Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
Total Views: 77161 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 7 of 7 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7

gideonjack - 26/11/2010 07:52 PM
#121

Kaskus ID : gideonjack
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk karya : Upacara Tabuik
Sumber : http://www.torajacybernews.com/2010/10/adu-kerbau-toraja-masuk-upacara-adat.html
Keterangan : Upacara khas masyarakat Sumatera Barat
Spoiler for Keterangan
Berasal dari kata ‘tabut’, dari bahasa Arab yang berarti mengarak, upacara Tabuik merupakan sebuah tradisi masyarakat di pantai barat, Sumatera Barat, yang diselenggarakan secara turun menurun. Upacara ini digelar di hari Asura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, dalam kalender Islam. Pada hari yang telah ditentukan, sejak pukul 06.00, seluruh peserta dan kelengkapan upacara bersiap di alun-alun kota. Para pejabat pemerintahan pun turut dalam pelaksanaan upacara paling kolosal di Sumatera Barat ini.


Satu Tabuik diangkat oleh para pemikul yang jumlahnya mencapai 40 orang. Di belakang Tabuik, rombongan orang berbusana tradisional yang membawa alat musik perkusi berupa aneka gendang, turut mengisi barisan. Sesekali arak-arakanberhenti dan puluhan orang yang memainkan silat khas Minang mulai beraksi sambil diiringi tetabuhan. Saat matahari terbenam, arak-arakan pun berakhir. Kedua Tabuik dibawa ke pantai dan selanjutnya dilarung ke laut. Hal ini dilakukan karena ada kepercayaan bahwa dibuangnya Tabuik ini ke laut, dapat membuang sial. Di samping itu, momen ini juga dipercaya sebagai waktunya Buraq terbang ke langit, dengan membawa segala jenis arakannya.
gideonjack - 26/11/2010 08:05 PM
#122

Kaskus ID : gideonjack
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk karya : Upacara Rambu Solo (Toraja)
Sumber : http://www.torajaindonesia.com/2010/02/upacara-adat-rambu-solo-dan-rambu-tuka.html
Keterangan : Rambu Solo adalah pesta atau upacara kedukaan /kematian. Adat istiadat yang telah diwarisi oleh masyarakat Toraja secara turun temurun.

Spoiler for Keterangan

Rambu Solo adalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan, disebut dengan Puya, yang terletak di bagian selatan tempat tinggal manusia. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian. Dikatakan demikian, karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang “sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman, bahkan selalu diajak berbicara.

Oleh karena itu, masyarakat setempat menganggap upacara ini sangat penting, karena kesempurnaan upacara ini akan menentukan posisi arwah orang yang meninggal tersebut, apakah sebagai arwah gentayangan (bombo), arwah yang mencapai tingkat dewa (to-membali puang), atau menjadi dewa pelindung (deata). Dalam konteks ini, upacara Rambu Solo menjadi sebuah “kewajiban”, sehingga dengan cara apapun masyarakat Tana Toraja akan mengadakannnya sebagai bentuk pengabdian kepada orang tua mereka yang meninggal dunia. Kemeriahan upacara Rambu Solo ditentukan oleh status sosial keluarga yang meninggal, diukur dari jumlah hewan yang dikorbankan. Semakin banyak kerbau disembelih, semakin tinggi status sosialnya. Biasanya, untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau yang disembelih berkisar antara 24-100 ekor, sedangkan warga golongan menengah berkisar 8 ekor kerbau ditambah 50 ekor babi. Dulu, upacara ini hanya mampu dilaksanakan oleh keluarga bangsawan. Namun seiring dengan perkembangan ekonomi, strata sosial tidak lagi berdasarkan pada keturunan atau kedudukan, melainkan berdasarkan tingkat pendidikan dan kemampanan ekonomi. Saat ini, sudah banyak masyarakat Toraja dari strata sosial rakyat biasa menjadi hartawan, sehingga mampu menggelar upacara ini. B. Keistimewaan

Puncak dari upacara Rambu Solo disebut dengan upacara Rante yang dilaksanakan di sebuah “lapangan khusus”. Dalam upacara Rante ini terdapat beberapa rangkaian ritual yang selalu menarik perhatian para pengunjung, seperti proses pembungkusan jenazah (ma‘tudan, mebalun), pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah (ma‘roto), penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan (ma‘popengkalo alang), dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir (ma‘palao).

Selain itu, juga terdapat berbagai atrakasi budaya yang dipertontonkan, di antaranya: adu kerbau (mappasilaga tedong), kerbau-kerbau yang akan dikorbankan diadu terlebih dahulu sebelum disembelih; dan adu kaki (sisemba). Dalam upacara tersebut juga dipentaskan beberapa musik, seperti pa‘pompan, pa‘dali-dali dan unnosong; serta beberapa tarian, seperti pa‘badong, pa‘dondi, pa‘randing, pa‘katia, pa‘papanggan, passailo dan pa‘pasilaga tedong.

Menariknya lagi, kerbau disembelih dengan cara yang sangat unik dan merupakan ciri khas mayarakat Tana Toraja, yaitu menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan. Jenis kerbau yang disembelih pun bukan kerbau biasa, tetapi kerbau bule (tedong bonga) yang harganya berkisar antara 10–50 juta perekor. Selain itu, juga terdapat pemandangan yang sangat menakjubkan, yaitu ketika iring-iringan para pelayat yang sedang mengantarkan jenazah menuju Puya, dari kejauhan tampak kain merah panjang bagaikan selendang raksasa membentang di antara pelayat tersebut.
gideonjack - 26/11/2010 08:07 PM
#123

Kaskus ID : gideonjack
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk karya : Tradisi Dugderan (Semarang)
Sumber : http://semarang.go.id/pariwisata/index.php?option=com_content&task=view&id=63&Itemid=91
Keterangan : Duderan adalah sebuah upacara yang menandai bahwa bulan puasa telah datang.
Spoiler for Keterangan
Duderan adalah sebuah upacara yang menandai bahwa bulan puasa telah datang, dulu dugderan merupakan sarana informasi Pemerintah Kota Semarang kepada masyarakatnya tentang datangnya bulan Ramadhan. Dugderan dilaksanakan tepat 1 hari sebelum bulan puasa. Kata Dugder, diambil dari perpaduan bunyi dugdug, dan bunyi meriam yang mengikuti kemudian diasumsikan dengan derr.

Image
Tradisi Dugderan

Kegiatan ini meliputi pasar rakyat yang dimulai sepekan sebelum dugderan, karnaval yang diikuti oleh pasukan merahputih, drumband, pasukan pakaian adat “BINNEKA TUNGGAL IKA” , meriam , warak ngendok dan berbagai potensi kesenian yang ada di Kota Semarang. Ciri Khas acara ini adalah warak Ngendok sejenis binatang rekaan yang bertubuh kambing berkepala naga kulit sisik emas, visualisasi warak ngendok dibuat dari kertas warna – warni. Acara ini dimulai dari jam 08.00 sampai dengan maghrib di hari yang sama juga diselenggarakan festival warak dan Jipin Blantenan.

Sejarah "Dugder"

Sudah sejak lama umat Islam berbeda pendapat dalam menentukan hari dimulainya bulan Puasa, masing-masing pihak biasanya ingin mempertahankan kebenarannya sendiri-sendidi, hal tersebut sering menimbulkan beberapa penentuan dimulainya puasa ini mendapat perhatian yang berwajib. Hal ini terjadi pada tahun 1881 dibawah Pemerintah Kanjeng Bupari RMTA Purbaningrat.Beliaulah yang pertama kali memberanikan diri menentukan nulainya hari puasa, yaitu setelah Bedug Masjid Agung dan Maeriam di halaman Kabupaten dibunyikan masing-masing tiga kali. Sebelum membunyikan bedug dan meriam tersebut, diadakan upacara dihalaman Kabupaten
Image
Tradisi Dugderan

Adanya upacara Dug Der tersebut makin lama makin menarik perhatian masyarakat Semarang dan sekitarnya, menyebabkan datangnya para pedagang dari berbagai daerah yang menjual bermacam0macam makanan, minuman dan mainan anak-anak seperti yang terbuat dari tanah liat ( Celengan, Gerabah), mainan dari bambu ( Seruling, Gangsingan), mainan dari kerta (Warak Ngendog)


Image
Tradisi Dugderan

Jalannya Upacara

Sebelum pelaksanaan dibunyikan bedug dan meriam di Kabupaten, telah dipersiapkan berbagai perlengkapan berupa :
1. Bendera
2. Karangan bunga untuk dikalungkan pada 2 (dua) pucuk meriam yang akan dibunyikan.
3. Obat Inggris (Mesiu) dan kertas koran yang merupakan perlengkapan meriam
4. Gamelan disiapkan di pendopo Kabupaten.

Adapun petugas yang harus siap ditempat :
1. Pembawa bendera
2. Petugas yang membunyikan meriam dan bedug
3. Niaga ( Pengrawit)
4. Pemimpin Upacara, biasanya Lurah/Kepala Desa setempat.

Upacara Dug Der dilaksanakan sehari sebelum bulan puasa tepat pukul 15.30 WIB.Ki Lurah sebagai Pimpinan Upacara berpidato menetapkan hari dimulainya puasa dilanjutkan berdoa untuk mohon keselamatan. Kemudian Bedug di Masjid dibunyikan 3 (tiga) kali. Setelah itu gamelan Kabupaten dibunyikan dengan irama MOGANG.

Prosesi "Dugder"

Meskipun jaman sudah berubah dan berkembang namun tradisi Dug Der masih tetap dilestarikan. Walaupun pelaksanaan Upacara Tradisi ini sudah banyak mengalami perubahan, namun tidak mengurangi makna Dug Der itu sendiri. Penyebab perubahan pelaksanaan antara lain adalah pindahnya Pusat Pemerintahan ke Balaikota di Jl Pemuda dan semakin menyempitnya lahan Pasar Malam, karena berkembangnya bangunan-bangunan pertokoan di seputar Pasar Johar.Upacara Tradisi Dug Der sekarang dilaksanakan di halaman Balaikota dengan waktu yang sama, yaitu sehari sebelum bulan Puasa. Upacara dipimpin langsung oleh Bapak Walikota Semarang yang berperan sebagai Adipati Semarang.Setalah upacara selesai dilaksnakan, dilanjutkan dengan Prosesi/Karnaval yang diikuti oleh Pasukan Merah Putih, Drum band, Pasukan Pakaian Adat “ Bhinneka Tunggal Ika “, Meriam, Warak Ngendog dan berbagai kesenian yang ada di kota Semarang.

Dengan bergemanya suara bedug dan meriam inilah masyarakat kota Semarang dan sekitarnya mengetahui bahwa besok pagi dimulainya puasa tanpa perasaan ragu-ragu.
Theunforget - 12/01/2011 11:16 AM
#124

Kaskus ID : Theunforget
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk karya : Tradisi pemakaman / Toraja
Sumber : https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=6523428
Keterangan : Tradisi pemakaman seorang kaum bangsawan di daerah Toraja, Sulawesi Selatan
bentinata - 23/06/2012 02:14 AM
#125
Tortor masyarakat Batak Toba
Kategori : Tata cara Adat/ Upacara/ Ritual
Bentuk karya : Tradisi tarian Tortor/Batak Toba
Keterangan : Tradisi pertunjukkan tarian etnik Batak Toba, Sumatera Utara


Tortor masyarakat Batak Toba atau seringkali disebut tortor Batak Toba merupakan suatu bentuk penyajian tarian tradisional yang dalam konteksnya selalu disertai penyajian musikal secara utuh yang disebut margondang.
Spoiler for "keterangan"
Artinya melakukan atau melaksanakan ritus musikal, yang merupakan satu bentuk kesatuan aktifitas budaya masyarakat Batak Toba.
Sebagai salah satu aspek budaya yang penting, tortor Batak Toba mempunyai kemutlakan massal. meskipun diperuntukkan dengan perbedaan kepentingan dan status, dari awal hingga akhir, semua gerakan ini relatip sama, tanpa batasan klimaks gerakan, sehingga berkesan 'monoton' tetapi anggun dan menarik. Istilah tortor sebagai tradisi tarian etnik tidak hanya terdapat pada kosa kata sub etnik Batak Toba saja, tetapi juga sub etnik Batak yang lainnya, seperti: Simalungun, Mandailing dan Angkola. Sub etnik Karo menyebutnya landek, sub etnik Pakpak-Dairi dengan tatak dan etnik Melayu dengan istilah lenggang atau tari. Tortor berasal dari kata manghutur atau martotor yang berarti bergetar atau bergoyang di tempatnya.
Bagi orang Batak, tortor adalah gerakan yang menggambarkan penghormatan atau penyembahan dengan perilaku yang religius, sederhana, dan repetitif. Lebih bersifat sakral daripada sekular dengan kandungan nilai-nilai kepercayaan tradisional dan etika sosial. Disajikan dalam konteks adat dan ritual dengan perilaku yang serius, khidmat dan santun yang disebut hapantunan serta gerak yang domdom, teratur dan berat tetapi fleksibel.
Tentu saja pola sikap gerak tarian ini berbeda sekali dengan penyajian-penyajian tortor Batak Toba masa kini yang telah mendapatkan penanganan koreografi turistik.
Ada beberapa pola gerakan dalam tortor Batak Toba, pola dasar yang utama adalah mampu melakukan urdot atau mangurdot, yaitu gerakan turun naik yang elastis seperti per tanpa menyibakkan pakaian, terutama sarung si penari. Dimulai dari gerakan somba atau marsomba yang berarti sembah/menyembah, manatea berarti menundukkan kepala,diahuhon berarti membuka tanganpasu-pasu atau mangolopi berarti memberi berkat atau restu, mansiuk yang berarti menerima berkat dan ditutup dengan pola gerak marsomba lagi. Variasi atau tambahan gerak yang dapat dilakukan bersamaan adalah manjunjung berarti memikul atau membawa sesuatu di atas kepala dan mengebang berarti mengayunkan badan untuk melemaskan otot tangan.
Patut disadari, bahwa dalam penampilan tarian tradisional terkandung konsepsi tradisi yang telah lama ada. Kenyataan yang berlaku sekarang adalah adanya kecenderungan agar konsep-konsep tradisi tersebut diarahkan pada tuntutan aktualisasi, keotentikan semu dan revitalisasi untuk memenuhi kebutuhan pertunjukan 'moderen' dan industri turisme. Sangat disayangkan bilamana kekayaan budaya lokal dari tiap-tiap etnik tidak didokumentasikan dengan serius sebagai identitas/jati diri suatu bangsa atau jika negara memikirkan hal-hal tersebut tidaklah terlalu penting untuk dilindungi. Itu kembali kepada negara sebagai Ayah apakah mampu melidungi dan menjaga kehormatan anak-anaknya (rakyatnya). Semua terserah anda menilai???
(Penulis: Marnala Siahaan, pernah jadi penari dan pelatih tortor)
Page 7 of 7 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel