WEDDING & FAMILY
Home > LOEKELOE > WEDDING & FAMILY > Aku tak mau punya anak
Total Views: 70014 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 2 of 163 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

joeljungkat - 23/11/2009 09:10 PM
#21

Quote:
Original Posted By buriks
pendapat gw sis,

Pada dasarnya anak adalah kepercayaan dari Tuhan buat kita sis... jadi jangan kaget nanti kl tiba-tiba Tuhan percaya sama Sis dan Sis dikaruniai anak, entah bagaimana caranya...
nah ini dia.
Aku percaya akan tuhan, aku pun percaya akan kuasanya.
Jika dgn usahaku mencegah dgn berbagai macam cara kok masih saja aku bisa hamil, berarti Tuhan ada rencana dlm hidupku.
Manusia berencana, Dia yang menentukan.
Tapi, selama aku bisa mengusahakan untuk tetap tidak punya anak, aku tetap tidak mau punya anak.
Aku tak mau punya anak
joeljungkat - 23/11/2009 09:23 PM
#22

Quote:
Original Posted By cutie_gurlz
haha bingung njawab pertanyaannya sis. Secara biologis aq punya anak, tapi dgn kesadaran bahwa statusku sbg wnt yg tdk menikah akan sulit untuk membesarkan anak, dan aq juga tdk mau merepotkan org tua untuk ngeberesin hal yang adalah kesalahanku, maka dgn keiklasanku sendiri, aku serahkan anak yg kulahirkan ke sebuah panti asuhan katholik. Aku percayakan pada mereka untuk ngasuh dan mendidik anakku, kebetulan panti yg kupilih jg udah berdiri lama, dan terkenal baik. Pikiranku sih, apa yg aku lakukan adalah yg terbaik buat aq dan anakku. Meskipun bnyk org blg aku membuang anak, ga kudgrn. Toh org tdk bnyk membantu. Kalau anakku tersia-sia justru dgn tgl sama aku, apa mereka peduli? Aduh maaf malah jadi cerita pnjg lebar di trit sis. Keasikan dlm busway hahaha
wow.. Single mom.
Bener sis, hari gini ngomongin kata orang? Apa kata dunia? Ha ha
yang penting kita menikmati hidup kita tanpa menyakiti orang lahn.
Dan seandainya kita sudah sadar kalau hidup kita salah, cukup pengakuan dari orang terdekat saja bukan? Tidak perlu kita mewartakan pada dunia tentang bagaimana kita ini.
Ayo sis.. Cari bapak yg baik buat anaknya he heAku tak mau punya anak
joeljungkat - 23/11/2009 09:24 PM
#23

Quote:
Original Posted By cutie_gurlz
haha bingung njawab pertanyaannya sis. Secara biologis aq punya anak, tapi dgn kesadaran bahwa statusku sbg wnt yg tdk menikah akan sulit untuk membesarkan anak, dan aq juga tdk mau merepotkan org tua untuk ngeberesin hal yang adalah kesalahanku, maka dgn keiklasanku sendiri, aku serahkan anak yg kulahirkan ke sebuah panti asuhan katholik. Aku percayakan pada mereka untuk ngasuh dan mendidik anakku, kebetulan panti yg kupilih jg udah berdiri lama, dan terkenal baik. Pikiranku sih, apa yg aku lakukan adalah yg terbaik buat aq dan anakku. Meskipun bnyk org blg aku membuang anak, ga kudgrn. Toh org tdk bnyk membantu. Kalau anakku tersia-sia justru dgn tgl sama aku, apa mereka peduli? Aduh maaf malah jadi cerita pnjg lebar di trit sis. Keasikan dlm busway hahaha
wow.. Single mom.
Bener sis, hari gini ngomongin kata orang? Apa kata dunia? Ha ha
yang penting kita menikmati hidup kita tanpa menyakiti orang lahn.
Dan seandainya kita sudah sadar kalau hidup kita salah, cukup pengakuan dari orang terdekat saja bukan? Tidak perlu kita mewartakan pada dunia tentang bagaimana kita ini.
Ayo sis.. Cari bapak yg baik buat anaknya he heAku tak mau punya anak
anaksederhana - 23/11/2009 09:32 PM
#24
buang anak?
Quote:
Original Posted By cutie_gurlz
haha bingung njawab pertanyaannya sis. Secara biologis aq punya anak, tapi dgn kesadaran bahwa statusku sbg wnt yg tdk menikah akan sulit untuk membesarkan anak, dan aq juga tdk mau merepotkan org tua untuk ngeberesin hal yang adalah kesalahanku, maka dgn keiklasanku sendiri, aku serahkan anak yg kulahirkan ke sebuah panti asuhan katholik. Aku percayakan pada mereka untuk ngasuh dan mendidik anakku, kebetulan panti yg kupilih jg udah berdiri lama, dan terkenal baik. Pikiranku sih, apa yg aku lakukan adalah yg terbaik buat aq dan anakku. Meskipun bnyk org blg aku membuang anak, ga kudgrn. Toh org tdk bnyk membantu. Kalau anakku tersia-sia justru dgn tgl sama aku, apa mereka peduli? Aduh maaf malah jadi cerita pnjg lebar di trit sis. Keasikan dlm busway hahahaAku tak mau punya anak



Beda dong? buang anak yah beneran artinya dibuang masukin kardus terus buang....sering kan yg begini terjadi?

Tapi ini kan kebalikannya? justru memikirkan masa depan anak utk mendapatkan kehidupan yg lbh layak makanya diambil kebijakan ini. bahkan ini jauh lbh mulia ketimbang besarkan sendiri dengan segala keterbatasan dan merugikan org lain juga si anak yg gak tau apa2.

Suatu saat nanti jika si anak dewasa, apakah dia mau terima dengan keputusan ini atau tidak, ya udah itu pun harga yg harus dibayar jika dia benci terhadap ibunya. Namun melihat dia bisa berhasil dan keadaan yg lebih baik gua rasa sebagai ibu udah cukup daripada pengakuan anak itu terhadap ibunya sendiri....

Gak peduli org mau bilang buang anak.....bisa gila ikutin saran org atau pandangan org lain yg bukan ngejalanin.

Sabar aja....keputusan lu udah terbaik dan bijak!

beer:
joeljungkat - 23/11/2009 10:01 PM
#25

Quote:
Original Posted By anaksederhana
Ya mengerikan karena memanng agak susah diterima masyarakat pada umumnya. Karena tidak umum maka kami maklum kepada siapa yg menanyakan. Jika kami prediksi org yg bertanya tdk mungkin akan mengerti akan kami jawab sebagai kesulitan dan memang belum diberikan anak.

Namun utk yg memang ingin tau kenapa dan dapat mencerna yah bisa kami jelaskan kenapa sama seperti org umum lainnya ditanya anak berapa, umur berapa sekolah dimana. Kami juga rutin menjelaskan karena hanya mau hidup sederhana dan menikmatinya dengan cara kami sendiri.

nah pertanyaan klasik yg ditujukan kepada kami adalah kalao tua bagaimana? Mungkin anda masih baru mengenal saya disini nanti sy jawab dan akan sy jelaskan pandangan saya ttg hari tua nanti setelah anda nikah dengan bebas anak.

Soal TTM kita bahas dilain kesempatan supaya tidak keluar jalur diskusinya.

@Spectre:

hayo loh.....sanggup gak loh hadepin wanita super begini?.......hehehhe...D


hmm ya.. mulai sedikit kebal dengan pergunjingan orang, tapi jujur sih kadang bisa bikin aku marah, kenapa sih mereka repot repot urus hidup orang ?

bener sekali, yang sering ditannyakan orang adalah kesepian di masa tua nanti, siapa yg mau urus kita ??

ha ha.. aku sih sudah ada jawaban sebelum memutuskan tidak mau punya anak, hidupku adalah aku dan suamiku. biarkan kami saling jaga sampai ajal memisahkan kami. kalau orang2 yang punya anak kan pengennya dijaga anaknya tho ?
kalau kami diberi anakpun, kami tidak akan minta anak kami buat menjaga kami, kasian sekali mereka kami repotkan untuk mengurus kami yang sudah jompo dan balik jadi balita yang permintaannya aneh2 ?? nohope:
hidup di panti jompo ???? hmmm boleh deh. tapi panti jompo yang kami dirikan sendiri, jadinya kami dapat perhatian lebih he he
Raspatih - 23/11/2009 11:35 PM
#26

Ini tergantung dari cara pandang kita tentang mendefinisikan 'anak'. Bila kita selamanya menganggap 'anak' sebagai benda yang merepotkan, perlu biaya tinggi, menyita banyak tenaga, waktu, pikiran, dll, memang sebaiknya tidak punya anak saja. Karena memiliki anak dibutuhkan banyak hal, terutama komitmen dan uang. Komitmen ada, tapi uang gak ada, akhirnya anak terlantar. Komitmen gak ada, uang ada, akhirnya anaknya terlantar juga. Sama saja.

'kekurangan' yang dimiliki oleh pasangan yang tidak memiliki anak adalah pengalaman memiliki anak itu sendiri. Pasangan yang sudah memiliki anak, pasti tahu bagaimana dulu waktu hidup cuma berdua dan kemudian dibandingkan dengan hidup setelah punya anak. Dari sana mereka bisa membuat perbandingan.
Sementara, yang tidak punya anak jelas tidak mampu memiliki perbandingan ini. Wong gak pernah mengalami kok. Tapi gw gak akan bilang kalo orang punya anak, kualitas hidupnya pasti akan lebih baik ketimbang yang tidak.

Artinya, orang menikah dan punya anak punya 2 pengalaman. Sementara orang menikah tak punya anak punya 1 pengalaman. Kalo orang nikah, punya anak, cerai, artinya 3 pengalaman D

Tapi gw yakin, meski manusia diberi hak untuk memilih, ada sesuatu yang 'nature' yang bergerak di dalam diri manusia, yakni hasrat untuk memiliki keturunan. Gw yakin hasrat ini tidak bisa hilang meski zaman berganti. Sesuatu yang 'nature' ini ada di dalam jiwa kita, bukan di alam logika.
'Nature' ini bisa datang kapan saja, tidak harus jadi jompo dulu baru iri dengan jompo lain yang didatangi anak cucu, bersenda gurau saat lebaran atau natal, dll.

Sehingga, mungkin suami si TS sekarang berada dalam fase mendapat panggilan 'nature' itu, yang dulu sempat terpendam oleh logikanya. Gw yakin 'nature' pada suami TS ini gak akan bisa diredam lagi dengan logika lainnya. Ini sudah waktunya.
Bila hasrat ini sudah timbul, bukan tidak mungkin ia memilih berketurunan ketimbang beristri. Itulah sebabnya kita banyak mendengar perceraian atau poligami yang terjadi karena kemandulan. Karena 'nature' itu begitu kuat.

Gw sendiri, yang sudah pernah mengalami masa bujangan, punya istri, punya anak, bercerai, mengasuh anak sendirian sebagai duda, tetap mengatakan 'Hidupku tidak pernah lebih baik daripada ini...'
bumibulatbundar - 24/11/2009 01:33 AM
#27

pake IUD ya, TS?

sudah pernah melahirkan sebelumnya?
anaksederhana - 24/11/2009 05:48 AM
#28
ya kami pun demikian...
Quote:
Original Posted By joeljungkat
hmm ya.. mulai sedikit kebal dengan pergunjingan orang, tapi jujur sih kadang bisa bikin aku marah, kenapa sih mereka repot repot urus hidup orang ?

bener sekali, yang sering ditannyakan orang adalah kesepian di masa tua nanti, siapa yg mau urus kita ??

ha ha.. aku sih sudah ada jawaban sebelum memutuskan tidak mau punya anak, hidupku adalah aku dan suamiku. biarkan kami saling jaga sampai ajal memisahkan kami. kalau orang2 yang punya anak kan pengennya dijaga anaknya tho ?
kalau kami diberi anakpun, kami tidak akan minta anak kami buat menjaga kami, kasian sekali mereka kami repotkan untuk mengurus kami yang sudah jompo dan balik jadi balita yang permintaannya aneh2 ?? nohope:
hidup di panti jompo ???? hmmm boleh deh. tapi panti jompo yang kami dirikan sendiri, jadinya kami dapat perhatian lebih he he



Sama degan kami pun menganggapi pertanyaan klasik ini tergantung dengan siapa yg menanyakan. Jika kami anggap dia bisa olah dan cerna maksdunya kami jelaskan namun jika tidak kami terpaksa menyesuaikan berkata memang belum diberikan.

Masalah kesepian di hari tua ini yg sering saya jelaskan bahwa dengan adanya anak dan cucu malahan tambah kesepian.

"Egoisme" keluarga besar dengan mempunyai anak sampai cucu bahkan buyut itu kan dari diri kita sendiri utk memenuhi hasrat "nih keluarga gua tuuuh..." \)....kalo tua nanti dijenguk dan semuanya datang ini akan membuat iri kepada mereka yg sama sekali tidak punya keturunan.

Bukannya kami mencari pembenaran atas keputusan kami ini dan menjawab rasa kesepian kami nanti. Kami beranggapan skenario itu tidak akan terjadi dan jikalau iya berjunkung datang, tujuan mereka si anak, cucu dan buyut berkumpul adalah bukan untuk menjenguk kami namun menunggu "kapan sih perginya?".D....malah kami terbalik kalo bisa jangan ganggu deh....urus keluarga kalian masing2 dengan anak. Kami baik2 saja dan bisa urus diri sendiri. Toh suster jaga juga kami bayar sendiri?

Jika ini yang terjadi maka rasa kesepian lebih dahsyat dibanding kami yg sudah tau dari awal bahwa mereka datang bukan dengan tulus namun karena "seharusnya" menjenguk yah sudahlah datang saja. Orang tua juga tidak bodoh bisa melihat mana yg tulus dan mana yg cari muka. Apalagi harta menunggu utk dibagi. D

Pengalaman ini lebih baik dihindari daripada mengalami kekecewaan melihat hasil yg terbalik dari rencana awal.

Selain faktor itu, secara umum, memangnya negara ini sedang kekurangan anak seperti di Australia jika melahirkan anak pemerintah langsung memberikan uang AUD 7 ribu dan belum ditambah tunjangan2 lainnya? Malah kalo bisa di Indo terbalik kalo tidak punya anak baru diberikan sekian....D
anaksederhana - 24/11/2009 06:10 AM
#29

Quote:
Original Posted By Raspatih

'kekurangan' yang dimiliki oleh pasangan yang tidak memiliki anak adalah pengalaman memiliki anak itu sendiri. Pasangan yang sudah memiliki anak, pasti tahu bagaimana dulu waktu hidup cuma berdua dan kemudian dibandingkan dengan hidup setelah punya anak. Dari sana mereka bisa membuat perbandingan.
Sementara, yang tidak punya anak jelas tidak mampu memiliki perbandingan ini. Wong gak pernah mengalami kok. Tapi gw gak akan bilang kalo orang punya anak, kualitas hidupnya pasti akan lebih baik ketimbang yang tidak.

Artinya, orang menikah dan punya anak punya 2 pengalaman. Sementara orang menikah tak punya anak punya 1 pengalaman. Kalo orang nikah, punya anak, cerai, artinya 3 pengalaman D

Tapi gw yakin, meski manusia diberi hak untuk memilih, ada sesuatu yang 'nature' yang bergerak di dalam diri manusia, yakni hasrat untuk memiliki keturunan. Gw yakin hasrat ini tidak bisa hilang meski zaman berganti. Sesuatu yang 'nature' ini ada di dalam jiwa kita, bukan di alam logika.
'Nature' ini bisa datang kapan saja, tidak harus jadi jompo dulu baru iri dengan jompo lain yang didatangi anak cucu, bersenda gurau saat lebaran atau natal, dll.

Sehingga, mungkin suami si TS sekarang berada dalam fase mendapat panggilan 'nature' itu, yang dulu sempat terpendam oleh logikanya. Gw yakin 'nature' pada suami TS ini gak akan bisa diredam lagi dengan logika lainnya. Ini sudah waktunya.
Bila hasrat ini sudah timbul, bukan tidak mungkin ia memilih berketurunan ketimbang beristri. Itulah sebabnya kita banyak mendengar perceraian atau poligami yang terjadi karena kemandulan. Karena 'nature' itu begitu kuat.

Gw sendiri, yang sudah pernah mengalami masa bujangan, punya istri, punya anak, bercerai, mengasuh anak sendirian sebagai duda, tetap mengatakan 'Hidupku tidak pernah lebih baik daripada ini...'



Nah kalimat yg terakhir yg mau gua tanggapi....tapi bukan utk Raspatih yah...D

Adik ipar gua kayaknya sama bilangnya begitu bahwa hidupnya tidak pernah lebih baik daripada sekarang.

Dia wanita anak satu sudah cerai dan sekarang hidup sendiri di rumah yg sama. Suaminya cerai (KDRT) dan keluar dari rumah itu. Anak dia adalah cucu satu2nya dari mertua gua....perlakuan ke dia yah jangan di tanya deh manja spt apa....p

Bicara soal pengalaman yg katanya gak akan dialami oleh pasangan tanpa anak malah kayaknya terbalik deh. Adik ipar gua yg mengalami persis yg dikatakan Raspatih namun ongkosnya yg bayar bini dan mertua gua.

Lho kok? Adik ipar gua mengatasnamakan anak sebagai profesi dia ibu rumah tangga yg melaksanakan tugasnya dengan baik tentu dengan versi dia yah....D gaya hidup yg padahal sih biasa2 aja rumahnya namun soal belanja kalo gak bermerk pasti barang jelek. Cuci salad harus lembar demi lebar dengan air aqua. Monitor anak agar tidak kedinginan dengan tel tiap 30 menit tanya pembantu berapa temperatur AC saat itu. Pembantu ada 3! Satu urus anak, satu urus cucian dan satunya bantu kedua pembantu itu yg mana memerlukan duluan. Hampir tiap sesudah lebaran ganti pembantu.

Tidak bekerja dan hanya sambilan cari ini itu yg dihitung2 mendingan jangan mulai kerja karena ujung2nya lebih mahal ketimbang beneran ikutan kerja. Dari beli laptop yg harus mac padahal gak ngerti cara pakenya, kendaraan baru karena yg lama sudah rusak melulu, HP yg harus bisa internetan, baju kerja yg dia anggap layak dan gak murah dll karena dia mau kerja. Uangnya? mantan suaminya apa ada kasih? Ya cape deh......itu mah gak usah dibahas....jadi dari mana? yah orang tua dan bini gua lah....

Mertua gua udah pensiun. Bini gua yg kerja dan secara gak langsung memberikan ke dia lewat orang tua. Tapi mertua gua sendiri mau pake uang sampai berapa sih di hari tua? Paling kalo jalan2 keluar negeri aja kan? dan periksa dokter. Ujung2nya yah buat dia dan cucu katanya.

Sampai kami mikir ini yg bego diri sendiri apa emang adik ipar begitu lihainya jadi nasib dia jauh lbh enak daripada kami yg gak mau punya anak tp akhirnya ujung2nya tetep aja harus umpanin anak orang? Gua sih gak kena secara langsung tapi kalo adik ipar mulai bertingkah bini gua ngoceh sampai gua bilang kenapa gak dikerasin aja? Jawabannya tentu masa sih sengaja nyuruh org susah sementara kita mampu gak mau bantuin ? Baru berapa sih....ya kalo gitu ngapain ngoceh...yah gak ? D

Biarpun secara finansial dia gak perlu pusing, kami cuma bisa berharap dia bisa benar2 didik anak dengan benar dan bukan membesarkan monster yg begitu dimanjanya. Sekarang anak itu sudah 14 tahun. Masa ABG sudah dimulai. Tinggal tunggu kejutan baru deh.....mudah2an bukan negatif....\)

Walaupun kami ada anak sendiri, tetep aja keponakan harus ditanggung? Bukannya mau hitungan. Kalau dikilas balik kenapa adik ipar sampai begitu itu tidak terlepas dari masalah umum yg main nikah punya anak dan yah enjoy2 aja dengan hidup. Pas ada masalah colek sana sini. Untung aja bapanya mampu. Kalo gak? Nah berapa banyak kejadian seperti ini? Karena terlalu banyak maunya sehingga melebihi kemamouan utk memenuhi kebutuhan sendiri orang lain lah yg diajak berbagi beban.
balapan_lari - 24/11/2009 06:42 AM
#30

gw blum kawin... Peace: n gw ga permasalahin orang punya prinsip apa aja, itu masalah pribadi tiap orang yang harus dihormati selama ga meruh=gikan orang laen.. D

mau ngasi pendapat aja, gw setelah melalui usia 20, baru ngerasa gmana sih ngerepotinnya gw dl sebagai anak, gmana gw sering bikin susah ortu, gmana gw kadang bikin mereka kecewa, gmana gw ga peduli keadaan mereka...

tapi setelah sekarang gw sadar gmana jeleknya gw ke mereka, sekarang gw jadi sadar bahwa gw mesti ngebales semua itu walopun mungkin ga akan pernah impas...

dan salah satunya mungkin tentu aja bikin mereka bahagia klo ntar gw dah nikah, ada anak yang berarti cucu buat mereka...

itu salah satu aja, alesan laen, gw ma istri gw nanti emang bakal saling jaga sampe salah satu selesai umurnya, tapi setelah salah satu ga ad, yang ditinggal bagaimana? menurut gw pribadi ya anak itulah yang menemani, seorang anak yang sadar, tidak akan menganggap mengurus orangtua itu merepotkan...

emang buat mendapatkan anak yang seperti itu pasti sulit, tapi justru dengan berkomitmenlah kita harus mampu mengajarinya seperti ortu gw buat gw... makasih buat semua yang sudah kalian berikan dan ajarkan ibu dan bapak ku... jadi sedih gw klo inget lebih banyak nyusahin mereka daripada nyenengin mereka... \(

buat sis ts, prinsip sis adlah hak sis, cumen jangan sampe klo tiba2 tuhan memberikan anak terus sis ga terima tu anak ya, gw cumen ngerasa bingung, klo prinsip g mau punya anak tiba2 dapet anak gmana ngadepin situasi itu.... Peace:
anaksederhana - 24/11/2009 07:01 AM
#31

Quote:
Original Posted By balapan_lari

itu salah satu aja, alesan laen, gw ma istri gw nanti emang bakal saling jaga sampe salah satu selesai umurnya, tapi setelah salah satu ga ad, yang ditinggal bagaimana? menurut gw pribadi ya anak itulah yang menemani, seorang anak yang sadar, tidak akan menganggap mengurus orangtua itu merepotkan...


Maaf aja ini padahal cuma "sweet talk"...\) bahwa mengurus orang tua tidak merepotkan.

Mengurus orang tua itu repot sekali. Apalagi udah mulai sakitan. Kita sebagai anak tidak punya pengetahuan kedokteran. Toh juga harus belajar apa yg harus dikerjakan dengan saran dokter dan melakukan hal yg diperlukan. Orang tua kebanyakan tidak mau berlama lama di rumah sakit karena suasana yg sedih dan suram. Untung aja di Indonesia pembantu banyak dan bisa membantu. Tapi bayangkan walaupun demikian sudah ada bantuan, kami yg tanpa anak aja sudah kewalahan memberikan perhatian kepada orang tua dalam hal ini mertua gua. Apalagi ditambah sendiri punya anak? buseet....gimana atur waktunya? Kerjaan lagi? Waktu utk sendiri lagi?

Adik ipar yg katanya urus anak harus membagi waktu utk anaknya dan sering absen gak mau datang bantu urus dan menganggap kami yg tidak punya anak lebih cocok utk mengurus orang tua.

Tapi mertua gua tentu senang karena semua diberikan lebih dari harapan mereka.

Nah kenyataanya, anak yg punya keturunan lebih sering urus atau yg tidak punya keturunan? D

Dia tentu sayang dengan orang tuanya. Namun pada kenyataannya dia "aji mumpung" dengan bini dan gua sendiri utk lari dari "kewajiban" dia sendiri. Ini kisah nyata dan gau yakin gak terjadi di keluarga gua sendiri....yg lebih parah juga banyak...D
balapan_lari - 24/11/2009 07:24 AM
#32

Quote:
Original Posted By anaksederhana
Maaf aja ini padahal cuma "sweet talk"...\) bahwa mengurus orang tua tidak merepotkan.

Mengurus orang tua itu repot sekali. Apalagi udah mulai sakitan. Kita sebagai anak tidak punya pengetahuan kedokteran. Toh juga harus belajar apa yg harus dikerjakan dengan saran dokter dan melakukan hal yg diperlukan. Orang tua kebanyakan tidak mau berlama lama di rumah sakit karena suasana yg sedih dan suram. Untung aja di Indonesia pembantu banyak dan bisa membantu. Tapi bayangkan walaupun demikian sudah ada bantuan, kami yg tanpa anak aja sudah kewalahan memberikan perhatian kepada orang tua dalam hal ini mertua gua. Apalagi ditambah sendiri punya anak? buseet....gimana atur waktunya? Kerjaan lagi? Waktu utk sendiri lagi?

Adik ipar yg katanya urus anak harus membagi waktu utk anaknya dan sering absen gak mau datang bantu urus dan menganggap kami yg tidak punya anak lebih cocok utk mengurus orang tua.

Tapi mertua gua tentu senang karena semua diberikan lebih dari harapan mereka.

Nah kenyataanya, anak yg punya keturunan lebih sering urus atau yg tidak punya keturunan? D

Dia tentu sayang dengan orang tuanya. Namun pada kenyataannya dia "aji mumpung" dengan bini dan gua sendiri utk lari dari "kewajiban" dia sendiri. Ini kisah nyata dan gau yakin gak terjadi di keluarga gua sendiri....yg lebih parah juga banyak...D


gw ga bilang tidak merepotkan koq, tapi ga boleh kita anggep merepotkan, sama aja kaya waktu kita kecil, repot bgt kan orangtua ngurus kita, tapi pernah ga mereka terus udah ah repot ngurus lo, gw suruh orang laen aja yg ngurus...

emang sih semua kembali ke gmana didikan dan situasi real keluarga masing2... semua kembali ke pribadi masing2, karena itu dah jadi wilayah pribadi...

Peace:
sireumbeureum - 24/11/2009 08:09 AM
#33

kok aneh yak nikah ga mau punya anak confused:

gw justru pgn cepet2 punya anak...

justu dengan kehadiran buah hati di tengah2 keluarga bisa memberikan kebahagian lain... trus apa gunanya kita menumpuk harta banyak2 bila nanti kita mati ga ada lg yang bisa menikmati?

ngurus anak ribet... IYA

tapi disitulah indahnya jadi Ibu...

CMIIW
joeljungkat - 24/11/2009 08:45 AM
#34

Quote:
Original Posted By Raspatih


Artinya, orang menikah dan punya anak punya 2 pengalaman. Sementara orang menikah tak punya anak punya 1 pengalaman. Kalo orang nikah, punya anak, cerai, artinya 3 pengalaman D

Sehingga, mungkin suami si TS sekarang berada dalam fase mendapat panggilan 'nature' itu, yang dulu sempat terpendam oleh logikanya. Gw yakin 'nature' pada suami TS ini gak akan bisa diredam lagi dengan logika lainnya. Ini sudah waktunya.
Bila hasrat ini sudah timbul, bukan tidak mungkin ia memilih berketurunan ketimbang beristri. Itulah sebabnya kita banyak mendengar perceraian atau poligami yang terjadi karena kemandulan. Karena 'nature' itu begitu kuat.


Kalau memang panggilan 'nature' itu benar2 sedang dialami suamiku,
maka akupun tidak akan memaksanya untuk tetap memilih aku.
Dan aku akan mempunyai 2 pengalaman pernikahan dalam hidupku yaitu menikah dan bercerai.

Quote:
Original Posted By bumibulatbundar
pake IUD ya, TS?

sudah pernah melahirkan sebelumnya?


saya belum pernah melahirkan,
Dokter kandungan sudah pernah bilang, Resiko susah hamil sangat besar jika kita menggunakan IUD sebelum kita pernah melahirkan. dan resiko itu saya ambil.
joeljungkat - 24/11/2009 08:54 AM
#35

Quote:
Original Posted By balapan_lari

buat sis ts, prinsip sis adlah hak sis, cumen jangan sampe klo tiba2 tuhan memberikan anak terus sis ga terima tu anak ya, gw cumen ngerasa bingung, klo prinsip g mau punya anak tiba2 dapet anak gmana ngadepin situasi itu.... Peace:


Sudah aku jawab diatas..
aku mengakui kebesaran Tuhan.
aku aan berusaha sebisa mungkin untuk tidak punya anak, tapi seandainya tetap aja jebol pertahanannya, berarti ada maksud lain dibalik kehamilanku.
untuk hal-hal lain diluar itu, kita lihat saja nanti \)
Quote:
Original Posted By sireumbeureum
kok aneh yak nikah ga mau punya anak confused:

gw justru pgn cepet2 punya anak...

justu dengan kehadiran buah hati di tengah2 keluarga bisa memberikan kebahagian lain... trus apa gunanya kita menumpuk harta banyak2 bila nanti kita mati ga ada lg yang bisa menikmati?

ngurus anak ribet... IYA

tapi disitulah indahnya jadi Ibu...

CMIIW


kita mati harta mau kemana ???
justru berguna sekali buat banyak orang.
wariskan saja ke panti asuhan atau panti jombo yang kita buat. lebih berguna bukan buat banyak orang ??

Ya, buat ibu yang siap untuk punya anak semuanya akan indah.
tapi buat aku ? hmmmm silahkan jawab sendiri.
joeljungkat - 24/11/2009 09:08 AM
#36

@ Anaksederhana

sorry gak aku quote, karena panjang sekali D

ngurus orang tua itu susah banget, aku sendiri mengalaminya.
1. nenekku, usianya 80 tahunan, dia sudah lumpuh dan saat itu usiaku baru 17 thun kalau tidak salah.
Kalau pas lebaran, tidak ada yang jaga dia, kamilah sekeluarga yang menjaga dia ( akupun ikut diperbantukan ).
kelakuannya persis anak balita, kotorannyapun di acak-acak dimana-mana.
kalau marah sampai pukul-pukul dinding, dimandiin susahnya minta ampun.
sabar.. cuman itu kata satu2nya yang ibu aku ucapkan. tapi kadang aku atau ibuku keluar dari batas kesabaran dan akhirnya keluar bentakan walau pada akhirnya aku sesali.

2. Ayahku sendiri, ayahku sendiri aku yang urus saat dia terkena stroke dan lumpuh, aku tidak memakai jasa penjaga sama sekali.
Tulus mengurus ayah itu sudah pasti, bahkan sampai ajalnya menjemput aku masih disisinya, tapi keseharian saat mengurus ayahkupun aku ada sedikit berkeluh, ada banyak lelah.
dan tanpa ayahku berbicarapun, dari matanya aku liat dia mau berkata "nak, bukan maksud ayah untuk merepotkanmu, tapi sakit ini membuat ayah tak mampu berbuat apa2 untukmu"

3. nenek dari suamiku, dia masih hidup usianya sekitar 75 tahunan.
trouble maker, suka bertengkar dengan tetangga, maunya ngerjain kerjaan rumah sendirian, pembantu sering dicaci maki karena kerjaan tidak ada yang cocok dengan kemauannya. kalau nenekku ini menginap dirumahku, pembantu kami akan minta cuti pulang kampung nohope:
Ibu mertuaku sering jengkel dibuatnya, sampai2 pernah dieman 2 bulan gara2 masalah sepele.


banyak lah pertimbangan kenapa aku tak mau punya anak, dari penjelasan anaksederhana diatas sudah hampir mewakili semuanya.
cippie - 24/11/2009 09:20 AM
#37

Quote:
Original Posted By spectre
time is changing...

people are changing...

it doesn't meant he lied or he does not/didn't remember your terms & conditions...

he simply changed...


quote dari fight club, saat renton maen ke klub, ngeliat orang pada make ecstasy instead of heroin. selengkapnya:


time were changing, people were changing, even drugs were changing.....


dan disinilah renton bertemu diane..... they meet, they fuck, and only after that renton realize diane is underage.


despite the difference, they keep the love.... even tough without the drugs.




no matter what, people are changing. it's human nature. just communicatesiul:



=============


kalo kata si bang haji (brengsek) sih:

masih banyak anak yatim piatu (dan janda-janda).....DDDDD but it would never be the same.....cool:
sireumbeureum - 24/11/2009 09:29 AM
#38

Quote:
Original Posted By joeljungkat


kita mati harta mau kemana ???
justru berguna sekali buat banyak orang.
wariskan saja ke panti asuhan atau panti jombo yang kita buat. lebih berguna bukan buat banyak orang ??

Ya, buat ibu yang siap untuk punya anak semuanya akan indah.
tapi buat aku ? hmmmm silahkan jawab sendiri.


wah sulit ya kalo uda punya prinsip seperti itu...

tapi gw menghargai segala keputusan ente... beer:

semoga menyenangkan dengan pilihan ente ya Gan beer:
Сhinchikurin_3 - 24/11/2009 09:46 AM
#39

Quote:
Original Posted By anaksederhana
Bukan norma itu aja.....mereka yg ikutin norma itu seolah "iri" dengan kemerdekaan dan kemewahan yg dimiliki oleh pasangan suami istri bebas anak yg mereka tidak miliki.

Yg anehnya kan terpelas anak memberikan kebahagiaan dan katanya sepadan dengan biaya serta waktu yg diberikan padahal kan memang akhirnya berat juga? Cuma gak berani bilang?

5 -10 thn pertama seneng....pas menjelang ABG nah......good luck deh....D

wakakka.. gw jd inget temen gw.. pas abis gw merit gw bilang gak mo punya anak, dia ceramahin gw panjang lebar.. yg bilang anak tuh ada rejekinya lah.. apalah.. D
eh.. minggu besoknya, dia curhat ke gw.. ga da duit mo masukin anaknya sekolah... tabungannya smp abis.. ngutang sana-sini.. wekekekke.. D D D

Quote:
Original Posted By joeljungkat
aku bilang tidak karena memang tidak mau sis.
Untung ya punya suami yang mengerti, aku blm begitu tau, kenapa tiba2 dia seperti ini.
Aku jg belum berani tbtomi, aku hanya memakai IUD, kalau telat haid lebih dr 3 hari, rasanya sudah mau marah aja ha ha. Tapi syukur aman aman saja, karena aku rutin ke dokter.Aku tak mau punya anak

suami sih ngerti.. tp mertua, sodara2 n temen2 yg kadang gak mau ngerti... ;)
dan mereka bisa aj bikin suami jd goyah..
nohope:
anaksederhana - 24/11/2009 10:05 AM
#40
Studi kasus nih...
Quote:
Original Posted By sireumbeureum
wah sulit ya kalo uda punya prinsip seperti itu...

tapi gw menghargai segala keputusan ente... beer:

semoga menyenangkan dengan pilihan ente ya Gan beer:


Baru aja kemarin gua ketemu teman lama yg udah umur 70an dan ada anak 3 udah nikah semua. Dulu gua ada hub bisnis dengan dia. Setelh ngalor ngidul kemana mana eh dia bisa cerita sendiri....

"Gua mah cuma khawatir sesama sodara gak akur" ngmongnya masih samar2....anak laki gua udah nikah punya anak....noh anak dia tuh...lucu masih kecil mirip sama bapanya....D rumah sebelah udah atas nama dia (anak lakinya) rumah yg disitu juga udah atas nama dia.....

Nah tinggal tanah neh di Bali ada berapa hektar tau kalo dihitung 1 juta aja semeter itu udah 150 Milyar! wedeeeehhhh.......itu jackpot tuh.....D seneng neh dia pamer harta......terserah mau bener atau gak...heheheh....

"Gua cari duit banyak juga gak nikmatin semuanya buat anak2 gua....nanti kalo gua udah pergi mana bisa gua liat lagi mereka gimana dan akur atau gak?" Terus gua tanya emangnya kenapa? Bingung baginya atau gimana? terus dia khawatirnya karena ini anak2nya udah jarang ketemu satu sama lainnya. Juga jarang ketemuin orang tua. Semua anak2nya nikah gak cewe atau cowo dibelikan rumah. Khas sekali Cina totok kuno deh semua dimodalin. Anak lakinya sih baik sekali dan manut lah...gak bakal macem2 orgnya....makanya dia percayakan semua nantinya. Gua pun percaya dengan anak lakinya itu karna dulu pernah kerja bareng.

Dia bilang paling gak tiap tahun ada beberapa acara keluarga agar pada ngumpul. Bukan cuma kalo orang tua sakit baru dateng. Disini dia udah keliatan kesepian nih dengan harta berlimpah namun tetep jarang ditengok.

Kalo dia bagi sekarang, dia takut anak lakinya berubah sikapnya dan juga ibarat spt udah siap mampus bagi2 harta. Kalo bagi nanti takutnya kacau karena merasa ada ketidakadilan dan tujuan dia harmonisasi keluarga tidak tercapai.

Terus gua bilang gimana sih? ada uang pusing, gak ada uang apalagi dong? D

Terus terang anak2nya kalo gak ada bapanya yg dukung kerjanya yah ....cuma setinggi menejer bank lah....dia juga gak ada ambisi mau ngapain gitu. Cukupan ya udah. Tapi bapanya kaya! maunya cari bisnis baru yg bisa untung modal gak masalah asal bener. Gak mau yg bengkok2.

Ini keluarga yg gua anggep sempurna deh.....anak2nya gak ada yg judi, narkoba, foya2 semua adem ayem. Tetep aja gak ada rasa puasnya maunya sempurna anak2 bersatu padu sayang orangtua dan teruskan warisan sampai cucu dan buyut2nya nanti. Bayangin hari ini tanahnya kataanya bernilai 150 M...tunggu 10 tahun lagi beneran ada yg mau bangun hotel di Bali naik jadi 300 M.....lebih dari cukup dong?

Dilemanya dia sendiri ragu utk bagi ke anak2nya.....hahahha....


Ini utk ngejawab cari duit banyak2 utk siapa? utk anak? sukur2 anaknya bisa bersyukur......uang kebanyakan akhhirnya habis utk foya2.....kalo pun gak tg sampai cucu yg abisin. Jadi gak lewat 3 generasi. Ini impian siapa? Si engkong ? Jika tercapai emang bisa apa? D

Daripada ruwet begitu....mendingan sederhana aja gak perlu banyak maunya....sendiri jalanin apa yg disukai. Jangan ikut2an orang.

Siapa yg mau jaga kita kaloudah tua nanti? Jawabannya yah suster.....masa anak ? mereka juga akan patungan bayarin suster? Itu kalo mampu kalo gak
? duit kita sendiri juga? D

Coba deh liat sekliling kalian anak mana skrg yg bener2 urus orang tuanya?
Page 2 of 163 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > LOEKELOE > WEDDING & FAMILY > Aku tak mau punya anak