Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
Total Views: 36797 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 13 of 13 | ‹ First  < 8 9 10 11 12 13

verditch - 09/02/2011 07:34 PM
#241

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Sabai nan Aluih

sumber : www.melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat daerah sumatra barat

Spoiler for part-2
Quote:
Melihat kedatangan Rajo Babanding bersama seorang pembantunya dari kejauhan, Rajo nan Panjang berpesan kepada para pengawalnya.

“Pengawal, aku peringatkan kalian! Jangan memandang remeh Rajo Babanding! Kalian bukanlah lawannya yang sebanding. Berhati-hatilah!” seru Rajo nan Panjang.

“Baik, Tuan!” jawab para pengawalnya.

Rajo Babanding dan pembantunya semakin mendekat ke arah Raja nan Panjang. Ketika saling berhadapan, mereka pun saling menggertak.

“Hai, Rajo Babanding! Rupanya kamu berani juga mengantarkan nyawamu kemari!” seru Rajo nan Panjang.

“Kita lihat saja nanti, siapa di antara kita yang akan mati terlebih dahulu,” kata Rajo Babanding dengan tenang.

“Ha... ha... ha... !!! Tentu saja kamulah yang akan mati, Babanding,” kata Rajo nan Panjang sambil tertawa terbahak-bahak.

“Majulah kalau berani!” tantang Rajo Babanding.

Mendengar tantangan itu, Palimo Banda Dalam tiba-tiba menyerang Rajo Babanding dengan sebuah pukulan keras. Rajo Babanding pun segera berkelik menghindari pukulan itu dengan gesitnya. Berkali-kali Palimo Banda Dalam menyerang, namun tak satu pun pukulannya yang menyentuh tubuh Rajo Babanding. Melihat pengawalnya yang mulai kelelahan, Rajo nan Panjang segera membantu. Rajo Banbanding pun menjadi marah karena dikeroyok. Jika semula hanya bertahan, kini ia berbalik menyerang. Dengan sebuah pukulan keras, ia menghantam lambung kanan Palimo Banda Dalam dan seketika itu pula Palimo Banda Dalam jatuh tersungkur di tanah. Namun tanpa diduganya, tiba-tiba Lampong Bertuah menyerangnya dari belakang.

“Awas, Tuan! Musuh datang dari belakang!” teriak Palimo Parang Tagok yang melihat Lampong Bertuah muncul dari balik semak-semak.

Rajo Babanding pun segera menghindar. Selamatlah ia dari serangan itu.

“Hai, Rajo nan Panjang! Rupanya kamu telah berbuat curang!” seru Rajo Babanding.

“Ha... ha... ha... !!! Kini saatnya kamu akan mati Babanding,” kata Rajo nan Panjang

Melihat tuannya dicurangi, Palimo Parang Tagok segera membantu tuannya. Pertarungan itu pun semakin seru. Kini, satu lawan satu. Rajo Babanding menghadapi Rajo nan Panjang, sedangkan Palimo Parang Tagok menghadapi Lampong Bertuah. Namun, pertarungan antara kedua orang pengawal tersebut tidak berlangsung lama. Keduanya jatuh terkapar di tanah dengan keris menancap di tubuh mereka karena mereka saling menikam.

Sementara itu, pertarungan antara Rajo Babanding dengan Rajo nan Panjang masih berlangsung seru. Keduanya silih berganti menyerang. Mulanya, Rajo Babanding hanya bertahan dan menghidar dari serangan-serangan Rajo nan Panjang. Pada saat yang tepat, ia berbalik menyerang dengan menyabetkan kerisnya ke ke arah Rajo nan Panjang. Rajo nan Panjang pun terluka dan terjatuh. Dengan sekuat tenaga, ia berteriak memberikan aba-aba kepada Rajo nan Kongkong yang masih bersembuyi di balik semak-semak.

“Hai, Nan Konkong! Tunggu apa lagi!”

Rajo Babanding pun sadar jika Rajo nan Panjang masih mempunyai seorang pengawal lagi. Namun, baru saja ia bersiap-siap memasang kuda-kuda, tiba-tiba sebuah peluru bersarang di dadanya. Ia pun jatuh tersungkur di tanah tak sadarkan diri. Rajo nan Kongkong pun segera keluar dari balik semak-semak setelah melihat Rajo Babanding tidak berdaya lagi terkena tembakannya.

Pada saat itu, kebetulan ada seorang gembala yang menyaksikan peristiwa itu. Ia pun segera memberitahukan peristiwa itu kepada Sabai nan Aluih. Betapa terkejutnya Sabai mendengar berita itu. Pesan dalam mimpinya benar-benar menjadi kenyataan. Ia pun segera mengajak adiknya yang baru saja datang dari bermain layang-layang untuk melihat keadaan ayah mereka.

“Hai, Mangkutak! Ayo kita ke Padang Panahunan. Ayah telah meninggal terkena tembakan di dadanya!” seru Sabai nan Aluih.

“Tidak, Kak! Kakak saja yang ke sana. Aku belum mau mati. Bukankah aku akan bertunangan?” kata Mangkutak tidak menghiraukan ajakan Sabai.

“Dasar, laki-laki pengecut!” seru Sabai.

Dengan perasaan kesal, Sabai nan Aluih segera naik rumah dan langsung masuk ke dalam kamar ayahnya untuk mengambil senapan. Kemudian ia berlari menuju ke Padang Panahunan. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Rajo nan Panjang bersama pengawalnya, Rajo nan Kongkong.

“Haaaiiii, mau ke mana kamu gadis cantik?”

“Hai, tua bangka yang tidak tahu malu! Apa yang telah kau lakukan terhadap ayahku?” tanya Sabai dengan muka memerah.

“Kau cantik sekali jika sedang marah,” goda Raja nan Panjang.

“Hai, tua bangka! Jawab pertanyaanku? Kau apakan ayahku?” Sabai kembali bertanya.

“Ha... ha... ha....!!! Tidak usah lagi kamu mencari ayahmu. Pak Tua itu telah pergi meninggalkanmu,” jawab Rajo nan Panjang.

“Apa maskudmu, tua bangka?” tanya Sabai.

“Ayahmu mati tertembak senapan itu,” jawab Rajo nan Panjang sambil menunjuk senapan yang dibawa Rajo nan Kongkong.

“Jadi, kau telah menembak ayahku. Bukankah ayahku tidak bersenjata? Dasar tua bangka curang!” hardik Sabai nan Aluih sambil mengarahkan senapannya ke dada saudagar kaya yang sombong itu.

Rajo nan Panjang dan pengawalnya itu kembali terbahak-bahak sambil mengejek Sabai nan Aluih.

“Ha... ha... ha... !!! Hai, gadis cantik! Senapan itu bukan mainan anak perempuan!”

Sabai nan Aluih yang tidak tahan lagi melihat perilaku Rajo nan Panjang itu langsung menarik pelatuk senapannya. Terdengarlah suara dentaman yang sangat keras. Seketika itu pula, Rajo nan Panjang terjatuh ke tanah, karena sebuah peluru menembus dadanya. Melihat tuannya tidak sadarkan diri, Rajo nan Kongkong pun langsung lari tunggang-langgang. Sementara Sabai nan Aluih segera menuju ke Padang Panahunan untuk melihat keadaan ayahnya. Sesampainya di tempat itu, ia mendapati ayahnya sudah tidak bernyawa lagi. Hatinya sangat sedih karena sang Ayah yang merupakan tumpuan hidup keluarganya telah pergi untuk selamanya. Tak berapa lama kemudian, ibu Sabai bersama beberapa orang warga lainnya tiba di tempat itu. Mereka pun segera membawa pulang jenazah ayah Sabai untuk dikuburkan.
verditch - 09/02/2011 07:57 PM
#242

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak

sumber : www.melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat daerah sumatra barat

Spoiler for part-1
Quote:
Alkisah, di sebuah kampung di daerah Sumatra Barat, hiduplah keluarga Pak Buyung. Ia tinggal di sebuah gubuk di pinggir laut bersama istri dan seorang anaknya yang masih kecil bernama Indra. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Pak Buyung bersama istrinya mengumpulkan hasil-hasil hutan dan menangkap ikan di laut. Setiap pagi mereka pergi ke hutan di Bukit Junjung Sirih untuk mencari manau, rotan, dan damar untuk dijual ke pasar. Jika musim ikan tiba, mereka pergi ke laut menangkap ikan dengan menggunakan pancing, bubu ataupun jala.

Ketika sudah berumur sepuluh tahun, Indra sering membantu kedua orangtuanya ke hutan maupun ke laut. Betapa senang hati Pak Buyung dan istrinya mempunyai anak yang rajin seperti Indra. Namun, ada satu hal yang membuat mereka risau, karena si Indra memiliki suatu keanehan, yaitu selera makannya amatlah berlebihan. Dalam sekali makan, ia dapat menghabiskan nasi setengah bakul dengan lauk beberapa piring.

Pada suatu ketika, musim paceklik tiba. Baik hasil hutan maupun hasil laut sangat sulit diperoleh. Untuk itu, keluarga Pak Buyung harus berhemat terutama menahan selera makan. Mereka harus makan apa adanya. Jika tidak ada nasi, mereka makan ubi atau pun keladi (talas). Cukup lama musim paceklik berlangsung, sehingga mereka semakin kesulitan mendapatkan makanan. Hal itu rupanya membuat mereka lebih peduli pada diri sendiri daripada terhadap anaknya. Kesulitan mendapatkan makanan itu juga membuat mereka hampir berputus asa. Mereka sering bermalas-malasan pergi mencari rotan ke hutan dan mencari ikan ke laut.

Sudah beberapa hari keluarga Pak Buyung hanya makan ubi bakar. Tentu hal itu tidak mengenyangkan perut si Indra. Suatu hari, Indra menangis minta makanan kepada kedua orangtuanya.

“Ayah, carikan saya makanan! Saya sangat lapar,” keluh Indra.

“Hei, anak malas! Kalau kamu lapar carilah sendiri makanan ke hutan atau ke laut sana!” seru ayahnya dengan nada kesal.

“Pak! Bukankah anak kita masih kecil? Tentu dia belum bisa mencari makanan sendiri,‘ sahut sang Ibu.

“Iya, dia memang masih anak-anak. Tapi, dia yang paling banyak makannya,” bantah sang suami.

Mendengar bantahan suaminya itu, sang Istri pun diam. Ia kemudian membujuk Indra agar berangkat sendiri ke Bukit Junjung Sirih untuk mencari hasil-hasil hutan di Bukit. Indra pun menuruti nasehat ibunya. Sebelum berangkat ke hutan, Indra terlebih dahulu memberi makan seekor ayam piaraannya yang bernama Taduang. Si Taduang adalah seekor ayam yang pandai. Setiap kali tuannya (si Indra) pulang dari hutan, ia selalu berkokok menyambut kedatangan tuannya.

Menjelang siang, Indra pulang dari hutan tanpa membawa hasil. Keesokan harinya, ayahnya memerintahkannya pergi ke laut untuk memancing ikan. Saat Indra pergi ke laut, ayah dan ibunya hanya tidur-tiduran di gubuk. Tampaknya, mereka benar-benar sudah putus asa menghadapi kesulitan hidup. Keadaan demikian berlangsung selama sebulan, sehingga Indra merasa tubuhnya sangat lelah dan berniat untuk beristirahat beberapa hari.

Pada suatu hari, sepulang dari laut mencari ikan, Indra berkata kepada ayahnya:

“Ayah! Badanku terasa sangat letih. Bolehkah saya beristirahat untuk beberapa hari?” pinta Indra.

“Apa katamu? Dasar anak malas! Kamu tidak boleh beristirahat. Besok kamu harus tetap kembali ke laut mencari ikan,” ujar sang Ayah.

Oleh karena tidak ingin membatah perintah ayahnya, keesokan harinya Indra pergi ke laut mencari ikan. Ketika Indra berangkat ke laut, secara diam-diam ibunya juga berangkat ke laut. Tapi, ia menuju ke sebuah tanjung, agak jauh dari tempat Indra mencari ikan. Sementara ayahnya pergi ke hutan.

Menjelang siang, Pak Buyung kembali dari hutan dengan membawa seikat ijuk. Sesampainya di rumah, ia melihat istrinya sedang membersihkan pensi (sejenis kerang berukuran kecil).

“Sedang apa, Bu?” tanya Pak Buyung kepada istrinya.

“Sedang membersihkan pensi, Pak! Tadi ketika hendak mencari ikan di laut, aku melihat banyak warga dari kampung tetangga sedang mencari pensi. Akhirnya aku pun ikut mencari pensi bersama mereka,” jawab istrinya.

“Bagaimana cara memasaknya? Bukankah Ibu belum pernah memasak pensi sebelumnya? ” tanya Pak Buyung.

“Tenang, Pak! Kata seorang warga dari kampung tetangga, daging pensi enak jika dimasak pangek[1],” jelas istrinya.

“Wah, kalau begitu, kita makan enak siang ini,” ucap Pak Buyung sambil mengusap-usap perutnya yang sudah keroncongan.

Setelah membersihkan pensi itu, sang Istri pun segera membuatkan bumbu dan memasaknya. Tak lama kemudian, aroma masakan pangek pun tercium oleh Pak Buyung.

“Wah, harum sekali aromanya. Istriku memang pintar memasak,” puji Pak Buyung seraya mendekati istrinya yang sedang masak di dapur.

“Bu, apakah pangek ini cukup kita makan bertiga?” tanya Pak Buyung.

“Tentu saja cukup,” jawab istrinya.

“Apakah Ibu sudah lupa kalau si Indra makannya banyak? Pangek ini pasti tidak cukup dia makan sendiri,” kata Pak Buyung.

‘Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya istrinya.

“Bagaimana kalau kita makan diam-diam, selagi si Indra masih berada di laut,” saran Pak Buyung.

“Tapi, sebentar lagi dia pulang,” kata istrinya.

“Kalau dia pulang, pasti akan ketahuan.,” ucap Pak Buyung.

“Bagaimana Bapak bisa mengetahuinya!” tanya istrinya.

“Jika si Taduang berkokok, berarti si Indra telah pulang,” jawab Pak Buyung.

Sang Istri pun mengangguk-angguk mendengar jawaban suaminya. Keduanya pun menyantap pangek itu dengan lahapnya. Namun, baru makan beberapa suap, tiba-tiba ayam peliharaan Indra berkokok. Mendengar kokok ayam itu, kedua suami-istri itu segera mencuci tangan, lalu membereskan makanan dan menyembunyikannya di bawah tempat tidur. Ketika Indra masuk ke gubuk, ia melihat kedua orangtuanya sedang duduk-duduk bersantai. Kedua orangtuanya terlihat tenang, seakan-akan tidak ada sesuatu yang terjadi.

“Hei, Indra! Mana ikan yang kamu peroleh?” tanya ayahnya.

“Maaf, Ayah! Hari ini aku tidak memperoleh ikan?” jawab Indra dengan wajah kusut.

“Kenapa kamu pulang kalau belum memperoleh ikan?” tanya ayahnya.

“Maaf, Ayah! Saya sangat letih dan lapar,” jawab Indra.

“Hei, apa yang bisa kamu makan kalau tidak memperoleh ikan?” sang Ayah kembali bertanya.

“Saya sudah berusaha, Ayah. Tapi belum berhasil,” jawab Indra.

“Ayah, Ibu! Adakah sesuatu yang bisa saya makan. Sekedar pengganjal perut,” pinta Indra kepada kedua orangtuanya.

“Tidak! Hari ini tidak ada makanan untuk anak pemalas,” kata ayahnya.

“Tapi, Ayah! Saya lapar sekali,” keluh Indra sambil memegang perutnya.

“Baiklah! Kamu boleh makan, tapi kamu harus mencuci ijuk ini sampai bersih,” sahut ibunya sambil menyerahkan ijuk yang tadi dibawa suaminya dari hutan.

Indra pun segera pergi ke laut mencuci ijuk itu karena ingin mendapatkan makanan dari kedua orangtuanya. Ketika Indra berangkat ke laut, kedua orangtuanya kembali melanjutkan acara makan mereka.

“Wah, meskipun baru kali ini Ibu memasak pangek pensi, tapi rasanya lezat sekali,” sanjung Pak Buyung kepada istrinya.

Sang Istri tersenyum mendengar sanjungan suaminya. Kemudian sepasang suami istri itu makan pangek dengan lahapnya. Mereka baru berhenti makan setelah perut mereka benar-benar sudah penuh. Selesai makan, mereka kembali menyembunyikan makanan yang masih tersisa di bawah tempat tidur. Tidak beberapa lama kemudian, si Taduang terdengar berkokok, pertanda tuannya telah kembali dari laut. Ketika masuk ke dalam gubuk, Indra melihat kedua orangtuanya masih sedang duduk bersantai.

“Bagaimana? Apakah ijuk itu sudah bersih kamu cuci?” tanya ibunya.

“Sudah, Bu,” jawab Indra sambil meletakkan ijuk itu di depan ibunya.

“Hah! Kenapa masih hitam begini? Kamu harus mencucinya hingga berwarna putih,” ujar ibunya.

“Tapi, Bu! Aku sudah berusaha mencucinya berkali-kali, bahkan aku menggosoknya dengan campuran pasir, tapi masih tetap berwarna hitam,” sanggah Indra.

“Ah, alasan saja! Cuci lagi ijuk itu ke laut!” seru ayahnya.

Dengan langkah sempoyongan, Indra pun kembali ke laut. Sesampainya di laut, ia terus berusaha mencuci dan menggosok ijuk itu hingga berkali-kali, tetapi tetap saja berwarna hitam. Rupanya Indra yang masih anak-anak tidak mengetahui jika ijuk itu memang pada dasarnya berwarna hitam. Meskipun ijuk itu berkali-kali dicuci dan digosok, tentu tidak akan pernah berwarna putih.

Bersambung ke Part-2
verditch - 09/02/2011 07:58 PM
#243

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak

sumber : www.melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat daerah sumatra barat

Spoiler for part-2
Quote:
Menjelang senja, Indra kembali ke gubuknya. Ketika masuk ke ruang tengah gubuknya, ia tidak lagi melihat kedua orangtuanya duduk-duduk. Dengan pelan-pelan, ia melangkah menuju ke ruang dapur. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kedua orangtuanya sedang tertidur pulas di ruang dapur. Di sekeliling mereka berserakan piring makan, bakul nasi, dan panci pangek pensi yang telah kosong. Hanya kuah dengan beberapa cuil daging pensi yang tersisa.

Alangkah sedihnya hati Indra menyaksikan semua itu. Kini ia menyadari bahwa kedua orangtuanya telah menipu dan membohonginya. Namun, sebagai anak yang berbakti, dia tidak ingin marah kepada mereka yang telah melahirkannya. Ia pun berjalan keluar dari gubuknya sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya. Saat berada di luar gubuk, ia langsung menangkap ayam kesayangannya, si Taduang. Kemudian ia duduk di atas batu di samping gubuknya sambil mengusab-usap bulu si Taduang.

“Taduang! Rupanya Ayah dan Ibuku telah menipuku. Untuk apalagi aku tinggal bersama mereka di sini, kalau mereka sudah tidak menyayangiku lagi,” kata Indra kepada ayamnya.

Mendengar pernyataan Indra, ayam itu pun berkokok berkali-kali, pertanda bahwa ia mengerti perasaan tuannya. Si Taduang kemudian mengepak-ngepakkan sayapnya. Indra pun mengerti bahwa ayam kesayangannya itu akan mengajaknya pergi meninggalkan kampung itu. Dengan cepat, Indra pun segera berpegangan pada kaki si Taduang. Beberapa saat kemudian, si Taduang terbang ke udara, sementara Indra tetap berpegangan pada kakinya. Saat tubuh Indra terangkat, batu tempat Indra duduk itu juga ikut terangkat. Anehnya, semakin tinggi mereka terbang, batu itu semakin membesar. Akhirnya, si Taduang pun sudah tidak kuat lagi membawa terbang si Indra bersama batu besar itu. Melihat hal itu, Indra pun segera menyentakkan kakinya, sehingga batu besar itu melesat menuju ke bumi dan menghantam salah satu bukit yang ada di sekitar lautan. Hantaman batu itu membentuk sebuah lubang memanjang. Dengan cepat, air laut pun mengalir ke arah lubang itu dan menembus bukit, sehingga membentuk aliran sungai.

Konon, itulah yang menjadi asal mula Sungai Batang Ombilin, yang bermuara ke daerah Riau. Semakin lama air laut itu semakin menyusut, sehingga lautan itu berubah menjadi Danau Singkarak yang hingga kini menjadi kebanggaan masyarakat Solok. Sementara Indra yang diterbangkan oleh ayam kesayangannya, si Taduang, hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
verditch - 12/02/2011 09:43 PM
#244

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Rambun Pamenan

sumber : www.melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat daerah sumatra barat

Spoiler for part-1

Quote:
Alkisah, di daerah Sumatra Barat, hiduplah seorang janda bernama Lindung Bulan bersama dua orang anak laki-lakinya. Anaknya yang sulung bernama Rendo Pinang, sedangkan yang bungsu bernama Rambun Pamenan. Lindung Bulan adalah seorang janda yang cantik nan rupawan. Kecantikannya terkenal hingga ke berbagai negeri. Sejak kematian suaminya, banyak pemuda maupun duda yang datang meminangnya, namun tak satu pun pinangan yang diterimanya. Ia lebih senang menjanda daripada kedua anaknya berayah tiri.

Suatu ketika, berita tentang kecantikan Lindung Bulan terdengar oleh Raja Angek Garang dari Negeri Terusan Cermin. Sesuai dengan namanya, Raja tersebut terkenal garang (kejam). Raja kejam itu ingin memperistri Lindung Bulan. Ia pun memerintahkan beberapa hulubalangnya yang dipimpin oleh Palimo Tadung untuk menjemput Lindung Bulan.

“Palimo Tadung! Jemput dan bawa Lindung Bulan kemari! Jika dia menolak dibawa dengan baik-baik, kamu culik saja dia!” perintah Raja Angek Garang.

“Daulat, Baginda! Perintah segera dilaksanakan!” jawab Palimo Tadung.

Usai berpamitan kepada Raja, berangkatlah Palimo Tadung bersama beberapa hulubalang untuk menjemput Lindung Bulan. Sesampainya di rumah Lindung Bulan, mereka menyampaikan pinangan Raja Angek Garang. Namun, Lindung Bulan tetap ingin hidup menjanda. Sesuai dengan titah Raja Angek, maka pada malam harinya, ketika Reno Pinang dan Rambun Pamenan sedang tertidur lelap, Palimo Tadung menculik Lindung Bulan dan membawanya ke istana Raja Angek Garang dengan menggunakan burak (semacam kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad ketika isra` mi`raj).

Sesampainya di istana, Raja Angek Garang memaksa Lindung Bulan agar mau menjadi permaisurinya. Lindung Bulan menolak, dan Raja Angek pun menjadi kesal dan marah.

“Dasar janda keras kepala!” bentak Raja Angek dengan wajah memerah.

“Pengawal! Bawa janda bodoh ini ke penjara bawa tanah!” titahnya.

Mendengar perintah itu, beberapa pengawal istana segera menyeret Lindung Bulan ke dalam penjara. Sebelum dimasukkan ke penjara, para pengawal tersebut mengikat kedua kaki Lindung Bulan dengan rantai besi.

Bertahun-tahun Lindung Bulan dikurung dalam penjara bawah tanah. Hidupnya sangat menderita dan merana. Ia jarang diberi makan dan minum, sehingga semakin hari badannya semakin kurus. Wajah cantiknya pun semakin hari semakin pudar.

Sementara itu, sejak ibu mereka diculik, Reno Pinang dan Rambun Pamenan diasuh dan dibesarkan oleh tetangganya. Rupanya, sang Tetangga menyaksikan peristiwa ketika Lindung Bulan diculik. Namun, ia tidak mengetahui akan dibawa ke mana Lindung Bulan oleh para penculik tersebut. Kini, Reno dan Rambun telah menjadi remaja. Sang Tetangga pun merasa bahwa tibalah saatnya ia harus menceritakan peristiwa yang telah menimpa ibu mereka. Reno dan Rambun sangat sedih mendengar cerita itu. Rambun berpikir bahwa ibunya masih hidup. Maka timbullah pikirannya ingin pergi mencari ibunya. Namun, ia bingung, karena tidak ada jejak atau pun petunjuk mengenai keberadaan ibunya.

Pada suatu hari, ketika sedang mencari balam (burung tekukur) di hutan, Rambun bertemu dengan seorang pemburu bernama Alang Bangkeh sedang beristirahat di bawah sebuah pohon rindang. Setelah berkenalan, Rambun menceritakan peristiwa yang dialami ibunya hingga ia berniat untuk pergi mencarinya. Mendengar cerita Rambun, Alang Bangkeh tiba-tiba tersentak kaget.

“Benarkah Lindung Bulan itu ibumu, Rambun?” tanya Alang Bangkeh.

“Benar, Paman! Apakah Paman pernah bertemu dengannya? Tolong katakan di mana sekarang ibuku!” desak Rambun.

“Maaf, Rambun! Paman tidak pernah bertemu dengan ibumu. Paman hanya pernah mendengar kabar bahwa ibumu, Lindung Bulan, sudah bertahun-tahun ditawan oleh Raja Angek Garang di Negeri Terusan Cermin,” jelas Alang Bangkeh.

“Dari mana Paman dengar kabar itu?” tanya Rambun penasaran.

“Paman sering berkelana menjelajahi berbagai negeri. Hampir setiap negeri yang Paman singgahi, Paman sering mendengar pembicaraan penduduk tentang Lindung Bulan yang ditawan di Negeri Terusan Cermin karena menolak pinangan Raja Angek Garang,” ungkap Alang Bangkeh.

“Apakah Paman tahu letak Negeri Terusan Cermin?” tanya Rambun.

“Maaf, Rimbun! Kebetulan Paman belum pernah ke negeri itu. Tapi, semua orang tahu bahwa Negeri Terusan Cermin berada di seberang hutan belantara. Hanya saja tidak ada orang yang tahu persis di seberang hutan belantara yang mana negeri itu berada, karena di negeri ini banyak sekali hutan belantara,” kata Alang Bangkeh.

Meski demikian, Rambun tetap bertekad ingin pergi mencari dan membebaskan ibunya. Sejak itu, ia sangat tekun belajar bela diri dan menuntut ilmu pengetahuan kepada beberapa guru silat dan orang pintar. Melihat tindakan Rambun itu, Reno pun selalu bertanya-tanya dalam hati. Oleh karena penasaran, ia pun bertanya kepada adiknya.

“Hai, Adikku! Untuk apa kamu lakukan semua itu?” tanya Reno.

Rambun kemudian bercerita kepada kakaknya tentang cerita Alang Bangkeh bahwa ibu mereka masih hidup dan ia berniat untuk pergi mencarinya. Berkali-kali Reno Pinang berusaha untuk membujuk adiknya agar mengurungkan niatnya, namun sang Adik tetap bersikukuh hendak pergi mencari ibunya. Ibu asuhnya pernah berkata bahwa setiap cita-cita yang luhur, bagaimanapun sulitnya, akan dapat diraih dengan kerja keras dan sungguh-sungguh.

“Memang Adik masih muda, tapi Adik bisa menjaga diri. Adik telah belajar ilmu silat dan ilmu pengetahuan kepada banyak guru silat dan orang pintar. Jadi, Kakak tidak usah mencemaskan Adik,” ujar Rambun.

“Baiklah, kalau itu keinginanmu. Doa Kakak menyertai perjalananmu. Semoga kamu berhasil menemukan ibu,” ucap sang Kakak.

Setelah mempersiapkan segala keperluannya, berangkatlah Rambun untuk pergi mencari Negeri Terusan Cermin. Ia berjalan seorang diri keluar masuk hutan belantara, menaiki dan menuruni gunung. Semakin jauh ia berjalan, bekalnya pun semakin berkurang. Suatu hari, Rambun jatuh sakit di tengah hutan belantara, karena kelaparan dan kelelahan. Namun, berkat doa sang Kakak, ia pun sembuh. Rupanya, sang Kakak mengirimkan ramuan penangkal lapar berupa sebungkus nasi dan sebutir telur melalui mimpi Rambun. Peristiwa ajaib itu berlangsung beberapa kali sampai Rambun bertemu dengan seorang petani ladang di tepi hutan.

Rambun kemudian menumpang di rumah petani itu untuk memulihkan badannya yang sangat letih setelah melewati beberapa hutan belantara. Sebagai balas jasa, Rambun membantu petani itu bekerja di ladang. Ia bekerja sangat rajin dan tekun, sehingga petani itu sangat kagum kepadanya. Suatu malam, ketika mereka sedang duduk-duduk di dekat api unggun sambil membakar ubi, petani itu bertanya kepada Rambun.

“Apa gerangan yang membawamu sampai ke daerah ini, Rambun?” tanya si pemilik ladang.

Rambun pun menceritakan asal usul dan tujuannya berkelana. Mendengar cerita Rambun, pemilik ladang itu memberitahu bahwa Rambun telah menempuh hutan yang salah. Seharusnya ia melewati hutan sebelah barat. Akhirnya, Rambun pun memutuskan untuk tinggal beberapa lama untuk membantu si pemilik ladang. Setelah memanen tanaman ubi dan jagungnya, barulah ia berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum Rambun berangkat, pemilik ladang itu memberinya sebuah tongkat.

“Bawalah tongkat ini! Semoga dapat berguna dalam perjalananmu nanti. Tongkat ini namanya Manau Sungsang,” kata si pemilik ladang seraya menyerahkan tongkat itu kepada Rambun.

Setelah menerima tongkat itu, berangkatlah Rambun menelusuri hutan sebelah barat. Ketika menelusuri hutan itu, tiba-tiba ia melihat seorang perimba (pencari nafkah di hutan) sedang dililit seekor ular besar. Tanpa berpikir panjang, Rambun segera memukul kepala ular itu dengan tongkatnya sehingga lilitannya lepas dan ular itu pun mati seketika.

“Terima kasih, Anak Muda! Engkau telah menyelamatkan nyawaku. Kalau boleh aku tahu, engkau siapa dan dari mana asal usulmu?” tanya perimba itu.

Rambun pun menceritakan kisah perjalanannya dari awal hingga ia berada di tempat itu. Mendengar cerita tersebut, perimba itu pun mengerti maksud dan tujuan Rambun berkelana.

“Karena engkau telah menolong Paman, maka Paman akan mengantarmu ke Negeri Terusan Cermin agar engkau cepat sampai di sana,” ujar perimba itu.

“Apa maksud, Paman? Bukankah negeri itu masih sangat jauh dari tempat sini?” tanya Rambun.

Sambil tersenyum, perimba itu menyuruh Rambun untuk memejamkan mata sejenak. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Rambun merasa tubuhnya melayang-layang di udara. Setelah membuka matanya, barulah ia menyadari bahwa perimba itu menerbangkan dirinya menuju ke Negeri Terusan Cermin. Perimba itu terbang melesat bagaikan burung garuda. Perjalanan yang cukup jauh tersebut mereka tempuh dalam waktu yang singkat. Sesampainya di Negeri Terusan Cermin, sang Perimba menurunkan Rambun di tepi sebuah dusun.

“Maaf, Rambun! Paman hanya bisa mengantarmu sampai di sini. Carilah ibumu ke istana Raja Angek Garang!” seru perimba itu seraya kembali terbang menuju ke hutan belantara.

Bersambung ke Part-2
verditch - 12/02/2011 09:44 PM
#245

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Rambun Pamenan

sumber : www.melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat daerah sumatra barat

Spoiler for part-2
Quote:
...Ketika tiba di dusun itu, Rambun tiba-tiba merasa sangat lapar. Ia pun mendatangi sebuah lepau (kedai nasi). Lepau itu terlihat sepi. Yang terlihat hanya seorang wanita, si pemilik lepau, sedang bernyanyi menunggu pembeli.

“Permisi, Bu! Saya sangat lapar, tetapi saya tidak mempunyai uang. Berilah saya pekerjaan apa saja untuk membayar nasi,” kata Rambun mengiba.

Oleh karena iba, pemilik lepau itu memberikan makanan kepada Rambun dengan cuma-cuma. Untuk membalas kebaikan wanita itu, Rambun pun bekerja di lepau itu. Ia menyediakan kayu bakar dan memperbaiki bagian-bagian lepau yang sudah rusak.

Suatu hari, Rambun bercerita kepada wanita itu tentang maksud dan tujuannya berkelana ke Negeri Terusan Cermin. Si pemilik lepau pun bercerita bahwa puluhan tahun yang lalu Raja Angek Garang menyekap ibu Rambun, Lindung Bulan, di penjara istana. Mendengar cerita wanita itu, Rambun semakin tidak sabar ingin membebaskan ibunya. Ia pun mulai mengatur siasat.

Suatu ketika, Rambun berjalan-jalan ke kota kerajaan Negeri Terusan Cermin untuk mempelajari seluk beluk dan keadaan istana. Keesokan harinya, ia pun berpamitan kepada si pemilik lepau. Sebelum Rambun berangkat ke istana, si pemilik lepau memberinya pakaian untuk menggantikan mengganti bajunya yang sudah usang dan robek.

Sesampainya di istana, Rambun melihat tujuh orang hulubalang sedang berjaga-jaga di depan gerbang istana. Ia pun menghampiri salah seorang hulubalang.

“Permisi, Tuan! Bolehkah saya masuk ke dalam istana?” kata Rambun.

“Hai, Anak Kecil! Siapa kamu dan untuk apa kemari?” tanya salah seorang hulubalang.

“Saya ingin membebaskan ibu saya yang ditawan Raja Angek Garang sejak puluhan tahun yang lalu,” jawab Rambun.

Hulubalang itu tertawa terbahak-bahak, lalu memanggil teman-temannya yang lain.

“Hai, teman-teman! Lihat, anak kecil ini mau membuat masalah!”

Keenam hulubalang yang lainnya itu segera menghampiri Rambun. Tiba-tiba salah seorang dari mereka mengangkat tubuh Rambun dan menimang-nimangnya.

“Ayo, teman-teman! Kita bermain lempar-tangkap. Tangkaplah anak ini!” seru hulubalang itu seraya melemparkan tubuh Rambun kepada temannya yang lain.

Setelah para hulubalang itu letih melemparkan tubuh Rambun ke sana kemari, salah seorang dari mereka kemudian melemparkan tubuh Rambun ke tanah lalu menendanginya secara bergantian. Rambun pun tidak sabar melihat perlakuan para hulubalang itu terhadap dirinya. Sambil menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya, Rambun memukulkan tongkat Manau Sungsangnya ke kepala salah seorang hulubalang. Hulubalang itu pun langsung tewas seketika. Melihat temanya terkapar tidak berdaya, keenam hulubalang yang lainnya lari tunggang langgang masuk ke dalam istana untuk melaporkan peristiwa itu kepada Palimo Tadung.

Tidak berapa lama, datanglah Palimo Tadung bersama beberapa hulubulang. Baru saja ia akan menghunus pedangnya, Rambun mendahului memukulkan tongkat saktinya ke kepalanya hingga tewas tak berdaya. Para hulubalang yang menyaksikan peristiwa itu segera melapor kepada Raja Angek Garang. Mendengar laporan itu, Raja Angek Garang langsung naik pitam.

“Dasar hulubalang tidak becus! Menghadapi anak kecil saja kalian tidak sanggup!” bentak sang Raja.

“Ampun, Baginda! Anak itu memiliki tongkat sakti,” sahut seorang hulubalang.

Tanpa berkata apa-apa, tiba-tiba saja Raja Angek Garang menghunus pedangnya lalu menusukkannya ke perut hulubalang itu hingga tewas. Dengan pedang terhunus, ia segera menemui Rambun yang sudah berdiri menunggu di depan istana. Raja Angek Garang pun langsung menyabetkan pedangnya berkali-kali ke arah Rambun. Namun, dengan gesit dan lincah, Rambun dapat menghindari serangan Raja Angek Garang. Pada saat yang tepat, Rambun memukulkan tongkatnya ke kepala Raja kejam itu. Tapi, pukulan Rambun masih dapat ditangkis oleh Raja Angek dengan pedangnya.

“Hai, bocah tengik! Kamu tidak akan sanggup mengalahkanku. Pedangku lebih sakti daripada tongkatmu. Ha... ha... ha...!” seru Raja Angek Garang sambil tertawa terbahak-bahak.

Rambun pun mengerti bahwa kesaktian Raja Angek terletak pada pedangnya. Maka, ketika Raja Angek mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, dengan secepat kilat, Rambun melompat dan memukul pedang itu. Pedang itu pun terlepas dari genggaman Raja Angek. Pada saat itulah, Rambun segera memukul kepala Raja Angek Garang hingga jatuh dan tewas seketika. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu bersorak gembira, karena Raja kejam itu telah mati.

Setelah itu, Rambun pun memerintahkan para hulubalang untuk membebaskan semua tawanan. Ia pun masuk ke dalam penjara mengikuti para hulubalang untuk mencari ibunya. Ia pun meminta kepada salah seorang penjaga penjara untuk menunjukkan tempat ibunya disekap. Tak berapa lama, ia pun melihat ibunya dalam keadaan menyedihkan. Kaki ibunya terikat rantai besi. Badannya sangat kurus dan matanya cekung. Dengan perasaan haru, Rambun pun segera memeluk ibunya sambil menangis.

“Ibu...! Ini aku Rambun Pamenan, anak Ibu! Anak bungsu Ibu yang Ibu tinggalkan ketika masih kecil,” kata Rambun.

“Anakku! Maafkan Ibu, Nak!” ucap Lindung Bulan dengan suara serak.

Setelah itu, rakyat Negeri Terusan Cermin meminta kepada Rambun untuk menjadi raja menggantikan Raja Angek Garang yang kejam itu. Namun, Rambun tidak ingin menjadi raja di negeri asing. Ia pun mengajak ibunya untuk kembali ke kampung halamannya. Akhirnya, Rambun pun berkumpul kembali bersama ibu dan kakaknya, Reno Pinang.
punyaubay - 12/02/2011 11:23 PM
#246

Kaskus ID : punyaubay

Kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

Bentuk karya : Cerita rakyat Jawa timur berjudul Legenda Suku Tengger

Sumber : http://infosenijatim.blogspot.com/p/info-seni-budaya-jawa-timur.html

Keterangan : Cerita Rakyat dari jawa timur

Spoiler for Suku Tengger

pada sekitar tahun 1115 Masehi atau 1037 Saka, hiduplah di sebuah negeri bernama Kediri seorang Resi Brahmana sakti bernama Murti Kundawa. Sang Resi selain sakti juga memiliki pusaka yang diberi nama Kyai Gliyeng. Karena kesaktiannyalah Resi Murti Kundawa diangkat menjadi Senopati kerajaan dan bergelar Resi Kandang Dewa.

Atas kanugrahan Yang Maha Kuasa Resi Kandang Dewa dikaruniahi empat orang putra-putri. Masing-masing adalah Jaka Lajang, Dewi Amisani, Jaka Seger, dan Dani Saka. Tetapi dari keempat putra-putri beliau hanya Jaka Seger yang mewarisi kesaktian Sang Maharesi.

Pada masa kejayaan Kediri itulah terdapat sebuah kadipaten bernama Wengker. Konon Wengker ini sekarang menjadi Ponorogo. Kadipaten Wengker dipimpin oleh seorang Adipati bernama Suragata. Adipati Suragata memiliki putri cantik jelita yang diberi nama Retno Wulan. Sayangnya putri adipati terserang penyakit yang seolah tidak bisa disembuhkan. Entah sudah berapa tabib, dukun, orang pintar dari seluruh penjuru negeri sudah didatangkan Sang Adipati untuk mengobati putrinya. Tetapi belum satupun menunjukkan tanda-tanda kesembuhan sang putri.

Hingga pada suatu hari di bulan Kartika Adipati Suragata mengadakan sayembara. Yang isinya barangsiapa sanggub menyembuhkan sang putri, maka kalau laki-laki akan disandingkan dengan Dewi Retno Wulan. Sebaliknya kalau perempuan akan diangkat anak dan menjadi saudara sang putri. Berita itu sengaja disebarkan ke mana-mana dari pelosok perdesaan hingga pegunungan, dari pasar-pasar hingga jalanan besar.

Hingga akhirnya berita itu sampai ke telinga Jaka Seger yang segera minta izin kepada ayahandanya untuk berangkat mengikuti sayembara. Resi Kandang Dewa membekali Jaka Seger dengan pusaka andalannya Kyai Gliyeng disertai doa restu agar Jaka Seger bisa melaksanakan tugas yang diembannya.

Singkat cerita setelah menghadap Adipati Suragata, Jaka Seger segera melaksanakan upacara permohonan dan segera menancapkan Kyai Gliyeng di tengah aloon-aloon Wengker. Dalam semedinya Jaka Seger merasa didatangi Pukulun Btara Brahma yang memerintahkan Jaka Seger agar memetik buah delima. Buah itulah yang akan menyembuhkan penyakit sang putri Dewi Retno Wulan.

Terjaga dari puja semedi Jaka Seger segera mencari buah delima dan memberikan kepada Dewi Retno Wulan. Ajaib putri adipati Suragata sembuh seketika. Sebagai wujud syukur sekaligus hadiah bagi pemenang akhirnya Sang Adipati menikahkan Dewi Retno Wulan yang sudah diubah namanya menjadi Dewi Lara Anteng dan Jaka Seger. Perubahan nama inipun atas petunjuk dewata yang diterima Jaka Seger dalam puja semedi. Kesembuhan Lara Anteng disambut sukacita seluruh rakyat kadipaten Wengker. Sebagai wujud syukur akhirnya Sang Adipati Suragata melaksanakan upacara selametan karo tepat pada tanggal 15 bulan Pusa. Berawal dari ucapan Adipati itulah akhirnya sedulur Tengger melakukan tradisi upacara Karo sampai sekarang.

Rombongan pengantin Lara Anteng dan Jaka Seger dari Kediri diiringi prajurit pilihan dan para penari Sodor putra-putri berjumlah duabelas orang yang masing-masing dibekali sebatang bambu berisi berbagai biji palawija, sedangkan ujung bambu ditutup dengan sabut kelapa/ sepet. Sementara itu di kadipaten Wengker membuat sesajen berupa takir janur (pucuk daun kelapa), gayung bathok, pengaron (alat masak dari tanah liat), dan sesajen lain.

Upacara pengantin di atas disebut tawang walagara atau tawang padang. Sedangkan tarian yang dilakukan oleh pihak pengantin pria disebut sodoran. Selanjutnya kewajiban kedua mempelai beserta keluarganya untuk saling mengunjungi atau dederek yang sampai sekarang diwujudkan dengan saling mengunjungi antar keluarga, kerabat, tetangga, teman dan disertai acara makan minum sebagai bentuk penghormatan kepada yang mengunjungi. Nama Lara Anteng dan Jaka Seger itulah yang akhirnya diabadikan menjadi nama suku yang diduga keturunan keduanya dan dikenal dengan sebutan suku Tengger.
punyaubay - 12/02/2011 11:29 PM
#247

Kaskus ID : punyaubay

Kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

Bentuk karya : Cerita rakyat Jawa timur berjudul Legenda Gunung Semeru

Sumber : http://infosenijatim.blogspot.com/p/info-seni-budaya-jawa-timur.html

Keterangan : Cerita Rakyat dari jawa timur

Spoiler for Legenda Gunung Semeru

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuno abad 15, Pulau Jawa pada suatu saat mengambang di lautan luas, dipermainkan ombak kesana-kemari. Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.

Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman. Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau tetapi masih tetap miring, sehingga Mereka memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut. Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa.

Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah para dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung diantara bumi (manusia) dan Kayangan. Kalau manusia ingin mendengar suara dewa mereka harus semedi di puncak Gunung Meru. Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewa-Dewa atau mahluk halus. Selanjutnya daerah bergunung-gunung masih dipakai oleh manusia Jawa sebagai tempat semedi untuk mendengar suara gaib. Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Orang naik sampai puncak Mahameru ada yang bertujuan untuk mendengar suara-suara gaib. Selain itu juga ada yang memohon agar diberi umur yang panjang. Bagaimanapun alasan orang naik ke puncak Mahameru, kebanyakan orang ditakutkan oleh Mahkluk halus yang mendiami daerah keliling gunungnya. Roh halus tersebut biasanya adalah Roh Leluhur yang mendiami tempat seperti hutan, bukit, pohon serta danau.

Roh leluhur biasanya bertujuan menjaga macam-macam tempat dan harus dihormati. Para pendaki yang menginap di danau Ranu Kumbolo sering melihat Mahkluk halus penunggu Ranu Kumbolo. Tengah malam ada cahaya berwarna orange di tengah danaunya dan tiba-tiba berubah wujud menjadi sesosok hantu wanita. Biasanya hanya orang yang punya kekuatan mistis dia akan melihat Mahkluk halus dan dapat bicara dengan Mahkluk Halus. Terserah orang percaya pada Mahkluk Halus atau tidak tetapi banyak orang Jawa yang percaya bahwa daerah Bromo, Tengger, Semeru banyak didiami oleh Mahkluk Halus.( Sumber: TamanNasional Bromo Tengger Semeru )
hanansuwardheni - 06/05/2011 01:31 PM
#248

Kaskus ID : hanansuwardheni

Kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

Bentuk karya : Cerita rakyat Kalimantan Barat berjudul Kisah TanNunggal serta Bujang Nadi Dare Nandung

Sumber: http://sambas05.blogspot.com/2009_07_01_archive.html

Keterangan : cerita rakyat asal Kalimantan Barat


Spoiler for cerita bujangnadi darenandung
Quote:
Pada zaman dahulu ketika keturunan Sultan sedang pergi berburu ke hutan, ketika sedang asik berburu tetapi bukan buruan yang didapatkan, tiba-tiba rombongan dikejutkan dengan tangisan suara bayi. Semua rombongan berpikir” di hutan belantara seperti ini dari mana asal suara tangisan bayi tersebut” ujar keturunan Sultan tersebut. Keturunan Sultan tersebut langsung memberikan perintah kepada seluruh prajurit yang ikut berburu untuk mencari dari mana suara bayi berasal. Setelah sekian lama mencari ternyata suara bayi tersebut berasal dari rumpun bambu, prajurit langsung diperintah untuk menebang pohon bambu tersebut, tanpa di duga dan di sangka semua rombongan di kejutkan dengan kehadiran seorang bayi yang berasal dari balik rumpun bambu. Tanpa pikir panjang, di dampingi dengan perasaan panik keturunan Sultan yang memimpin kegiatan berburu langsung memberikan perintah kepada seluruh anak buahnya untuk membawa bayi yang ditemukan di dalam bambu tersebut di bawa ke Istana untuk di temukan dengan Sultan Sambas. Secara kebetulan Sultan Sambas juga belum mempunyai anak, jadi bayi yang di temukan di hutan tadi langsung di angkat oleh Suultan Sambas untuk menjadi anaknya dan di beri nama TanNunggal. Mengapa bayi yang di temukan di dalam rumpun bambu tersebut diberi nama TanNunggal?????
Pada zaman dahulu setiap keturunan Sultan pasti di panggil dengan sebutan “Tan”, kebetulan bayi yang di temukan di dalam rumpun bambu tersebut memiliki gigi yang aneh kalau di bandingkan dengan manusia biasa atau manusia normal.
Dari rahang kiri sampai rahang kanan gigi bayi tersebut menyatu seolah-olah hanya memiliki satu gigi atau sering di sebut dengan gigi tunggal, padahal kalau manusia biasa giginya tidak mungkin menyatu atau terdiri dari beberapa buah gigi, sehingga bayi tersebut di beri nama TanNunggal.

TanNunggal dibesarkan di lingkungan istana Sambas layaknya seperti anak sendiri, sehingga TanNunggal menjadi tumbuh dewasa dengan gagah berani dan dipercaya akan menggantikan posisi bapaknya (sultan Sambas) memimpin kerajaan Sambas. Pada saat TanNunggal memerintah kerajaan Sambas dia menyunting rakyat biasa menjadi istrinya dan dikaruniai dua orang anak, yaitu laki-laki dan perempuan, yang laki-laki diberi nama Nadi dan yang perempuan diberi nama Nandong. Dalam kebiasaan masyarakat Sambas biasanya anak laki-laki sering dipanggil dengan sebutan Bujang dan yang perempuan dipanggil dengan sebutan Dare, maka jelaslah anak tersebut dipanggil dengan Bujang Nadi dan Dare Nandong. Pada saat TanNunggal berkuasa di Sambas, raja TanNunggal terkenal dengan raja yang kejam karena sifatnya yang sombong dengan rakyat. Dia memimpin dengan sewenang-wenang, apa yang ia katakan dan semua keinginannya harus dilaksanakan walaupun hal tersebut dibenci oleh rakyat Sambas, banyak hal yang terjadi sehingga TanNunggal dikatakan raja yang kejam dan zalim. Pernah pada suatu saat rakyat Sambas digemparkan dengan kejadian yang sangat mengejutkan sampai-sampai TanNunggal dikatakan manusia setengah siluman. Pada saat ia memimpin TanNuanggal paling senang makan sambal asam, pada hari itu tukang masak kerajaan atau tukang buat sambal asam terlambat membuat sambal asam, sedangkan jam makan siang TanNunggal sudah sebentar lagi, jadi si tukang masak tergesa-gesa untuk membuat sambal asam untuk TanNunggal sedangkan dia sudah tahu bahwa TanNunggal tidak mau memakan tanpa sambal asam bahkan TanNunggal bisa marah, begitu takut dimarah TanNunggal si tukang masak tergesa-gesa untuk membuat sambal asam sampai-sampai jari kelingkingnya teriris lalu darahnya menetes ke dalam sambal asam yang dibuat tadi, karena waktu yang sudah sangat singkat lalu si tukang masak itu langsung mengaduk darah yang menetes tadi ke dalam sambal asam yang ia buat karena ia berpikir tidak sempat lagi membuat sambal asam yang baru. Sambal asam tersebut langsung disajikan di meja makan TanNunggal, begitu memakan sambal tersebut TanNunggal sangat kenyamanan dia berpikir “Mengapa ya sambal asam pada hari ini sangat enak berbeda dengan hari biasanya”. Lalu TanNunggal bertanya kepada si tukang masak. Si tukang masak pun tidak berani untuk berbohong, ia menceritakan bahwa sambal asam itu sudah bercampur dengan darahnya sendiri. Semenjak kejadian itu TanNunggal memerintahkan kepada tukang masak setiap kali membuat sambal asam harus dicampur dengan darah manusia.

Kembali ke cerita Bujang Nadi dan Dare Nandong, pada masa hidupnya Bujang Nadi sangat suka memelihara ayam jago dan Dare Nandong paling suka untuk menenun kain sampai-sampai dia pernah mendapatkan hadiah berupa mesin tenun yang berlapis emas, tiap hari Bujang Nadi dan Dare Nandong hanya diperbolehkan bermain berdua saja melainkan hanya berteman dengan ayam jago dan alat tenun milik Dare Nandong karena TanNunggal sangat membenci mereka jika dia berteman dengan rakyat biasa.
Pada suatu kejadian, ketika Bujang Nadi dan Dare Nandong sedang asik barmain di taman istana tanpa sadar mereka di intip oleh seorang pengawal istana, tepat pada saat itu Bujang Nadi dan Dare Nandong sedang asik bercerita tentang perkawinan.
Bujang Nadi : dik, jika kamu ingin mencari pasangan hidup. Pasangan hidup seperti apa yang kamu idamkan?
Dare Nandong : adik sangat mengharapakan, nanti calon suami adik mirip dangan abang, baik itu dari segi gantengnya, gagahnya, dan sikapnya harus seperti abang. Sedangkan abang, istri seperti apa yang abang inginkan?
Bujang Nadi : abang juga berkehendak demikian, abang sangat mengharapkan istri abang nantinya seperti adik cantiknya dan tentunya hati istri abang juga seperti adik lembutnya.

Mendengar percakapan kakak adik tersebut pengawal kerajaan yang sedang mengintip tadi salah artikan, dia berpikir kakak adik tersebut ingin melakukan perkawinan sejarah, tanpa berpikir panjang sang pengawal kerajaan itu langsung melaporkan kejadian tersebut kepada TanNunggal. Raja TanNunggal sangat terkejut, dia sangat malu dengan kejadian itu, sebelum anaknya berbuat hal yang dapat merusak citra atau nama baik kerajaan Sambas bahkan dapat memberikan aib bagi kerajaan, padahal apa yang iya dengar semuanya salah belaka. TanNunggal langsung memerintahkan kepada prajuritnya untuk mengubur kedua anaknya yaitu Bujang Nadi dan Dare Nandong beserta dengan ayam jago milik Bujang Nadi dan mesin tenun milik Dare Nandong. Kemudaian kedua kakak adik tersebut di kubur hidup-hidup di daerah Sebedang Kecamatan Tebas tentunya masih di Kabupaten Sambas. Konon katanya masyarakat setempat sampai pada saat ini masih percaya bahwa kuburan tersebut sangat angker karena setiap malam jumat sering mendengar kokokan suara ayam jantan yang berasal dari kuburan Bujang Nadi dan Dare Nandong yang di kubur dalam satu makam, bahkan kadang-kadang terdengar suara orang sedang menenun kain yang juga berasal dari kuburan tersebut yang di duga milik Dare Nandong.

thinkerbelloon - 08/07/2011 01:13 PM
#249

Kaskus ID :: thinkerbelloon
Kategori :: Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Bentuk Karya :: Narasi
Keterangan :: Bikinan sendiri o

Spoiler for Rel dan Kereta

Rel dan Kereta

Aku pernah memimpikan untuk dapat hidup dalam tubuh orang lain. Memiliki apa yang mereka miliki, berpikir seperti apa yang mereka pikirkan, memandang dengan cara mereka memandang. Kadang aku marah pada Tuhan, aku membenci Tuhan, aku tidak ingin berbicara kepada nya. Kemarahanku membuat aku menjadi seorang pendengki.

Waktu, dia melaju seperti roda - roda kereta, berputar cepat menuju hari esok. Rel yang dia lalui berasal dari bongkah besi yang dipanaskan, dicetak dengan kuat, dan disusun dengan perhitungan.

Kerikil bukanlah masalah untuk kereta. Kerikil adalah tangan Tuhan yang membimbing kereta menjadi lebih tangguh. Tiap kerikil adalah panas bara yang membawa nya satu kali lebih cepat.

Bila rel yang ditopang nya telah lebih dulu menjadi arah bagi kereta lain, dia tetap dapat melaju pada arah yang berbeda untuk sampai di stasiun yang sama.

Kini, aku telah menemukan rel itu. Aku menemukan arah yang berbeda agar aku tetap dapat mencapai stasiun untuk keretaku.


__________________________________
Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
© by: thinkerbelloon
pleke.nyut - 27/10/2011 10:36 AM
#250

kaskus ID : pleke.nyut
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : Dongeng Sejarah Sunda
sumber : http://www.kasundaan.org/

Spoiler for cerita sejarah sunda

Kronologi Sejarah Sunda
by KAsep
Wednesday, 28 February 2007 13:59

Kata Sunda artinya Bagus/ Baik/ Putih/ Bersih/ Cemerlang, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan, orang Sunda diyakini memiliki etos/ watak/ karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Watak / karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (pandai/ cerdas) yang sudah ada sejak jaman Salaka Nagara tahun 150 sampai ke Sumedang Larang Abad ke- 17, telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan lebih dari 1000 tahun.

Sunda merupakan kebudayaan masyarakat yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa dengan berjalannya waktu telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara sampai ke Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang. Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang cinta damai, selama pemerintahannya tidak melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Keturunan Kerajaan Sunda telah melahirkan kerajaan- kerajaan besar di Nusantara diantaranya Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Banten, dll.

Kronologi Sejarah Kerajaan Sunda

Kerajaan Sunda (669-1579 M), menurut naskah Wangsakerta merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Caka Sunda (669 M). Menurut sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke-16, kerajaan ini merupakan suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat , dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah.

Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627), batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali ("Sungai Pamali", sekarang disebut sebagai Kali Brebes) dan Ci Serayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah.

Tome Pires (1513) dalam catatan perjalanannya, Suma Oriental (1513 – 1515), menyebutkan batas wilayah Kerajaan Sunda di sebelah timur sebagai berikut: “Sementara orang menegaskan bahwa kerajaan Sunda meliputi setengah pulau Jawa. Sebagian orang lainnya berkata bahwa Kerajaan Sunda mencakup sepertiga Pulau Jawa ditambah seperdelapannya lagi. Katanya, keliling Pulau Sunda tiga ratus legoa. Ujungnya adalah Ci Manuk.'

Raja-raja Kerajaan Sunda dari Salaka Nagara s/d Sumedang Larang

Di bawah ini deretan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta (waktu berkuasa dalam tahun Masehi):

Periode Salaka Nagara dan Taruma Nagara (Dewawarman - Linggawarman, 150 - 669).

0. Dewawarman I - VIII, 150 - 362
1. Jayasingawarman, 358-382
2. Dharmayawarman, 382-395
3. Purnawarman, 395-434
4. Wisnuwarman, 434-455
5. Indrawarman, 455-515
6. Candrawarman, 515-535
7. Suryawarman, 535-561
8. Kertawarman, 561-628
9. Sudhawarman, 628-639
10. Hariwangsawarman, 639-640
11. Nagajayawarman, 640-666
12. Linggawarman, 666-669

Periode Kerajaan Galuh - Pakuan - Pajajaran - Sumedang Larang

1. Tarusbawa (menantu Linggawarman, 669 - 723)
2. Harisdarma, atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa, 723 - 732)
3. Tamperan Barmawijaya (732 - 739)
4. Rakeyan Banga (739 - 766)
5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 - 783)
6. Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 - 795)
7. Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Gilingwesi, 795 - 819)
8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 - 891)
9. Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 - 895)
10. Windusakti Prabu Déwageng (895 - 913)
11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 - 916)
12. Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 - 942)
13. Atmayadarma Hariwangsa (942 - 954)
14. Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 - 964)
15. Munding Ganawirya (964 - 973)
16. Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989)
17. Brajawisésa (989 - 1012)
18. Déwa Sanghyang (1012 - 1019)
19. Sanghyang Ageng (1019 - 1030)
20. Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 - 1042)
21. Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 - 1065)
22. Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 - 1155)
23. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 - 1157)
24. Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja, 1157 - 1175)
25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 - 1297)
26. Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 - 1303)
27. Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 - 1311)
28. Prabu Linggadéwata (1311-1333)
29. Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)
30. Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)
31. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357)
32. Prabu Bunisora (1357-1371)
33. Prabu Niskalawastukancana (1371-1475)
34. Prabu Susuktunggal (1475-1482)
35. Prabu Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521)
36. Prabu Surawisésa (1521-1535)
37. Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)
38. Prabu Sakti (1543-1551)
39. Prabu Nilakéndra (1551-1567)
40. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579)
41. Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M)

Sumber:
- Herwig Zahorka, The Sunda Kingdoms of West Java, From Taruma Nagara to Pakuan Pajajaran with Royal Center of Bogor, tahun 2007.
- Saleh Danasasmita, Sajarah Bogor, Tahun 2000
- Ayatrohaedi: Sundakala, Cuplikan Sejarah Sunda Berdasar Naskah-naskah "Panitia Wangsakerta" Cirebon. Pustaka Jaya, 2005.
- Aca. 1968. Carita Parahiyangan: naskah titilar karuhun urang Sunda abad ka-16 Maséhi. Yayasan Kabudayaan Nusalarang, Bandung.
- Edi S. Ekajati. 2005. Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Pustaka Jaya, Jakarta. ISBN 979-419-329-1
- Yoséph Iskandar. 1997. Sejarah Jawa Barat: yuganing rajakawasa. Geger Sunten, Bandung.
maulanafariz - 13/12/2011 09:41 PM
#251

kaskus ID : maulanafariz
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : Cerita rakyat dari Jawa Barat berjudul: Situ Bagendit
sumber : http://historyology.blogspot.com/2010/01/legenda-situ-bagendit.html
keterangan : janganlah jadi orang kikir!
Spoiler for Situ Bagendit
Garut adalah salah satu daerah di jawa Barat. Merupakan daerah yang subur dan memiliki banyak tempat wisata. Salah satunya adalah Situ bagendit. Dan cerita ini adalah mengenai asal-usul terbentuknya situ Bagendit.

Pada jaman dahulu kala disebelah utara kota garut ada sebuah desa yang penduduknya kebanyakan adalah petani. Karena tanah di desa itu sangat subur dan tidak pernah kekurangan air, maka sawah-sawah mereka selalu menghasilkan padi yang berlimpah ruah. Namun meski begitu, para penduduk di desa itu tetap miskin kekurangan.

Hari masih sedikit gelap dan embun masih bergayut di dedaunan, namun para penduduk sudah bergegas menuju sawah mereka. Hari ini adalah hari panen. Mereka akan menuai padi yang sudah menguning dan menjualnya kepada seorang tengkulak bernama Nyai Endit.

Nyai Endit adalah orang terkaya di desa itu. Rumahnya mewah, lumbung padinya sangat luas karena harus cukup menampung padi yang dibelinya dari seluruh petani di desa itu. Ya! Seluruh petani. Dan bukan dengan sukarela para petani itu menjual hasil panennya kepada Nyai Endit.Mereka terpaksa menjual semua hasil panennya dengan harga murah kalau tidak ingin cari perkara dengan centeng-centeng suruhan nyai Endit. Lalu jika pasokan padi mereka habis, mereka harus membeli dari nyai Endit dengan harga yang melambung tinggi.

“Wah kapan ya nasib kita berubah?” ujar seorang petani kepada temannya. “Tidak tahan saya hidup seperti ini. Kenapa yah, Tuhan tidak menghukum si lintah darat itu?”
“Sssst, jangan kenceng-kenceng atuh, nanti ada yang denger!” sahut temannya. “Kita mah harus sabar! Nanti juga akan datang pembalasan yang setimpal bagi orang yang suka berbuat aniaya pada orang lain. Kan Tuhan mah tidak pernah tidur!”

Sementara itu Nyai Endit sedang memeriksa lumbung padinya.
“Barja!” kata nyai Endit. “Bagaimana? Apakah semua padi sudah dibeli?” kata nyai Endit.
“Beres Nyi!” jawab centeng bernama Barja. “Boleh diperiksa lumbungnya Nyi! Lumbungnya sudah penuh diisi padi, bahkan beberapa masih kita simpan di luar karena sudah tak muat lagi.”
“Ha ha ha ha…! Sebentar lagi mereka akan kehabisan beras dan akan membeli padiku. Aku akan semakin kaya!!! Bagus! Awasi terus para petani itu, jangan sampai mereka menjual hasil panennya ke tempat lain. Beri pelajaran bagi siapa saja yang membangkang!” kata Nyai Endit.

Benar saja, beberapa minggu kemudian para penduduk desa mulai kehabisan bahan makanan bahkan banyak yang sudah mulai menderita kelaparan. Sementara Nyai Endit selalu berpesta pora dengan makanan-makanan mewah di rumahnya.
“Aduh pak, persediaan beras kita sudah menipis. Sebentar lagi kita terpaksa harus membeli beras ke Nyai Endit. Kata tetangga sebelah harganya sekarang lima kali lipat disbanding saat kita jual dulu. Bagaimana nih pak? Padahal kita juga perlu membeli keperluan yang lain. Ya Tuhan, berilah kami keringanan atas beban yang kami pikul.”
Begitulah gerutuan para penduduk desa atas kesewenang-wenangan Nyai Endit.

Suatu siang yang panas, dari ujung desa nampak seorang nenek yang berjalan terbungkuk-bungkuk. Dia melewati pemukiman penduduk dengan tatapan penuh iba.
“Hmm, kasihan para penduduk ini. Mereka menderita hanya karena kelakuan seorang saja. Sepertinya hal ini harus segera diakhiri,” pikir si nenek.
Dia berjalan mendekati seorang penduduk yang sedang menumbuk padi.
“Nyi! Saya numpang tanya,” kata si nenek.
“Ya nek ada apa ya?” jawab Nyi Asih yang sedang menumbuk padi tersebut
“Dimanakah saya bisa menemukan orang yang paling kaya di desa ini?” tanya si nenek
“Oh, maksud nenek rumah Nyi Endit?” kata Nyi Asih. “Sudah dekat nek. Nenek tinggal lurus saja sampai ketemu pertigaan. Lalu nenek belok kiri. Nanti nenek akan lihat rumah yang sangat besar. Itulah rumahnya. Memang nenek ada perlu apa sama Nyi Endit?”
“Saya mau minta sedekah,” kata si nenek.
“Ah percuma saja nenek minta sama dia, ga bakalan dikasih. Kalau nenek lapar, nenek bisa makan di rumah saya, tapi seadanya,” kata Nyi Asih.
“Tidak perlu,” jawab si nenek. “Aku Cuma mau tahu reaksinya kalau ada pengemis yang minta sedekah. O ya, tolong kamu beritahu penduduk yang lain untuk siap-siap mengungsi. Karena sebentar lagi akan ada banjir besar.”
“Nenek bercanda ya?” kata Nyi Asih kaget. “Mana mungkin ada banjir di musim kemarau.”
“Aku tidak bercanda,” kata si nenek.”Aku adalah orang yang akan memberi pelajaran pada Nyi Endit. Maka dari itu segera mengungsilah, bawalah barang berharga milik kalian,” kata si nenek.
Setelah itu si nenek pergi meniggalkan Nyi Asih yang masih bengong.

Sementara itu Nyai Endit sedang menikmati hidangan yang berlimpah, demikian pula para centengnya. Si pengemis tiba di depan rumah Nyai Endit dan langsung dihadang oleh para centeng.
“Hei pengemis tua! Cepat pergi dari sini! Jangan sampai teras rumah ini kotor terinjak kakimu!” bentak centeng.
“Saya mau minta sedekah. Mungkin ada sisa makanan yang bisa saya makan. Sudah tiga hari saya tidak makan,” kata si nenek.
“Apa peduliku,” bentak centeng. “Emangnya aku bapakmu? Kalau mau makan ya beli jangan minta! Sana, cepat pergi sebelum saya seret!”
Tapi si nenek tidak bergeming di tempatnya. “Nyai Endit keluarlah! Aku mau minta sedekah. Nyai Endiiiit…!” teriak si nenek.
Centeng- centeng itu berusaha menyeret si nenek yang terus berteriak-teriak, tapi tidak berhasil.
“Siapa sih yang berteriak-teriak di luar,” ujar Nyai Endit. “Ganggu orang makan saja!”
“Hei…! Siapa kamu nenek tua? Kenapa berteriak-teriak di depan rumah orang?” bentak Nyai Endit.
“Saya Cuma mau minta sedikit makanan karena sudah tiga hari saya tidak makan,” kata nenek.
“Lah..ga makan kok minta sama aku? Tidak ada! Cepat pergi dari sini! Nanti banyak lalat nyium baumu,” kata Nyai Endit.
Si nenek bukannya pergi tapi malah menancapkan tongkatnya ke tanah lalu memandang Nyai Endit dengan penuh kemarahan.
“Hei Endit..! Selama ini Tuhan memberimu rijki berlimpah tapi kau tidak bersyukur. Kau kikir! Sementara penduduk desa kelaparan kau malah menghambur-hamburkan makanan” teriak si nenek berapi-api. “Aku datang kesini sebagai jawaban atas doa para penduduk yang sengsara karena ulahmu! Kini bersiaplah menerima hukumanmu.”
“Ha ha ha … Kau mau menghukumku? Tidak salah nih? Kamu tidak lihat centeng-centengku banyak! Sekali pukul saja, kau pasti mati,” kata Nyai Endit.
“Tidak perlu repot-repot mengusirku,” kata nenek. “Aku akan pergi dari sini jika kau bisa mencabut tongkatku dari tanah.”
“Dasar nenek gila. Apa susahnya nyabut tongkat. Tanpa tenaga pun aku bisa!” kata Nyai Endit sombong.

Lalu hup! Nyai Endit mencoba mencabut tongkat itu dengan satu tangan. Ternyata tongkat itu tidak bergeming. Dia coba dengan dua tangan. Hup hup! Masih tidak bergeming juga.
“Sialan!” kata Nyai Endit. “Centeng! Cabut tongkat itu! Awas kalau sampai tidak tercabut. Gaji kalian aku potong!”
Centeng-centeng itu mencoba mencabut tongkat si nenek, namun meski sudah ditarik oleh tiga orang, tongkat itu tetap tak bergeming.
“Ha ha ha… kalian tidak berhasil?” kata si nenek. “Ternyata tenaga kalian tidak seberapa. Lihat aku akan mencabut tongkat ini.”
Brut! Dengan sekali hentakan, tongkat itu sudah terangkat dari tanah. Byuuuuurrr!!!! Tiba-tiba dari bekas tancapan tongkat si nenek menyembur air yang sangat deras.
“Endit! Inilah hukuman buatmu! Air ini adalah air mata para penduduk yang sengsara karenamu. Kau dan seluruh hartamu akan tenggelam oleh air ini!”
Setelah berkata demikian si nenek tiba-tiba menghilang entah kemana. Tinggal Nyai Endit yang panik melihat air yang meluap dengan deras. Dia berusaha berlari menyelamatkan hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya beserta hartanya.

Di desa itu kini terbentuk sebuah danau kecil yang indah. Orang menamakannya ‘Situ Bagendit’. Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari kata Endit. Beberapa orang percaya bahwa kadang-kadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Katanya itu adalah penjelmaan Nyai Endit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air bah.
Moleen - 29/02/2012 07:09 PM
#252

Kaskus ID : moleen
Kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Bentuk karya : nyanyian odong-odong khas batak pakpak rimba
Sumber : koleksi pribadi
keterangan : cerita dan sastra penelitian odong-odong batak pakpak


RESENSI MUSIK NYANYIAN “ODONG-ODONG" BATAK PAK PAK
OLEH: Denny Martha (Mahasiswa FISS UNPAS Jurusan Seni Musik)

Spoiler for
Field Work merupakan sebuah metode penelitian yang dilakukan di lapangan dengan tujuan untuk mengumpulkan data serta untuk membuat sebuah dokumentasi dari objek penelitian. Sedangkan Desk Work merupakan sebuah penelitian kerja laboratorium dengan cara menganalisa dan membagi hasil kerja lapangan dari sebuah objek penelitian. Dalam pembahasan kali ini, penulis mencoba untuk meresensi sebuah objek penelitian berupa musik Odong-Odong khas Batak Pakpak yang berasal dari Provinsi Sumatera Utara atau lebih tepatnya yang berada di Kabupaten Dairi, Mandailing, setelah sebelumnya pernah dilakukan pula sebuah penelitian serupa dengan gabungan metode Field Work dan Desk Work yang dilaksanakan oleh beberapa orang mahasiswa Universitas Negeri Sumatera Utara dengan bahasan yang sama.
Setelah mencermati lebih lanjut mengenai musik vokal tanpa iringan Odong-Odong khas Batak Pakpak berdasarkan referensi data sampel yang dimiliki oleh beberapa orang mahasiswa Universitas Negeri Sumatera Utara tersebut, ternyata musik Odong-Odong merupakan salah satu jenis sajian musik dengan instrumen vokal yang dilakukan oleh orang suku asli Batak Pakpak yang kemudian dinyanyikan di tempat yang benar-benar jauh dari keramaian, di tengah hutan rimba dan dinyanyikan di atas pohon kemenyan dengan tujuan untuk menumpahkan semua kerinduan, harapan dan ratapan yang dialami oleh pelantun tembang tersebut.

Menurut sumber yang dapat dipercaya, dapat diketahui bahwa musik Odong-Odong khas Batak Pakpak sudah sejak lama ada dan tidak diketahui siapa penciptanya, karena memang dengan segala identitas dan ciri khas di dalamnya, musik Odong-Odong khas Batak Pakpak sudah ada sejak dulu dan menjadi milik orang suku Batak Pakpak secara turun temurun. Hingga saat ini tidak pernah ada sejarah yang mencatat siapa yang pertama kali memperkenalkan dan menciptakan musik tersebut. Apalagi patron dari musik tersebut hanya dapat dikenal melalui tembangnya saja, sedangkan liriknya dapat berubah setiap saat tergantung bagaimana perasaan orang yang menyanyikannya pada saat itu.

Objek penelitian kali ini adalah Tinus Munte, yaitu seorang petani pohon kemenyan di wilayah Gunung Simpon yang sehari-harinya bekerja sebagai penjaga Sekolah Dasar. Di sela-sela waktu ia memanen hasil getah pohon kemenyan tersebut, ternyata terdapat sebuah kebiasaan unik yaitu didendangkannya sebuah musik vokal tanpa iringan. Terutama saat ia memanjat pohon kemenyan di siang hari dan di bawah terik matahari ia berusaha agar getah kemenyan keluar dan mengental. Angin sepoi-sepoi dan nyanyian burung serta desir angin meniup daun-daunan menjadi penambah rasa sunyi yang menjadi latar belakangnya. Bayangan wajah anak dan istri pun tentu langsung menggelayut di benak Tinus Munte. Saat itulah ternyata ia menumpahkan rasa sunyi dan semua harapannya ke dalam lagu yang kemudian dikenal dan disebut oleh masyarakat sekitar sebagai Odong-Odong khas Batak Pakpak.

Adapun analisa mengenai isi sebagian lirik musik Odong-Odong tersebut dalam bahasa Batak adalah sebagai berikut :
Aloi Sorangku Indang Nina (dinyanyikan sambil memanjat pohon kemenyan)
Otang Pala-pala tadingken sendah kinle nang
Otang Pala bagenda ari-ari nang nina
Ketang pai moko segen membayu
Otang pala pari’ram kidah da nang si sada kirang
Ongko tuhu ale na
Odong-odong...... ko ngodong nang (ditingkahi dengan legato yang meliuk-liuk)
Karina katak mo kidah daging ke no taiusi meronan daging
Otang pala si daging kidah te nang ko mertahan rambah enda nang nina
Muta Lot segun durun kemenjen ken daging
Otang pata sukali gia mken nemu le daging laus mi pasar nang
Ulang gia nemu le daging kak tading ramban rinda nang nina
Marsuraim kessam ko gia muning to citcit maganken bon ni ari
Asa ni betoh gia nemu le nang balik mi kuta nang nina
Sige mo segen sada tumburen nange
Otang taragading kidah le nang delleng simponan daging
Mike mo ndiahken segen daging bekas tunjulen nange
O pulik si daging kidah da nang mada sikkola da nang nina


Dengan terjemahan Bahasa Indonesia sebagai berikut :

Dengarlah suaraku Ibu
Teganya engkau membiarkanku disini putriku
Pada saat-saat seperti ini sayang
Mengapa engkau mengayam rotan
Padahal buah petaimu tak ada satu keranjang
Bukankah benar begitu
Odong Odong....engkau ngodong sayang
Kulihat semua orang pergi ke pasar
Hanya diri ini sajalah yang tetap bertahan di hutan ini sayang
Kalau getah kemenyan ini banyak sayang
Bukan hanya sekali diri ini pergi ke pasar sayang
Janganlah kiranya diri ini selalu tinggal di hutan ini sayang
Bersuaralah engkau kumbang beritahukan bahwa hari sudah sore
Agar aku tahu bahwa sudah waktunya untuk pulang ke rumah sayang
Tangga bambu tumbuh sebatang putriku
Gunung simpon menakutkan sayang
Kemanakan gerangan tujuanmu sayangku
Karena dirimu tak pernah sekolah sayang


Tidak ada batasan durasi dari musik Odong-Odong khas Batak Pakpak tersebut, dan tidak pula dibatasi oleh lirik. Banyak menggunakan nada minor mendayu-dayu, sehingga mencerminkan kesedihan dengan ‘cengkok’ yang khas serta banyak menggunakan variasi dinamika Cressendo (lembut-keras) dan De Cressendo (keras-lembut). Kesan sembilu pun kemudian dapat kita rasakan melalui lantunan tembang Odong-Odong tersebut, apalagi tanpa batasan durasi sehingga nyanyian Odong-Odong tersebut dinyanyikan tergantung kepada yang berodong-odong . Kapan ia mau berhenti dan mau membuat liriknya seperti apa, hanya si pelantun tembang saja yang tahu kemana arah lirik tersebut. Seperti pada contoh sampel data penelitian kali ini yang didendangkan oleh Tinus Munte seorang petani kemenyan di wilayah Gunung Simpon.

Adapun jenis musik yang dibawakan adalah merupakan jenis Work Song atau Musik Kerja yang akan memberikan stimulasi (daya dorong) terhadap pekerjaan memanen yang dilakukan oleh para petani kemenyan di kabupaten Dairi tersebut. Secara garis besar isi dari lirik tersebut menceritakan nyanyian yang banyak mengungkapkan kesedihan dirinya karena ada masalah pribadi atau keluarga, yakni tentang putrinya yang masih sekolah sementara ia dan keluarganya mengalami masalah keuangan sehingga telat untuk membayar uang pendidikan putrinya tersebut, bahkan untuk hidup sehari-hari pun serba kekurangan.
Namun begitu Tinus Munte tetap semangat menjalani hidup sehari-hari hanya dengan mengandalkan getah pohon kemenyan sebagai mata pencaharian selain bertugas pula sebagai penjaga sekolah dasar. Kegiatan tersebut telah menjadi kebiasaan masyarakat Batak Pakpak saat mengambil getah kemenyan di wilayah Gunung Simpon. Sehingga bukan menjadi sesuatu hal yang mengherankan jika ada salah seorang petani yang sedang mendendangkan lirik tersebut, sementara sebagian lain yang berada di wilayah hutan yang sama mendengar lirik tersebut secara tidak sengaja. Sungguh sebuah kebiasaan unik berikut rasa toleransi yang tinggi antar sesama petani pohon kemenyan yang bernaung di wilayah kabupaten Dairi tersebut. Curahan hati seorang petani kemenyan tersebut dilakukan sambil memanjat pohon kemenyan lalu sambil mengetukkan alat perkakas hingga memar sampai terbuka kulit luarnya untuk panen getah kemenyan dengan harapan akan mendapatkan getah hasil kemenyan yang cukup banyak untuk menghidupi keluarga.

Akhirnya berdasarkan penelitian tersebut maka kesimpulan yang dapat diambil pada resensi musik kali ini ialah nyanyian yang dinyanyikan oleh petani kemenyan bernama Tinus Munte tersebut merupakan jenis Work Song (musik kerja) yang bertujuan untuk mengungkapkan kesedihan ataupun masalah pribadi serta berfungsi sebagai stimulasi (daya dorong) terhadap pekerjaan panen getah kemenyan yang dilakoninya. Sedangkan nyanyian tersebut tidak boleh sembarang didendangkan di depan petani lainnya, apalagi masyarakat luar suku Batak Pakpak. Adapun yang dimaksud oleh Odong-Odong sendiri adalah sebuah peninggalan nenek moyang orang Batak Pakpak yang sesungguhnya sangat berharga dan harus dilestarikan karena berhubungan dengan jiwa, dan dibebaskan kepada jiwa siapa saja yang membawakannya. Bisa jadi, itu pula yang membuatnya terus terjaga keasliannya, sebab setiap saat bisa diaktualisasi, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan batin yang membawakannya.


iloveindonesia
fajarjufri - 05/05/2012 02:21 AM
#253

Kaskus ID : fajarjufri

Kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

Bentuk karya : Puisi Chairil Anwar

Sumber: http://chairil-anwar.blogspot.com/

Spoiler for AKU


AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi.

-maret 1943
kosohahaha - 01/07/2012 06:31 PM
#254

kaskus id : kosohahaha

Kategori: Kesusastraan/Bahasa/Dongeng

Bentuk Karya: indonesia bukan negri dongeng

Sumber: Buku TARIAN SANG KEMBARA, karya terbaru Harley B. Sastha)


[PHP]Indonesia bukanlah sebuah negeri dongeng;

Kami hanyalah sekelompok anak bangsa yang senang berpetualang;

Kami hanyalah sekelompok putra-putri negeri yang gemar mendaki gunung;

Karena disana dapat kami lihat kemegahan nusantara;

Karena disana dapat kami kenal keramahan saudara-saudara kami;

Karena disana dapat kami ketahui kerja keras bangsa kami;

Karena disana dapat kami resapi tekad kuat masyarakat negeri ini;

Bagi kami mengenal bumi pertiwi harus dekat dengan alamnya;

Bagi kami mencintai nusantara harus kenal dengan masyarakatnya;

Bagi kami berbuat dan berkarya dengan kemampuan diri itulah membangun negeri.

[/PHP]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
azzamsikage - 22/07/2012 09:53 PM
#255

kaskus ID : azzamsikage (poetih dekil)

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Puisi (Buatan ane sendiri)

sumber : http://si-jalang.blogspot.com/2012/05/hampa.html

keterangan : Sebuah puisi ketika hari tengah beranjak pagi

Quote:


HAMPA


Jika nanti aku harus berhenti

Ku ingin berlari mengejar mimpi

Meski perihnya akan terus terasa

Menjelaga dalam pahitnya asa


Aku ingin menjalang

Berkubang dalam manisnya duka

Aku ingin terbuang

Menjulang setiap ingin yang menebal


Aku adalah jerih

Meski letihnya sudah menumpuk tebal

Kini hanya sisa-sisa yang merugi

Yang membumbung tinggi lalu jatuh tak bersisa


Pecah, berantakan, pupus, tak berdaya

Dalam asa yang semakin menguat, terkuak

Namun apa dayaku

Jika tak satu orangpun yang tahu, bahkan diriku


Inginku kembali bermimpi

Dalam perhentian langkahku yang lelah

Namun tak lagi bisa dimengerti

Yang ada kini hanya, hampa


cendols cendols cendols
cholifika - 27/07/2012 03:07 PM
#256

kaskus ID : cholifika
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentu karya : cerita legenda yang berjudul Putri Mandalika / Putri nyale
Sumber : http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/legenda-putri-nyale-di-selatan-lombok.html
keterangan : baca aja di bawah , cerita yang menarik loh!

Spoiler for "Ceritanya"
Menurut dongeng bahwa pada zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan yang bernama Tonjang Beru. Sekeliling di kerajaan ini dibuat ruangan - ruangan yang besar. Ruangan ini digunakan untuk pertemuan raja - raja. Negeri Tonjang Beru ini diperintah oleh raja yang terkenal akan kearifan dan kebijaksanaannya Raja itu bernama raja Tonjang Beru dengan permaisurinya Dewi Seranting.

Baginda mempunyai seorang putri, namanya Putri Mandalika. Ketika sang putri menginjak usia dewasa, amat elok parasnya. Ia sangat anggun dan cantik jelita. Matanya laksana bagaikan bintang di timur. Pipinya laksana pauh dilayang. Rambutnya bagaikan mayang terurai. Di samping anggun dan cantik ia terkenal ramah dan sopan. Tutur bahasanya lembut. Itulah yang membuat sang putri menjadi kebanggaan para rakyatnya.


Semua rakyat sangat bangga mempunyai raja yang arif dan bijaksana yang ingin membantu rakyatnya yang kesusahan. Berkat segala bantuan dari raja rakyat negeri Tonjang Beru menjadi hidup makmur, aman dan sentosa. Kecantikan dan keanggunan Putri Mandalika sangat tersohor dari ujung timur sampai ujung barat pulau Lombok. Kecantikan dan keanggunan sang putri terdengar oleh para pangeran - pangeran yang membagi habis bumi Sasak (Lombok). Masing - masing dari kerajaan Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan kerajaan Beru. Para pangerannya pada jatuh cintar. Mereka mabuk kepayang melihat kecantikan dan keanggunan sang putri.


Mereka saling mengadu peruntungan, siapa bisa mempersunting Putri Mandalika. Apa daya dengan sepenuh perasaan halusnya, Putri Mandalika menampik. Para pangeran jadi gigit jari. Dua pangeran amat murka menerima kenyataan itu. Mereka adalah Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang. Masing - masing dari kerajaan Johor dan kerajaan Lipur. Datu Teruna mengutus Arya Bawal dan Arya Tebuik untuk melamar, dengan ancaman hancurnya kerajaan Tonjang Beru bila lamaran itu ditolaknya. Pangeran Maliawang mengirim Arya Bumbang dan Arya Tuna dengan hajat dan ancaman yang serupa.


Putri Mandalika tidak bergeming. Serta merta Datu Teruna melepaskan senggeger Utusaning Allah, sedang Maliawang meniup Senggeger Jaring Sutra. Keampuhan kedua senggeger ini tak kepalang tanggung dimata Putri Mandalika, wajah kedua pangeran itu muncul berbarengan. Tak bisa makan, tak bisa tidur, sang putri akhirnya kurus kering. Seisi negeri Tonjang Beru disaput duka.


Kenapa sang putri menolak lamaran ? Karena, selain rasa cintanya mesti bicara, ia juga merasa memikul tanggung jawab yang tidak kecil. Akan timbul bencana manakala sang putri menjatuhkan pilihannya pada salah seorang pangeran. Dalam semadi, sang putri mendapat wangsit agar mengundang semua pangeran dalam pertemuan pada tanggal 20 bulan 10 ( bulan Sasak ) menjelang pagi - pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang. Mereka harus disertai oleh seluruh rakyat masing - masing. Semua para undangan diminta datang dan berkumpul di pantai Kuta. Tanpa diduga - duga enam orang para pangeran datang, dan rakyat banyak yang datang, ribuan jumlahnya. Pantai yang didatangi ini bagaikan dikerumuni semut.


Ada yang datang dua hari sebelum hari yang ditentukan oleh sang putri. Anak - anak sampai kakek - kakek pun datang memenuhi undangan sang putri ditempat itu. Rupanya mereka ingin menyaksikan bagaimana sang putri akan menentukan pilihannya. Pengunjung berduyun - duyun datang dari seluruh penjuru pulau Lombok. Merekapun berkumpul dengan hati sabar menanti kehadiran sang putri.


Betul seperti janjinya. Sang putri muncul sebelum adzan berkumandang. Persis ketika langit memerah di ufuk timur, sang putri yang cantik dan anggun ini hadir dengan diusung menggunakan usungan yang berlapiskan emas. Prajurit kerajaan berjalan di kiri, di kanan, dan di belakang sang putri. Sungguh pengawalan yang ketat. Semua undangan yang menunggu berhari - hari hanya bisa melongo kecantikan dan keanggunan sang putri. Sang putri datang dengan gaun yang sangat indah. Bahannya dari kain sutera yang sangat halus.


Tidak lama kemudian, sang putri melangkah, lalu berhenti di onggokan batu, membelakangi laut lepas. Disitu Putri Mandalika berdiri kemudian ia menoleh kepada seluruh undangannya. Sang putri berbicara singkat, tetapi isinya padat, mengumumkan keputusannya dengan suara lantang dengan berseru : ??Wahai ayahanda dan ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai. Hari ini aku telah menetapkan bahwa diriku untuk kamu semua. Aku tidak dapat memilih satu diantara pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi Nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya Nyale di permukaan laut.??


Bersamaan dan berakhirnya kata - kata tersebut para pangeran pada bingung rakyat pun ikut bingung dan bertanya - tanya memikirkan kata - kata itu. Tanpa diduga - duga sang putri mencampakkan sesuatu di atas batu dan menceburkan diri ke dalam laut yang langsung di telan gelombang disertai dengan angin kencang, kilat dan petir yang menggelegar.


Tidak ada tanda - tanda sang putri ada di tempat itu. Pada saat mereka pada kebingungan muncullah binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak yang kini disebut sebagai Nyale. Binatang itu berbentuk cacing laut. Dugaan mereka binatang itulah jelmaan dari sang putri. Lalu beramai - ramai mereka berlomba mengambil binatang itu sebanyak - banyaknya untuk dinikmati sebagai rasa cinta kasih dan pula sebagai santapan atau keperluan lainnya.

Itulah kisah Bau Nyale. Penangkapan Nyale menjadi tradisi turun - temurun di pulau Lombok. Pada saat acara Bau Nyale yang dilangsungkan pada masa sekarang ini, mereka sejak sore hari mereka yang akan menangkap Nyale berkumpul di pantai mengisi acara dengan peresean, membuat kemah dan mengisi acara malam dengan berbagai kesenian tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu). Dan tak ketinggalan pula, digelar drama kolosal Putri Mandalika di pantai Seger.

************

etiap tanggal duapuluh bulan kesepuluh dalam penanggalan Sasak atau lima hari setelah bulan purnama, menjelang fajar di pantai Seger Kabupaten Lombok Tengah selalu berlangsung acara menarik yang dikunjungi banyak orang termasuk wisatawan. Acara yang menarik itu bernama Bau Nyale. Bau dari bahasa Sasak artinya menangkap. Sedangkan Nyale, sejenis cacing laut yang hidup di lubang - lubang batu karang di bawah permukaan laut.


Penduduk setempat mempercayai Nyale memiliki tuah yang dapat mendatangkan kesejahteraan bagi yang menghargainya dan mudarat bagi orang yang meremehkannya.??Itulah yang berkembang selama ini,?? ujar Lalu Wirekarme yang pernah menjabat sebagai Kepala Sub Dinas Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah.


Tradisi menangkap Nyale (bahasa sasak Bau Nyale) dipercaya timbul akibat pengaruh keadaan alam dan pola kehidupan masyarakat tani yang mempunyai kepercayaan yang mendasar akan kebesaran Tuhan, menciptakan alam dengan segala isinya termasuk binatang sejenis Anelida yang disebut Nyale. Kemunculannya di pantai Lombok Selatan yang ditandai dengan keajaiban alam sebagai rahmat Tuhan atas makhluk ini.


Beberapa waktu sebelum Nyale keluar hujan turun deras dimalam hari diselingi kilat dan petir yang menggelegar disertai dengan tiupan angin yang sangat kencang. Diperkirakan pada hari keempat setelah purnama, malam menjelang Nyale hendak keluar, hujan menjadi reda, berganti dengan hujan rintik - rintik, suasana menjadi demikian tenang, pada dini hari Nyale mulai menampakkan diri bergulung - gulung bersama ombak yang gemuruh memecah pantai, dan secepat itu pula Nyale berangsur - angsur lenyap dari permukaan laut bersamaan dengan fajar menyingsing di ufuk timur.


Dalam kegiatan ini terlihat yang paling menonjol adalah fungsi solidaritas dan kebersamaan dalam kelompok masyarakat yang dapat terus dipertahankan karena ikut mendukung kelangsungan budaya tradisional.


Keajaiban Nyale bagi suku Sasak Lombok telah menimbulkan dongeng tentang kejadian yang tersebar hampir keseluruh lapisan masyarakat Lombok dan sekitarnya. Dongeng ini sangat menarik dengan cerita yang sangat romantis dan berkembang melalui penuturan orang - orang tua yang kemudian tersusun dalam naskah tentang legenda Nyale.


jenggerous - 19/10/2012 04:01 PM
#257

Page 13 of 13 | ‹ First  < 8 9 10 11 12 13
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel