Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
Total Views: 36797 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 4 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›

Rersiger - 18/01/2010 10:15 PM
#61
Ampit dan Ampat II
kaskus ID : Rersiger
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : Ampit dan Ampat
sumber : Koleksi Pribadi
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Murung Raya, Kalteng

Spoiler for
Ampit dan Ampat

Beberapa tahun berselang, bertelurlah si Ampit ini. Tapi anehnya, telur yang keluar itu hanya sebuah saja. Dengan penuh kasih sayang, si Ampit menjaga telur ini dengan kesabaran dan juga penuh dengan kelembutan. Karena dia hanya seorang diri, tidaklah mungkin dia akan terus menjaga telur itu terus menerus. Apalagi di lumbung tempat penyimpanan padi sudah menipis, maka dengan berat hati si Ampit ini berangkat ke ladang untuk menanam padi. Pada sore harinya, Ampit pulang ke sarang untuk menyiapkan kebutuhan telurnya ini. Tapi Ampit terkejut, karena di dalam sarangnya itu sudah tidak ada telurnya. Dengan hati yang sedih dan remuk redam, terbanglah Ampit ke rumah Damang untuk menceritakan kejadian ini. Setelah Damang mendengarkan semua cerita Ampit, maka dikumpulnya semua penghuni hutan.
Alangkah herannya Damang ini, setelah di teliti lebih lanjut hanya ular saja yang tidak datang. Maka Damang dengan seluruh warga hutan pun segera berangkat ke sarang ular, sesampainya di sana Damang lalu bertanya kepada si Ular kenapa tidak datang ke rumah si Damang. Jawaban ular sangat singkat sekali, bahwa dia letih san kekenyangan sehingga tidak sanggup untuk berjalan ke rumah Damang. Damang dan warga lain menjadi curiga karena di sekitar ular itu tidak ada bekas darah, ataupun bulu dan tulang mangsanya. Maka Damang langsung bertanya kepada si Ular ini, apakah betul dia yang menelan telur burung pipit ? Ularpun langsung marah dan menyangkal ini semua, dihamburkannya bisa kepada Damang dan warga hutan. Karena mereka terancam, maka larilah semuanya keluar dari sarang Ular tersebut.
Melihat semua kejadian itu, menangislah burung pipit ini. Saat setelah air matanya jatuh, maka jadilah air setelah sampai permukaan tanah. Saat air matanya jatuh lagi, air di permukaan tanah tadi menjadi empat jengkal tingginya. Begitu seterusnya, sampai ular tersebut pun tenggelam dan mati. Setelah air surut, Ular tersebut sudah hancur, hanya tertinggal telur burung pipit yang tertinggal di perutnya. Dengan hati yang riang gembira, Ampit pun dengan sigap mengambil telurnya dan membawanya ke sarang. Mulai saat itu, Ampit selalu menjaga telurnya itu dengan penuh waspada. Karena dia tidak ingin kejadian yang serupa akan terulang kembali, cukuplah ini semua menjadi pengalaman yang berharga. Supaya lebih menyayangi dan lebih mendalam lagi arti dari hangatnya kasih sayang yang sebenarnya.
Beberapa bulan kemudian, menetaslah telur tersebut. Maka pecahlah tangis anak Ampit tersebut oleh karena lapar, terbanglah si Ampit ke lumbung padi untuk mengambil beras. Tapi sayangnya, semua sudah habis tak ada sisanya. Maka Ampitpun membujuk anaknya untuk diam, dan pergilah si Ampit ini ke ladang untuk memanen padi. Tidak lama kemudian, menangislah anak Ampit ini sambil berkata “plit-plit inai, aku bo jeer kuman ongku” yang artinya adalah aku ingin makan beras. “Sabar nak, sabar” jawab si Ampit ini. Tidak lama kemudian, pulanglah si Ampit ini ke sarangnya dengan membawa beras. Sesampainya di sarang, dengan penuh kasih sayang di berikannya beras tersebut kepada anaknya. Karena terlalu banyak anaknya memakan beras tersebut, maka bengkaklah perut anak Ampit ini. Tiap hari tiap malam selalu menangis, karena perutnya sakit sekali. Oleh karena itu, maka berangkatlah si Ampit ini ke rumah Damang untuk meminta tolong menyembuhkan penyakit anaknya.
Setelah ditentukan harinya, maka berangkatlah Damang beserta warga hutan lainnya ke sarang Ampit. Maka dilakukanlah Balian dengan Wasirnya adalah kancil, tidak lama kemudian sembuhlah anak Ampit ini. Setelah Balian tersebut selesai, maka kumpulah semuanya untuk makan. Saat semua sedang makan, datanglah seekor Anjing ke rumah si Ampit. Maksud hati ingin melihat Balian, tapi sayang sudah terlambat. Saat Anjing naik ke sarang Ampit, seluruh binatang yang ada di dalam tertawa terbahak-bahak. Anjing menjadi bingung dan heran, dan Anjingpun ikut-ikutan tertawa walaupun dia tidak tau apa yang sebenarnya ditertawakan teman-temannya. Karena merasa kasihan kepada si Anjing ini, maka berbisiklah Kancil bahwa yang mereka tertawakan adalah dirinya sendiri karena dirinya telanjang dan semua alat kemaluannya kelihatan. Mendengar semua itu, maka marahlah Anjing tersebut. Dikejarnya semua binatang dan diobrak-abriknyalah semua sarang binatang hutan yang lain. Sa’at Anjing itu mengejar Kancil, maka di sumpahinyalah Anjing tersebut. Setiap yang namanya Anjing pada sa’at mengejar kancil pasti akan mati, karena anjing tidak tau yang namanya balas budi dan berterima kasih.
Beberapa tahun kemudian, pulanglah si Ampat dari gunung Bondang habis bertapa. Betapa senang hatinya sa’at bertemu istri tercintanya dan juga bertemu anak kesayangannya walaupun baru pertama kali dilihatnya. Merekapun hidup bahagia sampai akhir hayatnya. ***


kbgt:
Rersiger - 19/01/2010 04:08 AM
#62
Asal Usul Batu Haramung I
kaskus ID : Rersiger
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : ASAL USUL BATU HARAMUNG
sumber : Koleksi Pribadi
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Seruyan, Kalteng

Spoiler for ASAL USUL BATU HARAMUNG


Dahulu kala di sebuah daerah, yaitu daerah Seruyan tengah. Hiduplah seorang manusia yang bernama Jelap, dia hidup sebatang kara. Jelap adalah seorang manusia yang pertama kali mengolah tangga di daerah seruyan tengah tepatnya dikampung Piau. dengan sungguh-sungguh dan tenaga yang kuat, dia membuat tangga karena tenaganya banyak digunakan untuk membuat tangga, Jelap merasa lapar namun dia bingung karena di desa Piau sangat sulit mencari sayuran dan lauk pauk.dalam hati pun Jelap berkata” aku hentikan saja pekerjaan membuat tangga untuk sementara waktu, lebih baik aku berburu babi hutan untuk dimasak hingga tenagaku lebih kuat lagi dan perutku tidak lagi merasa lapar.
Maka pada malam harinya Jelap menyiapkan peralatan-peralatan yang dia perlukan untuk berburu setelah semuanya selesai Jelap pun tertidur dengan perut yang lapar. hingga pada pagi harinya Jelap berangkat dan meninggalkan kampung Piau dengan berjalan kaki. setelah beberapa lama dia berburu babi hutan secara tidak sengaja jelap menemukan kampung bukit lain, Jelap singgah dan bertahan di kampung bukit lain itu sambil menghilangkan lelah karena telah menempuh perjalanan jauh dari kampung Piau hingga sampai ke kampung bukit lain ini. selama Jelap bertahan di kampung bukit lain itu dia menelusuri kampung bukit lain itu, apabila dia lapar dia memakan apa saja yang ada di kampung bukit lain itu, karena selama dia berburu tidak ada seekor babi hutan yang dia dapatkan selama Jelap menelusuri kampung itu secara tidak sengaja jelap melihat seorang wanita yang sangat cantik, Jelap berkata” baru kali ini aku melihat wanita yang sangat cantik, siapakah, dan anak gadis siapakah dia, aku harus bisa memiliki gadis itu.” Jelap selalu memperhatikan gadis itu dan selalu mengikuti ke mana saja wanita cantik itu pergi secara diam-diam. Jelap juga menyelidiki asal usul wanita cantik itu, akhirnya dia pun mengetahui siapa wanita cantik itu sebenarnya ternyata wanita cantik itu” Bunga Desa” kampung bukit lain dan anak manusia harimau yamg sakti dan mengolah perkampungan di bukit lain itu.Perkampungan bukit lain sangat terkenal karena kecantikan anak gadis manusia harimau,anak gadisnya yang bernama Dewi Sekar Wangi selalu menjadi rebutan banyak kaum lelaki yang terpesona dengan kecantikannya.Dewi Sekar Wangi selain cantik,tubuhnya juga sangat wangi.
Dari sekian banyak lelaki yang menyukai Dewi Sekar Wangitak ada satu orang pun yang dia sukai.Hingga pada suatu hari secara tidak sengaja dia bertemu Jelap di sungai,pada saat itu Dewi Sekar Wangi mencuci pakaiannya dan Jelap mau mandi di sungai itu,pandangan mereka saling bertemu,dengan malu – malu Dewi Sekar Wangi menundudukan mukanya dan semburat warna merah muncul dipipinya.Dalam hatinya Dewi Sekar Wangi berkata “ siapakah dia,rupanya sangat gagah,apakah dia seorang pangeran dari khayangan yang sengaja dikirim untukku ‘.Jelap sendiri pun berguman dengan pelan ‘ inilah kesempatan aku untuk mengenal Dewi sekar Wangi”,Jelap berjalan dengan perlahan menghampiri Dewi Sekar Wangi,percakapan mereka berdua terasa kaku,karena sama-sama menahan perasaan malu.

Jelap ; diawali dengan senyum manis “ maaf bila kakanda mengganggu dinda, apakah kakanda boleh menge-nal dinda ?

Dewi sekar wangi ; dengan tersenyum malu-malu “ ada apa gerangan kakanda tiba-tiba ingin mengenal dinda,

jelap ; kakanda dari dulu sudah sering memperhatikan dinda, terus terang dari awal kakanda melihat dinda, kakanda sangat menyukai dinda.

Dewi sekar wangi ; senang sekali dinda mendengar kata-kata kanda, namun dinda baru kali ini melihat kakanda dikampung bukit ini, kalau boleh dinda tau berasal dari kampung manakah kakanda.

Jelap ; kakanda memang baru pertama kali ini berada dikampung bukit ini dan kakanda berasal dari kampung “ piau “ secara tidak sengaja kakanda menemukan kampung ini waktu kakanda berburu mencari babi hutan.
Percakapan keduanya pun berjalan lancar dan penuh keakraban. Hingga Dari perkenalanitu hubungan jelap dengan dewi sekar wangi berlanjut. Setiap hari bila ada kesempatan mereka berdua sering bertemu. jelap dan dewi sekar wangi selalu bersama-sama dan menimbulkan iri dihati banyak lelaki dikampung bukit lain yang menyukai dewi sekar wangi. Perasaan saling menyukai tumbuh diantara jelap dan dewi sekar wangi, akhirnya mereka berdua menjalin hubungan. Jelap ter-buai pada suasana kampung bukit karena ada kekasihnya yaitu dewi sekar wangi yang selalu menemaninya hingga membuat jelap menjadi lupa akan kampungnya di desa piau dan pekerjaannya membuat tangga. Setelah sekian lama menjalin hubungan dengan dewi sekar wangi jelap bermaksud ingin menikahi dewi sekar wangi.Jelap pun menemui ayahnya dewi sekar wangi yaitu manusia harimau.
Jelap ; maaf jika kedatangan saya mengganggu, saya hanya ingin mengatakan Sesuatu hal yang sangat penting.

Manusia harimau ; hal penting apa yang ingin kau katakan padaku ?

Jelap ; ini mengenai anak gadis mu dewi sekar wangi, terus terang selama ini saya menjalin hubungan dengan anakmu dewi sekar wangi, kami berdua saling mencintai, dan saya ingin menjadikan dewi sekar wangi menjadi istri saya. maka dari itulah saya menemuimu ingin meminta restu.

Manusia harimau ; mengangguk-anggukan kepala dan berpikir ; aku tidak
mengenal mu, karena selama ini dewi sekar wangi tidak
pernah bercerita tentang dirimu, bisakah kau sebutkan
asal usul mu dari mana ?

jelap ; saya jelap dan asal saya dari kampung piau, saya sampai disini secara tidak sengaja sewaktu saya melakukan paerjalanan dari kampung piau untuk berburu babi hutan.

Manusia harimau ; o…… tapi saya tidak melihat kamu membawa apa-apa
selayaknya orang ingin melamar anak gadisku.

Jelap ; maafkan kalau saya tidak membawa apa-apa namun hamba janji akan Membahagiakan dewi sekar wangi.

Tiba-tiba dari dalam keluar, karena secara diam-diam dia mendengarkan pembicaraan antara jelap dengan ayahnya. Dewi sekar wangi bersujud dikaki ayahnya.
“ ayahnda restuilah kami berdua, anaknda sangat mencintai dia, apakah ayahndaTidak ingin melihat anaknda bahagia. Manusia harimau terharu mendengarkan perkataan anaknya, namun dia tidak mau begitu saja menyerahkan anak gadisnya kepada jelap, manusia harimau pun berkata :

Manusia harimau ; jelap,apakah kamu ngguh-sungguh mencintai anakku.
Jelap ; ya………. saya bersungguh-sungguh
Manusia harimau ; baiklah, tapi ada syaratnya yang harus kamu lakukan
.jelap ; apa syaratnya ?
Manusia harimau ; kita berdua adu kesaktian, apabila kamu bisa mengalahkan Aku, aku akan merestui kalian berdua, namun apabila kamu tidak bisa mengalahkan aku, lebih baik kamu pergi saja dari kampung bukit ini.
Jelap ; baiklah saya akan terima syarat itu......


kbgt:
verditch - 19/01/2010 09:59 AM
#63

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul Kera dan Ayam

sumber : dongeng.org

keterangan : Cerita Rakyat Daerah Sulawesi Tenggara

Spoiler for
Quote:
Pada jaman dahulu, tersebutlah seekor ayam yang bersahabat dengan seekor kera. Namun persahabatan itu tidak berlangsung lama, karena kelakuan si kera. Pada suatu petang Si Kera mengajak si ayam untuk berjalan-jalan. Ketika hari sudah petang si Kera mulai merasa lapar. Kemudian ia menangkap si Ayam dan mulai mencabuti bulunya. Si Ayam meronta-ronta dengan sekuat tenaga. Akhirnya, ia dapat meloloskan diri.

Ia lari sekuat tenaga. Untunglah tidak jauh dari tempat itu adalah tempat kediaman si Kepiting. Si Kepiting adalah teman sejati darinya. Dengan tergopoh-gopoh ia masuk ke dalam lubang kediaman si Kepiting. Disana ia disambut dengan gembira. Lalu Si Ayam menceritakan semua kejadian yang dialaminya, termasuk penghianatan si Kera.

Mendengar hal itu akhirnya si Kepiting tidak bisa menerima perlakuan si Kera. Ia berkata, “marilah kita beri pelajaran kera yang tahu arti persahabatan itu.” Lalu ia menyusun siasat untuk memperdayai si Kera. Mereka akhirnya bersepakat akan mengundang si Kera untuk pergi berlayar ke pulau seberang yang penuh dengan buah-buahan. Tetapi perahu yang akan mereka pakai adalah perahu buatan sendiri dari tanah liat.

Kemudian si Ayam mengundang si Kera untuk berlayar ke pulau seberang. Dengan rakusnya si Kera segera menyetujui ajakan itu. Beberapa hari berselang, mulailah perjalanan mereka. Ketika perahu sampai ditengah laut, mereka lalu berpantun. Si Ayam berkokok “Aku lubangi ho!!!” Si Kepiting menjawab “Tunggu sampai dalam sekali!!”

Setiap kali berkata begitu maka si ayam mencotok-cotok perahu itu. Akhirnya perahu mereka itu pun bocor dan tenggelam. Si Kepiting dengan tangkasnya menyelam ke dasar laut. Si Ayam dengan mudahnya terbang ke darat. Tinggallah Si Kera yang meronta-ronta minta tolong. Karena tidak bisa berenang akhirnya ia pun mati tenggelam.
Rersiger - 19/01/2010 11:49 PM
#64
Asal Usul Batu Haramung II
kaskus ID : Rersiger
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : ASAL USUL BATU HARAMUNG
sumber : Koleksi Pribadi
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Seruyan, Kalteng

Spoiler for ASAL USUL BATU HARAMUNG


Waktu dan tempatnya pun ditentukan oleh manusia harimau. hingga waktu Yang ditentukan telah tiba, manusia harimau dan jelap bersama-sama menuju se-buah bukit yang sangat tinggi, sedangkan dewi sekar wangi dengan perasaan cemas menunggu dirumah. manusia harimau dan jelap sudah samoai puncak bukit. Disana disana manusia harimau dan jelap memulai pertarungan itu, adu kesaktian pun terjadi manusia harimau dan jelap rupanya sama-sama mempunyai kekuatan yang sama hebatnya, hingga pertarungan itu menjadi seru. Dewi sekar wangi yang menunggu dengan perasaan cemas, tidak tahan lagi tinggal dirumah, dewi sekar wangi pun menyusul ayahnya dan jelap kebukit yang tinggi itu, setibanya disana pertarungan antara manusia harimau dan jelap masih berlangsung dan dewi sekar wangi hanya bisa terpaku diam tanpa tahu harus berbuat apa. Dewi sekar wangi sangat bingung , siapa yang mesti dia doakan dan harapkan untuk menang, disatu sisi dia kasihan melihat ayahnya yang rela mengorbankan nyawanya, namun disisi lain dia pun berharap jelap akan menang karena dewi sekar wangi sangat mencintai jelap dan ingin sekali jelap menjadi suaminya. hari mulai sore, akhirnya pertarungan itu selesai dan jelap memenangkan pertarungan itu, manusia harimau mengaku kalah. dia pun menemui jelap dan berbicara mengenai perjanjian itu.
Manusia harimau : jelap, aku mengaku kalah, kau memang lelaki yang hebat, dan aku pun sekarang tenang untuk melepaskan anakku Menjadi istrimu karena aku yakin kau bisa menjaganya Dengan baik.
Jelap : terima kasih,,, saya juga minta maaf, dan bukan maksud ku untuk Pamer kesaktian, namun karena ini jalan satu-satunya agar aku bisa memper istri dewi sekar wangi,
Dewi sekar wangi : dengan tersenyum manis menghampiri ayahnya dan jelap Ayah … maafkan dewi sekar wangi, ini semua gara-gara anaknda .
Manusia harimau : tidak apa-apa nak, ayahnda hanya mau menguji jelap, apakah dia bisa menjaga kamu dengan baik bila kalian hidupbersama nanti. ayah senang melihat kamu bahagia.
Manusia harimau, dewi sekar wangi dan jelap pun pulang karena hari sudah hampir gelap, keesokan harinya manusia harimau mengumumkan kepada penduduk kampung bukit lain kalau dia akan mengadakan pesta perkimpoian anaknya dengan jelap selama tujuh hari tujuh malam. Kemudian manusia harimau memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk menyiap kan perlengkapan dan segala sesuata yang diperlukan untuk pesta perkimpoian itu.
Hari yang ditentukan pun tiba, semua perlengkapan pesta sudah disiapkan,makanan yang dihidangkan bermacam-macam, semua penduduk kampung bukit sebelah diundang pesta perkimpoian jelap dan dewi sekar wangi dirayakan besar-besaran penduduk kampung bukit lain dan kampung sebelah disuguhkan hiburan selama tujuh hari tujuh malam. Dewi sekar wangi dan jelap sangat bahagia………pesta perkimpoian itu selesai dan jelap pun minta ijin kepada manusia harimau untuk mengajak dewi sekar wangi menjenguk kampung halamannya karena jelap teringat akan pekerjaannya membuat tangga yang belum selesai dia kerjakan. Jelap dan dewi sekar wangi pun berangkat menuju kampung piau, sesampainya di kampung piau banyak penduduk kampung piau kaget melihat jelap yang masih hidup dan membawa wanita yang sangt cantik karena selama ini mereka mengira kalau jelap sudah mati dimakan binatang buas saat dia berburu babi hutan.
Dikampung piau setiap hari jelap bekerja menyelesaikan tangga dan dewi sekar wangi dengan setia menemani dan membuat makanan untuk jelap. Hingga tak terasa setelah sekian lama pekerjaan jelap membuat tangga pun selesai, banyak penduduk kampung piau yang memuji pekerjaannya. Dan belajar cara membuat tangga dewi sekar wangi pun senang melihat hasil kerja suaminya banyak disukai orang, namun juga sedih karena dia sudah lama meninggalkan kampung bukit lain, dan dia sangat merindukan ayahnya. Maka Dewi Sekar Wangi pun berbicara pada jelap suaminya :

Dewi Sekar Wangi ; kakanda, tak terasa sudah lama kita tinggal dikampung piau ini, dan adinda sangat merindukan kampung bukit terutama terhadap ayah, apa lagi kita berdua tidak pernah memberi kabar. Dinda khawatir kalau” ayahnda disana sakit-sakitan karena sudah tua,
Jelap kakanda mengerti akan perasaan dinda, baiklah dinda esok pagi-pagi sekali kita akan berangkat kekampung bukit lain, malam ini dinda siapkan keperluan untuk kita berangkat besok pagi.
Dewi sekar wangi ; dengan tersenyum bahagia,,, terima kasih kakanda.

Dewi sekar wangi pun menyiapkan peralatan dan makanan untuk keperluan besok pagi. Setelah itu dewi sekar wangi beristirahat, besok paginya mereka berdua berangkat menuju kampung bukit lain setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya dewi sekar wangi tiba dikampung bukit lain dan disambut manusia harimau dengan perasaan bahagia karena sudah sekian lama terpisah dengan anaknya.
Penduduk kampung bukit, gembira sekali mendengar kedatangan dewi sekar wangi apalagi bagi kaum lelaki, karena mereka masih banyak yang suka dan ingin sekali menjadikan dewi sekar wangi menjadi istrinya, walaupun mereka tau kalau dewi sekar wangi sudah menjadi istrinya jelap. diantara banyak lelaki yang menyukai dewi sekar wangi ada seorang lelaki ingin memiliki dewi sekar wangi, dan rela melakukan apa saja agar keinginannya bisa terwujud. Dia adalah manusia harimau yang berasal dari bukit majak, harimau bukit majak menantang jelap untuk adu kesaktian, jelap pun menerima tantangan itu kemudian harimau majak mengajak saudaranya si hantan untuk melawan jelap.
Hari yang ditentukan pun tiba, harimau bukit majak dan saudaranya adu kesaktian dengan jelap pertarungan adu kuat pun terjadi” harimau bukit majak dan saudaranya beradu kekuatan dengan jelap, dan akhirnya pertarungan itu dimenangkan oleh jelap. Harimau bukit majak dan saudaranya marah karena kalah adu kesaktian dengan jelap. Harimau bukit majak pun menendang batu besar dan batu besar itu pun jatuh kesungai hingga batu tersebut diberi nama “
BATU HARAMAUNG “ sedangkan saudaranya yang satu juga yang bernama Hantan juga menendang batu besar dan jatuh kesungai hingga diberi nama batu “HANTAN " ***


kbgt:
verditch - 20/01/2010 10:26 AM
#65

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Jawa Barat Berjudul Lutung Kasarung

sumber : dongeng.org

keterangan : Part 1

Spoiler for
Quote:
Dahulu ada seorang raja yang adil dan bijaksana Prabu Tapa Agung namanya. Beliau dianugrahi tujuh orang putri. Berturut-turut mereka itu adalah Purbararang, Purbadewata, Purbaendah, Purbakancana, Purbamanik, Purbaleuih, dan si bungsu Purbasari. Ketujuh putri itu sudah menikah remaja dan semuanya cantik-cantik. Yang paling cantik dan paling manis budinya adalah Purbasari. Ia menjadi buah hati seluruh rakyat Kerajaan Pasir Batang.

Putri sulung Purbararang sudah bertunangan dengan Raden Indrajaya, putra salah seorang mentri kerajaan. Kepada Purbararang dan Indrajayalah seharusnya Prabu Tapa Agung dapat mempercayakan kerajaan. Akan tetapi, walaupun beliau sudah lanjut usia dan sudah waktunya turun tahta, beliau belum leluasa untuk menyerahkan mahkota. Karena, baik Purbararang maupun Indrajaya belum dapat beliau percaya sepenuhnya.

Sang Prabu merasa sebagai putri sulung, Perangai Purbararang tidak sesuai dengan yang diharapkan dari seorang pemimpin kerajaan. Purbararang mempunyai sifat angkuh dan kejam, sedangkan Indrajaya adalah seorang pesolek. Bangsawan muda itu akan lebih banyak memikirkan pakaian dan perhiasan dirinya daripada mengurus keamanan dan kesejahteraan rakyat kerajaan.

Menghadapi masalah seperti itu, Prabu Tapa Agung sering bermuram durja. Demikian pula permaisurinya, ibunda ketujuh putri itu. Mereka sering membicarakan masalah itu, tetapi tidak ada jalan keluar yang ditemukan.

Namun, kiranya kerisauan dan kebingungan raja yang baik itu diketahui oleh Sunan Ambu yang bersemayam di kahyangan atau Buana Pada. Pada suatu malam, ketika Prabu Tapa Agung tidur, beliau bermimpi. Di dalam mimpinya itu Sunan Ambu berkata, “Wahai Raja yang baik, janganlah risau. Sudah saatnya kamu beristirahat. Tinggalkanlah istana. Tinggalkanlah tahta kepada putri bungsu Purbasari. Laksanakanlah keinginanmu untuk jadi pertapa.”

Setelah beliau bangun, hilanglah kerisauan beliau. Petunjuk dari khayangan itu benar-benar melegakan hati beliau dan permaisuri.

Keesokan harinya sang Prabu mengumpulkan ketujuh putri beliau, pembantu, penasehat beliau yang setia, yaitu Uwak Batara Lengser, patih, para menteri dan pembesar-pembesar kerajaan lainnya.

Beliau menyampaikan perintah Sunan Ambu dari Kahyangan bahwa sudah saatnya beliau turun tahta dan menyerahkan kerajaan kepada Putri Purbasari.

Berita itu diterima dengan gembira oleh kebanyakan isi istana, kecuali oeh Purbararang dan Indrajaya. Mereka pura-pura setuju, walaupun didalam hati mereka marah dan mulai mencari akal bagaimana merebut tahta dari Purbasari.

Akal itu segera mereka dapatkan. Sehari setelah ayah bunda mereka tidak berada di istana, Purbararang dengan bantuan Indrajaya menyemburkan boreh, yaitu zat berwara hitam yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan, ke wajah dan badan Purbasari.

Akibatnya Purbasari menjadi hitam kelam dan orang Pasir Batang tidak mengenalinya lagi. Itulah sebabnya putri bungsu itu tidak ada yang menolong ketika diusir dari istana.

Tak ada yang percaya ketika dia mengatakan bahwa ia Purbasari, Ratu Pasir Batang yang baru. Di samping itu, mereka yang tahu dan menduga bahwa gadis hitam kelam itu adalah Purbasari, tidak berani pula menolong.

Mereka takut akan Purbararang yang terkenal kejam. Bahkan Uwak Batara Lengser tidak berdaya mencegah tindakan Purbararang itu.

Ketika ia disuruh membawa Purbasari ke hutan, ia menurut. Akan tetapi setiba di hutan, Uwak Batara Lengser membuatkan gubuk yang kuat bagi putri bungsu itu. Ia pun menasehatinya dengan kata-kata lembut, “Tuan Putri bersabarlah. Jadikanlah pembuangan ini sebagai kesempatan bertapa untuk memohon perlindungan dan kasih sayang para penghuni kahyangan. “Nasehat Uwak Batara Lengser itu mengurangi kesedihan Putri Purbasari. Ia setuju bahwa ia akan melakukan tapa. “Bagus, Tuan Putri. Janganlah khawatir, Uwak akan sering datang kesini menengok dan mengirim persediaan.”

Selagi didunia atau Buana Panca Ttengah terjadi peristiwa pengusiran dan pembuangan Purbasari kedalam hutan, di Kahyangan atau Buana Pada terjadi peristiwa lain.

Berhari-hari Sunan Ambu gelisah karena putranya Guruminda tidak muncul. Maka Sunan Ambu pun meminta para penghuni kahyangan baik pria maupun wanita untuk mencarinya.

Tidak lama kemudian seorang pujangga datang dan memberitakan bahwa Guruminda berada ditaman Kahyangan. Ditambahkan bahwa Guruminda tampak bermuram durja. Sunan Ambu meminta kepada pelayan kahyangan agar Guruminda dipanggil, diminta menghadap.

Agak lama Guruminda tidak memenuhi panggilan itu sehingga ia dipanggil kembali. Akhirnya dia muncul dihadapan ibundanya, Sunan Ambu.

Akan tetapi, ia bertingkah laku lain dari pada biasanya. Ia terus menunduk seakan-akan malu memandang wajah ibunya sendiri. Namun, kalau Sunan Ambu sedang tidak melihat, ia mencuri-curi pandang.

“Guruminda, anakku, apakah yang kau sedihkan?Ceritalah kepada Ibu,” ujar Sunan Ambu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Guruminda tidak menjawab. Demikian pula ketika Sunan Ambu mengulang pertanyaan beliau. Karena Sunan Ambu seorang wanita yang arif, beliau segera menyadari apa yang terjadi dengan putranya.

Beliau berkata, “Ibu sadar, sekarang kau sudah remaja. Usiamu tujuh belas tahun. Adakah bidadari yang menarik hatimu. Katakanlah pada Ibu siapa dia. Nanti Ibu akan memperkenalkanmu kepadanya.” Untuk beberapa lama Guruminda diam saja. “Guruminda, berkatalah, “ujar Sunan Ambu.

Guruminda pun berkata, walaupun perlahan-lahan sekali, “Saya tidak ingin diperkenalkan dengan bidadari manapun, kecuali yang secantik Ibunda,” katanya.

Mendengar perkataan putranya itu Sunan Ambu terkejut. Akan tetapi, sebagai wanita yang arif beliau tidak kehilangan akal apalagi marah. Beliau arif bahwa putranya sedang menghadapi persoalan. Beliau pun berkata, “Guruminda, gadis yang serupa dengan Ibunda tidak ada di Buana Pada ini. Ia berada di Buana Panca Tengah. Pergilah kamu ke sana. Akan tetapi tidak sebagai Guruminda. Kamu harus menyamar sebagai seekor kera atau lutung.”

Setelah Sunan Ambu berkata begitu, berubahlah Guruminda menjadi seekor kera atau lutung. “Pergilah anakku, ke Buana Panca Tengah, kasih sayangku akan selalu bersamamu. Kini namamu Lutung Kasarung.”

Guruminda sangat terkejut dan sedih ketika menyadari bahwa dia sudah menjadi lutung. Ia beranggapan bahwa ia telah dihukum oleh Ibunda Sunan Ambu karena kelancangannya. Ia cuma menunduk. “Pergilah, Anakku. Gadis, itu menunggu disana dan memerlukan bantuanmu.” ujar Sunan Ambu pula.

Guruminda sadar bahwa menjadi lutung adalah sudah nasibnya dan ia pun mengundurkan diri dari hadapan ibundanya. Dengan harapan akan bertemu gadis yang serupa dengan ibundanya, ia meninggalkan Buana Pada. Ia melompat dari awan ke awan hingga akhirnya tiba di bumi. Guruminda mencari tempat yang cocok untuk turun. Ketika melihat sebuah hutan, ia pun melompat ke bumi. Ia melompat dari pohon ke pohon. Lutung-lutung dan monyet-monyet mengelilinginya. Karena mereka menyadari bahwa Guruminda, yang berganti nama menjadi Lutung Kasarung, lebih besar dan cerdas, mereka menerimanya sebagai pemimpin. Demikianlah Lutung Kasarung mengembara di dalam hutan belantara, mencari gadis yang sama cantiknya dengan ibunda Sunan Ambu.....(bersambung ke part-2)
verditch - 20/01/2010 10:33 AM
#66

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Jawa Barat Berjudul Lutung Kasarung

sumber : dongeng.org

keterangan : Part 2

Spoiler for
Quote:
Tersebutlah di kerajaan Pasir Batang, Ratu Purbararang hendak melaksanakan upacara. Dalam upacara itu diperlukan kurban binatang. Ratu Purbararang memanggil Aki Panyumpit. “Aki!” katanya, “Tangkaplah seekor hewan untuk dijadikan kurban dalam upacara. Kalau kamu tidak mendapatkannya nanti siang, kamu sendiri jadi gantinya.”

Dengan ketakutan yang luar biasa Aki Panyumpit tergesa-gesa masuk hutan belantara. Akan tetapi, tidak seekor bajingpun ia temukan. Binatang-binatang sudah diberi tahu oleh Lutung Kasarung agar bersembunyi. Lalu, berjalanlah Aki Panyumpit kian kemari di dalam hutan itu hingga kelelahan.

Ia pun duduk dibawah pohon dan menangis karena putus asa. Pada saat itulah Lutung Kasarung turun dari pohon dan duduk dihadapan Aki Panyumpit. Aki Panyumpit segera mengambil sumpitnya dan membidik kearah Lutung Kasarung.

Namun Lutung Kasarung berkata, “Janganlah menyumpit saya karena saya tidak akan mengganggumu. Saya datang kesini karena melihat kakek bersedih.”

Aki Panyumpit terkejut mendengar lutung dapat berbicara. “Mengapa kakek bersedih?” tanya Lutung Kasarung.

Ditanya demikian, Aki Panyumpit menceritakan apa yang dialaminya. “Kalau begitu bawalah saya ke istana,kakek,” ujar Lutung Kasarung.

“Tetapi kamu akan dijadikan kurban!” kata Aki Panyumpit yang menyukai Lutung Kasarung.

“Saya tidak rela kamu dijadikan kurban,” lanjut Aki Pannyumpit.

“Tetapi kalau kakek tidak berhasil membawa hewan, kakek sendiri yang akan disembelih sebagai kurban,” jawab Lutung Kasarung.

Aki Panyumpit tidak dapat berkata-kata lagi karena bingung.

“Oleh karena itu, bawalah saya ke istana. Janganlah khawatir,” Kata Lutung Kasarung.

“Baiklah, kalau begitu”, kata Aki Panyumpit. Mereka pun keluar dari hutan menuju kerajaan Pasir Batang.

Setiba di alun-alun kerajaan, beberapa prajurit memegang dan mengikat Lutung Kasarung. Prajurit lain mengasah pisau untuk menyembelihnya.

Lutung Kasarung yang sudah di ikat dibawa ketengah alun-alun. Di sana Purbararang dan Indrajaya serta para pembesar kerajaan sudah hadir. Demikian pula lima putri adik-adik Purbararang.

Saat itu segala perlengkapaan upacara sudah disiapkan. Seorang pendeta sudah mulai menyalakan kemenyan dan berdoa. Seorang prajurit dengan pisau yang sangat tajam berjalan akan melaksanakan tugasnya. Ia memegang kepala Lutung Kasarung. Akan tetapi, tiba-tiba Lutung Kasarung menggeliat.

Tambang-tambang ijuk yang mengikat tubuhnya satu persatu mulai putus dan kemudian Ia pun bebas. Ia lalu memporak-porandakan perlengkapan upacara. Para putri dan wanita-wanita bangsawan menjerit ketakutan. Para prajurit mencabut senjata dan berusaha membunuh Lutung Kasarung. Namun, tidak seorang pun sanggup mendekatinya.

Lutung Kasarung sangat lincah dan tangkas. Ia melompat- lompat kesana kemari, di tengah-tengah hadirin yang berlari menyelamatkan diri.

Lutung Kasarung sengaja merusak barang-barang dan perlengkapan. Di melompat ke panggung tempat para putri menenun dan merusak perlengkapan tenun.

Setelah hadirin melarikan diri dan prajurit-prajurit kelelahan, Lutung Kasarung duduk di atas benteng yang mengelilingi halaman dalam istana .

Dari dalam istana, Purbararang dan adik-adiknya memandanginya dengan keheranan dan ketakutan. Indrajaya ada pula disana, ikut sembunyi dengan putri-putri dan para wanita.

Purbararang kemudian menjadi marah, “Bunuh! Ayo bunuh lutung itu!” teriaknya. Beberapa orang prajurit maju akan mengepung Lutung Kasarung lagi. Akan tetapi, Lutung Kasarung segera menyerang mereka dan membuat mereka lari ketakutan ke berbagai arah.

Uwak Batara Lengser adalah orang tua yang bijaksana, walaupun sudah tua tetap gagah berani. Ia berjalan menuju Lutung Kasarung dan berdiri di dekatnya. Ternyata, Lutung Kasarung tidak memperlihatkan sikap permusuhan kepadanya. “Kemarilah Lutung, janganlah kamu nakal dan menakut-nakuti orang, kamu anak yang baik.”

Pada saat itu beberapa orang prajurit mencoba menyergap Lutung Kasarung. Namun, Lutung Kasarung selalu waspada. Ia menyerang balik, mencakar, dan menggigit mereka. Mereka tunggang langgang melarikan diri dan tidak berani muncul kembali. Setelah itu Lutung Kasarung kembali kepada Uwak Batara Lengser dan seperti seorang anak yang baik, duduk didekat kaki orang tua itu.

Purbararang yang melihat pemandangan itu dari jauh, timbul niat jahatnya. Lutung yang besar dan jahat itu sebaiknya dikirim kehutan tempat Purbasari berada, pikirnya. Kalau Purbasari tewas diterkam lutung itu, maka ia akan tenang menduduki tahta Kerajaan Pasir Batang. Cara mengirim lutung itu tampaknya dapat dilaksanakan melalui Uwak Batara Lengser karena lutung itu tidak memperlihatkan sikap permusuhan terhadap Uwak Batara Lengser.

Berkatalah Purbararang kepada Uwak Batara Lengser, meminta orang tua itu mendekat. Orang tua itu menurut, “Uwak Batara Lengser, singkirkan lutung galak itu kehutan. Tempatkan bersama Purbasari. Kalau sudah jinak, kita kurbankan nanti.” Uwak Batara Lengser tahu maksud Purbararang, tetapi ia menurut saja. Ia pun tidak yakin apakah lutung itu akan mencederai Purbasaari. Ia melihat sesuatu yang aneh pada lutung itu. Itulah sebabnya ia mengulurkan tangan pada lutung itu sambil berkata, “Marilah kita pergi, lutung. Kamu saya bawa ketempat yang lebih cocok bagimu.” Lutung itu menurut. Uwak Batara Lengser pun menuntunnya meninggalkan tempat itu dan menuju ke hutan.

Sampai di hutan, Uwak Batara Lengser berseru kepada Purbasari memberitahukan kedatangannya. Purbasari keluar dari gubuk dengan gembira. Lutung Kasarung melihat seorang gadis yang kulitnya hitam kelam di celup boreh. Ia tertegun sejenak sehingga Uwak Batara Lengser berkata kepadanya, “Itu Putri Purbasari. Ia gadis yang manis dan baik hati. Kamu harus menjaganya.”

“Ya,” kata Lutung Kasarung.

Uwak Batara Lengser dan Purbasari keheranan. Akan tetapi, Uwak Batara Lengser berkata, “Semoga kedatanganmu ke Pasir Batang dikirim Kahyangan untuk kebaikan semua.”

Setelah Uwak Batara Lengser pergi, Lutung Kasarung meminta bantuan kawan-kawannya untuk mengumpulkan buah-buahan dan bunga-bungaan untuk Purbasari. Putri itu benar-benar terhibur dalam kesedihannya. Ia pun tidak kesunyian lagi. Bukan saja Lutung Kasarung selalu ada didekatnya, tetapi binatang-binatang lain seperti rusa, bajing, dan burung-burung berbagai jenis, berkumpul dekat gubuknya.

Ketika malam tiba, Lutung Kasarung berdoa, memohon kepada Ibunda Sunan Ambu agar membantunya. Sunan Ambu mendengar doanya dan memerintahkan kepada beberapa orang pujangga dan pohaci agar turun ke bumi untuk membantu Lutung Kasarung.

Ketika para pujangga tiba dihutan itu, Lutung Kasarung meminta kepada mereka agar dibuatkan tempat mandi bagi Purbasari. Para pujangga yang sakti itu membantu Lutung Kasarung membuat jamban salaka, tempat mandi dengan pancuran emas dan lantai serta dinding pualam. Airnya dialirkan dari mata air yang jernih yang ditampung dulu dalam telaga kecil. Ke dalam telaga kecil itu ditaburkan berbagai bunga-bungaan yang wangi. Sementara itu para pohaci menyiapkan pakaian bagi Purbasari. Pakaian itu bahannya dari awan dan warnanya dari pelangi. Tak ada pakaian seindah itu di bumi.

Keesokan harinya Purbasari sangat terkejut melihat Jamban Salaka itu. Akan tetapi, Lutung Kasarung mengatakan kapadanya bahwa ia tidak perlu heran. Kabaikan hati Purbasari telah menimbulkan kasih sayang Kahyangan kepadanya.

“Jamban Salaka dan pakaian yang tersedia di dalamnya adalah hadiah dari Buana Pada bagi Tuan Putri,” kata Lutung Kasarung

“Kau sendiri adalah hadiah dari Buana Pada bagiku, Lutung,” kata Purbasari, lalu memasuki Jamban Salaka. Ternyata, air di Jamban Salaka memiliki khasiat yang tidak ada pada air biasa dipergunakan Purbasari.

Ketika air itu dibilaskan, hanyutlah boreh dari kulit Purbasari. Kulitnya yang kuning langsat muncul kembali bahkan lebih cemerlang. Dalam kegembiraannya, Purbasari tidak putus-putusnya mengucapkan syukur kepada Kahyangan yang telah mengasihinya.

Selesai mandi, ia mengambil pakaian buatan para pohaci. Ia terpesona oleh keindahan pakaian yang dilengkapi perhiasan-perhiasan yang indah. Ia pun segera mengenakannya, lalu keluar dari Jamban Salaka. ‘Lutung lihatlah!. Apakah pakaian ini cocok bagiku?”

Lutung Kasarung sendiri terpesona. Dalam hatinya ia berkata, “Putri Purbasari, engkau seperti kembaran Ibunda Sunan Ambu, hanya jauh lebih muda.”

“Lutung, pantaskah pakaian ini bagiku?” tanya Purbasari pula.

“Para pohaci mencocokkannya bagi tuan putri,” jawab Lutung Kasarung seraya bersyukur dalam hatinya dan memuji kebijaksanaan Ibunda Sunan Ambu.

Peristiwa didalam hutan itu akhirnya terdengar oleh Purbararang. Rakyat Kerajaan Pasir Batang yang biasa mencari buah-buahan atau berburu kehutan membawa kabar aneh. Mereka bercerita tentang hutan yang berubah menjadi taman, tentang gubuk gadis hitam yang berubah menjadi istana kecil, tentang tempat mandi yang sangat indah, dan pimpinan seekor lutung yang sangat besar. Seekor lutung besar menyebabkan mereka tidak berani memasuki taman itu.....(bersambung ke part-3)
verditch - 20/01/2010 10:36 AM
#67

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Jawa Barat Berjudul Lutung Kasarung

sumber : dongeng.org

keterangan : Part 3

Spoiler for
Quote:
Kabar aneh itu sampai juga ke telinga Purbararang. Ia menduga ada bangsawan-bangsawan Pasir Batang yang diam-diam membantu Purbasari. Ia pun menjadi marah dan berpikir mencari jalan untuk mencelakakan Purbasari. Ia segera menemukan jalan untuk mecelakakan adik bungsunya itu.

Purbararang berpendapat bahwa para bangsawan Pasir Batang yang berpihak pada Purbasari tidak akan berani membantu adiknya itu secara terang-terangan. Oleh karena itu, Purbasari harus ditantang dalam pertandingan terbuka.

Para bangsawan dapat membuatkan Purbasari taman, istana kecil, dan Jamban Salaka. Itu mereka lakukan sembunyi-sembunyi dalam waktu yang lama, pikir Purbararang. Kalau Purbasari diharuskan membuat huma dalam satu hari seluas lima ratus depa, tak ada yang berani atau dapat membantunya. Ia sendiri dengan mudah akan dapat membuka huma ribuan depa dengan bantuan para prajurit.

Maka ia pun memanggil Uwak Batara Lengser dan berkata, “Uwak, berangkatlah ke hutan. Sampaikan pada Purbasari bahwa saya menantangnya berlomba membuat huma. Purbasari harus membuat huma seluas lima ratus depa dan harus selesai sebelum fajar besok. Kalau tidak dapat menyelesaikannya, atau tidak dapat mendahului saya maka ia akan dihukum pancung.”

Uwak Batara Lengser segera pergi kehutan. Ia disambut oleh Purbasari dan Lutung Kasarung. Ketika mendengar berita yang menakutkan itu, Purbasari pun menangis. ‘Kalau nasib saya harus mati muda, saya rela. Yang menyebabkan saya menangis adalah tindakan kakanda Purbararang. Begitu besarkah kebenciannya kepada saya?”

Lutung Kasarung berkata, “Jangan khawatir Tuan Putri, Kahiangan tidak akan melupakan orang yang tidak bersalah.”

Sementara ketiga sahabat itu sedang berbicara didalam hutan, Purbararang tidak menyia-nyiakan waktu. Ia memanggil seratus orang prajurit dan memerintahkan agar mereka membuka hutan untuk huma didekat tempat tinggal Purbasari. Huma harus selesai keesokan harinya. Kalau tidak selesai, para prajurit itu akan dihukum pancung. Para prajurit yang ketakutan segera berangkat ke hutan dan langsung bekerja keras membuka hutan. Mereka terus bekerja walaupun malam turun dan mulai gelap. Mereka terpaksa menggunakan obor yang banyak jumlahnya.

Sementara itu Lutung Kasarung mempersilahkan Purbasari masuk kedalam istana kcilnya untuk beristirahat. “Serahkanlah pekerjaan membuat huma itu kepada saya, Tuan Putri,’ katanya.

Ketika Purbasari sudah masuk kedalam istana kecilnya, Lutung Kasarung segera berdoa, memohon bantuan Ibunda Sunan Ambu dari Buana Pada. Doanya didengar dan Sunan Ambu mengutus empat puluh orang pujangga untuk membuat huma. Lahan yang dipilih adalah sebidang huma yag sudah terbuka dan cocok untuk ditanami padi. Huma itu letaknya tidak jauh dari hutan yang sedang dibuka oleh prajurit-prajurit Pasir Batang.

Keesokan harinya ketika matahari terbit, berangkatlah rombongan dari istana Pasir Batang menuju hutan. Purbararang duduk diatas tandu yang dihiasi sutra dan permata yang gemerlapan. Sementara itu tunangannya, Indrajaya, menunggang kuda di sampingnya. Lima orang putri bersaudara ada pula dalam rombongan bersama sejumlah bangsawan. Ratusan prajurit mengawal. Tak ketinggalan seorang algojo dengan kapak besarnya. Purbararang yakin bahwa hari itu ia akan dapat menghukum pancung adiknya, Purbasari. Akan tetapi, ia dan rombongan terkejut sebab disamping huma yang dibuka para prajurit telah ada pula huma lain yang lebih bagus.

Di tengah huma itu berdiri Uwak Batara Lengser dan Lutung Kasarung. “Gusti Ratu,” kata Uwak Batara Lengser, “Inilah huma Putri Purbasari.”

Purbararang benar-benar kecewa, malu,dan marah. Ia berteriak, “Baik, tetapi sekarang saya menantang Purbasari bertanding kecantikan denganku. Kalian yang menilai,” katanya seraya berpaling pada khalayak.

Purbararang menyangka Purbasari masih hitam kelam karena boreh. “Uwak, suruh dia keluar dari rumahnya!”

Uwak Batara Lengser mempersilahkan Purbasari keluar dari istana kecilnya. Purbasari muncul dan orang-orang memadangnya dengan takjub. Banyak yang lupa bernapas dan berkedip. Banyak pula yang lupa menutup mulutnya.

Begitu cantiknya Purbasari sehingga seorang bangsawan berkata, “Saya seakan-akan melihat Sunan Ambu turun ke Bumi.”

Melihat hal itu mula-mula Purbararang kecut. Akan tetapi dia ingat, bahwa dia masih punya harapan untuk menang. Ia berteriak, “Purbasari, marilah kita bertanding rambut. Siapa yang lebih panjang, dia menang. Lepas sanggulmu!” Sambil berkata begitu Purbararang berdiri dan melepas sanggulnya. Rambutnya yang hitam dan lebat terurai hingga kepertengahan betisnya.

Purbasari terpaksa menurut. Ia pun melepas sanggulnya. Rambutnya yang hitam berkilat dan halus bagai sutra bergelombang bagaikan air terjun hingga ketumitnya. Purbararang terpukul kembali. Akan tetapi, dia tidak kehabisan akal. Ia ingat bahwa ia mempunyai pinggang yang sangat ramping.. Ia berkata, “Lihat semua. Ikat pinggang yang kupakai ini bersisa lima lubang. Kalau Purbasari menyisakan kurang dari lima lubang, ia dihukum pancung.” Seraya berkata begitu ia melepas ikat pinggang emas bertahta permata dan melemparkannya kepada Purbasari. Purbasari memakainya dan ternyata tersisa tujuh lubang
.
Sekarang Purbararang menjadi kalap. Ia berteriak, “Hai orang-orang Pasir Batang, masih ada satu pertandingan yang tidak mungkin dimenangkan oleh Purbasari. Pertandingan apa itu? Coba tebak!” katanya seraya melihat wajah-wajah bangsawan Pasir Batang yang berdiri didekatnya. Ia tertawa karena yakin ia akan menang dalam pertandingan terakhir ini.

“Pertandingan apa, Kakanda?” kata salah seorang di antara adiknya.

Purbararang tersenyum. “Dengarkan!” katanya pula, “Dalam pertandingan ini kalian harus membandingkan siapa di antara calon suami kami yang lebih tampan. Lihat kepada tunangan saya, Indrajaya. Bagaimana pendapat kalian? Tampankah ia?”

Untuk beberapa lama tidak ada yang menjawab. Mereka bingung dan terkejut. Purbararang membentak, “Jawab! Tampankah dia?” Orang-orang menjawab, “Tampan, Gusti Ratu!” Purbararang tidak puas, “Lebih nyaring!”

“Tampan Gusti Ratu!”

Sambil tersenyum Purbararang melihat kearah Purbasari yang berdiri dekat Uwak Batara Lengser dan Lutung Kasarung. “Dengarkanlah, Purbasari. Sekarang kamu tidak bisa lolos. Kita akan bertanding membandingkan ketampanan calon suami. Calon suamiku adalah Indrajaya yang tampan dan gagah itu. Siapakah calon suamimu itu?” Purbasari kebingungan. “Siapa lagi calon suamimu kecuali lutung besar itu?” teriak Purbararang seraya menunjuk ke arah Lutung Kasarung. Lalu ia tertawa.

Purbasari terdiam. Ia memandang ke arah Lutung Kasarung. Semuanya terdiam. Algojo melangkah ke arah Purbasari seraya memutar-mutar kapaknya yang lebar dan tebal. Seraya memandang ke arah Lutung Kasarung dan sambil tersenyum sayu Purbasari berkata, “Memang seharusnya kamu menjadi calon suamiku, Lutung.”

Mendengar apa yang diucapkan Purbasari itu gembiralah Purbararang. Sekarang ia dapat membinasakan Purbasari. Akan tetapi, sesuatu terjadi. Mendengar perkataan Purbasari itu, Lutung Kasarung berubah, kembali ke asalnya sebagai Guruminda yang gagah dan tampan. Semua terheran-heran dan terpesona oleh ketampanan Guruminda. Guruminda sendiri memegang tangan Purbasari dan berkata, “Ratu kalian yang sebenarnya, Purbasari, telah mengatakan bahwa saya sudah seharusnya menjadi calon suaminya. Sebagai calon suaminya, saya harus melindungi dan membantunya. Tahtanya telah direbut oleh Purbararang. Sebagai tunangan Purbararang, Anda harus berada di pihaknya, Indrajaya. Oleh karena itu, marilah kita berperang tanding.”

Indrajaya bukannya siap berperang tanding, tetapi malah berlutut dan menyembah kepada Guruminda, mohon ampun dan dikasihani. Purbararang menangis dan minta maaf kepada Purbasari. Sementara itu para bangsawan dan prajurit serta rakyat justru bergembira. Mereka akan bebas dari ketakutan dan tekanan para pendukung Purbararang.

Pada hari itu juga Ratu purbasari kembali ke Kerajaan didampingi oleh suaminya, Guruminda. Purbararang dan Indrajaya dihukum dan dipekerjakan sebagai tukang sapu di taman istana. Rakyat merasa lega. Mereka kembali bekerja dengan rajin seperti di jaman pemerintahan Prabu Tapa Agung. Berkat bantuan Guruminda, Purbasari memerintah dengan cakap dan sangat bijaksana. Rakyat Kerajaan Pasir Batang merasa terlindungi, suasana aman dan tentram sehingga mereka bisa bekerja dengan tenang pada akhirnya kemakmuran dapat mereka peroleh secara nyata dan merata.
***
Rersiger - 21/01/2010 03:17 AM
#68
Asal usul terjadinya pulau seruyan dan kuburan keramat I
kaskus ID : Rersiger
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : ASAL USUL TERJADINYA PULAU SERUYAN
DAN KUBURAN KERAMAT
sumber : Koleksi Pribadi
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Seruyan, Kalteng

Spoiler for


Kanon dahulu kala hiduplah sepasang suami istri yang banyak memiliki anak, dari sekian banyak anak yang di miliknya ada salah satu anaknya yang berbeda dari anak-anaknya yang lain. Anak yang berbeda itu adalah anak yang paling bungsu, dari kecil sampai dewasa dia tidak suka mengenakan pakaian dia lebih senang telanjang bulat dari pada harus memakai pakaian. Anak itu bernama Bito, ketika masih kecil dia sering bermain di daerah pulau pantai untuk bermain-main sendirian di pantai bahkan hampir tiap hari waktunya di habiskan di pantai itu.
Dia tidak senang kalau dan bermain dengan anak-anak lain yang sebaya dengannya, dia paling suka berlari-larian sendiri di daerah pantai itu sambil memainkan air dan pasir tanah yang berwarna putih dari pagi sampai sore hari, seakan-akan daerah pantai tersebut telah menjadi rumah kedua baginnya dan lagi pula daerah pantai tersebut letaknya tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga dengan berjalan kaki beberapa meter saja sudah sampai ke tempat pulau pantai tersebut.
Kegiatan seperti itu dia lakukan tiap hari dan bahkan kegian rutinnaya sampai dia dewasa. Setelah dewasa Bito tetap saja tidak suka memakai pakaian dan ia lebih suka telanjang bulat seperti dia kecil, orang tuanya pun merasa malu tetapi setelah dewasa dia tidak lagi pergi ke pulau pantai yang sering di kunjunginya waktu dia masih kecil dulu dan dia masih senang berkurung diri di dalam rumah, karena terkucilkan dari saudara-saudaranya akhirnya dia membut sebuah gubuk kecil dengan ukuran yang sempit dan sederhana.
Di gubuk itulah Bito hidup seorang diri terasing dari orang tua dan saudara-saudaranya karena sering berkurung diri itulah mengakibatkan kakinya Bito lumpuh dan tidak berfungsi lagi sehingga untuk mencukupi kebutuhannya Bito cuma mengharap belas kasih dari orang lain tetapi terkadang ada juga kerabatnya yang berkunjung untuk memberi makanan, kebetulan juga letak kerabatnya itu tidak jauh dari rumahnya dan di antara kerabatnya melihat Bito seperti itu dia merasa kasihan dan iba sehingga ia meminta Bito tinggal bersamanya, Bito pun mengikuti saja karena dia sadar tidak mungkin sendirian tanpa bantuan orang lain lebih-lebih setelah kakinya menjadi lumpuh.
Maka tinggallah Bito dengan kerabatnya tersebut yang letaknya pun tidak jauh dari rumahnya. Di rumah itulah dia tinggal bersama pamannya yang bernama talib dan memiliki 5 orang anak, 2 perempuan dan 3 laki-laki sedangkan istrinya sudah meninggal. Paman Bito ini di kampungnya sangat dihormati karena memiliki sikap yang sangat rendah hati dan sangat dermawan serta suka menolong sesamanya.
Karena kebiasaan hatinya itulah maka dia mau menerima Bito dengan segala kekurangannya dan menggap Bito sebagai anak kandungnya sendiri, begitu pula anak kandungnya yang menanggap Bito sebagai saudaranya sendiri kandungnya sendiri, meskipun hubungan keluarga antara Bito dan pamannya ini terbilang kerabat jauh, tetapi pamannya tidak membeda-bedakan antara Bito dan anak kandungnya sendiri dan Bito pun disuruh menempati kamar yang lumayan cukup besar yang sama besarnya dengan kamar anak kandungnya tetapi Bito tidak mau dengan alasan kamarnya terlalu mewah untuknya karena dia merasa tepat itu berbeda dengan gubuk yang dulu ditempatinya.
Namun pamannya membujuk adul supaya mau menempati kamar tersebut. Di kamar itulah Bito menghabiskan hari-harinya setiap waktu dan kebiasaan Bito yang yang tidak mau memakai pakaian terus di bawanya sampai dia tinggal di rumah pamannya tetapi pamannya menggap itu bukan jadi masalah dan dia juga tidak pernah mau keluar dari kamarnya, dia lebih senang berkurung diri sendirian di kamar oleh sepupunya ( anak pamannya ) Gina, namun kebiasaannya Bito seperti itu tidak pernah membuat pamannya merasa terbebani tetapi dengan sabar dia merawat Bito.
Bertahun-tahun Bito hidup bersama dengan pamannya dengan sikap yang seperti itu sehingga Bito pun menunjukan suatu kelebihan yang ada dalam dirinya, di antaranya dia bisa menembak apa yang akan terjadi esok dan tebakannya itu benar terjadi dan seakan-akan dia bisa meramalkan apa yang akan terjadi di masa mendatang.
Dengan kelebihan Bito yang bisa meramal seperti itu dengan cepat berita itu tersebar ke seluruh penduduk kampung sehingga banyak penduduk yang berkunjung meminta bantuan untuk di ramal dan meminta nasihat kepadanya, dengan iklas Bito membantu meramal dan memberi nasihat kepada penduduk yang datang tanpa ia memungut bayaran sedikitpun.
Tidak lama setelah Bito mulai menggunakan kelebihannya itu, pamannya meninggal dunia dan Bito pun merasa terpukul dan terpuruk hampir dia putus asa karena dia merasa sangat kehilangan orang yang sangat menyayanginya, orang yang selalu menghiburnya dan selalu membantunya serta selalu menemaninya saat dia membutuhkan dan saat seluruh keluarganya menjauhinya.
Sejak meninggal pamannya itu lah, tidak mau lagi meramal dan memberi nasihat kapada orang-orang yang datang kepadanya, hingga berbulan-bulan Bito terpuruk dalam kesedihan, dia merasa bersalah karena kelebihannya itulah yang mengakibatkan pamannya meninggal, karena sehari sebelum pamannya meninggal Bito sempat bermimpi perahu yang ditumpangi pamannya tersebut terbalik tapi tidak memberi tahu pamannya tentang mimpinya itu karena dia mengapa kalau mimpinya itu hanya kembang tidur saja, namun ternyata kejadian yang ada di mimpinya, sehingga dengan kejadian itulah dia beranggapan dirinyalah orang yang paling bersalah atas kematian pamannya tersebut, dan dia berfikir seandainya saja dia memberitahukan pamannya tentang mimpinya itu mungkin sekarang pamannya masih hidup. Melihat keadaan Bito yang terus menerus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian pamannya.
Maka anak pamannya yang bernama Gina kasihan dan merasa iba dengan keadaan Bito yang seperti itu berantakan dan jauh berbeda dengan Bito yang dulu ketika ayahnya masih hidup dan Gina pun berusaha membujuknya secara perlahan-lahan agar Bito bisa melupakan kesedihan dan ras bersalahnya terhadap pamannya tetapi Bito tidak memperdulikan bujukan Gina tersebut dan bahkan dia membujuk dan menyadarkannya kalau kematian pamannya itu bukan karena dia tapi atas kehendak yang Maha Kuasa. Gina pun membujuk Bito tanpa merasa lelah dan januh dan akhirnya membuahkan hasil, Bito pun sudah bisa menerima kemantra pamannya dengan adilasi.
Suatu malam Bito bermimpi bertemu pamannya dan dalam mimpinya itu pamannya meminta kepada Bito agar dia tetap memjadi Bito yang dulu yang memiliki sikap sendah hati dan suka menolong, hingga Bito pun terbangun dari tidurnya dan langsung memikirkan tentang mimpinya tersebut. Setelah beberapa hari berlalu Bito terus-terus memikirkan mimpinya tersebut dan akhirnya dia pun bertanya kepada Gina tentang maksudmimpinya itu. Sejenak Gina terdiam kemudian berkata kepada Bito” Dul kamu disuruh ayah menggunakan kelebihan yang kamu miliki itu untuk menjadi Bito yang seperti dulu lagi “ Itulah arti mimpi yang kamu alami kata Gina kepada Bito mendengar penjelasan Gina itu.......


kbgt:
Rersiger - 21/01/2010 03:25 AM
#69
Asal usul terjadinya pulau seruyan dan kuburan keramat II
kaskus ID : Rersiger
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : ASAL USUL TERJADINYA PULAU SERUYAN
DAN KUBURAN KERAMAT
sumber : Koleksi Pribadi
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Seruyan, Kalteng

Spoiler for


Bito pun terdiam tanpa sepatah katapun dan dia bangkit dari tempat duduk lalu pergi mendengar penjelasan dari Gina, Bito pun berubah yang tadinya kelihatan sedih dan berantakan kembali berseri, seakan-akan kesedihan yang dirasakan tidak ada lagi dan dia telah berubah Bito seperti itu, Gina merasa sangat senag meskipun kaki Bito masih lumpuh tapi dia tetap beryukur karena telah mampu mengembalikan Bito seperti semula dan menghilangkan rasa kesedihannya serta membangkitkan semangat hidupnya yang hampir pudar akibat di tinggal mati oleh ayahnya.
Kabar tentang perubahan Bito seperti sedia kal dengan cepatnya tersebar keseluruh pelosok kampong sehingga orang banyak datang kerumahnya untuk diramal dan meminta nasihatnnya, hampir seluruh penduduk yang kenal dengan namanya tetapi walaupun terkenal dia tidak pernah merasa sombong dan besar kepala dengan kelebihan yang dimilikinya.
Selama hidupnya Bitotidak pernah memiliki pendamping hidup ( isteri) meskipun banyak para gadis yang pernah tertarik padanya dan bahkan berharap menjadi istrinya tetapi dia tetap tidak mau memilih satupun perempuan.
Itu sampai usianya lanjut Bito masih tinggal dirumah pamannya tapi karena semua anak pamannya diserah kepad Bito tapi melihat Bito sendirian di rumah itu merasa kasihan dan mengajak Bito tinggal bersamanya, awalnya Bito menolak ajakan itu kerana takut menyusahkan Gina tetapi berkat keteguhan dan kesabarannya Gina dalam meyakinkan Bito akhirnya Bitopu mau juga ikut dengan Gina. Di rumah Gina itulah Bito tinggal, disebuah rumah yang sangat sederhana tetapi Gina hidup bahagia, ruku dan harmonis.
Letak rumah Gina dengan rumah yang ditempatinya dulu kira-kira berjarak 5 kilometer dan harus menyeberangi sungai sehingga dengan mudahnya Bito bolak-balik dari rumah Gina ke rumah Bito yang dulu dan kegiatannya dia lakukan sampai dia tidak bisa lagi kesana atau dengan kata lainsampai dia jatuh sakit dan sampai akhirnya Bito pun menghembuskan nafas terakhirnya dirumah Gina, dalam detik-detik terakhir sebelum kematiannya Bito sempat tersenyum kepada Gina dan zenajahnya mengeluarkan bau harum yang semarak wanginya, manusuk hidung orang yang menghadiri pemakaman tersebut. Sehingga sungai yang sering dilewatuiBito itu dinamakan sungai seruyan.
Zenajah Bito dimakamkan dipemakaman umum yang letaknya tidak jauh dari rumah Gina. Tempat pemakaman Bito dianggap sabagai tempat yang keramat kerana Bito dianggap orang yang suci, tidak pernah berbuat dosa dan kesalahan semasa hidupnya dan ada juga sebagian orang yang menganggap Bito orang yang dekat dengan sang pencipta.
Sehingga setiap hari pasti ada saja yang jiarah ketempat pemakaman Bito dan orang yang jiarah ketempat bisa meminta kepada Bito tapi melalui perantaranya Bito, karena tempat pemakamannya keramat setiap orang yang jiarah ketempat tersebut pasti balik lagi ketempat tersebut untuk mendo’akan.
Bito sebagai ungkapan terimakasih kepadanya karena melalui perantranya semua apa yang diinginkan pasti terkabul, terkadang tidak jarang pula ada orang yang mengasihkan uang untuk biaya perbaikan pemakaman Bito. Dari tahun ke tahun para pengunjung yang kepemakaman untuk jiarah, tidak pernah berkurang bahkan tambah banyak pepengunjungnya. Terkadangtidak jarang untuk mengenang jasa-jasa Bito, para penduduk yang merasa berhutanmg budi kepadanya datang ketempat kelahirannyaBito ( daerah pulau yang tak berpenghuni lagi).
Entah kenapa kebiasaan berkunjung kedaerah tersebut pulau seakan-akan menjadi sebuah tradisi yang harus dilakukan penduduk khususnya penduduk seruyan kuala pembuang yang berdomisili tetap di daerah tersebut. Seiring dengan berjalanya waktu daerah tersebut berubah menjadi tempat wisata bagi masyarakat kuala pembuang, khususnya setiap hari raya baik harii raya idul fitri maupun idul adha tempat tersebut ramai di kunjungi para pengunjung yang ingin rekreasi.
Akhir-akhit ini dikatakan kalau pemakamannya Bito dipindahkan ketempat kelahirannya, katanya rohnya Bito sendiri yang meminta agar pemakamannya tersebut dipindahkan karena di merasa terganggu denganapa yang dilakukan oleh segelintir orang yang mengatasnamakan namanya tersebut untuk meminta bayaran kepada setiap para penjiarah atau pengunjung yang datang berkunjung ketempat pemakamannya tersebut.katanya juga rohnya Bito merasuk ke dalam diri salah seorang kerabat dekatnya yang bernama jail, ia meminta dengan segera agar pemakaman tersebut di bangkar dan dipindahkan dan akhirnya pamakaman Bito dipindahkan ketempat kelahirannya dekat dengan daerah pulau dia waktu kecil dulu.
Walaupun sekarang jarak antara kota kualau pembuang dengan daerah pulau tersebut tidak dapat di tempuh dengan kendaraan bermotor hanya dapat di tempuh menggunakan perahusaja, namun tempat itu tidak pernah sepi dari pengunjung.
Demikianlah cerita yang dapat saya ceritakan tentang asal usul pulau saruyan dan kuburan keramat.


kbgt:
Rersiger - 21/01/2010 03:29 AM
#70
Mandangin I
kaskus ID : Rersiger
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : MANDANGIN
sumber : Koleksi Pribadi
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Seruyan, Kalteng

Spoiler for

Di sebuah tempat di daerah Tumbang Manjul tepatnya kurang lebih 43 kilo meter dari desa tumbang judul manjul terdapat mitos tentang sebuah kerajaan makhluk baik.
Konon diceritakan bahwa di sungai mandaham desa Tumbang Manjul terdapat gaib yaitu Perek Rango yang dikuasai oleh titisan dari dewa angin.
Pada jaman dahulu sebuah hutan belantara yang tak jauh dari muara sungai mandaham hiduplah sepasang suami istri yaitu nyai Rangkas dan sangkajang.
Nyai Rangkas adalah keturunan dari makhluk gaib yang tinggal di kawasan bukit kejayah namun karena ia jatuh cinta dan kimpoi dengan Sakajang keturunan manusia biasa maka ia diusir dari kerajajan kajayah. Demi suami tercintanya Sakajang Nyai Rangkas rela meninggalkan keluarganya hingga akhirnya mereka tinggal di hutan dekat muara sungai mandaham. Karena saling mencintai hidup pasangan suami istri itu sangat rukun bahagia. Dalam kebersamaan mereka selalu saling membantu dan saling melengkapi kekurangan satu sama lainnya.
Setelah sekian lama bersama akhirnya mereka menyadari bahwa ada yang kurang dari kebahagiaan yang telah mereka nikmati selama ini, karena sudah sekian lama mereka hidup bersama namun pasangan suami istri itu belum juga dikaruniai keturunan. Untuk memperoleh keturunan pasangan suami istri itu rela melakukan apa saja, sudah berbagai macam ramuan mereka gunakan namun belum juga dikarunia seorang anak sampai pada suatu malam Nyai Rangkas bermimpi ia akan mendapatkan keturunan yang dititiskan oleh dewa angin namun untuk memperolehnya ia harus melakukan pada malam bulan purnama, dian ritual pertapaan itu dilakukan di sebuah batu besar di tepi sungai mendahan sebelah hulu.
Malam berganti fajar Nyai Rangkas terjaga dari mimpi. Kemudian ia bangun dan keluar dari gubugnya untuk melihat keadaan sekeliling rumah mereka kemudian ia masuk kembali dan duduk di samping suaminya sambil memikirkan mimpinya mendapat keturunan. Tak lama kemudian suaminya bangun dan iapun menghampiri suaminya untuk menceritakan perihal tentang mimpinya itu kepada sang suami tercinta, dan sang suami pun mendengarkan dengan baik cerita istrinya. Namun setelah mendengar cerita dan istrinya Sakajang merasa resah dan kebingungan menentukan sikap. Di satu sisi ia ingin sekali melihat istrinya bahagia dengan mendapatkan keturunan yang dititiskan oleh dewa angin namun di sisi lain ia tidak tega jika harus membiarkan istrinya sendiri di hutan selama sembilan hari sembilan malam dan hatinyapun tidak ingin berpisah dengan istri tercintanya. Walaupun hanya dalam waktu sebentar. Sebaliknya Nyai Rangkas ingin sekali melaksanakan ritual pertapaan seperti yang ditunjukkan dalam mimpinya, ia merasa sangat yakin kalau ia menjalankan pertapaan tersebut. namun sayang suami Nya Rangkas tidak mengijinkannya untuk pergi bertapa meski ia sudah berkai-kali memohon agar suaminya memberikan ijin sampai pada suatu malam dimana pada malam itu merupakan bulan purnama yang telah ditunggu-tunggu oleh Nyai Rangkas, ia pergi diam-diam dari sisi suaminya yang sedang tidur lelap. Dengan langkah mengendap-endap Nyai Rangkas pergi keluar meninggalkan suaminya menuju hutan dengan menyusuri tepi sungai Mandahan dan untuk mencari batu besar sebagai tempat melakukan ritual pertapaan seperti yang ditunjukkan dalam mimpinya. Karena pada malam itu cahaya bulan terang sekali sehingga Nyai Rangkas tidak mengalami banyak kesulitan dalam perjalanan, sampai akhirnya ia menemukan batu besar seperti yang ada dalam mimpinya. Setibanya ditempa tujuan Nyai Rangkas mengelilingi batu besar tersebut untuk mencari jalan naik menoleh ke kiri dan tekanan serta sesekali membalikkan badan untuk melihat keadaan di sekitarnya. Sesaat ia tempat kebingungan tiba-tiba terdengar suara seruan “Nyai Rangkas jika kau ingin mendapatkan seorang anak dari titisanku maka lakukanlah ritual pertapaan ditengah batu besar itu selama sembilan hari sembilan malam dengan posisi duduk menghadap arah matahari terbit”.
Mendengar suara seruan itu Nyai Rangkas merasa semakin yakin dengan firasat mimpinya, hingga akhirnya iapun duduk ditengh batu besar tersebut dengan posisi menghadap arah matahari terbit.
Dengan penuh keyakinan Nyai Rangkas melakukan ritual pertapannya, sementara sama suami yang ia tinggalkan panik dan bingung karena melihat isterinya tidak ada di rumah. Ketika hari mulai terang ia mencari isterinya di sekiling rumah tempat mereka tinggal seraya memanggil “Nya, … dimana kamu ! Nyai .. pulanglah ! sang suami terus memanggil nama isterinya sampai matahari hampir terbenam namun ia tak juga menemukan isteri tercinta. Karena hari sudah mulai gelap ia pun kembali pulang ke rumah meski ia sangat khawatir sekali dengan keadaan isterinya.
Malam sudah semakin larut namun Sakajang pun tak mampu memejamkan mata karena memikirkan kemana perginya sang isteri. Ketika melamunkan nasibnya yang sudah ditinggalkan sang isteri tercinta tiba-tiba sekarang teringat akan mimpi isterinya dan keringinannya untuk pergi bertapa mencari keturunan.....


kbgt:
Rersiger - 21/01/2010 03:37 AM
#71
Mandangin II
kaskus ID : Rersiger
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : MANDANGIN
sumber : Koleksi Pribadi
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Seruyan, Kalteng

Spoiler for

Semalaman Sakajang tak bisa tidur dan pagi-pagi ia pergi ke hutan untuk mencari isterinya. Ia menelusuri hutan tepi sungai mandahan namun anehnya ia tidak menemukan tempat seperti yang diceritakan istrinya, meski demikian ia tepat tidak putus asa sampai akhirnya ia berjalan di sebuauh rawa dan bertemu dengan seekor serigala yang sangat buas. Meski demikian Sakajang tetap tegar menghadapinya. Langkah demi langkah serigala buas itu mendekati Sekajang dengan cakar dan taringnya yang panjang seolah-olah siap menerkam hingga akhirnya terjadi perkelahian antara sekajang and serigala buas itu. Mereka saling bergelut di tanah rawa yang berlumpur
Dalam perkelahian itu Sakajang terluka dan jatuh terkapar di atas lumpur sehingga dengan mudah serigala buas itu menerkamnya kembali dan menancapkan taringnya pada bagian tubuh sakajang hingga akhirnya tewas dan menjadi santapan serigala yang kelaporan tadi.
Alangkah malangnya nasib sakajang, bertujuan pergi mencari istri tercinta namun di perjalanan menjadi mangsa serigala buas
Hari demi hari berlalu, ritual pertapaan telah dilakukan oleh Nyai Rangkas dengan sempurna, dan ketika ritual itu selesai tiba-tiba angin bertiup dengan sangat kencang, langit tampak bercahaya kemudian terdengar kembali seruan “Nyai Rangkas sekarang kamu telah mendapatkan yang kamu inginkan, tugas kamu adalah memelihara titisanku itu dengan baik karena suatu saat ia akan menjadi pembawa kedamaian bagi sebuah kerajaan yang sedang dalam kekacauan!”
Mendengar suara seruan tersebut Nyai Rangkas merasa semakin yakin kalau ia telah mengandung seorang anak yang dititiskan oleh dewa angin. Karena ritual pertapaan telah selesai maka Nyai Rangkas pun turun dan meninggalkan batu besar itu dengan hati yang berbunga-bunga. Ia kembali menyusuri tepi sungai dan pulang ke rumah dengan harapan memberikan kejutan untuk suami tercintanya.
Setibanya di rumah Nyai Rangkas melihat keadaan rumah sepi, senyap dan berantakan kemudian ia memanggil-manggil suaminya. Abang … abang … abang ada dimana ? saya ada berita gembira untuk abang ! setelah beberapa kali memanggil suaminya Nyai Rangkas tak jua mendengarkan jawaban dari suaminya. Hingga kemudian Nyai Rangkas keluar dan mencari suaminya di sekitar halaman rumah mereka. Karena suaminya tak ditemukan Nyai Rangkaspun pulang kembali ke rumah. Awalnya ia berpikir kalau suaminya hanya pergi sebentar ke hutan untuk mencari makanan atau berburu. Hari demi hari berlalu, sang suami yang dinanti tak jua datang sementara perut Nyai Rangkas semakin membesar dan harapan berkumpul kembali dengan sang suami tercinta sirna, dan perlahan-lahan merasa kesepian dan kehilangan suaminya Nyai Rangkas memutuskan untuk pergi ke hutan untuk mencari suaminya.
Ketika matahari terbit Nyai Rangkas pun berangkat kehutan untuk mencari suaminya dengan membawa bekal seadanya ia bertekad tidak akan pulang tanpa suaminya. Dalam perjalanan menyusuri hutan ia melewati rawa-rawa tempat suaminya tewas diterkam serigala. Saat ia melihat keatas tiba-tiba ada seekor burung hitam menjatuhkan kotorannya iapun merasa kejadian itu pertanda bahwa hal buruk telah terjadi dan seketika pula perasaannya Nyari Rangkas jalan dan tanpa sengaja kakinya tersandung kayu sehingga ia pun terjatuh, dan tanpa sengaja pula tangan Nyai Rangkas tertuju pada sebuah gelang dari batu yang tergeletak di atas tanah, dimana di sekitar gelang tersebut juga terdapat tulang-tulang bangkai manusia. Melihat gelang tersebut Nyai Rangkas berkata dalam hati “Gelang ini adalah milik suamiku, oh dewa apakah yang terjadi pada suamiku” dan kemudian ia berteriak kencang memanggil-manggil suaminya” sekarang …. Suamiku … dimana kamu sekarang !!! karena tak kuasa menahan rasa sedih tubuh Nyai Rangkas gemetar kemudian pingsan.
Tidak tahu datang dari arah mana tiba-tiba datang seorang nenek menghampiri dan membawa Nyai Rangkas ke sebuah Gua. Yang mana gua tersebut tak jauh dari tempat Nyai Rangkas bertapa untuk memohon diberikan seorang anak. Saat sadar Nyai Rangkas merasa heran dan ia tidak tahu dirinya berada dimana. Lalu ia duduk, sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya. Tiba-tiba datang seorang nenek tua membawa segelas air untuk Nyai Rangkas seraya mengatakan “sebaliknya Nyai minum air ini dulu agar badan Nyai lebih segar, dan Nyai jangan teralu banyak bergerak karena badan Nyai masih lemah” Nyai Rangkas pun menjawab “Tapi saya sekarang ada dimana ne dan siap nenek sebenarnya ? dari mana nenek mengetahui nama saya” nenek tua itupun menjawab “nenek ditugaskan oleh dewa angin untuk menjaga Nyai dan anak yang ada dalam kandungan Nyai.” Nyai rangkas masih bingung dengan kejadian-kejadian yang menimpanya sesaat ia tercengang dan teringat akan suaminya, ia merasa menyesal telah meninggalkan suaminya waktu itu. saat Nyai Rangkas merenungi nasibnya, nenek tua itu datang kembali menghampirinya membawa makanan untuk Nyai Rangkas. Kemudian nenek itu mengatakan “sudahlah Nyai, jangan terlalu sedih kau memikirkan kepergian suamimu, karena itu sudah menjadi takdirnya” Nyai Rangkas menjawab “Tapi ne saya sangat mencintainya! Saya tak mampu hidup tanpanya. “Nenek tua itu menjawab lagi “nenek mengerti dengan perasaan nyai! Tapi yang harus Nyai lakukan sekarang adalah memikirkan keadaan anak yang ada dalam kandungan Nyai”........


kbgt:
Rersiger - 21/01/2010 04:09 AM
#72
Mandangin III
kaskus ID : Rersiger
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : MANDANGIN
sumber : Koleksi Pribadi
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Seruyan, Kalteng

Spoiler for

Hari terus berganti, Nyai Rangkas terus menjalani hidupnya di gua bersama nenek tua yang diutus oleh dewa angin untuk menjaga ia dan bayinya. Hingga akhirnya Nyai Rangkas melahirkan seorang anak laki-laki yang mana anak tersebut ia beri nama Nandangin. Bersama nenek tua itu Nyai rangkas merawat dan menjaga mandangin hingga mandangin tumbuh menjadi seorang anak yang tampan dan baik hati.
Seiring dengan berjalannya waktu mandangin tumbuh dewasa. Ia tampan, kuat, dan baik hati serta suka menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongannya, selain itu ia juga sangat berbakti kepada ibunya. Meski memiliki banyak kelebihan mandangin tidak pernah menyombongkan diri dan ia juga tidak pernah mengeluh tidak pernah dalam keadaan serba kekurangan dan tanpa seorang ayah. Sampai pada suatu hari ketika ia berburu di hutan ia melihat ada sebuah batu besar dan ia merasakan melepas rasa penasarannya mandangin naik keatas batu besar itu. tiba-tiba ia mendengar suara seruan yang ia pun tak tahu suara tersebut datang darimana “Mandangin jika kau ingin mendapatkan kekuatan dan kesaktian, lakukanlah pertapaan di atas batu itu selama satu purnama”, Seketika suara itu menghilang, mandangin tercengang sesaat kemudian ia pergi meninggalkan batu besar itu dan pulang kembali ke gua dengan membawa hasil buruannya. Namun sepulangnya dari batu besar itu mandangin tidak berbicara satu katapun kepada ibunya. Wajah dan perilakunya tampak seperti orang kebingungan. Melihat kelakuan mandangin yang tidak sama seperti hari-hari biasanya Nyai Rangkas mengampiri Mandangin dan bertanya “ada apakah gerangan yang terjadi denganmu anakku ? sepertinya kamu sedang bingung”. Mendengar pertanyaan ibunya mandanginpun menceritakan tentang kejadian yang ia alami saat pergi berburu. Mendengar cerita anaknya Nyai Rangkas terdiam. Ia bertanya dalam hati “apakah suara itu adalah suara dewa angin”. Tapi ia mencoba mengalihkan perhatian anaknya dengan mengatakan “mungkin itu hanya halusinasimu saja anakku” Mandangin menjawab mungkin juga ibu”! ia mengiyakan perkataan ibunya meski ia merasa yakin kejadian itu nyata. Malam semakin larut dan ke adaan sunyi senyap Nyai Rangkas tak bisa tidur karena ia terus memikirkan tentang cerita anaknya. Melihat Nyai Rangkas tidak bisa tidur nenek Kiap menghampirinya dan bertanya “apakah gerangan yang kau pikirkan Nyai ? sampai-sampai kau tak bisa tidur” mendengar pertanyaan nenek Kiap Nyai Rangkas langsung menceritakan kejadian yang dialami oleh Mandangin ketika pergi berburu.
Mendengar cerita itu nenek Kiap berkata kepada Nyai Rangkas “Nyai mungkin sekarang sudah waktunya Nyai membiarkan Mandangin untuk pergi mengembara dan menjalankan takdirnya sebagai pembela kebenaran”. Kemudian Nyai Rangkas bertanya pada nenek Kiap. “Lalu apa yang harus saya lakukan untuk Mandangin Ne” nenek Kiap menjawab “Besok pagi kau siapkan bekal untuk mandangin dan kau suruh dia pergi mengembara untuk menegakkan kebenaran. Namun sebelum pergi suruh dia bertapa terlebih dahulu selama satu purnama di batu besar seperti yang telah diserukan oleh dewa angin kepadanya
Malam berganti pagi Nyai Rangkas sibuk menyiapkan bekal untuk mandangin pergi mengembara. Ketik matahari naik dari ufuk timur Nyai Rangkas menghampiri mandangin yang baru saja selesai makan. Ia berkata “wahai anakku sekarang kau sudah menjalankan takdirmu. Namun sebelu kau pergi mengembara kau pergi lakukanlah ritual pertapaan seperti yang telah diserukan oleh dewa angin kepadamu agar kamu mendapatkan kesaktian sebagai bekal melindungi diri dan membela kebenaran”. Mandangin menjawab “Tapi bagaimana dengan ibu? Saya tidak tega meninggalkan ibu di sini!”. Mendengar pertanyaan anaknya dengan berat hati Nyai Rangkas mengatakan” sudahlah anakku, jangan kau pikirkan keadaan ibu suatu saat kau pasti akan bertemu lagi dengan ibu”!. Dengan berat hati pagi itu Nyai Rangkas melepaskan kepergian anaknya tercinta dan mandangin pun pergi meninggalkan gua yang menjadi tempat berteduh selama dalam asuhan ibunya. Dalam perjalanannya menyusuri hutan menuju tempat pertapan tanpa sengaja ia melihat seorang perempuan cantik turun mandi di sungai Mandahan. Walaupun demikian mandangin tetap berjalan menuju tempat pertapaan setibanya di atas batu besar ia langsung melakukan pertapaan. Hari demi hari berlalu hingga satu purnama pun terlewati. Ketika ritual pertapaan selesai tiba-tiba terdengar suara petir seolah-olah memecah bumi kemudian diiringi dengan angin yang bertiup sangat kencang dan dahsyat pertanda kesaktian telah diperoleh Mandangin. Sebelum mandangin meninggalkan pertapaan terdengar suara seruan “Hai mandangin hari ini telah aku turunkan kesaktianku padamu, gunakanlah kesaktian itu untuk membela kebenaran”. Sesaat setelah suara seruan hilang mandangin pergi dan meninggalkan tempat pertapan dan memulai perjalanannya untuk mengembara. Ia terus berjalan menyusuri hutan tepi sungai Mandahan hingga akhirnya ia masuk ke sebuah kampung yang bernama Perek Rango. Kampung itu dikuasai oleh seorang penguasa yang bernama Tuman ia sangt jahat dan kejam serta suka menindas lain. Di kampung itu tidak ada lagi kedamaian semua penduduk tampak ketakutan ketika melihat Tuman dan gerombolannya. Meski demikian mandangin tetap berjalan menyusri kampung untuk mencari tempat peristirahatan. Ketika sedang duduk melepas lelah di sebuah pondok kecil, tiba-tiba mandangin melihat seorang gadis berjalan melintasi di hadapannya. Yang mana perempuan itu adalah istri dari Tuman sang penguasa yang kejam. Sesat mandangin tercengang dan merasa wajah perempuan itu tak asing lagi. Dan ternyata perempuan itu adalah orang yang ia lihat turun mandi di sungai mandahan ketika ia hendak pergi bertapa......


kbgt:
Rersiger - 21/01/2010 04:11 AM
#73
Mandangin IV
kaskus ID : Rersiger
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : MANDANGIN
sumber : Koleksi Pribadi
keterangan : Cerita Rakyat Masyarakat Kab. Seruyan, Kalteng

Spoiler for

Angin bertiup sepoi-sepoi udara menjadi semakin sejuk menambah kenikmatan suasana pada sore itu. belum puas melihat suasana tiba-tiba datang gerombolan toman yang tampak beringas dan kejam dengan menyert beberapa warga dan menggotong tiga orang perempuan desa. Meski sampbil teriak mereka tampak tak berdaya melawan kekuasaan gerombolan tersebut. Melihat keadaan itu mandangin langsung berdiri dan menghampiri gerombolan itu seraya mengatakan “salah seorang dari gerombolan itu menjawab “Siapa kamu berani-beraninya kamu menantang kami”! mandangin menjawab “aku adalah mandangin dan aku tidak suka melihat ketidakadilan”. Mendengar perkataan mandangin para gerombolan itu marah dan menghadang mandangin dengan mandau. Namun mandangin tidak takut meski ia punya senjata hingga akhirnya perkelahianpun terjadi. Mandangin menghantam gerombolan itu dengan jurus-jurusnya hingga sebagian jatuh terkapar dan terluka karena merasa tak mampu melawan mandangin gerombolan itu pergi dan melaporkan kejadian itu kepada penguasa kampung yaitu si Tuman. Mendengar cerita itu Tuman marah dan mengambil senjata pusakanya kemudian mencari mandangin yang berani menantang kekuasaannya dengan diikuti oleh beberapa gerombolannya. Sampai akhirnya ia menemukan mandangin di sebuah rumah makan. Tanpa basa-basi toman langsung menghadang mandangin dengan senjata pusakanya. Namun mandangin tidak menanggapinya hingga akhirnya tuman memukulnya dan iapun menghela untuk membela diri. Dengan beringas toman terus memukul mandangin. Karena sudah tidak tahan dengan perlakuan Toman mandangin melakukan perlawanan dan perkalahian terjadi dengan sangat sengit. Mereka saling adu kekuatan sihir hingga akhirnya tuman kehabisan energi karena terkena pukulan maut mandangin. Ketika toman tak berdaya tiba-tiba datang seorang perempuan menikamnya dari belakang dengan menggunakan sebuah belati. Dan ternyata perempuan itu adalah korban keserakahan dan nafsu birahi toman. Saat melihat wajah perempuan itu mandangin teringat kembali dengan perempuan yang ia lihat turun mandi di sungai mandahan. Namun ia tetap tak menyapanya. Ia hanya mampu memandang dari kejauhan.
Melihat Toman sudah mati masyarakat beramai-ramai menghampiri mandangin, mereka mengucapkan terimakasih karena mandangin mampu mengalahkan Toman dan membebaskan mereka dari cengkraman dan kekuasaan sebagai ucapakan terimakasih masyarakat bersepakat mengangkat Mandangin untuk menjadi pemimpin dan pelindung mereka dari kejahatan.
Karena sebagian besar masyarakat penghumin wilayah Perek Ranggo memintanya memintanya memimpin daerah itu maka mandangin tak mampu menolaknya hingga akhirnya ia menjadi pemimpin wilayah Perek Rango yang arib dan bijaksana sesuai dengan harapan ibunya tercinta.
Semenjak dipimpin oleh mandangin daerah perek rango menjadi daerah yang aman dan penuh kedamaian yang semua itu dapat dilihat dari wajah-wajah penduduk yang memancarkan keceriaan dan kebahagiaan.
Setiap hari mandangin selalu teringat dengan wajah perempuan cantik yang ia lihat turun mandi disungai mandahan. Untuk menghapus rasa penasarannya terhadap perempuan itu ia datang ke rumah perempuan itu dan mengambil perempuan itu untuk menjadi isterinya. Karena mandangin, adalah seorang pria yang tampan dan bijaksana sehingga tak ada perempuan yang mampu menolak lamarannya.
Akhirnya mandangin dan perempuan itu menikah dan membina rumah tangga yang bahagia bersama keturunannya.
Daerah Perek Rango selalu dikuasai oleh keturunan mandangin secara turun temurun dan daerah itu selalu dalam keadaan damai hingga sekarang.
Konon katanya jika kita ingin melihat daerah itu harus melakukan pertapaan di sebuah batu besar tempat pertapaan Nyai Rangkas dan Mandangin.


kbgt:
verditch - 21/01/2010 11:27 AM
#74

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul Kutukan Raja Pulau Mintin

sumber : dongeng.org

keterangan : Cerita Rakyat Dari Kalimantan Tengah

Spoiler for
Quote:
Pada zaman dahulu, terdapatlah sebuah kerajaan di Pulau Mintin daerah Kahayan Hilir, Kalimantan Tengah. Kerajaan itu sangat terkenal akan kearifan rajanya. Akibatnya, kerajaan itu menjadi wilayah yang tenteram dan makmur.

Pada suatu hari, permaisuri dari raja tersebut meninggal dunia. Sejak saat itu raja menjadi murung dan nampak selalu sedih. Keadaan ini membuatnya tidak dapat lagi memerintah dengan baik. Pada saat yang sama, keadaan kesehatan raja inipun makin makin menurun. Guna menanggulangi situasi itu, raja berniat untuk pergi berlayar guna menghibur hatinya.

Untuk melanjutkan pemerintahan maka raja itu menyerahkan tahtanya pada kedua anak kembarnya yang bernama Naga dan Buaya. Mereka pun menyanggupi keinginan sang raja. Sejak sepeninggal sang raja, kedua putranya tersebut memerintah kerajaan. Namun sayangnya muncul persoalan mendasar baru.

Kedua putra raja tersebut memiliki watak yang berbeda. Naga mempunyai watak negatif seperti senang berfoya-foya, mabuk-mabukan dan berjudi. Sedangkan buaya memiliki watak positif seperti pemurah, ramah tamah, tidak boros dan suka menolong.

Melihat tingkah laku si Naga yang selalu menghambur-hamburkan harta kerajaan, maka si Buaya pun marah. Karena tidak bisa dinasehati maka si Buaya memarahi si Naga. Tetapi rupaya naga ini tidak mau mendengar. Pertengkaran itu berlanjut dan berkembang menjadi perkelahian. Prajurit kerajaan menjadi terbagi dua, sebahagian memihak kepada Naga dan sebagian memihak pada Buaya. Perkelahian makin dahsyat sehingga memakan banyak korban.

Dalam pelayarannya, Sang raja mempunyai firasat buruk. Maka ia pun mengubah haluan kapalnya untuk kembali ke kerajaanya. Betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan bahwa putera kembarnya telah saling berperang. Dengan berang ia pun berkata,”kalian telah menyia-nyiakan kepercayaanku. Dengan peperangan ini kalian sudah menyengsarakan rakyat. Untuk itu terimalah hukumanku. Buaya jadilah engkau buaya yang sebenarnya dan hidup di air. Karena kesalahanmu yang sedikit, maka engkau akan menetap di daerah ini. Tugasmu adalah menjaga Pulau Mintin. Sedangkan engkau naga jadilah engkau naga yang sebenarnya. Karena kesalahanmu yang besar engkau akan tinggal di sepanjang Sungai Kapuas. Tugasmu adalah menjaga agar Sungai Kapuas tidak ditumbuhi Cendawan Bantilung.”

Setelah mengucapkan kutukan itu, tiba-tiba langit gelap dan petir menggelegar. Dalam sekejap kedua putranya telah berubah wujud. Satu menjadi buaya. Yang lainnya menjadi naga.
verditch - 21/01/2010 11:38 AM
#75

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul Ratu Aji Bidara Putih/Asal Usul Danau Lipan

sumber : dongeng.org

keterangan : Cerita Rakyat Dari Kalimantan Timur

Spoiler for
Quote:
Kecamatan Muara Kaman (Kalimantan Timur) terletak di tepi aliran sungai Mahakam. Jaraknya cukup jauh dari kota Samarinda. Keadaan perkampungannya terdiri dari rumah-rumah papan yang sederhana. Di wilayah ini beredar sebuah cerita legenda yang amat dikenal oleh penduduk. Kisah tentang seorang ratu yang cantik jelita dengan pasukan lipan raksasanya.

Dahulu kala negeri Muara Kaman diperintah oleh seorang ratu namanya Ratu Aji Bidara Putih. Ratu Aji Bidara Puthi adalah seorang gadis yang cantik jelita. Anggun pribadi dan penampilannya serta amat bijaksana. Semua kelebihannya itu membuat ia terkenal sampai di mana-mana; bahkan sampai ke manca negara. Sang Ratu benar-benar bagaikan kembang yang cantik, harum mewangi. Maka tidaklah mengherankan apabila kemudian banyak raja, pangeran dan bangsawan yang ingin mempersunting sebagai istri.

Pinangan demi pinangan mengalir bagai air sungai Mahakam yang tak pernah berhenti mengalir. Namun sang Ratu selalu menolak. “Belum saatnya aku memikirkan pernikahan. Diriku dan perhatianku masih dibutuhkan oleh rakyat yang kucintai. Aku masih ingin terus memajukan negeri ini,” ujarnya.

Kemudian pada suatu hari muncullah sebuah jung atau kapal besar dari negeri Cina. Kapal itu melayari sungani Mahakam yang luas bagai lautan. Menuju ke arah hulu. Hingga akhirnya berlabuh tidak jauh dari pelabuhan negeri Muara Kaman.

Penduduk setempat mengira penumpang kapal itu datang untuk berdagang. Sebab waktu itu sudah umum kapal-kapal asing datang dan singgah untuk berdagang. Akan tetapi ternyata penumpang kapal itu mempunyai tujuan lain.

Sesungguhnya kapal itu adalah kapal milik seorang pangeran yang terkenal kekayaannya di negeri Cina. Ia disertai sepasukan prajurit yang gagah perkasa dan amat mahir dalam ilmu beladiri. Kedatangannya ke Muara Kaman semata-mata hanya dengan satu tujuan. Bukan mau berdagang, tetapi mau meminang Ratu Aji Bidara Putih!

Kemudian turunlah para utusan sang Pangeran. Mereka menghadap Ratu AJi Bidara Putih di istana negeri. Mereka membawa barang-barang antik dari emas, dan keramik Cina yang terkenal. Semua itu mereka persembahkan sebagai hadiah bagi Ratu Aji Bidara Putih dari junjungan mereka. Sambil berbuat demikian mereka menyampaikan pinangan Sang Pangeran terhadap diri Ratu Aji Bidara Putih.

Kali ini sang Ratu tidak langsung menolak. Ia mengatakan bahwa ia masih akan memikirkan pinangan Sang Pangeran. Lalu dipersilakannya para utusan kembali ke kapal. Setelah para utusan meninggalkan istana, Ratu memanggil seorang punggawa kepercayaannya.

“Paman,” ujarnya, “para utusan tadi terasa amat menyanjung-nyanjung junjungannya. Bahwa pangeran itu tampan, kaya dan perkasa. Aku jadi ingin tahu, apakaah itu semua benar atau cuma bual belaka. Untuk itu aku membutuhkan bantuannmu.”

“Apa yang mesti saya lakukan, Tuanku?” tanya si punggawa.

“Nanti malam usahakanlah kau menyelinap secara diam-diam ke atas kapal asing itu. Selidikilah keadaan pangeran itu. Kemudian laporkan hasilnya kepadaku.”

“Baik, Tuanku. Perintah Anda akan saya laksanakan sebaik-baiknya.” Ketika selimut malam turun ke bumi, si punggawa pun berangkat melaksanakan perintah junjungannya. Dengan keahliannya ia menyeberangi sungai tanpa suara. Lalu ia melompat naik ke atas geladak kapal yang sunyi. Dengan gerak-gerik waspada ia menghindari para penjaga. Dengan hati-hati ia mencari bilik sang pangeran. Sampai akhirnya ia berhasil menemukannya.

Pintu bilik yangsangat mewah itu tertutup rapat. Tetapi keadaan di dalamnya masih benderang, tanda sang pangeran belum tidur. Si punggawa mencari celah untuk mengintip kedalam, namun tidak menemukan. Maka akhirnya ia hanya dapat menempelkan telinga ke dinding bilik, mendengarkan suara-suara dari dalam.

Pada saat itu sebenarnya sang Pangeran Cina sedang makan dengan sumpit, sambil sesekali menyeruput arak dari cawan. Suara decap dan menyeruput mulutnya mengejutkan sipunggawa. “Astaga.. suara ketika makam mengingatkanku kepada… kepada apa, ya?” pikir si Punggawa sambil mengingat-ingat. Kemudian si Punggawa benar-benar ingat. Pada waktu ia berburu dan melihat babi hutan sedang minum di anak sungai. Suaranya juga berdecap-decap dan menyeruput seperti itu. Ia juga teringat pada suara dari mulut anjing dan kucing ketika melahap makanan.

“Ah ya … benar-benar persis … persis seperti suara yang kudengar! Jadi jangan-jangan..” Tiba-tiba mata si punggawa terbelalak. Seperti orang teringat sesuatu yang mengejutkan. Hampir serentak dengan itu ia pun menyelinap meninggalkan tempat bersembunyi. Ia meninggalkan kapal dan cepat-cepat kembali untuk melaporkan kepada Ratu Aji Bidara Putih.

“Kau jangan mengada-ada, Paman,” tegur Ratu setelah mendengar laporan punggawa itu.

“Saya tidak mengada-ada, Tuanku! Suaranya ketika makan tadi meyakinkan saya, ” kata si punggawa. “Pangeran itu pasti bukan manusia seperti kita. Pasti dia siluman! Entah siluman babi hutan, anjing atau kucing. Pokoknya siluman! Hanya pada waktu siang ia berubah ujud menjadi manusia! Percayalah Tuanku. Saya tidak mengada-ada..”

Penjelasan si punggawa yang meyakinkan membuat Ratu Aji Bidara Putih akhirnya percaya. Tidak lucu, pikirnya, kalau ia sampai menikah dengan siluman. Padahal banyak raja dan pangeran tampan yang telah meminangnya. Maka pada keesokan harinya dengan tegas ia menyatakan penolakannya terhadap pinangan pangeran itu.

Sang Pangeran amat murka mendengar penolakan Ratu Aji Bidara Putih. Berani benar putri itu menolaknya. Dalam kekalapannya ia segera memerintahkan pada prajuritnya untuk menyerang negeri Muara Kaman.

Para prajurit itu menyerbu negeri Muara Kaman. Kentara bahwa mereka lebih berpengalaman dalam seni bertempur. Para prajurit Muara Kaman terdesak, korban yang jatuh akibat pertempuran itu semakin bertambah banyak. Sementara para prajurit suruhan sang pangeran makin mendekat ke arah istana.

Ratu Aji Bidara Putih merasa sedih dan panik. Namun kemudian ia berusaha menenangkan pikirannya. Ia mengheningkan cipta. setelah itu ia mengunyah sirih. Kemudian kunyahan sepah sirih digenggamnya erat-erat. Lalu berkata, “Jika benar aku keturunan raja-raja yang sakti, terjadilah sesuatu yang dapat mengusir musuh yang sedang mengancam negeriku!”

Serentak dengan itu dilemparkannya sepah sirih itu ke arena pertempuran… dan , astaga..lihatlah! Tiba-tiba sepah sirih itu berubah menjadi lipan-lipan raksasa yang amat banyak jumlahnya! Lipan-lipan yang panjangnya lebih dari satu meter itu segera menyerang para prajurit Pangeran Cina. Para prajurit itu menjadi ketakutan. Mereka lari tunggang-langgang dan kembali ke kapal.

Tetapi lipan-lipan itu tidak berhenti menyerbu. Tiga ekor lipan raksasa mewakili kelompoknya. Mereka berenang ke kapal, lalu membalikkannya hingga kapal itu tenggelam beserta seluruh penumpangnya dan isinya… Tempat bekas tenggelamnya kapal itu hingga kini oleh penduduk Muara Kaman disebut Danau Lipan. Konon, menurut empunya cerita, dulu di tempat ini sesekali ditemukan barang-barang antik dari negeri Cina.
verditch - 21/01/2010 12:46 PM
#76

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Dari Kalimantan Timur Berjudul Legenda Pesut Mahakam

sumber : dongeng.org

keterangan : Part 1

Spoiler for
Quote:
Di Kalimanatan Timur terdapat sebuah sungai yang terkenal yaitu Sungai Mahakam. Di sungai tersebut terdapat ikan yang sangat khas bentuknya yaitu Pesut Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) adalah lumba-lumba air tawar Indonesia. Tubuh tegap, sirip punggung kecil & segitiga serta kepala bulat/tumpul dgn mata yg kecil. Tergolong lumba-lumba kecil, dgn panjang dewasa 2,0 – 2,75 m, bayi pesut 1,0 m. Pesut tdk terlalu aktif, terkadang melompat rendah). Sebenarnya pesut bukanlah ikan tetapi mamalia air sebagaimana Lumba-lumba dan Paus. Menurut penduduk sekitar sungai tersebut Pesut bukanlah sembarang ikan tetapi adalah jelmaan manusia.

Ceritanya pada jaman dahulu kala di rantau Mahakam, terdapat sebuah dusun yang didiami oleh beberapa keluarga. Mata pencaharian mereka kebanyakan adalah sebagai petani maupun nelayan. Setiap tahun setelah musim panen, penduduk dusun tersebut biasanya mengadakan pesta adat yang diisi dengan beraneka macam pertunjukan ketangkasan dan kesenian.

Ditengah masyarakat yang tinggal di dusun tersebut, terdapat suatu keluarga yang hidup rukun dan damai dalam sebuah pondok yang sederhana. Mereka terdiri dari sepasang suami-istri dan dua orang putra dan putri. Kebutuhan hidup mereka tidak terlalu sukar untuk dipenuhi karena mereka memiliki kebun yang ditanami berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran. Begitu pula segala macam kesulitan dapat diatasi dengan cara yang bijaksana, sehingga mereka hidup dengan bahagia selama bertahun-tahun.

Pada suatu ketika, sang ibu terserang oleh suatu penyakit. Walau telah diobati oleh beberapa orang tabib, namun sakit sang ibu tak kunjung sembuh pula hingga akhirnya ia meninggal dunia. Sepeninggal sang ibu, kehidupan keluarga ini mulai tak terurus lagi. Mereka larut dalam kesedihan yang mendalam karena kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Sang ayah menjadi pendiam dan pemurung, sementara kedua anaknya selalu diliputi rasa bingung, tak tahu apa yang mesti dilakukan. Keadaan rumah dan kebun mereka kini sudah tak terawat lagi. Beberapa sesepuh desa telah mencoba menasehati sang ayah agar tidak larut dalam kesedihan, namun nasehat-nasehat mereka tak dapat memberikan perubahan padanya. Keadaan ini berlangsung cukup lama.

Suatu hari di dusun tersebut kembali diadakan pesta adat panen. Berbagai pertunjukan dan hiburan kembali digelar. Dalam suatu pertunjukan ketangkasan, terdapatlah seorang gadis yang cantik dan mempesona sehingga selalu mendapat sambutan pemuda-pemuda dusun tersebut bila ia beraksi. Mendengar berita yang demikian itu, tergugah juga hati sang ayah untuk turut menyaksikan bagaimana kehebatan pertunjukan yang begitu dipuji-puji penduduk dusun hingga banyak pemuda yang tergila-gila dibuatnya.

Malam itu adalah malam ketujuh dari acara keramaian yang dilangsungkan. Perlahan-lahan sang ayah berjalan mendekati tempat pertunjukan dimana gadis itu akan bermain. Sengaja ia berdiri di depan agar dapat dengan jelas menyaksikan permainan serta wajah sang gadis. Akhirnya pertunjukan pun dimulai. Berbeda dengan penonton lainnya, sang ayah tidak banyak tertawa geli atau memuji-muji penampilan sang gadis. Walau demikian sekali-sekali ada juga sang ayah tersenyum kecil. Sang gadis melemparkan senyum manisnya kepada para penonton yang memujinya maupun yang menggodanya. Suatu saat, akhirnya bertemu jua pandangan antara si gadis dan sang ayah tadi. Kejadian ini berulang beberapa kali, dan tidak lah diperkirakan sama sekali kiranya bahwa terjalin rasa cinta antara sang gadis dengan sang ayah dari dua orang anak tersebut.

Demikianlah keadaannya, atas persetujuan kedua belah pihak dan restu dari para sesepuh maka dilangsungkanlah pernikahan antara mereka setelah pesta adat di dusun tersebut usai. Dan berakhir pula lah kemuraman keluarga tersebut, kini mulailah mereka menyusun hidup baru. Mereka mulai mengerjakan kegiatan-kegiatan yang dahulunya tidak mereka usahakan lagi. Sang ayah kembali rajin berladang dengan dibantu kedua anaknya, sementara sang ibu tiri tinggal di rumah menyiapkan makanan bagi mereka sekeluarga. Begitulah seterusnya sampai berbulan-bulan lamanya hingga kehidupan mereka cerah kembali.

Dalam keadaan yang demikian, tidak lah diduga sama sekali ternyata sang ibu baru tersebut lama kelamaan memiliki sifat yang kurang baik terhadap kedua anak tirinya. Kedua anak itu baru diberi makan setelah ada sisa makanan dari ayahnya. Sang ayah hanya dapat memaklumi perbuatan istrinya itu, tak dapat berbuat apa-apa karena dia sangat mencintainya. Akhirnya, seluruh rumah tangga diatur dan berada ditangan sang istri muda yang serakah tersebut. Kedua orang anak tirinya disuruh bekerja keras setiap hari tanpa mengenal lelah dan bahkan disuruh mengerjakan hal-hal yang diluar kemampuan mereka.

Pada suatu ketika, sang ibu tiri telah membuat suatu rencana jahat. Ia menyuruh kedua anak tirinya untuk mencari kayu bakar di hutan.
“Kalian berdua hari ini harus mencari kayu bakar lagi!” perintah sang ibu, “Jumlahnya harus tiga kali lebih banyak dari yang kalian peroleh kemarin. Dan ingat! Jangan pulang sebelum kayunya banyak dikumpulkan. Mengerti?!”

“Tapi, Bu…” jawab anak lelakinya, “Untuk apa kayu sebanyak itu…? Kayu yang ada saja masih cukup banyak. Nanti kalau sudah hampir habis, barulah kami mencarinya lagi…”

“Apa?! Kalian sudah berani membantah ya?! Nanti kulaporkan ke ayahmu bahwa kalian pemalas! Ayo, berangkat sekarang juga!!” kata si ibu tiri dengan marahnya.

Anak tirinya yang perempuan kemudian menarik tangan kakaknya untuk segera pergi. Ia tahu bahwa ayahnya telah dipengaruhi sang ibu tiri, jadi sia-sia saja untuk membantah karena tetap akan dipersalahkan jua. Setelah membawa beberapa perlengkapan, berangkatlah mereka menuju hutan. Hingga senja menjelang, kayu yang dikumpulkan belum mencukupi seperti yang diminta ibu tiri mereka. Terpaksa lah mereka harus bermalam di hutan dalam sebuah bekas pondok seseorang agar dapat meneruskan pekerjaan mereka esok harinya. Hampir tengah malam barulah mereka dapat terlelap walau rasa lapar masih membelit perut mereka......(bersambung ke part-2)
verditch - 21/01/2010 12:47 PM
#77

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Dari Kalimantan Timur Berjudul Legenda Pesut Mahakam

sumber : dongeng.org

keterangan : Part 2

Spoiler for
Quote:
Esok paginya, mereka pun mulai mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya. Menjelang tengah hari, rasa lapar pun tak tertahankan lagi, akhirnya mereka tergeletak di tanah selama beberapa saat. Dan tanpa mereka ketahui, seorang kakek tua datang menghampiri mereka.
“Apa yang kalian lakukan disini, anak-anak?!” tanya kakek itu kepada mereka. Kedua anak yang malang tersebut lalu menceritakan semuanya, termasuk tingkah ibu tiri mereka dan keadaan mereka yang belum makan nasi sejak kemarin hingga rasanya tak sanggup lagi untuk meneruskan pekerjaan.

“Kalau begitu…, pergilah kalian ke arah sana.” kata si kakek sambil menunjuk ke arah rimbunan belukar, “Disitu banyak terdapat pohon buah-buahan. Makanlah sepuas-puasnya sampai kenyang. Tapi ingat, janganlah dicari lagi esok harinya karena akan sia-sia saja. Pergilah sekarang juga!”

Sambil mengucapkan terima kasih, kedua kakak beradik tersebut bergegas menuju ke tempat yang dimaksud. Ternyata benar apa yang diucapkan kakek tadi, disana banyak terdapat beraneka macam pohon buah-buahan. Buah durian, nangka, cempedak, wanyi, mangga dan pepaya yang telah masak tampak berserakan di tanah. Buah-buahan lain seperti pisang, rambutan dan kelapa gading nampak bergantungan di pohonnya. Mereka kemudian memakan buah-buahan tersebut hingga kenyang dan badan terasa segar kembali. Setelah beristirahat beberapa saat, mereka dapat kembali melanjutkan pekerjaan mengumpulkan kayu hingga sesuai dengan yang diminta sang ibu tiri.

Menjelang sore, sedikit demi sedikit kayu yang jumlahnya banyak itu berhasil diangsur semuanya ke rumah. Mereka kemudian menyusun kayu-kayu tersebut tanpa memperhatikan keadaan rumah. Setelah tuntas, barulah mereka naik ke rumah untuk melapor kepada sang ibu tiri, namun alangkah terkejutnya mereka ketika melihat isi rumah yang telah kosong melompong.

Ternyata ayah dan ibu tiri mereka telah pergi meninggalkan rumah itu. Seluruh harta benda didalam rumah tersebut telah habis dibawa serta, ini berarti mereka pergi dan tak akan kembali lagi ke rumah itu. Kedua kakak beradik yang malang itu kemudian menangis sejadi-jadinya. Mendengar tangisan keduanya, berdatanganlah tetangga sekitarnya untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi. Mereka terkejut setelah mengetahui bahwa kedua ayah dan ibu tiri anak-anak tersebut telah pindah secara diam-diam.

Esok harinya, kedua anak tersebut bersikeras untuk mencari orangtuanya. Mereka memberitahukan rencana tersebut kepada tetangga terdekat. Beberapa tetangga yang iba kemudian menukar kayu bakar dengan bekal bahan makanan bagi perjalanan kedua anak itu. Menjelang tengah hari, berangkatlah keduanya mencari ayah dan ibu tiri mereka.

Telah dua hari mereka berjalan namun orangtua mereka belum juga dijumpai, sementara perbekalan makanan sudah habis. Pada hari yang ketiga, sampailah mereka di suatu daerah yang berbukit dan tampaklah oleh mereka asap api mengepul di kejauhan. Mereka segera menuju ke arah tempat itu sekedar bertanya kepada penghuninya barangkali mengetahui atau melihat kedua orangtua mereka.

Mereka akhirnya menjumpai sebuah pondok yang sudah reot. Tampak seorang kakek tua sedang duduk-duduk didepan pondok tersebut. Kedua kakak beradik itu lalu memberi hormat kepada sang kakek tua dan memberi salam.

“Dari mana kalian ini? Apa maksud kalian hingga datang ke tempat saya yang jauh terpencil ini?” tanya sang kakek sambil sesekali terbatuk-batuk kecil.

“Maaf, Tok.” kata si anak lelaki, “Kami ini sedang mencari kedua urangtua kami. Apakah Datok pernah melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan yang masih muda lewat disini?”

Sang kakek terdiam sebentar sambil mengernyitkan keningnya, tampaknya ia sedang berusaha keras untuk mengingat-ingat sesuatu.
“Hmmm…, beberapa hari yang lalu memang ada sepasang suami-istri yang datang kesini.” kata si kakek kemudian, “Mereka banyak sekali membawa barang. Apakah mereka itu yang kalian cari?”

“Tak salah lagi, Tok.” kata anak lelaki itu dengan gembira, “Mereka pasti urangtuha kami! Ke arah mana mereka pergi, Tok?”

“Waktu itu mereka meminjam perahuku untuk menyeberangi sungai. Mereka bilang, mereka ingin menetap diseberang sana dan hendak membuat sebuah pondok dan perkebunan baru. Cobalah kalian cari di seberang sana.”

“Terima kasih, Tok…” kata si anak sulung tersebut, “Tapi…, bisakah Datok mengantarkan kami ke seberang sungai?”

“Datok ni dah tuha… mana kuat lagi untuk mendayung perahu!” kata si kakek sambil terkekeh, “Kalau kalian ingin menyusul mereka, pakai sajalah perahuku yang ada ditepi sungai itu.”

Kakak beradik itu pun memberanikan diri untuk membawa perahu si kakek. Mereka berjanji akan mengembalikan perahu tersebut jika telah berhasil menemukan kedua orangtua mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka lalu menaiki perahu dan mendayungnya menuju ke seberang. Keduanya lupa akan rasa lapar yang membelit perut mereka karena rasa gembira setelah mengetahui keberadaan orangtua mereka. Akhirnya mereka sampai di seberang dan menambatkan perahu tersebut dalam sebuah anak sungai. Setelah dua hari lamanya berjalan dengan perut kosong, barulah mereka menemui ujung sebuah dusun yang jarang sekali penduduknya.

Tampaklah oleh mereka sebuah pondok yang kelihatannya baru dibangun. Perlahan-lahan mereka mendekati pondok itu. Dengan perasaan cemas dan ragu si kakak menaiki tangga dan memanggil-manggil penghuninya, sementara si adik berjalan mengitari pondok hingga ia menemukan jemuran pakaian yang ada di belakang pondok. Ia pun teringat pada baju ayahnya yang pernah dijahitnya karena sobek terkait duri, setelah didekatinya maka yakinlah ia bahwa itu memang baju ayahnya. Segera ia berlari menghampiri kakaknya sambil menunjukkan baju sang ayah yang ditemukannya di belakang. Tanpa pikir panjang lagi mereka pun memasuki pondok dan ternyata pondok tersebut memang berisi barang-barang milik ayah mereka.

Rupanya orangtua mereka terburu-buru pergi, sehingga di dapur masih ada periuk yang diletakkan diatas api yang masih menyala. Di dalam periuk tersebut ada nasi yang telah menjadi bubur. Karena lapar, si kakak akhirnya melahap nasi bubur yang masih panas tersebut sepuas-puasnya. Adiknya yang baru menyusul ke dapur menjadi terkejut melihat apa yang sedang dikerjakan kakaknya, segera ia menyambar periuk yang isinya tinggal sedikit itu. Karena takut tidak kebagian, ia langsung melahap nasi bubur tersebut sekaligus dengan periuknya.

Karena bubur yang dimakan tersebut masih panas maka suhu badan mereka pun menjadi naik tak terhingga. Dalam keadaan tak karuan demikian, keduanya berlari kesana kemari hendak mencari sungai. Setiap pohon pisang yang mereka temui di kiri-kanan jalan menuju sungai, secara bergantian mereka peluk sehingga pohon pisang tersebut menjadi layu. Begitu mereka tiba di tepi sungai, segeralah mereka terjun ke dalamnya. Hampir bersamaan dengan itu, penghuni pondok yang memang benar adalah orangtua kedua anak yang malang itu terheran-heran ketika melihat banyak pohon pisang di sekitar pondok mereka menjadi layu dan hangus.

Namun mereka sangat terkejut ketika masuk kedalam pondok dan mejumpai sebuah bungkusan dan dua buah mandau kepunyaan kedua anaknya. Sang istri terus memeriksa isi pondok hingga ke dapur, dan dia tak menemukan lagi periuk yang tadi ditinggalkannya. Ia kemudian melaporkan hal itu kepada suaminya. Mereka kemudian bergegas turun dari pondok dan mengikuti jalan menuju sungai yang di kiri-kanannya banyak terdapat pohon pisang yang telah layu dan hangus.

Sesampainya di tepi sungai, terlihatlah oleh mereka dua makhluk yang bergerak kesana kemari didalam air sambil menyemburkan air dari kepalanya. Pikiran sang suami teringat pada rentetan kejadian yang mungkin sekali ada hubungannya dengan keluarga. Ia terperanjat karena tiba-tiba istrinya sudah tidak ada disampingnya. Rupanya ia menghilang secara gaib. Kini sadarlah sang suami bahwa istrinya bukanlah keturunan manusia biasa. Semenjak perkimpoian mereka, sang istri memang tidak pernah mau menceritakan asal usulnya.

Tak lama berselang, penduduk desa datang berbondong-bondong ke tepi sungai untuk menyaksikan keanehan yang baru saja terjadi. Dua ekor ikan yang kepalanya mirip dengan kepala manusia sedang bergerak kesana kemari ditengah sungai sambil sekali-sekali muncul di permukaan dan menyemburkan air dari kepalanya. Masyarakat yang berada di tempat itu memperkirakan bahwa air semburan kedua makhluk tersebut panas sehingga dapat menyebabkan ikan-ikan kecil mati jika terkena semburannya.

Oleh masyarakat Kutai, ikan yang menyembur-nyemburkan air itu dinamakan ikan Pasut atau Pesut. Sementara masyarakat di pedalaman Mahakam menamakannya ikan Bawoi.

***
verditch - 23/01/2010 01:15 PM
#78

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul Asal Usul Burung Ruai

sumber : dongeng.org

keterangan : Cerita Rakyat dari Kalimantan Barat

Spoiler for
Quote:
Konon pada zaman dahulu di daerah Kabupaten Sambas (Kalimantan Barat), tepatnya di pedalaman benua Bantahan sebelah Timur Kota Sekura Ibukota Kecamatan Teluk Keramat yang dihuni oleh Suku Dayak, telah terjadi peristiwa yang sangat menakjubkan untuk diketahui dan menarik untuk dikaji, sehingga peristiwa itu diangkat ke permukaan.

Menurut informasi orang bahwa di daerah tersebut terdapat sebuah kerajaan yang kecil, letaknya tidak jauh dari Gunung Bawang yang berdampingan dengan Gunung Ruai. Tidak jauh dari kedua gunung dimaksud terdapatlah sebuah gua yang bernama “Gua Batu”, di dalamnya terdapat banyak aliran sungai kecil yang di dalamnya terdapat banyak ikan dan gua tersebut dihuni oleh seorang kakek tua renta yang boleh dikatakan sakti.

Cerita dimulai dengan seorang raja yang memerintah pada kerajaan di atas dan mempunyai tujuh orang putri, raja itu tidak mempunyai istri lagi sejak meninggalnya permaisuri atau ibu dari ketujuh orang putrinya. Di antara ketujuh orang putri tersebut ada satu orang putri raja yang bungsu atau Si Bungsu. Si Bungsu mempunyai budi pekerti yang baik, rajin, suka menolong dan taat pada orang tua, oleh karena itu tidak heran sang ayah sangat menyayanginya. Lain pula halnya dengan keenam kakak-kakaknya, perilakunya sangat berbeda jauh dengan Si Bungsu, keenam kakaknya mempunyai hati yang jahat, iri hati, dengki, suka membantah orang tua, dan malas bekerja. Setiap hari yang dikerjakannya hanya bermain-main saja.

Dengan kedua latar belakang inilah, maka sang ayah (raja) menjadi pilih kasih terhadap putri-putrinya. Hampir setiap hari keenam kakak Si Bungsu dimarah oleh ayahnya, sedangkan Si Bungsu sangat dimanjakannya. Melihat perlakuan inilah maka keenam kakak Si Bungsu menjadi dendam, bahkan benci terhadap adik kandungnya sendiri, maka bila ayahnya tidak ada di tempat, sasaran sang kakak adalah melampiaskan dendam kepada Si Bungsu dengan memukul habis-habisan tanpa ada rasa kasihan sehingga tubuh Si Bungsu menjadi kebiru-biruan dan karena takut dipukuli lagi Si Bungsu menjadi takut dengan kakaknya.

Untuk itu segala hal yang diperintahkan kakaknya mau tidak mau Si Bungsu harus menurut seperti: mencuci pakaian kakaknya, membersihkan rumah dan halaman, memasak, mencuci piring, bahkan yang paling mengerikan lagi, Si Bungsu biasa disuruh untuk mendatangkan beberapa orang taruna muda untuk teman/menemani kakaknya yang enam orang tadi. Semua pekerjaan hanya dikerjakan Si Bungsu sendirian sementara ke enam orang kakaknya hanya bersenda gurau saja.

Sekali waktu pernah akibat perlakuan keenam kakaknya itu terhadap Si Bungsu diketahui oleh sang raja (ayah) dengan melihat badan (tubuh) Si Bungsu yang biru karena habis dipukul tetapi takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada sang ayah, dan bila sang ayah menanyakan peristiwa yang menimpa Si Bungsu kepada keenam kakaknya maka keenam orang kakaknya tersebut membuat alasan-alasan yang menjadikan sang ayah percaya seratus persen bahwa tidak terjadi apa-apa. Salah satu yang dibuat alasan sang kakak adalah sebab badan Si Bungsu biru karena Si Bungsu mencuri pepaya tetangga, kemudian ketahuan dan dipukul oleh tetangga tersebut. Karena terlalu percayanya sang ayah terhadap cerita dari sang kakak maka sang ayah tidak memperpanjang permasalahan dimaksud.

Begitulah kehidupan Si Bungsu yang dialami bersama keenam kakaknya, meskipun demikian Si Bungsu masih bersikap tidak menghadapi perlakuan keenam kakaknya, kadang-kadang Si Bungsu menangis tersedu-sedu menyesali dirinya mengapa ibunya begitu cepat meninggalkannya. sehingga ia tidak dapat memperoleh perlindungan. Untuk perlindungan dari sang ayah boleh dikatakan masih sangat kurang. Karena ayahnya sibuk dengan urusan kerajaan dan urusan pemerintahan.

Setelah mengalami hari-hari yang penuh kesengsaraan, maka pada suatu hari berkumpullah seluruh penghuni istana untuk mendengarkan berita bahwa sang raja akan berangkat ke kerajaan lain untuk lebih mempererat hubungan kekerabatan diantara mereka selama satu bulan. Ketujuh anak (putrinya) tidak ketinggalan untuk mendengarkan berita tentang kepergian ayahnya tersebut. Pada pertemuan itu pulalah diumumkan bahwa kekuasaan sang raja selama satu bulan itu dilimpahkan kepada Si Bungsu, yang penting bila sang raja tidak ada di tempat, maka masalah-masalah yang berhubungan dengan kerajaan (pemerintahan) harus mohon (minta) petunjuk terlebih dahulu dari Si Bungsu. Mendengar berita itu, keenam kakaknya terkejut dan timbul niat masing-masing di dalam hati kakaknya untuk melampiaskan rasa dengkinya, bila sang ayah sudah berangkat nanti. Serta timbul dalam hati masing-masing kakaknya mengapa kepercayaan ayahnya dilimpahkan kepada Si Bungsu bukan kepada mereka.

Para prajurit berdamping dalam keberangkatan sang raja sangat sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Maka pada keesokan harinya berangkatlah pasukan sang raja dengan bendera dan kuda yang disaksikan oleh seluruh rakyat kerajaan dan dilepas oleh ketujuh orang putrinya.

Keberangkatan sang ayah sudah berlangsung satu minggu yang lewat. Maka tibalah saatnya yaitu saat-saat yang dinantikan oleh keenam kakaknya Si Bungsu untuk melampiaskan nafsu jahatnya yaitu ingin memusnahkan Si Bungsu supaya jangan tinggal bersama lagi dan bila perlu Si Bungsu harus dibunuh. Tanda-tanda ini diketahui oleh Si Bungsu lewat mimpinya yang ingin dibunuh oleh kakanya pada waktu tidur di malam hari.

Setelah mengadakan perundingan di antara keenam kakaknya dan rencanapun sudah matang, maka pada suatu siang keenam kakak di bungsu tersebut memanggil Si Bungsu, apakah yang dilakukannya?. Ternyata keenam kakanya mengajak Si Bungsu untuk mencari ikan (menangguk) yang di dalam bahasa Melayu Sambas mencari ikan dengan alat yang dinamakan tangguk yang dibuat dari rotan dan bentuknya seperti bujur telur (oval). Karena sangat gembira bahwa kakaknya mau berteman lagi dengannya, lalu Si Bungsu menerima ajakan tersebut. Padahal dalam ajakan tersebut terselip sebuah balas dendam kakaknya terhadap Si Bungsu, tetapi Si Bungsu tidak menduga hal itu sama sekali.

Tanpa berpikir panjang lagi maka berangkatlah ketujuh orang putri raja tersebut pada siang itu, dengan masing-masing membawa tangguk dan sampailah mereka bertujuh di tempat yang akan mereka tuju (lokasi menangguk), yaitu gua batu, Si Bungsu disuruh masuk terlebih dahulu ke dalam gua, baru diikuti oleh keenam kakaknya. Setelah mereka masuk, Si Bungsu disuruh berpisah dalam menangguk ikan supaya mendapat lebih banyak dan ia tidak tahu bahwa ia tertinggal jauh dengan kakak-kakanya.

Si Bungsu sudah berada lebih jauh ke dalam gua, sedangkan keenam kakaknya masih saja berada di muka gua dan mendoakan supaya Si Bungsu tidak dapat menemukan jejak untuk pulang nantinya. Keenam kakaknya tertawa terbahak-bahak sebab Si Bungsu telah hilang dari penglihatan. Suasana gua yang gelap gulita membuat Si Bungsu menjadi betul-betul kehabisan akal untuk mencari jalan keluar dari gua itu. Tidak lama kemudian keenam kakaknya pulang dari gua batu menuju rumahnya tanpa membawa Si Bungsu dan pada akhirnya Si Bungsu pun tersesat.

Merasa bahwa Si Bungsu telah dipermainkan oleh kakaknya tadi, maka tinggallah ia seorang diri di dalam gua batu tersebut dan duduk bersimpuh di atas batu pada aliran sungai dalam gua untuk meratapi nasibnya yang telah diperdayakan oleh keenam kakaknya, Si Bungsu hanya dapat menangis siang dan malam sebab tidak ada satupun makhluk yang dapat menolong dalam gua itu kecuali keadaan yang gelap gulita serta ikan yang berenang kesana kemari.

Bagaimana nasib Si Bungsu? tanpa terasa Si Bungsu berada dalam gua itu sudah tujuh hari tujuh malam lamanya, namun ia masih belum bisa untuk pulang, tepatnya pada hari ketujuh Si Bungsu berada di dalam gua itu, tanpa disangka-sangka terjadilah peristiwa yang sangat menakutkan di dalam gua batu itu, suara gemuruh menggelegar-gelegar sepertinya ingin merobohkan gua batu tersebut, Si Bungsu pun hanya bisa menangis dan menjerit-jerit untuk menahan rasa ketakutannya, maka pada saat itu dengan disertai bunyi yang menggelegar muncullah seorang kakek tua renta yang sakti dan berada tepat di hadapan Si Bungsu, lalu Si Bungsu pun terkejut melihatnya, tak lama kemudian kakek itu berkata,” Sedang apa kamu disini cucuku?”, lalu Si Bungsu pun menjawab,” Hamba ditinggalkan oleh kakak-kakak hamba, kek!”, maka Si Bungsu pun menangis ketakutan sehingga air matanya tidak berhenti keluar, tanpa diduga-duga pada saat itu dengan kesaktian kakek tersebut titik-titik air mata Si Bungsu secara perlahan-lahan berubah menjadi telur-telur putih yang besar dan banyak jumlahnya, kemudian Si Bungsu pun telah diubah bentuknya oleh si kakek sakti menjadi seekor burung yang indah bulu-bulunya. Si Bungsu masih bisa berbicara seperti manusia pada saat itu, lalu kakek itu berkata lagi, “Cucuku aku akan menolong kamu dari kesengsaraan yang menimpa hidupmu tapi dengan cara engkau telah kuubah bentukmu menjadi seekor burung dan kamu akan aku beri nama Burung Ruai, apabila aku telah hilang dari pandanganmu maka eramlah telur-telur itu supaya jadi burung-burung sebagai temanmu!”. Kemudian secara spontanitas Si Bungsu telah berubah menjadi seekor burung dengan menjawab pembicaraan kakek sakti itu dengan jawaban kwek … kwek … kwek … kwek …. kwek, Bersamaan dengan itu kakek sakti itu menghilang bersama asap dan burung ruai yang sangat banyak jumlahnya dan pada saat itu pula burung-burung itu pergi meninggalkan gua dan hidup di pohon depan tempat tinggal Si Bungsu dahulu, dengan bersuara kwek … kwek …. kwek … kwek …. kwek, Mereka menyaksikan kakak-kakak Si Bungsu yang dihukum oleh ayahnya karena telah membunuh Si Bungsu.
verditch - 24/01/2010 10:50 AM
#79

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul La Dana dan Kerbau

sumber : dongeng.org

keterangan : Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

Spoiler for
Quote:
La Dana adalah seorang anak petani dari Toraja. Ia sangat terkenal akan kecerdikannya. Kadangkala kecerdikan itu ia gunakan untuk memperdaya orang. Sehingga kecerdikan itu menjadi kelicikan.

Pada suatu hari ia bersama temannya diundang untuk menghadiri pesta kematian. Sudah menjadi kebiasaan di tanah toraja bahwa setiap tamu akan mendapat daging kerbau. La Dana diberi bagian kaki belakang dari kerbau. Sedangkan kawannya menerima hampir seluruh bagian kerbau itu kecuali bagian kaki belakang. Lalu La Dana mengusulkan pada temannya untuk menggabungkan daging-daging bagian itu dan menukarkannya dengan seekor kerbau hidup. Alasannya adalah mereka dapat memelihara hewan itu sampai gemuk sebelum disembelih. Mereka beruntung karena usulan tersebut diterima oleh tuan rumah.

Seminggu setelah itu La Dana mulai tidak sabar menunggu agar kerbaunya gemuk. Pada suatu hari ia mendatangi rumah temannya, dimana kerbau itu berada, dan berkata “Mari kita potong hewan ini, saya sudah ingin makan dagingnya.” Temannya menjawab, “Tunggulah sampai hewan itu agak gemuk.” Lalu La Dana mengusulkan, “Sebaiknya kita potong saja bagian saya, dan kamu bisa memelihara hewan itu selanjutnya.” Kawannya berpikir, kalau kaki belakang kerbau itu dipotong maka ia akan mati. Lalu kawannya membujuk La Dana agar ia mengurungkan niatnya. Ia menjanjikan La Dana untuk memberinya kaki depan dari kerbau itu.

Seminggu setelah itu La Dana datang lagi dan kembali meminta agar bagiannya dipotong. Sekali lagi kawannya membujuk. Ia dijanjikan bagian badan kerbau itu asal La Dana mau menunda maksudnya. Baru beberapa hari berselang La Dana sudah kembali kerumah temannya. Ia kembali meminta agar hewan itu dipotong. Kali ini kawannya sudah tidak sabar, dengan marah ia pun berkata, “Kenapa kamu tidak ambil saja kerbau ini sekalian! Dan jangan datang lagi untuk mengganggu saya.” La dana pun pulang dengan gembiranya sambil membawa seekor kerbau gemuk.
verditch - 24/01/2010 06:08 PM
#80

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul Si Rusa dan Si Kulomang

sumber : dongeng.org

keterangan : Cerita Rakyat dari Maluku

Spoiler for
Quote:
Pada jaman dahulu di sebuah hutan di kepulauan Aru, hiduplah sekelompok rusa. Mereka sangat bangga akan kemampuan larinya. Pekerjaan mereka selain merumput, adalah menantang binatang lainnya untuk adu lari. Apabila mereka itu dapat mengalahkannya, rusa itu akan mengambil tempat tinggal mereka.

Ditepian hutan tersebut terdapatlah sebuah pantai yang sangat indah. Disana hiduplah siput laut yang bernama Kulomang. Siput laut terkenal sebagai binatang yang cerdik dan sangat setia kawan. Pada suatu hari, si Rusa mendatangi si Kulomang. Ditantangnya siput laut itu untuk adu lari hingga sampai di tanjung ke sebelas. Taruhannya adalah pantai tempat tinggal sang siput laut.

Dalam hatinya si Rusa itu merasa yakin akan dapat mengalahkan si Kulomang. Bukan saja jalannya sangat lambat, si Kulomang juga memanggul cangkang. Cangkang itu biasanya lebih besar dari badannya. Ukuran yang demikian itu disebabkan oleh karena cangkang itu adalah rumah dari siput laut. Rumah itu berguna untuk menahan agar tidak hanyut di waktu air pasang. Dan ia berguna untuk melindungi siput laut dari terik matahari.

Pada hari yang ditentukan si Rusa sudah mengundang kawan-kawannya untuk menyaksikan pertandingan itu. Sedangkan si Kulomang sudah menyiapkan sepuluh teman-temannya. Setiap ekor dari temannya ditempatkan mulai dari tanjung ke dua hingga tanjung ke sebelas. Dia sendiri akan berada ditempat mulainya pertandingan. Diperintahkannya agar teman-temanya menjawab setiap pertanyaan si Rusa.

Begitu pertandingan dimulai, si Rusa langsung berlari secepat-cepatnya mendahului si Kulomang. Selang beberapa jam su rusa sudah sampai di tanjung kedua. Nafasnya terengah-engah. Dalam hati ia yakin bahwa si Kulomang mungkin hanya mencapai jarak beberapa meter saja. Dengan sombongnya ia berteriak-teriak, “Kulomang, sekarang kau ada di mana?” Temannya si Kulomang pun menjawab, “aku ada tepat di belakangmu.” Betapa terkejutnya si Rusa, ia tidak jadi beristirahat melainkan lari tunggang langgang.

Hal yang sama terjadi berulang kali hingga ke tanjung ke sepuluh. Memasuki tanjung ke sebelas, si Rusa sudah kehabisan napas. Ia jatuh tersungkur dan mati. Dengan demikian si Kulomang dapat bukan saja mengalahkan tetapi juga memperdayai si Rusa yang congkak itu.
Page 4 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel