Minangkabau
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Minangkabau > Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau
Total Views: 36405 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 29 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

andreandhika - 04/11/2009 02:20 PM
#41

Alam Minangkabau (VIII)

Spoiler for Isi

X. Pulau Perca disebut Alam Minangkabau.
Kata ahli adat setelah Datuk Katumangguangan dan datuak Parapatiah nan Sabatang mendirikan luhak nan tiga dan membagi laras nan dua yaitu koto Piliang dan Bodi Chaniago.

Kira kira 5 tahun kemudian, datanglah seorang nakhoda dari laut membawa seekor kerbau panjang tanduk serta runcing. Ia menetap di bukit Gombak dan memandikan kerbaunya disungai emas. Perahu nakhoda itu ditambatkan di kaki bukit Patah.

Sewaktu bertemu dengan kedua ninik Datuk Katumangguangan dan Datuk Parapatiah nan Sabatang, ia menantang beliau untuk bertaruh mengadu kerbau, jikalau kalah kerbau kami, miliki oleh datuk segala isi perahu kami.

Tantangan nakhoda itu diterima oleh ninik yang berdua orang besar besar: "Baiklah, tetapi beri janji kami selama tujuh hari."
Dalam tujuh hari bemupakatlah isi luhak nan tiga laras nan dua, lalu dicari se ekor anak kerbau yang sedang kuat menyusu. Dibuat orang topang besi bercabang sembilan dan runcing ujungnya. Besi serampang itu bernama minang.

Setelah sampai tujuh hari, maka semalam-malam hari yang ketujuh anak kerbau tidak dicampur dengan induknya. Setelah hari pagi, tupang besi tadi dipasang di mulut anak kerbau tadi, lalu dibawa ketengah medan yang sudah dihiasi sebagai tempat pertarungan kedua kedua kerbau itu yakni di balai Sidusun. Semua orang laki perempuan tumpah ruah ke medan itu, begitu juga segala isi perahu dan nakhoda tadi keluar membawa kerbau besarnya itu.

Setelah tiba ditengah medan itu, kedua kerbau itu dilepas orang. Sebentar itu juga anak kerbau yang sudah kelaparan berlari kekerbau besaryang dikiranya sebagai induknya untuk menyusu.
Sekali saja anak kerbau itu menyusu, maka larilah kerbau besar itu, keluar perutnya berjurai jurai, lalu matilah kerbau itu.
Melihat kerbaunya sudah mati, nakhoda tadi pergi ke laut dan pulang ke negerinya. Mungkin karena sangat malunya, sangkar ayam tertinggal ditepi sungai, dekat medan mengadu kerbau tadi. Ditempat itu sekarang ada sebuah kampung bernama kampung "Sangkayan", yang asalnya dari sangkar ayam nakhoda itu.

Sesudah mengadu kerbau itu bermupakatlah segala orang luhak nan tiga laras nan dua memberi nama pulau perca ini dengan nama alam Minangkabau, sampai sekarang tidak berubah rubah.



Cateri Reno sudah, menerka kayu tataran naga pihak.
Menurut bunyi Tambo alam minangkabau, tidak berapa lama setelah mengadu kerbau tadi nakhoda itu kembali lagi dengan membawa kayu tataran naga pihak, dimana ujung dan pangkalnya sama besar, sulit ditebak mana ujung mana pangkalnya.

Dia pun menetapkan bukit gombak, lalu ia masuk kedalam nagari Lima Kaum dan bertemu dengan datu Suri Diraja.
Ia mengajak datuk Suri di Raja berteka teki dengan taruhan limapuluh kati emas. Oleh datuk Suri diraja teka teki itu diterima dengan syarat harus dilaksanakan ditengah medan.

Lalu datuk Suri Diraja menghimpun segala orang yang patut patut, ia pun berkata " Timbang olehmu akan kayu itu ditengahnya. Mana yang berat itulah pangkalnya dan yang ringan itulah ujungnya".
Setelah sampai waktunya, maka berdatanganlah segala orang besar besar dan patut patut ke medan yang baik itu, yaitu Dusun Tua namanya. Begitu juga segala isi nagari laki laki perempuan datang bersama sama ke medan itu.
Setelah cukup semuanya, bertanya Cateri Reno kepada nakhoda itu :
"Apa maksud tuan datang kemari ?"
Sahut nakhoda itu :
"Kami sengaja datang kemari karena kami dengar disini banyak orang cerdik pandai. Segala orang itulah yang hendak kami jelang. Jika Datuk suka, cobalah datuk terka akan kayu kami ini, mana ujung dan mana pangkalnya." Sambil mengeluarkan kayu yangia bawa.
"Apabila terterka oleh kami, apa yang akan menjadi hukumnya?" tanya Cateri Reno.

Dijawab oleh nakhoda "Miliki oleh Datuk segala isi perahu kami."
Setelah taruhan ditampin, maka kayu tataran naga pihak itu diambil oleh Cateri Reno sudah. Tepat ditengah tengah kayu itu di ikatnya dengan tali yang halus dan kuat. Setelah itu ujung tali pengikat itu diangkatnya keatas, kelihatan oleh orang banyak kayu itu berat sebelah. Lalu diterkalah oleh Cateri Reno menunjukkan kepada nakhoda itu, katanya "yang berat itu adalah pangkalnya dan yang ringan adalh ujung kayu itu."

Nakhoda itu sangat malu atas kekalahannya ini ditinggalkan segala taruhan tadi dan iapun kembali kelaut pulang ke negerinya. Sungai Mas tempat ia menambatkan perahunya diberi nama Kepala Padang Ganting.
Sepeninggal nakhoda tadi, taruhan tadi dibagi oleh orang luhak nan tiga laras nan dua, sebagian kepariangan Padang Panjang, dan sebagian lagi dibagi tiga, sebagian tinggal di lima kaum, sebagian di Sungai Tarab dan sebagian lagi untuk Tanjung Sungayang.




Cateri Reno Sudah Menerka Dua Ekor Burung Yang Serupa
Tidak puas dengan kekalahannya itu, nakhoda kapal balik lagi ke pulau perca dengan membawa dua ekor burung, satu jantan dan lainnya betina. Kedua ekor itu sama rupa bulunya, sama besarnya dan bunyinya pun serupa.

Nakhoda menetap di nagari Tanjung Sungayang dan perahunya ditanbatkannya di Pangkal Bumi disitu pula bertemu kembali dengan Cateri Reno Sudah. Pada kesempatan itu ia kembali mengajak berteka teki.
Cateri Reno Sudah menanyakan apa lagi yang akan diterkanya, dan dijawab oleh nakhoda itu yaitu menerka kedua ekor burung yang dibawanya.

Ada dua ekor burung yang sama rupa dan bangunnya. Terkalah oleh Datuk mana yang jantan dan mana yang betina."
Menyahut Cateri Reno Sudah : "Kalau begitu kata tuan , teka teki ini kami terima, tetapi harus dilakukan ditengah medan agar dapat disaksikan oleh orang banyak.
Syarat itu diterima oleh nakhoda tadi dan merekapun menetapkan perjanjian kapan teka teki itu dilaksanakan. Sementara itu pergilah orang besar besar dan patut patut menghadap kepada Datuk Suri Diraja dan menceritakan hal itu. Datuk Suri Diraja berkata :
" Beri makan kedua burung itu pada satu tempat, mana yang cepat makannya dan kuat, tandanya burung jantan, sedangkan yang lemah adalah burung betina."

Setelah tiba waktunya, maka berhinpunlah segala orang di medan yang sudah dihiasi yaitu balai gadang namanya terletak diantara Tanjung dan Sungayang. Setelah itu bertanya lagi Cateri Reno Sudah kepada Nakhoda tadi: Apakah kehendak tuan datang ke negeri kami ini?"
Sahut nakhoda itu: Saya membawa dua ekor burung, cobalah terka oleh datuk mana yang burung jantan mana yang betina"
Setelah itu Cateri Reno Sudah mengambil kedua burung itu, lalu diberinya makan pada suatu tempat yang sempit.

Kedua burung itupun berebut makan sampai berdesak desakan, edar mengedar dan tendang menendang. Tidak lama setelah itu terlihat salah satu keletihan, dan oleh Cateri Reno Sudah ditunjuknya sebagai burung betina dan yang masih kuat ditunjuk sebagai burung Jantan.
Maka kalahlah nakhoda itu sehingga tiada termakan nasi olehnya, setelah itudiambilnya kedua burung tadi, lalu dikurungnya dan dibawanya kembali ke dalam perahunya. Dari sana ia bertolak dan perahu itu ditinggalkan ditepi bukit, dan dia dengan segala anak buahnya pergi menuju ke kampung Minangkabau yaitu kekaki bukit batu patah.

Disana mereka bersumpah untuk tidak kembali lagi ke pulau perca ini, karena orang disini banyak yang pintar cerdik pandai. Setelah itu ia pulang kenegerinya dan tidak pernah muncul lagi ke alam Minangkabau.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi
andreandhika - 04/11/2009 03:23 PM
#42

Alam Minangkabau (IX)

Spoiler for Isi

XI. Adityawarman Datang ke Pulau Perca
Menurut kata ahli adat, pada masa itu datang orang berlayar dari laut menepat ke nagari Pariangan Padang Panjang, lalu ke galundi nan bersela sela dan bertemu dengan datuk yang bertiga yakni Datuk Katumangguangan, datuak Parapatiah nan Sabatang dan Datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga. Orang yang datang itu dimuliakan oleh datuk yang bertiga itu dengan patutnya.

Mereka datang beramai ramai dalam satu kapal lengkap dengan hamba sahayanya (bangsa sekawak), yang menjadi orangsuruhan oleh kepala kapal itu, bernama Adityawarman bergelar Sri Paduka Berhala.

Disaat itu timbul perbantahan diantara ninik yang bertiga mengenai Adityawarman. Datuak Katumangguangan mengatakan bahwa dia adalah Raja, sedangkan menurut Datuk Parapatiah nan Sabatang orang itu bukan raja melainkan manti saja, dan menurut Datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga orang itu hanya seorang utusan raja.

Akhirnya datuk yang berdua menurut kepada apa yang dikatakan Datuk Katumangguangan karena beliau berniat akan mengambil orang itu sebagai semendanya, akan suami dari adiknya yang bernama Tuan Putri Reno Mandi.

Rencana Datuk Katumangguangan itu diterima oleh Adityawarman, hingga bulatlah perundingan masa itu dikimpoikanlah Adityawarman dengan Tuan Putri Reno Mandi menurut sepanjang adat yang patut.

Semenjak itu Adityawarman yang bergelar Sri PadukaBerhala itu dianggap oleh orang Pariangan Padang Panjang seperti rajanya. Sungguhpun ia datang dari tanah jawa, tetapi asal usulnya ia datang dari hindustan, keturunan raja juga. Dia dan teman temannya itu berdiam di Pariangan Padang Panjang menurut adat lembaga orang dalam nagari itu, menetap selamanya sebagai bumi putera disana.

Kelak anak cucu Adityawarman yang menjawat waris Datuk Katumangguangan, Datuk Parapatiah nan Sabatang, Datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga dan Datuk Suri Diraja.

Menurut Tambo adat alam Minangkabau, asal orang Minangkabau yang telah berkembang biak diseluruh pulau andalas (tanah Alam Minangkabau) itu ialah :
Pertama sekali yang datang adalah Ninik Sri Maharaja Diraja, dengan menbawa orang Kasta Cateri menepat diatas puncak gunung merapi, semasa alun baralun bumi akan bersentak turun. Langit akan bersentak naik. Pada masa baru laut semata mata tanah pulau andalas ini, yang ada baru puncak gunung merapi yang ada tanah daratannya. Keturunan bangsa Cateri ini yang terbilang cerdik pandai. Mereka suka berkelompok sesama kasta Cateri.

Selanjutnya datang bangsa Hindustan yang datang bersama Adityawarman. Kesukaannya berkumpul sehindu hindu atau sesama bangsa hindustan saja. Termasuk juga bangsa sekawak yang ikut dengan rombongan Adityawarman, yang menjadi orang hamba sahaya. Bangsa sekawak ini semenjak datang jadi hamba sahaya orang turun temurun yang disebut juga budak, atau istilah adatnya kemenakan bawah lutut dari tuannya.
Mereka dapat diperjual belikan, dijadikan hadiah dan persembahan kepada orang besar besar, untuk pembayar hutang.

Dikatakan bangsa kasta Cateri tadi adalah asal raja raja dan orang cerdik pandai, dan orang orang bangsa hindustan itu bangsa penghulu besar batuah di dalam tiap tiap nagari. Pada saat itu kedua keturunan itu tidak dapat lagi dibedakan karena sudah lama bercampur baur menjadi satu.
Kedua keturunan ini sudah tarik menarik, semenda menyemenda dan sama sama berpenghulu kedua belah pihak, yang adatnya tiada berkurang sedikit juga.
Kedua bangsa itulah yang dikatakan orang baik turun temurun diseluruh minagkabau ini, yang teratur adat lembaganya oleh ninik yang bertiga.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi
andreandhika - 04/11/2009 03:32 PM
#43

Alam Minangkabau (X)

Spoiler for Isi

XII. Amanat Ninik Yang Bertiga

Amanat Datuk Suri Diraja
Berkata Datuk Suri Diraja kepada segenap pwnghulu dan orang orang patut di Pariangan Padang Panjang

Dengarlah ibarat kata hamba oleh segala penghulu dan orang yang mempunyai bicara:
Sutan Kayo di Koto alam
Kayu mati diperumahannya
Jika engkau kaya didalam alam
Akan mati juga kesudahannya

Berbuak kayu di Koto Alam
Buahnya tindih bertindih
Jika engkau bertuah didalam alam
Hanya tuah itu silih berganti

Kayu Pantai di Koto Alam
Pantainya sandi basandi
Jika engkau pandai didalam alam
Patah tumbuh hilang berganti.

Pikirkanlah sungguh sungguh oleh segala yang mempunyai bicara akan ibarat kata hamba itu.

Selanjutnya disaat Datuk Suri Diraja akan meninggal beliau berkata kepada segala raja raja dan segala penghulu dari laras koto piliang dan laras bodi chaniago :
"Adapun kita segala yang disungkup langit, yang ditanahi bumi lalu ke mekah dan medinah sekalian, sedikitpun tiada yang lebih dan kurangnya. Jika dikatakan lebih ada kekurangannya, dikatakan kurang ada kelebihannya, dikatakan tinggi ada rendahnya dikatakan rendah ada tingginya.

Jika dikatakan raja lebih tinggi dan orang besar besar itu ada kelebihannya, terlalu rendah pada bathinnya karena barang siapa yang hendak menjadi raja atau orang besar besar itu, hanya mengisi adat menuang lembaga kepada alam, kepada setiap luhak atau laras atau nagari, itulah rendahnya. Oleh sebab itu janganlah engkau berdengki dengkian, karena malu belum dibagi oleh ninik Datuk Katumangguangan dan Datuk Parapatiah nan Sabatang.

Meskipunsawah ladang, emas perak, segala ternak dan pakaian juga dibagi, demikian pula didalam laras Koto Piliang dan Bodi chaniago, jika tanah sudah berkabung, padi sudah bergantang, jarum sudah terbentuk seorang, hanya malu yang belum dibagi.

Oleh sebab itu janganlah engkau bercerai berai sepeninggal kami. Payung yang mempunyai kerajaan adalah Datuk Katumangguangan. Jika berang laras Bodi Caniago kepada larasnya, mengadunya ke laras Koto Piliang, begitu pula sebaliknya, itulah sumpah ninik moyang berdua, yang tiada lapuk oleh hujan tiada lekang oleh panas, digali dalam digantung tinggi, itulah mulanya jadi persemandanan laras Koto Piliang dan laras Bodi chaniago.

Bagi laras Bodi Chaniago, penghulunya oleh yang sekata, tuahnya karena mupakat, celakanya oleh bersilang, apabiladapat kerja semupakat, jadilah barang kerjanya, barang ke mana mana, maksudnyapun sampai.

Adapun laras Koto Piliang orang beraja: apabila hendak menyusun larasnya berkirim surat kepada Datuk Pamuncak Alam di Sungai Tarab, Datuk Indomo di Saruaso dan tuan Khadi di Padang Ganting diatas daulat yang dipertuan.
Maka barang apa apa kerjanya pun jadi berkat pekerjaannya.

Pamuncak alam di Sungai Tarab
Payung panji di Saruaso
Suluah bendang di Padang Ganting
Cermin cina di Singkarak Saningbakar
Harimau Campo di Batipuah
Tangkai alam di Pariangan Padang Panjang
Pasak kungkung di Sungai Jambu
Raja besar di Bukit Batu Patah

Jika berkata dengan orang yang tahu, lebih bak santan dengan tanguli, dan berkata dengan orang yang tidak tahu, lebih bak antan pencungkil duri. Oleh sebab itu baik baiklah engkau mencari salak silik, baik baiklah engkau mencari kata pusaka, supaya selamat kamu dialam ini.

Amanat datuak Katumangguangan
Disampaikan saat beliau akan meninggal dunia didepan segala penghulu dan orang orang besar dalam laras Koto Piliang:
1. Sekali kali hindarkan perceraian dengan orang laras bodi Chaniago, karena merekalah yang mengisi cukai adat lembaga kepada kita. Merekalah yang mendirikan kerajaan kita, dan kalau dihiasinya akan tempat kita duduk. Payung ubur ubur itu milik orang laras Bodi chaniago, maka dari itu janganlah kamu bercerai sepeninggal kami berdua.
2. baik baiklah engkau memelihara isi alam, isi nagari, segala anak kemenakan, pikir benar sungguh sungguh supaya kalian jangan kena sumpah ninik moyang.
3. berbuatlah seperti lauttiada penuh oleh air, seperti bumi tiada penuh oleh tumbuh tumbuhan. Apabila kalian jadi penghulu dalam laras Koto Piliang janganlah memakan menghabiskan, jangan menebang merebahkan, jangan mencencang memutuskan, karena bicara tiada sekali dapat.
4. Jadikan nabi Allah jadi suri teladan. Kasih kalian kepada isi alam sebagai kasih nabi kepada umatnya. Hati adalah palinggam Allah, teraju palinggam mata, sebab itu peliharalah lidahmu dengan baik, begitu pula kaki dan mulutmu. Jika tertarung panyambahan badan tanggungannya, mulut emas padahannya, tertarung kaki inai padahannya.
5. Memutih padi orangdi Kamang, melekang panas sehari, berbelok belok alang samat, ranting berbelok kepangkalnya.
6. berdentung gegar dilaut, merentang rupanya kilat, kalang kambut rupanya langit, berputar rupanya angin timur.
7. pikir jualah sungguh sungguh, lemak liuk kayu akar kelimpang, itulah patut bicara."

Datuk Katumangguangan meninggal di koto Ranah yakni di Kampung Minangkabau sampai sekarang kuburan beliau masih ada disana dikenal dengan kubur yang dipertuan yang bersusu empat.

Amanat Datuak Parapatiah Nan Sabatang
Pesan ini disampaikan kepada penghulu yang berempat dan yang berlima sekota, serta orang orang cerdik pandai dan orang orang bertuah dalam laras Bodi Caniago, beliau berkata:
"Rasanya umurnya hamba tidak akan lama lagi, hamba hendak pergi ke Solok Selayo, entah kembali entah tidak, oleh sebab itu hendaklah pegang pitaruh hamba oleh segala penghulu dan orang cerdik pandai :
Pertama hendaklah kalian kasih kepada nagari, kepada isi nagari, kepada orang orang kaya, kepada orang orang bertuan, kepada tukang, kepadan segala penghulu, kepada orang yang mempunyai bicara meskipun ia kanak kanak sekalipun.

Apabila dia mempunyai bicara, ikuti olehmu karena ia itulah tangkai nagari dan tangkai alam janganlah kalian ubahi sepeninggal hamba supaya selamat apa apa yang kalian kerjakan.

Malu orang kepada kalian yang mempunyai bicara ada enam perkara :
1. Kuat melawan kepada yang benar.
2. Kuat membelanjakan kepada segala yang baik.
3. Memperbaiki parit pagar keliling nagari
4. Kuat mengusahakan pekerjaan
5. Tahu kepada yang benar
6. Kuat menyelesaikan yang kusut dalam nagari dantahu dengan basa basi.

Apabila terpakai niscaya jadilah kalian panglimabesar dalam nagari, menjadi ikutan segala isi alam dan luhak, dan kalian lah penghulu pilihan dalam alam ini.

Kata empat yang dipakai :
1. Janganlah berdengki dengkian
2. Jangan hina menghinakan
3. Jangan bertolong tolongan kepada maksiat
4. Jangan menghasut orang dalam nagari untuk berkelahi.

Jagalah dua belas perkara yang akan dipakai :
1. Kuat memberi makan isi nagari
2. Benci kepada segala kejahatan
3. Banyak harta
4. Banyak ilmu pengetahuan yang baik
5. Berhati baik kepada orang banyak
6. Giat berusaha
7. menerima umpat puji dengan lapang dada
8. Kasih sayang kepada orang teraniaya
9. Pandai berbicara
10. Pasihat lidah
11. Tahu kepada yang benar
12. Ingat ingat pada kata kias

Setelah beramanat itu Datruak Parapatiah Nan Sabatang berjalan ke negeri Malaka, berdiam dinegeri Sembilan dan beliau meninggal di Negeri Sembilan itu. Sepanjang cerita orang kuburan beliau masih ada disana yang oleh orang Negeri Sembilan dinamakan Kuburan Patih.
Masyarakat di negeri sembilan itu beradat seperti kita orang alam Minangkabau juga, berpusaka kepada kemenangan menurut aturan Ninik Parapatiah nan Sabatang.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi
andreandhika - 04/11/2009 03:33 PM
#44

Tanah Adat di Minangkabau

Spoiler for Isi

Tanah adat di Minangkabau seperti diketahui mempunyai kedudukan tersendiri. Tanah adat yang dimiliki oleh suatu kaum, misal kaum a, kaum A ini sebagian kecil dari suatu suku misal lagi suku caniago (kebetulan awak sukunyo caniago). Suku adalah kelompok yang mempunyai hubungan darah sangat dekat menurut garis keturunan keibuan, matrilinial . Susunan organisasi kekeluargaan ini dipimpin oleh seorang laki laki atau beberapa orang laki laki yang disebut dengan mamak. yaitu saudara laki laki dari ibu. Saudara dari laki laki dari nenek disebut angku atau datuk. Kumpulan dari mamak dan datuk inilah yang disebut ninik mamak. Jangan salah sebut nenek mamak, tapi ninik mamak. Jadi ninik disini adalah datuk, artinya laki laki, saudara laki laki dari nenek. Sedangkan nenek adalah perempuan, sebutannya disana adalah anduang. Demikianlah sedikit gambaran mengenai sistem keluarga itu.

Siapa Yang Berkuasa atas Tanah ?

Katanya, yang memiliki tanah itu adalah kaum atau keluarga tadi. Yang berkuasa atas tanah adalah mamak yang tertua. Tetapi dalam kenyataan sehari-hari tanah itu dibawah kekuasaan atau kelihatannya seperti dalam kepemilikan ibu, atau nenek dalam keluarga itu. Jadi pihak perempuanlah sebenarnya yang memiliki tanah atau sawah itu. Tidak ada orang menyebut sawah angku datuak Bandaro, misalnya. Yang ada disebut orang adalah sawah ibu reni.

Jadi inilah yang terlihat dalam masyarakat. Yang dianggap masyarakat pemiliknya adalah si ibu atau si nenek tadi, yang menguasainya mamak atau ninik itu. Tetapi dibaliak itu, yang mengasainya keluar kalau ada urusan apa apa terhadap tanah itu misal urusan dengan kantor kantor pemerintahan, maka ninik atau mamak yang terkemuka dalam kaum tadilah yang berhadapan, dialah yang bertugas menghadapi hal itu. Demikian gambaran struktur organisasi pemilikan dan penguasaan atas tanah pusaka tinggi dalam satu keluarga.

Berdasarkan diatas struktur kepemilikan dan penguasaan atas tanah, menurut hukum adat Minangkabau sebagai berikut:

Tanah ulayat nagari
Adalah hutan ataupun tanah yang berada dalam pengelolaan Nagari. Biasanya tanah ulayat nagari dipergunakan untuk kepentingan yang bersifat umum; seperti untuk Masjid dan sebagainya.

Tanah ulayat suku;
Adalah tanah tanah yang dikelola dan hanya anggota suku inilah yang dapat memperoleh dan menggunakan tanah tersebut.

Tanah pusaka tinggi:
Tanah yang dimiliki oleh kaum, yang merupakan milik bersama dari seluruh anggota kaum dan diperoleh secara turun temurun, yang pengawasannya berada di tangan mamak Kepala Waris Kaum.

Tanah pusaka rendah:
Adalah harta yang diperoleh seseorang atau suatu/sebuah paruik berdasarkan pemberian atau hibah maupun pencariannya, pembelian, "Taruko" dan sebagainya

Paralu juo disampaikan bahwa pada saat kini tanah ulayat Nagari maupun tanah tanah suku di beberapa Nagari sudah tidak ditemui lagi, hal ini disebabkab karena "pudar" dilanda perkembangan penduduk dan perkembangan Sosial Ekonomi

"Kato dahulu, batapeki,
Kato kamudian, kato baurai
Ikrar ba muliakan,
Janji batapeki
Kurang labiah minta maaf.

Sumber: www.cimbuak.net
Penulis: Sajuti Thalib, S.H
andreandhika - 04/11/2009 04:58 PM
#45

Ninik Mamak Di Persimpangan Jalan

Spoiler for Isi

Menurut adat, Pangulu atau Ninik Mamak itu sama, tidak bertinggi berendah, duduk sahamparan/duduak samo randah, kok tagak samo tinggi.

Untuk pengetahuan kita, dibawah ini diutarakan serba sedikit mengenai hal diatas, bak kato nan tuo-tuo :
Kok kurang tukuak manukuak dan kok singkek uleh mauleh, mudah-mudahan bermamfaat bagi sanak sudaro sarato anak kamanakan nan alun tahu.

1. Sebelum Kemerdekaan
Setiap pribadi dari Datuk atau Pangulu, sedapat-dapatnya harus bertempat tinggal/berdomisili di kampung.

Gunanya ialah supaya beliau selalu melihat-lihat dan atau mengawasi anak kemenakan yang berada dibawah naungannya. Disamping itu dimaksudkan pula agar beliau menyempatkan diri melakukan sholat Jum'at di kampung

Ketentuan ini juga berlaku bagi para Datuk/Pangulu yang tidak kimpoi/belum pernah berumah tangga di kampung.

Pada kesempatan bertemu muka dengan orang kampung/jemaah masjid yang lazimnya dibacakan pengumuman-pengumuman atau keputusan-keputusan yang telah diambil oleh Kerapatan Adat/Musyawarah Datuk/Pangulu di Balairung, misalnya menyangkut pajak nagari, aturan kerja bakti/gotong royong memperbaiki banda/selokan, irigasi, jalan desa, hukuman/teguran kepada pembangkang-pembangkang adat dstnya.

Biasanya sekembali dari sholat jum'at di masjid beliau mampir di kediaman kemenakannya, dan ini diatur secara bergilir, kalau minggu ini di rumah si a, maka minggu yang akan datang ke rumah si B, dan begitulah seterusnya. Ketentuan ini merupakan keharusan bagi setiap Datuk/Pangulu Minangkabau yang bersuku Ibu/Matriarchaat (Matrilinial).

Kunjungan ke rumah kemenakan ini dimaksudkan antara lain untuk menyampaikan kepada mereka maklumat/pengumuman yang barusan saja di lewakan (disiarkan) di masjid.

Disamping itu untuk lebih memperat hubungan antara sang mamak dan kemenakan. Pada kesempatan seperti itu ditanyakan kondisi si kemenakan seperti kesehatan mereka, keadaan ekonominya dan lain-lain. Adalah kewajiban mamak untuk waktu siang maliek-liek dan kok malam manadanga-dangakan, sebab bak bunyi pepatah petitih adat :

Kamanakan barajo ka mamak
Mamak barajo ka alua jo patuik
Kamanakan manyambah lahia
Mamak manyambah bathin

Tidak jarang terjadi justru pada siang Jum'at itu pula kesempatan bagi kaum Ibu menemui Angku Kadhi guna melaporkan segala sesuatu yang menyangkut rumah tangga, sesuai dengan isi Taqlik Nikah. Karena mamak yang bersangkutan hadir, maka Tuan Kadhi lansung berembuk dan memecahkan persoalan tesebut, Tuan kadhi tak akan berani memutuskan segala sesuatau yang secara sepihak tanpa melalui perundingan dengan Ninik Mamak, satu dan lain, karena berpegang teguh kepada Undang-undang tak tertulis : “Rumah ba mamak/tungganai dan Kampuang ba urang Tuo, kok hati samo dicacah, hati gajah samo di lapah.

Selanjutnya, supayo nak duo pantun sairiang :
Kok elok samo dipakai, tapi kok buruak tasuo dibuang jo etongan. Landasan untuk semuanya itu adalah Tali Bapilin Tigo, yakni Adat, Agamo dan Pemerintahan.

2. Setelah Kemerdekaan
Begitu revolusi pecah, maka teori adat seperti di uraikan diatas berubah pula, Para Datuk/Pangulu pada ke empat nagari banyak pergi merantau, sementara Datuk/Pangulu yang baru diangkatpun tidak jarang ikut-ikutan meninggalkan kampung halaman. Menurut pengamatan di lapangan tidak lebih 40% dari jumlah Datuk/Pangulu yang tetap bertahan di kampung, sementara yang 60% berada diluar kampung asalnya. (Masalahnya tentu lebih banyak disebabkan oleh ekonomi).

Merisaukan memang, namun demikianlah kenyataan kini, “Kuek (Kuat) sapik karano jari dan kuek kampo karano minyak".

Mamanda Datuk/Pangulu merasa kurang tanggung jawabnya lagi untuk menyilau-nyilau kamanakan. Lalu menanyakan beberapa orang anak sekarang, tanah perumahan nan disinan/situ baa kini, kemudian menyisiasati kamanakan nan di anu dan mereka yang telah cukup umur untuk dijodohkan dan sebagainya.

Diperparah lagi mengenai hak jual tanah serta menggadai yang sudah tidak perlu melalui musyawarah mufakat. Peranan Pangulu/Ninik Mamak yang dulu demikian besar, kini sudah tidak kedengaran lagi. Padahal ketentuan itu dimaksudkan untuk membendung kesewenang-wenangan sehingga anak kemenakan terpelihara dari watak “basihabih/basitandeh" alias main jual serta main sikat.

Seperti diketahui, seorang baru/boleh dibenarkan menggadai dan menjual apabila dijumpai tiga perkara yang dapat mendatangkan ‘aib keluarga, yaitu :
a. Rumah Gadang katirisan
b. Gadih gadang (dewasa) tak berlaki (bersuami)
c. Mayat tabujua (terbujur) ditengah rumah.

Kalau pada suatu kaum kedapatan salah satu dari yang tiga tersebut , barulah dapat dilakukan Rumah Gadang Tahan rajok dan kabau Gadang Tahan Tariak. Artinya kalau sudah sangat terpaksa dan tidak bisa saling tenggang lagi.

Lalu bagaimana kini ? Angku-angku datuak/Pangulu yang tergolong Pangulu Tiga Zaman sudah sangat langka, boleh dihitung dengan jari banyaknya.

Barangkali bukanlah manyaruangkan baju sampik sembari bernostalgia sekali-sekali kita menoleh ke belakang ke saat, dimana adat itu memang tak lekang di panas dan tak lapuak dek hujan untuk mengingat-ingat jasa para pendahulu kita (Ninik Mamak) yang demikian beribawa, tidak hanya terhadap anak kemenakan (didalam) akan tetapi juga keluar (terhadap pemerintah, sekalipun pemerintah asing). Ada undang adat mengatakan : “Nak barundiang dalam barih".

Akankah masa-masa bahagia dimana anak kemenakan merasa terlindungi itu dapat kembali lagi dialam merdeka ini ?

Kendatipun Ninik Mamak/Pangulu ada jauh berdomisili jauh di rantau, namun mentalitas terhadap kemenakan di kampung tidak berubah, artinya senantiasa memperhatikan kemenakan tersebut. Dan hal ini dilakukan melalui alat komunikasi mutakhir, telepon, surat dan pesawat terbang, yang menyebabkan hubungan dan komunikasi lebih cepat.

Sebaliknya kalau Ninik Mamak/Pangulu itu bertempat tinggal di kampung halaman, akan tetapi mentalitas dan perhatiannya terhadap kemenakan tidak ada, maka ia “basibanam saja di rumah istrinya", artinya perhatian tidak ada sama sekali.

Yang menjadi pokok utama adalah mentalitas Ninik Mamak/Pangulu terhadap kemenakan, jauh dan dekat tidak menjadi soal di zaman sekarang dengan alat serba mutakhir kemana saja dekat dan cepat.

Sumber: www.cimbuak.net
andreandhika - 04/11/2009 05:06 PM
#46

Latar Belakang Munculnya Adat Dan Nagari Bag.1

Spoiler for Isi

Saat ini masyarakat baik yang dikampung apalagi yang dirantau memahami adat sebagai sesuatu yang memberatkan. Bila ditanya apa itu adat, memang sulit untuk dijelaskan secara gamblang. Dalam pikirannya, seolah olah apa yang terjadi dan dilihat dalam setiap acara beradat itulah yang disebut adat. Sehingga dengan latar belakang berbeda-beda, masing masing mereka memberikan jawaban yang berbeda-beda pula.

Hal ini mengakibatkan akan terjadinya bias, terlihat membingungkan dan tidak logis. Kita tidak bisa menyesalkan terjadinya kondisi tersebut. Mereka tidak salah karena pengertian adat itu bisa sempit dan bisa luas.

Kok dibalun sabalun kuku
Kok dikambang saleba alam
Dalam kulik manganduang isi,
Dalam isi ado bapanguba,
Dalam panguba batareh pulo

Dalam Bahasa Indonesia :
Kalo dikecilkan sekecil kuku
Kalo bibesarkan selebar alam
Dalam kulit mengandung isi
Dalam isi ada plasma
Dalam plasma ada nucleus/intisari.

Jadi jawaban apa adat itu tergantung pengertian dan pengetahuannya pada lapisan mana. Sehingga diperlukan sekali bertanya kepada yang tahu, berguru kepada yang pandai.

Latar belakang munculnya adat tidak terlepas dari munculnya nagari, ada empat fase munculnya adat/nagari yaitu :
1. Taratak
2. Dusun
3. Koto
4. Nagari

1. Fase Taratak
Pada saat nenek moyang kita dahulu mulai berpikir untuk menetap pada suatu daerah, saat itulah mulai dicari wilayah yang sesuai dan menjanjikan untuk didiami, semak belukar dibabat, kayu ditebangi, lurah ditimbun, bukit diratakan, air dialirkan kesawah ladang.

Lalu ditanamlah ke dalam tanah tiang-tiang pembatas tanah yang disebut dengan batu lantak dengan syarat dan upacara tertentu. Batu-batu lantak itulah menandakan hak bamiliak harato bapunyo (hak milik harta yang berpunya) yang tidak boleh diganggu gugat. Pekerjaan membersihkan lahan itulah yang disebut dengan malaco.

Sedang kegiatan menetapkan batas-batas pendirian pondok/rumah sekarang masih dipertahankan dengan menyebut maantak tanah. Dengan memanggil dan disaksikan oleh seluruh karib kerabat, pihak yang berbatasan tanah dan yang dituakan di kampung diadakan acara syukuran.

Semakin hari anak kemenakan berkembang biak, daerah wilayah makin diperluas, lalu dibuatlah umpuak/pembagian yang jelas terutama untuk kemenakan perempuan yang disebut dengan ganggam dan baumpuak. Agar tidak terjadi pergeseran sesama mereka, silang jo salisiah, bantah jo kalah, dandam jo kesumat, maka dibuatlah aturan secukupmya.

Yang akan mengatur hak dan kewajiban masing masing, hubungan sesama mereka dengan alam dan Sang Pencipta sehingga tercipta keharmonisan.

Barek samo dipikua ringan samo dijinjiang
tatungkuik samo makan tanah tatilantang samo dapek angin
nan hiduik samo dipaliharo nan mati samo disalamaikkan.

Dalam bahasa Indonesia
Berat sama dipikul ringan sama dijinjing
Tertelungkup sama makan tanah terlentang sama dapat angin
Yang hidup dipelihara yang mati sama diselamatkan.

Proses hingga terlahirnya masyarakat aman dan damai itulah yang disebut dengan taratak, sehingga wilayahnya disebut dengan taratak. Taratak taratua, tertata dengan rapi.

2. Fase Dusun
Sudah menjadi kebiasaan nenek moyang kita untuk berpindah-pindah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Semakin produktif dan prospektif wilayah yang dihuni semakin lama mereka menetap. Tentu saja semakin lama anggota keluarga semakin bertambah.

Dalam perkembangannya, kadang-kadang terjadi perjumpaan dan kesesuaian untuk juga bisa melaco didekat atau diluar wilayah yang telah menjadi taratak. Dengan semakin bertambahnya warga atau kaum wilayah tersebut, maka disusunlah aturan atau norma yang menjelaskan hak dan kewajiban masing-masing kaum yang menghuni wilayah tersebut.

batanggang samo lapa
Takuruang samo mati
Batenggang bakeh nan sampik
Duduak surang basampik sampik
Duduak basamo balapang lapang
Kok lai samo dimakan
Kok indak samo dicari
Lamak diawak katuju diurang
Awak dapek urang buliah
Sairiang samo sajalan saayun salangkah
Sakik samo diubek
Sanang samo dirasokan.

Dalam bahasa Indonesia
Begadang sama lapar
Terkurung sama mati
Bertenggang kepada yang sempit
Duduk sendiri bersempit sempit
Duduk bersama berlapang lapang
Jika ada sama dimakan
Jika tidak ada sama dicari
Enak sama kita enak juga bagi orang lain
Kita dapat orangpun dapat.
Seiring sama sejalan seayun selangkah
Sakit sama diobati
Senang sama dirasakan.

Proses penyunsunan kesatuan wilayah, masyarakat/beberapa kaum dengan segala aturan dan norma yang disepakati itulah yang disebut dengan dusun.
andreandhika - 04/11/2009 05:07 PM
#47

Latar Belakang Munculnya Adat Dan Nagari Bag.2

Spoiler for Isi

3. Fase Koto
Karena anak kemenakan berkembang, wilayah semakin lebar maka aturan dan norma hidup semakin diperluas skopnya, membutuhkan adanya pemimpin diwilayah tersebut. Pemimpin yang akan :

Manantukan lantak pasupadan,
Manantukan inggo jo biteh,
Kok kusuik ka manyalasaikan
Karuah nan kamanjaniahkan
Nan mamacik naraco keadilan

Dalam bahasa Indonesia
Menentukan tanda pembatas
Menentukan wilayah dan batas
Jika ada masalah yang akan menyelesaikan
Jika keruh yang akan menjernihkan
Yang memegang neraca keadilan

Maka dipilihlah seorang pangkatuo/pangatuo/tuo kampung dan didirikanlah rumah gadang secara bergotong royong sebagai pelambang kebesaran pemimpin.

Diharapkan dengan adanya pemimpin dengan segala hak dan kewajiban dan atributnya akan tercipta masyarakat harmonis, elok susunnya bak siriah rancak liriknyo bak ma atua (bagai sirih yang bagus susunnya setelah dijalin)

Daerah/dusun tersebut menjadi makmur, aman dan damai yang dalam bahasa sangsekerta disebut kerto, sebagai akibat adaptasi berdasarkan struktur morfologis, kerto berobah jadi koto.

Karena begitu subur dan makmurnya makin banyak pendatang (dagang lalu) yang menetap disana. Bagi pendatang baru didusun tersebut harus mengikuti aturan :

dima bumi dipijak disitu langit dijunjuang.
bajalan mairiang,
Bakato baiyo
Baiyua maisi

Dalam bahasa Indonesia
Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung
Berjalan mengiringi
Berkata sepakat
Ikut beriur.

Ada juga yang mengatakan koto berasal kata kuta, artinya suatu wilayah yang dipagar untuk menahan serangan dari luar yang akan merugikan penghuninya, itulah yang disebut rumah berpagar adat, kampung bapaga buek, nagari bapaga undang, Tagak suku pado suku, tagak kampuang pado kampuang, taga banagari pada nagari.

4. Fase Nagari
Dalam fase ini ada beberapa kelompok yang memisah dari inti, coba merantau ke daerah yang relatif dekat, kemudian didaerah baru tersebut mengalami fase yang sama dengan daerah asal. Dari taratak manjadi dusun, dari dusun manjadi koto, tetapi mereka tetap menjalin hubungan yang erat dan memakai aturan dan norma yang sama dengan daerah asal,

Dibubuik indak layua
Diasak indak mati
Anak ciek kamanakan satu,

Dalam bahasa Indonesia
Dicabut tidak layu
Dipindah tidak mati
Anak satu kemenakan Satu

Agar hubungan kekerabatan tidak putus karena telah berdiri beberapa koto, maka berdasarkan kesepakatan beberapa Tuo kampung yang memiliki kaitan norma dan kekeluargaan maka didirikanlah nagari. Dan daerah asal/jolong disebut dengan jorong.
Dari sini muncullah,

Tuah kato samufakat
Nan bana kato baiyo
Bulek aia ka pambuluah
Bulek kato ka mufakat

Dalam bahasa Indonesia
Tuah kata karena mufakat
Yang benar kata bersama
Bulat air ke pembuluh
Bulat kata ke mufakat

Baragiah-ragiah
Babagi indak bacarai
Sarumpun bak sarai
Sakalupak bak tabu
Basimpang babalahan
Bakarek bapanggabuangan
Basasok bajarami
Nagari bapaga undang
Kampuang bapaga jo pusako

Dalam bahasa Indonesia
Saling memberi
Berbagi tapi tidak bercerai
Serumpun seperti serai
Sekelupak seperti tebu
Bersimpang berbelahan
Berpotong bersambungan
Bersosok berjerami
Nagari berpagar undang
Kampung berpagar pusaka.

Seluruh aspek kehidupan baik secara individual maupun kolektif, saparuik, sapasukuan, sakoto sanagari, hak dan kewajiban serta seluruh aturan dan norma yang telah disepakati sifat gotong royong tenggang rasa dan lain-lain, semua saling menjalin satu sama lain, dan sebagai pengikut jalinan itu yang disebut adat. Tali pengikat inilah yang disebut adat:

Indak lapuak dek hujan
Indak lakang dek paneh
Dirandam indak basah
Dibaka indak anguih

Dalam bahasa Indonesia
Tidak lapuk karena hujan
Tidak lekang karena panas
Direndam tidak basah
Dibakar tidak hangus

Dapat disimpulkan adat adalah merupakan pandangan hidup yang menata keharmonisan kehidupan antar manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Sang Pencipta yang berpedoman kepada keserasian alam sekelilingnya. Itulah sebabnya adat memposisikan alam terkembang jadi guru.

Panakiak pisau sirauik
Ambiak galah batang lintabuang
Salodong jadikan niru
Satitiak jadikan lauik
Sakapa jadikan gunuang
Alam takambang jadikan guru.

Sumber : Surek kaba Anak Nagari Sungai Pua " Apa Basi" edisi I Desember 2002
andreandhika - 04/11/2009 05:12 PM
#48

Penghulu

Spoiler for Isi

Tiap tiap Penghulu dalam nagari wajib melakukan dan memakai akal yang baik, begitu juga membawa kaum kerabatnya dan orang banyak kepada kebajikan, dan mencari ikhtiar akan menolak jalan kejahatan.
Jikalau penghulu itu menggunakan akal budinya, wajiblah dengan sidik midiknya dalam segala pekerjaan sekedar kuasa dirinya masing masing. Ditambah lagi suatu akal, penghulu wajib tahu dengan hereang dan gendeang, basa basi serta makna kata-kata kias, yakni kata kata yang mengandung arti didalamnya.

Timbang Penghulu
Penghulu itu wajib baginya menimbang baik buruk dengan baik, mudarat dan mamfaat, tinggi rendah, jauh dekat dalam segala pekerjaan yang akan dikerjakan, oleh anak buahnya.

Dan selalu juga menimbang rugi dan laba, mengkaji sebab akibat perbuatannya, baik terhadap dirinya maupun terhadap anak kemenakannya, seperti kata ahli adat "Awal di perbuat akhir dikenal" Jika penghulu itu tiada menimbang lebih dahulu barang sesuatu apa pekerjaan yang akan dikerjakan atau yang akan dikerjakan anak buahnya, apalagi pekerjaan itu dikerjakan dengan terburu nafsu, hal itu sering sekali menyebabkan kerugian terhadap dirinya atau atas diri anak buahnya, atau atas diri orang lain, dan kerap kali pula hal itu merusak akan perjalanan adat asli dalam nagari yaitu adat-adat yang memberikan kebajikan banyak dalam nagari.

Ilmu Penghulu
Setiap penghulu wajib berilmu, wajib menambahkan ilmu, artinya mengetahui lebih banyak suatu persoalan suatu pekerjaan yang akan dikerjakan dan yang akan dikerjakan oleh anak buahnya baik pada massa yang lalu (hal yang telah terjadi) maupun pada massa yang akan datang, rugi atau laba, yang akan timbul sebab dari perbuatannya atau anak buahnya.

Penghulu kerja tanpa ilmu hampa, ilmu yang ada tidak diamalkan oleh penghulu celaka. Dengan kata lain penghulu tidak berilmu pada pekerjaan yang akan dikerjakannya atau yang disuruh kerjakan pada anak buahnya, maka pekerjaan itu tanpa guna dan maksud pekerjaan itu semakin tidak jelas. Tentu pekerjaan itu termasuk pekerjaan yang sia-sia dan mubazir.

Hakikat Penghulu.
Setiap Penghulu itu wajib pula baginya akan berhakikat yang baik selama- lamanya. Sekali kali janganlah penghulu itu kelihatan oleh orang banyak berakikat jahat kepada barangsiapapun juga meskipun terhadap musuhnya, penghulu itu hendaknya berakikat baik terlebih dahulu sekalipun pada lawannya, hakikatnya harus mampu mencari jalan perdamaian yang dapat dilihat orang banyak dan berguna untuk keselamatan dirinya dan kaumnya.

Jikalau penghulu itu kelihatan oleh orang lain, atau oleh kaumnya ada menaruh hakikat tidak baik terhadap barang sesuatunya, niscaya orang akan sak wasangka kepadanya, Jika kelihatan oleh orang bahwa penghulu itu menyimpan hakikat tidak baik kepada sesuatu yang tidak berpatutan, jikalau kelihatan pula oleh kaumnya bahwa penghulu itu berhakikat jahat terhadap orang lain, niscaya kaumnya itu akan turut pula berhakikat jahat. Kalaupun penghulu itu mempertahankan penghulunya itu dengan cara yang tidak baik, pada suatu ketika akan ditimpa malu dan akhirnya hakikat tidak baik itu akan jadi musuh di kemudian hari.

Niat dan Hati Penghulu.
Tiap-tiap penghulu wajib pula berniat dalam hatinya, bumi senang padi menjadi, anak buah berkembang biak nagari aman sentosa. Jalan raya titian bau, anak randa berjalan seorang, pantang terhambat terbelintang, hukum adil adat bernagari.

Begitulah niat sehari-hari hendaknya. Yang dimaksud dengan kata anak berjalan seorang ialah terlihat dan terasa Nagari aman sentosa, karena tak ada sumbang salah, sesuai dengan kata syarak "setiap amal itu harus dimulai dengan niat, dan niat itu dimulai dari hati"

Sumber : Surek kaba anak Nagari Sungai Pua "APA BASI".
Edisi I Desember 2002
andreandhika - 04/11/2009 05:16 PM
#49

Martabat Seorang Penghulu

Spoiler for Isi

Seorang yang telah diangkat menjadi Penghulu oleh kaum anak kemenakannya, akan berwibawa dan disegani kalau dia sebagai seorang pemimpin lebih bisa memimpin dirinya sendiri yang dapat dicontoh dan ditauladan oleh masyarakat anak kemanakan yang dipimpinnya dalam segala tingkah laku dan perbuatannya.

Penghulu atau pemimpin yang demikian akan merupakan pemimpin yang dicintai oleh anak kemenakan dan masyarakatnya. Maka dalam ajaran adat Minangkabau perlu pemimpin itu dilengkapi dengan ketentuan-ketentuan yang mengangkat martabat dan prestise penghulu tersebut, yaitu :

1. Ingek dan Jago pado Adat

Ingek di adat nan ka rusak
Jago limbago jan nyo sumbiang
urang inget pantang Takicuah
Urang jago pantang ka malingan

Seorang Penghulu hendaklah selalu hati-hati dalam setiap tingkah laku dan perbuatannya yang akan merusak nama baik seorang penghulu atau pemimpin.

Hendaklah mencerminkan dalam setiap gerak dan perilaku seorang penghulu itu, sifat-sifat yang baik dan sempurna, umpama perkataannya, duduk, minum, makan, berjalan, berpakaian yang selalu dapat dicontoh oleh anak kemenakan dan masyarakatnya. Dia selalu ingat dan hati-hati bahwa dia adalah seorang pemimpin yang senantiasa diperhatikan dan dilihat oleh masyarakat. Baik budi, tutur dan kata yang lemah lembut, berani tanggung jawab dalam segala tindakan, jangan seperti kata gurindam :

Tinggi lonjak gadang galapua
Nan lago dibawah sajo
Baka ibarat ayam jantan
Bakukuak di nan tinggi
Gilo namuah kamanangan
Muluik kasa timbangan kurang
Gadang tungkuih tak barisi
Elok baso tak manantu.
Nan baiak umpamo buluah bambu
Nan batareh nampak kalua
Tapi di dalam kosong sajo

Mamakai cabuah sio-sio
Kecek gadang timbangan kurang
Kacak batih lah babatih
Kacak langan lah bak langan
Ereng jo gendeng tak bapakai
Baso basi jauah sakali
Malu sopan pun tak ado
Bicaro banyak suok-kida
Indak manunjuak ma-ajari

Penghulu yang demikian akan kehilangan harga diri dalam masyarakat dan tidak akan dihormati dan tidak akan berhasil dalam impiannya.

Patitih pamenan adat
Gurindam pamenan kato
Jadi pemimpin kok tak pandai
Rusak kampuang binaso kato.

2. Berilmu, Berfaham, Bermakrifat, Yakin dan Tawakal kepada Allah

Berilmu

Berilmu pengetahuan tentang rakyak yang dipimpinnya, tentang soko dan pusako, tentang korong kampuang dan halaman serta nagarinya. Berpengetahuan tentang hukum adat dan syarak, yang sagggup mengamalkannya dalam penyelesaian sengketa yang terjadi dalam lingkungan kaum dan nagarinya.

Berfaham
Merahasiakan apa yang patut dirahasiakan,

Indak ta-ruah bak katidiang
Indak ba-serak bak anjalai
Kok rundiang ba nan batin
Patuik ba-duo jan ba-tigo
Nan jan lahia di-danga urang

Bermakrifat
Mengamalkan rukun Islam yang lima, dengan tulus dan ikhlas dan selalu ingat kepada Allah swt dan meninggalkan segala larangan agama Islam, begitupun larangan Adat dan Undang-Undang.

Ilmu bak bintang bataburan
Faham haluih bak lauik dalam
Budi nan tidak kelihatan
Faham nan tidak namuah ta-gadai
Luruih bana dipegang sungguah.

3. Kayo dan Miskin pado Hati dan Kebenaran
Seorang penghulu hendaklah mempunyai kesanggupan mengarahkan anak kemenakannya kepada kebenaran. Dia akan berusaha membawanya kepada jalan yang baik dan benar, diminta atau tidak diminta oleh anak kemenakannya. Ia rendah hati dan pemurah dalam segala bentuk yang mengarah kepada kebenaran dan perbuatan-perbuatan yang baik, selalu memberi ajaran-ajaran yang baik dan berfaedah.

Sewaktu-waktu seorang penghulu perlu mempunyai sifat tegas dan bijaksana. Dia tidak akan mengambil suatu langkah dan tindakan sebelum diminta dan diperlukan. Dia tidak akan menyelesaikan suatu sengketa yang seharusnya tidak menjadi kewajibannya atau tidak pada tempatnya.

Elok nagari dek panghulu
Rancak tapian dek nan mudo
Kalau akan memegang hulu
Pandai mamaliharo puntiang jo mato.

4. Murah dan Mahal pado Laku dan Perangai yang Berpatutan
Seorang penghulu pandai bertindak pada saat dan waktunya, melihat kepada tempat dan keadaan, pandai menyesuaikan diri pada setiap tingkatan masyarakat, tidak merasa rendah diri pada pergaulan, hormat kepada orang tua, kasih pada anak-anak. Ia bisa berkelakar sewaktu-waktu dengan anak kemenakan dan masyarakat, mempunyai sifat terbuka dalam segala tindakan kepemimpinannya.

Ia selalu mentaati setiap keputusan yang telah diambil, sangat hati-hati dalam membikin dan mengucapkan janji pada seorang, rajin mengontrol anak kemenakan dalam segala bidang kehidupannya, mempunyai sifat yang tegas dan bijaksana dalam segala hal.

Malabiahi ancak-ancak
Mangurangi sio-sio
Bayang-bayang sapanjang badan
Man-jangkau sapanjang tangan

bajalan surang tak dahulu
Bajalan ba-duo tak ditangah
Hermat cermat dio selalu
Martabat nan anam tidaklah lengah.

5. Hermat dan Cermat Mangana Awa dan Akia
Selalu mengenal sebab dan akibat, dan mempertimbangkan mudharat dan manfaat dalam pekerjaan dan putusan yang akan dibuat. Mempunyai ketelitian yang sunguh-sunguh dalam perbuatan dan tindakan. Memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam masyarakat.

Indak mengelokan galah di kaki
Indak malabiahi lantai bake bapijak
Dek sio-sio nagari alah
Dek cilako hutang tumbuah

Mangana awa dengan akia
Mangana manfaat jo mudharat
Dalam awa akia membayang
Dalam kulik mambayang isi

cawek nan dari mandiangin
Dibao nak urang ka biaro
Takilek rupo dalam camin
inyo dibaliak itu pulo

6. Sabar dan Ridha Mamakai Sidik jo Tabalieh
Seorang penghulu selalu bersifat sabar dan lapang hati, tidak pemarah dan angkuh, pemaaf dalam segala ketelanjuran anak kemenakan dan masyarakat, mempunyai ketenangan dalam menghadapi segala hal.
Ia selalu memegang kebenaran, dan juga tetap mempertahankan kebenaran dan keadilan, bisa meyakinkan orang lain dan masyarakatnya dengan sesuatu yang dianggapnya benar dan baik. Dan dia pun sanggup melaksanakan apa yang dikatakannya baik dan benar itu.

Ia sabar dalam menghadapi segala sesuatu dalam masyarakat, baik kesulitan maupun bahaya yang menimpanya dan anak-kemenakannya. Dan ia senantiasa memusyawarahkan segala sesuatu yang akan diambil tindakan dan apa yang akan dilaksanakan dengan anak-kemenakannya.

Indak bataratak bakato asiang
Bukan mahariak mahantam tanah
Pandai batenggang di nan rumik
Dapek bakisa di nan sampik

Alah bakarih samparono
Bingkisan rajo Majopahik
Tuah basabab ba karano
Pandai batenggang di nan rumik.

Kalau martabat yang enam macam ini telah dapat dihayati oleh seorang penghulu dengan sebaik-baiknya, maka penghulu tersebut akan bisa menjadi penghulu yang benar-benar "gadang basa nan batuah" yang dikehendaki oleh adat Minangkabau dan yang diharapkan oleh anak-kemenakan dan masyarakat yang membesarkannya, dan akan bertemulah kehendak pepatah adat :

Kamanakan manyambah lahia
Mamak manyambah batin

Dengan mengamalkan secara sunguh-sunguh martabat seorang penghulu yang enam macam itu, terjauhilah seorang penghulu dari sifat-sifat yang sangat dibenci oleh ajaran adat, begitupun oleh pencipta adat Minangkabau, yakni ninik Dt. Parpatiah nan Sabatang dan Dt. Katumangguangan.

Nak cincin galang lah buliah
Nak ulam pucuak manjulai
Nak aia pincuran tabik
Sumua dikali aia datang
Dek licin kilek lah tibo
Dek kilek cayo lah datang
Ka jadi sasi bungo jo daun
Adat bajalan sandirinyo

Bumi sangang padi manjadi
Padi kuniang jaguang maupiah
Taranak bakambang biak
Anak buah sanang santoso

Sumber : Buletin Sungai Puar 16 Agustus 1986
andreandhika - 04/11/2009 05:22 PM
#50

Tugas Penghulu Bag.1

Spoiler for Isi

Seorang penghulu yang telah dipilih oleh anak kemenakannya adalah pemimpin dari anak kemenakan tersebut, yang diibaratkan :

Hari paneh tampek balinduang
Hari hujan bakeh bataduah
Kusuik nan ka manyalasaikan
Kok karuah nan ka mampajaniah
Hilang nan ka mancari
Tabanam nan ka manyalami
Tarapuang nan ka mangaik
Hanyuik nan ka mamintehi
Panjang nan ka mangarek
Singkek nan ka mauleh
Senteng nan ka mambilai

dalam segala hal.


Maka perlu sesorang penghulu melaksanakan tugas kepenghuluannya (kepemimpinannya) dengan penuh kesadaran, dan kejujuran dan penuh tanggung jawab.

Tugas seorang penghulu mencakup segala bidang, seperti ekonomi anak kemenakan, pendidikannya, kesehatannya, perumahannya, keamanannya, agamanya serta menyelesaikan dengan sebaik-baiknya kapan terjadi perselisihan dalam lingkungan anak kemenakan dan masyarakat nagari.

Tugas-tugas tersebut diatas adalah suatu karya penghulu dalam memberikan bantuan dan partisipasi terhadap lancarnya jalan pembangunan dan lancarnya roda pemerintahan di nagari. Kalau tugas dalam lingkungan anak kemenakannya ini telah dilaksanakan sebagaimana mestinya menurut hukum adat Minangkabau, adalah merupakan bantuan yang tidak kecil artinya terhadap pembangunan dan pemerintahan di daerah kita, yang pokoknya merupakan tugas pula bagi ninik mamak penghulu di nagari-nagari. Maka di dalam adat Minagkabau ada empat macam tugas pokok bagi seorang penghulu :

I. Manuruk alua nan Luruih
Artinya seseorang penghulu harus melaksanakan segala tugas kepenghuluannya menurut ketentuan-ketentuan Adat lamo pusako usang, yakni meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, yang dilandaskan kepada 4 macam ketentuan :
a. Melaksanakan (menurut) kato pusako
b. Melaksanakan kato mufakat
c. Kato dahulu batapati
d. Kato kamudian kato bacari.

Empat macam ketentuan adat adalah alur pusako yang dijadikan titik tempat bertolak dalam segala persoalan di dalam Adat Minangkabau. Umpamanya :

Mahukum adia
Bakato bana
Naiak dari janjang
Turun dari tanggo

Kato pusako ini mempunyai pengertian yang dalam dan mempunyai ruang lingkup yang luas sekali dalam hidup dan kehidupan manusia di Minangkabau. Apakah pemimpin anak , kemenakan, korong kampuang, nagari, menyelesaikan persengketaan, melaksanakan suatu pekerjaan dan lain-lain, yang berhubungan dengan orang banyak, hendaklah menurut ketentuan adat itu sendiri. Kalau tidak, akan membawa akibat dan hasil yang tidak memuaskan, setidak-tidaknya mendatangkan rintangan dan halangan dan melambatkan proses suatu pekerjaan yang seharusnya kita capai dengan segera, seperti kata adat tentang kato pusako :

Mamahek manuju barih
Tantang bana lubang katambuak
Malantiang manuju tangkai
Tantang bana buah karareh
Manabang manuju pangka
Tantang bana rueh ka rabah
Tantang sakik lakeh ubek
Tantang ukua mako di Karek
Tantang barih makanan pahek

Artinya berusahalah sejauh mungkin meletakkan sesuatu pada tempatnya, berbuat dan bertindak tepat lurus dan benar menurut semestinya, atau dalam perkataan lain :

Naik dari janjang
Turun dari tanggo

II. Manampuah Jalan nan Pasa
Yang disebut di dalam adat :

Jalan pasa nan ka tampuah
Labuah goloang nan ka turuik
Jangan manyimpang kiri jo kanan
Condoang jangan kamari rabah
Luruih manatang dari adat

Yakni kebenaran. Seharusnya seorang yang telah jadi penghulu melaksanakan ketentuan yang telah berlaku baik cara berumah tangga, berkorong berkampuang, bernagari, jangan diubah dan dilanggar.
Jalan menurut adat ialah dua macam pula :

a. jalan dunia, yakni :
baadat,
balimbago,
bacupak,
bagantang

b. jalan akhirat, yakni :
beriman kepada Allah
beragama islam
bertauhid
beramal

Baadat :
Dalam hal ini adalah melaksanakan dengan sesungguhnya dengan penuh kesadaran yang mencerminkan jiwa dan tujuan adat itu dalam setiap gerak dan perilaku seorang penghulu (pemimpin). Seorang yang beradat di Minangkabau harus sanggup merasakan ke dalam dirinya apa yang dirasakan oleh orang lain, sehingga menjadilah seorang yang beradat, apakah dia pemimpin atau rakyat, orang yang berbudi luhur dan mulia. Karena hal ini syarat mutlak dalam mencapai kebahagiaan lahir bathin, duniawi dan ukhrawi.

Balimbago :
Arti lembaga adalah suatu gambaran yang dimakan akal yang merupakan himpunan dari segala unsur penting dalam masyarakat (organisasi).
Rumah tangga adalah suatu lembaga, pemerintahan adalah suatu lembaga, maka seorang penghulu tidak dapat melepaskan diri dari lembaga-lembaga tersebut.

Penghulu adalah sebagai kepala adat dalam kaumnya, sebagai pemimpin dan sebagai anggota kaum. Juga dia sebagai bapak dari anak, anggota dari kerapatan adat-nagari, mamak dari kemenakan. Kalau seorang penghulu telah melalaikan tugasnya sebagai seorang penghulu, maka disebut penghulu yang tidak belimbago.

Bacupak :
Cupak adalah suatu ukuran di Minangkabau yang tidak lebih di kurangi, dan tidak boleh diubah. Kalau dalam adat, cupak yang paling utama diketahui dan dipakai oleh seorang penghulu ialah cupak usali, yakni bagaimana prosedurnya seorang penghulu menyelesaikan suatu sengketa anak kemenakan, sehingga dapat mencapai hasil penyelesaian yang sebaik-baiknya dan seadil-adilnya menurut kemampuan manusia yang diukur dengan cupak tersebut. Maka seorang penghulu harus mempunyai dan keakhlian dalam menyelesaikan suatu sengketa anak kemenakan, dengan cara tidak boleh dilebihi dan dikurangi atau berat sebelah (tidak adil).

Bagantang :
Disebut dalam adat gantang nan kurang duo limo puluah (empat puluh delapan). Sebenarnya maksud dari ketentuan adat ini ialah seorang pemimpin harus melaksanakan ukuran yang diturunkan oleh Allah swt melalui Rasul-Nya, mengetahui tentang sifat-sifat Tuhan itu sendiri, yakni Aqaid yang lima puluh, yaitu 20 sifat yang wajib pada Allah, 20 sifat yang mustahil pada Allah, dan 4 sifat yang wajib pada Rasul, dan 4 sifat yang mustahil pada Rasul, jumlah seluruhnya 48. Yang dua macam lagi tidak disebutkan dalam adat, karena dua macam teruntuk bagi kehendak Allah dan Rasul yakni, satu yang harus pada Allah dan satu yang harus pada Rasul.

Jalan akhirat :
Yakni iman, Islam, tauhid dan makrifat.
Seorang Penghulu perlu menjadi seorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, yang benar-benar melaksanakan syari'at Islam yang telah diwajibkan dan sekaligus mengesakan Tuhan, dan beramal saleh. Karena penghulu adalah partner dari alim ulama yang melaksanakan maksud pepatah :

Syarak mangato
Adat mamakai

kepada anak kemanakan dipimpinnya.
andreandhika - 04/11/2009 05:23 PM
#51

Tugas Penghulu Bag.2

Spoiler for Isi

III. Mamaliharo Harato Pusako
Mempunyai tangan harato pusako, Seorang penghulu mempunyai kewajiban memelihara harta pusaka kaumnya dan anak kemenakannya, yang disebutkan dalam ketentuan adat :

Kalau sumbiang dititik
Patah ditimpa
Hilang dicari
Tabanam disalami
Anyuik dipinteh
Talamun dikakeh
Kurang ditukuak
Rusak dibaiki

Artinya seorang penghulu harus berusaha memelihara harta pusaka anak kemenakan, jangan sampai terjual atau berpindah kepada orang lain. Begitupun tergadai yang tidak menurut syarat yang telah dibolehkan oleh adat Minangkabau, seperti untuk kepentingan pribadi, untuk kepentingan anak dan isteri.

Boleh juga digadaikan hanya kalau telah ditemui salah satu syarat menurut adat, seperti gadih gadang tak balaki, maik tabujua tangah rumah, rumah gadang katirisan, adat tak badiri. Syarat tersebut harus terjadi dengan sesungguhnya, dan tidak ada jalan lain untuk mengatasinya selain dari menggadaikan harta pusaka tersebut. Pendeknya seorang penghulu harus berusaha jangan sampai harta pusaka anak kemenakan dan kaum, tergadai tidak menurut semestinya, menurut kehendaknya sendiri-sendiri dan berusaha mencarikan jalan keluar untuk mengatasinya, dengan mengamalkan maksud pepatah :

Barek samo di pikiua
Ringan samo dijinjiang.

dengan jalan bantu membantu dalam kaum tersebut. Seorang penghulu harus berusaha untuk menambah harta pusaka anak-kemenakan dengan jalan manaruko sawah yang baru atau ladang, atau setidak-tidaknya berusaha meningkatkan hasil yang telah ada pada masa tersebut. Harta pusaka yang merupakan ulayat bagi seorang penghulu adalah daerah teritorial kekuasaan seorang penghulu. Disanalah berkembang anak kemenakan hidup dan berkehidupan, berumah dan bertetangga, bersawah dan berladang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Dengan hasil sawah ladang tersebut ia dapat mendidik anak kemenakan, membangun sekolah dan mesjid, membangun rumah dsb.

Kalau ulayat yang tempat bersawah dan berladang, ini telah terjual atau tergadai oleh seorang penghulu, maka habislah daerah kekuasaannya, hilanglah sumber ekonomi anak kemenakannya.
Dalam adat dikatakan :

Suku baranjak
Bangso pupuih
Manah hilang

Suku dari seseorang penghulu akan hilang dan habis dengan berpindahnya hak milik dari ulayat tersebut, dan lama-lama bangsa dari seorang penghulu akan lenyap dan habis, tanah tempat mencari sumber penghidupanpun hancur, tidak ada tempat bagi keturunan di masa datang.
Pepatah mengatakan :

Sawah ladang banda buatan
Sawah batumpak di nan data
Ladang babidang di nan lereng
Banda baliku turuik bukik
Cancang latiah niniak moyang
Tambilang basi rang tuo-tuo
Usah tajua tagadaikan
Kalau sumbiang batitik
Patah batimpa hilang bacari
Tarapuang bakaik tabanam basalami
Kurang ditukuak ketek di pagadang
Senteng dibilai singkek diuleh.

IV. Mamaliharo Anak Kamanakan
Tugas penghulu yang keempat ini adalah tugas yang berat, tetapi murni dan suci. Seorang penghulu yang baik dan bijaksana dapat memberikan arahan kepada anak kemenakan didalam segala lapangan kehidupan. Tugas memelihara anak kemenakan tergantung kepada berjalannya tugas yang tiga macam sebelumnya secara baik. Tanpa dapat menjalankan tugas tersebut, seseorang tidak akan berhasil dalam memimpin anak kemenakan dan kaum, yakni :

Manuruik alua nan luruih
Manampuah jalan nan pasa

dan memelihara harta pusaka sebagai sumber penghidupan dari anak kemenakan tersebut, seperti kata pepatah :

Anak dipangku kamanakan dibimbiang
urang kampuang di patenggangkan
Tenggang nagari jan binaso
Tenggang sarato jo adatnyo

Dari pepatah adat diatas kita dapat mengerti bahwa seorang penghulu disamping membimbing/memimpin kemenakannya dia harus bertanggung jawab memimpin anaknya. Dalam diri seorang Minangkabau melekat lima macam tugas dalam dirinya. Dia adalah sebagai pemimpin dari anaknya, pemimpin dari kemenakannya, dan pemimpin dari korong kampuangnya juga pemimpin didalam masyarakat nagarinya (kerapatan adat nagari) .

Bila seorang penghulu benar-benar menjalankan tugas kepenghuluannya secara baik menurut adat, tugas-tugas tersebut diatas akan dapat dijalankan sekaligus, sesuai dengan pepatah diatas.

Bukan hanya penghulu tahu kepada anak kemenakannya semata, tetapi juga dia tahu kepada korong kampuang dan nagarinya, serta keluarga di rumah tangga isterinya, dengan memimpin dan membimbingnya.Tentu saja dengan cara pimpinan yang berbeda, dengan memimpin anak dan kemenakannya sendiri.

Kesimpulan :
Tugas pokok penghulu di dalam nagari sapat disimpulkan dalam papatah :

Manuruik alua nan luruih
Manampuah jalan nan pasa
Alua luruih barih tarantang
Jalan pasa labuahnyo golong
Indak manyimpang kiri jo kanan
Luruih manantang barih adat
Hanyuik bapinteh
Hilang bacari
Tarapuang bakaik
Tabanam basalami
Tingga dijapuik
tapacik dikampuangkan
Jauah diulangi

Kalau kusuik disalasai
Kalau karuah di janiahi
Kusuik bulu paruah manyalasaikan
Kusuik banang cari ujuang jo pangka
Kusuik sarang tampuo api mahabisi

Disuruah babuek baiak
Dilarang babuek mungka
Kasudahan adat di balairung
Kasudahan dunia ka akhirat

Sumber : Buletin Sungai Puar 14 April 1986
andreandhika - 04/11/2009 05:28 PM
#52

Kewajiban Penghulu

Spoiler for Isi

Pimpinan seorang penghulu bukanlah dimaksudkan sekedar mengepalai, tetapi mencakup bidang lahir dan batin, mental dan spiritual, seperti :
1. Ekonomi sawah ladangnya
2. Pendidikannya
3. Kesehatannya
4. Keagamaannya
5. Pergaulannya
6. Tingkah lakunya/adatnya
7. kewajiban terhadap pemerintah sebagai warga negara, kewajiban terhadap nagari dan kampung halamannya.

Kewajiban Penghulu antara lain :

a. Seorang penghulu di dalam kaum anak kemenakannya dapat mengetahui dengan pasti berapa jumlah anak kemenakan laki-laki dan perempuan, yang telah berpendidikan dan yang belum. Apakah penghasilan anak kemenakan cukup untuk kebutuhan hidupnya dari tahun ke tahun.

b. Adakah anak kemenakan membayarkan kewajiban terhadap agama dan adatnya, membayarkan kewajiban terhadap rumah tangga, korong kampuang dan nagarinya. Berapa banyak anak kemenakan yang tidak mempunyai mata pencarian, dan sebab apa yang menyebabkan kurangnya mata pencarian.

c. Seorang penghulu mencari jalan keluar dari kesukaran-kesukaran yang dialami oleh anak kemenakan. Ia harus membuat suatu perencanaan secara menyeluruh untuk kepentingan anak kemenakan, baik tentang ekonomi, dan pendidikannya maupun hal yang lain yang dianggap penting untuk anak kemenakan secara keseluruhan.

d. Untuk itu perlu seorang penghulu mempunyai kemampuan dan keahlian untuk menghimpun anak kemenakandan memberikan pengarahan dan penjelasan kepada mereka tentang segala persoalan yang berhubungan dengan keselamatan mereka lahir bathin. Ia harus memberikan penjelasan tentang program pemerintah dan tugas kewajiban anak kemenakan terhadap program pemerintah tersebut sehingga dengan demikian penghulu-penghulu merupakan pembantu utama dalam lancarnya jalan pemerintahan di nagari.

e. Seorang penghulu didalam kaumnya berkewajiban menjalankan tugas menyuruh anak kemenakan membuat kebajikan, dan menjauhi segala larangan agama, begitupun adat dan undang-undang pemerintahan. Seorang penghulu hasrus sanggup mewujudkan tujuan pepatah :

syarak mangato adat memakai.

Ia membantu tugas alim ulama dalam terlaksananya pengamalan ajaran di tengah kaum dan keluarga serta masyarakat banyak

f. Seorang penghulu harus sanggup mengembangkan adat nan kawi di Minangkabau kepada anak kemenakannya, seperti ajaran yang apa yang dikandung oleh adat Minangkbau, dan apa tujuan dari adat itu, dan apa pula akibatnya kalau adat itu tidak dita'ati oleh masyarakat, anak, kemenakannya, sehingga akhirnya anak kemenakan dapat menerima warisan adat tersebut untuk diteruskannya kepada generasi selanjutnya.

g. Seorang penghulu harus sanggup menyelesaikan setiap sengketa yang timbul di dalam kaum anak kemenakannya, tanpa menyerahkan kepada orang ketiga. Diapun harus sanggup mengatasi kesulitan yang timbul diatas rumah tangga dan korong kampungnya.

h. Untuk kepentingan kemajuan anak kemenakan dan korong kampungnya, penghulu-penghulu harus mengadakan sidang (rapat) dengan penghulu lain yang bersangkutan, sehingga dapat dipecahkan bersama-sama persoalan apa yang timbul dan terjadi, dan jalan apa yang harus ditempuh, begitupun mengenai sengketa-sengketa yang terjadi dalam masyarakat.

i. Seorang penghulu berkewajiban memikirkan dan memecahkan persoalan pembangunan nagari, kampung halaman dan rumah tangganya, dan mendorong anak kemenakan untuk melaksanakan barek sapikua ringan sajenjeng dalam melaksanakan pembangunan tersebut, seperti sekolah, kantor, mesjid, surau, rumah, irigasi, jalan raya, kebersihan nagari dan kampung.

j. Seorang penghulu tidak dapat melepaskan diri terhadap sesuatu yang terjadi dalam masyarakat kampung dan nagarinya, seperti mempunyai sifat acuh tak acuh dalam suatu kejadian, baik atau buruk. Dia harus menjadi pemimpin yang tulus dan ikhlas dalam membantu setiap kegiatan pemerintahan di nagari sesuai dengan kata pepatah adat tentang kewajiban penghulu-penghulu di dalam adat sebagai berikut :

Penghulu lantai nagari
Malantai anak kemenakan
Malantai rumah jo tanggo
Malantai korong jo kampuang
Malantai balai jo musajik
Malantai sawah jo ladang
Malantai labuah jo tapian
Kalau malantai sabalun lapuak
Kalau maminteh sabalun hanyuik
Hari sahari diparampek
Malam samalam dipatigo
Malam bahabih hari
Malam bahabih minyak
Agak agiahkan jo ilmu
Mamikia anak kamanakan

Sumber : Buletin Sungai Puar 14 April 1986
andreandhika - 04/11/2009 05:32 PM
#53

Larangan Dan Pantangan Seorang Penghulu

Spoiler for Isi

Larangan dan pantangan bagi seorang penghulu di dalam adat Minangkabau dapat dibagi dalam dua garis besar, yaitu :

1. Mengerjakan setiap pekerjaan yang maksiat/mungkar dalam pandangan Agama dan Adat.

2. Perbuatan yang menjatuhkan harkat martabat penghulu yang disimpulkan dalam kaedah itu sendiri, seperti : Hilia malonjak, mudiak mangacau Kiri-kanan mamacah parang Mangusuik alam nan salasai Mangaruah aia nan janiah Bapaham bak kambiang dek ulek Karano miskin pado budi Barundiang bak sarasah tajun Karano takabua dalam hati Marubahi lahia jo batin Maninggalkan siddiq jo tabalia Mamakai cabuah sio-sio Kato nan lalu lalang sajo Bak caro mambaka buluah Rundiang bak marandang kacang Sabab lidah tak batulang Menurut pandangan syarak (Islam), pekerjaaan yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya Muhammad saw ialah kafir, maksiak, takabur, pemarah, pendusta, penipu, pencuri, pemabuk, penjudi, munafiq, meninggalkan mengerjakan rukun islam yang lima. Larangan dan pantangan menurut pandangan adat ialah apa yang dilarang oleh Agama Islam, juga dilarang oleh Adat Minangkabau. Demikian juga mengerjakan pekerjaan yang tidak menurut alur dan patut bagi seorang pemimpin atau penghulu, seperti memecah belah orang bekeluarga, menimbulkan huru-hara, pemalas, pemungkir janji, dan mengerjakan pekerjaan sumbang menurut pandangan adat, baik dalam berpakaian, maupun dalam perkataan dan tingkah laku dalam pergaulan.

Penghulu adalah ibarat :
1. Kayu gadang di tangah padang Nan baurek limbago matan Mahukum tak adia, bakato tak bana Kuniang dek kunyik, lamak dek santan Bak umpamo mambalah batuang marangkuah gadang ka diri Tunjuak luruih kalinkiang bakaik Hati busuak pikiran hariang Indak mangana mudharat jo mufaat Maninggakan sidiq jo tabalia Mamakai cabuah sio-sio Nan babana ka ampu kaki Na bautak ka pangka langan Mahariak mahantam tanah Bataratak bakato asiang Lain di muluik lain di hati Indak malatakkan suatu di tampeknyo Marubah kato pusako Bungkuak sarueh tak takadang Marubah kato mufakat Salalu mungkia pado janji Indak dari janjanga tampek naiak Indak dari tanggo inyo turun Indak mambedokan halal jo haram Hati tak patuah pado Allah Maninggakan sifat rang pamimpin Parentah Rasul tak dituruik Undang balukih tak bapakai Limbago nan indak batuangi Mamakai sifat dangki jo kianat Tak mangamalkan rukun nan limo Indak mangamalkan Rukun Iman nan anam.

2. Tak tahu di larangan jo pantangan Meninggalkan mungkin jo patuik Tak mamakai barih jo balabeh Lupo di korong dengan kampuang Lupo di anak kamanakan alua tak baturuik adat tak bapakai Nan caro kabau jalang Hiduang kareh pambulang tali Cilako kudo bapacu Arang kareh lari manyimpang Labuah sampik kudo panyipak Kapalo tunduak talingo tagak Manyalahi buatan nan takarang Kato kamudian bacari-cari Duduak bakisa tagak bapaliang Indak namuah tagak bamulah Manyalahi kato nan bana Babana di bana surang Ilimu nan kurang pado dado Iman takilik dalam hati

3. Marusak harato pusako Gilo manjua jo manggadai Sagan bajariah bausaho Badompek di sakuih urang Bapuro di sawah jo ladang Indak nan lain nan takana Saliang mahabih mangamasi Harato kamanakan Malakak kuciang di dapua Manahan jarek di pintu Mancari dama ka bawah rumah Karuah aia makonyo makan Suko manangguak di aia karuah

4. Anak kamanakan tak nan tahu Apo layi di cucu piyuik Korong kampuang tak tatampuah Sidang nagari tak batamui Tinggi lonjak gadang kalapua Manaruah sifat nan takabua Indak batunjuak ba-ajari Anak cucu kamanakan Rumah tanggo tak bajalang Mati ayam mati tungau Indak tajalang-jalang layi Elok bacaro bakarabang talua ayam Sudah tacampak ka halaman Indak babaliak naiak layi

5. Tak tahu di korong jo kampuang Alua tak baturuik jalan tak batampuah Tolong manolong tak dipakai Tidak mamakai sudi jo siasek Di dalam kampuang jo halaman Alek jamu tak baturuik Mati nan indak bajirambok Barek indak sapikua ringan indak sajinjiang Karajo basamo tak sato Kusuik manyalasai pun tak sato Indak tahu di urang kampuang Sawah ladang sarato banda Sagalo karajo tak berturuik Nan babatang sandi andiko Nan badahan cupak jo gantang Nan barantiang barih balabeh Nan badaun rimbun dek adat Nan babungo munkin jo patuik Nan babuah kato nan bana Inggiran silang jo salisiah Tinggi tampak jauah Dakek jolong basuo Tampek maniru manuladan Iyo dek urang di nagari Setiap perbuatan seseorang penghulu, tingkah laku dan perangainya, akan dilihat dari jauh dan dekat oleh anak kemenakan, dan akan disorot secara tajam oleh orang banyak. Karena penghulu adalah ikutan dalam masyarakat, dia harus memperlihatkan contoh yang baik dalam setiap tindakan, perkataan, dia harus terlebih dahulu mengamankan perbuatan-perbuatan yang disuruh oleh agama dan adat. Begitupun meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh agama dan adat.

Kaedah adat mengatakan :

Kalau kulit manganduang aia Lapuak nan sampai kapanguban Rusak tareh nan di dalam Kalau penghulu bapaham caia Jadi sampik alam nan leba Lahia jo bathin dunia tanggalam Jangan tungkek mambao rabah Usah piawang mamacah timbo Jangan paga mamakan tinaman Dibao ribuaik dibao angin Dibaok pikek dibao langao Mului jo hati ka balain Pantangan adat Minangkabau Begitupun setiap pekerjaan dan tindakan yang berlawanan dengan empat macam tugas penghulu yang kita sebutkan diatas , Manuruik alua nan luruih Manampuah jalan nan pasa Mamaliharo anak kamanakan Mamaliharo harato pusako

Maka sangat dilarang di dalam adat bagi seorang penghulu :
Elok buruak tak diketahui Nan tumbuah di korong kampuang Nan babana di bana surang Nan di urang bukan kasamonyo

6. Karajo nagari tak diurus Rapek diundang tak nan datang Gilo manulang tiok saat Tak tahu nan tajadi di nagari Baiak adat maupun undang Indak ditampuah tampek nan rami Apo layi ka surau jo musajik Barek nan indak sapikulan Ringan nan inadak sajinjingan Jo niniak mamak nan lain di nagari Sudi siasek tak dipakai Rapek adat tak baturuik Rapek pamenrintah pun baitu Karajo basamo tak nan datang Nan babana di bana surang Di urang nan ukan kasamonyo Manjadi antimun bungkuak Masuak ganok kalua tak ganjia Masuak tak Angek kalua tak dingin

Sumber : Buletin Sungai Puar 15 JUNI 1986
Brigade Mobile - 04/11/2009 05:46 PM
#54

mantap TS beer:
andreandhika - 04/11/2009 06:32 PM
#55

Quote:
Original Posted By Brigade Mobile
mantap TS beer:


mokasih da cat, kok lai ado info nan bisa da cat tambahkan, posting se disiko yo da cat \)
shakehand

beer:
andreandhika - 04/11/2009 06:52 PM
#56

Ukua Jangko dalam Adat Minangkabau

Spoiler for Isi

Yang dimaksud Ukua Jangko dalam Adat Minangkabau adalah ketentuan-ketentuan yang menjadi ukuran (ukua) dan hinggaan (jangko) yang harus diamalkan oleh setiap individu di Minangkabau. Ketentuan-ketentuan tersebut adalah:

1. Nak luruih rantangkan tali (supaya lurus rentangkan tali)
Supayo jan manyimpang luruih manantang barih adat. Mahukum adia bakato bana, mamaek tantang barih, mangarek tantang ukua. Maksudnya dalam menjalani kehidupan harus sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

2. Nak tinggi naikkan budi (supaya tinggi naikkan budi)

Mancari jalan kabanaran supayao jan kalangkahan, tagak jan tasundak, malenggang indak tapampeh, batutua lunak lambuik, lamak bak santan jo tangguli, suatu karajo nak lalu salasai sajo. Maksudnya bergaul dengan baik sesama manusia, yang tua dihormati, yang kecil dikasihi sama besar saling menyegani, menjunjung tinggi budi pekerti.



3. Nak haluih baso jo basi (supaya halus berbasa basi)

Jan barundiang basikasek, jan bakato basikasa, jan bataratak bakato siang, mahariak mahantam tanah, jan babana ka pangka langan, usah bautak ka ampu kaki. Pandai maagak maagiahkan, budi baik baso katuju, muluk manih kucindan murah. Maksudnya hindari perkataan kasar dan menyakitkan berkatalah dengan sopan dan santun penuh dengan keramahtamahan.



4. Nak elok lapangkan hati (supaya baik lapangkan hati)

Nak dapek suluah nan tarang pakaikan saba jo ridha. Maksudnya kebaikan dalam hidup bersumber dari kebaikan dalam hati.



5. Nak taguah paham dikunci (supaya teguh paham dikunci)

Jan taruah bak katidiang, jan baserak bak anjalai, kok ado rundiang banan batin, patuik baduo jan batigo, nak jan lahia didanga urang. Maksudnya teguh pendirian, selalu menyimpan rahasia yang patut dirahasiakan, bertindak dan berbuat penuh perhitungan dan kebijaksanaan.



6. Nak mulie tapati janji (supaya mulia tepati janji)

Kato nan bana ka dipacik, walau bak mano sangkuik pauik, asa indak mahambek bana, namun janji batapati juo. Kalau ingin menjadi mulia dan dimuliakan orang, selalulah untuk menepati janji yang telah diucapkan.



7. Nak labo bueklah rugi (ingin mendapat keuntungan ada yang dikorbankan)

Namuah bapokok babalanjo, namuah bajariah bausaho, marugi dahulu, pokok banyak labo saketek, dek ujuik yakin, lamo lambek tacapai juo. Maksudnya adalah untuk mendapat keuntungan yang diinginkan harus ada yang dikorbankan atau diinvestasikn terlebih dahulu.



8. Nak kayo kuat mencari (supaya kaya kuat berusaha)

Asa lai angok-angok ikan, asa lai jiwo-jiwo patuan , nan tidak dicari juo. Maksudnya adalah untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan harus berusaha dengan gigih.

Itulah ketentuan-ketentuan adat yang harus diamalkan dalam menjalankan kehidupan di Minangkabau untuk mencapai kualitas hidup yang baik.

Sumber : http://rinyyunita.wordpress.com/2008/05/12/ukua-jangko-dalam-adat-minangkabau/#comment-75*
andreandhika - 04/11/2009 07:33 PM
#57

Nilai-nilai Dasar Adat Minangkabau

Spoiler for Isi

Sebuah nilai adalah sebuah konsepsi , eksplisit atau implisit yang menjadi milik khusus seorang atau ciri khusus suatu kesatuan sosial (masyarakat) menyangkut sesuatu yang diingini bersama (karena berharga) yang mempengaruhi pemilihan sebagai cara, alat dan tujuan sebuah tindakan.

Nilai nilai dasar yang universal adalah masalah hidup yang menentukan orientasi nilai budaya suatu masyarakat, yang terdiri dari hakekat hidup, hakekat kerja, hakekat kehidupan manusia dalam ruang waktu, hakekat hubungan manusia dengan alam, dan hakekat hubungan manusia dengan manusia.

1. Pandangan Terhadap Hidup
Tujuan hidup bagi orang Minangkabau adalah untuk berbuat jasa. Kata pusaka orang Minangkabau mengatakan bahwa "hiduik bajaso, mati bapusako". Jadi orang Minangkabau memberikan arti dan harga yang tinggi terhadap hidup. Untuk analogi terhadap alam, maka pribahasa yang dikemukakan adalah :

Gajah mati maninggakan gadieng
Harimau mati maninggakan balang
Manusia mati maninggakan namo

Dengan pengertian, bahwa orang Minangkabau itu hidupnya jangan seperti hidup hewan yang tidak memikirkan generasi selanjutnya, dengan segala yang akan ditinggalkan setelah mati. Karena itu orang Minangkabau bekerja keras untuk dapat meninggalkan, mempusakakan sesuatu bagi anak kemenakan dan masyarakatnya. Mempusakakan bukan maksudnya hanya dibidang materi saja, tetapi juga nilai-nilai adatnya. Oleh karena itu semasa hidup bukan hanya kuat mencari materi tetapi juga kuat menunjuk mengajari anak kemenakan sesuai dengan norma-norma adat yang berlaku. Ungkapan adat juga mengatakan "Pulai batingkek naiek maninggakan rueh jo buku, manusia batingkek turun maninggakan namo jo pusako".

Dengan adanya kekayaan segala sesuatu dapat dilaksanakan, sehingga tidak mendatangkan rasa malu bagi dirinya ataupun keluarganya. Banyaknya seremonial adat seperti perkawinan dan lain-lain membutuhkan biaya. Dari itu usaha yang sungguh-sungguh dan kerja keras sangat diutamakan orang Minangkabau.

Nilai hidup yang baik dan tinggi telah menjadi pendorong bagi orang Minangkabau untuk selalu berusaha, berprestasi, dinamis dan kreatif.

2. Pandangan Terhadap Kerja
Sejalan dengan makna hidup bagi orang Minangkabau, yaitu berjasa kepada kerabat dan masyarakatnya, kerja merupakan kegiatan yang sangat dihargai. Kerja merupakan keharusan. Kerjalah yang dapat membuat orang sanggup meninggalkan pusaka bagi anak kemenakannya. Dengan hasil kerja dapat dihindarkan "Hilang rano dek panyakik, hilang bangso indak barameh"(hilang warna karena penyakit, hilang bangsa karena tidak beremas). Artinya harga diri seseorang akan hilang karena miskin, oleh sebab itu bekerja keras salah satu cara untuk menghindarkannya.

Dengan adanya kekayaan segala sesuatu dapat dilaksanakan sehingga tidak mendatangkan rasa malu bagi dirinya atau keluarganya. Banyaknya seremonial adat itu seperti perkawinan membutuhkan biaya. Dari itu usaha yang sungguh-sungguh dan kerja keras sangat diutamakan. Orang Minangkabau disuruh untuk bekerja keras, sebagaimana yang diungkapkan juga oleh fatwa adat sbb:

Kayu hutan bukan andaleh
Elok dibuek ka lamari
Tahan hujan barani bapaneh
Baitu urang mancari rasaki

Bahasa Indonesianya :

Kayu hutan bukan andalas
Elok dibuat untuk lemari
Tahan hujan berani berpanas
Begitu orang mencari rezeki

Dari etos kerja ini, anak-anak muda yang punya tanggungjawab di kampung disuruh merantau. Mereka pergi merantau untuk mencari apa-apa yang mungkin dapat disumbangkan kepada kerabat dikampung, baik materi maupun ilmu. Misi budaya ini telah menyebabkan orang Minangkabau terkenal dirantau sebagai makhluk ekonomi ulet.

Etos kerja keras yang sudah merupakan nilai dasar bagi orang Minangkabau ditingkatkan lagi oleh pandangan ajaran Islam yang mengatakan orang harus bekerja keras seakan-akan dia hidup untuk selama-lamanya, dia harus beramal terus seakan-akan dia akan mati besok.

3. Pandangan Terhadap Waktu
Bagi orang Minangkabau waktu berharga merupakan pandangan hidup orang Minangkabau. Orang Minangkabau harus memikirkan masa depannya dan apa yang akan ditinggalkannya sesudah mati. Mereka dinasehatkan untuk selalu menggunakan waktu untuk maksud yang bermakna, sebagaimana dikatakan "Duduak marauik ranjau, tagak maninjau jarah".

Dimensi waktu, masa lalu, masa sekarang, dan yang akan datang merupakan ruang waktu yang harus menjadi perhatian bagi orang Minangkabau. Maliek contoh ka nan sudah. Bila masa lalu tidak menggembirakan dia akan berusaha untuk memperbaikinya. Duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarak merupakan manifestasi untuk mengisi waktu dengan sebaik-baiknya pada masa sekarang.

Membangkit batang terandam merupakan refleksi dari masa lalu sebagai pedoman untuk berbuat pada masa sekarang. Sedangkan mengingat masa depan adat berfatwa "bakulimek sabalun habih, sadiokan payuang sabalun hujan".

4. Hakekat Pandangan Terhadap Alam
Alam Minangkabau yang indah, bergunung-gunung, berlembah, berlaut dan berdanau, kaya dengan flora dan fauna telah memberi inspirasi kepada masyarakatnya. Mamangan, pepatah, petitih, ungkapan-ungkapan adatnya tidak terlepas daripada alam.

Alam mempunyai kedudukan dan pengaruh penting dalam adat Minangkabau, ternyata dari fatwa adat sendiri yang menyatakan bahwa alam hendaklah dijadikan guru.

Yang dimaksud dengan adat nan sabana adat adalah yang tidak lapuak karena hujan dan tak lekang karena panas biasanya disebut cupak usali, yaitu ketentuan-ketentuan alam atau hukum alam, atau kebenarannya yang datang dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu adat Minangkabau falsafahnya berdasarkan kepada ketentuan-ketentuan dalam alam, maka adat Minangkabau itu akan tetap ada selama alam ini ada.

5. Pandangan Terhadap Sesama
Dalam hidup bermasyarakat, orang Minangkabau menjunjung tinggi nilai egaliter atau kebersamaan. Nilai ini menyatakan mereka dengan ungkapan "Duduak samo randah, tagak samo tinggi".

Dalam kegiatan yang menyangkut kepentingan umum sifat komunal dan kolektif mereka sangat menonjol. Mereka sangat menjunjung tinggi musyawarah dan mufakat. Hasil mufakat merupakan otoritas yang tertinggi.

Kekuasaan yang tertinggi menurut orang Minangkabau bersifat abstrak, yaitu nan bana (kebenaran). Kebenaran itu harus dicari melalui musyawarah yang dibimbing oleh alur, patut dan mungkin. Penggunaan akal sehat diperlukan oleh orang Minangkabau dan sangat menilai tinggi manusia yang menggunakan akal. Nilai-nilai yang dibawa Islam mengutamakan akal bagi orang muslim, dan Islam melengkapi penggunaan akal dengan bimbingan iman. Dengan sumber nilai yang bersifat manusiawi disempurnakan dengan nilai yang diturunkan dalam wahyu, lebih menyempurnakan kehidupan bermasyarakat orang Minangkabau.

Menurut adat pandangan terhadap seorang diri pribadi terhadap yang lainnya hendaklah sama walaupun seseorang itu mempunyai fungsi dan peranan yang saling berbeda. Walaupun berbeda saling dibutuhkan dan saling membutuhkan sehingga terdapat kebersamaan. Dikatakan dalam mamangan adat "Nan buto pahambuih lasuang, nan pakak palapeh badie, nan lumpuah paunyi rumah, nan kuek pambaok baban, nan binguang kadisuruah-suruah, nan cadiak lawan barundiang. Hanya fungsi dan peranan seseorang itu berbeda dengan yang lain, tetapi sebagai manusia setiap orang itu hendaklah dihargai karena semuanya saling isi mengisi. Saling menghargai agar terdapat keharmonisan dalam pergaulan, adat menggariskan "nan tuo dihormati, samo gadang baok bakawan, nan ketek disayangi". Kedatangan agama Islam konsep pandangan terhadap sesama dipertegas lagi.

Nilai egaliter yang dijunjung tinggi oleh orang Minangkabau mendorong mereka untuk mempunyai harga diri yang tinggi. Nilai kolektif yang didasarkan pada struktur sosial matrilinial yang menekankan tanggungjawab yang luas seperti dari kaum sampai kemasyarakatan nagari, menyebabkan seseorang merasa malu kalau tidak berhasil menyumbangkan sesuatu kepada kerabat dan masyarakat nagarinya. Interaksi antara harga diri dan tuntutan sosial ini telah menyebabkan orang Minangkabau untuk selalu bersifat dinamis.

Sumber : www.minangnet.com
L.I.O.N - 04/11/2009 07:49 PM
#58

53 post partamo abih dek da andre se tuh o
wak ikuik mandukuang se demi suksesnyo trit ko beer:
andreandhika - 04/11/2009 07:50 PM
#59

Arsitektur Ranah Minang

Spoiler for Isi

Rumah Gadang merupakan ciri khas Rumah Adat Minangkabau (Sumatra Barat), yang berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga besar dan pusat kegiatan orang yang sedarah dan seketurunan dari kerabat matrilinial baik kegiatan ekonomi dan sosial maupun kegiatan budaya, dikepalai oleh seorang tungganai (Mamak) dan sebagai syarat berdirinya suatu nagari di Minangkabau, dengan arsitektur bentuk atap bergonjong (berbentuk tanduk kerbau).

Rumah Gadang dibangun dengan bergonjong dimana semakin keatas semakin runcing, agar air mudah meluncur dan atap tahan lama walaupun terbuat dari injuk. Gonjong atap Rumah Gadang terdiri dua pola, yaitu gonjong Rumah Gadang Pola Koto Pialang (Aristokrat) terdiri dari 3 gonjong, 3 gonjong kanan , 1 gonjong depan dan 1 gonjong belakang , banyak terdapat di Luhak Tanah Datar. Sedangkan gonjong Rumah Gadang Pola Budi Caniago (Demokrat) terdiri 2 gonjong kanan, 2 gonjong kiri,1 gonjong depan dan 1 gonjong belakang, banyak terdapat di Luhak Agam Dan Luhak 50 Kota.

Rumah Gadang, sesuai dengan arsitektur ruangan dalam atau depan dengan lanjar (ruangan yang membujur dari depan ke belakang diantara tiang-tiang yang berderet), terbagi atas 3 tipe,yaitu :

* Lipat Pandan : Berlanjar dua, disebut dengan Rumah Gadang Rajo Babandiang.

* Belah Rebung : Berlanjar tiga ,disebut dengan Rumah Gadang Bapaserek/Surambi papek

* Gajah Maharam : berlanjar empat, disebut dengan Rumah Gadang Gajah Maharam.

Menurut letaknya, ruangan Rumah Gadang terdiri atas:

* Ruang depan : Merupakan ruang besar, dipakai sebagai ruang keluarga, rapat, menerima tamu dan sebagainya.

* Ruang tengah : Terdiri dari kamar-kamar, dipakai untuk kamar tidur penghuni wanita bersama suaminya.

* Ruang Anjungan : Bangunannya lebih tinggi dari ruang depan, sebelah kiri dan sebelah kanan dipakai untuk tempat wanita yang baru menikah.

* Ruang Belakang : Merupakan dapur tanpa kamar mandi dipancuran diluar Rumah Gadang.

Bentuk Rumah Gadang segi 4 , tidak sistematis, mengembang keatas , untuk menangkis terpaan angin kencang. Tinggi lantai 2 meter dari atas tanah, dulunya untuk menghindari binatang buas dan juga memelihara ternak dibawahnya dan loteng digunakan untuk menyimpan barang-barang (gudang).

Permukaan dinding depan Rumah Gadang penuh dengan tatanan ukiran-ukiran yang menarik dan setiap ukiran itu mempunyai arti sendiri dan mengandung filsafah Minangkabau "ALAM TAKAMBANG JADI GURU".

Jenis ukiran Rumah Gadang tersebut terdiri atas :

* Keluk Paku : Ditafsirkan anak dipangku kemenakan dibimbing.

* Pucuk Tebung : Ditafsirkan kecil berguna , besar terpakai.

* Seluk Laka : Ditafsirkan kekerabatan saling berkaitan.

* Jala : Ditafsirkan pemerintahan Bodi Caniago.

* Jerat : Ditafsirkan pemerintahan Koto Pialang.

* Itik pulang petang : Ditafsirkan ketertiban anak kemenakan.

* Sayat Gelamai : Ditafsirkan ketelitian.

* Sikambang manis : Ditafsirkan keramah tamahan.

Dinding belakang disebut Dinding Sasak, karena pada masa lalu terbuat dari bambu yang dianyam, dinding depan dan samping terbuat dari kayu serta diukir.

Berdirinya Rumah Gadang harus dilengkapi dengan Rangkiang atau Lumbung Padi, terletak dihalaman depan dan samping, yang berfungsi sosial dan ekonomi.

Bentuk dan jenis rangkiang / lumbung padi tersebut antara lain:

* Sitinjau Lauik :
Digunakan sebagai tempat menyimpan padi untuk dijual bagi keperluan bersama atau pos pengeluaran adat. Bentuknya langsing, bergonjong dan berukir dengan empat tiang, letaknya ditengah.

* Sibayau-bayau :
Digunakan untuk menyimpan padi makanan sehari-hari. Bentuknya gemuk, bergonjong dan berukir dengan 6 tiang letaknya dikanan.

* Sitangguang Lapa / Sitangka lapa :
digunakan untuk menyimpan padi untuk musim kemarau dan membantu masyarakat miskin. Bentuknya bersegi, bergonjong dan berukir dengan 4 tiang , letaknya sebelah kiri.

* Kaciak/kecil :
Digunakan untuk menyimpan padi bibit dan untuk biaya mengolah sawah. Bentuknya bundar, berukir dan tidak bergonjong, letaknya diantara ketiga rangkaian tersebut.

Kelengkapan bangunan Rumah Gadang lainnya adalah Tabuh Larangan, Lesung, Kincir, Pancuran dan Pedati. Halaman Rumah Gadang dilengkapi dengan puding berwarna kuning, puding warna perak, puding warna hitam dan batang kemuning sebagai pagar hidup.

Arsitek yang membangun Rumah Gadang yang pertama adalah seorang Cerdik Pandai Minangkabau yang bernama : Datuk Tan Tejo Gerhano, yang dimakamkan di Pariangan Kabupaten Tanah Datar dan makam tersebut dikenal dengan kuburan panjang yang punya keunikan tersendiri bahwa setiap kali diukur akan berbeda panjangnya.

Sumber : www.minangnet.com
andreandhika - 04/11/2009 07:52 PM
#60

Quote:
Original Posted By L.I.O.N
53 post partamo abih dek da andre se tuh o
wak ikuik mandukuang se demi suksesnyo trit ko beer:


malu:
wak masih paralu banyak baraja da

amiin...
semoga trit ko sukses da \)
da lion, kok ado nan ka uda tambahkan, posting se disiko yo da
Page 3 of 29 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Minangkabau > Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau