Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
Total Views: 36797 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

TuaGila - 05/01/2010 03:19 AM
#41

kaskus ID : TuaGila

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Peribahasa

sumber : lindataway.wordpress.com

keterangan : Peribahasa berbahasa Dayak Ngaju dan Katingan

Spoiler for Peribahasa

1. kilau dahuyan dengan tantimun
Seperti durian dan mentimun
Arti : tidak seimbang.
Makna : perbandingan untuk orang yang lemah dengan orang yang kuat, tidak mungkin untuk dilawan. Karena itu seseorang harus merubah pola pikir dan bekerja keras sehingga bisa merubah kelemahan menjadi kekuatan dan mampu menjalani hidup yang sulit dengan hidup yang terencana dan bertujuan.

2. kilau dawen pisang nampuh riwut
Seperti daun pisang diterpa angin
Arti : orang yang tidak punya pendirian
Fungsinya : untuk menasihatkan seseorang apabila tidak memiliki pendirian hidup. Ia harus merubah sikap menjadi orang yang rajin dan banyak mencari pengalaman dan bergaul dengan orang yang terkenal sehingga bisa mengadopsi prinsip kehidupannya , sehingga tidak menjadi pribadi yang tidak berpendirian.

3. Kilau apui inata danum
seperti api disiram air.
Arti : Strategi penyelesaian yang tepat.
Makna : Semua keributan berhenti dan terkendali setelah mendapat teguran keras.Kadang-kadang seseorang sengaja membuat keributan dan tidak tau diri sehingga perlu diberi pelajaran yang sedikit keras, sehingga suasana bisa kembali baik.

Ungkapan

1. Hai arut hai kea riak
Besar kapal besar juga gelombangnya.
Arti: berani berbuat , harus berani bertanggung jawab.
Fungsi : untuk menasihati seseorang, apabila berbuat sesuatu yang salah supaya berani bertanggung jawab..

2. Kilau bajai malangau
Seperti buaya menunggui lalat
Arti : waspada
Fungsi : untuk memberi nasihat apabila dalam keadaan darurat agar berhati-hati.

3. Pilus into itah, mariam into uluh
Jarum ada pada kita, sedangkan meriam di tempat orang.
Arti : Tidak imbang
Makna : Untuk membandingkan sesuatu yang tidak seimbang, maka perlu mencari stratehgi agar ada keseimbangan dengan pihak lain.

4. Jatun matei bitik, jaka jia gula
Semut tidak ada yang mati apabila tidak ada gula.
Arti : Hancur karena serakah
Maknai : Untuk menasihati orang supaya tidak serakah

5. Nihau pandang ije nyelo gawi ucan jandau
Hilang panas setahun oleh hujan sehari
Arti : pekerjaan yang sudah bertahun-tahun dikerjakan tapi gagal karena kesalahan yang sedikit
Makna : sebagai perandaian bahwa sebuah kehidupan sangat perlu dengan rencana yang matang, antisipasi, melihat target, sasaran, dan evaluasi pengawasan, sehingga terhindar dari bencana atau masalah yang tidak perlu terjadi.

6. Kilau asu belang
seperti anjing yang memiliki belang
arti : tak mengenal sopan santun
fungsi : untuk menasihat orang yang tidak mengenal sopan santun.

7. Ela nampayah saran tanam kulam
jangan mengamati tepi ladang sesamamu
jangan suka membanding-bandingkan
Makna : nasihat supaya kita jangan menbanding-bandingkan diri kira dengan orang lain, supaya menjadi diri sendiri, mengoptimalkan diri sesuai kemampuan, dan lakukanlah dengan mengalir…..maka kehidupan kita akan memperkaya orang lain.

8. Hasantak kilau piring mangkok
Berbenturan seperti piring dan mangkok
Arti berhati-hatilah apabila tidak ingin ada benturan
Fungsi : nasihat supaya selalu damai, rukun , saling menghormati, menghargai, mengasihi, lemah lembut, pemurah, dan tahan napsu.

9. Ela barayar manahusong riwut
jangan berlayar melawan angin
Artinya : jangan melawan arus
Maknanya : untuk menasihati anak yang sering melawan orang tuanya,seseorang yang berbeda pendapat dengan orang banyak akan mendapat kerugian.

10.Auh tanggararar kilau danum hong dawen kujang
Perkataan yang meluncur bagaikan air di daun talas
Arti : Orang yang mendengar tapi tidak menanggapi atau masuk telinga kiri, keluar telinga kanan
Fungsi : Untuk menasihati

11. Kilau manuk imbing hong ikohe
Seperti ayam yang dipegang ekornya
Arti : salah strategi
Fungsi : untuk menasihati.

- Pantun :

manga-mangat juhu baluh

dia nyama juhu kelep

manga-mangat lewun uluh

jia nyama je lewun arep


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 12:49 AM
#42
RANYING HATALLA dan ASAL MULA PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
kaskus ID : TuaGila
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : RANYING HATALLA dan ASAL MULA PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
sumber : Rubrik Sahewan Panarung Terbitan SKH Dayak Pos
keterangan : Cerita Legenda

Spoiler for Cerita Legenda
RANYING HATALLA dan ASAL MULA PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
Oleh: Andriani S. Kusni

Dahulu kala, jauh sebelum manusia diciptakan dan diturunkan ke bumi, jauh sebelum alam semesta diciptakan, bertahtalah Sang Maha Pencipta. Ia adalah Sang Maha Pencipta yang memiliki segala sifat baik dan mulia. Ia memiliki nama-nama yang mencerminkan segala sifat baik dan mulia yang ada pada-NYA. Ia disebut Maha Tunggal, Maha Sempurna, Maha Agung, Maha Mulia, Maha Jujur, Maha Lurus, Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Suci, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Adil, Maha Kekal Abadi, Maha Pemurah, Maha Besar dan Maha Mendengar. Sang Maha Pencipta yang memiliki segala sifat Baik dan Mulia, Yang Maha Kuasa, Awal dan Akhir dari segala kejadian ini disebut Ranying Pohotara Raja Tuntung Matanandau Kanaruhan Tambing Kabanteran Bulan atau Ranying Hatalla.

Ranying Hatalla bertahta di tempat yang disebut Balai Bulau Napatah Intan Balai Intan Napatah Bulau di sebuah dataran tinggi yang disebut Bukit Bulau Kagantung Gandang Kereng Rabia Nunjang Hapalangka Langit. Dataran tinggi ini dikelilingi perairan yang disebut Tasik Malambung Bulau Laut Bapantang Hintan.

Ranying Hatalla memiliki banyak pembantu. Mereka diciptakan dari cahaya. Pembantu-pembantu Ranying Hatalla diciptakan jauh sebelum alam semesta dan manusia ada. Mereka adalah roh baik yang bertugas menyejahterakan dan menjaga keselamatan dan kemanan suku. Pembantu-pembantu Ranying Hatalla ini diistimewakan oleh Ranying Hatalla. Beberapa diantara mereka diberi kekuasaan untuk membebaskan dan mengikat.

Nama-nama roh baik yang membantu Ranying Hatalla menyelesaikan urusan keduniawian adalah Putir Selung Tamanang-penguasa padi dan beras, Raja Angking Langit-penguasa padi dan beras, Nyaru Menteng-penguasa perang, angin, petir, halilintar, api, dan menjaga keselamatan serta keamanan suku, Nayu-Penguasa perang, angin, petir, halilintar, api dan menjaga keselamatan serta keamanan suku bersama-sama dengan Nyaru Menteng, Pangantoha-penguasa perang, angin, petir, halilintar, api dan bersama-sama Nyarru Menteng juga Nayu bertugas menjaga keselamatan dan keamanan suku, Janjalung Tatu Riwut-penguasa mata angin dan bertugas mengendalikan semua arah mata angin, Gambala Rajan Tanggara-penguasa mata angin dan bersama-sama Janjalung Tatu Riwut bertugas mengendalikan semua arah mata angin, Raja Tuntung Tahaseng-bertugas mengatur usia atau nafas kehidupan manusia dengan wewenang dari Ranying Hatalla. Apabila ada manusia meminta umur panjang maka Raja Tuntung Tahaseng akan menjembatani komunikasi anata manusia dengan Ranying Hatalla. Lalu ada Tamanang Tarai Bulan yang bertugas merawat harta duniawi baik yang masih baru maupun yang sudah usang, Raja Sapanipas bertugas mengamati, memelihara, dan memperbaiki kehidupan manusia yang nasibnya kurang beruntung, dan Raja Mise Andau-pengendali waktu yang menghitung dan memperhatikan waktu siang dan malam bagi kehidupan manusia. Kemudian ada juga Raja Tunggal Sangumang yang bertugas membawa rejeki, iman dan kesempurnaan, Rawing Tempun Telung bertugas mengantar roh ke surga, Manteri Mama Luhing Bungai, Salutan Raja Nalawang Bulau bertugas memberi hikmah dan kebijaksanaan, Raja Sambang Maut yang berkuasa atas maut dan masih banyak lainnya.

Suatu waktu, berangkatlah Ranying Hatalla ke puncak Bukit Bulau Kagantung Gandang Kereng Rabia Nunjang Hapalangka Langit yang terletak di Batang Danum Mendeng Ngatimbang Langit, Guhung Tenjek Nyampalak Hawon. Dalam perjalanan menuju puncak dataran tinggi itu, Ranying Hatalla melihat satu wujud. Melihat wujud itu persis sama dengan diri-NYA, Ranying Hatalla pun bertanya,
“Wahai kau yang menyerupai wujud-Ku! Siapakah kau?”
Wujud serupa bayangan itu diam saja. Melihat wujud itu diam saja, Ranying Hatalla pun berkata,
“Karena kau tak menjawab-Ku maka kau kuberi nama. Namamu sekarang adalah Jata Balawang Bulau Kanaruhan Bapager Hintan*. Kau adalah penguasa alam bawah yang berada di Papan Malambung Bulau yang bertahta di Laut Bapantan Hintan.” >-----


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 12:50 AM
#43
RANYING HATALLA dan ASAL MULA PENCIPTAAN ALAM SEMESTA 2
kaskus ID : TuaGila
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : RANYING HATALLA dan ASAL MULA PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
sumber : Rubrik Sahewan Panarung Terbitan SKH Dayak Pos
keterangan : Cerita Legenda

Spoiler for Cerita Legenda
Jata bertempat tinggal di alam bawah air. Untuk sampai ke tempat tinggal Jata, harus melewati sebelas penjaga yang masing-masing memiliki nama. Nama-nama penjaga itu adalah Tewang Lewun Bulau Bawin Lauk, Lewun Saluang Renten Tantahan, Mama Majarungkang Kiting, Balida Indu Tengkung Papan, Balantau Laut, Ranyinh Manjuhan, Tampahas Hagambus Kadai, Undang Indu Gagap Rangkang, Baung Manangking Karis, Bajuku Indu Metup-Merau, Bajai Katabelan Uluh Ponggok Pantar Penda Rasau Rohong.

Setelah melewati sebelas penjaga, barulah perjalanan dapat dilanjutkan dengan menembus tanah untuk mencapai alam bawah air. Selama perjalanan menembus tanah ini, ada 17 pintu yang harus dilewati agar bisa mencapai kediaman Jata. Ketujuhbelas pintu itu, mulai dari yang paling atas hingga pintu paling bawah bernama; Tumbang Ayuh Bulau, Lawang Sahep, Lawang Pating, Lawang Edan, Lawang Batang, Lawang Tunggul. Lawang Baner, Lawang Uhat, Lawang Baras, Lawang Karangan, Lawang Liang, Lawang Batu, Lawang tembaga, Lawang Salaka, Lawang Bulau, dan Lawang Hintan. Setelah melewati pintu terakhir maka tibalah di suatu daerah dimana dijumpai laut dan sungai. Dibawah laut dan sungai inilah, Jata memerintah atas kemurahan hati Ranying Hatalla yang memberinya kekuasaan.

Selepas memberi nama, Ranying Hatalla lalu mengajak Jata Balawang Bulau ke puncak dataran tinggi Bukit Bulau Kagantung Gandang Kereng Rabia Nunjang Hapalangka Langit. Di puncak dataran tinggi itu, disaksikan oleh Jata Balawang Bulau, Ranying Hatalla berfirman,
“Alangkah indahnya jika AKU menjadikan bumi, langit, bulan, bintang, matahari dan segala isinya. AKU akan membuat tiga alam dan isinya melalui delapan kali penciptaan untuk memenuhi keindahan yang KU inginkan. Ketiga alam itu adalah alam atas, bumi dan isinya serta alam bawah. Apakah kau setuju, wahai Jata Balawang Bulau?”
Jata Balawang Bulau mengangguk.

Ranying Hatalla lalu melepaskan Sarumpah Bulau* di suatu tempat. Seketika terdengar petir menggelegar. Kilat sambar-menyambar. Sarumpah Bulau lalu menjelma menjadi naga. Ciptaan pertama Ranying Hatalla telah terbentuk.

Setelah itu Ranying Hatalla melepaskan Lawung Singkap Antang. Membuka dan meletakkannya di atas badan Naga. Seketika terdengar lagi bunyi gemuruh. Petir menggelegar dan kilat sambar-menyambar. Lawung Singkap Antang tiba-tiba menjelma menjadi Petak Sintel Habalambang Tambun, Liang Deret Habangkalan Karangan. Ini adalah tanah bumi lengkap dengan laut, sungai, danau dan segala isinya juga tumbuh-tumbuhan yang hidup di tanah. Ciptaan kedua Ranying Hatalla terbentuk.

Untuk membuat ciptaan ketiga hingga kedelapan, Ranying Hatalla memutuskan untuk mengambil sifat-sifat baik dan mulia yang dimiliki-NYA sebagai bahan dasar ciptaan-NYA. Ranying Hatalla lalu mengambil Pandereh Buno yaitu sifat mulia-NYA yang maha lurus, maha jujur dan maha adil. Diiringi gemuruh halilintar, Pandereh Buno menjelma menjadi pohon besar yang sangat rimbun dengan buah-buahan ranum didahannya. Oleh Ranying Hatalla, pohon ini diberi nama Batang Garing atau pohon kehidupan. Tak seperti pohon-pohon lain yang sudah terbentuk sebelumnya pada kejadian penciptaan kedua, Batang Garing atau Pohon Kehidupan memiliki buah serta dedaunan yang terbuat dari emas, berlian dan segala jenis permata. >----



Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 12:58 AM
#44
RANYING HATALLA dan ASAL MULA PENCIPTAAN ALAM SEMESTA 3
kaskus ID : TuaGila
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : RANYING HATALLA dan ASAL MULA PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
sumber : Rubrik Sahewan Panarung Terbitan SKH Dayak Pos
keterangan : Cerita Legenda

Spoiler for Cerita Legenda
Setelah menciptakan Batang Garing atau Pohon Kehidupan, Ranying Hatalla lalu mengambil Peteng Liung Lingkar Tali Wanang. Ini adalah sifat kewibawaan yang Maha Besar dan Maha Agung Ranying Hatalla. Ketika Ranying Hatalla mengambil Peteng Liung Lingkar tali Wanang, terdengarlah gemuruh halilintar yang memekakkan telinga. Peteng Liung Lingkar Tali Wanang lalu menjelma menjadi Tambun Hai Nipeng Pulau Pulu. Ini adalah Kekuasaan yang Maha Kuat dari Segala Penjuru Kebesaran Ranying Hatalla.

Selepas penciptaan keempat. Ranying Hatalla berkata pada Jata,
“AKU ingin mengajakmu makan buah pinang yang telah kuciptakan di penciptaan kedua. AKU ingin memperlihatkan padamu sifat-sifat-KU yang lain agar dapat menjadi contoh bagimu.”
Ranying Hatalla lalu mengajak Jata Balawang Bulau makan buah pinang hasil ciptaan-NYA yang diciptakan di kejadian kedua. Ranying Hatalla ingin menunjukkan sifat-sifat-NYA yang Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Adil dan Bijaksana, dan Maha Indah pada Jata. Saat sedang makan, menggelegarlah petir. Buah-buah pinang yang dimakan berubah menjadi tiga burung yakni enggang betina, elang dan enggang jantan.

Ranying Hatalla telah menciptakan naga, bumi dan isinya, batang garing, kekuasaan, enggang betina, elang dan enggang jantan. Namun belum ada langit, bulan, bintang dan matahari. Juga belum ada gelap dan terang. Maka, disertai gemuruh halilintar yang sambar-menyambar, diciptakanlah langit, bulan, bintang dan matahari. Langit dibuat tujuh tingkat. Masing-masing tingkat memiliki penjaga. Ditentukan oleh Ranying Hatalla bahwa langit ketujuh adalah puncak langit. Tidak ada langit yang lebih tinggi daripada langit ketujuh. Dilangit ketujuh inilah Ranying Hatalla bertahta dengan segala kuasa-NYA.

Setelah langit selesai diciptakan, Ranying Hatalla menginginkan hiasan yang indah bagi langit. Selain indah, Ranying Hatalla ingin agar hiasan langit itu juga berguna bagi manusia nanti. Maka Ranying Hatalla menciptakan bintang. Bintang-bintang ini akan membantu manusia saat bekerja di ladang dan saat manusia melakukan perjalanan dengan menjadi penunjuk arah.

Lalu Ranying Hatalla menentukan gelap dan terang. Maka diciptakanlah matahari dan bulan.Terang disebut siang saat matahari muncul. Gelap adalah malam saat bulan nampak.

Alam semesta telah lengkap. Setelah semua selesai diciptakan, Ranying Hatalla berkata pada segala ciptaan-NYA,
“Wahai naga, bumi, air, langit, bulan, bintang, matahari, enggang dan elang, AKU perintahkan kalian menempati tempat kalian masing-masing. AKU adalah Ranying Hatalla, Pencipta, penguasa dan Pemilik kalian. AKU adalah Raja dan Tuhan kalian. AKU adalah Yang Maha Kuasa, Awal dan Akhir segala kejadian, dan cahaya kemuliaan-KU yang terang, bersih dan suci, adalah cahaya kehidupan yang kekal abadi dan AKU sebut ia Hintan Kaharingan.”
Naga, bumi dan isinya, langit, bulan, bintang, matahari, enggang dan elang menundukkan kepala lalu bersujud di hadapan Ranying Hatalla dan menyatakan ikrar dan sumpah kesetiaan mereka. Selepas mengucapkan ikrar dan sumpah, pergilah masing-masing ke tempat yang telah ditentukan Ranying Hatalla.

Sekarang Ranying Hatalla ingin melengkapi ketujuh penciptaan-NYA dengan penciptaan kedelapan. Ranying Hatalla ingin menciptakan manusia, penghuni alam semesta. Namun sebelum menciptakan manusia, Ranying Hatalla ingin menciptakan tujuh raja yang akan menjadi sahabat dan membantu-NYA membawa ajaran Ranying Hatalla kepada manusia.

Maka, Ranying Hatalla mengambil dua sifat lagi dari diri-NYA. Kedua sifat itu adalah Kemuliaan-NYA yang Maha Suci dan Keagungan-NYA yang Maha Mulia. Ranying Hatalla lalu menyatukan kedua sifat tersebut hingga terbentuklah Bukit Intan dan Bukit Emas. Masing-masing bukit memiliki cahaya terang yang berpendar lembut dan hangat. Akibat benturan cahaya Bukit Intan yang menyatu dengan sinar Bukit Emas maka lahirlah tujuh raja yang diinginkan Ranying Hatalla. Ketujuh raja ini masing-masing diberi nama. Mereka adalah Raja Mandurut Untung, Raja Mandurut Bulau, Raja Barakat, Raja Angking Penyang, Raja Garing hatungku, Raja Panimbang Darah, dan Raja Tamanang.

Setelah ketujuh raja diciptakan, Ranying Hatalla lalu menyatukan Bukit Intan dan Bukit Emas. Penyatuan kedua bukit ini kelak akan menjadi cikal bakal diciptakannya manusia.***


Kisah ini disadur dari kisah proses penciptaan menurut kepercayaan Kaharingan versi Daerah Katingan dan digabungkan dengan versi Daerah Kahayan



Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 02:30 AM
#45

kaskus ID : TuaGila
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : Cerita Asal Mula Bukit Batu
sumber : Manaser Panatau Tatu Hiang
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Katingan, Kalteng

Spoiler for
Bukit Batu


Berada di atas Bukit Batu yang terletak di tengah hutan Kalimantan (Tengah), seperti berada di tempat yang mustahil. Berada di atas Bukit Batu dengan segera orang akan membayangkan dari mana batu-batu besar itu berasal, karena tidak mungkin batu-batu itu berasal dari Sungai Katingan yang jaraknya cukup jauh, yaitu sekitar 15 Km2. Kalau batu-batu itu bekas dari puing-puing kerajaan, di Kalimantan Tengah tidak ada kerajaan yang berdiri karena merupakan daerah baru yang di buka dari hutan belantara. Berada di Bukit Batu seperti berada di satu tempat yang muskil terjadi. Karena Bukit Batu sulit dijelaskan melalui fenomena alam dan realitas historis, setidaknya seperti Borobudur misalnya, sehingga Bukit Batu menghadirkan sistem keyakinan tersendiri bagi masyarakat setempat dan mempunyai legenda untuk meneguhkan keberadaan Bukit Batu, yang sekaligus, legenda itu, berfungsi sebagai legitimasi.

Nama Bukit Batu bukanlah nama asing bagi orang Kalimantan, setidaknya untuk Kalimantan Tengah. Memang, Bukit Batu terletak di desa Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Kisah yang bergulir pada masa silam, seorang yang bernama Burut Ules tinggal di desa Tumbang Linting. Burut Ules dikenal sebagai seorang yang mempunyai kemampuan spritual tingkat tinggi, yang dalam bahasa setempat disebut sebagai bakaji. Seperti halnya di Jawa ada kisah Djaka Tarub yang mengambil selendang salah satu bidadari yang sedang mandi di telaga kemudian mengawini bidadari tersebut. Kisah Burut Ules menyerupai hal itu. Dia, Burut Ules, mengambil besaluka yang di Jawa dikenal dengan nama jarik. Bukan hanya sekali dia melihat tujuh dara yang turun dari langit dan mandi di telaga yang berada di tengah hutan belantara yang sedang ia persiapkan sebagai tempat tinggal. Ketika dengan sengaja Burut Ules menunggu sambil sembunyi disemak-semak, tujuh dara yang dia tunggu turun dari langit menuju telaga setelah melepaskan seluruh pakaian semuanya mandi di telaga. Burut Ules tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, yang mungkin tidak akan datang lagi, pada saat para dara itu menginjak tanah untuk mengenakan pakaian, Burut Ules muncul dari semak-semak langsung memeluk buah hatinya, yang tak lain bungsu dari para bidadari.

Singkat kisah, Burut Ules lalu mengawini dara bungsu itu dan untuk menjaga agar tidak kembali ke tempatnya, Burut Ules menyembunyikan pakaian dara yang dipersunting itu. Sampai pada klimaksnya, setelah keduanya bahagia mempunyai seorang anak, Burut Ules tidak bisa menerima kehadiran seorang anak muda, mamut menteng, yang dikenalkan istrinya sebagai saudaranya, lantaran terlalu sering pergi berduaan mandi di telaga dengan meninggalkan anaknya yang masih bayi, akhirnya Burut Ules membunuh pemuda itu. Mengerti akan hal itu, istri Burut Ules marah dan pergi meninggalkan suaminya dengan membawa serta anak laki-lakinya. Sebelum pergi istrinya sempat menyampaikan pesan, bahwa kelak kalau dewasa anak laki-lakinya akan kembali ke alam ayahnya karena dia tidak bisa tinggal di alam ibunya.

Putri ketiga Tjilik Riwut, Theresia Nila Ambun Triwati Suseno dalam bukunya yang berjudul "Manaser Panatau Tatu Hiang, Menyelami Kekayaan Leluhur" menutup kisah Burut Ules dengan menulis:

"Suatu hari di Teluk Derep, Tumbang Kasongan, terdengar suara gemuruh halilintar memekakkan telinga. Petir kilat sambar menyambar. Saat itu sebuah batu besar diturnkan dari langit. Diyakini bahwa anak Burut Ules yang telah gaib bersama istri pertamanya, saat itu telah dewasa. Sesuai janji, apabila telah dewasa ia akan kembali ke alam bapaknya bertempat tinggal, maka janji itu telah ditepati. Batu yang diturunkan dari langit kemudian terkenal dengan nama Bukit Batu dan diyakini sebagai tempat kediamannya, walau tak terlihat dengan mata jasmani, namun ia ada di sana sebagai Raja dan penguasa daerah tersebut…"

Sebagaimana legenda yang tidak menunjuk waktu peristiwa. Legenda Burut Ules dan Bukit Batu juga tidak bisa dilacak waktu kejadiannya, tetapi diyakini sebagai sungguh terjadi. Kisah cerita itu mengidentifikasi "Bukit Batu" sebagai makhluk yang mempunyai jenis kelamin laki-laki.

Dari Bukit Batu inilah kisah Tjilik Riwut mengawali jejak. Riwut Dahiang, ayah Tjilik Riwut, menginginkan mempunyai seorang anak laki-laki sebab setiap anaknya lahir laki-laki selalu meninggal. Di Bukit Batu Riwut Dahiang bertapa, dalam bahasa setempat disebut sebagai balampah untuk memohon kepada Hatalla (Tuhan) supaya mendapatkan anak laki-laki. Wangsit yang diperoleh dalam pertapaan itu ialah, bahwa anak laki-laki Riwut Dahiang yang akan dilahirkan kelak akan mengemban tugas khusus untuk masyarakat sukunya.

Tjilik Riwut dalam masa pertumbuhannya hampir tidak pernah melupakan Bukit Batu. Dalam usia yang masih belia, Tjilik Riwut biasa pergi meninggalkan teman bermainnya untuk menuju Bukit Batu, yang jaraknya dari tempat tinggalnya sekitar 15 Km. Tjilik Riwut berjalan menuju Bukit Batu untuk melakukan apa yang dulu pernah dilakukan oleh ayahnya, Riwut Dahiang.

Di Bukit Batu, seperti apa yang pernah dilakukan ayahnya, Tjilik Riwut melakukan apa yang disebut sebagai balampah (semedi, bertapa). Di tempat yang dianggap keramat itu Tjilik Riwut bersemedi untuk merenungkan kehidupannya. Dalam bertapa itu, lagi-lagi mendapat wangsit seperti yang pernah dialami oleh ayahnya. Wangsit yang pertama diperoleh ialah, supaya Tjilik Riwut menyeberang laut untuk menuju Pulau Jawa. Hampir sulit wangsit itu dilaksanakan, karena pada jaman itu, transportasi di Kalimantan masih sangat lemah untuk menuju Jawa, sehingga bisa dikatakan mustahil, apalagi harus ditempuh dari desa Kasongan di mana Tjilik Riwut lahir dan tinggal. Untuk pergi ke Banjarmasin yang terletak di pulau yang sama dengan Kalimantan, pada waktu itu bukan main susahnya.

Bukit Batu sekarang dikenal dengan nama “Tempat Pertapaan Tjilik Riwut”. Letak Bukit Batu dari kota Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah sekitar 40 Km. Namun dari Kabupaten Katingan hanya sekitar 10 Km. Untuk menuju ke Bukit Batu dari Palangka Raya bisa menggunakan transportasi umum atau mobil pribadi. Hanya karena transportasi umum tidak terlalu sering, sehingga terasa lama dalam menunggu. Sebagai salah satu obyek wisata Kalimantan Tengah umumnya, dan di Kabupaten Katingan khususnya, belum dikelola secara memadai. Terlepas sebagai obyek wisata, Bukit Batu memilik “jejak sejarah” terhadap terbentuknya Kalimantan Tengah.


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 02:34 AM
#46

kaskus ID : TuaGila
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : Tamanggung Amai Rawang Manajah Antang
sumber : Koleksi Pribadi
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Gunung Mas, Kalteng

Spoiler for
Tamanggung Amai Rawang Manajah Antang

Legenda Tamanggung Amai Rawang Manajah Antang, merupakan legenda di Desa Upun Batu atau Tumbang Manange di hulu Kahayan yang menceritakan berdirinya Kuta atau Benteng diatas Batu Suli Puruk Tamanggung.
Diceritakan, pada suatu hari, disaat semua orang di Desa Upun Batu atau Tumbang Manange sedang berada di ladang karena pada saat itu memang sedang musim panen, tanpa disangka datanglah segerombolan Kayau dari suku Ot menyerang desa tersebut.
Disaat serangan terjadi, yang ada hanyalah beberapa orang kaum perempuan yang sedang mencuci pakaian dipinggir sungai Kahayan. Salah satunya adalah Nyai Inai Rawang istri dari Toendan yang bergelar Tamanggung Amai Rawang.
Akibat serangan tersebut, banyak yang mati, terluka maupun melarikan diri. Disaat Tamanggung Amai Rawang beserta adiknya Tewek yang bergelar Singa Puai pulang dari ladang, terkejutlah mereka melihat keadaan yang telah terjadi.
Maka disuruhnyalah Singa Puai untuk memanggil kembali kakak mereka yang tertua yang bernama Ucek beserta semua orang yang sedang bekerja diladang untuk mengadakan pembalasan.
Namun malang, ternyata gerombolan Kayau tersebut setelah menyerang kaum perempuan yang ada di Desa Upun Batu atau Tumbang Manange, mereka juga datang menyerang orang-orang yang sedang bekerja diladang, sehingga banyak mati dan terluka parah.
Dan sebelum gerombolan Kayau tersebut pulang, mereka sempat berpesan bahwa dalam tempo tujuh hari lagi mereka datang kembali.
Bila warga desa Upun Batu atau Tumbang Manange ingin selamat, mereka harus menyerahkan harta kekayaan mereka dan rela dijadikan budak.Namun bila mereka tidak mau menyerahkan harta benda, maka mereka akan dibunuh semuanya. Sebagai tanda ancaman tersebut, tertancaplah sebuah Sampalak, yaitu tanda bahwa daerah tersebut akan diserang atau di Kayau.
Kini tinggallah Tamanggung Amai Rawang beserta saudara-saudaranya dan segelintir warga desa yang tersisa, duduk termenung memikirkan bencana yang baru saja menimpa mereka. Ingin mengadakan pembalasan, apa daya kekuatan sudah tidak ada lagi.
Sehingga akhirnya muncullah ide untuk Manajah Antang, yaitu upacara memanggil burung Elang yang diyakini sebagai wujud penjelmaan dari para Antang Patahu, yaitu roh-roh leluhur yang bertugas sebagai dayang penunggu wilayah untuk meminta petunjuk dan pertolongan.
Tidak beberapa lama, upacara Manajah Antang pun dilakukan. Berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh para Antang Patahu, bahwa Tamanggung Amai Rawang haruslah mendirikan kuta ataupun benteng diatas bukit batu yang terletak di tengah sungai, berseberangan dengan desa Upun Batu atau Tumbang Manange.
Apabila musuh datang dari arah matahari terbenam, maka mereka harus lari, sebab menandakan mereka akan kalah. Namun bila musuh datang dari arah matahari terbit, itu berarti mereka akan menang.
Dan Tamanggung Amai Rawang tidak boleh mencabut senjata mandaunya untuk menghalau musuh. Ia cukup duduk diatas gong sambil menonton apa yang terjadi, sebab para Antang Patahulah yang akan berperang baginya.
Ternyata, pada hari yang telah ditentukan, datanglah gerombolan Kayau untuk menyerang kembali Desa Upun Batu atau Tumbang Manange. Mereka datang dari arah matahari terbit dengan tampang yang ganas.
Namun sebelum mereka dapat menyentuh Tamanggung Amai Rawang, mereka sudah berjatuhan karena diserang oleh para Antang Patahu. Gerombolan Kayau tersebut takluk dan bersedia menjadi pengikut dari Tamanggung Amai Rawang.
Desa Upun Batu atau Tumbang Manange, akhirnya menjadi aman tentram kembali seperti dahulu kala berkat pertolongan para Antang Patahu yang adalah pengejawantahan dari pertolongan Tuhan Yang Maha Esa sebagai wujud jawaban dari upacara Tamanggung Amai Rawang Manajah Antang.***


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 02:39 AM
#47
Asal Usul Tana Malai Tolung Lingu I
kaskus ID : TuaGila
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : Asal Usul Tana Malai Tolung Lingu
sumber : Koleksi Pribadi
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Murung Raya, Kalteng

Spoiler for
Asal Usul Tana Malai Tolung Lingu
Dikatakan Juga
Petak Malai Buluh Merindu

Legenda ini berasal dari daerah Kabupaten Murung Raya atau Puruk Cahu. Tepatnya di daerah penduduk atau Desa Tumbang Topus kecamatan sekarang ut Murung dan di daerah penduduk kampung Talung Nyaling. Konon ceritanya Tana Malai Tolung Lingu ini asal mulanya ada di tanah Kayangan atau Danum Songiang.
Di tanah kayangan telah hidup dua orang perempuan yang sangat cantik yang bernama Bura dan Santaki ceritanya pada suatu hari kedua perempuan cantik ini turun kedunia atau anak Danum Kolunon untuk melihat dan mengamat-ngamati keadaan yang ada di anak Danum kolunon. Ketika sedang berjalan kedua perempuan cantik ini melihat bahwa di dunia atau anak Danum kolunan banyak sekali tempat-tempat yang sepi tidak ada sama sekali penghuninya. Sedang ketika kedua perempuan itu berjalan lagi ia melihat bahwa ada sekelompok manusia atau kolunon yang mendiami tempat tersebut.
Dalam hati kedua perempuan cantik itu bertanya kenapa di dunia manusia banyak sekali tempat-tempat sunyi dan sepi tidak ada penghuninya. Maka bersedihlah hati kedua perempuan yang bernama Bura dan Santaki itu. ketika kembali lagi ketanah kayangan, siang dan malam kedua perempuan itu merenungkan apa yang harus mereka perbuat. Supaya di dunia tidak ada lagi tempat sepi yang tidak ada penghuninya. Setelah berhari-hari kedua perempuan cantik itu memutuskan untuk menurunkan “Tana Malai Tolung Lingu tau petak Malai Buluh Merindu ke dunia atau anak Danum Kolunon sebagai songkolasan-songkolimo anak kolunon di muka bumi atau pindah ondou.Konon ceritanya Tana Malai Tolung Lingu adalah benda keramat milik manusia di tanah kayangan.
Tana Malai atau petak malai adalah tanah yang bertahun-tahun dikumpulkan oleh burung elang dari seluruh penjuru alam dimana ia pernah singgah. Tana Malai ini dikatakan tanah keramat, tanah ini menempel atau melekat pada kaki burung elang pada saat ia menempel atau melekat pada kaki burung elang pada saat ia terbang kea lam bebas dan pada saat kembali tanah itu akhirnya menumpuk dan akhirnya menjadi tempat burung elang itu tinggal atau menjadi tempat sarangnya.
Tana Malai itu berbau harum dan berwarna kuning keemasan. Konon cerita Tana Malai ini mempunyai kekuatan mistik yang bisa memikat siapapun yang pernah menyentuh tanah tersebut.
Seperti halnya burung elang, walau kemanapun ia pergi atau seberapa jauh burung elang itu pergi, burung elang akan berusaha kembali kesarangnya, yang dikarenakan pengruh dari Tana Malai atau Petak keramat tersebut yang menempel pada kakinya dan kemudian menjadi tempat sarangnya. Sedangkan Buluh merindu adalah bambu.
Pada suatu hari di tanah kayangan kedua perempuan cantik “ Bura dan Santaki pun menurunkan ke dunia atau pindah Ondou atau anak Danum kolunon Tana Malai Tolung Lingu atau petak Malai Buluh Marindu”. Bura Hoburup atau ngipas pertama Tana Malai Tolung Lingu atau menurunkan Tana Malai Tolung Lingu ke dunia yang jatuh tempatnya di Gunung Pancung Ampang Hulu Barito. Selatan itu yang kedua Santaki Hoburuh atau ngipas atau menurunkan Tana Malai Tolung lingu yang jatuh di Gunung Bondang tepatnya di hulu Sungai Laung Tana Malai Tolung lingu atau petak Malai Buluh Marindu ini telah ditemukan oleh orang di dunia atau anak kolunon panda ondou.
Tana Malai Tolung Lingu atau petak Malai Buluh Marindu ini di temukan oleh penduduk wilayah Kabupaten Murung Raya atau Puruk Cahu yang berada di daerah pedalaman sekitar tahun 1720 dan 1721.
Sekitar tahun 1720 Nyahu bin Sangen dan Conihan penduduk yang pertama kali menemukan Tana Malai Tolung Lingu. Kedua orang ini masing-masing merupakan penduduk kampung suku siang Kono atau Desa Tumbang Topus kecamatan sekarang ut murung.
Keadaan penduduk suku siang kono pada waktu itu sangat primitive sekali baik cara berpakaian bahkan kondisi keberadaan mereka. Penduduk suku kono terkenal dengan daun telingga mereka yang lebar dan panjang yang disebabkan oleh benda-benda berat yang sengaja digantung pada dan telingga mereka sebagai anting agar tampak cantik bagi kaum perempuannya. Benda-benda itu berupa kayu, atau tulang-tulang binatang atau emas atapun perak. Hal tersebut sudah menjadi tradisi turun-menurun dari nenek moyang mereka selain itu penduduk kampung suku kono pada zaman dahulu tidak mengunakan bersama selayaknya manusia pada zaman sekarang.
Tetapi mereka hanya mengunakan penutup badan yang tebuat dari serat-serat kayu disebut juga dengan enah yang hanya digunakan untuk menutupi tubuh di daerah sekitar kemaluannya.
Kehidupan penduduk suku kono pada saat itu hanya mengandalkan mata pencaharian berburu dan bercocok tanam secara berpindah-pindah
Pada tahun 1720 penduduk Suku Siang Kono yang bernama Nyahu Bin Sangen dan Conihan melakukan perjalanan untuk mencari sarang Burung ke Liang Gunung pancung Ampang yang tepatnya berada di antara Hulu Sungai Karamu dan Sungai Busang dan juga Hulu Sungai Chan anak Sungai Mahakam mati yang terdapat di Gunung Pancung Ampang yang di namai Cahai Uhai. Di puncak Gunung Pancang Ampanglah Nyahu Bin Sangen dan Conihan berusaha untuk mencari Tana Malai di sekitar Gunung Pancung Ampang itu kedua orang penduduk suku kono impun menemukan juga Tana Malai atau petah malai di lereng gunungPancung Ampang yang terdapat pada dinding atau batu lereng gunung ampang tersebut.
Untuk dapat mengambil Tana Malai, Nyahu Bin sangen dan Conihan terlebih dulu mengambil Tolung Ling yang telah mereka temukan. Kemudian barulah Nyahu Bin Sangen dan Conihan dapat mengambi Tanah Malai dengan Tolung Lingu mereka berdua mengambil Tana Malai dengan cara menyambung-menyambungkan Tolung Lingu dan dengan bagian ujung atas bambu Tana Malai diambil. konon cerita Tana Malai di ambil dengan mengunakan Tolung Linggu dikarenakan jarak antara Tana Malai berada di tempat tinggi di atas permukaan tanah tempat Nyahu Bin Sangen dan Colihan berdiri sehingga mereka mengunakan tolung lingu yang disambung-sambungkan hingga menjadi panjang dan juga dikarenakan Tana Malai tidak dapat sembarang di sentuh oleh orang. Tana Malai di ambil dengan bambu atau tolung Lingu dan masuk ke dalam Tolung Lingu atau bambu tesebut melalui bagian ujung atas bambu.
Ketika telah menemukan Tana Malai Tolung Lingu, Nyahu Bin Sangen memutuskan untuk kembali ke kampungnya untuk menceritakan kejadian itu kepada penduduk kampung mereka. Setelah melalui perjalanan yang Nyahu Bin Sangen dan conihanpun akhirnya sampai di kampungnya.....


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 02:41 AM
#48
Asal Usul Tana Malai Tolung Lingu II
kaskus ID : TuaGila
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : Asal Usul Tana Malai Tolung Lingu
sumber : Koleksi Pribadi
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Murung Raya, Kalteng

Spoiler for
Kedua orang ini segera menceritakan perihal penemuan mereka tersebut kepada Tua-tua adat dan penduduk lainnya kemudian Tana Malai Tolung Lingu atau petak Malai Buluh Merindu bagi Suku Siang Kono dijadikan Songkolasan-Songkolimo atau pemikat atau penakluk hati. Konon ceritanya setiap orang asing atau tamu yang datang ke Hulu Barito, kalau mereka mandi atau minum air sungai barito mereka akan merasa lingo-lingo atau rasa ingin pulang kembali ke tempat asaalnya akan ditunda-tunda atau nanti-nanti saja dalam hatinya pada akhirnya tidak jadi pulang kembali ketempat asalnya tetapi akan kimpoi dan hidup menetap atau tinggal di Hulu Barito bersama dengan penduduk asli suku siang, punan, panyawung, ut Danum dan lain-lain. Sebab itu di Hulu Barito sekarang banayak sekali suku pendatang yang menetap disana.
Kemudian pada tahun 1721 Tana Malai Tolung Lingu telah di temukan oleh penduduk suku Siang Murung kampung Taluu Nyaling yang bernama “Nyaman” dan “Talawang Amai Meteh”. Tana Malai Tolung Lingu di temukan di gunung Bondang tepatnya di hulu sungai laung.
Kedu orang ini berjalan ke gunung Bondang, bermaksud untuk balampah atau bersemedi guna mencari alamat atau petunjuk yang baik agar memperoleh hidup sukses. Setelah melakukan perjalanan yang cukup dari kampungnya berhari-hari, kedua orang itu pun’ Nyaman dan Talawang Amai Meteh “akhirnya sampailah pada puncak gunung Bondang yang paling tinggi di antara gunung-gunung yang ada di daerah tersebut atau daerah murung Raya taua Puruk Cahu sekarang. Gunung Bondang yang paling tinggi itu disebut Lapak Pati.
Ketika Nyaman dan Talawang Amai Meteh telah berada di puncak Gunung Bondang di jumpailah Tolung lingu yang hidup di pncak Gunung Bondang tersebut. Kemudian mereka berdua mengambil Tolung Lingu dan mencari Tana Malai petak Malai dan akhirnyapun “Nyaman dan Talawang Amai Meteh” mendapatkannya.
“Nyaman dan Talawang Amai Meteh” telah menemukan Tana Malai buluh merindu sehingga mereka berdua memutuskan untuk membatalkan keinginan mereka untuk balampah atau bersemedi tetapi memutuskan untuk kembali ke kampung mereka kedua orang penduduk Suku Siang Murung ini melakukan perjalanan kembaali dengan melewati hutan belantara dan semak belukar dengan waktu yang berhari-hari. Sesampainya di kampung kedua orang itu menceritakan tentang Tana Malai Tolung Lingu yang telah mereka temukan kepada Tua-tua adat dan penduduk kampung mereka.
Tana Malai Tolung Lingu atau Petak Malai Buluh Merindu itu dijadikan Songkolasan-songkolimu penduduk Suku Siang Murung. Maka sebab itu kalau ada orang pendatang atau tamu yang mandi dan minum ari Sungai Laung, lalu merasa lingo-lingo atau lupa-lupa ingin pulang atau kembali ke daerah asalnya dan akhirnya menetap kimpoi dan menetap bersama penduduk asli di Hulu Sungai Laung yang sekarang menjadi Bumi Tana Malai Tolung Lingu Kabupaten Murung Raya.
Sampai pada saat inipun legenda ni masih di percaya oleh masyarakat di sepanjang sungai Barito Kabupaten Murung Raya atau Puruk Cahu. Demikian Legenda rakyat Tana Malai Tolung Lingu Kabupaten Murung Raya.***


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 02:43 AM
#49
Pertempuran Di Pulau Kupang 1
kaskus ID : TuaGila
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : Pertempuran Di Pulau Kupang
sumber : Buku Kalimantan Membangun
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kalimantan Tengah

Spoiler for
Alkisah Temanggung Sempung sudah mengambil Nyai Nunjang menjadi istrinya dan di anugerahi seorang putri yang diberi nama Nyai Undang, seorang putri yang sangat cantik parasnya, seperti dewi turun dari kayangan. Maka Temanggung Sempung bermaksud akan mengambil Sangalang anaknya Mereng cucu dari Karangkang menjadi menantunya.

Maka tersiarlah kabar dimana-mana akan kecantikan Nyai Undang itu, dan berita itu pun sampailah kepada Raja Laut namanya Sawang. Maka datanglah Raja Sawang dengan balatentaranya, dengan maksud untuk mengawini Nyai Undang tersebut. Dan dia berjanji dengan semua balatentaranya, jika maksudnya untuk mengawini Nyai Undang itu tidak diterima, maka dia akan mengumumkan perang dengan kota Pulau Kupang itu.

Singkat cerita, dengan di iringi tempik sorak dan teriakan dari para pengiringnya, maka sampailah Raja Sawang di istana Nyai Undang tersebut. Tetapi malang akan tiba, waktu Raja Sawang akan melangkahkan kaki nya diatas Kayu-Nyilu dipintu gerbang istana, maka Raja Sawang terus jatuh, lemah lunglai segala sendi anggota tubuhnya, seperti orang yang tidak bertenaga lagi. Melihat akan hal yang demikian itu maka Nyai Undang lalu mengambil Dohong “Raca Holeng Joha, Kahajun Duun Suna Taja Panulang Karing, Hitan Iung Pundan, Sanaman Mantikei dari hulu Katingan Kuman Raha�. Oleh karena Sawuh (mengamuk) Nyai Undang terus turun mengamuk, semua balatentara Raja Sawang yang ada di Banama dibunuhnya. Balatentara Raja Sawang menderita kekalahan dan menyerah. Dan mereka yang hidup dijadikan tawanan dan dijadikan jipen atau budak beliannya.

Dari rakyat Raja Sawang dan Raja Nyaliwan (Raja Utara) yang masih hidup ada beberapa orang yang masih dapat melarikan diri dan membawa kabar tentang jalannya pertempuran. Setelah mendengar kabar inilah maka seluruh rakyat Raja Sawang berjanji akan menuntut balas untuk kematian Rajanya. Semua balatentara Raja Sawang yang menjadi tawanan tadi akhirnya kimpoi mengawin dengan suku dayak, sehingga mereka menjadi satu turunan yang besar yang akhirnya juga menjadi nenek moyang dari suku bakumpai ialah Tamanggung Pandung Tandjung Kumpai Dohong, dari suku barangas ialah Suan Ngantung Rangas Tingang, dari suku alalak ialah Imat Andjir Serapat.

Kabar bahwa Kerajaan Raja Sawang akan menyerang kota Pulau Kupang sampai pula ke Nyai Undang. Maka Nyai Undang mengirimkan utusannya ke Tumbang Pajangei. Dan bersama dengan utusannya itu dikirmkannya pula sebatang Lonjo Bunu atau tombak Bunu sebagai surat. Pesannya itu dikirimkannya kepada Rambang, Ringkai, Tambun, Bungai di Tumbang Pajangei. Yang mana maksud dari Tombak Bunu itu adalah meminta bala bantuan untuk berperang.

Dengan tidak berpikir panjang dan membuang-buang waktu lagi Rambang, Ringkai membawa Temanggung Bungai Andin Sindai anak Temanggung Sempung yang paling berani dan gagah perkasa, serta Raja Tambun Tandjung Ringkin Duhong anak Serupoi. Keduanya adalah pahlawan yang pangkamenteng pangkamamute. Karena kedua pahlawan ini belum pernah satu kalipun mengalami kekalahan.

Adapun nama-nama para panglima yang turut serta untuk membela Pulau Kupang adalah:
1. Njaring anak Ingoi dari Hulu Miri
2. Bungai anak Ramping dari Tumbang Miri
3. Temanggung Kandeng keponakan Piak Batu Nocoi Riang Naroi
4. Isoh Batu Nyiwuh
5. Etak kampong Tewah
6. Temanggaung Handjungan dari Sare Rangan
7. Temanggung Basi Atang dari Penda Pilang
8. Temanggung Sekaranukan dari Tumbang Manyangen
9. Temanggung Renda dari Baseha
10. Temanggung Rangka dari Tumbang Rio
11. Temanggung Kiting dari Tanjung Riu
12. Temanggung Lapas dari kampung Baras Tumbang Miwan
13. Temanggung Basir Rumbun dari teluk Haan
14. Temanggung Hariwung dari Tumbang Danau
15. Temanggung Dahiang bapa Buadang dari Sepang Simin
16. Temanggung Ringkai dan Tombong dari Tangkahen
17. Temanggung Uhen dari kampung Manen
18. Temanggung Kaliti dari Rawi
19. Rakau Kenan dari Tumbang Rungan
20. Temanggung Kandang Henda Pulang dari Sugihan (Guhong)
21. Temanggung Andin dari Pulau Kantan......


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 02:46 AM
#50
Pertempuran Di Pulau Kupang 2
kaskus ID : TuaGila
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : Pertempuran Di Pulau Kupang
sumber : Buku Kalimantan Membangun
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kalimantan Tengah

Spoiler for
Tiada berapa lamanya berkat kerjasama dan saling mengerti satu akan yang lainnya, maka siaplah kota itu lengkap dengan persenjataannya. Dan diberilah nama oleh mereka akan kota itu Kota Pematang Sawang yang selalu siap sedia menerima kedatangan musuh. Istana tempat Nyai Undang dikepalai oleh Temanggung Rambang. Semua Panglima Perang dari sungai Barito, Kapuas, Kahayan, Katingan , Seruyan telah berkumpul didalam kota itu. Semua menjadi satu dengan tekad dan satu dasar ialah kerjasama yang erat. Tidak berapa lamanya, musuh(asang) pun datanglah. Jumlah Asang yang datang itu kurang lebih 10.000 orang banyaknya.

Sebelum peperangan dimulai maka Temanggung Rambang dan Temanggung Ringkai menenung sambil menyanyi. Maka dengan tiba-tiba datanglah burung Elang dan memberi tanda menang. Dengan tidak takut akan maut, mereka melawan dan menyerang musuh yang jauh lebih besar jumlahnya dari mereka. Dengan alat-alat senjata yang ada dan segala pusaka dari nenek moyang suku Dayak pertempuran berlangsung dengan seramnya. Darah mengalir dari tubuh balatentara musuh yang mati, membasahi tanah dan menjadikan air sungai berubah menjadi merah warnanya. Tetapi Panglima-Panglima suku Dayak semuanya tidak ada satu orang pun yang luka atau mati terbunuh oleh senjata musuh, karena mereka memakai pusaka dari Ranying.

Melihat akan ketangkasan serta keunggulan dari balatentara Nyai Undang yang pantang mundur itu, maka akhirnya mereka menyerah dengan marup. Di dalam peperangan yang demikian sengitnya itu, Temanggung Rambang lah yang sangat berjasa karena dia dapat memotong kepala asang tersebut. Semua kepala pasukan musuh mati terbunuh.

Setelah peperangan selesai maka di adakan lah pesta besar untuk memalas Temanggung Rambang dengan darah ayam, babi, sapid an darah orang yang dibunuhnya tadi, supaya tidak tulah karena demikianlah Adat Dayak. Selagi mengadakan pesta itu semua utusan suku Dayak dari seluruh Kalimantan di undang. Dalam pesta itu sudah berkumpul lebih kurang 35 wakil suku Dayak. Yang nama-namanya ada tertulis sebagai berikut:
1. Manan dari hulu Kahayan
2. Londoi dari Tabahoi
3. Djato dari Bahoi
4. Ibong dari Buit Kalimantan Utara
5. Ikuh dari Tinggalan (Tidong)
6. Tingang dari Bukat (Dayak Bukat)
7. Kuit dari hulu Rundit Bt Lupar
8. Parekoi dari Serawai
9. Tunda Luting dari Samba Katingan
10. Dekoi dari Malahoi
11. Unei dari dayak Sahiei
12. Tamban dari Katingan
13. Mahat dari Mahalat
14. Etas dari hulu Kapuas
15. Dalong dari Hampotong
16. Umbing dari Manuhing
17. Tukoh dari Mamaruh
18. Gana dari Mentaya
19. Nuhan dari Saruyan
20. Bakan dari Rungan
21. Sindi dari Miri
22. Bahon dari Bahaun
23. Sawang dari Siang
24. Djohan dari Taran
25. Sota Munan dari Maanyan
26. Pahan dari Kalangan
27. Sakai dari Serawai
28. Manoui dari Rakaoi
29. Punan dari Heban
30. Hinan dari Dusun
31. Djaman dari Kabatan
32. Ritu dari Uru
33. Lati dari Pari
34. Nanau dari Lamandau


Setelah selesai pesta tadi maka sampailah giliran pesta besar lagi untuk mengawinkan Temanggung Sangalang dengan Nyai Undang di Pematang sawang Pulau Kupang. Dan selain itu Mangku Djangkan membikin pesta besar di Pulau Kantan mengawinkan Njaring anak Ingoi dengan Manjang anak Mangku Djangkan, pesta itu tujuh hari tujuh malam lamanya.

Sedikit catatan tentang Pulau Kupang Pematang Sawang. Kota ini turun temurun berganti-ganti orangnya yang menjadi Raja disitu. Dan kotanya juga sering berganti. Hanya dalam tetek tatum tidak diceritakan tentang perubahan kota itu. Jaman sekarang di tempat itu ada terdapat meriam dan bekas peninggalan-peninggalan. Ditempat itu juga sudah diadakan parit yang di namai Terusan Bataguh. Hingga sekarang sering disebut kota Bataguh. Kayu-kayu ulin yang menjadi tiang dan tembok kota itu luasnya tidak kurang dari 5 kilometer persegi.


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 02:48 AM
#51
Asal Usul Papar Ujung 1
kaskus ID : TuaGila
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : Asal Usul Papar Ujung
sumber : Koleksi Pribadi
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Murung Raya, Kalteng

Spoiler for
Di sebuah desa yang bernama Muara Tupuh, Kecamatan Laung Tuhup, Kabupaten Murung Raya, ada sebuah batu yang bersusun yang menyerupai sebuah bendungan yang menyeberangi sebuah sungai yang diberi nama Papar Laung, artinya dua batu yang disusun oleh Ujung.
Konon kisah ini berawal dari kehidupan dua orang saudara kandung yang laki-laki bernama Ujung sedangkan saudara perempuan atau adiknya bernama Suli, mereka tinggal di hutan dan hidup dengan berladang, sepeninggal kedua orang tuanya Ujung dan Suli hidup sendiri di hutan itu, mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari dari hasil berladang, ladang mereka menghasilkan padi, sayur-sayuran dan buah-buahan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, kadang-kadang Ujung pun pergi berburu, karena hutan yang mereka tempati masih alami dan masih belum terjamah oleh manusia lain Ujung pun dengan mudah mendapatkan hasil buruan seperti Rusa, Babi, Kijang, dan hewan-hewan lain yang bisa mereka jadikan lauk.
Mereka berdua ditinggalkan orang tuanya sejak Ujung berusia empat belas tahun dan Suli berusia sebelas tahun, kedua orang tua mereka meninggal karena sakit-sakitan dan memang sudah berusia lanjut, setelah kedua orang tua meninggal Ujunglah yang bertanggung jawab menjaga dan memelihara adiknya, Ujung sangat mencintai dan menyayangi adiknya Suli, demikian juga sebaliknya Suli sangat menyayangi dan menghormati kakaknya Ujung.
Waktu terus berjalan, Ujangpun tumbuh menjadi seorang lelaki dewasa yang memiliki wajah tampan, dengan dua mata yang sayu tetapi tajam, dagu yang lancip dan memiliki belahan di tengahnya, ia juga seorang lelaki yang gagah perkasa dan memiliki ilmu kedigjayaan yang diturunkan oleh kedua orang tuanya.
Sulipun tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita, dengan rambut yang panjang dan hitam, kulit putih mulus, dibalik keanggunannya iapun memiliki ilmu kedigjayaan seperti kakaknya Ujung yang juga diwarisinya dari kedua orang tuanya.
Pada suatu hari Ujung pergi ke dalam hutan untuk mencari daun palas yang akan dijadikan atap gubuk tempat mereka berdua tinggal, sebelum berangkat ke dalam hutan si Ujung berpesan kepada adiknya Suli untuk memasak nasi, memetik sayuran diladang dan memasaknya. Juga memasak Rusa hasil buruannya kemarin sore. Sebagai adik yang menurut kepada kakaknya Sulipun menyanggupi semua perintah kakaknya dengan ikhlas, dan mengantarkan kepergian kakaknya dengan senyuman.
Berangkatlah si Ujung ke dalam hutan untuk mencari daun palas, setelah matahari berada di tengah-tengah kepalanya dan merasa bahwa daun palas yang dicarinya sudah cukup banyak, Ujungpun memutuskan untuk pulang ke gubuknya, setelah melalui perjalanan yang melelahkan Ujungpun tiba di halaman gubuknya, dari luar tampak sunyi dan sepi, ia pikir mungkin saja adiknya sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk makan siang mereka berdua.
Ujung lalu masuk ke dalam gubuk dan mendapati adiknya Suli sedang duduk merenung di dapur sambil memainkan rambutnya yang hitam dan panjang, Ujung memerintahkan Suli untuk menyiapkan makanan, sementara ia pergi mandi kesumur belakang gubuk mereka.
Sulipun menyiapkan makanan, setelah Ujung selesai mandi dan berpakaian iapun menghampiri adiknya Suli yang sedang menyiapkan makanan, tapi ia terkejut saat melihat nasi yang dimasak Suli ternyata sangat sedikit, padahal sebelum berangkat berburu iakan sudah berpesan agar Suli memasak nasi yang banyak, saat ia bertanya kepada Suli mengapa nasi yang ia masak sangat sedikit, Sulipun hanya diam dan tersenyum, ia mengajak kakaknya makan bersama, dengan perasaan yang masih bertanya-tanya karena bingung akan sikap adiknya Suli, Ujungpun terpaksa makan karena perutnya memang sangat lapar sekali.
Selesai makan Suli membereskan piring-piring, mangkok, gelas dengan mencucinya di sumur belakang gubuk mereka. Sementara Ujungpun pergi ke ladang mereka untuk melihat-lihat keadaan tumbuhan yang hidup diladangnya, begitulah kegiatan yang dilakukan oleh Ujung dan adiknya Suli, Ujung bertugas memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dengan berladang dan berburu, sementara Suli adiknya dirumah mempersiapkan makanan dan mengurusi pekerjaan rumah lainnya, walaupun hidup di hutan dan apa adanya mereka nampak berbahagia karena bisa saling tolong menolong dan melengkapi satu sama lain.
Keesokan harinya Ujungpun berangkat lagi untuk mencari daun palas, tapi seperti hari sebelumnya iapun berpesan lagi kepada adiknya Suli agar memasak nasi yang banyak dengan sayur dan lauk yang banyak pula.
Setelah berpesan kepada Suli iapun berangkat ke dalam hutan, tanpa kenal lelah Ujung mencari daun palas, ia membutuhkan banyak daun palas untuk atap gubuk mereka yang sudah harus diganti dengan daun-daun palas yang baru, setelah beberapa Ujung mencari daun palas ia pun merasa sangat lelah dan lapar. Walaupun daun-daun palas yang di dapatnya sekarang belum cukup untuk atap rumah mereka, ia pun memutuskan pulang dan besok pagi ia akan mencari daun palas lagi ke hutan. Setelah berjalan cukup lama iapun sampai di halaman gubuk mereka seperti hari sebelumnya gubuk mereka tampak sunyi dan sepi, iapun masuk dan mendapati adiknya Suli sedang duduk merenung sambil menyisir rambutnya yang hitam panjang.
Tanpa menegur Suli, Ujungpun langsung pergi ke sumur belakang gubuk mereka untuk mandi, selesai mandi Ujung berpakaian dan setelah selesai berpakaian Ujung menghampiri adiknya Suli, dan menyuruh Suli mempersiapkan makanan, Sulipun mencuci tangannya dan segera mempersiapkan makanan untuk mereka berdua, sementara adiknya Suli mempersiapkan makanan, ia mengamati apa yang dilakukan adiknya, ia kembali terkejut saat melihat makanan yang dimasak adiknya sangat sedikit, setelah selesai mempersiapkan makanan, Sulipun mengajak kakaknya untuk makan, seperti biasanya dengan perasaan yang bertanya-tanya karena bingung dengan apa yang dilakukan Suli karena tak menuruti perintahnya. Ujungpun makan karena merasa perutnya masih lapar iapun meminta nasi, sayur, dan lauk lagi kepada Suli, dan anehnya apa yang diminta Ujung masih ada, entah dari mana Suli mendapatkan semuanya, merasa dipermainkan oleh adiknya Suli, Ujung pun berniat membalas perbuatan adiknya Suli......


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 02:57 AM
#52
sal Usul Papar Ujung 2
kaskus ID : TuaGila
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : Asal Usul Papar Ujung
sumber : Koleksi Pribadi
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Murung Raya, Kalteng

Spoiler for
Besoknya pagi-pagi sekali Ujung sudah berangkat kedalam hutan untuk mencari daun palas, setelah merasa daun palas yang di dapatnya sudah cukup untuk atap gubuk mereka berdua apabila digabungkan dengan daun-daun palas yang sudah didapatnya dua hari yang lalu, Ujangpun memutuskan pulang, tapi terlebih dahulu ia mengikat daun-daun palas yang sangat banyak itu menjadi satu ikatan sehingga terlihat sangat sedikit.
Setelah berjalan cukup lama, iapun sampai di depan gubuk mereka, Sulipun menyambut kedatangan kakaknya dengan gembira, tapi ia merasa heran karena daun-daun palas yang dibawa kakaknya sangat sedikit, ia pun bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa daun-daun palas yang didapatkan kakaknya sangat sedikit, padahal kakaknya Ujung mencari daun-daun palas tersebut selam tiga hari berturut-turut dari pagi sampai siang hari, tapi mengapa daun-daun palas yang di dapatnya hanya sedikit ?, padahal di hutan tempat mereka tinggal terdapat banyak daun palas dan tidak susah untuk mencarinya, menurut Suli seharusnya kakaknya bisa mendapatkan daun-daun palas yang sangat banyak untuk atap gubuk mereka, tapi mengapa kakaknya Ujung hanya mendapatkan daun-daun palas yang sangat sedikit, apakah yang dilakukan kakaknya selama tiga hari, apa benar selama tiga hari tersebut ia ia mencari daun palas, kalau benar mengapa daun-daun palas yang didapatkannya sangat sedikit tidak sesuai dengan lamanya pergi mencari daun-daun palas tersebut, jika kakaknya pergi tidak untuk mencari daun palas apa yang dilakukan kakaknya selama tiga hari berturut-turut, apakah ia pergi berburu, tapi mengapa tiap kali ia pulang tak pernah membawa hasil buruan, padahal bila memang kakaknya Ujung pergi untuk berburu, ia pasti akan mendapatkan hasil buruan, karena di hutan tempat mereka tinggal masih sangat banyak hewan-hewan seperti Kijang, Rusa, Babi dan hewan-hewan lain yang bisa di jadikan hewan buruan, lalu ke mana dan apa yang dilakukan kakaknya selama tiga hari berturut-turut dari pagi sampai siang hari.
Bagai macam pertanyaan memenuhi otak Suli, karena merasa sangat penasaran iapun bertanya kepada kakaknya Ujung, mengapa daun-daun palas yang di dapat kakaknya sangat sedikit ?, Ujungpun tersenyum mendengar pertanyaan adiknya Suli, ia menjawab bahwa itu hanyalah penglihatan adiknya saja, ia mendapatkan daun-daun palas sangat banyak dan cukup untuk atap gubuk mereka berdua.
Ujungpun menyuruh Suli membuka ikatan tali daun-daun palas tersebut, sambil membuka ikatan daun-daun palas tersebut Suli duduk diatasnya, pada saat ikatan daun-daun palas tersebut terlepas Sulipun terpental keatas, padahal pada saat itu sulis hanya mengenakan kain sarung sebagai penutup badannya tanpa menggunakan pakaian dalam, sehingga pada saat sarungnya terlepas Ujung bisa dengan jelas melihat bagian-bagian tubuh Suli yang seharusnya tidak boleh ia lihat, Sulipun merasa malu kepada kakaknya karena telah melihat bagian-bagian tubuhnya yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh orang lain kecuali dirinya sendiri, karena malu iapun berlari menjauhi kakaknya dengan menggunakan kesaktiannya, Ujungpun menggunakan kesaktiannya untuk mengejar adiknya Suli, dengan kesaktiannya ia membuat papar (susunan) batu untuk menghalangi adiknya Suli, tetapi Suli sudah terlanjur merasa sangat malu kepada kakaknya ia tak membiarkan kakaknya bisa mengejar langkah-langkahnya, dengan menggunakan kekuatannya pula ia menghancurkan paparan batu yang dibuat oleh Ujung untuk menghalangi kepergiannya, mereka saling kejar-mengejar yang menurut cerita orang-orang mereka sampai ke negeri Cina. Setelah sampai di negeri Cina merekapun terpisah tidak ada yang tau kemana perginya Ujung, setelah mengetahui bahwa kakaknya Ujung tak lagi mengejarnya, Sulipun berjalan pelan dan menemukan sebuah sungai di Cina, karena merasa haus iapun berlari ke arah sungai tersebut dan meminum airnya, setelah rasa hausnya hilang timbul keinginan dihatinya untuk mandi di sungai tersebut, setelah melihat keadaan di sekelilingnya aman dan tak ada orang yang melihat dirinya ada di situ, iapun melepaskan sarungnya dan pada saat ia melepaskan sarungnya tubuhnya polos tanpa menggunakan apapun juga, kulitnya yang putih dan mulus memancarkan cahaya putih yang memenuhi seluruh negeri Cina, konon inilah sebabnya mengapa orang-orang Cina memiliki kulit putih dan mulus, setelah selesai mandi Sulipun mengenakan sarungnya kembali, iapun melanjutkan perjalanannya hingga akhirnya ia sampai di Afrika karena ia merasa tidak terlalu suka dengan tempat tersebut iapun tidak melakukan apa-apa dan meneruskan perjalanannya hingga akhirnya iapun sampai di Indonesia kembali, pada saat berjalan-jalan iapun menemukan sungai karena merasa sangat haus Sulipun meminum air sungai tersebut dan membiarkan kakinya berendam ke dalam sungai tersebut ia mengangkat sarungnya sedikit dan betisnya yang panjang, putih dan mulus pun terlihat sehingga memancarkan cahaya putih karena pantulan sinar matahari walaupun sinar putihnya tak sebenderang sinar putih waktu ia membuka sarungnya di negeri Cina, setidaknya negara Indonesia mendapatkan sinar putih dari bagian tubuh Suli yaitu betisnya, karena itulah orang-orang Indonesia memiliki kulit sawo matang, kulit yang tidak hitam tidak juga terlalu putih. Setelah merasa puas merendam kakinya, Sulipun terus berjalan melanjutkan perjalanannya, hingga ia merasa lelah dan menemukan sebuah gubuk, iapun berjalan ke arah gubuk tersebut dan karena merasa sangat lelah dan mengantuk iapun tertidur di gubuk tersebut.
Pada saat Suli bangun iapun terkejut melihat keadaan disekitarnya, di depannya tersedia makanan, nasi, sayur, lengkap dengan lauk-pauknya ia lalu berdiri dan melihat keluar tidak ada siapa-siapa selain dirinya, iapun kembali ke dalam gubuk, karena merasa sangat lapar iapun memakan makanan yang ada dihadapannya sampai habis, setelah selesai makan iapun pergi kebelakang gubuk tersebut untuk mencuci piring, setelah selesai mencuci piring Suli kembali ke dalam gubuk.
Suli merasa sangat penasaran siapakah orang yang telah memasak masakan yang telah ia makan tadi, karena rasa penasaran tersebut Suli akhirnya tetap tinggal di gubuk tersebut sampai ia tau siapa orang yang memiliki gubuk tersebut.
Suli terus menunggu kedatangan si pemilik gubuk tempatnya berada sekarang, setelah hari sudah mulai siang, matahari memancarkan sinarnya, dari kejauhan Suli melihat sebuah sosok yang sepertinya seorang lelaki, semakin dekat sosok tersebut semakin jelas wajah si pemilik gubuk tersebut, Suli sangat terkejut ketika menyadari bahwa orang yang kini ada di hadapanya ada Ujung kakaknya, yang ia kira selama ini sudah tak lagi mencarinya dan bahkan sudah tidak di dunia ini lagi, melihat sikap Suli yang diam karena merasa kaget Ujungpun menyentuh bahunya, menyadarkannya dari lamunan dan kebingungannya, Ujungpun menceritakan semua yang ia lakukan, bahwa sebenarnya selama ini ia terus mengikuti Suli tanpa sepengetahuan Suli, ia tidak mau Suli tahu kalau ia mengikuti Suli, karena kalau Suli tahu suli pasti akan berlari menjauhinya, karena Suli merasa sangat merindukan kakaknya iapun memeluk kakaknya sambil menangis dan meminta maaf kepada kakaknya, Ujung merasa terharu dan ikut menitikkan air mata kebahagiaannya, ia merasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena sekarang ia bisa kembali hidup bersama-sama lagi dengan adiknya seperti dulu.
Setelah peristiwa tersebut Ujung dan Suli kembali hidup bersama, sampai sekarang bila air dalam sungai Laung yang menuju ke Muara Tupuh surut maka akan nampak papar Ujung tersebut, apabila kita ingin ke Muara Tupuh pada waktu air surut kita akan melewatinya, papar tersebut disebut juga kahem kumpai atau riam yang penuh dengan rumput kumpai. * * *


Isen Mulang Petehku
verditch - 12/01/2010 10:16 AM
#53

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat dari Jawa Timur Berjudul Aryo Menak dan Tujuh Bidadari

sumber : dongeng.org

keterangan : Di Jawa Timur, Jaka Tarub lebih dikenal dengan nama Aryo Menak

Spoiler for
Quote:
Aryo Menak adalah seorang pemuda yang sangat gemar mengembara ke tengah hutan. Pada suatu bulan purnama, ketika dia beristirahat dibawah pohon di dekat sebuah danau, dilihatnya cahaya sangat terang berpendar di pinggir danau itu. Perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi. Alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya tujuh orang bidadari sedang mandi dan bersenda gurau disana.

Ia sangat terpesona oleh kecantikan mereka. Timbul keinginannya untuk memiliki seorang diantara mereka. Iapun mengendap-endap, kemudian dengan secepatnya diambil sebuah selendang dari bidadari-bidadari itu.

Tak lama kemudian, para bidadari itu selesai mandi dan bergegas mengambil pakaiannya masing-masing. Merekapun terbang ke istananya di sorga kecuali yang termuda. Bidadari itu tidak dapat terbang tanpa selendangnya. Iapun sedih dan menangis.

Aryo Menak kemudian mendekatinya. Ia berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Ditanyakannya apa yang terjadi pada bidadari itu. Lalu ia mengatakan: “Ini mungkin sudah kehendak para dewa agar bidadari berdiam di bumi untuk sementara waktu. Janganlah bersedih. Saya akan berjanji menemani dan menghiburmu.”

Bidadari itu rupanya percaya dengan omongan Arya Menak. Iapun tidak menolak ketika Arya Menak menawarkan padanya untuk tinggal di rumah Arya Menak. Selanjutnya Arya Menak melamarnya. Bidadari itupun menerimanya.

Dikisahkan, bahwa bidadari itu masih memiliki kekuatan gaib. Ia dapat memasak sepanci nasi hanya dari sebutir beras. Syaratnya adalah Arya Menak tidak boleh menyaksikannya.

Pada suatu hari, Arya Menak menjadi penasaran. Beras di lumbungnya tidak pernah berkurang meskipun bidadari memasaknya setiap hari. Ketika isterinya tidak ada dirumah, ia mengendap ke dapur dan membuka panci tempat isterinya memasak nasi. Tindakan ini membuat kekuatan gaib isterinya sirna.

Bidadari sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi. Mulai saat itu, ia harus memasak beras dari lumbungnya Arya Menak. Lama kelamaan beras itupun makin berkurang. Pada suatu hari, dasar lumbungnya sudah kelihatan. Alangkah terkejutnya bidadari itu ketika dilihatnya tersembul selendangnya yang hilang. Begitu melihat selendang tersebut, timbul keinginannya untuk pulang ke sorga. Pada suatu malam, ia mengenakan kembali semua pakaian sorganya. Tubuhnya menjadi ringan, iapun dapat terbang ke istananya.

Arya Menak menjadi sangat sedih. Karena keingintahuannya, bidadari meninggalkannya. Sejak saat itu ia dan anak keturunannya berpantang untuk memakan nasi
sn.so.nice - 13/01/2010 08:50 PM
#54
epik terpanjang di dunia berasal dari Indonesia gan!
kaskus ID : sn.so.nice
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : I LA GALIGO
sumber : berbagai sumber
keterangan : gan, ternyata epik terpanjang di dunia berasal dari Indonesia gan! epik ini berjudul I La Galigo, asalnya dari daerah Bugis. katanya sih, panjangnya sekitar 2851 halaman ukuran kertas folio gan!!!!
ceritanya kurang lebih ini gan...

Spoiler for cerita i la galigo
Epik ini dimulai dengan penciptaan dunia. Ketika dunia ini kosong (merujuk kepada Sulawesi Selatan), Raja Di Langit, La Patiganna, mengadakan suatu musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa dan Peretiwi dari alam gaib dan membuat keputusan untuk melantik anak lelakinya yang tertua, La Toge' langi' menjadi Raja Alekawa (Bumi) dan memakai gelar Batara Guru. La Toge' langi' kemudian menikah dengan sepupunya We Nyili'timo', anak dari Guru ri Selleng, Raja alam gaib. Tetapi sebelum Batara Guru dinobatkan sebagai raja di bumi, ia harus melalui suatu masa ujian selama 40 hari, 40 malam. Tidak lama sesudah itu ia turun ke bumi, yaitu di Ussu', sebuah daerah di Luwu', sekarang wilaya Luwu Timur dan terletak di Teluk Bone.

Batara Guru kemudian digantikan oleh anaknya, La Tiuleng yang memakai gelar Batara Lattu'. Ia kemudian mendapatkan dua orang anak kembar yaitu Lawe atau La Ma'dukelleng atau Sawerigading (Putera Ware') dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng. Kedua anak kembar itu tidak dibesarkan bersama-sama. Sawerigading ingin menikahi We Tenriyabeng karena ia tidak tahu bahwa ia masih mempunyai hubungan darah dengannya. Ketika ia mengetahui hal itu, ia pun meninggalkan Luwu' dan bersumpah tidak akan kembali lagi. Dalam perjalannya ke Kerajaan Tiongkok, ia mengalahkan beberapa pahlawan termasuklah pemerintah Jawa Wolio yaitu Setia Bonga. Sesampainya di Tiongkok, ia menikah dengan putri Tiongkok, yaitu We Cudai.

Sawerigading digambarkan sebagai seorang kapten kapal yang perkasa dan tempat-tempat yang dikunjunginya antara lain adalah Taranate (Ternate di Maluku), Gima (diduga Bima atau Sumbawa), Jawa Rilau' dan Jawa Ritengnga, Jawa Timur dan Tengah), Sunra Rilau' dan Sunra Riaja (kemungkinan Sunda Timur dan Sunda Barat) dan Melaka. Ia juga dikisahkan melawat surga dan alam gaib. Pengikut-pengikut Sawerigading terdiri dari saudara-maranya dari pelbagai rantau dan rombongannya selalu didahului oleh kehadiran tamu-tamu yang aneh-aneh seperti orang bunian, orang berkulit hitam dan orang yang dadanya berbulu.

Sawerigading adalah ayah I La Galigo (yang bergelar Datunna Kelling). I La Galigo, juga seperti ayahnya, adalah seorang kapten kapal, seorang perantau, pahlawan mahir dan perwira yang tiada bandingnya. Ia mempunyai empat orang istri yang berasal dari pelbagai negeri. Seperti ayahnya pula, I La Galigo tidak pernah menjadi raja.

Anak lelaki I La Galigo yaitu La Tenritatta' adalah yang terakhir di dalam epik itu yang dinobatkan di Luwu'.

Isi epik ini merujuk ke masa ketika orang Bugis bermukim di pesisir pantai Sulawesi. Hal ini dibuktikan dengan bentuk setiap kerajaan ketika itu. Pemukiman awal ketika itu berpusat di muara sungai dimana kapal-kapal besar boleh melabuh dan pusat pemerintah terletak berdekatan dengan muara. Pusat pemerintahannya terdiri dari istana dan rumah-rumah para bangsawan. Berdekatan dengan istana terdapat Rumah Dewan (Baruga) yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan tempat menyambut pedagang-pedagang asing. Kehadiran pedagang-pedagang asing sangat disambut di kerajaan Bugis ketika itu. Setelah membayar cukai, barulah pedagang-pedagang asing itu boleh berniaga. Pemerintah selalu berhak berdagang dengan mereka menggunakan sistem barter, diikuti golongan bangsawan dan kemudian rakyat jelata. Hubungan antara kerajaan adalah melalui jalan laut dan golongan muda bangsawan selalu dianjurkan untuk merantau sejauh yang mungkin sebelum mereka diberikan tanggung jawab. Sawerigading digambarkan sebagai model mereka.


maaf kalo kurang lengkap...

di luar negeri epik ini dah sering dipentasin gan! dan bukan di tempat sembarangan, tapi di berbagai negara Eropa dan Amerika! berhubung naskahnya panjang, jadi pementasannya lumayan lama, 6 jam pementasan gan! tapi kok di negeri sendiri kayaknya malah ga dikenal ya??? iloveindonesia
verditch - 14/01/2010 10:33 AM
#55

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul Asal Usul Selat Bali

sumber : dongeng.org

keterangan : cerita rakyat dari daerah Bali

Spoiler for
Quote:
Pada jaman dahulu kala, ada seorang pemuda bernama Manik Angkeran. Ayahnya seorang Begawan yang berbudi pekerti luhur, yang bernama Begawan Sidi mantra. Walaupun ayahnya seorang yang disegani oleh masyarakat sekitar dan memiliki pengetahuan agama yang luas, tetapi Manik Angkeran adalah seorang anak yang manja, yang kerjanya hanya berjudi dan mengadu ayam seperti berandalan-berandalan yang ada di desanya.Mungkin ini karena ia telah ditinggal oleh Ibunya yang meninggal sewaktu melahirkannya. Karena kebiasaannya itu, kekayaan ayahnya makin lama makin habis dan akhirnya mereka jatuh miskin.

Walaupun keadaan mereka sudah miskin, kebiasaan Manik Angkeran tidak juga berkurang, bahkan karena dalam berjudi ia selalu kalah, hutangnya makin lama makin banyak dan ia pun di kejar-kejar oleh orang-orang yang dihutanginya. Akhirnya datanglah Manik ketempat ayahnya, dan dengan nada sedih ia meminta ayahnya untuk membayar hutang-hutangnya. Karena Manik Angkeran adalah anak satu-satunya, Begawan Sidi Mantra pun merasa kasihan dan berjanji akan membayar hutang-hutang anaknya.

Maka dengan kekuatan batinnya, Begawan Sidi Mantra mendapat petunjuk bahwa ada sebuah Gunung yang bernama Gunung Agung yang terletak di sebelah timur. Di Gunung Agung konon terdapat harta yang melimpah. Berbekal petunjuk tersebut, pergilah Begawan Sidi Mantra ke Gunung Agung dengan membawa genta pemujaannya.

Setelah sekian lama perjalanannya, sampailah ia ke Gunung Agung. Segeralah ia mengucapkan mantra sambil membunyikan gentanya. Dan keluarlah seekor naga besar bernama Naga Besukih.

“Hai Begawan Sidi Mantra, ada apa engkau memanggilku?” tanya sang Naga Besukih.

“Sang Besukih, kekayaanku telah dihabiskan anakku untuk berjudi. Sekarang karena hutangnya menumpuk, dia dikejar-kejar oleh orang-orang. Aku mohon, bantulah aku agar aku bisa membayar hutang anakku!”

“Baiklah, aku akan memenuhi permintaanmu Begawan Sidi Mantra, tapi kau harus menasehati anakmu agar tidak berjudi lagi, karena kau tahu berjudi itu dilarang agama!”

“Aku berjanji akan menasehati anakku” jawab Begawan Sidi Mantra.

Kemudian Sang Naga Besukih menggetarkan badannya dan sisik-sisiknya yang berjatuhan segera berubah emas dan intan.

“Ambillah Begawan Sidi Mantra. Bayarlah hutang-hutang anakmu. Dan jangan lupa nasehati dia agar tidak berjudi lagi.”

Sambil memungut emas dan intan serta tak lupa mengucapkan terima kasih, maka Begawan Sidi Mantra segera pergi dari Gunung Agung. Lalu pulanglah ia ke rumahnya di Jawa Timur. Sesampainya dirumah, di bayarlah semua hutang anaknya dan tak lupa ia menasehati anaknya agar tidak berjudi lagi.

Tetapi rupanya nasehat ayahnya tidak dihiraukan oleh Manik Angkeran. Dia tetap berjudi dan mengadu ayam setiap hari. Lama-kelamaan, hutang Manik Angkeran pun semakin banyak dan ia pun di kejar-kejar lagi oleh orang-orang yang dihutanginya. Dan seperti sebelumnya, pergilah Manik Angkeran menghadap ayahnya dan memohon agar hutang-hutangnya dilunasi lagi.

Walaupun dengan sedikit kesal, sebagai seorang ayah, Begawan Sidi Mantra pun berjanji akan melunasi hutang-hutang tersebut. Dan segera ia pun pergi ke Gunung Agung untuk memohon kepada Sang Naga Besukih agar diberikan pertolongan lagi.

Sesampainya ia di Gunung Agung, dibunyikannya genta dan membaca mantra-mantra agar Sang Naga Besukih keluar dari istananya.

Tidak beberapa lama, keluarlah akhirnya Sang Naga Besukih dari istananya.

“Ada apa lagi Begawan Sidi Mantra? Mengapa engkau memanggilku lagi?” tanya Sang Naga Besukih.

“Maaf Sang Besukih, sekali lagi aku memohon bantuanmu agar aku bisa membayar hutang-hutang anakku. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi dan aku sudah menasehatinya agar tidak berjudi, tapi ia tidak menghiraukanku.” mohon Begawan Sidi Mantra.

“Anakmu rupanya sudah tidak menghormati orang tuanya lagi. Tapi aku akan membantumu untuk yang terakhir kali. Ingat, terakhir kali.”

Maka Sang Naga menggerakkan tubuhnya dan Begawan Sidi Mantra mengumpulkan emas dan permata yang berasal dari sisik-sisik tubuhnya yang berjatuhan. Lalu Begawan Sidi Mantra pun memohon diri. Dan setiba dirumahnya, Begawan Sidi Mantra segera melunasi hutang-hutang anaknya.

Karena dengan mudahnya Begawan Sidi Mantra mendaptkan harta, Manik Angkeran pun merasa heran melihatnya. Maka bertanyalah Manik Angkeran kepada ayahnya, “Ayah, darimana ayah mendapatkan semua kekayaan itu?”

“Sudahlah Manik Angkeran, jangan kau tanyakan dari mana ayah mendapat harta itu. Berhentilah berjudi dan menyabung ayam, karena itu semua dilarang oleh agama. Dan inipun untuk terakhir kalinya ayah membantumu. Lain kali apabila engkau berhutang lagi, ayah tidak akan membantumu lagi.”

Tetapi ternyata Manik Angkeran tidak dapat meninggalkan kebiasaan buruknya itu, ia tetap berjudi dan berjudi terus. Sehingga dalam waktu singkat hutangnya sudah menumpuk banyak. Dan walaupun ia sudah meminta bantuan ayahnya, ayahnya tetap tidak mau membantunya lagi. Sehingga ia pun bertekad untuk mencari tahu sumber kekayaan ayahnya.

Bertanyalah ia kesana kemari, dan beberapa temannya memberitahu bahwa ayahnya mendapat kekayaan di Gunung Agung. Karena keserakahannya, Manik Angkeran pun mencuri genta ayahnya dan pergi ke Gunung Agung.

Sesampai di Gunung Agung, segeralah ia membunyikan genta tersebut. Mendengar bunyi genta, Sang Naga Besukih pun merasa terpanggil olehnya, tetapi Sang Naga heran, karena tidak mendengar mantra-mantra yang biasanya di ucapkan oleh Begawan Sidi Mantra apabila membunyikan genta tersebut.

Maka keluarlah San Naga untuk melihat siapa yang datang memangilnya.

Setelah keluar, bertemulah Sang Naga dengan Manik Angkeran. Melihat Manik Angkeran, Sang Naga Besukih pun tidak dapat menahan marahnya.

“Hai Manik Angkeran! Ada apa engkau memanggilku dengan genta yang kau curi dari ayahmu itu?”

Dengan sikap memelas, Manik pun berkata “Sang Naga bantulah aku. Berilah aku harta yang melimpah agar aku bisa membayar hutang-hutangku. Kalau kali ini aku tak bisa membayarnya, orang-orang akan membunuhku. Kasihanilah aku.”

Melihat kesedihan Manik Angkeran, Sang Naga pun merasa kasihan.

“Baiklah, aku akan membantumu.” jawab Sang Naga Besukih.

Setelah memberikan nasehat kepada Manik Angkeran, Sang Naga segera membalikkan badannya untuk mengambil harta yang akan diberikan ke Manik Angkeran. Pada saat Sang Naga membenamkan kepala dan tubuhnya kedalam bumi untuk mengambil harta, Manik Angkeran pun melihat ekor Sang Naga yang ada dipemukaan bumi dipenuhi oleh intan dan permata, maka timbullah niat jahatnya. Manik Angkeran segera menghunus keris dan memotong ekor Sang Naga Besukih. Sang Naga Besukih meronta dan segera membalikkan badannya. Akan tetapi, Manik Angkeran telah pergi. Sang Naga pun segera mengejar Manik ke segala penjuru, tetapi ia tidak dapat menemukan Manik Angkeran, yang ditemui hanyalah bekas tapak kaki Manik Angkeran.

Maka dengan kesaktiannya, Sang Naga Besukih membakar bekas tapak kaki Manik Angkeran. Walaupun Manik Angkeran sudah jauh dari Sang Naga, tetapi dengan kesaktian Sang Naga Besukih, ia pun tetap merasakan pembakaran tapak kaki tersebut sehingga tubuh Manik Angkeran terasa panas sehingga ia rebah dan lama kelamaan menjadi abu.

Di Jawa Timur, Begawan Sidi Mantra sedang gelisah karena anaknya Manik Angkeran telah hilang dan genta pemujaannya juga hilang. Tetapi Begawan Sidi Mantra tahu kalau gentanya diambil oleh anaknya Manik Angkeran dan merasa bahwa anaknya pergi ke Gunung Agung menemui Sang Naga Besukih. Maka berangkatlah ia ke Gunung Agung.

Sesampainya di Gunung Agung, dilihatnya Sang Naga Besukih sedang berada di luar istananya. Dengan tergesa-gesa Begawan Sidi Mantra bertanya kepada Sang Naga Besukih “Wahai Sang Besukih, adakah anakku Manik Angkeran datang kemari?”

“Ya, ia telah datang kemari untuk meminta harta yang akan dipakainya untuk melunasi hutang-hutangnya. Tetapi ketika aku membalikkan badan hendak mengambil harta untuknya, dipotonglah ekorku olehnya. Dan aku telah membakarnya sampai musnah, karena sikap anakmu tidak tahu balas budi itu. Sekarang apa maksud kedatanganmu kemari, Begawan Sidi Mantra?”

“Maafkan aku, Sang Besukih! Anakku Cuma satu, karena itu aku mohon agar anakku dihidupkan kembali.” mohon Sang Begawan.

“Demi persahabatan kita, aku akan memenuhi permintaanmu. Tapi dengan satu syarat, kembalikan ekorku seperti semula.” kata Sang Naga Besukih.

“Baiklah, aku pun akan memenuhi syaratmu!” jawab Begawan Sidi Mantra.

Maka dengan mengerahkan kekuatan mereka masing-masing, Manik Angkeran pun hidup kembali. Demikian pula dengan ekor Sang Naga Besukih bisa kembali utuh seperti semula.

Dinasehatinya Manik Angkeran oleh Sang Naga Besukih dan Begawan Sidi Mantra secara panjang lebar dan setelah itu pulanglah Begawan Sidi Mantra ke Jawa Timur. Tetapi Manik Angkeran tidak boleh ikut pulang, ia harus tetap tinggal di sekitar Gunung Agung. Karena Manik Angkeran sudah sadar dan berubah, ia pun tidak membangkang dan menuruti perintah ayahnya tersebut.

Dan dalam perjalanan pulangnya, ketika Begawan Sidi Mantra sampai di Tanah Benteng, di torehkannya tongkatnya ke tanah untuk membuat batas dengan anaknya. Seketika itu pula bekas torehan itu bertambah lebar dan air laut naik menggenanginya. Dan lama kelamaan menjadi sebuah selat. Selat itulah yang sekarang di beri nama “Selat Bali”.
verditch - 14/01/2010 10:44 AM
#56

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul Asal Usul Telaga Biru

sumber : dongeng.org

keterangan : cerita rakyat dari daerah halmahera utara(maluku utara)

Spoiler for
Quote:
Dibelahan bumi Halmahera Utara (Maluku Utara) tepatnya di wilayah Galela dusun Lisawa, di tengah ketenangan hidup dan jumlah penduduk yang masih jarang (hanya terdiri dari beberapa rumah atau dadaru), penduduk Lisawa tersentak gempar dengan ditemukannya air yang tiba-tiba keluar dari antara bebatuan hasil pembekuan lahar panas. Air yang tergenang itu kemudian membentuk sebuah telaga.

Airnya bening kebiruan dan berada di bawah rimbunnya pohon beringin. Kejadian ini membuat bingung penduduk. Mereka bertanya-tanya dari manakah asal air itu? Apakah ini berkat ataukah pertanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Apa gerangan yang membuat fenomena ini terjadi?

Berita tentang terbentuknya telaga pun tersiar dengan cepat. Apalagi di daerah itu tergolong sulit air. Berbagai cara dilakukan untuk mengungkap rasa penasaran penduduk. Upacara adat digelar untuk menguak misteri timbulnya telaga kecil itu. Penelusuran lewat ritual adat berupa pemanggilan terhadap roh-roh leluhur sampai kepada penyembahan Jou Giki Moi atau Jou maduhutu (Allah yang Esa atau Allah Sang Pencipta) pun dilakukan.

Acara ritual adat menghasilkan jawaban “Timbul dari Sininga irogi de itepi Sidago kongo dalulu de i uhi imadadi ake majobubu” (Timbul dari akibat patah hati yang remuk-redam, meneteskan air mata, mengalir dan mengalir menjadi sumber mata air).

Dolodolo (kentongan) pun dibunyikan sebagai isyarat agar semua penduduk dusun Lisawa berkumpul. Mereka bergegas untuk datang dan mendengarkan hasil temuan yang akan disampaikan oleh sang Tetua adat. Suasana pun berubah menjadi hening. Hanya bunyi desiran angin dan desahan nafas penduduk yang terdengar.

Tetua adat dengan penuh wibawa bertanya “Di antara kalian siapa yang tidak hadir namun juga tidak berada di rumah”. Para penduduk mulai saling memandang. Masing-masing sibuk menghitung jumlah anggota keluarganya. Dari jumlah yang tidak banyak itu mudah diketahui bahwa ada dua keluarga yang kehilangan anggotanya. Karena enggan menyebutkan nama kedua anak itu, mereka hanya menyapa dengan panggilan umum orang Galela yakni Majojaru (nona) dan Magohiduuru (nyong). Sepintas kemudian, mereka bercerita perihal kedua anak itu.

Majojaru sudah dua hari pergi dari rumah dan belum juga pulang. Sanak saudara dan sahabat sudah dihubungi namun belum juga ada kabar beritanya. Dapat dikatakan bahwa kepergian Majojaru masih misteri. Kabar dari orang tua Magohiduuru mengatakan bahwa anak mereka sudah enam bulan pergi merantau ke negeri orang namun belum juga ada berita kapan akan kembali.

Majojaru dan Magohiduuru adalah sepasang kekasih. Di saat Magohiduuru pamit untuk pergi merantau, keduanya sudah berjanji untuk tetap sehidup-semati. Sejatinya, walau musim berganti, bulan dan tahun berlalu tapi hubungan dan cinta kasih mereka akan sekali untuk selamanya. Jika tidak lebih baik mati dari pada hidup menanggung dusta.

Enam bulan sejak kepergian Magohiduuru, Majojaru tetap setia menanti. Namun, badai rupanya menghempaskan bahtera cinta yang tengah berlabuh di pantai yang tak bertepi itu.

Kabar tentang Magohiduuru akhirnya terdengar di dusun Lisawa. Bagaikan tersambar petir disiang bolong Majojaru terhempas dan jatuh terjerembab. Dirinya seolah tak percaya ketika mendengar bahwa Magohiduuru so balaeng deng nona laeng. Janji untuk sehidup-semati seolah menjadi bumerang kematian.

Dalam keadaan yang sangat tidak bergairah Majojaru mencoba mencari tempat berteduh sembari menenangkan hatinya. Ia pun duduk berteduh di bawah pohon Beringin sambil meratapi kisah cintanya.

Air mata yang tak terbendung bagaikan tanggul dan bendungan yang terlepas, airnya terus mengalir hingga menguak, tergenang dan menenggelamkan bebatuan tajam yang ada di bawah pohon beringin itu. Majojaru akhirnya tenggelam oleh air matanya sendiri.

Telaga kecil pun terbentuk. Airnya sebening air mata dan warnanya sebiru pupil mata nona endo Lisawa. Penduduk dusun Lisawa pun berkabung. Mereka berjanji akan menjaga dan memelihara telaga yang mereka namakan Telaga Biru.

Telaga biru kala itu selalu tampak bersih. Airnya sejernih kristal berwarna kebiruan. Setiap dedaunan yang jatuh di atasnya tidak akan tenggelam karena seolah terhisap untuk dibersihkan oleh bebatuan yang ada di tepian telaga.


Sampai saat ini mitos asal-mula telaga Biru masih terus terjaga di masyarakat. Pasangan muda-mudi dari Galela dan Tobelo ada yang datang ke telaga ini untuk saling mengikat janji. Sebagai tanda ikatan mereka akan mengambil air dengan daun Cingacinga dan lalu meminumnya bersama. Air yang masih tersisa biasanya akan dipakai untuk membasuh kaki dan wajah. Maknanya adalah supaya jangan ada lagi air mata yang mengalir dari setiap ikatan janji dan hubungan.

Penduduk dusun Lisawa mula-mula kini telah tiada dan hanya menyisakan telaga Biru. Sayang kondisi telaga Biru saat ini kian merana akibat ditebangnya pepohonan di sekitar telaga. Hal ini semakin diperparah dengan hilangnya bebatuan di sekitar telaga yang telah berganti dengan tanggul beton. Masyarakat sekitar juga memanfaatkan telaga ini sebagai tempat MCK sehingga banyak sampah plastik yang kini sangat merusak pemandangan. Belum lagi batang-batang pohon yang sengaja ditebang tidak pernah diangkat tetapi dibiarkan membusuk didalam air telaga.

Telaga Biru kini kembali menangis dan bertanya adakah orang yang dapat bertahan jika di dalam matanya kemasukan butiran pasir atau terkena pedihnya air sabun. Jika masih ada maka jangan wariskan derita ini pada anak cucumu. Ingat dan camkan bahwa negeri ini adalah pinjaman dari anak cucu kita!
verditch - 15/01/2010 09:23 AM
#57

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul Asal Usul Telaga Pasir Sarangan

sumber : dongeng.org

keterangan : Cerita Rakyat Dari Jawa Timur

Spoiler for
Quote:
Kyai Pasir dan Nyai Pasir adalah pasangan suami isteri yang hidup di hutan gunung Lawu. Mereka berteduh di sebuah rumah (pondok) di hutan lereng gunung Lawu sebelah timur. Pondok itu dibuat dari kayu hutan dan beratapkan dedaunan. Dengan pondok yang sangat sederhana ini keduanya sudah merasa sangat aman dan tidak takut akan bahaya yang menimpanya, seperti gangguan binatang buas dan sebagainya. Lebih-lebih mereka telah lama hidup di hutan tersebut sehingga paham terhadap situasi lingkungan sekitar dan pasti dapat mengatasi segala gangguan yang mungkin akan menimpa dirinya.

Pada suatu hari pergilah Kyai Pasir ke hutan dengan maksud bertanam sesuatu di ladangnya, sebagai mata pencaharian untuk hidup sehari-hari. Oleh karena ladang yang akan ditanami banyak pohon-phon besar, Kyai Pasir terlebih dahulu menebang beberapa pohon besar itu satu demi satu.

Tiba-tiba Kyai Pasir terkejut karena mengetahui sebutir telur ayam terletak di bawah salah sebuah pohon yang hendak ditebangnya. Diamat-amatinya telur itu sejenak sambil bertanya di dalam hatinya, telur apa gerangan yang ditemukan itu. Padahal di sekitarnya tidak tampak binatang unggas seekorpun yang biasa bertelur. Tidak berpikir panjang lagi, Kyai Pasir segera pulang membwa telur itu dan diberikan kepada isterinya.

Kyai Pasir menceritakan ke Nyai Pasir awal pertamanya menemukan telur itu, sampai dia bawa pulang.

Akhirnya kedua suami isteri itu sepakat telur temuan itu direbus. Setelah masak, separo telur masak tadi oleh Nyai Pasir diberikan ke suaminya. Dimakannya telur itu oleh Kyai Pasir dengan lahapnya. Kemudian Kemudian Kyai Pasir berangkat lagi keladang untuk meneruskan pekerjaan menebang pohon dan bertanam.

Dalam perjalanan kembali ke ladang, Kyai Pasir masih merasakan nikmat telur yang baru saja dimakannya. Namun setelah tiba di ladang, badannya terasa panas, kaku serta sakit sekali. Mata berkunang-kunang, keringat dingin keluar membasahi seluruh tubuhnya. Derita ini datangnya secara tiba-tiba, sehingga Kyai Pasir tidak mampu menahan sakit itu dan akhirnya rebah ke tanah. Mereka sangat kebingungan sebab sekujur badannya kaku dan sakit bukan kepalang. Dalam keadaan yang sangat kritis ini Kyai Pasir berguling-guling di tanah, berguling kesana kemari dengan dahsyatnya. Gaib menimpa Kyai Pasir. Tiba-tiba badanya berubah wujud menjadi ular naga yang besar, bersungut, berjampang sangat menakutkan. Ular Naga itu berguling kesana kemari tanpa henti-hentinya.

Alkisah, Nyai Pasir yang tinggal di rumah dan juga makan separo dari telur yang direbus tadi, dengan tiba-tiba mengalami nasib sama sebagaimana yang dialami Kyai Pasir. Sekujur badannya menjadi sakit, kaku dan panas bukan main. Nyai Pasir menjadi kebingungan, lari kesana kemari, tidak karuan apa yang dilakukan.

Karena derita yang disandang ini akhirnya Nyai Pasir lari ke ladang bermaksud menemui suaminya untuk minta pertolongan. Tetapi apa yang dijuumpai. Bukannya Kyai Pasir, melainkan seekor ular naga yang besar sekali dan menakutkan. Melihat ular naga yang besar itu Nyai Pasir terkejut dan takut bukan kepalang. Tetapi karena sakit yang disandangnya semakin parah, Nyai Pasir tidak mampu lagi bertahan dan rebahlah ke tanah. Nyai Pasir mangalami nasib gaib yang sama seperti yang dialami suaminya. Demikian ia rebah ke tanah, badannya berubah wujud menjadi seekor ular naga yang besar, bersungut, berjampang, giginya panjang dan runcing sangat mengerikan. Kedua naga itu akhirnya berguling-guling kesana kemari, bergeliat-geliat di tanah ladang itu, menyebabkan tanah tempat kedua naga berguling-guling itu menjadi berserakan dan bercekung-cekung seperti dikeduk-keduk. Cekungan itu makin lama makin luas dan dalam, sementara kedua naga besar itu juga semakin dahsyat pula berguling-guling dan tiba-tiba dari dalam cekungan tanah yang dalam serta luas itu menyembur air yang besar memancar kemana-mana. Dalam waktu sekejap saja, cekungan itu sudah penuh dengan air dan ladang Kyai Pasir berubah wujud mejadi kolam besar yang disebut Telaga. Telaga ini oleh masyarakat setempat terdahulu dinamakan Telaga Pasir, karena telaga ini terwujud disebabakan oleh ulah Kyai Pasir dan Nyai Pasir.
verditch - 15/01/2010 09:50 AM
#58

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul Legenda Gunung Kelud

sumber : ceritarakyatnusantara.com

keterangan : Cerita Rakyat Dari Daerah Jawa Timur

Spoiler for
Gunung Kelud merupakan sebuah gunung api yang terletak di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Indonesia. Meskipun telah puluhan kali meletus dan memakan relatif banyak korban jiwa sejak abad ke-15 sampai abad ke-20, gunung api ini menjadi salah satu obyek wisata menarik di daerah itu karena keindahan panorama alamnya. Gunung yang memiliki ketinggian 1.730 meter di atas permukaan laut ini semakin menarik minat para pengunjung karena setiap tanggal 23 Suro (penanggalan Jawa) masyarakat setempat menggelar acara arung sesaji. Pagelaran acara tersebut merupakan simbol Condro Sengkolo atau sebagai penolak bala dari bencana akibat pengkhianatan cinta yang dilakukan oleh putri Kerajaan Majapahit terhadap seorang pemuda bernama Lembu Sura. Bagaimana penghianatan cinta itu terjadi? Ikuti kisahnya dalam cerita Legenda Gunung Kelud berikut ini
Quote:
Alkisah, di daerah Jawa Timur, ada seorang raja bernama Raja Brawijaya yang bertahta di Kerajaan Majapahit. Ia mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Dyah Ayu Pusparani. Sang Putri memiliki keindahan tubuh yang sangat memesona, kulitnya lembut bagai sutra, dan wajahnya elok berseri bagaikan bulan purnama. Sudah banyak pengeran datang melamar, namun Prabu Brawijaya belum menerima satu pun lamaran agar tidak terjadi kecemburuan di antara pelamar yang lain. Di sisi lain, penguasa Majapahit itu juga tidak ingin menolak secara langsung karena takut mereka akan menyerang kerajaannya.
Setelah berpikir keras, Prabu Brawijaya menemukan sebuah cara, yaitu ia akan mengadakan sayembara bahwa barang siapa yang berhasil merentang busur sakti Kyai Garudayeksa dan mengangkat gong Kyai Sekardelima maka dialah yang berhak mempersunting putrinya. Ia memerintahkan para pengawalnya untuk menyampaikan pengumuman tersebut kepada seluruh rakyatnya, termasuk kepada para raja dan pangeran dari kerajaan-kerajaan di sekitarnya.
Pada saat yang telah ditentukan, para peserta dari berbagai negeri telah berkumpul di alun-alun (lapangan, halaman) istana Kerajaan. Prabu Brawijaya pun tampak duduk di atas singgasananya dan didampingi oleh permaisuri dan putrinya. Setelah busur Kyai Garudyeksa dan gong Kyai Sekadelima disiapkan, Prabu Brawijaya segera memukul gong pertanda acara dimulai. Satu persatu peserta sayembara mengeluarkan seluruh kesaktiannya untuk merentang busur dan mengangkat gong tersebut, namun tak seorang pun yang berhasil. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang mendapat musibah. Ada yang patah tangannya karena memaksakan diri merentang busur sakti itu, dan ada pula yang patah pinggangnya ketika mengangkat gong besar dan berat itu.
Ketika Prabu Brawijaya akang memukul gong untuk menutup sayembara itu, tiba-tiba datanglah seorang pemuda berkepala lembu hendak mengandu keberuntungan.
“Ampun, Gusti Prabu! Apakah hamba diperkenankan mengikuti sayembara ini?” pinta pemuda itu.
“Hai, pemuda aneh! Siapa namamu?” tanya Prabu Brawijaya.
“Nama saya Lembu Sura,” jawab pemuda itu.
Prabu Brawijaya beranggapan bahwa pemuda itu tidak akan mampu merentang busur sakti dan mengangkat gong besar itu. Ia pun mengizinkannya mengikuti sayembara itu sebagai peserta terakhir.
“Baiklah! Kamu boleh mengikuti sayembara ini,” ujar Prabu Brawijaya.
Lembu Sura pun menyanggupi persyaratan itu. Dengan kesaktiannya, ia segera merentang busur Kyai Garudayaksa dengan mudah. Keberhasilan Lembu Sura itu diiringi oleh tepuk tangan para penonton yang sangat meriah. Sementara itu, Putri Dyah Ayu Pusparani terlihat cemas, karena ia tidak ingin bersuamikan manusia berkepala lembu.
Ketika Lembu Sura menghampiri gong Sekardelima, semua yang hadir tampak tegang, terutama sang Putri. Ia sangat berharap agar Lembu Sura gagal melewat ujian kedua itu. Tanpa diduganya, pemuda berkepala lembu itu ternyata mampu mengangkat gong Sekardelima dengan mudah. Tepuk tangan penonton pun kembali bergema, sedangkan Putri Dyah Ayu Purpasari hanya terdiam. Hatinya sangat sedih dan dan kecewa.
“Aku tidak mau bersuami orang yang berkepala lembu,” seru sang Putri seraya berlari masuk ke dalam istana.
Mendengar ucapan putrinya itu, Prabu Brawijaya langsung terkulai karena telah mengecewakan putrinya. Namun sebagai seorang raja, ia harus menepati janjinya untuk menjaga martabatnya. Dengan demikian, Putri Dyah Ayu Pusparani harus menerima Lembu Sura sebagai suaminya.
“Hadirin sekalian! Sesuai dengan janjiku, maka Lembu Sura yang telah memenangkan sayembara ini akan kunikahkan dengan putriku!” seru Prabu Brawijaya.
Seluruh pesarta sayembara pun berlomba-lomba memberikan ucapan selamat kepada Lembu Sura. Sementara itu, di dalam istana, Putri Dyah Ayu Pusparani menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya. Berhari-hari ia mengurung diri di dalam kamar. Ia tidak mau makan dan minum. Melihat tuannya sedang sedih, seorang Inang pengasuh berusaha membujuk dan menasehatinya.
“Ampun, Tuan Putri! Jika Tuan Putri tidak mau menikah dengan Lembu Sura, sebaiknya Tuan Putri segera mencari jalan keluar sebelum hari pernikahan itu tiba,” ujar Inang pengasuh.
Mendengar nasehat itu, sang Putri langsung terperanjat dari tempat tidurnya.
“Benar juga katamu, Mak Inang! Kita harus mencari akal agar pernikahanku dengan orang yang berkepala lembu itu dibatalkan. Tapi, apa yang harus kita lakukan? Apakah Mak Inang mempunyai usul?” tanya sang Putri bingung.
Inang pengasuh hanya terdiam. Sejenak, suasana menjadi hening. Setelah berpikir keras, akhirnya Inang pengasuh menemukan sebuah jalan keluar.
“Ampun, Tuan Putri! Bagaimana kalau Tuan Putri meminta satu syarat yang lebih berat lagi kepada Lembu Sura?” usul Inang pengasuh.
“Apakah syarat itu, Mak Inang?” tanya sang Putri penasaran.
“Mintalah kepada Lembu Sura agar Tuan Putri dibuatkan sebuah sumur di puncak Gunung Kelud untuk tempat mandi kalian berdua setelah acara pernikahan selesai. Tapi, sumur itu harus selesai dalam waktu semalam,” usul Mak Inang.
Putri Dyah Ayu Pusparani pun menerima usulan Inang pengasuh dan segera menyampaikannya kepada Lembu Sura. Tanpa berpikir panjang, Lembu Sura menyanggupi persyaratan itu. Pada sore harinya, berangkatlah ia ke Gunung Kelud bersama keluarga istana, termasuk sang Putri.
Setibanya di Gunung Kelud, Lembu Sura mulai menggali tanah dengan menggunakan sepasang tanduknya. Dalam waktu tidak berapa lama, ia telah menggali tanah cukup dalam. Ketika malam semakin larut, galian sumur itu semakin dalam. Lembu Sura sudah tidak tampak lagi dari bibir sumur. Melihat hal itu, Putri Dyah Ayu Pusparani semakin panik. Ia pun mendesak ayahandanya agar menggagalkan usaha Lembu Sura membuat sumur.
“Ayah! Apa yang harus kita lakukan? Putri tidak mau menikah dengan Lembu Sura,” keluh sang Putri dengan bingung.
Prabu Brawijaya pun tidak ingin mengecewakan putri kesayangannya untuk yang kedua kalinya. Setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan sebuah cara untuk menghabisi nyawa Lembu Sura.
“Pengawal! Timbun sumur itu dengan tanah dan bebatuan besar!” seru Prabu Brawijaya.
Tak seorang pun pengawal yang berani membantah. Mereka segera melaksanakan perintah rajanya. Lembu Sura yang berada di dalam sumur berteriak-teriak meminta tolong.
“Tolooong...! Tolooong...! Jangan timbun aku dalam sumur ini!” demikian teriakan Lemu Sura.
Para pengawal tidak menghiraukan teriakan Lembu Suara. Mereka terus menimbun sumur itu dengan tanah dan bebatuan. Dalam waktu sekejap, Lembu Sura sudah terkubur di dalam sumur. Meski demikian, suaranya masih terdengar dari dalam sumur. Lembu Sura melontarkan sumpah kepada Prabu Brawijaya dan seluruh rakyat Kediri karena sakit hati.
“Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung".
(Wahai orang-orang Kediri, suatu saat akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan, dan Tulungagung menjadi daerah perairan dalam).
Dalam sumpahnya, Lembu Sura berjanji bahwa setiap dua windu[1] sekali dia akan merusak seluruh wilayah kerajaan Prabu Brawijaya. Mendengar ancaman itu, Prabu Brawijaya dan seluruh rakyatnya menjadi ketakutan. Berbagai usaha pun dilakukan untuk menangkal sumpah Lembu Sura tersebut. Ia memerintahkan para pengawalnya agar membangun sebuah tanggul pengaman yang kokoh (kini telah berubah menjadi gunung bernama Gunung Pegat) dan menyelenggarakan selamatan yang disebut dengan larung sesaji. Meski demikian, sumpah Lembu Sura tetap juga terjadi. Setiap kali Gunung Kelud meletus, masyarakat setempat menganggap hal itu merupakan amukan Lembu Sura sebagai pembalasan dendam atas tindakan Prabu Brawijaya dan Putrinya.
Demikian kisah Legenda Gunung Kelud dari daerah Kediri, Jawa Timur. Hingga saat ini, masyarakat Kediri, khususnya masyarakat Desa Sugih Waras, secara rutin (yaitu setiap tanggal 23 Syura) menyelenggarakan acara selamatan larung sesaji di sekitar kawah Gunung Kelud. Setidaknya ada dua pelajaran yang dapat dipetik dari carita di atas yaitu pertama bahwa hendaknya kita jangan suka meremehkan kemampuan seseorang dengan hanya melihat bentuk fisiknya karena siapa mengira di balik semua itu tersimpan kekuatan yang luar biasa.
Pelajaran kedua yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang suka mengingkari janji seperti Putri Dyah Ayu Pusparani dan Prabu Brawijaya dapat mendatangkan bencana kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Meletusnya Gunung Kelud yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa merupakan akibat dari ulah Prabu Brawijaya dan putrinya yang tidak menepati janjinya kepada Lembu Sura. Sifat suka mengingkari janji ini merupakan sifat tidak terpuji yang harus dijauhi, karena termasuk sifat orang-orang munafik.
verditch - 18/01/2010 01:59 PM
#59

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul Ande Ande Lumut

sumber : folktalesnusantara.blogspot.com
www.cerpen.web.id

keterangan : Ande Ande Lumut (variasi ejaan: Ande-ande Lumut) adalah cerita rakyat yang berasal dari Jawa. Cerita ini dikenal dalam berbagai versi. Versi yang banyak dikenal dan "tradisional" adalah yang mengaitkannya dengan bersatunya (kembali) Kerajaan Jenggala dan Kediri.

Spoiler for
versi folktalesnusantara.blogspot.com
Quote:
Dahulunya, Jenggala dan Kediri berada dalam suatu wilayah bernama Kahuripan. Tapi oleh Airlangga dibagi dua karena takut terjadi perang saudara. Sebelum meninggal, Airlangga sempat berpesan, Kediri dan Jenggala harus kembali disatukan dalam suatu ikatan pernikahan antara anak Jayengnagara (Penguasa Jenggal) dan anak Jayengrana (Penguasa Kediri). Tapi pernikahan bukan berdasarkan perjodohan melainkan atas dasar suka sama suka.

Adalah Panji Asmarabangun (anak Jayengnagara) dan Sekartaji (anak Jayenggrana) secara rahasia sudah bersahabat sejak kecil. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama dengan ditemani Simbok dan Prasanta, dua pembantu setia. Maka ketika kemudian keluarga Jayengnagara berkunjung kerumah Jayengrana, tentu saja Panji dan Sekar jadi senyum-senyum sendiri.

Ternyata orangtua keduanya bersahabat karib dan mempunyai keinginan untuk saling berbesanan. Panji langsung saja minta diamankan saat itu juga. Sekar, meskipun malu-malu, sebenarnya menyetujui juga.

Keputusan untuk menikahkan Panji (Temmy Rahadi) dengan Sekar (Imel Putri Cahyati) membuat Padukasari (isteri kedua Jayengrana) tidak terima. Karena Padukasari menginginkan Intan Sari yang bersanding dengan Panji. Padukasari kemudian menculik dan menyembunyikan Sekar bersama Candrawulan (Ibunda Sekar - isteri pertama Jayengrana) di rumah peristirahatan di luar kota.

Mengetahui Sekar menghilang, Panji kecewa. Langsung menolak usul Padukasari yang minta pernikahan tetap berlangsung dengan Intan Sari sebagai mempelai wanitanya. Panji yang kecewa, berkenalan untuk mencari Sekar dan Candrawulan. Kemudian diangkat anak oleh ibu Randa yang berterimakasih karena sudah menolongnya. Panji berganti nama menjadi Ande-Ande Lumut.

Sementara itu Candrawulan berhasil mengirim pesan ke Jayengrana melalui burung merpati. Sekar dan Candrawulan dibebaskan, Padukasari dan Intan Sari melarikan diri.

Tapi Sekat tidak langsung senang. Karena Panji sudah pergi berkelana entah kemana. Sekar yang kecewa, memutuskan berkelana juga untuk mencari Panji bersama Simbok. Lalu ditampung dirumah ibu Wati yang memiliki 2 anak perempuan bernama Klenting Merah dan Klenting Biru.

Ande-Ande Lumut terus tinggal bersama ibu Randa. Karena mau balas budi, ibu randa lalu membuka lowongan untuk siapa saja yang mau menjadi isteri Ande-Ande Lumut. Dan ternyata usaha ibu Randa memang ada hasilnya. Ande-Ande Lumut, alias Panji Asmarabangun bisa bertemu lagi dengan Sekartaji yang sudah ganti nama menjadi Klenting Kuning. Kedua sejoli tersebut lalu sepakat pulang untuk melanjutkan rencana menikah.


versi www.cerpen.web.id
Quote:


Ande Ande Lumut adalah cerita rakyat yang berasal dari (Jawa). Cerita ini dikenal dalam berbagai versi. Versi yang banyak dikenal adalah yang mengaitkan dengan sejarah bersatunya (kembali) kerajaan [Daha] dan [Kediri].

Cerita ini mengisahkan tentang Pangeran Kusumayuda yang bertemu dengan Klenthing Kuning, si bungsu dari empat bersaudara anak seorang janda di desa tempat ayah Pangeran Kusumayuda memerintah. Diam-diam mereka saling mengingat. Dalam hati, Pangeran Kusumayuda tahu, gadis seharum bunga mawar itu adalah calon permaisuri Kerajaan Banyuarum yang paling sempurna. Sayang, mereka tak pernah bertemu lagi.

Beberapa tahun kemudian, seorang pemuda tampan bernama Ande Ande Lumut mengumumkan bahwa dia sedang mencari istri. Tak seperti gadis-gadis desa lain dan juga saudara-saudara Klenting Kuning lainnya, Klenting Kuning enggan pergi sebab dia masih mengingat Pangeran Kusumayuda. Namun berkat nasehat dari bangau ajaib penolongnya, maka akhirnya Klenthing Kuning pun turut serta.

Dalam perjalanannya, ternyata mereka harus menyeberangi sungai yang dalam. Pada saat itu, munculah penjaga sungai Yuyu Kangkang yang bebentuk kepiting raksasa. Si Yuyu menawarkan untuk menyeberangkan mereka dengan catatan diberi imbalan ciuman. Karena terburu-terburu, semua gadis-gadis desa yang lain segera saja menyetujuinya, dengan pemikiran bahwa sang pangeran tidak akan mengetahuinya. Hanya si bungsu Klenting Kuning yang enggan untuk mencium si Yuyu. Dengan kepandaiannya, si bungsu dapat menyeberang tanpa harus mencium si Yuyu. Karena hanya si bungsu yang tidak mencium si Yuyu, jadilah Ande Ande Lumut memilih si bungsu sebagai pendampingnya. Klenting Kuning baru sadar bahwa pemuda Ande Ande Lumut adalah Pangeran Kusumayuda yang dicintainya.


susah jg cari versi original nya D
mungkin ada yg bisa menambahkan \)
Rersiger - 18/01/2010 10:00 PM
#60
Ampit dan Ampat I
kaskus ID : Rersiger
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : Ampit dan Ampat
sumber : Koleksi Pribadi
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Murung Raya, Kalteng

Spoiler for
Ampit dan Ampat

Pada jaman dahulu kala, di pedalaman hutan Kalimantan Tengah khususnya di hutan Murung Raya, hidup berbagai macam jenis binatang. Tapi uniknya, binatang-binatang ini bisa berbicara layaknya manusia biasa.
Seperti yang dikatakan di atas, hiduplah burung pipit yang bernama Ampit. Burung pipit ini berjenis kelamin perempuan dan pada masa itu sudah beranjak dewasa. Kehidupan burung pipit ini sangat memprihatinkan, dimana burung ini hidup seorang diri, mencari makan sendiri bahkan membuat sarangpun sendirian saja. Burung pipit ini sangat tertutup sekali, diaman dia jauh dari kampung binatang-binatang yang ada di hutan tersebut. Burung pipit ini sebenarnya ingin sekali hidup di tengah-tengah masyarakat hutan, tapi sayangnya dia tidak berani karena bulunya sangat jelek tanpa corak sedikitpun.
Pada suatu waktu, pada saat burung pipit ini menanam benih padi di ladangnya, datanglah seekor burung pipit yang lain, diaman bulunya sangat elok sekali. Burung pipit ini adalah seorang pengelana, yang tujuan utamanya adalah mencari jodoh. Burung pipit jantan ini bernama Ampat. Saat pertama bertemu, Ampit merasakan ada sesuatu yang lain dihatinya, begitu juga si Ampat tidak jauh berbeda dengan si Ampit. Beberapa saat kedua burung ini saling terpaku, tanpa kata dan suara, hening . . . !!
Dengan penuh senyum dan keramahan, si Ampat menyapa si Ampit dengan tutur kata yang lemah lembut. Ampat menjelaskan kepada si Ampit bahwa dia sudah lapar karena sudah 2 hari tidak makan. Maka, Ampitpun membawa si Ampat ke sarangnya untuk menyiapkan makanan dan minuman. Pada malam harinya, si Ampat bertanya kepada si Ampit tentang kehidupannya, dan juga tentang kesehariannya. Mungkin karena merasa cocok, pada pagi harinya burung pipit berdua ini mendatangi “Damang” yang ada di hutan itu. Pada waktu itu, jabatan Damang di pegang oleh kancil. Setelah dilakukan musyawarah oleh seluruh warga hutan, maka ditentukanlah hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan Ampit dan Ampat ini.
Sampailah pada hari yang ditentukan, seluruh warga hutanpun berdatangan ke rumah si Kancil untuk merayakan perkimpoian Ampit dan Ampat. Pada saat jamuan makan, semua para undanganpun duduk dengan rapi. Saat Beruang ingin mengambil makanan tersebut, semuanya memarahi Beruang. Karena tangan dan kuku beruang hitam dan panjang, maka si Beruang ini pun disuruh untuk mencuci tangannya di belakang. Setelah selesai mencuci tangannya, Beruangpun datang untuk mengambil makanan. Tapi lagi-lagi tangannya di pegang oleh kera, dan disuruh lagi mencuci tangannya ke belakang. Begitu terus terjadi, sampai-sampai makanan dan minuman habis tak ada sisanya. Beruang pun sangat sedih dan berlari ke dalam hutan sambil menangis, Beruang sangat dendam kepada semua penghuni hutan karena Beruang menganggap semuanya pelit dan tidak senang dengan dirinya.
Supaya permasalahan ini tidak berlanjut lagi, maka datanglah Damang ke sarang Beruang beserta seluruh penghuni hutan untuk meminta ma’af dan juga menjelaskan duduk permasalahannya. Damang dengan penuh kharisma dan juga berwibawa menjelaskan kepada Beruang, bahwa anggapan yang ditujukan kepada mereka semua itu tidak benar. Init permasalahannya adalah bahwa kuku dan tangan Beruang itu tidak bisa putih, sedangkan mereka semua tidak tahu bahwa tangan dan kuku Beruang itu tidak bisa menjadi putih. Karena memang dari sananya Beruang itu berwarna hitam dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ini semua adalah kesalahpahaman, antara Beruang dan warga hutan. Setelah mendengar itu semuanya, Beruang pun sadar dan tidak sakit hati lagi. Dengan penuh senyum, Beruang pun menjabat tangan semua warga hutan dan juga memaafkan semuanya.
Kita kembali kepada Ampit dan Ampat. Setelah perkimpoian itu, pulanglah mereka berdua ke sarangnya. Keseharian mereka berdua adalah bercocok tanam dan juga membuka lahan baru. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan berdua, pasangan burung pipit ini pun merindukan anak yang manis dan imut. Maka, pamitlah Ampat kepada istrinya untuk bertapa ke gunung Bondang. Istrinya tidak bisa menahan si Ampat, karena tekat suaminya sudah bulat dan tak dapat diganggu gugat lagi. Dengan berurai air mata, Ampit pun melepaskan kepergian suaminya dengan hati yang berat.....


kbgt:
Page 3 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel