Minangkabau
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Minangkabau > Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau
Total Views: 36405 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 4 of 29 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›

andreandhika - 04/11/2009 08:10 PM
#61

Pepatah, Petitih, Petuah dan Mamangan

Spoiler for Isi

Didalam kesusasteraan para ahli bahasa ataupun ahli adat juga tidak dapat menetapkan secara pasti tentang kalimat kalimat pepatah, petitih, pituah dan mamangan. Lain orang lain pendapatnya dan lagi kalimat kalimat yang dikatakan pepatah atau petitih, pituah atau mamangan. Apa yang dikatakan pepatah, petitih, pituah atau mamangan bertolak dari pengenalan adat Minangkabau.

Pada suatu massa dahulu Minangkabau adalah suatu nagari dari suatu bangsa yang mempunyai falsafah hidup sendiri sebagai pegangan dalam menjalankan hidupnya. Kebudayaan Minangkabau diamalkan oleh bangsanya, lebih dari pengamalannya terhadap agama dan falsafat negara yang dianutnya dewasa ini.

Setiap orang Minangkabau lebih mahir mengucapkan pepatah daripada mengucapkan hadis dan agamanya.

Penggunaan istilah pepatah, petitih, pituah dan mamangan ditemui dalam pidato pidato adat, baik oleh penghulu didalam kerapatan Nagari ataupun oleh janang didalam berbagai seremoni adat Minangkabau. Orang awampun bisa juga mengucapkan istilah pepatah pepatah itu dalam saat ia akan menggunakan peribahasa.

Apabila kita hendak meninjau status penghulu dalam nagari masing masing jelaslah statusnya sama dengan "Staatment" didalam suatu negara. Dan memanglah status nagari nagari di Minangkabau tak obahnya dengan status negara negara dimanapun juga. Apa yang diucapkan para "staatment" dalam parlement ataupun sidang sidang pemerintahan negaranya, demikian juga apa yang diucapkan oleh para penghulu dalam kerapatan adat.

Para staatment mengemukakan argument dengan memakai undang undang falsafah negara didalam pembicaraannya, maka didalam nagari undang undang serta falsafah disebut cupak. Cupak menurut hukum minangkabau adalah dua yakni cupak usali dan cupak buatan. Cupak usali dan cupak buatan ini mengandung segala unsur hukum yang menguasai dan dikuasai.

Seperti hukum alam, hukum manusia dengan alam, hukum manusia dengan manusia, hukum manusia dengan masyarakat. Berdasarkan kenyataan bahwa filsafat adat minangkabau bersumber dengan falsafat alam, seperti yang diungkapkan oleh pantun :

Panakiak pisau sirauik
Patungkek batang lintabuang
Salodong ambia ka niru
Satitiak jadikan lauik
Sakapa jadkan gunuang
Alam takambang jadikan guru.

Didalam menyebutkan kekuatan adat Minangkabau selalu diungkapkan dengan :

adaik nan sabana adaik
Indak lapuak dek hujan
Indak lakang dek paneh

Macam adat yang sekekal itu diungkapkan dengan :

Adaik api mahanguihkan
Adaik aia mambasahi.

Jadi jelaslah bahwa menurut alam pikiran minangkabau yang berguru kepada alam itu, hukum alam itulah adat yang sebenarnya, yang boleh diartikan hukum yang sebenarnya.

Prof. Kuntjaraningrat didalam kongres bahasa Indonesia pada tahun 1954 di Medan pernah mengatakan, bahwa pepatah petitih minangkabau adalah "levende rechtstaal" yakni bahasa hukum yang hidup. Maka kian jelaslah bahwa pepatah, petitih, petuah dan mamangan yang juga disebut sebagai cupak usali dan cupak buatan itu adalah undang undang hukum alam minangkabau.

Cupak usali diartikan dalam bahasa Indonesia dengan takaran asli atau hukum asli. Hukum yang asli adalah hukum alam dan hukum manusia dengan alamnya.

Hukum mana tidak dapat dibuat oleh manusia. Didalam menelaah berbagai ungkapan pribahasa yang diucapkan para penghulu didalam kerapatannya, ditemukan berbagai kalimat yang melukiskan hukum hukum alam dan hukum hukum manusia dengan alamnya itu.
Kalimat hukum alam itu ialah :

Kuniang kunyik, putiah kapua
Merah sago, kuriak kundi
Manciok ayam, badanciang basi
Bulek manggolong, picak malayang
Hinggok mancakam, tabang manumpu

Dan lain lain . Sedang kalimat yang berbentuk hukum manusia dengan alamnya atau hukum alam dengan manusianya dapat pula ditemui seperti :

Kabukik mandaki, kalurah manurun
Kalam disigi, lakuang ditinjau
Panjang dipunta, singkek diuleh
tatungkuik makan tanah
Tatilantang minum aia
Padiah disuahkan, sakik diharangkan

Dan lain lain Kedua macam jenis kalimat ini, sebagai cupak usali yang kebenaran tak tertanding, inilah jenis kalimat yang dinamakan pepatah petitih.

Pepatah adalah jenis kalimat yang melukiskan hukum alam, sedang petitih ialah jenis kalimat yang melukiskan hukum manusia dengan alamnya. Kata adat tantang kato usali ini adalah :

barih baukua jo pepatah
balabeh bajangko jo patitih

Barih baukua jo pepatah itu disebutkan ANGGO (Pakaian) sadang balabeh bajangko jo petitih disebutkan ANGGA (tangga) artinya dapat ditafsirkan untuk mencapai inggo diperlukan tanggo. Dan barih baukua jo pepatah dapat ditafsirkan sebagai kebenaran baris yang berbanjar dinilai hukum alam.
Sedang balabeh dijangko jo petitih dapat ditafsirkan panjangnya sebuah ukuran kemampuan manusia dinilai dengan kemampuan hidupnya dengan alam.

Cupak buatan sesuai dengan namanya hukum yang diciptakan oleh manusia untuk keperluan mereka bersama, yang tercakup kedalam 2 pola, yakni hukum manusia dengan sesamanya, dan hukum manusia dengan masyarakatnya. Jadi hukum ini dapat berobah menurut situasi dan kemampuan manusia yang memakainya.

Didalam menelaah berbagai ungkapan peribahasa yang diucapkanoleh para penghulu didalam kerapatannya, ditemani berbagai kalimat yang melukiskan hukum manusia dengan sesamanya dan hukum manusia dengan masyarakat itu. Kalimat yang melukiskan hukum dengan sesamanya itu adalah,

Mandapek balabo, hilang marugi
Mancancang mamampeh, mambunuah,
Mambangun, barutang mambayia
Bapiutang manarimo.
Elok dipakai, cabuah dibuang
Janji bakarang, padan baukua

Dan lain lain Kalimat ini melukiskan hukum manusia dengan masyarakatnya, yang senantiasa disebutkan dalam pidato adat terdapat kalimat2 seperti :

Anak dipangku, kamanakan dibimbiang
Luhak bapanghulu, rantau barajo
Kampuang batuo, rumah batungganai
Tagak panghulu sakato kaum
Tagak andiko sakato nagari
Pusako ditolong, warih dijawek

Cupak buatan yang melukiskan hukum sesama manusia disebut "pituah", sedang hukum manusia dengan masyarakatnya disebut "mamangan"

Bentuk Dan Variasi Kalimat.
Bentuk kalimat pepatah, petitih, pituah dan mamangan sangatlah sederhana dan isinya yang lumrah. Kalimat kalimat itu dibangun berpasangan dalam dua bagian. Umumn setiap bagian terdiri dari dua buah kata.

Umpamanya setiap bagian terdiri dari dua buah kata. Barisan pertama bersinonim (persamaan arti) yang sejajar atau melintang dengan bagian kedua, hingga merupakan empat kata seperti lazimnya dengan gaya pantun.

Didalam pidato adat kalimat kalimat itu diberi berbagai variasi dengan macam kata lainnya dan diucapkan beruntun dengan kalimat sinonim lainnya. Pemakaian kalimat pepatah boleh bercampur baur dengan kalimat petitih, mamangan atau dengan pituah, berdasarkan keperluan. Demikian juga kalimat kalimat tersebut dapat diolah sedemikian rupa, tapi dalam pengucapannya haruslah menurut ritme kalimat yang mendahuluinya.
Contoh kalimat asli berbunnyi :

Kareh ditakiak, lunak disudu

Dapat diolah menjadi :

Kok kareh buliah ditakiak, kok lunak buliah disudu
Kok kareh indak tatakiak, kok lunak indak tasudu
inyo nan kamanakiak yang kareh, inyo nan kamanyudu nan lunak
Indak ado kareh nan indak ditakiaknyo, indak ado nan lunak nan indak disudunyo

Dapat lagi diolah jadi kalimat sebaliknya :

Kok kareh buliah ditakiak, kok lunak indak tasudu
Kok kareh indak ditakiaknyo, kok lunak disudunyo
Inyo indak manakiak nan kareh, tapi inyo manyudu nan lunak
Indak ditakiaknyo nan kareh, indak disudunyo nan lunak

Contoh bagian kedua bukan lagi semacam ucapan ucapan yang bernilai yang dapat diucapkan penghulu didalam kerapatan. Bagian kedua ini adalah selera orang orang banyak belaka.

Contoh lain kalimat kalimat pepatah, petitih, pituah dan mamangan diucapkan didalam pidato-pidato adat dengan berurutan sekalimat demi sekalimat yang sinonim artinya.

Tambah banyak kalimat kalimat sinonim itu dapat dikemukakannya tambah menonjollah kecendikiawanannya. Umpama :

Lah bulek aia dek pambuluah
Lah bulek kato dek mupakaik

Kok bulek alah buliah digolongkan
Kok picak alah buliah dilayangkan

Lah saciok bak ayam
Alah sadanciak bak basi

Kok tarapuang alah samo hanyuik
Kok tarandam alah samo basah

Ka bukik samo mandaki
Ka lurah samo manurun

Barek samo dipikua
Ringan samo dijinjiang

Tatungkuik samo basah
Tatilandang samo minum aia.

Dan lain lain

Sumber : Buletin sungai Pua No. 46 April 1994
M@rtabe - 04/11/2009 08:32 PM
#62

Ijin nyimak da...linux2:
andreandhika - 04/11/2009 08:51 PM
#63

Struktur Masyarakat Minangkabau Bag.1

Spoiler for Isi

A. PARUIK
Susunan masyarakat Minangkabau terkecil dinamakan PARUIK. Jika di Indonesiakan secara harfiah artinya PERUT. Yang dimaksud paruik disini adalah suatu keluarga besar atau famili, dimana semua anggotanya berasal dari satu perut.
Setiap anggota yang berasal dari satu perut itu dinamakan saparuik.

Seluruh anggota dari paruik itu dihitung menurut garis ibu, sedangkan para suami dari pada anggota tersebut tidaklah termasuk didalamnya. Menurut istilah minangkabau para suami itu disebut urang sumando. Urang sumando biasa juga dinamakan urang datang, karena ia dating dan sebagai pendatang dirumah istrinya. Memang begitulah perkimpoian yang bersifat matrilineal, bukan istri yang tinggal dirumah suami, tetapi suami yang tinggal dirumah istri.

Kedudukan urang sumando di rumah, di ibaratkan sebagai abu diateh tunggua (Abu diatas tunggul), dengan kata lain ia tidak mempunyai kekuasaan apa-apa. Sekalipun tidak berkuasa, namun urang sumando paling dihormati ditengah rumah, disegani dan dimanjakan oleh segenap keluarga istrinya, dijaga hatinya supaya jangan tersinggung, ditanai bak manantiang minyak panuah (bagai menating minyak penuh). Inilah imbangannya sebagai suatu cara dalam membina rumah tangga yang harmonis. Pepatanh mengatakan rancak rumah di urang sumando, elok hokum dimamaknyo (Semarak rumah di urang sumando, elok Hukum pada mamaknya), maksudnya keharmonisan dikeluarga besar itu tergantung kesanggupan si mamak sebagai pimpinan yang bertanggung jawab atas anak dan kemanakannya.

Tiap-tiap paruik dipimpin oleh seorang penghulu yang dijabat oleh seorang laki-laki dari saudara ibu, dan dipilih oleh segenap anggota dari paruik itu sendiri.

B. JURAI
Apabila anggota-anggota paruik telah bertambah banyak dan berkembang biak, maka paruik itu akan membelah diri menjadi unit-unit yang berdiri sendiri, unit-unit ini disebut jurai dan ada juga yang menyebutnya toboh. Ia merupakan suatu kesatuan keluarga kecil yang sadapua (sedapur). Pimpinannya dinamakan mamak rumah dan sering juga disebut tungganai Jabatan tungganai langsung langsung dipegang oleh seorang laki-laki yang tertua dari saudara-saudara ibu, jadi tidak melalui pemilihan. Semua anak-anak yang dilahirkan dalam keluarga tersebut memanggil mamak, sebaliknya mamak sendiri menyebutnya kamanakan. Dari hubungan yang sedemikian timbullah satu tata tertib bamamak bakamanakan. Salah satu dari tertib itu adalah kamanakan saparintah mamak (kamanakan seperintah mamak). Pengertian perintah disini bukanlah kekuasaan tangan besi, tapi lebih bersifat tanggung jawab dan membimbing.

Mamak mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap kemenakan-kemenakannya. Corak dan sifat dari pada hubungan bermamak kamanakan ini tersirat dalam fatwa adat sebagai berikut :

Kamanakan manyambah lahia
Mamak manyambah bathin
Kamanakan bapisau tajam
Mamak badagiang taba
Tagang bajelo-jelo
kandua badantiang dantiang

Indonesianya :
Kemanakan menyembah lahir
Mamak menyembah bathin
Kemenakan berpisau tajam
Mamak berdaging tebal
Tegang berjela-jela
Kendur berdenting-denting.

C. KAMPUNG
Kumpulan dari semua anggota yang berasal dari satu paruik sebagaimana dijelaskan diatas, ada yang dihimpun dalam sebuah rumah gadang (Rumah Besar), tetapi ada pula yang dihinpun didalam beberapa buah rumah yang berdekatan letaknya, himpunan inilah yang disebut kampuang. Dalam bahasa Minangkabau, kampuang sama artinya dengan kumpulan atau himpunan (dikampuangkan = dikumpulkan).

Tiap tiap kampung mempunyai pimpinan, yang mana tugasnya adalah untuk memimpin usaha-usaha bersama dengan tanggung jawab ringan sajejenjeng, barek sapikua (ringan sama dijinjing, berat sama di pikul). Pimpinan atau ketua dari perkampungan ini disebut Tuo kampuang).

Jadi pengertian kampung adalah sekumpulan rumah yang anggotanya berasal dari satu paruik dan dipimpin oleh seorang tuo kampuang yang dipilih.

Hal ini jelas digambarkan dalam kata-kata adat :

Rumah nan sakumpulan
Nan sakampuang sahalaman
Nan salabuah satapian

Indonesianya :
Rumah yang sekumpulan
Yang sekampung sehalaman
Yang sejalan setepian

D. SUKU
Perkembangan paruik menimbulkan jurai-jurai. Lama kelamaan juraipun berkembang biak pula, sehingga menjurus terbentuknya paruik-paruik baru. Kemudian paruik ini mendirikan kampuang-kampuang, adakalanya kampuang itu ada yang berjauhan letaknya disebabkan kesempitan ditanah asal. Sekalipun demikian hubungan antara kampuang-kampuang yang sudah banyak itu masih terikat kepada kampung asal. Perkembangan dari kampung kampung inilah yang kemudian menimbulkan suku-suku, yang dikenal dengan 4 suku asal yaitu : Koto, Piliang, Bodi dan Chaniago.
Suku artinya kaki, yaitu kaki dari seekor hewan seperti kambing, sapi, kerbau dan sebagainya. Itulah asal mula pengertian suku di Minangkabau sekarang.

Perkembangan selanjutnya, suku dipahamkan sebagai satu kesatuan masyarakat, dimana setiak anggota merasa badunsanak (bersaudara) dan seketurunan, serta mempunyai pertalian darah menurut garis ibu, jadi mengandung pengertian genealogis. Setiap anggota yang mempunya suku yang sama dinamakan sapasukuan dan tidak boleh mengadakan hubungan perkimpoian diantara mereka. Dengan demikian suku-suku diminangkabau adalah merupakan kesatuan exogam.
Bila ditinjau secara mendalam, dengan perkimpoian ynag exogam itulah sebenarnya terletak kunci daripada keutuhan dan kerukunan suku-suku di Minangkabau.

Keutuhan dan kerukunan dilukiskan dalam pepatah berikut :

Suku nan indak dapek dianjak
Malu nan indak dapek dibagi
Kok tanah nan sabingkah alah bapunyo
Rumpuik sahalai alah bapunyo
Namun malu alun babagi.

Indonesianya :
Suku tidak dapat ditukar-tukar
Malu tidak dapat dibagi bagi
Walau tanah sebongkah sudah bermilik
Rumput sehelai sudah berpunya
Namun malu belum dibagi.

Tiap-tiap suku dipimpin oleh seorang pangulu dengan pangilan datuak sebagai sebutan sehari-hari. Setiap suku mempunyai gelar pusaka tertentu, gelar juga tidak berbatas kepada pangulu tetapi setiap laki-laki yang sudah berumah tangga mempunyai gelar dengan peringkat sutan (Misalnya datuak Batuah = gelar seorang penghulu, Sutan Batuah = Gelar seorang laki-laki yang sudah menikah)
Istilah pangulu suku adakalanya disebut pangulu andiko dijabat oleh seorang laki-laki yang dipilih oleh segenap anggota keluarga dalam suku.
andreandhika - 04/11/2009 08:52 PM
#64

Struktur Masyarakat Minangkabau Bag.2

Spoiler for Isi

E. NAGARI
Berlainan dengan paruik, kampuang dan suku, maka nagari adalah merupakan suatu masyarakat hokum. Nagari adalah gabungan dari beberapa buah suku, minimal mempunyai 4 buah suku, jadi federasi genealogis. Menurut hokum adat (undang undang nagari), ada empat syarat untuk mendirikan sebuah nagari, yang pertama harus mempunyai sedikitnya 4 suku, kedua harus punya balairung untuk bersidang, ketiga sebuah mesjid untuk beribadah, ke empat sebuah tepian tempat mandi.

Setiap nagari mempunyai batas-batas tertentu yang ditetapkan atas dasar pemufakatan dengan para pangulu dan nagari-nagari bersebelahan. Batas-batas itu adakalanya ditentukan dengan batas-batas alam seperti sungai, sawah, tetapi ada juga yang diberi tanda yang dinamakan lantak pasupadan. Disamping itu nagari juga mempunyai pemerintahan sendiri oleh dewan kerapatan adat nagari yang anggotanya terditi dari pangulu andiko sebagai wakil paruik, maupun suku. Dengan demikian dapatlah dikatakan nagari pada hakekatnya adalah suatu pemerintahan berbentuk republik otonom.

Demikian secara garis besarnya tingkatan-tingkatan daripada susunan masyarakat Minangkabau, mulai dari jurai sampai Nagari.
Fatwa adat :

Rang gadih manggarek kuku
Pangarek pisau sirauik
Dikarek batuang tuonyo
Batuang tuo elok kalantai
Nagari bakaampek suku
Didalam suku babuah paruik
Kampuang dibari ba nan tuo
Rumah dibari batungganai.

Indonesianya :
Anak gadis memotong kuku
Pemotong pisau siraut
Dipotong bambu tuannya
Banbu tua bagus untuk lantai
Negeri yang empat suku
Dalam suku berbuah perut
Kampung diberi ketua
Rumah diberi tungganai.

F. KELARASAN
Dalam logat bahasa minang, perkataan laras disebut lareh, adapun arti laras ialah sebagai yang kita pakai sekarang ini juga, Selaras artinya seukuran atau seimbang, diselaraskan artinya dipersamakan
Menurut pengertian adat, kelarasan berarti suatu system pemerintahan, yaitu suatu tata cara adat yang sudah turun temurun yang dikenal dengan nama adat ketumanggungan (Koto- Piliang) dan adat perpatiah nan sabatang (Bodi Chaniago). Kedua system inilah yang dipakai para pengulu dalam mengatur dan menjalankan pemerintahan nagari diseluruh alam Minangkabau. Oleh Belanda kemudian kelarasan dijadikan suatu daerah administrative dengan jalan menyusun dan mengelompokkan nagari-nagari yang seadat selembaga (selaras), sehingga lareh nan duo (dua kelarasan) akhirnya menjelma menjadi banyak kelarasan, dengan tuangku lareh (lareh hoofd) sebagai kepalanya.

Menurut riwayat, timbulnya kelarasan di minangkabau adalah sebagai akibat dari perselisihan pendapat antara Ninik nan Baduo (ninik yang berdua), yaitu datuak Ketumanggungan dan Datuak Parapatiah nan sabatang. Perselisihan itu timbul ketika raja Adityawarman hendak memaksakan kemauannya untuk mendirikan kerajaan Pagaruyung. Rencana ini mendapat tantangan dari datuak Parapatiah nan sabatang.
Peretentangan ini dilukiskan dalam pepatah adat sebagai berikut.

Datanglah anggang dari lauik
Ditembak datuak nan baduo
Badia sadatak duo dantumnyo

Indonesianya :
Datanglah enggang dari laut
Ditembak datuk yang berdua
Bedil sedetak dua dentumnya.

Yang dimaksud enggang dari laut ialah kedatangan ekspedisi Adityawarman dengan melalui laut, Ditembak datuk yang berdua artinya diributkan oleh dua saudara Datuk katumangguangan dan Datuak Parapatiah nan sabatang, Bedil sedetak dua dentumnya maksudnya diantara kedua datuk tidak ada kata sepakat.
Menurut Datuk Katumanggunan, bentuk negara yang didirikan itu adalah kerajaan, segala kekuasaan berada ditangan raja, karena raja yang berdaulat. Di bawah raja hanya ada Basa (menteri) sebagai pembantu raja.

Tetapi Datuak Parapatiah Nan Sabatang menolak bentuk kerajaan yang berdaulat kepada seorang raja. Ia mempertahankan adat lama pusaka usang, yaitu beraja kepada mufakat, hanya kata mufakatlah yang berdaulat, dan mufakat itulah kata ganti Raja.

Akhirnya perbedaan pendapat itu memuncak menjadi suatu pertentangan yang sengit, dimana Datuak Katumanggungan tetap mempertahankan kata pilihannya(asal kata Koto-Piliang) yaitu system kerajaan. Begitu juga Datuak Parapatiah nan sabatang tidak mau beranjak dari pilihannya semula, ia tetap mempertahankan system kedaulatan rakyat atas dasar musyawarah dan mufakat, bagi dia Budi yang berharga (asal kata Bodi Chaniago), oleh karena itu pula dia tidak mau mengakui Adityawarman sebagai raja alam Minangkabau.

Kelarasan Koto Piliang adalah mewakili adat lembaga yang bersifat konservatif, lazimnya disebut adat beraja (adaik barajo-rajo).
Yang menjadi adat pusaka adalah :

Bajanjang naiak batanggo turun
Bapucuak bulek baurek tunggang
Batali buliah dihirik
Batampuak buliah dijinjiang

Indonesianya :
Berjenjang naik, bertangga turun
Berpucuk bulat berurat tunggang
Bertali boleh ditarik
Bertampuk boleh dijinjing

Dengan system adat datuak katumanggungan dijumpai adanya tingkatan-tingkatan penguasa sebagai pembantu raja (berjenjang naik bertangga turun). Juga sudah dikenal adanya pembagian kekuasaan. Ada tiga kekuasaan yang penting, yaitu dikenal dengan anma Rajo nan tigo selo, yang pertama rajo di buo (raja adat), kedua Rajo disumpua kuduih (Raja ibadat) dan yang ketiga Rajo Pagaruyuang (Rajo Alam) yang dijadikan daulat yang dipertuan dalam lareh koto piliang sebagai instansi tertinggi dalam membanding hukum. Dibawah rajo nan tigo selo ada lagi Basa Ampek Balai
Demikian juga system pemerintahan nagari, kedudukan pengulu juga bertingkat tingkat, ada pengulu pucuak
,pengulu suku dan pengulu andiko

Berbeda dengan system adat Datuak Katumanggungan, maka menurut adat Parapatiah Nan Sabatang, pemerintahan nagari dijalankan secara kolektif oleh para pengulu andiko didalam suatu kerapatan nagari. Disini tidak dijumpai adanya tingkatan pengulu semua berandiko, “duduak samo randah tagak samo tinggi (duduk sama rendah berdiri sama tinggi). Salah seorang diantara mereka dipilih jadi ketua, biasanya orang yang sudah tua dalam usia dan pengalaman, sehingga dikatakan dalam pepatah :

bajalan ba nan tuo
Balayia banangkodo

Indonesiannya :
Berjalam pakai pemimpin
Berlayar pakai Nakhoda

Didahulukan selangkah ditinggikan seranting
Pengertian berjenjang naik bertangga turun sepanjang adat Bodi Chaniago (Parapatiah Nan Sabatang) ialah :

Kamanakan barajo ka mamak
Mamak barajo ka pangulu
Pangulu barajo ka mufakat
Mufakat barajo ka kabanaran
Menurut alur dan patut

Indonesianya :
Kemanakan beraja ke mamak
Mamak beraja ke pengulu
Pengulu beraja ke mufakat
Mufakat beraja ke kebenaran
Menurut alur dan patut.

Sebagai kesimpulan, ada dua macam raja menurut pandangan orang minangkabau, pertama “raja alam" yaitu sekata alam mendirikannya, kedua adalah raja yang berdiri sendirinya yaitu “alua jo patuik (Alur dan Patut) yang bermakna “kebenaran" Inilah “Rajo nan sabana rajo" (raja yang sebenar raja).

G. LUHAK
Menurut Tambo alam Minangkabau, luhak artinya lubuk. Pada masa dulu didaerah pariangan (kampung asal orang Minangkabau) terdapat tiga buah lubuk/sumur. Kemudian karena negeri sudah sempit, mereka berpencar keluar untuk mencari daerah baru. Daerah daerah baru yang ditempati tersebut diberinama sesuai dengan nama lubuak mereka masing, yaitu Luhak Tanah Data, Luhak Agam dan Luhak Lima Puluh Koto.

Pembagian daerah Minangkabau atas tiga daerah grafis itu oleh Belanda dilanjutkan dengan mengunakan istilah “afdeling" dibawah pimpinan Assistant Residen yang oleh penduduk dinamakan “Tuan Luhak".

H. RANTAU
Diluar daerah yang tiga luhak ini dinamakan “Rantau" meliputi daerah pesisir barat, juga termasuk daerah pesisir timur seperti Rokan, Siak, Kampar, Batang Hari dan Negeri sembilan di Malaysia Barat. Daerah rantau dipimpin oleh pangulu (Memakai adat Bodi Chaniago)

Sumber : Buletin Sungai Pua No 46 April 1994
IncekRajo - 05/11/2009 07:41 AM
#65

numpang masuak kelas ciek da...

ilovekaskus
andreandhika - 05/11/2009 08:14 AM
#66

Quote:
Original Posted By IncekRajo
numpang masuak kelas ciek da...

ilovekaskus


jadih da
kok ado nan ka uda tambahkan, posting se lah disiko da
\)
andreandhika - 05/11/2009 08:28 AM
#67

Pengertian Adat

Spoiler for Isi

Pada tulisan ini akan diterangkan mengenai Arti Adat, Tujuan Adat, Klasifikasi Adat Minang, yaitu :

1. ARTI ADAT
Kalau orang Minang ditanya adat itu apa, maka jawabannya sederhana saja. Peraturan hidup sehari-hari. Kalau hidup tanpa aturan bagi orang Minang namanya "tak beradat". Jadi aturan itulah adat, dan adat itulah yang jadi pakaiannya sehari-hari. Karena itu bagi orang Minang; duduk tagak beradat, makan minum beradat, berbicara beradat, berjalan beradat, menguap beradat dan batuk saja pun bagi orang Minang beradat. Aturan-aturan itu biasanya disebutkan dalam bentuk Pepatah-petitih, mamang dan bidal serta pantun. Contoh beradat itu misalnya :

Batanyo lapeh orak (lepas-lelah)
Barundiang sudah makan

Artinya : Kalau ingin bertanya kepada seseorang, tunggulah terlebih dahulu sampai yang bersangkutan hilang lelahnya.

Kalau ada tamu, orang Minang biasanya langsung menyuguhkan minuman. Sesudah rasa haus dan dahaga hilang, barulah ditanya apa maksud kedatangannya. Begitu pula kalau kita kedatangan rombongan tamu yang tujuannya sudah diketahui terlebih dahulu, misalnya untuk merundingkan pelaksanaan perkawinan maka tamu-tamu setelah diberi minum, kemudian diajak makan terlebih dahulu (biasanya makan malam). Setelah selesai makan malam, barulah diajak berunding mengenai pelaksanaan pekerjaan dan sebagainya. Beginilah kira-kira aturan yang dipakai dalam hal "bertanya" dan "berunding" menurut adat Minang.
Contoh lain misalnya :

bajalan ba nan tuo
Balayia ba nankodoh

Artinya : kalau kita mengutus suatu rombongan untuk berkunjung kepada keluarga lain guna menyampaikan hajat misalnya untuk meminang, atau bahkan untk melakukan perjalanan jauh misalnya; harus ada "Pimpinan" sebagai kepala rombongan.

Pimpinan itulah yang akan jadi "Pembicara" maupun menjadi Pemandu bagi semua pengikutnya atau rombongan itu. "Tuo" disini artinya orang yang sudah dianggap mengerti adat-istiadat kaumnya sendiri dan lebih-lebih sudah mengerti adat-istiadat orang lain yang akan didatanginya.
Jadi orang yang ditunjuk sebagai pemimpin rombongan ini adalah orang yang arif dan bijaksana sepanjang pengertian adat.

Orang yang arif dan bijaksana menurut adat istiadat sebagai berikut :

Nan tahu condong ka maimpok
Nan tahu lantiang ka manganai
Nan tahu jo ereng jo gendeng
Nan tahu jo baso basi

Tahu dibayang kato sampai
alun bakilek lah bakalam
Salayang ikan dalam aia
Lah jaleh jantan batinonyo.

Begitu juga dengan pengertian "Balayia ba nankodoh".
Yang harus dijadikan kepala rombongan itu haruslah orang yang sudah banyak makan garamnya penghidupan (pengalaman).

Tahu di angin na basiru
Tahu jo lauik nan sadidih
Tahu di karang nan balungguak
Tahu jo ombak nan badabua

2. TUJUAN ADAT
Kita tidak akan mengaji lebih dalam HIKMAH yang terkandung dalam setiap aturan itu, sebab apapun hikmah yang kita dapat, semuanya bermuara pada suatu kata kunci yaitu membentuk individu dan masyarakat yang berbudi luhur, apakah itu adat Jawa, adat Batak, adat Sunda, adat Minang muaranya atau tujuannya akhirnya sama. Yang berbeda hanyalah caranya sesuai dengan ajaran adat yang dianutnya.

Konsekuensi dari rumusan ini adalah bilamana terjadi suatu cara yang berbeda antara kita dengan suku lain, maka janganlah cepat mengatakan orang "tak beradat". Yang benar adalah "adatnya" yang berbeda dengan adat kita.

3. KLASIFIKASI ADAT
Sebagai perbandingan dapat kita lihatkan perbedaan BUDAYA antar bangsa. Orang Barat/Indonesia umumnya menganut paham "LADY FIRST", Bundo Kanduang yang utama, tapi orang Jepang menganut paham Kesatria, OTOKO NO ICHIBAN, prialah yang nomor satu.

Karenanya kalau naik mobil wanitalah yang naik kemudian, pria Jepanglah yang naik duluan. Kita jangan tersinggung melihat adegan yang demikian.
Begitu juga orang Minang kalau makan, Bapak-bapaknya dulu, "kami bialah kudian" kata ibu-ibu, tapi di tempat lain adalah "Lady First". Dalam hal yang demikian ini Adat Minangkabau mengajarkan :

Lain padang lain belalang
Lain lubuk lain ikannya.

Di sini kita akan menunjukkan bahwa "Adat Minang" sebenarnya tidak pernah komplikasi dengan adat lain manapun apalagi akan berkonfrontasi, sebab adat Minang mempunyai daya lentur yang amat tinggi yang memungkinkan ia hidup berabad-abad lamanya sampai sekarang. Namun demikian daya lentur (fleksibilitas) adat Minang itu mempunyai klasifikasi tersendiri, mulai dari yang agak kaku (rigid) sampai pada yang sangat luwes. Daya lentur ini dapat dilihat dari pembagian adat Minang yang dibagi 4 (empat) sebagai berikut :

a. Adat nan Saban Adat
Yang dimaksud dengan "adat sabana adat" adalah "Aturan Pokok dan Falsafah" yang mendasari kehidupan suku Minang yang berlaku turun temurun tanpa pengaruh oleh tempat, waktu, dan keadaan, sebagaimana dikiaskan dalam kata-kata adat :

Nan indak lakang dek paneh
Nan indak lapuak dek hujan
Paling-paling balumuik dek cindawan

"Adat nan Sabana Adat" ini merupakan Undang-undang Dasarnya Adat Minang (UUD-ADAT) yang tak boleh diubah. "Adat nan Sabana Adat" ini pada dasarnya berlaku umum di seantero "Ranah Minang" baik Luhak nan Tigo maupun di rantau.

Yang termasuk dalam ADAT NAN SABANA ADAT ini adalah :
1. Silsilah keturunan menurut jalur garis ibu yang lazim disebut garis keturunan Matrilinial.

2. Perkawinan dengan pihak luar pesukuan yang lazim dikenal dengan tata perkawinan Eksogami, dan suami yang bertempat tinggal dalam lingkungan kerabat isteri yang disebut Matrilocal

3. Harta pusaka tinggi yang turun temurun menurut garis ibu dan menjadi miliki bersama "sejurai" yang tidak boleh diperjual belikan, kecuali punah.

4. Falsafah "alam takambang jadi guru" dijadikan landasan utama pendidikan alamiah dan rasional dan menolak pendidikan mistik dan irrasional (takhyul).

Keempat hal tersebut diatas menurut kami termasuk dalam klasifikasi "adat nan sabana adat" yang daya lenturnya sangat kuat dan sulit digoyahkan. Tapi kalau sampai goyah, seluruh adat Minang pun akan rusak karena ke 4 hal tersebut di atas Tonggak Tuonya adat Minang.

b. Adat nan Diadatkan
Yang dimaksud dengan "Adat yang Diadatkan" adalah "Peraturan Setempat" yang diambil dengan kata mufakat, ataupun kebiasaan yang sudah berlaku umum dalam "suatu nagari".

Perubahaan atas "Peraturan setempat" ini hanya dapat dilakukan dengan permufakatan pihak-pihak yang tersangkut dengan Peraturan itu sesuai dengan pepapatah :

Nan elok dipakai jo mufakat
Nan buruak dibuang jo hetongan
Adat habih dek bakarilahan

Adat nan diadatkan ini dengan sendirinya hanya berlaku dalam "satu nagari" dan karenanya tak boleh dipaksakan untuk juga berlaku umum di "nagari" lain. Yang termasuk dalam "Adat yang Diadatkan" ini antara lain mengenai tata cara, syarat-syarat dan upacara Pengangkatan Penghulu; tata-cara, syarat-syarat dan upacara Perkawinan, yang berlaku dalam tiap-tiap nagari.

c. Adat nan Teradat
Yang dimaksud dengan "Adat nan Teradat" adalah kebiasaan dalam kehidupan masyarakat yang boleh ditambah atau dikurangi dan bahkan boleh ditinggalkan, selama tidak menyalahi "landasan berpikir" orang Minang yaitu alua-patuik raso-pareso; anggo-tanggo dan musyawarah. "Adat nan Teradat" ini dengan sendirinya menyangkut pengaturan tingkah laku dan kebiasaan pribadi orang perorangan, seperti tata-cara berpakaian, makan minum dan seterusnya.

Dahulu misalnya para pemuda di kampung biasa memakai kain sarung; kini sudah terbiasa memakai celana; malah sudah dengan Blue-Jeans. Dulu stiap Muslim Minang pulang haji pakai saroban, sekarang sudah biasa pakai peci, malah sering tanpa tutup kepala. Dulu orang Minang, biasa makan dengan tangan-telanjang, kini sudah biasa pula memakai sendok garpu. Perubahan tata cara ini dianggap tidak melanggar adat.

d. Adat Istiadat
Yang dimaksud dengan Adat Istiadat adalah aneka kelaziman dalam suatu nagari yang mengikuti pasang naik dan pasang surut situasi masyarakat.
Kelaziman ini pada umumnya menyangkut pengejawatahan unjuk rasa seni budaya masyarakat, seperti acara-acara keramaian anak nagari, seperti pertunjukan randai, saluang, rabab, tari-tarian dan aneka kesenian yang dihubungkan dengan upacara perhelatan perkawinan, pengangkatan penghulu maupun untuk menghormati kedatangan tamu agung.

Adat istiadat semacam ini sangat tergantung pada situasi sosial ekonomi masyarakat. Bila sedang panen baik biasanya megah meriah, begitu pula bila keadaan sebaliknya.

Disamping pembagian 4 tingkat adat diatas, masih ada satu pengaturan adat yang bersifat khusus dan merupakan ketentuan yang berlaku umum, baik di ranah maupun di rantau.

Pengaturan itu adalah apa yang dikenal dengan Limbago Nan Sapuluah yang menjadi dasar dari Hukum Adat Minang.

Yang termasuk dalam Limbago nan Sapuluah ini adalah "Cupak nan Duo"; Undang nan Ampek dan Kato nan Ampek; yang menjadi patokan hukum yang berlaku di seantero ranah Minang.

Sumber: Buletin Sungai Puar No. 26 Juli 1988
andreandhika - 05/11/2009 10:42 AM
#68

Orang Minangkabau dengan Kesusasteraannya

Spoiler for Isi

Pengertian istilah kesusasteraan seperti yang kita pahami sekarang tidak bersua dalam kehidupan Minangkabau, oleh karena Minangkabau tidak mempunyai aksara.

Oleh sebab itu penggunaan istilah kesusasteraan didalam pembicaraan kita sekarang, hendaklah disesuaikan dengan pola kebudayaan Minangkabau yang tidak mempunyai aksara itu.

Sebagaimana yang kita pahamkan, bahwa alat kesusasteraan itu adalah bahasa. Bahasa menurut pengertian orang Minangkabau adalah dua. Pertama adalah sebagai alat komunikasi antara sesama manusia sedangkan kedua adalah sebagai tatakerama didalam kehidupannya.

Terhadap istilah bahasa menurut pendapat yang pertama umumnya orang Minangkabau menyebutnya dengan istilah "kato". Sedang menurut penertian yang kedua adalah "baso", yang diiringi dengan "basi" hingga menjadi "baso-basi".

Menurut baso basi (basa basi) orang Minangkabau didalam berkato kato (berkata kata) ditemui 4 gaya bahasanya. Yakni :
1. Kato mandata
2. kato malereang
3. kato manurun
4. kato mandaki

Dari cara berbahasa demikian, lahirlah bahasa yang mempunyai nilai-nilai kesusasteraan dalam bentuk kata atau perumpamaan yang plastis. Bahkan dalam percakapan pendek sehari-hari orang Minangkabau sudah sangat terbiasa menggunakan ungkapan-ungkapan yang plastis itu.
Sebagai contoh :

# Dua orang perempuan bertemu, yang seorang mengabarkan bahwa teman mereka melahirkan anak dan timbullah tanya jawab :

T : Ba'a anaknyo
J : Amainyo

T : Lai gapuak
J : kundua

T : Lai putiah
J : Ganiah

Maksudnya adalah hendak menerangkan bahwa bayi itu perempuan seperti ibunya, gemuk seperti buah kundur dan kulitnya putih seperti kain kapas.

# Dua orang pemuka masyarakat bertemu yang seorang menceritakan bahwa ia baru datang dari menghadiri suatu pertemuan yang diadakan oleh pejabat. Timbullah tanya jawab seperti berikut :

T : Ba'a pidato apaktu ?
J : Sapanjang tali baruak

T : Ba'a isinyo ?
J : aia matah sajo

Maksudnya ialah hendak menerangkan bahwa pidato bapak pejabat itu bertele tele dan isinya tidak ada apa apa.

# Seorang pedagang bertemu, yang seorang menceritakan bahwa ia baru kembali dari pasar. Timbullah tanya jawab :

T : Lai rami pakan tadi ?
J : Dapek balari kudo hilia mudiak

T : baa jua bali ?
J : pai hampok pulang aban

Maksud jawaban ialah pasar sepi kuda dapat berlari didalamnya, dan jual beli tidak membawa untung.

Penggunaan bahasa yang plastis ini termasuk gaya bahasa kato mandata. Konon pula didalamnya menggunakan kato malereang, yakni bahasa yang digunakan kepada orang yang disegani, seperti bahasa antara menantu dan mertua, antara ipar dan besan, maka penuhlah bahasa yang diucapkan itu dengan kiasan, sindiran, ibarat atau perumpaan sebagainya.

Karena demikian mesranya hubungan manusia dengan bahasanya yang penuh dengan kata-kata dan kalimat kalimat plastis itu. Maka tidaklah heran para ahli bahasa berkecendrungan untuk mengatakan kalimat dan kata-kata Minangkabau itu sebagai peribahasa. Sehingga dalam buku pribahasa yang disusun oleh K. St. Pamuncak cs terdapat banyak sekali ungkapan-ungkapan bahasa Minangkabau dimasukkan. Dari 1000 peribahasa ditemui 294 peribahasa berasal dari Minangkabau.

Orang Minangkabau sangat ahli dalam menggunakan peribahasa oleh karena kehendak-kehendak peradabannya, sebuah peribahasa berbunyi :

Manusia tahan kias, Kerbau tahan Palu

Dapatlah membayangkan betapa bentuk ajaran dalam berkata kata. Orang yang tidak mampu memahami kiasan atau sindiran akan dipandang sebagai seorang bebal, tidak berperasaan. Oleh karena itu perbendaharaan peribahasa orang Minangkabau sangatlah kaya.

Kekayaan itu tidak hanya didalam percakapan yang berkenaan dengan rundingan, mupakat ataupun musyawarah, maka gaya bahasa yang dipakainya tersusun dalam gaya bahasa yang liriknya dengan tekanan-tekanan kata yang teratur sehingga seolah-olah dapat diiringi musik yang bertempo 4/4, seperti irama pantun.

Berpantun bukanlah karya seorang sastrawan, berpantun adalah satu kelaziman umum di Minangkabau sebgaimana lazimnya orang berjalan kaki.
Sehingga setiap orang akan memahami apa makna dari kalimat sampiran pantun jika diucapkan. Bahkan bukan jarang tersua didalam kehidupan sehari-hari orang mengucapkan sepatah dua sampiran sebuah pantun. Umpanya orang berkata :

"alah lompong sagu awak den"

Maka lawan bicara sudah mengetahui bahwa yang dimaksudkannya adalah "alah malapeh hao aden". Ucapan itu ditemukan didalam pantun yang berbunyi sebagai berikut :

Lompong sagu bagulo lawang
Di tangah tangah bakarambia mudo
nan katuju diambiak urang
Awak juo malapeh hao.

Berperibahasa, berpantun bagi orang Minangkabau terutama bagi Ninik Mamak sama dengan berayat dan berhadist bagi ulama Islam. Bahkan kemahiran berperibahasa itu dipandang sebagai lambang tertinggi dari kecendikiawanan seseorang.

Demikian melekat dengan mesranya kesusasteraan itu didalam kehidupan sehari-hari orang seorang dan didalam kebudayaan Minangkabau.
Kesusasteraan Minangkabau adalah kesusasteraan lidah, karena Minangkabau tidak mempunyai aksara. Kesusasteraan tanpa aksara ini menyebabkan tumbuhnya permainan kata yang turun-temurun secara beranting dari generasi ke generasi berikutnya, dari ninik turun kemamak, dari mamak turun ke kemenakan.

Permainan kata ini dibentuk oleh satu acuan yang tetap, sehingga kalimatnya disambut dan diteruskan oleh generasi tanpa merobah-robahnya, agar tidak merobah arti.

Bisa jadi permainan kata, yang biasa disebutkan orang sekarang dengan peribahasa itu, tidak mungkin berkembang karena telah dibentuk oleh suatu acuan yang tetap. Namun kejadiannya tidaklah demikian. Karena generasi berikutnya masih dapat menyumbangkan kekayaan fantasinya dengan kata-kata atau kalimat kalimat sinonim baru untuk memperkaya kesusasteraan Minagkabau itu.

Lain halnya dengan kesusasteraan yang mempunyai aksara, yang diciptakan oleh individu atas namanya sendiri, maka kesusasteraan Minangkabau yang ano... dan tampa aksara itu menjadi intim didalam kehidupan masyarakat umum sebagai karya kolektif.

Ia menjadi lebih menyebar dan menyelusup keseluruh liku-liku penghidupan, baik di lapau, surau, tepian, gelanggang, pematang, buaian anak hingga kerumah gadang dan balairung adat.

Dapatlah dikatakan bahwa pembinaan kesusasteraan Minangkabau menjadi lebih padu dengan pembawaan bangsanya. Atau dapat juga dikatakan bahwa oleh pembawaan bangsa yang dicetak oleh kebudayaan Minangkabau, maka fungsi kesusasteraan menjadi lebih berarti. Berpantun, berkias, berumpama, adalah bahasa percakapan yang sopan didalam kehidupan Minangkabau.
Sehingga orang orang sekarang yang berpikir eksat karena memperoleh pendidikan kebudayaan lain, menjadi sulit berkomunikasi dengan orang Minangkabau.

"Angguak anggak, geleang amuah"

Yang menjadi sebagai ciri-ciri orang Minangkabau, dipandang sebagai suatu sikap negatif oleh orang-orang sekarang.

Pandangan yang demikian pada dasarnya adalah pandangan yang keliru, yang tumbuh dari pikiran-pikiran yang hendak menguasai. Orang Minangkabau yang dipanggil atau diajak mengikuti rapat yang tidak disukainya, akan menyetujui segala yang disodorkan sesegeranya, artinya ia menganggukkan segala ucapan dan putusan yang diambil. Tetapi tidak berarti ia menyetujui melainkan ia menghendaki rapat cepat selesai. Tapi kalau ia menyetujui rapat itu kepalanya akan menggeleng geleng sebagai tanda bahwa apa yang diperkatakan didalam rapat itu menarik hatinya. Terutama kalau sudah banyak pertanyaan dan debat diajukan itu artinya rapat berhasil dengan baik.

Orang Minangkabau tidak lazim berkata terus terang secara blak-blakan, karena ucapan demikian dianggap kurang beradab, tidak sopan dan tidak tahu di adat. Mereka lebih suka berbicara hereng gendeng dengan memakai ungkapan ungkapan yang plastis bergaya lirik.

Adalah karena orang Minangkabau berpembawaan demikian, sangat mahir bermain kata, tahu memilih kalimat-kalimat yang mengena, memungkinkan dia jadi ahli pidato yang pintar.

Kesusasteraan orang Minangkabau yang terkemuka adalah : kata, umpama, pantun dan Tambo. Kata menurut bahasa Minangkabau ialah "kato" dengan bagiannya seperti pepatah, petitih, mamangan yang telah kita bahas terlebih dahulu.

Sindiran, kiasan, ibarat dan pameo dijumpai didalam perkataan sehari hari, sedang pantun dan tanbo adalah hasil kesusasteraan dalam pengertian kita dewasa ini.

Sumber : Buletin Sungai Puar No 44 Oktober 1993
andreandhika - 07/11/2009 12:16 AM
#69

Balairung dan Masjid

Spoiler for Isi

Balairung ialah bangunan yang digunakan sebagai tempat para penghulu mengadakan rapat tentang urusan pemerintah nagari dan menyidangkan perkara atau pengadilan. Bentuknya sama dengan rumah gadang, yaitu diba ngun di atas tiang dengan atap yang bergonjong-gonjong, tetapi kolongnya lebih rendah dan kolong rumah gadang. Tidak berdaun pintu dan berdaun jendela. Ada kalanya balairung itu tidak berdinding sama sekali, sehingga penghulu yang mengadakan rapat dapat diikuti oleh umum seluas-luasnya.

Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau
Balairung (Balai Adat) Dari Kelarasan Koto Piliang yang terdapat di Batipuh, beberapa Km dari Padang Panjang

Seperti dalam hal rumah gadang, maka kedua kelarasan yang berbeda aliran itu mempunyai perbedaan pula dalam bentuk balairung masing-masing. Balai rung kelarasan Koto Piliang mempunyai anjung pada kedua ujungnya dengan Iantai yang lebih tinggi. Lantai yang lebih tinggi digunakan sebagai tempat penghulu pucuk. Anjungnya ditempati raja atau wakilnya. Pada masa dahulu, lantai di tengah balairung itu diputus, agar kendaraan raja dapat langsung memasuki ruangan. Lantai yang terputus di tengah itu disebut lebuh gajah. Sedangkan balairung kelarasan Bodi Caniago tidak mempunyai anjung dan lantainya rata dan ujung ke ujung.

Balairung dari aliran ketiga, seperti yang terdapat di Nagari tabek, Pariangan, yang dianggap sebagai balairung yang tertua, merupakan tipe lain. Balairung ini diberi labuah gajah, tetapi tidak mempunyai anjung. Bangunannya rendah dan tanpa dinding sama sekali, sehingga setiap orang dapat melihat permufakatan yang diadakan di atasnya.

Tipe lain dan balairung itu ialah yang terdapat di Nagari Sulit Air. Pada halaman depan diberi parit, sehingga setiap orang yang akan masuk ke balai rung harus melompat lebih dahulu. Pintu balairung diletakkan pada lantai dengan tangganya di kolong, sehingga setiap orang yang akan naik ke balairung itu harus membungkuk di bawah lantai.

Balairung hanya boleh didirikan di perkampungan yang berstatus nagari. Balainya pada nagari yang penduduknya terdiri dan penganut kedua aliran kelarasan, bentuknya seperti balairung Koto Piliang, tetapi dalam persidangan yang diadakan di sana lantai yang bertingkat tidak dipakai. Ini merupakan suatu sikap toleransi yang disebutkan dengan kata “habis adat oleh kerelaan”.

Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau
Mesjid Kotopiliang

Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau
Mesjid Bodi Chaniago

Apabila balairung digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan, maka masjid merupakan pusat kegiatan kerohanian dan ibadah. Masjid hanya boleh didirikan di nagari dan koto. Bentuk bangunannya selaras dengan rumah gadang, yakni dindingnya mengembang ke atas dalam bentuk yang bersegi empat yang sama panjang sisinya. Atapnya lancip menjulang tinggi dalam tiga tingkat. Di samping masjid, juga didapati pula semacam bangunan yang dinamakan surau. Jika masjid adalah milik nagari, maka surau adalah milik kaum. Surau digunakan juga sebagai asrama kaum laki-laki, duda, dan bujangan. Di surau itulah tiap kaum memberikan pendidikan ilmu pengetahuan kepada anak-anak muda.

Sumber: www.cimbuak.net
el^tujuh - 07/11/2009 07:54 AM
#70

nice thread thumbup:
radjomaggek Jr - 07/11/2009 08:22 AM
#71

Mangstafs ingpoh nyo da...thumbup:
andreandhika - 07/11/2009 08:50 AM
#72

Quote:
Original Posted By el^tujuh
nice thread thumbup:


Quote:
Original Posted By radjomaggek Jr
Mangstafs ingpoh nyo da...thumbup:


mokasih da el, mokasih da radjo \)
andreandhika - 07/11/2009 08:52 AM
#73

Implementasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Di Tengah Masyaraakat Minangkabau Bag.1

Spoiler for Isi

الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه ، لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين ولو كره الكافرون. وأزكى صلوات الله وتسليماته على سيدنا وإمامنا، وأسوتنا وحبيبنا محمد صلى الله عليه وسلم واله ورضي الله عن أصحابه، ومن سار على ربهم إلى يوم الدين. أما بعد

Pendahuluan

Perilaku akhlak anak nagari sangat erat kaitannya dengan pemahaman syarak, Rarak Kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek, dan selanjutnya, Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso. Ungkapan ini menjadi bukti aturan beradat di dalam Masyarakat Minangkabau, sejak lama.

Sesungguhnya mestilah dipahami bahwa pembinaan masyarakat dimulai dari akar rumput, dari surau dan rumah tangga dan dari lingkungan masyarakat sendiri. Disini letak kekuatan utama. Potensi masyarakat mesti di gerakkan terpadu untuk menghidupkan tata masyarakat beradat itu.

Karena tujuan mulia yang hendak dicapai adalah mencerdaskan umat dengan terlebih dahulu menanamkan budi pekerti (akhlaq) sesuai adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah, syarak mangato adat memakai -,

Didorong hendak mengamalkan Firman Allah:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُو 575; فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ . التوبة: 122
“Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya - kekampung halamannya -, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

Ketika pemerintah mulai membuka akses lebih besar ke dunia pendidikan Islam (decade 1970-an) dengan rekonsiliasi dan penyesuaian-penyesuaian madrasah atau surau - yang terletak di jantung masyarakat -, telah berakibat program masyarakat digiring bergayut kepada pemerintah. Potensi masyarakat yang semula “berdiri diatas kaki sendiri” melemah serta merta kemandirian masyarakat mulai berkurang dan disaat yang sama gelombang penetrasi budaya dari luar sangat deras dan sulit membendungnya.

Memperkuat Umat Menghormati Perbedaan

Merosotnya peran kelembagaan adat dan syarak di Minangkabau banyak terkait oleh kurangnya pemungsian surau menjadi lembaga pendidikan anak nagari dan lemahnya pagar adat dalam kekerabatan masyarakat sehingga menjadi penyebab hilangnya daya saing pemuka adat berperan membina anak nagari.

Di sini pokok permasalahan yang amat perlu diamati.

Mendudukkan peran serta masyarakat memerlukan musyawarah dan mufakat. Kekayaan sangat berharga yang tersimpan didalam adat salingka nagari mesti digerakkan menjadi kekuatan dasar bagi membangun daerah dan negara. Perbedaan mesti dihormati.

Nabi Muhammad SAW memesankan pula, “Perbedaan di tengah-tengah umatku adalah rahmat” (Al Hadist). Perubahan adalah satu undang-undang alami, “innaz-zaman qad istadara”, - zaman berubah masa berganti (Al Hadist) -.

Kata hikmah di Minangkabau menyebutkan bahwa perbedaan semestinya dihormati, “Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”.

Kitabullah yang menjadi landasan dari syarak mangato adat memakai, menjelaskan tentang penghormatan terhadap perbedaan itu,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُم 618; شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ الحجرات: 13
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13).

Tuntutan Zaman

Seiring perkembangan zaman, masyarakat memerlukan pendidikan berkualitas (quality education) disamping itu adanya dorongan keras untuk memproduk SDM yang dapat dibeli pasar tenaga kerja juga agar dapat diujudkan duduak samo randah tagak samo tinggi dalam tata pergaulan masyarakat majemuk dan maju.

Di awal abad 18, para ulama dan ninikmamak di nagari-nagari telah menjadi penggagas dan pengasuh masyarakat dengan perguruan surau yang memiliki jalinan hubungan kuat dengan masyarakat dalam satu ikatan saling menguntungkan (symbiotic relationship).

Surau menjadi kekuatan (silent opposition) terhadap penjajahan dan penetrasi budaya dari luar. Dari surau lahir respon pemimpin dan komunitas Minangkabau menantang penjajahan budaya luar, sehingga umat kuat.

Masyarakat Minangkabau sangat akomodatif seiring pemahaman syariat dalam membentuk watak anak nagari dan kondisi ini telah menjadi pendorong masyarakat lebih maju, sangat dinamis.

Menyikapi Perubahan Zaman

Perubahan cepat globalisasi sering menompangkan riak dengan gelombang penetrasi budaya luar (asing).

Arus itu membawa akibat perilaku masyarakat, praktek pemerintahan, pengelolaan wilayah dan asset, serta perkembangan norma dan adat istiadat di banyak nagari di ranah Sumatra Barat terlalaikan. Perubahan perilaku lebih mengedepankan perebutan prestise dan kelompok berbalut materialistis dan jalan sendiri (individualistik).

Akibatnya, kepentingan bersama dan masyarakat sering di abaikan. Menyikapi perubahan sedemikian, acapkali idealisme kebudayaan Minangkabau menjadi sasaran cercaan. Indikasinya sangat tampak pada setiap upaya pencapaian hasil kebersamaan (kolektif bermasyarakat) menjadi kurang peduli di banding pencapaian hasil perorangan (individual).

Sebenarnya, nagari dalam daerah Minangkabau (Sumatra Barat) seakan sebuah republik kecil. Memiliki sistim demokrasi murni, pemerintahan sendiri, asset sendiri, wilayah sendiri, perangkat masyarakat sendiri, sumber penghasilan sendiri, bahkan hukum dan norma-norma adat sendiri. Maka “Kembali ke Nagari”, menurut hemat saya, semestinya harus lebih dititik beratkan kepada kembali banagari dalam makna kebersamaan itu.
andreandhika - 07/11/2009 08:57 AM
#74

Implementasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Di Tengah Masyaraakat Minangkabau Bag.2

Spoiler for Isi

Memahami Syarak Mangato Adat Memakai

Masyarakat adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, semestinya memahami bahwa kaedah-kaedah adat dipertajam makna dan fungsinya oleh kuatnya peran syariat.

Pelajaran-pelajaran sesuai syara’ itu, antara lain dapat diketengahkan,
1. Mengutamakan prinsip hidup berkeseimbangan

Ni’mat Allah, sangat banyak.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ النحل: 18
“Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS.16, An Nahl : 18).

Hukum Syara’ menghendaki keseimbangan hidup rohani dan jasmani ; “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist).

Keseimbangan ini semakin jelas wujud dalam kemakmuran di Minangkabau ;

“Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah banamo si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang. Bimbingan syara’, “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya” (Hadist).

2. Kesadaran kepada luasnya bumi Allah, merantaulah !

Allah telah menjadikan bumi mudah untuk digunakan. Maka berjalanlah di atas permukaan bumi, dan makanlah dari rezekiNya dan kepada Nya lah tempat kamu kembali.

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ الجمعة: 10
“Maka berpencarlah kamu diatas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”, (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

Agar supaya “jangan tetap tertinggal dan terkurung dalam lingkungan yang kecil”, dan sempit,

قَالُوْا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَا جِرُوا فِيْهَا
“Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. (QS.4, An Nisak : 97)

Merantau di Minangkabau adalah sesuatu pelajaran dalam perjalanan hidup, “Karatau madang di hulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu di rumah paguno balun. Akan tetapi, selalu ditanamkan pentingnya kehati-hatian, “Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.

3. Mencari nafkah dengan “usaha sendiri”

Memiliki jati diri, self help dengan tulang delapan kerat dengan cara amat sederhana sekalipun “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain, “Kamu ambil seutas tali, dan dengan itu kamu pergi kehutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupkan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta”. (Hadist).

Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan tanpa berupaya adalah salah , “Kefakiran (kemiskinan) membawa orang kepada kekufuran (ke-engkaran)” (Hadist).

4. Tawakkal dengan bekerja dan tidak boros.

Tawakkal adalah satu bentuk keseriusan dan tidak “hanya menyerahkan nasib” tanpa berbuat apa-apa, “Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal” (Atsar dari Shahabat). Artinya, pemahaman syarak menanamkan dinamika hidup yang tinggi.

5. Kesadaran kepada ruang dan waktu

Menyadari bahwa peredaran bumi, bulan dan matahari, pertukaran malam dan siang, menjadi bertukar musim berganti bulan dan tahun, adalah hukum alam semata.

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا(10)وَجَعَ ;لْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا(11) النبأ: 10-11
“Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu mencari nafkah hidup”. (QS.78, An Naba’ : 10-11)

6. Arif akan adanya perubahan-perubahan.

Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri, agar jangan melewati batas, dan berlebihan,

“Ka lauik riak mahampeh,
Ka karang rancam ma-aruih,
Ka pantai ombak mamacah.
Jiko mangauik kameh-kameh,
Jiko mencancang, putuih - putuih,
Lah salasai mangko-nyo sudah”.

Artinya, pemahaman syarak menekankan kepada kehidupan yang dinamis, mempunyai martabat (izzah diri), bekerja sepenuh hati, menggerakkan semua potensi yang ada, dengan tidak menyisakan kelalaian ataupun ke-engganan. Tidak berhenti sebelum sampai. Tidak berakhir sebelum benar-benar sudah.

Konsep Tata Ruang yang Jelas

Nagari di Minangkabau berada di dalam konsep tata ruang yang jelas. Basasok bajarami, Bapandam bapakuburan, Balabuah batapian, Barumah batanggo, Bakorong bakampuang, Basawah baladang, Babalai bamusajik.

Ba-balai (balairuang atau balai-balai adat) tempat musyawarah dan menetapkan hukum dan aturan ;
“Balairuang tampek manghukum,
ba-aie janieh basayak landai,
aie janiah ikan-nyo jinak,
hukum adie katonyo bana,
dandam agiae kasumaik putuih,
hukum jatuah sangketo sudah”.

Ba-musajik atau ba-surau tempat beribadah,
“Musajik tampek ba ibadah,
tampek balapa ba ma’ana,
tampek balaja al Quran 30 juz,
tampek mangaji sah jo batal” ,

Artinya ada pusat pembinaan umat untuk menjalin hubungan masyarakat yang baik (hablum-minan-naas) dan terjamin pemeliharaan ibadah dengan Khalik (hablum minallah).

Adanya balairuang dan musajik (surau) menjadi lambang utama terlaksananya hukum - kedua lembaga - balairung dan mesjid - ini merupakan dua badan hukum yang disebut dalam pepatah : “camin nan tidak kabuah, palito nan tidak padam” -di dalam pemahaman “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah., syara’ mangato adat nan kawi syara’ nan lazim”.

Kedua lembaga ini - balai adat dan surau - keberadaannya tidak dapat dipisah dan dibeda-bedakan.
“Pariangan manjadi tampuak tangkai,
Pagarruyuang pusek Tanah Data,
Tigo Luhak rang mangatokan.
Adat jo syara’ jiko bacarai,
bakeh bagantuang nan lah sakah,
tampek bapijak nan lah taban”.

Apabila kedua sarana ini berperan sempurna, maka di kelilingnya tampil kehidupan masyarakat yang berakhlaq perangai terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) itu.

“Tasindorong jajak manurun,
tatukiak jajak mandaki,
adaik jo syara’ kok tasusun,
bumi sanang padi manjadi”.

Konsep tata-ruang ini adalah salah satu kekayaan budaya yang sangat berharga di nagari dan bukti idealisme nilai budaya di Minangkabau, termasuk di dalam mengelola kekayaan alam dan pemanfaatan tanah ulayat.

“Nan lorong tanami tabu,
Nan tunggang tanami bambu,
Nan gurun buek kaparak,
Nan bancah jadikan sawah,
Nan munggu pandam pakuburan,
Nan gauang katabek ikan,
Nan padang kubangan kabau,
Nan rawang ranangan itiak”.

Tata ruang yang jelas memberikan posisi peran pengatur, pemelihara.
Pendukung sistim banagari yang terdiri dari orang ampek jinih, yang terdiri dari ninikmamak ( yakni penghulu pada setiap suku, yang sering juga disebut ninikmamak nan gadang basa batuah, atau nan di amba gadang, nan di junjung tinggi, sebagai suatu legitimasi masyarakat nan di lewakan.), alim ulama (juga disebut dengan panggilan urang siak, tuanku, bilal, katib nagari atau imam suku, dll dalam peran dan fungsinya sebagai urang surau pemimpin agama Islam.

Gelaran ini lebih menekankan kepada pemeranan fungsi ditengah denyut nadi kehidupan masyarakat (anak nagari), cerdik pandai (dapat saja terdiri dari anak nagari yang menjabat jabatan pemerintahan, para ilmuan, perguruan tinggi, hartawan, dermawan), urang mudo (yakni para remaja, angkatan muda, yang dijuluki dengan nan capek kaki ringan tangan, nan ka disuruah di sarayo).

Dan bundo kanduang (terdiri dari kalangan ibu-ibu, yang sesungguhnya ditangan mereka terletak garis keturunan dalam sistim matrilinineal dan masih berlaku hingga saat ini, lebih jelasnya di ungkap di dalam Pegangan Penghulu, Bundo Kanduang di Minangkabau, adalah menjadi

“limpapeh rumah nan gadang,
umbun puruak pegangan kunci,
pusek jalo kumpulan tali, sumarak dalam nagari,
nan gadang basa batuah”).

Maka, nagari di Minangkabau tidak sebatas pengertian ulayat hukum adat.
Lebih mengedepan dan utama adalah wilayah kesepakatan antar berbagai komponen masyarakat di dalam nagari .

Spiritnya adalah ;

a. Kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi), ditemukan dalam pepatah;

“Anggang jo kekek cari makan,
Tabang ka pantai kaduo nyo,
Panjang jo singkek pa uleh kan,
mako nyo sampai nan di cito.”

b. Keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang) atau hidupnya perilaku ditengah masyarakat dengan;
“Adat hiduik tolong manolong,
Adat mati janguak man janguak,
Adat isi bari mam-bari,
Adat tidak salang ma-nyalang”.

Basalang tenggang, artinya saling meringankan. Kesediaan memberikan dukungan terhadap kehidupan bersama. “Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an”.

c. Musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat).

“Senteng ba-bilai,
Singkek ba-uleh,
Ba-tuka ba-anjak,
Ba ubah ba-sapo”

d. Keimanan kepada Allah SWT menjadi pengikat spirit yang menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak mengenali alam keliling.
“Panggiriak pisau sirauik,
Patungkek batang lintabuang,
Satitiak jadikan lauik,
Sakapa jadikan gunuang,
Alam takambang jadikan guru “.

Alam telah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa.
Terkandung faedah kekuatan, dan khasiat yang perlu untuk mempertinggi mutu hidup jasmani manusia.
Ada keharusan berusaha membanting tulang.
Ada kewajiban memeras otak untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya itu.
Sambil menikmatinya, ada kewajiban mensyukurinya, dengan beribadah kepada Ilahi.

andreandhika - 07/11/2009 09:01 AM
#75

Implementasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Di Tengah Masyaraakat Minangkabau Bag.3

Spoiler for Isi

Kecintaan ke nagari adalah perekat yang sudah dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah.

Menjaga dari pada melewati batas-batas yang patut dan pantas.
Tidak terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak.
Menghendaki keseimbangan rohani dan jasmani.

“Jiko mangaji dari alif,
Jiko babilang dari aso,
Jiko naiak dari janjang,
Jiko turun dari tango”.

Sikap hidup ini, menjadi sumber pendorong kegiatan di bidang ekonomi. Tujuan utama untuk keperluan jasmani (material needs).

Hasilnya tergantung kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa masyarakat nagari.
Dan bergantung pula kepada tingkat kecerdasan yang telah dicapai.

Dukungan masyarakat adat dan kesepakatan tungku tigo sajarangan yang terdiri dari ninikmamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan kalangan rang mudo, menjadi penggerak utama mewujudkan tatanan sistim di nagari.

Terutama dalam menerjemahkan peraturan daerah kembali kepemerintahan nagari.

Hakekatnya, anak nagari sangat berkepentingan dalam merumuskan nagarinya.
Konsep ini mesti tumbuh dari akar nagari itu sendiri.
Tidak suatu pemberian dari luar.

“Lah masak padi ‘rang Singkarak,
masaknyo batangkai-tangkai,
satangkai jarang nan mudo,
kabek sabalik buhul sintak,
Jaranglah urang nan ma-ungkai,
Tibo nan punyo rarak sajo”,

artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya, terutama dalam menatap setiap perubahan peradaban yang tengah berlaku. Hal ini perlu dipahami, supaya jangan tersua “ibarat mengajar kuda memakan dedak”.

Masyarakat nagari tidak terdiri dari satu keturunan (suku) saja, tetapi asal muasalnya berdatangan dari berbagai daerah di sekeliling ranah bundo.

Namun mereka dapat bersatu dalam satu kaedah hinggok mancangkam tabang basitumpu atau hinggok mencari suku dan tabang mencari ibu.

“Hiyu bali balanak bali,
ikan panjang bali dahulu.
Ibu cari dunsanak cari,
induak samang cari dahulu “,

Maknanya, - yang datang dihargai, yang menanti dihormati -,
“dima bumi di pijak, di sinan langik di junjuang, di situ adaik bapakai”,
satu bentuk perilaku duduk samo randah tagak samo tinggi yang menjadi prinsip egaliter di Minangkabau.

Kalau bisa dipertajam, inilah prinsip demokrasi murni dan otoritas masyarakat yang sangat independen.

Dengan modal itu, langkah penting kedepan adalah menguasai informasi substansial, mendukung pemerintahan yang menerapkan low-enforcment, memperkuat kesatuan dan Persatuan di nagari-nagari, dengan muaranya adalah ketahanan masyarakat dan ketahanan diri yang dimulai dengan apa yang ada.

Kekayaan alam dan potensi yang terpendam dalam unsur manusia.
Kekayaan nilai-nilai budaya lengkap dengan sarana pendukungnya.
Selangkah demi selangkah mesti diberdayakan.

Melaksanakan idea self help mesti seiring dengan sikap hati-hati. Ada kesadaran tinggi bahwa setiap gerak di awasi. Kesungguhan diri ditumbuhkan dari dalam.
Tanamkan keyakinan bahwa Allah SWT satu-satunya pelindung dalam kehidupan. Masyarakat Minangkabau yang beradat dan beragama selalu hidup dengan mengenang hidup sebelum mati dan hidup sesudah hidup ini.

Sesuai peringatan Ilahi,

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ.
” Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak merobah keadan sesuatu kaum, kecuali mereka mau merubah keadaan yang ada dalam dirinya masing-masing …. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap satu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (QS.13, Ar Ra’du : 11)

Memperkuat Posisi Nagari

Tugas kembali kenagari adalah menggali potensi dan asset nagari yang terdiri dari budaya, harta, manusia, dan agama anutan anak nagari. Apabila tidak digali, akan mendatangkan kesengsaraan baru bagi masyarakat nagari. Dimulai dengan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia, masyarakat nagari.

Gali kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada dalam diri masing-masing. Kemudian observasinya dipertajam, daya pikirnya ditingkatkan, daya geraknya didinamiskan , daya ciptanya diperhalus, daya kemauannya dibangkitkan.

Upaya ini akan berhasil dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri.
“Handak kayo badikik-dikik,
Handak tuah batabua urai,
Handak mulia tapek-i janji,
Handak luruih rantangkan tali,
Handak buliah kuat mancari,
Handak namo tinggakan jaso,
Handak pandai rajin balaja.

Dek sakato mangkonyo ado,
Dek sakutu mangkonyo maju,
Dek ameh mangkonyo kameh,
Dek padi mangko manjadi.”.

Tujuannya agar sampai kepada taraf yang mampu berdiri sendiri dan membantu nagari secara selfless help, memberikan bantuan dari rezeki yang telah kita dapatkan tanpa mengharap balas jasa,

وَمَا لأحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (19) إلا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الأعْلَى (20)
“Pada hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas, tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang Maha Tinggi”. (QS.al-Lail :19- 20)

Optimisme banagari mesti selalu dipelihara,
“alah bakarih samporono,
Bingkisan rajo Majopahik,
Tuah basabab bakarano,
Pandai batenggang di nan rumik”.

Mendukung percepatan pembangunan di era otonomi daerah di Sumbar, sangat perlu disegerakan upaya upaya ;

1. Meningkatkan Mutu SDM anak nagari, dan memperkuat Potensi yang sudah ada melalui program utama,
a. menumbuhkan SDM Negari yang sehat dengan gizi cukup, meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama terapan),

b. mengokohkan pemahaman agama, sehingga anak negari menjadi sehat rohani,

c. menjaga terlaksananya dengan baik norma-norma adat, sehingga anak nagari menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).

d. Membentuk masyarakat beradat dan beragama sebagai suatu identitas yang tidak dapat ditolak dalam kembali kenagari.

2. Menggali potensi SDA di nagari, selaras perkembangan global dengan memperkuat ketahanan ekonomi rakyat. Membangun kesejahteraan bertitik tolak pembinaan unsur manusia. Dari menolong diri sendiri kepada mutual help.

Tolong-menolong adalah puncak budaya Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah. Berbagi pekerjaan (ta’awun) ajaran syarak. “Bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses produksi, dan mempertinggi mutu, yang dihasilkan. Itulah taraf ihsan yang hendak di capai.

3. Memperindah nagari dengan menumbuhkan contoh di nagari. Indicator utama adanya moral adat “nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”.
Efisiensi organisasi dengan reposisi dan refungsionisasi semua pemeranan fungsi dari elemen masyarakat.

Ketiga pengupayaan diatas menjadi satu konsepsi tata cara hidup.
Sistem sosial dalam “iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah”, adalah membina negara dan bangsa keseluruhannya untuk melaksanakan Firman Ilahi ,

وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan)”. (QS.28, Al Qashash : 77)

Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing, untuk membina umat dalam masyarakat di nagari harus diketahui pula kekuatan-kekuatan.
“Latiak-latiak tabang ka Pinang,
Hinggok di Pinang duo-duo,
Satitiak aie dalam piriang,
Sinan bamain ikan rayo”.

Teranglah sudah, bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat nagari lahir dan batin, material dan spiritual pasti akan menemui disini iklim (mental climate) yang subur.

Apabila pandai menggunakan dengan tepat akan banyak membantu usaha pembangunan itu. Melupakan atau mengabaikan ini, adalah satu kerugian. Berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.

andreandhika - 07/11/2009 09:03 AM
#76

Implementasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Di Tengah Masyaraakat Minangkabau Bag.4

Spoiler for Isi

Hakikat Syarak Mangato di Minangkabau

Peran syarak di Ranah Minang sekarang ini adalah menyadarkan umat akan peran mereka dalam membentuk diri mereka sendiri.

… إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ …
“Sesungguhnya Allah tidak akan merobah nasib satu kaum, hingga kaum itu sendiri yang berusaha merobah sikap mereka sendiri.” (QS.Ar-Ra’du : 11)

Kenyataan sosial anak nagari harus di awali dengan mengakui keberadaan mereka, menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka, menyadarkan mereka akan potensi besar yang mereka miliki, mendorong mereka kepada satu bentuk kehidupan yang bertanggung jawab. Inilah tuntutan syarak sesuai Kitabullah.

Pencapaiannya mesti melalui gerakan dakwah ilaa Allah, karena Islam adalah agama Risalah, yang ditugaskan kepada Rasul, dan penyebaran serta penyiarannya dilanjutkan oleh da’wah, untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

Rentangan sejarah mencatat “Risalah merintis, da’wah melanjutkan”. Kaedah ini mesti dipahami sebagai upaya intensif menerapkan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah, berisi petunjuk dan peringatan yang ditujukan untuk seluruh umat manusia, dan mengajak manusia dengan ilmu, hikmah dan akhlaq.

Setiap Imam, Khatib, Urang Siak, Tuanku, alim ulama suluah bendang di nagari-nagari, mesti meneladani pribadi Muhammad SAW dalam membentuk effectif leader di Medan Da’wah, menuju kepada inti dan isi Agama Islam (QS. Al Ahzab, 33 : 21).

Inti agama Islam adalah tauhid. Implementasinya adalah Akhlaq.
Umat akan menjadi baik dan kembali berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu di kembalikan, maka semestinya bertindak atas dasar syara’ dengan “Memulai dari diri da’i, mencontohkannya kepada masyarakat lain”, (Al Hadist).
Inilah cara yang tepat.

Keberhasilan upaya da’wah (gerak da’wah) memerlukan pengorganisasian (nidzam).
Bimbingan syara’ mengatakan bahwa al haqqu bi-laa nizham yaghlibuhu al baathil bin-nizam.
Maknanya, yang hak sekalipun, tidak berperaturan (organisasi) akan dikalahkan oleh kebathilan terorganisir.

Jelaslah bahwa program langkah (action planning) disetiap lini adalah keterpaduan, kebersamaan, kesepakatan, dan keteguhan.
Langkah awal dengan menghidupkan musyawarah, sesuai bimbingan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Allah menghendaki kelestarian Agama dengan kemampuan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak berlaku bersitegang.

Bahasa Syarak Adalah Bahasa Kehidupan

Koordinasi sesama akan mempertajam faktor-faktor pendukung dan akan menjadi pendorong keberhasilan menghidupkan adagium adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Aktualisasi Kitabullah, nilai-nilai Al-Qur’an, hanya dapat dilihat melalui gerakan amal yang berkesinambungan (kontinyu) dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia, seperti kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (da’wah), merapatkan potensi barisan, sehingga membuahkan agama yang mendunia.

Usaha inilah yang akan menjadi gerakan antisipatif terhadap arus globalisasi negatif pada abad-abad sekarang. Kitabullah (Al-Qur’an) telah mendeskripsikan peran agama Islam sebagai agama yang kamal (sempurna) dan nikmat yang utuh, serta agama yang di ridhai,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu, (QS.Al Maidah, 5 : 3),

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
satu-satunya Agama yang diterima di sisi Allah,yaitu Agama Islam, (QS. Ali Imran, 3 : 19).

Konsekuensinya adalah yang mencari manhaj atau tatanan selain Islam, tidak akan di ridhai,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. ( QS. Ali Imran, 3 : 85).

Karena itu bagi masyarakat adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, tidak ada pilihan lain kecuali melaksanakan tuntunan perilaku akhlak sesuai bimbingan Islam,

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah secara ikhlas, yakni orang Muslim, merekapun mengerjakan kebaikan-kebaikan” (QS. An Nisak, 4 : 125).

Setiap Muslim, dengan nilai-nilai Kitabullah (Al Qur’an) wajib mengemban missi yang berat dan mulia yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran, yang menjadi inti dari “perjalanan kepada kemajuan (al madaniyah, modernitas)”, dengan implementasi perilaku sesuai pemahaman adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Khulasah

Penerapan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di Minangkabau berkehendak kepada gerak yang utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin di raih dengan kerja sambilan, buah yang di petik, sesuai dengan bibit yang di tanam, demikian natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami).

Dalam langkah da’wah, setiap muslim berkewajiban melaksanakan tugas tabligh (menyampaikan), kemudian mengajak dan mengujudkan kehidupan beragama (bersyariat) di dunia (dinul-harakah al-alamiyyah).

Maka melibatkan semua elemen masyarakat di Minangkabau untuk menghidupkan adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah menjadi tugas bersama “umat da’wah” menurut nilai-nilai Al-Qur’an -

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran, 3 : 104 ).

Da’wah ini tidak akan berhenti dan selalu berkembang terus sesuai variasi zaman yang walaupun selalu berubah namun tetap di bawah konsep mencari ridha Allah.

Maka peran serta masyarakat yang di tuntut adalah:
1. Mengelola pembinaan anak nagari dengan peningkatan manajemen yang lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi. Melalui peningkatan ini, sumber finansial masyarakat dapat di pertanggung jawabkan secara lebih efisien dan peningkatan kualitas pembinaan umat dapat dicapai. Segi organisasi anak nagari mesti lebih viable - dapat hidup terus, berjalan tahan banting, bergairah, aktif dan giat - menurut permintaan zaman, dan durable - yakni dapat tahan lama - seiring perubahan dan tantangan zaman.

2. Peran serta masyarakat berorientasi kepada mutu menjadikan pembinaan masyarakat berkembang menjadi lembaga center of exellence, menghasilkan generasi berparadigma ilmu komprehensif, berpengetahuan agama luas dan praktis, berbudi akhlaq plus keterampilan.

3. Peningkatan peran serta masyarakat mengelola surau dalam sistim terpadu menjadi bagian integral dari masyarakat Minangkabau seluruhnya. Pengembangan surau dalam peran pembinaan dapat menjadi inti, mata dan pusar dari learning society, masyarakat belajar. Sasarannya, membuat anak nagari generasi baru menjadi terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah masyarakatnya, dengan landasan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Wabillahit taufiq wal hidayah.

Sumber : http://hmasoed.wordpress.com
Penulis : H. Mas'oed Abidin
andreandhika - 07/11/2009 09:27 AM
#77

Peraturan Adat Bag.1

Spoiler for Isi

1. Pemberian Gelar
Sesuatu yang khas Minangkabau ialah bahwa setiap laki-laki yang telah dianggap dewasa harus mempunyai gelar. Ini sesuai dengan pantun adat yang berbunyi sbb :

Pancaringek tumbuah di paga
Diambiak urang ka ambalau
ketek banamo gadang bagala
Baitu adaik di Minangkabau



Ukuran dewasa seorang laki-laki ditentukan apabila ia telah berumah tangga. Oleh karena itulah untuk setiap pemuda Minang, pada hari perkimpoiannya ia harus diberi gelar pusaka kaumnya. Menurut kebiasaan dikampung-kampung dulu, bagi seorang laki-laki yang telah beristeri rasanya kurang dihargai, kalau ia oleh fihak keluarga isterinya dipanggil dengan menyebut nama kecilnya saja.

Penyebutan gelar seorang menantu, walaupun dengan kata-kata Tan saja untuk Sutan atau Kuto saja untuk Sutan Mangkuto, telah mengungkapkan adanya sikap untuk menghormati sang menantu atau rang sumandonya. Ketentuan ini sudah tentu tidaklah berlaku bagi orang-orang tua pihak keluarga isteri yang sebelumnya juga sudah sangat akrab dan intim dengan menantu atau semendanya itu dan telah terbiasa memanggil nama.

Setiap kelompok orang seperut yang disebut satu suku didalam sistim kekerabatan Minangkabau mempunyai gelar pusaka kaum sendiri yang diturunkan dari ninik kepada mamak dan dari mamak kepada kemenakannya yang laki-laki. Gelar inilah yang diberikan sambut bersambut kepada pemuda-pemuda sepersukuan yang akan berumah tangga. Karena itu pemberian gelar untuk seorang pemuda yang akan kimpoi, harus dimintakan kepada mamaknya atau saudara laki-laki dari pihak ibu.

Selain dari mengambil gelar dari perbendaharaan suku yang ada dan telah dipakai oleh kaumnya sejak dahulu, maka gelar untuk seorang calon mempelai pria dengan persetujuan mamak-mamaknya juga dapat diambilkan dari persukuan ayahnya atau dari dalam istilah Minang disebut pusako bako. Dan yang tidak mungkin atau sangat bertentangan dengan ketentuan adat ialah mengambil gelar dari pihak persukuan calon isteri, karena dengan demikian calon mempelai pria akan dinilai sebagai perkimpoian orang sesuku.

Ketentuan untuk memberikan gelar adat kepada pemuda-pemuda yang baru kimpoi ini, tidak hanya harus berlaku dari rang sumando atau menantu-menantu yang memang berasal dari suku Minangkabau saja, tetapi juga dapat diberikan kepada orang semenda atau menantu yang berasal dari suku lain. Kepada menantu orang Jawa, orang Sunda bahkan kepada menantu orang asing sekalipun. Karena gelar seorang menantu sebenarnya lebih berguna untuk sebutan penghormatan dari pihak keluarga mempelai wanita kepada orang semenda dan menantunya itu.

Gelar yang diberikan kepada seorang pemuda yang akan kimpoi, tidak sama nilainya dengan gelar yang harus disandang oleh seorang penghulu. Gelar penghulu adalah warisan adat yang hanya bisa diturunkan kepada kemenakannya dalam suatu upacara besar dengan kesepakatan kaum setelah penghuluvyang bersangkutan meninggal dunia. Tetapi gelar untuk seorang laki-laki yang akan kimpoi dapat diberikan kepada siapa saja tanpa suatu acara adat yang khusus.

Pada umumnya gelar untuk pemuda-pemuda yang baru kimpoi ini diawali dengan Sutan. Seperti Sutan Malenggang, Sutan pamenan, Sutan Mangkuto dsb.

Ada ketentuan adat yang tersendiri dalam menempatkan orang semenda dan menantu-menantu dari suku lain ini dalam struktur kekerabatan Minangkabau. Bagaimanapun para orang semenda ini, jika telah beristerikan perempuan Minang, maka mereka itu oleh pihak keluarga mempelai wanita ditegakkan sama tinggi dan didudukkan sama rendah dengan menantu dan orang semendanya yang lain. Karena itu kalau sudah diterima sebagai menantu, masuknya kedalam kekeluargaan juga harus ditetapkan secara kokoh dengan mengikuti ketentuan-ketentuan yang sama. Ini sesuai bunyi pepatah-petitih Minangkabau :

Jikok inggok mancangkam
Jikok tabang basitumpu

Artinya segala sesuatunya itu haruslah dilaksanakan secara sepenuh hati menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku.

Nah, untuk semenda yang datang dari suku lain ini, pemberian gelar juga tidak boleh diambilkan dari perbendaharaan gelar yang ada dalam kaum ninik mamak mempelai wanita, karena jatuhnya nanti juga jadi perkimpoian sesuku. Tetapi dapat diambilkan dari perbendaharaan gelar yang ada di keluarga ayah mempelai wanita atau disebut juga dari keluarga bako.

Atau bisa juga menurut prosedur yang agak berbelit yaitu calon menantu dijadikan anak kemenakan dulu oleh ninik mamak suku lain yang bukan suku mempelai wanita, kemudian ninik mamak suku yang lain ini memberikan gelar adat yang ada disukunya kepada calon orang semenda itu.

Pemberian gelar untuk calon menantu inilah, baik ia orang Minang maupun orang dari suku dan bangsa lain, yang wajib disebutkan pada waktu berlangsungnya sambah-manyambah dalam acara manjapuik marapulai. Hal ini ditanyakan oleh juru bicara rombongan calon mempelai pria yang menanti. Kemudian disebutkan pula secara resmi ditengah-tengah orang ramai setelah selesai acara akad nikah secara Islami. Inilah yang disebut dalam pepatah petitih :

Indak basuluah batang pisang
Basuluah bulan jo matoari
Bagalanggang mato rang banyak

Pengumuman gelar mempelai pria secara resmi setelah selesai acara akad nikah ini sebaiknya disampaikan langsung oleh ninik mamak keluarga mempelai pria, atau bisa juga disampaikan oleh pembawa acara. Dalam pengumuman itu disebutkan secara lengkap dari suku dan kampung mana gelar itu diambilkan.

Sumber : www.cimbuak.net
andreandhika - 07/11/2009 09:30 AM
#78

Peraturan Adat Bag.2

Spoiler for Isi

2. Upacara Adat


1. Upacara Sepanjang Kehidupan Manusia

Upacara sepanjang kehidupan manusia ini dapat pula dibedakan sbb:

Lahir yang didahului oleh upacara kehamilan
Upacara Karek Pusek (Kerat pusat)
Upacara Turun Mandi dan Kekah (Akekah)
Upacara Sunat Rasul
Mengaji di Surau
Tamat Kaji (khatam Qur'an)

Setelah melalui upacara-upacara pada masa kehamilan dan sampai lahir dan seterusnya maka dilanjutkan dengan acara-acara semasa remaja dan terutama sekali bagi anak laki-laki. Pada masa remaja ada pula acara-acara yang dilakukan berkaitan dengan ilmu pengetahuan adat dan agama. Upacara-upacara semasa remaja ini adalah sbb:

manjalang guru (menemui guru) untuk belajar. Orang tua atau mamak menemui guru tempat anak kemenakannya menuntut ilmu. Apakah guru dibidang agama atau adat. Anak atau keponakannya diserahkan untuk dididik sampai memperoleh ilmu pengetahuan yang diingini.

Balimau. Biasanya murid yang dididik mandi berlimau dibawah bimbingan gurunya. Upacara ini sebagai perlambang bahwa anak didiknya dibersihkan lahirnya terlebih dahulu kemudian diisi batinnya dengan ilmu pengetahuan.
Batutue (bertutur) atau bercerita. Anak didik mendapatkan pengetahuan dengan cara gurunya bercerita. Di dalam cerita terdapat pengajaran adat dan agama.

Mengaji adat istiadat. Didalam pelajaran ini anak didik mendapat pengetahuan yang berkaitan dengan Tambo Alam Minangkabau dan Tambo Adat.

baraja tari sewa dan pancak silek (belajar tari sewa dan pencak silat). Untuk keterampilan dan ilmu beladiri maka anak didik berguru yang sudah kenamaan.

Mangaji halam jo haram (mengaji halal dengan haram). Pengetahuan ini berkaitan dengan pengajaran agama.

Mengaji nan kuriek kundi nan merah sago, nan baiek budi nan indah baso (mengaji yang kurik kundi nan merah sago, yang baik budi nan indah baso), pengajaran yang berkaitan dengan adat istiadat dan moral.

Setelah dewasa maka upacara selanjutnya adalah upacara perkimpoian. Pada umumnya masyarakat Minangkabau beragama Islam, oleh karena itu dalam masalah nikah kimpoi sudah tentu dilakukan sepanjang Syarak. Dalam pelaksanaan nikah kimpoi dikatakan "nikah jo parampuan, kimpoi dengan kaluarga". Dengan pengertian ijab kabul dengan perantaraan walinya sepanjang Syarak, namun pada hakekatnya mempertemukan dua keluarga besar, dua kaum, malahan antara keluarga nagari. Pada masa dahulu perkimpoian harus didukung oleh kedua keluarga dan tidak membiarkan atas kemauan muda-mudi saja. Dalam proses perkimpoian acara yang dilakukan adalah sbb:

Pinang-maminang (pinang-meminang)
Mambuek janji (membuat janji)
Anta ameh (antar emas), timbang tando (timbang tando)
Nikah
Jampuik anta (jemput antar)
Manjalang, manjanguak kandang (mengunjungi, menjenguk kandang). Maksudnya keluarga laki-laki datang ke rumah calon istri anaknya
Baganyie (merajuk)
Bamadu (bermadu)
Dalam acara perkimpoian setiap pertemuan antara keluarga perempuan dengan keluarga laki-laki tidak ketinggalan pidato pasambahan secara adat.

Akhir kehidupan di dunia adalah kematian. Pada upacara yang berkaitan dengan kematian tidak terlepas dari upacara yang berkaitan dengan adat dan yang bernafaskan keagamaan. Acara-acara yang diadakan sebelum dan sesudah kematian adalah sbb:

Sakik basilau, mati bajanguak (sakit dilihat, mati dijenguk)
Anta kapan dari bako (antar kafan dari bako)
Cabiek kapan, mandi maik (mencabik kafan dan memandikan mayat)
Kacang pali (mengantarkan jenazah kek kuburan)
Doa talakin panjang di kuburan
Mengaji tiga hari dan memperingati dengan acara hari ketiga, ketujuh hari, keempat puluh hari, seratus hari dan malahan yang keseribu hari. Pada masa dahulu acara-acara ini memerlukan biaya yang besar.

2. Upacara Yang Berkaitan dengan Perekonomian

Upacara yang berkaitan dengan perekonomian seperti turun kesawah, membuka perladangan baru yang dilakukan dengan upacara-upacara adat. Untuk turun kesawah secara serentak juga diatur oleh adat. Para pemangku adat mengadakan pertemuan terlebih dahulu, bila diadakan gotong royong memperbaiki tali bandar dan turun kesawah. Untuk menyatakan rasa syukur atas rahmat yang diperoleh dari hasil pertanian biasanya diadakan upacara-upacara yang bersifat keluarga maupun melibatkan masyarakat yang ada dalam kampung. Pada masa dahulu diadakan pula upacara maulu tahun (hulu tahun), maksudnya pemotongan padi yang pertama sebelum panen keseluruhan. Diadakan upacara selamatan dengan memakan beras hulu tahun ini. Upacara dihadiri oleh Ulama dan Ninik mamak serta sanak keluarga. Adapun acara yang berkaitan dengan turun kesawah ini adalah sbb:

Gotong royong membersihkan tali bandar
Turun baniah, maksudnya menyemaikan benih
Turun kasawah (turun ke sawah)
Batanam (bertanam)
Anta nasi (megantarkan nasi)
Basiang padi (membersihkan tanaman yang mengganggu padi)
Tolak bala (upacara untuk menolak segala malapetaka yang mungkin menggagalkan pertanian)
manggaro buruang (mengusir burung)
Manuai (menuai), manyabik padi (potong padi)
Makan ulu tahun (makan hulu pertahunan)
Tungkuk bubuang (telungkup bubung)
Zakat.

3. Upacara Selamatan

Dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat banyak ditemui upacara selamatan. Bila diperhatikan ada yang sudah diwarisi sebelum Islam masuk ke Minangkabau. Doa selamat ini untuk menyatakan syukur atau doa selamat agar mendapat lindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa upacara yang termasuk doa selamatan ini seperti :

Upacara selamatan atas kelahiran, turun mandi, bacukua (bercukur), atau memotong rambut pertama kali.

Upacara selamatan dari suatu niat atau melepas nazar. Sebagai contoh setelah sekian lama sakit dan si sakit kemudian atau keluarganya berniat bila seandainya sembuh akan dipanggil orang siak dan sanak famili untuk menghadiri upacara selamatan.

Selamat pekerjaan selesai.
Selamat pulang pergi naik haji
Selamat lepas dari suatu bahaya
Selamat hari raya
Selamat kusuik salasai, karuah manjadi janiah (selamat kusut selesai, keruh menjadi jernih).

Upacara selamat diadakan karena adanya penyelesaian mengenai suatu permasalahan baik yang menyangkut dengan masalah kekeluargaan maupun yang menyangkut dengan adat, Maulud nabi,dll

Dengan banyaknya upacara yang dilakukan dalam masyarakat Minangkabau secara tidak langsung juga sebagai sarana komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat dan juga dalam alih generasi yang berkaitan dengan adat dan agama di Minangkabau.

Sumber : www.cimbuak.net
andreandhika - 07/11/2009 09:51 AM
#79

Peraturan Adat Bag.3

Spoiler for Isi

3. P E N G H U L U

1.*Arti Penghulu

Setelah nenek moyang orang Minang mempunyai tempat tinggal yang tetap maka untuk menjamin kerukunan, ketertiban, perdamaian dan kesejahteraan keluarga, dibentuklah semacam pemerintahan suku.
Tiap suku dikepalai oleh seorang Penghulu Suku.

Hulu artinya pangkal, asal-usul, kepala atau pemimpin. Hulu sungai artinya pangkal atau asal sungai yaitu tempat dimana sungai itu berasal atau berpangkal. Kalang hulu artinya penggalang atau pengganjal kepala atau bantal.

Penghulu berarti Kepala Kaum
Semua Penghulu mempunyai gelar Datuk
Datuk artinya " Orang berilmu - orang pandai yang di Tuakan" atau Datu-datu.

Kedudukan penghulu dalam tiap nagari tidak sama. Ada nagari yang penghulunya mempunyai kedudukan yang setingkat dan sederajat. Dalam pepatah adat disebut "duduk sama rendah tegak sama tinggi". Penghulu yang setingkat dan sederajat ini adalah di nagari yang menganut "laras" (aliran) Bodi-Caniago dari keturunan Datuk Perpatih nan Sabatang.

Sebaliknya ada pula nagari yang berkedudukan penghulunyu bertingkat-tingkat yang didalam adat disebut "Berjenjang naik bertangga turun", yaitu para Penghulu yang menganut laras (aliran) Koto - Piliang dari ajaran Datuk Katumanggungan.

Balai Adat dari kedua laras ini juga berbeda. Balai Adat dari laras Bodi Caniago dari ajaran Datuk Perpatih nan Sabatang lantainya rata, melambangkan "duduk sama rendah - tegak sama tinggi".

Balai Adat dari laras Koto Piliang yang menganut ajaran Datuk Katumanggungan lantainya mempunyai anjuang di kiri kanan, yang melambangkan kedudukan Penghulu yang tidak sama, tetapi "berjenjang naik - batanggo turun".

Kendatipun kedudukan para penghulu berbeda di kedua ajaran adat itu, namun keduanya menganut paham demokrasi. Demokrasi itu tidak ditunjukkan pada cara duduknya dalam persidangan, dan juga bentuk balai adatnya yang memang berbeda, tetapi demokrasinya ditentukan pada sistem "musyawarah - mufakat". Kedua sistem itu menempuh cara yang sama dalam mengambil keputusan yaitu dengan cara "musyawarah untuk mufakat".

2.*Kedudukan dan peranan penghulu

Di dalam pepatah adat disebut;
Luhak Bapanghulu
Rantau barajo
Hal ini berarti bahwa penguasa tertinggi pengaturan masyarakat adat di daerah Luhak nan tigo - pertama Luhak Tanah Datar - kedua Luhak Agam dan ketiga Luhak 50-Koto berada ditangan para penghulu. Jadi penghulu pemegang peranan utama dalam kehidupan masyarakat Adat.
Pepatah merumuskan kedudukan dan peranan penghulu itu sebagai berikut;
Nan tinggi tampak jauh *(Yang tinggi tampak jauh)
Nan gadang jolong basuo *(Yang besar mula ketemu)
Kayu gadang di tangah padang *(Pohon besar di tengah padang)
Tampek balinduang kapanasan *(Tempat berlindung kepanasan)
Tampek bataduah kahujanan *(Tempat berteduh kehujanan)
Ureknyo tampek baselo *(Uratnya tempat bersila)
Batangnyo tampek basanda *(Batangnya tempat bersandar)
pai tampek batanyo *(Pergi tempat bertanya)
Pulang tampek babarito *Pulang tempat berberita
Biang nan akan menambuakkan (*Biang yang akan menembus)
Gantiang nan akan mamutuihkan (*Genting yang akan memutus)
Tampek mangadu sasak sampik *(Tempat mengadu kesulitan)

Dengan ringkas dapat dirumuskan kedudukan dan peranan Penghulu sebagai berikut;
Sebagai pemimpin yang diangkat bersama oleh kaumnya sesuai rumusan adat
Jadi Penghulu sakato kaum
Jadi Rajo sakato alam
Sebagai pelindung bagi sesama anggota kaumnya.
Sebagai Hakim yang memutuskan semua masalah dan silang sengketa dalam kaumnya.
Sebagai tumpuan harapan dalam mengatasi kehidupan kaumnya.

3. Syarat-syarat untuk menjadi Penghulu

Baik buruknya keadaan masyarakat adat akan ditentukan oleh baik buruknya Penghulu dalam menjalankan keempat fungsi utamanya diatas.
Pepatah menyebutkan sebagai berikut;

Elok Nagari dek Penghulu
Elok tapian dek nan mudo
Elok musajik dek Tuanku
Elok rumah dek Bundo Kanduang.

Oleh karena Penghulu mempunyai tugas yang berat dan peranan yang sangat menentukan dalam masyarakat adat, maka dengan sendirinya yang harus diangkat jadi penghulu itu, adalah orang yang mempunyai "bobot" atas sifat-sifat tertentu.

Perlu dicatat disini bahwa Adat Minang secara mutlak menetapkan bahwa penghulu hanya pria dan tidak boleh wanita. Disini jelas dan mutlak pula bahwa sistem kekerabatan matrilinial tidak dapat diartikan dengan "wanita yang berkuasa". Satu dan lain karena keempat unsur utama seorang penghulu seperti sebagai Pemimpin, Pelindung, Hakim dan Pengayom yang merupakan unsur-unsur yang sangat dominan dalam menentukan "kekuasaan", berada di tangan pria yaitu di tangan penghulu yang justru mutlak seorang pria itu.

Pepatah adat menetapkan sifat-sifat orang yang disyaratkan menjadi penghulu itu adalah sebagai berikut;

Nan cadiak candokio *(Yang cerdik cendekia)
Nan arif bijaksano *(Yang arif bijaksana)
nan tau diunak kamanyangkuik *(Yang tahu duri yang akan menyangkut)
nan tau dirantiang kamancucuak *(Yang tahu ranting yang akan menusuk)
Tau diangin nan basiru *(Tahu angin yang melingkar)
Tau di ombak nan badabua *(Tahu ombak yang berdebur)
Tau dikarang nan baungguak *(Tahu karang yang beronggok)
Tau dipasang turun naiak *(Tahu pasang turun naik)
Tau jo ereng gendeng *(Tahu sindiran tingkah polah)
Tau dibayang kato sampai *(Tahu bayangan ujud kata)
alun bakilek lah bakalam *(Belum dijelaskan sudah paham)
Sakilek ikan dalam aie *(Selintas ikan dalam air)
Jaleh jantan batinyo *(Jelas sudah jantan betinanya)
Tau di cupak nan duo *(Tahu dengan undang-undang yang dua puluh)
Paham di Limbago nan sapuluah *(Tahu dengan lembaga hukum yang sepuluh.)

Dapat disimpulkan terdapat 4 (empat) syarat utama untuk dapat diangkat menjadi Penghulu diluar persyaratan keturunan sebagai berikut;

Berpengetahuan dan mempunyai kadar intelektual yang tinggi atau cerdik pandai.
Orang yang arif bijaksana.
Paham akan landasan pikir dan Hukum Adat Minang.
Hanya kaum pria yang akil-balig, berakal sehat.

4. *Sifat-Sifat Penghulu

Pakaian penghulu melambangkan sifat-sifat dan watak yang harus dipunyai oleh seorang penghulu. Arti kiasan yang dilambangkan oleh pakaian itu digambarkan oleh Dt. Bandaro dalam bukunya "Tambo Alam Minangkabau" dalam bahasa Minang sebagai berikut;

a. *Destar

Niniek mamak di Minangkabau *(Niniek mamak di Minangkabau)

Nan badeta panjang bakaruik *(Yang berdestar panjang berkerut)

Bayangan isi dalam kuliek *(Bayangan isi dalam kulit)

Panjang tak dapek kito ukue *(Panjang tak dapat kita ukur)

Leba tak dapek kito belai *(Lebar tak dapat kita sambung)

Kok panjangnyo pandindiang korong *(Panjangnya pendinding kampung)

Leba pandukuang anak kamanakan *(Lebarnya pendukung anak kemenakan)
Hamparan di rumah tanggo**(Hamparan di rumah tangga)

Paraok gonjong nan ampek *(Penutup gonjong yang empat)

Tiok liku aka manjala *(Tiap liku akal menjalar)

Tiok katuak ba undang undang *(Tiap lipatan berundang-undang)

Dalam karuik budi marangkak (*Dalam kerutan budi merangkak)

Tambuak dek paham tiok lipek *(Tembus karena paham tiap lipatan)

Manjala masuak nagari. *(Menjalar masuk negeri.)
*


b. Baju

Babaju hitam gadang langan
Langan tasenseng tak pambangih *
Pangipeh Angek naknyo dingin *
Pambuang nan bungkuak sarueh *
Siba batanti timba baliek *
Gadang barapik jo nan ketek *
Tando rang gadang bapangiriang *
Tatutuik jahit pangka langan *
Tando membuhue tak mambuku *
Tando mauleh tak mangasan *
Lauik tatampuah tak berombak *
Padang ditampuah tak barangin *
Takilek ikan dalam aie *
Lah jaleh jantan batinonyo *
Lihienyo lapeh tak bakatuak *
Tando pangulu padangnyo lapang *alamnyo leba *
Indak basaku kiri jo kanan *
Tandonyo indak pangguntiang *dalam lipatan *
Indak panuhuak kawan seiriang

c.* sarawa

Basarawa hitam ketek kaki *
kapanuruik alue nan luruih *
panampuah jalan nan pasa *
ka dalam korong jo kampuang *
sarato koto jo nagari *
Langkah salasai baukuran
martabat nan anam membatasi *
murah jo maha ditampeknyo *
ba ijo mako bakato *
ba tolam mako bajalan

d. *Kain Sarung

Sarung sabidang ateh lutuik
patuik senteng tak bulieh dalam *
patuik dalam tak bulieh senteng
karajo hati kasamonyo *
mungkin jo patuik baukuran *
murah jo maha ditampeknyo *

e. *Karih

Sanjatonyo karih kabasaran
samping jo cawek nan tampeknyo
sisiknyo tanaman tabu *
lataknyo condong ka kida *
dikesong mako dicabuik *
Gembonyo tumpuan puntiang
Tunangannyo ulu kayu kamat *
bamato baliak batimba *
tajamnyo bukan alang kapalang *
tajamnyo pantang melukoi *
mamutuih rambuik diambuihkan *
Ipuahnyo turun dari langit *
bisonyo pantang katawaran *
jajak ditikam mati juo *
ka palawan dayo rang aluih *
ka palunak musuh di badan *
bagai papatah gurindam adat *
Karih sampono Ganjo Erah *
lahie bathin pamaga diri *
Kok patah lidah bakeh Allah *
patah karih bakeh mati *

f. *Tungkek

Pamenannyo tungkek kayu kamat
ujuang tanduk kapalo perak *
panungkek adat jo pusako *
Gantang nak tagak jo lanjuangnyo *
sumpik nan tagak jo isinyo*


5. *Peringatan bagi Penghulu

Falsafah pakaian rang penghulu *Di dalam luhak Ranah Minang

Kalau ambalau meratak ulu *
Puntiang tangga mato tabuang *
Kayu kuliek mengandung aie *
Lapuknyo sampai kapanguba *
Binaso tareh nan di dalam *
Kalau penghulu berpaham caie *
Jadi sampik alam nan leba *
Dunia akhirat badan tabanam *
Elok nagari dek pangulu *
Rancak tapian dek nan mudo *
Kalau kito mamacik ulu *
Pandai menjago puntiang jo mato *
Petitih pamenan andai *Petitih
Gurindam pamenan kato *
Jadi pangulu kalau tak pandai *
Caia nagari kampung binaso *
Adat ampek nagari ampek *
Undangnyo ampek kito pakai *U
Cupak jo gantang kok indak dapek *
Luhak nan tigo tabangkalai *
Payakumbuah baladang kunik *
Dibao urang ka Kuantan *
Bapantang kuning dek kunik *
Tak namuah lamak dek santan

Sumber : www.cimbuak.net
andreandhika - 09/11/2009 10:04 AM
#80

alun ado nan ka manambuahkan do?
wak tambahkan kato pusako dih...
Page 4 of 29 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Minangkabau > Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau