Seni Peran
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Seni Peran > Seni Peran - Artikel
Total Views: 14320 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 2 |  1 2 > 

template - 07/10/2009 06:38 PM
#1
Seni Peran - Artikel
Contoh Post :

Seni Peran - Artikel
verditch - 08/10/2009 10:17 AM
#2

kaskus : verditch

kategori : Seni Peran

bentuk karya : Artikel mengenai sejarah dulmuluk

sumber : http://infokito.wordpress.com/2007/10/04/dulmuluk-sebagai-peristiwa-sosial/

keterangan : ini adalah artikel tentang kesenian dulmuluk dari sumatra selatan

Spoiler for Dulmuluk

Dulmuluk sebagai Peristiwa Sosial

Terminologi dan pemahaman yang selama ini kerap melihat kelisanan selalu mendahului keberaksaraan tak berlaku dalam teater tradisi Abdul Muluk atau Dulmuluk di Sumatera Selatan. Sejarah kelahiran teater rakyat ini justru memperlihatkan fenomena sebaliknya.

Dilihat dari perspektif sejarah kelahirannya, dalam pentas Dulmuluk keberaksaraan (literacy) malah mendahului kelisanan (orality). Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa tradisi lisan dalam sejarah kebudayaan Nusantara, terutama di ranah kebudayaan Melayu, berkelindan dengan tradisi tulis. Satu situasi yang—menurut pemikiran banyak ahli— bisa digunakan sebagai salah satu pijakan untuk merunut sejarah perkembangan intelektualitas suatu bangsa.

Dalam kasus teater tradisi Dulmuluk, fenomena itu bukan semata karena inspirasi penciptaannya berangkat dari teks-teks Melayu klasik. Di luar itu ada proses trial and error, semacam eksperimentasi, tentang bagaimana sebuah teks bisa tampil lebih menarik bila dihadirkan sebagai sebuah pertunjukan seni.

Sejarah Teater Tradisional Dulmuluk

Dari manakah dulmuluk berasal? Ada beberapa versi tentang sejarah teater tradisional yang berkembang di Sumatera Selatan itu. Satu versi yang sering disebut- sebut, teater ini bermula dari syair Raja Ali Haji, sastrawan yang pernah bermukim di Riau.

Penyair dan anggota Asosiasi Tradisi Lisan Sumatera Selatan, Anwar Putra Bayu, di Palembang, mengungkapkan, salah satu syair Raja Ali Haji diterbitkan dalam buku Kejayaan Kerajaan Melayu. Karya yang mengisahkan Raja Abdul Muluk itu terkenal dan menyebar di berbagai daerah Melayu, termasuk Palembang.

Seorang pedagang keturunan Arab, Wan Bakar, membacakan syair tentang Abdul Muluk di sekitar rumahnya di Tangga Takat, 16 Ulu. Acara itu menarik minat masyarakat sehingga datang berkerumun. Agar lebih menarik, pembacaan syair kemudian disertai dengan peragaan oleh beberapa orang, ditambah iringan musik.

Pertunjukan itu mulai dikenal sebagai dulmuluk pada awal abad ke-20. Pada masa penjajahan Jepang sejak tahun 1942, seni rakyat itu berkembang menjadi teater tradisi yang dipentaskan dengan panggung. Saat itu dulmuluk

Grup teater kemudian bermunculan dan dulmuluk tumbuh dan digemari masyarakat. ”Dulmuluk menarik karena menampilkan teater yang lengkap. Ada lakon, syair, lagu-lagu Melayu, dan lawakan. Lawakan, yang biasa disebut khadam, sering mengangkat dan menertawakan ironi kehidupan sehari- hari masyarakat saat itu,” kata Anwar Putra Bayu.

Ketua Umum Himpunan Teater Tradisional Sumsel Muhsin Fajri menilai, pementasan dulmuluk selalu ditunggu masyarakat karena akting di panggung dibawakan secara spontan dan menghibur, bahkan penonton juga bisa merespons percakapan di atas panggung. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu dan bahasa Palembang.

Perjalanan dulmuluk mulai surut sejak tahun 1990-an, ketika alternatif hiburan semakin banyak, terutama melalui televisi dan film layar lebar. Teater tradisi itu semakin merosot setelah orang yang menggelar hajatan lebih memilih pertunjukan organ tunggal. Akhirnya, dulmuluk seperti kehabisan energi, kehilangan pamor, dan tidak mampu bangkit lagi.

Kehidupan komunitas

Konon, pertunjukan Dulmuluk sempat berada di puncak kejayaannya pada era 1960-an dan 1970-an. Ketika itu ada puluhan grup teater tradisi Dulmuluk. Di beberapa tempat teater tradisi ini dikenal juga sebagai pertunjukan Johori. Istilah Johori berasal dari nama belakang tokoh utamanya, yang bernama lengkap Abdul Muluk Jauhari.

Pada masa kejayaannya itu, grup Dulmuluk tak hanya ada di daratan Sumatera Selatan. Wilayah apresiasinya bahkan tercatat hingga ke Pulau Bangka dan Belitung, yang kala itu masih bergabung dengan Provinsi Sumsel.

Grup-grup Dulmuluk pun menjamur. Di banyak tempat, Dulmuluk menjadi tontonan ’wajib’ untuk memeriahkan acara perkimpoian, khitanan, atau upacara adat untuk menyambut kelahiran seorang bayi. Sebagai pemain sekaligus figur yang menonjol dalam teater tradisi Dulmuluk, Saidi Kamaludin dari Desa Pemulutan, Kabupaten Ogan Komering, bahkan harus menularkan ilmu kedulmulukannya di banyak tempat.

Permintaan sebagai guru alias pelatih Dulmuluk berdatangan. Puluhan kelompok Dulmuluk dari berbagai kabupaten di Sumsel, di antaranya grup Dulmuluk dari Desa Danau Tampang dan Petar Dalam di Muara Enim, adalah hasil binaan Saidi.

“Waktu itu honornya dibayar dengan beras atau padi,” kata Saidi, yang saat ini di usianya yang ke-69 masih bermain Dulmuluk bersama grup Abdul Muluk “Setia Kawan” yang ia pimpin. “Kalau honor main sudah lupa, kalau tak salah Rp 200 sekali main,” tambahnya.

Robert Martin Dumas dalam disertasi yang dipertahankannya di Universitas Leiden, Belanda (Mei, 2000), mencatat, dalam sebuah kelompok teater Dulmuluk, peran ’guru’ sangat penting. Meski grup teater Dulmuluk merupakan kelompok yang cair, di mana seseorang dalam satu grup boleh bermain untuk grup lain, posisi ’guru’ dalam kelompok tersebut tetap merupakan sosok sentral.

“Seorang ’guru’ punya karisma di antara para pemain yunior,” kata Robert Martin Dumas dalam disertasi berjudul ’Teater Abdulmuluk’ in Zuid-Sumatra of de drempel van een Nieuw Tijdperk (Teater Abdulmuluk di Sumatera Selatan di Ambang Pintu Sebuah Era Baru).

Seperti halnya kebanyakan teater tradisi di Nusantara, Dulmuluk tak cuma mengandalkan akting di atas panggung untuk menyampaikan pesan kepada penonton. Unsur nyanyian, musik, tari, gerak badan, pidato, dan ’komunikasi’ dengan audiens menjadi bagian tak terpisahkan dalam pentas Dulmuluk.

Setelah bergaul dengan para pemain Dulmuluk sejak 1987, bahkan pada 1990 sempat bergabung sebagai pemain, Dumas sampai pada satu kesimpulan, “Sebuah pertunjukan teater non-Barat seperti Abdul Muluk lebih merupakan peristiwa sosial ketimbang semata-mata sebuah peristiwa seni drama.”

Dumas memang tak berlebihan. Sebagai tontonan, Dulmuluk memang memberikan apa yang ingin diketahui khalayak lewat aksi panggung mereka. Namun, kebanyakan orang lupa bahwa berhadapan dengan teater tradisi seperti Dulmuluk, unsur-unsur di luar pertunjukan drama itu sendiri—yang tentunya masih dalam satu rangkaian peristiwa—bisa memberi informasi berharga, termasuk fenomena sosial-budaya terkait keberadaan Dulmuluk sebagai bagian komponen seni pertunjukan rakyat.

Taruhlah menyangkut tahap persiapan menjelang pertunjukan. Tentang kerepotan mengumpulkan pemain, perjuangan mencari tempat penyewaan properti panggung, hingga prosesi berupa upacara sesaji sesaat menjelang pentas, memberi semacam gambaran kehidupan sosial komunitas ini. Misalnya, mengapa harus ada beras-kunyit, pisang mas, telur atau ayam panggang, kembang tujuh warna, dan kemenyan?

“Selain untuk tolak-balak agar pertunjukan berjalan lancar, juga agar aura pemain benar-benar muncul. Misalnyo, kalu jadi rajo pecak rajo nian,” kata Saidi.

Begitu pun setelah pertunjukan usai. “Prosesi” pembagian honor hanyalah salah satunya. Lebih dari itu, sebelum kembali kehidupan sehari-hari masing- masing, keguyuban yang cair dalam komunitas itu akan saling berbagi pengalaman. Bahkan, ruang sempit di belakang panggung itu tak jarang menjadi tepat ’mengadu’—bagai ruang konsultasi terbuka—terkait peristiwa keseharian, termasuk dalam urusan pribadi sekalipun.

Begitulah dinamika di balik petas Dulmuluk. Bagaimanapun, sebagai bentuk kesenian Melayu yang kental dipengaruhi ajaran Islam, selalu saja ada pesan yang diselipkan. Seperti lantunan syair Saidi ini: Pada masa inilah zaman/Suka di mata bercampur teman/Harta di dunia jangan disayangkan/Akhirnya esok akan ditinggalkan/…// Ah!

[spoiler=gambar pentas dulmuluk]Seni Peran - Artikel

[/spoiler]
verditch - 11/10/2009 10:47 AM
#3

kaskus ID : verditch

kategori : Seni peran

bentuk karya : Artikel mengenai Reog Ponorogo dari Jawa Timur

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Reog_%28Ponorogo%29

keterangan : ini adalah Artikel mengenai Kesenian Reog Ponorogo

Spoiler for Reog Ponorogo
Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

Sejarah

Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya. Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan 'kerasukan' saat mementaskan tariannya.

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

Pementasan Seni Reog

Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.

Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar,

Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.

Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

Kontroversi

Tarian Reog Ponorogo yang ditarikan di Malaysia dinamakan Tari Barongan. Deskripsi akan tarian ini ditampilkan dalam situs resmi Kementrian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia. Tarian ini juga menggunakan topeng dadak merak, topeng berkepala harimau yang di atasnya terdapat bulu-bulu merak, yang merupakan asli buatan pengrajin Ponorogo. Permasalahan lainnya yang timbul adalah ketika ditarikan, pada reog ini ditempelkan tulisan "Malaysia" dan diaku menjadi warisan Melayu dari Batu Pahat Johor dan Selangor Malaysia - dan hal ini sedang diteliti lebih lanjut oleh pemerintah Indonesia. Hal ini memicu protes dari berbagai pihak di Indonesia, termasuk seniman Reog asal Ponorogo yang berkata bahwa hak cipta kesenian Reog dicatatkan dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004 dan diketahui langsung oleh Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Ribuan Seniman Reog pun menggelar demo di depan Kedutaan Malaysia Berlawanan dengan foto yang dicantumkan di situs kebudayaan, dimana dadak merak dari versi Reog Ponorogo ditarikan dengan tulisan "Malaysia" Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Muhammad Zain pada akhir November 2007 kemudian menyatakan bahwa "Pemerintah Malaysia tidak pernah mengklaim Reog Ponorogo sebagai budaya asli negara itu. Reog yang disebut “barongan” di Malaysia dapat dijumpai di Johor dan Selangor karena dibawa oleh rakyat Jawa yang merantau ke negeri tersebut


[spoiler=gambar reog ponorogo]Seni Peran - Artikel


[/spoiler]
sejuta bintang - 11/10/2009 10:58 PM
#4

Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Seni Peran
Bentuk karya : Wayang Orang
Sumber : wikipedia.com
Keterangan :

Wayang orang disebut juga dengan istilah wayang wong (bahasa Jawa) adalah wayang yang dimainkan dengan menggunakan orang sebagai tokoh dalam cerita wayang tersebut.

Sesuai dengan nama sebutannya, wayang tersebut tidak lagi dipergelarkan dengan memainkan boneka-boneka wayang (wayang kulit yang biasanya terbuat dari bahan kulit kerbau ataupun yang lain), akan tetapi menampilkan manusia-manusia sebagai pengganti boneka-boneka wayang tersebut. Mereka memakai pakaian sama seperti hiasan-hiasan yang dipakai pada wayang kulit. Supaya bentuk muka atau bangun muka mereka menyerupai wayang kulit (kalau dilihat dari samping), sering kali pemain wayang orang ini diubah/ dihias mukanya dengan tambahan gambar atau lukisan.

Pertunjukkan wayang orang yang masih ada saat ini, salah satunya adalah wayang orang Barata (di kawasan pasar Senin, Jakarta), Taman Mini Indonesia Indah, Taman Sriwedari Solo, dan lain-lain.

Spoiler for tokoh wayang orang

Daftar tokoh wayang orang :
Dewa-Dewi wayang
Dewa-Dewi dalam dunia pewayangan merupakan Dewa-dewi yang muncul dalam mitologi agama Hindu di India, dan diadaptasi oleh budaya Jawa.
1. Sang Hyang Adhama
2. Sang Hyang Sita
3. Sang Hyang Nurcahya
4. Sang Hyang Nurrasa
5. Sang Hyang Wenang
6. Sang Hyang Tunggal
7. Sang Hyang Rancasan
8. Sang Hyang Ismaya
9. Sang Hyang Manikmaya
10. Batara Bayu
11. Batara Brahma
12. Batara Chandra
13. Batara Guru
14. Batara Indra
15. Batara Kala
16. Batara Kresna
17. Batara Kamajaya
18. Batara Narada
19. Batara Surya
20. Batara Wisnu
21. Batara Yamadipati
22. Betari Durga
23. Batara Kuwera
24. Batara Cingkarabala
25. Batara Balaupata
26. Hyang Patuk
27. Hyamh Temboro

Ramayana
Tokoh-tokoh Ramayana dalam budaya pewayangan Jawa diambil dan diadaptasi dari Mitologi Hindu di India.
1. Anggada
2. Anila
3. Anjani
4. Dasarata
5. Garuda Jatayu
6. Hanuman
7. Indrajit
8. Jatayu
9. Jembawan
10. Kosalya
11. Kumbakarna
12. Aswanikumba
13. Kumba-kumba
14. Laksmana
15. Parasurama
16. Prahastha
17. Rama Wijaya
18. Prabu Somali
19. Rawana
20. Satrugna
21. Sita
22. Dewi Windradi
23. Subali
24. Sugriwa
25. Sumitra
26. Surpanaka (Sarpakenaka)
27. Trikaya
28. Trijata
29. Trinetra
30. Trisirah
31. Gunawan Wibisana
32. Wilkataksini

Mahabharata
Tokoh-tokoh Mahabharata dalam budaya pewayangan Jawa diambil dan diadaptasi dari Mitologi Hindu di India.
1. Abimanyu
2. Resi Abyasa
3. Antareja
4. Antasena
5. Arjuna
6. Aswatama
7. Baladewa
8. Basupati
9. Basudewa
10. Bhisma
11. Bima
12. Burisrawa
13. Cakil
14. Citraksa
15. Citraksi
16. Citrayuda
17. Citramarma
18. Damayanti
19. Drona (Dorna)
20. Drestadyumna
21. Drestarastra
22. Dropadi
23. Durgandana
24. Durmagati
25. Dursala (Dursilawati)
26. Dursasana
27. Dursilawati
28. Duryodana (Suyodana)
29. Drupada
30. Ekalawya
31. Gatotkaca
32. Gandabayu
33. Gandamana
34. Gandawati
35. Indra
36. Janamejaya
37. Jayadrata
38. Karna
39. Kencakarupa
40. Kretawarma
41. Krepa
42. Kresna
43. Kunti
44. Madrim
45. Manumayasa
46. Matswapati
47. Nakula
48. Nala
49. Niwatakawaca
50. Pandu Dewanata
51. Parasara
52. Parikesit
53. Rukma
54. Rupakenca
55. Sadewa
56. Sakri
57. Sakutrem
58. Salya
59. Sangkuni
60. Sanjaya
61. Santanu
62. Setyajid
63. Setyaboma
64. Satyaki
65. Sanga-sanga
66. Satyawati
67. Srikandi
68. Subadra
69. Tirtanata
70. Seta
71. Udawa
72. Utara
73. Wratsangka
74. Wesampayana
75. Widura
76. Wisanggeni
77. Yudistira
78. Yuyutsu

Punakawan
Punakawan adalah para pembantu dan pengasuh setia Pandawa. Dalam wayang kulit, punakawan ini paling sering muncul dalam goro-goro, yaitu babak pertujukan yang seringkali berisi lelucon maupun wejangan.

Versi Jawa Tengah dan Jawa Timur, wayang kulit/wayang orang : Semar, Gareng, Petruk, Bagong

Ānom suroto
Versi Banyumas, wayang kulit/wayang orang : Semarsemorodewo, Garengnolo, Petrukkanthong, Baworcarub

Versi Jawa Barat, wayang golek : Semar, Cepot atau astrajingga, Dawala, Gareng

Bali : Tualen, Merdah, Sangut, Delem,

Teman para Punakawan : Togog, Bilung, Limbuk, Cangik

sejuta bintang - 11/10/2009 11:06 PM
#5

Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Seni Peran
Bentuk karya : Ketoprak
Sumber : wikipedia.com dan Kompas
Keterangan :

Ketoprak (bahasa Jawa: kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan.

Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang.

Beberapa tahun terakhir ini, muncul sebuah genre baru; Ketoprak Humor yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI. Dalam pentasan jenis ini, banyak dimasukkan unsur humor.

Spoiler for artikel

Pertunjukan Ketoprak Terpinggirkan Penontonnya - Publik Lebih Senang Dangdut

Diambil dari Harian KOMPAS, Jawa Tengah, Senin, 22 Juli 2002

Yogyakarta, Kompas - Ketoprak sebagai seni tradisi rakyat Yogyakarta menanti lonceng kematian karena terpinggirkan oleh penontonnya sendiri. Seiring munculnya stasiun-stasiun televisi (TV) swasta yang berorientasi industri dan kapitalisme, minat publik lebih tersedot untuk menyaksikan tayangan dangdut ketimbang ketoprak.Dalam sebuah diskusi di Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sabtu (20/7), penggiat seni tradisi, Bondan Nusantara menilai, nasib ketoprak tak ada bedanya dengan seni tradisi lainnya, seperti jathilan, angguk, ndolalak, badui.

"Semuanya gagal bertarung di tengah dahsyatnya gempuran tayangan TV swasta, termasuk berbagai seni tradisi di wilayah Tanah Air," kata Bondan. Misalnya, wayang kulit di Surakarta dan Yogya, ludruk di daerah Jawa Timur, kentrung di Banyuwagi, jemblung di Purworejo dan Banyumas, serta sinrilik di Sulawesi Selatan.

Dipandu dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM, Dr C Bakdi Soemanto, Bondan, yang aktif sebagai sutradara kelompok ketoprak "DMB" (Dekonstruksi Makna Beku) 2002, menilai kesenian rakyat yang tumbuh dari masyarakat komunal agraris, terpinggirkan ke habitat semula. Parahnya, masyarakat pinggiran yang tadinya guyub dengan seni tradisi berciri sederhana, akrab, dan egaliter, tersihir pula untuk menyukai estetika "baru" produk TV swasta.

"Lebih celaka lagi, TVRI (Televisi Republik Indonesia-Red) yang dulu menyediakan ruang bagi kesenian rakyat, mulai berkemas pula mengikuti langkah stasiun TV swasta. Dengan alasan menyandang status perusahaan umum, TVRI ikut berbisnis dan takluk pada kekuatan modal dari luar," ujar Bondan.

Bondan tidak menafikkan beberapa jenis kesenian rakyat yang dimodifikasi stasiun TV swasta seperti ketoprak humor, ludruk glamor, ludruk kirun, dan wayang humor. Namun dia menilai, tayangan semacam itu bukan buah kecerdasan para pelaku kesenian rakyat. Itu hanya produk para pemodal untuk meraup keuntungan.

Peminat ketoprak

Tentang menyusutnya minat penggemar ketoprak di TV, Bondan mengutip sebuah riset dari kelompok studi Realino mengenai tanggapan pemirsa terhadap tayangan "ketoprak sayembara" di TVRI Yogyakarta. Sekitar tahun 1994-1995, acara yang berdurasi sekitar 50 menit itu masih mampu menerima 800 ribu kartu pos dari pemirsa. Taruhlah rata-rata pengirim kartu pos mengirim empat kartu, berarti ada sekitar 200 ribu penonton acara itu.

Dua tahun terakhir, kartu pos yang masuk menyusut tajam menjadi 26 ribu. Jika rata-rata penonton mengirim empat kartu, berarti tinggal 6.500 orang penggemarnya.

"Kenyataan itu bertolak belakang dengan kondisi tahun 1970-an," kata Bondan. Menurutnya, tahun 1970-an, sekitar 50 kelompok ketoprak tumbuh subur di Yogyakarta. Karena diminati publik, mereka pentas tobong (berkeliling) dari kampung ke kampung. Situasi itu didukung oleh TVRI yang memberi ruang lumayan bagi kesenian rakyat. Tayangan ketoprak di TVRI Yogyakarta bersinergi dengan maraknya pertunjukan ketoprak di panggung-panggung rakyat.

Namun, Bondan dan Bakdi tak sepenuhnya melihat TV swasta sebagai biang utama kepunahan seni tradisi. Kesalahan utama terletak pada kegagapan pekerja seni. Mereka gagap dan tidak kreatif menarik kembali hasrat publik yang hilang. Fenomena itu bermula tahun 1990-an ketika terjadi loncatan teknologi informasi dan industrilisasi. Pekerja seni tradisi tidak siap menghadapi tantangan zaman, di mana minat publik beralih ke tayangan yang estetikanya lebih menarik.

Apalagi, kata Bakdi, TV sedemikian mudahnya ditonton oleh publik. Tayangannya bisa dinikmati anak-anak sampai orangtua tanpa harus keluar dari rumah. "Bila perlu, sambil telanjang pun kita bisa nonton televisi. Bandingkan, kalau nonton acara panggung atau nonton bioskop. Kita harus berpakaian, keluar rumah, dan harus ada ongkos transportasi," papar Bakdi.

Dr Mark Hobart, warga Inggris yang 10 tahun terakhir meneliti TV dan kesenian di Bali, sependapat dengan Bondan dan Bakdi, bahwa dalam situasi sekarang, pekerja seni tradisi harus lebih kreatif. "Di tengah perubahan minat publik, pekerja seni tradisi harus lebih kreatif menyuguhkan pertunjukan yang komunikatif," kata Hobart yang menjabat Direktur The Balinese and Javanese Research Archive (BAJRA).

Bakdi menyarankan, lembaga-lembaga kesenian semacam Dewan Kesenian, dan organisasi nonpemerintah yang peduli pada seni tradisi memprioritaskan pembinaan pada kesenian rakyat yang terancam punah. "Yang difestivalkan sebaiknya kesenian yang terancam punah. Tidak usah terlalu memikirkan kesenian yang sudah relatif aman dan hidup," tandas Bakdi. (NAR)
lucky girl - 09/11/2009 05:58 PM
#6

Kaskus ID : lucky girl
Kategori : Seni Peran
Bentuk karya : Lenong
Sumber : http://budaya-indonesia.org/iaci/Lenong
Keterangan : artikel mengenai Lenong, salah satu seni pertunjukan tradisional masyarakat Betawi

Spoiler for Lenong

Lenong adalah seni pertunjukan teater tradisional masyarakat Betawi. Lenong berasal dari nama salah seorang Saudagar China yang bernama Lien Ong, konon, dahulu Lien Ong lah yang sering memanggil dan menggelar pertunjukan teater yang kini disebut Lenong untuk menghibur masyarakat dan khususnya dirinya beserta keluarganya. (folklore)

Pada zaman dahulu (penjajahan), lenong biasa dimainkan oleh masyarakat sebagai bentuk apresiasi penentangan terhadap tirani penjajah.

Lenong pada hakikatnya terbagi menjadi dua kategori, yaitu ; Lenong Preman dan Lenong Denes.

Lenong Preman : yaitu pertunjukan teater yang berisi cerita rakyat/kehidupan rakyat pribumi dalam menentang penjajahan, dengan mengedepankan tokoh utama 'Jago' yang kerap berkarakter tegas dan keras. Atraksi persilatan menjadi andalan pertunjukan. gaya bahasa yang digunakan pun cenderung kasar, seperti 'elu-gue, bangs*t, dll'. Lenong Preman diasumsikan cerita berdasarkan sudut pandang masyarakat menengah ke-bawah zaman dahulu. ditampilkan di tempat biasa masyarakat berkumpul, seperti pasar. Panggung pertunjukan berupa 'panggung arena', yang hanya beralaskan rumput/tikar, dengan penerangan obor/lampu minyak dan dikelilingi oleh penonton yang duduk berkumpul menyerupai tapal kuda. contoh Lenong Preman : Cerita Si Pitung, Abang Jampang, Wak Item, dll.

Lenong Denes (dinas) : yaitu pertunjukan teater yang berisi cerita mengenai dinamika pemerintahan yang saat itu dipegang oleh penjajah. namun demikian, cerita yang diusung tetap mengenai sisi perlawanan masyarakat terjajah. Gaya bahasa yang digunakan cenderung halus, seperti saya-anda, tuan, dsb. Lenong denes diasumsikan berdasarkan sudut pandang golongan menengah atas. Panggung pertunjukan : karena Lenong Denes biasa digelar di suatu tempat pemerintahan, maka cenderung lebih eksklusif dibanding lenong preman, yaitu menggunakan panggung dan kelengkapan pertunjukan saat itu. contoh : Nyai Dasima, cerita rakyat tentang nama suatu tempat, dll.

Ditulis oleh, Ahmad Romdhoni, mahasiswa Institut Kesenian Jakarta, pelatih teater di Padepokan Seni Budaya Betawi Manggar Kelape - Kemang Jakarta Selatan. Sumber : Berbagai Sumber, dan materi Pelatihan Lenong 2007 oleh Dinas Kebudayaan & Permuseuman DKI Jakarta. Karya Pribadi teater kontemporer : 1. Hore.. Ucup Menang!!! - dipentaskan pada Festival Lenong, 2007, di GOR Jakarta Barat. 2. Belajar Nyok - dipentaskan pada perayaan Ulang Tahun ke-2, 2008, Padepokan Manggar Kelape. 3. Juki Kaga Jadi Sunat - dipentaskan pada Festival Palang Pintu III, 2008, Kemang Jakarta Selatan. 4. Study Tour - dipentaskan pada perayaan Ulang Tahun ke-3, 2009, Padepokan Manggar Kelape. e-mail : [email]dhonniedhons@gmail.com[/email]

Diperoleh dari "http://budaya-indonesia.org/iaci/Lenong"
ioryone - 10/02/2010 01:59 AM
#7

Kaskus ID : ioryone
Kategori : Seni Peran
Bentuk Karya : Artikel
Sumber : http://www.tembi.org/cover/2008/20080423.htm
Keterangan : Ketoprak Tobong | Kelana Bakti Budaya - Hidup Karena Belas kasihan

Spoiler for Ketoprak Tobong

Seni Peran - Artikel
Kamiyati mempersiapkan tiket


Ketoprak Tobong adalah Ketoprak keliling yang pentasnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain dalam kurun waktu tertentu antara 3 – 4 bulanan. Perpindahannya selain pemain juga dengan seluruh perlengkapan pentas antara lain, dekorasi panggung, kostum, sound sistem, diesel, kursi, gamelan dan tobong (bangunan untuk pentas dan sekaligus bertempat tinggal)

Alunan musik campursari sudah diputar dan dikumandangkan melalui corong diatas tobong, yang dimaksudkan untuk mengunadang penonton. Sementara Pak Paniran duduk di depan pintu gerbang tobong menunggu para penonton yang telah membeli karcis untuk masuk menyaksikan pertunjukan Ketoprak malam itu, Selasa 15 April 2008, yang mengambil judul Suminten Edan.

Satu persatu penonton datang. Hingga sampai pukul 21.00 saat pertunjukan akan dimulai, tiket yang terjual baru berjumlah 20 an lembar, dengan harga kelas satu Rp. 5.000 dan kelas dua 4.000. Dari hasil penjualan malam itu, yang sebagian besar penonton membeli tiket klas 2, diperoleh pemasukan dengan jumlah tidak lebih dari seratus ribu rupiah.

Seni Peran - Artikel
pemain sedang merias diri

Sejak 10 Maret 2008, Ketoprak Tobong ‘Kelana Bakti Budaya’ dari Kediri mengadakan pentas keliling selama 4 bulan di Kembaran, Tamantirta, Kasihan Bantul Jogyakarta. menenpati lokasi tanah milik Pabrik Gula Madukismo. Sampai dengan malam itu, atau selama 35 hari, Ketoprak Tobong Kelana Bakti Budaya baru mengadakan 19 kali pentas. Hal tersebut dikarenakan hujan dan tidak ada penonton.

Menurut Kamiyati (60 tahun) penanggungjawab yang merangkap bendahara dan sekaligus penjual karcis, memperlihatkan catatan pembukuan keuangan, sejak 10 Maret hingga 15 April 2008. Dari serentetan pembukuan tersebut, angka tertinggi pemasukan berjumlah Rp. 345,000, selebihnya kurang dari Rp. 100,000 bahkan kurang dari Rp. 50.000. Dari pemasukan yang diperoleh, dipotong biaya operasional diesel sering tidak ada sisa untuk dibagikan kepada pemain. Lalu bagaimana dengan pendapatan pemain?

“Wah kula mboten saged matur” (saya tidak dapat membeberkan) kata bapak Paniran. Dengan kondisi yang demikian, dari pihak pengelola minimal memberikan uang makan kepada 24 orang yang masih bergabung dan hidup di Tobong sebesar Rp. 2000 per orang. Dengan minimnya honor yang diberikanpun pemiliknya masih selalu nombok. Lalu bagaimana dengan kehidupan pemain yang jauh-jauh meninggalkan keluarga untuk mencari nafkah lewat ketoprak tobong?

Seni Peran - Artikel
Malam itu Sunarti bersyukur karena sudah melayanani
3 gelas minuman dan satu piring nasi. Artinya dengan uang Rp 7000
hasil pendapatannya hari esok ia dan suaminya yang adalah
salah satu pemain ketoprak tobong dapat makan.

Pada umumnya mereka mengatakan bahwa semenjak kecil mereka menyukai kesenian ketoprak dan akhirnya mereka mencintai dan melakoninya sebagai panggilan hidup. Bagi mereka hidup berkelana di tobong membuat hati senang karena dapat menghibur diri dan menghibur orang lain. Dengan hati senang maka badan akan menjadi sehat dan panjang umur.

Pernah saya meninggalkan tobong untuk pulang kampung. Belum genap seminggu saya merasa kesepian, ngelangut tanpa hiburan. Maka saya lalu kembali ke tobong. Kata Sunarti (60 tahun) yang sudah 8 tahun ikut ketoprak tobong sebagai penjaja makanan dan minuman untuk penonton dan pemain di dalam tobong.

Hal lain yang membuat pekerja tobong masih bertahan adalah kebaikan sesama seniman tempat mereka menggelar tobongnya. Contohnya di susun Kembaran sekarang ini, Sunarti merasakan banyak perhatian dan bantuan baik secara moril dan materiil yang diberikan kepada keberadaan ketoprak tobong. Bapak Binardi sebagai Dukuh banyak membantu dalam hal perijinan, para seniman ketoprak dan para pengrawit yang setiap pentas selalu ikut mendukung tanpa minta bayaran. Sungguh hal yang mengharukan.

Seni Peran - Artikel
Tidak lebih dari 25 penonton yang menyaksikan pentas malam itu

Ketoprak tobong yang pada tahun 1992 bernama ‘Sri Budaya’ dan kemudian berpindah tangan berganti nama ‘Candra Kirana’ dan akhirnya pada tahun 2000 dibeli oleh Bapak Dwi Kartiyasa dan diberi nama ‘Kelana Bakti Budaya’ ini semata-mata karena ingin melestarikan keberadaan ketoprak tobong yang sampai saat ini tinggal ada dua yang satu adalah ‘Anom Budaya’ di Kediri.

Dengan membeli ketoprak tobong sekaligus pemainnya yang selalu merugi ini artinya bahwa Bapak Dwi Kartiyasa telah memindah beban pelestarian budaya khususnya ketoprak tobong ke kepundaknya. Oleh karenanya ia siap dengan segala pengorbanannya. Selain perhatian dan pikiran, termasuk diantaranya merelakan sebagian besar rupiahnya.

Seni Peran - Artikel
Sumbangan karawitan dari Kembaran dan sekitarnya
yang mengiringi setiap pementasan dikarenakan Kelana Bakti Budaya
tidak punya pengiring.

Jaman telah berubah dan menggeser kesenian tradisi. Kejayaan ketoprak tobong sudah berlalu. Dan kini tinggal cerita yang indah dikisahkan namun perih dilakoni. Jikapun masih ada yang melakoni, seperti ‘Kelana Bakti Budaya’ tentunya dengan kegetirannya.

Sampai kapan ketoprak tobong bisa bertahan?
funnie.mooo - 19/02/2010 10:51 AM
#8

ID : funnie.mooo
Kategori : Seni Peran
Bentuk Karya : Artikel
Sumber : SEKILAS PINTAS TENTANG SENI PERTUNJUKAN/DRAMA/SENI PERAN
Spoiler for artikel..

SATU
Kata Teater pada awalnya berasal dari bahasa Yunani yaitu Theatron yang menurut asal pengertiannya adalah tempat melakukan Upacara Ritual Keagamaan dan Adat Tradisi bangsa Yunani; dimana merupakan suatu tempat yang sakral dan upacara tersebut dihadiri oleh seluruh penguasa dan rakyat bangsa Yunani pada saat itu, sehingga terkesan seperti sebuah pertunjukan budaya. Dalam perkembangannya upacara ritual dan adat tradisi ini semakin diminati bukan hanya dihadiri oleh bangsa Yunani, tetapi juga bangsa lain yang datang ke Yunani turut menyaksikan upacara tersebut. Kemudian upacara ritual tradisi ini berkembang menjadi pertunjukan budaya dan merupakan aset bangsa Yunani.

Sedangkan kata Teater di negara barat yang menurut kosa kata bahasa Inggris yaitu Theatre yang berarti Tempat Pertunjukan, namun pada perkembangannya Theatre disebut sebagai tempat pertunjukan, baik Film, Opera, Drama dsb. Sebagai contoh ada “Theatre Of Broadway“ sebuah tempat pertunjukan drama yang eksklusif yang kapasitas penontonnya tidak lebih dari 50 orang. Di Indonesia kita mengenal “Jakarta Theatre“ yaitu tempat pertunjukan Film alias Bioskop, atau “21 Theatre“.

Sejalan dengan perkembangan zaman, maka kata teater, menjadi sebuah sebutan dalam kesenian, yang kemudian diartikan sebagai pertunjukan. Selanjutnya yang terjadi di Indonesia, kata teater telah divonis untuk disudutkan menjadi sebuah sinonim drama. Yang mana drama pada hakikatnya adalah seni peran. Kesalah kaprahan ini menjadi berlarut-larut, diabaikan penelusuran arti sebenarnya, bahkan dikaburkan dan telah diabadikan bahwa teater adalah seni drama/seni peran seperti yang kita kenal.
Padahal yang namanya seni drama/seni peran merupakan salah satu dari sebuah pertunjukan kesenian, baru pada abad 21 oleh sebuah komunitas kesenian disebut-sebut sebagai seni pertunjukan.

DUA
Apabila sebutan teater mempunyai makna sebagai pertunjukan maka tentunya akan memiliki sebuah persyaratan, yaitu: 1). Ada Tempat Pertunjukan, 2). Ada yang melakukan pertunjukan/yang mempertunjukkan, 3). Ada yang menonton pertunjukannya.
Ketiga syarat inilah yang perlu dipahami, apabila salah satu syaratnya tidak terpenuhi apakah itu disebut pertunjukan?, tentu saja perlu kajian yang baik terhadap hal ini. Jadi bahwa teater yang sekarang kita anut di Indonesia, sebenarnya di Negara Barat dikenal sebagai drama (seni drama/peran), yang pada zamannya di Indonesia pun dahulu orang menyebutnya drama/sandiwara/tonil. Disebut drama karena didalamnya dipertunjukkan sebuah dramatisasi gerak, dialog, adegan sampai dramatisasi musik serta pendukung lainnya seperti pada make up, kostum, pencahayaan dsb.

Demikianlah di Indonesia ini telah cukup banyak kesalah kaprahan/kesimpang siuran informasi atau sebutan, dan semua itu lalu diabadikan apabila semua orang telah mengakuinya sebagai sebuah keberadaan.
Oleh karenanya kita harus lebih cerdas dan arif menyikapi semua itu, untuk kemudian menelaah serta mengkajinya lebih dalam hakikat maknanya. Kita harus lebih berhati-hati menentukan suatu sebutan atau istilah dalam dunia kebudayaan yang berasal baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Namun demikian kalau kita mau ikut arus boleh menyebut teater sebagai seni drama, tapi lalu apakah hal ini tidak perlu diluruskan? Kita harus memberikan pandangan yang jelas dan tegas terhadap hal seperti ini.
Jadi untuk meluruskannya kita harus sepakat dan lebih bijak bahwa yang disebut Teater itu adalah Tempat Pertunjukan. Identifikasi lebih luas dan saratnya, bahwa Teater adalah Pertunjukan (Seni Pertunjukan) atau bisa pula disebut bahwa Teater merupakan Tempat berkumpulnya sekelompok Orang yang berprofesi dan melakukan pertunjukan seni drama/seni peran (sebagai contoh Teater Bulungan jadi maknanya adalah tempat berkumpulnya/kelompok orang yang melakukan kegiatan pertunjukan seni drama/seni peran dengan nama Bulungan).

TIGA
Di Negara Barat seni pertunjukan drama yang berkembang adalah drama panggung, lalu Opera, Operette, Preview dsb yang sudah berkembang sejak abad ke 18. Selain itu pada hakikatnya yang disebut Opera/Operette/Preview adalah drama musical yang diiringi dengan musik Orkestra. Tokoh-tokoh seni drama/seni peran yang terkenal/pernah kita dengar dari Negara barat contohnya seperti Growtovsky, Stanislavsky, Shakespeare, Bernard Shaw, Anton P. Chekov, Nikolaj Gogol, Molliere dsb.

Sedangkan di Indonesia, pertunjukan drama/seni peran sudah ada sejak zaman kerajaan. Pada masa itu kelompok-kelompok kesenian tersebut berasal dari rakyat biasa, namun mereka sering dipanggil untuk menghibur di lingkungan kerajaan. Dan apabila kerajaan mempunyai hajat besar semua rakyat di kerajaan tersebut boleh hadir untuk menyaksikan pertunjukan kesenian dimaksud, oleh karena itu dikenallah kelompok kesenian itu dengan sebutan Teater Rakyat/Pertunjukan Kesenian Rakyat, karena dilakukan oleh rakyat untuk rakyat.

Jenis-jenis Kesenian Rakyat yang dikenal sampai saat ini antara lain; di Jawa Tengah dan Jawa Timur ada Kethoprak, Ludruk, Wayang (kulit atau Wong/Orang), Penthul dan sebagainya. Di Jawa Barat ada Longser, Wayang Golek, Topeng Cirebon, Sintren dan sebagainya, di Bali ada Topeng Pajegan, Wayang Kulit Bali dan sebagainya, di Jakarta (Betawi) ada Lenong, Topeng Jantuk, Samrah dan sebagainya di Sumatera Barat ada Randai dan sebagainya dan banyak lagi.

Baru pada abad ke 20, teater modern dari Negara barat diperkenalkan secara aktif di Indonesia begitu pula naskah-naskahnya seperti naskah karya Shakespeare, Bernard Shaw, Bertold Brech, Anton P. Chekov, Nikolaj Gogol dsb.
Tokoh-tokoh teater/seni pertunjukan/drama/seni peran dari Indonesia yang terkenal antara lain seperti Rendra, Putu Widjaya, D. Djayakusuma (Alm), Wahyu Sihombing (Alm), Roedjito (Alm), Motinggo Boesye, Saini K.M., N. Riantiarno, Aldisar Syafar, Adi Kurdi dan sebagainya. Mereka inilah yang memperjuangkan supaya seni drama/peran/ pertunjukan/teater dapat eksis di tengah masyarakat Indonesia.

EMPAT
Yang diperkenalkan di Indonesia dalam dunia seni pertunjukan/peran/drama ada 2 (dua) kelompok yaitu; Tradisional dan Modern. Yang tradisional itu adalah seperti Lenong, Wayang, Ludruk, Kethoprak, Topeng dan lain-lain, Yang Modern (di Indonesia) adalah Drama Modern, Opera, Preview dsb.

Contoh perbedaan antara Drama Tradisional dengan Drama Modern antara lain;

TRADISIONAL

[*]Naskah merupakan plot-plot cerita/lakon/adegan selebihnya adalah permainan dialog improvisasi
[*]Peran yang dimainkan biasanya adalah tokoh pahlawan terkenal di suatu wilayah/daerah yang dikenal dan akrab dengan masyarakat daerah itu, atau nama pribadi masing-masing.
[*]Tempat pertunjukan biasanya berbentuk arena, melingkar, atau tapal kuda, yang pada perkembangannya sekarang dapat pula dipertunjukkan di panggung proscenium.
[*]Iringan musik biasanya menggunakan jenis musik tradisional seperti gamelan, gambang kromong, kentrung dsb.


MODERN

[*]Naskah merupakan bentuk naskah utuh yang berisikan dialog pada setiap adegan, yang dilengkapi scenario bloking, moving, serta petunjuk set dekorasinya.
[*]Peran biasanya lebih luas, baik yang ada pada tradisional maupun kehidupan sehari-hari, dengan nama-nama orang yang sering didengar di masyarakat.
[*]Tempat pertunjukan lebih banyak menggunakan panggung proscenium atau arena bentuk tapal kuda.
[*]Iringan musik pun lebih luas, bisa jenis musik modern, tradisional atau benda–benda yang menghasilkan bunyi, atau bunyi-bunyian utuh seperti bunyi pada alam semesta ini.


LIMA
Seni Peran/Drama/Teater memiliki hubungan yang sangat erat dengan disiplin seni lainnya, dan merupakan sebuah kesatuan apabila dikemas menjadi sebuah pertunjukan, antara lain;

[*]Hubungan dengan Seni Sastra
Dalam hal Naskah/Scenario merupakan hasil karya seni Sastra yang kemudian diolah dan dikemas untuk di pertunjukkan dalam sebuah lakon/cerita.
[*]Hubungan dengan Seni Rupa
Dalam hal Set Dekor, Tata Busana, Tata Rias dan Tata Cahaya , merupakan hasil karya seni rupa yang sangat berbobot sehingga dapat dinikmati dengan kasat mata oleh penonton, dimana terdapat warna-warna dan hasil karya seni rupa baik tiga dimensi maupun dua dimensi yang disajikan dalam sebuah kesatuan pertunjukan.
[*]Hubungan dengan Seni Musik
Dalam hal ilustrasi musik yang dikemas apik dan selaras untuk mendukung suasana dalam pengadeganan. Bahkan didalam Opera seni musik menjadi faktor utama dalam pertunjukan tersebut dan pemain harus menguasai seni musik guna menyanyikan dialog-dialog dalam pertunjukannya.
[*]Hubungan dengan Seni Gerak/Tari
Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh para pemain tidak lepas dari dasar-dasar Seni Gerak/Tari sebagai latihan untuk kelenturan tubuh. Pada teater modern/teater alternative, seni gerak/tari akan menjadi sebuah titik tolak dalam pertunjukan. Sedangkan pada Teater/Seni Pertunjukan Tradisional, intro/pembuka yang dilakukan dengan gerak tari tradisional, bahkan dapat pula dikemas dalam adegan gerakan tari/pesta.
[*]Hubungan dengan Seni Pertunjukan Media Layar Lebar/Kaca (Film/TV)
Untuk berperan didalam Film/TV memerlukan orang-orang atau pelatihan dengan dasar-dasar Teater yang kuat sehingga pertunjukan Film/TV akan menjadi lebih hidup dan berkualitas, bahkan seorang presenter perlu melakukan pelatihan dasar seni teater seperti improvisasi, vocal, konsentrasi, mimik, dan banyak lagi yang dapat mendukung penampilannya.
funnie.mooo - 22/02/2010 11:23 AM
#9

ID : funnie.mooo
Kategori : Seni Peran
Bentuk Karya : Artikel
Sumber : Ludruk
Spoiler for artikel..
Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Saat ini kelompok ludruk tradisional dapat dijumpai di daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang; meski keberadaannya semakin dikalahkan dengan modernisasi.

Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak, peronda, sopir angkotan, etc). Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerakan "Pak Sakera", seorang jagoan Madura.

Sejarah Ludruk :
Pada tahun 1994 , group ludruk keliling tinggal 14 group saja. Mereka main di
desa desa yang belum mempunyai listrik dengan tarif Rp 350. Group ini didukung oleh 50 . 60 orang pemain. Penghasilan mereka sangat minim yaitu: Rp 1500 s/d 2500 per malam. Bila pertunjukan sepi, terpaksa mengambil uang kas untuk bisa makan di desa.

Sewaktu James L Peacok (1963-1964) mengadakan penelitian ludruk di Surabaya tercatat sebanyak 594 group. Menurut Depdikbud propinsi jatim, sesudah tahun 1980 meningkat menjadi 789 group (84/85), 771 group (85/86), 621 group (86/87) dan 525 (8788). Suwito HS, seniman ludruk asal Malang mengatakan tidak lebih dari 500 group karena banyak anggota group yang memiliki keanggotaan sampai lima group.

Hasil penelitian Suripan Sadi Hutomo, menurut kamus javanansch Nederduitssch Woordenboek karya Gencke dan T Roorda (1847), Ludruk artinya Grappermaker (badutan). Sumber lain menyatakan ludruk artinya penari wanita dan badhut artinya pelawak di dalam karya WJS Poerwadarminta, Bpe Sastra (1930). Sedangkan menurut S.Wojowasito (1984) bahwa kata badhut sudah dikenal oleh masyarakat jawa timur sejak tahun 760 masehi di masa kerajaan Kanyuruhan Malan dengan rajanya Gjayana, seorang seniman tari yang meninggalkan kenangan berupa candi Badhut.

Ludruk tidak terbentuk begitu saja, tetapi mengalami metamorfosa yang cukup panjang. Kita tidak punya data yang memadai untuk merekonstruksi waktu yang demikian lama, tetapi saudara hendricus Supriyanto mencoba menetapkan berdasarkan nara sumber yang masih hidup sampai tahun 1988, bahwa ludruk sebagai teater rakyat dimulai tahun 1907, oleh pak Santik dari desa Ceweng, Kecamatan Goda kabupaten Jombang.

Bermula dari kesenian ngamen yang berisi syair syair dan tabuhan sederhana, pak Santik berteman dengan pak Pono dan Pak Amir berkeliling dari desa ke desa. Pak Pono mengenakan pakaian wanita dan wajahnya dirias coret coretan agar tampak lucu. Dari sinilah penonton melahirkan kata .Wong Lorek.. Akibat variasi dalam bahasa maka kata lorek berubah menjadi kata Lerok.

Periode Lerok Besud (1920 . 1930)
Kesenian yang berasal dari ngamen tersebut mendapat sambutan penonton. Dalam perkembangannya yang sering diundang untuk mengisi acara pesta pernikahan dan pesta rakyat yang lain.
Pertunjukkan selanjutnya ada perubahan terutama pada acara yang disuguhkan. Pada awal acara diadakan upacara persembahan. Persembahan itu berupa penghormatan ke empat arah angin atau empat kiblat, kemudian baru diadakan pertunjukkan. Pemain utama memakai topi merah Turki, tanpa atau memakai baju putih lengan panjang dan celana stelan warna hitam. Dari sini berkembalah akronim Mbekta maksud arinya membawa maksud, yang akhirnya mengubah sebutan lerok menjadi lerok besutan.

Periode Lerok dan Ludruk (1930-1945)
Periode lerok besut tumbuh subur pada 1920-1930, setelah masa itu banyak bermunculan ludruk di daerah jawa timur. Istilah ludruk sendiri lebih banyak ditentukan oleh masyarakat yang telah memecah istilah lerok. Nama lerok dan ludruk terus berdampingan sejak kemunculan sampai tahun 1955, selanjutnya masyarakat dan seniman pendukungnya cenderung memilih ludruk.
Sezaman dengan masa perjuangan dr Soetomo di bidang politik yang mendirikan Partai Indonesia raya, pada tahun 1933 cak Durasim mendirikan Ludruk Oraganizatie (LO). Ludruk inilah yang merintis pementasan ludruk berlakon dan amat terkenal keberaniannya dalam mengkritik pemerintahan baik Belanda maupun Jepang.
Ludruk pada masa ini berfungsi sebagai hiburan dan alat penerangan kepada rakyat, oleh pemain pemain ludruk digunakan untuk menyampaikan pesan pesan persiapan Kemerdekaan, dengan puncaknya peristiwa akibat kidungan Jula Juli yang menjadi legenda di seluruh grup Ludruk di Indonesia yaitu : Bekupon Omahe Doro, Melok Nipon Soyo Sengsoro., cak Durasim dan kawan kawan ditangkap dan dipenjara oleh Jepang.

Periode Ludruk Kemerdekaan (1945-1965)
Ludruk pada masa ini berfungsi sebagai hiburan dan alat penerangan kepada rakyat, untuk menyampaikan pesan pesan pembangunan. Pada masa ini Ludruk yang terkenal adalah Marhaen milik Partai Komunis Indonesia. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika PKI saat itu dengan mudah mempengaruhi rakyat, dimana ludruk digunakan sebagai corong PKI untuk melakukan penggalangan masa untuk tujuan pembrontakan. Peristiwa madiun 1948 dan G-30 S 1965 merupakan puncak kemunafikan PKI.
Ludruk benar benar mendapatkan tempat di rakyat Jawa Timur. Ada dua grup ludruk yang sangat terkenal yaitu : Ludruk Marhaen dan Ludruk tresna Enggal.
Ludruk Marhaen pernah main di Istana negara sampai 16 kali , hal ini menunjukkan betapa dekatnya para seniman ludruk dengan para pengambil keputusan di negeri ini. Ludruk ini juga berkesempatan menghibur para pejuang untuk merebut kembali irian Jaya, TRIKORA II B yang memperoleh penghargaan dari panglima Mandala (Soeharto). Ludruk ini lebih condong ke kiri sehingga ketika terjadi peristiwa G 30 S PKI Ludruk ini bubar.

Periode Ludruk Pasca G 30 S PKI ( 1965 . saat ini)
Peristiwa G30S PKI benar benar memperak perandakan grup grup Ludruk terutama yang berafiliasi kepada Lembaga Kebudayaan Rakyat milik PKI.Terjadi kevakuman antara 1965-1968. Sesudah itu muncullah kebijaksanaan baru menyangkut grup grup ludruk di Jawa Timur. Peleburan ludruk dikoordinir oleh Angkatan Bersenjata dalam hal ini DAM VIII Brawijaya proses peleburan ini terjadi antara tahun 1968-1970.
1. Eks-Ludruk marhaen di Surabaya dilebur menjadi ludruk Wijaya Kusuma unit I
2. Eks-Ludruk Anogara Malang dilebur menjadi Ludruk Wijaya Kusuma Unit II
3. Eks-Ludruk Uril A Malang dilebur menjadi Ludruk Wijaya Kusuma unit III, dibina Korem 083 Baladika Jaya Malang
4. Eks-Ludruk Tresna Enggal Surabaya dilebur menjadi ludruk Wijaya Kusuma unit IV
5. Eks-Ludruk kartika di Kediri dilebur menjadi Ludruk Kusuma unit V

Diberbagai daerah ludruk ludruk dibina oleh ABRI, sampai tahun 1975. Sesudah itu mereka kembali ke grup seniman ludruk yang independen hingga kini.

Dengan pengalaman pahit yang pernah dirasakan akibat kesenian ini, Ludruk lama tidak muncul kepermukaan sebagai sosok Kesenian yang menyeluruh. Pada masa ini ludruk benar benar menjadi alat hiburan. Sehingga generasi muda yang tidak mendalami sejarah akan mengenal ludruk sebagai grup sandiwara Lawak.
the-ray-man - 25/02/2010 08:29 PM
#10

Kaskus ID : the-ray-man
Kategori : Seni Peran
Bentuk Karya : Artikel
sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang
keterangan : wayang cupak

Spoiler for ,

Seni Peran - Artikel
Wayang Cupak

termasuk wayang kulit Bali yang sangat langka, adalah pertunjukan wayang kulit yang melakonkan cerita Cupak Grantang yang mengisahkan perjalanan hidup dari dua putra Bhatara Brahma yang sangat berbeda wataknya.

Bentuk pertunjukan wayang ini tidak jauh berbeda dengan wayang kulit Bali lainnya hanya saja tokoh-tokoh utamanya terbatas pada Cupak dan Grantang, Men Bekung dan suaminya Pan Bekung, Raksasa Benaru, Galuh Daha, Prabu Gobagwesi dan lain sebagainya.

Pertunjukan wayang Cupak pada dasarnya masih tetap berpegang kepada pola serta struktur pementasan wayang kulit tradisional Bali (wayang Parwa).

Pagelaran Wayang Cupak melibatkan sekitar 12 orang pemain yang terdiri dari:

* 1 orang dalang
* 2 orang pembantu dalang
* 9 orang penabuh gamelan batel gender wayang.

Di antara lakon-lakon yang biasa dibawakan dalam pementasan wayang Cupak, adalah:

1. Matinya Raksasa Benaru
2. Cupak Dadi Ratu
3. Cupak Nyuti Rupa (Cupak ke sorga)

Kekhasan pertunjukan wayang Cupak ini terasa pada seni suara vokalnya yang memakai tembang-tembang macapat (ginada) dan penampilan tokoh-tokoh Bondres yang sangat ditonjolkan. Wayang Cupak sangat populer di daerah Kabupaten Tabanan.

the-ray-man - 25/02/2010 08:32 PM
#11

Kaskus ID : the-ray-man
Kategori : Seni Peran
Bentuk Karya : Artikel
sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang
keterangan : wayang Parwa

Spoiler for ,

Wayang Parwa

Wayang Parwa adalah Wayang kulit yang membawakan lakon - lakon yang bersumber dari wiracarita Mahabrata yang juga dikenal sebagai Astha Dasa Parwa. Wayang Parwa adalah Wayang Kulit yang paling populer dan terdapat di seluruh Bali. Wayang Parwa dipentaskan pada malam hari, dengan memakai kelir dan lampu blencong dan diiringi dengan Gamelan Gender Wayang.

Walaupun demikian, ada jenis Wayang Parwa yang waktu penyelenggaraannya tidak harus pada malam hari. Jenis itu adalah Wayang Upacara atau wayang sakral, yaitu Wayang Sapuh Leger dan Wayang Sudamala. Waktu penyelenggaraannya disesuaikan dengan waktu upacara keseluruhan.

Wayang Parwa dipentaskan dalam kaitannya dengan berbagai jenis upacara adat dan agama walaupun pertunjukannya sendiri berfungsi sebagai hiburan yang bersifat sekuler. Dalam pertunjukannya, dalang Wayang Parwa bisa saja mengambil lakon dari cerita Bharata Yudha atau bagian lain dari cerita Mahabharata. Oleh sebab itu jumlah lakon Wayang Parwa adalah paling banyak.

Di antara lakon-lakon yang umum dipakai, yang diambil dari kisah perang Bharatayudha adalah:

* Gugurnya Bisma
* Gugurnya Drona
* Gugurnya Abhimanyu / Abimanyu
* Gugurnya Karna
* Gugurnya Salya
* Gugurnya Jayadrata

Lakon - lakon terkenal sebelum Bharatayudha misalnya:

* Sayembara Dewi Amba
* Pendawa - Korawa Aguru
* Pendawa - Korawa Berjudi
* Sayembara Drupadi
* Lahirnya Gatotkaca
* Aswameda Yadnya
* Kresna Duta
* Matinya Supala
* Dan lain-lain.

Wayang Parwa biasanya didukung oleh sekitar 7 orang yang terdiri dari:

* 1 orang dalang
* 2 orang pembantu dalang
* 4 orang penabuh gender wayang (yang memainkan sepasang pemade dan sepasang kantilan)

Durasi pementasannya lebih panjang daripada Wayang lemah yakni berkisar antara 3 sampai 4 jam.
the-ray-man - 25/02/2010 08:54 PM
#12

Kaskus ID : the-ray-man
Kategori : Seni Peran
Bentuk Karya : Artikel
sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang
keterangan : wayang gambuh

Spoiler for ,


Wayang Gambuh



adalah salah satu jenis wayang Bali yang langka, pada dasarnya adalah pertunjukan wayang kulit yang melakonkan ceritera Malat, seperti wayang panji yang ada di Jawa.

Karena lakon dan pola acuan pertunjukan adalah Dramatari Gambuh, maka dalam banyak hal wayang Gambuh merupakan pementasan Gambuh melalui wayang kulit. Tokoh-tokoh yang ditampilkan ditransfer dari tokoh-tokoh Pegambuhan, demikian pula gamelan pengiring dan bentuk ucapan-ucapannya.

Konon perangkat wayang Gambuh yang kini tersimpan di Blahbatuh adalah pemberian dari raja Mengwi yang bergelar I Gusti Agung Sakti Blambangan, yang membawa wayang dari tanah Jawa (Blambangan) setelah menaklukan raja Blambangan sekitar tahun 1634. Almarhum I Ketut Rinda adalah salah satu dalang wayang Gambuh angkatan terakhir yang sebelum meninggal sempat menurunkan keahliannya kepada I Made Sidja dari (Bona) dan I Wayan Nartha (dari Sukawati).
the-ray-man - 25/02/2010 09:01 PM
#13

Kaskus ID : the-ray-man
Kategori : Seni Peran
Bentuk Karya : Artikel
sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang
keterangan : wayang Potehi

Seni Peran - Artikel

Spoiler for ,


Wayang Potehi

Wayang Potehi merupakan salah satu kesenian kebudayaan gabungan Tionghoa-Indonesia.

Sejarah

Potehi berasal dari kata poo (kain), tay (kantung) dan hie (wayang). Wayang Potehi adalah wayang boneka yang terbuat dari kain. Sang dalang akan memasukkan tangan mereka ke dalam kain tersebut dan memainkannya layaknya wayang jenis lain. Kesenian ini sudah berumur sekitar 3.000 tahun dan berasal dari daratan Cina asli.

Menurut legenda, seni wayang ini ditemukan oleh pesakitan di sebuah penjara. Lima orang dijatuhi hukuman mati. Empat orang langsung bersedih, tapi orang kelima punya ide cemerlang. Ketimbang bersedih menunggu ajal, lebih baik menghibur diri. Maka, lima orang ini mengambil perkakas yang ada di sel seperti panci dan piring dan mulai menabuhnya sebagai pengiring permainan wayang mereka. Bunyi sedap yang keluar dari tetabuhan darurat ini terdengar juga oleh kaisar, yang akhirnya memberi pengampunan.

Diperkirakan jenis kesenian ini sudah ada pada masa Dinasti Jin yaitu pada abad ke 3-5 Masehi dan berkembang pada Dinasti Song di abad 10-13 M. Wayang Potehi masuk ke Indonesia (dulu Nusantara) melalui orang-orang Tionghoa yang masuk ke Indonesia di sekitar abad 16 sampai 19. Bukan sekedar seni pertunjukan, Wayang Potehi bagi keturunan Tionghoa memiliki fungsi sosial serta ritual. Tidak berbeda dengan wayang-wayang lain di Indonesia.

Beberapa lakon yang biasa dibawakan dalam wayang potehi adalah Sie Jin Kwie, Hong Kiam Cun Ciu, Cun Hun Cauw Kok, dan Poei Sie Giok. Setiap wayang bisa dimainkan untuk pelbagai karakter, kecuali Bankong, Udi King, Sia Kao Kim, yang warna mukanya tidak bisa berubah.
[sunting]

Lakon

Dulunya Wayang Potehi hanya memainkan lakon-lakon yang berasal dari kisah klasik daratan China seperti kisah legenda dinasti-dinasti yang ada di China terutama jika dimainkan di dalam kelenteng. Akan tetapi saat ini Wayang Potehi sudah mengambil cerita-cerita di luar kisah klasik seperti legenda Kera Sakti yang tersohor itu. Pada masa masuknya pertama kali di Indonesia, wayang potehi dimainkan dalam bahasa Hokkian. Seiring dengan perkembangan zaman, wayang ini pun kemudian juga dimainkan dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu para penduduk pribumi pun bisa menikmati cerita yang dimainkan.

Menariknya, ternyata lakon-lakon yang kerap dimainkan dalam wayang ini sudah diadaptasi menjadi tokoh-tokoh di dalam ketoprak. Seperti misalnya tokoh Sie Jin Kwie yang diadopsi menjadi tokoh Joko Sudiro. Atau jika Anda penggemar berat ketoprak, mestinya tidak asing dengan tokoh Prabu Lisan Puro yang ternyata diambil dari tokoh Lie Sie Bien.

Alat musik Wayang Potehi terdiri atas gembreng, suling, gwik gim (gitar), rebab, tambur, terompet, dan bek to. Alat terakhir ini berbentuk silinder sepanjang 5 sentimeter, mirip kentongan kecil penjual bakmi, yang jika salah pukul tidak akan mengeluarkan bunyi "trok"-"trok" seperti seharusnya.
[sunting]

Perkembangan

Tahun 1970-an sampai tahun 1990-an bisa dikatakan masa suram bagi Wayang Potehi. Itu dikarenakan tindakan yang cenderung represif penguasa pada masa itu terhadap kebudayaan kebudayaan Tionghoa. Padahal nilai-nilai budaya yang dibawa serta oleh para keturunan Tionghoa sejak berabad-abad lalu telah tumbuh bersama budaya lokal dan menjadi budaya Indonesia. Dalam masa suram itu, wayang Potehi seolah mengalami pengerdilan. Sangat sulit menemukan pementasannya saat itu. Apalagi jika bukan karena sulitnya mendapat perizinan. Padahal jika diamati para penggiat Wayang Potehi sebagian besar adalah penduduk asli Indonesia. Bayangkan, betapa besar apresiasi mereka terhadap budaya yang bisa dikatakan bukan budaya asli Indonesia. Namun setelah orde reformasi berjalan, angin segar seolah menyelamatkan kesenian ini. Wayang Potehi bisa dipentaskan kembali dan tentu saja tidak dengan sembunyi-sembunyi.
capt_alfons - 04/03/2010 01:57 AM
#14

Kaskus ID: capt_alfons

Kategori : Seni Peran

Bentuk Karya : Artikel mengenai Teater Amanda dari Kalsel

sumber : http://teatermamanda.blogspot.com/

Keterangan : Mamanda ialah drama tradisional masyarkat Kutai


Spoiler for Sekilas mengenai Mamanda

Salah satu teater tradisional Kalsel yang masih bisa bertahan hidupnya adalah “ Mamanda “. Mengapa demikian ? Sebab cerita dari Mamanda memang mengasyikkan tak kalah dengan cerita sinetron atau film. Walau pun tokoh-tokoh dalam Mamanda “ baku “ namun dapat ditambah tokoh-tokoh lain dengan cerita yang lain, artinya cerita mamanda dapat diciptakan sesuai dengan perkembangan jaman. Apa lagi durasi pertunjukkan mamanda jang semula semalam suntuk sekarang disesuaikan dengan permintaan, maksudnya bisa durasinya 3 jam atau 5 jam. Istemewanyanya Mamanda, bisa dimainkan dengan sebuah naskah yang utuh seperti terater modern atau hanya dengan mengatur cerita seperti garis besar cerita, babakan dan plot, sedangkan dialog dikenal dengan istilah impropisasi. Pemain – pemain Mamanda memang dikenal keahliannya berimpropisasi. Tokoh-tokoh mamanda yang baku itu adalah Raja, Mangkubumi, Wazir, Perdana Menteri,Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam, Permaisuri, Anak Raja ( bisa putri atau Pangeran ). Tokoh-tokoh lain sesuai cerita misalnya Raja dari Negeri lain, Anak Muda, Perampok,Jin, Belanda, atau nama dari daerah lain ( Jawa, Cina, Batak, Madura atau lainnya ). Seperti juga di teater modern, sebelum pertunjukkan dimulai akan dibacakan sinopsisnya, di mamanda dipaparkan lewat “ Baladon “. Baladon adalah tutur cerita dengan dibawakan berlagu dan gerak tari. Cerita mamanda bisa berkolaburasi dengan seni tari atau musik. Yakni setelah kerajaan selesai bersidang maka akan ditampilkan pertunjukkan tari dengan maksud menghibur raja dengan segenap aparat kerajaan atau ketika kerajaan menang perang diadakan pertunjukkan hiburan tari atau musik panting.

Asal mula Mamanda adalah Badamuluk ketika rombongan bangsawan Malaka ( Abdoel Moeloek atau Indra Bangsawan, 1897 M ) yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa, menetap di Tanah Banjar beberapa bulan mengadakan pertunjukkan. Teater ini begitu cepat populer di tengah masyarakat Banjar. Setelah beradaptasi, teater ini melahirkan sebuah teater baru bernama “ Mamanda “. Mamanda mempunyai pengertian “sapaan” kepada orang yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekjluargaan.

Mamanda mempunyai dua aliran. Pertama : Aliran Batang Banyu. Yang hidup di pesisir sungai daerah Hulu Sungai yaitu di Margasari. Sering juga disebut Mamanda Periuk. Kedua : Aliran Tubau bermula tahun 1937 M. Aliran ini hidup di daerah Tubau Rantau. Sering dipentaskan di daerah daratan. Aliran ini disebut juga Mamanda Batubau. Aliran ini yang berkembang di Tanah Banjar.

Pertunjukkan Mamanda mempunyai nilai budaya Yaitu pertunjukkan Mamanda disamping merupakan sebagai media hiburan juga berfungsi sebagai media pendidikan bagi masyarakat Banjar. Cerita yang disajikan baik tentang sejarah kehidupan, contoh toladan yang baik, kritik sosial atau sindiran yang bersifat membangun, demokratis, dan nilai-nilai budaya masyarakat Banjar.

Bermula, Mamanda mempunyai pengiring musik yaitu orkes melayu dengan mendendangkan lagu-lagu berirama melayu, sekarang beralih dengan iringan musik panting dengan mendendangkan Lagu Dua Harapan, Lagu Dua Raja, Lagu Tarima Kasih, Lagu Baladon, Lagu Mambujuk, Lagu Tirik, Lagu Japin, Lagu Gandut , Lagu Mandung-Mandng, dan Lagu Nasib.
verditch - 26/03/2010 09:05 AM
#15

kaskus ID : verditch

kategori : Seni Peran

bentuk karya : Artikel Mengenai Kesenian Ketuk Tilu

sumber : wahana-budaya-indonesia.com

keterangan : Pertunjukan Tradisional dari Daerah Jawa Barat

Spoiler for
Ketuk Tilu
Ketuk Tilu adalah suatu tarian pergaulan dan sekaligus hiburan yang biasanya diselenggarakan pada acara pesta perkimpoian, acara hiburan penutup kegiatan atau diselenggrakan secara khusus di suatu tempat yang cukup luas. Pemunculan tari ini di masyarakat tidak ada kaitannya dengan adat tertentu atau upacara sakral tertentu tapi murni sebagai pertunjukan hiburan dan pergaulan. Oleh karena itu tari ketuk tilu ini banyak disukai masyarakat terutama di pedesaan yang jarang kegiatan hiburan.
Istilah ketuk tilu adalah berasal dari salah satu alat pengiringnya yaitu boning yang dipukul tigakali sebagai isyarat bagi alat instrument lainnya seperti rebab, kendang besar dan kecil, goong untuk memulai memainkan sebuah lagu atau hanya sekedar instrumentalia saja. Dilihat dari aspek pertunjukannya tari ketuk tilu terbagi ke dalam tiga bagian.

Bagian pertama
sepengiring melantunkan irama gamelan, rebab dan kendang untuk menarik perhatian masyarakat.

Bagian kedua
Pada bagian kedua yaitu takala orang-orang telah berkumpul memadati tanah lapang barulah muncul para penari memperkenalkan diri kepada para penonton sambil berlenggak-lenggok mencuri perhatian penonton.

Bagian ketiga
Pada bagian ketiga adalah pertunjukannya itu sendiri yang dipandu oleh seseorang semacam moderator dalam rapat atau juru penerang. Pada bagian pertunjukan ini penari mengajak penonton untuk menari bersama dan menari secara khusus berpasangan dengan penari. Adakalanya apabila ingin menari secara khusus dengan sipenari ia harus membayar sejumlah uang. Di desa-desa tertentu di Jawa Barat, pertunjukan seni tari ketuk tilu ini sering kali dilakukan hingga semalam suntuk.

Konon kabarnya, ketuk tilu memiliki gaya tarian tersendiri dengan nama-nama seperti, depok, sorongan, ban karet, lengkah opat, oray-orayan (ular-ularan), balik bandung, torondol, angin-angin, bajing luncat, lengkah tilu dan cantel. Gaya-gaya ini sesuai dengan cirri khas daerahnya. Saat ini daerah-daerah yang masih memiliki kesenian tari ketuk tilu adalah di Kabupaten Bandung, Karawang, Kuningan dan Garut namun jumlahnya sangat sedikit, itupun hanya diminati generasi tertentu (kaum yang fanatik terhadap seni ketuk tilu). Sedangkan generasi mudanya lebih menyukai seni tari Jaipongan (pengembangan kreasi dari ketuk tilu) karena tarian dan iramanya lebih dinamis dan dapat dikombinasikan dengan tari-tarian modern.
Ditinjau dari perangkat tabuhan, Ketuk Tilu adalah nama perangkat tabuhan yang tersebar hampir di seluruh tatar Sunda. Nama perangkat tersebut dipinjam dari salah satu waditra yaitu ketuk yang terdiri dari tiga buah (tiga buah penclon/koromong). Waditra lainnya yang merupakan kelengkapan tabuhan Ketuk Tilu. satu unit Rebab, satu buah Gong, satu buah Kempul, satu buah Kendang besar, dua buah Kulanter (Kendang kecil), serta satu unit kecrek.
Perangkat Ketuk Tilu pada awalnya merupakan gending iringan rumpun tarian (ibing Ketuk Tilu). Yoyo Yohana seorang tokoh Ketuk Tilu dari Ujungberung mengungkapkan bahwa: "Ketuk Tilu, merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang mandiri" Artinya, tidak terikat atau bukan merupakan bagian dari cabang seni lain. Pada perkembangan selanjutnya, perangkat Ketuk Tilu di beberapa daerah di tatar Sunda, menjadi bagian dari suatu pertunjukan teater. Misalnya: Ronggeng Gunung di daerah Ciamis, Banjet di daerah Karawang clan Subang, Topeng Betawi di beberapa daerah di kawasan JABOTABEK, begitu juga Ubrug di Banten.

Di masa lampau Ketuk Tilu memiliki struktur sajian tersendiri yaitu diawali dengan Tatalu (sajian gending pembukaan), kemudian Ronggeng masuk arena. Pada bagian ini Ronggeng masuk beriringan sambil menari bersama. Dilanjutkan dengan taxi Jajangkungan yang diirngi dengan Gamelan (instrumentalia). Bagian berikutnya adalah Wawayangan yang dilakukan oleh Ronggeng dengan posisi setengah lingkaran atau tapal kuda. Mereka menari sambil menyanyikan Kidung. Selesai WawayIngan, para Ronggeng berbanjar ke samping menghadap Panjak (para penabuh atau Nayaga). Jika bermain di atas panggung, maka posisi banjarnya membelakangi penonton. Selanjutnya, Lurah kongsi (pimpinan rombongan) membakar kemenyan dalam Parupuyan yang disimpanberdekatan dengan " Pangradinan (sesajen), kemudian membacakan matera*mantera, memohon keselamatan selama pagelaran serta minta rizki yang banyak. Selain itu dibacakan pula (secara perlahan) Asihan agar para Ronggengnya disukai oleh para penonton. Dengan Asihan diharapkan para penonton bermurah hati untuk memberikan uang, sehingga otomatis menambah inkam bagi rombongan.

Selama babak tersebut, Gamelan mengalun dalam lagu Kidung. Habis lagu Kidung Ronggeng membuat posisi berbentuk bulan sabit, menghadap ke arah penonton, dilanjutkan pada Babak Erang. Pada babak ini Ronggeng menari bersama secara bebas diiringi lagu Erang. Para penari pria dari penonton, bebas menari tanpa harus membayar uang Pasakan (uang bokingan). Babak ini disajikan khusus untuk penonton yang suka menari, sebagai pemanasan sekaligus sebagai bonus, karena tidak harus membayar. Selesai Babak Erang, baru kemudian dilanjutkan pada Babak Pasakan, dimana para penari pria dari penonton yang menari dengan Ronggeng, harus memberikan uang Pasak kepada ronggeng atau Panjak.

Lagu-lagu yang disajikan terdiri dad: Kidung (lagu wajib pada pagelaran Ketuk Tilu, Erang (juga lagu wajib), Emprak atau Emprak kagok, Polos yang berkembang menjadi Polos Tomo dan kadang-kadang disambung dengan naek Geboy, Berenuk Mundur, Kaji-kaji, Gorong, Tunggul Kawung, Gondang, Sorong Dayung, Cikeruhan, Prangprangtarik, Renggong Buyut, Awi Ngarambat, Bangket Solontongan, Paleredan, Geseh, Kembang Beureum, Sonteng, Ombak Banyu, Gaya Engko, Mainang, Karawangan Barlen, Soloyong dan sebagainya. Liriknya berbentuk pantun, yaitu dua kalimat pertama merupakan cangkang (sampiran/kulit) dan dua kalimat terakhir merupakan eusi (isi). Pantun tersebut bersifat kebirahian dan asmara dengan wama cerah, gembira, humoritis. Selain lirik-lirik yang sudah dipersiapkan sebelum main, juga kadang-kadang Ronggeng melantunkan lagu yang liriknya dibuat seketika (waktu main).

Ketuk Tilu merupakan taxi Pertunjukan yang gerakan*gerakannya dilakukan oleh Ronggeng atau Doger sebagai primadona atau oleh Panjak tertentu yang memiliki kepandaian dalam menari. Gerakan-gerakan tersebut menyerupai Silat Kembang pada Pencak Silat. Selain merupakan taxi Pertunjukan, Ketuk Tilu juga sebagai tari Pergaulan, karena Ronggeng menari bersama penari pria dari penonton dengan gerak-gerak improvisatoris yang bebas, tidak terikat oleh idiom*idiom gerak tari ataupun silat.

Dari tari Pergaulan ini sering muncul tarian-tarian yang tidak kalah mutunya dengan tari*tari Pergaulan yang telah ada. Hal ini kemungkinan besar bahwa di antara para penari pria dari penonton, terdapat penari yang berasal dari kalangan menak serta pandai menari Wayang atau Tayub menarai bersama Ronggeng. Sehingga terjadilah perpaduan gerak yang lebih bersifat tari dari pada silat.

Dalam memilih Ronggeng sebagai pasangan menari, sering terjadi kericuhan, sehingga babak ini dinamai Parebut Ronggeng. Oleh karena itu, Ketuk -Tilu pernah dilarang oleh Pemerintah dengan alasan demi ketertiban umum dan keamanan. Akan tetapi pada kenyataanya Ketuk Tilu belum lenyap sama sekali bahkan ada usaha-usaha untuk melestarikannya.

Tari Ketuk Tilu dan tari-tari lainnya memiliki perbedaan, baik dilihat dari gerak-gerak tarinya yang khas, Karawitannya, serta memiliki ketentuan-ketentuan yang khas dalam penyajiannya. Dalam Tari ketuk Tilu terdapat gerakan-gerakan yang berpola Kendang, gerakan-gerakan yang merupakan gambaran keseharian, serta ada pula gerakan-gerakan yang berupa improvisasi yang disesuaikan dengan irama lagu pengiringnya. Di samping itu, Tari Ketuk Tilu juga memiliki warna tertentu yaitu: gembira, romantis, merangsang, horitis, cerah, Iincah, akrab, dan penuh penjiwaan.
fazh - 11/08/2010 10:35 AM
#16

Kaskus ID: fazh

Kategori: Seni Peran

bentuk karya: Festival Sisingaan

sumber : Sisingaan

keterangan : Pertunjukan Tradisional dari Daerah Jawa Barat (Subang)

Spoiler for
Sisingaan atau Gotong Singa (sebutan lainnya Odong-odong) merupakan salah satu jenis seni pertunjukan rakyat Jawa Barat, khas Subang (di samping seni lainnya seperti Bajidoran dan Genjring Bonyok) berupa keterampilan memainkan tandu berisi boneka singa (Sunda: sisingaan, singa tiruan) berpenunggang.

Sejarah & perkembangan

Terdapat beberapa keterangan tentang asal usul Sisingaan ini, di antaranya bahwa Sisingaan memiliki hubungan dengan bentuk perlawanan rakyat terhadap penjajah lewat binatang Singa kembar (Singa kembar lambang penjajah Belanda), yang pada waktu itu hanya punya sisa waktu luang dua hari dalam seminggu. Keterangan lain dikaitkan dengan semangat menampilkan jenis kesenian di Anjungan Jawa Barat sekitar tahun 70-an, ketika Bupati Subang dipegang oleh Pak Acu. Pada waktu itu RAF (Rachmatulah Ading Affandi) yang juga tengah berdinas di Subang, karena ia dikenal sebagai seniman dan budayawan dimintakan kitanya. Dalam prosesnya itu, akhirnya ditampilkanlah Gotong Singa atau Sisingaan yang dalam bentuknya masih sederhana, termasuk musik pengiringnya dan kostum penari pengusung Sisingaan. Ternyata sambutannya sangat luar biasa, sejak itu Sisingaan menjadi dikenal masyarakat.

Dalam perkembangan bentuknya Sisingaan, dari bentuk Singa Kembar yang sederhana, semakin lama disempurnakan, baik bahan maupun rupanya, semakin gagah dan menarik. Demikian juga para pengusung Sisingaan, kostumnya semakin dibuat glamour dengan warna-warna kontras dan menyolok.. Demikian pula dengan penataan gerak tarinya dari hari ke hari semakin ditata dan disempurnakan. Juga musik pengiringnya, sudah ditambahkan dengan berbagai perkusi lain, seperti bedug, genjring dll. Begitu juga dengan lagu-lagunya, lagu-lagu dangdut popular sekarang menjadi dominan. Dalam beberapa festival Helaran Sisingaan selalu menjadi unggulan, masyarakat semakin menyukainya, karena itu perkembangannya sangat pesat.

Dewasa ini, di Subang saja diperkirakan ada 200 grup Sisingaan yang tersebar di setiap desa, oleh karena itu Festival Sisingaan Kabupaten Subang yang diselenggarakan setiap tahunnya, merupakan jawaban konkrit dari antusiasme masyarakat Subang. Karena bagi pemenang, diberi peluang mengisi acara di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Penyebaran Sisingaan sangat cepat, dibeberapa daerah di luar Subang, seperti Sumedang, Kabupaten Bandung, Purwakarta, dll, Sisingaan menjadi salah satu jenis pertunjukan rakyat yang disukai, terutama dalam acara-acara khitanan dan perkawinan. Sebagai seni helaran yang unggul, Sisingaan dikemas sedemikian rupa dengan penambahan pelbagai atraksi, misalnya yang paling menonjol adalah Jajangkungan dengan tampilan manusia-manusia yang tinggi menjangkau langit, sekitar 3-4 meter, serta ditambahkan dengan bunyibunyian petasan yang dipasang dalam bentuk sebuah senapan.

Dalam rangka menumbuhkembangkan seni sisingaan khas kabupaten subang, sanggar seni ninaproduction berupaya untuk melakukan regerasi melaui pembinaan tari anak-anak usia 7 tahun sampai remaja, termasuk tari sisingaan. Nina production beralamat di Jalan Patinggi no 78 Desa buni hayu Jalancagak Subang, sampai saa ini Sanggar Nina Production telah di liput oleh trans 7 dalam acara wara wiri, Daai TV dan sekarang tangggal 2 Mei 2010 akan diliput oleh ANTV dalam acara anak pemberani.

Pertunjukan

Pertunjukan Sisingaan pada dasarnya dimulai dengan tetabuhan musik yang dinamis. Lalu diikuti oleh permainan Sisingaan oleh penari pengusung sisingaan, lewat gerak antara lain: Pasang/Kuda-kuda, Bangkaret, Masang/Ancang-ancang, Gugulingan, Sepakan dua, Langkah mundur, Kael, Mincid, Ewag, Jeblag, Putar taktak, Gendong Singa, Nanggeuy Singa, Angkat jungjung, Ngolecer,Lambang, Pasagi Tilu, Melak cau, Nincak rancatan, dan Kakapalan. Sebagai seni Helaran, Sisingaan bergerak terus mengelilingi kampung, desa, atau jalanan kota. Sampai akhirnya kembali ke tempat semula. Di dalam perkembangannya, musik pengiring lebih dinamis, dan melahirkan musik Genjring Bonyok dan juga Tardug.

Penyajian

Pola penyajian Sisingaan meliputi:

1. Tatalu (tetabuhan, arang-arang bubuka) atau keringan
2. Kidung atau kembang gadung
3. Sajian Ibingan di antaranya solor, gondang, ewang (kangsreng), catrik, kosong-kosong dan lain-lain
4. Atraksi atau demo, biasanya disebut atraksi kamonesan dalam pertunjukan Sisingaan yang awalnya terinspirasi oleh atraksi Adem Ayem (genjring akrobat) dan Liong (barongsay)
5. Penutup dengan musik keringan.

Musik pengiring

Musik pengiring Sisingaan pada awalnya cukup sederhana, antara lain: Kendang Indung (2 buah), Kulanter, Bonang (ketuk), Tarompet, Goong, Kempul, Kecrek. Karena Helaran, memainkannya sambil berdiri, digotong dan diikatkan ke tubuh. Dalam perkembangannya sekarang memakai juru kawih dengan lagu-lagu (baik vokal maupun intrumental), antara lain: Lagu Keringan, Lagu Kidung, Lagu Titipatipa, Lagu Gondang,Lagu Kasreng, Lagu Selingan (Siyur, Tepang Sono, Awet rajet, Serat Salira, Madu dan Racun, Pria Idaman, Goyang Dombret, Warudoyong dll), Lagu Gurudugan, Lagu Mapay Roko atau Mars-an (sebagai lagu penutup). Lagu lagu dalam Sisingaan tersebut diambil dari lagu-lagu kesenian Ketuk Tilu, Doger dan Kliningan.

Pemaknaan

Ada beberapa makna yang terkandung dalam seni pertunjukan Sisingaan, diantaranya:

* Makna sosial, masyarakat Subang percaya bahwa jiwa kesenian rakyat sangat berperan dalam diri mereka, seperti egalitarian, spontanitas, dan rasa memiliki dari setiap jenis seni rakyat yang muncul.
* Makna teatrikal, dilihat dari penampilannya Sisingaan dewasa ini tak diragukan lagi sangat teatrikal, apalagi setelah ditmabhakn berbagai variasi, seperti jajangkungan dan lain-lain.
* Makna komersial, karena Sisingaan mampu meningkatkan kesejahteraan mereka, maka antusiasme munculnya sejumlah puluhan bahkan ratusan kelompok Sisingaan dari berbagai desa untuk ikut festival, menunjukan peluang ini, karena si pemenang akan mendapatkan peluang bisnis yang menggiurkan, sama halnya seperti seni bajidoran.
* Makna universal, dalam setiap etnik dan bangsa seringkali dipunyai pemujaan terhadap binatang Singa (terutama Eropa dan Afrika), meskipun di Jawa Barat tidak terdapat habitat binatang Singa, namun dengan konsep kerkayatan, dapat saja Singa muncul bukan dihabitatnya, dan diterima sebagai miliknya, terbukti pada Sisingaan.
* Makna Spiritual, dipercaya oleh masyarakat lingkungannya untuk keselamatan/ (salametan) atau syukuran.
raphaelsherry - 24/09/2010 03:39 AM
#17

Kaskus ID : raphaelsherry

Kategori : Seni Peran

bentuk karya : Artikel

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/585

keterangan : teater rakyat Mamanda asal Suku Banjar, Kalimantan Selatan bag 1

Spoiler for

Seni Peran - Artikel

1. Asal-Usul

Teater rakyat Mamanda merupakan kesenian asli Suku Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Teater ini telah dibawa oleh rombongan bangsawan Malaka pada tahun 1897 M. Rombongan ini, di samping bermaksud melakukan kegiatan perdagangan, juga memperkenalkan suatu kesenian baru yang bersumber dari syair Abdoel Moeloek. Kesenian tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Badamuluk. Seiring perkembangan zaman, sebutan untuk kesenian ini berkembang menjadi Bamanda atau Mamanda. Berikut ini akan dikemukakan terlebih dahulu bagaimana sejarah dan perkembangan kesenian Mamanda di Kalimantan Selatan.

Sejak masa Kerajaan Negara Dipa, masyarakat Kalimantan Selatan telah mengenal beberapa jenis kesenian tradisional, seperti wayang, topeng, dan joged. Ketika Islam mulai berkembang di Kalimantan Selatan pada tahun 1550 M, terutama setelah berdirinya Kesultanan Banjar yang mendapat bantuan dari Kesultanan Demak, kesenian-kesenian tradisional semakin dikenal rakyat. Pada masa itu, pihak kerajaan memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk melakukan kegiatan seni dan budaya. Sehingga, kesenian-kesenian yang bercorak Islam makin berkembang, seperti seni hadrah, rudat, zapen Arab, dan sebagainya.

Pada tahun 1620 M, tepatnya pada masa pemerintahan Panembahan Batu Putih (Sultan Rahmatillah), banyak orang mulai mempelajari seni tari dan seni suara yang diajarkan oleh ahli-ahli seni dari Jawa dan Semenanjung Tanah Melayu. Perkembangan kesenian di Kalimantan Selatan masih terus berlanjut. Pada tahun 1701 M, Sultan Banjar pernah mengutus Pangeran Singa Marta untuk membeli kuda Bima. Selain membeli kuda, Pangeran Singa Marta ternyata juga menikah dengan seorang Putri Bima yang dikenal sebagai ahli seni. Mereka kembali ke Kalimantan Selatan dengan membawa sejumlah kesenian tradisional asal Bima. Mereka menciptakan tari Jambangan Kaca dan tari Pagar Mayang. Kesenian-kesenian tradisonal kian dekat di hati rakyat Banjar. Pada masa pemerintahan Pangeran Hidayat (1845-1859 M), kesenian berkembang dengan sangat pesat. Apalagi, Pangeran Hidayat merupakan seorang seniman sejati yang sangat memperhatikan perkembangan kesenian ketika itu.

Pada tahun 1897 M, rombongan Abdoel Moeloek dari Kesultanan Malaka datang ke Banjar. Rombongan yang lebih dikenal dengan sebutan Komedi Indra Bangsawan ini dipimpin oleh Encik Ibrahim bin Wangsa bersama istrinya, Cik Hawa. Rombongan ini menetap di Banjar hanya selama 10 bulan saja. Meski demikian, kesenian yang dibawa oleh rombongan ini dengan sangat cepat berpengaruh di Banjar. Hingga akhirnya pada abad ke-19 M, muncul sebuah kesenian baru bernama Ba Abdoel Moeloek atau Badamuluk yang diperkenalkan oleh Anggah Putuh dan Anggah Datu Irang. Nama kesenian itu berasal dari judul cerita tentang Abdoel Moeloek yang dikarang oleh Saleha, sepupu Raja Ali Haji. Badamuluk berkembang hingga ke Pasar Lama Margasari, Periuk (Margasari Ilir), Pabaung, Merapian, dan Hulu Sungai. Badamuluk semakin memasyarakat. Seiring perkembangan waktu, masyarakat Banjar lebih senang menyebut kata Mamanda.

Menurut Hermansyah (2007), kesenian Mamanda, sebagaimana pada umumnya teater rakyat, merupakan karya seni yang tercetus dengan sendirinya dalam kehidupan masyarakat. Artinya, kesenian ini dihayati oleh masyarakat karena memang disesuaikan dengan perkembangan masyarakat itu sendiri. Pada awal mulanya, masyarakat membutuhkan adanya hiburan. Lambat laun, mereka juga memerlukan adanya sebuah upacara yang dipadukan dengan hiburan yang sudah ada. Akhirnya, terciptalah kesenian teater rakyat Mamanda ini sebagai bentuk hasil karya dan kreativitas umat manusia.

Kesenian rakyat yang muncul sebagai ekspresi kebudayaan masyarakat biasanya pada masa awal perkembangannya masih sangat sederhana. Ada banyak bentuk teater yang masih sangat sederhana di Indonesia. Teater semacam ini biasanya cukup dilakukan oleh satu, dua, atau tiga orang saja. Pada awal mulanya, teater ini merupakan suatu bentuk sastra ungkapan yang dinyanyikan dan dalam perkembangannya kemudian dipertunjukkan dengan diiringi musik-musik tradisi.

Istilah “Mamanda” berasal dari kata “mama” yang berarti “paman atau pakcik” dan kata “nda” sebagai morfem terikat yang berarti “terhormat”. Jika digabung, Mamanda berarti “paman yang terhormat”. Kata paman merupakan kata sapaan dalam sistem kekerabatan masyarakat Banjar. Sapaan ini juga berlaku untuk orang yang dianggap seusia atau sebaya dengan ayah atau orang tua. Kata ini juga sering digunakan oleh seorang sultan ketika menyapa mangkubumi atau wazirnya dengan sebutan “mamanda mangkubumi” atau “mamanda wazir”. Kata Mamanda juga sering digunakan dalam syair-syair Banjar.

Ada dua aliran dalam Mamanda, yaitu:

Aliran Batang Banyu. Aliran ini dipentaskan di perairan atau sungai sehingga disebut dengan istilah Mamanda Batang Banyu. Aliran yang juga disebut Mamanda Periuk dan berasal dari Margasari ini merupakan cikal bakal Mamanda.
Aliran Tubau (lahir pada tahun 1937 M). Aliran yang berasal dari Desa Tubau Rantau ini merupakan perkembangan baru dari Mamanda yang kini justru sangat terkenal. Aliran ini berkembang pesat di Kalimantan Selatan. Dalam pementasannya, cerita yang diangkat tidak bersumber dari syair atau hikayat, namun dikarang sendiri dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Struktur pertunjukannya masih seperti teater pada umumnya, yang dimulai dari ladon atau konom, sidang kerajaan, dan cerita. Pementasan aliran ini tidak mengutamakan musik atau tari, namun lebih mengutamakan bagaimana isi ceritanya. Aliran ini biasanya dipentaskan di daratan sehingga juga dikenal dengan sebutan Mamanda Batubau.
Mamanda kini mengarah kepada perkembangan kesenian yang lebih populer. Meski begitu, kekhasannya masih tetap terjaga, terutama dalam hal penggunaan bahasa Banjar, simbolisasi nilai-nilai budaya, dan pesan-pesan sosial yang disampaikannya. Struktur dan karakteristik yang menjadi kekhasan Mamanda tidak pernah berubah. Perubahan yang terjadi biasanya hanya pada soal busana, musik, improvisasi, dan ekspresi artistiknya.

Teater Mamanda ternyata tidak hanya berkembang di Kalimantan Selatan, namun juga berkembang pesat di Kutai, Kalimantan Timur, Indonesia. Sebagaimana akan dibahas di bagian akhir, Mamanda juga berkembang di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, Indonesia. Sebagai informasi singkat, perkembangan Mamanda di Tembilahan tidak terlepas dari sejarah eksodus sebagian masyarakat Banjar ke daerah itu.

2. Bentuk-Bentuk Kesenian Mamanda

2. 1. Struktur Pemain

Sebagaimana kesenian tradisional pada umumnya, Mamanda merupakan ekspresi kesenian yang memperlihatkan sisi karakter pada setiap lakon yang dipentaskan. Para pemainnya ada yang berperan sebagai tokoh utama dan ada pula yang berperan sebagai tokoh pendukung. Peran pemain tokoh utama harus ada pada setiap pertunjukan. Sedangkan peran pemain pendukung hanya berdasarkan pada cerita yang mengharuskan kehadirannya. Artinya, kehadiran pemain pendukung hanya ketika dibutuhkan saja.

Tokoh-tokoh utama yang diangkat dalam pementasan Mamanda adalah sebagai berikut:

Sultan
Mangkubumi
Wazir
Perdana menteri
Panglima perang
Harapan I dan harapan II
Khadam/badut
Sandut/putri
Pemain yang memerankan tokoh sultan harus berperawakan gagah, menarik, dan memiliki suara yang tegas. Peran mangkubumi adalah menggantikan kedudukan sultan yang kebetulan sedang ada urusan di luar istana. Wazir bertugas sebagai penasehat sultan. Perdana menteri biasanya memeriksa pekerjaan harapan I dan harapan II. Harapan I dan harapan II bertugas menghias dan mempersiapkan balai persidangan dan menjaga keamanan. Khadam/badut berperan dalam memberikan hiburan segar kepada para penonton, terutama kepada putri/sandut.

Tokoh-tokoh pendukung dalam pementasan Mamanda adalah sebagai berikut:

Anak Sultan “Kurang Satu Empat Puluh”
Anak muda
Dayang
Komplotan bial/penyamun
Raja jin
Orang miskin
Orang tua
raphaelsherry - 24/09/2010 03:43 AM
#18

Kaskus ID : raphaelsherry

Kategori : Seni Peran

bentuk karya : Artikel

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/585

keterangan : teater rakyat Mamanda asal Suku Banjar, Kalimantan Selatan bag 2

Spoiler for


2. 2. Urutan Turunnya Pemain

Urutan turunnya pemain pada pementasan Mamanda sudah tersusun secara rapi. Sebelum dilangsungkan sidang kesultanan, biasanya pertunjukan Mamanda dimulai dengan acara baladon atau ladun, yaitu acara pembukaan yang berisi tentang tari-tarian dan nyanyian. Pemain atau pelaku ladun biasanya berjumlah ganjil, dan ada yang bertindak sebagai pemimpin atau pengikutnya. Baru setelah itu para pemain turun ke pentas secara berurutan. Berikut ini adalah urutan turunnya para pemain:

1. Harapan I dan harapan II

Harapan I dan harapan II muncul ke pentas pertunjukan. Ketika baru sampai sepertiga arena, tepatnya di dekat meja sidang kesultanan, mereka berhenti sejenak lantas menyebutkan nama, jabatan, dan kemampuannya masing-masing.

2. Perdana menteri

Perdana menteri berhenti di belakang kedua harapan tersebut. Perdana menteri menyebutkan nama dan jabatannya. Ia kemudian memeriksa pekerjaan kedua harapan tersebut.

3. Sultan dan para staf

Setelah mendapatkan laporan dari perdana menteri, sultan memasuki ruang sidang kesultanan. Ia diikuti oleh para stafnya, yaitu mangkubumi, wazir, dan perdana menteri. Sesampainya di belakang meja persidangan, sultan memukul-mukulkan tongkatnya sembari memuji segala pekerjaan harapan I dan harapan II. Sultan kemudian mengungkapkan nama, jabatan, dan apa saja seluruh kekuasaannya. Ia menyempatkan diri menyanyikan lagu yang isinya memuji kesultanannya. Lagu-lagu tersebut misalnya:

a. Lagu Dua Mamanda Banyu

Batari yadan wayuhai lanya pangbastari yadan sayang saying

Angkaumu dangar, kasian banarai barpai sayang lanya pang barpari yadan sayang sayang

Salama saya dinagni pang dinagni

Salama lanya pang la sayang, yadan sayang sayang

Ramai bagaimana, ramai bagaimana, waduhai Ayahnda Wazir nang kusayangi nagri, dalam lanya pang, la nagri yadan sayang sayang

Ramai bagaimana, Ayahnda, Mamanda Mangkubumi nang kusayangi nagri di dalam lanya la nagri yadan sayang saya

b. Lagu Dua Mamanda Tubau

Aduhai wazir
Usullah Darmawan
Aduhai wazir
Usullah Darmawan
Cukup atawa bukan
Waduhai uang pemberian
Yalan yalan yalan
Dengan sabanar jua wayuhai nang
Lamak sadang mangatakan
Betalah mangatakan, katakan,
betalah mangatakan
Yalan yalan yalan

Setelah selesai bernyanyi dan menari-nari, sultan pun memerintahkan para stafnya untuk ikut bernyanyi dan menari bersama. Suasana sidang menjadi penuh dengan luapan kegembiraan. Sultan kemudian menyatakan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah bergembira bersamanya.

4. Panglima perang

Jika ternyata sultan memiliki putra-putri, maka mereka diharapkan agar datang ke sidang sebelum acara dimulai. Kedatangan mereka ke dalam ruang sidang diiringi oleh dayang-dayang. Sultan kemudian memerintahkan harapan I dan harapan II untuk menjemput panglima perang ke ruang sidang kesultanan. Setelah acara sidang kesultanan selesai digelar, para pemain kembali ke balairung seri yang letaknya tidak jauh dari pentas pertunjukan. Ketika ada jeda waktu, biasanya acara pertunjukan bisa diisi dengan tari-tarian.

5. Pemain

Dalam bagian ini, para pemain yang akan diturunkan disesuaikan dengan bagaimana isi jalannya cerita. Artinya, peran mereka tidak perlu lagi didasarkan pada tradisi turunnya pemain dalam sidang kesultanan yang sebelumnya telah usai digelar.


6. Anak Sultan “Kurang Satu Empat Puluh”

Bagian ini merupakan akhir dari pertunjukan Mamanda. Acara yang digelar berupa babujukan, yaitu semacam acara peminangan terhadap satu atau beberapa orang putri yang dilakukan oleh anak Sultan “Kurang Satu Empat Puluh”. Acara ini dilakukan dengan nyanyian dan tarian, yang juga diiringi dengan kata-kata rayuan.

Sebagai catatan tambahan, setiap pemain yang diturunkan sering dimulai dengan penjelasan yang menggunakan monolog tertentu. Monolog yang diucapkan masing-masing berbeda karena disesuaikan dengan lakon yang diperankan. Monolog tersebut selalu menjelaskan nama, pangkat, kegagahan diri, serta tugas dan kewajibannya masing-masing.

2. 3. Bahasa

Bahasa dalam teater Mamanda digunakan sebagai alat komunikasi untuk melakukan dialog, sehingga terjadi apa yang disebut dengan alur cerita. Ada dua macam penggunaan bahasa dalam pertunjukan Mamanda, yaitu:

1. Bahasa di dalam sidang kesultanan

Dialog dalam sidang ini biasanya menggunakan bahasa Melayu dengan dialek dan struktur bahasa Belanda. Dipergunakannya dialek dan struktur bahasa Belanda karena Mamanda lahir pada masa penjajahan Belanda.

2. Bahasa di luar sidang kesultanan

Di luar sidang kesultanan biasanya yang digunakan adalah bahasa Banjar. Bahasa Banjar merupakan perpaduan antara bahasa Melayu dengan bahasa Jawa Kuno.

2. 4. Tata Busana

Busana yang digunakan dalam pertunjukan Mamanda adalah busana suku Banjar. Busana ini terdiri dari busana adat, busana kebesaran, dan busana sehari-hari golongan bangsawan atau sultan-sultan, orang besar, orang terkemuka, dan rakyat jelata, yaitu sebagai berikut:

Laung (ikat kepala).
Kamban naga balimbur.
Seluar singkat berliris tepi.
Sabuk, yaitu berupa kain yang ditenun dan bersulam emas, seperti sabuk ukal, sabuk miring, dan sabuk panjang di atas lutut.
Baju, yang terdiri dari baju dalam dan baju luar yang diberi sulam benang emas. Baju untuk pemain laki-laki dan pemain perempuan dibedakan. Pemain perempuan biasanya mengenakan baju kurung dengan ketentuan bahwa pada bagian dadanya tidak terbelah, pada bagian lehernya diberi lubang, panjangnya hingga lutut, dan juga mengenakan sarung tangan kecil. Pemain perempuan juga mengenakan kebaya panjang, dengan ketentuan ada sulam benang emas pada pinggirnya, dan pada ujung lengannya disusun atau dipasang manik-manik sebanyak tiga atau lima buah.
Di samping itu, juga dipergunakan perhiasan Banjar, seperti:

Cucuk baju: pancar matahari, bulan saliris, dan bulu ayam yang dibuat dari emas dan perak.
Gelang: gelang kelana, gelang jepon, gelang marjan, dan gelang rantai.
Cucuk galing: daun, kembang sisir, dan kembang goyang.
Kalung atau rantai, misalnya berupa kalung cekak, kalung madapun, kalung marjan, dan tabu-tabu karawang.
Hiasan galung: kembang goyang dan untaian kembang melati.
Cincin: cincin agar mayang, cincin batu, dan lain sebagainya.
Rawing: rawing bulus, baitan, kili-kili, dan bonil berumbai.
Secara khusus, berikut ini dijelaskan ciri-ciri pakaian khas Banjar yang digunakan oleh para pemainnya, yaitu sebagai berikut:

1. Sultan

Sultan mengenakan seluar bersirit tepi, yaitu baju yang disulam dengan manik-manik. Di bagian tengah tutup kepala dihiasi dengan bulu burung putih sebagai mahkota sultan.

2. Perdana Menteri

Busana yang digunakan perdana menteri hampir sama dengan busana sultan. Hanya saja, perdana menteri tidak menggunakan mahkota, bahkan kadang tidak menggunakan tutup kepala sama sekali.

3. Wazir

Wazir biasanya mengenakan pakaian dalam yang lebih panjang dari pakaian luarnya. Ia mengenakan penutup kepala yang tidak bersegi, alias bulat.

4. Panglima Perang

Panglima perang mengenakan baju bermanik-manik, yang dilengkapi dengan senjata pedang. Di bahunya diselendangkan teratai yang terbuat dari benang emas. Tutup kepalanya berupa laung, bahkan kadang mengenakan topi polisi saja.

5. Harapan I dan Harapan II

Harapan I dan harapan II mengenakan baju dalam dan baju luar yang mirip dengan baju koboi, namun dengan ada sedikit manik-maniknya. Mereka berdua menggunakan senjata dan penutup kepala.

6. Putri

Putri mengenakan kebaya atau kadang baju kurung yang dilengkapi dengan mahkota di kepalanya.

7. Raja Jin

Raja jin biasanya mengenakan topeng. Jika tidak ada, ia juga bisa membedaki wajahnya dengan arang atau kapur yang dicampur denga pewarna merah kesumba.

8. Penyamun

Penyamun mengenakan sebuah topi yang mirip dengan topi dalam pementasan teater di Barat. Di samping itu, ia juga mengenakan kacamata berwarna hitam.

9. Anak Muda

Anak muda mengenakan kemeja putih dengan dasi kupu-kupu warna hitam.

2. 5. Tata Cara Pementasan

Pementasan teater rakyat Mamanda sebenarnya sangat sederhana dan sifatnya spontan saja. Alat perlengkapan yang digunakan pun juga sederhana, yang penting disesuaikan dengan tempatnya. Soal tempat bisa dilakukan di mana saja, asalkan ada panggung pementasan dan ada tempat duduk untuk para penontonnya. Tidak ada tempat duduk pun bisa jadi, asalkan ada suatu sudut ruang yang bisa dijadikan sebagai tempat pementasan.

Alat perlengkapan yang digunakan biasanya hanya berupa meja dan kursi, yang disusun rapi dan disesuaikan dengan bagaimana isi atau cerita pertunjukannya. Kadang ada sekat yang memisahkan antara panggung dan tempat duduk penonton, namun kadang pula tidak ada sekat sama sekali.

raphaelsherry - 24/09/2010 03:45 AM
#19

Kaskus ID : raphaelsherry

Kategori : Seni Peran

bentuk karya : Artikel

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/585

keterangan : teater rakyat Mamanda asal Suku Banjar, Kalimantan Selatan bag 3

Spoiler for


Struktur atau urutan pementasannya biasanya dibuka dengan adanya bunyi-bunyian yang berfungsi sebagai pemberitahuan kepada penonton bahwa pertunjukan akan dimulai. Pertunjukan di awal biasanya berupa acara perkenalan dengan nyanyian dan tarian. Setelah itu lakon baru dipertunjukkan. Proses penyajian lakon dilakukan secara berurutan yang disesuaikan dengan jalan cerita. Penyajiannya tidak hanya berupa dialog dan laku, namun juga diringi dengan tarian dan nyanyian. Tidak jarang cara penyajiannya dibungkus dengan lawakan dan lelucon yang biasanya muncul secara spontan sebagai bentuk kreativitas para pemainnya sendiri.

2. 6. Sumber Cerita

Tipe cerita Mamanda biasanya berupa cerita sejarah, romantis, kritik, sosial, dan penerangan. Inspirasi dalam penulisan skenario cerita Mamanda biasanya disarikan melalui hikayat syair, kisah 1001 malam, buku-buku roman, buku-buku sejarah, cerita rakyat, dan berbagai problematika kehidupan masyarakat. Melalui sumber-sumber tersebut, cerita dikemas menjadi kisah hitam-putih, yang memberikan pesan kepada masyarakat atau penontonnya untuk dapat membedakan mana kebaikan dan mana kejahatan. Sehingga, masyarakat bisa mendapatkan pemahaman yang tuntas tentang isi ceritanya, termasuk pesan baik yang ada di dalamnya.

2. 7. Musik Pengiring

Pementasan teater Mamanda diringi dengan musik dan nyanyian. Musik pengiringnya bisa berupa pantun, syair, hikayat, dan dialog tertentu yang disampaikan dengan cara dilagukan. Lagu-lagu yang sering dinyanyikan dalam pementasan Mamanda adalah:

Lagu Dua Harapan
Lagu Dua Raja
Lagu Dua Gandut
Lagu Raja Sarik
Lagu Tarima Kasih (Sultan)
Lagu Baladun
Lagu Mambujuk
Lagu Danding
Lagu Nasib
Lagu Tirik
Lagu Japen
Lagu Mandung-mandungan
Lagu Stambul.
3. Nilai Budaya

Seni pertunjukan (teater) rakyat Mamanda tidak hanya semata-mata hiburan saja. Ada sejumlah nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana pada umumnya, teater ini mencerminkan dan menyoal kehidupan masyarakat. Menurut Hermansyah (2007), teater rakyat berfungsi bukan saja sebagai media ekspresi diri para seniman teater ataupun sebagai tempat hiburan bagi rakyat yang memerlukannya, melainkan juga sebagai alat pendidikan bagi masyarakat di lingkungan sekitar. Dengan demikian, Mamanda juga dapat berfungsi sebagai media pendidikan yang sangat berguna bagi masyarakat umum.

Cerita-cerita yang disajikan dalam pertunjukan Mamanda selalu berisi tentang masalah-masalah dalam hidup umat manusia. Dari cerita-cerita tersebut, kita dapat mengambil manfaat atau hikmah, yaitu bagaimana kita mengenal sejarah kehidupan ini dan bagaimana kita mengambil contoh kearifan hidup yang baik. Bahkan, cerita-cerita tersebut juga dapat mengungkapkan alam pikiran masyarakat dan adat-istiadat lingkungannya. Artinya, melalui pertunjukan kesenian ini, di samping dapat merasakan keindahan rasa seninya, para penontonnya juga diajak untuk memahami pengalaman-pengalaman dan sugesti-sugesti yang tersajikan bahwa segala bentuk perilaku yang jahat, tidak baik, dan tidak jujur, pasti akan dikalahkan oleh kebenaran. Apa yang tersajikan dalam teater Mamanda biasanya sering dijadikan sebagai “panutan” oleh masyarakat dalam kehidupannya.

Teater Mamanda juga berfungsi sebagai media “kritik sosial”. Pemain-pemain Mamanda sering melontarkan kritik dan sindiran perihal kepincangan yang terjadi di masyarakat. Tentunya, kesenian ini merupakan media yang sangat menarik untuk menyalurkan aspirasi rakyat. Dengan kata lain, kesenian Mamanda bisa berfungsi sebagai media demokratisasi yang dipadukan dengan nilai-nilai budaya masyarakat.

4. Mamanda di Tembilahan

Teater rakyat Mamanda juga terkenal di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, Indonesia. Bagaimana kesenian pertunjukan Mamanda yang awalnya berasal dari Kalimantan Selatan itu akhirnya dapat memasyarakat di daerah Tembilahan? Hal itu terjadi karena pada akhir abad ke-19 ada sebagian masyarakat Suku Banjar dari Kalimantan Selatan yang menjadi pendatang baru di wilayah Tembilahan, Indragiri Hilir.

Kehadiran Suku Banjar di Tembilahan tidak terjadi begitu saja yang tanpa disebabkan adanya unsur manusia dan budayanya. Proses eksodus masyarakat Suku Banjar ke Tembilahan dilatarbelakangi oleh situasi dan masalah yang terjadi.

Suku Banjar yang menetap di Kabupaten Indragiri Hilir terdiri dari sebelas anak suku, yaitu: Banjar Keluak, Banjar Amuntai, Banjarnegara, Banjar Kandangan, Banjar Barabai, Banjar Kuala, Banjarmasin, Banjar Pamengkeh, Banjar Martapura, Banjar Alabio, dan Banjar Rantau. Anak suku Banjar Keluak, Banjar Amuntai, dan Banjar Kandangan merupakan anak suku mayoritas yang mendiami Indragiri Hilir. Perpindahan masyarakat Suku Banjar tersebut tentunya juga dibarengi dengan dibawanya kesenian Mamanda yang asalnya dari Kalimantan Selatan yang kemudian dikembangkan di Tembilahan.

Para perantau Suku Banjar yang pertama telah meninggalkan daerah asalnya (Kalimantan Selatan) sekitar tahun 1859. Perjalanan mereka hingga sampai di Tembilahan memakan waktu yang sangat panjang. Apa motivasi yang melatarbelakangi proses eksodus tersebut? Mereka ternyata sedang dalam tekanan dari kolonialisme Belanda. Apalagi, pada tahun 1859, Belanda telah menguasai Kerajaan Banjarmasin. Dampaknya, pemerintah Hindia Belanda menerapkan sistem kerja yang disebut irakan, yaitu kerja paksa yang tidak dapat diupahkan atau diwakilkan kepada orang lain. Karena tidak ingin ditindas oleh penjajah Belanda, banyak masyarakat di sana yang kemudian melakukan eksodus ke daerah lain, terutama ke Tembilahan.

Mengapa Tembilahan kemudian jadi pilihan tempat eksodus mereka? Pada awal mulanya, diperkirakan mereka mendarat terlebih dahulu di Malaysia dan Singapura. Berdasarkan Perjanjian London tahun 1824, kedua wilayah tersebut resmi berada dalam kekuasaan Inggris. Mereka berpandangan bahwa lebih baik hidup dalam kondisi penjajahan Inggris daripada penjajahan Belanda yang dikenal sangat tidak manusiawi. Politik penjajahan yang dilakukan Inggris lebih lunak dibandingkan dengan Belanda, sehingga mereka lebih dapat merasakan kebebasan. Namun, mereka justru merasakan kehidupan yang tidak enak di sana dan memutuskan untuk melanjutkan pengembaraan ke daerah lain, yaitu ke Indragiri Hilir. Pada tahun 1885 M, mereka tiba di sana. Wilayah Perigi Raja merupakan tempat singgah pertama mereka.

Salah satu suku di Tembilahan, Arbain, sebelum tahun 1950 M (diprediksikan antara tahun 1947-1949) pernah mendirikan Perkumpulan Mamanda Parit Empat Belas. Pada tahun 1950 M, Encik Arbain menyerahkan kepemimpinan Mamanda Parit Empat Belas kepada Encik Usman Ancau. Pada masa Encik Usman Ancau, Mamanda di Tembilahan berkembang pesat. Pada masa itu, sumber cerita Mamanda masih berasal dari sastra lama, seperti dari hikayat dan syair. Pada tahun 1960-an, mulai dibuat cerita sendiri yang sumbernya didasarkan pada perkembangan kehidupan masyarakat ketika itu. Alat-alat musik tradisonal yang biasa digunakan digabungkan dengan alat-alat musik modern, seperti biola, gitar, dan akordion.

Ketika terjadi peristiwa 30 S/PKI/1965, aktivitas kesenian mereka terpaksa harus terhenti. Pada tahun 1967 M, aktivitas Mamanda Parit Empat Belas diaktifkan kembali oleh Encik Abdul Hamid. Sejak masa itu, di Tembilahan juga berdiri 12 perkumpulan Mamanda. Namun demikian, lambat-laun perkumpulan-perkumpulan tersebut menghilang. Hingga kini, perkumpulan yang masih bertahan adalah Perkumpulan Mamanda Parit Empat Belas pimpinan Encik Ardani dan Perkumpulan Mamanda Pulau Palas.
raphaelsherry - 24/09/2010 03:57 AM
#20

Kaskus ID : raphaelsherry

Kategori : Seni Peran

bentuk karya : Artikel

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1862/nandai-batebah

keterangan : Pertunjukan Nandai Batebah dari Bengkulu

Spoiler for

1. Asal-usul

Bengkulu adalah salah satu provinsi yang terdapat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di provinsi ini ada sebuah teater tradisional yang disebut Nandai Batebah. Selain sebutan itu, teater ini juga sering disebut sebagai “Andai-andai” atau “Geguritan”. Nandai Batebah merupakan istilah yang terdiri atas dua kata, yaitu “Nandai” dan “Batebah”. Nandai yang berasal dari kata “andai” berarti “misalkan”, “jika” atau “umpama”. Sementara, batebah berarti “ditembangkan” atau “dilagukan”. Sedangkan, andai-andai berarti “perumpamaan”. Dan, geguritan yang berasal dari kata dasar “gurit” berarti “bersenandung”. Berdasarkan arti dari berbagai kata tersebut, maka nandai batebah dapat diartikan sebagai suatu ceritera “berandai-andai” yang disampaikan oleh juru nandai dengan cara dilagukan atau ditembangkan .

Ceritera-ceritera yang disenandungkan adalah ceritera-ceritera rakyat Bengkulu yang sarat dengan nilai-nilai. Teater ini berfungsi tidak hanya sebagai pelepas rutinitas dalam kehidupan keseharian masyarakat pendukungnya, tetapi juga untuk menghibur sebuah keluarga yang salah satu anggotanya meninggal dunia, sehingga mereka tidak larut dalam kesedihan yang mendalam.

2. Pemain, Peralatan, Tempat dan Waktu Pertunjukan

Pemain nandai batebah hanya satu orang, yaitu juru nandai (biasanya laki-laki). Agar pertunjukkan dapat berjalan mulus dan sempurna, maka seorang juru nandai harus: (1) memahami ceritera klasik daerah Bengkulu; (2) mengatur volume suara, artikulasi dan intonasi; (3) mahir memainkan lagu-lagu dengan irama yang khas; (4) dapat menciptakan humor yang halus ataupun tajam; (5) mahir menciptakan kalimat-kalimat sastra; dan (6) paham tentang bahasa-bahasa kiasan, peribahasa dan perumpamaan yang hidup di kalangan masyarakat Bengkulu. Dengan demikian, walaupun tanpa mempersiapkan skenario yang tertulis, dengan spontan ia dapat menggelarkan nandai batebah dengan baik.

Teater yang disebut sebagai nandai batebah ini hanya menggunakan sebuah alat yang disebut gerigik. Gerigik adalah semacam tabung yang terbuat dari bambu (seperti peralatan dapur yang digunakan untuk membawa dan menyimpan air). Bagian samping atasnya dilubangi untuk memasukkan air. Lubang itu berfungsi sebagai “pegangan” dalam menentengnya. Caranya adalah dengan memasukkan kedua jari ke dalam lubang tersebut. Kemudian, bagian atasnya dilapisi dengan kain atau apa saja agar terasa empuk karena selama pertujukkan berlangsung, lengan kiri atau lengan kanan juru nandai berada atau ditumpangkan di atasnya. Sedangkan, bagian bawahnya atau dasar gerigik diletakkan pada lantai. Di samping gerigik biasanya juga disertai dua bantal untuk penopang kedua belah paha kiri dan kanan juru nandai.

Pertunjukan nandai batebah biasanya dilengkapi dengan sesaji agar terhindar dari gangguan roh-roh jahat, sehingga pertunjukan dapat berjalan lancar. Sesaji berupa jambar dengan gulai ayamnya diletakkan di atas jambar tai. Jambar adalah nasi ketan berkunyit (ketan kuning) dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti sebuah gunung dan ditempatkan bersama gerigik di hadapan juru nandai. Sementara untuk menjamu tamunya, penyelenggara biasanya menyediakan makanan tradisional, seperti: sagon, lepe` pisang, lepe` ubi dan cucur pandan.

Pertunjukan nandai batebah biasanya diadakan di tempat yang agak tertutup seperti serambi atau ruangan tengah rumah. Di tempat-tempat seperti itu mereka duduk secara melingkar (membentuk lingkaran-oval), sehingga suara juru nadai dapat terdengar dengan jelas. Jika pertujukkan bertempat di ruangan tengah rumah, maka pintu dan jendela dibuka, sehingga penonton yang tidak dapat duduk di dalam (karena telah penuh) dapat menikmatinya dari luar. Biasanya pertunjukkan dilakukan pada malam hari, yaitu dari pukul 20.00 (setelah sholat Isya) sampai pukul 04.00 WIB (menjelang waktu subuh). Jika ceritera (lakon) yang dibawakan oleh juru nadai tidak selesai (tamat) dalam satu malam, maka pada malam berikutnya dilanjutkan dalam waktu yang sama. Sebagai catatan, jika pertunjukkan bertempat di kediamanan orang yang sedang berduka cita, maka hanya beberapa jam saja. Maksimal hanya sampai tengah malam.

3. Jalannya Pertunjukkan

Pada hari dan waktu yang telah disepakati, datanglah juru nandai ke rumah penyelenggara. Ia disambut oleh tuan rumah dan dipersilahkan duduk di atas tikar pada tempat yang telah disediakan. Melihat kehadiran sang juru nandai, para undangan dan tetangga pun berdatangan. Mereka disambut oleh tuan rumah dan dipersilahkan duduk secara melingkar. Sebagai catatan, jika pertunjukkan dilakukan di ruang tengah rumah, maka jendela dan pintunya dibuka lebar-lebar, sehingga ketika ruang tersebut penuh, mereka dapat menyaksikannya dari luar.

Ketika para undangan, tetangga, dan penonton lainnya sudah berdatangan, maka pihak tuan rumah menaruh sesaji yang berupa jambar dan gulai ayam di hadapan juru nandai. Selain itu, agar juru nandai dapat duduk dengan nyaman, maka pihak tuan rumah menyediakan dua buah bantal. Setelah itu, seseorang yang mewakili tuan rumah menyerahkan gerigik kepada juru nandai sebagai isyarat bahwa pertunjukkan dapat dimulai. Dengan adanya isyarat itu, maka juru nandai segera mengambil kedua bantal yang telah disediakan, lalu menaruhnya di bawah kedua lututnya (bantal yang satu ada di bawah lutut kiri dan yang satunya lagi ada di bawah lutut kanan) Sedangkan, gerigik digunakan untuk menopang lengannya secara bergantian (kiri dan kanan), sehingga posisi badan tetap tegak. Selanjutnya, juru nandai berdoa kepada Allah SWT agar pertunjukan dapat berjalan dengan lancar dan pihak keluarga serta para tetangga maupun handai taulan yang hadir selalu diberi rahmat-Nya.

Seusai berdoa, juru nandai mulai ber-nandai dengan mengucapkan rejung (pembukaan yang berbentuk prosa liris). Isinya adalah tentang permintaan maaf, jika dalam ber-nandai ada kekurangan atau kekhilafan. Selanjutnya, juru nandai memaparkan salah satu ceritera rakyat Bengkulu dalam bahasa Serawai dan dalam bentuk prosa irama. Jadi, kalimat-kalimat yang tersusun dalam bait-bait puisinya secara keseluruhan mewujudkan sebuah porsa liris. Adapun lagu-lagu yang menyertainya disesuaikan dengan ceritera yang dibawakannya. Pemaparan itu dilakukan babak demi babak sampai akhirnya tamat. Dan, dengan tamatnya suatu ceritera, maka berakhirnya pertunjukkan nandai batebah.

Sebagai catatan, dalam pertunjukkan nandai batebah, juru nandai tidak melakukan gerakan-gerakan tubuh tertentu, tetapi hanya duduk bersila. Jika pendengar tampak mengantuk ketika mendengar cariteranya, ia hanya membuat kejutan-kejutan dengan menyaringkan atau mengeraskan suaranya.

4. Nilai Budaya

Nandai batebah, sebagai salah satu jenis teater tradisional khas Bengkulu, jika dicermati secara seksama, mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai itu antara lain adalah kesetaraan, ketenggang-rasaan, kreativitas, dan religius.

Nilai keseteraan tercermin dalam pergelaran nandai batebah itu sendiri. Dalam konteks ini para pendengar sama-sama duduk di atas tikar yang telah disediakan oleh tuan rumah dalam formasi melingkar. Jadi, tidak ada yang lebih tinggi dan atau rendah. Semuanya diperlakukan sama (sederajat).

Nilai ketenggang-rasaan tercermin dalam pergelaran yang ditujukan kepada keluarga yang sedang berduka cita karena salah seorang anggotanya meninggal dunia. Pagelaran ini memang dimaksudkan agar keluarga yang sedang berduka cita tersebut terhibur, sehingga tidak larut dalam kesedihan yang berlebihan. Namun demikian, pagelaran tidak dilakukan sampai pagi, tetapi hanya beberapa jam. Dan, ini adalah sebagai wujud ketenggang-rasaan.

Nilai kreativitas tercermin dalam diri juru nadai. Dalam konteks ini juru nandai harus memahami ceritera klasik daerah Bengkulu; mengatur volume suara, artikulasi dan intonasi; mahir memainkan lagu-lagu dengan irama yang khas; dapat menciptakan humor yang halus ataupun tajam; mahir menciptakan kalimat-kalimat sastra; paham tentang bahasa-bahasa kiasan, peribahasa dan perumpamaan yang hidup di kalangan masyarakat Bengkulu. Dengan demikian, walaupun tanpa mempersiapkan skenario yang tertulis, dengan spontan ia dapat menggelarkan nandai batebah dengan baik. Untuk itu, diperlukan kreatifitas yang tinggi.

Nilai religius tercermin dalam doa yang dipanjatkan oleh juru nandai. Dalam konteks ini, sebelum pergelaran dimulai, juru nandai berdoa kepada Allah SWT agar pertunjukkan dapat berjalan dengan lancar dan pihak keluarga serta para tetangga maupun handai taulan yang hadir selalu diberi rahmat-Nya.
Page 1 of 2 |  1 2 > 
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Seni Peran > Seni Peran - Artikel