Minangkabau
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Minangkabau > Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau
Total Views: 36405 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 29 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

andreandhika - 04/11/2009 01:36 PM
#1
Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau
Mintak izin ka Datuak untuak mambuek trit Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau

Trit iko wak buek dengan alasan,supayo yang datang ka Reg.Minangkabau ko bisa mandapek informasi mengenai Adaik, budayo, Seni, sarato Sejarah ranah awak ranah Minangkabau

Jadi,trit iko khusus untuak posting sagalo nan berhubuangan dengan Adaik, Budayo, Seni, sarato Sejarah Minangkabau

Dimohonkan kapado Uda jo Uni nan singgah ka trit ko untuak indak Nge-Junk


--------------------------------------------------------------------------------


Persembahan:
Trit ini ditujukan untuk seluruh pengunjung baik yang merupakan orang minang ataupun yang bukan orang minang.
Trit ini sengaja dibuat agar pengunjung trit dapat mengetahui, mempelajari, dan memberikan informasi mengenai Adat, Budaya, Seni, dan Sejarah Minangkabau
Demi tertibnya trit ini saya mohon kepada pengunjung sekalian untuk tidak nge-junk di trit ini
Terima Kasih

--------------------------------------------------------------------------------------------
andreandhika - 04/11/2009 01:37 PM
#2

Daftar Isi trit iko:

Page 1
Spoiler for Page 1
1. Ciri dan Adat Orang Minang
2. Pengetahuan Tentang Adat Minangkabau I
3. Pengetahuan Tentang Adat Minangkabau II
4. Pengetahuan Tentang Adat Minangkabau III
5. Adat Sumando Manyumando
6. Aspek Hukum Dalam Masyarakat Minangkabau
7. Pambagian Rang Sumando
8. Pambagian Wanita Manuruik Adat Minangkabau
9. Suku dan Pengembangannya
10. Adat Raso Jo Pareso
11. Busana Perempuan Minang Dalam Kebenaran Islam
12. Kato Dalam Adat Minangkabau
13. Tambo Minangkabau
14. Rumah Gadang
15. Rangkiang
16. Adab Makan di Ranah Minang I
17. Adab Makan di Ranah Minang II


Page 2
Spoiler for Page 2

18. Adab Makan di Ranah Minang III
19. Adab Makan di Ranah Minang IV
20. Sejarah Minangkabau I
21. Sejarah Minangkabau II
22. Sejarah Minangkabau III
23. Sejarah Minangkabau IV
24. Adat Perka-winan I
25. Adat Perka-winan II
26. Adat Perka-winan III
27. Adat Perka-winan IV
28. Adat Perka-winan V
29. Adat Perka-winan VI
30. Adat Perka-winan VII
31. Alam Minangkabau I
32. Alam Minangkabau II
33. Alam Minangkabau III
34. Alam Minangkabau VI
35. Alam Minangkabau V
36. Alam Minangkabau VI
37. Alam Minangkabau VII


Page 3
Spoiler for Page 3

38. Alam Minangkabau VIII
39. Alam Minangkabau IX
40. Alam Minangkabau X
41. Tanah Aday di Minangkabau
42. Ninik Mamak di Persimpangan Jalan
43. Latar Belakang Munculnya Adat dan Nagari Bag.1
44. Latar Belakang Munculnya Adat dan Nagari Bag.2
45. Penghulu
46. Martabat Seorang Penghulu
47. Tugas Penghulu Bag.1
48. Tugas Penghulu Bag.2
49. Kewajiban Penghulu
50. Larangan dan Pantangan Seorang Penghulu
51. Ukua Jangko Dalam Adat Minangkabau
52. Nilai-nilai Dasar Adat Minangkabau
53. Arsitektur Ranah Minang


Page 4
Spoiler for Page 4

54. Pepatah, Petitih, Petuah dan Mamangan
55. Struktur Masyarakat Minangkabau Bag.1
56. Struktur Masyarakat Minangkabau Bag.2
57. Pengertian Adat
58. Orang Minangkabau dengan Kesusasteraannya
59. Balairung dan Masjid
60. Implementasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Di Tengah Masyaraakat Minangkabau Bag.1
61. Implementasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Di Tengah Masyaraakat Minangkabau Bag.2
62. Implementasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Di Tengah Masyaraakat Minangkabau Bag.3
63. Implementasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Di Tengah Masyaraakat Minangkabau Bag.4
andreandhika - 04/11/2009 01:37 PM
#3

Ciri dan Adat Orang Minang

Spoiler for Isi
1. Aman dan Damai
Bila dipelajari dengan seksama pepatah-pepatah adat Minang, serta fakta-fakta yang hidup dalam masyarakat seperti masalah perkimpoian, sistem kekerabatan, kedudukan tanah pusaka tinggi, peranan mamak dan penghulu,kiranya kita dapat membaca konsep-konsep hidup dan kehidupan yang ada dalam pikiran nenek-moyang kita.

Dari konsep-konsep hidup dan kehidupan itu, kita juga dapat memastikan tujuan hidup yang ingin dicapai oleh nenek-moyang kita.
Tujuan hidup itu adalah: BUMI SANANG PADI MANJADI TARANAK BAKAMBANG BIAK

Rumusan menurut adat Minang ini, agaknya sama dengan masyarakat yang aman damai makmur ceria dan berkah, seperti diidamkan oleh ajaran Islam yaitu "Baldatun Taiyibatun wa Robbun Gafuur". Suatu masyarakat yang aman damai dan selalu dalam penmgampunan Tuhan. Dengan adanya kerukunan dan kedamaian dalam lingkungan kekerabatan, barulah mungkin diupayakan kehidupan yang lebih makmur. Dengan bahasa kekinian dapat dikatakan bila telah tercapai stabilitas politik, barulah kita mungkin melaksanakan pembangunan ekonomi.

2. Masyarakat nan "Sakato"
Kalau tujuan akan dicapai sudah jelas, yaitu suatu masyarakat yang aman damai makmur dan berkah , maka kini tinggal bagaimana cara yang perlu ditempuh untuk mencapai tujuan itu. Kondisi yang bagaimana yang harus diciptakan. Menurut ketentuan adat Minang, tujuan itu akan dapat dicapai bila dapat disiapkan prasarana dan sarana yang tepat. Yang dimaksud dengan prasarana disini adalah manusia-manusia pendukung adat Minang, yang mempunyai sifat dan watak seperti diuraikan diatas. Manusia dengan kualitas seperti itulah yang diyakini adat Minang yang akan dapat membentuk suatu masyarakat yang akan diandalkan sebagai sarana (wahana) yang akan membawa kepada tujuan yang diidam-idamkan yaitu suatu masyarakat yang aman damai makmur dan berkah.
Suatu Baldatun Taiyibatun Wa Robbun Gafuur. Corak masyarakat idaman menurut kacamata adat Minang adalah masyarakat nan "sakato".

3. Unsur-unsur Masyarakat nan Sakato
Terdapat 4 unsur yang harus dipatuhi oleh setiap anggota masyarakat untuk dapat membentuk masyarakat nan sakato.
Sakato artinya sekata-sependapat-semufakat. Keempat unsur itu adalah:

a. Saiyo Sakato
Menghadapi suatu masalah atau pekerjaan, akan selalu terdapat perbedaan pandangan dan pendirian antar orang satu dengan yang lain sesuai dengan yang lain dengan pepatah "kapalo samo hitam, pikiran ba lain-lain".
Perbedaan pendapat semacam ini adalah sangat lumrah dan sangat demokratis. Namun kalau dibiarkan berlanjut, maka akan berakibat masalah itu takkan terselasaikan. Pekerjaan itu akan terkatung-katung. Karena itu harus selalu dicari jalan keluar. Jalan keluar yang ditunjukkan adat Minang adalah melakukan musyawarah untuk mufakat, bukan musyawarah untuk melanjutkan pertengkaran.

Keputusan boleh bulat (aklamasi) tapi boleh juga gepeng atau picak (melalui voting). Adat Minang tidak mengenal istilah "Sepakat untuk tidak se-Mufakat". Bagaimana proses keputusan diambil, namun setelah ada kata mufakat maka keputusan itu harus dilaksanakan oleh semua pihak. Keluar kita tetap utuh dan tetap satu. Setiap individu Minang disarankan untuk selalu menjaga hubungan dengan lingkungannya.

Adat Minang tidak terlalu memuja kemandirian (privacy) menurut ajaran individualisme barat. Adat Minang mengajarkan supaya membiasakan berembuk dengan lingkungan kendatipun menyangkut masalah pribadi. Dengan demikian adat Minang mendorong orang Minang lebih mengutamakan "kebersamaan" kendatipun menyangkut urusan pribadi. Kendatipun seorang individu Minang menduduki posisi sebagai penguasa seperti dalam kedudukan mamak-rumah atau pun Penghulu Andiko maka keputusan tidak mungkin juga diambil sendiri. Karena itu sikap otoriter tidak pernah disukai rang-orang Minang.

Adat Minang sangat mendambakan persatuan dan kesatuan dalam masyarakat Minang. Orang Minang yakin tanpa persatuan dan kesatuan itu akan menjauhkan mereka dari tujuan masyarakat yang ingin dicapai. Mereka memahami pula dalam hidup berkelompok dalam masyarakat akan selalu terdapat silang selisih, marah dan sengketa akan selalu terjadi. Antara sanduak dan periukpun tak pernah sunyi akan selalu ada kegaduhan. Namun demikian orang Minang mempunyai dasar filosofi yang kuat untuk mengatasinya.

Adat Minang akan selalu mencoba memelihara komunikasi dan kemungkinan berdialog. Karena dengan cara itu segala masalah akan selalu dapat dipecahkan melalui musyawarah. Orang Minang menganggap penyelesaian masalah diluar musyawarah adalah buruk. Dalam mencapai kata sepakat kadangkala bukanlah hal yang mudah. Karena itu memerlukan kesabaran, ketabahan dan kadangkala terpaksa menguras tenaga. Namun demikian musyawarah tetap diupayakan

b. Sahino Samalu
Kehidupan kelompok sesuku sangat erat. Hubungan individu sesama anggota kelompok kaum sangat dekat. Mereka bagaikan suatu kesatuan yang tunggal-bulat. Jarak antara "kau dan aku" menjadi hampir tidak ada. Istilah "awak" menggambarkan kedekatan ini. Kalau urusan yang rumit diselesaikan dengan cara "awak samo awak", semuanya akan menjadi mudah. Kedekatan hubungan dalam kelompok suku ini, menjadikan harga diri individu, melebur menjadi satu menjadi harga diri kelompok suku.
Kalau seseorang anggota suku diremehkan dalam pergaulan, seluruh anggota suku merasa tersinggung. Begitu juga bila suatu suku dipermalukan maka seluruh anggota suku itu akan serentak membela nama baik sukunya.

c. Anggo Tanggo
Unsur ketiga yang dapat membentuk masyarakat nan sakato, adalah dapat diciptakannya pergaulan yang tertib serta disiplin dalam masyarakat.
Hal ini berarti bahwa setiap anggota masyarakat dituntut untuk mematuhi aturan dan undang-undang, serta mengindahkan pedoman dan petunjuk yang diberikan penguasa adat. Dalam pergaulan hidup akan selalu ada kesalahan dan kekhilafan. Kesalahan dan kekhilafan itu harus diselesaikan sesuai aturan. Dengan demikian ketertiban dan ketentraman akan selalu terjaga.

d. Sapikua Sajinjiang
Dalam masyarakat yang komunal, semua tugas menjadi tanggungjawab bersama. Sifat gotong royong menjadi keharusan. Saling membantu dan menunjang merupakan kewajiban. Yang berat sama dipikul yang ringan sama dijinjing. Kehidupan antara anggota kaum, bagaikan aur dengan tebing, saling bantu membantu, saling dukung mendukung. Dengan masyarakat nan sakato ini diharapkan akan dapat dicapai tujuan hidup dan kehidupan orang Minang sesuai konsep yang diciptakan nenek moyang orang Minang.

BUMI SANANG PADI MANJADI
PADI MASAK JAGUNG MAUPIA
ANAK BUAH SANANG SANTOSA
TARANAK BAKAMBANG BIAK
BAPAK KAYO MANDE BATUAH
MAMAK DISAMBAH urang PULO

Source: http://www.cimbuak..net
andreandhika - 04/11/2009 01:38 PM
#4
Pengetahuan Tentang Adat Minangkabau I
Pengetahuan Tentang Adat Minangkabau I

Spoiler for Isi
Pengetahuan adat Minangkabau itu dihimpun di dalam "Undang nan Duo Puluh Cupak nan Duo"

I. Adat Ampek

Ini terdiri dari :
1. Adat sabana adat
2. Adat nan diadatkan
3. Adat teradat
4. Adat istiadat

Adat pada nomor 1 dan 2 disebut adat babuhua MATI yakni, Adat sabana adat dan Adat nan diadatkan. Dalam sehari-hari disebut "Adat".
Adat pada nomor 3 dan 4 disebut adat BABUHUA SENTAK yakni, Adat teradat dan Adat istiadat. Maka keempat keempat jenis adat ini disebut "adat istiadat Minangkabau".

a. Adat Sabana Adat
Ialah suatu peraturan yang seharusnya menurut alur dan patut, seharusnya menurut Agama Islam (syarak), menurut perikemanusiaan. Adil dam beradab. Sebelum masuknya Islam di Minangkabau, adat nan sabananyo adat ini adalah suatu aturan dalam masyarakat yang dicontoh dan dipelajari oleh nenek moyang kita Dt. Perpatiah Nan Sabatang dan Dt. Katumanggungan dari kenyataan alam, yang disebut dalam pepatah :
Panakiak pisau sirauk
Ambiak galah batang lintabuang
Silodang ambiak ka niru
Nan satitiak jadikan lauik
Nan sakapa jadikan gunuang
Alam takambang jadi guru.

b. Adat Nan Diadatkan
Ialah peraturan yang dibuat oleh Dt. Parpatiah Nan Sabatang dan Dt. Katumanggungan yang dicontoh dari adat nan sabananyo adat, dan dilukiskan peraturan itu dalam pepatah, yakni persoalan yang bersangkutan dengan peraturan hidup masyarakat dalam segala bidang, umpamanya :
a. Kedudukan seseorang sebagai pribadi
b. Kedudukan masyarakat
c. Eknomi

Dan juga mengatur bidang :
a. Susunan masyasrakat
b. Tujuan masyarakat
c. Cara mencapai tujuan masyarakat

Kedudukan sesorang sebagai pribadi :
Nan kuriak iyolah kundi
Nan merah iyolah sago
Nan baiak iyolah budi
Nen endah iyolah baso

Yang tujuannya untuk mencapai :
Nan tuo dihormati
Nan ketek dikasihi
Samo gadang baok bakawan
Anyuik bapinteh, hilang bacari
Salah dibatuakan
Tarapuang bakaik
Tabanam baslami.

Kedudukan masyarakat :
Nan barek samo dipikua
Nan ringan samo di jinjiang
Nan elok bahimbauan
Nan buruak bahambauan
Nan elok diawak katuju dek urang
Sahino samalu
Sasakik sasanang
Sakik disilau, mati bajanguak

Ekonomi :
Elok lenggang di nan data
Rancak Rarak di hari paneh
Hilang rono dek pinyakik
Hilang bangso tak barameh
Dek ameh sagalo kameh
Dek padi sagalo jadi
Duduak marauik ranjau
Tagak maninjau jarah

Dan sebagai dasar adalah :
Sawah ladang, banda buatan
Batanam nan bapucuak
Mamaliharo nan banyawa

Ka sawah babungo ampiang
Ka rimbo babungo kayu
Ka sungai babungo pasia
Ka lauik babungo karang
Ka tambang babungo ameh
Nan lunak di tanami padi
Nan kareh di buek ladang

Artinya sebagai prinsip dasar dalam bidang ekonomi adalah pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan dll.

Susunan masyarakat seperti kata pepatah :
Ingirih bakarek kuku
Panggang pisau sirauik
Panggarek batuang tuonyo
Batuang tuo ambiak ka lantai
Nagari ba kaampek suku
Dalam suku babuah paruik
Kampuang diagiah batuo
Rumah dibari batungganai

Dengan ketentuan :
Kamanakan barajo ka mamak
Mamak barajo ka penghulu
Penghulu barajao ka mufakat
Mufakat barajo ka nan bana
Bana badiri sandirinyo
Nan manuruik alua jo patuik

Tujuan masyarakat :
Bumi sanang padi manjadi
Padi kuniang jaguang maupiah
Taranak bakambang biak
Anak buah sanang santoso
Bapak kayo mande batuah
Mamak disambah urang pulo.

Artinya untuk mencapai kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan dalam masyarakat.

Cara mencapai tujuan masyarakat :
Nan barek samo dipikua
Nan ringan samo dijinjiang
Ka bukik samo mandaki
Ka lurah samo manurun
tatungkuik samo makan tanah
Tatilantang samo makan ambun
Tarapuang samo anyuik
Tarandam samo basah.

Kato surang di bulati
Kato basamo dipaiyokan
Kalau mambilai samo laweh
Kok maukua samo panjang
Ketek kayu ketek bahan
Gadang kayu gadang bahan

Nan ado samo dimakan
Nan tidak samo dicari
Hati gajah samo di lapah
Hati tungau diagiah bacacah

c. Adat Teradat
Ialah peraturan yang dibuat secara bersama oleh para ninik mamak, pamangku adat dalam suatu nagari.
Peraturan tersebut berguna untuk merealisasi peraturan-peraturan yang dibuat oelh nenek moyang dalam Adat Nan Diadatkan.

Di dalam aturan Adat Nan Diadatkan, peraturan-peraturan yang bersangkutan dengan kehidupan masyarakat baik dalam bidang sosial, politik, hukum dan lain-lainnya, dituangkan dalam bentuk pepatah-petitih, mamang bidal, pantun dan gurindam yang disusun dalam bentuk kalimat kelimat pendek, tetapi mengandung arti kiasan yang menghendaki adanya peraturan pelaksana untuk menjalankannya dalam masyarakat.

Peraturan-peraturan Adat Teradat ini tidak sama pada tiap-tiap nagari. Karena peraturan-peraturan yang dibuat harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi setiap nagari di Minangkabau. Hal ini disebut dalam pepatah :
Lain lubuak lain ikannyo
Lain padang lain belalalngnyo
Lain nagari lain adatnyo

Baadat sapanjang jalan
Bacupak sapanjang batuang

d. Adat Istiadat
Ialah kebiasaan dalam suatu nagari atau golongan yang berupa kesukaan dari sebgian masyarakat tersebut, seperti kesenian, olah raga, dan sebagainya, seni suara, seni lukis, dan bangunan-bangunan dan lain-lain, yang disebut dalam pepatah :
Nan baraso bamakan
Nan barupo baliyek
Nan babunyi badanga

Kesimpulan :
Adat yang empat macam itu sifatnya dibagi dua :
1. Adat nan babuhua mati
2. Adat nan babuhua sentak

Adat nan babuhua mati
Ialah adat nan sabananyo adat dan adat nan diadakan oleh Dt. Perpatiah Nan Sabatang dan Dt. Katumanggungan.

Adat nan babuhua sentak
Ialah adat teradat dan adat istiadat. Yang kedua ini dapat diubah bentuknya dengan tidak mengubah dasarnya (sendinya), yang disebut dalam pepatah :
Sakali aia gadang, sakali tapian bagaranjak
Sakali musim batuka, sakali caro baganti

Perubahan ini sesuai dengan situasi dan kondisi, dan haruslah diubah dengan kata mufakat.

Sumber : Buletin Sungai Pua 15 Juni 1986
andreandhika - 04/11/2009 01:38 PM
#5
Pengetahuan Tentang Adat Minangkabau II
Pengetahuan Tentang Adat Minangkabau II

Spoiler for Isi
2. Nagari Ampek
Nagari Ampek terdiri dari :
a. Taratak
b. Dusun
c. Koto
d. Nagari

a. Taratak :
Adalah tempat mula-mula didiami nenek moyang kita untuk tempat beberapa orang anggota keluarga memulai "manatak". Selanjutnya "taratak" itu dijadikan tempat berkehidupan secara bersama yang sifatnya jauh dari sederhana.

b. Dusun :
Pada mulanya taratak dengan taratak lain yang mempunyai hubungan baik satu dengan yang lain mulai menyusun kesatuan keluarga yang jumlahnya sangat terbatas sekali. Dalam hal ini telah dimulai membuat rumah secara sederhana sekali, begitupun sumber-sumber penghidupan telah muali dilaksanakan secara tetap.

c. Koto :
Adalah dusun-dusun yang tadinya terpencar-pencar, kemudian dengan persetujuan bersama dilakukan pengelompokan yang dihubungkan dengan tali keturunan secara adat yang dimulai dengan pemufakatan yang bulat (sakato). Maka tempat yang telah diperoleh dengan cara pemufakatan bersama ini disebutlah "koto". Dalam hal ini masyarakatnya telah mulai berkembang maju, yaitu telah mulai bekerja membuat sawah ladang dan irigasi secara bersama-sama.

d. Nagari :
Beberapa koto, yang biasanya terdiri dari tiga kelompok koto, dijadikan satu. Yang pernah ditemui adalah Kepala Koto, Tengah Koto, Ikua koto. Ketiga koto ini disusun menjadi satu kesatuan hukum yang disebut "nagari" yang disebut dalam ketentuan adat :
Kok ketek balingka tanah
Jikok gadang balingkuang aua
Nagari bapaga undang
Kampuang bapaga buek
Kampuang baumpuak
Suku ba joroang

3. Kato-Kato Adat Ampek

Terdiri dari :
a. Kato Mufakat
b. Kato Pusako
c. Kato Dahulu Batapati
d. Kato Kamudian Kato Bacari

a. Kato Mufakat
Ialah :
Kato surang dibulati
Kato basamo dipaiyokan
Duduak surang basampik-sampik
Duduak basamo balapang-lapang

Baiyo jo adiak
Batido-tido jo kakak
Dibulekkan kato jo mufakat
Bulek baru digolekkan
picak baru dilayangkan
Saciok bak ayam
Sadanciang bak basi
Bulek indak basuduik
Picak indak basandiang
Tapauik balantak
Takuruang bakunci

b. Kato Pusako :
Ialah seperti yang disebutkan dalam ketentuan Adat :
Mamahek manuju barih
Tantang bana lubang ka tambuak
Malantiang manuju pangka
Tantang bana buah ka rareh
Manabang manuju pangka
Tantang bana ruweh ka rabah

Artinya meletakkan sesuatu hendaklah pada tempatnya, menurut mungkin dan patut adanya.

c. Kato Dahulu Batapati
Ialah sesuatu hasil mufakat yang telah disepakai bersama menjadi suatu keputusan, tetapi belum sempat untuk dilaksanakan karena sesuatu dan lain hal. Apabila telah tiba waktunya untuk dilaksanakan, maka pelaksanaan tersebut haruslah sesuai dengan Adat tentang Kato dahulu batapati :
Suri tagantuang batanuni
Luak taganang basauak
Kayu batakuak barabahkan
Janji babuek batapati

Titiak buliah ditampuang
Maleleh buliah dipalik
Satitiak buliah dilauikkan
Sakapa buliah digunuangkan

d. Kato Kamudian Kato Bacari
Adalah setiap persoalan yang telah dimufakati pada mulanya, tetapi belum mencapai keputusan, kemudian datang suatu hal yang menghalangi maka permufakatan itu ditunda waktunya. Setelah sampai pada waktu yang telah ditentukan, timbul pemikiran baru yang lain yang lebih baik dari pada yang sudah. Tanpa mengubah prinsip, maka dicari kata yang baru dalam hal ini. Maka yang demikian disebut "Kato kemudian kato bacari".

4. Hukum Ampek

a. Hukum ilmu: sesuatu yang dihukum dengan ilmu
b. Hukum sumpah : sesuatu yang dihukum dengan bersumpah
c. Hukum kurenah : sesuatu yang dihukum dengan fi'il
d. hukum perdamaian : sesuatu yang dihukum secara berdamai

5. Undang Ampek
a. Undang-undang Luak
Luak ba-pangulu
Rantau barajo

b. Undang-undang Nagari
Basasok bajarami
Bapandam bapakuburan
Balabuah batapian
Barumah batanggo
Basawah baladang
Bakorong bakampuang
Babalai bamusajik

c. Undang-undang dalam nagari
Salah ditimbang hutang babaia
Salah ambiak mangumbali
Salah cotok malantiangkan
Salang mangumbali
Alek bapanggia mati bajirambok
Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang
nan elok bahimbauan
Nan buruak bahambauan

d. Undang-undang duo puluah :
Dua belas dari undang-undang ini disebut "tuduah nan bakatangguangan" Atinya sesuatu yang bisa menjadikan seseorang dituduh mengerjakan suatu kejahatan, yaitu :
1. Anggang lalu atah jatuah
2. Pulang pagi babasah-basah
3. bajalan Bagageh-gageh
4. Kacondongan mato urang banyak
5. Dibao ribuik, dibao angin
6. Dibao pikek, dibao langau
7. Tasidorong jajak manurun
8. Tatukiak jajak mandaki
9. Bajua bamurah-murah
10. Batimbang jawab ditanyoi
11. Lah bauriah bak sipasin
12. Lah bajajak bak babakiek

Kalau kiranya yang dua belas macam ini salah satu telah ditemui pada diri seseorang dalam satu kejadian yang sifatnya kesalahan, maka seseorang itu telah dapat dituduh.

Delapan macam dari undang-undang dua puluh tersebut disebut di dalam adat Minangkabau "cemooh nan bakaadaan". Artinya bila seseorang yang dituduh melakukan kejahatan telah lengkap pembuktiannya, seperti :

13. Dago-dagi mambari malu
14. Sumbang salah laku parangai
15. Samun saka tagak di bateh
16. Umbuak umbi budi marangkak
17. Curi maliang taluang dindiang
18. Tikam-bunuah parang badarah
19. Sia baka sabatang suluah
20. Upeh racun batabuang sayak
andreandhika - 04/11/2009 01:39 PM
#6
Pengetahuan Tentang Adat Minangkabau III
Spoiler for Isi
6. Cupak Duo
Cupak dalam adat adalah ukuran dan takaran untuk penakar makanan yang tidak boleh dilebihi dan dikurangi, apabila dipakai untuk jual beli.

Cupak ini terbagi dua macam :
a. Cupak usali (asli)
b. Cupak buatan

a. Cupak Usali
Ialah nan disabuik cupak duo baleh taia, gantang nan kurang duo limo puluah, yakni peraturan adat dibuat oleh nenek moyang kita Dt. Perpatiah Nan Sabatang dan Dt. Katumanggungan. Gantang nan kurang duo limo puluah adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan Allah dan Rasul. Cupak duo baleh taia dan gantang kurang duo limo puluah ini di Minangkabau tidak dapat diubah.

Cupak usali adalah peraturan-peraturan yang telah kita teima turun-temurun tentang adat Minangkbau yang berhubungan dengan gelar pusako (soko), harta pusaka, undang-undang pergaulan di Minangkabau, tentang penyelesaian sengketa, soal sosial, keamanan, dan sebagainya, dan peraturan dalam adat yang kita sebut adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, adat nan kawi, syarat nan lazim. Cupak usali itu yang sebenarnya adalah kata kiasan, maksudnya peraturan-peraturan yang asli tentang adat dan syarak, yang tidak dapat ditambah dan dikurangi.

Cupak papaek gantang piawai, cupak duo baleh taia, gantang kurang duo limo puluah. Cupak duo baleh taia ini disebut juga cupak nan anam ka ateh, anam ka bawah, yakni enam hal yang bersangkutan dengan perdata, dan enam yang bersangkutan dengan pidana. Gantang kurang duo limo puluah, adalah 20 sifat yang wajib, 20 sifat yang mustahil pada Allah, dan 4 sifat yang wajib pada Rasul, 4 sifat yang mustahil pada Rasul, sehingga berjumlah 50 kurang dua, satu harus pada Allah, satu harus pada Rasul

b. Cupak buatan :
Persekutuan yang memberi lazat bagi sagalo hati manusia. Artinya peraturan-peraturan yang dibikin oleh cupak buatan ialah peraturan adat dalam satu nagari. Peraturan itu memberikan kelazatan dalam pergaulan masyarakat, sebab kalau sudah dapat dilaksanakan akan membawa hasil yang baik dalam hubungan satu dengan yang lainnya.

Cupak Tiruan :
Ialah hawa nafsu yang diharuskan bagi hati setengah manusia. Artinya adalah keinginan yang dipunyai oleh sebagian orang karena dalam keinginan yang dimaksud itu tidak semua orang menyukainya, adakalanya lantaran tidak ada kesanggupan untuk memiliki keinginan tersebut, dan adakalanya lantaran tidak adanya kesukaan terhadapnya.

Cupak nan piawai :
Adalah suatu pekerjaan di dalam masyarakat untuk mencapai kehidupan yang sempurna dan pergaulan yang baik serta kebutuhan hidup yang diridhai oleh Allah SWT.
Cupak nan piawai ialah memenuhi kebutuhan hidup yang suatu penghidupan yang dapat mengahsilkan sesuatu untuk kebutuhan sehari-hari.

7. Ukua Jangko Di dalam Adat Minangkabau
Menurut adat Minangkabau ada beberapa ketentuan yang menjadi ukuran dan hinggaan yang harus diamalkan oleh setiap orang, untuk mencapai tujuan secara baik di dalam kehidupan bergaul. Ketentuan tersebut dinamakan "ukua jangko" yang terdiri delapan macam.

a. Nak Luruih Rantangan Tali
Supayo jan manyimpang kiri jo kanan
Luruih manantang barih adat
Mangarek tantangan ukua

Artinya :
Selalulah di dalam kehidupan ini berlaku lurus dan benar, dan jangan menyimpang dari ketentuan yang berlaku di dalam masyarakat (adat, syarak, undang-undang).

b. Nak tinggi naiakkan budi
Mancari jalan kabanaran
Supayo jan kalangkahan
Tagak jan tasundak
Malenggang tidak tapampeh
batutua dengan lunak lambuik
Lunak bak santan jo tanguli
Suatu karajo nan lalu salasai sajo.

Artinya :
Selalulah bergaul dengan baik sesama manusia, yang tua dihormati, yang kecil dikasihi, sama besar bersaudara, dan berkatalah dengan lemah lembut, dan bergaullah dengan sopan hormat menghormati.

c. Nak haluih baso jo basi
Jan barundiang basikasek
Jan bakato basikasa
Jan bataratak bakato siang
Mahariak mahantam tanah
Jan babana ka pangka langan
Usah ba-utak ka ampu kaki.

Pandai maagak maagiahkan
Budi baiak baso katuju
Muluik manih kacindan murah.

Artinya :
Bergaullah penuh sifat ramah tamah, sopan dan santun, hormat menghormati sesamanya, yang senantiasa mencerminkan tingkah laku yang berlandaskan budi luhur.

d. Nan elok lapangkan hati
Mancari jalan kabaikan
Nan dapek suluah nan tarang
Mampunyai saba jo ridha
Sarato hemat dan cermat

Artinya :
Selalulah di dalam bergaul mempunyai sifat lapang hati dan sabar, tenang dan beribawa, tetapi tegas dan bijaksana, serta mempunyai sifat malu di dalam diri, dan hati-hati.

e. Nak taguah paham dikunci
Jan taruah bak katidiang
Jan baserak bak anjalai
Kok ado rundiang ba nan batin
Patuik baduo jan batigo
Nak jan lahia didanga urang

Artinya :
Yang terlalu lyoal, selalu menyimpan rahasia yang patut dirahasiakan. Bertindak dan berbuat penuh kebijaksanaan.

f. Nak Mulia tepati janji
Kato nan bana ka dipegang
Walau bak mano sangkuik pauik
Asa indak mahambek bana
Namun janji batapati juo

Artinya :
Kalau ingin dimuliakan atau jadi orang yang mulia, selalulah menepati janji yang telah dijanjikan, klecuali mendadak datang halangan.

g. Nak labo bueklah rugi
Namuah bapokok babalanjo
Namuah bajariah bausaho
Marugi kito dahulu
Dek ujuik yakin manjalankan
Lamo lambek tacapai juo

Artinya :
Berusahalah selalu untuk kebutuhan hidup sehingga mencapai keuntungan yang wajar. Dan setiap keuntungan yang ingin hendak dicapai senantiasa menghendaki pengorbanan.

h. Nak kayo kuat mancari
Namuah bajariah bausaho
Namuah bapokok babalanjo
Asa lai angok-angok ikan
Asa lai jiwo-jiwo patuang
Nan tidak dicari juo.

Artinya :
Setiap kesenangan dan kekayaan serta kebahagiaan biasanya dapat dicapai oleh seseorang, terlebih dahulu dengan membanting tulang dan memeras keringat.

Kalau sekiranya ukua jangko yang delapan macam tersebut dapat dilaksanakan oleh seseorang dalam hidup ini secara perorangan maupun secara bermasyarakat, maka bertemulah menurut kaedah adat :
Kok mamahek lah dalam barih
Kok batanam di dalam paga

Tetapi kalau sekiranya tidak dilaksanakan, juga adat mengatakan :
Bakato bak balalai gajah
Bicaro bak katiak ula
Babicaro kapalang aka
Bapikia saba tak ado
Bailimu kapalang paham
Rumah tampak jalan tak tantu
Angan lalu paham tatumbuak
Aka panjang itikad salah
Ukua sampai jangko alah sudah
Hari tibo hukuman jatuah
Di akhirat sajo mangkonyo tahu
Tuhan sandiri manantukan
Jalan dialiah dek rang lalu
Cupak dirubah rang manggaleh.
andreandhika - 04/11/2009 01:40 PM
#7

Adat Sumando Manyumando

Spoiler for Isi
Sumando adalah hubungan adat yang terjadi antara seorang lak-laki dalam suatu suku dengan kaum keluarga suku lainnya di Minangkabau, sebagai akibat pernikahannya dengan seorang perempuan dalam suku tersebut. Maka dalam hal ini sumando manyumando ini, berdiri adat didalammnya.

1. Tantangan sumando manyumando, yang sama-sama senagari,

nan selingkung aur,
nan berjumbai daun,

atau yang berbatasan tanah;

jauh nan buliah ditunjuakkan
dakek nan buliah dikakokkan
malompek lai basitumpu
mancancang lai basangkalan,
badiri adat tantang itu
nan batali buliah dihirik
nan batampuak buliah dijinjiang.

2. Sewaktu marapulai telah sampai si rumah anak daro, maka dia disambut menurut adat, disongsong dengan sirih di carano yang ditutupi kain dalamak. Sedangkan yang bertugas menyambut marapulai tersebut adalah urang sumando pula. Selanjutnya dia pulalah yang membawa marapulai naik ke atas rumah gadang serta mendudukannya di tempatnya.

3. Marapulai didudukkan ditempatnya, yaitu membelakang ke bilik dalam dan menghadap ke luar rumah, maksudnya ialah di rumah isterinya itu dia bernama urang sumando dan harus selalu bisa menempatkan diri pada posisi yang telah ditentukan. Dia tidak boleh mencampuri urusan harta pusaka dan tidak ikut bertanggung jawab didalam masalah-masalah yang timbul dalam keluarga isterinya itu, kecuali apabila dia sebagai urang sumando diajak duduk sehamparan dalam membahas sesuatu masalah yang memerlukan kehadiran urang sumando.

Dalam duduk sehamparan itupun dia harus tahu bahwa setiap kata yang dikatakannya bukanlah "kata mamak" akan "kata urang sumando". Kata mamak adalah "kata manurun", sedangkan urang sumando "kata malereng".
Sehubungan dengan kedudukannya, didalam adat disebutkan bahwa urang sumando itu adalah :

mangabek indak arek
mamancuang indak putuih

maksudnya adalah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, dia tidak boleh

memakan menghabiskan
mencencang memutuskan

dirumah nan bermamak, kampuang nan bertua. Walaupun pekerjaan baik sekalipun yang akan dilakukannya didalam rumah isterinya itu, maka wajib baginya membawa kata dengan mufakat dengan mamak rumah. Hak mamak tersebut dilambangkan dengan tempat duduknya didalam rumah gadang, yaitu membelakang ke luar dan menghadap ke bilik dalam.

4. Urang sumando harus manyadari benar bahwa kedudukannya dirumah isterinya itu tidak berurat berakar. Statusnya sebagai urang sumando didalam adat disebutkan sebagai :

langau di ikua kabau
lacah di kaki
abu diatas tunggua

Seorang laki-laki di Minangkabau harus menyadari bahwa dia mempunyai dwifungsi kepemimpinan didalam hidupnya, yaitu sebagai kepala keluarga di dalam rumah isterinya dengan tugas, tanggung jawab dan wewenang sesuai dengan "kode etik" urang sumando, dan juga sebagai tanggung jawab mamak rumah dalam keluarga ibunya dengan tugas, tanggung jawab dan wewenang sesuai dengan "kode etik" mamak rumah.
Dalam tugas dwifungsinya itu hendaklah dia melaksanakan ketentuan yang disebutkan dalam adat :

anak dipangku
kamanakan dibimbiang

Apabila laki-laki tersebut bersikap "indak nan labiah pado bini", sehingga melalaikan tanggung jawabnya terhadap ibu, dunsanak dan kemenakannya, ataupun dia berbuat sekehendaknya dirumah anak isterinya sehingga melupakan batas-batas wewenangnya sebagai urang sumando, maka dapatlah dikatakan bahwa laki-laki tersebut kurang :

batunjuak bajari

oleh ibu bapak dan mamaknya atau termasuk katagori :

indak baguru baraja

sebagai urang sumando. Hendaknya disadari bahwa apapun dapat terjadi dalam hidup ini, termasuk hubungan suami isteri tersebut :

saiyo babana, sataka bacarai
jikok carai nan basuo,
bukuak padang babalah buluah,
pinang pulang katampuaknyo,
ayam pulang ka pautan.

Bila masalah perceraian yang disebut, maka berdiri pula adat didalamnya, yaitu :

carai hiduik baponih surek
carai mati beranggun-anggun;

Terbang langau di ekor kerbau, hanyut lacah di kaki dan hilanglah abu diatas tunggul, kembalilah si laki-laki kerumah ibunya atau dunsanak lemenakannya dengan fungsi mamak rumah atau tungganai.

5. Selanjutnya apabila sumandi manyumando itu terjadi dari satu nagari ke nagari lain atau dari satu luhak ke luhak yang lain, hal itu disebut :

tali tarantang indak putuih
sangkutan tagantuang indak patah
indak lapuak dek hujan
indak lakang sabab dek paneh

Penyebutan dengan ungkapan demikian, karena orang dalam tiga luhak bila ditelusuri masih mempunyai hubungan satu sama lain, setidak-tidaknya mempunyai hubungan adat.
Ada beberapa sebutan atau julukan terhadap fungsi urang sumando itu, bila dilihat dari sudut cacad dan celanya, sedangkan dari sudut yang terbaik hanya satu julukan yaitu :

"urang sumando ninik mamak"

yang sangat didambakan semua pihak.
Adapun pengertian urang sumando ninik mamak antara lain adalah :

kok kusuik sato manyalasaikan
kok karuah sato mampajaniahan

Bila terjadi silang selisih dalam rumah nan bermamak.
kaganti bumi dengan langik
kaganti cincin dengan gelang

payuang panji tampek balinduang
kaganti si tawa jo si dingin

panjang nan ka mangarek
singkek nan mambilai.

Untuk itulah diperlukan pengertian tentang falsafah yang terkandung di dalam pakaian kebesaran tersebut.
Maka semua hal itu hanya dapat diketahui anak kemanakan yang muda-muda, apabila diterangkan oleh seorang mamak kepada mereka. Seangkan mamak tersebut barulah akan dapat memberikan ajarannya apabila dia sendiri sudah menghayati pula tentunya.

Sumber : Buletin Sungai Puar 24 maret 1988
andreandhika - 04/11/2009 01:40 PM
#8

Aspek Hukum Dalam Masyarakat Minangkabau

Spoiler for Isi
UNDANG-UNDANG DUOPULUAH

Suatu hal yang ikut berperanan dalam perkembangan sosial budaya Minangkabau, ialah ketentuan hukum adat. Dimana nenek moyang orang Minangkabau telah mengatur adat sebagai undang undang dan hukum. Ketentuan tersebut dijadikan ukuran bertindak dan berperilaku ditengah komunitas sosial, baik seebagai individu maupun masyarakat secara luas.

Secara sistematis undang undang dan hukum disusun menurut empat kategori :
1. Undang undang Nagari
2. Undang undang isi Nagari
3. Undang undang luhak dan rantau
4. Undang undang nan duo puluah

Semua jenis undang-undang itu merupakan satu kesatuan yang utuh, kemudian dijabarkan secara luas dan teratur dalam masyarakat, sehingga terbentuklah satu kesatuan hukum yang berlaku di ditengah masyarakat Minangkabau.

Pada kesempatan ini kita akan mengetengahkan undang undang duopuluah. Undang undang duopuluah adalah undang undang yang terdiri dari 20 pasal. Pasal pasal yang terdapat didalam merupakan ketentuan tentang hukum pidana atau tindak kejahatan. Ditinjau dari segi bentuknya, undang undang duopuluah dikelompok menjadi dua bagian, undang undang nan salapan dan undang-undang nan duo baleh.

Undang-undang nan salapan adalah pasal pasal yang menyangkut jenis kejahatan atau yang disebut "cemo ba-kadaan" sedang 12 pasal lagi adalah nan duo baleh, yaitu ketentuan yang menyangkut alasan untuk menangkap dan menghukum seseorang, disebut juga "duo baleh tuduah nan bakatunggagan". Menurut a.A.Navis dalam buku "Alam Takambang Jadi Guru" bahwa undang undang ini terdiri dari dua bagian yang masing masing terdiri dari enam pasal. Bagian pertama disebut bagian tuduh, yakni pasal pasal yang dapat menjadikan seseorang tertuduh dalam melakukan kejahatan. Enam pasal lainnya dinamakan "cemo" (cemar), yaitu merupakan prasangka terhadap seseorang sebagai orang yang telah melakukan sesuatu kejahatan, sehingga ada alasan untuk menangkap dan memeriksanya (1984-111-112)

Agar lebih jelasnya pasal pasal dalam undang undang duo pluah ini, penulis akan menyuguhkan satu persatu sesuai dengan kedudukannya.

Undang-Undang Nan Salapan
Bila kita lihat secara teliti tentang pasal pasal dalam undang undang nan salapan, dianya mencantumkan jenis kejahatan yang dilakukan seseorang. Tiap pasalnya menpunyai dua jeniskejahatan yang hampir bersamaan, akan tetapi kadarnya berbeda. Untuk lebih jelasnya berikut ini kita muat pasal pasal sebagai berikut :

1. Dago dagi mambari malu.
Dago adalah perbuatan yang mengacaukan, sehingga terjadi kehebohan dan desas desis. Sedangkan dagi adalah perbuatan fitnah ditengah masyarakat sehingga orang yang difitnah merasa malu atau dirugikan

2. Sumbang salah laku parangai.
Yang dimaksud dengan sumbang adalah perbuatan yang menggauli seseorang yang tidak boleh dinikahi. Misalnya bergurau antar pemuda dengan saudara perempuannya atau dengan gadis sekaum. Dalam masyarakat Minangkabau kita mengenal beberapa perbuatan sumbang, diantaranya sumbang duduak, sumbang tagak, sumbang diam, sumbang perjalanan, sumbang pekerjaan, sumbang tanyo, sumbang jawab, sumbang kurenah, sumbang pakaian, dan sumbang pergaulan.
Semua unsur diatas berbeda kadarnya. Kemudian yang dimaksud dengan salah adalah perbuatan keji, misalnya seseorang pemuda melakukan perzinahan denganwanita yang bukan istrinya. Jadi sumbang salah kejahatan yang berkenaan dengan tingkah laku individu, sehingga menimbulkan keributan terhadap orang banyak.

3. Samun saka Tagak Dibateh
Samun adalah perbuatan merampok milik orang lain dengan membunuh orang tersebut. Sedang saka adalah perbuata merampok milik orang lain dengan kekerasan, paksa atau menganiaya orang tersebut. Dulu setiap terjadi tindak kejahatan ini selalu di batas jalan. Akan tetapi sekarang kejadian seperti ini bukan hanya terjadi dibatas aja, tetapi sering terjadi juga dirumah rumah, kebun, sawah dan sebagainya.

4. Umbuak Umbi budi marangkak
Umbuak adalah perbuatan rayuan atau penyuapan pada seseorang sehingga dapat merugikan orang lain. Umbi adalah perbuatan membujuk seseorang agar sama sama mau melakukan kejahatan. Dalam pasal ini mempunyai persamaan dengan "kicuah kecang", kicuah adalah perbuatan penipuan yang merugikan orang lain. Sedang kecang adalah perbuatan pemalsuan yang merugikan orang lain.

5. Curi Maling taluang didindiang
Curi adalah perbuatan mengambil barang orang lain disaat penghuninya lengah, maksud dalam mengambil milik orang lain tidak direncanakan, tetapi hanya sambil lalu saja. Sedangkan maliang adalah perbuatan mengambil milik orang lain disaat pemiliknya tidak ada ditempat itu. Dari sisi lain dapat juga disebut mengambil milik orang lain dengan melakukan perusakan, seperti bekas yang terluang pada dinding.

6. Tikam Bunuah padang badarah
Tikam adalah menancapkan benda tajam kepada seseorang, sehingga orang tersebut terluka oleh perbuatannya. Sedangkan yang dimaksud dengan bunuah adalah perbuatan mehilangkan nyawa orang lain. Apakah perbuatan itu untuk mengambil milik orang lain atau merupakan dendam lama.

7. Sia Baka sabatang suluah
Sia (siar) adalah tindakan membuat api sehingga milik orang lain terbakar. Umpamanya seseorang membakar perkebunannya, lalu api perkebunan itu menjalar kekebun orang lain, dan membakar tanaman yang ada. Baka (bakar) membakar milik orang lain dengan sengaja.

8. Upeh Racun batabuang sayak
Upeh adalah perbuatan aniaya kepada seseorang dengan memasukan ramuan kedalam makanannya, sehingga menimbulkan sakit bagi orang tersebut. Sedang racun adalah tindakan pembunuhan dengan memasukkan ramuan atau benda yang berbisa kedalam makanan orang tersebut.

Dari penjabaran pasal pasal undang nan salapan ini, maka dapat kita pahami bahwa masyarakat Minangkabau jauh sebelum berlakunya undang undang pidana di Indonesia, telah membuat konsep hukum dalam masyarakat.
Jadi konsep hukum yang terdapat dalam undang undang nan salapan adalah kategori kejahatan dan jenisnya.
Berdasarkan uraian diatas terdapat 16 macam perbuatan yang membuat seseorang itu dijatuhkan hukuman.

Undang-Undang Duobaleh
Seperti yang telah dibicarakan pada uraian terdahulu bahwa undang undan "duo baleh" adalah pembagian dari undang undang "duo puluah"

Konsep pada undang undang ini adalah dasar atau alasan menuduh seseorang. Pasal pasal dalam undang undang duo baleh terdiri dari 12 pasal, keseluruhannya merupakan alasan untuk menjatuhkan tuduhan. Seperti undang undang nan salapan, undang undang nan duo baleh juga diungkapkan secara berpapasan, yaitu :

1. Tatumbuak, Taceak
Tatumbuak maksudnya adalah si pelaku tidak dapat membalas tuduhan yang datang kepadanya, sehingga dia tidak dapat berucap apa apa. Taceak yaitu terdakwa terpaksa mengaku dan berterus terang atas tuduhan itu, bahwa yang melakukan perbuatan itu adalah dia sendiri.

2. Tatando, Tabukti
Yang dimaksud dengan tatando adalah ditamukan milik terdakwa ditempat kejadian atau ditempat berlangsungnya kejadian. Tabukti adalah terlihat bukti yang melekat pada tubuh atau pakaian bahwa adalah pelaku kejahatan.

3. Taikek, Takabek
Taikek dapat diartikan orang yang melakukan kejadian itu ditemui sedang melakukannya. Sementara takabek dimaksudkan orang melakukan kejahatan itu bertemu dilokasi terjadinya peristiwa, sehingga mereka tidak bisa lari dari lokasi tersebut.

4. Tacancang, Tarageh
Tercencang merupakan bekas yang ditemukan akibat tindakan terdakwa ditempat kejadian. Tarageh yaitu ditemukan pada tubuh terdakwa bekas yang ditimbulkan oleh benda yang ada ditempat berlangsungnya peristiwa.

5. Tahambek, Tapukau
Yang dimaksud Tahambek adalah terdakwa tidak dapat lolos dari pengepungan. Sedang Tapukau adalah terdakwa tertangkap setelah dikeroyok atau terpukul oleh orang yang mengejarnya.

6. Talalah, Takaja
Talalah yakni ditemukan terdakwa dalam tempat persembunyiannya setelah dilakukan pengejaran. Sementara takaja adalah terdakwa dapat tertangkap dalam pengejaran.

Keenam pasal diatas merupakan hal hal yang berhubungan dengan alasan untuk menangkap terdakwa. Pasal ini menyatakan pembuktian secara langsung dan dapat dijadikan sebagai syarat untuk menjatuhkan hukuman. Namun disisi lain, ajaran adat Minangkabau juga menjelaskan tentang kesaksian hukum. Hal itu dapat menjadi penguat dari pasal pasal diatas. Berikut ini pasal pasal yang menyatakan kesaksian hukum, merupakan kelanjutan dari pasal undang undang duo baleh, yaitu sebagai berikut :

7. Basuruik bak sipasan bajajak bak bakiak
Ditemukannya bekas atau jejak ditanan menuju tersangka

8. Anggang lalu, atah jatuah
Maksudnya seseorang ditemukan ditempat kejadian bersamaan terjadinya peristiwa

9. Kecondongan mato urang banyak
Diwaktu kejadian banyak mata melihatnya. Dari sisi lain dapat pula dikiaskan bahwa hidup tersangka tiba tiba berubah secara mendadak, sedangkan orang banyak belum mengetahui asal usul perubahan itu.

10. Bajua bamurah murah
Yaitu didapati seseorang sedang menjual barang atau alat alat dengan harga muranh sekali, sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa barangyang dijual itu bukan miliknya.

11. bajalan Bagageh gageh.
Terlihat tersangka sedang berjalan sangat cepat sekali atau tergesa gesa, kemudian dari air mukanya memancarkan rasa ketakutan.

12. Dibaok pikek, dibaok langau.
Pikek adalah sejenis serangga yang mencari makanan pada tubuh kerbau, ukuran badannya agak besar dari lalat. Jadi maksud ungkapan dibaok pikek, dibaok langau yaitu terdakwa ditemukan hilir mudik tampa diketahui tujuan yang pasti Dari uraian diatas dapat dipahami, bahwa undang undang duo puluah hanyalah menyatakan bentuk kejahatan yang dilakukan seseorang, tuduhan dan diperkuat dengas kesaksian hukumnya. Sedangkan pelaksanaan peradilan dan proses pengambilan keputusan tidak dimuat dalam undang undang tersebut.


Sumber : Buletin Sungai Puar No. 46 - April 1994
andreandhika - 04/11/2009 01:41 PM
#9

Pambagian Rang Sumando

Spoiler for Isi
Rang Sumando Kacang Miang
Yang dikatakan rang sumando kacang miang adalah rang sumando pengacau, pengharu biru dalam kampuang, suka menghasut dan memfitnah antara andan pasumandan, antara pambayan sesamanya dan antara orang badunsanak.
Kacang miang menerbitkan gatal, pindah memindah pada orang yang menghampirinya. Dalam susunan adat istiadat inilah sumando nan cilako.

Rang Sumando lapiak Buruak
Rang sumando lapiak buruak adalah rang sumando yang bodoh dan tidak mau keluar rumah berusaha, seperti kesawah ataupun keladang, atau berdagang berniaga untuk nafkah anak dan istrinya. Yang disukainya adalah duduak bamanuang di tapi bandue dan benar-benar pemalas. Sumando seperti ini tentu tidak berguna bagi orang.

Rang Sumando langau Hijau
Sumando langau hijau hanya dipakai untuk memperbanyak anak saja, seperti seekor langau hijau yang terbang kesana kemari, sehingga bertelur dalam sampah dan sesudah itu terbang pula kemana dia suka. Sumando seperti ini tidak mempunyai pedoman hidup yang tetap. Begitu pulalah sifatnya yang mau berbini banyak. Kasinan marongong kamari marongong dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil (manganduang bangan) dan tidak memberikan jaminan hidup terhadap keluarganya.|

Rang Sumando Bapak paja
Yang ini adalah untuk memperbanyak anak saja. Dia tidak peduli apa yang terjadi di kampung (pasukuan) istrinya. Yang terpenting baginya adalah suasana lahir batin yang terjadi di kampung (pasukuan) dia saja.

Rang Sumando Niniak Mamak
Rang sumando niniak mamak ini adalah sebenar-benarnya rang sumando. Dia adalah orang sama mengatur barang sesuatu dalam keluarga istrinya dan tidak mengambil hak mamak rumah. Dia mengumpulkan yang berantakan dalam keluarga istrinya. Mangampuangkan nan taserak, manjapuik nan tacicie, mengingatkan mana yang lupa, sehingga dalam kampuang (pasukuan) istrinya itu dia mempunyai paham seperti paham niniak mamak. Keruh menjernihkan, kusut menyelesaikan. Dalam segala hal yang mungkin terjadi, pertimbangannya perlu dimintak, dan dia tidak akan ditinggalkan orang dalam tiap-tiap perundingan di kampung (pasukuan) istrinya.

Sumber : Adat Minangkabau - Pidato Pasambahan & Tata Cara Adat Perkimpoian, Jakarta 1991


Pambagian Wanita Manuruik Adat Minangkabau

Spoiler for Isi
Mengingat pentingnya peranan wanita didalam dan luar rumah tangga, maka menurut adat Minangkabau wanita dapat digolongkan kepada tiga macam.
Kalau syarak mangato adat mamakai, maka syarak yang mengatakan wanita itu tiang nagari atau negara, bilamana baik wanitanya maka baiklah nagari atau negaranya, jika rusak wanitanya maka rusaklah nagari atau negaranya. Maka secara tajam adat membedakan tiga golongan wanita tersebut, yakni :
· Banamo simarewan
· Banamo mambang tali awan
· Banamo parampuan

1. SIMAREWAN
Oleh adat adalah :

Bapaham bagai gatah caia
Iko elok etan katuju
Bak cando pimpiang dilereang
nan bak santano pucuak aru
Kamano angin inyo kakiun
alun dijujai inyo alah galak
Alun diimbau inyo alah datang
Nan bak balam talampau jinak
Sifat bak lipeh tapanggang
Umpamo caciang kapanasan

Nan pancaliak bayang bayang
Nan panagak ditapi labuah
Lain geleng panokok
Asiang kacundang sampik
Tagisia labiah bak kanai
Tasingguang labiah bak jadi

Kok tumbuah gaua jo laki laki
Banyak galak daripado kecek
Banyak kucikak jo kucindam
Malu jo sopan tak tapakai
Ereang jo gendeang tak baguno
Bak umpamo katidiang tangga bingkai
Bak ibarat payuang tangga kasau

Elok baso tak manantu
Kecek bak caro mambaka buluah
Suko bakato kato cabuah
Mamakai sipat sio sio
Tabiak caba dipakaian
Duduak jo tagak tak nan sopan
Katonyo banyak ka nan bukan
Rundiang banyak bakucekak
Galak bak ibarat gunuang runtuah
Tapuang jo sadah tak babeso
Baiak dimuko sanak famili
Ataupun dimuko urang lain
Indak barundiang jo timbangan
Rundiang ka nan tidak babalabeh
Taruah bana bak katidiang
Taserak bana bak anjalai
Manyingguang puncak bisua urang
Manjunjuang balacan dikapalo
Manggali gali najih dilubang
Hati busuak pikiran hariang
Muluik kasa kecek manggadang
Hati diateh langik biru
Ibuk bapak tak babeso
Niniak jo mamak tak nan tau
Urang dipandang sarok sajo
Nan tuo indak bahormati
Nan ketek indak bakasihi
Korong kampuang nan tak jaleh
Adat indak baisi
Limbago indak batuang
Imbau nan indak basahuti
Panggilan nan indak baturuti
Urang batuan dihatinyo
Urang barajo di dimatonyo
Durhako kapado ibu bapak
Labiah kapada rang tuo tuo

Aratinyo wanita nan jauah dari kasopanan dalam setiap tingkah lakunya.

2. MAMBANG TALI AWAN
Yang dimaksud oleh adat Minangkabau wanita yang disebut mambang tali awan,

Iyolah wanita tinggi hati
Kalau mangecek samo gadang
Atau barundiang ka nan rami
Sagalo labiah dari urang
Tasambia juo bapak si buyuang
Basabuik juo bapak siupiak
Nan sagalo labiah dari urang
Baiak tantang pambalinyo
Atau tantang kasiah sayangnyo

Siang jo malam jarang dirumah
Naiak rumah turun rumah
Etan karumah tanggo lain
Suko mangecek jo maota
Tantang buruak baiak urang
Gilo mambandiang bandiangkan urang
Baiak jo elok badan diri
Ataupun dikayo laki awak
Kok tibo di di gadih mudo mantah
Nan panduduak ditapi jalan
Nan panagum diateh janjang
Nan pamegu dimuko pintu
Bak ibarat kacang diabuih ciek
Bak lonjak labu tabanam
Gadang tungkuih tak barisi
Bak ibarat buluah bambu
Batareh tampak kalua
Tapi didalam kosong sajo
Karajo parampuan tak nan tau
Karajo batandang siang jo malam
Kok tumbuah mandi ditapiang
Kecek mangecek lumak lamik
Mambincang bincang urang sakampuang
Mampakatokan urang sarumah
Baiak antaro laki bini
Ataupun dalam korong kampuang
Dio manjadi upeh upeh racun
Duduak tagak karajo sumbang
Baiak didalam tingkah laku
Atau dalal pi'il jo parangai
Manyusah pandang urang banyak
Suko bagaduah tangah rumah
Suko bacakak jo urang kampuang
Asuang siasah lah pakaian
Dangki kianat lah parangai
Aka buruk pikiran salah
Gilo dimabuak angan angan
Raso pareso tak tapakai
Malu jo sopan jauah sakali
Tasingguang urang kanai miangnyo
Takuncang urang kanai rabehnyo
Bak ibarat baolok olok
Bagai kancah laweh arang
Paham bak tabuang sarueh
Capek kaki tapi panaruang
Ringan tangan tapi pamacah.

3. PARAMPUAN
Yang dimaksud parampuan menurut adat Minangkabau adalah seorang wanita, baik gadis maupun telah menjadi ibu atau istri yang senantiasa menpunyai sipat terpuji menurut adat, yang dilengkapi dengan segala kecakapan dan pengetahuan sesuai dengan kemampuan seorang wanita.

Parampuan adalah seorang wanita yang baik budi pekertinya, sopan tingkah lakunya, memakai sifat malu didalam dirinya, seperti kata adat :

Adapun nan disabuik parampuan
Tapakai taratik jo sopan
Mamakai baso jo basi
Tahu diereang jo gendeang
Mamakai raso jo pariso
Manaruah malu jo sopan
Manjauahi sumbang jo salah
Muluik manih baso katuju
Kato baiak kucindam murah
Baso baiak gulo dibibia
Pandai bagaua samo gadang
Hormat kapado ibu bapak
Hidmat kapado urang tuo tuo
Mamakai di malu samo gadang
Labiah kapado pihak laki laki
Takuik kapado Allah
Manuruik parentah Rasul
Tahu dikorong jo kampuang
Tau dirumah jo tanggo
Tahu manyuri manuladan
Takuik dibudi katajua
Malu dipaham ka tagadai
Manjauahi sumbang jo salah
Tahu dimungkin jo patuik
Malatakkan sasuatu pado tampaiknyo
Tahu ditinggi jo randah
Bayang-bayang sapanjang badan
Buliah ditiru dituladan
Ka suri tuladan kain
Kacupak tuladang batuang
Maleleh buliah dipalik
Manitiak buliah ditampuang
Satitiak buliah dilauikkan
Sakapa dapek digunuangkan
Iyo dek urang di nagari

Wanita demikian tepat memakai predikat Bundo Kanduang

Sumber : Buletin Sungai Pua 17 November 1986.
andreandhika - 04/11/2009 01:42 PM
#10

Suku dan Pengembangannya


Spoiler for Isi
1. Suku
Asal 
Kata suku dari bahasa Sanskerta, artinya "kaki", satu kaki berarti seperempat dari satu kesatuan.
Pada mulanya negeri mempunyai empat suku, Nagari nan ampek suku. Nama-nama suku yang pertama ialah Bodi, Caniago, Koto, Piliang. 


Kata-kata ini semua berasal dari sanskerta : 
• Bodi dari bhodi (pohon yang dimuliakan orang Budha) 
• Caniago dari caniaga (niaga = dagang)ÂÂ*
• Koto dari katta (benteng) 
• Piliang dari pili hiyang (para dewa)
Bodi Caniago 
adalah kelompok kaum Budha dan saudagar-saudagar (orang-orang niaga) yang memandang manusia sama derajatnya. Koto Piliang adalah kelompok orang-orang yang menganut agama Hindu dengan cara hidup menurut hirarki yang bertingkat-tingkat.

Dalam Tambo, kata-kata Bodi Caniago dan Koto Piliang ditafsirkan dengan : Budi Caniago = Budi dan tango, budi nan baharago, budi nan curigo.
Merupakan lambang ketinggian Dt. Perpatih nan Sabatang dalam menghadapi pemerintahan aristokrasi Dt. Katumanggungan. 
Koto Piliang = kata yang pilihan (selektif) dalam menjalankan pemerintahan Dt. Katumanggungan. 



2. Pertambahan Suku 

Suku yang empat itu lama-lama mengalami perubahan jumlah karena : 
• Pemecahan sendiri, karena warga sudah sangat berkembang. Umpama : suku koto memecah sendiri dengan cara pembelahan menjadi dua atau tiga suku.
• Hilang sendiri karena kepunahan warganya, ada suku yang lenyap dalam satu nagari. 
• Perpindahan, munculnya suku baru yang warganya pindah dari negeri lain. 
• Tuntutan kesulitan sosial, hal ini timbul karena masalah perkimpoian, yang melarang kimpoi sesuku (eksogami).

Suatu suku yang berkembang membelah sukunya menjadi dua atau tiga. Biasanya suku-suku yang baru tidak pula mencari nama baru. 
Nama yang lama ditambah saja dengan nama julukan. Jika suku baru itu terdiri dari beberapa ninik, jumlah ninik itu dipakai sebagai atribut suku yang baru itu. Koto Piliang memakai angka genap dan Bodi Caniago memakai angka ganjil. 

Umpama : 
• Suku Melayu membelah menjadi : melayu ampek Niniak, Melayu Anam Niniak, Caniago Tigo Niniak, Caniago Limo Niniak (Bodi Chaniago) 
• Kalau gabungan terdiri dari sejumlah kaum, namanya : Melayu Ampek Kaum (Koto Piliang), Melayu Tigo Kaum (Bodi Caniago) 
• Apabila gabungan terdiri dari sejumlah korong namanya : Melayu Duo Korong (Koto Piliang), Caniago Tigo Korong (Bodi Caniago) 



3. Pembentukan Suku
dipemukiman baru Perpindahan dari beberapa negeri ke tempat pemukiman baru di luar wilayah negari masing-masing, ditempat yang baru itu dapat dibuat suku dengan memilih beberapa alternatif : 
• Setiap anggota bergabung dengan suku yang sejenis yang terlebih dulu tiba di tempat itu. 
• Beberapa ninik atau kaum dari suku yang sama berasal dari nagari yang sama bergabung membentuk suku baru. Nama sukunya pakai nan spt: Caniago nan Tigo Niniak atau Caniago nan Tigo. 
• Apabila tidak ada tempat bergabung dengan suku yang sama lalu mereka berkelompok membentuk suku baru. Mereka memakai nama suku asli dari negerinya tanpa atribut, spt asal Kitianyir ditempat baru tetap Kutianyir. 
•

Membentuk suku sendiri di nagari baru tanpa bergabung dengan suku yang ada ditempat lain. Biasanya memakai atribut korong spt Koto nan Duo Korong. 
• Orang-orang dari bermacam-macam suku bergabung mendirikan suku yang baru. Nama suku diambil dari nama negeri asal : spt Suku Gudam (negeri Lima Kaum), Pinawan (Solok Selatan), suku Padang Laweh, suku Salo dsb. Selain dari itu , cara-cara lain yaitu mengambil nama-nama dari : 
• Tumbuh-tumbuhan, seperti Jambak, Kutianyir, Sipisang, Dalimo, Mandaliko, Pinawang dll. 
• Benda seperti Sinapa, Guci, Tanjung, Salayan dll. 
• Nagari seperti Padang Datar, Lubuk Batang, Padang Laweh, Salo dll. 
• Orang seperti Dani, Domo, Magek dll. Suku yang demikian lebih banyak daripada suku-suku yang semula. Apabila dijumlahkan nama-nama suku itu seluruhnya sudah mendekati seratus buah di seluruh Alam Minangkabau.

4. Adat orang sesuku 

Orang-orang yang sesuku dinamakan badunsanak atau sakaum. Pada masa dahulu mulanya antara orang yang sesuku tidak boleh kimpoi walaupun dari satu nagari, dari satu luhak ke luhak. Tetapi setelah penduduk makin bertambah banyak, dan macam-macam suku telah bertambah-tambah, dewasa ini hal berkimpoi seperti itu pada beberapa nagari telah longgar. 
Tiap-tiap suku itu telah mendirikan penghulu pula dengan ampek jinihnyo.

Jauh mencari suku, dakek mancari indu, sesungguhnya sejak dahulu sampai sekarang masih berlaku, artinya telah menajdi adat juga. Adat serupa ini sudah menjadi jaminan untuk pergi merantau jauh. 
Mamak ditinggakan, mamak ditapati. Mamak yang dirantau itulah, yaitu orang yang sesuku dengan pendatang baru itu yang menyelenggarakan atau mencarikan pekerjaan yang berpatutan dengan kepandaian atau keterampilan dan kemauan "kemenakan" yang datang itu sampai ia mampu tegak sendiri. Baik hendak beristri, sakit ataupu kematian mamak itu jadi pai tampek batanyo, pulang tampek babarito, bagi kemenakan tsb. 


Sebaliknya "kemenakan" itu harus pula tahu bacapek kaki baringan tangan menyelenggarakan dan memikul segala buruk baik yang terjadi dengan "mamak" nya itu. Dengan demikian akan bertambah eratlah pertalian kedua belah pihak jauh cinto-mancinto, dakek jalang manjalang. 
Tagak basuku mamaga suku adalah adat yang membentengi kepentingan bersama yang merasa semalu serasa. Bahkan menjadi adat pusaka bagi seluruh Minangkabau, sehingga adat basuku itu berkembang menjadi Tagak basuku mamaga suku tagak banagari mamaga nagari, tagak baluhak mamaga luhak dll. Artinya orang Minangkabau dimana saja tinggal akan selalu bertolong-tolongan, ingat mengingatkan, tunjuk menunjukkan, nasehat menasehatkan, ajar mengajarkan. 


Dalam hal ini mereka tidak memandang tinggi rendahnya martabat, barubah basapo batuka baangsak. Karena adat itulah orang Minangkabau berani pergi merantau tanpa membawa apa-apa, jangankan modal. Kalau pandai bakain panjang Labiah dari kain saruang Kalau pandai bainduak samang Labiah dari mande kanduang. Lebih-lebih kalau yang datang dengan yang didatangi sama-sama pandai. Padilah nan sama disiukkan sakik nan samo diarangkan. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Apalagi kalau "ameh lah bapuro, kabau lah bakandang". 



(Sumber : Minangkabau Tanah Pusaka - Tambo Minangkabau)
andreandhika - 04/11/2009 01:43 PM
#11

Adat Raso Jo Pareso

Spoiler for Isi
Sebelum masyarakat Minangkabau mengenal dan menganut agama Islam, filsafah adatnya adalah

Adat basandi kapado alua,
Alua basandi kapado patuik jo mungkin.
Raso bao naiak,
Pareso bawo turun

Kemudian pada awal abad ke 19 sesuai dengan perkembangan, maka dibuatlah kesepakatan yang sangat mendasar sekali antara ninik mamak dengan alim ulama di bukit Marapalam. Dibukit Marapalam ini terpatri :

Adat basandi Syarak.
Syarak basandi Kitabulah

Namun adat tetap bersandarkan :

Raso bao naiak
Pareso bao turun
Tarimolah raso dari lua
Pareso bana raso kadalam
Antah iyo antah indak.

Karena intisari dari adat adalah "Raso jo Pareso" Rasa takut kepada Allah, Rasa malu dan sopan terhadap sesama manusia, segan menyegani, tenggang rasa dan saling menghargai diantara sesama anggota masyarakat. Dari rasa malu timbul rasa sopan.

RASO inilah sebagai perekat dan mengikat dengan erat ditengah masyarakat dalam kehidupan semenjak fase taratak sampai fase nagari. Demikian juga fase selanjutnya, yaitu fase rantau.

Karantau madang dihulu
Babungo alah babuah balun
Marantau bujang dahulu
Dikampuang baguno balun
Hiu bali balanak bali
Ikan panjang bali dahulu
Induak cari dunsanak cari
Induak samang cari dahulu.

Raso mambuahkan malu dan takut berbuahkan budi. Malu laksana humus dalam padang kehidupan bermasyarakat yang berfungsi sebagai biang penyubur dan sebagai dasar untuk bertumbuh kembangnya kehidupan di Minangkabau. Minangkabau bataluak budi, ranahnyo titian tanah baso .

Falsafah dasar hidup masyarakat yang demikian makin mempercepat masuk dan berkembangnya agama Islam. Malu adalah sebagian dari iman sabda Rasulullah SAW, Selanjutnya ditegaskan lagi "Innamabu'itstu li utammima makaarimal akhlaq. Sesungguhnya aku diutus kata rasulullah adalah untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Dengan demikian Emotional and Spritual Quotion (ESQ) yang lagi popular sekarang ini, ternyata di Minangkabau telah lama menjadi pakaian sehari hari. Tetapi bunga tulip dihalaman tetangga lebih bagus daripada bunga tulip dihalaman kita, bak pepatah Belanda.

dima kain kabaju,
Dijaik indaklah sadang,
Lah takanak mangko diungkai.
Dimalah nagari ndak kamaju,
Adat sajati tu banalah nan hilang
Dahan jo rantiang nan bapakai.

Supayo jarami naknyo takerai
Larakkan padi ditampuaknyo
Supayo nagari naknyo salasai
Latakkan sesuatu ditampaiknyo.

anak urang koto hilalang
pai kapakan baso
Malu jo sopan kalau lah hilang
Hilanglah raso jo pareso

Rarak limau dek binalu
Tumbuah sarumpun jo siakasek
Kalau hilang malu jo sopan,
Nan bak kayu lunnga pangabek

Dek ribuik rabahlah padi
Dicupak nak urang canduang
Hiduik kalau indak babudi
Duduak tagak kumari tangguang

Talangkang carano kaco
badarai carano kandi
Bareh nan samo dirandang
Baganggang karano dek raso
Bacarai karano dek budi
Itu nan samo kito pantangkan

Nan merah iyolah sago
Nan kuriak iyolah kundi
Nan indah iyolah baso
Nan baiak iyolah budi

Pulau pandan jauah ditangah
Dibaliak pulau si angso duo
Ancua badan dikanduang tanah
Budiak baiak dikana juo.
Pisang ameh bao balai
Masak sabuah dalam peti
Hutang ameh buliah di bayia
Hutang budi dibawo mati.

Begitu pentingnyo raso jo pareso, maka adat Minangkabau menuntun masyarakatnya untuk menanam raso malu dengan raso sopan. Raso takut terhadap Allah SWT raso malu terhadap sesama manusia, malu antara lelaki dan perempuan, malu antaro sumando dengan mamak rumah, malu antara mertua dan menantu, malu berbuat sumbang salah, malu melanggar aturan adat, malu melihat kalau ada tetangga merintih kelaparan, malu berbuat tidak sopan, malu kalau kalau hati orang lain terluka, malu kalau kalau terambil hak orang lain dan lain sebagainya.

Bahkan raso malu dikaitkan dengan harta benda, Harta dapat dibagi tapi malu tidak dapat dibagi. Bagi mereka yang tidak memakaikan raso jo pareso dan malu jo sopan disebut dengan yang tidak tahu di nan ampek, indak tau diatah takunyah, indak tau disuduik kancah.

Raso jo pareso dan malu dengan sopan dapat diperoleh dari didikan orang tua dirumah terutama sekali dari ibu/bundo kanduang. Bundo kanduanglah limpapeh rumah gadang, acing-acing dalam nagari. Tampaik maniru dan manuladan, kasuri tuladan kain, cupak tuladang batuang. Tampaik pa aja baso dengan basi pendindiang malu jo sopan. Bundo kanduanglah yang harus gigih mendidik anaknyo rajin sekolah dan mengaji supaya kelak menjadi anak yang beraklak dan beriman tangguh, narako jalan tabantang sarugo jalan batampuah, karano kalau karuah aia dihulu biasonyo karuah pulo kahilia. Kalau kuriak induaknyo, rintiak anaknyo, karano cucuran atok jatuahnyo ka palambahan.

Inilah yang diperingatan oleh Allah SWT dalam firmanNya pada surat Anisaa ayat 9. Dan hendaklah (orang tua) mereka menjaga jangan sampai meninggalkan anak yang lemah dibelakang hari, yang dikawatirkan akan sengsara (karena kehilangan pegangan). Oleh karena itu hendaklah ia patuh kepada Allah dan hendaklah mengatakan/mengajarkan perkataan yang benar dan sabda Rasulullah SAW, beri ilmulah anakmu, sesungguhnya zaman yang kamu lalui tidak lagi akan ditemui anakmu nanti.

Sedang dalam pelaksanaan "nan ampek" dalam masyarakat diperlukan aturan, agar tidak keluar dari baris dan menimbulkan cemooh dalam masyarakat. Malabiah ancak ancak, mangurangi sio sio, bayang baying sapanjang badan, sasuaikan patuik jo mungkin, letakkan sesuatu pada tempatnya.

Aturan aturan tersebut tertuang dalam nan barih balabeh, nan bacupak bagantang, cupak nan 12 taia, gantang nan kurang duo lino puluah.
Masing masing komponen masyarakat harus memahami posisi dan funsi serta sifatnya dalam masyarakat, apakah sebagai mamak, kemenakan, mamak rumah, urang sumando, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang atau urang mudo mantah. Kalau kita memahami semua itu maka inilah yang dikatakan orang arif budiman lagi jauhari bijaksana pandai maninbang tau manjalankan.

Sumber : Surek kaba Anak Nagari SUNGAI PUA edisi 02 Januari 2003.
andreandhika - 04/11/2009 01:44 PM
#12

Busana Perempuan Minang Dalam Kebenaran Islam

Spoiler for Isi

[SPOILER=.]Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau


Spoiler for ..
Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau


Spoiler for pinjam foto dari trit catra
Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau


Pendahuluan
Perempuan (Kawi) menyimpan arti pemimpin (raja), orang pilihan, ahli, yang pandai, pintar dengan segala sifat keutamaan yang lain (lihat:KUBI).[1] Alquran menyebut perempuan dengan Annisa’ atau Ummahat sama dengan ibu, atau “Ikutan Bagi Umat” dan tiang suatu negeri.[2] Sunnah Nabi menyebutkan khair mata’iha al mar’ah shalihah artinya perhiasan paling indah adalah perempuan saleh (artinya perempuan yang tetap pada peran dan konsekwen dengan citranya). Tafsir Islam tentang kedudukan perempuan menjadi konsep utama keyakinan Muslim bermu’amalah. Alquran mendudukkan perempuan pada derajat sama dengan jenis laki‑laki di posisi azwajan atau pasangan hidup (lihat Q.S.16:72, 30:21, 42:11).

Budaya Minangkabau dalam adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah” menempatkan perempuan pada posisi peran. Kadangkala dijuluki dengan sebutan;

orang rumah (hiduik batampek, mati bakubua, kuburan hiduik dirumah gadang, kuburan mati ditangah padang),

induak bareh (nan lamah di tueh, nan condong di tungkek, ayam barinduak, siriah bajunjuang),

pemimpin (tahu di mudharat jo manfaat, mangana labo jo rugi, mangatahui sumbang jo salah, tahu di unak kamanyangkuik, tahu di rantiang ka mancucuak, ingek di dahan ka mahimpok, tahu di angin nan basiruik, arih di ombak nan basabuang, tahu di alamat kato sampai),

Pemahamannya berarti perempuan Minang sangat arif, mengerti dan tahu dengan yang pantas dan patut, menjadi asas utama kepemipinan ditengah masyarakat. Anak Minangkabau memanggil ibunya dengan bundo karena perempuan Minangkabau umumnya menjaga martabat,

Hati-hati (watak Islam khauf), ingek dan jago pado adat, ingek di adat nan ka rusak, jago limbago nan kasumbiang,
Yakin kepada Allah (iman bertauhid), jantaruah bak katidiang, jan baserak bak amjalai, kok ado rundiang ba nan batin, patuik baduo jan batigo, nak jan lahie di danga urang.

Perangai berpatutan (uswah istiqamah), maha tak dapek di bali, murah tak dapek dimintak, takuik di paham ka tagadai, takuik di budi katajua,
Kaya hati (Ghinaun nafs), sopan santun hemat dan khidmat,
Tabah (redha), haniang ulu bicaro, naniang saribu aka, dek saba bana mandatang,
Jimek (hemat tidak mubazir), dikana labo jo rugi, dalam awal akia membayang, ingek di paham katagadai, ingek di budi katajua, mamakai malu dengan sopan.

Dalam ungkapan sehari-hari, perempuan Minang disebut pula padusi artinya padu isi dengan lima sifat utama; (a). benar, (b).jujur lahir batin, (c). cerdik pandai, (d). fasih mendidik dan terdidik, (e). bersifat malu (Rarak Kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek. Selanjutnya anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso), artinya didalam kebenaran Islam, al hayak nisful iman = malu adalah paruhan dari Iman.

Falsafah hidup beradat mendudukkan perempuan Minang pada sebutan bundo kandung menjadi limpapeh rumah nan gadang, umbun puro pegangan kunci, umbun puruak aluang bunian, hiasan di dalam kampuang, sumarak dalam nagari, nan gadang basa batauah, kok hiduik tampek ba nasa, kalau mati tampek ba niaik, ka unduang-unduang ka madinah, ka payuang panji ka sarugo.

Ungkapan ini sesungguhnya amat jelas mendudukkan betapa kokohnya perempuan Minang pada posisi sentral, menjadi pemilik seluruh kekayaan, rumah, anak, suku bahkan kaum, dan kalangan awam di nagari dan taratak menggelarinya dengan “biaiy, mandeh”, menempatkan laki-laki pada peran pelindung, pemelihara dan penjaga harta dari perempuan-nya dan anak turunannya. Dalam siklus ini generasi Minangkabau lahir bernasab ayah (laki-laki), bersuku ibu (perempuan), bergelar mamak (garis matrilineal), memperlihatkan egaliternya suatu persenyawaan budaya dan syarak yang indah.

Kebenaran Agama Islam menempatkan perempuan (ibu) mitra setara (partisipatif) dan lelaki menjadi pelindung wanita (qawwamuuna ‘alan‑nisaa’), karena kelebihan pada kekuatan, badan, fikiran, keluasaan, penalaran, kemampuan, ekonomi, kecerdasan, ketabahan, kesigapan dan anugerah (QS. An Nisa’ 34). Wanita dibina menjadi mar’ah shalihah (= perempuan shaleh yang ceria (hangat/warm) dan lembut, menjaga diri, memelihara kehormatan, patuh (qanitaat) kepada Allah, hafidzaatun lil ghaibi bimaa hafidzallahu (= memelihara kesucian faraj di belakang pasangannya, karena Allah menempatkan faraj dan rahim perempuan terjaga, maka tidak ada keindahan yang bisa melebihi perhiasan atau tampilan “indahnya wanita shaleh” (Al Hadist).

Kodrat wanita memiliki peran ganda; penyejuk hati dan pendidik utama, menempatkan sorga terhampar dibawah telapak kaki perempuan (ibu, ummahat). Dibawah naungan konsep Islam, perempuan berkepribadian sempurna, bergaul ma’ruf dan ihsan, kasih sayang dan cinta, lembut dan lindung, berkehormatan, berpadu hak dan kewajiban. Terpatri pada tidak punya arti sesuatu kalau pasangannya tidak ada dan tidak jelas eksistensi sesuatu kalau tidak ada yang setara di sampingnya, inilah kata yang lebih tepat untuk azwajan itu.[3]

Secara moral, perempuan punya hak utuh menjadi Ikutan Bagi Umat. Masyarakat baik lahir dari relasi kemasyarakatan pemelihara tetangga, perekat silaturrahim dan tumbuh dengan pribadi kokoh (exist), karakter teguh (istiqamah, konsisten) dan tegar (shabar, optimis) menapak hidup. Rohaninya (rasa, fikiran, dan kemauan) dibimbing keyakinan hidayah iman. Jasmaninya (gerak, amal perbuatan) dibina oleh aturan syari’at Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِه إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ِأَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهَِ

“Allah telah menyari’atkan dasar hidup “ad-din” bagi kamu seperti telah diwasiatkanNya kepada Nuh, dan telah dipesankan kepadamu (Muhammad). Agama yang telah dipesankan kepada Ibrahim, Musa, Isa dengan perintah agar kalian semua mendaulatkan agama ini dan jangan kalian berpecah dari mengikutinya…” (QS.Syura : 13).

Perilaku kehidupan menurut mabda’ (konsep) Alquran, bahwa makhluk diciptakan dalam rangka pengabdian kepada Khaliq (QS. 51, Adz Dzariyaat : 56), memberi warning peringatan agar tidak terperangkap kebodohan dan kelalaian sepanjang masa. Manusia adalah makhluk pelupa (Al Hadist).[4] Tegasnya, seorang Muslim wajib menda’wahkan Islam, menerapkan amar ma’ruf dan nahi munkar (QS. Ali ‘Imran :104), dimulai dari diri sendiri, agar terhindar dari celaan (QS. Al Baqarah :44 dan QS. Ash‑Shaf :3). Amar ma’ruf nahi munkar adalah tiang kemashlahatan hidup umat manusia, di dasari dengan Iman billah (QS. Ali ‘Imran :110) agar tercipta satu bangunan umat yang berkualitas (khaira ummah). Maka posisi perempuan didalam Islam ada dalam bingkai (frame) ini.

Busana Adalah Pelindung Dan Sarana Pendidikan Utama

Perubahan zaman disertai penetrasi budaya seringkali menampilkan ketimpangan didalam meraih kesempatan yang sangat menyolok pada fasilitas pendidikan, lapangan kerja, hiburan, penyiaran mass‑media, antara di kota dan kampung, akhirnya mengganggu pertumbuhan masyarakat. Apabila kearifan dan keseimbangan peranan memelihara budaya dan generasi tercerabut pula, maka tidak dapat tidak akan ikut menyum bang lahirnya “Generasi Rapuh Budaya”.[5]

Generasi berbudaya memiliki prinsip teguh, elastis dan toleran bergaul, lemah lembut bertutur kata, tegas dan keras melawan kejahatan, kokoh menghadapi setiap percabaran budaya, tegar menghadapi percaturan kehidupan, sanggup menghindari ekses buruk, membuat lingkungan sehat, bijak menata pergaulan baik, penuh kenyamanan, tahu diri, hemat, dan tidak malas, akan terbentuk dengan keteladanan. Konsepsi Rasulullah SAW;”Jauhilah hidup ber-senang-senang (foya-foya), karena hamba-hamba Allah bukanlah orang yang hidup bermewah-mewah (malas dan lalai)” (HR.Ahmad). Tidak dapat dimungkiri bahwa kaum perempuan harus memaksimalkan perannya menjadi pendidik di tengah bangsa menampilkan citra perempuan mandiri, memastikan terpenuhi hak dan terlaksananya kewajiban, salah satunya melalui cara berbusana.

Dari pandangan agama Islam ini, bisa disimpulkan bahwa yang tidak mau mengindahkan hak-hak perempuan, sebenarnya adalah mereka yang tidak beriman atau kurang mengamalkan ajaran agama Islam. Di Minangkabau perempuan berada pada lini materilineal akan hilang marwahnya tersebab menipisnya kepatuhan orang beradat, karena hakikat adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah adalah aplikatif, bukan simbolis.

Sumber: www.cimbuak.com[/SPOILER]
andreandhika - 04/11/2009 01:45 PM
#13

Kato Dalam Adat Minangkabau

Spoiler for Isi

Kato adalah suatu lafaz yang menghendaki makna
Makna adalah suatu pengertian yang tidak mempunyai huruf dan suara.
Rundingan adalah suatu pembicaraan yang menghasilkan suatu maksud.

I. Kato Terbagi tiga dalam adat.
1. Kato muqabilah
2. Kato bakilah
3. Kato bahelah

1. Kato Muqabilah
Ialah kata-kata dalam adat, yaitu

Rundiang nan saiyo
Bana nan saukua
Bak batang dalam tanah
Tigo puluh tahun dalam lunau
Namun tareh mambangun juo
Bak ibarat bungo pinggan
Walau pacah basimpang tujuah
Bamusin dalam tanah
Namun ragi tak namuah hilang

Artinya :
Kato ini adalah kato kebenaran yang tidak dapat diubah dan tidak dapat ditukar. Disebut juga kato yang hak yang harus dilaksanakan oleh ninik mamak dan pemimpin.
Kato ini pulalah yang harus ditegakkan dan dituruti.

2. Kato Bakilah
Adalah kato-kato di dalam adat yang tidak dapat dijadikan pedoman dan pegangan, seperti :

Mangambiak contoh
Ateh kebenaran orang lain
Sagalo kato-kato urang
Napi kasadonyo
Nan batua dirinyo sajo.

Artinya :
Perkataan seseorang yang hanya kata dia saja yang benar, dan kata-kata ini diambil dari kata-kata orang lain, yaitu orang yang tidak dapat katanya dibantah, karena kebodohannya.

3. Kato Bahelah

Menghelah seorang lain atas jalan kebenaran.

barih luruih alua tarantang
Sakato kito mangunjuangi bananyo.
Nak bulan ka tabik
Pahamnyo bak api dalam sakam
Di lahia indak mangasan
Lah anguih sajo mako tahu.

Artinya :
Kata yang selalu dihelah karena ingin lari dari kebenaran atau orang yang mengatakan dialah yang benar, orang lain tidak benar.

Rundingan
ada tiga macam :
1. Rundingan basimanih
2. Rundingan basiginyang
3. Rundingan basiransang

1. Rundingan Basimanih
Ialah :
Rundingan nan liok-liok lambai
Rundingan nan lamak-lamak manih
Lamak bak santan jo tangguli
Sakali runding disabuik
takana juo salamonyo

Artinya :
Perkataan dalam pergaulan sehari-hari yang baik dan manis, menarik hati orang sehingga mudah untuk membawa kepada suatu pengertian dan kebenaran.

2. Rundingan Basiginyang
Ialah :
Rundingan nan tagang-tagang kandua
Rundingan nan tinggi-tinggi randah
Bak mahelo tali jalo
Agak tangan di kanduri
Diam di kato nan sadang elok

Artinya :
Perkataan dalam pergaulan sehari-hari yang selalu bisa menaklukkan orang yang menimpang dari jalan yang benar. Pembicaraan ini tidak menghendaki tindakan yang keras, hanya cukup untuk menundukkan seseorang dengan perkataan yang baik dan lunak lembut.

3. Rundingan Basiransang
Ialah :

Banyak andai jo kucindan
Sarato galuik jo galusang
Ka lalu raso ka tasabuik
Ka suruik jalan tataruang
Ditampuah juo kasudahannyo.

Artinya :
Pembicaraan yang ragu dan tidak tegas dalam suatu persoalan.

Sifat Kato jo rundingan tigo macamnyo :
1. Tipuan Aceh
2. Gurindam Barus
3. Tangguak Malayu

1. Tipuan Aceh

Ditipu jo muluik manih
Dikabek jo aka budi
Dililik jo baso baiak
Muluik manih talempong kato
Baso baiak gulo di bibia
Budi haluih bak lauik dalam
Tampek bamain aka budi

2. Gurindam Barus

Dipahaluih andai rundingan
Dipabanyak ragam kecek
Dipaeloki tungkuih garam
Dipagadang tungkuih rabuak
Padi dikabek jo daunnyo
Manusia di kabek jo akanyo
Sarato di helo jo budinyo

3. Tangguak Malayu

Tak kaik tupang manganai
Tak siriah pinang mamalan
Tak tajak tajuak tajarang
Tak pasin tangguang tibo
Tak laju dandang di aia
Di gurun ditajakkan juo
Umpamo mancakau buruang
Kok lari ka ateh kayu
Di temak jo damak
Kok lari ka aia diserakkan jalo
Kok lari ka dalam tanah
Di kali jo Tambilang
Kok ka awang-awang
Dipasuang jo asok
Lamo lambek jatuah juo kasudahannyo

Sifat kato dan rundingan yang dimaksud di dalam adat ialah : seorang penghulu atau pemimpin dalam masyarakat selalu berusaha untuk membawa orang kepada jalan kebenaran. Tetapi hendaklah dilakukan kebijaksanaan dengan kata-kata yang baik, lunak, lembut karena kata yang lunak lembut itu merupakan kunci bagi hati manusia, dan sangat perlu.
Metode seperti ini bagi seorang penghulu atau pemimpin untuk membawa orang kepada kebenaran, kalau sekiranya orang ini bersikeras kepala tidak patuh, dan tidak mau menerima suatu kebenaran, kalau menurut pendapatnya tidak diterima oleh orang lain, seperti kata pepatah :

Bungkuak sauah tak takadang
Kareh hiduang sangiek kaluan
Nan bak umpamo tukang rabab
Nan balaku bak katonyo surang
Nan bana bananyo sorang
Nan di urang bukan kasadonyo.

Jangan hendaknya terjadi di dalam pemimpin kita untuk membawa orang kepada suatu kebenaran dengan jalan kekerasan, seperti :

Kuek katam karano tumpu
Kuek sapik karano takan
Tetapi,
Palu-palu ula dalam baniah
Baniah tak leso
Tanah tak lambang
Panokok tak patah
Tapi nan ula mati juo

Begitupun sifat kato dan rundingan ini berguna sekali dalam pergaulan sehari-hari karena seseorang penghulu atau pemimpin akan menjadi contoh dan tauladan bagi anak kemenakan dan orang banyak. Pepatah mengatakan :

Muluik tataruang ameh padahannyo
Kaki tataruang inai padahannyo
Mulutmu harimau-mu
Itu yang menjadi musuh padamu

Murah kato takatokan
Sulik kato jo timbangan
Anjalai pamaga jo timbangan
Tumbuah sarumpun jo lagundi
Kok pandai bakato-kato
Bak santan jo tangguli
Kok tak pandai mangaluakan kato-kato
Bak alu pancukia duri.

Sumber : Buletin Sungai Puar 16 Agustus 1986
andreandhika - 04/11/2009 01:45 PM
#14

Tambo Minangkabau

Spoiler for Isi

Disadur dari buku "Kato Pusako"

Adopun katiko langik takambang
Juo katiko mulai bumi tahampa
Katiko nabi Adam mulai kaditampo
Allah Ta'ala lah sudah manantukan
Anak cucu Adam nan mahuni dunie
Anak Adam nan bungsu manjadi rajo

Adopun anak Nabi Adam 'alaihissalam
Tigo puluah sambilan banyaknyo
Nikah ba antaro satu anak ka satu anak
Anak nan bungsu indak mandapek jodoh
Dilarikan malaikaik ka awang gumawang
Mako heranlah Adam jo Hawa anak baranak

Mako batiuiklah angin dari sarugo
Diguguah gandang si Rajo Nobaik
Ditiuik sarunai si Randang Kacang
Dibunyikan pulo rabab jo kucapi
Dikambangkan pulo payuang ubua ubua
Mako manari narilah anak bidodari
Takajuk maliek anak Adam nan bungsu
Basamo malekaik di awang gumawang

Marebak harum haruman didalam sarugo
Turun malekaik di langik nan katujuah
Mako baguncang kayu sidratul muntaha
Tabukak pulolah pintu baitul makmur
Sagalo malekaik manamui anak Adam nan bungsu
Basamo samo mambimbiang jo mamapahnyo
Adam sakaluarga mamandang ka awang gumawang
Nampak anak nan bungsu mamakai tanduak
Batanduak dinamokan ameh sajati jati
Takuik Adam anak baranak malieknyo
Tadanga pulo suaro dari puncak bukik Kaf
Mamandang Adam anak baranak kabukiktu
Nampak panji panji dikabang diateh bukik
Bantuak ombak dilauik mamutuiah ruponyo
Mako heranlah Adam jo Hawa anak baranak

Mako mando'a Adam pado Allah Rabbul'alamin
Mintak dipatamukan juo jo anak cucunyo
Mako Allah Ta'ala manurunkannyo ka dunie
Mako tajadilah ombak basabuang dilautan
Manyumbua pulo lah ikan nan banamo Nun
Lalu bagoyanglah bumi kasaluruhannyo
Mako antah barantahlah gamponyo alam
Sabab itulah mako banamo tanah Rum

Bakato Adam jo sagalo anaknyo nan laki laki
Sangaik takajuik kito maliek anak nan bungsu
Diturunkan malekaik anak Adam nan bungsutu
Mako sampai pulo lah ka ateh bumi nan suci
Antaro nan dinamokan Pasirik jo Pasiruang
Antaro nan dinamokan Masrik jo Magrib
Antaro bukik banamo Siguntang Mahameru
Itulah nan dinamokan kini tanah Rum

Mako balakulah takadia Allah Ta'ala
Dikalukan anak Indo Jati dari sarugo
Tasabuik dinamokan Cati Reno Sudah
Salapan urang jumlah banyak kasadonyo
Sangaik rancak rancak rupo bantuaknyo
Sangaik sopan sopan bana parilakunyo
Lunak lambuik bicaronyo
Itulah nan kajadi salaku sumbangan
Untuak anak anak Adam kasaluruahannyo
Suatu pambarian hadaiah Allah Ta'ala

Mako bakumpualah anak Adam kasadonyo
Katonyo takuik kami akan tanduakmu
Wahai sudaro kami nan paliang bungsu
Mako dikareknyolah tanduaknyo tu
Sakarek manjadi Mangkuto Sanggohani
Sakarek manjadi Lambiang Lambuaro
Sakarek lai manjadi Kumalo Sati
Sakarek lai manjadi Tuduang Saji
Sakarek lai manjadi Pinang Pasie
Sakarek jadi Siriah Udang Tampowari
Tampuaknyo kuniang, gagangnyo sirah
Daunnyo digala untuak manjadi ubek
Mako dinamokan Tambago Siramin Koto

Mako diturunkanlah pulo malekaik
Nan datang dari langik nan katujuah
Untuak ma agiah namo tanduaktu
Mako dibarilah namonyo Zulkarnain
Aratinyo mampunyoi duo ujuang dunia
Ujuang Masrib jo ujuang Magrib
Untuak rajo dibari namo Iskandar
Namo Zulkarnain dipakai jadi galanyo

Bakatolah rajo Iskandar Zulkarnain
Kapado sudaro sudarony nan banyak
Jiko baitu nan lah dikatokan malekaik
Ikuiklah apo nan dikatokannyo tu
Siapo nan ka jadi kaki tangan ambo
Siapo nan kajadi panggiriang ambo
Siapo nan ka mambawo payuang ambo
Siapo nan ka mamarentah karajaan ambo
Siapo nan ka manjalankan parentah ambo

Mako manyabuiklah sudaronyo kasadonyo
Kami nan banyakko lah nan mauruihnyo
Kasadonyo lah cukuik jo kalangkok-annyo
Sadonyo lah langkok jo kagadangannyo

Mako babarapo lamo pulo diantaronyo
Mako lauik pun suruik manyintak turun
Dijadikan Allah Ta'ala sagalo bukik
Untuak dijadikan sabagai pasak bumi

Mako rajo pun bakandak nak punyo istri
Mako datanglah parentah dari Allah Ta'ala
Jiko rajo bakandak nak punyo istri
Japuiklah anak bidodari dari sarugo

Lalu malekaik jibril turun ka dunie
Singgah langsuang taruih ka sarugo
Nampak anak bidodari sadang batanun
Mananun kain Sang Seto Kalo namonyo

Bakato malekaik Jibril pado anak bidodari
Oi Bidodari, marilah kito turun ka dunie
Karano parentah dari Allah Rabbul'alamin
Angkau akan dijadikan istri rajo didunie

Batangisan anak bidodari kasadonyo
Mako manyauiklah surang anak bidodari
Bagaimano ambo suko pai ka dunie tu
Karano ambo kiniko sadang batanun kain

Mako bakato pulo lah malekaik Jibril
Jiko engkau patuah parentah Allah
Bawoklah alat tanun engkau itu kadunie
Mako sugirolah anak bidodari bakameh kameh

Karano indak dapek saketek juo mintak janji
Diguluangnyo alaik tanunnyo jo pisau Kaciak
Dipasuntiangnyo sigulandak ditalingo suok
Mako diguguah uranglah dalam sarugo
Babagai macam alaik bunyi bunyian
Gagap gumpito azmat kadangarannyo
Mako manarilah sagalo anak bidodari

Bakato pulo Jibril kapado anak bidodari
Bao juolah sagalo alaik pakaianmu ka dunie
Supayo suko saisi dunie untuak dituladani
Bahimpunlah mareka kasadonyo ditanah Rum
Diturunkan Allah Ta'ala malekaik ampek urang
Manjadi wali jo saksi panikahan rajo tu

Hatta ateh takadia Allah Ta'ala juo
Lamolah pulo sasudah rajo dikimpoikan
Dikaluakan buruang nuri dari sarugo
Buruang nuri Zamzailan ka namonyo
Walau buruang, batinnyo malekaik juo
Manantukan manusia hiduik dinagari
Kapado buruangtulah hambo Allah baguru

Mako babarapo lamo pulo sasudah tu
Mako baranak pulolah rajo tigo urang
Laki laki sajo anaknyo katigonyo
Surang banamo Sultan Maharajo alif
Surang banamo Sultan Maharajo Dipang
Surang banamo sultan Maharajo dirajo
Lamolah pulo antaronyo sasudah itu
Lalu dewasalah katigo anak itu

Mako mamandang daulaik dipatuan ka Masrik
Tantang itu kasadonyo rantau kito
Mamandang pulo baliau ka Magrib
Tantang itu kasadonyo rantau kito
Mamandang pulo baliau ka Selatan
Tantang itu kasadonyo rantau kito
Mamandang pulo baliau ka Utara
Tantang itu kasadonyo rantau kito

Mupakaiklah anak rajotu katigonyo
Ka arah mano kito handak barangkek
Lalu mamndang mereka ka arah Magrib
Mako diliek dikajauahan tabik api
Antaro ombak ombak basabuang dilautan

Mako bakahandak daulaik dipatuan handak balaie
Mako mupakaik katigonyo di Pulau Langkapuri
Antaro bukik Siguntang Mahameru dilauik Sailan
Mako tioknyo mangingini Mangkuto Sanggohani
Mako barabuik rabuiklah antaro mereka katigonyo

Mako jatuahlah Mangkuto masuak kadalam lauik
Mako dibueklah sabuah limbago cambul kaco
Mako disuruahlah kapado Cati Bilang Pandai
Mako nampaklah Mangkuto didalam lauik
Kalihatan Mangkuto sadang dipaluak ula bidai

Babaliak Cati Bilang Pandai kadalam perahu
Nampak katigo daulaik dipatuan sadang lalok
Mako bapikialah pulo Cati Bilang Pandai
Dileiknyo ado tasadio ameh sajatah jati
Dipabueknyo tiruan Mangkuto sanggohani
Mangkuto Sanggohani sudah tukang dibunuah
Indak mungkin lah kadapek ditiru lai
Cati Bilang Pandai masuak ka parahu
Didapatinyo surang daulaik dipatuan jago
Inyolah nan banamo Sultan Sri Maharajo Dirajo
Nan maambiak mangkuto tu
Jatuah jadi miliknyo

Mako sangaik heranlah rajo nan baduo
Marentak balaie Sultan Maharojo dipang
Inyolah nan taruih sampai ka banua Cino
Kudo ameh disabuikkan namo karajaannyo
Bajajaran lawehnyo sampai taruih ka utaro

Surang nan banamo Sultan Maharajo Alif
Babaliak kumbali pulang ka tanah Rum
Mamarentah Turki, Parancih, Ulando, Inggirih
Manguasoi bagian baraik dunie lalu ka utaro

Mako balaielah Sultan Maharjo Dirajo
Dapeklah manggunokan parahu kayu jati
Anam baleh urang kasadonyo pangiriangnyo
Ikuik dalam rombongan limo istri rajo

Surang istri rajo disabuik anak Rajo
Lakunyo mardeso, sopan suko mamiliah
Ado istri rajo disabuik anjiang Mualim
Lakunyo suko mamintak jo pambirunguik
Ado istri rajo disabuik kuciang Siam
Lakunyo suko manjamua diri, mandakek-I rajo
Surang istri rajo disabuik Harimau Campo
Lakunyo ganeh pamberang walaupun ka rajo
Surang istri rajo disabuik Kambiang Utan
Lakunyo suko baulam jo makan siriah

Mako balaielah sampai kapulau ujuang ameh
Parahunyo pacah karano tasakek dibukik karang
Mupakaik rombongan, dek takuik pado titah rajo
Bapikie Cati Bilang Pandai mamelok-I parahu tu
Manitiah daulaik dipatuan kapado sa isi parahu
Jiko kamu pelok-I parahu tu sabagai samulo
Akan aku ambiak kalian ka jadi minantu

Sukolah sagalo urang nan baraka di parahu
Dipelok-I parahu tu sabagai suruik samulo
Mako sangaiklah heran rajo daulaik dipatuan
Mako balaielah rajo manuju pulau Jawi
Lalu babaliak ka gunuang Marapi sandirinyo

Sasungguahnyo Allah sangaik kasiah kapado rajo
Istri rajo pun malahiakan limo anak padusi
Istri, Anak Rajo malahiekan surang anak
Istri, Anjiang Mualim malahiekan surang anak
Istri, Kuciang Siam malahiekan surang anak
Istri, Harimau Campo malahiekan surang anak
Istri, Kambiang utan malahiekan surang anak

Mako lamo pulo antaronyo sasudah itu
Cukuiklah umue anak padusi kalimonyo
Lalu dikimpoikan pulo jo limo laki laki
Nan mamelok-I parahu sasuai jo janji rajo


Berlanjut di postingan dibawah...
andreandhika - 04/11/2009 01:46 PM
#15
Lanjutan Tambo Minangkabau
Spoiler for Isi
Mako lamolah antaronyo sasudah ka-win
Sabulan duo sampai ampek bulan lamonyo
Batanyo rajo kapado sagalo minantunyo
Apobilo ado angkau sapamakanan jo sapaminuman
Adolah nan kadisabuik, untuak ditanyokan
Lalu manyabuik kasado minantu nan balimo
Babagai jawek mereka indak ado nan sarupo
Hanyo surang sajo nan sapamakan sapaminuman
Mako rajo bapike, taraso babagia dihatinyo

Mako lamo pulo antaronyo sasudah itu
Mako lauik pun susuik manyintak turun
Ditumbuahkan Allah Ta'ala rumbio rumbionyo
Tigo jurai banyaknyo diateh gunuang
Sajurai ma arah ka ranah Tanah Data
Sajurai maarah ka ranah Lubuak Agam
Sajurai ma arak ka ranah Limo Puluah Koto

Disuruah anak minantui nan balimo tadi
Surang ka Ranah Tanah Data iyolah anak Anak Rajo
Surang ka Lubuak Agam iyolah anak Harimau Campo
Surang ka Limo Puluah Koto iyolah anak Kambiang Utan
Surang ka Canduang Koto Laweh anak Kuciang siam
Surang Ka Kubang iyolah anak Anjiang Mualim

Mako bagurulah rajo kito kapado sagalo alam
Mako mandapek Galundi nan Baselo namonyo
Iyolah nan turun ka arah Ranah Tanah Data
Balun Lahie induak Katumangguangan
Jo adiaknyo Parpatiah Nan Sabatang

Mako lamo pulo antaronyo
Mako kambanglah sagalo anak rajo tadi
andreandhika - 04/11/2009 01:46 PM
#16

Rumah Gadang

Spoiler for Isi

[SPOILER= Rumah Gadang]Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau


Di Minangkabau rumah tempat tinggal, dikenal dengan sebutan rumah gadang (besar). Besar bukan hanya dalam pengertian fisik tetapi lebih dari itu, yaitu dalam pengertian fungsi dan peranannya yang berkaitan dengan adatnya. Bila diperhatikan rumah tempat kediaman bagi suatu daerah erat sekali hubungannya dengan faktor alam dan adat atau lingkungan rumah itu didirikan. Daerah yang berawa-rawa, banyak sungai, ada gangguan binatang buas dll kecenderungan rumah didirikan dengan tiang yang tinggi dan besar. Dengan bertiang tinggi dan rumah panggung bisa terhindar dari segala macam bahaya seperti bencana alam dan gangguan lainnya.

Beberapa hal yang berkaitan dengan rumah gadang ini adalah sbb:

1. Mendirikan Rumah Gadang
Rumah gadang didirikan diatas tanah kaum yang bersangkutan. Jika hendak mendirikan, penghulu dari kaum tersebut mengadakan musyawarah terlebih dahulu dengan anak kemenakannya. Setelah dapat kata sepakat dibawa kepada penghulu-penghulu yang ada dalam pesukuannya, seterusnya dibawa pada penghulu-penghulu yang ada dinagarinya.

Untuk mencari perkayuan ke hutan diserayakan orang kampung dan sanak keluarga. Tempat mengambil kayu pada hutan ulayat nagari. Tukang yang mengerjakan rumah tsb berupa bantuan dari tukang-tukang yang ada dalam nagari atau diupahkan berangsur-angsur. Rumah yang dibangun diperuntukkan pada keluarga perempuan, sedangkan untuk laki-laki dibangun rumah pembujangan dan setelah Islam masuk ada surau. Walaupun rumah itu diperuntukkan bagi perempuan namun yang berkuasa adalah penghulu dan yang bertanggungjawab langsung pada rumah gadang tsb adalah tungganai.
Bila rumah gadang itu sudah usang dan perlu perbaikan maka seluruh anggota kaum mengadakan mufakat.

Seandainya rumah gadang itu akan dibuka lantaran tidak mungkin untuk diperbaiki, maka harus setahu orang kampung atau senagari dan terutama penghulu-penghulu yang ada di nagari tsb.

Tidak semua keluarga diperbolehkan mendirikan rumah gadang dan ini harus mempunyai syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat itu antara lain kaum yang akan mendirikan rumah gadang itu merupakan kaum asal di kampung tsb yang mempunyai status adat dalam suku dan nagarinya. Walaupun sebuah kaum itu kaya, tetapi dia adalah keluarga pendatang baru yang tidak mempunyai status adat dalam suku dan nagari tersebut tidak dibenarkan mendirikan rumah gadang.

Walaupun demikian kemufakatan dari penghulu-penghulu yang ada pada suku dan nagari sangat menentukan apakah sebuah kaum itu dibenarkan mendirikan rumah gadang atau tidak.

Dilihat dari cara membangun, memperbaiki dan membuka rumah gadang adanya unsur kebersamaan dan kegotongroyongan sesama anggota masyarakat tanpa mengharapkan balas jasa. Fungsi sosial sangat diutamakan dari fungsi ekonominya. Walaupun rumah gadang itu milik dan didiami oleh anggota kaum namun pada prinsipnya rumah gadang itu adalah milik nagari karena mendirikan sebuah rumah gadang didasarkan atas ketentuan-ketentuan adat yang berlaku di nagari itu dan setahu penghulu-penghulu untuk mendirikannya atau membukanya.

2. Fungsi Rumah Gadang
Rumah gadang berfungsi sebagai tempat tinggal dan sebagai inggiran adat. Ukuran ruang tergantung daripada banyaknya penghuni dirumah itu. Namun jumlah ruangnya biasanya ganjil spt lima ruang, sembilan ruang dan malahan ada yang lebih. Sebagai tempat tinggal rumah gadang mempunyai bilik-bilik sebelah barisan belakang yang didiami oleh anak-anak wanita yang sudah berkeluarga, ibu-ibu, nenek-nenek dan anak-anak.

Yang penting lagi fungsi rumah gadang adalah sebagai inggiran adat, mengerjakan suruhan, menempatkan adat atau tempat melaksanakan seremonial adat seperti kematian, kelahiran, perkimpoian, mendirikan kebesaran adat, tempat mufakat, sepanjang adat dll.

Perbandingan ruang tempat tidur dengan ruangan umum adalah 1/3 untuk ruangan tidur dan 2/3 untuk kepentingan umum.
Perbandingan ini memberi makna bahwa kepentingan umum lebih diutamakan dari kepentingan pribadi.

3. Pola Rumah Gadang
Rumah gadang Minangkabau berbentuk kapal yaitu kecil kebawah dan besar ke atas. Bentuk atapnya punya bubungan yang lengkung ke atas yaitu lebih kurang setengah lingkaran. Denah dasar berbentuk empat persegi panjang dan lantai berada diatas tiang-tiang. Tangga tempat masuk berada ditengah-tengah dan merupakan serambi muka. Ada juga yang membuat sebuah ujung, ditempat mana biasanya terdapat dapur.

Rumah adat Minangkabau tidak mempunyai ukuran yang pasti dengan memakai meter. Panjang dan lebar rumah ditentukan dengan labuh (jalur) dan yang biasa dijadikan ukuran adalah hasta atau depa. Lebar ruang atau labuh (jarak antara tiang menurut lebar dan panjang) bervariasi antara 2 1/2 m sampai 4 m. Panjang rumah sekurang-kurangnya 3 ruang dan bahkan ada yang sampai 21 ruang, yang normal 3,7,9 ruang. Sedangkan lebarnya sekuang-kurangnya 3 jalur dan sebanyak-banyaknya 4 jalur. Ukuran tidak dimakan siku, tetapi disebut ukuran alur dan patut. Condong mato ka nan rancak, condong salero ka nan lamak.

Jalur atau labuh memanjang rumah. jalur pertama dari muka disebut bandua tapi, jalur kedua disebut labuah gajah. Jalur ketiga disebut labuah tangah, sedangkan jalur keempat disebut Biliak. Ruangan terletak pada potongan rumah menurut lebar rumah. Satu ruang ditengah dinamakan "Gajah maharam (gajah mengeram). Dua ruang dikri disebut sarambi papek dan dua ruang ke kanan disebut raja berbanding.
pada ujung kiri dan kanan ada anjungan dan terdiri dari tiga tingkat banyaknya sekurang-kurangnya dua tingkat. Anjung merupakan tangga yang terletak pada tengah bagian lebar rumah.

4. Tonggak
Tonggak dari bahan kayu bersegi delapan dan panjang tiang tidak sama, tiang-tiang berbaris/berjajar. Banjar muka dan banjar belakang rendah. Banjar barisan nomor dua dari muka dan belakang lebih tinggi dan banjar/barisan di tengah yang paling tinggi.

5. Rasuk
Antara tiang dengan tiang membujur dan membelintang dihubungkan oleh rasuk pelancar. Rasuk melintang melalui pahatan pada tiang. Rasuk bahannya dari ruyung batang kelapa atau dari kayu hutan yang keras. Pahatan lebih kurang 2m dari dasar atau sendi. Pahatan tiang yang sama tingginya pada setiap tiang adalah untuk pahatan rasuk pelancar. Di atas rasuk melintang berada di bawah pahatan rasuk pelancar. Rasuk melintang ditopang dengan ruyung yang sama tebalnya dengan rusuk melintang hingga mengenai tinggi pahatan rasuk pelancar. Diatas singgiran disusun jeriau lantai, hingga lantai menjadi datar.

6. Sandi
Setiap kaki tonggak berdiri diatas sebuah batu yang disebut dengan sandi. Sandi batu didatangkan kemudian setelah semua tiang dihubungkan oleh rasuk dan paran-paran. Paran, ialah sebuah kayu atau ruyung panjang dari pohon kelapa yang menghubungkan setiap tiang pada ujung atas. Sama dengan rasuk. Ada yang disebut paran panjang dan paran melintang. Punco-punco tiang yang dihubungkan oleh paran panjang tidak pula sama tingginya hingga terlihat lengkungnya atau disebut paran ular mangulai (mengulai). Lengkung paran inilah yang akan membentuk gonjong (pucuk atap).

7. Lantai
Rumah gadang dilantai dengan papan. Lantai papan dipasang diatas jeriau dan adakalanya lantai dibuat dari pelupuh (bambu yang dipecah). Untuk lantai rumah gadang ini ungkapan adatnya mengatakan "lantai banamo hamparan adat, tampek si janang main pantan, tampek penghulu main undang. Lantai rumah gadang ada dua jenis bila dilihat dari bentuknya.

Perbedaan dari jenis lantai ini sebagai membedakan rumah gadang Bodi Caniago dengan rumah gadang Koto Piliang. Lantai datar untuk semua bidang merupakan jenis Bodi Caniago. Semua penghulu yang duduk sama martabatnya, dengan kata-kata adatnya duduak samo randah, tagak samo tinggi. Sedangkan pada adat Koto Piliang lantainya bertingkat atau beragam, lantainya setingkat lebih tinggi dari lantai bandul gajah dan bendul tepi. Penghulu-penghulu yang duduk dari Kelarasan Koto Piliang di rumah gadang sesuai dengan tingkatannya.

8. Anjung
Anjung adalah ruangan yang lantainya bertingkat dua atau tiga pada ujung pangkal rumah, yaitu ruangan yang menyambung dan disebut raja berbanding dan serambi papek (pepat). Anjung adalah tempat mulia dan terhormat.[/SPOILER]
andreandhika - 04/11/2009 01:47 PM
#17
Lanjutan Rumah Gadang
Spoiler for Isi
9. Atap
Atap rumah gadang dari bahan ijuk, dipasang diatas kap yang diatur terletak diatas paran yang melengkung kira-kira setengah lingkaran dan seperempat dari lingkaran dari paran tinggi ketuturan (kedua belah sisi bidang atap). Kap dibuat berpucuk (gonjong) dan sekurangnya empat buah yang membagi panjang rumah. Dua gonjong ditengah berbentuk setengah lingkaran, yang dua lagi menyusul kiri kanan mengikuti lengkung pertama. Selanjutnya gonjong ruangan ujung-ujung kiri dan kanan mengikuti lengkung sebelumnya hingga gonjong menjadi enam buah.

Bila rumah gadang ini mempunyai serambi maka ditambah lagi satu gonjong serambi yang menyatu dengan gonjong tangga. Gonjong serambi dibuat ditengahruang ganjil yang menyatu antara serambi papek dengan raja berbanding atau sejalan dengan ruangan gajah mengeram. Gonjong serambi mengahadap ke pekarangan. Gonjong disebut juga rabuang mambasuik. Pimpinan lentik seperti ular gerang. Pimpiran adalah bahagian pinggiran atap yang ditebalkan pasangan ijuknya dan diukir atau diikat dengan tali ukiran berwarna perak. Pimpiran membujur metik mulai dari tuturan yang seklaigus menjadi tulang untuk menopang gonjong. Tuturan adalah pinggiran atap yang terendah dan tempat air hujan menyatu jatuh ke tanah.

Untuk naik rumah gadang ada tangga; jumlah anak tangga mempunyai bilangan ganjil dan biasanya 5,7 dan 9. Kata-kata adatnya mengatakan 'turun dari tanggo, naiak dari janjang. Maksudnya dalam membicarakan sesuaru persoalan yang erat hubungannya dengan adat hendaklah melalui tingkatan-tingkatan yang sudah diatur sedemikian rupa. Sebagai contoh untuk mengangkat seorang penghulu bicarakanlah terlebih dahulu pada tingkat kaum, setelah itu baru dibawa ketingkat suku dst ke tingkat nagari. Sebaliknya bertangga turun bila ada sesuatu yang akan disampaikan oleh hasil Kerapatan Adat Nagari maka penyampaiannya kepada anak keponakan tidak secara langsung tetapi melalui penghulu-penghulu suku, tungganai, mamak rumah dst.

Sumber : www.minangnet.com
andreandhika - 04/11/2009 01:48 PM
#18

Rangkiang

Spoiler for Isi

[SPOILER= Rangkiang]Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau

Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau


Sebuah rumah gadang tidak lengkap apabila didepannya tidak ada rangkiang. Sebuah rumah gadang dengan rangkiang didepannya menambah keanggunan rumah gadang tersebut. Jadi dari segi artistik menambah keindahan dan semaraknya rumah gadang bila rangkiang ada didepannya. Namun lebih dari itu rangkiang mempunyai arti yang lebih dalam lagi, bila dikaitkan dengan falsafah hidup dan kehidupan orang Minangkabau.

Dari segi ekonomi menunjukkan bahwa penghuni rumah gadang berada dalam kecukupan dari segi material. Rangkiang adalah bangunan untuk menyimpan padi. Tempat menyimpan padi yang lain yaitu lumbuang dan kapuak namun tidak terletak didepan rumah gadang. Bangunan rangkiang sesuai dengan gaya bangunan rumah gadang yaitu beratap ijuk dan diberi bergonjong, malahan ada pula yang diberi ukiran. Tiang penyangganya sama tinggi dengan tiang rumah gadang, bentuknya ramping, besar keatas, dan lebih kecil kebawah. Untuk memasukkan padi atau mengambilnya dipergunakan tangga, sebab pintu rangkiang ini terletak pada bagian atas. Tangga yang dipergunakan bisa dipindah-pindahkan dengan demikian tangga tidak menyatu dengan bangunan rangkiang. Bila sudah dipergunkan tangga tadi lalu disimpan didalam kandang rumah gadang.

Di Minangkabau nama rangkiang bermacam-macam sesuai dengan kegunaan dari padi yang disimpan dalam rangkaian tsb. Dari literatur yang dikumpulkan memberi keterangan sbb:

H. Djafri Dt. Lubuk Sati Dsn, mengemukakan ada sembilan macam rangkiang.

1.Sitinjau Lauik atau kapuak adat jo pusako. Kegunaannya untuk hal-hal yang berkaitan dengan acara adat, spt mendirikan penghulu, kematian dll.

2.Mandah Pahlawan atau kapuak tuhuak parang. Kegunaannya untuk makanan bagi orang-orang yang mempertahankan kampung halaman dari musuh yang datang

3.Harimau Paunyi Koto atau kapuak pembangunan nagari. Untuk membangun nagari dana dapat diambil dari rangkiang ini.

4.Sibayau-bayau disebut juga kapuak salang tenggang. Kegunaannya untuk membantu orang-orang yang sedang dalam kesempitan.

5.Sitangka lapa atau kapuak gantuang tungku. Isi rangkiang ini dipergunakan bila terjadi paceklik.

6.Galuang bulek basandiang atau kapuak abuan penghulu. Kegunaannya untuk penghulu yang ada dalam kaum tsb. Untuk menjalankan tugasnya sehari-hari ada jaminan ekonominya.

7.Garuik Simajo Labieh atau kapuak abuan sumando. Orang sumando juga mempunyai abuan untuk kepentingan anak isterinya.

8.Gadang Bapantang Luak kegunaannya untuk makanan harian anggota keluarga rumah gadang.

9.Kaciak Simajo Kayo atau kapuak abuan rang mudo. Kegunaannya untuk anak muda yang ada dalam rumah gadang seperti untuk keperluan kimpoi maka dia membutuhkan sesuatu dan biayanya diambil dari rangkiang ini.

A.A. Navis dalam bukunya "Alam Terkembang Jadi Guru". Ada empat jenis rangkiang yaitu :

1.Sitinjau Lauik, yaitu tempat penyimpan padi yang akan digunakan untuk membeli barang atau keperluan rumah tangga yang tidak dapat dibikin sendiri. Tipenya lebih langsing dari yang lain, berdiri diatas empat tiang. Letaknya ditengah diantara rangkiang yang lain.

2.Si bayau-bayau, yaitu tempat menyimpan padi yang akan digunakan untuk makan sehari-hari. Tipenya gemuk dan berdiri diatas empat tiangnya. Letaknya disebelah kanan.

3.Si tangguang lapa, tempat menyimpan padi cadangan yang akan digunakan pada musim paceklik. Tipenya persegi dan berdiri diatas empat tiangnya.

4.Rangkiang kaciak, yaitu tempat menyimpan padi abuan yang akan digunakan untuk benih dan biaya mengerjakan sawah pada musim berikutnya. Atapnya tidak bergonjong dan bangunannya lebih kecil dan rendah. Adakalanya berukuran bundar.

Dari literatur yang telah dikemukakan diatas terdapat adanya variasi dalam mengungkapkan istilah dan pengertian rangkiang. Namun demikian adanya kesamaan dan fundamental dalam arti dan fungsi rangkiang bagi orang Minangkabau. kesamaan itu adalah sbb:
Rangkiang mencerminkan kesejahteraan ekonomi orang Minangkabau pada masa dahulu. Tanpa ekonomi yang sejahtera dan berkecukupan tidak mungkin adanya istilah-istilah mengenai fungsi dari rangkiang tsb.

Rangkiang juga memperlihatkan keadailan sosial yang dimiliki oleh orang Minangkabau. Mereka tidak mementingkan diri sendiri tetapi juga memikirkan orang lain yang perlu dibantu. Hati tungau samo dicacah, hati gajah samo dilapah; indak samo dicari, ado samo dimakan. Hal ini terlihat dengan adanya fungsi rangkiang sebagai tempat selang tenggang bagi orang yang dalam kesulitan ekonomi.

Rangkiang juga memberikan gambaran, bahwa orang Minangkabau ada memikirkan masa depan ekonominya. Hal ini adanya rangkiang yang isinya untuk abuan, untuk benih dan untuk menghadapi musim paceklik.
Walaupun ada berbagai nama rangkiang dengan berbagai fungsinya, namun biasanya terdapat tiga rangkiang didepan rumah gadang yaitu si Bayau-Bayau, si Tinjau Lauik dan si tangka Lapa.

Sumber : www.minangnet.com[/SPOILER]
andreandhika - 04/11/2009 01:49 PM
#19

Adab Makan di Ranah Minang I

Spoiler for Isi

Ado adab/caro makan (baradaik) di nagari awak nan kini alah samakin langka dikarajoan urang, makan basamo katiko baralek sacaro adaik, jo caro bajamba. Makan basamo, balimo sampai baranam urang maadok-i ciek piriang gadang. Sacaro sederhana nampak bahaso urusanno indak labiah dari 'makan basamo', tapi dalam kanyataanno banyak aturan-aturan nan musti dikatahui dek urang-urang nan sato makan, sabab kalau sasaurang salah, awakno kadapek cap indak bataratik, atau labiah jauah indak baradaik.


makan bajamba samo ado dikarajoan rombongan laki-laki ataupun urang padusi. Untuak laki-laki, katiko makan alah sabana ka dimuloi, sasudah salasai pasambahan untuak mampabasoan urang nan sadang adok dalam sidang karapatan untuak kasamo makan, mako si pangka, atau nan mawakili tuan rumah ditiok jamba, mamasuak-an samba alias lauak pauak nan dilatak-an ditangah-tangah piriang gadang nan alah baisi nasi. Piriang gadangko ado kalono dilatak-an di ateh dulang tapi bisa juo indak baaleh jo dulang. Malatak-an sambako musti arif bijaksano supayo jaan sampai latak samba cako tampak kurang adia, jadi musti sabana di tangah. Di masiang-masiang jamba duduak ipa jo bisan, si pangka jo si alek, ado nan tuo, ado nan dituokan, sainggo proses makan basamo sabana musti dijago supayo tatap dalam kaadaan bataratik.

Irama suok turun naiak musti basilambek, indak buliah karocoh pocoh, musti nanti manantian. Nan disuok hanyolah nan diadok-an awak masiang- masiang, jadi indak buliah malintehi 'panyuok-an' urang di suok kida awak Katiko mamuloi indak nampak bana sia nan paliang daulu, sabab mambasuah tangan sabalun ka makan buliah samo sarangkek. Tapi ka baranti ado aturan nan musti dijago, indak buliah nan mudo daulu mambasuah tangan. Walaupun awakno alah kanyang, bagianno alah abih, ano musti manantian sampai nan labiah tuo atau nandituo-an salasai sudah itu mambasuah tangan labiah daulu, baitu taratikno.

Makan bisa dilaluan sambia maota-ota ketek, tapi musti dijago pulo kato- kato jo caro mangecek, jaan sampai bakapantiangan nasi kalua dari muncuang. Indak bataratik namono kalau makan disaratoi jo galak takakah-kakah, sabab jo caro ikopun amuah pulo tabosek nasi dari muncuang kalua. Makan indak buliah barimah atau taserak nasi kalua, sabab nan sarupo iko indak kameh namono alias mubazia. Kalau ka ditambuah-an nasi, apo lai tambuahan nan nomor sakian, musti samupakaik urang sajamba. Kalau urang alah sabana manulak, bukan lai dek babaso, jaan dipasoan juo supayo jaan sampai basiso. Basisoko indak buliah. Jadi fihak si pangka (nan kamanambuah-an nasi) iyo bana harus pandai maakuak-an. Bajamba makan nasi, bajamba pulo 'minum kawa' sasudah itu.

Jamba minun kawako tadiri dari katan, jo ajik, jo kalamai, jo pinyaram nan dilatak-anditangah-tangah. Sabalun ka minun kawa ado pasambahan saketek dulu, mamintak si alek malakek-an parabuang, dek kini musim paujan, baitu jano.

Romboangan padusi baitu juo carono. Nan babedo hanyolah di caro duduak,
sabab urang padusi duduak basimpuah, samantaro laki-laki duduak baselo.
Seloko indak buliah lapeh sajak mulo duduak sampai sabana tagak maurak selo, sasudah salasai makan jo minum kawa, sasudah salasai jo pasambahan mintak kato katurun, nan lamono bisa jadi sampai ampek jam (panah ambo alami du). Antah baa lo lah carono, alun panah nampak urang nan indak pandai tagak sasudah duduak baselo salomo itu doh.
Paliang-paliang agak sapiradan kaki tu sabanta, ta tengkak-tengkak saketek, sudah tu aman sajo.

Di kampuang ambo, dulu ambo paratian ado sabagian kaum ibu-ibuko nan
mamasuak-an nasi ka muncuang jo caro 'baambuangan'. Nasi tu di 'pamainan' mareka jo jari, sabagian ado nan di 'amia-amia' di tangan babarapo saat sabalun diambuangan ka muncuang. Atraksi nan sabanano cukuik hebaik sababindak ado nan taserak nasi tu doh.

Baiak dikalompok urang laki-laki ataupun urang padusi, biasono anak-anak
indak disatoan sajamba jo urang tuo-tuo doh. Anak-anak ko diagiah sajo
piriang surang, supayo indak manggaduah.

Sumber: www.cimbuak.com
Penulis: Muhammad Dafiq Saib, St. Lembang Alam
andreandhika - 04/11/2009 01:49 PM
#20

Adab Makan di Ranah Minang II

Spoiler for Isi

Ado apak kawan ambo saisuak di Banduang biaso maajai kami. Kalau kalian
makan di meja makan, di undangan atau di rumah urang, mamakai sendok jo garapu, musti kalian paratian bana, jaan sampai babunyi badanciang- danciang sendok jo garaputu di piriang. Kalau makanan bakuah saumpamo sup, indak buliah babunyi 'sarupuik' no. Makan indak buliah mancapak- capak. Indak buliah mairuik-iruik salemo kok nyampang tabik salemo dek makan kapadehan. Indak buliah malapehan sindao gadang. Kalau alah sudah makan, sendok jo garapu musti ditungkuik-an latakno basisian dipiriang, itu ka tando bahaso awak alah sudah makan indak ka batambuah lai. Baitu jano baliau maajai kami. Caro-caroko tantu sajo bukan caro baradaik di nagari awak, tapi caro-caro 'taratik' urang Bulando. Sabagian lai sasuai ambo, lai juo ambo pagunoan kalau ambo makan diundangan urang caro makan duduak di meja bakurisi, kacuali malatakan sendok batungkuik- an tu.

Sasudah bakarajo jo urang Parancih, sakali samaso pai (tapaso) mamanuahi undangan makan malam mareka, nan kudian-kudian ko samakin acok ambo tulak.

Ambo tulak sabab indak lanteh angan lai duduak sameja jo urang minum khamar, tau ambo baso sato badoso awak walau hanyo sakadar sato duduak mangawani sajo. Katiko pai tapaso tu (dulu) ambo usaoan untuak samo duduak sameja jo urang nan indak minum khamar tu. Makan mampagunoan pisau jo garapu. Pisau disuok, garapu dikida. Dek makan jo tangan kidako adolah caro makan setan (hadits Rasulullah) mako ambo mamotong-motong makanan jo pisau, sudah itu ma istirahatkan pisau di tapi piriang, mamacik-an garapu jo tangan suok. Lai alun panah nan managua atau nan batanyo lai doh.

Kalau urang Parancih iyo sabana baunyai-unyai makan ko, sabana barapi- rapi ota, langkok jo galak takekeh-kekeh bagai, katiko ado carito lucu. Nan indak basamangaik bana awak mancaliak katiko ado (bahkan sangat umum) nan malansiang salemo ka serbet jo bunyi nan sabana mengezutkan. Di kalangan mareka itu bukanlah tabu, bukanlah indak sopan. Awak nan duduak dakek mareka iyo janiah-janiah ayia liyua dibuekno.

Undangan nan biasono pukua satangah salapan malam, dimuloi jo minum-minum sambia maota-ota. Mareka minum sampanye, awak buliah mintak jus limau misalno. Tagak sambia maota-ota ka ilia ka mudiak. Iko alah kurang manyanangan diambo. Pukuah satangah sapuluah baru muloi makan. Duduak dikurisi meja-meja bulek untuak salapan urang sameja, atau ado juo di meja panjang bahadok-hadokan. Makan baunyai-unyaiko, balapih-lapih nan dimakan, makanan pambukak, makanan utamu, ado pulo desert bisa labiah dari ciek, ado pulo makan-makan keju (ado nan busuak sangaik bagai baunno), dan sabagaino, dan sabagaino nan masiang- masiangno tu sabana lamo, sainggo panah bakasudahan pukuah duo pagi, diselingi jo hota nan indak bakarunciangan amek. Nan cilakono, manuruik tatakrama mareka, jamuan ko alun salasai kalau alun di tutuik jo kopi atau teh. Jadi kalau alun ditutuik jo minum kopi alun buliah awak lai mintak ijin nak daulu, baitu pulo konon. Salamo minum kopiko duduak alah buliah bebas, biasono tuan rumah bakuliliang pulo malawan tamu-tamu maota agak saketek surang, kasampatan untuak saliang manggajobohan
antaro tuan rumah jo tamu.

Sumber: www.cimbuak.com
Penulis: Muhammad Dafiq Saib, St. Lembang Alam
Page 1 of 29 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Minangkabau > Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau