Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
Total Views: 36797 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 2 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

verditch - 09/10/2009 02:09 PM
#21

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat "Mak Isun Kayo" dari Sumatra Barat

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2090/mak-isun-kayo

keterangan : Payakumbuh adalah nama sebuah kota madya di Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Di wilayah ini terdapat sebuah negeri yang disebut dengan Batang Tabik. Konon, di negeri ini pernah ada seorang juragan bendi dan beruk yang bernama Mak Isun. Pada suatu hari, kawanan beruk miliknya mengepung rumahnya. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Mak Isun, sehingga rumahnya dikepung oleh kawanan beruk itu? Kisah menarik ini dapat Anda ikuti dalam cerita Mak Isun Kayo berikut ini.

Spoiler for Mak Isun Kayo
Quote:
Alkisah, di Negeri Batang Tabik, Payakumbuh, Sumatra Barat, hiduplah seorang lelaki paruh baya bernama Mak Isun. Ketika masih muda, ia bekerja sebagai kusir bendi pada orang kaya di negeri itu. Ia seorang kusir yang rajin dan tekun. Bendinya selalu bersih dan kudanya terpelihara dengan baik, sehingga ia disukai oleh juragannya dan orang-orang pun senang menumpang bendinya.

Selain rajin dan tekun, Mak Isun juga hemat dan rajin menabung. Sebagian upah dari hasil menarik bendi ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan selebihnya ditabung. Setelah berjalan beberapa tahun, uang tabungannya pun cukup banyak. Ketika juragannya meninggal dunia, ia gunakan tabungannya untuk membeli kuda dan bendi itu dari keluarga juragannya.

Semenjak menjadi pemilik bendi, uang sewa yang biasanya disetorkan kepada juragannya, ia masukkan ke dalam tabungannya. Dalam waktu dua tahun, uang tabungannya sudah cukup untuk membeli lagi satu bendi beserta kudanya. Kemudian bendi tersebut ia sewakan kepada orang lain.

Waktu terus berjalan, Mak Isun tetap giat menabung dan terus membeli kuda beserta bendinya hingga akhirnya ia memiliki delapan buah bendi berikut kudanya. Bendi yang pertama kali dibelinya, tetap dia yang mengemudikannya, sedangkan tujuh buah bendi lainnya ia sewakan kepada orang lain. Semakin hari penghasilan Mak Isun semakin banyak, sehingga ia pun terkenal sebagai juragan bendi yang kaya. Sejak itu, namanya dikenal sebagai Mak Isun Kayo.

Walaupun sudah menjadi kaya, cara hidup Mak Isun tetap tidak berubah. Ia tetap hemat dan rajin merawat kuda dan bendinya. Setiap ada kerusakan segera diperbaiki dan diperbaharui. Ia senantiasa mengajarkan hal itu kepada semua kusirnya. Ia berpendirian bahwa kuda yang kuat dan bendi yang bersih akan disukai oleh penumpang. Oleh karena itu, ia mewajibkan para kusirnya untuk memberi makan dan memandikan kudanya setiap hari. Demikian pula, mereka harus mencuci dan membersihkan bendi setiap selesai dipakai.

Pada suatu sore, Mak Isun sedang duduk-duduk di teras rumahnya sambil memerhatikan para kusir bendi sedang memandikan kuda dan membersihkan bendi. Saat itu, tiba-tiba sesuatu terlintas di dalam pikirannya.
”Aku harus mencari pekerjaan lain yang dapat menghasilkan uang untuk menambah kekayaanku. Tapi pekerjaan apa ya?” tanyanya dalam hati.

Sesaat kemudian, tiba-tiba seorang warga yang bernama Pak Sole dengan seekor beruknya melintas di depan rumahnya. Pak Sole adalah seorang ”tukang beruk”. Ia menerima upah dengan cara memerintahkan seekor beruk memetik kelapa di kebun kelapa penduduk sekitar.
”Pak Sole...!” teriak Mak Isun memanggil Pak Sole.
”Iya, Tuan!” jawab Pak Sole sambil menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.
“Kemari sebentar!” seru Mak Isun.

Dengan hati bertanya-tanya, Pak Sole segera menghampiri Mak Isun.
”Ada apa, Tuan!” tanya Pak Sole penasaran.
”Silahkan duduk, Pak Sole!” kata Mak Isun.
”Terima kasih, Tuan!” jawab Pak Sole sambil memegangi beruknya.
” Pak Sole, berapa upahmu menjadi tukang beruk?” tanya Mak Isun.
”Tidak tentu, Tuan! Tergantung jarak kebun kelapa yang akan dipetik buah kelapanya. Jika dekat, saya mendapat upah tiga butir kelapa, dan jika jauh upahnya lima butir,” jelas Pak Sole.
”Berapa penghasilanmu sehari?” tanya Mak Isun.
”Jika dirata-rata, sehari saya memperoleh sekitar dua puluh lima butir kelapa,” jawab Pak Sole.
”Wah, lumayan juga penghasilanmu,” kata Mak Isun.
”Tapi, Tuan!”
”Kenapa, Pak Sole,” tanya Mak Isun penasaran.
”Saya tidak tahu masih dapat menjadi tukang beruk atau tidak, karena majikan saya hendak menjual semua beruknya untuk ongkos naik haji,” jelas Pak Sole.
”Siapa yang akan membelinya?” tanya Mak Isun.
”Belum tahu, Tuan!” jawab Pak Sole.
”Siapa nama majikanmu?” tanya Mak Isun.
”Pak Kari, Tuan!” jawab Pak Sole.
"Kalau begitu, sampaikan kepada Pak Kari bahwa aku yang akan membeli semua beruknya,” ungkap Mak Isun.
”Baik, Tuan! Nanti malam saya akan pergi menemuinya,” kata Pak Sole seraya berpamitan.

Pada malam harinya, Pak Sole ke rumah majikannya untuk menyampaikan niat Mak Isun. Pak Kari pun setuju. Akhirnya, Mak Isun membeli semua beruk Pak Kari dan kemudian menyewakannya kepada orang lain, termasuk Pak Sole. Selain mendapat keuntungan sewa beruk, Mak Isun juga mewajibkan kepada semua penyewa beruknya untuk menjual upah mereka kepadanya dengan harga murah, sehingga ia pun mendapat keuntungan yang banyak. Untuk memperoleh keuntungan yang berlipat ganda, Mak Isun tidak menjual kelapa itu, melainkan menjualnya dalam wujud kopra (daging kelapa yang sudah dikeringkan). Lambat laun, ia tidak hanya terkenal sebagai juragan bendi dan beruk, tapi sebagai pedagang kopra.

Pada suatu waktu, harga kopra melonjak tinggi. Mengetahui hal itu, Mak Isun berubah pikiran hendak menaikkan upah sewa beruknya. Ia menyadari bahwa dialah satu-satunya pemilik beruk di negeri itu yang hampir semua penduduknya memiliki kebun kelapa. Oleh karena itu, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Ia pun segera mengumpulkan semua tukang beruknya di rumahnya.
”Mulai besok, upah sewa beruk kita naikkan dua kali lipat. Jika jarak kebunnya dekat, upahnya menjadi enam butir kelapa, dan jika jaraknya jauh upahnya menjadi sepuluh butir,” ujar Mak Isun kepada para tukang beruk.
”Maaf, Tuan! Apakah itu tidak memberatkan penduduk?” tanya Pak Sole.
”Benar, Tuan! Tidak mungkin mereka mau membayar upah sebesar itu. Upah sewa beruk yang kami berlakukan selama ini pun masih ada penduduk yang merasa keberatan” tambah seorang tukang beruk yang lain.
”Kalau mereka tidak mau, biarkan saja kelapa mereka tua di pohon,” jawab Mak Isun dengan ketus.
”Tapi, Tuan! Kalau tidak memetik kelapa, kami mau makan apa? Padahal hanya itu harapan hidup kami!” kata seorang tukang beruk beriba.
”Dasar kalian semua orang bodoh! Jika kita menaikkan upah sewa beruk, pasti semua penduduk akan terpaksa menerimanya. Kalian sudah tahu bahwa tidak seorang pun penduduk yang pandai memanjat pohon kelapa secepat beruk itu. Lagi pula, mereka tidak akan rugi karena kebun kelapa itu adalah warisan dari orang tua mereka,” jelas Mak Isun dengan nada kesal.

Para tukang beruknya tidak setuju dengan keputusan Mak Isun, karena mereka merasa kasihan kepada penduduk. Namun, Mak Isun tidak mau tahu mengenai masalah itu. Ia tetap teguh pada pendiriannya hendak menaikkan upah sewa beruk. Para tukang beruk itu pun menjadi kesal dengan sikap Mak Isun. Dengan perasaan kecewa, seluruh tukang beruk kembali ke rumah masing-masing. Pada malam harinya, mereka bermusyawarah untuk mencari cara agar Mak Isun mau membatalkan niatnya itu. Dalam pertemuan itu, mereka bersepakat untuk menakut-nakuti Mak Isun dengan cara menyuruh beruk-beruk itu mengepung rumahnya.

Keesokan paginya, saat membuka jendela rumahnya, Mak Isun dikejutkan dengan seekor beruk yang menyeringainya.[2] Dengan perasaan panik, ia pun segera membuka pintu depan. Namun, saat pintu terbuka, ia disambut dengan cibiran dan seringai beruk yang lain. Mak Isun berlari menuju pintu belakang, namun dua ekor beruk sudah menunggunya. Kemudian berlari menuju ke jendela yang lain, juga dihadang oleh beruk. Rumah Mak Isun benar-benar dikepung oleh belasan beruk, sehingga ia tidak bisa keluar.
”Tolong... !!! Tolong... !!! Singkirkan beruk-beruk itu dari rumahku!” teriak Mak Isun meminta tolong.

Mendengar suara teriakan itu, para penduduk berkumpul di halaman rumahnya hendak menyaksikan peristiwa itu. Namun, tidak seorang pun penduduk yang berani menolongnya, termasuk para kusir bendinya.

Sementara itu, Mak Isun yang berada di dalam rumah itu semakin panik.
“Jika sampai berhari-hari beruk-beruk itu mengepung rumah ini dan tidak diberi makan, apa jadinya kelak? Mereka pasti mengobrak-abrik rumahku, atau... jangan-jangan aku yang menjadi sasaran mangsa mereka, karena kelaparan,” pikir Mak Isun.

Akhirnya, Mak Isun menyadari bahwa ia tidak boleh memaksakan kehendaknya. Ia pun mengakui kesalahannya dan berjanji untuk tidak menaikkan sewa beruk kepada penduduk.
verditch - 09/10/2009 02:23 PM
#22

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat "Pangeran Suta dan Raja Bayang" dari Riau

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1883/pangeran-suta-dan-raja-bayang

keterangan : Konon, pada masa itu, Sultan Hasan memiliki seorang putri yang sangat cantik, bernama Raja Halimah. Kecantikan Putri Raja Halimah masyhur sampai ke berbagai negeri. Pada suatu hari, datanglah seorang raja yang bernama Raja Bayang, berasal dari sebuah negeri yang sangat jauh ingin melamar Raja Halimah. Namun, lamaran tersebut ditolak oleh Sultan Hasan, sehingga Raja Bayang memorak-porandakan Kerajaan Indragiri. Sultan Hasan beserta keluarga dan seluruh pasukannya terpaksa mengungsi ke Gaung. Dalam pengungsiannya, Sultan Hasan mendengar kabar bahwa ada seorang pangeran yang memiliki pengalaman berperang dari negeri Jambi, Pangeran Suta namanya. Ia pun segera mengundang Pangeran Suta untuk diajak berunding tentang bagaimana cara mengusir Raja Bayang dan pasukannya dari negeri Indragiri. Bagaimana perundingan antara Sultan Hasan dan Pengaren Suta? Bersediakah Pangeran Suta membantu Sultan Hasan untuk mengusir Raja Bayang dan pasukannya? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat Pangeran Suta dan Raja Bayang berikut ini.

Spoiler for Pangeran Suta dan Raja Bayang
Quote:
Alkisah, pada suatu masa Kerajaan Indragiri diperintah oleh Sultan Hasan Salehuddin Keramatsyah yang berkedudukan di Japura. Sultan Hasan adalah seorang raja yang sangat adil dan bijaksana. Selama masa pemerintahannya, seluruh rakyat negeri hidup damai, aman dan sentosa. Selain adil dan bijaksana, ia juga memiliki seorang putri yang cantik jelita, bernama Raja Halimah. Kecantikannya pun terkenal hingga ke berbagai negeri.

Pada suatu hari, datanglah seorang anak raja yang bernama Raja Bayang ke Kerajaan Indragiri. Ia didampingi oleh tiga orang saudara laki-lakinya yang bernama Raja Hijau, Raja Mestika, dan Raja Lahis. Keempat anak raja itu datang lengkap dengan pengiring dan balatentara yang gagah perkasa.

Kedatangan mereka membuat gempar rakyat negeri Indragiri. Perilaku mereka sungguh tercela dan tidak senonoh. Mereka memorak-porandakan kampung-kampung di negeri itu. Tanaman tebu dan pisang semua habis mereka tebas dengan golok. Binatang-binatang ternak penduduk seperti ayam, itik, kambing dan kerbau lari berhamburan keluar dari kandang. Anak-anak dara berkerubung kain sarung tidak berani keluar rumah. Mereka takut pada keberingasan Raja Bayang dan pasukannya yang bertindak semema-mena.

Sultan Hasan sangat sedih dan risau mendengar kekacauan yang ditimbulkan oleh Raja Bayang dan balatentaranya. Dipanggilnyalah seluruh menteri kerajaan untuk bermusyawarah menghadapi bahaya yang datang mengancam. “Wahai, para menteriku! Bagaimana kita menghadapi kekuatan Raja Bayang dan balatentaranya?” tanya Raja Hasan kepada para menterinya. “Ampun, Baginda Raja! Pasukan Raja Bayang terlalu kuat untuk kita lawan. Mereka sangat tangguh dan sudah terbiasa hidup dalam rimba,” jawab salah seorang menteri sambil menyembah. “Benar, Baginda! Sebaiknya kita tunggu apa yang dikehendaki oleh anak raja itu,” tambah menteri yang lainnya. “Baiklah, kalau begitu!” jawab sang Raja dengan tenang.

Beberapa hari kemudian, datanglah rombongan Raja Bayang di Japura. Meskipun Raja Hasan merasa jengkel kepada Raja Bayang yang telah membuat kekacauan itu, Raja Hasan tetap menyambutnya dengan sopan. “Hai, Raja Bayang! Apa maksud kedatanganmu ini?” tanya Raja Hasan. “Aku ke sini untuk meminang Putrimu,” jawab Raja Bayang dengan angkuhnya. Pinangan Raja Bayang ditolak mentah-mentah oleh Raja Hasan. “Wahai, Raja Bayang! Ketahuilah! Aku tidak ingin bermenantukan anak seorang raja sepertimu. Kamu datang ke wilayah kekuasaanku dengan cara sembrono. Aku tidak rela putriku yang lemah lembut itu bersanding dengan kamu yang kasar dan tak mengenal adab.”

Raja Bayang sangat marah mendengar jawaban itu. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah bak terbakar api. “Hai, Raja Bodoh! Kamu akan menyesal karena telah menolak pinanganku,” ancam Raja Bayang lalu pergi meninggalkan istana Japura.

Tak berapa lama, Raja Bayang kembali bersama balatentaranya dengan persenjataan lengkap. Kemudian mereka menyerang Kerajaan Indragiri. Tak ayal lagi, Kerajaan Indragiri diporak-porandakan dalam waktu yang singkat. Walaupun Raja Hasan telah mengerahkan seluruh pasukan Kerajaan Indragiri, mereka tidak mampu menandingi kekuatan pasukan Raja Bayang. Oleh karena itu, Raja Hasan dan pasukannya terpaksa meninggalkan Japura, menyingkir ke suatu tempat yang bernama Gaung.

Dalam pengungsian itu, Raja Hasan mengumpulkan para menterinya untuk merebut kembali Kerajaan Indragiri dari tangan Raja Bayang.
“Ampun, Baginda! Prajurit istana banyak yang tewas dalam pertempuran. Kekuatan kita semakin sedikit,” kata seorang menteri.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Raja Hasan.
“Ampun, Baginda Raja! Hamba pernah mendengar bahwa ada seorang pangeran dari negeri sebelah timur yang baik kelakuannya dan telah berjasa kepada negeri Jambi. Mengenai kemampuannya, sudah tidak diragukan lagi. Banyak sudah laut yang ia layari, pulau yang ia singgahi, daratan yang ia jelajahi, dan luka badan yang ia rasai dari medan pertempuran,” jelas seorang menteri yang lain.
“Siapa namanya?” tanya Raja Hasan penasaran.
“Ampun, Baginda! Hamba tidak tahu persis namanya. Tapi, orang-orang menyebutnya Pangeran Suta,” jawab menteri itu.

Setelah melakukan perundingan, akhirnya mereka sepakat untuk mengutus Datuk Tumenggung mencari Pangeran Suta. Keesokan harinya, usai berpamitan pada Raja Hasan, berangkatlah Datuk Tumenggung dengan sebuah kapal kecil dan Gaung berlayar ke laut lepas. Setelah berhari-hari berlayar, sampailah ia di perairan Jambi. Di sana ia mendapat keterangan bahwa Pangeran Suta sedang berada di Selat Malaka mengusir gerombolan lanun atau bajak laut.

Beberapa kali Datu Tumenggung berlayar mengitari Selat Malaka untuk mencari Pangeran Suta. Akhirnya pada suatu hari, ia berhasil menemuinya. Ia pun menceritakan kesulitan yang tengah dihadapi rajanya. “Hai, Pangeran Suta! Kami sudah mendengar tentang kehebatan Pangeran. Raja kami mengharap kesediaan Pangeran untuk membantu raja kami,” kata Datuk Tumenggung. “Baiklah, saya bersedia untuk membalas malu yang telah ditanggung rajamu itu,” jawab Pangeran dengan ramah. Setelah Pangeran Suta menyatakan kesediaannya, berangkatlah Datuk Tumenggung dan Pangeran Suta besarta pasukannya ke Gaung.

Sesampainya di Gaung, Sultan Hasan menyambut Pangeran Suta dengan sangat gembira. Setelah menjamu sebaik-baiknya, Sultan Hasan dan menteri-menterinya melakukan perundingan dengan Pangeran Suta.

Keesokan harinya, Pangeran Suta mulai mempersiapkan alat-alat perang. Ia juga melatih prajurit Indragiri, hingga mereka yang semula berkecil hati karena menderita kekalahan, kembali bersemangat. Pasukan Pangeran Suta yang sudah terlatih dalam perang baik di darat maupun di laut segera menduduki Sungai Indragiri. Selanjutnya pasukan tersebut mendarat dan bersama-sama dengan prajurit Indragiri berangkat menuju Japura.

Pertempuran sengit pun terjadi, karena dua kekuatan yang sama-sama tahan uji berlaga dengan sekuat tenaga. Pertempuran itu berlangsung selama beberapa hari. Pasukan Raja Bayang mulai kewalahan. Banyak di antara balatentaranya yang tewas dan luka-luka. Alat-alat perang mereka pun rusak berantakan. Raja Bayang dan ketiga saudaranya mundur ke pedalaman. Walaupun Raja Bayang dan balatentaranya sudah mundur ke hutan, Pangeran Suta tetap memerintahkan pasukannya untuk mengejar mereka.

Pasukan Raja Bayang kocar-kocir tak tentu arah. Mereka terus diburu oleh pasukan Pangeran Suta. Akhirnya mereka pun kehabisan bekal makanan, kehilangan senjata dan tenaga. Balatentara yang terluka pun semakin parah. Keberanian mereka telah surut tanpa bekas.

Keempat anak raja yang sombong itu kemudian pulang ke negerinya menempuh perjalanan jauh dengan menanggung rasa malu karena kekalahan yang sangat besar.

Pasukan Pangeran Suta segera kembali ke Japura. Utusan pun dikirim Gaung untuk menjemput Sultan Hasan kembali ke istana Japura. “Wahai, Pangeran Suta! Oleh karena engkau telah berjasa terhadap negeri ini, maka sebagai balasannya, aku nikahkan engkau dengan putriku, Raja Halimah,” kata Raja Hasan kepada Pangeran Suta. “Terima kasih, Baginda Raja!” jawab Pangeran Suta dengan senangnya.

Seminggu sebelum pesta pernikahan dimulai, seluruh rakyat negeri tampak sibuk. Mereka sibuk membersihkan, memperbaiki dan menghias istana dengan aneka umbul-umbul. Jalan-jalan mereka rapikan, taman-taman mereka hijaukan, dan lapangan pun dipersiapkan untuk aneka pertunjukan dalam acara penikahan Pangeran Suta dan Raja Halimah. Setelah itu Pangeran Suta dinobatkan sebagai Raja Japura. Maka lengkaplah kebahagian mereka. Rakyat negeri pun kembali aman, damai dan makmur.
verditch - 09/10/2009 02:41 PM
#23

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat "Putri Pandan Berduri, Asal-Mula Persukuan di Pulau Bintan" dari Kep.Riau

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1915/putri-pandan-berduri-asal-mula-persukuan-di-pulau-bintan

keterangan : Batin Lagoi mengasuh Putri Pandan Berduri seperti layaknya seorang putri raja. Setiap hari Batin Lagoi mengajarinya budi pekerti luhur, sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan berbudi bahasa lembut. Kecantikan dan keelokan budi Putri Pandan Berduri mengundang decak kagum para pemuda kampung di Bintan. Namun, tak seorang pun yang berani meminangnya, karena Batin Lagoi menginginkan putrinya menjadi istri seorang anak raja atau megat.Akankah tercapai cita-cita Batin Lagoi tersebut? Lalu, anak raja atau anak megat dari manakah yang akan beruntung menjadi suami Putri Pandan Berduri? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisah selengkapnya dalam cerita Putri Pandan Berduri berikut ini.

Spoiler for Putri Pandan Berduri, Asal-Mula Persukuan di Pulau Bintan
Quote:
Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Pulau Bintan berdiam sekumpulan orang Sampan atau orang Suku Laut. Mereka dipimpin oleh seorang Batin yang gagah perkasa. Batin Lagoi namanya. Untuk masuk ke kawasan Batin Lagoi itu, harus melalui sebuah betung yang ditumbuhi semak belukar yang rimbun.

Pada suatu hari, Batin Lagoi menyusuri pantai. Tengah berjalan santai, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara tangisan bayi dari arah semak-semak pandan. Dengan perasaan takut, ia menerobos semak pandan itu dengan hati-hati. Tak berapa lama, didapatinya seorang bayi perempuan tergeletak beralaskan daun di antara semak pandan itu. “Anak siapa gerangan? Mengapa berada di sini? Orang tuanya ke mana?” Batin Lagoi bertanya dalam hati.

Setelah menengok ke sekelilingnya, Batin Lagoi tidak melihat tanda-tanda ada orang di sekitarnya. Karena ia tidak mempunyai anak, timbullah keinginan untuk mengangkat bayi itu sebagai anak. Dengan hati-hati, diambilnya bayi itu dan dibawanya pulang. Bayi itu kemudian ia beri nama Putri Pandan Berduri. Ia memelihara Putri Pandan Berduri dengan penuh kasih-sayang seperti memelihara seorang putri raja. Setiap hari Batin Lagoi juga memberinya pelajaran budi pekerti yang luhur.

Waktu terus berjalan. Putri Pandan Berduri tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Tutur bahasa dan sopan-santunnya mencerminkan sifat seorang putri raja. Kecantikan dan keelokan perangai Putri Pandan Berduri mengundang decak kagum para pemuda di Pulau Bintan. Namun, tak seorang pun pemuda yang berani meminangnya, karena Batin Lagoi menginginkan putrinya menjadi istri seorang anak raja atau anak megat.

Sementara itu, di Pulau Galang, tersebutlah seorang Megat yang mempunyai dua orang anak laki-laki. Anak yang tua bernama Julela dan yang muda bernama Jenang Perkasa. Sejak mereka kecil, Megat itu mendidik kedua anaknya agar saling membantu dan saling menghormati.

Setelah keduanya beranjak dewasa, Megat menginginkan Julela sebagai batin di Galang. Hal ini kemudian membuat Julela menjadi sombong. Ia sudah tidak peduli dengan adiknya, sehingga hubungan mereka menjadi tidak harmonis lagi. Mereka pun menjalani hidup masing-masing secara terpisah.

Dari hari ke hari kesombongan Julela semakin menjadi-jadi. Ia sering mencaci dan memusuhi adiknya tanpa sebab. Pada suatu hari, Julela berkata kepada adiknya, “Hei, Jenang bodoh!” Kelak aku menjadi batin di kampung ini, maka kamu harus mematuhi segala perintahku. Jika tidak, kamu akan aku usir dari kampung ini.”

Jenang Perkasa sangat sedih mendengar ucapan abangnya itu. Ia merasa tidak lagi dianggap sebagai saudara. Hal ini menyebabkan Jenang Perkasa merasa semakin terasing dari keluarga. Oleh karena itu, timbullah keinginannya untuk meninggalkan Pulau Galang.

Keesokan harinya, secara diam-diam, Jenang Perkasa berlayar tak tentu arah. Setelah berhari-hari mengarungi lautan luas, sampailah ia di Pulau Bintan. Di sana, ia tidak mengaku sebagai anak seorang megat. Ia selalu bertutur kata lembut kepada setiap orang yang diajaknya berbicara. Sikap dan perilaku Jenang Perkasa itu telah menarik perhatian Batin Lagoi.

Pada suatu hari, Batin Lagoi mengadakan perjamuan makan bersama orang-orang Suku Sampan lainnya. Tak ketinggalan pula Jenang Perkasa diundang dalam perjamuan itu. Jenang Perkasa pun pergi memenuhi undangan itu. Saat jamuan makan akan dimulai, ia memilih tempat yang agak jauh dari kawan-kawannya, agar air cuci tangannya tidak jatuh di hidangan yang ia makan. Tanpa disadarinya, ternyata sejak ia datang sepasang mata telah memerhatikan perilakunya, yang tak lain adalah Batin Lagoi. Tingkah laku dan budi pekerti Jenang Perkasa itu sungguh mengesankan hati Batin Lagoi.

Usai perjamuan, Batin Lagoi menghampiri Jenang Perkasa. “Wahai, Jenang Perkasa! Aku sangat terkesan dan kagum dengan keelokan budi pekertimu. Bersediakah engkau aku nikahkan dengan putriku, Pandan Berduri?” tanya Batin Lagoi. “Dengan segala kerendahan hati, saya bersedia menerima putri tuan sebagai istri saya,” jawab Jenang Perkasa dengan sopannya.

Rupanya, Batin Lagoi sudah lupa dengan cita-citanya untuk menikahkan putrinya dengan anak raja atau megat. Meskipun sebenarnya Jenang Perkasa adalah anak seorang megat, tetapi Batin Lagoi tidak mengetahui tentang hal itu. Ia sungguh-sungguh tertarik dengan perangai Jenang Perkasa yang baik itu.

Seminggu kemudian, Jenang Perkasa pun dinikahkan dengan Putri Pandan Berduri. Pernikahan mereka dilangsungkan sangat meriah. Aneka minuman dan makanan dihidangkan. Tari-tarian juga dipergelarkan menghibur para pengantin dan para undangan. Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri pun hidup bahagia.

Tak berapa lama kemudian, Batin Lagoi mengangkat Jenang Perkasa sebagai Batin di Bintan untuk menggantikan dirinya. Jenang Perkasa memimpin rakyat Bintan dengan bijaksana sesuai dengan adat yang berlaku di Bintan.

Kepemimpinan Jenang Perkasa yang bijaksana itu terdengar oleh masyarakat Galang. Hingga suatu hari, datanglah sekumpulan orang dari Galang ke Pulau Bintan. “Wahai, Jenang Perkasa! Kami sudah mengetahui tentang kepemimpinanmu di Pulau Bintan ini. Maksud kedatangan kami ke sini untuk mengajak engkau kembali ke Galang mengggantikan abang Engkau yang sombong itu sebagai Batin,” kata salah seorang dari mereka. Namun, Jenang Perkasa menolaknya. Ia lebih memilih menjadi Batin di Pulau Batin. Sekumpulan orang dari Galang itu pun kembali dengan tangan hampa.

Sementara Jenang Perkasa hidup berbahagia bersama Putri Pandan Berduri. Mereka mempunyai tiga orang putra, yang sulung dinamakan Batin Mantang, yang tengah Batin Mapoi, dan yang bungsu Batin Kelong.

Jenang Perkasa mendidik ketiga anaknya dengan baik, agar mereka tidak menjadi orang yang sombong. Ia berharap kelak mereka akan menjadi pemimpin suku yang bertanggung jawab. Maka pada ketiga anaknya diadatkannya dengan adat suku Laut, dan dinamakan dengan adat Kesukuan.

pandan berduriSetelah beranjak dewasa, ketiga anaknya tersebut memimpin suku mereka masing-masing. Batin Mantang membawa berhijrah ke bagian utara Pulau Bintan, Batin Mapoi dengan sukunya ke barat, dan Kelong dengan sukunya ke timu Pulau Bintan. Ketiga suku tersebut kemudian menjadi suku terbesar dan termasyhur di daerah Bintan. Jika mereka mengalami kesulitan, mereka kembali kepada yang pertama, yaitu kepada adat Kesukuan.

Tak lama kemudian, Jenang Perkasa meninggal dunia, disusul Putri Pandan Berduri. Walaupun keduanya telah tiada, tetapi anak-cucu mereka banyak sekali, sehingga adat Kesukuan terus berlanjut. Hingga kini, Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri tetap dikenang karena dari merekalah lahir persukuan di Teluk Bintan. Suku Laut atau Suku Sampan ini masih banyak ditemukan berdiam di perairan Pulau Bintan.
verditch - 09/10/2009 02:56 PM
#24

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat "Kisah Putri Ular" dari Sumatra Utara

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1970/kisah-putri-ular

keterangan : Kotamadya Simalungun memiliki ragam warisan tradisi, salah satunya adalah cerita rakyat. Di daerah ini, terdapat cerita rakyat yang sangat terkenal, yaitu Kisah Putri Ular. Cerita ini mengisahkan kegagalan seorang putri raja yang cantik jelita untuk dijadikan permaisuri oleh seorang raja muda yang tampan, karena sang putri tiba-tiba menjelma menjadi seekor ular. Peristiwa apa sebenarnya yang terjadi, sehingga sang putri cantik itu menjelma menjadi seekor ular? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat berikut ini!

Spoiler for Kisah Putri Ular
Quote:
Alkisah, di suatu negeri di kawasan Simalungun, Sumatera Utara, berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Sang Raja memiliki seorang putri yang kecantikannya sungguh luar biasa. Berita tentang kecantikan putri raja itu tersebar ke berbagai pelosok negeri. Berita tersebut juga didengar oleh seorang raja muda yang memerintah di sebuah kerajaan yang letaknya tidak jauh dari kerajaan ayah sang Putri.

Mendengar kabar tersebut, Raja Muda yang tampan itu berniat melamar sang putri. Sang raja kemudian mengumpulkan para penasehat kerajaan untuk memusyawarahkan keinginannya tersebut.
“Wahai, para penasehatku! Apakah kalian sudah mendengar berita kecantikan putri itu?” tanya sang raja kepada penasehatnya.
“Sudah, Tuan!” jawab para penasehat serantak.
“Bagaimana menurut kalian, jika sang putri itu aku jadikan sebagai permaisuri?” sang Raja kembali bertanya.
“Hamba setuju, Tuan!” jawab salah seorang penasehat.
“Iya, Tuan! Hamba kira, Tuan dan Putri adalah pasangan yang sangat serasi. Tuan seorang raja muda yang tampan, sedangkan sang putri seorang gadis yang cantik jelita,” tambah seorang penasehat.
“Baiklah kalau begitu. Segera persiapkan segala keperluan untuk meminang sang putri,” perintah sang raja.
“Baik, Baginda!” jawab seluruh penasehat serentak.

Keesokan harinya, tampak rombongan utusan raja muda meninggalkan istana menuju negeri tempat tinggal sang putri. Sesampainya di sana, mereka disambut dan dijamu dengan baik oleh ayah sang putri. Usai perjamuan, utusan sang raja muda pun menyampaikan maksud kedatangan mereka.
“Ampun, Baginda! Maksud kedatangan kami ke sini adalah hendak menyampaikan pinangan Raja kami,” jawab salah seorang utusan yang bertindak sebagai juru bicara.
“Kami menerima pinangan Raja kalian dengan senang hati, karena kedua kerajaan akan bersatu untuk mewujudkan masyarakat yang makmur, damai dan sejahtera,” jawab sang raja.
“Terima kasih, Baginda! Berita gembira ini segera kami sampaikan kepada Raja kami. Akan tetapi…, Raja kami berpesan bahwa jika lamaran ini diterima pernikahan akan dilangsungkan dua bulan lagi,” ujar utusan tersebut.
“Kenapa begitu lama?” tanya sang Raja tidak sabar.
“Raja kami ingin pernikahannya dilangsungkan secara besar-besaran,” jawab utusan itu.
“Baiklah kalau begitu, kami siap menunggu,” jawab sang Raja.

Usai berunding, utusan Raja Muda berpamitan kepada sang Raja untuk kembali ke negeri mereka. Setibanya di sana, mereka langsung melaporkan berita gembira itu kepada Raja mereka, bahwa pinangannya diterima. Sang Raja Muda sangat gembira mendengar berita itu.
“Kalau begitu, mulai saat ini kita harus menyiapkan segala keperluan untuk upacara pernikahan ini!” seru Raja Muda.
“Baiklah, Tuan! Segera kami kerjakan,” jawab seorang utusan.

Sementara itu, setelah para utusan Raja Muda kembali ke negeri mereka, ayah sang Putri menemui putrinya dan menyampaikan berita pinangan itu.
“Wahai, putriku! Tahukah engkau maksud kedatangan para utusan itu?” tanya sang Raja kepada putrinya.
“Tidak, ayah! Memangnya ada apa, yah?” sang putri balik bertanya.
“Ketahuilah, putriku! Kedatangan mereka kemari untuk menyampaikan pinangan raja mereka yang masih muda. Bagaimana menurutmu?” tanya sang Ayah.
“Jika ayah senang, putri bersedia,” jawab sang Putri malu-malu.
“Ayah sangat bangga memiliki putri yang cantik dan penurut sepertimu, wahai putriku!” sanjung sang Ayah.
“Putriku, jagalah dirimu baik-baik! Jangan sampai terjadi sesuatu yang dapat membatalkan pernikahanmu,” tambah sang ayah.
“Baik, ayah!” jawab sang putri.

Menjelang hari pernikahannya, sebagaimana biasa, setiap pagi sang putri pergi mandi dengan ditemani beberapa orang dayangnya di sebuah kolam yang berada di belakang istana. Di pinggir kolam disiapkan sebuah batu besar untuk tempat duduk sang putri. Usai berganti pakaian, sang putri segera masuk ke dalam kolam berendam sejenak untuk menyejukkan sekujur tubuhnya.

Setelah beberapa saat berendam, sang putri duduk di atas batu di tepi kolam. Sambil menjuntaikan kakinya ke dalam air, sang putri membayangkan betapa bahagianya saat pernikahan nanti, duduk bersanding di pelaminan bersama sang suami, seorang Raja Muda yang gagah dan tampan.

Di tengah-tengah sang putri asyik mengkhayal dan menikmati kesejukan air kolam itu, tiba-tiba angin bertiup kencang. Tanpa diduga, sebuah ranting pohon yang sudah kering mendadak jatuh tepat mengenahi ujung hidung sang putri.
“Aduuuh, hidungku!” jerit sang putri sambil memegang hidungnya.

Dalam sekejap, tangan putri yang malang itu penuh dengan darah. Sambil menahan rasa sakit, sang putri menyuruh dayang-dayangnya untuk diambilkan cermin. Betapa terkejut dan kecewanya sang putri saat melihat wajahnya di cermin. Hidungnya yang semula mancung itu tiba-tiba menjadi sompel (hilang sebagian) tertimpa ranting pohon yang ujungnya tajam. Kini wajah sang putri tidak cantik lagi seperti semula. Ia sangat sedih dan air matanya pun bercucuran keluar dari kelopak matanya.
“Celaka! Pernikahanku dengan raja muda akan gagal. Ia pasti akan mencari putri lain yang tidak memiliki cacat. Jika aku gagal menikah dengan raja muda, ayah dan ibu pasti kecewa dan malu di hadapan rakyatnya,” pikir sang putri.

Sang putri sangat tertekan. Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk di kepalanya. Hatinya pun semakin bingung. Ia tidak ingin membuat malu dan kecewa kedua orang tuanya. Namun, ia tidak mampu mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi, selain menyesali nasibnya yang malang itu.

Sang putri pun jadi putus asa. Sambil menangis, ia menengadahkan kedua tangannya ke atas, lalu berdoa:
“Ya, Tuhan! Hukumlah hambamu ini yang telah membuat malu dan kecewa orang tuanya!” doa sang putri dengan mata berkaca-kaca.

Baru saja doa itu terucap dari mulut sang putri, tiba-tiba petir menyambar-nyambar sebagai tanda doa sang putri didengar oleh Tuhan. Beberapa saat kemudian, tubuh sang putri mengalami perubahan yang sangat mengejutkan. Kakinya yang putih mulus tiba-tiba mengeluarkan sisik. Sisik tersebut semakin merambat ke atas. Dayang-dayangnya pun tersentak kaget saat melihat peristiwa itu. Ketika sisik itu mencapai dada, sang putri segera memerintahkan seorang dayang-dayangnya untuk memberi tahu ayah dan ibunya di dalam istana.
“Ampun, Tuan!” hormat sang dayang kepada raja.
“Ada apa, dayang-dayang?” tanya sang raja.
“Ampun, Tuan! Kulit tuan putri mengeluarkan sisik seperti ular,” lapor sang dayang.
“Apa…? Anakku mengeluarkan sisik!” tanya sang raja tersentak kaget.
“Benar, Tuan! Hamba sendiri tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi,” jawab sang dayang.

Setelah mendengar laporan itu, sang raja dan permaisuri segera menuju ke kolam permandian. Sesampainya di tempat itu, mereka sudah tidak melihat tubuh sang putri. Yang tampak hanya seekor ular besar yang bergelung di atas batu yang biasa dipakai sang putri untuk duduk.
“Putriku!” seru sang raja kepada ular itu.

Ular itu hanya bisa menggerakan kepala dan menjulurkan lidahnya dengan tatapan mata yang sayu. Ia seakan hendak berbicara, namun tak satu kata pun yang terucap dari mulutnya.
“Putriku! Apa yang terjadi denganmu?” tanya permaisuri cemas.

Meskipun permaisuri sudah berteriak memanggilnya, namun ular itu tetap saja tidak bisa berkata apa-apa. Tak lama kemudian, ular besar penjelmaan sang putri pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam semak belukar. Sang raja dan permaisuri beserta dayang-dayang tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sangat sedih dan menangis atas nasib malang yang menimpa sang putri.

Peristiwa penjelmaan sang putri menjadi seekor ular adalah hukuman dari Yang Kuasa atas permintaannya sendiri, karena keputusasaannya. Ia putus asa karena telah membuat malu dan kecewa kedua orang tuanya. Ia tidak berhasil menjaga amanah ayahnya untuk selalu jaga diri agar tidak terjadi sesuatu yang dapat membatalkan pernikahannya dengan Raja Muda yang tampan itu.
verditch - 09/10/2009 03:16 PM
#25

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat "Si Kepar" dari Aceh

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1921/si-kepar

keterangan : Dalam masyarakat Alas terdapat banyak cerita rakyat, baik yang tersebar di kalangan anak-anak, remaja maupun orang tua. Salah satu cerita rakyat yang sangat terkenal di kalangan anak-anak dan remaja di daerah ini yaitu Si Kepar. Cerita ini mengisahkan tentang perjuangan seorang anak remaja yang bernama si Kepar dalam menyatukan kembali kedua orang tuanya telah lama bercerai. Munculnya keinginan si Kepar tersebut, karena ia sering diejek oleh teman sepermainannya sebagai jazah (anak tak berayah). Untuk menyatukan kedua orang tuanya yang telah lama bercarai itu, bukanlah hal yang mudah. Usaha apa yang dilakukan si Kepar untuk menyatukan kedua orang tuanya? Berhasilkah usahanya tersebut? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Si Kepar berikut ini!

Spoiler for Si Kepar
Quote:
Alkisah, di sebuah daerah di Kapupaten Aceh Tenggara, hiduplah seorang janda bersama dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Si Kepar. Ayah dan ibu si Kepar bercerai sejak si Kepar masih berusia satu tahun, sehingga ia tidak mengenal sosok ayahnya. Sebagai anak yatim, Si Kepar sering diejek oleh teman-teman sepermainannya sebagai jazah (anak tak berayah). Oleh karena itu, Si Kepar ingin mengetahui siapa sebenarnya ayahnya.

Pada suatu hari, Si Kepar pun menanyakan hal itu kepada ibunya. Pada awalnya, ibunya enggan menceritakan siapa dan di mana ayah Si Kepar. Namun, akhirnya diceritakan juga setelah Si Kepar mengancam akan bunuh diri jika tidak diceritakan. Setelah jelas siapa dan di mana ayahnya, Si Kepar pun berniat untuk menemui ayahnya di atas sebuah gunung yang sangat jauh.

Setelah berpamitan pada ibunya, Si Kepar pun berangkat untuk menemui ayahnya dengan perbekalan secukupnya. Ia berjalan sendiri melawati hutan belantara, menyeberangi sungai dan mendaki gunung. Akhirnya, sampailah ia pada tempat yang dimaksud ibunya. Dari kejauhan, tampaklah seorang laki-laki setengah baya yang sedang menyiangi rumput di tengah-tengah ladangnya. Si Kepar pun segera menghampiri dan menyapanya.
“Selamat siang, Pak!”.
“Siang juga, Nak!” jawab Bapak itu.
“Kamu siapa dan dari mana asalmu?” tanya pula Bapak itu.
“Saya Si Kepar. Berasal dari Tanah Alas,” jawab Si Kepar.
“Tanah Alas?” ucap Bapak itu. Ia tersentak kaget mendengar jawaban Si Kepar.
“Kenapa Bapak kaget mendengar nama itu?” tanya Si Kepar.
“Oh tidak, Nak! Tidak ada apa-apa,” jawab Bapak itu.
“Apa yang membawa kamu ke sini, Par?” tanya balik bapak itu.

Si Kepar pun menceritakan maksud kedatanganya, namun ia tidak menceritakan kalau ibunya masih hidup. Setelah mendengar cerita si Kepar, tahulah Bapak itu bahwa Si Kepar adalah anaknya.

Sejak itu, Si Kepar mulai silih berganti tinggal bersama ayah atau ibunya. Dalam seminggu, terkadang Si Kepar tidur tiga malam di tempat ayahnya, baru kembali ke tempat ibunya. Si Kepar tidak pernah menceritakan kepada ibunya kalau ia tidur di tempat ayahnya. Bahkan, ia mengatakan kepada ibunya, bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Semua hal ini dilakukan oleh Si Kepar, karena ia ingin kedua orang tuanya menyatu kembali agar tidak lagi diejek oleh teman-temannya sebagai jazah.

Segala daya dan upaya dilakukannya agar keinginannya dapat tercapai, walaupun ia harus berbohong kepada kedua orang tuanya. Setelah berdoa sehari-semalam, Si Kepar mendapat petunjuk dari Yang Mahakuasa. Petunjuk itu adalah menyatakan kehendaknya kepada ibunya untuk memiliki ayah tiri. Harapan ini juga disampaikan kepada ayahnya untuk memiliki ibu tiri. Pada suatu malam, Si Kepar menyampaikan harapannya itu kepada ibunya.
“Bu, sebenarnya Kepar kasihan melihat ibu yang setiap hari bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kita. Jika ibu ingin menikah lagi, Kepar tidak keberatan memiliki ayah tiri.” Mendengar perkataan Kepar itu, ibunya termenung sejenak, lalu berkata, “Benarkah kamu tidak keberatan, Par?”
“Tidak, Bu! Kepar sangat senang jika memiliki ayah lagi, agar teman-teman Kepar tidak akan lagi mengejek Kepar sebagai jazah,” Kepar menjelaskan alasan sebenarnya ingin memiliki ayah lagi.
“Tapi..., siapa lagi yang mau menikah dengan ibu yang sudah tua ini,” kata ibu Kepar merendah.
“Ibu tidak perlu khawatir. Serahkan saja masalah itu kepada Kepar,” jawab Kepar dengan perasaan lega, karena jawaban ibunya menandakan bersedia menikah lagi.

Keesokan harinya, Kepar kemudian pergi ke gunung menemui ayahnya untuk menyampaikan harapan yang sama.
“Ayah! Bolehkah Kepar meminta sesuatu kepada, Ayah?” tanya Kepar kepada ayahnya.
“Apakah itu, Anakku!” jawab ayah Kepar penasaran.
“Sebenarnya Kepar merasa kasihan melihat ayah yang setiap hari harus bekerja di ladang dan memasak sendiri. Jika ayah tidak keberatan, Kepar akan mencarikan seorang perempuan yang pantas untuk mendampingi ayah,” kata Kepar kepada ayahnya.
“Siapa lagi yang mau dengan ayah yang sudah tua ini?” jawab ayah Kepar tersenyum.
“Tenang, Ayah! Masih banyak janda-janda yang sebaya dan pantas untuk ayah di Tanah Alas,” kata Kepar kepada ayahnya memberi harapan.
“Ah, yang benar saja, Par!” jawab ayah Kepar dengan santainya.

Mendengar jawaban itu, Kepar pun tahu kalau ayahnya bersedia menikah lagi. Akhirnya, kedua orang tuanya menyetujui harapan Si Kepar. Namun, mereka belum mengetahui siapa jodohnya yang oleh mereka sama-sama telah menyerahkan masalah itu kepada Si Kepar.

Setelah itu, Kepar pun mulai mengatur taktik dan strategi untuk mempertemukan kedua orang tuanya yang semula beranggapan bahwa pasangan mereka sudah meninggal sebagaimana keterangan Si Kepar. Si Kepar mempertemukan mereka di sebuah dusun yang berada di lereng gunung, tidak jauh dari tempat tinggal ayahnya. Pertemuan ini tidak dilakukan di Tanah Alas, agar ayahnya tidak teringat dengan tempat itu, dimana dulu ia pernah tinggal di sana selama puluhan tahun.

Akhirnya, berkat usaha Kepar, kedua orang tuanya bersatu kembali. Mereka berdua hidup harmonis seperti sedia kala. Melihat keadaan itu, kini saatnya Si Kepar menceritakan keadaan yang sebenarnya, bahwa perempuan yang dinikahi ayahnya itu adalah istrinya sendiri yang dulu pernah ia nikahi. Demikian sebaliknya, laki-laki yang menikahi ibunya itu adalah suaminya sendiri yang dulu pernah menikahinya. Setelah mendengar keterangan dari Si Kepar tersebut, tahulah keduanya (ayah dan ibu Kepar) keadaan yang sebenarnya. Meskipun keduanya telah dibohongi oleh anaknya, keduanya tidak marah. Keduanya saling memaafkan atas kesalahan masing-masing yang menyebabkan mereka bercerai. Mereka juga berterima kasih kepada Si Kepar, karena telah menyatukan mereka kembali. Si Kepar pun sangat senang menyambut kehadiran ayahnya di tengah-tengah keluarganya. Akhirnya, mereka bertiga hidup dalam sebuah keluarga yang rukun, damai dan penuh kebahagiaan. Sejak itu pula, Si Kepar tidak pernah lagi diejek oleh teman-temannya sebagai jazah.
e-New - 11/10/2009 03:36 PM
#26
Manusia Menjadi Burung Pipit
kaskus ID : e-New
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
bentuk karya : Manusia Menjadi Burung Pipit
sumber : Disini
keterangan : Cerita rakyat dari suku kaili - sulteng [Manusia Menjadi Burung Pipit]

Spoiler for Manusia Menjadi Burung Pipit
Ada seorang naluo kapuruna (besar pantatnya) yang yang dijual. Kemudian ada pula seorang anak raja perempuan bernama Gigimani. Ada tunangannya seorang anak raja dari Jawa bernama Datirijawa. Anak ini menangis, dia ingin dibeli (dijadikan budak), maka ibunya berkata: "Bagai mana kamu mau dibeli (dijadikan budak), sedang engkau anak raja mempunyai banyak pengasuh, bahkan ada yang khusus mengangkat kotoranmu?" Dibelinya orang yang besar pantatnya. Tujuh bulan kemudian terjadilah peristiwa yang ajaib di kampung itu. Semua orang di kampung itu menjadi burung pipit termasuk ibu Gigimani. Bertepatan dengan peristiwa ini datang tunangan Gigimani, yaitu Datirijawa untuk menjemput tunangannya. Maka disiapkanlah segala pakaian dan perhiasannya, semua barang-barang serta makanan yang akan menjadi bekal dalam perjalanan nanti. Setelah segala sesuatunya siap, maka berangkatlah ia, ditinggalkannya kampung itu sebab tidak ada gunanya lagi tinggal di sana oleh karena tidak ada lagi teman.

Orang yang besar pantatnya itu, ikut berangkat, bersama anak raja. Sudah hampir tiga bulan lamanya mereka berlayar, perahu tiba-tiba berhenti karena angin tidak bertiup. Maka duduklah anak raja tadi di haluan, menyanyi memanggil angin:

- Domi le domi, domi le domi.

- Lelenangura dati rijawa.

Sudah busuk tempat pinang, lebih busuk lagi angin bertiup, sebab ia orang yang dibeli, yang datang itu. Saya hanya orang yang dibeli. Raja yang ada di buritan. Kemudian menyanyi lagi anak raja yang dibaluan itu:

- Domi le domi, domi le domi

- Lelengura dati rijawa

Walaupun sudah wangi, lebih harum yang bertiup itu. Setelah tiga bulan lamanya berlayar menuju kampung laki-laki itu, maka sampailah ia. Orang pun datanglah berarnai-ramai menjemput anak raja Datirijawa itu dengan isterinya. Mereka datang menjemput dengan usungan emas. Orang yang (besar pantat) itu pun akan diusung, dan berkatalah ia, "Jangan saya diusung dengan usungan itu sebab saya sakit bisul, carilah oko untuk usungan saya", Sesampainya di rumah maka dipersilahkanlah ia naik.

Adapun anak raja perempuan yang dibeli tadi tidak dipersilahkan naik ke rumah. Kata raja, "Biarkanlah anak ini tinggal di bawah, tidak naik ke rumah karena raja kurang senang".

Sesudah itu raja memerintahkan kepada seluruh rakyatnya agar membuat sawah yang luas. Maka dibuatlah sawah seluas tiga ratus hektare yang akan dijaga oleh anak perempuan tadi dari serangan burung pipit, sedang tiga ratus hektare lainnya akan dijaga oleh seluruh rakyat bersama raja.

Setelah selesai semua maka disuruhlah anak itu pergi menjaga sawah. Kata raja, "Berikanlah sisa-sisa beras jagung untuk bekal kepada anak itu!" Maka berkatalah anak yang dibeli itu: "Kalau ada sisa-sisa beras jagung yang sudah membubuk berikanlah untuk bekal saya!" Maka diberikanlah jagung bersama tongkoInya untuk anak itu.

Setelah sampai di dangau, tempat menjaga padi di tengah sawah itu maka disisipkanlah jagungnya itu di atas dangau itu dan tidak pernah lagi disentuhmya. Ada pun tanaman padi ketika itu sementara mulai berbuah dan sebahagian sudah mulai berisi.

Tiba-tiba bertiuplah angin yang sangat kencang sehingga semua orang jatuh di parit. Maka menyanyilah anak tersebut:

- E ina-ina ja na ande = Ibu-ibu jangan dimakan

- Ja na ande ri sapoku = Jangan makan di rumah saya

- Ri sapoku tori dauluna= Di rumah saya akan orang dari uluna

Maka datanglah induk burung pipit. Di antara burung-burung pipit itu ada sepotong yang berwarna putih bulunya. Itulah yang menyanyi, menjawab nyanyian anak tadi:

- E ana yaku ande
- Yaku ande ri sapomu
- Ja tori daulana

Maksudnya: "Ya anak sayang, saya tidak akan makan padimu, saya datang hanya mengikuti angin yang bertiup". Setelah itu beterbanglah semua burung pipit itu. Ketika rombongan burung pipit itu datang, bermacam-macamlah ma kanan yang dibawanya. Semua bergantungan di bubungan, dan didinding sehingga mengakibatkan dangau hampir tidak kelihatan lagi. karena beraneka ragam makanan bergantungan di dangau tersebut.

Kemudian pergilah anak itu ke sungai untuk mandi. Setelab tiba di sungai, berdatanganlah burung-burung pipit itu membasahi badan orang yang mandi itu, sehingga sudah menjadi kebiasaan sampai sekarang burung membasahi badannya. Sesudah mandi dipasangnyalah pakaiannya. Ditanyakanlah apakah sudah sembuh? Dijawabnya, "Belum". Cukup tujuh kali ditanyakannya hari pun sudah malam. "Kami ingin kembali", Bawalah saya, apalagi saya ini orang miskin". "Kami adalah keluarga yang tidak kecukupan, di mana malam di situlah tempat tidur".

Ada suatu ketika raja bertanya kepada rakyatnya bagaimana tentang padi di sawah yang sekarang dijaga itu. Orang menjawab bahwa padi di sawah tidak berbuah, sebaliknya padi kepunyaan anak perempuan itu sangat menjadi buahnya. Dengan penuh keheranan, raja berkata kepada orang banyak, "betulkah apa yang kalian ceriterakan itu? Kenapa harus demikian bukankah anak perempuan itu hanya seorang diri?". Orang menjawab, "kalau raja tidak percaya, silahkan raja datang menyaksikan sendiri".

Maka berangkatlah raja ketempat penjagaan burung pipit di sawah kepunyaan orang banyak itu. Sementara baru kelihatan sawah tersebut, jatuhlah raja di dalam parit, sedangkan anak itu diam saja di pondok penjagaan burung pipit itu. "Perhatikanlah", kata orang banyak kepada raja. Menyanyi lagi anak di pondok itu. Sesudah menyanyi anak tersebut, barulah burung pipit lagi menyanyi. Kalau sudah menyanyi burung pipit di pondok, berdatanglah bermacam-macam makanan di pondoknya. Gogoso dan nasi jaha semuanya dibawa oleh burung pipit. Sementara angin laut sudah bertiup maka menyanyilah anak di pondok itu.

- E ina-ina ja mu ande.
- a jamu ande jar ri sapoku
- Ri sapoku tori baluna
- Tori baluna yaku li

Kemudian burung pipit lagi yang menyanyi:

- E ana aga ku ande
- Aga ku anderi sopomu
- Ri sapomu tori baluna
- Tori baluna kuace wei
e-New - 11/10/2009 03:38 PM
#27

Sambungan dari atas.. o
Quote:
Original Posted By e-New
kaskus ID : e-New
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
bentuk karya : Manusia Menjadi Burung Pipit
sumber : Disini
keterangan : Cerita rakyat dari suku kaili - sulteng [Manusia Menjadi Burung Pipit]

Spoiler for Manusia Menjadi Burung Pipit
Ya anakku, saya datang hanya mengikuti kedatangan angin laut. Burung pipit datang lagi di pondok-pondok anak itu. Sementara raja merangkak di pematang sawah, kelihatan olehnya buah padi kepunyaan anak itu sangat banyak. Raja pun tidak berkata-kata, sementara ia duduk di pematang sawah. Sesudah habis makan, dibawanyalah ke sungai, sesudah kembali dari sungai dipasangnyalah pakaiannya, sambil berjalan. Sementara anak itu berkata, "Sudah sembuh?, belum! Sudah sembuh, belum? Sudah sembuh, belum?" Dikatakannya sudah sembuh itu. Karena dikejutkan tiba-tiba raja pingsan seketika itu. Maka semua orang sibuk, karena raja dalam keadaan pingsan. Melihat keadaan itu anak raja perempuan tadi lalu pergi mengambil air; dibasahinya ujung rambutnya lalu dipercikkan ke seluruh badan raja. Raja pun sadarlah. Ditindisnyalah paha anak itu. Dan berkatalah raja seketika, bahwa anak tersebut adalah isterinya. Maka berkatalah anak tersebut, "Saya bukan isterimu tuanku. Kalau tuanku memandang isteri tuanku tentu akan mengenal wajahnya. Sementara itu raja merencanakan memanggil isterinya. Maka pergilah orang untuk mengambilnya. Maksud raja untuk membunuh isterinya itu, katanya, "Beritahukan perempuan itu segera ke sana, sebab hanya dia yang dapat dijadikan pawang padi".

Setiba utusan raja, lalu berkatalah perempuan tersebut: "Saya akan mandi dahulu," "Tidak usah mandi sebab hari sudah malam. Waktu yang tinggal sedikit inilah yang sebaik-baiknya digunakan". KWenapa tergesa-gesa sekali? Saya masih berbedak," "Tidak usah", katanya, "Saya ganti pakaian." "Biar saja, tidak perlu, kita menuju pelabuhan perahu sekarang". Sementara berjalan, berkata lagi perempuan itu: "Saya ini akan mati. Saya mungkin akan dibunuh". Begitulah kata-katanya sepanjang jalan. Setelah nampak oleh raja, maka raja pun lalu mengejamya. "Saya ini akan mati, sungguh saya akan mati". Maka berkatalah Gigimani, "Tuan akan dibunuh walaupun tuanku seorang raja, sedang saya ini hanyalah budak".

Raja laki-laki (Datirijawa) tidak mengenakan pakaian biasa melainkan pakaian kerajaan, sedang anak perempuan itu mengenakan pakaian dan perhiasan emas. Kira-kira sudah tujuh bulan waktunya berIalu perkimpoian mereka, maka berkatalah raja, "Saya akan berangkat menemui orang tua dan melihat harta pusaka saya bersama isteri saya, anak perempuan ini. Sudah lama saya tidak pemah melihat lagi, baik logam anak dibawa, baik emas isteri yang dibawa". Sementara bersiap untuk berjalan bersama isterinya, tibalah saat yang sulit. Rupanya isterinya raja sudah mengidam, ia mulai sakit-sakit. Satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan hanyalah hati dari seekor rusa yang putih. Meskipun berat dikatakannya juga kepada raja, suaminya. Maka raja pun segera berangkat mencari rusa putih, meninggalkan isterinya seorang diri di perahu. Sudah hampir tiga bulan lamanya, raja belum juga kembali. Dalam keadaan demikian, sementara bersiap berangkat maka datanglah perempuan tadi untuk ikut bersama mereka berlayar. Maka disuruhlah ia pergi mengambil air dengan bobo. Ketika hendak mengambil air, maka isteri raja di perahu berbayang di permukaan air di sumur. Disangkanya mukanya sendiri yang kelihatan itu, yang sesungguhnya buruk, sehingga bobo yang dibawanya dipecahkannya, laIu pulang. Setelah sampai di perahu bertanya isteri raja, "Mana air dan bobo yang kamu bawa"? Jawabnya," sudah pecah, karena dikagetkan ikan yang berkelahi". Disuruh bawa lagi cerek untuk tempat air. Cerek itu di pecahkannya lagi. "Mana cerek air"? "Saya dikejutkan oleh biawak sehingga cerek tersebut jatuh dan rusak". Apa saja yang bisa masuk akal dijadikannya alasan untuk memberitahu kepada isteri raja di perahu. Kemudian di bawa lagi belanga, tetapi dipecahkannya dengan batu besar. Ketika ditanya, mana belanganya; dijawabnya bahwa ia terkejut sehingga belanga terlempar ke laut, Ia pun lalu berdiam diri.

Berkatalah raja perempuan, "Kalau begitu cobalah cari kutu saya ini". Sementara mencari kutu, berkatalah perempuan itu "Berikanlah saya sepasang pakaianmu supaya saya lebih rajin mencari kutumu". Raja perempuan pun menanggalkan pakaiannya dan diberikannya kepada orang yang mencari kutu tersebut.

Karena asyiknya dicarikan kutunya, maka isteri raja pun tertidur. Ketika itulah ia gunakan kesempatan mencungkil kedua mata isteri raja lalu dilempamya ke laut. Maka pada saat itu berhasillah ia menjadi isteri raja.

Sedang raja sudah datang membawa rusa putih. Berkatalah ia, "Mengapa raja terlalu lama tidak segera pulang, potonglah rusa itu". Sesudah dipotong diambilnya hatinya dan dikatakannya," baiklah kita berangkat saja. Ketika sampai di rumah berkatalah ibunda raja, "Seperti tidak menyerupai muka anak mantu saya yang berangkat dahulu. Muka lain yang datang".

Isteri raja yang dijatuhkan di laut tadi terkait dikemudi perahu. Kemudian setelah perahu tiba di pelabuhan, merangkaklah ia ke darat, menuju ke sebuah batang kayu yang berlubang dan tinggallah ia di sana sampai ia melahirkan anak. Anak itu dipeliharanya di lobang kayu sampai besar. Suatu ketika berkata anaknya kepada ibunya, "Saya ingin memancing ikan dilaut". Jawab ibunya," Bahan apa yang jadikan pancingnya? "Kayu pancingan dari batang padi sedangkan talinya dari rambut". Maka pergilah anak kecil itu memancing. Baru saja dilemparkannya di laut, ia sudah mendapatIcan ikan sebesar nyiru. Berkatalah anak itu, "Inilah ikan-ikan yang saya dapat pancing". "lkan apa yang didapati itu? Baiklah di jual saja; kalau sudah laku, uangnya belikan saya sirih". Anak itu pergilah menjala ikan tadi dengan memanggil-manggil "lkan raja, ikan raja". Ketika sampai di rumah raja, raja bertanya, "Dibayar dengan apa ikanmu ini nak? Jawab anak itu: "Sirih, berikan saya sirih yang sudah rusak di sudut sana". Maka sirih itu pun diberikan kepadanya. Sesampainya sirih itu diberikannya kepada ibunya, ia pun pergi menangkap ikan (memancing ikan) lagi. Ikan yang didapatnya lalu dijualnya pula. Anak itu memanggil-mangil menjual ikan itu: "lkan, ikan raja". "dibayar dengan apa"? kata raja." Ada yang dibungkus daun jagung didapur tempat masak". Rupanya itulah mata ibunya. Anak itu kemudian bertanya, "Adakah kelapa putih disini tiga buah"? "Ada". "Dapatkah saya bawa ke rumah"? Maka dibawa oleh anak ini kelapa tiga buah tadi. "Kupaslah dengan baik dan asahlah di batu, mata saya itu," kata ibunya. Berulang kali diasah dipasanglah. "Sudah kelihatan saya ini? "Masih kabur kelihatan". "Lakukan lagi satunya, asah di batu. Bukan main, sudah berapa bulan hanya dekat perapian terus saja. Asah lagi, lalu pasang," Bagaimana, sudah terang? "Sudah terang betul" "Kalau begitu saya akan berhenti, saya akan berhenti memancing ikan.

Bertepatan saat orang kampung melaksanakan upacara melepas perahu, seorang anak berdiri di muara sungai. Berkata anak itu kepada ibunya, "Oh, ibu orang melepas perahu rupanya tentulah ada ayam kecil disana, saya akan ambil, saya akan pergi menyabung ayam. Maka diambilnya ayam tadi yang putih bulunya lalu ia berangkat menuju tempat penyabungan ayam yaitu dirumah raja. Ketika raja melihat anak itu memegang ayam kecil, maka berkatalah raja; "Maukah engkau menyabung ayammu Nak? Bawalah ke mari! Berapa taruhannya? Anak itu menjawabnya, Diri sayalah taruhannya hai baginda raja".

Ketika ayam itu dilepas berkelahi, orang-orang yang menyaksikan turut memberikan support kepada ayam putih kecil itu sehingga hanya tiga kali dipukulnya ayam besar kepunyaan raja itu maka matilah ayam raja itu. Katanya, "Ini uang taruhannya", simpanlah disitu, saya akan pulang dahulu baginda raja", jawab anak itu.

Keesokan harinya ia pun berangkat ke rumah raja untuk menyabung ayamnya. Ketika nampak oleh raja, maka raja bertanya kepada anak itu, "Maukah engkau menyabung ayammu nak? Bawalah ke mari! Berapa taruhannya? "Seperti kemarin dan saya ini menjadi taruhannya lagi," jawab anak itu. Seketika itu ayam pun dilepas berkelahi. Tiada berapa lama ayam raja pun kalah pula. 'Ambillah uang kemenangannu ini", kata raja. "Biarlah di sini, saya akan pulang dulu baginda raja, sebab saya ini hanya orang miskin", jawab anak itu. Dengan takdir Tuhan pagi-pagi keesokan harinya harta raja tiba-tiba habis walaupun dahulunya adalah raja yang kaya dan berkuasa. Ketiga kali anak itu datang pula membawa ayamnya kepada raja untuk menyabung. Kali ini taruhannya ialah daerah kerajaan akan diserahkan bila raja masih kalah lagi. Ayam pun dilepas kemedan perkelahian, dengan Takdir Tuhan satu kali tendang, ayam kepunyaan raja pun kalah pula. Raja pun menyatakan diri kalah dan habislah seluruh harta dan daerah kekuasaannya.


e-New - 11/10/2009 03:38 PM
#28

Quote:
Original Posted By e-New
Sambungan dari atas.. o

Spoiler for sambungan lagi...
Ketika anak itu hendak pulang raja bertanya, "Dimana tempat tinggalmu nak?" Anak itu menjawab, "disana, baginda raja". Dua tiga kali raja bertanya, anak itu hanya menunjuk ke arah sana. Maka raja lalu menyuruh ikuti anak itu dari belakang untuk mengetahui dimana rumah tempat tinggaInya.

Ketika sampai disana anak itu menunjuk kayu besar yang sedang rebah itu, katanya: "Disanalah tempat tinggal saya". Tetapi anehnya ketika anak itu menginjak ujung kayu itu satu kali bergoyang batang kayu itu, tiba-tiba anak itu terus menghilang, anak itu tiada kelihatan lagi. Orang-orang yang mengikutinya pun heran lalu katanya,"barangkali anak dari setan kayu ini".

Peristiwa ini pun diumumkan oleh raja kepada masyarakat, maka beramai-ramailah orang keluar menuju tempat itu, hanya orang buta dan orang lumpuh sajalah yang tidak dapat turut bersama-sama bekerja. Ada yang membawa kapak, ada yang membawa parang dan sebagainya. Mereka mulai bekerja hendak memotong kayu besar itu. Tetapi ketika kayu besar itu dipotong, terasa bagaikan besi kerasnya. Semua kapak yang dipakai besar dan kecil semuanya jadi rusak. Mereka pun berhenti lalu bermaksud pulang semua. Tidak lama kemudian kelihatan lagi anak itu sedang mandi di laut memukul air. Anak tersebut ditangkap lalu dipegang tangannya. "Dimana rumahmu?" maka masuklah anak tersebut ke dalam rumahnya. Keluarlah ibunya "mengapa orang begini dibawa kemari? kalau diketahuinya anaknya, tentu ada tandanya. Bagaimana mukanya tentunya begitu juga muka anaknya. Coba panjat kelapa adakah buahnya jatuh ditempat lain. Mesti ditempat itu, lebih tebal batang kayu, lebih tebal hatinya, ia tidak punya perasaan.
e-New - 11/10/2009 03:43 PM
#29
Kejadian manusia dari daun tea
kaskus ID : e-New
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
bentuk karya : Cerita rakyat sulawesi tengah [suku kaili]
sumber : Disini
keterangan : Kejadian manusia dari daun tea

Spoiler for Kejadian manusia dari daun tea
Tersebutlah ada dua orang laki-laki, Lagea dan Vunjiaka namanya. Di antara keduanya tidak diketahui mana yang lebih tua atau yang lebih muda.

Konon mereka menemukan dua lembar daun tea di tengah hutan belantara. Daun tea itu temyata daun ajaib, begini ceriteranya:

Pada suatu hari Lagea dan Vunjiaka pergi menebas kayu di hutan untuk dijadikan kebun. Dibakarlah kayu-kayu yang sudah terpotong karena sudah hampir tiba waktunya untuk menanami kebun.

Di rumah mereka ada sebuah guci, bentuknya seperti tempayan tempat air. Guci itu diisi air sampai penuh, barulah mereka pergi lagi untuk menyelesaikan pekedaan di kebun. Tetapi ketika mereka kembali dari kebun, didapatinya guci itu sudah kosong. Siapa kiranya yang mengambil air di guci itu sampai habis?

Sesudah tujuh hari, tempayan itu diisi air lagi, lalu ditinggalkan lagi ke kebun. Tetapi baru tengah hari mereka pulang untuk melihat keadaan di rumah, ingin mengetahui siapa yang mengambil air di tempayan. Mereka mengintip dengan diam-diam. Maka kedengaranlah suara orang sedang menggayung air dari tempayan itu. Rupa-rupanya orang itu adalah penjelmaan daun tea yang diketemukan mereka. Mereka Ialu teringat peristiwa ketika mereka menemukan daun tea itu, yaitu ketika mereka berburu rusa melewati rawa-rawa.

Pada waktu berburu itu mereka membawa serta seekor anjing. Mereka masuk hutan keluar hutan. Dan tiba-tiba anjingnya mengonggong sambil mengejar seekor rusa. Tetapi setelah tiba di tepi rawa-rawa, yang diketemukan mereka di sana hanyalah dua lembar daun tea. Dan si anjing terus saja menyalaki daun itu. Lagea mengambilnya selembar, kemudian dibawa ke rumah dan disimpannya, disisipkan di atap rumah. Daun tea itu dipeliharanya dengan baik-baik, setiap kali di bersihkan dengan air.

Pada suatu hari Lagea mendapati seorang wanita sedang mandi di rumahnya. Ternyata wanita itu adalah penjelmaan daun tea yang ditemukan di hutan dahulu. Wanita itu segera ditangkapnya. Akhirnya keduanya kimpoi.

Tibalah saatnya isterinya mengidam, Ialu katanya kepada Lagea dan Vunjiaka. "Besok pagi pergilah kalian ke hutan. Mencari rusa."

"Di mana kami harus mencarinya?"

Di gunung Layar, jalan yang menuju Poboya. Apabila kalian sudah berhasil menangkap babi atau rusa, carilah bambu di gunung Layar itu. Potong dan ambillah bambu itu. Bawalah ke mari untuk di jadikan tempat memasak rusa atau babi itu.

Mereka berangkat, tak lama kemudian seekor rusa besar tertangkap oleh anjing mereka. Segera diikat kakinya. Tapi ketika akan pulang mereka teringat akan pesan istri Lagea.

Vunjiaka berkata "Bagaimana pesan istrimu Lagea?"

Lagea menjawab, "Katanya ada bambu yang harus dipotong untuk dijadikan tempat memasak. Kalau begitu baiklah kau naiki rusa itu dan aku yang akan memotong bambunya."

Lagea berangkat. Setelah bambu itu diketemukan Ialu dipotongnya. Semak-semak di sekitar bambu itu dibersihkan lebih dahulu agar mudah untuk memotong bambu pesanan istrinya itu.

Tetapi ketika Lagea hendak mulai memotong, tiba-tiba ada suara terdengar, "Jangan kakiku, di atasnya lagi". Lagea mulai hendak memotong bagian yang lebih tinggi. Tapi terdengar lagi suara. "Jangan betisku, lebih ke atas lagi saja"

Maka setiap kali Lagea hendak memotong, selalu ada suara yang mengganggunya, yang meminta agar yang dipotong hendaknya bagian yang lebih tinggi lagi. Akhirnya Lagea tidak jadi Memotong bambu itu.

Rupa-rupanya Vunjiaka ada di tempat itu juga. Tanpa berpikir panjang, Vunjiaka menggali rumpun bambu sampai ke akarnya, sehingga seluruh rumpun bambu itu terbongkar tanpa ada yang dipotong, Ialu dipikulnya. Sedangkan Lagea lalu memikul rusa.

Dalam perjalanan keduanya berhenti pada dua buah batu yang merupakan pasangan untuk melepaskan lelah, karena terIalu berat beban yang dipikulnya. Di tempat itu tiba-tiba bambu yang dipikul Vunjiaka meledak muncullah seorang perempuan yang cantik sekali. Wanita itu lalu dijadikan istri oleh Vunjiaka.

Sejak itu lahirlah berbagai macam adat dan upacara, tarian seni tenun-menenun, sede: yaitu upacara untuk laki-laki dan perempuan. Kemudian timbul nama-nama kayu seperti bodingi, saudu, lelio, silalondo, tomanangi, voleara. Semuanya itu melahirkan adat upacara khitanan bagi laki-laki dan perempuan.

Upacara adat yang dilakukan sampai sekarang mengambil dasar adat lama dari asal mula kejadian manusia dari daun tea tadi. Dalam upacara adat terdengar pula lagu yang berkenaan dengan asal mula terjadinya manusia dari daun tea, misaInya:

- Tidak durhaka dan tidak celaka Vunjiaka.
- Bawa saya, bawalah saya ke dunia luar.
- Vunjiaka segera bawa, bawalah saya ke tanah Sibedi.
- Kalau tidak dari daun tea, saya tidak mungkin dapat batang.
- Jangan dilupakan saya yang jauh.
- Lupalah saya yang jauh melalui pelangi di langit biru.
verditch - 13/10/2009 04:38 PM
#30

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat dari Jawa Tengah berjudul Asal Mula Candi Prambanan

sumber : http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/candi-prambanan.html

keterangan : ini adalah cerita rakyat berjudul asal mula candi prambanan

Spoiler for Candi Prambanan
Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
Quote:
Pada jaman dahulu kala di Pulau Jawa terutama di daerah Prambanan berdiri 2 buah kerajaan Hindu yaitu Kerajaan Pengging dan Kraton Boko. Kerajaan Pengging adalah kerjaan yang subur dan makmur yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Prabu Damar Moyo dan mempunyai seorang putra laki-laki yang bernama Raden Bandung Bondowoso.

Kraton Boko berada pada wilayah kekuasaan kerajaan Pengging yang diperintah oleh seorang raja yang kejam dan angkara murka yang tidak berwujud manusia biasa tetapi berwujud raksasa besar yang suka makan daging manusia, yang bernama Prabu Boko. Akan tetapi Prabu Boko memiliki seorang putri yang cantik dan jelita bak bidadari dari khayangan yang bernama Putri Loro Jonggrang.

Prabu Boko juga memiliki patih yang berwujud raksasa bernama Patih Gupolo. Prabu Boko ingin memberontak dan ingin menguasai kerajaan Pengging, maka ia dan Patih Gupolo mengumpulkan kekuatan dan mengumpulkan bekal dengan cara melatih para pemuda menjadi prajurit dan meminta harta benda rakyat untuk bekal.

Setelah persiapan dirasa cukup, maka berangkatlah Prabu Boko dan prajurit menuju kerajaan Pengging untuk memberontak. Maka terjadilah perang di Kerajaan Pengging antara para prajurit peng Pengging dan para prajurit Kraton Boko.

Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak dan rakyat Pengging menjadi menderita karena perang, banyak rakyat kelaparan dan kemiskinan.

Mengetahui rakyatnya menderita dan sudah banyak korban prajurit yang meninggal, maka Prabu Damar Moyo mengutus anaknya Raden Bandung Bondowoso maju perang melawan Prabu Boko dan terjadilan perang yang sangat sengit antara Raden Bandung Bondowoso melawan Prabu Boko. Karena kesaktian Raden Bandung Bondowoso maka Prabu Boko dapat dibinasakan. Melihat rajanya tewas, maka Patih Gupolo melarikan diri. Raden Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupolo ke Kraton Boko.

Setelah sampai di Kraton Boko, Patih Gupolo melaporkan pada Puteri Loro Jonggrang bahwa ayahandanya telah tewas di medan perang, dibunuh oleh kesatria Pengging yang bernama Raden Bandung Bondowoso. Maka menangislah Puteri Loro Jonggrang, sedih hatinya karena ayahnya telah tewas di medan perang.

Maka sampailah Raden Bandung Bondowoso di Kraton Boko dan terkejutlah Raden Bandung Bondowoso melihat Puteri Loro Jonggrang yang cantik jelita, maka ia ingin mempersunting Puteri Loro Jonggrang sebagai istrinya.

Akan tetapi Puteri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso karena ia telah membunuh ayahnya. Untuk menolak pinangan Raden Bandung Bondowoso, maka Puteri Loro Jonggrang mempunyai siasat. Puteri Loro Jonggrang manu dipersunting Raden Bandung Bondowoso asalkan ia sanggup mengabulkan dua permintaan Puteri Loro Jonggrang. Permintaan yang pertama, Puteri Loro Jonggrang minta dibuatkan sumur Jalatunda sedangkan permintaan kedua, Puteri Loro Jonggrang minta dibuatkan 1000 candi dalam waktu satu malam.

Raden Bandung Bondowoso menyanggupi kedua permintaan puteri tersebut. Segeralah Raden Bandung Bondowoso membuat sumur Jalatunda dan setelah jadi ia memanggil Puteri Loro Jonggrang untuk melihat sumur itu.

Kemudian Puteri Loro Jonggrang menyuruh Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur. Setelah Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur, Puteri Loro Jonggrang memerintah Patih Gupolo menimbun sumur dan Raden Bandung Bondowoso pun tertimbun batu di dalam sumur. Puteri Loro Jonggrang dan Patih Gupolo menganggap bahwa Raden Bandung Bondowoso telah mati di sumur akan tetapi di dalam sumur ternyata Raden Bandung Bondowoso belum mati maka ia bersemedi untuk keluar dari sumur dan Raden Bandung Bondowoso keluar dari sumur dengan selamat.

Raden Bandung Bondowoso menemui Puteri Loro Jonggrang dengan marah sekali karena telah menimbun dirinya dalam sumur. Namun karena kecantikan Puteri Loro Jonggrang kemarahan Raden Bandung Bondowoso pun mereda.

Kemudian Puteri Loro Jonggrang menagih janji permintaan yang kedua kepada Raden Bandung Bondowoso untuk membuatkan 1000 candi dalam waktu 1 malam. Maka segeralah Raden Bandung Bondowoso memerintahkan para jin untuk membuat candi akan tetapi pihak Puteri Loro Jonggrang ingin menggagalkan usaha Raden Bandung Bondowoso membuat candi. Ia memerintahkan para gadis menumbuk dan membakar jerami supaya kelihatan terang untuk pertanda pagi sudah tiba dan ayam pun berkokok bergantian.

Mendengar ayam berkokok dan orang menumbuk padi serta di timur kelihatan terang maka para jin berhenti membuat candi. Jin melaporkan pada Raden Bandung Bondowoso bahwa jin tidak dapat meneruskan membuat candi yang kurang satu karena pagi sudah tiba. Akan tetapi firasat Raden Bandung Bondowoso pagi belum tiba. Maka dipanggillah Puteri Loro Jonggrang disuruh menghitung candi dan ternyata jumlahya 999 candi, tinggal 1 candi yang belum jadi.

Maka Puteri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso. Karena ditipu dan dipermainkan maka Raden Bandung Bondowoso murka sekali dan mengutuk Puteri Loro Jonggrang “Hai Loro Jonggrang candi kurang satu dan genapnya seribu engkaulah orangnya”. Maka aneh bin ajaib Puteri Loro Jonggrang berubah ujud menjadi arca patung batu.

Dan sampai sekarang arca patung Loro Jonggrang masih ada di Candi Prambanan dan Raden Bandung Bondowoso mengutuk para gadis di sekitar Prambanan menjadi perawan kasep (perawan tua) karena telah membantu Puteri Loro Jonggrang.

Dan menurut kepercayaan orang dahulu bahwa pacaran di candi Prambanan akan putus cintanya.

Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
mikail_yani - 14/10/2009 10:31 AM
#31

Kaskus ID : mikail_yani
kategori : kasusateraan/pahlawan daerah

Judul : Cak Sakerah - (Madura-Jawa Timur)

cek di sini :

http://id.wikipedia.org/wiki/Sakera

Sakera adalah seorang tokoh pejuang legenda kelahiran Bangil di Pasuruan, Indonesia. Ia berjuang melawan penjajahan Belanda sekitar permulaan abad ke-19. Sakera sadalah seorang jagoan daerah, yang melawan perintah diktator Belanda di perkebunan tebu di daerah Bangil. Sakera seperti juga jagoan-jagoan daerah lainya ditangkap Belanda setelah dikhianati oleh salah satu temannya sendiri. Ia dimakamkan di wilayah Bekacak, Kelurahan Kolursari, daerah paling selatan Kota Bangil. Legenda jagoan berdarah Madura ini sangat populer di Jawa Timur.

Sakera adalah seorang tokoh pejuang yang lahir di kelurahan Raci Kota Bangil, Pasuruan, Jatim, Indonesia. Ia berjuang melawan penjajahan Belanda pada awal abad ke-19. Sakera sadalah seorang jagoan daerah yang melawan penjajah Belanda di perkebunan tebu Kancil Mas Bangil. Legenda jagoan berdarah Bangil ini sangat populer di Jawa Timur utamanya di Pasuruan dan Madura.

Spoiler for cak sakerah


Sakera bernama asli Sadiman yang bekerja sebagai mandor di perkebunan tebu milik pabrik gula kancil Mas Bangil. Ia dikenal sebagai seorang mandor yang baik hati dan sangat memperhatikan kesejahteraan para pekerja hingga dijuluki Pak Sakera. Suatu saat setelah musim giling selesai, pabrik gula tersebut membutuhkan banyak lahan baru untuk menanam tebu. Karena kepentingan itu orang Belanda pimpinan ambisius perusahaan ini ingin membeli lahan perkebunan yang seluas-luas dengan harga semurah-murahnya.Dengan cara yang licik orang belanda itu menyuruh carik Rembang untuk bisa menyediakan lahan baru bagi perusahaan dalam jangka waktu singkat dan murah, dan dengan iming-iming harta dan kekayaan hingga carik Rembang bersedia memenuhi keinginan tersebut. Carik Rembang menggunakan cara-cara kekerasan kepada rakyat dalam mengupayakan tanah untuk perusahaan. Sakera melihat ketidak adilan ini mencoba selalu membela rakyat dan berkali kali upaya carik Rembang gagal. Carik Rembang melaporkan hal ini kepada pemimpin perusahaan. Pemimpin perusahaan marah dan mengutus wakilnya Markus untuk membunuh Sakera. Suatu hari di perkebunan pekerja sedang istirahat, Markus marah-marah dan menghukum para pekerja serta menantang Sakera. Sakera yang dilapori hal ini marah dan membunuh Markus serta pengawalnya di kebon tebu. Sejak saat itu Sakera menjadi buronan polisi pemerintah Hindia Belanda. Suatu saat ketika Sakera berkunjung ke rumah ibunya, disana ia dikeroyok oleh carik Rembang dan polisi Belanda. Karena ibu Sakera diancam akan dibunuh maka Sakera ahirnya menyerah, Sakera pun masuk penjara Bangil. Siksaan demi siksaan dilakukan polisi belanda kepada sakera setiap hari. selama dipenjara Pak Sakera selalu kangen dengan keluarga dirumahnya, Sakera memiliki istri yang sangat cantik bernama Marlena dan seorang keponakan bernama Brodin. Berbeda dengan Sakera yang berjiwa besar, Brodin adalah pemuda nakal yang suka berjudi dan sembunyi-sembunyi mengincar Marlena istri Sakera. Berkali kali Brodin berusaha untuk mendekati Marlena. Sementara Sakera ada dipenjara, Brodin berhasil berselingkuh dengan Marlena. Ketika kabar itu sampai di telinga Sakera maka Sakera marah dan kabur dari penjara. Brodin pun tewas dibunuh Sakera. Kemudian Pak Sakera melakukan balas dendam secara berturut turut, dimulai Carik Rembang dibunuh, dilanjutkan dengan menghabisi para petinggi perkebunan yang memeras rakyat. Bahkan kepala polisi Bangil pun ditebas tanganya dengan senjata khasnya 'Clurit' ketika mencoba menangkap Sakera. Dengan cara yang licik pula polisi belanda mendatangi teman seperguruan sakera yang bernama Aziz untuk mencari kelemahan Pak Sakera. Dengan iming-iming akan diberi imbalan kekayaan oleh Government Belanda di Bangil Aziz menjebak Sakera dengan mengadakan tayuban, karena tahu Sakera paling senang acara tayuban akhirnya Sakera pun terjebak dan dilumpuhkan ilmunya degan pukulan [[bambu apus]]. Lagi-lagi belanda berhasil mernangkap kembali Pak Sakera yang kemudian diadili oleh Government Bangil dan diputuskan untuk dihukum gantung. Sakera gugur digantung di penjara Bangil dan Ia dimakamkan di Bekacak, Kelurahan Kolursari (daerah paling selatan Kota Bangil)

mikail_yani - 14/10/2009 10:39 AM
#32

kaskus ID :mikail_yani

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng/cerita pahlawan legendaris

bentuk karya : Cerita Rakyat dari Jawa Timur tentang pahlawan legendaris bernama Sawunggaling

sumber : http://www.ugland.us/showthread.php?t=10515&page=2

keterangan : ini adalah cerita nyata pahlawan legendaris dari Surabaya

Makam Sawunggaling di Jl Lidah Wetan Gang III, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya dikeramatakkan banyak orang. Sayang, tidak ada catatan yg jelas siapa sesungguhnya Sawunggaling itu.

Di dalam cungkup terdapat 5 makam: Makam Raden Ayu Pandansari (Ratu Jin), Sawunggaling, Raden Ayu Dewi Sangkrah (ibu Sawunggaling), Mbah Buyut Suruh utawa Wongsodrono (kakek Sawunggaling) sebagai demang di Lidah Danawati; dan Karyo Sentono [pembantu Sawunggaling].

Spoiler for Sawunggaling


Alkisah, Belanda membuat kontes memanah umbul-umbul kebesaran di alun-alun Surabaya. Siapa pemenangnya akan menjadi pemilik kadipaten surabaya.

Adipati Surabaya, Jayengrono, merasakan bahwa ini cuma akal2an Belanda untuk menjajah secara tak langsung di kadipaten Surabaya. Karena, jika sampai matahari terbenam tak ada yang berhasil memanah umbul2, maka kadipaten Surabaya jatuh menjadi milik Belanda.

Terkisahkan, putra adipati yang merupakan anak tirinya di desa mulai beranjak dewasa, menanyakan di mana bapaknya kepada ibunya. Anak ini bertampang jelek dan bermental bloon. Selalu menamakan dirinya reang, memanggil dirinya sebagai wong reang. Dia dinamakan Joko Berek.

Sang ibu menyebutkan bahwa bapaknya itu adalah Adipati Surabaya. Maka, berangkatlah sang anak ini ke kadipaten Surabaya. Sesampainya di sana tentu saja pengakuannya sebagai anak adipati membuat geger keluarga kadipaten. Terjadilah bentrok dengan pasukan kadipaten, dan juga anak2 dari istri adipati yang sah.

Bentrok dimenangkan oleh Joko Berek. Setelah mengobrak-abrik kadipaten dan tak menemukan sang ayah, Jaka Berek masygul. Untung ada yang mengatakan bahwa adipati sedang menghadiri upacara sayembara memanah umbul2 di alun2.

Joko Berek datang dan membuat kegegeran di sana, bahkan sang ayah adipati Surabaya yang tidak mengakui sang anak harus kalah takluk oleh kesaktian Joko Berek. Sampai ahirnya sang ayah benar2 mau mengakui bahwa itu adalah anaknya yang dulu ditinggalkan di desa.

Mengetahui ayahnya mengakuinya sebagai anak, gembiralah Joko Berek.
Ketika dia mengetahui ayahnya sedang murung, bertanyalah dia. Ketahuan bahwa kemurungan ayahnya akibat masalah sayembara. Maka, Joko Berek pun bersedia maju untuk mengikuti perlombaan.

Rupanya keinginanya dihalang-halangi oleh saudaranya yang bersekutu dengan wakil Sunan Mataram. Ahirnya dengan berbagai alasan maka Joko Berek dilarang ikut lomba. Untunglah, Cakraningrat [Bupati Madura] yang hadir sebagai pengawas sayembara itu mempertaruhkan posisinya demi ikutnya Joko Berek dalam sayembara itu. Karena itu, Joko Berek sangat hormat kepada Cakraningrat. Dia bersujud dan minta doa restu.

Kepada ayahnya, Joko Berek juga minta doa restu. Dipanahlah umbul2 itu sampai jatuh. Menjelang matahari terbenam, sayembara terpecahkan. Joko Berek memenangkannya. Kadipaten surabaya menjadi miliknya. Saudara-saudaranya masih juga belum sadar dan terkena hasutan wakil Belanda, mereka bekerja sama menyerang kadipaten.

Alasan yang dipake adalah tak pantes anak bloon dan kampungan seperti Joko Berek menjadi adipati. Maka, saat itu Joko Berek meminta restu dari Cakraningrat dan ayahnya, kemudian dia menjelma menjadi seorang pemuda tampan yang kemudian bergelar Sawunggaling.

Di bawah Sawunggaling, kadipaten Surabaya berhasil memukul mundur belanda dari wilayah Surabaya.

verditch - 14/10/2009 11:10 AM
#33

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat jakarta berjudul si pitung

sumber : http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/si-pitung.html

keterangan : ini adalah cerita rakyat jakarta berjudul si pitung

Spoiler for Si Pitung
Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
Quote:
Pitung adalah salah satu pendekar orang asli Indonesia berasal dari daerah betawi yang berasal dari kampung Rawabelong Jakarta Barat. Pitung dididik oleh kedua orang tuanya berharap menjadi orang saleh taat agama. Ayahnya Bang Piun dan Ibunya Mpok Pinah menitipkan Si Pitung untuk belajar mengaji dan mempelajari bahasa Arab kepada Haji Naipin.

Setelah dewasa Si Pitung melakukan gerakan bersama teman-temannya karena ia tidak tega melihat rakyat-rakyat yang miskin. Untuk itu ia bergerilya untuk merampas dan merampok harta-harta masyarakat yang hasil rampasannya ini dibagikan kepada rakyat miskin yang memerlukannya.

Selain itu Pitung suka membela kebenaran dimana kalau bertemu dengan para perampas demi kepentingannya sendiri maka sama Si Pitung akan dilawan dan dari semua lawannya Pitung selalu unggul.

Gerakan Pitung semakin meluar dan akhirnya kompeni Belanda yang saat itu memegang kekuasan di negeri Indonesia melakukan tindakan terhadap Si Pitung. Pemimpin polisi Belanda mengerahkan pasukannya untuk menangkap Si Pitung, namun berkali-kali serangan tersebut tidak menghasilkan apa-apa. Pitung selalu lolos dan tidak mudah untuk ditangkap oleh pasukan Belanda. Ditambah-tambah Si Pitung mempunyai ilmu kebal terhadap senjata tajam dan sejata api.

Kompeni Belanda pun tidak kehilangan akal, pemimpin pasukan Belanda mencari guru Si Pitung yaitu Haji Naipin. Disandera dan ditodongkan sejata ke arah Haji Naipin agar memberikan cara melemahkan kesaktian Si Pitung, akhirnya Haji Naipin menyerah dan memberitahu kelemahan-kelemahan Si Pitung.

Pada suatu saat, Belanda mengetahui keberadaan Si Pitung dan langsung menyergap dan menyerang secara tiba-tiba. Pitung mengadakan perlawan, dan akhirnya Si Pitung tewas karena kompeni Belanda sudah mengetahui kelemahan Si Pitung dari gurunya Haji Naipin.

Hari-Hari Akhir Si Pitung

Betawi Oktober 1893. Rakyat Betawi di kampung-kampung tengah berkabung. Dari mulut ke mulut mereka mendengar Si Pitung atau Bang Pitung meninggal dunia, setelah tertembak dalam pertarungan tidak seimbang dengan kompeni. Bagi warga Betawi, kematian Si Pitung merupakan duka mendalam. Karena ia membela rakyat kecil yang mengalami penindasan pada masa penjajahan Belanda. Sebaliknya, bagi kompeni sebutan untuk pemerintah kolonial Belanda pada masa itu, dia dilukiskan sebagai penjahat, pengacau, perampok, dan entah apa lagi.

Jagoan kelahiran Rawa Belong, Jakarta Barat, ini telah membuat repot pemerintah kolonial di Batavia, termasuk gubernur jenderal. Karena Bang Pitung merupakan potensi ancaman keamanan dan ketertiban hingga berbagai macam strategi dilakukan pemerintah Hindia Belanda untuk menangkapnya hidup atau mati. Pokoknya Pitung ditetapkan sebagai orang yang kudu dicari dengan status penjahat kelas wahid di Betawi.

Bagaimana Belanda tidak gelisah, dalam melakukan aksinya membela rakyat kecil Bang Pitung berdiri di barisan depan. Kala itu Belanda memberlakukan kerja paksa terhadap pribumi termasuk “turun tikus”. Dalam gerakan ini rakyat dikerahkan membasmi tikus di sawah-sawah disamping belasan kerja paksa lainnya. Belum lagi blasting (pajak) yang sangat memberatkan petani oleh para tuan tanah.

Si Pitung, yang sudah bertahun-tahun menjadi incaran Belanda, berdasarkan cerita rakyat, mati setelah ditembak dengan peluru emas oleh schout van Hinne dalam suatu penggerebekan karena ada yang mengkhianati dengan memberi tahu tempat persembunyiannya. Ia ditembak dengan peluru emas oleh schout (setara Kapolres) van Hinne karena dikabarkan kebal dengan peluru biasa. Begitu takutnya penjajah terhadap Bang Pitung, sampai tempat ia dimakamkan dirahasiakan. Takut jago silat yang menjadi idola rakyat kecil ini akan menjadi pujaan.

Si Pitung, berdasarkan cerita rakyat (folklore) yang masih hidup di masyarakat Betawi, sejak kecil belajar mengaji di langgar (mushala) di kampung Rawa Belong. Dia, menurut istilah Betawi, “orang yang denger kate”. Dia juga “terang hati”, cakep menangkap pelajaran agama yang diberikan ustadznya, sampai mampu membaca (tilawat) Alquran. Selain belajar agama, dengan H Naipin, Pitung –seperti warga Betawi lainnya–, juga belajar ilmu silat. H Naipin, juga guru tarekat dan ahli maen pukulan.

Suatu ketika di usia remaja sekitar 16-17 tahun, oleh ayahnya Pitung disuruh menjual kambing ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dari kediamannya di Rawa Belong dia membawa lima ekor kambing naik gerobak. Ketika dagangannya habis dan hendak pulang, Pitung dibegal oleh beberapa penjahat pasar. Mulai saat itu, dia tidak berani pulang ke rumah. Dia tidur di langgar dan kadang-kadang di kediaman gurunya H Naipan. Ini sesuai dengan tekadnya tidak akan pulang sebelum berhasil menemukan hasil jualan kambing. Dia merasa bersalah kepada orangtuanya. Dengan tekadnya itu, dia makin memperdalam ilmu maen pukulan dan ilmu tarekat. Ilmu pukulannya bernama aliran syahbandar. Kemudian Pitung melakukan meditasi alias tapa dengan tahapan berpuasa 40 hari. Kemudian melakukan ngumbara atau perjalanan guna menguji ilmunya. Ngumbara dilakukan ke tempat-tempat yang “menyeramkan” yang pasti akan berhadapan dengan begal.

Salah satu ilmu kesaktian yang dipelajari Bang Pitung disebut Rawa Rontek. Gabungan antara tarekat Islam dan jampe-jampe Betawi. Dengan menguasai ilmu ini Bang Pitung dapat menyerap energi lawan-lawannya. Seolah-olah lawan-lawannya itu tidak melihat keberadaan Bang Pitung. Karena itu dia digambarkan seolah-olah dapat menghilang. Menurut cerita rakyat, dengan ilmu kesaktian rawa rontek-nya itu, Bang Pitung tidak boleh menikah. Karena sampai hayatnya ketika ia tewas dalam menjelang usia 40 tahun Pitung masih tetap bujangan.

Si Pitung yang mendapat sebutan “Robinhood” Betawi, sekalipun tidak sama dengan “Robinhood” si jago panah dari hutan Sherwood, Inggris. Akan tetapi, setidaknya keduanya memiliki sifat yang sama: Selalu ingin membantu rakyat tertindas. Meskipun dari hasil rampokan terhadap kompeni dan para tuan tanah yang menindas rakyat kecil.

Sejauh ini, tokoh legendaris Si Pitung dilukiskan sebagai pahlawan yang gagah. Pemuda bertubuh kuat dan keren, sehingga menimbulkan rasa sungkan setiap orang yang berhadapan dengannya. Dalam film Si Pitung yang diperankan oleh Dicky Zulkarnaen, ia juga dilukiskan sebagai pemuda yang gagah dan bertubuh kekar. Tapi, menurut Tanu Trh dalam “Intisari” melukiskan berdasarkan penuturan ibunya dari cerita kakeknya, Pitung tidak sebesar dan segagah itu. ”Perawakannya kecil. Tampang Si Pitung sama sekali tidak menarik perhatian khalayak. Sikapnya pun tidak seperti jagoan. Kulit wajahnya kehitam-hitaman, dengan ciri yang khas sepasang cambang panjang tipis, dengan ujung melingkar ke depan.”

Menurut Tanu Trh, ketika berkunjung ke rumah kakeknya berdasarkan penuturan ibunya, Pitung pernah digerebek oleh schout van Hinne. Setelah seluruh isi rumah diperiksa ternyata petinggi polisi Belanda ini tidak menemukan Si Pitung. Setelah van Hinne pergi, barulah Si Pitung secara tiba-tiba muncul setelah bersembunyi di dapur. Karena belasan kali berhasil meloloskan diri dari incaran Belanda, tidak heran kalau Si Pitung diyakini banyak orang memiliki ilmu menghilang. ”Yang pasti,” kata ibu, seperti dituturkan Tanu Trh, ”dengan tubuhnya yang kecil Pitung sangat pandai menyembunyikan diri dan bisa menyelinap di sudut-sudut yang terlalu sempit bagi orang-orang lain.” Sedang kalau ia dapat membuat dirinya tidak tampak di mata orang, ada yang meyakini karena ia memiliki kesaksian “ilmu rontek”
verditch - 14/10/2009 11:26 AM
#34

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat Aceh berjudul Si Parkit Raja Parakeet

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1257/si-parkit-raja-parakeet

keterangan : ini adalah cerita rakyat dari Aceh berjudul Si Parkit Raja Parakeet

Spoiler for Si Parkit Raja Parakeet

Quote:
Konon, di tengah hutan belantara itu, hiduplah sekawanan burung parakeet yang hidup damai, tenteram, dan makmur. Setiap hari mereka bernyanyi riang dengan suara merdu bersahut-sahutan dan saling membantu mencari makanan. Kawanan burung tersebut dipimpin oleh seorang raja parakeet yang bernama si Parkit. Namun, di tengah suasana bahagia itu, kedamaian mereka terusik oleh kedatangan seorang Pemburu. Ternyata, ia berniat menangkap dan menjual burung parakeet tersebut. Pelan-pelan tapi pasti, si Pemburu itu melangkah ke arah kawanan burung parakeet itu, lalu memasang perekat di sekitar sarang-sarangnya. “Ehm….Aku akan kaya raya dengan menjual kalian!”, gumam si Pemburu setelah selesai memasang banyak perekat. Si Pemburu itu pun tersenyum terus memba*yangkan uang yang akan diperolehnya.

Gumaman si Pemburu tersebut didengar kawanan burung parakeet, sehingga mereka menjadi ketakutan. Mereka berkicau-kicau untuk mengingatkan antara satu sama lainnya. “Hati-hati! Pemburu itu telah memasang perekat di se*kitar sarang kita! Jangan sam*pai tertipu! Sebaiknya kita tidak terbang ke mana-mana dulu!” seru seekor burung parakeet. “Ya, betul! Kita memang ha*rus berhati-hati,” sahut burung parakeet yang lain. Namun, karena harus mencari makan, burung-burung parakeet itu pun keluar dari sarangnya. Alhasil, apa yang ditakutkan burung-burung parakeet itu pun terjadi. Bencana tak terelakkan, burung-burung parakeet itu terekat pada perekat si Pemburu. Mereka meronta-ronta untuk melepaskan diri dari perekat tersebut, namun usaha mereka sia-sia. Kawanan burung parakeet tersebut menjadi panik dan bingung, kecuali si Parkit, raja parakeet.

Melihat rakyatnya kebingungan, Raja Parakeet berkata, “Tenang, Rakyatku! Ini adalah perekat yang dipasang si Pemburu. Berarti dia ingin menangkap kita hidup-hidup. Jadi, kalau kita mati, si Pemburu itu tidak akan mengambil kita. Besok, ketika si Pemburu itu datang, kita pura-pura mati saja!”, mendegar penjelasan raja Parakeet itu, rakyatnya terdiam. Sejenak, suasana menjadi hening. Di tengah keheningan itu, “Berpura-pura mati? Untuk apa?”, tanya seekor parakeet, membuat burung parakeet lainnya menoleh ke arahnya. Si Parkit tersenyum mendengar pertanyaan itu, “Besok, setelah si Pemburu melepaskan kita dari perekat yang dipasangnya, dia akan memeriksa kita satu per satu. Bila dilihatnya kita telah mati, maka dia akan meninggalkan kita di sini. Tunggu sampai hitunganku yang ke seratus agar kita dapat terbang secara bersama-sama!”. Semua rakyatnya ternganga mendengar penjelasan si Parkit. “Oh, begitu..!? Baiklah, besok kita akan ber*pura-pura mati agar dapat be*bas dari Pemburu itu!”, sahut rakyatnya setuju.

Kini, rakyatnya sudah mengerti apa yang direnca*nakan oleh si Parkit. Mereka ber*janji akan menuruti pe*rintah rajanya. Keesokan harinya, si Pemburu pun datang. Dengan sangat hati-hati, si Pemburu melepaskan burung parakeet tersebut satu persatu dari perekatnya. Ia sangat kecewa, karena tak satu pun burung parakeet yang bergerak. Dikiranya burung parakeet tersebut telah mati semua, ia pun membiarkannya. Dengan rasa kesal, si Pemburu berjalan seenaknya, tiba-tiba ia jatuh terpeleset. Kawanan burung parakeet yang berpura-pura mati di sekitarnya pun kaget dan terbang dengan seketika tanpa menunggu hitungan dari si Parkit. Si Pemburu pun berdiri kaget, karena ia merasa telah ditipu oleh kawanan burung parakeet itu. Namun, tiba-tiba ia tersenyum, karena melihat ada seekor burung parakeet yang masih melekat pada perekatnya. Lalu ia menghampiri burung parakeet tersebut, yang tidak lain adalah si Parkit. “Kamu akan kubunuh!”, bentak si Pemburu dengan marah. Si Parkit sangat ketakutan mendengar bentakan si Pemburu.

Si Parkit yang cerdik itu, tidak mau kehilangan akal. Ia segera berpikir untuk menyelematkan diri, karena ia tidak mau dibunuh oleh si Pemburu itu. “Ampuni hamba, Tuan! Jangan bunuh hamba! Lepaskan hamba, Tuan!” pinta si Parkit. “Enak saja! Kamu dan teman-temanmu telah me*nipuku. Kalau tidak, pasti aku sudah banyak menang*kap kalian!” kata si Pemburu dengan marah. “Iya. Tapi itu kan bukan salahku. Ampuni hamba, Tuan! Hamba akan menghibur Tuan setiap hari!” kata si Parkit memohon. “Menghiburku?” tanya si Pemburu. “Betul, Tuan. Hamba akan bernyanyi setiap hari untuk Tuan!” seru si Parkit. Si Pem*buru diam sejenak memikirkan tawaran burung parakeet itu. “Memangnya suaramu bagus?” tanya si Pemburu itu mulai tertarik. Si Parkit pun bernyanyi. Suara si Parkit yang merdu itu berhasil mumbujuk si Pemburu, sehingga ia tidak jadi dibunuh. “Baiklah, aku tidak akan membu*nuhmu, tapi kamu harus bernyanyi setiap hari!” kata si Pemburu. Karena takut dibunuh, si Parkit pun setuju.

Setelah itu, si Pemburu membawa si Parkit pulang. Sesampai di rumahnya, si Parkit tidak dikurung dalam sangkar, tapi salah satu kakinya diikat pada tiang yang cukup tinggi. Sejak saat itu, setiap hari si Parkit selalu bernyanyi untuk menghibur si Pem*buru itu. Si Pemburu pun sangat senang mendengarkan suara si Parkit. “Untung….aku tidak membunuh burung parakeet itu”, ucap si Pemburuh. Ia merasa beruntung, karena banyak orang yang memuji kemerduan suara si Parkit. Sampai pada suatu hari, kemerduan suara si Parkit tersebut terdengar oleh Raja Aceh di istananya. Raja Aceh itu ingin agar burung parakeet itu menjadi miliknya. Sang Raja memanggil si Pemburu menghadap kepadanya. Si Pemburu pun datang ke istana dengan perasaan bimbang, karena ia sangat sayang pada si Parkit.

Sampai di hadapan Raja Aceh, ia tidak bersedia memberikan si Parkit yang bersuara merdu itu kepada Sang Raja. “Ampun, Baginda! Hamba tidak bermaksud menentang keinginan Baginda!” kata si Pemburu memberi hormat. “Lalu, kenapa kamu tidak mau memberikan burung itu?” tanya sang Raja. “Ampun, Baginda! Mohon beribu ampun! Hamba sangat sayang pada burung tersebut. Selama ini hamba telah memeliharanya dengan baik”, jawab si Pemburu. Mendengar jawaban itu, “Kalau begitu, bagaimana jika kuganti dengan uang yang sangat banyak.?”, sang Raja menawarkan. Pemburu itu pun terdiam sejenak memikirkan tawaran itu. Tidak lama, “Ampun, Baginda! Jika Baginda benar-benar menyukai burung parakeet ter*sebut, silakan kirim pengawal untuk me*ngambilnya!” kata si Pemburu sambil memberi hormat. Sang Raja sangat senang mendengar jawaban si Pemburu. Ia pun segera memerintahkan beberapa pengawalnya untuk mengambil burung parakeet tersebut dan menyerahkan uang yang dijanjikannya kepada si Pemburu.

Si Parkit pun dibawa ke istana dan dimasukkan ke dalam sangkar emas. Setiap hari si Parkit disediakan makanan yang enak. Meksipun semuanya serba enak, namun si Parkit tetap tidak senang, karena ia merasa terpenjara. Ia ingin kembali ke hutan belantara tempat tinggalnya dulu, agar ia bisa terbang bebas bersama rakyatnya. Karena merasa sedih, si Parkit sudah beberapa hari tidak mau menyanyi untuk sang Raja. Mengetahui burung parakeetnya tidak mau menyanyi lagi, sang Raja mulai bimbang memikirkan burung parakeetnya. Karena ingin tahu keadaan burung itu yang sebenarnya, maka sang Raja pun memanggil petugas istana, “Kenapa burung parakeetku tidak mau bernyanyi lagi beberapa hari ini? Dia sakit, ya?”. Petugas Istana itu menjawab, “Maaf, Tuanku. Hamba juga tidak tahu apa sebabnya. Saya telah memberinya makan seperti biasanya, tetapi tetap saja ia tidak mau bernyanyi,”. Mendengar jawaban dari Petugas Istana tersebut, Raja Aceh menjadi sedih melihat burung parakeetnya yang tidak mau bernyanyi lagi. “Ada apa, ya?” gumam sang Raja.

Beberapa hari kemudian, si Parkit bah*kan tidak mau memakan apa pun yang di*sediakan di dalam sangkar emasnya. Ia terus teringat pada hutan belantara tempat tinggalnya dulu. Si Parkit pun mulai berpikir, “Bagaimana caranya ya….aku bisa keluar dari sangkar ini?”, gumam si Parkit. Tak lama, ia pun menemukan akal, “Aahh….aku harus berpura-pura mati lagi!”, si Parkit tersenyum sambil membayangkan dirinya lepas dan terbang tinggi. Akhirnya, pada suatu hari, ia pun berpura-pura mati. Petugas Istana yang mengetahui si Parkit mati segera menghadap sang Raja. “Ampun, Tuanku. Hamba sudah merawat dan memelihara sebaik mung*kin, tapi burung parakeet ini tidak tertolong lagi. Mungkin karena sudah tua,” kata Petugas Istana melaporkan kematian si Parkit. Sang Raja sangat sedih mendengar berita kematian burung parakeetnya, sebab tidak akan ada lagi yang meng*hi*burnya. Meskipun sang Raja masih memiliki burung parakeet yang lain, tetapi suaranya tidak semerdu si Parkit. Karena si Parkit tidak bisa tertolong lagi, “Siapkan upacara penguburan! Kuburkan burung parakeetku itu dengan baik!” perintah sang Raja. “Siap, Tuanku! Hamba laksanakan!” sahut Petugas Istana.

Penguburan si Parkit akan dilaksanakan dengan upacara kebesaran kerajaan. Pada saat persiapan penguburan, si Parkit dikeluarkan dari sangkarnya karena dianggap sudah mati. Ketika ia melihat semua orang sibuk, dengan cepatnya ia terbang setinggi-tingginya. Di udara ia berteriak dengan riang gembira, “Aku bebaasss…!!! Aku bebaasss….!!!. Orang-orang hanya terheran-heran melihat si Parkit yang dikira sudah mati itu bisa terbang tinggi. Akhirnya si Parkit yang cerdik itu bebas terbang ke hutan belantara tempat tinggalnya dulu yang ia cintai. Kedatangan si Parkit pun disambut dengan meriah oleh rakyatnya.

Akhirnya, Si Parkit, Raja Parakeet, kembali tempat tinggalnya.
sejuta bintang - 16/10/2009 10:03 PM
#35

Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Bentuk karya : Cerita rakyat berjudul "Cindua Mato" dari Minangkabau/Sumatera Barat
Sumber : http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/15/kaba-cindua-mato/
Keterangan :
Kaba Cindua Mato adalah cerita rakyat, berbentuk kaba, dari Minangkabau. Kaba ini mengisahkan petualangan tokoh utamanya, Cindua Mato, dalam membela kebenaran. Kaba Cindua Mato menggambarkan keadaan ideal Kerajaan Pagaruyung menurut pandangan orang Minangkabau.

Edisi cetak tertua kaba ini adalah yang dicatat oleh van der Toorn, Tjindur Mato, Minangkabausch-Maleische Legende. Edisi ini hanya memuat sepertiga saja dari manuskrip asli yang tebalnya 500 halaman. Pada 1904 Datuk Garang menerbitkan edisi lengkap kaba ini di Semenanjung Malaya, dalam aksara Jawi. Edisi ini mirip dengan versi van der Toorn.

Edisi Datuk Garang didasarkan pada manuskrip milik keluarga seorang Tuanku Laras di daerah Minangkabau timur.

Tokoh Tokoh Utama
Bundo Kanduang adalah ratu asli, yang diciptakan bersamaan dengan alam ini. Ia merupakan ibu dari Raja Alam, Dang Tuanku, yang dilahirkannya setelah ia meminum air kelapa gading.

Dang Tuanku adalah Raja Pagaruyung, putra Bundo Kanduang. Dia ditunangkan dengan Puti Bungsu, sepupunya, anak dari pamannya Rajo Mudo, yang berkuasa di Sikalawi.

Cindua Mato seperti Dang Tuanku terlahir setelah ibunya, Kembang Bendahari, meminum air kelapa gading. Karena itu dia juga dapat dipandang sebagai saudara Dang Tuanku.

Imbang Jayo adalah raja Sungai Ngiang, rantau Minangkabau sebelah Timur. Dia berusaha merebut Puti Bungsu, yang sudah ditunangkan dengan Dang Tuanku, dengan menyebarkan desas-desus bahwa raja Pagaruyung tersebut menderita penyakit.

Tiang Bungkuak adalah ayah Imbang Jayo yang sakti dan kebal. Namun pada akhirnya Cindua Mato menemukan kelemahannya.

Spoiler for cindua mato

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang ratu bernama Bundo Kanduang, yang konon diciptakan bersamaan dengan alam semesta ini (samo tajadi jo alamko). Dia adalah timpalan Raja Rum, Raja Tiongkok dan Raja dari Laut. Suatu hari Bundo Kanduang menyuruh Kembang Bendahari, seorang dayangnya yang setia, untuk membangunkan putranya Dang Tuanku, yang sedang tidur di anjungan istana. Kembang Bendahari menolak, karena Dang Tuanku adalah Raja Alam, orang yang sakti. Bundo Kanduang lalu membangunkan sendiri Dang Tuanku, dan berkata bahwa Bendahara sedang mengadakan gelanggang di nagarinya Sungai Tarab, untuk memilih suami buat putrinya. Karena gelanggang tersebut akan dikunjungi banyak pangeran, marah dan sutan, dan putra-putra orang-orang terpandang, Dang Tuanku dan Cindua Mato seharusnya ikut serta di dalamnya. Bundo Kanduang memerintahkan Dang Tuanku untuk menanyakan apakah Bendahara akan menerima Cindua Mato sebagai suami dari putrinya, Puti Lenggo Geni. Setelah menerima pengajaran tentang adat Minangkabau dari Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Cindua Mato dan para pengiringnya berangkat ke Sungai Tarab.

Di Sungai Tarab mereka disambut oleh Bendahara. Dang Tuanku bertanya apakah Bendahara bersedia menerima Cindua Mato yang “bodoh dan miskin” sebagai menantunya. Sebenarnya Cindua Mato adalah calon menantu ideal, dan karena itu lamaran tersebut diterima. Dang Tuanku kemudian berbincang-bincang dengan Bendahara, yang merupakan ahli adat di dalam Basa Ampek Balai, membahas adat Minangkabau dan apakah telah terjadi perubahan dari adat nenek moyang. Menurut Bendahara prinsip-prinsip yang diwariskan dari perumus adat Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang tetap tak berubah.

Sementara itu Cindua Mato mendengar pergunjingan di pasar bahwa Puti Bungsu, tunangan Dang Tuanku, akan dinikahkan dengan Imbang Jayo, Raja Sungai Ngiang, sebuah negeri di rantau timur Minangkabau. Menurut kabar itu, di sana tersebar berita bahwa Dang Tuanku diasingkan karena menderita penyakit. Puti Bungsu adalah putri Rajo Mudo, saudara Bundo Kanduang, yang memerintah sebagai wakil Pagaruyung di Ranah Sikalawi, tetangga Sungai Ngiang. Ketika menemukan bahwa cerita ini disebarkan oleh kaki tangan Imbang Jayo, Cindua Mato bergegas mendesak Dang Tuanku untuk meminta permisi pada Bendahara dan kembali ke Pagaruyung. Gunjingan seperti itu adalah hinaan kepada Raja Alam.

Di Pagaruyung Cindua Mato menceritakan Dang Tuanku dan Bundo Kanduang apa yang didengarnya di pasar. Bundo Kanduang naik pitam, namun sebelum bertindak dia mesti berunding dulu dengan Basa Ampek Balai. Dalam rapat-rapat berikutnya para menteri tersebut berusaha menengahi Bundo Kanduang pada satu pihak, yang tak dapat menerima hinaan dari saudaranya, dan Dang Tuanku beserta Cindua Mato pada pihak lain, yang menganjurkan kesabaran. Pertemuan tersebut berakhir dengan kesepakatan bahwa Cindua Mato akan berangkat sebagai utusan Bundo Kanduang dan Dang Tuanku ke Sikalawi, dengan membawa Sibinuang, seekor kerbau sakti, sebagai mas kimpoi untuk Puti Bungsu.

Dengan menunggang kuda sakti, Si Gumarang, dan ditemani kerbau sakti, Si Binuang, Cindua Mato berjalan menuju Ranah Sikalawi. Di perbatasan sebelah timur, di dekat Bukit Tambun Tulang, dia menemukan tengkorak-tengkorak berserakan. Setelah membacakan jampi-jampi, dan berkat tuah Dang Tuanku, tengkorak-tengkorak tersebut mampu menceritakan kisah mereka. Mereka sebelumnya adalah para pedagang yang bepergian melalui bukit Tambun Tulang dan dibunuh para penyamun. Mereka mendesak Cindua Mato untuk berbalik dan kembali, namun Cindua Mato menolak. Tak lama sesudahnya para penyamun menyerang, namun dengan bantuan Si Binuang, ia berhasil mengalahkan mereka. Para penyamun tersebut mengaku bahwa Imbang Jayo, raja Sungai Ngiang, mempekerjakan mereka tak hanya buat memperkaya dirinya, tetapi juga untuk memutus hubungan antara Pagaruyung dan Rantau Timur, dan dengan demikian melempangkan rencananya untuk mengawini Puti Bungsu.

Kedatangan Cindua Mato menggembirakan keluarga Rajo Mudo, yang berduka mendengar kabar penyakit Dang Tuanku. Kehadiran Cindua Mato dianggap sebagai pertanda restu Bundo Kanduang atas perkimpoian yang hendak dilangsungkan.

Dengan berpura-pura kesurupan Cindua Mato berhasil bertemu empat mata dengan Puti Bungsu tanpa memancing kecurigaan keluarga Rajo Mudo. Mereka percaya hanya Puti Bungsu saja yang mampu menenangkannya. Cindua Mato bertutur pada Puti Bungsu bahwa Dang Tuanku mengirimnya untuk membawanya ke Pagaruyung, karena ia sudah ditakdirkan untuk menikah dengan Dang Tuanku. Dalam pesta perkimpoian yang berlangsung, saat Imbang Jayo tengah berperan sebagai pengantin pria, Cindua Mato melakukan hal-hal ajaib yang menarik perhatian lain dan menculik Puti Bungsu. Cindua Mato membawanya ke Padang Ganting, tempat Tuan Kadi, anggota Basa Ampek Balai yang mengurus soal-soal keagamaan bersemayam.

Dengan menculik Puti Bungsu Cindua Mato telah melanggar hukum dan melampaui wewenangnya sebagai utusan Pagaruyung. Tuan Kadi lalu memanggil anggota Basa Ampek Balai lainnya untuk membahas pelanggaran yang dilakukan Cindua Mato. Namun pada pertemuan yang diadakan Cindua Mato menolak menjelaskan perbuatannya.

Basa Ampek Balai lalu menceritakan kejadian ini pada Bundo Kanduang, yang murka pada kelakuan Cindua Mato. Namun ia masih tetap menolak menjawab. Keempat menteri ini lalu memutuskan berunding dengan Raja Nan Duo Selo, Raja Adat dan Raja Ibadat. Keduanya, mengetahui latar belakang kejadian tersebut, sambil tersenyum menyuruh keempat menteri tersebut menyerahkan keputusan kepada Dang Tuanku, Raja Alam.

Pada pertemuan berikutnya perdebatan terjadi antara Bundo Kanduang, yang berteguh mempertahankan adat raja-raja, dan Dang Tuanku, yang menganjurkan memeriksa alasan di balik tindakan Cindua Mato. Imbang Jayo telah menghina Dang Tuanku dengan berusaha mengawini tunangannya, dan menceritakan fitnah. Sekarang giliran Imbang Jayo buat dihina. Imbang Jayo juga mempekerjakan penyamun untuk memperkaya dirinya dan memutus hubungan antara Minangkabau dan rantau timurnya. Cindua Mato tak layak dihukum karena dia hanya alat untuk utang malu dibayar malu.

Cindua Mato dilepaskan dari hukuman, dan rapat itu kemudian membahas perkimpoian antara Cindua Mato dan Puti Lenggo Geni, dan juga antara Dang Tuanku dan Puti Bungsu. Setelah masa persiapan, perkimpoian kerajaan tersebut dilangsungkan di Pagaruyung, dilanjutkan dengan pesta yang dihadiri oleh banyak pangeran dan raja dari segenap penjuru Pulau Perca.

Sementara itu, Imbang Jayo yang merasa dipermalukan oleh Cindua Mato bersiap-siap menyerang Pagaruyung. Dengan senjata pusakanya, Cermin Terus (camin taruih), dia menghancurkan sebagian negeri Pagaruyung. Cermin itu akhirnya dipecahkan oleh panah sakti Cindua Mato. Ketika Imbang Jayo sibuk memperkuat pasukannya Bundo Kanduang dan Dang Tuanku meminta Cindua Mato mengungsi ke Inderapura, negeri di rantau Barat, dan dengan demikian tidak ada alasan lagi buat Imbang Jayo memerangi Pagaruyung.


BERSAMBUNG.....
sejuta bintang - 16/10/2009 10:04 PM
#36

SAMBUNGAN DARI ATAS

Spoiler for cindu mato

Geram karena gagal membalas dendam, Imbang Jayo lalu protes pada Rajo Nan Duo Selo. Pada pertemuan yang dipimpin oleh kedua raja tersebut, dan dihadiri oleh keempat menteri, Imbang Jayo mendakwa bahwa seorang anggota keluarga kerajaan telah mempermalukan dirinya, sebuah pelanggaran yang tak termaafkan. Namun raja-raja tersebut bertanya: siapa yang memulai penghinaan tersebut, apa bukti dakwaan Imbang Jayo? Tuduhan terhadap anggota kerajaan tanpa bukti cukup bukan soal main-main. Kedua raja akhirnya memutuskan Imbang Jayo dihukum mati.

Begitu mengetahui anaknya disuruh bunuh oleh Rajo Duo Selo, ayah Imbang Jayo, Tiang Bungkuak, bersiap-siap membalas dendam. Cindua Mato kembali dari Inderapura, dan Dang Tuanku memerintahkannya melawan Tiang Bungkuak. Namun bila Cindua Mato gagal membunuhnya, dia harus bersedia menjadi hamba Tiang Bungkuak, agar Istana Pagaruyung terlepas dari ancaman.

Pada suatu malam, saat menunggu serangan Tiang Bungkuak, Dang Tuanku bermimpi bertemu seorang malaikat dari langit yang berkata dia, Bundo Kanduang dan Puti Bungsu sudah waktunya meninggalkan dunia yang penuh dosa ini. Pagi harinya Dang Tuanku mengisahkan mimpinya pada Bundo Kanduang dan Basa Ampek Balai. Mengetahui waktu mereka sudah dekat, mereka mengangkat Cindua Mato sebagai Raja Muda.

Cindua Mato menunggu Tiang Bungkuak di luar Pagaruyung, namun dalam duel yang berlangsung dia tak mampu membunuh Tiang Bungkuak. Cindua Mato lalu menyerah pada kesatria tua itu, dan mengikutinya ke Sungai Ngiang sebagai budak. Pada saat yang sama sebuah kapal terlihat melayang di udara membawa Dang Tuanku dan anggota keluarga kerajaan lainnya ke langit.

Suatu hari, ketika Tiang Bungkuak sedang tidur siang, Cindua Mato membaca jampi-jampi dan berhasil mengungkap rahasia kekebalan Tiang Bungkuak dari mulutnya sendiri. Ternyata Tiang Bungkuak hanya dapat dibunuh menggunakan keris bungkuk (karih bungkuak) yang disembunyikan di bawah tiang utama rumahnya. Cindua Mato mencuri keris itu lalu memancing Tiang Bungkuak agar berkelahi dengannya. Dalam duel tersebut Cindua Mato berhasil membunuh Tiang Bungkuak dengan keris curiannya.

Setelah kematian Tiang Bungkuak para bangsawan Sungai Ngiang mengangkat Cindua Mato menjadi raja. Kemudian dia juga diangkat sebagai raja Sikalawi, setelah Rajo Mudo turun tahta. Cindua Mato menikahi adik Puti Bungsu, Puti Reno Bulan. Dari hasil pernikahannya ini Cindua Mato memperoleh anak perempuan dan laki-laki yang diberi nama Sutan Lembang Alam.

Setelah beberapa lama menghabiskan waktu di Rantau Timur, Cindua Mato kembali ke Pagaruyung, untuk memerintah sebagai Raja Minangkabau. Dari perkimpoiannya dengan Puti Lenggo Geni ia mendapatkan anak bernama Sutan Lenggang Alam.
neoend - 23/10/2009 11:34 PM
#37

ini udah lum gan ? barusan baca ^^

Kaskus ID : neoend
Kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Bentuk karya : Cerita rakyat dari Jawa Barat
Sumber : http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2009/09/sangkuriang.html

Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi.
Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu. Ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu, bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya.

Spoiler for sangkuriang
Sangkuriang
Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi.
Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu. Ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu, bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya.

Pada suatu hari Tumang tidak mau mengikuti perintahnya untuk mengejar hewan buruan. Maka anjing tersebut diusirnya ke dalam hutan. Ketika kembali ke istana, Sangkuriang menceritakan kejadian itu pada ibunya. Bukan main marahnya Dayang Sumbi begitu mendengar
cerita itu. Tanpa sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang dipegangnya.
Sangkuriang terluka.
Ia sangat kecewa dan pergi mengembara. Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali dirinya. Ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa. Pada suatu ketika, para dewa memberinya sebuah hadiah. Ia akan selamanya muda dan memiliki kecantikan abadi. Setelah bertahun-tahun mengembara, Sangkuriang akhirnya berniat untuk kembali ke tanah airnya. Sesampainya disana, kerajaan itu sudah berubah total. Disana dijumpainya seorang gadis jelita, yang tak lain adalah Dayang Sumbi. Terpesona oleh kecantikan wanita tersebut maka, Sangkuriang melamarnya. Oleh karena pemuda itu sangat tampan, Dayang Sumbi pun sangat terpesona padanya.

Pada suatu hari Sangkuriang minta pamit untuk berburu. Ia minta tolong Dayang Sumbi untuk merapikan ikat kepalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi ketika melihat bekas luka di kepala calon suaminya. Luka itu persis seperti luka anaknya yang telah pergi merantau. Setelah lama diperhatikannya, ternyata wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat ketakutan. Maka kemudian ia mencari daya upaya untuk menggagalkan proses peminangan itu. Ia mengajukan dua buah syarat. Pertama, ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing. Malam itu Sangkuriang melakukan tapa. Dengan kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Dayang Sumbi
pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai,
Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota. Ketika menyaksikan warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi. Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama "Tangkuban Perahu."
verditch - 05/12/2009 04:09 PM
#38

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Asal Mula Nama Kota Surabaya

sumber : http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/asal-nama-kota-surabaya.html

keterangan : artikel asal mula nama kota surabaya

Spoiler for
Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
Setidaknya ada tiga keterangan tentang muasal nama Surabaya. Keterangan pertama menyebutkan, nama Surabaya awalnya adalah Churabaya, desa tempat menyeberang di tepian Sungai Brantas. Hal itu tercantum dalam prasasti Trowulan I tahun 1358 Masehi. Nama Surabaya juga tercantum dalam Pujasastra Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca. Dalam tulisan itu Surabaya (Surabhaya) tercantum dalam pujasastra tentang perjalanan pesiar pada tahun 1365 yang dilakukan Hayam Wuruk, Raja Majapahit.

Namun Surabaya sendiri diyakini oleh para ahli telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti-prasasti tersebut dibuat. Seorang peneliti Belanda, GH Von Faber dalam karyanya En Werd Een Stad Geboren (Telah Lahir Sebuah Kota) membuat hipotesis, Surabaya didirikan Raja Kertanegara tahun 1275, sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M.

Versi berikutnya, nama Surabaya berkait erat dengan cerita tentang perkelahian hidup dan mati antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon, setelah mengalahkan tentara Tartar (Mongol), Raden Wijaya yang merupakan raja pertama Majapahit, mendirikan kraton di Ujung Galuh, sekarang kawasan pelabuhan Tanjung Perak, dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu. Lama-lama Jayengrono makin kuat dan mandiri karena menguasai ilmu Buaya, sehingga mengancam kedaulatan Majapahit.

Untuk menaklukkan Jayengrono, diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Adu kesaktian dilakukan di pinggir Sungai Kalimas dekat Paneleh. Perkelahian adu kesaktian itu berlangsung tujuh hari tujuh malam dan berakhir tragis, keduanya meninggal kehabisan tenaga.

Dalam versi lainnya lagi, kata Surabaya muncul dari mitos pertempuran antara ikan Suro (Sura) dan Boyo (Baya atau Buaya), perlambang perjuangan antara darat dan laut. Penggambaran pertarungan itu terdapat dalam monumen suro dan boyo yang ada dekat kebun binatang di Jalan Setail Surabaya

Versi terakhir, dikeluarkan pada tahun 1975, ketika Walikota Subaya Soeparno menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Kota Surabaya. Ini berarti pada tahun 2005 Surabaya sudah berusia 712 tahun. Penetapan itu berdasar kesepakatan sekelompok sejarawan yang dibentuk pemerintah kota bahwa nama Surabaya berasal dari kata sura ing bhaya yang berarti keberanian menghadapi bahaya.
TuaGila - 05/01/2010 02:53 AM
#39

kaskus ID : TuaGila

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : PETATAH PETITIH SUKU DAYAK NGAJU

sumber : -

keterangan : Lihat Didalam D

Spoiler for Peribahasa

Buju-bujur ikoh aso (Lurus selurus ekor anjing)

Rimae (artinya): Tampayahe bahalap padahal pananjaru (Nampaknya baik, tapi nyatanya pembohong)

Bisa bulue dia belange (Basah kulit tidak belangnya)

Rimae (artinya): Taloh gawi je dia mandinun hasil (Pekerjaan yang tidak mendatangkan hasil)

Baka-bakas bua rangas (tua(tua buah rangas)

Rimae (artinya): Oloh jadi bakas baya gawie kilau anak tabela

(Walau pun sudah tua, tapi kerjanya seperti anak-anak).

Karas nyaho jaton ujan (Deras petir tanpa hujan)

Rimae (artinyanya):Are pander jatun katotoe (besar mulut tanpa bukti).

Kalah batang awi sampange (kalau sungai karena anak sungainya)

Rimae (artinya): Nihau tintu je solake tagal panggawi rahian

(Hilang arah semula karena ulah yang kemudian).

Dia tau pisang handue mamua (Pisang tak bisa berbuah dua kali).

Rimae (artinya): Kabakas tuntang kagancang dia tau haluli akan tampara

(Kedewasaan dan kekuatan tak bisa kembali ke awal).

Tingang manganderang into bitie (Enggang menggema di dalam tubuhnya saja)

Rimae (artinya):Tamam pander baya jaton gawie (Hebat omongnya saja, tanpa kerja).

Ampit manak tingang(Pipit beranak enggang).

Rimae (artinya): Oloh je tau menggatang tarung oloh bakase.

(Seseorang yang bisa mengangkat martabat orangtua).



Isen Mulang Petehku
TuaGila - 05/01/2010 03:15 AM
#40

kaskus ID : TuaGila

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Peribahasa

sumber : lindataway.wordpress.com

keterangan : Peribahasa dalam Bahasa Dayak Ngaju

Spoiler for Peribahasa

1 Kapapan humae tampengan hapus lewu.

Rima : Taloh je papa akan du pander oloh. atau huma je dia barasih akan jadi tampengan oloh kadian.

Artinya : Yang tidak baik akan jadi pembicaraan orang atau rumah yang kotor jadi pembanding bagi pemalas.

Maknanya : supaya orang yang sudah berumah tangga, rajin memelihara, merawat dan membersihkan rumahnya sampai ke pekarangan, karena rumah adalah istana bagi pemiliknya, walaupun rumah itu sederhana.Sehingga tidak menjadi gunjingan sebagai orang malas.

2. Inja-injam lunok.

Rima : Minjam taloh atawa ramon oloh tapi dia lian haluli akan tempoe.

Artinya : sering meminjam barang orang lama kelamaan tidak

dikembalikan.

Maknanya : Jangan membiasakan diri meminjam barang orang lain. Sebaiknya kita membeli sendiri, apalagi kalau orang tahu bahwa kita punya uang untuk membeli barang tsb. Nah kalau tidak punya lebih baik cari akal supaya tidak hidup kita terlalu merepotkan orang lain, atau membuat jengkel karena lupa akhirnya barang orang diambil.

3. Mambelom pungau, manotok mate.

Artinya : Mahaga anah oloh kajaria manjadi musuh tuntang manenga calaka akan tempoe.

Artinya : Memelihara anak orang akhirnya menjadi musuh, atau membawa celaka tuannya.

Maknya : Agar berhati-hati memelihara anak orang lain, mendidik anak dengan baik, telaten , tidak dimanjakan, disiplin, dan penuh kasih. Sehingga setelah besar dia menjadi anak yang hormat kepada orangtua angkatnya. Karena kalau salah urus maka dia bisa membawa celaka untuk orangtuanya dan tidak tahu diri serta tidak tahu terimaksih.

4. Mahaga sabaru huang hempeng.

Rima : marancana taloh je dia pasti atau dia jelas ampin gawie.

Artinya : Merencanakan sesuatu yang tidak pasti menghasilkan .

Maknaya : Agar merencanakan sesuatu secara matang, melihat sumber daya atau disiplin ilmu / skill yang dikuasai sebagai modal kerja, jelas programnya, jelas tempatnya, mitra kerjanya, sasaranya , tahu semua peluang dan kelemahan, sehingga bisa diantisipasi dan menentukan prioritas.

5. Hong luar kilau madu, hong huang kilau peru.

Rima : Huang baun bahalap huang likut papa ateie.

Artinya : diluar manis tetapi dalam hati jahat.atau orang yang bermuka dua.

Maknanya : Sebaiknya kita mebuang atau meninggalkan perilaku manis didepan tetapi sebenarnya kita membencinya. Lebih baik belajar menjadi orang yang terbuka, mampu menyelesaikan masalah dengan jentelmendan menjadi orang yang pemaaf, tulus, baik hati.

6. Tege danom, tege lauk.

Rima : Huang kueh bewei pasti tege rajaki.

Artinya : Dimanapun kita berada pasti ada rejeki .

Maknaya: Dimanapun , kapanpun dengan siapanpun kita berada ,kita bisa menyesuikan diri untuk bekerja dengan optimal, banyak inovasi dan inspirasi dan mampu berelasi dengan orang lain dengan sepenuh hati sehingga rejeki akan tetap bisa mengalir….dan melimpah karena Tuhan tidak pernah lupa dengan orang benar .

7. Kilau kelep mandai tunggul.

Rima : pambelum je jatun kamajue.

Artinya : Kehidupan seseorang yang tidak ada kemajuannya.

Maknya : Seseorang harus mempunyai kemampuan untuk melihat, dengan jernih serta berani mengevaluasi hidupnya dengan mempunyai visi misi pribadi , langka-langkah konkrit dari goal-goal sebagai target ,menghitung waktu, umur dalam hidupnya. Berani ambil keputusan dan segera melangkah kembali….dan yang paling penting….tidak pernah menyerah.

8. Kilau danum hong dawen kujang.

Rima : kilau oloh je dia tau mengelola pangulihae, nihau mananya.

Artinya : Orang yang tidak bisa mengelola uang nya sehingga selalu habis sis-sis.


9. Helo guntur bara kilat.

Rima : Oloh je lalau tamam pandere, tapi jatun kaharati tuntang kapintare. .

Artinya : Orang yang hanya banyak omong tapi tidak berisi.

10. Mingkes pakasem bahewau kea.

Rima : Manjahukan taluh papa kajaria katawan oloh kea.

Artinya : Menyimpan kejahatan suatu saat akan ketahuan juga.

11. Kilau antang bapelek palapase.

Rima : oloh je sampet jadi pejabat je lalau ampie balalu lepah kare kuasae.

Artinya : Seperti manat seorang pejabat yang telah hilang kekuasaanya.

12. Kilau pusa matei anake.

Rima : basingi awi tege oloh je maningak taloh gawie.

Artnya : marah dan bingung seperti kebakaran jenggot karena ada orang mengeritik pekerjaannya.

13. Kilau mamahit hunjun papan.

Rima : manahiu kula ngaju ngawa palepah belaie.

Artnya : orang mengossipkan sesamanya kesana kemari dengan sangat semangat.

14. Kilau dawen pisang inampuh riwut.

Rima : oloh je jatun tetep tiroke

Artinya : orang yang tidak berpendirian.

15. Paham nyahoe jatun ujae.

Rima : Paham nyame tapi jatun gitan gawie.

Artinya : orang bicara nyaring hebat tapi tidak ada berbuat apa-apa.

16. Nihau pandang ije nyelo awi ujan jandau.

Rima : Nihau kaparcayan oloh haranan manampa tanjaru .

Artinya : Orang sudah hilang kepercayaan karena ketahuan berdusta.

17. Mamapak suah ,asang jadi buli.

Rima : harue basiap-siap , musuh jari jatun ( talambat )

Artinya : Baru bersiap-siap musuh sudah pergi.

18. Dia oloh manajur pilus amon jatun rumbake.

Rima : Jatun buku gana jaka dia jari tege je manamparae.

Artinya : Tidak akan terjadi sesuatu kalau tidak ada yang memulai.

19. Hete batang lampang hete ie lumpat.

Rima : Oloh je manggau kamangate bewei.

Artinya : orang yang hanya mencari enak nya saja.

Maknanya : Jangan jadi orang yang manipulatif…..upportunis, egois, hanya mau menerima, tidak mau memberi. Life style nya popularitas,hidup yang penting oke, happy, terkenal…….. saat orang kerja keras dia sembunyai, tetapi saat hari puncak nya.. eee dia muncul, paling heboh, paling sibuk wira wiri padahal dia baru mancul disitu. dan saat sesi foto-foto dia yang mau paling didepan dan dekat dengan Pejabat……. n makan enak

20. Kilau manjapang langit.

Rima : maharap taloh je dia tame akal

Artinya : Mengharap sesuatu yang tidak masuk akal

Maknanya : Jangan kita selalu melakukan sesuatu yang tidak jelas, yang tidak mungkin kita melakukannya sehingga akhirnya kecewa, sakit hati, stress….. lebih baik mengerjakan yang pasti walaupun sedikit, sederhana, tetapi aman, halal, dan…….. diberkati Tuhan. Itu akan membuat seseorang akan bertumbuh karena itu pembelajaran bahwa kita harus realistis tidak hidup bermimpi.

22. Kilau kayu nihau parurok.

Rima : oloh je jadi kanihauan langkasae, dia barega taharep oloh.

Artinya : orang yang perilakunya buruk sehingga tidak dihargai

Maknanya : Seseorang yang image nya sudah rusak , tidak punya kredibelitas, integritas, Kalau kita tidak mau merubah sikap yang buruk maka orang akan tidak bergaul dengan kita. Apapun yang kita kerjakan dipandang sebelah mata karena orang akan mundur teratur daripada di cap sama dengan nya.

24.Munduk kelep mendeng tambuket.

Rima : oloh je serba sala taloh gawie

Artinya : serba salah apa yang dikerjakannya.

Maknaya : Seseorang yang mengerjakan sesuatu selalu tidak pas, tidak tepat, , mundur kena maju kena.

25. Jatun uei bajakah mahin baguna.

Rima : Kare banda je jari anjapa awi Hatalla, uras tau ingguna.

Artinya : Tak ada rotan akar pun jadi.

Maknanya : Pada saat kepepet apapun bisa digunakan….yang penting bisa dipakai dan tidak membahayakan.

26. Badagang uyah batawah belai.

Rima : Rugi amun belum huang kamangat tapi dia maku mengguna .

Artinya : orang yang hidup berkecukupan tapi tidak menggunakannya dengan optimal.

Maknanya. : Hidup dengan penuh kelimpahan, uang banyak, punya anak yang lucu-lucu, istri yang cakap……..punya rumah, usaha. Tetapi anehnya…………sangat pelitttt , sampai beli bakso tidak pernah, piknik traveling tidakpernah, mau minum coca cola , pakaian tidak pernah ganti ganti , tidak berani keluar uang karena takut uangnya habis….pelit sekali.

27. Kilau mundok hong barah apui.

Rima : Paham balisah.

Artiya : Sangat gelisah.

Makna : Sebagai Bahasa tubuh ,tidak bisa diam alias gelisah mondar mandir ,karena ada sesuatu yang mengganggu hati dan pikiran, entah pacar…… tidak tepat janji, entah ada rasa bersalah,atau ada sesuatu yang belum dibereskan dengan seseorang .

28 Panjang tanduk balemu atei.

Rima : Panyabar tuntang panumon.

Artinya : Orang yang penyabar dan penurut.

Maknanya : Baiklah kita hidup dengan panjang sabar dan penurut khususnya kaum ABG yang belumpengalaman dalam hidup, sebaiknya nasehat orang tua didengar karena nasehat itu yng menyelamatkan hidup mereka setelah tua nanti,,, dan dengan hidup panjang sabar seeorang akan banyak mendapat manfaat, berbahagia karena Tuhan akan mencukupkan kehidupannya tepat pada waktunya.

29. Tingang ije ijang kelep ije katikang.

Rima : Baya-baya tege.

Artinya : Mendapat sesuatu yang tidak memadai.

Maknanya : ……yah apa boleh buat. Puji Tuhan biar sedikit sama sedikit, tpi itu rejeki yang harus diterima.
30. Akan ngaju dia dinon manuk ,akan ngawa dia dinon tabuan.

Rima : Gawi je karas kaheka tapi jatun dinun mahasil nara-narai.

Artinya : cape bekerja keras tapi tidak mendapat hasil apa-apa.

Maknaya : Agar jangan sampai menjadi orang seolah-olah yang sial, kerja selalu tidak ada manfaatnya. Harus berani cepat putar haluan..cari usaha yang lain yang berguna dan menghasilkan .


Isen Mulang Petehku
Page 2 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel