Properti Sejarah Nasional
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Properti Sejarah Nasional > Properti Sejarah Nasional - Artikel
Total Views: 20637 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 2 of 3 |  < 1 2 3 > 

cha-ndra - 29/01/2010 02:00 AM
#21

Kaskus ID : Cha-ndra
Kategori : Sejarah Nasional
Sumber : pengamatan sendiri + referensi dari http://artshangkala.wordpress.comhttp://artshangkala.wordpress.com
Keterangan : Peninggalan sejarah daerah Batutulis Bogor

Spoiler for Batutulis Bogor
Waw-waw-waw.. tegang juga mau ngeliat batu tulis yang famous mau digali itu.. tetapi begitu sampai di daerah Batutulis Bogor yang menarik perhatian pertama adalah Makam Embah Dalem Batutulis. Yang ternyata adalah makam seorang Wali penyebar agama Islam di daerah ini. menurut emak2 penjaga makam, Embah Dalem ini dikenal sebagai seorang yang dalam ilmunya, dalam ibadahnya, serta dalam yang baik-baiknya. Tapi saat ini makam Embah Dalem seringkali didatangi para peziarah yang datang untuk berdoa. Kalo kamu mau nyium bau menyan yang yahud, disarankan datang ke tempat ini. Oiya, diluarnya juga ada makam2 tua, entahlah makam siapa, mungkin pengikutnya atau tokoh setempat.

Caw dari makam, rombongan Aleut berjalan ditengah terik matahari untuk menyambangi Stasiun Batutulis yang old school. Sebuah stasiun kecil yang belum tersentuh renovasi. tapi tetep keren dengan artefak bekas rel tua didepannya.

Nah abis mengamati+foto2 di stasiun, Aleut pun menuju situs Arca Puragalih yang sayang sekali ditutup untuk umum, Mungkin takut ilang kali ya. Arca ini kelihatan dari jauh merupakan arca khas Hindu.

Dari arca Puragalih, kita jalan dikit ke Prasasti Batutulis yang kesohor. Batu Tulis dibuat semasa Suwawisesa, putra Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja (1521-1535) ketika berkuasa. Prasasti ini dipersembahkan untuk mendiang ayahnya untuk membanggakan silsilah serta kebesaran karya ayahnya.

Ketika itu, kawasan Batu Tulis dipergunakan untuk upacara agama, agar Sri Baduga Maharaja yang dianggap bersemayam dalam lingga (lambing kesuburan) mampu melindungi negara yang diancam musuh. Di kawasan Batu Tulis terdapat 15 buah peninggalan berbentuk batu dari jenis batu terasit yang terdapat di sepanjang aliran Cisadane. Enam batu di dalam cungkup, satu batu di teras dan delapan batu di bagian luar.

Kalimat prasasti berbunyi:

Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu hajj di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskala-niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang, ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyanl sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca pandawa e(m) ban bumi 00.

Artinya :

Semoga selamat, ini tanda peringatan (untuk) Prabu Ratu almarhum Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (Iagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan.

Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kencana yang dipusarakan ke Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida, membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam Saka 1455.

Di komplek Prasasti juga dijumpai antara lain Batu Tapak (bekas telapak kaki Prabu Surawisesa), meja batu bekas tempat sesajen pada setiap perayaan, batu bekas sandaran tahta bagi raja yang dilantik, batu lingga tadi, dan lima buah tonggak batu yang merupakan punakawan (pengiring-penjaga-emban) dari batu lingga. Batu lingga ini adalah bekas tongkat pusaka kera*jaan Pajajaran yang melambangkan kesuburan dan kekuatan.

Habis tanya2 dan berfoto, kita jalan lagi 200 meter an untuk melihat situs yang later saya ketahui sebagai situs Panaisan yang merupakan bekas alun-alun kerajaan Pa*jajaran . Situs ini ada di pinggir jalan banget dan blung-blong. Nggak takut ilang apa ya?.

Nah karena panas, kita pun masuk lagi ke mobil dan melanjutkan perjalanan

foto menyusul
cha-ndra - 29/01/2010 02:01 AM
#22

Kaskus ID : Cha-ndra
Kategori : Sejarah Nasional
Sumber : pengamatan sendiri + referensi dari yogyes.com
Keterangan : Candi/keraton Boko Jogja

Spoiler for Boko
Boko sebelumnya pernah saya datangi bersama mama dan Bayu adik saya.. hanya saja karena bang Teguh teman saya sangat ngidam untuk datang (sebenernya foto-foto sih) ke sini, maka kami pun mampir ke Boko ini. Candi Boko letaknya hanya sekitar 1 kilo meter selatan candi Prambanan dan candi Sewu. Dari situs itu keindahan kawasan Prambanan dan candi Sewu dengan latar belakang Gunung Merapi bisa dilihat dari atas. Sebab berada di atas bukit dengan ketinggian 195,97 meter di atas permukaan laut (mdpl). Bangunan utama Situs Ratu Boko adalah peninggalan purbakala yang ditemukan kali pertama oleh arkeolog Belanda, HJ De Graaf pada abad ke-17. Tahun 1790 Van Boeckholtz menemukan reruntuhan kepurbakalaan di atas bukit Situs Ratu Boko. Penemuan itu langsung dipublikasikan. Rupanya, itu menarik minat ilmuwan Makenzic, Junghun, dan Brumun. Tahun 1814 mereka mengadakan kunjungan dan pencatatan. Seratus tahun kemudian, FDK Bosch mengadakan penelitian, dan penelitiannya diberi judul Kraton van Ratoe Boko .

Dari Situs itu sendiri ditemukan bukti tertua yang berangka tahun 792 Masehi berupa Prasasti Abhayagiriwihara. Prasasti itu menyebutkan seorang tokoh bernama Tejahpurnpane Panamkorono. Diperkirakan, dia adalah Rakai Panangkaran yang disebut-sebut dalam Prasasti Kalasan tahun 779 Masehi, Prasati Mantyasih 907 Masehi, dan Prasasti Wanua Tengah III tahun 908 Masehi. Rakai Panangkaran lah yang membangun candi Borobudur, Candi Sewu, dan Candi Kalasan. Meski demikian Situs Ratu Boko masih diselimuti misteri. Belum diketahui kapan dibangun, oleh siapa, untuk apa, dan sebagainya. Orang hanya memperkirakan itu sebuah bangunan keraton. Ia bukan berupa candi pada umumnya sebetulnya. Ia lebih menyerupai tempat tinggal fungsional. Dari hasil browsing, saya belum menemukan jawaban tepat mengenai fungsi situs Boko sebenarnya.

Meski didirikan oleh seorang Budha, istana ini memiliki unsur-unsur Hindu. Itu dapat dilihat dengan adanya Lingga dan Yoni, arca Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan "Om Rudra ya namah swaha" sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya arsitektural. Memang, saat itu Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.

Sedikit yang tahu bahwa istana ini adalah saksi bisu awal kejayaan di tanah Sumatera. Balaputradewa sempat melarikan diri ke istana ini sebelum ke Sumatera ketika diserang oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa memberontak karena merasa sebagai orang nomor dua di pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno akibat pernikahan Rakai Pikatan dengan Pramudhawardani (saudara Balaputradewa. Setelah ia kalah dan melarikan diri ke Sumatera, barulah ia menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Naik ke kawasan Boko, motor/mobil bisa diparkir di tempat parkir yang disediakan pengelola. Untuk masuk, kita dikenakan biaya Rp.10.000 dan Rp.2.000 untuk biaya retribusi parkir motor. Perlu diingat sebaiknya anda menyiapkan stamina yang cukup. Pertama menapak ke pelataran situs Boko, kita akan disambut oleh kantor pengelola yang cukup bagus, kawanan merpati yang jinak seperti di alun2 Eropa, dan air terjun (tak tahu buatan apa bukan) yang cukup menjadi first impression yang baik akan tempat ini.

Naik ke tahap 2, kita akan menemui kandang rusa yang lucu2. Di depannya kita sudah akan melihat gapura keraton Boko yang eksotis, bagaikan melihat film2 silat Indonesia. Setelah melewati gerbang, saya sarankan anda membalikkan badan, karena anda akan menemui pemandangan dahsyat yang membuat anda enggan pulang. Sebelah kiri anda akan menemui bekas candi yang dulu digunakan sebagai krematorium yang di pelatarannya terdapat sebuah lubang yang saya duga adalah tempat kremasinya (sok tahu). Lalu, dibawahnya ada mata air yang disebut (Konon) Amerta Mantana yang berarti Air Mantera. Mitos air ini dapat berguna sesuai apa yang diinginkan dan sering dimanfaatkan untuk acara prosesi ritual antara lain pengambilan air suci untuk prosesi Tawur Agung Umat Hindu.


Berjalan ke kanan, kita akan melewati runtuhan2 dan tangga turun yang nantinya akan mengantar kita menuju pendopo. Sebelum ke pendopo, karena kami semua kelaparan, kami pun memutuskan untuk makan dan bertanya macam2 ttg Boko kepada pemilik warung. Makan kami menu utamanya adalah... indomie.. oke.. tetapi kalo dimakannya di tempat eksotik gini mah, tetep aja kerasa beda.

Pendopo ini merupakan bagian yang cukup menakjubkan dimana jika kita naik keatas pendopo ini akan menemui pemandangan yang tak kalah menarik dengan di pelataran depan (Candi Ijo kelihatan looo).

Di bawah pendopo ini ada sendang-sendang kecil yang dulunya dipakai sebagai taman sari dan keputren tempta putri-putri mandi. Di Gapura keputren ini saya melihat detail-detail Kala. Di kiri bawah pendopo juga kita bisa menemukan 3 buah altar kecil dengan sebuah lubang kecil di depannya. Menurut guide saya dulu, di lubang itu pernah ditemukan bejana-bejana dan artefak lainnya.

Boko juga terkenal dengan scen sunset/sunrise nya. banyak wisatawan berkunjung ke sini magrib atau dini hari untuk memburu scene ini..

Masih belum puas, tetapi kami pun harus terus maju kearah tujuan berikutnya, Candi Ijo!!!


Nilai Boko : 8 1/2 (karena udah sebelumnya)

thx to : Yogyes.com/id
cha-ndra - 29/01/2010 02:06 AM
#23

Kaskus ID : Cha-ndra
Kategori : Sejarah Nasional
Sumber : alirsyadbogor.org.id
Keterangan : Kampung Arab Empang Bogor

Spoiler for Kampung Arab Empang Bogor
Kampung Arab ini terletak nggak jauh dari pasar Empang Bogor. Kampung ini lebih terkenal akan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dimana kampung ini banyak didatangi umat muslim, bahkan yang datang dari luar kota. Sebabnya, di Masjid An Nur yang menjadi icon kampung ini, terdapat makam salah seorang Habib terkemuka, yaitu Habib Abdullah Bin Mukhsin Alatas. Habib yang terkenal dengan nama Wali Qutub ini dipercaya sebagai cucu keturunan ketiga puluh enam Nabi Muhammad SAW. Menurut hasil browsing, kebanyakan warga Arab disini merupakan keturunan Hadramaut, Yaman, seperti halnya Habib Abdullah Bin Mukhsin Alatas.

Berdasarkan hasil browsing (thx to : al-irsyadbogor.or.id) sejarah kawasan ini pun sedikit demi sedikit terungkap.. halah..

Kita semua bisa membayangkan apa itu empang. Empang dikenal luas adalah kolam yang luas untuk memelihara hewan air (ikan, udang atau kerang).

Wilayah yang dulunya bernama Soekaati (Sukahati) ini menjadi pusat pemerintahan Kampung Baru (cikal bakal Kabupaten Bogor) tahun 1754, dibuktikan dengan adanya lapang yang dulunya berfungsi sebagai alun-alun dan bekas pendopo yang sekarang didiami oleh keluarga almarhum Abdul Azis Al-Wahdi yang berada persis menghadap ke arah alun-alun Empang.

Sebutan Empang muncul ketika Bupati Kampung Baru, yaitu Demang Wiranata (berkuasa 1749-1758, membuat kolam ikan di halaman pendopo. Maka, daerah tersebut pun diidentikkan dengan Empang dari sang bupati dan menenggelamkan nama Sukahati. dan mulai resmi digunakan sejak 28 November 1815. Di tahun 1815 pula dibangun Masjid An Nur oleh Habib Abdullah Bin Mukhsin Alatas.

Daerah tersebut mulai ditemakan sebagai permukiman masyarakat Arab sejak Tahun 1835 pemerintah mengeluarkan peraturan wijkenstelsel. Yaitu diberlakukannya zona permukiman etnis. Dimana orang-orang Eropa menempati kawasan di sebelah barat jalan raya (sekarang jalan Sudirman)
mulai dari Witte Paal sampai sebelah selatan Kebun Raya dan Pakancilan. Orang Tionghoa diberi peruntukan lahan di daerah yang berbatasan dengan jalan raya sepanjang jalan Suryakencana sampai tanjakan Empang. Sedangkan
pemukiman Arab berada di sekitar Empang.

Big thx for Al-irsyadbogor.or.id
ioryone - 10/02/2010 01:43 AM
#24

Kaskus ID : ioryone
Kategori : Sejarah Nasional
Sumber : http://marijelajahindonesia.blogspot.com/2010/01/keliling-yogyakarta.html
Keterangan : Keraton Yogyakarta

Spoiler for Keraton Yogyakarta

Properti Sejarah Nasional - Artikel


Awal dipilihnya lokasi ini sebagai pusat pemerintahan Mataram Islam tercatat dalam kitab Babad. Alkisah saat Sinuwun Mangkural Amral berkuasa dari tahun 1677-1703, beliau mendapat wangsit yang menyiratkan bahwa wahyu keraton Kartasura telah pindah ke hutan Pabringan di Yogyakarta. Menurut wangsit tersebut, di tempat ini Sinuwun mendirikan bangunan benteng calon keraton yang diberi nama Garjitawati yang berarti bisikan hati. Setelah beliau mangkat, oleh penerusnya Paku Buwana I (1703-1719), nama Garjitawati diubah menjadi Ngayugyakarta. Secara harfiah kata Ngayugya atau Ngayudya berarti maksud baik dan kerta artinya bertindak. Dengan demikian Ngayugyakarta dimaksudkan sebagai bertindaklah demi tujuan yang baik.

Pembangunan fisik menjadikan Ngayugyakarta sebagai keraton dipercepat oleh peristiwa perjanjian Gianti, 13 Februari 1755, yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Raja pertama Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I merancang sendiri bentuk bangunan keraton ini pada tahun 1756 atau tahun 1681 Jawa. Pembangunan fisik pertama selesai pada tahun 1682 Jawa ditandai dengan sengkelan memet: Dua ekor Naga yang berbelitan dengan kalimat Dwi Naga Rasa Tunggal. Sengkelan ini terdapat pada Baturana Kemagangan dan Baturana Pintuger-bang Gadhungmlathi Kemandhungan selatan.

Dengan luas bangunan mencapai 14.000 meter persegi, setiap bangunan Keraton Yogyakarta mengandung makna filosofi dan simbol kehidupan manusia. Sesuai dengan kosmologi Hindu Jawa tentang Jagad Purana yang berpusat pada suatu benua bundar Jambudwipa yang dikelilingi tujuh lapis daratan dan samudera maka keraton dibagi menjadi 7 bagian.

Lingkungan I adalah alun-alun utara sampai Siti Hinggil utara, lingkungan II adalah Keben atau Kemandungan utara, lingkungan III Siti Manganti, lingkungan IV merupakan Pusat Keraton, lingkungan V adalah Kemagangan, lingkungan VI meliputi Kemandungan kidul dan lingkungan VII adalah alun-alun selatan sampai Siti Hinggil selatan.

Kini, di dalam keraton terdapat museum Sultan Hamengku Buwono IX. Di tempat ini bisa dilihat beberapa peninggalan Sultan yang terkait dengan perannya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Masih dalam lingkungan keraton, berseberangan jalan dengan pintu masuk terdapat museum kereta kuda keraton. Di sini bisa disaksikan deretan kereta kuda milik keraton yang bernilai seni dan sejarah tinggi. Salah satunya Kyai Garudayekso buatan Belanda tahun 1861 yang khusus digunakan untuk upacara penobatan Sultan.
ioryone - 10/02/2010 01:48 AM
#25

Kaskus ID : ioryone
Kategori : Sejarah Nasional
Sumber : http://marijelajahindonesia.blogspot.com/2010/01/keliling-yogyakarta.html
Keterangan : Benteng Vredeburg (Saksi Kolonialisme Belanda di Yogyakarta)

Spoiler for Benteng Vredeburg

Properti Sejarah Nasional - Artikel


Bangunan yang terletak di ujung Jalan Malioboro ini merupakan satu saksi dari perjalanan sejarah perjuangan Yogyakarta menentang kolonialisme Belanda. Benteng ini dibangun oleh pemerintah Belanda guna melindungi rumah Residen Belanda (sekarang menjadi Gedung Agung) dan pemukiman orang-orang Belanda dari kemungkinan serangan meriam milik Keraton Yogyakarta. Sebelum dibangun menjadi benteng, di tahun 1761 tempat ini merupakan parit perlindungan atau bunker bagi tentara Belanda atau lebih dikenal dengan sebutan Rusten Burg.

Di tahun 1765, Frans Haak mengubahnya menjadi benteng dengan mengambil model benteng di daratan Eropa. Ini bisa dilihat dari ciri parit dalam yang mengelilingi banteng, kemudian ada menara pengawas di setiap sudutnya dan tembok lebar yang memungkinkan para serdadu berpatroli diatasnya dan menembak dari tempat itu. Hingga kini, semua itu masih bisa disaksikan. Karena penguasa Yogyakarta tidak berkenan dengan pembangunan benteng ini maka dibutuhkan waktu 23 tahun untuk menyelesaikannya, hal ini terjadi karena kurangnya suplai tenaga kerja dari penduduk lokal.

Dalam perjalanan sejarahnya, benteng ini sering dijadikan tempat penahanan pemimpin-pemimpin Yogya yang membangkang terhadap pemerintah kolonial Belanda sebelum dibuang ke luar Pulau Jawa. Di tempat ini pula kolaborator Belanda yang masih kerabat Sultan, Danurejo IV merancang taktik untuk menangkap Pangeran Diponegoro, putra tertua Sultan Hamengku Buwono III yang menentang Belanda.

Kini, benteng ini telah beralih fungsi menjadi museum sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Di dalamnya berisi diorama perjuangan yang menceritakan peran penting Yogyakarta. Tak heran bila di halaman dalam banteng ini terdapat patung Panglima Besar Sudirman dan Jendral Urip Sumoharjo.
ioryone - 10/02/2010 02:07 AM
#26

Kaskus ID : ioryone
Kategori : Sejarah Nasional
Sumber : link sumber
Keterangan : Balekambang, Sebuah Warisan bagi Kesenian dan Tata Ruang Kota Solo

Spoiler for Benteng Vredeburg
Sudah sejak secil saya mengenal nama Balekambang, yaitu sebuah tempat di pinggir jalan besar di daerah belakang pasar depok. Tempat dengan keadaan gelap, remang-remang, angker dan kumuh yang di sisi dalamnya berdiri sebuah gedung pertunjukan dan kolam yang tidak terawat. Orang tua saya menanamkan sebuah mindset bahwa dulu tempat kumuh itu adalah sebuah tempat yang penuh kenangan dan kejayaan. Dogma seperti itu lah yang ayah dan ibu saya tanamkan kepada saya, bahkan eyang dan salah satu budhe saya juga ikut-ikutaan dengan beragam ceritanya.

Itu dulu, cerita ketika saya masih “putih merah” tapi sekarang ketika saya sudah “bebas” dan mengambil konsentrasi di sejarah, ternyata memang benar adanya. Balekambang adalah sebuah ikon kejayaan Solo di masa lampau yang berada di bawah naungan swapraja Mangkunegaran. Dibangun oleh Sorjosoeparto yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro VII pada 26 Oktober 1921, Balekambang adalah sebuah manifestasi dari kecintaan Sorjosoeparto terhadap kedua putri tertua beliau yang bernama partini dan partinah.

Origin

Taman Balekambang pada masa dulu tidak berdiri sendiri, ada dua bagian dari taman tersebut. Yang pertaman adalah Partini tuin (taman air partini) dan Partinah bosch (hutan kota partinah) yang merupakan satu kesatuan dari taman Balekambang ini. Konsep awal pembangunan Balekambang adalah sebagai ruang publik yang meniru hutan buatan dan taman air yang ada di negeri Belanda. Dimanifestasikan sesuai dengan kesukaan Partini akan taman air dan Partinah akan pemandangan hijau yang teduh.

Seperti yang diungkap dalam babad Solo karya RM Sajid ”Ing akhir tahun 1921 dipun bikak satungiling taman hiburan ingkang resminipun nama ‘Partini Tuin’, tegesipun Taman Partini. Partini punika putra dalem ingkang sepuh piyambak. Nanging umum mastani Balekambang.” (Pada akhir tahun 1921, dibuka sebuah taman hiburan yang resminya bernama Partini Tuin, yang artinya Taman Partini. Partini itu putra dalem yang tertua. Namun umum menyebutnya dengan nama Balekambang).

Disebutnya sebagai “Balekambang” karena konon kataya bearsal dari kata Bale, yang artinya Balai atau rumah dan Kambang, yang artinya mengapung. Keduanya adalah unsur bahasa jawa. Penamaan balekambang sepertinya berasal dari perspektif apung yang akan kita lihat pada rumah-rumahan yang berada di seberang kolam Partini, seolah-olah rumah itu mengapung karena di depannya terhampar kolam buatan.

Daerah Resapan dan Persaingan Dua Raja

Tempat seluas 10 ha itu merupakan sebuah simbol kebesaran swapraja Mangkunegaran. Selain sebagai daerah resapan air dan tata air kota, Balekambang juga di fungsikan menjadi taman rekreasi dan memperindah tata ruang kota.

Mangkraknya kawasan Balekambang nampaknya memaksa sebuah revitalisasi, dan revitalisasi itu kini telah terealisasikan. Pemkot Solo mengalokasikan dana sebesar 7,5 Miliar rupah untuk merevitalisasi taman Balekambang, mengembalikan kejayaan masa lampaunya dengan tidak menghilangkan konsep aslinya, yakni sebagai hutan buatan dan ruang publik yang juga berfungsi sebagai daerah resapan air dan paru-paru kota.

Hutan kota taman Balekambang yang juga difungsikan sebagai daerah resapan air ini disebut-sebut sebagai bentuk persaingan anatara Mangkunegoro VII dan Paku Buwono X dari Kraton Kasunanan. Paku Buwana X juga memiliki Kebon rojo atau yang sekarang kita kenal dengan Sriwedari yang di kala itu juga difungsikan sebagai daerah resapan di Solo.

Kedua daerah resapan itu mengambil air dari waduk cengklik yang ada diBoyolali untuk mebersihkan saluran air bawah tahan di kota Solo dan mengalirkannya ke kali pepe.

Ikon Srimulat dan ketoprak Tobong

Gedung ketoprak adalah ikon kejayaan Taman Balekambang sebelum “kehilangan roh” di era 1980-an. Di gedung inilah legenda hidup Srimulat dilahirkan oleh tangan Teguh Srimulat, yang dilahirkan dengan nama Kho Tjien Tiong. Maestro kelahiran 1926 ini lah pendiri dari Srimulat. Nama Srimulat sendiri diambil dari nama istri pertamanya, Raden Ayu Srimulat, putri seorang wedana di daerah Bekonang yang pada saat menikah usia Teguh terpat lebih muda 18 tahun dari R.Ay Srimulat.

Ketoprak Tobong atau yang dikenal dengan ketoprak Balekambang juga sempat merasakan manisnya kebesaran Taman Balekambang. Dengan memanfaatkan bekas gedung Srimulat solo, komunitas tobong terus berkarya dan berkesenian di sini.

Hingga di era akhir 80-an dengan semakin berkemangnya media hiburan terutama televisi, para penonton seakan segan untuk melirik kesenian ini hingga benar-beanr menyebebkan mati surinya kesenian ini di akhir era 80-an.

Keunikan tersendiri dari Tobong Balekambang adalah para pemain tobong juga tinggal di sekitaran gedung tempat mereka melakukan pementasan, namun sungguh ironis ketika kesenian ini mati suru di akhir 1980-an. Taman Balekambang yang di siang hari ramai karena dipenuhi oleh “anak tobong” disiang hari menjadi sangat sepi, karena mereka harus mengais rejeki di saat sulitnya hidup yang hanya mengandalkan dari hasil pementasan tobong. Di kala itu tiket pementasan dijual antara 2500-3000 rupiah dengan jumlah penonton yang hanya bisa dihitung dengan jari.

Berbeda kondisi ketika malam hari tiba, dinamisnya aksi panggung walau sepi pengunjung tetap mereka pertahankan. Apa yang mereka bangun dari awal, yakni kesenian tobong telah menjadi way of life bagi mereka.

Sekarang taman Balekambang telah direvitalisasi, nampaknya kejayaan masa lalunya telah kembali. Pemugaran dan penambahan fasilitas sudah sangat baik sekali, sanitasi dan aspek kebersihan juga menjadi salah satu keunggulan dari taman ini. lahan Parkir dan Fasilitas hot spot serta pedagang kaki lima tak ketinggalan meramaikan Balekambang di era nya Pak Jokiwi. Tak lupa pengadaan 3 ekor rusa dan tanaman langka menjadikan Balekambang benar-benar seperti yang diinginkan oleh Partini dan Partinah. Revitalisasi telah selesai, kejayaan masa lalu telah kembali dan saatnya sekarang bagi kita untuk melestarikan tempat yang sarat manfaat dan sejarah seperti taman Balekambang
the-ray-man - 28/02/2010 12:09 PM
#27

Kaskus ID : the-ray-man
Katagori : Properti Sejarah Nasional
Sumber : wikipedia
Keterangan :
benteng rotterdam
Spoiler for ,



Benteng Rotterdam



Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.

Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.
the-ray-man - 28/02/2010 12:15 PM
#28

Kaskus ID : the-ray-man
Katagori : Properti Sejarah Nasional
Sumber : http://navigasi.net/goart.php?a=tbvanwij
Keterangan :

Spoiler for ,


Properti Sejarah Nasional - Artikel

Benteng Van der Wijck

Jika anda berkunjung ke Kebumen, tidak ada salahnya anda singgah sejenak ke objek wisata sejarah yakni benteng Van der Wijck. Lokasinya yang cukup dekat dari jalan utama/raya Kebumen -Yogya, yakni sekitar 300 meter, amatlah sayang jika dilewatkan begitu saja. Benteng kuno dengan dominasi warna merah ini cukup menyolok diantara bangunan lain, namun tersamar dari jalan utama mengingat gerbang masuk lokasi wisata ini cukup jauh dari pintu gerbang benteng. Disediakan kereta api mini yang siap mengantarkan pengunjung dari gerbang utama mengelilingi objek wisata bersejarah ini

Anda tidak usah kuatir bahwa berada dilokasi objek wisata sejarah ini, nantinya hanya akan disuguhi bangunan kuno yang cenderung membosankan dan kurang diminati anak-anak. Beberapa sarana permainan anak-anak telah dibangun disekitar benteng seperti perahu angsa, kincir putar dan berbagai macam permainan anak lainnya. Tak ketinggalan juga sebuah patung dinosaurus raksasa ikut dibangun untuk meramaikan suasana dan lebih mengakrabkan dengan dunia anak-anak. Bahkan sebuah stasiun kereta api mini dibangun dibagian atas benteng tepat diatas gerbang utama, memungkinkan pengunjung untuk mengitari sisi atas benteng dengan menggunakan kereta mini.




Didalam benteng itu sendiri pengunjung bisa melihat beberapa foto dokumentasi seputar bentuk asli bangunan benteng saat ditemukan dan tahap-tahap pemugaran yang telah dilakukan terhadapnya. Ruangan-ruangan bekas barak militer, asrama, pos jaga bisa dilihat didalam benteng dan semuanya boleh dibilang dalam keadaan rapi dan bersih. Hanya saja sebuah papan pengumuman yang ditempel dibagian luar benteng berisi "Sebelum masuk benteng sebaiknya anda berdoa sejenak menurut kepercayaan masing-masing", sempat menimbulkan kerutan didahi saat membacanya karena berkesan seram. Mungkinkah pernah terjadi hal-hal diluar nalar yang menimpa pengunjung saat berada didalam benteng, seperti kesurupan ?

Benteng Van der Wijck sebenarnya dibangun pada awal abad 19 atau sekitar tahun 1820-an, bersamaan meluasnya pemberontakan Diponegoro. Pemberontakan ini ternyata sangat merepotkan pemerintah kolonial Belanda karena Diponegoro didukung beberapa tokoh elit di Jawa bagian Selatan. Maka dari itu Belanda lalu menerapkan taktik benteng stelsel yaitu daerah yang dikuasai segera dibangun benteng. Tokoh yang memprakarsai pendirian benteng ini adalah gubernur jenderal Van den Bosch. Tujuannya jelas sebagai tempat pertahanan (sekaligus penyerangan) di daerah karesidenan Kedu Selatan. Pada masa itu, banyak benteng yang dibangun dengan sistem kerja rodi (kerja paksa) karena ada aturan bahwa penduduk harus membayar pajak dalam bentuk tenaga kerja. Tentu saja cara ini membuat penduduk kita makin menderita apalagi sebelumnya gubernur jenderal Deandels punya proyek serupa yaitu jalan raya pos (Anyer – Penarukan, sepanjang l.k. 1.000 km), juga dengan kerja rodi.





Dilihat dari bentuk bangunan, pembangunannya sezaman dengan benteng Willem (Ambarawa) dan Prins Oranje (Semarang – kini sudah hancur). Pada awal didirikan, benteng dengan tinggi tembok 10 m ini diberi nama Fort Cochius (Benteng Cochius). Namanya diambil dari salah seorang perwira militer Belanda (Frans David Cochius) yang pernah ditugaskan di daerah Bagelen (salah wilayah karesidenan Kedu). Nama Van der Wijck, yang tercantum pada bagian depan pintu masuk, merupakan salah seorang perwira militer Belanda yang pernah menjadi komandan di Benteng tersebut. Reputasi van der Wijck ini cukup cemerlang karena salah satu jasanya adalah membungkam para pejuang Aceh, tentunya dengan cara yang kejam.

Pada zaman Jepang, benteng ini dimanfaatkan sebagai barak dan tempat latihan para pejuang PETA.

Dilihat dari fisiknya, bangunan yang luasnya 3.606,62 m2 ini sudah mengalami renovasi yang cukup bagus. Sayangnya renovasi ini kurang memperhatikan kaidah konservasi bangunan bersejarah mengingat bangunan ini potensial sebagai salah satu warisan budaya (cultural heritage)


fyi : disekitarnya terakhir ane kesana ada tempat untuk rekreasinya juga D
the-ray-man - 28/02/2010 12:19 PM
#29

Kaskus ID : the-ray-man
Katagori : Properti Sejarah Nasional
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Benteng_Marlborough
Keterangan :

Spoiler for ,


Benteng Marlborough


Banteng Marlborough (Inggris:Fort Marlborough) adalah benteng peninggalan Inggris di kota Bengkulu. Benteng ini didirikan oleh East India Company (EIC) tahun 1713-1719 di bawah pimpinan gubernur Joseph Callet sebagai benteng pertahanan Inggris. Konon, benteng ini merupakan benteng terkuat Inggris di wilayah Timur setelah benteng St. George di Madras, India. Benteng ini didirikan di atas bukit buatan, menghadap ke arah kota Bengkulu dan memunggungi samudera Hindia. Benteng ini pernah dibakar oleh rakyat Bengkulu; sehingga penghuninya terpaksa mengungsi ke Madras. Mereka kemudian kembali tahun 1724 setelah diadakan perjanjian. Tahun 1793, serangan kembali dilancarkan. Pada insiden ini seorang opsir Inggris, Robert Hamilton, tewas. Dan kemudian di tahun 1807, residen Thomas Parr juga tewas. Keduanya diperingati dengan pendirian monumen-monumen di kota Bengkulu oleh pemerintah Inggris.

Marlborough masih berfungsi sebagai benteng pertahanan hingga masa Hindia-Belanda tahun 1825-1942, Jepang tahun 1942-1945, dan pada perang kemerdekaan Indonesia. Sejak Jepang kalah hingga tahun 1948, benteng itu manjadi markas Polri. Namun, pada tahun 1949-1950, benteng Marlborough diduduki kembali oleh Belanda. Setelah Belanda pergi tahun 1950, benteng Marlborough menjadi markas TNI-AD. Hingga tahun 1977, benteng ini diserahkan kepada Depdikbud untuk dipugar dan dijadikan bangunan cagar budaya.
the-ray-man - 28/02/2010 12:23 PM
#30

Kaskus ID : the-ray-man
Katagori : Properti Sejarah Nasional
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Benteng_Vastenberg
Keterangan :

Spoiler for ,



Benteng Vastenberg



Benteng Vastenberg adalah benteng peninggalan Belanda yang terletak di kawasan Gladak, Surakarta. Benteng ini dibangun tahun 1745 oleh gubernur jenderal Baron Van Imhoff. Benteng ini berfungsi sebagai benteng pengawas mengawasi gerak-gerik keraton Kasunanan dan terletak kediaman gubernur Belanda (sekarang kantor Balaikota) di kawasan Gladak. Bentuk tembok benteng berupa bujur sangkar yang ujung-ujungnya terdapat penonjolan ruang yang disebut seleka (bastion). Di sekeliling tembok benteng terdapat parit yang berfungsi sebagai pertahanan dengan jembatan di pintu depan dan belakang. Bangunan terdiri dari beberapa barak yang terpisah dengan fungsi masing-masing dalam militer. Di tengahnya terdapat lahan terbuka untuk persiapan pasukan atau apel bendera.

Setelah kemerdekaan, benteng ini digunakan sebagai markas TNI untuk mempertahankan kemerdekaan. Pada masa 1970-1980-an bangunan sering digunakan sebagai tempat pelatihan keprajuritan dan pusat Brigade Infanteri 6/Trisakti Baladaya / Kostrad untuk wilayah Karesidenan Surakarta dan sekitarnya.
the-ray-man - 28/02/2010 12:26 PM
#31

Kaskus ID : the-ray-man
Katagori : Properti Sejarah Nasional
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Dwi_Warna
Keterangan :

Spoiler for ,

Gedung Dwi Warna

Gedung Dwi Warna adalah suatu bangunan bersejarah di Kota Bandung, Jawa Barat, yang dipergunakan sebagai tempat rapat komisi pada Konferensi Asia Afrika (1955). Gedung ini pernah menjadi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat dan gedung Sekretariat KAA Tahun 1955. Seusai KAA, bangunan ini dijadikan sebagai Kantor Pusat Pensiunan dan Pegawai, lalu Kantor Pusat Administrasi Belanja Pegawai yang namanya Subdirektorat Pengumpulan Data Seluruh Indonesia. Kini, gedung tersebut dipergunakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan Departemen Keuangan Republik Indonesia Kantor Wilayah XII Bandung.

Gedung tersebut dibangun pada tahun 1940 di bawah pengawasan "Technische Dienst voor Stadsgemeente Bandoeng" dan diperuntukkan sebagai tempat dana pensiun seluruh Indonesia, dengan nama Gedung Dana Pensiun. Pada waktu pemerintahan Jepang berkuasa di Indonesia, gedung itu dipergunakan sebagai gedung Kempeitai. Kemudian pada masa pendudukan Belanda berfungsi sebagai Gedung "Recomba",

Selain menjadi tempat sekretariat konferensi, sebagian lahan di gedung tersebut juga dipergunakan para delegasi untuk bersidang (bersama dengan Gedung Concordia). Komisi Politik, Komisi Ekonomi, dan Komisi Kebudayaan bermusyawarah di gedung tersebut. Soekarno meresmikan penggantian nama Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka dan Gedung Dana Pensiun menjadi Gedung Dwi Warna pada waktu memeriksa persiapan terakhir di Bandung pada tanggal 17 April 1955.
the-ray-man - 28/02/2010 12:39 PM
#32

Kaskus ID : the-ray-man
Katagori : Properti Sejarah Nasional
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Harmoni
Keterangan :

Spoiler for ,


Gedung Harmoni

Properti Sejarah Nasional - Artikel
Gedung Harmoni (Belanda: Societeit Harmonie) adalah gedung Belanda yang dulu terletak di ujung jalan Veteran dan Majapahit, kawasan Harmoni, Jakarta Pusat. Gedung ini mulai dikerjakan tahun 1810 dan digunakan sebagai tempat perkumpulan (societeit) dan pesta orang Belanda. Pendirian gedung itu diprakarsai oleh Gubernur Jendral Reinier de Klerk tahun 1776. Gedung ini kemudian dirobohkan pada bulan Maret 1985 karena pertimbangan perluasan jalan.
[sunting] Sejarah

Sebelum digunakan sebagai tempat perkumpulan, gedung Harmoni merupakan sebuah benteng pertahanan bernama Rijswijk yang terletak di luar kota Batavia untuk menjaga jalan masuk kota dari arah selatan. Benteng Rijswijk kemudian mengalami kerusakan pada kerusuhan Tionghoa 1740. Bertahun-tahun kemudian benteng Rijswijk menjadi tidak terurus.

Pada pemerintahan gubernur Jenderal Daendels tahun 1810, kawasan Harmoni mulai dibenahi termasuk benteng Rijswijk. Daendels memerintahkan Mayor Schultze yang telah merancang istana di lapangan Banteng untuk merancang gedung perkumpulan di Rijswijk. Awalnya, bangunan untuk klub itu berada di Jalan Pintu Besar Selatan. Namun, karena kawasan itu semakin kotor, Daendels memindahkan bangunan tersebut ke pojok Jalan Veteran dan Majapahit.

Pembangunan Daendels kemudian dilanjutkan oleh Gubernur Jenderal Inggris Raffles. Gedung Harmoni secara resmi dibuka pada Agustus 1868 dengan perayaan ulang tahun Ratu Charlotte dari Inggris. Pada bulan Maret 1985, gedung Harmoni dirobohkan untuk pelebaran jalan dan tempat parkir kantor Sekretariat Negara.
capt_alfons - 03/03/2010 07:32 AM
#33

Kaskus ID : capt_alfons
Katagori : Sejarah Nasional
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Merdeka
Keterangan : Sejarah Gedung Merdeka Bandung

Properti Sejarah Nasional - Artikel

Quote:
Gedung Merdeka di jalan Asia-Afrika, Bandung, Indonesia, adalah gedung yang pernah digunakan sebagai tempat Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika tahun 1955. Pada saat ini digunakan sebagai museum.

Arsitektur Bangunan

Bangunan ini dirancang oleh Van Galen Last dan C.P. Wolff Schoemaker. Keduanya adalah Guru Besar pada Technische Hogeschool (Sekolah Teknik Tinggi), yaitu ITB sekarang, dua arsitektur Belanda yang terkenal pada masa itu, Gedung ini kental sekali dengan nuansa art deco dan gedung megah ini terlihat dari lantainya yang terbuat dari marmer buatan Italia yang mengkilap, ruangan-ruangan tempat minum-minum dan bersantai terbuat dari kayu cikenhout, sedangkan untuk penerangannya dipakai lampu-lampu bias kristal yang tergantung gemerlapan. Gedung ini menempati areal seluas 7.500 m2.

Sejarah Gedung

Pada saat itu bangunan ini bernama SOCIËTEIT CONCORDIA dipergunakan sebagai tempat rekreasi oleh sekelompok masyarakat Belanda yang berdomisili di kota Bandung dan sekitarnya. Mereka adalah para pegawai perkebunan, perwira, pembesar, pengusaha, dan kalangan lain yang cukup kaya. Pada hari libur, terutama malam hari, gedung ini dipenuhi oleh mereka untuk menonton pertunjukan kesenian, makan malam.

Pada masa pendudukan Jepang gedung ini dinamakan Dai Toa Kaman dengan fungsinya sebagai pusat kebudayaan.

Pada masa proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 gedung ini digunakan sebagai markas pemuda Indonesia guna menghadapi tentara Jepang yang pada waktu itu enggan menyerahkan kekuasaannya kepada Indonesia.

Setelah pemerintahan Indonesia mulai terbentuk (1946 - 1950) yang ditandai oleh adanya pemerintahan Haminte Bandung, Negara Pasundan, dan Recomba Jawa Barat, Gedung Concordia dipergunakan lagi sebagai gedung pertemuan umum. disini biasa diselenggarakan pertunjukan kesenian, pesta, restoran, dan pertemuan umum lainnya.

Dengan keputusan pemerintah Republik Indonesia (1954) yang menetapkan Kota Bandung sebagai tempat Konferensi Asia Afrika, maka Gedung Concordia terpilih sebagai tempat konferensi tersebut. Pada saat itu Gedung Concordia adalah gedung tempat pertemuan yang paling besar dan paling megah di Kota Bandung . Dan lokasi nya pun sangat strategis di tengah-tengah Kota Bandung serta dan dekat dengan hotel terbaik di kota ini, yaitu Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger

Dan mulai awal tahun 1955 Gedung ini dipugar dan disesuaikan kebutuhannya sebagai tempat konferensi bertaraf International, dan pembangunannya ditangani oleh Jawatan Pekerjaan Umum Propinsi Jawa Barat yang dimpimpin oleh Ir. R. Srigati Santoso, dan pelaksana pemugarannya adalah : 1) Biro Ksatria, di bawah pimpinan R. Machdar Prawiradilaga 2) PT. Alico, di bawah pimpinan M.J. Ali 3) PT. AIA, di bawah pimpinan R.M. Madyono

Setelah terbentuk Konstituante Republik Indonesia sebagai hasil pemilihan umum tahun 1955, Gedung Merdeka dijadikan sebagai Gedung Konstituante. Karena Konstituante dipandang gagal dalam melaksanakan tugas utamanya, yaitu menetapkan dasar negara dan undang-undang dasar negara, maka Konstituante itu dibubarkan oleh Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959. Selanjutnya, Gedung Merdeka dijadikan tempat kegiatan Badan Perancang Nasional dan kemudian menjadi Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang terbentuk tahun 1960. Meskipun fungsi Gedung Merdeka berubah-ubah dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan yang dialami dalam perjuangan mempertahankan, menata, dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia , nama Gedung Merdeka tetap terpancang pada bagian muka gedung tersebut.


Pada tahun 1965 di Gedung Merdeka dilangsungkan Konferensi Islam Asia Afrika. Pada tahun 1971 kegiatan MPRS di Gedung Merdeka seluruhnya dialihkan ke Jakarta . Setelah meletus pemberontakan G30S/ PKI, Gedung Merdeka dikuasai oleh instansi militer dan sebagian dari gedung tersebut dijadikan sebagai tempat tahanan politik G30S/ PKI. Pada bulan Juli 1966, pemeliharaan Gedung Merdeka diserahkan oleh pemerintah pusat kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat, yang selanjutnya oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat diserahkan lagi pelaksanaannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Bandung. Tiga tahun kemudian, tanggal 6 Juli 1968, pimpinan MPRS di Jakarta mengubah surat keputusan mengenai Gedung Merdeka (bekas Gedung MPRS) dengan ketentuan bahwa yang diserahkan adalah bangunan induknya, sedangkan bangunan-bangunan lainnya yang terletak di bagian belakang Gedung Merdeka masih tetap menjadi tanggung jawab MPRS.

Pada Maret 1980 Gedung ini kembali dipercayakan menjadi tempat peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-25 dan pada Puncak peringatannya diresmikan Museum Konferensi Asia Afrika oleh Soeharto, Presiden Republik Indonesia - 2.
the-ray-man - 03/03/2010 10:36 PM
#34

Kaskus ID : the-ray-man
Katagori : Properti Sejarah Nasional
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Sate
Keterangan :

Gedung Sate


Spoiler for ,



Gedung Sate, dengan ciri khasnya berupa ornamen tusuk sate pada menara sentralnya, telah lama menjadi penanda atau markah tanah Kota Bandung yang tidak saja dikenal masyarakat di Jawa Barat, namun juga seluruh Indonesia bahkan model bangunan itu dijadikan pertanda bagi beberapa bangunan dan tanda-tanda kota di Jawa Barat. Misalnya bentuk gedung bagian depan Stasiun Kereta Api Tasikmalaya. Mulai dibangun tahun 1920, gedung berwarna putih ini masih berdiri kokoh namun anggun dan kini berfungsi sebagai gedung pusat pemerintahan Jawa Barat.

Gedung Sate yang pada masa Hindia Belanda itu disebut Gouvernements Bedrijven (GB), peletakan batu pertama dilakukan oleh Johanna Catherina Coops, puteri sulung Walikota Bandung, B. Coops dan Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jenderal di Batavia, J.P. Graaf van Limburg Stirum pada tanggal 27 Juli 1920, merupakan hasil perencanaan sebuah tim yang terdiri dari Ir.J.Gerber, arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks serta pihak Gemeente van Bandoeng, diketuai Kol. Pur. VL. Slors dengan melibatkan 2000 pekerja, 150 orang diantaranya pemahat, atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu atau Kanton, dibantu tukang batu, kuli aduk dan peladen yang berasal dari penduduk Kampung Sekeloa, Kampung Coblong Dago, Kampung Gandok dan Kampung Cibarengkok, yang sebelumnya mereka menggarap Gedong Sirap (Kampus ITB) dan Gedong Papak (Balai Kota Bandung).

Selama kurun waktu 4 tahun pada bulan September 1924 berhasil diselesaikan pembangunan induk bangunan utama Gouverments Bedrijven, termasuk kantor pusat PTT (Pos, Telepon dan Telegraf dan Perpustakaan.

Arsitektur Gedung Sate merupakan hasil karya arsitek Ir. J.Gerber dan kelompoknya yang tidak terlepas dari masukan maestro arsitek Belanda Dr.Hendrik Petrus Berlage, yang bernuansakan wajah arsitektur tradisional Nusantara.

Banyak kalangan arsitek dan ahli bangunan menyatakan Gedung Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona dengan gaya arsitektur unik mengarah kepada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa, (Indo Europeeschen architectuur stijl), sehingga tidak mustahil bila keanggunan Candi Borobudur ikut mewarnai Gedung Sate.

Beberapa pendapat tentang megahnya Gedung Sate diantaranya Cor Pashier dan Jan Wittenberg dua arsitek Belanda, yang mengatakan "langgam arsitektur Gedung Sate adalah gaya hasil eksperimen sang arsitek yang mengarah pada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa".

D. Ruhl dalam bukunya Bandoeng en haar Hoogvlakte 1952, "Gedung Sate adalah bangunan terindah di Indonesia".

Ir. H.P.Berlage, sewaktu kunjungan ke Gedung Sate April 1923, menyatakan, "Gedung Sate adalah suatu karya arsitektur besar, yang berhasil memadukan langgam timur dan barat secara harmonis". Seperti halnya gaya arsitektur Italia di masa renaiscance terutama pada bangunan sayap barat. Sedangkan menara bertingkat di tengah bangunan mirip atap meru atau pagoda. Masih banyak lagi pendapat arsitek Indonesia yang menyatakan kemegahan Gedung Sate misalnya Slamet Wirasonjaya, dan Ir. Harnyoto Kunto.

Kuat dan utuhnya Gedung Sate hingga kini, tidak terlepas dari bahan dan teknis konstruksi yang dipakai. Dinding Gedung Sate terbuat dari kepingan batu ukuran besar (1 × 1 × 2 m) yang diambil dari kawasan perbukitan batu di Bandung timur sekitar Arcamanik dan Gunung Manglayang. Konstruksi bangunan Gedung Sate menggunakan cara konvensional yang profesional dengan memperhatikan standar teknik.

Gedung Sate berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 m², luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m² dan teras menara 205,169 m².

Gerber sendiri memadukan beberapa aliran arsitektur ke dalam rancangannya. Untuk jendela, Gerber mengambil tema Moor Spanyol, sedangkan untuk bangunannya dalah Rennaisance Italia. Khusus untuk menara, Gerber memasukkan aliran Asia, yaitu gaya atap pura Bali atau pagoda di Thailand. Di puncaknya terdapat "tusuk sate" dengan 6 buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati), yang melambangkan 6 juta gulden - jumlah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate.

Fasade (tampak depan) Gedung Sate ternyata sangat diperhitungkan. Dengan mengikuti sumbu poros utara-selatan (yang juga diterapkan di Gedung Pakuan, yang menghadap Gunung Malabar di selatan), Gedung Sate justru sengaja dibangun menghadap Gunung Tangkuban Perahu di sebelah utara.

Dalam perjalanannya semula diperuntukkan bagi Departemen Lalulintas dan Pekerjaan Umum, bahkan menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda setelah Batavia dianggap sudah tidak memenuhi syarat sebagai pusat pemerintahan karena perkembangannya, sehingga digunakan oleh Jawatan Pekerjaan Umum. Tanggal 3 Desember 1945 terjadi peristiwa yang memakan korban tujuh orang pemuda yang mempertahankan Gedung Sate dari serangan pasukan Gurkha. Untuk mengenang ke tujuh pemuda itu, dibuatkan tugu dari batu yang diletakkan di belakang halaman Gedung Sate. Atas perintah Menteri Pekerjaan Umum pada tanggal 3 Desember 1970 Tugu tersebut dipindahkan ke halaman depan Gedung Sate.

Gedung Sate sejak tahun 1980 dikenal dengan sebutan Kantor Gubernur karena sebagai pusat kegiatan Pemerintah Propinsi Jawa Barat, yang sebelumnya Pemerintahaan Propinsi Jawa Barat menempati Gedung Kerta Mukti di Jalan Braga Bandung.

Ruang kerja Gubernur terdapat di lantai II bersama dengan ruang kerja Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah, Para Assisten dan Biro. Saat ini Gubernur di bantu oleh tiga Wakil Gubernur yang menangani Bidang Pemerintahan, Bidang Ekonomi dan Pembangunan, serta Bidang Kesejahteraan Rakyat, seorang Sekretaris Daerah dan Empat Asisten yaitu Asisten Ketataprajaan, Asisten Administrasi Pembangunan, Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi.

Namun tidak seluruh Asisten menempati Gedung Sate. Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi bersama staf menempati Gedung Baru.

Di bagian timur dan barat terdapat dua ruang besar yang akan mengingatkan pada ruang dansa (ball room) yang sering terdapat pada bangunan masyarakat Eropa. Ruangan ini lebih sering dikenal dengan sebutan aula barat dan aula timur, sering digunakan kegiatan resmi. Di sekeliling kedua aula ini terdapat ruangan-ruangan yang ditempati beberapa Biro dengan Stafnya.

Paling atas terdapat lantai yang disebut Menara Gedung Sate, lantai ini tidak dapat dilihat dari bawah, untuk menuju ke lantai teratas menggunakan Lift atau dengan menaiki tangga kayu.

Kesempurnaan megahnya Gedung Sate dilengkapi dengan Gedung Baru yang mengambil sedikit gaya arsitektur Gedung Sate namun dengan gaya konstektual hasil karya arsitek Ir.Sudibyo yang dibangun tahun 1977 diperuntukkan bagi para Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai Lembaga Legislatif Daerah.

Gedung Sate telah menjadi salah satu tujuan obyek wisata di kota Bandung. Khusus wisatawan manca negara banyak dari mereka yang sengaja berkunjung karena memiliki keterkaitan emosi maupun history pada Gedung ini. Keterkaitan emosi dan history ini mungkin akan terasa lebih lengkap bila menaiki anak tangga satu per satu yang tersedia menuju menara Gedung Sate. Ada 6 tangga yang harus dilalui dengan masing-masing 10 anak tangga yang harus dinaiki.

Keindahan Gedung Sate dilengkapi dengan taman disekelilingnya yang terpelihara dengan baik, tidak heran bila taman ini diminati oleh masyarakat kota Bandung dan para wisatawan baik domestik maupun manca negara. Keindahan taman ini sering dijadikan lokasi kegiatan yang bernuansakan kekeluargaan, lokasi shooting video klip musik baik artis lokal maupun artis nasional, lokasi foto keluarga atau foto diri bahkan foto pasangan pengantin.

Khusus di hari minggu lingkungan halaman Gedung Sate dijadikan pilihan tempat sebagian besar masyarakat untuk bersantai, sekedar duduk-duduk menikmati udara segar kota Bandung atau berolahraga ringan.

Membandingkan Gedung Sate dengan bangunan-bangunan pusat pemerintahan (capitol building) di banyak ibukota negara sepertinya tidak berlebihan. Persamaannya semua dibangun di tengah kompleks hijau dengan menara sentral yang megah. Terlebih dari segi letak gedung sate serta lanskapnya yang relatif mirip dengan Gedung Putih di Washington, DC, Amerika Serikat. Dapat dikatakan Gedung Sate adalah "Gedung Putih"nya kota Bandung.
the-ray-man - 05/03/2010 10:34 PM
#35

Kaskus ID : the-ray-man
Katagori : Properti Sejarah Nasional
Sumber : http://teamtouring.net/museum-linggarjati.html
Keterangan :

Museum Linggarjati

Spoiler for ,


Properti Sejarah Nasional - Artikel


Perundingan Linggarjati atau kadang juga disebut Perundingan Linggajati adalah suatu perundingan antara Indonesia dan Belanda di Linggarjati, Jawa Barat yang dilaksanakan pada tanggal 10-13 November 1946. Menghasilkan persetujuan mengenai status kemerdekaan Indonesia. Hasil perundingan ini ditandatangani di Istana Merdeka Jakarta pada 15 November 1946 dan diratifikasi kedua negara pada 25 Maret 1947.

Museum Linggarjati

Linggarjati, merupakan bagian yang sangat penting dari perjalanan sejarah Bangsa Indonesia, sehingga sampai sekarang bisa menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat. Diantara isi pokok persetujuan Linggarjati adalah : (1) Belanda mengakui secara De Facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura; (2) Republik Indonesia dan Belanda akan bekerjasama dalam membentuk negara Indonesia Serikat, yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia;(3) Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia – Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya.

Peristiwa yang berlangsung 59 tahun silam tersebut, masih dapat kita saksikan melalui peninggalan-peninggalan yang ada di Gedung Linggarjati, sekaligus dijadikan sebagai salah satu bangunan cagar budaya oleh Pemerintah sesuai dengan UU.No.5 tahun 1992. Desa Linggarjati sendiri berada di wilayah Blok Wage, Dusun Tiga, Kampung Cipaku, kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Desa ini terletak pada ketinggian 400 meter di atas permukaan air laut, dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Sebelah selatan desa ini berbatasan dengan Desa Linggasana, sebelah timur berbatasan dengan Desa Linggamekar, sebelah utara berbatasan dengan Desa Lingga Indah dan sebelah barat berbatasan dengan Gunung Ciremai. Untuk mencapai lokasi ini tidaklah terlalu sulit, karena akses jalan aspal yang mulus, sehingga mudah sekali dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dari arah Cirebon kurang lebih 25 km sedangkan dari arah Kuningan kurang lebih 17 km.



Hawa sejuk dan damai akan kita rasakan ketika mulai memasuki pelataran Gedung Linggarjati. Bangunan kuno dan megah yang dikelilingi oleh taman yang asri, dengan suasana yang tidak terlalu ramai, semakin menambah penghayatan suasana Linggarjati. Luas komplek Linggarjati kurang lebih 2,4 hektare, dimana sepertiga dari luas tersebut merupakan bangunan gedung yang dipergunakan untuk perundingan. Bangunan ini sendiri tadinya dibangun oleh warga negara Belanda, sebagai tempat peristirahatan, yang kemudian dipilih sebagai tempat perundingan dan akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Indonesia sebagai salah satu bangunan cagar budaya Pemerintah Indonesia. Walaupun berupa bangunan lama, tapi secara keseluruhan kebersihan gedung ini nampak terjaga sekali. Ada 14 orang yang membantu merawat gedung ini, diantaranya 7 orang merupakan PNS ( Pegawai Negeri Sipil ), dan sisanya adalah pegawai honorer.



Properti Sejarah Nasional - Artikel

Bangunan ini terdiri dari beberapa ruang, yaitu ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, kamar mandi dan ruang belakang. Ruang tamu dipergunakan sebagai ruang untuk melakukan lobi dan meeting informal. ruang tengah merupakan ruang utama, dimana perjanjian Linggarjati dilaksanakan. Ternyata posisi kursi yang diduduki oleh para anggota perundingan masih sama seperti dulu waktu perundingan dilangsungkan. diantara para peserta perundingan tersebut adalah, delegasi Indonesia terdiri dari :

1.Sutan Sjahrir

2.Mr.Soesanto Tirtoprodjo

3.Dr.A.K.Gani

4.Mr.Muhammad Roem

delegasi Belanda terdiri dari

1.Prof.Ir. Schermerhorn

2.Mr.Van Poll

3.Dr.F.DeBoer

4.Dr.Van Mook

Dan sebagai notulensi adalah

1.Dr.J.Leimena

2.Dr.Soedarsono

3.Mr.Amir Sjarifuddin

3.Mr.Ali Budiardjo

Kamar-kamar tidur yang bersebelahan dengan ruang perundingan merupakan tempat tidur yang dipergunakan oleh delegasi Indonesia dan Belanda selama mengikuti jalannya perundingan.

Latar Sejarah

Sebelum menjadi Museum Perundingan Linggajati bangunan ini berupa gubuk milik Ibu Jasitem (1918), kemudian pada tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi rumah semi permanen, pada tahun 1930-1935 setelah dibeli keluarga Van Ost Dome (bangsa Belanda) dirombak menjadi rumah tinggal seperti sekarang, kemudian pada tahun 1935 -1946) dikontrak Heiker (bangsa Belanda) dijadikan Hotel yang bernama Rus “Toord”.

Keadaan ini berlanjut setelah Jepang menduduki Indonesia dan diteruskan setelah kemerdekaan Indonesia. Pada zaman pendudukan Jepang, hotel tersebut berubah namanya menjadi Hotel Hokay Ryokan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945 hotel ini diberi nama Hotel Merdeka. Jika diperhatikan, pembagian ruangan dalam Museum Perundingan Linggajati sekarang masih menyerupai pembagian ruangan untuk bangunan hotel.

Pada tahun 1946 di gedung ini berlangsung peristiwa bersejarah yaitu Perundingan antar Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda yang menghasilkan Naskah Linggarjati sehingga gedung ini sering disebut Gedung Perundingan Linggajati. Sejak aksi militer tentara Belanda ke-2 1948-1950 gedung dijadikan markas Belanda, kemudian pada tahun 1950 – 1975 difungsikan menjadi Sekolah Dasar Negeri Linggajati, selanjutnya pada tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tetapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk Sekolah Dasar Negeri Linggajati yang selanjutnya pada tahun 1976 gedung ini oleh diserahkan Kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan Museum Memorial.
capt_alfons - 06/04/2010 05:40 PM
#36
Artikel Gerbong Maut Bondowoso
Kaskus ID : capt_alfons
Kategori : Properti Sejarah Nasional
Bentuk Karya : Artikel tentang Gerbong Maut Bondowoso
Sumber : http://indonesiadutch.blogspot.com/2008/12/de-lijkentrein-van-bondowoso-gerbong.html
Keterangan : Cerita tentang kejadian kelam di Gerbong Maut,Bondowoso - Surabaya

Spoiler for artikel

GERBONG MAUT

Dikirim oleh Djoko Sri Moeljono (71 thn.), putra Soetedjo, penulis kisah ini.

Rasanja lontjeng tanda pukul satu belum lama dipukul, kok sipir pendjara sudah membangunkan kita?
"Bangun, bangun dan siap-siap pindah, bereskan semua barang-barang."
Rupanja kita djadi juga pindah setelah kemarin sempat dibatalkan mendadak. Maka di pagi buta kami membereskan semua barang jang tidak banjak jumlahnja.
Dipagi buta dan masih gelap, kami digiring keluar penjara dan setelah melewati gerbang utama, semua seratus tawanan berjalan beriringan keluar halaman pendjara Bondowoso jang terletak disebelah Timur Alun-alun, bersebelahan dengan Kantor Pos. Kita berdjalan dengan diam, setelah Kantor Pos belok ke kiri melewati tenis baan (lapangan Trnnis – red.), kemudian menudju ke arah pasar.

Pengawal jang berjalan disebelah kita banjak sekali, semua diam sepandjang jalan di pagi jang dingin. Kita tahu arahnja pasti ke stasiun dan setelah melewati djembatan dan Gedung Karesidenen kelihatan di sebelah kiri kita berarti sebentar lagi sampai ke stasiun. Di stasiun kita menunggu tjukup lama sampai semua tawanan masuk kedalam gerbong barang jang banjaknja ada 3.

Di gerbong depan ada 24 tawanan, di gerbong tengah di mana kita berada, djumlah tawanan 38 orang dan ini sama banjaknja dengan gerbong belakang. Saat selesai,masih pagi dan kira-kira djam 5 pagi. Setelah kita berada dalam gerbong barang (atap dan dinding zink dan lantai kaju) pintu ditutup. Terasa mulai panas (Djawa: ungkep). Semakin lama mendjadi semakin panas dan orang mulai membuka badjunja.

Kepada mereka kita nesehatkan agar djangan merokok, karena asap rokok akan menambah buruknja hawa. Kita sudah meraba-raba kedjadian jang kurang baik, tetapi karena kita tak mempunjai alat apa2, maka hanja menjerah kepada Tuhan jang Maha Esa.

Setelah kita berada dalam gerbong satu djam lamanja, hawa mendjadi buruk sekali, orang2 mendjadi gelisah dan mereka buka pakaiannja sama sekali, telandjang bulat beberapa orang. Kepada mereka dinasehatkan agar djangan banjak bergerak dan ada jang mulai menghirup hawa lewat tjelah-tjelah pintu.

Keluh kesah mulai terdengar dan kita sendiri duduk tenang dan mentjari-tjari di kanan-kiri kita kalau2 ada lantai papan jang sudah rapuh. Dengan kuku kita tjoba-tjoba korek lantai dan kemudian dengan sendok seng kita mentjoba membuat lobang. Tetapi gagal karena sendok seng kurang kuat, sedang kaju lantai belum begitu rapuh. Achirnja dengan sendok dan garpu jang lebih kuat, saat sampai di halte pertama, gerbong dan pintu tetap terkuntji rapat. Dengan sendok dan garpu pemberian hadji Samsuri, kita berhasil membuat lobang sebesar kira2 3 cm lebar dan 10 cm pandjang. Kami sekarang punja dua sumber hawa, tjelah2 pintu dan lobang di lantai.
Kita suru orang bergantian mengisap hawa lewat lobang. Mereka kalau tidak dipaksa, tidak mau pergi dari lobang. Hawa sudah membantu, tapi tenggorokan mulai terasa kering karena haus dan kita tidak punja air minum. Sampai di halte kedua pintu tetap tertutup dan terkuntji rapat. Orang mulai minum air kentjingnja sendiri dan hawa semakin panas dan orang mulai ketakutan, mulai ada jang buang air (berak). Setiap gerbong berhenti, mereka ber-teriak2 minta hawa dan minum, terlebih-lebih dari gerbong belakang, meng-gedor2 dinding tapi tidak berhasil, sedang gerbong depan sepi2 sadja. Apakah di gerbong belakang sudah ada jang djadi korban? Kita suruh kawan2 digerbong tenang, hadapi nasib dengan penuh kejakinan akan adanja pertolongan. Tetapi nasehat ini tidak berhasil dan mereka berkelahi berebut hawa.

Kita mulai memikirkan lapar. Kalau kita minta pada pengawal, jawabannja: "G.v.d andjing, di sini tidak ada air, jang ada peluru. Di Surabaja nanti kamu bisa minum sekenjang-kenjangnja"

Rupanja pengawal2 adalah dari bangsa kita sendiri. Gerbong kita djadi gelisah ketika djatuh korban pertama,meninggal dunia. Dari gerbong belakang teriakan dan gedoran mulai berkurang. Apakah mereka sadar atau korbannja sudah bertambah.

Keadaan sangat menjedihkan. Seorang jang akan meninggal, menghembuskan nafas jang penghabisan seperti ajam jang sudah disembelih tetapi belum putus memotong lehernja (mbanjaki) dan sesudah itu keadannja sangat menjedihkan, darah keluar dari mulut dan kuping, mata keluar.

Sampai di halte jang ramai (mungkin Djember) gerbong belakang sudah mendjadi tenang, tidak begitu bergenuruh seperti di halte2 jang lain. Ketenangan tadi djangan2 merupakan tanda banjaknja korban. Korban djatuh di gerbong tengah baru satu, tetapi sangat mengerikan karena setelah satu ber-turut2 djatuh korban baru sehingga djumlahnja meningkat djadi 7.

Kita sendiri mulai chawatir dengan kawan kita Soeperdjono jang sudah dalam keadaan sangat lemah dan tidak mengeluarkan kata2. Waktu beliau minta tidur, kita tjegah. Kita hanja bisa berdoa dan alhamdullah Tuhan mendengar permohonan kita karena mendadak turun hudjan dengan lebat sekali (mungkin halte Klakah).

Dinding gerbong mendadak mendjadi dingin dan basah. Kawan2 merasa kuat lagi dan mereka men-djilat2 dinding agar sekedar dapat air untuk membasahi tenggorokan.

Keadaan dalam gerbong mendjadi tenang. Sewaktu kawan kita Soepardjono men-tjari2 di bingkisan teman2, dia menemukan sebuah mangga dan dilahapnja dan sisanja bidji pelok diberikan kepada teman2 untuk di-djilati (Djawa: klumuti) bergantian. Buah
mangga ini jang mungkin menjelamatkan jiwa Soepardjono.

Ketika gerbong berhenti dan tjukup lama, kita lihat dari sela2 bahwa diluar sudah gelap dan malam (ternjata kita sudah sampai di stasiun Wonokromo). Kita mendengar suara membuka pintu dan itu dari gerbong belakang.

Kemudian terdengar suara keras:"Kluar!"
Tetapi rupanja ta' ada seorangpun jang kluar dan terdengar suara pintu ditutup kembali dengan keras, disusul teriakan:
"Paraat, ze willwn amok maken!"
Kemudian terdengar suara2 pengawal2 menjiapkan senapannja. Sesudah itu pintu gerbong tengah dibuka dan terdengar perintah: "Kluar!"
Alangkah terkedjut kita waktu akan kluar, ternjata kawan kita jang tidur dipangkuan kita telah meninggal dan badannja masih hangat. Djumlah korban dalam gerbong kita djadi 8. Kita disuruh djongkok dan diam di emplacement.

Pengawal menghitung dan bertanja :"Dimana jang 8 lagi?"
Kita mendjawab: "Mati!"
"Hei, mati?"
Kemudian mereka mengosongkan emplacement dan tidak lama kemudian datang pembesar2 militair.
"Siapa di salah satu kamu jang dapat bitjara Belanda?"
Karena tidak ada jang mendjawab, hadji Samsoeri menunjuk kita.
"Ini tuan,bapak ini bisa bitjara Belanda".
Kemudian kita dipanggil dan diberi lampu senter (Djawa: sentolop) dan disuruh selidiki dalam gerbong tengah. Gerbong belakang tak perlu diragukan lagi, semua sudah meninggal.

Pintu gerbong belakang ditutup kembali.Keadaan sangat menjedihkan, korban2 bertumpukan di muka pintu dan hanja 2 orang jang meninggal dalam keadaan duduk di sebelah podjok.
Mula2 kita mengira mereka masih hidup, ternjata sudah mati. Sewaktu kita disuruh mengeluarkan korban2, keadaan kita sudah pajah dan lapar, tetapi karena korban2 adalah kawan2 kita sendiri, maka dengan terpaksa dan dengan air mata meleleh kita kerdjakan, Keadaan memang sangat menjedihkan.

Korban2 bisa dikatakan masak di dalam oven (pembakaran) Sewaktu mayat diangkat, kulit mereka lepas dan kelihatan putih. Bekas darah kelihatan keluar dari mulut dan kuping, mata dan lidah keluar, sungguh ta' dapat kita lupakan. Ada jang tangannja keatas, ada jang meninggal mlungker.

Begitulah, kita letakkan 46 jiwa di peron stasiun Wonokromo. Sungguh djahanam perbuatan pendjadjah!

Kemudian truck2 jng telah disediakan masuk ke emplacement dan kitapun diperintah memuatnja. Karena kita sudah sangat pajah, maka pekerdjaan itu tidak bisa kita lakukan sebagaimana mestinja. Kalau bukan karena kawan2 kita sendiri dan antjaman sendjata, tak seorangpun kiranja tahan mendjalankannja. Kita tidak tahu ke hospital mana diangkutnja. Rupa2nja sangat dirahasiakan.

Ketika kita sampai di pendjara Bubutan, maka kepada kita diberikan sabun untuk mentjutji badan. Bagaimanapun membersihkan badan, bau majat masih melekat. Saat kita dapat makan di pendjara Bubutan, di mana kita disendirikan dan tidak boleh ber-tjakap2, tidak seorangpun jang bisa makan.

*****


Berlanjut Dibawah
capt_alfons - 06/04/2010 05:42 PM
#37

lanjutan dari atas


Spoiler for artikel gerbong maut bondowoso

Diatas adalah cuplikan dari catatan Soetedjo, ayah saya, yang dibuat dalam sebuah buku tulis dengan logo disampul : NV Internationale Crediet- en Handelsvereiging "Rotterdam" - buku tulis untuk anak sekolah dimasa sesudah Agresi-II.
Ayah kami bebas tahun 1948 dan harus meninggalkan Bondowoso pindah ke Malang. Saat pindah dibantu seorang dokter Tionghoa, kalau tak salah ingat dr.Oei yang alamatnya di jl. Sekarpote
Di Malang ayah kami pertama kali bekerja ikut aanemer Lo Hok Sioe dan tugas saya setiap sore pinjam koran dari Tio King Hwie yang pedagang tembakau dan tinggal didepan kelenteng, di samping bioskop Emma (tahun 1948-1950).

Gerbong maut diberangkatkan dari Bondowoso 23 November 1947 atau 61 tahun lalu dan perintah pemindahan 100 tawanan yang dinyatakan sebagai extremist yang melakukukan "subversieve activiteit" ditandatangani oleh: J van den Dorpe, 2de Luit. der Mariniers 23 November 1947.
Sang letnan dua ini bertugas dalam: Veilicheidsdienst Mariniers Brigade SHK-IV Bodowoso.
Tiga gerbong maut disimpan di stasiun Bondowoso, stasiun Wonokromo dan Museum Brawijaya Jl.Ijen 25A Malang.

Gerbong depan : 24 tawanan hidup semua
Gerbong tengah : 38 tawanan,meninggal 8 orang
Gerbong belakang : 38 orang,meninggal semua

Saat tiba di Wonokromo setelah perjalanan 13 jam total 44 meninggal, 12 orang sakit payah, 12 lemas dan hanya 32 yang bisa mengurus jenazah sampai jam 02.00 dinihari sebelum mereka dikirim pe penjara Bubutan.
Peristiwa ini tercatat dalam buku "De Excessennota" yang terbit tahun 1995 - ingeleid door Jan Bank, diterbitkan oleh Sdu Uitgeverij Koningennegracht Den Haag 1995
Lihat halaman 21:
Bij een dertien uur durend trein transport van 100 Indonesische gevangenen in drie afgesloten goederenwagens van Bondowoso naar Soerabaja,kwamen 46 gevangenen door verstiking om het leven .......

Karena waktunya berdekatan, dalam buku Excessennota halaman 22 tercantum :
9 december 1947 Rawahgede dsb.
sukamajoe - 12/04/2010 03:14 PM
#38
Benteng Kuto Besak (BKB) - Palembang
Kaskus ID : sukamajoe
Katagori : Sejarah Nasional
Sumber : http://infokito.wordpress.com/2008/01/29/benteng-kuto-besak
Keterangan :
Sejarah Singkat Benteng Kuto Besak, Palembang

Spoiler for detail

Benteng Kuto Besak
triyono-infokito.net

Kuta Besak adalah keraton pusat Kesultanan Palembang Darussalam, sebagai pusat kekuasaan tradisional yang mengalami proses perubahan dari zaman madya menuju zaman baru di abad ke-19. Pengertian KUTO di sini berasal dari kata Sanskerta, yang berarti: Kota, puri, benteng, kubu (lihat ‘Kamus Jawa Kuno – Indonesia’, L Mardiwarsito, Nusa Indah Flores, 1986). Bahasa Melayu (Palembang) tampaknya lebih menekankan pada arti puri, benteng, kubu bahkan arti kuto lebih diartikan pada pengertian pagar tinggi yang berbentuk dinding. Sedangkan pengertian kota lebih diterjemahkan kepada negeri.

Benteng ini didirikan pada tahun 1780 oleh Sultan Muhammad Bahauddin (ayah Sultan Mahmud Badaruddin II). Gagasan benteng ini datangnya dari Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758) atau dikenal dengan Jayo Wikramo, yang mendirikan Keraton Kuta Lama tahun 1737. Proses pembangunan benteng ini didukung sepenuhnya oleh seluruh rakyat di Sumatera Selatan. Mereka pun menyumbang bahan-bahan bangunan maupun tenaga pelaksananya.

Siapa arsiteknya, tidak diketahui dengan pasti. Ada pendapat yang mengatakan bahwa arsiteknya adalah orang Eropa. Untuk pelaksanaan pengawasan pekerjaan dipercayakan kepada seorang Cina, yang memang ahli di bidangnya.

Sebagai bahan semen untuk perekat bata ini dipergunakan batu kapur yang ada di daerah pedalaman Sungai Ogan. Tempat penimbunan bahan kapur tersebut terletak di daerah belakang Tanah Kraton yang sekarang disebut Kampung Kapuran, dan anak sungai yang digunakan sebagai sarana angkutan ialah Sungai Kapuran.

Pada tahun 1797, pembangunan benteng ini selesai, dan mulai ditempati secara resmi oleh Sultan Muhammad Bahauddin pada hari Senin, 23 Sya’ban 1211 Hijriah di pagi hari atau bersamaan dengan 21 Februari 1797 Masehi. Sedangkan putranya yang tertua, yang menjadi Pangeran Ratu (putra mahkota) menempati Keraton Kuta Lama.

Pada Perang Palembang 1819 yang pertama, benteng ini dicoba oleh peluru-peluru meriam korvet Belanda, tetapi tak satu pun peluru yang dapat menembus, baik dinding maupun pintunya. Akibat kehabisan peluru dan mesiu, maka armada Belanda tersebut melarikan diri ke Batavia. Dari sinilah lahir ungkapan, yang menyatakan pekerjaan yang sia-sia, karena tak mendatangkan hasil: Pelabur habis, Palembang tak alah, artinya perbuatan atau usaha yang tak rnemberikan hasil, hanya mendatangkan rugi dan lelah sernata. Peristiwa ini ditulis dengan penuh pesona dalam Syair Perang Menteng atau disebut pula Syair Perang Palembang.

Selain keindahan dan kekokohannya, Kuto Besak memang terletak di tempat strategis, yaitu di atas lahan bagaikan terapung di atas air. Dia terletak di atas “pulau”, yaitu kawasan yang dikelilingi oleh Sungai Musi (di bagian muka atau selatan), di bagian barat dibatasi oleh Sungai Sekanak, di bagian timur berbatas Sungai Tengkuruk dan di belakangnya atau bagian utara dibatasi oleh Sungai Kapuran. Kawasan ini disebut Tanah Kraton.

Properti Sejarah Nasional - Artikel
Gambar Sketsa Keraton Palembang oleh J. Jeakes

Bentuk dan keadaan tanah di kota Palembang seolah-olah berpulau-pulau, dan oleh orang-orang Belanda memberinya gelar sebagai de Stad der Twintig Eilanden (Kota Dua Puluh Pulau). Selanjutnya menurut G. Bruining, pulau yang paling berharga (dier eilanden) adalah tempat Kuto Besak, Kuta Lama dan Masjid Agung berdiri.

Terbentuknya pulau-pulau di kota Palembang ialah karena banyaknya anak sungai yang melintas dan memotong kota ini. Sewajarnya pula kalau Palembang disebut Kota Seratus Sungai. Sedangkan di zaman awal kolonial, Palembang dijuluki oleh mereka sebagai het Indische Venetie. Julukan lainnya adalah de Stad des Vredes, yaitu tempat yang tenteram (maksudnya Dar’s Salam). Dan memang nama ini adalah nama resmi dari Kesultanan Palembang Darussalam.

Struktur dan Teknis

Menurut I. J. Sevenhoven, regeering commisaris Belanda pertama di Palembang, Kuto Besak berukuran lebar 77 roede dan panjang 49 roede (Amsterdamsch roede = kurang lebih 3,75 m, atau panjangnya ialah 288,75 meter dan lebarnya 183,75 meter), dengan keliling tembok yang kuat dan tingginya 30 kaki serta lebarnya 6 atau 7 kaki. Tembok ini diperkuat dengan 4 bastion (baluarti). Di dalam masih ada tembok yang serupa dan hampir sama tingginya, dengan pintu-pintu gerbang yang kuat, sehingga ini dapat juga dipergunakan untuk pertahanan jika tembok pertama dapat didobrak (lihat LJ. Sevenhoven, Lukisan, halaman 14).

Pengukuran terbaru para konsutan sendiri mendapatkan ukuran yang sedikit berbeda, yaitu panjang 290 meter dan lebar 180 meter.

Pendapat de Sturler megenai kondisi benteng Kuto Besak:
“… lebar 77 roede dan panjangnya 44 roede, dilengkapi dengan 3 baluarti separo dan sebuah baluarti penuh, yang melengkapi keempat sisi keliling tembok. Tembok tersebut tebalnya 5 kaki dan tinggi dari tanah 22 dan 24 kaki.
Di bagian dalam di tengah kraton disebut Dalem, khusus untuk tempat kediaman raja, lebih tinggi beberapa kaki dari bangunan biasa. Seluruhnya dikelilingi oleh dinding yang tinggi sehingga membawa satu perlindungan bagi raja. Tak seorang pun boleh mendekati tempat tinggal raja ini kecuali para keluarganya atau orang yang diperintahkannya. Bangunan batu yang lain dalam kraton adalah tempat untuk menyimpan amunisi dan peluru”. (lihat W. L de Sturler – Proeve – halaman 186)

[spoiler=gambar denah keraton palembang - BW killer]
Properti Sejarah Nasional - Artikel
Gambar Denah Keraton Palembang tahun 1811


Pada saat peperangan melawan penjajah Belanda tahun 1819, terdapat sebanyak 129 pucuk meriam berada di atas tembok Kuto Besak. Sedangkan saat pada peperangan tahun 1821, hanya ada 75 pucuk meriam di atas dinding Kuto Besak dan 30 pucuk di sepanjang tembok sungai, yang siaga mengancam penyerang.*** [triyono-infokito.net]
[/spoiler]
dejavuxx4u - 08/05/2010 02:26 PM
#39

Kaskus ID : dejavuxx4u
Kategori : Properti Sejarah Nasional
Bentuk Karya : Artikel tentang ISTANA AIR TAMANSARI
Sumber : http://www.tembi.org/keraton_yogja/tamansari.htm
Keterangan : Istana Air Tamansari: Pesanggrahan dan Benteng Pertahanan

Spoiler for 1
ISTANA AIR TAMANSARI:
PESANGGRAHAN DAN BENTENG PERTAHANAN

Pesanggrahan Taman Sari yang kemudian lebih dikenal dengan nama Istana Taman Sari yang terletak di sebelah barat Keraton Yogyakarta dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I dan diselesaikan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana II. Meskipun demikian, lokasi Pesanggrahan Taman Sari sebagai suatu tempat pemandian sudah dikenal jauh sebelumnya. Pada masa pemerintahan Panembahan Senapati lokasi Taman Sari yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama Umbul (mata air) Pacethokan. Umbul ini dulu terkenal dengan debit airnya yang besar dan jernih. Pacethokan ini menjadi salah satu pertimbangan penting bagi penentuan letak calon Keraton Yogyakarta.
Pesanggrahan Taman Sari dibangun setelah Perjanjian Giyanti (1755), yakni setelah Sultan Hamengku Buwana sekian lama terlibat dalam persengketaan dan peperangan. Bangunan tersebut dimaksudkan sebagai bangunan yang dapat dipergunakan untuk meneteramkan hati, istirahat, dan berekreasi. Meskipun demikian, Taman Sari ini juga dipersiapkan sebagai sarana/benteng untuk menghadapi situasi bahaya. Di samping itu, bangunan ini juga digunakan untuk sarana ibadah. Oleh karenanya Peanggrahan Taman Sari juga dilengkapi dengan mushola, tepatnya di bangunan Sumur Gumuling.
Nama Taman Sari terdiri atas dua kata, yakni taman 'kebun yang ditanami bunga-bungaan' dan sari 'indah, bunga'. Dengan demikian, nama Taman Sari dimaksudkan sebagai nama suatu kompleks taman yang benar-benar indah atau asri.
Dua Versi Cerita Tentang Pembangunan Pesanggrahan Taman Sari

* Versi Pertama

Pada versi pertama diceritakan bahwa di Mancingan (suatu daerah di pantai selatan Yogyakarta) terdapat orang aneh yang tidak diketahui asal-usulnya. Masyarakat di daerah tersebut banyak yang menduga bahwa orang tersebut termasuk sebangsa jin atau penghuni hutan. Masyarakat beranggapan demikian karena orang tersebut menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang setempat. Orang aneh tersebut kemudian dihadapkan kepada Sultan Hamengku Buwana II yang saat itu masih memerintah. Rupanya Sultan Hamengku Buwana II berkenan mengambil orang tersebut sebagai abdi. Setelah beberapa lama orang itu pun dapat berbahasa Jawa. Berdasarkan keterangannya ia mengaku sebagai orang Portugis yang dalam dialek Jawa sering disebut Portegis. Orang Portegis itu kemudian dijadikan sebagai abdi yang mengepalai pembuatan bangunan (semacam arsitek).
Sultan Hamengku Buwana II pun memerintahkan orang tersebut agar membuat benteng. Rupanya Sultan Hamengku Buwana II amat berkenan atas hasil kerjanya. Orang tersebut kemudian diberi kedudukan sebagai demang, maka orang itu pun terkenal dengan nama Demang Portegis atau Demang Tegis. Demang Tegis inilah yang konon diperintahkan untuk membangun Pesanggrahan Taman Sari. Oleh karena itu pula bangunan Pesanggrahan Taman Sari menunjukkan unsur seni bangunan yang berasal dari Eropa (Portugis).
dejavuxx4u - 08/05/2010 02:28 PM
#40
Lanjutan :
Spoiler for 2
* Versi Kedua

Menurut versi kedua diceritakan bahwa pada suatu ketika bupati Madiun yang waktu itu bernama raden Rangga Prawirasentika, yang telah banyak berjasa kepada Sultan Hamengku Buwana I memohon kepada beliau supaya dibebaskan dari kewajiban membayar pajak daerah yang selama ini dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun. Bupati Madiun hanya menyanggupi bila ada permintaan-permintaan khusus Sultan Hemngku Buwana I untuk kelengkapan hiasan dan kemegahan keraton. Sultan Hamengku Buwana I pun mengabulkan permohonan itu.
Oleh Sultan Hamengku Buwana I Bupati Madiun diperintah untuk membuat gamelan Sekaten sebagai pelengkap dari gamelan Sekaten yang berasal dari Surakarta. Semula gamelan tersebut berjumlah satu pasang, tetapi oleh karena palihan nagari (1755) gamelan itu dibagi dua. Satu untuk Kasultanan Yogyakarta dan satu lagi untuk Kasunanan Surakarta. Di samping itu, Sultan Hamengku Buwana I juga memerintahkan kepada Bupati Madiun untuk dibuatkan jempana 'tandu' sebagai kendaraan mempelai putri Sultan Hamengku Buwana I.
Pada tahun 1684 Raden Rangga Prawirasentika diperintahkan untuk membuat batu bata dan kelengakapannya sebagai persiapan untuk membangun pertamanan yang indahsebagai sarana untuk menenteramkan hati Sultan Hamengku Buwana I. Sultan menghendaki hal demikian karena baru saja menyelesaikan tugas berat (perang) yang berlangsung cukup lama. Keluarnya perintah Sultan Hamengku Buwana ditandai dengan sengkalan memet yang berbunyi Catur Naga Rasa Tunggal (1684).
Untuk pembuatan pertamanan/pesanggrahan itu atas perkenan Sultan Hemngku Buwana I dikepalai oleh Raden tumenggung Mangundipura dan dipimpin oleh K.P.H. Natakusuma, yang kemudian hari menjadi K.G.P.A.A. Paku Alam I (putra Sri Sultan dengan isteri selir yang bernama Bendara Raden Ayu Srenggara). Pembuatan tempat peraduan dan bangunan urung-urung 'gorong-gorong' yang menuju keraton yang sering juga disebut Gua Siluman dilakukan pada tahun 1687 dan ditandai dengan candra sengkala Pujining Brahmana Ngobahake Pajungutan (1687). Sedangkan pembangunan pintu-pintu gerbang dan tembok selesai pada tahun 1691.
Selesainya pembuatan bangungan Pesanggrahan Taman Sari diberi tanda sengkalan memet yang berupa relief pepohonan yang berbunga dan sedang dihisap madunya oleh burung-burung. Sengkalan memet tersebut berbunyi Lajering Kembang Sinesep Peksi (1691).
Dalam versi kedua ini diceritakan bahwa Raden Rangga Prawirasentika tidak dapat menyelesaikan pembuatan bangunan Pesanggrahan taman Sari. Beliau menyatakan bahwa pembangunan tersebut justru dirasa lebih besar biayanya dibandingkan dengan penyampaian pajak setahun dua kali yang selama ini dilakukannya. Oleh karenaya belilau mohon berhenti pada Sultan dan diperkenankan. Sultan kemudian memerintahkan K.P.H. Natakusuma untuk menyelsaikan bangunan itu atas biaya yang ditanggung Sultan sendiri.
Pembangunan Pesanggrahan Taman Sari ini kono banyak melibatkan tenaga kerja tidak saja yang berasal dari sekitar Yogyakarta, tetapi juga dari Madiun, Kedu, Jipang, dan sebagainya.
Bangunan Taman Sari memiliki 36 buah bagian bangunan penting dengan berbagai nama dan fungsinya.
Page 2 of 3 |  < 1 2 3 > 
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Properti Sejarah Nasional > Properti Sejarah Nasional - Artikel