dekat Afrika Selatan. Banyak argumen mengenai bagaimana ikan ini tidak ikut punah bersama dinosaurus. Salah satunya adalah karena ikan ini hidup di gua-gua bawah laut, ikan ini bisa bertahan saat terjadi kondisi 'kiamat' yg memusnahkan dinosaurus

Hal unik (kebanyakan make kata unik, lg kurang inspirasi..) sekaligus membanggakan lainnya adalah, ikan ini ternyata juga ada di Indonesia! Mulanya ada seorang pakar terumbu karang dari Kalifornia berjalan-jalan di pasar ikan di Sulawesi Utara. Ia curiga karena salah satu ikan yg dijual bentuknya tidak lazim. Ia pun melakukan wawancara dengan nelayan setempat & dengan bantuan LIPI, ia berhasil menangkap seekor ikan koelakan hidup-hidup pada September 1998 dengan alat pancing hiu laut dalam. Ikan itu diketahui memiliki panjang 1,24 m, berat 29 kg, & berkelamin betina

Walaupun terlihat istimewa, bagi nelayan Sulawesi Utara, ikan ini bukanlah ikan yg luar biasa. Mereka kadang-kadang tanpa sengaja menangkapnya ketika sedang melaut di daerah sekitar karang. Ikan ini biasa disebut sebagai Raja Laut. Para nelayan tidak begitu berminat dengan ikan ini karena jika dijual di pasar, harganya tidak tinggi & bisa laku lebih karena pembelinya tidak bisa membedakan koelakan dengan ikan kerapu. Kalau sudah begitu, nasib pembelinya yg sial karena jika ikan ini dimakan, orang yg memakannya bisa mencret gara-gara kandungan lemaknya yg begitu tinggi

Sejak ditemukan hidup-hidup oleh peneliti, harga koelakan di pasaran langsung melonjak tajam. Sejumlah orang dari luar datang karena berkeinginan untuk meneliti ikan ini. Sebagian lainnya datang untuk membeli ikan ini sebagai koleksi dengan harga jutaan rupiah. Karena saat itu zaman Krismon, wajar mata nelayan jadi ijo. Hal yg dikhawatirkan adalah jika ikan ini sampai menjadi barang selundupan seperti ketika ditemukan pertama kali oleh peneliti di Komoro. Satu-satunya harapan, semoga peraturan internasional bisa mengekang hal itu agar ikan ini tidak punah...




KEREN BANGET:matabelo...SEMOGA TETEP LESTARIiloveindonesia
johnny13 - 21/08/2011 03:03 AM
#50
Anjing Kintamani Bali
kaskus ID : johnny13
kategori : kekayaan alam flora dan fauna
Bentuk karya : Anjing Kintamani
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Anjing_Kintamani
Keterangan: Kintamani, anjing ras pertama Indonesia

Spoiler for gambar
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel


Spoiler for artikel

Anjing Kintamani adalah ras anjing yang berasal dari daerah pegunungan Kintamani, pulau Bali. Anjing yang memiliki sifat pemberani ini sudah lama mulai dibiakan sehingga dapat diakui oleh dunia internasional.

Secara fenotipe Anjing Kintamani mudah dikenal, dapat dibandingkan dengan jelas antara Anjing Kintamani dengan anjing-anjing lokal yang ada, ataupun anjing hasil persilangan antara ras yang sama maupun persilangan lainnya.

Standar fenotipe Anjing Kintamani meliputi ciri-ciri umum, sifat-sifat umum, tinggi badan hingga ke gumba, dasar pigmentasi kulit, bentuk kepala, telinga, mata, hidung, gigi, bentuk leher, bentuk badan, kaki dan ekor mempunyai kesamaan. Perbedaannya pada distribusi warna bulu dan ditetapkan pada tanggal 16 Oktober 1994. Standar ini dipakai sebagai acuan dasar pada setiap kontes anjing dan pameran Anjing Kintamani dan telah mendapat pengakuan PERKIN (Dharma.M.N. Dewa; PudjiRahardjo; Kertayadnya I.G, 1994.).

Standardisasi
Untuk memperoleh standar Anjing Kintamani diperlukan pengamatan dan penelitian yang terus menerus dan berkelanjutan. Gambaran sementara yang dapat dilihat dari keunggulan Anjing Kintamani dari hasil pengamatan lapangan dan hasil pemuliabiakan pada Anjing Kintamani yang berbulu putih spesifik dapat diuraikan sebagai berikut:
[sunting] Ciri-ciri umum

Anjing ini dapat digolongkan dalam kelompok anjing pekerja dengan ukuran sedang, memiliki keseimbangan tubuh dan proporsi tubuh yang baik dengan pertulangan kuat yang dibungkus oleh otot yang kuat, sebagai anjing pegunungan memiliki bulu yang panjang (moderat) dengan warna putih spesifik, hitam atau cokelat. Pengelompokan dalam sistem FCI, anjing Kintamani masuk dalam group V karena memiliki ciri-ciri anjing spitz dan tipe primitif seperti Chow Chow, Basenji, dan Samoyed.

Sifat-sifat umum
Anjing Kintamani memiliki sifat pemberani, tangkas, waspada dan curiga yang cukup tinggi. Merupakan anjing penjaga yang cukup handal, sebagai pengabdi yang baik terhadap pemiliknya, loyal terhadap seluruh keluarga pemilik dan tidak lupa pada pemilik atau perawatnya. Anjing Kintamani (Bali) suka menyerang anjing atau hewan lain yang memasuki wilayah kekuasaannya dan juga menggaruk-garuk tanah sebagai tempat perlindungan. Pergerakannya bebas, ringan dan lentur.

Bentuk kepala
Kepala bagian atas lebar dengan dahi dan pipi datar, moncong proporsional dan kuat terhadap ukuran bentuk kepala, rahang tampak kuat dan kompak, memiliki gigi-gigi kuat dengan gerakan gigi seperti menggunting, bibir berwama hitam atau cokelat tua. Telinganya tebal, kuat, berdiri berbentuk “V” terbalik dengan ujung agak membulat. Jarak antara kedua telinga cukup lebar, panjang telinga kurang lebih sama bila dibandingkan dengan jarak antara dasar dua telinga bagian dalam dengan sudut mata luar.

Mata berbentuk lonjong seperti buah almond dengan bola mata berwarna cokelat gelap dan bulu mata berwarna putih. Hidung berwarna hitam atau coklat tua dan warna hidung ini sering berubah karena penambahan umur dan musim.

Untuk mempercepat pengakuan dari Federasi Kinologi Internasional, dalam memenuhi persyaratan perlu upaya-upaya secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu upaya adalah meneliti hubungan antara stuktur dan profil DNA distribusi warna bulu putih spesifik secara genotip dengan fenotip warna bulu putih spesifik pada Anjing Kintamani.


Distribusi warna bulu pada Anjing Kintamani dapat dikelompokkan menjadi 4 macam yaitu:

Warna bulu putih sedikit kemerahan dengan warna coklat-kemerahan pada telinga, bulu di bagian belakang paha dan ujung ekornya.
Warna hitam mulus atau dengan dada putih sedikit.
Warna coklat muda atau cokiat tua dengan ujung moncong kehitaman, sering disebut oleh masyarakat sebagai warna Bang-bungkem.
Warna dasar coklat atau coklat muda dengan garis-garis warna kehitaman, yang oleh masyarakat disebut warna poleng atau anggrek.

Tinggi dan bentuk badan
Anjing Kintamani jantan mempunyai tinggi 45 cm sampai 55 cm dan anjing betina 40 cm sampai 45 cm. Dengan warna bulu kebanyakan berwarna putih spesifik (sedikit kemerahan) dengan warna merah kecoklatan (krem) pada ujung telinga, ekor dan bulu di belakang paha. Warna lainnya adalah hitam mulus dan cokelat dengan moncong berwarna hitam (bangbungkem), pigmentasi kulit, hidung, bibir kelopak mata, skrotum, anus dan telapak kaki berwarna hitam atau cokelat gelap.

Lehernya tampak anggun dengan panjang sedang, kuat dengan perototan yang kuat pula. Dada dalam dan lebar, punggung datar, panjangnya sedang dengan otot yang baik. Badan anjing betina relatif lebih panjang dari jantan. Anjing Kintamani (Bali) memiliki bulu krah (badong) panjang berbentuk kipas di daerah gumba, makin panjang bulu badong makin baik.

Kaki agak panjang, kuat dan lurus jika dilihat dan depan atau belakang. Tumit tanpa tajir, gerakan kaki ringan. Ekor memiliki bulu yang bersurai, posisinya tegak membentuk sudut 45 derajat atau sedikit melengkung tetapi tidak jatuh atau melingkar di atas pinggang atau jatuh ke samping. Makin panjang bulu ekor makin baik .


Spoiler for kintamaniku
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel
Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel



makin cinta sama ANJING KINTAMANI BALI

iloveindonesia iloveindonesia
Page 3 of 3 |  < 1 2 3
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kekayaan Alam/Flora & Fauna > Kekayaan Alam/Flora & Fauna - Artikel