Properti Sejarah Nasional
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Properti Sejarah Nasional > Properti Sejarah Nasional - Artikel
Total Views: 20637 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 3 |  1 2 3 > 

template - 07/10/2009 06:47 PM
#1
Properti Sejarah Nasional - Artikel
Contoh Posting :

Properti Sejarah Nasional - Artikel
aldoboy - 08/10/2009 04:20 AM
#2
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Kaskus ID : aldoboy
Katagori : Sejarah Nasional
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Proklamasi_Kemerdekaan_Indonesia
Keterangan :
Sejarah Singkat Proklamasi


Spoiler for sejarah singkat proklamasi
Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh bu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya.[4]. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional.

Setelah upacara selesai berlangsung, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S.Brata datang terburu-buru karena mereka tidak mengetahui perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, namun ditolak. Akhirnya Hatta memberikan amanat singkat kepada mereka.[5]


Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45. Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.

Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih atas usul dari Oto Iskandardinata dan persetujuan dari PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.
[sunting] Isi Teks Proklamasi

Isi teks proklamasi kemerdekaan yang singkat ini adalah:


Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta


Di sini ditulis tahun 05 karena ini sesuai dengan tahun Jepang yang kala itu adalah tahun 2605.
[sunting] Naskah Otentik

Bunyi Suara Bung Karno membacakan naskah proklamasi di studio RRI tahun 1951, pembacaan atas usul salah satu pendiri RRI Jusuf Ronodipuro
Putar suara

Kesulitan memainkan berkas media?

Teks diatas merupakan hasil ketikan dari Sayuti Melik (atau Sajoeti Melik), salah seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan proklamasi.

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal² jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, 17-8-45
Wakil2 bangsa Indonesia.

sumber : wikipedia

aldoboy - 08/10/2009 04:42 AM
#3
Monas (Monumen Nasional)
Kaskus ID : aldoboy
Katagori : Sejarah Nasional
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Monumen_Nasional
Keterangan :Monumen Nasional (Monas)

Spoiler for Monas
Monumen Nasional yang terletak di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, dibangun pada dekade 1961an.

Tugu Peringatan Nasional dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Soedarsono dan Frederich Silaban, dengan konsultan Ir. Rooseno, mulai dibangun Agustus 1959, dan diresmikan 17 Agustus 1961 oleh Presiden RI Soekarno. Monas resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.

Pembagunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkitnya inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.

Tugu Monas yang menjulang tinggi dan melambangkan lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia.

Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur
[sunting] Konstruksi dan Pameran
Monas pada Hari Kermedekaan 2007

Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obeliks yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 132 m.

Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35kg. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan.

Pelataran puncak dengan luas 11x11 dapat menampung sebanyak 50 pengunjung. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Arah ke selatan berdiri dengan kokoh dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil berserakan. Bila menoleh ke Barat membentang Bandara Soekarno-Hatta yang setiap waktu terlihat pesawat lepas landas.

Dari pelataran puncak, 17 m lagi ke atas, terdapat lidah api, terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan berdiameter 6 m, terdiri dari 77 bagian yang disatukan.

Pelataran puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang berarti melambangkan Bangsa Indonesia agar dalam berjuang tidak pernah surut sepanjang masa. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 m dan ruang museum sejarah 8 m. Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45x45 m, merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).

Pengunjung kawasan Monas, yang akan menaiki pelataran tugu puncak Monas atau museum, dapat melalui pintu masuk di seputar plaza taman Medan Merdeka, di bagian utara Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda, terbuat dari perunggu seberat 8 ton.

Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario di Indonesia. Melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung ke tugu puncak Monas yang berpagar "Bambu Kuning".

Landasan dasar Monas setinggi 3 m, di bawahnya terdapat ruang museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80x80 m, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.

Pada keempat sisi ruangan terdapat 12 jendela peragaan yang mengabdikan peristiwa sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia. Keseluruhan dinding, tiang dan lantai berlapis marmer. Selain itu, ruang kemerdekaan berbentuk amphitheater yang terletak di dalam cawan tugu Monas, menggambarkan atribut peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kemerdekaan RI, bendera merah putih dan lambang negara dan pintu gapura yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Para pengunjung dapat naik hingga ke atas dengan menggunakan elevator. Dari atau Monumen Nasional dapat dilihat kota Jakarta dari puncak monumen. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, mulai pukul 09.00 - 16.00 WIB.

Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obeliks yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 132 m.

Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35kg. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan.

Pelataran puncak dengan luas 11x11 dapat menampung sebanyak 50 pengunjung. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Arah ke selatan berdiri dengan kokoh dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil berserakan. Bila menoleh ke Barat membentang Bandara Soekarno-Hatta yang setiap waktu terlihat pesawat lepas landas.

Dari pelataran puncak, 17 m lagi ke atas, terdapat lidah api, terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan berdiameter 6 m, terdiri dari 77 bagian yang disatukan.

Pelataran puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang berarti melambangkan Bangsa Indonesia agar dalam berjuang tidak pernah surut sepanjang masa. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 m dan ruang museum sejarah 8 m. Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45x45 m, merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).

Pengunjung kawasan Monas, yang akan menaiki pelataran tugu puncak Monas atau museum, dapat melalui pintu masuk di seputar plaza taman Medan Merdeka, di bagian utara Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda, terbuat dari perunggu seberat 8 ton.

Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario di Indonesia. Melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung ke tugu puncak Monas yang berpagar "Bambu Kuning".

Landasan dasar Monas setinggi 3 m, di bawahnya terdapat ruang museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80x80 m, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.

Pada keempat sisi ruangan terdapat 12 jendela peragaan yang mengabdikan peristiwa sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia. Keseluruhan dinding, tiang dan lantai berlapis marmer. Selain itu, ruang kemerdekaan berbentuk amphitheater yang terletak di dalam cawan tugu Monas, menggambarkan atribut peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kemerdekaan RI, bendera merah putih dan lambang negara dan pintu gapura yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Para pengunjung dapat naik hingga ke atas dengan menggunakan elevator. Dari atau Monumen Nasional dapat dilihat kota Jakarta dari puncak monumen. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, mulai pukul 09.00 - 16.00 WIB.


"Love KasKus , Love Indonesia"

iloveindonesia
verditch - 08/10/2009 03:06 PM
#4

kaskus ID : verditch

kategori : Properti Sejarah Nasional

bentuk karya : Artikel mengenai Monumen Pancasila Sakti atau Monumen Pahlawan Revolusi

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Monumen_Pancasila_Sakti

keterangan : ini adalah artikel mengenai Monumen Pancasila Sakti atau Monumen Pahlawan Revolusi

Spoiler for artikel
Monumen Pahlawan Revolusi dibangun atas gagasan Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto. Dibangun diatas tanah seluas 14,6 hektar. Monumen ini dibangun dengan tujuan mengingat perjuangan para Pahlawan Revolusi yang berjuang mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia, Pancasila dari ancaman ideologi komunis.

Keenam pahlawan revolusi tersebut adalah:

* Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani,
* Mayjen TNI R. Suprapto
* Mayjen TNI M.T. Haryono
* Mayjen TNI Siswondo Parman
* Brigjen TNI DI Panjaitan
* Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo

Jenderal TNI A.H. Nasution juga disebut sebagai salah seorang target namun dia selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan AH Nasution, Lettu Pierre Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.

Monumen yang terletak di daerah Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur ini, berisikan bermacam-macam hal dari masa pemberontakan G30S - PKI, seperti pakaian asli para Pahlawan Revolusi.
capt_alfons - 11/10/2009 12:52 AM
#5

Kaskus ID : capt_alfons
Kategori : Properti Sejarah Nasional
Bentuk karya : Artikel Rumah Pengasingan Soekarno di Bengkulu
Sumber : http://wisata-sejarah.blogspot.com/2009/03/rumah-pengasingan-bung-karno.html
Keterangan: Sejarah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu

Spoiler for Artikel

Sungguh tiada dapat dipungkiri bahwa kharisma, ketauladanan dan kematangan jiwa sebagai seorang pemimpin besar yang terdapat pada diri Ir. Soekarno – Sang Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia – merupakan hasil dari rangkaian proses yang penuh dengan pahit getirnya perjuangan. Seluruh romantika itu seolah harus beliau alami sebagai prasyarat untuk mengambil ‘tuah’ untuk mengayomi seluruh rasa dan gelora Bangsa Indonesia yang akan dipimpinnya di kemudian hari. Lembaran-lembaran kehidupan telah ‘mengasah’, ‘mengasih’ dan ‘mengasuh’ beliau hingga akhirnya muncul dari inti bumi, menjadi ‘mutiara pertiwi’ yang menyinari perjuangan bangsa dengan hati dan jiwa yang tetap membumi.

Salah satu lembar penitis ’tuah’ kepemimpinan itu adalah perjalanan pengasingan ‘Sang Maestro’ di Bengkulu. Dengan tendensi untuk membuat perjuangan beliau mati, penjajah Kolonial Belanda mengirim Ir. Soekarno ke Bumi Raflesia yang saat itu sangat terpencil dan merupakan wilayah ex-kolonialisme Inggris yang ditukar guling oleh Belanda dengan pulau kecil Singapura di Selat Malaka.

Namun siapa nyana, ternyata di tempat ini justru beliau menerima ‘wangsit keagungan’-nya sebagai ‘kusuma’ bangsa. Hari-hari di pengasingan ternyata bukan lah hari-hari yang kelam dan sia-sia. Namun justru menjadi hari-hari yang membuat beliau mendapatkan banyak ’mukjizat’. Dari bumi ’Bengkulen’ ini Sang Proklamator mendapatkan titisan Pemimpin Besar Nusantara yang disegani oleh seluruh penjuru dunia. Konon, berbagai spirit pusaka dari Bengkulu selalu menjadi bagian penting dalam kepemimpinan beliau.

Lebih dari itu, kepemimpinan ’Sang Bapak Bangsa Indonesia Sepanjang Masa’ ini seolah tiada dapat dipisahkan dari kesempurnaan yang begitu indah dari keteduhan sekeping hati seorang Putri Bengkulu, Fatmawati. Kehangatan jiwa seorang Fatmawati menjadi penyempurna segala kebahagiaan dan penghapus segala keluh ’Sang Pemimpin’ dalam meretas bulir demi bulir keringat perjuangan kemerdekaan bangsa.
Dalam segala kesederhanaannya, ’Sang Bunga Pertiwi’ tampil menjadi ’sandaran hati’ kebanggaan sang suami; menjadi ibu yang mengayomi seluruh anak negeri. Perjuangan merebut kemerdekaan yang ditasbihkan dengan pernyataan ’Proklamasi Kemerdekaan’ oleh Sang Proklamator disempurnakan dengan begitu indah oleh ’Bu Fat’ dengan lentik jari mungilnya yang halus kuning langsat merangkai lembaran kain ’Merah Putih’ – Bendera Pusaka. Amanah rakyat sebagai Presiden Pertama RI yang harus diemban ’Bung Karno’ disempurnakan dengan begitu tulus dan bersahaja oleh Fatmawati sebagai Ibu Negara pertama Indonesia.
Kisah pahit getir perjuangan di pengasingan, keteguhan hati, spirit kejuangan, kebersamaan dengan rakyat, hingga kisah romantisme sebagaimana dituturkan diatas terekam dengan begitu lengkap, nyata dan terpelihara dengan baik di sebuah rumah di Jalan Soekarno – Hatta, Kelurahan Anggut Atas Kota Bengkulu. Rumah yang didiami oleh Ir. Soekarno semasa pengasingannya di Bengkulu Tahun 1938 s/d 1942.
Rumah kediaman ini menjadi situs sejarah yang sangat penting bagi Bangsa Indonesia saat ini. Oleh karenanya untuk kepentingan pengembangan dan pemeliharaan kelangsungan aset sejarah, situs ini berikut areal di sekitarnya telah direvitalisasi menjadi Kawasan Persada Bung Karno. Dengan ini diharapkan seluruh ’anak negeri’ dan pengunjung dapat memahami betapa Bengkulu memegang peranan yang sangat penting bagi lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Datanglah ke Bengkulu, dan rasakan betapa bangganya menjadi Bangsa Indonesia !!!!
sejuta bintang - 12/10/2009 03:36 PM
#6

Kaskus ID : sejuta bintang
Katagori : Sejarah Nasional
Sumber : nagari.or.id dan munirtaher.wordpress.com
Keterangan : Sejarah Singkat Pemberontakan Rakyat Silungkang

Spoiler for Pemberontakan
Kirimkan seiris dagingku untuk Ratu Wihelmina
Dikarang oleh : Abraham Ilyas

Simpang Tigo Muaro Kalaban
Oleh : [email]minangk@yahoo.com[/email]

Surek elektronik tg. 1 Oktober 2006 ini, aslinya saya kirimkan ke email-email peserta Mubes Gebu Minang ke IV dengan alasan bak pesan nenek moyang kito:

Takalo Janjang ka ditingkek, kutiko Bandua ka ditampiak
Cancang bari balandasan, Kato agiah batumbuakan.

Senen, 18 Desember 2005, kira-kira pk. 13 sesudah menghadiri Mubes Gebu Minang ke IV, saya (usia 61.5 th) duduk sendirian di bangku panjang, di simpang tigo Muaro Kalaban (persimpangan jalan Trans Sumatera untuk menuju kota Sawah Lunto) menunggu bus AKAP jurusan Padang-Jakarta.
Sambil menunggu, saya ingin mengobrol dengan rakyat badarai, untuk mencocokkan informasi yang didapat selama Mubes kemarin.

Tak banyak orang lain di situ, kecuali seorang calo bus yang baik hati dan beberapa tukang ojek, sedangkan lainnya adalah para penumpang jarak dekat di kabupaten Sawahlunto-Sijunjuang yang berganti bus atau naik ojek tiap sebentar.

Karena tak ada kawan maota, maka muncul ingatan kepada buku yang pernah saya baca kira-kira duapuluh tahun yang lalu. Buku itu menceritakan pengalaman pribadi seorang pelaku pemberontakan Silungkang 1927. Ditulis oleh pelakunya sendiri yaitu Bapak Abdul Muluk.

Di buku tersebut diceritakan secara mendetail bagaimana raso emosi yang menguasai peserta rapat persiapan di Ngalau Basurek yang mengawali pemberontakan.
Untuk diketahui kita semua, bahwa pemberontakan tersebut secara organisatoris tidak disetujui oleh pimpinan Serikat Rakyat di Pd. Panjang maupun oleh Tan Malaka selaku pimpinan nasionalnya. Oleh sebab itu, pemberontakan ini adalah murni perlawanan anak-nagari terhadap kolonialis Belanda.

Selanjutnya cerita tentang ketahanan iman alm. Kamaruddin Mangguluang dkk. saat menghadapi tiang gantungan di pasar Silungkang.

Sebelum menaiki tiang gantungan, dengan keyakinan yang teguh, tanpa penutup mata Kamaruddin Mangguluang, salah seorang pimpinan pemberontakan, meminta seiris daging jenazahnya agar dikirimkan kepada Wihelmina, ratu Belanda.

Permintaan ini, menyiratkan pesan untuk kerajaan Belanda yang selama ini telah menghisap darah-daging anak-nagari dan selanjutnya makanlah juga bangkaiku.
Almarhum juga menolak ulama yang disediakan untuk mendampingi kematiannya.
Ulama itu dianggapnya sebagai kaki tangan Belanda, Allahu akbar, Allahu akbar...........

Januari tanggal satu, tahun1927, pukul 11 malam, ketika itu musim penghujan, udara dingin sekali. Dalam kondisi demikian, barisan demi barisan para pejuang (sehari-hari mereka bekerja sebagai petani atau panggaleh di kampuangnya) dari nagari-nagari Silungkang, Taruang-taruang, Siaro-aro serta nagari-nagari lain di sekitar dengan berjalan kaki menuju kota tambang Sawahlunto.

Mereka berjalan tanpa alas kaki di jalanan yang belum beraspal seperti sekarang ini.
Semuanya pria berusia antara 17 sd 50 tahun, sebagian mengenakan pakaian silat dan yang lain berpakaian seadanya saja, layaknya pakaian petani kala itu.
Setiap orang mempersenjatai diri-sendiri secara sukarela sesuai dengan kemampuannya masing-masing, membawa klewang, tombak, rudus, belati, senapang balansa, granat buatan sendiri dengan tujuan hanya satu, yaitu merebut kota Sawahlunto dari tangan penjajah Belanda.

Entah raso senasib-sepenanggungan atau raso berkaum-bernagari yang memotivasi ribuan pemuda kampung yang belum pernah berlatih perang tersebut menuju kota Sawahlunto, sulit bagi kita memahaminya dengan pemikiran jaman sekarang.

Satu-satunya imbalan atau bayaran tak langsung yang didapat para anggota barisan ialah makan malam dalam perjamuan besar yang disediakan oleh Sampono Kayo, saudagar kaya di rumahnya, di pangkal titian, di nagari Silungkang sebelum berangkat perang.

Mungkin pula, lokasi tempat duduk saat ini adalah bekas gardu jaga polisi Belanda yang membiarkan barisan pertama atau barisan inti (berjumlah lk. 180 pemuda) yang dipimpin oleh Abdul Muluk dan Abdulrahman melewati pos jaga tersebut.

Membiarkan barisan inti lewat tanpa gangguan, sambil memberitahukan dengan telepon ke Sawahlunto adalah taktik Belanda ketika itu untuk mengepung pemberontak dari arah belakang di tengah perjalanan Muaro Kalaban menuju Sawahlunto. Kesalahan fatal ini baru disadari di kemudian hari oleh pelaku yang merencanakan perlawanan tersebut.

Terbayang dalam khayalan saya bagaimana para anggota barisan inti kucar-kacir lari menyelamatkan diri ke jurang di pinggir jalan; dan pemuda Tongku, anggota barisan inti yang mati ditembak Belanda karena tak mau mengangkat tangan serta Abdulmuluk dalam keadaan luka parah dilemparkan ke atas truk, seperti melemparkan karung goni.
Serdadu Belanda menghadang barisan inti dari jurusan kota Sawahlunto.

Penyerangan ke kota Sawahlunto telah diketahui oleh Belanda sebelumnya. Sersan Rumuat dan Sersan Mayor Pontoh anggota KNIL yang berpihak kepada SR yang dipersiapkan membantu pemberontakan dalam kota, telah ditangkap sebelum penyerangan dimulai.

Dalam keadaan terkepung, para anggota barisan inti ditangkapi satu-persatu, sedangkan di tempat lainnya di sekitar kota Sawahlunto beberapa hari/minggu kemudian para pemberontak tetap mengadakan perlawanan sengit.

Yang sangat dikenal ialah perlawanan General Abdul Munaf dan Dt. Bijo Dirajo yang sempat menghancurkan dua truk serdadu Belanda di malam buta di dekat viaduct antara nagari Tj. Ampalu dan nagari Pamuatan. Untuk mengenang peristiwa tersebut pemerintah Hindia Belanda menaikkan bendera setengah tiang.

Selanjutnya ribuan dari anggota pergerakan rakyat dari seluruh pelosok Sumatera Barat dikirim ke penjara-penjara di Jawa-Madura atau penjara-alam, nun jauh di sana, di Boven Digul di mana kanibalisme masih belum hilang.

Sejarah mencatat peristiwa besar ini dengan sebutan Pemberontakan Silungkang, karena di nagari itulah diadakan persiapan/perencanaan pemberontakan tersebut. Dan kini bukit-bukit di hadapan saya, adalah saksi bisu yang mengalami peristiwa penting dalam kisah panjang bangsa kita memperjuangkan kemerdekaan delapan puluh tahun yang lalu.

Ambo manumpang duduak Mak. Tiba-tiba saja seorang ibu muda berumur sekitar 25 th. menegur saya. Silakan ! Jawab saya sambil tersentak dari lamunan panjang......!
Dia duduk di samping sambil menggendong bayinya yang terus menangis sembari menuntun anak perempuannya.


Baca yang lain : Perang Rakyat Silungkang 1927
Qvèzst - 13/10/2009 02:47 PM
#7
Profil Rumah Sejarah di Lanud Suryadarma
Kaskus ID : Qvezst
Kategori : Properti Sejarah Nasional
Bentuk karya : Artikel Rumah Sejarah
Sumber : http://www.aero-kalijati.com/joomla-overview/rumah-sejarah/1067-profil-rumah-sejarah-di-lanud-suryada rma.html
Keterangan: Profil Rumah Sejarah di Lanud Suryadarma

Quote:

Rumah Sejarah. Demikian nama museum yang sampai saat ini tetap eksis walaupun telah berusia setengah abad lebih sebagai tempat bekas perundingan Belanda dan Jepang tahun 1942. Rumah Sejarah itulah yang menjadi saksi bisu penyerahan kekuasaan Belanda yang telah menjajah Indonesia selama 350 tahun kepada Jepang tanggal 8 Maret 1942. Lokasi Rumah Sejarah terletak di Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Suryadarma, Kalijati, Subang, Jawa Barat sekitar 133 kilometer arah timur Ibukota Jakarta dengan sekitar 2 jam perjalanan darat. Kondisi bangunannya tetap terjaga karena sejak kemerdekaan berada dalam Pangkalan Udara (PU) Militer bernama PU Kalijati (berganti menjadi Lanud Suryadarma sejak 7 September 2001).

Rumah Sejarah pada awalnya dibangun tahun 1917 untuk rumah dinas Perwira Staf Sekolah Penerbang Hindia Belanda di PU Kalijati. Guna mengenangnya sebagai tempat bersejarah, pada tanggal 21 Juli 1986 atas inisiatif Komandan Lanud Kalijati saat itu, Letkol Pnb Ali BZE meresmikannya sebagai sebuah museum dengan nama “Rumah Sejarah”. Dengan demikian generasi penerus bangsa akan mengetahui tempat tersebut sebagai tempat penyerahan kekuasaan penjajahan Belanda kepada Jepang.

Sejak diresmikannya “Rumah Sejarah” tersebut, memori terhadap peristiwa bersejarah itu khususnya dari para pelaku perjuangan kemerdekaan tanah air kembali terkenang. Hal ini terbukti dengan diperingatinya 60 tahun berakhirnya era penjajahan Belanda di Rumah Sejarah itu pada tanggal 9 Maret 2002 oleh Yayasan 19 September 1945 dan Yayasan Ermelo 96 sebagai paguyuban para pelaku perjuangan kemerdekaan. Acara tersebut dihadiri juga beberapa pejabat pemerintah dan pejabat teras Markas Besar TNI Angkatan Udara termasuk Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Hanafi Asnan.

Walaupun berada di komplek Lanud Suryadarma pengawasan dan perawatan Rumah Sejarah berada di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Subang. Hal ini dikarenakan Rumah Sejarah merupakan salah satu cagar budaya milik pemerintah yang berada di Kabupaten Subang.
dirrga - 02/11/2009 09:45 PM
#8
Istana Maimun
Kaskus ID : dirrga
Katagori : Bangunan Bersejarah
Sumber : http://bangunanbersejarah-indonesia.blogspot.com
Keterangan : Istana Maimun telah dinobatkan sebagai bangunan terindah di Kota Medan, Sumatera Utara. Terletak di kawasan Jl. Brigjen Katamso, istana megah ini selesai dibangun sekitar tahun 1888 dan merupakan warisan dari Sultan Deli Makmun Al Rasyid Perkasa

Spoiler for Baca Selengkapnya
Istana Maimun telah dinobatkan sebagai bangunan terindah di Kota Medan, Sumatera Utara. Terletak di kawasan Jl. Brigjen Katamso, istana megah ini selesai dibangun sekitar tahun 1888 dan merupakan warisan dari Sultan Deli Makmun Al Rasyid Perkasa

Alamsyah. Sapuan warna kuning pada gedung ini merupakan warna khas Melayu.

Arsitekturnya yang unik adalah daya tarik utama dari Istana Maimun. Pengaruh Eropa terlihat jelas pada balairung atau ruang tamu, jendela, pintu dan sebuah prasasti di depan tangga yang bertuliskan huruf Latin, berbahasa Belanda. Sedangkan, ciri Islam muncul pada atapnya yang bergaya Persia yang melengkung, style yang banyak dijumpai pada bangunan-bangunan di kawasan Timur Tengah.

Bagian dalam Istana Maimun juga menarik untuk disusuri. Di balik dinding-dindingnya yang kokoh, terdapat puluhan kamar yang tersebar di dua lantai. Kemegahan pun terlihat pada singgasana, lampu kristal Eropa, kursi, meja maupun lemari. Foto-foto keluarga, senjata-senjata kuno, termasuk ruang penjara, juga ada di istana ini. Walaupun masih menyimpan benda-benda bernilai sejarah, Istana Maimun masih membolehkan wisatawan untuk berkunjung dan menikmati kemegahan sekaligus menyelami kejayaan Kesultanan Deli masa lalu.

iloveindonesia ilovekaskus
verditch - 06/12/2009 11:02 AM
#9

kaskus ID : verditch

kategori : Properti Sejarah Nasional

bentuk karya : Artikel Mengenai Prasasti Kota Kapur

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Kota_Kapur

keterangan : Prasasti Kota Kapur adalah salah satu dari lima buah batu prasasti kutukan yang dibuat oleh Dapunta Hiyaŋ, seorang penguasa dari Kadātuan Śrīwijaya.

Spoiler for
Prasasti Kota Kapur
Prasasti Kota Kapur adalah hasil penggalian arkeologi yang ditemukan di pesisir barat Pulau Bangka. Prasasti ini dinamakan menurut tempat penemuannya yaitu sebuah dusun kecil yang bernama "Kotakapur" . Tulisan pada prasasti ini ditulis dalam aksara Pallawa dan menggunakan bahasa Melayu Kuna, serta merupakan salah satu dokumen tertulis tertua untuk bahasa Melayu. Prasasti ini ditemukan oleh J.K. van der Meulen pada bulan Desember 1892.

Prasasti ini pertama kali dianalisis oleh H. Kern, seorang ahli epigrafi bangsa Belanda yang bekerja pada Bataviaasch Genootschap di Batavia. Pada mulanya ia menganggap "Śrīwijaya" adalah nama seorang raja. George Coedes lah yang kemudian berjasa mengungkapkan bahwa Śrīwijaya adalah nama sebuah kerajaan besar di Sumatra pada abad ke-7 Masehi, yaitu kerajaan yang kuat dan pernah menguasai bagian barat Nusantara, Semenanjung Malaysia, dan Thailand bagian selatan.

Isi prasasti

Prasasti Kota Kapur adalah salah satu dari lima buah batu prasasti kutukan yang dibuat oleh Dapunta Hiyaŋ, seorang penguasa dari Kadātuan Śrīwijaya. Inilah isi lengkap dari Prasasti Kota Kapur, seperti yang ditranskripsikan dan ditejemahkan oleh Coedes:

Keberhasilan !

Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan melindungi Kadātuan Śrīwijaya ini; kamu sekalian dewa-dewa yang mengawali permulaan segala sumpah !

Bilamana di pedalaman semua daerah yang berada di bawah Kadātuan ini akan ada orang yang memberon*tak yang bersekongkol dengan para pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak;

yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat, yang tidak takluk, yang tidak setia pada saya dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu; biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk biar sebuah ekspedisi untuk melawannya seketika di bawah pimpinan datu atau beberapa datu Śrīwijaya, dan biar mereka

dihukum bersama marga dan keluarganya. Lagipula biar semua perbuatannya yang jahat; seperti meng*ganggu :ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja,

saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, semoga perbuatan-perbuatan itu tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu; biar pula mereka mati kena kutuk. Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang

supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk; dan dihukum langsung. Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tak berbakti, yang tak setia pada saya, biar pelaku perbuatan tersebut

mati kena kutuk. Akan tetapi jika orang takluk setia kepada saya dan kepada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, maka moga-moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya

dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebas*an dari bencana, kelimpahan segala*nya untuk semua negeri mereka ! Tahun Śaka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha (28 Februari 686 Masehi), pada saat itulah

kutukan ini diucapkan; pemahatannya berlangsung ketika bala tentara Śrīwijaya baru berangkat untuk menyerang bhūmi jāwa yang tidak takluk kepada Śrīwijaya.

terjemahan isi prasasti kota kapur versi Slamet Muljana :

Seorang pembesar yang gagah berani, Kandra Kayet, di medan pertempuran. Ia bergumul dengan Tandrun Luah dan berhasil membunuh Tandrun Luah. Tandrun Luah mati terbunuh di medan pertempuran. Tetapi, bagaimana nasib Kayet yang membunuh itu? Juga Kayet berhasi ditumpas. Ingatlah akan kemenangan itu!

Kamu sekalian dewata yang berkuasa dan sedang berkumpul menjaga Kerajaan Sriwijaya! Dan kau, Tandrun Luah, dan para dewata yang disebut pada pembukaan seluruh persumpahan ini! Jika pada saat manapun di seluruh wilayah kerajaan ini ada orang yang berkhianat, bersekutu dengan pengkhianat, menegur pengkhianat atau ditegur oleh pengkhianat, sepaham dengan pengkhianat, tidak mau tunduk dan tidak mau berbakti, tidak setia kepadaku dan kepada mereka yang kuserahi kekuasaan datu, orang yang berbuat demikian itu akan termakan sumpah. Kepada mereka, akan segera dikirim tentara atas perintah Sriwijaya. Mereka sesanak keluarganya akan ditumpas! Dan semuanya yang berbuat jahat, menipu orang, membuat sakit, membuat gila, mlakukan tenung, menggunakan bisa, racun, tuba, serambat, pekasih, pelet dan yang serupa itu, mudah-mudahan tidak berhasil. Dosa perbuatan yang jahat untuk merusak batu ini hendaklah segera terbunuh oleh sumpah, segera dipukul. Mereka yang membahayakan, yang mendurhaka, yang tidak setia kepadaku dan kepada yang kuserahi kekuasan datu, mereka yang berbuat demikian itu, mudah-mudahan dibunuh oleh sumpah ini.

Tetapi kebalikannya, mereka yang berbakti kepadaku dan kepada mereka yang kuserahi kekuasaan datu, hendaknya diberkati segala perbuatannya dan sanak keluarganya, berbahagia, sehat, sepi bencana dan berlimpah rezeki segenap penduduk dusunnya.


Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu yang berbentuk tugu bersegi-segi dengan ukuran tinggi 177 cm, lebar 32 cm pada bagian dasar, dan 19 cm pada bagian puncak.

Arti penting

Prasasti Kota Kapur adalah prasasti Śrīwijaya yang pertama kali ditemukan, jauh sebelum Prasasti Kedukan Bukit yang baru ditemukan pada 29 November 1920, dan Prasasti Talang Tuo yang ditemukan beberapa hari sebelumnya yaitu pada 17 November 1920.

Prasasti Kota Kapur ini, beserta penemuan-penemuan arkeologi lainnya di daerah tersebut, merupakan peninggalan masa Sriwijaya dan membuka wawasan baru tentang masa-masa Hindu-Budha di masa itu. Prasasti ini juga membuka gambaran tentang corak masyarakat yang hidup pada abad ke-6 dan abad ke-7 dengan latar belakang agama Hindu.

[spoiler=gambar]Properti Sejarah Nasional - Artikel
[/spoiler]
Voidness - 09/12/2009 03:12 PM
#10
Benteng Malboro di Bengkulu
Kaskus ID : Voidness

Kategori : Properti Sejarah Nasional

Bentuk karya : Artikel

FORT Marlborough dibangun Perusahaan India Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Joseph Callet. Benteng ini menghadap Selatan dan memiliki luas 44.100 meter persegi. Bentuk benteng abad XVIII (1914) ini menyerupai kura-kura. Pintu utama dikelilingi parit luas dan tersambung dengan jembatan ke gerbang dalam. Menurut masyarakat sekitar, benteng ini memiliki pintu keluar bawah tanah.

Fort Marlborough adalah peninggalan terbesar Inggris terbesar di Indonesia. Benteng Marlborough sesungguhnya bukan sekadar benteng pertahanan militer, karena ia dibangun demi kepentingan perdagangan; penjamin kelancaran suplai lada bagi perusahaan dagang Inggris, East India Company, serta pengawasan jalur pelayaran dagang melalui Selat Sunda. Benteng berperan ganda: markas pertahanan militer sekaligus kantor pusat perdagangan dan pemerintahan Inggris.

Bengkulu merupakan ibu kota wilayah presidensi (kumpulan wilayah residen) Inggris di pesisir barat Sumatera. Wilayah itu dikendalikan dari Benteng Marlborough. Inggris sebelumnya juga membangun benteng serupa dengan fungsi dan peran lebih besar di Madras, India, yaitu Fort St George. Dari Madras inilah, East India Company mengembangkan pengaruh ke Asia Pasifik, termasuk Bengkulu.

Fort Marlborough dihuni oleh pegawai sipil dan tentara Inggris. Dalam catatan British Library, Oriental and India Office Collections tahun 1792 terdapat 90 pegawai sipil dan militer tinggal dan bekerja dalam Benteng Marlborough. Para petinggi atau perwira senior tinggal dalam lingkungan benteng bersama keluarga. Benteng ini menyerupai hunian dalam kota kecil dengan tembok tebal. Seperti layaknya kehidupan bermasyarakat, catatan-catatan menyangkut perkawinan, pembaptisan, dan kematian "penduduk" benteng ini pun masih dapat tersimpan.

Desain tata ruang Benteng Marlborough mencerminkan keragaman aktivitas masyarakat. Kompleks bangunan ini 44.100,5 meter persegi, tetapi total bangunan dalam benteng hanya sekitar 20 persen. Bagian benteng selebihnya berfungsi sebagai ruang terbuka. Bangunan fisik Benteng Marlborough sangat kokoh, antara lain terbukti ketika gempa bumi berkekuatan 7,3 skala Richter meluluhlantakkan ribuan bangunan gedung dan permukiman Bengkulu tahun 2000 maupun gempa bumi dengan 7,9 skala Richter, benteng ini tak mengalami kerusakan berarti. Padahal, konstruksi benteng ini tidak menggunakan beton bertulang.

Desain dasar Benteng Marlborough berbentuk segi empat. Desain ini menyerupai kura-kura, ditandai dengan empat bagian bangunan menyudut seperti kaki, serta satu kelompok bangunan menyerupai bagian kepala kura-kura. Bagian atas bangunan ini tersambung melingkar menjadi pelataran penempatan meriam, sekaligus mempermudah mobilitas perpindahan meriam. Ciri lain benteng pertahanan ini adalah dua lapis dinding pertahanan, sehingga ketika dinding terdepan bisa ditembus lawan, pasukan bisa segera mundur dan melakukan pertahanan dari dinding kedua.

Pembangunan benteng tahap pertama selesai 1718 dengan gerbang utama benteng di sisi barat. Bagian bangunan menyerupai kepala kura-kura kemudian ditambahkan pada 1783. Dengan penambahan ini sistem pertahanan gerbang benteng menjadi berlapis. Kekokohan benteng tergambar dari ketebalan dinding bagian luar setinggi 8,65 meter dan ketebalan tiga meter. Sementara tebal dinding dalam sekitar 1,8 meter. Bahan bangunan antara lain batu karang, batu kali, dan bata dengan perekat campuran kapur, pasir, dan semen merah.

Untuk memasuki benteng dari gerbang utama, kita harus melewati dua jembatan yang menyeberangi parit-parit kering. Parit itu berkedalaman sekitar 1,8 meter dengan lebar 3,6 meter. Jembatan-jembatan kayu di atas parit kering itu aslinya tidak pernah permanen agar dapat diangkat dalam menghambat gerak musuh. Selepas gerbang pertama, kita akan menyusuri lorong pendek dengan langit-langit melengkung. Empat buah batu nisan besar tertempel pada salah satu sisi bangunan lengkung ini. Batu-batu nisan ini merupakan tugu peringatan kematian sejumlah petinggi benteng, antara lain Deputi Gubernur Inggris Richard Watts—meninggal pada 1705. Meskipun tugu peringatan berbahasa Inggris itu tertulis dalam huruf bergaya kuno, tetapi sebagian besar masih terbaca dengan jelas.

Keluar dari bangunan lengkung selepas pintu masuk ini, kita akan menyusuri alur jalan pada ruang terbuka menuju jembatan kedua. Di sisi selatan jalan itu berjajar tiga buah makam, satu di antaranya makam Residen Thomas Parr—terbunuh Desember 1807. Adanya pemakaman itu menunjukkan fungsi benteng menampung seluruh aktivitas penghuni sejak lahir hingga meninggal. Melalui jembatan kedua berketinggian 3,25 meter dari dasar parit di bawahnya, sampailah pada pintu gerbang yang dikenal sebagai the great gate (gerbang utama). Daun pintu kayu pada gerbang kedua ini masih utuh meskipun sudah berumur hampir 300 tahun. Daun pintu ini memakai jenis kayu kapur konon berasal dari Kalimantan.

Tiga ruangan kita jumpai di sebelah kiri begitu melewati the great gate dulu difungsikan sebagai kediaman para perwira. Ruangan-ruangan ini pada 1873 difngsikan sebagai gudang senjata. Ruang pertama menyerupai lorong sepanjang 13,5 meter dengan lebar sekitar lima meter. Di dalamnya terdapat tiga "anak ruangan" berukuran sekitar 1,5 meter x 4,5 meter. Ruang ini seakan menyerupai lemari beton tebal. Di ujung lorong terdapat pintu turun menuju ke ruang bawah bangunan benteng. Gelap dan lembab pada ruang-ruang bawah memberi kesan penyusuran bagian benteng ini berbau petualangan. Ruang bawah ini disebutkan berfungsi sebagai tempat penyimpanan harta.

Pada sisi lain gerbang masuk, kita akan menemui ruangan dengan funsi ruang jaga utama maupun ruang penjaga benteng yang tidak sedang bertugas. Di bagian dalam, terdapat dua ruang tahanan militer. Pada salah satu bagian dinding ruang tahanan itu terlihat lukisan arang dan catatan dalam bahasa Belanda kuno. Tulisan diperkirakan buatan tahanan dalam benteng.

Di sepanjang sayap selatan Benteng Marlborough terdapat deretan ruangan barak tidur. Masing-masing ruang memiliki satu pintu menghadap ke halaman dalam benteng. Meskipun terbuat dari jeruji besi, pintu-pintu ini berdesain lengkung dan terkesan cantik. Desain lengkung juga terlihat pada bagian langit-langit ruangan. Kompleks perkantoran terdapat di sayap utara benteng. Sebelum tahun 1780-an, sisi utara benteng ini difungsikan menjadi ruang keluarga pejabat sipil senior serta tempat tinggal perwira lajang. Sementara gudang dan kediaman gubernur terdapat di bagian barat.

Pada zamannya, benteng ini dikelola oleh dewan pimpinan terdiri dari deputi gubernur sebagai kepala wilayah pendudukan, komandan benteng sebagai pemimpin militer, dibantu oleh dua pejabat. Pejabat tinggi lainnya adalah semacam kepala perdagangan (senior merchant). Pada 1792, tercatat 18 atase perdagangan berkantor di Fort Marlborough. Beberapa kepala perdagangan ini juga menjabat sebagai kepala wilayah atau residen sejumlah kawasan sepanjang pesisir barat Sumatera, antara lain Manna, Lais, Natal, Tapanuli, dan Krui. Pada 1792 tercatat sembilan orang juru tulis bekerja dan tinggal dalam benteng. Teknisi, petugas kesehatan, pemain organ, hingga tukang kayu pun menghuni benteng ini.

Di tengah benteng, terhampar halaman dalam berumput hijau dengan beberapa pepohonan teduh. Halaman dalam cukup luas ini berfungsi bagi beragam kegiatan militer pada masa itu, misalnya upacara dan latihan keterampilan. Di lapangan ini pula dibacakan keputusan pengadilan dan kesaksian eksekusi militer. Sementara bagian halaman teduh oleh pepohonan dengan pemandangan laut lepas, menjadi tempat bersantai. Jalan setapak menghubungkan gerbang utama bagian selatan dengan gerbang utara terdapat di tengah halaman. Pintu gerbang sisi utara ini pun disambungkan dengan jembatan kayu ke luar lingkungan benteng.

Dari atas dinding benteng atau bastion, teramati hamparan laut lepas. Untuk menaikkan meriam pada posisi tembak di bastion, dibangunlah beberapa bidang miring dari susunan bata di sudut-sudut benteng ini. Di bastion, kita juga dapat mengamati saluran etalase ruangan-ruangan seperti cerobong. Mulut cerobong itu diberi payung kerucut terbuat dari seng sehingga udara dapat bersirkulasi, namun terlindung dari curahan air. Menjelajahi benteng ini tidak akan lengkap tanpa menyusuri lorong-lorong di bawahnya. Lorong-lorong bawah tanah sempit dan gelap ini konon merupakan tempat penyimpanan senjata. Juga terdapat lorong bawah tanah yang menyambungkan benteng dengan jalan keluar tanpa melewati pintu-pintu gerbang.
Kastor - 12/12/2009 02:01 PM
#11

Quote:
Original Posted By sejuta bintang
Kaskus ID : sejuta bintang
Katagori : Sejarah Nasional
Sumber : nagari.or.id dan munirtaher.wordpress.com
Keterangan : Sejarah Singkat Pemberontakan Rakyat Silungkang

Spoiler for Pemberontakan
Kirimkan seiris dagingku untuk Ratu Wihelmina
Dikarang oleh : Abraham Ilyas

Simpang Tigo Muaro Kalaban
Oleh : [email]minangk@yahoo.com[/email]

Surek elektronik tg. 1 Oktober 2006 ini, aslinya saya kirimkan ke email-email peserta Mubes Gebu Minang ke IV dengan alasan bak pesan nenek moyang kito:

Takalo Janjang ka ditingkek, kutiko Bandua ka ditampiak
Cancang bari balandasan, Kato agiah batumbuakan.

Senen, 18 Desember 2005, kira-kira pk. 13 sesudah menghadiri Mubes Gebu Minang ke IV, saya (usia 61.5 th) duduk sendirian di bangku panjang, di simpang tigo Muaro Kalaban (persimpangan jalan Trans Sumatera untuk menuju kota Sawah Lunto) menunggu bus AKAP jurusan Padang-Jakarta.
Sambil menunggu, saya ingin mengobrol dengan rakyat badarai, untuk mencocokkan informasi yang didapat selama Mubes kemarin.

Tak banyak orang lain di situ, kecuali seorang calo bus yang baik hati dan beberapa tukang ojek, sedangkan lainnya adalah para penumpang jarak dekat di kabupaten Sawahlunto-Sijunjuang yang berganti bus atau naik ojek tiap sebentar.

Karena tak ada kawan maota, maka muncul ingatan kepada buku yang pernah saya baca kira-kira duapuluh tahun yang lalu. Buku itu menceritakan pengalaman pribadi seorang pelaku pemberontakan Silungkang 1927. Ditulis oleh pelakunya sendiri yaitu Bapak Abdul Muluk.

Di buku tersebut diceritakan secara mendetail bagaimana raso emosi yang menguasai peserta rapat persiapan di Ngalau Basurek yang mengawali pemberontakan.
Untuk diketahui kita semua, bahwa pemberontakan tersebut secara organisatoris tidak disetujui oleh pimpinan Serikat Rakyat di Pd. Panjang maupun oleh Tan Malaka selaku pimpinan nasionalnya. Oleh sebab itu, pemberontakan ini adalah murni perlawanan anak-nagari terhadap kolonialis Belanda.

Selanjutnya cerita tentang ketahanan iman alm. Kamaruddin Mangguluang dkk. saat menghadapi tiang gantungan di pasar Silungkang.

Sebelum menaiki tiang gantungan, dengan keyakinan yang teguh, tanpa penutup mata Kamaruddin Mangguluang, salah seorang pimpinan pemberontakan, meminta seiris daging jenazahnya agar dikirimkan kepada Wihelmina, ratu Belanda.

Permintaan ini, menyiratkan pesan untuk kerajaan Belanda yang selama ini telah menghisap darah-daging anak-nagari dan selanjutnya makanlah juga bangkaiku.
Almarhum juga menolak ulama yang disediakan untuk mendampingi kematiannya.
Ulama itu dianggapnya sebagai kaki tangan Belanda, Allahu akbar, Allahu akbar...........

Januari tanggal satu, tahun1927, pukul 11 malam, ketika itu musim penghujan, udara dingin sekali. Dalam kondisi demikian, barisan demi barisan para pejuang (sehari-hari mereka bekerja sebagai petani atau panggaleh di kampuangnya) dari nagari-nagari Silungkang, Taruang-taruang, Siaro-aro serta nagari-nagari lain di sekitar dengan berjalan kaki menuju kota tambang Sawahlunto.

Mereka berjalan tanpa alas kaki di jalanan yang belum beraspal seperti sekarang ini.
Semuanya pria berusia antara 17 sd 50 tahun, sebagian mengenakan pakaian silat dan yang lain berpakaian seadanya saja, layaknya pakaian petani kala itu.
Setiap orang mempersenjatai diri-sendiri secara sukarela sesuai dengan kemampuannya masing-masing, membawa klewang, tombak, rudus, belati, senapang balansa, granat buatan sendiri dengan tujuan hanya satu, yaitu merebut kota Sawahlunto dari tangan penjajah Belanda.

Entah raso senasib-sepenanggungan atau raso berkaum-bernagari yang memotivasi ribuan pemuda kampung yang belum pernah berlatih perang tersebut menuju kota Sawahlunto, sulit bagi kita memahaminya dengan pemikiran jaman sekarang.

Satu-satunya imbalan atau bayaran tak langsung yang didapat para anggota barisan ialah makan malam dalam perjamuan besar yang disediakan oleh Sampono Kayo, saudagar kaya di rumahnya, di pangkal titian, di nagari Silungkang sebelum berangkat perang.

Mungkin pula, lokasi tempat duduk saat ini adalah bekas gardu jaga polisi Belanda yang membiarkan barisan pertama atau barisan inti (berjumlah lk. 180 pemuda) yang dipimpin oleh Abdul Muluk dan Abdulrahman melewati pos jaga tersebut.

Membiarkan barisan inti lewat tanpa gangguan, sambil memberitahukan dengan telepon ke Sawahlunto adalah taktik Belanda ketika itu untuk mengepung pemberontak dari arah belakang di tengah perjalanan Muaro Kalaban menuju Sawahlunto. Kesalahan fatal ini baru disadari di kemudian hari oleh pelaku yang merencanakan perlawanan tersebut.

Terbayang dalam khayalan saya bagaimana para anggota barisan inti kucar-kacir lari menyelamatkan diri ke jurang di pinggir jalan; dan pemuda Tongku, anggota barisan inti yang mati ditembak Belanda karena tak mau mengangkat tangan serta Abdulmuluk dalam keadaan luka parah dilemparkan ke atas truk, seperti melemparkan karung goni.
Serdadu Belanda menghadang barisan inti dari jurusan kota Sawahlunto.

Penyerangan ke kota Sawahlunto telah diketahui oleh Belanda sebelumnya. Sersan Rumuat dan Sersan Mayor Pontoh anggota KNIL yang berpihak kepada SR yang dipersiapkan membantu pemberontakan dalam kota, telah ditangkap sebelum penyerangan dimulai.

Dalam keadaan terkepung, para anggota barisan inti ditangkapi satu-persatu, sedangkan di tempat lainnya di sekitar kota Sawahlunto beberapa hari/minggu kemudian para pemberontak tetap mengadakan perlawanan sengit.

Yang sangat dikenal ialah perlawanan General Abdul Munaf dan Dt. Bijo Dirajo yang sempat menghancurkan dua truk serdadu Belanda di malam buta di dekat viaduct antara nagari Tj. Ampalu dan nagari Pamuatan. Untuk mengenang peristiwa tersebut pemerintah Hindia Belanda menaikkan bendera setengah tiang.

Selanjutnya ribuan dari anggota pergerakan rakyat dari seluruh pelosok Sumatera Barat dikirim ke penjara-penjara di Jawa-Madura atau penjara-alam, nun jauh di sana, di Boven Digul di mana kanibalisme masih belum hilang.

Sejarah mencatat peristiwa besar ini dengan sebutan Pemberontakan Silungkang, karena di nagari itulah diadakan persiapan/perencanaan pemberontakan tersebut. Dan kini bukit-bukit di hadapan saya, adalah saksi bisu yang mengalami peristiwa penting dalam kisah panjang bangsa kita memperjuangkan kemerdekaan delapan puluh tahun yang lalu.

Ambo manumpang duduak Mak. Tiba-tiba saja seorang ibu muda berumur sekitar 25 th. menegur saya. Silakan ! Jawab saya sambil tersentak dari lamunan panjang......!
Dia duduk di samping sambil menggendong bayinya yang terus menangis sembari menuntun anak perempuannya.


Baca yang lain : Perang Rakyat Silungkang 1927


buset...bener2 patriot thumbup:
ada nggak ya orang Indo jaman sekarang yg seperti itu?
UcupBinSanusi - 18/12/2009 07:40 PM
#12
Sejarah Budaya di Daerah Saya !!!
Kaskus ID : UcupBinSanusi
Kategori : Properti Sejarah
Bentuk Karya : Artikel Informasi Mengenai Naskah Tanjung
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Tanjung_Tanah
Keterangan : Artikel Naskah Tanjung


Spoiler for Naskah Tanjung

Naskah Tanjung Tanah merupakan kitab undang-undang yang dikeluarkan oleh kerajaan Melayu pada abad ke-14 untuk menetapkan hukum di bumi Kerinci. Naskah yang ditulis di keraton Dharmasraya dengan menggunakan tulisan Sumatra Kuno adalah naskah Melayu yang tertua.

Temuan

Filolog Belanda Petrus Voorhoeve telah menemukan naskah ini pada tahun 1941. Naskah itu kemudian ditransliterasi (dialihaksarakan) oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka. Pada tahun 2002 Prof. Dr. Uli Kozok membawa sampel naskah ini ke Wellington, Selandia Baru untuk diperiksa di laboratorium agar dilakukan penanggalan radiokarbon. Hasil penhgujian ini memperkuat dugaan Kozok bahwa naskah Tanjung Tanah adalah naskah Melayu yang tertua.


Bibliografi

* (id) 2006, Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah. Naskah Melayu yang Tertua. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Naskah Nusantara ISBN 979-461-603-6
* (en) 2004, The Tanjung Tanah Code of Law: The Oldest Extant Malay Manuscript. Cambridge: St Catharine's College and the University Press.
avesevev - 04/01/2010 07:54 AM
#13
ekonomi dualistik aceh masa kolonial
Kaskus ID : avesevev
Kategori : Sejarah Ekonomi
Sumber : Furnivall, J.S., Netherlands India : a study of plural economy (Cambridge: Cambridge University Press, 1939)
Keterangan : Sejarah singkat perekonomian aceh masa kolonial


Quote:

Dalam rangka membangun kembali perekonomian dalam negeri Aceh yang hancur akibat peperangan, pemerintah kolonial Belanda membuat kebijakan membuka Aceh bagi modal-modal Barat, dan juga berusaha memperbaiki sektor pertanian lokal dengan menggalakkan penanaman kembali tanaman seperti lada dan beras yang telah banyak menghasilkan pada periode sebelum Perang Aceh. Modal-modal swasta Barat banyak bergerak di bidang pertambangan minyak dan sektor perkebunan, sementara lada dan beras masih menjadi ciri khas perekonomian tradisional. Lahan baru dibuka untuk meningkatkan produksi, kemudian pemerintah kolonial juga mendatangkan penyuluh-penyuluh pertanian dari luar daerah demi meningkatkan kualitas tanaman. Hal tersebut merupakan kebijakan yang diambil oleh pihak kolonial untuk memperbaiki perekonomian masyarakat Aceh. Sedangkan, kegiatan perkebunan yang dilakukan oleh sektor swasta baru marak setelah tahun 1900-an, dan untuk eksplorasi minyak sendiri telah dilakukan pada tahun 1882 dan baru memperlihatkan hasil sekitar tahun 1890 yang kemudian berkembang lagi setelah tahun 1900-an.

Boeke berpendapat bahwa terdapat dua jenis kegiatan ekonomi yang bergerak pada periode itu, yaitu ekonomi lokal dan ekonomi asing, yang keduanya berjalan sendiri-sendiri secara beriringan tanpa campur tangan satu sama lain. Seperti yang telah disebutkan, ekonomi lokal bergerak pada perkebunan rakyat seperti lada dan tanaman pangan yaitu padi, sedangkan ekonomi swasta memegang kendali pada sektor tambang terutama minyak.. Namun pendapat ini berusaha disanggah oleh penulis lain, seperti yang telah diungkapkan oleh Kelley dan Williamson, mereka berpendapat bahwa pasti terdapat respon dari perekonomian tradisional terhadap masuknya perekonomian swasta ke tanah Aceh, baik positif maupun negatif. Sisi positifnya tentu saja kedua perekonomian tersebut dapat bercampur dan bekerja sama, dan sisi negatifnya, seperti yang telah diungkapkan Boeke, keduanya gagal bercampur. Namun pada prakteknya, memang kedua jenis kegiatan tersebut tidak selamanya berjalan sendiri-sendiri, pasti terdapat hubungan antara keduanya pada titik tertentu..Furnivall menjelaskan bahwa dualistik ekonomi memang terjadi di Aceh, tetapi tetap ada pertemuan diantara keduanya. Ketika sektor swasta membutuhkan pasokan bahan makanan bagi pekerja-pekerjanya yang mayoritas berasal dari luar Aceh, tentu yang bisa diharapkan untuk memenuhi hal tersebut adalah petani-petani pribumi, di sinilah keduanya bertemu. Pasar menjadi titik pertemuan antara ekonomi tradisional dan ekonomi swasta asing, yang kemudian menyandingkan keduanya pada relasi komersial. Relasi komersial ini hanya sebatas pada pemenuhan kebutuhan oleh sektor domestik kepada sektor swasta. Selain itu, budaya masyarakat Aceh yang sangat dipengaruhi oleh tradisi Islam pada waktu itu tidak memungkinkan mereka untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari pertemuan tersebut, karena Islam sangat mengharamkan riba’. Begitupun yang terjadi di internal ekonomi tradisional, menurut Boeke, tradisi tersebut membuat masyarakat pribumi Aceh tidak begitu termotivasi untuk mencari keuntungan material dari sesamanya. Inilah yang kemudian mencirikan ekonomi tradisional Aceh yang hanya berdasar pada relasi kultural dan sosial, dan jauh dari sisi komersial.

Kedatangan pihak swasta ke Aceh sebenarnya memberi jalan kepada masyarakat pribumi untuk lebih meningkatkan taraf hidupnya, melihat kesempatan yang diberikan sangat menggiurkan, apalagi pada sektor pertambangan minyak. Namun, seperti yang telah dijelaskan di atas, benturan dengan tradisi dan sikap mental yang sudah tertanam di benak masyarakat pribumi masing-masing sejak dulu, membuat mereka tidak menjadikan hal tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk meningkatkan penghasilan. Mayoritas masyarakat Aceh berpendapat bahwa bekerja sebagai buruh pada perkebunan atau pertambangan swasta merupakan sesuatu yang hina, dipertegas lagi ketika mereka merasa sudah mendapat penghasilan yang memadai dari pertanian domestik. Namun, ini hanya penggeneralisasian dari gambaran tentang respon negatif dari ekonomi domestik terhadap kedatangan ekonomi swasta. Karena yang sebenarnya terjadi tidak sepenuhnya demikian, selain yang telah dijelaskan oleh Furnivall di atas, terdapat pihak-pihak yang memang memanfaatkan kedatangan pihak swasta tersebut sebagai moment untuk mencari keuntungan komersil sebanyak-banyaknya. Pihak tersebut adalah para elit lokal, mereka ini lah yang sangat diuntungkan ketika modal swasta masuk ke Aceh. Selain telah mendapat gaji yang cukup besar tiap bulan dari pemerintah kolonial Belanda, para elit lokal juga sering mendapatkan keuntungan ketika pihak swasta membangun usaha di daerah-daerah kekuasaan mereka. Tidak jarang beberapa dari mereka pun banyak yang mempromosikan wilayahnya yang kaya akan sumber daya kepada pihak pemerintah dan swasta demi untuk mendapatkan keuntungan komersial semata.. Hal ini lah yang kemudian menjadikan para elit sebagai kapitalis tingkat lokal.

Jadi, kesimpulan yang dapat diambil, kedatangan pihak swasta tidak begitu mempengaruhi masyarakat ekonomi tradisional Aceh secara umum untuk meraih keuntungan, walaupun memang terjadi relasi komersil antara keduanya tetapi hanya pada titik-titik tertentu. Kemudian, ikatan budaya Islam yang mengharamkan riba’ ternyata berpengaruh terhadap cara pandang masyarakat Aceh kebanyakan untuk tidak begitu mementingkan keuntungan materiel dalam proses perekonomian.
Magicadespell - 21/01/2010 08:26 PM
#14

Kaskus ID : Magicadespell
Kategori : Sejarah Nasional
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Operasi_Trikora
Keterangan : Sejarah Operasi Trikora di Papua

Spoiler for "Artikel"

Operasi Trikora, juga disebut Pembebasan Irian Barat, adalah konflik dua tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat. Pada tanggal 19 Desember 1961, Presiden Indonesia Soekarno mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta. Soekarno juga membentuk Komando Mandala. Mayor Jenderal Soeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia.

Daftar isi
1 Latar belakang
2 Persiapan
2.1 Militer
2.2 Diplomasi
2.3 Ekonomi
3 Konflik bersenjata
3.1 Operasi-operasi Indonesia
3.2 Pertempuran laut Aru
3.3 Operasi penerjunan penerbang Indonesia
4 Akhir dari konflik
4.1 Persetujuan New York
4.2 Penentuan Pendapat Rakyat
4.3 Setelah penggabungan
5 Catatan kaki
6 Pranala luar

Latar belakang

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengklaim seluruh wilayah Hindia Belanda, termasuk wilayah barat Pulau Papua. Namun demikian, pihak Belanda menganggap wilayah itu masih menjadi salah satu provinsi Kerajaan Belanda,[1] sama dengan daerah-daerah lainnya. Pemerintah Belanda kemudian memulai persiapan untuk menjadikan Papua negara merdeka selambat-lambatnya pada tahun 1970-an. Namun pemerintah Indonesia menentang hal ini dan Papua menjadi daerah yang diperebutkan antara Indonesia dan Belanda. Hal ini kemudian dibicarakan dalam beberapa pertemuan dan dalam berbagai forum internasional. Dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Belanda dan Indonesia tidak berhasil mencapai keputusan mengenai Papua bagian barat, namun setuju bahwa hal ini akan dibicarakan kembali dalam jangka waktu satu tahun.[2]
Pada bulan Desember 1950, PBB memutuskan bahwa Papua bagian barat memiliki hak merdeka sesuai dengan pasal 73e Piagam PBB.[3] Karena Indonesia mengklaim Papua bagian barat sebagai daerahnya, Belanda mengundang Indonesia ke Mahkamah Internasional untuk menyelesaikan masalah ini, namun Indonesia menolak. Setelah Indonesia beberapa kali menyerang Papua bagian barat, Belanda mempercepat program pendidikan di Papua bagian barat untuk persiapan kemerdekaan. Hasilnya antara lain adalah sebuah akademi angkatan laut yang berdiri pada 1956 dan tentara Papua pada 1957. Sebagai kelanjutan, pada 17 Agustus 1956 Indonesia membentuk Provinsi Irian Barat dengan ibukota di Soasiu yang berada di Pulau Tidore, dengan gubernur pertamanya, Zainal Abidin Syah yang dilantik pada tanggal 23 September 1956.[4]
Pada tanggal 6 Maret 1959, harian New York Times melaporkan penemuan emas oleh pemerintah Belanda di dekat laut Arafura. Pada tahun 1960, Freeport Sulphur menandatangani perjanjian dengan Perserikatan Perusahaan Borneo Timur untuk mendirikan tambang tembaga di Timika, namun tidak menyebut kandungan emas ataupun tembaga.[5]

Karena usaha pendidikan Belanda, pada tahun 1959 Papua memiliki perawat, dokter gigi, arsitek, teknisi telepon, teknisi radio, teknisi listrik, polisi, pegawai kehutanan, dan pegawai meteorologi. Kemajuan ini dilaporkan kepada PBB dari tahun 1950 sampai 1961.[6] Selain itu juga didakan berbagai pemilihan umum untuk memilih perwakilan rakyat Papua dalam pemerintahan, mulai dari tanggal 9 Januari 1961 di 15 distrik. Hasilnya adalah 26 wakil, 16 di antaranya dipilih, 23 orang Papua, dan 1 wanita. Dewan Papua ini dilantik oleh gubernur Platteel pada tanggal 1 April 1961, dan mulai menjabat pada 5 April 1961. Pelantikan ini dihadiri oleh wakil-wakil dari Australia, Britania Raya, Perancis, Belanda, dan Selandia Baru. Amerika Serikat diundang tapi menolak.
Dewan Papua bertemu pada tanggal 19 Oktober 1961 untuk memilih sebuah komisi nasional untuk kemerdekaan, bendera Papua, lambang negara, lagu kebangsaan ("Hai Tanahkoe Papua"), dan nama Papua. Pada tanggal 31 Oktober 1961, bendera Papua dikibarkan untuk pertama kali dan manifesto kemerdekaan diserahkan kepada gubernur Platteel. Belanda mengakui bendera dan lagu kebangsaan Papua pada tanggal 18 November 1961, dan peraturan-peraturan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Desember 1961.
Pada 19 Desember 1961, Soekarno menanggapi pembentukan Dewan Papua ini dengan menyatakan Trikora di Yogyakarta, yang isinya adalah:
1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda.
2. Kibarkan Sang Saka Merah Putih di seluruh Irian Barat
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.[4][7]

Persiapan
Militer

Indonesia mulai mencari bantuan senjata dari luar negeri menjelang terjadinya konflik antara Indonesia dan Belanda. Indonesia mencoba meminta bantuan dari Amerika Serikat, namun gagal. Akhirnya, pada bulan Desember 1960, Jendral A. H. Nasution pergi ke Moskwa, Uni Soviet, dan akhirnya berhasil mengadakan perjanjian jual-beli senjata dengan pemerintah Uni Soviet senilai 2,5 miliar dollar Amerika dengan persyaratan pembayaran jangka panjang. Setelah pembelian ini, TNI mengklaim bahwa Indonesia memiliki angkatan udara terkuat di belahan bumi selatan.[8]
Amerika Serikat tidak mendukung penyerahan Papua bagian barat ke Indonesia karena Bureau of European Affairs di Washington, DC menganggap hal ini akan "menggantikan penjajahan oleh kulit putih dengan penjajahan oleh kulit coklat". Tapi pada bulan April 1961, Robert Komer dan McGeorge Bundy mulai mempersiapkan rencana agar PBB memberi kesan bahwa penyerahan kepada Indonesia terjadi secara legal. Walaupun ragu, presiden John F. Kennedy akhirnya mendukung hal ini karena iklim Perang Dingin saat itu dan kekhawatiran bahwa Indonesia akan meminta pertolongan pihak komunis Soviet bila tidak mendapat dukungan AS.
Indonesia membeli berbagai macam peralatan militer, antara lain 41 Helikopter MI-4 (angkutan ringan), 9 Helikopter MI-6 (angkutan berat), 30 pesawat jet MiG-15, 49 pesawat buru sergap MiG-17, 10 pesawat buru sergap MiG-19 ,20 pesawat pemburu supersonik MiG-21, 12 Kapal selam kelas Whiskey, puluhan korvet dan 1 buah Kapal penjelajah kelas Sverdlov (yang diberi nama sesuai dengan wilayah target operasi, yaitu KRI Irian). Dari jenis pesawat pengebom, terdapat sejumlah 22 pesawat pembom ringan Ilyushin Il-28, 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16, dan 12 pesawat TU-16 versi maritim yang dilengkapi dengan persenjataan peluru kendali anti kapal (rudal) air to surface jenis AS-1 Kennel. Sementara dari jenis pesawat angkut terdapat 26 pesawat angkut ringan jenis IL-14 dan AQvia-14, 6 pesawat angkut berat jenis Antonov An-12B buatan Uni Soviet dan 10 pesawat angkut berat jenis C-130 Hercules buatan Amerika Serikat.[8] ~

Diplomasi
Indonesia mendekati negara-negara seperti India, Pakistan, Australia, Selandia Baru, Thailand, Britania Raya, Jerman, dan Perancis agar mereka tidak memberi dukungan kepada Belanda jika pecah perang antara Indonesia dan Belanda.[4] Dalam Sidang Umum PBB tahun 1961, Sekjen PBB U Thant meminta Ellsworth Bunker, diplomat dari Amerika Serikat, untuk mengajukan usul tentang penyelesaian masalah status Papua bagian barat. Bunker mengusulkan agar Belanda menyerahkan Papua bagian barat kepada Indonesia melalui PBB dalam jangka waktu dua tahun.

Ekonomi
Pada tanggal 27 Desember 1958, presiden Soekarno mengeluarkan UU nomor 86 tahun 1958 yang memerintahkan dinasionalisasikannya semua perusahaan Belanda di Indonesia. Perusahaan-perusahaan yang dinasionalisasi seperti:
1. Perusahaan Perkebunan
2. Netherlansche Handels Mattscapij
3. Perusahaan Listrik
4. Perusahaan Perminyakan
5. Rumah Sakit (CBZ) manjadi RSCM

Dan kebijakan-kebijakan lain seperti:
1. Memindahkan pesar pelelangan tembakau Indonesia ke Bremen (Jerman Barat)
2. Aksi mogok buruh perusahaan Belanda di Indonesia
3. Melarang KLM (maskapai penerbangan Belanda) melintas di wilayah Indonesia
4. Melarang pemutaran film-film berbahasa Belanda

Konflik bersenjata

Soekarno membentuk Komando Mandala, dengan Mayjen Soeharto sebagai Panglima Komando. Tugas komando Mandala adalah untuk merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia. Belanda mengirimkan kapal induk Hr. Ms. Karel Doorman ke Papua bagian barat. Angkatan Laut Belanda (Koninklijke Marine) menjadi tulang punggung pertahanan di perairan Papua bagian barat, dan sampai tahun 1950, unsur-unsur pertahanan Papua Barat terdiri dari:
Koninklijke Marine (Angkatan Laut Kerajaan Belanda)
Korps Mariniers
Marine Luchtvaartdienst[7]
Keadaan ini berubah sejak tahun 1958, di mana kekuatan militer Belanda terus bertambah dengan kesatuan dari Koninklijke Landmacht (Angkatan Darat Belanda) dan Marine Luchtvaartdienst. Selain itu, batalyon infantri 6 Angkatan Darat merupakan bagian dari Resimen Infantri Oranje Gelderland yang terdiri dari 3 Batalyon yang ditempatkan di Sorong, Fakfak, Merauke, Kaimana, dan Teminabuan.[7]



Lanjut ke next post (gak muat soalnya)
Magicadespell - 21/01/2010 08:27 PM
#15

Lanjut

Spoiler for "lanjut"

Operasi-operasi Indonesia
Sebuah operasi rahasia dijalankan untuk menyusupkan sukarelawan ke Papua bagian barat. Walaupun Trikora telah dikeluarkan, namun misi itu dilaksanakan sendiri-sendiri dalam misi tertentu dan bukan dalam operasi bangunan.
Hampir semua kekuatan yang dilibatkan dalam Operasi Trikora sama sekali belum siap, bahkan semua kekuatan udara masih tetap di Pulau Jawa. Walaupun begitu, TNI Angkatan Darat lebih dulu melakukan penyusupan sukarelawan, dengan meminta bantuan TNI Angkatan Laut untuk mengangkut pasukannya menuju pantai Papua bagian barat, dan juga meminta bantuan TNI Angkatan Udara untuk mengirim 2 pesawat Hercules untuk mengangkut pasukan menuju target yang ditentukan oleh TNI AL.
Misi itu sangat rahasia, sehingga hanya ada beberapa petinggi di markas besar TNI AU yang mengetahui tentang misi ini. Walaupun misi ini sebenarnya tidaklah rumit, TNI AU hanya bertugas untuk mengangkut pasukan dengan pesawat Hercules, hal lainnya tidak menjadi tanggung jawab TNI AU.
Kepolisian Republik Indonesia juga menyiapkan pasukan Brigade Mobil yang tersusun dalam beberapa resimen tim pertempuran (RTP). Beberapa RTP Brimob ini digelar di kepulauan Ambon sebagai persiapan menyerbu ke Papua bagian barat. Sementara itu Resimen Pelopor (unit parakomando Brimob) yang dipimpin Inspektur Tingkat I Anton Soedjarwo disiagakan di Pulau Gorom. Satu tim Menpor kemudian berhasil menyusup ke Papua bagian barat melalui laut dengan mendarat di Fakfak. Tim Menpor ini terus masuk jauh ke pedalaman Papua bagian barat melakukan sabotase dan penghancuran objek-objek vital milik Belanda.
Pada tanggal 12 Januari 1962, pasukan berhasil didaratkan di Letfuan. Pesawat Hercules kembali ke pangkalan. Namun, pada tanggal 18 Januari 1962, pimpinan angkatan lain melapor ke Soekarno bahwa karena tidak ada perlindungan dari TNI AU, sebuah operasi menjadi gagal.[9]

Pertempuran laut Aru

Pertempuran Laut Aru pecah pada tanggal 15 Januari 1962, ketika 3 kapal milik Indonesia yaitu KRI Macan Kumbang, KRI Macan Tutul yang membawa Komodor Yos Sudarso, dan KRI Harimau yang dinaiki Kolonel Sudomo, Kolonel Mursyid, dan Kapten Tondomulyo, berpatroli pada posisi 04-49° LS dan 135-02° BT. Menjelang pukul 21.00, Kolonel Mursyid melihat tanda di radar bahwa di depan lintasan 3 kapal itu, terdapat 2 kapal di sebelah kanan dan sebelah kiri. Tanda itu tidak bergerak, dimana berarti kapal itu sedang berhenti. 3 KRI melanjutkan laju mereka, tiba-tiba suara pesawat jenis Neptune yang sedang mendekat terdengar dan menghujani KRI itu dengan bom dan peluru yang tergantung pada parasut.[9]
Kapal Belanda menembakan tembakan peringatan yang jatuh di dekat KRI Harimau. Kolonel Sudomo memerintahkan untuk memberikan tembakan balasan, namun tidak mengenai sasaran. Akhirnya, Yos Sudarso memerintahkan untuk mundur, namun kendali KRI Macan Tutul macet, sehingga kapal itu terus membelok ke kanan.[9] Kapal Belanda mengira itu merupakan manuver berputar untuk menyerang, sehingga kapal itu langsung menembaki KRI Macan Tutul. Komodor Yos Sudarso gugur pada pertempuran ini setelah menyerukan pesan terakhirnya yang terkenal, "Kobarkan semangat pertempuran".

Operasi penerjunan penerbang Indonesia

Pasukan Indonesia dibawah pimpinan Mayjen Soeharto melakukan operasi infiltrasi udara dengan menerjunkan penerbang menembus radar Belanda. Mereka diterjunkan di daerah pedalaman Papua bagian barat. Penerjunan tersebut menggunakan pesawat angkut Indonesia, namun, operasi ini hanya mengandalkan faktor pendadakan, sehingga operasi ini dilakukan pada malam hari. Penerjunan itu pada awalnya dilaksanakan dengan menggunakan pesawat angkut ringan C-47 Dakota yang kapasitas 18 penerjun, namun karena keterbatasan kemampuannya, penerjunan itu dapat dicegat oleh pesawat pemburu Neptune Belanda.[8]
Pada tanggal 19 Mei 1962, sekitar 81 penerjun payung terbang dari Bandar Udara Pattimura, Ambon, dengan menaiki pesawat Hercules menuju daerah sekitar Kota Teminabuan untuk melakukan penerjunan. Saat persiapan keberangkatan, komandan pasukan menyampaikan bahwa mereka akan diterjunkan di sebuah perkebunan teh, selain itu juga disampaikan sandi-sandi panggilan, kode pengenal teman, dan lokasi titik kumpul, lalu mengadakan pemeriksaan kelengkapan perlengkapan anggotanya sebelum masuk ke pesawat Hercules. Pada pukul 03.30 WIT, pesawat Hercules yang dikemudikan Mayor Udara T.Z. Abidin terbang menuju daerah Teminabuan.
Dalam waktu tidak lebih dari 1 menit, proses pendaratan 81 penerjun payung selesai dan pesawat Hercules segera meninggalkan daerah Teminabuan. Keempat mesin Allison T56A-15 C-130B Hercules terbang menanjak untuk mencapai ketinggian yang tidak dapat dicapai oleh pesawat Neptune milik Belanda.[8]
TNI Angkatan Laut kemudian mempersiapkan Operasi Jayawijaya yang merupakan operasi amfibi terbesar dalam sejarah operasi militer Indonesia.[10] Lebih dari 100 kapal perang dan 16.000 prajurit disiapkan dalam operasi tersebut.

Akhir dari konflik

Karena kekhawatiran bahwa pihak komunis akan mengambil keuntungan dalam konfik ini,[4] Amerika Serikat mendesak Belanda untuk berunding dengan Indonesia. Karena usaha ini, tercapailah persetujuan New York pada tanggal 15 Agustus 1962. Pemerintah Australia yang awalnya mendukung kemerdekaan Papua juga mengubah pendiriannya dan mendukung penggabungan dengan Indonesia atas desakan AS.[11][12]

Persetujuan New York

Pada tanggal 15 Agustus 1962, perundingan antara Indonesia dan Belanda dilaksanakan di Markas Besar PBB di New York. Pada perundingan itu, Indonesia diwakili oleh Soebandrio, dan Belanda diwakili oleh Jan Herman van Roijen dan C.W.A. Schurmann. Isi dari Persetujuan New York adalah:

- Belanda akan menyerahkan pemerintahan Papua bagian barat kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), yang didirikan oleh Sekretaris Jenderal PBB. UNTEA kemudian akan menyerahkan pemerintahan kepada Indonesia.
- Bendera PBB akan dikibarkan selama masa peralihan.
- Pengibaran bendera Indonesia dan Belanda akan diatur oleh perjanjian antara Sekretaris Jenderal PBB dan masing-masing pemerintah.
- UNTEA akan membantu polisi Papua dalam menangani keamanan. Tentara Belanda dan Indonesia berada di bawah Sekjen PBB dalam masa peralihan.
- Indonesia, dengan bantuan PBB, akan memberikan kesempatan bagi penduduk Papua bagian barat untuk mengambil keputusan secara bebas melalui
1. musyawarah dengan perwakilan penduduk Papua bagian barat
2. penetapan tanggal penentuan pendapat
3. perumusan pertanyaan dalam penentuan pendapat mengenai kehendak penduduk Papua untuk tetap bergabung dengan Indonesia; atau memisahkan diri dari Indonesia
4. hak semua penduduk dewasa, laki-laki dan perempuan, untuk ikut serta dalam penentuan pendapat yang akan diadakan sesuai dengan standar internasional
- Penentuan pendapat akan diadakan sebelum akhir tahun 1969.

Pada tanggal 1 Mei 1963, UNTEA menyerahkan pemerintahan Papua bagian barat kepada Indonesia. Ibukota Hollandia dinamai Kota Baru dan pada 5 September 1963, Papua bagian barat dinyatakan sebagai "daerah karantina". Pemerintah Indonesia membubarkan Dewan Papua dan melarang bendera Papua dan lagu kebangsaan Papua. Keputusan ini ditentang oleh banyak pihak di Papua, dan melahirkan Organisasi Papua Merdeka atau OPM pada 1965. Untuk meredam gerakan ini, dilaporkan bahwa pemerintah Indonesia melakukan berbagai tindakan pembunuhan, penahanan, penyiksaan, dan pemboman udara. Menurut Amnesty International, lebih dari 100.000 orang Papua telah tewas dalam kekerasan ini. OPM sendiri juga memiliki tentara dan telah melakukan berbagai tindakan kekerasan.


http://id.wikipedia.org/wiki/Operasi_Trikora


Bersambung p
Magicadespell - 21/01/2010 08:28 PM
#16

Spoiler for "Terakhir"

Penentuan Pendapat Rakyat
Pada tahun 1969, diselenggarakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang diatur oleh Jenderal Sarwo Edhi Wibowo. Menurut anggota OPM Moses Werror, beberapa minggu sebelum Pepera, angkatan bersenjata Indonesia menangkap para pemimpin rakyat Papua dan mencoba membujuk mereka dengan cara sogokan dan ancaman untuk memilih penggabungan dengan Indonesia.[13][14]
Pepera ini disaksikan oleh dua utusan PBB, namun mereka meninggalkan Papua setelah 200 suara (dari 1054) untuk integrasi.[15] Hasil PEPERA adalah Papua bergabung dengan Indonesia, namun keputusan ini dicurigai oleh Organisasi Papua Merdeka dan berbagai pengamat independen lainnya. Walaupun demikian, Amerika Serikat, yang tidak ingin Indonesia bergabung dengan pihak komunis Uni Soviet, mendukung hasil ini, dan Papua bagian barat menjadi provinsi ke-26 Indonesia, dengan nama Irian Jaya.

Setelah penggabungan

Setelah Papua bagian barat digabungkan dengan Indonesia sebagai Irian Jaya, Indonesia mengambil posisi sebagai berikut:
1. Papua bagian barat telah menjadi daerah Republik Indonesia sejak 17 Agustus 1945 namun masih dipegang oleh Belanda
2. Belanda berjanji menyerahkan Papua bagian barat kepada Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar
3. penggabungan Papua bagian barat dengan Indonesia adalah tindakan merebut kembali daerah Indonesia yang dikuasai Belanda
4. penggabungan Papua bagian barat dengan Indonesia adalah kehendak rakyat Papua.
Hal ini diajarkan di sekolah dan ditulis dalam buku teks sejarah nasional.[4][7][8]

Setelah Jendral Soeharto menjadi Presiden Indonesia, Freeport Sulphur adalah perusahaan asing pertama yang diberi ijin tambang dengan jangka waktu 30 tahun mulai dari tahun 1981 (walaupun tambang ini telah beroperasi sejak tahun 1972), dan kontrak ini diperpanjang pada tahun 1991 sampai tahun 2041. Setelah pembukaan tambang Grasberg pada tahun 1988, tambang ini menjadi tambang emas terbesar di dunia. Penduduk setempat dengan bantuan Organisasi Papua Merdeka memprotes berbagai tindakan pencemaran lingkungan hidup dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan Freeport dan pemerintah Indonesia dengan berbagai cara, termasuk peledakan pipa gas dan penculikan beberapa pegawai Freeport dari Eropa dan Indonesia pada tahun 1996. Dalam kejadian ini dua tawanan dibunuh dan sisanya dibebaskan.
Pada tahun 1980-an, Indonesia memulai gerakan transmigrasi, di mana puluhan ribu orang dari pulau Jawa dan Sumatera dipindahkan ke provinsi Irian Jaya dalam jangka waktu 10 tahun. Penentang program ini mencurigai usaha Indonesia untuk mendominasi provinsi Irian Jaya dengan cara memasukkan pengaruh pemerintah pusat.[16][17][18] Pada tahun 2000, presiden Abdurrahman Wahid memberi otonomi khusus kepada provinsi Papua untuk meredam usaha separatis. Provinsi ini kemudian dibagi dua menjadi provinsi Papua dan Irian Jaya Barat (sekarang Papua Barat) melalui instruksi Presiden Megawati Soekarnoputri pada tahun 2001.

Catatan kaki

^ Neles Tebay. Human Rights in Papua: An overview. Diakses pada 21 September 2007
^ Kedutaan Besar Indonesia, Oslo. The Indonesian Question in the United Nations. Diakses pada 20 September 2007
^ Perserikatan Bangsa-Bangsa. United Nations General Assembly Resolution 448(V). Diakses pada 20 September 2007
^ Martin Storey. Indonesia/West Papua. Diakses pada 2 Januari 2007
^ [1]
^ a b c d Pembebasan Papua Barat dan Pasukan Belanda di Papua Barat. Pusjarah TNI.
^ a b c d e Sibero, Tarigan, "Kisah Heroik Merebut Papua Barat (1)", TNI, 3 Mei 2006.
^ a b c Intisari. Mengenang Tragedi di Laut Aru
^ "Batalyon Armed–9/Pasopati", Patriot, 09-03-2007.
^ United States Department of State. 95/03/06 Foreign Relations, 1961-63, Vol XXIII, Southeast Asia. Diakses pada 20 September 2007
^ John F. Kennedy. Surat John F. Kennedy. Diakses pada 20 September 2007 Diarsipkan dari ftp://ftp.halcyon.com/pub/FWDP/Oceania/jfkpapua.txtpada 22 September 2007
^ The National Security Archive. Indonesia's 1969 Takeover of West Papua Not by "Free Choice". Diakses pada 20 September 2007
^ Saltford, John Francis. UNTEA and UNRWI: United Nations Involvement in West New Guinea During the 1960’s. Diakses pada 20 September 2007 Kutipan: Indonesia's final preparation for the assembly meetings have been described by several people, including assembly members. They allege that members were isolated beforehand in camps for several weeks. Forbidden to contact friends and relatives and often under armed guard, they were then subjected to a series of threats and bribes by the authorities to do exactly as they were told.
^ The Indonesia Human Rights Campaign. Act of Free Choice: The Papuans of Western New Guinea and the limitations of the right to self determination. Diakses pada 20 September 2007
^ Andrew Kilvert. Golden Promises: Indonesian migrants find themselves pawns in a war for control of West Papua. Diakses pada 20 September 2007
^ M.Adriana Sri Adhiati & Armin Bobsien (ed.). Indonesia's Transmigration Programme - An Update. Diakses pada 20 September 2007
^ The World Bank. Transmigration in Indonesia. Diakses pada 20 September 2007
sejuta bintang - 23/01/2010 04:59 PM
#17

Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Pahlawan Nasional
Sumber : http://news.okezone.com/read/2009/09/12/1/256909/makam-dibongkar-misteri-tan-malaka-terkuak dan Wikipedia
Keterangan : Sejarah Singkat Tan Malaka

Spoiler for Tan Malaka

Makam Dibongkar, Misteri Tan Malaka Terkuak

JAKARTA - Pembongkaran sebuah makam di Kediri, Jawa Timur, Sabtu ini, yang diduga berisi jasad Tan Malaka, diharapkan dapat menguak misteri 60 tahun hilanganya pahlawan tersebut.

"Kalau jasad yang berada di dalam makam yang selama ini diduga milik Tan Malaka itu benar, berarti terkuak sudah secuil misteri Tan Malaka," ujar Taufik Abdullah, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat berbincang dengan okezone, Sabtu (12/9/2009).

Taufik bercerita, pada 1949 tepatnya Februari, Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur.

"Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya," terangnya.

Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV itu kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

Keputusan Presiden Soekarno No 53 pada 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.

"Tapi yang aneh, ketika Soeharto berkuasa, Tan Malaka tidak pernah disebut-sebut, Tan Malaka dilupakan begitu saja oleh penguasa Orba," tutupnya.(ton)



BERSAMBUNG
sejuta bintang - 23/01/2010 05:12 PM
#18

Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Pahlawan Nasional
Sumber : Wikipedia
Keterangan : Sejarah Singkat Tan Malaka

Spoiler for Tan Malaka

Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 19 Februari 1896 – meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 16 April 1949 pada umur 53 tahun) adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin komunis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.

Dia kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan komunis, ia juga sering terlibat konflik dengan kepemimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan komunis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai "Pahlawan revolusi nasional" melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963.

Tan Malaka juga seorang pendiri partai Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat.
Tokoh ini diduga kuat sebagai orang di belakang peristiwa penculikan Sutan Sjahrir bulan Juni 1946 oleh "sekelompok orang tak dikenal" di Surakarta sebagai akibat perbedaan pandangan perjuangan dalam menghadapi Belanda.

Riwayat
Saat berumur 16 tahun, 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda.
Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.

Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik. Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai. Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke Kupang. Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda.

Perjuangan
Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh. Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.

Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.

Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.


sejuta bintang - 23/01/2010 05:16 PM
#19

Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Pahlawan Nasional
Sumber : Wikipedia
Keterangan : Sejarah Singkat Tan Malaka

Spoiler for Tan Malaka

Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis "Menuju Republik Indonesia". Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.

Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia" memberi komentar: "Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…."

Madilog
Wikisource memiliki naskah sumber yang berkaitan dengan Madilog
Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.

Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.

Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.

Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.

Pahlawan
Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.

Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta.

Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949.

Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.

Tan Malaka dalam fiksi
Sampul Majalah Tempo dengan Tan Malaka
Dengan julukan Patjar Merah Indonesia Tan Malaka merupakan tokoh utama beberapa roman picisan yang terbit di Medan. Roman-roman tersebut mengisahkan petualangan Patjar Merah, seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air-nya, Indonesia, dari kolonialisme Belanda. Karena kegiatannya itu, ia harus melarikan diri dari Indonesia dan menjadi buruan polisi rahasia internasional.

Salah satu roman Patjar Merah yang terkenal adalah roman karangan Matu Mona yang berjudul Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Nama Pacar Merah sendiri berasal dari karya Baronesse Orczy yang berjudul Scarlet Pimpernel, yang berkisah tentang pahlawan Revolusi Prancis.
Dalam cerita-cerita tersebut selain Tan Malaka muncul juga tokoh-tokoh PKI dan PARI lainnya, yaitu Muso (sebagai Paul Mussotte), Alimin (Ivan Alminsky), Semaun (Semounoff), Darsono (Darsnoff), Djamaluddin Tamin (Djalumin) dan Soebakat (Soe Beng Kiat).

Kisah-kisah fiksi ini turut memperkuat legenda Tan Malaka di Indonesia, terutama di Sumatera.
Beberapa judul kisah Patjar Merah:
Matu Mona. Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Medan (1938)
Matu Mona. Rol Patjar Merah Indonesia cs. Medan (1938)
Emnast. Tan Malaka di Medan. Medan (1940)
Tiga kali Patjar Merah Datang Membela (1940)
Patjar Merah Kembali ke Tanah Air (1940)

Buku
Dari Pendjara ke Pendjara
Menuju Republik Indonesia
Dari Pendjara ke Pendjara, autobiografi
Madilog
Gerpolek

cha-ndra - 29/01/2010 01:52 AM
#20

Kaskus ID : cha-ndra
Katagori : Sejarah Nasional
Sumber : Penelitian langsung dan sedikit referensi dari Mahandisyoanata.multiply.com
Keterangan :
Makam Perwira Jerman era Nazi di Arca Domas Bogor



Spoiler for Makam Jerman
Dimanakah tepatnya tempat ini? wah kalo ditanya saya juga bingung. Karena meskipun nyetir sendiri, tapi terlalu konsen sama difficulty jalan yang nightmare. Pokoknya nggak jauh dari tugu Gadog, belok kanan, mblusuk2 terus sampai Desa Sukaresmi. Tapi tenang, jalannya udah aspal kok. Lokasinya juga segar dan bisa ngelihat Gn.Salak dari lokasi ini.

Kompleks makam ini terdiri dari 10 buah makam, dengan 2 diantaranya tidak diketahui apapun infonya, sehingga ditulislah Unbekant di nisannya alias Unknown.

[spoiler=Makam]Properti Sejarah Nasional - Artikel


Spoiler for Unbekant
Properti Sejarah Nasional - Artikel


Nah kenapa ada prajurit Jerman bisa sampai ke desa ini?

Sejarahnya erat kaitannya dengan U-boat, tipe kapal selam milik Jerman yang diterjunkan untuk membantai lawan di kawasan Asia. Singkat cerita, saat Jepang berkuasa tahun 1943, Jerman pun ikut serta menjaga Indonesia sebagai milik kawannya itu. Nggak tanggung-tanggung, Jerman mengirimkan 8 kapal selamnya, U-859 dan UIT-23 (kapal selam eks Italia yang diserahkan untuk Jerman di Singapura, 10 September 1943). Kapal-kapal selam tersebut dipasang di Teluk Benggala sebagai pengaman pintu masuk di Selat Malaka, yang memakai Sabang dan Penang sebagai pelabuhan sandar. Untuk mengawal Jawa hingga ke Laut Cina Selatan, di utara Jawa ditempatkan U-168 dan U-183. di Laut Selatan Jawa dipasang U-196. di perairan timur ditempatkan U-537. di samping itu, terdapat juga kapal-kapal selam U-195 dan U-219 yang turut mendukung operasi melawan Sekutu.

Saat perang usai, sejumlah orang di antara serdadu-serdadu Jerman tewas : tiga perwira dibunuh oleh orang Indonesia, lima lainnya ada yang meninggal karena sakit dan ada pula yang tertembak dalam perjalanan kereta api dari Bandung ke Jakarta. Jadi, delapan orang Jerman tewas selama periode tersebut. Sisanya menyelamatkan diri di pulau Onrust (kep.seribu), sebelum dipulangkan kembali ke Jerman tahun 1946.

Di pemakaman ini juga terdapat tugu yang didirikan pada tahun 1926 sebagai peringatan atas Skuadron Asiatik (Ostasiatischen Beschwader), satuan angkatan laut Jerman pada Perang Dunia I yang melakukan tugas perang di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Tanah ini dulunya (sebelum menjadi pemakaman) adalah merupakan tanah milik kakak-beradik Jerman, yaitu Theodor dan Emil Hellferich, yang merupakan adik dari Karl Helfferich, mantan wakil perdana menteri di bawah Kekaisaran Jerman-Austria saat itu. Karena itulah kedua orang saudaranya kemudian membangun sebuah monumen untuk memperingati Deutsch-Östasiatisches Geschwader (Armada Jerman Asia Tenggara) yang dipimpin oleh Admiral Graf Spee yang ditenggelamkan oleh tentara Britania. Di monumen tersebut ditulis kata-kata dalam bahasa Jerman yang berbunyi: "Untuk para awak Armada Jerman Asia Tenggara yang pemberani 1914. Dibangun oleh Emil dan Theodor Helfferich." Sebagai penghargaan pada kepercayaan dan tradisi lokal, mereka juga memesan patung Buddha dan Ganesha di studio pinggir jalan setelah terpeson pada candi Prambanan di Jogja, yang ditempatkan di kedua sisi monumen itu.

Tugu ini diresmikan pada 1926 ketika kapal penjelajah Jerman "Hamburg" berkunjung ke Jawa. Seorang perwira muda kapal itu, Hans-Georg von Friedeburg, menulis tentang upacara itu dalam bukunya yang berjudul "32 000 Seemeilen auf blauem Wasser: Erlebnisse auf der Weltreise des Kreuzers 'Hamburg'" ("32.000 mil laut di laut biru: Pengalaman dalam perjalanan keliling dunia dengan kapal penjelajah "Hamburg") .

Tapi ternyata kisah sejarah di tempat ini tidaklah semuda itu. Jauh sebelum jasad para tentara Jerman bersemayam disini, Arca Domas telah menjadi saksi sejarah, bahkan kemungkinan besar dari era pra-hindu-buddha.

Isidore van Kinsbergen pernah mengabadikan situs Arca Domas, yang menyimpan banyak sekali peninggalan berupa arca-arca manusia, monyet dll, serta batu menhir. Kisah ini juga dikisahkan oleh Raffles dalam bukunya History of Java (1817).

Sayang kisah ini harus terhenti akibat menghilangnya arca-arca dan menhir tersebut. Entah kemana hilangnya. Namun bagaimanapun sayang banget..
kalau yang mau lihat arca nya bisa dilihat di

http://bagja2000.multiply.com/photos/album/82/Arca_Domas_Cikopo_yang_telah_punah

Arca Domas dalam bahasa sunda berarti 800 patung. Menurut legenda setempat, patung-patung tersebut merupakan penguasa terakhir Padjajarang, Sili-wangi bersama para pengikut dan keluarganya yang dikutuk Tuhan menjadi batu, karena menolak untuk mempercayai Islam.

Kisah lain kemudian muncul menyangkut bekas kaki pada suatu lempengan batu di lokasi tersebut. Konon, istri dari Poerwakali, anak Siliwangi, lolos dari kutukan setelah bersedia memeluk Islam akibat pengaruh seorang imam Arab. Namun ia tetap tidak dapat menyelamatkan suaminya yang di depan matanya sendiri berubah menjadi batu. Ia tetap setia. Ia kemudian membangun gubuk di bawah pohon waringin dekat patung suaminya. Setiap waktu ia isi dengan berdoa, menangis, memeluk, dan membisikan kata-kata lembut serta sumpah kesetiaan abadi kepada sang batu. Air matanya mengalir jatuh ke atas batu di bawah kakinya. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, sampai akhirnya batu yang diinjaknya menjadi lembut dan menjadi liat, itulah konon yang menyebabkan bekas kaki di sebuah lempeng batu di dekat pohon Waringin.

Sumber : Alif Rafik Khan (http://alifrafikkhan.blogspot.com)

M.Ryzki Wiryawan "Ngaleut van Oude Buitenzorg" (http://www.facebook.com/home.php#/note.php?note_id=275108276033&comments)

Sir Thomas Stamford Raffles, The history of Java,


Spoiler for Tugu Peringatan
Properti Sejarah Nasional - Artikel


Spoiler for Tugu Peringatan 2
Properti Sejarah Nasional - Artikel


[/spoiler]
Page 1 of 3 |  1 2 3 > 
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Properti Sejarah Nasional > Properti Sejarah Nasional - Artikel