Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
Total Views: 77161 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 4 of 7 |  < 1 2 3 4 5 6 7 > 

sejuta bintang - 22/01/2010 02:24 PM
#61

Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk Karya : Ritual Adat Masyarakat Bali
Sumber : http://sanggrahanusantara.blogspot.com/2009/10/pengertian-dan-makna-upacara-mapandes.html
Keterangan : PENGERTIAN DAN MAKNA UPACĀRA MAPANDES

Spoiler for Potong gigi dari Bali

PENGERTIAN DAN MAKNA UPACĀRA MAPANDES
Oleh; I Wayan Sudarma (Shri Danu Dharma P)

Panca Yajña*adalah lima jenis karya suci yang diselenggarakan oleh umat Hindu di dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup. Adapun Panca Yajña atau Panca Maha Yajña tersebut terdiri dari:

1.*Dewa Yajña.

Ialah suatu korban suci/ persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh manifestasi- Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta, Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta Muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat- tempat suci). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari- hari suci, hari peringatan (Rerahinan), hari ulang tahun (Pawedalan) ataupun hari- hari raya lainnya seperti: Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Saraswati, Hari Raya Nyepi dan lain- lain.

2.*Pitra Yajña.

lalah suatu korban suci/ persembahan suci yang ditujukan kepada Roh- roh suci dan Leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacāra Jenasah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana. Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yajña ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas, mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti, memberikan sesuatu yang baik dan layak, menghormati serta merawat hidup di harituanya juga termasuk pelaksanaan Yajña. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti:

1. Kita berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit.
2. Kita berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.
3. Kita berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha.

3.*Manusa Yajña.

Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup manusia.
Di dalam pelaksanaannya dapat berupa Upacāra Yajña ataupun selamatan, di antaranya ialah:

1. Upacāra selamatan (Jatasamskara/ Nyambutin) guna menyambut bayi yang baru lahir.
2. Upacāra selamatan (nelubulanin) untuk bayi (anak) yang baru berumur 3 bulan (105 hari).
3. Upacāra selamatan setelah anak berumur 6 bulan (oton/ weton).
4. Upacāra Potong Gigi (Metatah / Mesangih) untuk anak yang naik remaja
5. Upacāra perkimpoian (Wiwaha) yang disebut dengan istilah Abyakala/ Citra Wiwaha/ Widhi-Widhana.

Di dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan- kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan dan kebahagiaan hidup si anak di dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan lain- lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. Juga usaha di dalam memberikan pertolongan dan menghormati sesama manusia mulai dari tata cara menerima tamu (athiti krama), memberikan pertolongan kepada sesama yang sedang menderita (Maitri) yang diselenggarakan dengan tulus ikhlas adalah termasuk Manusa Yajña.

4.*Rsi Yajña.

Adalah suatu Upacāra Yajña berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi, orang- orang suci, Resi, Pinandita, Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk:

1. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacāra Diksa.
2. Membangun tempat- tempat pemujaan untuk Sulinggih.
3. Menghaturkan/ memberikan punia pada saat- saat tertentu kepada Sulinggih.
4. Mentaati, menghayati, dan mengamalkan ajaran- ajaran para Sulinggih.
5. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur, membina, dan mengembangkan ajaran agama.

5.*Bhuta Yajña.

Adalah suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk- makhluk rendahan, baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala), hewan (binatang), tumbuh- tumbuhan, dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa.

Adapun pelaksanaan upacāra Bhuta Yajña ini dapat berupa: Upacāra Yajña (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/ alam semesta, yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.

Di dalam pelaksanaan Yajña biasanya seluruh unsur- unsur Panca Yajña telah tercakup di dalamnya, sedangkan penonjolannya tergantung Yajña mana yang diutamakan.

Manusa Yajña

Manusa Yajña dalam konteks ritual seperti di jelaskan diatas, bermacam-macam bentuknya, di antaranya magedong-gedongan, nyambutin, ngotonon, potong gigi, dan upacāra perkimpoian. Dalam konteks yang lebih luas manusa Yajña bisa dipahami sebagai bentuk Yajña kepada sesama.

Upacāra Raja Sewala

Di dalam sastra-sastra Hindu disebutkan bahwa bagi orang tua (keluarga) berkewajiban pertama, Ametuaken, melahirkan anak. Ini bertujuan untuk mengisi dan memelihara dunia, melanjutkan garis keturunan, sehingga dunia ini penuh dengan tawa dan tangis. Kedua, Binojana/ membesarkan anaknya yaitu memberikan makanan yang cukup dan penuh gizi seimbang, Ketiga, Mengupadyaya/ mendidik, menyekolahkan, membekali dengan ilmu pengetahuan dan ilmu agama untuk menyosong masa depan, Keempat Matulung Urip/ melindungi atau menjaga kesehatan dan Kelima, Sinangaskara/ memberikan upacāra/ mensucikan jiwanya.Mensucikan jiwa anak, adalah kewajiban bagi orang tua. Umat Hindu dari sejak memasuki gerbang rumah tangga sudah dimulai dengan upacāra, yaitu bayi dalam kandungan baru berumur 5 - 7 bulan namanya upacāra megedong-gedongan atau tujuh bulanan, setelah bayi lahir dibikinkan upacāra nyambutin atau dapetan dan terakhir tugas orang tua adalah mengawinkan anaknya yang telah dewasa.

Ciri-ciri anak telah meningkat dewasa.

Siklus kehidupan makhluk didunia adalah lahir, hidup dan mati (kembali keasalnya). Manusia hidup di dunia mengalami beberapa phase yaitu, phase anak-anak, pada phase ini anak dianggap sebagai raja, semua permintaannya dipenuhi. Phase berikutnya adalah pada masa anak meningkat dewasa. Saat ini anak itu tidak lagi dianggap sebagai raja, tetapi sebagai teman. Orang tua memberikan nasehat kepada anak-anaknya dan anak itu bisa menolak nasehat orang tuanya bila kondisi dan lingkungannya tidak mendukung, artinya terjadi komunikasi timbal balik atau saling melengkapi. Dan yang terakhir adalah phase tua, di sini anak tadi menjadi panutan bagi penerusnya.

Sebagai tanda dari kedewasaan seseorang adalah suaranya mulai membesar /berubah/ngembakin (bahasa Bali) bagi laki-laki dan bagi perempuan pertama kalinya ia mengalami datang bulan. Sejak saat ini seseorang mulai merasakan getar-getar asmara, karena Dewa Asmara mulai menempati lubuk hatinya. Bila perasaan getar-getar asmara ini tidak dibentengi dengan baik akan keluar dari jalur yang sebenarnya.

Perasaan getar-getar asmara itu dibentengi melalui dua jalur yaitu, jalur niskala, membersihkan jiwa anak dengan mengadakan Upacāra yang disebut Raja Sewala dan jalur sekala, dengan memberikan wejangan-wejangan yang bermanfaat bagi dirinya

Upacāra Raja Sewala ini sesuai dengan apa yang diungkapkan didalam Agastya Parwa bahwa, disebutkan ada tiga perbuatan yang dapat menuju sorga, yaitu: Tapa (pengendalian), Yajña (persembahan yang tulus iklas) dan Kirti (perbuatan amal kebajikan) Upacāra Raja Sewala merupakan Yajña (persembahan yang tulus iklas) yang membuat peluang bagi keluarganya untuk masuk sorga.

Nilai pendidikan

Upacāra Raja Sewala/meningkat dewasa yang dilakukan oleh umat Hindu adalah merupakan salah satu jenis Upacāra Manusa Yajña yang bertujuan untuk memohon kehadapan Sanghyang Widhi Waça (Tuhan Yang Maha Esa) dalam menifestasinya sebagai Sang Hyang Semara Ratih, agar orang itu dibimbing, sehingga ia dapat mengendalikan dirinya dalam menghadapi Pancaroba. Pada masa panacaroba ini seseorang sangat rentan terhadap godaan-godaan khususnya godaan dari Sad Ripu yaitu: Kroda (sifat marah), Loba (rakus/tamak), Kama (nafsu/keinginan), Moha (kebingungan), Mada (kemabukan), dan Matsarya (rasa iri hati)

Pada Upacāra ini juga terselip nilai pendidikan. Anak diberikan wejangan-wejangan yang menyatakan bahwa dirinya telah tumbuh dewasa, apapun yang akan diperbuatnya akan berakibat juga kepada orang tuanya. Jadi anak itu tidak bebas begitu saja menerjunkan diri dalam pergaulan dimasyarakat. Dia harus tahu mana yang pantas untuk dilakukan dan mana yang dilarang. Dalam hal ini anak-anak juga merasa mendapat perhatian dari orang tuanya sehingga menimbulkan rasa lebih hormat kepada orang tuanya.

Melalui Upacāra Raja Sewala/Meningkat dewasa ini diharapkan seseorang dapat meningkatkan kesucian pribadinya sehingga mampu memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk.


BERSAMBUNG

sejuta bintang - 22/01/2010 02:29 PM
#62

Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk Karya : Ritual Adat Masyarakat Bali
Sumber : http://sanggrahanusantara.blogspot.c...-mapandes.html
Keterangan : PENGERTIAN DAN MAKNA UPACĀRA MAPANDES

SAMBUNGAN
Spoiler for Mapandes dari Bali

Upacāra mapandes

Upacāra Yajña potong gigi, atau dalam komunitas Hindu-Bali disebut metatah, mepandes, atau mesangih. Secara fisik, dalam upacāra ini, baik laki-laki maupun perempuan, enam gigi mereka diratakan dengan alat kikir, yaitu dua gigi taring dan empat gigi tengah.

Keenam gigi itu melambangkan Sad Ripu atau enam sifat buruk yang ada dalam diri setiap manusia, yakni nafsu (kama), rakus (loba), marah (kroda), mabuk (mada), bingung (moha), dan dengki (matsarya).

Upacāra mapandes disebut pula matatah, masangih yang dimaksud adalah memotong atau meratakan empat gigi seri dan dua taring kiri dan kanan, pada rahang atas, yang secara simbolik dipahat 3 kali, diasah dan diratakan. Rupanya dari kata masangih, yakni mengkilapkan gigi yang telah diratakan, muncul istilah mapandes, sebagai bentuk kata halus (singgih) dari kata masangih tersebut.

Bila kita mengkaji lebih jauh, upacāra Mapandes dengan berbagai istilah atau nama seperti tersebut di atas, merupakan upacāra Śarīra Saṁskara, yakni menyucikan diri pribadi seseorang, guna dapat lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang Widhi, para dewata dan leluhur. Di Bali upacāra ini dikelompokkan dalam upacāra Manusa Yajña.

1. Adapun makna yang dikandung dalam upaca mapandes ini adalah:
Sebagai simbolis meningkatnya seorang anak menjadi dewasa, yakni manusia yang telah mendapatkan pencerahan, sesuai dengan makna kata dewasa, dari kata devaṣya yang artinya milik dewa atau dewata. Seorang telah dewasa mengandung makna telah memiliki sifat dewata (Daivi sampad) seperti diamanatkan dalam kitab suci Bhagavadgītā.

2. Memenuhi kewajiban orang tua, ibu-bapa, karena telah memperoleh kesempatan untuk beryajña, menumbuh-kembangkan keperibadian seorang anak, sehingga anak tersebut mencapai kedewasaan, mengetahui makna dan hakekat penjelmaan sebagai umat manusia.

3. Secara spiritual, seseorang yang telah disucikan akan lebih mudah menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi, para dewata dan leluhur, kelak bila yang bersangkutan meninggal dunia, Ātma yang bersangkutan akan bertemu dengan leluhurnya di alam Piṭṛa (Piṭṛaloka).

Berdasarkan pengertian dan makna upacāra Mapandes seperti tersebut di atas, dapatlah dipahami bahwa upacāra ini merupakan upacāra Vidhi-vidhana yang sangat penting bagi kehidupan umat Hindu, yakni mengentaskan segala jenis kekotoran dalam diri pribadi, melenyapkan sifat-sifat angkara murka, Sadripu (enam musuh dalam diri pribadi manusia) dan sifat-sifat keraksasaan atau Asuri-Sampad lainnya. Dalam lontar Pujakalapati dinyatakan, seseorang yang tidak melakukan upacāra Mapandes, tidak akan dapat bertemu dengan roh leluhurnya yang telah suci, demikian pula dalam Ātmaprasangsa dinyatakan roh mereka yang tidak melaksanakan upacāra potong gigi mendapat hukuman dari dewa Yāma (Yāmādhipati) berupa tugas untuk menggit pangkal bambu petung yang keras di alam neraka (Tambragomuka), dan bila kita hubungkan dengan kitab Kālatattwa, Bhatāra Kāla tidak dapat menghadap dewa bila belum keempat gigi seri dan 2 taring rahang bagian atasnya belum dipanggur. Demikian pula dalam kitab Smaradahana, putra Sang Hyang Śiva, yakni Bhatāra Gaṇa, Gaṇeśa atau Gaṇapati belum mampu mengalahkan musuhnya raksasa Nilarudraka, sebelum salah satu taringnya patah.

Upacāra ini merupakan sebagai wujud bhakti seorang tua (ibu-bapa) kepada leluhurnya yang telah menjelma sebagai anaknya, untuk ditumbuh-kembangkan keperibadiannya, diharapkan menjadi putra yang suputra sesuai dengan kitab Nitiśāstra

Adapun tujuan dari upacāra Mapandes dapat dirujuk pada sebuah lontar bernama Puja Kalapati yang mengandung makna penyucian seorang anak saat akil balig menuju ke alam dewasa, sehingga dapat memahami hakekat penjelmaannya sebagai manusia. Berdasarkan keterangan dalam lontar Pujakalapati dan juga Ātmaprasangsa, maka upacāra Mapandes mengandung tujuan, sebagai berikut:

1. Melenyapkan kotoran dan cemar pada diri pribadi seorang anak yang menuju tingkat kedewasaan. Kotoran dan cemar tersebut berupa sifat negatif yang digambarkan sebagai sifat Bhūta, Kāla, Pisaca, Raksasa dan Sadripu yang mempengarhui pribadi manusia, di samping secara biologis telah terjadi perubahan karena berfungsi hormon pendorong lebido seksualitas.

2. Dengan kesucian diri, seseorang dapat lebih mendekatkan dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa, para dewata dan leluhur. Singkatnya seseorang akan dapat meningkatkan Śraddhā dan Bhakti kepada-Nya.

3. Menghindarkan diri dari kepapaan, berupa hukuman neraka dikemudian hari bila mampu meningkatkan kesucian pribadi.

4. Merupakan kewajiban orang tua (ibu-bapa) yang telah mendapat kesempatan dan kepercayaan untuk menumbuh-kembangkan kepribadian seorang anak. Kewajiban ini merupakan Yajña dalam pengertian yang luas (termasuk menanamkan pendidikan budhi pekerti, menanamkan nilai-nilai moralitas dan agama) sehingga seseorang anak benar-benar menjadi seorang putra yang suputra.

Kini timbul pertanyaan, kapankah saat yang tepat untuk melaksanakan upacāra Mapandes? Bila kita memperhatikan berbagai sumber yang tertulis di dalam lontar, seperti lonatr Dharma Kahuripan dan lain-lain, sebenarnya upacāra ini dilakukan saat mulai pubertasnya seorang anak, dan bagi seorang gadis, saat setelah pertama kali mengalami menstruasi. Upacāra ini dapat digabungkan dengan Rajasewala atau Rajasingha bagi seorang gadis atau seorang perjaka.

Dalam kenyataan di kalangan umat Hindu, upacāra Mapandes ini dilakukan bersamaan atau dirangkai dengan upacāra Piṭṛa Yajna terutama Mamukur atau dirangkai sebelum upacāra Pawiwahan (perkimpoian), dilakukan secara masal bergabung dengan keluarga besar untuk mempererat tali persaudaraan dan kekeluargaan.

Bagi seseorang yang belum sempat mengikuti upacāra Mapandes, dan maut telah menjemput, berbagai tanggapan muncul, yakni apakah perlu upacāra bagi seseorang yang telah meninggal. Terhadap keadaan ini, Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, melalui keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu memberikan jalan ke luar, sebagai berikut:

1. Mapandes adalah upacāra Manusa Yajña (Śarīra Saṁsakara) yang patut dilaksanakan pada saat seseorang masih hidup (sangat baik ketika remaja, belum berumah tangga). Mapandes bagi orang yang telah meninggal sesungguhnya tidak perlu dilakukan.

2. Bila orang tua yang bersangkutan merasa masih punya hutang berupa kewajiban, dapat menempuhnya dengan upacāra simbolis, dengan kikir (panggur) dari bunga teratai, dilengkapi dengan andel-andel serta padi, seakan-akan yang bersangutan bermimpi diupacārakan Mapandes.

3. Dengan demikian orang tua terbebas dari hutang kewajiban kepada anaknya, sehingga roh anaknya diharapkan dapat bersatu dengan roh leluhur yang telah disucikan.


Berdasarkan rangkaian upacāra Mapandes yang dilaksanakan, maka makna yang dikandung dari rangkaian upacāra tersebut adalah sebagai berikut:

a. Magumi Padangan. Upacāra ini disebut juga Masakapan Kapawon dan dilaksanakan di dapur, mengandung makna bahwa tugas pertama seseorang yang sudah dewasa dan siap berumah tangga adalah mengurus masalah dapur (logistik). Seseorang diminta bertanggung jawab untuk kelangsungan hidup keluarga di kemudian hari, melalui permohonan waranugraha dari Sang Hyang Agni (Brahma) yang disimboliskan bersthana di dapur.

b. Ngekeb. Upacāra ini dilakukan di meten atau di gedong, mengandung makna pelaksanaan Brata, yakni janji untuk mengendalikan diri dari berbagai dorongan dan godaan nafsu, terutama dorongan negatif yang disimboliskan dengan Sadripu, yakni enam musuh pada diri pribadi manusia berupa loba, emosi, nafsu seks dan sebagainya.

c. Mabhyakāla. Upacāra ini dilakukan di halaman rumah, di depan meten atau gedong, mengandung makna membersihkan diri pribadi dari unsur-unsur Bhūtakāla, yakni sifat jahat yang muncul dari dalam maupun karena pengaruh dari luar (lingkungan pergaulan). Upacāra ini juga disebut Mabhyakawon yang artinya melenyap kotoran batin dan di India disebut Prayascitta, menyucikan diri pribadi.

d. Persaksian dan persembahyangan ke Pamarajan. Upacāra ini mengandung makna untuk:

a) Memohon wara nugraha Hyang Guru dan leluhur (kawitan) bahwa pada hari itu keluarga yang bersangkutan menyelenggarakan upacāra potong gigi.

b) Menyembah ibu-bapa, sebagai perwujudan dan kelanjutan tradisi Veda, seorang anak wajib bersujud kepada orang tuanya, karena orang tua juga merupakan perwujudan dewata (matri devobhava, pitridevobhava), juga sebagai wujud bhakti kepada Sang Hyang Uma dan Śiva, sebagai ibu-bapa yang tertinggi dan yang sejati.

c) Ngayab Caru Ayam Putih, simbolis sifat keraksasaan dinetralkan dan berkembangnya sifat-sifat kedewataan.

d) Memohon Tirtha, sebagai simbolis memohon kesejahtraan, kabahagiaan dan keabadiaan.

e) Ngrajah gigi, menulis gigi dengan aksara suci simbolis sesungguhnya Hyang Widhilah yang membimbing kehidupan ini melalui ajaran suci yang diturunkan-Nya, sehingga prilaku umat manusia menjadi suci, lahir dan batin.

f) Pemahatan taring, simbolis Sang Hyang Widhi Śiva) yang telah menganugrahkan kelancaran upacāra ini seperti simbolik Sang Hyang Śiva memotong taring putra-Nya, yakni Bhatāra Kāla.

e. Upacāra di tempat (bale) Mapandes. Setelah selesai upacāra di pamarajan, maka remaja yang mengikuti upacāra Mapandes kembali ke gedong untuk selanjutnya menuju tempat upacāra Mapandes dilaksanakan, adapun rangkaian dan makna upacāra yang dikandung adalah sebagai berikut:



BERSAMBUNG

sejuta bintang - 22/01/2010 02:32 PM
#63

Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk Karya : Ritual Adat Masyarakat Bali
Sumber : http://sanggrahanusantara.blogspot.c...-mapandes.html
Keterangan : PENGERTIAN DAN MAKNA UPACĀRA MAPANDES

SAMBUNGAN

Spoiler for Upacara Mapandes

1) Menyembah dewa Sūrya untuk mempermaklumkan sekaligus memohon persaksian-Nya.

2) Menyembah Bhatāra Smāra dan Bhatārì Ratih, agar senantiasa dimbimbing ke jalan yang benar, sekaligus memohon benih yang terkandung dalam diri masing-masing (sukla-svanita), jangan sampai ternoda hingga kehidupan berumah tangga melalui perkawinan di kemudian hari.

3) Memohon Tirtha kepada Bhatāra Smāra dan Bhatārì Ratih, sebagai simbol telah mendapat restu dan perkenan-Nya.

4) Ngayab Banten Pangawak Bale Gading, untuk memohon kekuatan lahir dan batin, karena masa pubertas penuh dengan tantantangan hidup termasuk dorongan nafsu yang jahat.

5) Mepandes, yakni dilaksanakannya upacāra panggur oleh sangging, guna menyucikan diri pribadi dari gangguan Sadripu.

6) Menginjak banten paningkeb, mengandung makna selesainya upacāra Mapendes, dengan Sadripu dan Catur Sanak telah memperoleh penyucian.

7) Menikmati Sirih-lekesan, simbolis kehidupan baru telah dimulai dengan bermacam kenikmatan hidup dan tantangan, dan Sang Hyang Śiva beserta Pañca Dewata senantiasa akan melindunginya.

8) Kembali ke tempat Ngekeb, mengandung makna kembali melakukan tapa brata, menyucian diri, lahir dan batin.

9) Mejaya-jaya, yakni mengikuti upacāra yang dipimpin oleh Pandita (Sulinggih) berupa pemercikkan Tìrtha, yang mengandung makna yang bersangkutan telah dan senantiasa akan memperoleh kemenangan dalam menghadapi godaan dan dorongan untuk berbuat jahat.

10) Mapinton. Upacāra ini mengandung makna mempermaklumkan kehadapan Sang Hyang Widhi, para dewata dan leluhur, bahwa yang bersangkutan telah melaksanakan upacāra Mapandes dan senantiasa memohon bimbingan dan perlindungan-Nya.

Demikianlah sepintas makna yang terkandung dari rangkaian upacāra Mapandes, yang tidak lain guna membimbing umat manusia lebih meningkatkan Śraddhā dan Bhaktinya kepada Sang Hyang Widhi, para dewata dan leluhur.

Tanggung Jawab Orang Tua Dan Keluarga

Upacāra Mapandes adalah merupakan kewajiban orang tua (ibu-bapa) untuk menyelenggarakannya, dan bila kita kaji secara seksama, seorang anak sesungguhnya adalah pula leluhur kita yang menjelma untuk meningkatkan kualitas kehidupannya (lahir dan batin) yang pada akhirnya dapat mengantarkannya guna mewujudkan Jagadhita (kesejahtraan dan kebahagian hidup di dunia ini) dan Mokṣa (bersatunya Ātman dengan Paramātman).

Dalam melakukan Yajña ini, landasan yang paling mendasar bagi Sang Yajamana (yang melaksanakan atau yang memiliki upacāra itu), Sang Amancagra (tukang bebanten dan sangging), dan Sang Pandita (yang memimpin dan menyelesaikan upacāra) adalah ketulusan hati. Ketulusan ini patut pula diikuti oleh para Athiti tamu undangan) guna Yajña tersebut berhasil Śiddhakarya.

Untuk mengembangkan ketulusan hati, utamanya Sang Yajamana bersama keluarga hendaknya dapat melakukan berbagai Brata, seperti Upavaśa (mengendalikan diri untuk tidak menikmati makanan) pada saat puncak upacāra berlangsung, dan senantiasa memusatkan pikiran kehadapan Sang Hyang Widhi, para dewata dan leluhur untuk keberhasilan dari Yajña yang diselenggarakan.

Upakāra Mepandes / Metatah/ Potong Gigi/ Panggur
Arti
Upacāra ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu yang ada pada diri si anak.

Sarana
1 Sajen sorohan dan suci untuk persaksian kepada Hyang Widhi Wasa.

2 Sajen pabhyakalan prayascita, panglukatan, alat untuk memotong gigi beserta perlengkapannya seperti: cermin, alat pengasah gigi, kain untuk rurub serta sebuah cincin dan permata, tempat tidur yang sudah dihias.

3 Sajen peras daksina, ajuman dan canang sari, kelapa gading dan sebuah bokor.

4 Alat pengganjal yang dibuat dari potongan kayu dadap. Belakangan dipakai tebu, supaya lebih enak rasanya.

5 Pengurip-urip yang terdiri dari kunir serta pecanangan lengkap dengan isinya.

Waktu

Upacāra ini dilaksanakan setelah anak meningkat dewasa, namun sebaiknya sebelum anak itu kawin. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilaksanakan setelah berumah tangga.

Tempat

Seluruh rangkaian upacāra potong gigi dilaksanakan di rumah dan di pernerajan.

Pelaksana

Upacāra potong gigi dilaksanakan oleh Pandita/Pinandita ‘dan dibantu oieh
seorang sangging (sebagai pelaksana langsung).

Tata cara

1 Yang diupacārai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita.

2 Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian.

3 Selanjutnya naik ke tempat upacāra menghadap ke hulu. Pelaksana upacāra mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi, taring, gigi atas, gigi bawah, lidah, dada, pusar, paha barulah diperciki tirtha pesangihan.

4 Upacāra dilanjutkan oieh sangging dengan menyucikan peralatannya.

5 Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah, bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip.

6 Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kernudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya.

Mantram-mantramnya

1.*Mantram prayascita dan bhyakala.

Om Hrim, Srim, Mam, Sam, Warn, Sarwa rogha satru winasa ya hrah phat.
Om Hrim. Srim. Am. Tam. Sam. Bam. Im, sarwa danda mala papa klesa, winasaya hrah, hum, phat.

Om Hrim, Srim, Am, Um, Mam, Sarwa papa petaka winasaya hrah, hum phat,
Om Siddhir guru shrom, Sarwasat.
Om sarwa wighna winasaya, sarwa papa winasaya namah swaha.

Artinya:

Om Hyang Widhi Wasa, semoga semua musuh yang berupa penderitaan, kesengsaraan, bencana dan lain-lain menjadi sirna.

2.*Mantram mohon persaksian.

Om adityasya parantyotih rakta tejo nama stute, sweta pangkaja mandhyasta Bhaskara ya namostute, Om pranamya bhaskara dewam, sarwa klesa winasanam, pranamya aditya siwartham bhukti mukti warapradam.

Om hrang hring sah paramasiva adityaya namah swaha.

Artinya:
Om Hyang Widhi Wasa, semoga hamba mendapat perkenanMu, untuk melalui tahapan hidup ini dalam jalanMu dengan pertolongan hanya dariMu.
Om dimulyakanlah Engkau ya Tuhan.

3.*Mantram alat pengasah.

Om Sang perigi manik, aja sira geger lunga antinen kakang nira sang kanaka
teka pageh, tan katekaning lara wigena,
teka awet, awet, awet.

Artinya:
Om Hyang Widhi Wasa, semoga alat-alat ini dapat memberikan kekuatan.

4.*Mantram pengurip-urip.

Om urip-urip bayu, sabda idep teka urip, ang, ah.

Artinya:
Om Sang Hyang Widhi Wasa, dalam wujud Brahma Maha Sakti, semoga tenaga, ucapan dan pikiran hamba memberikan kekuatan terhadap alat-alat ini.
...



SELESAI
sejuta bintang - 28/01/2010 06:16 PM
#64

Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk Karya : Tradisi
Sumber : http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/p_musa/2007/10/04/tradisi-tumbilotohe-pasang-lampu-saat-ramad han-di-gorontalo/
Keterangan : Tradisi Pasang Lampu Pada Bulan Ramadhan di Gorontalo

Spoiler for Gorontalo

Tradisi Tumbilotohe (Pasang Lampu) saat ramadhan di Gorontalo

Tumbilotohe yang dalam arti bahasa gorontalo terdiri dari kata “tumbilo” berarti pasang dan kata “tohe” berarti lampu, yaitu acara menyalakan lampu atau malam pasang lampu. Tradisi ini merupakan tanda bakal berakhirnya bulan suci Ramadhan, telah memberikan inspirasi kemenangan bagi warga Gorontalo. Pelaksanaan Tumbilotohe menjelang magrib hingga pagi hari selama 3 malam terakhir sebelum menyambut kemenangan di hari Raya Idul Fitri.

Di tengah nuansa kemenangan, langit gelap karena bulan tidak menunjukkan sinarnya. Warga kemudian meyakini bahwa saat seperti itu merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan eksistensi diri sebagai manusia. Hal tersebut merupakan momentum paling indah untuk menyadarkan diri sebagai fitrah ciptaan Allah SWT.

Menurut sejarah kegiatan Tumbilotohe sudah berlangsung sejak abad XV sebagai penerangan diperoleh dari damar, getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Damar kemudian dibungkus dengan janur dan diletakkan di atas kayu. Seiring dengan perkembangan zaman dan berkurangnya damar, penerangan dilakukan dengan minyak kelapa (padamala) yang kemudian diganti dengan minyak tanah. Setelah menggunakan damar, minyak kelapa, kemudian minyak tanah, Tumbilotohe mengalami pergeseran.

Hampir sebagian warga mengganti penerangan dengan lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Akan tetapi, sebagian warga masih mempertahankan nilai tradisional, yaitu memakai lampu botol yang dipajang di depan rumah pada sebuah kerangka kayu atau bambu.

Saat malam tiba, “ritual” Tumbilotohe dimulai. Kota tampak terang benderang. Nyaris tidak ada sudut yang gelap. Keremangan malam yang diterangi cahaya lampu-lampu botol di depan rumah- rumah penduduk tampak memesona.

Kota Gorontalo berubah semarak karena lampu-lampu botol tidak hanya menerangi halaman rumah, tetapi juga menerangi halaman kantor, masjid. Tak terkecuali, lahan kosong petak sawah hingga lapangan sepak bola dipenuhi dengan cahaya lampu botol. Masyarakat seolah menyatu dalam perasaan religius dan solidaritas yang sama. Di lahan-lahan kosong nan luas, lampu-lampu botol itu dibentuk gambar masjid, kitab suci Al Quran, sampai tulisan kaligrafi.

TUMBILOTOHE menjadi semacam magnet bagi warga pendatang, terutama warga kota tetangga Manado, Palu, dan Makassar. Banyak warga yang mengunjungi Gorontalo hanya untuk melihat Tumbilotohe. Sepanjang perjalanan di daerah Gorontalo maka kita akan menyaksikan Tumbilotohe dari berbagai ragam bentuk. “Sangat indah apabila kita berjalan pada malam hari” itulah ungkapan pada kebanyakan orang yang memanjakan mata sepanjang perjalanan menikmati lampu-lampu setiap rumah, kantor dan masjid.

Beberapa yang menjadi ‘peramai’ dalam tradisi tumbilotohe, di antarnya sebagai berikut :
1. Kerangka Pintu gerbang (dalam bahasa gorontalo Alikusu)
Alikusu terdiri dari bambu kuning, dihiasi janur, pohon pisang, tebu & lampu minyak yang diletakkan di pintu masuk rumah, kantor, mesjid dan pintu gerbang perbatasan suatu daerah. Pada pintu gerbang terdapat bentuk kubah mesjid yang menjadi simbol utama alikusu. Warga menghiasi Alikusu dengan dedaunan yang didominasi janur kuning. Di atas kerangka itu digantung sejumlah buah pisang sebagai lambang kesejahteraan dan tebu lambang kemanisan, keramahan, dan kemuliaan hati menyambut Idul Fitri.

2. Meriam Bambu (dalam bahasa Gorontalo Bunggo)
Pada masa kecilku permainan favorit di bulan puasa adalah Bunggo. Saling bales, saling adu kerasnya bunyi meriam bambu menjadi khas dalam permainan bunggo. Bunggo terbuat dari bambu pilihan yang setiap ruas dalamnya, kecuali ruas paling ujung, dilubangi. Di dekat ruas paling ujung diberi lubang kecil yang diisi minyak tanah. Lubang kecil itu sebagai tempat menyulut api hingga bisa mengeluarkan bunyi letusan kecil. Sembari menggempur kampung dengan bunyi meriam, para remaja dan anak-anak berseru membangunkan warga agar tidak kebablasan tidur, “Sahur..sahur..”.
capt_alfons - 06/02/2010 02:11 AM
#65

Kaskus ID :capt_alfons
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk karya : upacara adat batak Mangunkol Holi (pengangkatan tulang belulang)
Sumber :
http://bersamatoba.com/tobasa/opini/sahala-mi-da-oppung-pasu-pasu-hami-gomparan-mon.html
http://www.fotografer.net/isi/forum/topik.php?id=3193858128&p=1

Keterangan : artikel mengenai tradisi pengangkatan/pemindahan tulang belulang dari dalam tanah ke bangunan pada suku batak

Quote:
Bagi orang Batak, hormat kepada kedua orang tua bahkan terhadap sahala ni akka da oppung yang terdahulu yang telah meninggal sangatlah di nomor satu-kan, ini di wujudkan untuk melaksanakan Titah atau perintah Tuhan yang ke lima yaitu Ingkon pasangapon natua-tua termasuk ma i angka Sahala ni da oppung.Terbukti, walau-pun dengan mengeluarkan ringgit si tio atau biaya yang jumlahnya tidak sedikit tapi bagi orang Batak kegiatan Mangongkal Holi atau Menggali tulang belulang untuk kemudian diangkat dan mendirikan tugu adalah suatu penghormatan atau kebanggaan tersendiri serta merupakan kebudayaan yang dipertahankan hingga abad ini.

Akibat rasa menghormati tidak jarang di daerah Tapanuli, kita menjumpai terkadang kuburan atau Tugu lebih diutamakan dari pada kondisi rumah untuk tempat tinggal.

Salud memang…., dengan Pesta yang dilaksanakan secara besar-besaran hingga memakan waktu berkisar tiga sampai empat hari serta di iringi Gondang yaitu sejenis alat musik Batak yang dapat “menghipnotis”, seolah-olah kita terlarut untuk melaksanakan sejenis Ritual yang sangat-sangat marpartondion.

Ada-pun maksud yang dituju orang Batak dengan menjalankan kegiatan Mangongkal holi yaitu dengan cara mengumpulkan semua saring-saring atau tulang belulang ke tempat yang lebih pantas sebagai bukti rasa sayang dan hormat kita terhadap orang yang kita cintai yang telah di panggil sang pencipta.

Sehingga kiranya orang Batak yang melakukan penghormatan terhadap Sahala ni angka da oppugn, kelak kita akan memperoleh hidup yang lebih baik hingga keturunan yang akan datang menjadi lebih marsangap dan memperoleh hagabeon serta pasu-pasu [ berkah ] di dunia dan khususnya marsangap di hadapan Tuhan sang pencipta.

Semua kegiatan yang kita laksanakan itu memang mewujudkan betapa besarnya rasa cinta serta hormat kita terhadap natua-tua-ta [ orang tua kita ]. Akan tetapi alangkah lebih indahnya jika kita dapat melaksanakan hal yang membuat natua-tuat-ta, semasa mereka masih hidup dalam usianya yang sudah senja, kiranya dengan ketulusan hati, kita rawat dan sepenuh hati menyayangi serta manogu-nogu akibat faktor ketuaan dan dikarenakan sakit

Setulus hati mereka [ orang tua ] meminta kita ia nakkon-na atau anaknya kiranya sisa hidupnya ini dirawat dan menjalankan semua yang terbaik sesuai dengan ke inginan nya karena tidak ada artinya jika kelak mereka sudah pergi, baru kita menyadari dan menyesali keterlambatan ini.

Hingga dengan bukti sayang dan perhatian kita semasa hidupnya dia merasa punya semangat menjalani hari hingga sisa hidupnya, dengan cara lebih banyak waktu dirasanya bersama anakkon-na.

Terlukislah didalam hati orang tua kita bahwa betapa hormatnya dan sayangnya di-akka anakkon-na, namarnatua-tua, dan dengan demikian mereka akan mamasu-masu hita [ memberi berkah ] hingga pada saatnya di hatua-on na.


Spoiler for gambarnya klo berani lihat Peace:

credit to original writer Yan Manarsar

Foto berikut adalah makam yang dibangun untuk oppung. . Sebelum penggalian dimulai, pertama-tama Hula-hula dari oppung memberikan demban (sirih) dengan ucapan semoga penggalian berjalan lancar dan tulang belulangnya cepat ditemukan. karena sering kali tidak ketemu. Pada acara ini, oppung saya sudah meninggal sejak lebih kurang 60 tahun lalu.
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

Setelah itu, hula-hula (keluarga laki-laki dari pihak istri) melakukan pencangkulan pertama, diikuti oleh keturunan yang bersangkutan dimulai dari keturunan laki-laki dan selanjutnya perempuan. Hanya sebagai simbol dan kemudian penggalian pun dimulai
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

Pada saat penggalian, keluarga yang bersangkutan akan melemparkan uang kedalam makam. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa mereka hadir pada acara itu, dan juga doa agar tulang belulang yang bersangkutan cepat ditemukan. Juga sebagai bonus bagi para penggali
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

Pada saat tulang belulang ditemukan, keluarga akan mangandung (menangis) seakan-akan menangisi keluarga pada saat mereka baru saja meninggal.
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

pencarian terus dilakukan sampai bagian yang paling penting ditemukan.....kalau masih ada..
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

setelah itu tulang belulang tersebut akan dibawa kerumah dan dibersihkan dengan air dan dimandikan dengan kunyit dan air jeruk purut. yg membawa tulang belulang ini, adalah keturunan perempuan yang bersangkutan.
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

dijemur sebentar setelah diberi kunyit dan jeruk purut sebelum dimasukkan dalam peti
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

sementara itu setelah penggalian, seluruh keluarga dan hula hula serta penatua kampung diajak masuk kerumah untuk makan bersama
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

setelah tulang belulang agak kering, kemudian dimasukkan kedalam peti mini, dan diletakkan ditengah rumah. Dan satu persatu keturunannya akan mengucapkan doa
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

keesokan harinya adalah hari pesta. Parhobas (pekerja) sudah mulai sibuk sejak subuh. Parhobas biasanya adalah warga kampung setempat dan boru (keturunan perempuan yang digali maupun dari yang menyelenggarakan pesta). yang menyelenggarakan pesta disebut bona suhut
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

terdapat dua acara pesta sebenarnya tetapi untuk yang pertama (galang raja) dengan memotong kerbau (horbo baratan) dimaksudkan untuk meminta ijin dari penetua setempat, aku tidak bisa hadir. dan kerbau pada saat ini adalah untuk jambar (bagian) dari keluarga hula-hula pada saat pesta ini dan juga untuk makan
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

kemudian undangan mulai berdatangan satu persatu. hula-hula biasanya membawa nasi beserta ikan mas.... dan juga beras.
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

jika undangan itu adalah dari pihak hula-hula, biasanya mereka tidak langsung duduk dibawah tenda, tetapi mereka berkumpul dulu sehingga rombongan mereka lengkap. setelah itu, gondang akan dibunyikan untuk menyambut mereka....yang disebut manomu-nomu (mempersilahkan) oleh pihak boru dari bona suhut.
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

Hula-hula adalah tutur yang dihormati dalam kekerabatan batak. karena itu mereka dianggap bisa memberikan pasu-pasu (berkat). Oleh karena itu pada saat manortor posisi tangan mereka adalah posisi memberikan berkat. terbuka menghadap kebawah, sementara boru adalah pekerja. sehingga jika bertemu dengan hula-hula mereka akan bersembah. Itu sebabnya dalam manortor posisi tangan mereka diletakkan didahi seperti menyembah. ( tentu saja tidak semua melakukan itu, tetapi begitulah kata nya)
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

tergantung tata cara kampung setempat, disini setelah acara dimulai, maka tulang belulang akan diantarkan ke simin terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan acara lainnya
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

hula hula akan naik keatas, dan memberikan kata sambutan. sementara bona suhut dan boru berada dibawah. pada saat ini, hula hula biasanya akan meminta tanda terimakasih dari keluarga bona suhut, dan setelah itu akan memberikan berkat semoga segala yang dilakukan berjalan lancar dan banyak keturunan...dengan pantun-pantun tentu saja
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel


Tambahan dari saia:
Upacara adat ini sekarang udah jarang/sedikit ditemukan dikarenakan masalah biaya yang dibutuhkan yang konon bisa sampe puluhan bahkan ratusan juta rupiah..klopun ada skarang ini biasanya dilakukan oleh keluarga yang cukup berada...
Banyak yang memperdebatkan upacara mangunkol holi ini dengan ajaran keyakinan..banyak yang pro dan banyak juga yang kontra..namun terlepas dari itu,,mangunkol holi adalah salah satu keunikan dan ciri khas kental yang tak dapat dipisahkan dari adat batak..
ioryone - 10/02/2010 02:20 AM
#66

Kaskus ID : ioryone
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk Karya : Ritual Adat Masyarakat Jogja
Sumber : ANTARA
Keterangan : "Tapa Bisu Mubeng Beteng" Momentum Perenungan Diri di Depan Tuhan

Spoiler for Tapa Bisu Mubeng Beteng

Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel

Malam tahun baru Jawa 1 Sura atau tahun baru Islam 1 Muharam bagi sebagian masyarakat Jawa diisi dengan melakukan ritual "tapa bisu mubeng beteng" Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ritual berjalan keliling benteng tanpa berbicara yang dilakukan ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya, Jumat dini hari, merupakan momentum untuk perenungan diri atau refleksi terhadap hidup dan kehidupannya dengan melakukan tirakat atau "lelaku".

Tirakat yang dilakukan dengan hening itu sebagai bentuk refleksi manusia atas eksistensi dirinya. Eksistensi diri manusia yang mengada karena adanya Sang Pencipta.

"Melalui perenungan diri dengan tirakat atau lelaku, masyarakat dapat melakukan evaluasi dan introspeksi diri, serta sadar bahwa manusia ada yang menghidupkan, yakni Tuhan," kata sejarawan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Purwanto.

Dengan tirakat atau lelaku, masyarakat dapat melakukan evaluasi terhadap segala perilaku atau perbuatan di tahun lalu untuk introspeksi diri di tahun baru, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan.

Tirakat atau lelaku mengelilingi benteng keraton dalam keheningan total itu merupakan simbol keprihatinan sekaligus kesiapan masyarakat untuk menghadapi tahun yang akan datang.

Dengan sikap prihatin diharapkan masyarakat dapat mawas diri dan tidak berpuas diri terhadap segala sesuatu yang telah diraih pada tahun-tahun sebelumnya.

"Perilaku atau perbuatan yang dinilai negatif di masa lalu berusaha ditinggalkan, sedangkan perilaku atau perbuatan yang positif akan dipertahankan bahkan ditingkatkan, dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan dengan meningkatkan amal ibadah," katanya.

Terbuka

Ritual "tapa bisu mubeng beteng" merupakan tradisi yang terbuka untuk masyarakat dari berbagai kalangan yang berlangsung setiap malam 1 Sura. Pada malam 1 Sura ribuan warga berjalan keliling benteng sejauh lima kilometer tanpa berbicara, merokok, makan atau minum.

Kegiatan budaya itu dilepas oleh adik Sri Sultan Hamengku Buwono X, GBPH Joyokusumo dari Bangsal Ponconiti, Keben, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada pukul 24:00 WIB. Sebelum prosesi dimulai dilakukan pembacaan macapat atau tembang berbahasa Jawa.

Prosesi arak-arakan dimulai dari Keben melewati Jalan Rotowijayan, Jalan Kauman, Jalan Agus Salim, Jalan Wahid Hasyim, Suryowijayan, Pojok Beteng Kulon, Jalan Letjen MT Haryono, Jalan Mayjen Sutoyo, Pojok Beteng Wetan, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ibu Ruswo, dan dan berakhir di Alun-alun Utara.

Arak-arakan peserta ritual membentuk barisan sepanjang sekitar 500 meter, dan mereka memadati sepanjang jalan yang dilewati. Meskipun berjalan dalam barisan yang cukup panjang, sepanjang perjalanan mereka hanya diam.

"`Tapa bisu mubeng beteng` itu untuk memeringati tahun baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro bagi masyarakat Jawa. Tujuannya mengajak masyarakat untuk bersyukur kepada Tuhan, memohon keselamatan dan kesejahteraan," kata kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Gunokadiningrat.

Meskipun berlangsung di sekitar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, secara resmi pihak keraton tidak melakukan ritual tersebut. Kegiatan itu hanya dilakukan para abdi dalem keprajan dan punokawan yang mengabdi di keraton.

Ketika menjalani ritual tersebut seluruh abdi dalem mengenakan busana adat Jawa peranakan warna biru tua tanpa membawa keris dan tidak beralaskan kaki dengan membawa sejumlah bendera atau panji.

"Semua bendera atau panji merupakan lambang lima kabupaten dan kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yakni Kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta, serta panji abdi dalem juga dibawa. Di depan barisan pembawa panji ada pembawa bendera negara RI yakni Merah Putih," katanya.

Selama menjalani ritual tersebut mereka memanjatkan doa memohon keselamatan lahir dan batin serta kesejahteraan bagi diri pribadi, keluarga, bangsa, dan negara. "Jadi, saat berjalan membisu itu, mereka berdoa kepada Tuhan agar diberi keselamatan dan kesejahteraan," katanya.

Memusat

Pada awalnya "tapa bisu mubeng beteng" adalah tradisi asli Jawa yang berkembang pada abad ke-6 sebelum Mataram-Hindu. Tradisi asli Jawa itu disebut "muser" atau "munjer" (memusat) yang artinya mengelilingi pusat.

Semula yang dimaksud adalah pusat wilayah desa. Ketika pedesaan kemudian berkembang menjadi kerajaan, muser pun menjadi sebuah tradisi mengelilingi pusat wilayah kerajaan.

"Sumber sejarah lain menyebutkan `mubeng beteng` merupakan tradisi Jawa-Islam yang dimulai ketika Kerajaan Mataram (Kotagede) membangun benteng mengelilingi keraton yang selesai pada 1 Suro 1580," kata KRT Gunokadiningrat.

Para prajurit keraton pada saat itu rutin mengelilingi (mubeng) benteng untuk menjaga keraton dari ancaman musuh, yakni Pajang. Setelah kerajaan membangun parit di sekeliling benteng, tugas keliling dialihkan kepada abdi dalem keraton.

Menurut dia, agar tidak terkesan seperti militer, para abdi dalem itu dalam menjalankan tugasnya dengan membisu sambil membaca doa-doa di dalam hati agar mereka diberi keselamatan.

Tradisi mubeng atau mengelilingi itu sebenarnya tidak hanya berada di seputar benteng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tetapi juga terdapat tradisi mubeng kuthanegara dan mubeng mancanegara.

Keraton sebagai pusat negara dikelilingi oleh kuthanegara, dan kuthanegara dikelilingi oleh mancanegara. Mancanegara yang dimaksud adalah daerah-daerah di luar wilayah keraton tetapi berada dalam kekuasaannya.

"Berhubung tradisi `mubeng beteng` lebih mudah diikuti oleh masyarakat secara luas, maka tradisi itulah yang kemudian paling terkenal dan berlangsung sampai sekarang setiap malam 1 Sura," katanya.

Purwanto mengatakan, tirakat atau lelaku yang dilakukan sebagian masyarakat Jawa pada malam 1Suro itu hanya salah satu sarana untuk memahami hidup dan kehidupan sehingga semakin yakin bahwa semua sudah ada yang mengatur, yakni Tuhan.

Dengan demikian, manusia akan "narimo" (menerima dengan ikhlas) hidup dan kehidupannya. Dalam arti, tidak iri dengan keberhasilan orang lain, tidak ingin memiliki sesuatu yang menjadi hak orang lain, dan tidak serakah, tetapi tetap berusaha untuk memperoleh hidup dan kehidupan yang baik.

"Jika semua orang bisa `narimo` dalam hidup dan kehidupannya, saya yakin bangsa ini akan aman, tenteram, sejahtera, dan terbebas dari korupsi," katanya.
e-New - 15/02/2010 12:25 PM
#67

ID Kaskus : e-New
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk karya : Tradisi Adat Perkawinan di Alor NTT
Sumber : Disini
keterangan : Tradisi Adat Perkawinan di Alor NTT

Quote:
Mengenai Tradisi Adat Perkawinan di Alor
Terdapat 4 ada perkawinan yaitu :

1. Perkawinan dengan membayar mas kawin.
Masa pinangan kepada calon istri bisa dilakukan pada waktu masih bayi, anak-anak, atau dewasa. Jika diterima keluarga sang gadis, maka dilakukan pemberian Moko pertama sebagai tanda ikatan pertunangan. Kemudian calon menantu diserahkan kepada calon mertua setelah mas kawin lunas.

2. Perkawinan dengan pembayaran mas kawin diutang.
Prosesnya sama seperti proses perkawinan pertama, tetapi suaminya harus tetap tinggal di tengah keluarga istrinya sebelum mas kawin dibayar lunas.

3. Perkawinan sistem bertukar.
Dalam perkawinan model ini, calon mempelai tidak diperbolehkan mencari suami atau istri dari satu suku.

4. Perkawinan lari bersama ( gere uma )
Pola perkawinan ini terjadi kalau calon suami melarikan calon istrinya ke rumah orang tuanya atau ke rumah kepala suku untuk kawin.
arifinbits - 26/02/2010 08:41 PM
#68
INFO: Macam-macam puasa ala KEJAWEN
ID: arifinbits
Kategori: Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : ritual ruwatan di jawa
sumber : -
keterangan : ini artikel mengenai ritual ruwatan di jawa
Quote:
1. Mutih
Dalam puasa mutih ini seseorang tdk boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja. Nasi putihnya pun tdk boleh ditambah apa-apa lagi (seperti gula, garam dll.) jadi betul-betul hanya nasi putih dan air puih saja. Sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku puasa harus mandi keramas dulu sebelumnya dan membaca mantra ini : “niat ingsun mutih, mutihaken awak kang reged, putih kaya bocah mentas lahirdipun ijabahi gusti allah.”

2. Ngeruh
Dalam melakoni puasa ini seseorang hanya boleh memakan sayuran / buah-buahan saja. Tidak diperbolehkan makan daging, ikan, telur dsb.

3. Ngebleng
Puasa Ngebleng adalah menghentikan segala aktifitas normal sehari-hari. Seseorang yang melakoni puasa Ngebleng tidak boleh makan, minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktifitas seksual. Waktu tidur-pun harus dikurangi. Biasanya seseorang yang melakukan puasa Ngebleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam (24 jam). Pada saat menjelang malam hari tidak boleh ada satu lampu atau cahaya-pun yang menerangi kamar tersebut. Kamarnya harus gelap gulita tanpa ada cahaya sedikitpun. Dalam melakoni puasa ini diperbolehkan keluar kamar hanya untuk buang air saja.

4. Pati geni
Puasa Patigeni hampir sama dengan puasa Ngebleng. Perbedaanya ialah tidak boleh keluar kamar dengan alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekali. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada juga yang melakukannya 3 hari, 7 hari dst. Jika seseorang yang melakukan puasa Patigeni ingin buang air maka, harus dilakukan didalam kamar (dengan memakai pispot atau yang lainnya). Ini adalah mantra puasa patigeni : “niat ingsun patigeni, amateni hawa panas ing badan ingsun, amateni genine napsu angkara murka krana Allah taala”.

5. Ngelowong
Puasa ini lebih mudah dibanding puasa-puasa diatas Seseorang yang melakoni puasa Ngelowong dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja (dalam 24 jam). Diperbolehkan keluar rumah.

6. Ngrowot
Puasa ini adalah puasa yang lengkap dilakukan dari subuh sampai maghrib. Saat sahur seseorang yang melakukan puasa Ngrowot ini hanya boleh makan buah-buahan itu saja! Diperbolehkan untuk memakan buah lebih dari satu tetapi hanya boleh satu jenis yang sama, misalnya pisang 3 buah saja. Dalam puasa ini diperbolehkan untuk tidur.

7. Nganyep
Puasa ini adalah puasa yang hanya memperbolehkan memakan yang tidak ada rasanya. Hampir sama dengan Mutih , perbedaanya makanannya lebih beragam asal dengan ketentuan tidak mempunyai rasa.

8. Ngidang
Hanya diperbolehkan memakan dedaunan saja, dan air putih saja. Selain daripada itu tidak diperbolehkan.

9. Ngepel
Ngepel berarti satu kepal penuh. Puasa ini mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari satu kepal nasi saja. Terkadang diperbolehkan sampai dua atau tiga kepal nasi sehari.

10. Ngasrep
Hanya diperbolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali saja sehari.

11. Senin-kamis
Puasa ini dilakukan hanya pada hari senin dan kamis saja seperti namanya. Puasa ini identik dengan agama islam. Karena memang Rasulullah SAW menganjurkannya.

12. Wungon
Puasa ini adalah puasa pamungkas, tidak boleh makan, minum dan tidur selama 24 jam.

13. Tapa Jejeg
Tidak duduk selama 12 jam

14. Lelono
Melakukan perjalanan (jalan kaki) dari jam 12 malam sampai jam 3 subuh (waktu ini dipergunakan sebagai waktu instropeksi diri).

15. Kungkum
Kungkum merupakan tapa yang sangat unik. Banyak para pelaku spiritual merasakan sensasi yang dahsyat dalam melakukan tapa ini. Tatacara tapa Kungkum adalah sebagai beikut :
a) Masuk kedalam air dengan tanpa pakaian selembar-pun dengan posisi bersila (duduk) didalam air dengan kedalaman air se tinggi leher.
b) Biasanya dilakukan dipertemuan dua buah sungai
c) Menghadap melawan arus air
d) Memilih tempat yang baik, arus tidak terlalu deras dan tidak terlalu banyak lumpur didasar sungai
e) Lingkungan harus sepi, usahakan tidak ada seorang manusiapun disana
f) Dilaksanakan mulai jam 12 malam (terkadang boleh dari jam 10 keatas) dan dilakukan lebih dari tiga jam (walau ada juga yang memperbolehkan pengikutnya kungkum hanya 15 menit).
g) Tidak boleh tertidur selama Kungkum
h) Tidak boleh banyak bergerak
i) Sebelum masuk ke sungai disarankan untuk melakukan ritual pembersihan (mandi dulu)
j) Pada saat akan masuk air baca mantra ini :
“ Putih-putih mripatku Sayidina Kilir, Ireng-ireng mripatku Sunan Kali Jaga, Telenging mripatku Kanjeng Nabi Muhammad.”
k) Pada saat masuk air, mata harus tertutup dan tangan disilangkan di dada
l) Nafas teratur
m) Kungkum dilakukan selama 7 malam biasanya

16. Ngalong
Tapa ini juga begitu unik. Tapa ini dilakuakn dengan posisi tubuh kepala dibawah dan kaki diatas (sungsang). Pada tahap tertentu tapa ini dilakukan dengan kaki yang menggantung di dahan pohon dan posisi kepala di bawah (seperti kalong/kelelawar). Pada saat menggantung dilarang banyak bergerak. Secara fisik bagi yang melakoni tapa ini melatih keteraturan nafas. Biasanya puasa ini dibarengi dengan puasa Ngrowot.

17. Ngeluwang
Tapa Ngeluwang adalah tapa paling menakutkan bagi orang-orang awam dan membutuhkan keberanian yang sangat besar. Tapa Ngeluwang disebut-sebut sebagai cara untuk mendapatkan daya penglihatan gaib dan menghilangkan sesuatu. Tapa Ngeluwang adalah tapa dengan dikubur di suatu pekuburan atau tempat yang sangat sepi. Setelah seseorang selesai dari tapa ini, biasanya keluar dari kubur maka akan melihat hal-hal yang mengerikan (seperti arwah gentayangan, jin dlsb). Sebelum masuk kekubur, disarankan baca mantra ini :
“ Niat ingsun Ngelowong, anutupi badan kang bolong siro mara siro mati, kang ganggu maang jiwa insun, lebur kaya dene banyu krana Allah Ta’ala.”

Dalam melakoni puasa-puasa diatas, bagi pemula sangatlah berat jika belum terbiasa. Oleh karena itu disini akan dibekali dengan ilmu lambung karang. Ilmu ini berfungsi untuk menahan lapar dan dahaga. Dengan kata lain ilmu ini dapat sangat membantu bagi oarang-orang yang masih ragu-ragu dalam melakoni puasa-puasa diatas. Selain praktis dan mudah dipelajari, sebenarnya ilmu lambung karang ini berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang kebanykan harus ditebus/dimahari dengan puasa. Selain itu syarat atau cara mengamalkannyapun sangat mudah, yaitu :
1. Mandi keramas/jinabat untuk membersihkan diri dari segala macam kekotor
2. Menjaga hawa nafsu.
3. Baca mantra lambung karang ini sebanyak 7 kali setelah shalat wajib 5 waktu, yaitu :
Bismillahirrahamanirrahim
Cempla cempli gedhene
Wetengku saciplukan bajang
Gorokanku sak dami aking
Kapan ingsun nuruti budine
Aluamah kudu amangan wareg
Ngungakna mekkah madinah
Wareg tanpa mangan
Kapan ingsun nuruti budine
Aluamah kudu angombe
Ngungakna segara kidul
Wareg tanpa angombe
Laailahaillallah Muhammad Rasulullah

Selain melakoni puasa-puasa diatas masyarakat kejawen juga melakukan puasa-puasa yang diajarkan oleh agama islam, seperti puasa ramadhan, senin kamis, puasa 3 hari pada saat bulan purnama, puasa Nabi Daud AS dll. Inti dari semua lakon mereka tujuannya hanya satu yaitu mendekatkan diri dengan Allah SWT agar diterima iman serta islam mereka.


Sumber : http://religi.wordpress.com
the-ray-man - 27/02/2010 08:17 PM
#69

Kaskus ID :the-ray-man
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk Karya : Upacara Tabuik
Sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Tabuik
Keterangan :
Spoiler for ,

Tabuik

Tabuik (Indonesia: Tabut) adalah perayaan lokal dalam rangka memperingati Asyura, gugurnya Imam Husain, cucu Muhammad, yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau di daerah pantai Sumatera Barat, khususnya di Kota Pariaman. Festival ini termasuk menampilkan kembali Pertempuran Karbala, dan memainkan drum tassa dan dhol. Tabuik merupakan istilah untuk usungan jenazah yang dibawa selama prosesi upacara tersebut. Walaupun awal mulanya merupakan upacara Syi'ah, akan tetapi penduduk terbanyak di Pariaman dan daerah lain yang melakukan upacara serupa, kebanyakan penganut Sunni. Di Bengulu dikenal pula dengan nama Tabot.
Tabuik diturunkan ke laut di Pantai Pariaman, Sumatera Barat, Indonesia

Upacara melabuhkan tabuik ke laut dilakukan setiap tahun di Pariaman pada 10 Muharram sejak 1831.[1] Upacara ini diperkenalkan di daerah ini oleh Pasukan Tamil Muslim Syi'ah dari India, yang ditempatkan di sini dan kemudian bermukim pada masa kekuasaan Inggris di Sumatera bagian barat.[1].
the-ray-man - 27/02/2010 08:24 PM
#70

Kaskus ID :the-ray-man
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk Karya : Upacara adat minang kabau
Sumber :http://ukm.unit.itb.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=15&Itemid=9
Keterangan :

Spoiler for ,


Upacara-Upacara Adat Minangkabau

Batagak panghulu

adalah upacara pengangkatan panghulu. Sebelum upacara peresmiannya, syarat-syarat berikut harus dipenuhi:

1. Baniah, yaitu menentukan calon penghulu baru.
2. Dituah cilakoi, yaitu diperbincangkan baik buruknya calon dalam sebuah rapat.
3. Panyarahan baniah, yaitu penyerahan calon penghulu baru.
4. Manakok ari, yaitu perencanaan kapan acara peresmiannya akan dilangsungkan.

Peresmian pengangkatan panghulu dilaksanakan dengan upacara adat. Upacara ini disebut malewakan gala. Hari pertama adalah batagak gadang, yakni upacara peresmian di rumah gadang yang dihadiri urang nan ampek jinih dan pemuka masyarakat. Panghulu baru menyampaikan pidato. Lalu panghulu tertua memasangkan deta dan menyisipkan sebilah keris tanda serah terima jabatan. Akhirnya panghulu baru diambil sumpahnya, dan ditutup dengan doa. Hari kedua adalah hari perjamuan. Hari berikutnya panghulu baru diarak ke rumah bakonya diringi bunyi-bunyian.

BATAGAK RUMAH

Batagak rumah adalah upacara mendirikan rumah gadang. Kegiatannya sebagai berikut.

1. Mufakat Awal
Upacara batagak rumah dimulai dengan permufakatan orang sekaum, membicarakan letak rumah yang tepat, ukurannya, serta kapan waktu mengerjakannya. Hasil mufakat disampaikan pada panghulu suku, lalu panghulu suku ini menyampaikan rencana mereka pada panghulu suku-suku yang lain.

2. Maelo Kayu
Maelo kayu yaitu kegiatan untuk menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan, umumnya kayu-kayu. Penebangan dan pemotongan kayu dilakukan secara gotong royong. Kayu yang dijadikan tiang utama direndam dulu dalam lumpur atau air yang terus berganti. Tujuannya agar kayu-kayu itu awet dan sulit dimakan rayap.

3. Mancatak Tiang Tuo
Mancatak tiang tuo yaitu pekerjaan pertama dalam membuat rumah. Bahan-bahan yang akan digunakan diolah lebih lanjut.

4. Batagak Tiang
Acara ini dilakukan setelah bahan-bahan siap diolah. Pertama, tiang-tiang ditegakkan dengan bergotong royong. Tiang rumah gadang tidak ditanamkan di tanah, tetapi hanya diletakkan di atas batu layah (gepeng). Karena itulah rumah gadang jarang rusak bila terjadi gempa atau angin badai.

5. Manaiakkan Kudo-Kudo
Ini adalah melanjutkan pembangunan rumah setelah tiang-tiang didirikan.

6. Manaiak-i Rumah
Manaiak-i rumah adalah acara terakhir dari upacara batagak rumah, dilakukan setelah rumah selesai. Pada acara ini diadakan perjamuan tanda terima kasih pada semua pihak dan doa syukur pada Allah SWT.

UPACARA PERKAWINAN

1. Pinang-Maminang
Acara ini diprakarsai pihak perempuan. Bila calon suami untuk si gadis sudah ditemukan, dimulailah perundingan para kerabat untuk membicarakan calon itu. Pinangan dilakukan oleh utusan yang dipimpin mamak si gadis. Jika pinangan diterima, perkawinan bisa dilangsungkan.

2. Batimbang Tando
Batimbang tando adalah upacara pertunangan. Saat itu dilakukan pertukaran tanda bahwa mereka telah berjanji menjodohkan anak kamanakan mereka. Setelah pertunangan barulah dimulai perundingan pernikahan.

3. Malam Bainai
Bainai adalah memerahkan kuku pengantin dengan daun pacar/inai yang telah dilumatkan. Yang diinai adalah keduapuluh kuku jari. Acara ini dilaksanakan di rumah anak daro (pengantin wanita) beberapa hari sebelum hari pernikahan. Acara ini semata-mata dihadiri perempuan dari kedua belah pihak.

4. Pernikahan
Pernikahan dilakukan pada hari yang dianggap paling baik, biasanya Kamis malam atau Jumat. Acara pernikahan diadakan di rumah anak daro atau di masjid.

5. Basandiang dan Perjamuan
Basandiang adalah duduknya kedua pengantin di pelaminan untuk disaksikan tamu-tamu yang hadir pada pesta perjamuan. Kedua pengantin memakai pakaian adat Minangkabau. Acara biasanya dipusatkan di rumah anak daro, jadi segala keperluan dan persiapan dilakukan oleh pihak perempuan.

6. Manjalang
Manjalang merupakan acara berkunjung. Acara ini dilaksanakan di rumah marapulai (pengantin laki-laki). Para kerabat menanti anak daro yang datang manjalang. Kedua pengantin diiringi kerabat anak daro dan perempuan yang menjujung jamba, yaitu semacam dulang berisi nasi, lauk pauk, dsb.

UPACARA TURUN MANDI

Upacara turun mandi dimaksudkan untuk menghormati keturunan yang baru lahir dan berbagi kebahagiaan dengan masyarakat bahwa di kaum tersebut telah lahir keturunan baru. Upacara ini dilaksanakan di rumah orang tua si anak saat anak tersebut berumur tiga bulan. Di sini, si anak dimandikan oleh bakonya. Selain itu juga ada perjamuan.

UPACARA KEKAH

Upacara kekah (akikah) merupakan syariat agama Islam. Ini dimaksudkan sebagai upacara syukuran atas titipan Allah SWT berupa anak kepada kedua orang tuanya. Waktu pelaksanaannya bermacam-macam. Upacara dilaksanakan di rumah ibu si anak atau di rumah bakonya. Acara dimulai dengan pembukaan. Lalu seekor kambing disembelih, dibersihkan, lalu dimasak. Acara dilanjutkan dengan doa, lalu makan bersama.

UPACARA SUNAT RASUL

Sunat Rasul juga merupakan syariat Islam, tanda pendewasaan bagi seorang anak. Upacara biasanya diselenggarakan waktu si anak berumur 8 – 12 tahun, bertempat di rumah ibu si anak atau rumah keluarga terdekat ibu si anak. Acara dimulai dengan pembukaan, lalu si anak disunat, selanjutnya doa.

UPACARA TAMAIK KAJI

Tamaik kaji (khatam Qur’an) diadakan bila seorang anak yang telah mengaji di surau sebelumnya tamat membaca Al-Qur’an. Acara diadakan di rumah ibu si anak atau di surau/masjid tempat anak itu mengaji. Si anak disuruh membaca Al-Qur’an dihadapan seluruh orang yang hadir, dilanjutkan dengan makan bersama. Acara ini biasa pula dilakukan beramai-ramai.

UPACARA KEMATIAN

Pergi melayat (ta’ziah) ke rumah orang yang meninggal merupakan adat bagi orang Minangkabau. Tidak hanya karena dianjurkan ajaran Islam, tapi juga karena hubungan kemasyarakatan yang sangat akrab membuat mereka malu bila tidak datang melayat.

Upacara kematian dimaksudkan sebagai upacara penghormatan terakhir pada almarhum/ah. Umumnya upacara kematian lebih mengutamakan hal-hal yang wajib dilaksanakan menurut syariat Islam, yakni penyelenggaraan jenazah. Pada acara ini juga diiringi pidato/pasambahan adat.

Selanjutnya ada pula acara peringatan, seperti peringatan tujuh hati (manujuah hari), peringatan duo puluah satu hari, peringatan hari ke-40, lalu peringatan pada hari yang ke-100 (manyaratuih hari).
ayie298 - 01/03/2010 03:31 PM
#71
upacara pernikahan adat sunda
kaskus ID :ayie298
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
bentuk karya : NGARAS & SIRAMAN
sumber : -
keterangan : NGARAS & SIRAMAN

Quote:
Original Posted By ayie298
semoga za ga repost: gan..
Spoiler for no match
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel


langsung za..

NGARAS & SIRAMAN

Ngebakan atau siraman bertujuan untuk memandikan calon mempelai wanita aga bersih lahir dan bathin sebelum memasuki saat pernikahan.
Acara berlangsung pagi atau siang hari di kediaman calon mempelai wanita. Bagi umat muslim , sebelum dimulai acara siraman terlebih dahulu diawali oleh pengajian atau rasulan dan pembacaan doa khusus kepada calon mempelai wanita.
Prosesi yang tercakup dalam acara siraman adalah sebagai berikut :

- Ngecagkeun Aisan

Dimulai dengan calon mempelai wanita keluar dari kamar secara simbolis di gendong oleh Ibu. Sementara ayah calon mempelai wanita berjalan di depan sambil membawa lilin menuju tempat siraman.

Spoiler for cuci kaki org tua
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel


- Ngaras

Berupa permohonan izin calon mempelai wanita kepada kedua orangtua dan dilanjutkan dengan sungkeman serta mencuci kaki orang tua.Perlengkapan untuk prosesi ini cukup sederhana hanya tikar dan handuk.

- Pencampuran air siraman

Kedua orang tua menuangkan air siraman ke dalam bokor atau mangkuk dan mencampurnya untuk upacara siraman.

- Siraman

Diawali musik kecapi suling, calon mempelai wanita di bimbing oleh orang tua menuju tempat siraman dengan menginjak 7 helai kain. Siraman dimulai oleh sang Ibu , kemudian Ayah dan disusul oleh para sesepuh. Jumlah penyiram biasanya ganjil..antara 7, 9 atau 11 orang.


NGEUYEUK SEUREUH

Adalah prosesi adat dimana orang tua atau sesepuh keluarga memberikan nasehat dan juga merupakan sex education bagi kedua calon mempelai yang dilambang dengan tradisi atau benda benda yang ada dalam acara adat tersebut. Tata cara ngeuyeuk seureuh adalah sebagai berikut :
Pangeuyeuk :

1. Tetua yang dipercaya atau pemandu acara memberikan 7 helai benang kanteh sepanjang 2 jengkal kepada kedua calon mempelai untuk dipegang oleh masing masing pada tiap ujungnya, sambil duduk menghadap orang tua untuk meminta doa restu.

Spoiler for
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel


2. Setelah itu Pangeuyeuk membawakan kidung berupa doa – doa kepada Tuhan YME sambil menaburkan beras kepada kedua calom mempelai, dengan maksud agar keduanya kelak hidup sejahtera.

3. Kemudian kedua calon mempelai “dikeprak” ( dipukul pelan pelan ) dengan sapu lidi, diiringi nasehat bahwa hidup berumah tangga kelak harus dapat memupuk kasih sayang antara keduanya.

4. Selanjutnya membuka kain putih penutup “ pangeyeukan “ yang berarti bahwa rumah tangga yang kelak akan di bina itu masih putih bersih dan hendaknya jangan sampai ternoda.

5. Kedua calon mempelai mengangkat dua perangkat busana diatas sarung “polekat “ dan dibawa ke kamar pengantin untuk disimpan.

6. Membelah mayang dan jambe ( pinang ) , calom mempelai pria membelah kembang mayang dengan hati hati agar tidak rusak atau patah, melambangkan bahwa suami harus memperlakukan istrinya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Spoiler for numbuk
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel


7. Selanjutnya kedua mempelai dipersilahkan menumbuk “halu “ ke dalam “lumpang “dengan cara : Keduanya duduk berhadapan, yang pria memegang Alu dan wanita memegang lumpang.

8. Membuat “Lungkun” yakni sirih bertangkai, 2 lembar berhadapan digulung menjadi satu dengan bentuk memanjang, lalu diikat dengan benang kanteh . Hal ini dilakukan oleh kedua calon mempelai , orang tua serta para tamu yang hadir disitu melambang kan kerukunan. Kemudian sisa sirih dan 7 bh tempat sirih yang telah diisi lengkap juga padi, labu dan kelapa dibagikan kepada orang orang yang hadir disitu. Artinya : bila dikemudian hari keduanya mendapat rejeki berlebih, hendaknya selalu ingat untuk berbagi dengan keluarga atau handai taulan yang kurang mampu.

9. Berebut uang, dipimpin oleh pangeuyeuk dengan aba aba, kedua mempelai mncari uang, beras, kunyit dan permen yang di tebar di bawah tikar. Artinya suami dan istri harus bersama sama dalam mencari rejeki dalam rumah tangga.

10. membuang bekas pangeuyeuk seureuh, biasanya di simpang empat terdekat dengan kediaman calon mempelai wanita oleh keduanya. Tradisi ini dimaksudkan bahwa dalam memulai kehidupan yang baru, hendaknya membuang semua keburukan masa lalu dan menghindari kesalahan di masa datang.

UPACARA SAWER PANGANTEN

Rangkaian upacara Sawer adalah sebagai berikut :

Spoiler for nyawer
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel


-Nyawer

Merupakan upacara memberi nasihat kepada kedua mempelai yang dilaksanakan setelah acara akad nikah. Berlangsung di panyaweran ( di teras atau halaman ).
Kedua orang tua menyawer mempelai dengan diiringi kidung. Untuk menyawer, menggunakan bokor yang diisi uang logam, beras, irisan kunyit tipis, permen .
Kedua Mempelai duduk berdampingan dengan dinaungi payung, seiring kidung selesai di lantunkan, isi bokor di tabur, hadirin yang menyaksikan berebut memunguti uang receh dan permen.
Melambangkan Mempelai beserta keluarga berbagi rejeki dan kebahagiaan

Spoiler for meuleum harupat
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel


-Meuleum Harupat ( Membakar Harupat )

Mempelai pria memegang batang harupat , pengantin wanita membakar dengan lilin sampai menyala. Harupat yang sudah menyala kemudian di masukan ke dalam kendi yang di pegang mempelai wanita, diangkat kembali dan dipatahkan lalu di buang jauh jauh.
Melambang kan nasihat kepada kedua mempelai untuk senantiasa bersama dalam memecahkan persoalan dalam rumah tangga. Fungsi istri dengan memegang kendi berisi air adalah untuk mendinginkan setiap persoalan yang membuat pikiran dan hati suami tidak nyaman.

-Nincak Endog ( Menginjak Telur )

Mempelai pria menginjak telur di baik papan dan elekan ( Batang bambu muda ), kemudian mempelai wanita mencuci kaki mempelai pria dengan air di kendi, me ngelapnya sampai kering lalu kendi dipecahkan berdua.
Melambangkan pengabdian istri kepada suami yang dimulai dari hari itu.

-Ngaleupaskeun Japati ( Melepas Merpati )

Ibunda kedua mempelai berjalan keluar sambil masing masing membawa burung merpati yang kemudian dilepaskan terbang di halaman.
Melambang kan bahwa peran orang tua sudah berakhir hari itu karena kedua anak mereka telah mandiri dan memiliki keluarga sendiri.

-Huap Lingkung

- Pasangan mempelai disuapi oleh kedua orang tua. Dimulai oleh para Ibunda yang dilanjutkan oleh kedua Ayahanda.
- Kedua mempelai saling menyuapi, Tersedia 7 bulatan nasi punar ( Nasi ketan kuning ) diatas piring. Saling menyuap melalui bahu masing masing kemudian satu bulatan di perebutkan keduanya untuk kemudian dibelah dua dan disuapkan kepada pasangan .
Melambangkan suapan terakhir dari orang tua karena setelah berkeluarga, kedua anak mereka harus mencari sendiri sumber kebutuhan hidup mereka dan juga menandakan bahwa kasih sayang kedua orang tua terhadap anak dan menantu itu sama besarnya.

-Pabetot Bakakak

Kedua mempelai duduk berhadapan sambil tangan kanan mereka memegang kedua paha ayam bakakak di atas meja, kemudian pemandu acara memberi aba – aba , kedua mempelai serentak menarik bakakak ayam tersebut hinggak terbelah. Yang mendapat bagian terbesar, harus membagi dengan pasangannya dengan cara digigit bersama.
Melambangkan bahwa berapapun rejeki yang didapat, harus dibagi berdua dan dinikmati bersama.

sumber: padmaloka-tradisi

Semoga bermanfaat gan..!

iloveindonesiailoveindonesia
iloveindonesia

ayie298 - 01/03/2010 03:58 PM
#72
upacara adat sunda
Quote:
Original Posted By ayie298


kaskus ID :ayie298
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
bentuk karya : upacara adat sunda
sumber : http://padmaloka-tradisi.blogspot.com/
keterangan : upacara pernikahan adat sunda

Spoiler for artikel


langsung za..

NGARAS & SIRAMAN

Ngebakan atau siraman bertujuan untuk memandikan calon mempelai wanita aga bersih lahir dan bathin sebelum memasuki saat pernikahan.
Acara berlangsung pagi atau siang hari di kediaman calon mempelai wanita. Bagi umat muslim , sebelum dimulai acara siraman terlebih dahulu diawali oleh pengajian atau rasulan dan pembacaan doa khusus kepada calon mempelai wanita.
Prosesi yang tercakup dalam acara siraman adalah sebagai berikut :

- Ngecagkeun Aisan

Dimulai dengan calon mempelai wanita keluar dari kamar secara simbolis di gendong oleh Ibu. Sementara ayah calon mempelai wanita berjalan di depan sambil membawa lilin menuju tempat siraman.

[spoiler=cuci kaki org tua]Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel


- Ngaras

Berupa permohonan izin calon mempelai wanita kepada kedua orangtua dan dilanjutkan dengan sungkeman serta mencuci kaki orang tua.Perlengkapan untuk prosesi ini cukup sederhana hanya tikar dan handuk.

- Pencampuran air siraman

Kedua orang tua menuangkan air siraman ke dalam bokor atau mangkuk dan mencampurnya untuk upacara siraman.

- Siraman

Diawali musik kecapi suling, calon mempelai wanita di bimbing oleh orang tua menuju tempat siraman dengan menginjak 7 helai kain. Siraman dimulai oleh sang Ibu , kemudian Ayah dan disusul oleh para sesepuh. Jumlah penyiram biasanya ganjil..antara 7, 9 atau 11 orang.


NGEUYEUK SEUREUH

Adalah prosesi adat dimana orang tua atau sesepuh keluarga memberikan nasehat dan juga merupakan sex education bagi kedua calon mempelai yang dilambang dengan tradisi atau benda benda yang ada dalam acara adat tersebut. Tata cara ngeuyeuk seureuh adalah sebagai berikut :
Pangeuyeuk :

1. Tetua yang dipercaya atau pemandu acara memberikan 7 helai benang kanteh sepanjang 2 jengkal kepada kedua calon mempelai untuk dipegang oleh masing masing pada tiap ujungnya, sambil duduk menghadap orang tua untuk meminta doa restu.

Spoiler for
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel


2. Setelah itu Pangeuyeuk membawakan kidung berupa doa – doa kepada Tuhan YME sambil menaburkan beras kepada kedua calom mempelai, dengan maksud agar keduanya kelak hidup sejahtera.

3. Kemudian kedua calon mempelai “dikeprak” ( dipukul pelan pelan ) dengan sapu lidi, diiringi nasehat bahwa hidup berumah tangga kelak harus dapat memupuk kasih sayang antara keduanya.

4. Selanjutnya membuka kain putih penutup “ pangeyeukan “ yang berarti bahwa rumah tangga yang kelak akan di bina itu masih putih bersih dan hendaknya jangan sampai ternoda.

5. Kedua calon mempelai mengangkat dua perangkat busana diatas sarung “polekat “ dan dibawa ke kamar pengantin untuk disimpan.

6. Membelah mayang dan jambe ( pinang ) , calom mempelai pria membelah kembang mayang dengan hati hati agar tidak rusak atau patah, melambangkan bahwa suami harus memperlakukan istrinya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Spoiler for numbuk
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel


7. Selanjutnya kedua mempelai dipersilahkan menumbuk “halu “ ke dalam “lumpang “dengan cara : Keduanya duduk berhadapan, yang pria memegang Alu dan wanita memegang lumpang.

8. Membuat “Lungkun” yakni sirih bertangkai, 2 lembar berhadapan digulung menjadi satu dengan bentuk memanjang, lalu diikat dengan benang kanteh . Hal ini dilakukan oleh kedua calon mempelai , orang tua serta para tamu yang hadir disitu melambang kan kerukunan. Kemudian sisa sirih dan 7 bh tempat sirih yang telah diisi lengkap juga padi, labu dan kelapa dibagikan kepada orang orang yang hadir disitu. Artinya : bila dikemudian hari keduanya mendapat rejeki berlebih, hendaknya selalu ingat untuk berbagi dengan keluarga atau handai taulan yang kurang mampu.

9. Berebut uang, dipimpin oleh pangeuyeuk dengan aba aba, kedua mempelai mncari uang, beras, kunyit dan permen yang di tebar di bawah tikar. Artinya suami dan istri harus bersama sama dalam mencari rejeki dalam rumah tangga.

10. membuang bekas pangeuyeuk seureuh, biasanya di simpang empat terdekat dengan kediaman calon mempelai wanita oleh keduanya. Tradisi ini dimaksudkan bahwa dalam memulai kehidupan yang baru, hendaknya membuang semua keburukan masa lalu dan menghindari kesalahan di masa datang.

UPACARA SAWER PANGANTEN

Rangkaian upacara Sawer adalah sebagai berikut :

Spoiler for nyawer
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel


-Nyawer

Merupakan upacara memberi nasihat kepada kedua mempelai yang dilaksanakan setelah acara akad nikah. Berlangsung di panyaweran ( di teras atau halaman ).
Kedua orang tua menyawer mempelai dengan diiringi kidung. Untuk menyawer, menggunakan bokor yang diisi uang logam, beras, irisan kunyit tipis, permen .
Kedua Mempelai duduk berdampingan dengan dinaungi payung, seiring kidung selesai di lantunkan, isi bokor di tabur, hadirin yang menyaksikan berebut memunguti uang receh dan permen.
Melambangkan Mempelai beserta keluarga berbagi rejeki dan kebahagiaan

Spoiler for meuleum harupat
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel


-Meuleum Harupat ( Membakar Harupat )

Mempelai pria memegang batang harupat , pengantin wanita membakar dengan lilin sampai menyala. Harupat yang sudah menyala kemudian di masukan ke dalam kendi yang di pegang mempelai wanita, diangkat kembali dan dipatahkan lalu di buang jauh jauh.
Melambang kan nasihat kepada kedua mempelai untuk senantiasa bersama dalam memecahkan persoalan dalam rumah tangga. Fungsi istri dengan memegang kendi berisi air adalah untuk mendinginkan setiap persoalan yang membuat pikiran dan hati suami tidak nyaman.

-Nincak Endog ( Menginjak Telur )

Mempelai pria menginjak telur di baik papan dan elekan ( Batang bambu muda ), kemudian mempelai wanita mencuci kaki mempelai pria dengan air di kendi, me ngelapnya sampai kering lalu kendi dipecahkan berdua.
Melambangkan pengabdian istri kepada suami yang dimulai dari hari itu.

-Ngaleupaskeun Japati ( Melepas Merpati )

Ibunda kedua mempelai berjalan keluar sambil masing masing membawa burung merpati yang kemudian dilepaskan terbang di halaman.
Melambang kan bahwa peran orang tua sudah berakhir hari itu karena kedua anak mereka telah mandiri dan memiliki keluarga sendiri.

-Huap Lingkung

- Pasangan mempelai disuapi oleh kedua orang tua. Dimulai oleh para Ibunda yang dilanjutkan oleh kedua Ayahanda.
- Kedua mempelai saling menyuapi, Tersedia 7 bulatan nasi punar ( Nasi ketan kuning ) diatas piring. Saling menyuap melalui bahu masing masing kemudian satu bulatan di perebutkan keduanya untuk kemudian dibelah dua dan disuapkan kepada pasangan .
Melambangkan suapan terakhir dari orang tua karena setelah berkeluarga, kedua anak mereka harus mencari sendiri sumber kebutuhan hidup mereka dan juga menandakan bahwa kasih sayang kedua orang tua terhadap anak dan menantu itu sama besarnya.

-Pabetot Bakakak

Kedua mempelai duduk berhadapan sambil tangan kanan mereka memegang kedua paha ayam bakakak di atas meja, kemudian pemandu acara memberi aba – aba , kedua mempelai serentak menarik bakakak ayam tersebut hinggak terbelah. Yang mendapat bagian terbesar, harus membagi dengan pasangannya dengan cara digigit bersama.
Melambangkan bahwa berapapun rejeki yang didapat, harus dibagi berdua dan dinikmati bersama.

[/spoiler]
the-ray-man - 01/03/2010 08:35 PM
#73

Kaskus ID :the-ray-man
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk :Upacara Turun Tanah di Aceh
Sumber :http://www.tamanmini.com/index.php?modul=budaya&cat=BUpacara&budayaid=368731523119
Keterangan :

Spoiler for ,


Hidup manusia berproses sejak dan lahir sebagai bayi, berjalan, dewasa, menikah, menjadi tua dan akhirnya meninggal. Alangkah bahagianya bila pada setiap proses hidup itu selalu didahului atau direstui dengan suatu keberkatan. Hal ini di Indonesia telah menjadi suatu tradisi, tak terkecuali di Daerah Aceh.

Di daerah ini ada suatu upacar yang dikenal dengan "Peutron Aneuk U Tanoh" atau turun tanah. Artinya, orang tua menurunkan bayi ke tanah. Hal ini dilakukan sewaktu bayi genap berusia 44 hari. Menjelang sang bayi berumur 44 hari itu, sang ibu harus pula melakukan berbagai pantangan. Hal ini dimaksudkan, agar si bayi dapat tumbuh sehat dan baik.

Upacara "Turun Tanah" ini dipimpin oleh seorang Ketua Adat dengan menggendong si bayi menuju tangga rumah. Sambil mengucapkan doa-doa dari ayat suci Al-Quran, Ketua Adat menuruni tangga rumah dengan sang bayi tetap dalam gendongannya.

Keluarga mengharapkan agar dengan doa-doa tersebut sang bayi dalam perjalanan hidupnya selalu mendapatkan keselamatan dan lindungan dari Allah. Setelah sampai di tanah, upacara dilanjutkan dengan mencincang batang pisang atau pohon keladi yang telah disediakan. Hal ini mengibaratkan suatu keperkasaan dan dimaksudkan agar si bayi kelak dikaruniai sifat-sifat perkasa dan kesatria.

Ketua Adat melanjutkan acara dengan membawa masuk kembali sang bayi ke dalam nimah. Di dalam rumah ia mendapat salam sejahtera dari seluruh keluarga dan para hadirin. Upacara im dimeriahkan pula dengan permainan rebana, tari-tarian, pencak silat, dan permainan kesenian lainnya. Berbagai hidangan lezat seperti nasi dan lauk pauknya, dan kue-kue ikut memeriahkan upacara ini.

Masyarakat Aceh sangat terkenal dengan ketaatan mereka kepada agama Islam, sehingga hidup berbudaya mereka banyak pula dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Islam.




wizznu17 - 18/03/2010 01:08 PM
#74

Kaskus ID : wizznu17
Kategori : Tata Cara Adat/ Upacara/ Ritual
Bentuk Karya : Adat Istiadat Pernikahan Palembang
Sumber : httP://infopengantin.blogspot.com
Keterangan : Tata Cara Tradisional Penjajakan Hingga Pernikahan Adat Palembang

Spoiler for image1
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel


Spoiler for image2
Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel


Quote:
Adat Istiadat Pernikahan Palembang

Saat akan memasuki jenjang pernikahan menurut adat istiadat perkimpoian Palembang, banyak tahap yang mesti dilalui. Ketika mencari calon mempelai, wakil dari keluarga laki-laki memulainya dengan melakukan kunjungan 'terselubung' ke rumah si gadis. Kunjungan tersebut untuk meneliti apakah si gadis pantas menjadi istri dilihat dari kecantikan, tabiat, ketaatan ibadah dan kepandaiannya.
Utusan yang berkunjung itu haruslah orang yang berpengalaman dan lues dalam berkomunikasi. Karena demikian lues dan piawainya, keluarga yang dikunjungi tidak mengerti bahwa kunjungan itu sebenarnya bukan silahturahmi biasa, tapi sedang terjadi suatu 'penyelidikan'. Peristiwa ini disebut madik. Utusan yang telah melakukan madik, selanjutnya ditugasi mengulang kunjungan untuk memastikan keadaan si gadis. Apakah masih kosong atau sudah ada yang melamar.


Utusan menanyakan status si gadis kepada orangtua dan pihak keluarganya dalam bahasa sindiran : "Seperti buah itu, apakah ada yang menyenggung atau belum?" Jika sudah ada yang menyenggung pembicaraan tak dilanjutkan. Tapi jika belum pembicaraan dilanjutkan ke arah yang lebih serius. Lain halnya jika orangtua si gadis belum siap menikahkan anak gadisnya karena alasan usia. Berarti harus mendapatkan informasi dari keluarga lainnya. Semua hasil pembicaraan harus dilaporkan kepada pengutus.

MINANG / MELAMAR
Lima orang utusan (termasuk seorang ketua) akan membawa gegawan sewaktu mengunjungi rumah keluarga si gadis. Gegawan berupa kain terbungkus sapu tangan yang diletakkan diatas nampan, berikut lima tenong berisis bahan-bahan, seperti gula, gandum, juadah, buah-buahan musiman, dan lain-lain. Gegawan atau bawaan ini dinamakan sirih hanyut.
Ibu si gadis menerima bawaan dan pinangan si bujang. Pada saat itu pula utusan menanyakan kepada si ibu perihal uri-nya, yaitu adat ketika si ibu menikah dulu. Si ibu biasanya meminta acara sesuai dengan adat, termasuk timbang pundut dan penglamar disertai belanja dapur sebagai syarat. Semua ini ditampung oleh utusan untuk disampaikan kepada pengutus tentang kesanggupannya.
Meski sudah ada lamaran, si bujang belum bisa leluasa untuk bertemu calon pasangan hidupnya. Biasanya si bujang dengan penuh perjuangan dan kesabaran bersembunyi dirumah tetangga untuk mengintip paras si gadis yang didamba.

BERASAN
Bila sudah ada kesepakatan, tahap selanjutnya utusan dari pihak keluarga bujang sebanyak 7 orang akan datang membawa 7 tenong berisi gandum, gula, pisang, tembakau, juandah serta buah musiman. Acara ini disebut pisang hanyut. Disaat inilah utusan akan menyampaikan pantun bersambut kata dengan maksud melakukan penawaran apakah di turuti atau tidaknya permintaan ibu si gadis. Acara tawar-menawar ini pada akhirnya hanya sebagai syarat. Kalau si pelamar orang mampu tak ada masalah.
Demikian pula kalau si bujang bisa diterima dengan rela hati sebagai menantu, maka urusan adat menjadi pelengkap semata. Selanjutnya, ada istilah ditebus yang berkaitan dengan menetapkan mas kimpoi. kesepakatan bersama ini berarti sudah ada kesepakatan kata, yang kemudian akan dilakukan acara memutuskan kato.

MEMUTUSKAN KATO
Sekembalinya para utusan, tahap selanjutnya si bujang mengutus 9 orang (termasuk seorang ketua) untuk datang kembali ke rumah si gadis membawa 9 tenong berisi bahan-bahan seperti gula, gandum, juadah, buah musiman dan ditambah satu kain yang dibungkus diatas nampan, berupa sehelai baju dan sehelai selendang sutra atau senting. Inilah yang disebut memutuskan kato.
Ketika itu dirumah si gadis sudah siap para undangan, khususnya 9 orang oilihan yang bertugas menerima tenong tersebut. Busana yang dikenakan para utusan berupa sarong motif sama, dipadu dengan baju kurung senting. Selendang yang dipakai adalah jupri atau selendang kembang teh. Untuk gelungan rambut berbentuk sasak tembakau. setebek namanya, sebab didalam gelungan memang diisi tembakau satu tebek.
Setelah melakukan upacara resmi dalam bentuk syair, pantun dan bahasa halus dalam melaksanakan musyawarah, maka kesepakatan upacara adat lengkap dengan langkah kegiatan, prosesi dan sebagainya selesai sudah. Sebagai tanda selesainya kesepakatan ini, dilaksanakan pula acara pengebatan tali keluarga, yakni mengambil tembakau setebak dari sasak gelungan, lalu dibagikan kepada para utusan dan undangan yang hadir.
Tepak emas disajikan pula bersama sekapur sirih bersugi, yakni mengunyah sirih yang dilengkapi tembakau. Ini diartikan bahwa kedua keluarga sudah mengikat tali persaudaraan sehingga menjadi satu keluarga besar. Acara ini disebut mengebet, yang kemudian dilanjutkan dengan makan bersama.
wizznu17 - 18/03/2010 01:11 PM
#75

Kaskus ID : wizznu17
Kategori : Tata Cara Adat/ Upacara/ Ritual
Bentuk Karya : Adat Istiadat Pernikahan Palembang
Sumber : http://infopengantin.blogspot.com
Keterangan : Tata Cara Tradisional Penjajakan Hingga Pernikahan Adat Palembang

Quote:
TUNANGAN
Sejak saat itu pasangan gadis dan bujang resmi ditunagkan. Sebagai tanda, akan diberikan hadiah emas berlian. Belakangan ini bisa diberikan dalam bentuk cincin pertunangan. Pada saat itu dilakukan juga beberapa tahapan secara adat. Dan selanjutnya kedua keluarga besat itu akan saling kunjung mengunjungi sambil membawa hantaran aneka ragam benda. Yang pertama kali mengunjungi umumnya adalah keluarga pihak pria yang kemudian akan dibalas berkunjung pula oleh pihak keluarga si gadis.
Dalam bulan puasa, malam likuran dan pada malam hari raya, kedua belah pihak saling bergantian membawa hantaran kerumah masng-masing. ini tentunya dilakukan saling membalas. Pada malam tersebut si bjang membantu melakukan persiapan hari raya, baik didalam maupun diluar rumah. Saat hari raya tiba, si bujang datang kerumah tunangannya untuk menghatur sujud sambil membawa buah tangan untuk si gadis dan keluarganya. Sebagai balasan ketika pulang, si gadis mengisi wadah antaran untuk si bujang tunangan dan keluarganya dirumah.
Keterikatan si bujang semakin dekat. Ini dibuktikan dari cara pamitan setiap kali si bujang hendak bepergian. Apalagi hendak pergi jauh misalnya, si bujang harus pamit secara resmi. Si ibu calon mertua akan mempersiapkan aneka bekal yang mungkin diperlukan si bujang selama perantauannya.
Sekembalinya dari rantau, si bujang harus melapor ke rumah si gadis serta menghatur sembah pada calon mertua sebagai tanda keseriusannya yang tak pernah luntur. Saat itu si bujang, membawa aneka benda berupa pakaian, makanan maupun buah-buahan yang dibawanya dari rantau. Si bujang sudah datang tandanya pernikahan tak lama lagi dilangsungkan. Setidaknya dua minggu sebelum hajatan dilangsungkan. Setidaknya dua minggu sebelum hajatan dilangsungkan, sudah ada kata sepakat, kapan mas kimpoi atau gegawan akan diantarkan.
Bila tiba saatnya, maka si bujang akan mohon kepada utusan agar bersedia mengantar mas kimpoi yang telah ditetapkan. Utusan harus seorang wanita yang dituakan dan ditemani beberapa wanita untuk membawa mas kimpoi. Yang diantar bukan cuma mas kimpoi, tetapi juga belanja dapur, yang pada mas sekarang disebut 'uang asap'.
Besarnya uang belanja itu pun harus disetujui ibu si gadis. Jika sudah setuju, maka sejumlah uang belanja tersebut dibungkus dengan ponjen-ponjen kuning yang diletakkan diatas nampan.
Selanjutnya menentukan kesepakatan adat. Jika yang disepakati adalah 'adat tiga turunan' itu artinya pihak mempelai pria harus memberi tiga turunan pakaian yang akan dikenakan pihak mempelai wanita. Yakni pakaian sehari-hari, pakaian untuk bepergian biasa, dan pakaian songket kebesaran yang biasanya dipakai untuk 'kondangan' atau upacara adat.
Selain tiga turunan, ada juga adat buntel kadut, satu turunan bahkan sampai tujuh turunan, yang diiringi dengan perabotan rumah tangga, makanan, perhiasan, uang yang dimasukan dalam kertas yang dibentuk aneka buah dan lain-lain. Semuanya akan dibawa, minimal 40 nampan atau menurut kesanggupan pihak laki-laki. Itu sebagai wujud kecintaan orangtua sekaligus untuk meringankan beban pesta pihak si gadis. Bawaan akan diterima dengan baik. Selanjunya membahas acara mandi simburan, termasuk rencana orangtua si gadis untuk mengunjungi tetua yang akan menghadiri upacara adat tersebut.
Seminggu sebelum menikah, baik si bujang maupun si gadis, pantang keluar rumah. Mereka akan 'dipelihara' badaniah dan batiniahnya, seperti dibedaki dengan bedak khusus temanten. Ramuan beras dengan putih telur ayam, garam, rempah-rempah serta daun sawu abang atau sawo kecik yang dihaluskan, akan menjadi bedak boreh mujarab. Selain ramuan tadi, dilengkapi puladengan bertanggas, yaitu duduk diatas kursi sambil diuapi pedupaan berisi api dan cabe rawit. Upaya ini untuk mengeluarkan keringat sebanyak mungkin, agar saat bersanding nanti tak lagi banyak mengeluarkan keringat.
Selanjutnya persiapan pesta. Diantaranya, majang rumah, masang tarub, ngocek bawang besar, dan mengulem atau mengundang kaum kerabat yang akan terlibat dalam kerja gotong royong. Undangan akan diantar oleh kaum ibu yang mengenakan busana adat. Sementara kaum bapak akan melakukan panggilan dan membaleni kemudian diundang untuk menghadiri pengantin munggah yang berlangsung di pagi hari.

Perkawinan
Beberapa hari sebelum munggah, si bujang akan dinikahkan di rumahnya sendiri oleh ayah si gadis yang bertindak sebagai walinya. Bisa juga oleh penghulu atau hotib kampung. Jika dilakukan hotib atau penghulu, maka upetinya adalah 2 batu kimpoi. Usai menikah secara lengkap, selanjutnya mengarak pacar, sebagai lambang bahwa suami sudah berada disamping istrinya. Prosesi dilakukan di perahu yang dihiasi lampu warna-warni dan diiringi tetabuhan yang diarak ke rumah pengantin wanita. Yang diarak ke rumah pengantin wanita. Yang di arak adalah keris adat pusaka puyang berikut bunga-bunga. Pengantin pria memakai busana kebesaran aesan gedeh.
Acara munggah atau ngunduh mantu, menandakan bahwa si bujang sudah dewasa dan berstatus suami. Sebagai penghormatan akan diberi nama baru. Misalnya nama asli Si Ujang Anom berubah jadi Ratu Timang Alam.
Pertemuan antara pengantin pria dan wanita ditandai dengan sirih menyapa. Maksudnya, dengan pemberian sirih penyapa, resmilah kedua pengantin itu berkenalan. Suasana makin khidmad oleh alunan suara pengantin wanita yang membaca ayat-ayat suci Al-Quran, dan doa keselamatan. Secara lengkap, ada adat pengasuhan atau penyuapan akhir, adat menimbang sebagai janji sehidup semati, keramasan/menyacap, mandi simburan, sebaikan, tepung tawar sampai pacaran. Dan masih banyak acara lainnya, seperti membuka langse atau membuka tabir. Bentuknya sebuah wadah tandu yang dihiasi kertas ukiran berwujud burung merak atau garuda, yang nantinya akan dijadikan kelambu dan ditempatkan diranjang saat suami sudah berada di ruangan pangkeng pengantin
Rersiger - 19/03/2010 02:03 AM
#76

Kaskus ID :Rersiger
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk :Sumpah Setia Masyarakat Dayak
Sumber :www.nila-riwut.com


Spoiler for Sumpah Setia Masyarakat Dayak
Berani bersumpah untuk menyatakan kesetiaan berarti berani menanggung resiko apabila mengingkari sumpah yang telah diucapkan. Apabila ia tidak setia kepada sumpahnya, maka ia berani tanggung resiko bagai rotan yang terpotong, yang berarti nyawanya pun akan terpotong, siap sewaktu-waktu nyawa terputus dari badan. Demikian makna dan resiko sumpah setia bagi suku Dayak.

Sumpah setia yang dilakukan oleh suku Dayak kepada pemimpin mereka, biasanya diadakan dengan saling menukar darah yang biasa disebut hakinan daha hasapan belum, yang kemudian pada pergelangan tangan diikatkan lamiang atau lilis. Setelah itu memotong rotan, menaburkan beras kuning, menabur abu, garam, Kemudian ibu jari tangan kanan dilukai sedikit hingga mengeluarkan darah. Upacara ini dilaksanakan sebelum pukul 12.00 siang hari. Disini makna darah manusia yang menetes keluar dari ibu jari kanan merupakan lambang bakti yang setinggi-tingginya.

Persyaratan yang diperlukan :

* Rotan
* Beras
* Abu Dapur
* Garam
* Parang atau sejenis pisau berukuran besar sebagai alat pemotong
* Kayu persegi atau bulat untuk alas pemotong rotan
* Kunir
* Minyak kelapa

Cara pelaksanaannya :

Sebelum seseorang menyatakan sumpahnya, terlebih dahulu ia berdiri ke arah matahari terbit, yaitu Timur. Petugas pelaksana akan menaburkan beras ke segala arah, dengan maksud agar Penguasa Alam, Hatalla Raja Tuntung Matanandau Kanaruhan Tambing Kabanteran Bulan yang tinggal di langit ketujuh, berkenan mendengarkan janji atau sumpah yang akan diucapkan. Setelah itu, yang bersumpah berbalik arah menghadap matahari terbenam dan pelaksana upacara menaburkan abu, garam, dan beras di belakang orang yang bersumpah. Apabila dia yang bersumpah tidak berkata benar, maka sebagai abu yang terbang berhamburan di bawa angin, begitu pula kehidupannya nantinya akan sia-sia dan terkutuk, hancur seperti garam yang terbang dan menguap.

Setelah itu, dia yang disumpah berbalik arah lagi menghadap matahari terbit, kemudian petugas penyumpahan dan dia yang disumpah mengambil posisi duduk, tangan keduanya memegang rotan sebelah menyebelah. Sebelum rotan di potong, dia yang disumpah harus berani mengatakan:

Apabila ia tidak setia kepada sumpahnya, maka ia berani tanggung resiko bagai rotan yang terpotong, yang berarti nyawanya pun akan terpotong, siap sewaktu-waktu nyawa terputus dari badan. Pada saat upacara berlangsung, para pemimpin lain dan masyarakat yang menghadiri upacara sebagai saksi juga berdiri berhadapan dengan orang-orang yang bersumpah, untuk berpartisipasi sebagai saksi.

Dengan perantaraan roh beras yang ditabur-taburkan dan yang berada di langit ke tujuh, memohon untuk menyampaikan pesan manusia kepada Ranying Hatalla untuk meyaksikan sumpah yang sedang berlangsung.

Apabila dia yang bersumpah tidak setia, tidak jujur dan hanya berpura-pura, maka, bagaikan abu, hidupnya terbang ditiup angin, akan hancur seperti garam, dan nafasnya akan terputus bagai rotan yang terpotong. Akan tetapi apabila orang yang bersumpah setia, rajin dan jujur untuk selamanya, maka ia akan mendapat untung panjang, hidup senang, umur panjang, dapat berkat dan banyak rezeki.
Rersiger - 19/03/2010 02:08 AM
#77

Kaskus ID :Rersiger
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk :Hasaki/Hapalas
Sumber :www.nila-riwut.com


Spoiler for Hasaki/Hapalas
Bagi Suku Dayak, faktor penyucian diri yang dilambangkan dengan hasaki/hapalas memegang peranan penting dalam kehidupan.

Kata dasar dari hasaki dan hapalas ialah saki dan palas. Ha berarti saling. Saling menyaki dan memalas. Ritual saki dan palas dilaksanakan dengan cara mengoleskan darah binatang seperti darah ayam, sapi, kerbau, untuk yang muslim dan untuk yang non muslim, terkadang dioleskan darah babi. Darah binatang korban tersebut dioleskan pada dahi, tangan, dada, dan kaki. Dengan hasaki/hapalas sebagai lambang penyucian diri, manusia terbebas dari pengaruh-pengaruh jahat, baik lahir maupun batin. Dalam keadaan bersih lahir batin, manusia menjadi lebih peka dan mampu menerima karunia dan anugerah dari Ranying Hatalla atau Allah yang Kuasa. Karunia tersebut berupa petunjuk yang akan diberikan oleh Ranying Hatalla.

Mengapa harus darah?, karena darah adalah lambang hubungan antar makhluk dan antar manusia serta dipercaya berfungsi mendinginkan atau menetralisir. Apabila pengolesan darah dilakukan dari bagian bawah keatas, disebut saki, maksudnya untuk membangkitkan hambaruan atau semangat. Apabila pengolesan darah dilakukan dari arah atas ke bawah, disebut palas, maksudnya untuk membebaskan.
Rersiger - 22/03/2010 02:05 AM
#78

Rersiger
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk :Ritual Nahunan (upacaa pemandian dan pemberian nama anak)
Sumber :www.DayakPos.com


Spoiler for Ritual Nahunan
Ritual Nahunan merupakan upacara khas suku Dayak Kalimantan yakni upacara memandikan bayi secara ritual menurut kebiasaan suku Dayak Kalimantan Tengah. Maksud utama dari pelaksanaan Nahunan adalah prosesi pemberian nama sekaligus pembaptisan menurut Agama Kaharingan (agama orang dayak asli dari leluhur) kepada anak yang telah lahir.


Upacara Nahunan sendiri berasal dari kata "Nahun" yang berarti Tahun. Dengan demikian, ritual ini umumnya digelar bagi bayi yang telah berusia setahun atau lebih. Prosesi pemberian nama dianggap oleh masyarakat Dayak sebagai sebuah prosesi yang merupakan hal sakral, karena alasan tersebut digelarlah upacara ritual Nahunan.

Hasil pilihan nama anak tersebut lantas dikukuhkan menjadi nama aslinya.Selain sebagai sarana pemberian nama kepada anak, Nahunan juga dimaksudkan sebagai upacara membayar jasa bagi bidan yang membantu proses persalinan hingga si anak dapat lahir dalam keadaan selamat.

Upacara Ritual Nahunan merupakan salah satu diantara "Lima Ritual Besar Suku Dayak Kalteng" selain beberapa ritual lainnya seperti Upacara Ritual Dayak Pakanan Batu dan Upacara Adat Dayak Manyanggar.

Masyarakat Dayak khususnya Dayak di Pedalaman, hingga kini masih tetap setia melestarikan asset budaya ini sebagai kekayaan khasanah budaya bangsa Indonesia, selain untuk menghargai warisan leluhur, Suku Dayak meyakini jika keseimbangan antara Manusia, Alam dan Sang Pencipta merupakan suatu hubungan sinergis yang harus senantiasa tetap terjaga.
Rersiger - 22/03/2010 02:07 AM
#79

ID :Rersiger
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk :Upacara Ritual Dayak Pakanan Batu
Sumber :www.DayakPos.com


Spoiler for Upacara Ritual Dayak Pakanan Batu
Upacara Ritual Dayak Pananan Batu adalah ritual tradisional yang digelar setelah panen ladang atau sawah. Upacara Suku Dayak bernama Pakanan Batu ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih kepada peralatan yang dipakai saat bercocok tanam sejak membersihkan lahan hingga menuai hasil panen.

Benda atau barang dituakan dalam ritual dayak ini adalah batu. Benda ini dianggap sebagai sumber energi, yaitu menajamkan alat-alat yang digunakan untuk becocok tanam. Misalnya untuk mengasah parang, balayung, kapak, ani-ani atau benda dari besi lainnya.

Selain memberikan kelancaran pekerjaan, bagi para pemakai peralatan bercocok tanam dan berladang, batu dianggap pula telah memberikan perlindungan bagi si pengguna peralatan sehingga tidak luka atau mengalami musibah saat membuka lahan untuk becocok tanam.
Rersiger - 22/03/2010 02:09 AM
#80

Kaskus ID :Rersiger
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk :Upacara Adat Dayak Manyanggar
Sumber :www.dayakpos.com


Spoiler for Upacara Adat Dayak Manyanggar
Upacara Adat Dayak Manyanggar. Istilah Manyanggar berasal dari kata "Sangga". Artinya adalah batasan atau rambu-rambu. Upacara Manyanggar Suku Dayak kemudian diartikan sebagai ritual yang dilakukan oleh manusia untuk membuat batas-batas berbagai aspek kehidupan dengan makhluk gaib yang tidak terlihat secara kasat mata.


Ritual Dayak bernama Manyanggar ini ditradisikan oleh masyarakat Dayak karena mereka percaya bahwa dalam hidup di dunia, selain manusia juga hidup makhluk halus. Perlunya membuat rambu-rambu atau tapal batas dengan roh halus tersebut diharapkan agar keduanya tidak saling mengganggu alam kehidupan masing-masing serta sebagai ungkapan penghormatan terhadap batasan kehidupan makluk lain. Ritual Manyanggar biasanya digelar saat manusia ingin membuka lahan baru untuk pertanian, mendirikan bangunan untuk tempat tinggal atau sebelum dilangsungkannya kegiatan masyarakat dalam skala besar.

Melalui Upacara Ritual Manyanggar, apabila lokasi yang akan digunakan oleh manusia dihuni oleh makhluk halus (gaib) supaya bisa berpindah ke tempat lain secara damai sehingga tidak mengganggu manusia nantinya.
Page 4 of 7 |  < 1 2 3 4 5 6 7 > 
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel