Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
Total Views: 36797 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 8 of 13 | ‹ First  < 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 > 

verditch - 25/03/2010 09:55 AM
#141

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Hukum Adat Jambi

sumber : wahana-budaya-indonesia.com

keterangan : Adat Istiadat dan Budaya Jambi

Spoiler for
HUKUM ADAT JAMBI

Seloko adat Jambi menyebutkan “Adat Selingkung Negeri, Undang Selingkung Alam” artinya dalam kehidupan masyarakat Jambi tentunya berada dalam kerangka atau koridor hukum adat (Adat Selingkung Negeri) dan hukum positif (Undang Selingkung Alam).
Masyarakat adat Jambi mengakui adanya tingkatan hukum yang lebih tinggi yang berlaku disamping hukum adat. Dari seloko
tersebut tersirat, bahwa segala permasalahan yang ada terlebih dahulu diselesaikan secara adat, dan jika tidak bisa
diselesaikan secara adat baru mengacu kepada hukum yang lebih tinggi (Undang Selingkung Alam). Masyarakat Jambi adalah masyarakat yang relijius, sehingga hukum adat Jambi senantiasa berpedoman pada ketentuan agama yang tergambar dalam seloko “Adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah”.

Hukum adat Jambi mempunyai tingkatan-tingkatan dalam pengambilan keputusan, Seloko adat Jambi menyebutkan “Bejenjang naik betanggo turun, turun dari takak nan diatas, naik dari takak nan di bawah” dan dalam mengambil keputusan pun tidak sembarangan harus mengacu kepada kata mufakat karena adat Jambi adalah “Adat nan Berlembago” Pepatah adat mengatakan “Bulat aek dek pembuluh, bulat kato dek mufakat”. Dalam mufakat ada ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan sampai menemukan kata putus menurut adat, ketentuan tersebut salah satunya dengan melihat akar dari suatu permasalahan, Seloko adat Jambi

menyebutkan “Dak ado asap kalo dak ado api, Kalo aek keruh dimuaro cubo tengok ke hulu”. Dalam adat Jambi juga dikenal

istilah azas pembuktian “ Jiko tepijak benang arang hitam tapak, jiko tersuruk di gunung kapur putih tengkuk” sehingga dalam

pembuktian ini bisa dibuktikan yang salah tetap salah dan yang benar tetap benar “yang melintang patah, yang membujur lalu”.
verditch - 02/04/2010 12:02 PM
#142

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Legenda Pura Tanah Lot

sumber : wahana-budaya-indonesia.com

keterangan : salah satu lokasi wisata di Bali

Spoiler for
Pura Tanah Lot

Tanah Lot' adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang terletak di di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Sad Kahyangan, yaitu pura-pura yang merupakan sendi-sendi pulau Bali. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.

Legenda

Menurut legenda, pura ini dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa. Ia adalah Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri terhadap beliau karena para pengikutnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben menyuruh Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Ia menyanggupi dan sebelum meninggalkan Tanah Lot beliau dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura disana. Ia juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhir dari legenda menyebutkan bahwa Bendesa Beraben 'akhirnya' menjadi pengikut Danghyang Nirartha.
Pura Tanah Lot

Lokasi

Obyek wisata tanah lot terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan. Disebelah utara Pura Tanah Lot terdapat sebuah pura yang terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan (melengkung). Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam (sunset), turis-turis biasanya ramai pada sore hari untuk melihat keindahan sunset di sini.
sukamajoe - 12/04/2010 04:43 AM
#143

kaskus ID : sukamajoe

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Legenda Raja Buaya Sumatera Selatan

sumber : http://infokito.net/index.php/Legenda-Raja-Buaya-Sumatera-Selatan

keterangan : Legenda Raja Buaya Sumatera Selatan

Spoiler for detail
Legenda Raja Buaya Sumatera Selatan

Sumatera Selatan, sebagai daerah yang dipenuhi rawa-rawa dan dilewati banyak sungai, memiliki populasi yang cukup banyak dan penampakan buaya merupakan hal biasa. Bahkan di kalangan masyarakat dikenal pula ilmu buaya. Yakni ilmu hitam, yang mana pemiliknya akan berubah menjadi buaya kalau sudah meninggal dunia.

Di tepian Sungai Musi, Palembang, banyak legenda mengenai buaya yang diceritakan turun temurun, salah satunya legenda buaya putih. Beberapa tempat yang diyakini tempat munculnya buaya putih adalah di aliran Sungai Ogan, seperti di bawah jembatan Ogan, Kertapati, Palembang dan lokasi pedalaman sungai Ogan. Munculnya buaya putih ini diyakini selalu menjadi pertanda akan terjadi bencana besar di Sumsel atau di Indonesia.

Demikian juga warga di Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel. Mereka sangat percaya dengan legenda-legenda mengenai buaya. Sebagian besar warga Pemulutan percaya, nenek moyang mereka adalah buaya. Sebab ilmu buaya banyak dikuasai masyarakat Pemulutan dan ada yang menjadi pawang buaya. Banyak warga Pemulutan yang dapat berubah menjadi buaya jika masuk ke dalam sungai atau rawa. Ini adalah ilmu hitam yang biasanya dikuasai para bandit.

Di masyarakat Palembang juga ada kisah/legenda menarik dari abad ke-16. Saat itu raja Palembang bingung bagaimana mengatasi buaya-buaya yang berada di Sungai Musi. Buaya-buaya itu ganas dan dapat membuat warga terancam nyawanya. Lalu, sang raja mendatangkan seorang pawang buaya dari India. Dengan janji akan memberikan banyak hadiah, sang raja meminta si pawang menjinakkan buaya-buaya di sungai Musi. Buaya-buaya itu pun jinak. Si pawang pun menerima banyak hadiah.

Kemudian raja mengajak sang pawang ke daerah pedalaman yang banyak buayanya. Kembali pawang itu menaklukkan buaya-buaya menjadi jinak. “Coba kau buat buaya-buaya itu kembali menjadi ganas. Aku mau tahu bagaimana kehebatan ilmumu?” kata sang raja.

Pawang yang sudah mabuk pujian itu kemudian membuat buaya-buaya itu menjadi ganas. Ayam dan ternak yang dilempar ke sungai dengan cepat dimakan buaya. Dan, ketika si pawang lengah, seorang prajurit kerajaan Palembang mendorong pawang ke gerombolan buaya. Tak ayal si pawang itu mati dimakan buaya. Lokasi terbunuhnya pawang itu diperkirakan di pesisir timur Sumatera Selatan, seperti Pulaurimau, atau di kawasan Pemulutan.

Kalau pawang ini tidak dibunuh, saya khawatir dia dapat mempermainkan kita. Atau, kalau dia tidak senang dengan kita, buaya-buaya di sungai Musi dibuatnya menjadi ganas lagi, kata sang raja.Oleh karena itu, tidaklah heran, buaya di sungai Musi dengan buaya di daerah pedalaman Sumatra Selatan berbeda karakternya. Di sungai Musi tidak ada buaya yang bersifat ganas, meskipun saat ini sudah jarang terlihat, berbeda dengan daerah pedalaman yang terkenal dengan buayanya yang ganas-ganas. [infokito.net]
verditch - 08/05/2010 11:42 AM
#144

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Legenda Ken Arok , dari Penyamun menjadi Penguasa

sumber : forumm.wgaul.com

keterangan : salah satu versi cerita legenda Ken Arok

Spoiler for
Kisah Ken Arok banyak ditulis dalam kitab Pararaton yang ditulis sekitar abad ke-15. Kitab Pararaton yang memuat kisah raja-raja Singosari dan Majapahit ini sesungguhnya dinilai oleh para ahli sejarah sebagai kitab yang mutu kesejarahannya tak sebesar Negarakertagama, karya Mpu Prapanca pada abad ke-14.

Ken Arok adalah anak seorang perempuan petani bernama Ken Endok dan suaminya yang brahmana, bernama Gajahpara. Mereka tinggal di desa Pangkur yang termasuk wilayah Tumapel, sebuah kadipaten dalam Kerajaan Kediri, di tepi Sungai Brantas sekitar kota Malang sekarang. Beberapa legenda menyebutkan Ken Arok adalah putra Bhatara Brahma. Tetapi di kemudian hari, Ken Arok menganggap dirinya adalah putra Bhatara Syiwa karena memilih gelar yang bernuansa Syiwa.

Karena tekanan kemiskinan, Ken Endok membuang Ken Arok ketika masih bayi dengan cara meletakkannya dalam keranjang yang dihanyutkan di Sungai Brantas. Ia berharap, Ken Arok akan ditemukan oleh seseorang yang bernasib lebih baik dari dirinya.

Tetapi ternyata Ken Arok ditemukan oleh seorang pencuri bernama Lembong, sehingga ia pun dibesarkan menjadi seorang pencuri dan penyamun yang cerdik. Kelihaiannya telah membuat resah orang-orang hingga sampai ke telinga raja Kediri, Kertajaya. Ia lalu memerintahkan adipati Tumapel, Tunggul Ametung, untuk menangkap Ken Arok.

Ketika sedang dikejar-kejar pasukan Tumapel, Ken Arok sampai ke tepi sebuah sungai yang merupakan perbatasan Kediri dengan kerajaan lain. Ia berhasil melarikan diri dengan cara terbang dari atas pohon siwalan dengan menggunakan sayap dua helai daun talas yang lebar dan bersembunyi di wilayah kerajaan tetangga.
Kecerdikan Ken Arok ini membuat dewa-dewa sepakat untuk melindunginya, karena ia berbakat untuk menjadi orang besar. Para dewa lalu mengutus seorang brahmana bernama Lohgawe untuk membuat Ken Arok menjadi orang baik.

Setelah Ken Arok keluar dari persembunyiannya, ia bertemu Lohgawe yang kemudian menyuruhnya berhenti menjadi pencuri. Lohgawe menganggap Ken Arok seperti anaknya sendiri dan mengajarinya untuk hidup dengan cara yang baik. Kemudian ia mengajak Ken Arok untuk menjadi abdi Tunggul Ametung. Sang adipati, yang tak mengenali wajah Ken Arok setelah merapikan diri itu, menerimanya bekerja menjadi pengawal istana kadipaten.

Sementara itu, Tunggul Ametung berniat mencari seorang istri. Ia mendengar bahwa di sebuah desa, ada seorang pendeta Buddha bernama Mpu Purwa, yang memiliki seorang anak yang sangat cantik bernama Ken Dedes. Suatu hari, saat sang pendeta pergi bertapa ke hutan, pasukan Tunggul Ametung memporakporandakan desa, menculik Ken Dedes dan membawanya ke istana. Tunggul Ametung kemudian menjadikan Ken Dedes sebagai istrinya. Mpu Purwa yang marah besar, mengutuk Tunggul Ametung bahwa ia kelak akan mati dibunuh.

Ketika Ken Dedes sedang hamil muda, Tunggul Ametung mengajak Ken Dedes bertamasya ke taman Baboji. Saat akan turun dari kereta, Ken Arok yang bertugas sebagai pengawal membantu meletakkan bangku kecil sebagai injakan. Secara tak sengaja, kain Ken Dedes tersingkap sedikit dan menunjukkan seberkas sinar muncul dari antara kakinya.
Malamnya, Ken Arok menceritakan hal ini kepada Lohgawe. Dan Lohgawe mengatakan, perempuan seperti ini diyakini akan membawa kekuasaan. Ken Arok yang terpesona, saat itu bersumpah dalam hatinya untuk menjadikan Ken Dedes istrinya, dengan cara apapun.

Ken Arok kemudian pergi kepada seorang pandai besi terkenal bernama Mpu Gandring yang tinggal di desa Lulumbang. Ia memesan sebuah keris yang sangat indah, dan harus selesai dalam waktu sesingkat mungkin. Mpu Gandring sebetulnya meminta waktu satu tahun, tapi karena Ken Arok memaksa, akhirnya ia menyanggupi akan menyelesaikan keris itu dalam waktu 5 bulan. Ia pun bekerja keras, disertai tapa dan tirakat, agar keris masterpiece itu dapat selesai dalam waktu yang disepakati.

Lima bulan kemudian Ken Arok datang lagi ke Lulumbang. Tetapi ternyata keris itu belum selesai benar. Ken Arok menjadi marah dan menusuk Mpu Gandring dengan keris buatannya sendiri. Namun sebelum menghembuskan nafas terakhir, Mpu Gandring sempat mengucapkan kutukannya, bahwa tujuh orang akan mati dengan keris buatannya itu.

Ken Arok ternyata telah menyusun sebuah siasat. Keris bagus itu dipinjamkan kepada seorang temannya sesama pengawal yang bernama Kebo Ijo. Bahkan Ken Arok meminta agar jika ditanya, Kebo Ijo selalu menjawab bahwa keris itu adalah miliknya sendiri. Kebo Ijo yang sangat bangga, selalu membawa-bawa keris itu di pinggangnya dan memamerkannya kepada orang-orang. Karenanya semua orang menganggap bahwa Kebo Ijo memang memiliki keris itu.

Setelah beberapa lama, suatu malam Ken Arok mencuri keris itu dan segera membunuh Tunggul Ametung yang sedang tidur. Keris itu sengaja masih ditinggalkan tertancap di jantung sang adipati, sehingga Kebo Ijo langsung menjadi tertuduh. Ken Dedes yang tidur di sebelah Tunggul Ametung, sesungguhnya menangkap bayangan si pembunuh aslinya, tetapi karena hatinya juga tertarik kepada Ken Arok, ia menyimpan rahasia ini,.

Ken Arok kemudian berperan sebagai pahlawan yang menangkap dan membunuh Kebo Ijo dengan keris Mpu Gandring. Antara lain karena tindakan kepahlawanannya, Ken Arok bisa menikahi Ken Dedes, bahkan diangkat menjadi adipati di Tumapel, menggantikan Tunggul Ametung. Kemudian Ken Dedes melahirkan anak laki-lakinya dari Tunggul Ametung, yang diberi nama Anusapati. Ken Arok juga memiliki seorang selir bernama Ken Umang. Anak tertuanya dari Ken Umang bernama Tohjaya.

Di bawah pimpinan Ken Arok, Tumapel memperluas wilayah dengan menaklukkan daerah-daerah di sekitarnya. Tindakan ini, walaupun terkesan membangkang terhadap kerajaan Kediri, tidak ditindak tegas oleh Kertajaya.
Pada masa itu kekuasaan Kertajaya mulai melemah. Kertajaya yang semakin sombong, sering mengancam kaum brahmana dan memamerkan kekuatan gaibnya. Ken Arok dengan cerdik memanfaatkan keadaan ini. Ia menampung dan perlindungan kepada para brahmana yang melarikan diri dari Kediri, sehingga pertentangan dengan Kertajaya semakin meruncing.

Pada tahun 1222 Tumapel menyerang ibu kota, dan pada pertempuran di Ganter, Kertajaya berhasil dikalahkan. Ken Arok lalu mengangkat diri menjadi raja bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Amurwabhumi. Ia juga memindahkan ibu kota kerajaan ke Singasari.

Anusapati, entah mengapa selalu curiga kepada ayah tirinya. Ia merasa bahwa Ken Arok ikut terlibat pada tewasnya ayah yang tak pernah dilihatnya. Ketika ditanyakan kepada ibunya, ibunya hanya terdiam, dan hanya memberikan keris pembunuh ayahnya. Pada tahun 1227, Anusapati menusuk Ken Arok yang sedang makan di meja makan. Ia kemudian menjadi raja selama 20 tahun lebih.

Tahun 1248, Tohjaya, putra Ken Arok dari Ken Umang, membunuh Anusapati dengan keris yang sama. Hanya sempat berkuasa sebentar, Tohjaya digulingkan oleh Ranggawuni (putra Anusapati dan Mahisa Campaka). Ranggawuni kemudian menjadi raja dengan gelar Wishnuwardhana dan Mahisa Campaka menjadi patih bergelar Narasinghamurti. Berkat kedua orang inilah pertikaian antar keluarga dapat dijernihkan.

Sumber : "Ken Angrok - Brandal yang Menjadi Raja" (Hesri Setiawan), website Universitas Petra Surabaya dan "IPS Sejarah kelas 1 SMP" (CST Kansil)
verditch - 10/05/2010 11:03 AM
#145

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Tokoh 5 Pandawa

sumber : fizzlabz.ning.com

keterangan : tokoh pandawa lima dalam perwayangan jawa

Spoiler for
Kisah pewayangan merupakan kisah legendaris bagi masyarakat hindu. Di india maupun di Indonesia semasa nusantara dibawah jaman kerajaan hindu kisah tersebut mengakar dalam cerita rakyat, juga berkembang menjadi budaya di masyarakat nusantara. Seperti kitab Bharatayudha karangan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. kisah2 tersebut kemudian berakulturasi dengan kebudayaan jawa, dan diceritakan kembali dalam kisah pewayangan, meskipun mengalami sedikit perbedaan. Cerita filosofi wayang yang merupakan budaya hindu tersebut mulai menjadi filosofi jawa, yang digelar dalam acara2 penting pada masyarakat jawa.

Pada tanggal 7 November 2003, wayang dianugerahi oleh UNESCO sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga(Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Kisah Baratayudha, sebuah kisah pertempuran antara bala Pandawa dan Kurawa di Kurusetra, meninggalkan sepenggal legenda heroik yang sarrat makna.

Pandawa yang merupakan Putra Pandu, terdiri dari 5 orang kesatria yang melambangkan kebaikan dan 5 sifat kesempurnaan manusia (khususnya pria).

YUDHISTIRA
Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
Dalam pewayangan jawa lebih sering dikenal dengan Puntadewa, merupakan putra pertamapandawa yang memiliki sifat paling Jujur. dalam kisahnya Dia diceritakan tidak pernah berbohong selama hidupnya. Dia juga disebut Satria dari Amarta. Yudisthira adalah pemegang hak waris tahta Hastinapura yang sesungguhnya, karena ayahnya Pandu menitipkan Hastinapura kepada Destarata adiknya yang juga merupakan ayah para Korawa.
Namun karena ketamakan Korawa, Pandawa menjadi teraniaya dan sering ditipu.



BIMA
Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
Dalam pewayangan jawa Werkudara atau Bimasena, merupakan putra kedua Pandawa yang paling perkasa dan pemberani, tempramental namun mencintai kebenaran, ia dikenal denganGada Rujakpolo sebagai senjatanya yang paling terkenal. Werkudara adalah satria dari Jodiphati, wilayah dari Amarta.
Dia menganggap semua orang sama derajadnya, sehingga dalam cerita pewayangan jawa, dia tidak pernah bicara dalam Bahasa Krama Inggil (bahasa jawa yang nilai rasanya paling halus) juga tidak pernah duduk ketika berbicara dengan orang lain.
sifat khasnya yang lain, dia tidak suka berbasa-basi dalam berbicara, tanpa tading aling-aling dan tidak pernah menelan kembali ludahnya sendiri.


ARJUNA
Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
dikenal juga dengan nama Janaka atau Permadi, diceritakan memiliki wajah yang rupawan, romantis, dan pecinta ulung dengan panah pasopati sebagai senjatanya. dalam berbagai kisah roman masa kini, kisah arjuna banyak dijadikan inspirasi percintaan para sastrawan. Janaka merupakan Satria dari Madukara.
Arjuna memiliki banyak istri, yang paling terkenal adalah Sembadradan Srikandi.
Sembadra memiliki sifat yang lembut, lemah gemulai, anggun dan santun. sedangkan Srikandi memiliki sifat lincah, enerjik, bahkan ikut bertempur di Baratayudha bahu-membahu bersama suaminya. maka dalam masyarakat masa kini wanita karir dengan segudang prestasi sering dikiaskan dengan Srikandi istri sang Arjuna.
Meskipun tampan dan rupawan, Arjuna merupakan kesatria tanpa tanding, selalu menang dalam setiap pertempuran. untuk itu dia juga pernah dijuluki Wijaya yang berarti tidak pernah kalah.

dan yang terakhir adalah si kembar Nakula dan Sadewa merupakan saudara tiri dari ketiga pandawa sebelumnya.

NAKULA
Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
mempunyai watak setia, taat, belas kasih, tahu membalas budi dan dapat menyimpan rahasia. dia memiliki kelebihan dalam ilmu pengobatan.
dikisahkan dia memiliki ingatan yang tidak terbatas, sehingga dapat mengingat semua hal yang pernah ia alami.

SADEWA
Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
Sadewa dikisahkan memiliki sifat bijak dan pintar. jika Nakula saudara kembarnya memilikiingatan masa lalu yang kuat, sadewa memiliki penglihatan masa depan karena Sadewa adalah seorang ahli perbintangan yang ulung (ramalan) dan dianggap mengetahui kejadian yang akan terjadi dalam Mahabharata namun ia dikutuk bahwa apabila ia membeberkan apa yang diketahuinya, kepalanya akan terbelah. Maka dari itu, selama dalam kisah ia cenderung diam saja dibandingkan dengan saudaranya yang lain.
Sadewa jugalah dengan kepintarannya akhirnya yang berhasil membunuh Sengkuni, paman dan penasihat Korawa yang paling pintar (licik).

Dalam kisah Baratayudha, seteru pandawa adalah Korawa dengan Duryudana sebagai putra sulungnya, merupakan seratus bersaudara laki-laki yang merupakan sepupu pandawa. seratus berarti banyak maka Kurawa merupakan filosofis dari Tamak dan Serakah.
verditch - 13/05/2010 12:01 PM
#146

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Asal Mula Nama Kota Palembang

sumber : https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=944647&page=6

keterangan : Cerita Rakyat dari Sumatra Selatan

Spoiler for
Asal Mula Nama Palembang

Pada zaman dahulu, daerah Sumatra Selatan dan sebagian Provinsi Jambi berupa hutan belantara yang unik dan indah. Puluhan sungai besar dan kecil yang berasal dari Bukit Barisan, pegunungan sekitar Gunung Dempo, dan Danau Ranau mengalir di wilayah itu. Maka, wilayah itu dikenal dengan nama Ba*tanghari Sembilan. Sungai besar yang mengalir di wilayah itu di antaranya Sungai Komering, Sungai Lematang, Sungai Ogan, Sungai Rawas, dan beberapa sungai yang bermuara di Sungai Musi. Ada dua Sungai Musi yang bermuara di laut di daerah yang berdekatan, yaitu Sungai Musi yang melalui Palembang dan Sungai Musi Banyuasin agak di sebelah utara.

Karena banyak sungai besar, dataran rendah yang melingkar dari daerah Jambi, Sumatra Selatan, sampai Provinsi Lampung merupakan daerah yang banyak mempunyai danau kecil. Asal mula danau-danau kecil itu adalah rawa yang digenangi air laut saat pasang. Sedangkan kota Palembang yang dikenal sekarang menurut sejarah adalah sebuah pulau di Sungai Melayu. Pulau kecil itu berupa bukit yang diberi nama Bukit Seguntang Mahameru.

Keunikan tempat itu selain hutan rimbanya yang lebat dan banyaknya danau-danau kecil, dan aneka bunga yang tumbuh subur, sepanjang wilayah itu dihuni oleh seorang dewi bersama dayang-dayangnya. Dewi itu disebut Putri Kahyangan. Sebenarnya, dia bernama Putri Ayu Sundari. Dewi dan dayang-dayangnya itu mendiami hutan rimba raya, lereng, dan puncak Bukit Barisan serta kepulauan yang sekarang dikenal dengan Malaysia. Mereka gemar datang ke daerah Batanghari Sembilan untuk bercengkerama dan mandi di danau, sungai yang jernih, atau pantai yang luas, landai, dan panjang.

Karena banyaknya sungai yang bermuara ke laut, maka pada zaman itu para pelayar mudah masuk melalui sungai-sungai itu sampai ke dalam, bahkan sampai ke kaki pegunungan, yang ternyata daerah itu subur dan makmur. Maka terjadilah komunikasi antara para pedagang termasuk pedagang dari Cina dengan penduduk setempat. Daerah itu menjadi ramai oleh perdagangan antara penduduk setempat dengan pedagang. Akibatnya, dewi-dewi dari kahyangan merasa terganggu dan mencari tempat lain.

Sementara itu, orang-orang banyak datang di sekitar Sungai Musi untuk membuat rumah di sana. Karena Sumatra Selatan merupakan dataran rendah yang berawa, maka penduduknya membuat rumah yang disebut dengan rakit.

Saat itu Bukit Seguntang Mahameru menjadi pusat perhatian manusia karena tanahnya yang subur dan aneka bunga tubuh di daerah itu. Sungai Melayu tempat Bukit Seguntang Mahameru berada juga menjadi terkenal.

Oleh karena itu, orang yang telah bermukim di Sungai Melayu, terutama penduduk kota Palembang, sekarang menamakan diri sebagai penduduk Sungai Melayu, yang kemudian berubah menjadi pen*duduk Melayu.

Menurut bahasa Melayu tua, kata lembang berarti dataran rendah yang banyak digenangi air, kadang tenggelam kadang kering. Jadi, penduduk dataran tinggi yang hendak ke Palembang sering me*ngatakan akan ke Lembang. Begitu juga para pendatang yang masuk ke Sungai Musi mengatakan akan ke Lembang.

Alkisah ketika Putri Ayu Sundari dan pengiringnya masih berada di Bukit Seguntang Mahameru, ada sebuah kapal yang mengalami kecelakaan di pantai Sumatra Selatan. Tiga orang kakak beradik itu ada*lah putra raja Iskandar Zulkarnain. Mereka selamat dari kecelakaan dan terdampar di Bukit Seguntang Mahameru.

Mereka disambut Putri Ayu Sundari. Putra tertua Raja Iskandar Zulkarnain, Sang Sapurba kemudian menikah dengan Putri Ayu Sundari dan kedua saudaranya menikah dengan keluarga putri itu.

Karena Bukit Seguntang Mahameru berdiam di Sungai Melayu, maka Sang Sapurba dan istrinya mengaku sebagai orang Melayu. Anak cucu mereka kemudian berkembang dan ikut kegiatan di daerah Lembang. Nama Lembang semakin terkenal. Kemudian ketika orang hendak ke Lembang selalu mengatakan akan ke Palembang. Kata pa dalam bahasa Melayu tua menunjukkan daerah atau lokasi. Pertumbuhan ekonomi semakin ramai. Sungai Musi dan Sungai Musi Banyuasin menjadi jalur per*dagangan kuat terkenal sampai ke negara lain. Nama Lembang pun berubah menjadi Palembang
verditch - 13/05/2010 12:34 PM
#147

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Buaya Tembaga

sumber : https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=944647&page=6

keterangan : Cerita Rakyat dari Maluku

Spoiler for
Buaya Tembaga

Pulau Ambon adalah salah satu pulau yang indah di Indonesia. Di sana terdapat lautan yang membiru dipenuhi ikan yang beraneka ragam. Ada pula ikan yang dapat terbang mencecah laut. Taman lautnya yang penuh dengan berbagai jenis hewan laut, membuatnya semakin indah dipandang mata.

Dikisahkan pada zaman dahulu, kota Ambon yang terletak pada jazirah Lei Timur dan jazirah Lei Hitu itu dihubungkan oleh satu tanah genting yang bernama Tanah Genting Baguala. Di tempat ini hidup seekor buaya yang sangat besar. Panjang badannya kira-kira 5 meter dan warna kulitnya kuning. Oleh sebab itu, penduduk di sana memberinya nama Buaya Tembaga. Keadaan alam di Baguala yang begitu indah dan nyaman, membuat Buaya Tembaga itu merasa betah tinggal di sana. Apalagi penduduknya sangat memuja buaya tersebut.

Tak jauh dari tempat itu, di pesisir pantai selatan Pulau Buru, hiduplah seekor ular besar yang bertengger di atas sebatang pohon Mintaggor. Pohon itu tumbuh di tepi pantai dan selalu condong ke arah laut. Ular tersebut selalu mengganggu ketenteraman hidup semua penghuni tempat itu. Hampir semua ikan ditelannya, buaya-buaya pun turut dimangsanya juga. Oleh karena itu, ikan-ikan, buaya, dan binatang lain berkumpul untuk mengadakan musyawarah dengan tujuan untuk mengatasi serta membasmi ular raksasa itu. Akhirnya, mereka sepakat bahwa yang dapat menandingi ular tersebut adalah Buaya Tembaga.

Setelah selesai bermusyawarah mereka mengirim utusan untuk menemui Buaya Tembaga. Tujuannya yaitu meminta bantuan agar dapat menghancurkan ular pemangsa itu. Mereka kemudian menjemput Buaya Tembaga dari Teluk Baguala, sementara ikan-ikan dan buaya yang lain sibuk mempersiapkan upacara penyambutan bagi Buaya Tembaga.

Setibanya mereka di Teluk Baguala, Buaya Tembaga mengabulkan permohonan mereka dan bersedia untuk berangkat bersama dengan para utusan itu menuju pantai selatan Pulau Buru. Setibanya di Pulau Buru, Buaya Tembaga disambut dengan hangat dalam suatu upacara yang meriah. Upacara pun dihadiri oleh para penghuni laut seperti keong laut, berjenis ikan, para buaya, aneka macam burung laut. Mereka beramah-tamah dan bersuka-ria dengan Buaya Tembaga selama dua hari.

Pada hari yang ketiga, berangkatlah Buaya Tembaga melaksanakan tugasnya. Ia mulai berjalan, berenang ke sana-kemari mengintai musuhnya dan mendekati pohon mintanggor tempat ular raksasa itu berada. Ketika buaya melewati pohon itu, ia berpapasan dengan sang ular. Seketika itu ular langsung melilitkan ekornya pada batang pohon mintanggor dan menjulurkan badannya ke laut seraya memagut Buaya Tembaga.

Pagutan ular itu segera ditangkis Buaya Tembaga dengan mengibaskan ekornya yang keras dan tajam. Perang tanding pun terjadi antara keduanya dan peristiwa ini disaksikan oleh semua penghuni laut yang berada di sekitar tempat itu. Pertarungan tersebut terjadi selama lebih dari sehari.

Ketika pertarungan itu sudah berlangsung selama dua hari, terjadilah saat-saat yang menentukan. Sang ular, seperti biasa, melilitkan ekornya kuat-kuat pada batang pohon mintanggor dan memagut mata sang buaya. Buaya pun dengan sigap segera mengelak dari serangan ular dan membalas dengan pu*kulan yang keras dan cepat. Lalu ia hempaskan ekor tajamnya ke arah kepala ular raksasa itu. Hal ini terjadi berulang kali. Akibatnya, sang ular pun babak belur terkena sambaran ekor Buaya Tembaga. Kepalanya remuk, lilitan ekornya terlepas dari batang pohon mintanggor dan terhempas ke laut. Maka berakhirlah sudah riwayat ular raksasa tersebut.

Para penghuni laut yang menyaksikannya serentak bersorak-sorai. Dengan demikian, mereka telah bebas dari ancaman sang ular yang selama ini menghantui mereka. Setelah kejadian itu, Buaya Tem*baga dianugerahi gelar “Yang Dipertuan di daerah Teluk Baguala”. Hadiah itu dipersembahkan pada sebuat tagala dan diisi dengan beberapa jenis ikan seperti ikan parang, make, papere, dan salmaneti. Selanjutnya, Buaya Tembaga pun kembali ke tempat asalnya dengan membawa hadiah tersebut. Sejak saat itu, ikan-ikan tersebut berkembang-biak dengan baik di Teluk Baguala. Hingga kini, ikan jenis itu sangat banyak terdapat di teluk tersebut. Bahkan banyak penduduk yang percaya, terutama yang tinggal di sekitar Teluk Baguala bahwa bila Buaya Tembaga itu muncul pertanda akan datang banyak ikan. Sehingga masyarakat bersiap-siap untuk menangkap ikan dan menjualnya. Kemunculan Buaya Tembaga membawa keberuntungan bagi penduduk Baguala.

Penulis: Henry Artiawan Yudhistira
verditch - 14/05/2010 05:48 PM
#148

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul Batu Ajuang Batu Peti

sumber : https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=944647&page=5

keterangan : Cerita Rakyat dari Daerah Sumatra Barat

Spoiler for
Batu Ajuang Batu Peti

Syahdan, zaman dahulu kala, di kaki Bukit Perasapan, daerah pedalaman Nagari Pauh Limo Kecamatan Pauh Kota Padang, berdiri sebuah kerajaan kecil bernama kerajaan Bukit Perasapan. Kerajaan ini diperintah oleh seorang raja yang arif bijaksana yaitu Rajo Tuo.

Rajo Tuo dianugrahi Putri nan cantik jelita bernama Puti Lenggogeni. Saat usianya menginjak remaja, kecantikannya tampak jelas kentara. Banyak yang jatuh hati dan berniat untuk meminang sang putri, akan tetapi tak satu pun diantara mereka yang berani mengutarakan keinginannya. Baik warga istana maupun rakyat sekitar kerajaan Bukit Perasapan, mereka sadar dan tahu diri. Putri nan cantik jelita itu hanya pantas bersanding dengan seorang pangeran nan gagah perkasa, tampan rupawan dan putra mahkota dari kerajaan ternama.

Selain cantik, Puti Lenggogeni memiliki otak yang cerdas sekaligus elok budinya. Bahkan jika Rajo Tuo memiliki masalah yang agak rumit dalam memimpin kerajaan, seringkali Puti Lenggogeni membantu sang ayah dalam mencari jalan keluarnya. Hingga pantas saja, banyak yang bilang bahwa Puti Lenggogeni adalah penerus tahta kerajaan Bukit Perasapan. Karena selain sebagai anak tunggal Rajo Tuo, Puti Lenggogeni telah menampakkan bakat kepemimpinannya sejak kecil. Inilah yang menjadikan Puti Lenggogeni sempurna dalam segala hal. Ia laksana bidadari yang turun dari langit, cantik luar dalam, cerdas, pintar, serta memiliki bakat kepemimpinan seperti ayahnya.

Berita tentang kecantikan Puti Lenggogeni sampai juga di telinga Rajo Anggang dan Magek Labu yang kebetulan sedang memasarkan barang dagangannya di daerah kerajaan Bukit Perasapan. Dua orang ini adalah anak buah dari Tuan Hendrik, seorang saudagar kaya dari Rupit, Portugis. Setelah menyaksikan langsung kecantikan Puti Lenggogeni, mereka segera kembali ke Pantai Cermin, tempat dimana kapal tuan mereka berlabuh. Mereka ingin menyampaikan berita kecantikan Puti Lenggogeni kepada Tuan Hendrik.

Hari masih sore ketika Rajo Anggang dan Magek Labu sampai di kediaman Tuan Hendrik. Melihat dua orang ini datang, Tuan Hendrik tampak kaget, tidak biasanya mereka pulang secepat itu. “Heh, Rajo Anggang dan Magek Labu, begitu cepat kalian pulang, apakah dagangan kita laku semua di daerah Bukit Perasapan?” Tuan Hendrik mengambil cerutu, membakarnya, lalu menghisapnya.

“Puji syukur Tuan, semua dagangan kita laku terjual, tapi ada kabar yang lebih penting dari itu Tuan,” lapor Rajo Anggang pada tuannya.

“Apa? Kabar yang lebih penting? Maksud kalian, apakah sebentar lagi kita akan menguasai perdagangan di daerah Bukit Perasapan?”

“Lebih dari itu, Tuan tidak saja menguasai perdagangan di daerah Bukit Perasapan, tapi sekaligus berkesempatan menguasai kerajaan Bukit Perasapan,” ucap Magek Labu menjelaskan.

“Ah, aku tidak mengerti maksud kalian”.

“Begini Tuan, Rajo Tuo, raja kerajaan Bukit Persapan, memilki putri tunggal yang cantik sekali Tuan, betul Tuan, cantik sekali, saya dan Magek Labu telah menyaksikan kecantikannya dengan mata kepala kami sendiri, apa Tuan tidak berminat untuk meminangnya?”

Mendengar penuturan anak buahnya tersebut, Tuan Hendrik menghela nafas panjang, berfikir sejenak dan kemudian tertawa sekeras-kerasnya. “Hahahaha…, kalian memang anak buahku yang paling cerdik dan paling tahu apa kemauanku, besok pagi kita akan berangkat ke sana, aku akan lamar putri yang cantik itu.”

“Tapi Tuan, karena ia adalah putri raja, berarti Tuan pun harus mengaku sebagai putra mahkota dari negri Tuan sendiri, kami yakin lamaran Tuan akan diterima dan Tuan akan segera menguasai kerajaan Bukit Perasapan.”

“Itu urusan gampang bodoh! Sekarang persiapkan segala keperluan, jangan lupa, satu peti emas sebagai tanda pertunanganku dengan Puti Lenggogeni.”

“Siap Tuan,” Rajo Anggang dan Magek Labu menjawab serentak.

Esoknya, masih pagi, Tuan Hendrik bersama Rajo Anggang dan Magek Labu telah mulai melayari banda Mua menuju kerajaan Bukit Perasapan. Mereka berangkat menggunakan kapal mewah milik Tuan Hendrik. Tak lama, saat siang mulai menjelang, mereka telah sampai di kerajaan Bukit Perasapan. Mereka disambut ramah oleh pengawal istana dan setelah mendapat izin dari Rajo Tuo, mereka dipersilahkan memasuki lingkungan istana untuk menghadap raja. Ada nada sombong dalam diri Tuan Hendrik karena sebentar lagi ia akan melamar Puti Lenggogeni, putri kerajaan Bukit Perasapan yang kecantikannya menjadi buah bibir bagi setiap orang yang melihatnya. Setelah bertemu Rajo Tuo, Tuan Hendrik segera menyampaikan maksud kedatangannya.

“Salam baginda raja, saya Hendrik, putra mahkota dari kerajaan Portugis, datang kesini untuk menyampaikan niat saya melamar putri baginda nan cantik jelita, sudilah kiranya baginda menerima lamaran saya.”

“Saya senang menerima kedatangan anda, tapi apa betul anda ini putra mahkota dari Portugis?”

“Baginda, saya bersumpah, jika ternyata saya berbohong, maka kapal dan seluruh isinya akan karam ditelan ombak, lantas berubah menjadi batu!”

“Baiklah, tunggu tiga purnama lagi, jika tidak terjadi apa-apa, maka kau berhak menjadi menantuku.”

“Terima kasih baginda, kelak ketika tiga purnama telah terlewati, saya akan datang sebagai menantumu, dan sebagai tanda kedatanganku, terimalah satu peti emas ini,” Rajo Tuo tersenyum, lalu mempersilahkan tamunya untuk kembali ke Pantai Cermin.

Waktu berjalan kian cepat, tiga purnama telah terlewati. Selama itu, tidak ada perobahan yang terjadi pada Tuan Hendrik termasuk kapal dan seluruh isinya. Hal ini tentu saja sangat menggembirakan Tuan Hendrik. Inilah pertanda bahwa lamarannya diterima oleh Rajo Tuo. Maka, ketika hari yang dinantikan itu tiba, Tuan Hendrik beserta dua anak buahnya telah mempersiapkan segalanya untuk datang ke kerajaan Bukit Perasapan. Kali ini Tuan Hendrik mengenakan pakaian yang sangat mewah, persis seperti putra mahkota dari kerajaan ternama.

Hari sangat cerah, rombongan Tuan hendrik kembali melayari Banda Mua menuju kerajaan Bukit Perasapan. Tapi suasana tiba-tiba menjadi lain ketika kapal mereka mulai memasuki daerah Bukit Perasapan. Langit berubah menjadi gelap, petir sambar menyambar diiringi badai yang tak henti menghantam kapal mereka, kapal mereka menjadi oleng dan kemudian karam di Bukit Koto Nan Tinggi. Semua isinya tumpah ruah termasuk Tuan Hendrik beserta dua orang anak buahnya. Dan ketika petir kembali menyambar, Tuan Hendrik beserta kapal dan seluruh isinya tiba-tiba berubah menjadi batu. Tuan Hendrik termakan sumpahnya sendiri.
verditch - 15/05/2010 03:27 PM
#149

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul Kaba Anggun Nan Tongga

sumber : https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=944647&page=5

keterangan : cerita rakyat dari sumatra barat

Spoiler for
Kaba Anggun Nan Tongga adalah sebuah cerita atau kaba yang populer di lingkungan masyarakat Minangkabau. Di daerah-daerah berbahasa Melayu cerita ini dikenal dengan nama Hikayat Anggun Cik Tunggal.

Kaba ini bercerita tentang petualangan dan kisah cinta antara Anggun Nan Tongga dan kekasihnya Gondan Gondoriah. Anggun Nan Tongga berlayar meninggalkan kampung halamannya di Kampung Dalam, Pariaman. Ia hendak mencari tiga orang pamannya yang lama tidak kembali dari merantau. Sewaktu hendak berangkat Gondan Gondoriah meminta agar Nan Tongga membawa pulang 120 buah benda dan hewan langka dan ajaib.

Meskipun pada awalnya dikisahkan secara lisan beberapa versi kaba ini sudah dicatat dan dibukukan. Salah satunya yang digubah Ambas Mahkota, diterbitkan pertama kali tahun 1960 di Bukittinggi.

Quote:
Di jorong Kampung Dalam, Pariaman hiduplah seorang pemuda bernama Anggun Nan Tongga, yang juga dipanggil Magek Jabang dan bergelar Magek Durahman. Ibunya Ganto Sani wafat tak lama setelah melahirkan Nan Tongga, sedangkan ayahnya pergi bertarak ke Gunung Ledang.Ia diasuh saudara perempuan ibunya yang bernama Suto Suri. Sejak kecil Nan Tongga sudah dijodohkan dengan Putri Gondan Gondoriah, anak mamaknya. Anggun Nan Tongga tumbuh menjadi pemuda tampan dan cerdas. Ia mahir berkuda, silat, dan pandai mengaji Quran serta dalam ilmu agamanya.

Pada suatu hari terdengar kabar bahwa di Sungai Garinggiang Nangkodoh Baha membuka gelanggang untuk mencari suami bagi adiknya, Intan Korong. Nan Tongga minta izin pada Mandeh Suto Suri untuk ikut serta. Pada awalnya Mandeh Suto Suri tidak setuju, karena Nan Tongga sudah bertunangan dengan Gondan Gondoriah. namun akhirnya ia mengalah.

Di gelanggang Nan Tongga berhasil mengalahkan Nangkodo Baha pada tiap permainan: menyabung ayam, menembak maupun catur. Berang dan malu karena kekalahannya Nangkodoh Baha mengejek Nan Tongga karena membiarkan ketiga mamaknya ditawan bajak laut di pulau Binuang Sati. Mendengar kabar ini Nan Tongga pulang dengan hati sedih.

Nan Tongga bertekad untuk merantau mencari mamak-mamaknya: Mangkudun Sati, Nangkodoh Rajo dan Katik Intan. Sebelum pergi ia minta izin pada Mandeh Suto Suri dan tunangannya Puti Gondan Gondoriah. Gondoriah meminta Nan Tongga membawakannya benda-benda dan hewan-hewan langka sebanyak 120 buah. Beberapa di antaranya adalah seekor burung nuri yang bisa berbicara, beruk yang pandai bermain kecapi, kain cindai yang ‘tak basah oleh air, berjambul suto kuning, dikembang selebar alam, dilipat sebesar kuku, disimpan dalam telur burung’.

Nan Tongga berangkat berlayar dengan kapal bernama Dandang Panjang, ditemani pembantu setianya Bujang Salamat. Nakhodanya bernama Malin Cik Ameh. Setelah berlayar beberapa lama akhirnya mereka sampai di pulau Binuang Sati. Nan Tongga menyuruh kapal berlabuh di sana. Utusan Palimo Bajau, raja Pulau Binuang Sati, datang untuk mengusir Nan Tongga, namun ia menolak. Dalam pertempuran yang pecah kemudian Bujang Salamat berhasil membunuh Palimo Bajau. Pulau Binuang Sati pun takluk.

Nan Tongga menemukan salah seorang mamaknya, Nangkodoh Rajo, dikurung dalam kandang ****. Nangkodoh Rajo menceritakan bahwa kedua mamak Nan Tongga lainnya, Katik Intan dan Makhudum Sati berhasil meloloskan diri ketika pertempuran di laut dengan lanun anak buah Palimo Bajau. Ia juga memberitahukan bahwa burung nuri yang pandai berbicara ada di Kuala Koto Tanau.

Kemudian Nan Tongga menyuruh Malin Cik Ameh pulang ke Pariaman menggunakan kapal rampasan dari Binuang Sati, dan memberi pesan ke kampung halaman bahwa Nangkodoh Rajo sudah dibebaskan. Ia sendiri berlayar dengan Dandang Panjang bersama Bujang Salamat ke Koto Tanau. Namun ketika bertemu Gondan Gondoriah ia terpesona pada kecantikan tunangan Nan Tongga itu. Ia lalu bercerita bahwa Nan Tongga ditawan oleh Palimo Bajau. Ia juga berkata Nan Tongga berpesan Malin Cik Ameh dijadikan pemimpin di kampungnya. Malin Cok Ameh lalu dirajakan di sana. Ia mengirim utusan untuk meminang Gondan Gondoriah namun ditolak dengan alasan masih berduka atas tertangkapnya Nan Tongga.

Sementara itu di Koto Tanau Anggun Nan Tongga menemukan pamannya yang lain menjadi raja di sana. Putri pamannya Puti Andami Sutan memiliki seekor burung nuri yang pandai berbicara. Nan Tongga lalu mencoba meminta burung tersebut. Dengan halus Andami Sutan mengisyaratkan Nan Tongga hanya dapat mendapatkan burung nuri ajaib tersebut dengan mengawini dirinya. Tak dapat menemukan cara lain Nan Tongga pun menikahi putri tersebut.

Burung nuri ajaib itu kemudian lepas dari sangkarnya dan terbang ke Tiku Pariaman. Di sana ia menemui Puti Gondan Gondoriah yang gundah mendengar tunangannya menikah dengan Andami Sutan.

Nan Tongga tidak dapat menahan rindunya pada kampung halaman dan tunangannya. Ia meninggalkan istrinya Andami Sutan yang sedamg hamil. Ketika Gondan Gondoriah mendengar kabar bahwa Anggun Nan Tongga sudah pulang ia lari ke Gunung Ledang. Anggun Nan Tongga kemudian mengejar dan membujuknya untuk pulang. Gondoriah akhirnya luluh hatinya dan kembali bersama Nan Tongga.

Ketika hendak menikah Nan Tongga dan Gondan Gondoriah bersama Bujang Selamat pergi mencari Tuanku Haji Mudo untuk meminta restu. Namun Tuanku Haji Mudo berkata bahwa Nan Tongga dan Gondan Gondoriah adalah saudara sepersusuan, karena Nan Tongga pernah menyusu pada ibu Gondan Gondoriah. Menurut hukum Islam berarti Nan Tongga dan Gondan Gondoriah tidak boleh menikah di dunia ini dan hanya dapat berjodoh di akhirat.

Karena belum juga pulang orang tua Nan Tongga dan Gondan Gondoriah mengirim orang untuk mencari Nan Tongga dan Gondan Gondoriah. Mereka menemukan Bujang Selamat sendiri yang berkata bahwa Nan Tongga, Gondan Gondoriah, dan Tuanku Haji Mudo sudah naik ke langit
verditch - 17/05/2010 12:13 PM
#150

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul Legenda Sibabau

sumber : http://www.minangforum.com/showthread.php?t=1749

keterangan : cerita rakyat dari daerah sumatra barat

Spoiler for
Dahulunya sebelum namanya besirompak ada sebuah cerita dari masyarakat setempat yaitu cerita Sibabau. Sibabau adalah seorang pemuda tampan yang berasal dari daerah Taeh Baruah. Pemuda ini putus asa karena dia menderita penyakit kusta dan dia diusir dari kampungnya, menurut warga setempat penyakitnya itu menular tidak hanya disuruh pergi dari desa tetapi dicaci maki juga.


Kemudian Sibabau pergi dari kampung dengan wajah murung dan hati yang terluka untuk jauh dari masyarakat, dalam perjalanannya dia bertemu sebuah gua, dimana gua ini konon ceritanya terdapat di gunung Wusu, Sibabau menyendiri di gua disini. Sibabau bertemu dengan seorang sekh panjang jangguik (janggut). Sekh panjang jangguik ini merasa kasihan terhadap penderitaan dan penyakit yang dialami oleh Sibabau, kemudian sekh panjang jangguik mengobati penyakit dan sekaligus menurunkan kesaktiannya kepada Sibabau.

Dan setiap tengah malam Sibabau didatangi oleh dua makhluk halus yang bernama simambang itam dan simambang putiah degan berwujud binatang, kedua makhluk ini menjilati penyakit kusta sibabau sampai sembuh. Setelah Sibabau sembuh dari penyakitnya dia menjadi pemuda yang bersih dan tidak bau lagi, pada suatu ketika Sibabau meninggalkan gua turun dari gunung dan pergi kerumah saudagar kaya, dimana rumah ini terdapat wanita cantik.

Teryata Sibabau tertarik kepada gadis tersebut tetapi kemudian Sibabau dicaci dan dimarah marahi, kata wanita ini Sibabau tidak pantas untuk dia, Sibabau tidak terima atas perlakuan dan perkataan yang kurang mengenakan kepada dia wanita itu bilang kalau Sibabau orang nya penyakitan dan mempunyai penyakit yang menular karena itu Sibabau mempunyai niat lain.

Malam nya Sibabau melakukan ritual untuk mengguna-gunai si wanita tadi dengan memanggil mahluk-mahluk halus yaitu simambang itam dan simambang putiah prosesi ini dilakukan nya pada tengah malam di Tanjung didaerah Taeh Baruah, si wanita ini diguna-guna dari tadinya wanita ini tidak suka kepada Sibabau menjadi berbalik tergila-gila kepada Sibabau, kata masyarakat setempat wanita yang terkena ritual ini disebutnya orang yang telah kena cimbabau. Cara sembuh orang yang terkena cimbabau adalah dengan mengawininya.
verditch - 18/05/2010 10:27 AM
#151

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Dongeng Berjudul Istana Bunga

sumber : www.ceritaanak.org

keterangan : cerita dongeng

Spoiler for
Quote:
Dahulu kala, hiduplah raja dan ratu yang kejam. Keduanya suka berfoya-foya dan menindas rakyat miskin. Raja dan Ratu ini mempunyai putra dan putri yang baik hati. Sifat mereka sangat berbeda dengan kedua orangtua mereka itu. Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna selalu menolong rakyat yang kesusahan. Keduanya suka menolong rakyatnya yang memerlukan bantuan.

Suatu hari, Pangeran Aji Lesmana marah pada ayah bundanya, "Ayah dan Ibu jahat. Mengapa menyusahkan orang miskin?!"
Raja dan Ratu sangat marah mendengar perkataan putra mereka itu.
"Jangan mengatur orangtua! Karena kau telah berbuat salah, aku akan menghukummu. Pergilah dari istana ini!" usir Raja.
Pangeran Aji Lesmana tidak terkejut. Justru Puteri Rauna yang tersentak, lalu menangis memohon kepada ayah bundamya, "Jangan, usir Kakak! Jika Kakak harus pergi, saya pun pergi!"



Raja dan Ratu sedang naik pitam. Mereka membiarkan Puteri Rauna pergi mengikuti kakaknya. Mereka mengembara. Menyamar menjadi orang biasa. Mengubah nama menjadi Kusmantoro dan Kusmantari. Mereka pun mencari guru untuk mendapat ilmu. Mereka ingin menggunakan ilmu itu untuk menyadarkan kedua orangtua mereka.

Keduanya sampai di sebuah gubug. Rumah itu dihuni oleh seorang kakek yang sudah sangat tua. Kakek sakti itu dulu pernah menjadi guru kakek mereka. Mereka mencoba mengetuk pintu.
"Silakan masuk, Anak Muda," sambut kakek renta yang sudah tahu kalau mereka adalah cucu-cucu bekas muridnya. Namun kakek itu sengaja pura-pura tak tahu. Kusmantoro mengutarakan maksudnya, "Kami, kakak beradik yatim piatu. Kami ingin berguru pada Panembahan."

Kakek sakti bernama Panembahan Manraba itu tersenyum mendengar kebohongan Kusmantoro. Namun karena kebijakannya, Panembahan Manraba menerima keduanya menjadi muridnya.
Panembahan Manraba menurunkan ilmu-ilmu kerohanian dan kanuragan pada Kusmantoro dan Kusmantari. Keduanya ternyata cukup berbakat. Dengan cepat mereka menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan. Berbulan-bulan mereka digembleng guru bijaksana dan sakti itu.



Suatu malam Panembahan memanggil mereka berdua. "Anakku, Kusmantoro dan Kusmantari. Untuk sementara sudah cukup kalian berguru di sini. Ilmu-ilmu lainnya akan kuberikan setelah kalian melaksanakan satu amalan."
"Amalan apa itu, Panembahan?" tanya Kusmantari.
"Besok pagi-pagi sekali, petiklah dua kuntum melati di samping kanan gubug ini. Lalu berangkatlah menuju istana di sebelah Barat desa ini. Berikan dua kuntum bunga melati itu kepada Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna. Mereka ingin menyadarkan Raja dan Ratu, kedua orang tua mereka."



Kusmantoro dan Kusmantari terkejut. Namun keterkejutan mereka disimpan rapat-rapat. Mereka tak ingin penyamaran mereka terbuka.
"Dua kuntum melati itu berkhasiat menyadarkan Raja dan Ratu dari perbuatan buruk mereka. Namun syaratnya, dua kuntum melati itu hanya berkhasiat jika disertai kejujuran hati," pesan Panembahan Manraba.



Ketika menjelang tidur malam, Kusmantoro dan Kusmantari resah. Keduanya memikirkan pesan Panembahan. Apakah mereka harus berterus terang kalau mereka adalah Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna? Jika tidak berterus terang, berarti mereka berbohong, tidak jujur. Padahal kuntum melati hanya berkhasiat bila disertai dengan kejujuran.



Akhirnya, pagi-pagi sekali mereka menghadap Panembahan.
"Kami berdua mohon maaf, Panembahan. Kami bersalah karena tidak jujur kepada Panembahan selama ini."
Saya mengerti, Anak-anakku. Saya sudah tahu kalian berdua adalah Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna. Pulanglah. Ayah Bundamu menunggu di istana."



Setelah mohon pamit dan doa restu, Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna berangkat menuju ke istana. Setibanya di istana, ternyata Ayah Bunda mereka sedang sakit. Mereka segera memeluk kedua orang tua mereka yang berbaring lemah itu.

Puteri Rauna lalu meracik dua kuntum melati pemberian Panembahan. Kemudian diberikan pada ayah ibu mereka. Ajaib! Seketika sembuhlah Raja dan Ratu. Sifat mereka pun berubah. Pangeran dan Puteri Rauna sangat bahagia. Mereka meminta bibit melati ajaib itu pada Panembahan. Dan menanamnya di taman mereka. Sehingga istana mereka dikenal dengan nama Istana Bunga. Istana yang dipenuhi kelembutan hati dan kebahagiaan.

OLEH Maulana Febriyansyah
kiriman: RINA YUNI EKAWATI
verditch - 18/05/2010 10:33 AM
#152

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Dongeng Berjudul Pulau Kakak-Beradik

sumber : www.ceritaanak.org

keterangan : cerita dongeng

Spoiler for
Quote:
Karena dianggap sudah cukup umur, Mina dan Lina dipanggil ibu mereka untuk membicarakan rencana perkimpoian kakak-beradik itu.



“Kalian sudah cukup dewasa. Sudah waktunya kalian membangun rumah tangga,” kata sang ibu.



“Kami mau dikimpoikan dengan satu syarat,” kata Mina dan Lina.



“Apa syaratnya?”



“Karena kami kakak-beradik, suami kami juga harus kakak-beradik.”



Sang ibu tahu, itu adalah cara mereka menolak perkimpoian. Menurut Mina dan Lina, perkimpoian membuat orang kehilangan segala sesuatu yang mereka cintai: orang tua, teman, sanak-saudara, bahkan kampung halaman.



Demikianlah, karena tak ada laki-laki kakak-beradik yang menyunting Mina dan Lina, mereka tak kunjung menikah. Waktu pun terus berlalu. Ibu Mina dan Lina meninggal karena usia yang semakin tua. Sepeninggal ibunya, gadis kakak-beradik itu tinggal bersama dengan paman mereka.



Pada suatu hari, sekelompok bajak laut menculik Lina. Pemimpin bajak laut itu ingin memperistri Lina. Lina menolak dan meronta sekuat tenaga.



Penculikan itu diketahui oleh Mina. Karena tak ingin terpisah dari adiknya, Mina bertekad menyusul Lina. Dengan perahu yang lebih kecil, Mina mengejar perahu penculik Lina. Teriakan orang sekampung tak dihiraukannya. Mina terus mengejar sampai tubuhnya tak kelihatan lagi.



Tiba-tiba mendung datang. Tak lama kemudian hujan pun turun. Halilintar menggelegar, petir menyambar-nyambar. Orang-orang berlarian ke rumah masing-masing. Ombak bergulung-gulung. Menelan perahu penculik Lina, menelan Lina, menelan Mina, menelan semuanya.



Ketika keadaan kembali normal, orang-orang dikejutkan oleh dua pulau yang tiba-tiba muncul di kejauhan. Mereka yakin, pulau itu adalah penjelmaan Mina dan Lina. Kedua pulau itu diberi nama Pulau Sekijang Bendera dan Sekijang Pelepah, tetapi kebanyakan orang menyebutnya Pulau Kakak-Beradik.

(Dari ASEAN Folk Literature, diceritakan kembali oleh Prih Suharto, prih_suharto @yahoo. com)
verditch - 18/05/2010 10:40 AM
#153

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Dongeng Berjudul Bukit Merah

sumber : www.ceritaanak.org

keterangan : cerita dongeng

Spoiler for
Quote:
Dulu, Singapura pernah direpotkan oleh ikan todak. Ikan bermoncong panjang dan tajam itu suka menyerang penduduk. Tak terhitung berapa banyak penduduk yang luka-luka dan mati akibat serangan ikan ganas itu.



Raja kemudian memerintahkan penglima perangnya untuk menaklukkan ikan-ikan jahat itu. Maka, dipersiapkanlah sepasukan prajurit untuk membunuh ikan itu. Akan tetapi, hampir semua prajurit itu mati di moncong Todak. Raja bingung bagaimana menundukkan ikan itu.



Di tengah kebingungannya, Raja didatangi seorang anak kecil.



“Mohon ampun, Paduka yang Mulia, bolehkah hamba mengatakan sesuatu tentang ikan-ikan itu?”



“Katakanlah!”



“Ikan-ikan itu hanya bisa ditaklukkan dengan pagar pohon pisang.”



“Apa maksudmu?”



Yang dimaksud anak kecil itu adalah pagar yang terbuat dari batang pohon pisang. Pohon-pohon itu ditebang, dijajarkan, kemudian direkatkan dengan cara ditusuk dengan bambo antara yang satu dan lainnya hingga menyerupai pagar. Pagar itu kemudian ditaruh di pinggir pantai, tempat ikan-ikan itu biasa menyerang penduduk.



Raja kemudian memerintahkan Panglima untuk membuat apa yang dilkatakan anak kecil itu. Diam-diam Panglima mengakui kepintaran si anak. Diam-diam pula dia membenci anak kecil itu. Gagasan si anak membuat Panglima merasa bodoh di hadapan Raja.



“Seharusnya akulah yang mempunyai gagasan itu. Bukankah aku panglima perang tertinggi? Masak aku kalah oleh anaka kecil,” katanya dalam hati.



Keesokan harinya, selesailah pagar pohon pisang itu. Pagar itu lalu ditaruh di tepi pantai sebagaimana yang dikatakana si anak kecil.



Ternyata benar. Ikan-ikan yang menyerang pagar pohon pisang itu tak bisa menarik kembali moncongnya. Mereka mengelepar-gelepar sekuat tenaga, tetapi sia-sia. Moncong mereka yang panjang dan tajam itu menancap kuat dan dalam pada batang pohon pisang yang lunak itu. Akhirnya, dengan mudah penduduk dapat membunuh ikan-ikan jahat itu.


Si anak pun diberi hadiah oleh Raja.

“Terima kasih. Kau sungguh-sungguh anak yang pintar,” puji Raja.



Orang-orang bersuka cita.



Akan tetapi, panglima perang yang iri dan kesal karena merasa tampak bodoh di hadapan Raja itu menghasut Raja.



“Baginda, anak kecil yang cerdas itu tampaknya bisa menjadi ancaman jika dia besar nanti.”



“Maksudmu?”



“Siapa tahu, setelah besar nanti, dengan kepintarannya dia berhasrat merebut tahta Paduka.”



Raja terhasut. Ia lalu memerintahkan Sang Panglima untuk menyingkirkan anak itu.



Sang Panglima mendatangi rumah anak kecil itu dan dengan licik membunuh anak tak berdosa itu. Anehnya, darah si anak mengalir deras dan membasahi seluruh tanah bukit tempat anak itu tinggal. Seluruh bukit menjadi merah. Orang-orang lalu menyebut tempat itu Bukit Merah.

(Dari ASEAN Folk Literature, diceritakan kembali oleh Prih Suharto, prih_suharto @yahoo. com)
verditch - 18/05/2010 10:54 AM
#154

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Dongeng Berjudul Nyamuk Pertama

sumber : www.ceritaanak.org

keterangan : cerita dongeng

Spoiler for
Quote:
Pada zaman dahulu hiduplah seorang petani sederhana bersama istrinya yang cantik. Petani itu selalu bekerja keras, tetapi istrinya hanya bersolek dan tidak mempedulikan rumah tangganya. Mereka tinggal di rumah yang sangat sederhana dan hidup dari hasil pertanian sebagaimana layaknya keluarga petani.


Sang istri yang cantik itu tidak puas dengan keadaan mereka. Dia merasa, sudah selayaknya jika suaminya berpenghasilan lebih besar supaya dia bisa merawat kecantikannya. Untuk memenuhi tuntutan istrinya, petani itu bekerja lebih keras. Namun, sekeras apa pun kerja si petani, dia tak mampu memenuhi tuntutan istrinya. Selain minta dibelikan obat-obatan yang dapat menjaga kecantikanya, istrinya juga suka minta dibelikan pakaian yang bagus-bagus --yang tentunya sangat mahal.


“Bagaimana bisa kelihatan cantik kalau pakaianku buruk,” kata sang istri.



Karena hanya sibuk mengurusi penampilan, istri yang cantik itu tidak memperhatikan kesehatannya. Dia jatuh sakit. Sakitnya makin parah hingga akhirnya meninggal dunia. Suaminya begitu sedih. Sepanjang hari dia menangisi istrinya yang kini terbujur tanpa daya. Karena tak ingin kehilangan, petani itu tak mau mengubur tubuh istrinya yang amat dicintainya itu. Dia ingin menghidupkan kembali istrinya.



Esok harinya suami yang malang itu menjual semua miliknya dan membeli sebuah sampan. Dengan sampan itu dia membawa jasad istrinya menyusuri sungai menuju tempat yang diyakini sebagai persemayaman para dewa. Dewa tentu mau menghidupkan kembali istriku, begitu pikirnya.


Meskipun tak tahu persis tempat persemayaman para dewa, petani itu terus mengayuh sampannya. Dia mengayuh dan mengayuh tak kenal lelah. Suatu hari, kabut tebal menghalangi pandangannya sehingga sampannya tersangkut. Ketika kabut menguap, di hadapannya berdiri sebuah gunung yang amat tinggi, yang puncaknya menembus awan. Di sinilah tempat tinggal para dewa, pikir Petani. Dia lalu mendaki gunung itu sambil membawa jasad istrinya.


Dalam perjalanan dia bertemu dengan seorang lelaki tua.


“Kau pasti dewa penghuni kayangan ini,” seru si petani dengan gembira.


Dikatakannya maksud kedatangannya ke tempat itu.


Laki-laki tua itu tersenyum.


“Sungguh kau suami yang baik. Tapi, apa gunanya menghidupkan kembali istrimu?”


“Dia sangat berarti bagiku. Dialah yang membuat aku bersemangat. Maka hidupkanlah dia kembali,” kata si petani.


Laki-laki tua itu menganggukkan kepalanya.


“Baiklah kalau begitu. Akan kuturuti permintaanmu. Sebagai balasan atas kebaikan dan kerja kerasmu selama ini, aku akan memberimu rahasia bagaimana cara menghidupkan kembali istrimu. Tusuk ujung jarimu, lalu percikkan tiga tetes darah ke mulutnya. Niscaya dia akan hidup kembali. Jika setelah itu istrimu macam-macam, ingatkan bahwa dia hidup dari tiga tetes darahmu.”



Petani itu segera melaksanakan pesan dewa itu.





Ajaib, istrinya benar-benar hidup kembali.


Tanpa pikir panjang, suami yang bahagia itu pun membawa pulang istrinya. Tapi, sang istri tahu, selain sampan yang dinaiki mereka, kini suaminya tak punya apa-apa lagi. Lalu, dengan apa dia merawat kecantikannya?


Suatu hari, sampailah suami-istri itu di sebuah pelabuhan yang sangat ramai. Petani turun dari sampan dan pergi ke pasar untuk membeli bekal perjalanan dan meninggalkan istrinya sendirian di sampan. Kebetulan, di sebelah sampan mereka bersandar sebuah perahu yang sangat indah milik seorang saudagar kaya yang sedang singgah di tempat itu. Melihat kecantkan istri si petani, pemiliik perahu itu jatuh cinta dan membujuk perempuan cantik itu untuk ikut bersamanya.


“Kalau kau mau ikut denganku, akan aku belikan apa saja yang kau minta,” kata sang saudagar.


Sang istri petani tergoda. Dia lalu pergi dengan saudagar itu.


Pulang dari pasar Petani terkejut karena istrinya tak ada lagi di sampannya. Dia mencari ke sana-kemari, tetapi sia-sia. Setahun kemudian, bertemulah dia dengan istrinya, tetapi istrinya menolak kembali kepadanya. Petani lalu teringat kepada dewa yang memberinya rahasia menghidupkan kembali istrinya.


“Sungguh kau tak tahu berterima kasih. Asal tahu saja, kau hidup kembali karena minum tiga tetes darahku.”


Istrinya tertawa mengejek.


“Jadi, aku harus mengembalikan tiga tetes darahmu? Baiklah…”


Sang istri pun menusuk salah satu jarinya dengan maksud memberi tiga tetes darahnya kepada suaminya. Namun, begitu tetes darah ketiga menitik dari jarinya, wajahnya memucat, tubuhnya lemas, makin lemas, hingga akhirnya jatuh tak berdaya. Mati.



Setelah mati, dia menjelma menjadi nyamuk. Sejak itu, setiap malam nyamuk jelmaan wanita cantik itu berusaha menghisap darah manusia agar dapat kembali ke ujudnya semula.

(Diceritakan kembali oleh: Prih Suharto. Sumber: Sketches for a Portrait of Vietnamese Culture)

prih_suharto @ yahoo . com
verditch - 18/05/2010 10:58 AM
#155

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Dongeng Berjudul Pulau Hantu

sumber : www.ceritaanak.org

keterangan : cerita dongeng

Spoiler for
Quote:
Tersebutlah dua orang jagoan yang selalu ingin menunjukkan dirinya lebih jago dari yang lain. Pada suatu hari, mereka bertemu di perairan sebelah selatan Singapura.

Tanpa ba atau bu, mereka langsung saling menyerang. Mereka bertarung lama sekali hingga tubuh mereka bersimbah darah. Karena sama-sama kuat, tak ada tanda-tanda siapa yang akan kalah.

Jin Laut tidak suka dengan pertarungan itu karena darah mereka mengotori laut. Jin Laut lalu menjungkirbalikkan perahu mereka. Maksudnya agar mereka berhenti bertarung. Ternyata, mereka tetap bertarung. Dengan kesaktiannya masing-masing, mereka bertarung di atas air.

“Hei, aku perintahkan kalian berhenti beratarung! Ini wilayah kekuasaanku. Kalau tidak…”

Bukannya berhenti, kedua jagoan itu malah bertempur lebih seru. Dengan isyarat tangan, mereka bahkan seperti mengejek Jin Laut.

Jin Laut marah. Dia menyemburkan air ke wajah kedua jagoan itu sehingga pandangan mereka terhalang. Karena tak dapat melihat dengan jelas, kedua jagoan itu bertempur secara membabi-buta. Mereka mengayunkan pedang ke sana-kemari sekehendajk hati sampai akhirnya bersarang di tubuh lawan masing-masing. Kedua jagoan itu pun menemui ajalnya.

Para dewa di kayangan mura karena Jin Laut turut campur urusan manusia. Mereka memperingatkan Jin Laut untuk tidak lagi ikut campur urusan manusia. Jin Laut mengaku salah dan mencoba menebus dosa dengan membuatkan tempat khusus agar roh kedua jagoan itu dapat bersemayam dengan tenang. Jin Laut menyulap sampan yang ditumpangi kedua jagoan itu menjadi pulau tempat bersemayam roh mereka. Orang-orang kemudian menyebut pulau itu sebagai Pulau Hantu.

(Dari ASEAN Folk Literature, diceritakan kembali oleh Prih Suharto, prih_suharto @yahoo. com)
verditch - 18/05/2010 11:03 AM
#156

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Dongeng Berjudul Anak Katak yang Sombong dan Anak Lembu

sumber : www.ceritaanak.org

keterangan : cerita dongeng

Spoiler for
Quote:
Di tengah padang rumput yang sangat luas, terdapat sebuah kolam yang dihuni oleh berpuluh-puluh katak. Diantara katak-katak tersebut ada satu anak katak yang bernama Kenthus, dia adalah anak katak yang paling besar dan kuat. Karena kelebihannya itu, Kenthus menjadi sangat sombong. Dia merasa kalau tidak ada anak katak lainnya yang dapat mengalahkannya.


Sebenarnya kakak Kenthus sudah sering menasehati agar Kentus tidak bersikap sombong pada teman-temannya yang lain. Tetapi nasehat kakaknya tersebut tidak pernah dihiraukannya. Hal ini yang menyebabkan teman-temannya mulai menghindarinya, hingga Kenthus tidak mempunyai teman bermain lagi.


Pada suatu pagi, Kenthus berlatih melompat di padang rumput. Ketika itu juga ada seekor anak lembu yang sedang bermain di situ. Sesekali, anak lembu itu mendekati ibunya untuk menyedot susu. Anak lembu itu gembira sekali, dia berlari-lari sambil sesekali menyenggok rumput yang segar. Secara tidak sengaja, lidah anak sapi yang dijulurkan terkena tubuh si Kenthus.


"Huh, berani makhluk ini mengusikku," kata Kenthus dengan perasaan marah sambil coba menjauhi anak lembu itu. Sebenarnya anak lembu itu pula tidak berniat untuk mengganggunya. Kebetulan pergerakannya sama dengan Kenthus sehingga menyebabkan Khentus menjadi cemas dan melompat dengan segera untuk menyelamatkan diri.


Sambil terengah-engah, Kenthus sampai di tepi kolam. Melihat Kenthus yang kelihatan sangat capek, kawan-kawannya nampak sangat heran. "Hai Khentus, mengapa kamu terengah-engah, mukamu juga kelihatan sangat pucat sekali,” Tanya teman-temannya.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya cemas saja. Lihatlah di tengah padang rumput itu. Aku tidak tahu makhluk apa itu, tetapi makhluk itu sangat sombong. Makhluk itu hendak menelan aku." Kata Kenthus..


Kakaknya yang baru tiba di situ menjelaskan. " Makhluk itu anak lembu. sepengetahuan kakak, anak lembu tidak jahat. Mereka memang biasa dilepaskan di padang rumput ini setiap pagi."


"Tidak jahat? Kenapa kakak bias bilang seperti itu? Saya hampir-hampir ditelannya tadi," kata Kenthus. "Ah, tidak mungkin. Lembu tidak makan katak atau ikan tetapi hanya rumput." Jelas kakaknya lagi.


"Saya tidak percaya kakak. Tadi, aku dikejarnnya dan hampir ditendang olehnya." Celah Kenthus. "Wahai kawan-kawan, aku sebenarnya bisa melawannya dengan mengembungkan diriku," Kata Kenthus dengan bangga.


" Lawan saja Kenthus! Kamu tentu menang," teriak anak-anak katak beramai-ramai.


"Sudahlah Kenthus. Kamu tidak akan dapat menandingi lembu itu. Perbuatan kamu berbahaya. Hentikan!" kata Kakak Kenthus berulang kali tetapi Kenthus tidak mempedulikan nasehat kakaknya. Kenthus terus mengembungkan dirinya, karena dorongan dari teman-temannya. Sebenarnya, mereka sengaja hendak memberi pelajaran pada Kenthus yang sombong itu.


"Sedikit lagi Kenthus. Teruskan!" Begitulah yang diteriakkan oleh kawan-kawan Kenthus. Setelah perut Kenthus menggembung dengan sangat besar, tiba-tiba Kenthus jatuh lemas. Perutnya sangat sakit dan perlahan-lahan dikempiskannya. Melihat keadaan adiknya yang lemas, kakak Kenthus lalu membantu.


Mujurlah Kenthus tidak apa-apa. Dia sembuh seperti sedia kala tetapi sikapnya telah banyak berubah. Dia malu dan kesal dengan sikapnya yang sombong.
verditch - 19/05/2010 10:30 AM
#157

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Dongeng Berjudul Peri dan Hutan Berkabut

sumber : www.ceritaanak.org

keterangan : cerita dongeng

Spoiler for
Quote:
Di sebuah desa hiduplah seorang anak perempuan yang lugu. Sheila namanya. Ia senang sekali bermain di tepi hutan. Ibunya selalu mengingatkannya agar tak terlalu jauh masuk ke hutan. Penduduk desa itu percaya, orang yang terlalu jauh masuk ke hutan, tak akan pernah kembali. Bagian dalam hutan itu diselubungi kabut tebal. Tak seorang pun dapat menemukan jalan pulang jika sudah tersesat.

Sheila selalu mengingat pesan ibunya. Namun ia juga penasaran ingin mengetahui daerah berkabut itu. Setiap kali pergi bermain, ibu Sheila selalu membekalinya dengan sekantong kue, permen, coklat, dan sebotol jus buah. Sheila sering datang ke tempat perbatasan kabut di hutan. Ia duduk di bawah pohon dan menikmati bekalnya di sana. Sheila ingin sekali melangkahkan kakinya ke dalam daerah berkabut itu. Namun ia takut.

Suatu kali, seperti biasa Sheila datang ke daerah perbatasan kabut. Seperti biasa ia duduk menikmati bekalnya. Tiba-tiba Sheila merasa ada beberapa pasang mata memperhatikannya. Ia mengarahkan pandangan ke sekeliling untuk mencari tahu. Namun Sheila tak menemukan siapa-siapa. “Hei! Siapa pun itu, keluarlah! Jika kalian mau, kalian dapat makan kue bersamaku,” teriak Sheila penasaran.

Mendengar tawaran Sheila, beberapa makhluk memberanikan diri muncul di depan Sheila. Tampak tiga peri di hadapan Sheila. Tubuh mereka hanya separuh tinggi badan Sheila. Di punggungnya ada sayap. Telinga mereka berujung lancip. Dengan takut-takut mereka menghampiri Sheila. Anak kecil pemberani itu tanpa ragu-ragu menyodorkan bekalnya untuk dimakan bersama-sama. Peri-peri itu bernama Pio, Plea, dan Plop. Ketiga peri itu kakak beradik.

Sejak saat itu Sheila dan ketiga kawan barunya sering makan bekal bersama-sama. Kadang mereka saling bertukar bekal. Suatu hari Sheila bertanya kepada ketiga temannya, “Pio, Plea, Plop. Mengapa ada daerah berkabut di hutan ini? Apa isinya? Dan mengapa tak ada yang pernah kembali? Kalian tinggal di hutan sebelah mana?” tanya Sheila penuh ingin tahu. Mendengar pertanyaan Sheila ketiga peri itu saling bertukar pandang. Mereka tahu jawabannya namun ragu untuk memberi tahu Sheila. Setelah berpikir sejenak, akhirnya mereka memberitahu rahasia hutan berkabut yang hanya diketahui para peri.

“Para peri tinggal di balik hutan berkabut. Termasuk kami. Kabut itu adalah pelindung agar tak seorang pun dapat masuk ke wilayah kami tanpa izin. Kami tiga bersaudara adalah peri penjaga daerah berkabut. Jika kabut menipis, kami akan meniupkannya lagi banyak-banyak. Jika ada tamu yang tak diundang masuk ke wilayah kami, kami segera membuatnya tersesat,” jelas Pio, Plea, Plop.

Sheila terkagum-kagum mendengarnya. “Bisakah aku datang ke negeri kalian suatu waktu?” tanya Sheila berharap. Ketiga peri itu berembuk sejenak. “Baiklah. Kami akan mengusahakannya,” kata mereka. Tak lama kemudian Sheila diajak Pio, Plea dan Plop ke negeri mereka. Hari itu Sheila membawa kue, coklat, dan permen banyak-banyak. Sebelumnya, Sheila didandani seperti peri oleh ketiga temannya. Itu supaya mereka bisa mengelabui para peri lain. Sebenarnya manusia dilarang masuk ke wilayah peri. Ketiga teman Sheila ini juga memberi kacamata khusus pada Sheila. Dengan kacamata itu Sheila dapat melihat dengan jelas.

Daerah berkabut penuh dengan berbagai tumbuhan penyesat. Berbagai jalan yang berbeda nampak sama. Jika tidak hati-hati maka akan tersesat dan berputar-putar di tempat yang sama. Dengan bimbingan Pio, Plea, dan Plop akhirnya mereka semua sampai ke negeri peri. Di sana rumah tampak mungil. Bentuknya pun aneh-aneh. Ada rumah berbentuk jamur, berbentuk sepatu, bahkan ada yang berbentuk teko. Pakaian mereka seperti kostum untuk karnaval. Kegiatan para peri pun bermacam-macam. Ada yang mengumpulkan madu, bernyanyi, membuat baju dari kelopak bunga… Semua tampak riang gembira.

Sheila sangat senang. Ia diperkenalkan kepada anak peri lainnya. Mereka sangat terkejut mengetahui Sheila adalah manusia. Namun mereka senang dapat bertemu dan berjanji tak akan memberi tahu ratu peri. Rupanya mereka pun ingin tahu tentang manusia. Mereka bermain gembira. Sheila dan para anak peri berkejar-kejaran, bernyanyi, bercerita dan tertawa keras-keras. Mereka juga saling bertukar makanan. Pokoknya hari itu menyenangkan sekali.

Tiba-tiba ratu peri datang. “Siapa itu?” tanyanya penuh selidik. “Ratu, dia adalah teman hamba dari hutan utara,” jawab Plop takut. Ia terpaksa berbohong agar Sheila tak ketahuan. Ratu peri memperhatikan Sheila dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu ia pergi. Sheila bermain lagi dengan lincah. Namun sayang ia terpeleset. Sheila jatuh terjerembab. Ketika itu cuping telinga palsunya copot. Ratu peri melihat hal itu. Ia amat marah.
“Manusia! Bagaimana ia bisa sampai kemari? Siapa yang membawanya?” teriaknya mengelegar. Pio, Plea, dan Plop maju ke depan dengan gemetar. “Kami, Ratu,” jawab mereka gugup. “Ini pelanggaran. Jika ada manusia yang tahu tempat ini, maka tempat ini tidak aman lagi. Kalian harus dihukum berat,” teriak ratu peri marah. Sheila yang saat itu juga ketakutan memberikan diri maju ke depan. “Mereka tidak bersalah, Ratu. Akulah yang memaksa mereka untuk membawaku kemari.” “Kalau begitu, kau harus dihukum menggantikan mereka!” gelegar ratu peri.

Sheila dimasukkan ke dalam bak air tertutup. Ia akan direbus setengah jam. Namun ketika api sudah dinyalakan ia tidak merasa panas sedikit pun. “Keluarlah! Kau lulus ujian, ” kata ratu peri. Ternyata kebaikan hati Sheila membuat ia lolos dari hukuman. Ia diperbolehkan pulang dan teman perinya bebas hukuman. Ratu peri membuat Sheila mengantuk dan tertidur. Ia menghapus ingatan Sheila tentang negeri peri. Namun ia masih menyisakannya sedikit agar Sheila dapat mengingatnya di dalam mimpi. Ketika terbangun, Sheila berada di kasur kesayangannya.
verditch - 19/05/2010 10:43 AM
#158

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Dongeng Berjudul Si Kancil dan Siput

sumber : www.ceritaanak.org

keterangan : cerita dongeng

Spoiler for
Quote:
Pada suatu hari si kancil nampak ngantuk sekali. Matanya serasa berat sekali untuk dibuka. “Aaa....rrrrgh”, si kancil nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup cerah, si kancil merasa rugi jika menyia-nyiakannya. Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan sombongnya, “Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku”.

Sambil membusungkan dadanya, si Kancil pun mulai berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di sungai, ia bertemu dengan seekor siput. “Hai kancil !”, sapa si siput. “Kenapa kamu teriak-teriak? Apakah kamu sedang bergembira?”, tanya si siput. “Tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar”, jawab si kancil dengan sombongnya.

Siput“Sombong sekali kamu Kancil, akulah hewan yang paling cerdik di hutan ini”, kata si Siput. “Hahahaha......., mana mungkin” ledek Kancil. “Untuk membuktikannya, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?”, tantang si Siput. “Baiklah, aku terima tantanganmu”, jawab si Kancil. Akhirnya mereka berdua setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok pagi.

Setelah si Kancil pergi, si siput segera mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si kancil memanggil.

Akhirnya hari yang dinanti sudah tiba, kancil dan siput pun sudah siap untuk lomba lari. “Apakah kau sudah siap untuk berlomba lari denganku”, tanya si kancil. “Tentu saja sudah, dan aku pasti menang”, jawab si siput. Kemudian si siput mempersilahkan kancil untuk berlari dahulu dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana si siput.

Kancil berjalan dengan santai, dan merasa yakin kalau dia akan menang. Setelah beberapa langkah, si kancil mencoba untuk memanggil si siput. “Siput....sudah sampai mana kamu?”, teriak si kancil. “Aku ada di depanmu!”, teriak si siput. Kancil terheran-heran, dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi, dan si siput menjawab dengan kata yang sama.”Aku ada didepanmu!”

Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul dan berkata kalau dia ada depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal.

Kancil berlari terus, sampai akhirnya dia melihat garis finish. Wajah kancil sangat gembira sekali, karena waktu dia memanggil siput, sudah tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa dialah pemenang dari perlombaan lari itu.

Betapa terkejutnya si kancil, karena dia melihat si siput sudah duduk di batu dekat garis finish. “Hai kancil, kenapa kamu lama sekali? Aku sudah sampai dari tadi!”, teriak si siput. Dengan menundukkan kepala, si kancil menghampiri si siput dan mengakui kekalahannya. “Makanya jangan sombong, kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang terpandai dan cerdik”, kata si siput. “Iya, maafkan aku siput, aku tidak akan sombong lagi”, kata si kancil.

Cerita anak ini diceritakan kembali oleh Kak Ghulam Pramudiana
verditch - 19/05/2010 10:53 AM
#159

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Dongeng Berjudul Asal Mula Guntur

sumber : www.ceritaanak.org

keterangan : cerita dongeng

Spoiler for
Quote:
Dahulu kala peri dan manusia hidup berdampingan dengan rukun. Mekhala, si peri cantik dan pandai, berguru pada Shie, seorang pertapa sakti. Selain Mekhala, Guru Shie juga mempunyai murid laki-laki bernama Ramasaur. Murid laki-laki ini selalu iri pada Mekhala karena kalah pandai. Namun Guru Shie tetap menyayangi kedua muridnya. Dan tidak pernah membedakan mereka.

Suatu hari Guru Shie memanggil mereka dan berkata, “Besok, berikan padaku secawan penuh air embun. Siapa yang lebih cepat mendapatkannya, beruntunglah dia. Embun itu akan kuubah menjadi permata, yang bisa mengabulkan permintaan apapun.” Mekhala dan Ramasaur tertegun. Terbayang oleh Ramasaur ia akan meminta harta dan kemewahan. Sehingga ia bisa menjadi orang terkaya di negerinya. Namun Mekhala malah berpikir keras. Mendapatkan secawan air embun tentu tidak mudah, gumam Mekhala di dalam hati.

Esoknya pagi-pagi sekali kedua murid itu telah berada di hutan. Ramasaur dengan ceroboh mencabuti rumput dan tanaman kecil lainnya. Tetapi hasilnya sangat mengecewakan. Air embun selalu tumpah sebelum dituang ke cawan. Sebaliknya, Mekhala dengan hati-hati menyerap embun dengan sehelai kain lunak. Perlahan diperasnya lalu dimasukan ke cawan. Hasilnya sangat menggembirakan. Tak lama kemudian cawannya telah penuh. Mekhala segera menemui Guru Shie dan memberikan hasil pekerjaannya.

Guru Shie menerimanya dengan gembira. Mekhala memang murid yang cerdik. Seperti janjinya, Guru Shie mengubah embun itu menjadi sebuah permata sebesar ibu jari. ” Jika kau menginginkan sesuatu, angkatlah permata ini sejajar dengan keningmu. Lalu ucapkan keinginanmu,” ujar Guru Shie. Mekhala mengerjakan apa yang diajarkan gurunya, lalu menyebut keinginannya. Dalam sekejap Mekhala telah berada di langit biru. Melayang-layang seperti Rajawali. Indah sekali.

Sementara itu, baru pada senja hari Ramasaur berhasil mendapat secawan embun. Hasilnya pun tidak sejernih yang didapat Mekhala. Tergopoh-gopoh Ramasaur menyerahkannya pada Guru Shie. “Meskipun kalah cepat dari Mekhala, kau akan tetap mendapat hadiah atas jerih payahmu,” kata Guru Shie sambil menyerahkan sebuah kapak sakti. Kapak itu terbuat dari perak. Digunakan untuk membela diri bila dalam bahaya. Bila kapak itu dilemparkan ke sasaran, gunung pun bisa hancur.

Ternyata Ramasaur menyalahgunakan hadiah itu. Ia iri melihat Mekhala yang bisa melayang-layang di angkasa. Ramasaur segera melemparkan kapak itu ke arah Mekhala. Tahu ada bahaya mengancam, Mekhala menangkis kapak itu dengan permatanya. Akibatnya terjadilah benturan dahsyat dan cahaya yang sangat menyilaukan. Benturan itu terus terjadi hingga saat ini, berupa gelegar yang memekakkan telinga. Orang-orang menyebutnya “guntur”.
verditch - 19/05/2010 11:00 AM
#160

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Dongeng asal mula duabelas shio binatang

sumber : www.ceritaanak.org

keterangan : cerita dongeng

Spoiler for
Quote:
Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang dewa. Pada tanggal 31 Desember pagi sebelum tahun baru, Sang Dewa menulis surat kepada binatang2 diseluruh negeri. Angin lalu menyebarkan surat-surat itu ke seluruh negeri.


Dalam sekejap, para binatang menerima surat2 itu, yang isinya seperti ini:

"Besok pagi di Tahun Baru, aku akan memilih binatang yang paling dahulu datang kesini, dari nomor satu sampai dengan nomor duabelas. Lalu, setiap tahun aku akan mengangkat satu-persatu dari mereka sebagai Jenderal berdasarkan urutan". Tertanda, Dewa.


Para bintang sangat bersemangat dan tertarik dengan hal itu. Mereka sangat ingin menjadi Jenderal. Tetapi, ada seekor binatang yang tidak membaca surat semacam ini, yaitu Kucing yang suka bersantai dan tidur. Ia hanya mendengar berita ini dari Tikus. Tikus yang licik menipunya dan memberitahu bahwa mereka harus berkumpul di tempat Dewa lusa tanggal 2 Januari, padahal seharusnya mereka berkumpul besok pagi tanggal 1 Januari.


Semua binatang bersemangat dan memikirkan tentang kemenangan, dan mereka semua tidur cepat. Hanya Sapi yang langsung berangkat malam itu juga, karena ia sadar bahwa ia hanya dapat berjalan lambat. Tikus yang licik melihatnya lalu meloncat dan menumpang di punggung Sapi, tapi Sapi tidak menyadari hal itu.


Pagi harinya, saat hari masih gelap, Anjing, Monyet, Babi Hutan, Harimau, Naga, Ular, Kelinci, Ayam, Domba dan Kuda semuanya berangkat berlari menuju ketempat Sang Dewa.


Saat matahari mulai terbit, yang pertama kali sampai di tampat tinggal Dewa adalah...Sapi. Tapi kemudian Tikus melompat kedepan dan mendarat tepat dihadapan Dewa. Maka Tikus pun menjadi yang pertama.


Selamat Tahun Baru Dewa...kata Tikus kepada Dewa.


Sapi pun menangis karena kecewa menjadi urutan ke dua.


Di belakang mereka, tibalah Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Domba, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi Hutan datang berurutan. Dengan demikian mereka ditetapkan sebagai pemenang satu sampai dengan duabelas sesuai dengan urutan kedatangannya.

Duabelas ekor binatang ini kemudian disebut dengan 12 Shio Bintang.


Para binatang itu merayakan kemenangan dan berpesta pora sambil mengelilingi Sang Dewa. Lalu, kucing datang dengan wajah yang sangat marah. Ia mencari Tikus yang telah menipunya sehingga ia datang terlambat. Kucing pun berlari mengejar Tikus kesana kemari.


Sejak itu mulailah era Duabelas Shio Binatang, dimulai dari yang pertama tahun Tikus, lalu Sapi, kemudian Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Domba, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi Hutan.


Kucing yang tidak berhasil masuk kedalam Dua belas Shio Binatang sampai sekarang masih mengejar Tikus kesana kemari karena telah ditipu.

*Cerita Anak tentang duabelas shio binatang, disadur dari berbagai sumber
Page 8 of 13 | ‹ First  < 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 > 
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel