Domestik
Home > LOEKELOE > TRAVELLERS > Domestik > Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)
Total Views: 91926 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 5 of 27 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 >  Last ›

kadalxburik - 15/01/2010 01:48 PM
#81

Quote:
Original Posted By Dhanieth
wah, info berguna nih, salute bwt TS nya...
update trs ya bwt TS nya.. heheheiloveindonesia


thanks...semoga bisa membantu...kiss
kadalxburik - 15/01/2010 04:09 PM
#82

Ketep Pass

Pagi itu, Rusyan ( 24 ) salah satu petugas Ketep Pass mengatur satu persatu mobil yang mau masuk ketempat wisata tersebut. Walaupun tampak raut wajah yang kepanasan namun suaranya tetap keras dan terdengar bersemangat membantu setiap mobil yang akan parkir dan mempersilahkan tamu yang datang untuk masuk ke dalam.
Suasana lebaran biasanya dilewatkan bersama dengan keluarga besar. Namun demikian tidak dengan Rusyan yang terus bertugas di Ketep Pass. Bahkan dia mengatakan,” Ketika musim-musim liburan, termasuk lebaran, biasanya pengunjung yang datang bisa dua kali lipat dari hari biasa bahkan bisa lebih, untuk itu kita semua disini harus bertugas. Lumayan, ada tambahan penghasilan, “ kata Rusyan sambil tersenyum. Benar saja, walaupun saat itu jarum jam baru menunjukkan pukul delapan pagi, sudah ada sepuluh mobil parkir di shelter Ketep Pass.

Ketep Pass atau Bukit Ketep, terletak pada ketinggian 1200 meter dpl ( di atas permukaan air laut ). Luas areanya kurang lebih 8000 meter persegi. Dapat ditempuh dari Desa Blabak ke arah timur, 30 km dari Kota Magelang dan 35 km dari Kota Boyolali. Dari Kota Salatiga yang berjarak sekitar 32 km, dapat dicapai melalui Kopeng dan Desa Kaponan. Kami sendiri mengambil arah dari Magelang ( Blabak ), dimana seluruh jalan yang kami lalui dari Blabak sampai Ketep Pass mulus dan bisa memacu kendaraan antara 60 – 70 km / jam. Setelah memasuki desa Blabak, kita banyak melewati persawahan penduduk yang terlihat rapi, bersih dan enak dipandang mata.

Atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah H.Mardiyanto, dipilihlah tanah berbukit ini untuk dikembangkan sebagai tempat tujuan wisata baru di jalur Solo – Selo – Borobudur dengan ciri khas wisata kegunungapian. Ketika diresmikan oleh Presiden RI Megawati waktu itu, pada tanggal 17 Oktober 2002 baru dibangun dua gardu pandang dan pelataran. Dengan keunggulan panorama yang atraktif Gunung Merapi – Merbabu, hamparan teras-teras tanah pertanian serta kesejukan udara Ketep Pass semakin menambah ramainya pengunjung baik di hari biasa maupun di hari libur.

Pagi itu memang cuaca sangat cerah, sehingga kami bisa melihat Puncak Merapi dengan jelas dari gardu pandang Ketep. Selain itu, kita bisa mengetahui seluk beluk merapi dengan masuk Volcano Theatre hanya dengan tambahan biaya lima rupiah per orang. Volcano Theatre baru dibangun awal 2003 yang menyajikan film tentang Merapi dengan berbagai aktifitas vulkaniknya. Fasilitas baru ini makin memperkuat ciri Ketep Pass sebagai tempat wisata kegunungapian. Memasuki bangunan seluas 550 meter persegi ini, seperti memasuki ruangan bioskop, karena memang bentuknya ditata seperti itu. Film yang diputar dimulai informasi umum tentang gunung berapi yang tersaji dalam bentuk gambar, foto dan peta dalam format besar, selanjutnya pengunjung diajak menggali dan menikmati berbagai koleksi gunung berapi melalui perangkat multi media.

Contoh batuan yang dilengkapi dengan informasi teknis menjadi sajian berikutnya. Panorama Merapi dalam berbagai tampilan akan mengantar pengunjung pada sajian utama yaitu miniatur Merapi dalam ukuran cukup besar. Secara umum informasi tentang Merapi dapat kita peroleh secara relatif lengkap dari dulu hingga sekarang. Di bagian paling atas Ketep Pass ada Pelataran Panca Arga, dari sini kalau cuaca cerah kita dapat menikmati lima puncak gunung, yaitu G.Merapi, G.Merbabu, G.Sindoro, G.Sumbing dan G.Slamet. Selain itu akan tampak gunung-gunung kecil lain seperti Telomoyo, Andong, Dataran Tinggi Dieng serta perbukitan Menoreh.

Setelah berkeliling Ketep Pass, kita bisa menikmati asyiknya makan jagung bakar dan gorengan yang berjejer di seberang Ketep Pass. Dengan hawa yang sejuk, angin sepoi-sepoi dan panorama khas pegunungan memang memberikan nuansa yang berbeda. Bukit Ketep kini telah menjadi tempat tujuan wisata yang menarik dengan cirri khas sajiannya yaitu kegunungapian. Atraksi wisata yang tidak hanya bersifat rekreatif tetapi sarat dengan kandungan pendidikan yang tersaji secara atraktif.

Spoiler for ketepas
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for ketepas
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for ketepas
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 15/01/2010 04:36 PM
#83

Taman Nasional Ujung Kulon

Ujung Kulon terletak diprovinsi Banten, tepatnya diujung barat bagian selatan, dengan luas areal -/+ sebesar 1.350 kilometer persegi, termasuk beberapa pulau seperti pulau Pucang, Panaitan dan Handeuleum. Areal Ujung Kulon telah diproteksi sejak zaman Belanda ditahun 1921 dan secara resmi merupakan Taman Nasional sejak tahun 1980. Disamping Banteng (Bos Javanicus), beberapa reptilia dan burung-burung, primadona Ujung Kulon adalah Badak bercula satu (Javan Rhinoceros) yang diperkirakan hanya sekitar 65 ekor yang tersisa ditaman nasional Ujung Kulon.

Ujung Kulon dapat dicapai dari Jakarta dengan melalui jalan tol Jakarta – Merak, exit Anyer/Carita, langsung kearah selatan, Labuhan (S6.586944-E105.858889) terus sampai Sumur (S6.839722-E105.835833). Perjalanan sejauh 240 kilometer, ditempuh dalam waktu 4 jam, dengan kecepatan wajar. Kondisi jalan cukup baik, kecuali disekitar pabrik Krakatau Steel yang rusak cukup parah. Perjalanan terberat adalah ruas Sumur – Taman Jaya, sejauh 20 kilometer yang ditempuh dalam waktu 2 jam, jadi bisa dibayang bagaimana kondisi jalannya: indescribable! Hanya bisa ditempuh dengan kendaraan SUV 4X4!

Sebenarnya, ada alternative lain dan kita tidak perlu menempuh ruas Sumur – Taman Jaya, cukup menuju Logon Umang (S6.730000-E105.624444) dan menuju Ujung Kulon melalui pulau Umang Resort, sekitar 5 kilometer dari Sumur.

Disaat berjuang melalui jalan yang rusak parah, ditengah-tengah perjalanan, tepatnya didesa Cisaat (S6.767500-E105.600556) saya melihat gedung sekolah Madrasah Ibtidaiyah yang masih cukup terpelihara dengan tulisan: Hibah dari Pemerintah Belanda. Hartelijk dank Meneer!

Meskipun desa Ujung Jaya adalah desa terakhir untuk menuju Ujung Kulon, baik melalui darat maupun laut, tetapi fasilitas didesa Taman Jaya jauh lebih baik dalam hal akomodasi dan ketersediaan supply bahan makanan.

Disamping masyarakat lokal dari ethnik Sunda dan Badui, didesa Taman Jaya ada masyarakat Bugis yang sudah bermukim disana sejak zaman Belanda. Dengan keterbatasan lahan didaerah asalnya, umumnya orang Bugis berlayar mencari teluk dan pesisir diseantero Indonesia dan bermukim disana dengan mempertahankan budaya dan tradisi mereka. Konon ada perpatah Bugis yang mengatakan: Tempat yang terbaik adalah dimana saja selama masih terdengar suara ombak, makanan yang terbaik adalah hasil laut, kendaraan yang terbaik adalah perahu.

Masyarakat Bugis didesa Taman Jaya ini rupanya lebih memiliki entrepreneurship sehingga secara ekonomis mereka jauh lebih baik. Banyak diantara mereka yang menjadi “juragan ikan.

Sampai didesa Taman Jaya setelah melalui jalan yang rusak parah, 20 kilometer selama 2 jam, saya bersyukur melihat akomodasi yang disediakan: bungalow yang asri dan sangat bersih, kamar dengan fasilitas AC dan kamar mandinya dengan fasilitas air panas/dingin. Ruangan tamu yang sangat luas dan pemandangan diteras kearah teluk Ujung Kulon yang sangat menyejukkan. Bungalow ini berdiri ditanah seluas -/+ 1 hektar dan sebagaimana lazimnya kalau ada bangunan mewah ditempat-tempat yang terpencil, pastilah itu milik “orang Jakarta..

Harga kamar Rp 250.000.- semalam, tanpa makan, kecuali teh dan kopi yang disediakan kapan saja kita minta. Suhendi, Minggu dan Sabana para penjaga bungalow, selalu siap membantu kalau diminta tolong untuk melakukan sesuatu. Meskipun listrik “byar-pet sering mati beberapa saat, tetapi tinggal dibungalow ini sangat menyenangkan, apalagi untuk “nyepi atau bermeditasi

Saya disambut oleh Pak Komar, putra Pak Sakmin Ranger Ujung Kulon yang membaktikan dirinya pada pelestarian habitat Badak Ujung Kulon. Pak Sakmin muncul dibeberapa film tentang Ujung Kulon, diantaranya film yang dibuat oleh National Geography Society dan beliaupun akrab dengan dignitaries seperti Prince Bernhard dari Belanda dan Prince Charles dari Inggris, sewaktu mereka mengunjungi Ujung Kulon. Prestasi tertinggi dari almarhum Pak Sakmin adalah sewaktu menerima Kalpataru dari Presiden Suharto ditahun 1981, sebagai penghargaan tertinggi atas personal achievement dan dedikasi pada tugas yang diembannya.

Komar anaknya juga seorang Ranger Ujung Kulon, tetapi agaknya kurang sepakat dengan cara-cara penanganan Taman Nasional Ujung Kulon dan memutuskan untuk berwiraswasta. Komar memiliki “Sunda Jaya Home Stay dan memiliki beberapa perahu dan sebagai pemandu wisata kearea Taman Nasional Ujung Kulon. Dia men-charge turist sebesar Rp 1.800.000.- sehari, maksimal untuk 5 orang dan harga tersebut sudah termasuk: sewa kapal, perijinan dan makan siang.

bersambung.....hehehehe....


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 15/01/2010 04:37 PM
#84

Saya berangkat dari Taman Jaya kearea Taman Nasional Ujung Kulon dengan Komar, memakai perahu “Perjuangan dengan mesin Mitsubhisi truk yang telah dimodifikasi. Nahkoda perahu adalah Dudi (keturunan Bugis) dengan anak kapal Sarmin dan Bai. Komar membawa 2 orang ajudan Nono dan Barwani (Ustadz/guru ngaji setempat) dan saya membawa seorang asistant, Benny.

Kita start jam 7.30 pagi menyebrangi teluk Ujung Kulon (Teluk Selamat Datang) menuju pulau Handeuleum. Teluk ini dipenuhi dengan beratus-ratus bagan (tempat menangkap ikan) yang dibuat dari bambu, karena disamping ringan, bambu itu mengapung diair. Bentuknya kurang lebih sama, tetapi ada yang terapung, bisa dipindah-pindahkan adapula yang fix ditanam didasar laut, yang tidak begitu dalam, sekitar 13 s/d 15 meter. Meskipun jumlah bagan ratusan tetapi para pemilik bagan mengetahui persis lokasi bagan mereka.

Pulau Handeuleum (S6.808611-E105.576944), sebuah Pos Ranger yang hanya dijaga oleh seorang Ranger, Hendra, tepat berada didepan Taman Nasional Ujung Kulon.

Dari Ranger Hendra, kita meminjam canoe agar dapat menyusuri sungai Cigenter, dimana biasanya banyak ular python yang bergelantungan didahan-dahan mangrove.

Komar menasihatkan kalau mengambil foto ular python supaya jangan tepat berada dibawahnya, karena kalau merasa terusik, biasanya ular tersebut menjatuhkan dirinya dan mencebur kesungai untuk menghindar dan tidak jatuh dicanoe. Saya melihat ada seekor ular python kecil yang sedang tidur bergelandutan di pohon mangrove yang menjorok kesungai. Karena ruangan untuk memotret tidak cukup leluasa, saya memutuskan untuk langsung mengambil foto dari bawahnya, saya pikir toh ular pythonnya nggak begitu besar. Disaat klik-klik-klik rupanya siular ini merasa terusik dan secepat kilat dia menjatuhkan dirinya, bukannya kesungai tetapi tepat berada dipangkuan assisten saya Benny. Benny yang nggak pernah menyentuh ular seumur hidupnya, sangat shock dengan kejatuhan ular dan secara instinctive berusaha berdiri, lupa bahwa dia berada diatas canoe yang sangat ramping. Canoe bergoyang liar kekanan dan kekiri, Komar berteriak: “Tenang-tenang, jangan bangun, nggak apa-apa, bukan ular berbisa.. Akhirnya dengan ketenangan dan pengalamannya, Komar dan Nono pembantunya berhasil menstabilkan canoe. Benny terkapar dengan muka yang pucat pasi dan saya hampir saja kehilangan alat-alat photography yang lumayan harganya.

Sepanjang perjalanan selanjutnya, si-Nonopun tidak henti-hentinya menertawakan Benny

Setelah peristiwa tersebut, saya memutuskan untuk melepas keinginan untuk memotret ular python dan langsung menuju kepulau Peucang (S6.938333-E105.463333). Pulau Peucang seluas -/+ 500 hectar terletak dihidung Taman Nasional Ujung Kulon. Disamping merupakan sebuah Pos Ranger, pulau ini juga disediakan tempat penginapan bagi para turist maupun naturalist (peneliti) yang ingin berkunjung ke-Taman Nasional Ujung Kolon. Setelah kedatangan Presiden Suharto beberapa tahun yang lalu, beliau meminta supaya kawasan pulau ini ditata dan dibangun lebih bagi, dengan guest house dan sarana yang lebih lengkap. Sabdo Pandito Ratu, maka dibangunlah guest house dengan sarana kamar-kamar ber-AC, air panas/dingin, restauran dll. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa bangsa kita ini pandai membangun, tetapi tidak pandai memelihara apa yang telah dibangunnya. Akibatnya, sarana-sarana yang cukup baik itu dibiarkan tidak terpelihara dan keadaannya agak menyedihkan. Restaurant tutup sejak beberapa tahun yang lalu dan guest house tidak bisa dipakai karena listrik nggak ada, solar sudah habis dipakai oleh orang Jakarta yang datang lebih dahulu dari saya.

Saya ditawarin untuk mempergunakan guest house lama, dikamar yang dilu pernah dipakai oleh Suharto, dengan lampu petromax/lampu kapal. Guest house dibangun dengan konstruksi bahan kayu dan kamar ex Pak Harto agak rapi dengan kamar mandi “gebyar-gebyur dengan WC duduk. Dikamar banyak foto-foto beliau, dengan para tamu-tamu seperti Prince Bernhard dari Belanda dan lain2, bahkan ada foto Suharto dengan Bung Karno. Karena kelelahan, saya tidak mempersoalkan keabsahan klaim bahwa Suharto pernah tidur disitu.

Kita sangat disarankan untuk tidak membuka baik jendela maupun pintu, karena grombolan monyet akan menjarah apa saja yang bisa dipegangnya. Bebas dari jarahan monyet, ternyata snaks bawaan kita yang kita letakan di-living room dijarah oleh tikus-tikus dan saya hanya bisa mendengarkan “party para tikus karena lampu petromax ya sudah mati dan keadaan gelap gulita.

Perjalanan kita teruskan menuju bagian selatan Ujung Kulon, kepetilasan Sanghiang Sirah, dimana legenda menceritrakan bahwa tempat itu serinbg dipergunakan oleh Prabu Kian Santang dari kerajaan Siliwangi untuk bersemedi. Petilasan ini sampai sekarang masih banyak dikunjungi oleh para peziarah, baik yang tua maupun muda, terutama pada bulan Maulud.

Cuaca rupanya tidak bersahabat, angin semakin kencang, ombak semakin tinggi dan muka Bennypun semakin pucat dan saya memutuskan untuk tunduk pada Mother Nature dan memutuskan berpetualangan ketempat-tempat yang lebih aman.

Kita meneruskan perjalanan menuju ke-Cidaun (S6.913056-E105.385000) yang berada didaratan Ujung Kulon, tepat dimuka pulau Peucang. Karena kita lupa membawa canoe, maka terpaksa turun dari perahu, mencebur kelaut dan menyebrang kedaratan dengan ketinggian air laut sebatas pinggang. Di-kawasan savannah Cidaun ini ada yang dinamakan “padang gembala, dimana pada sore hari, umumnya grombolan Banteng (Bos Javanicus) berkumpul dan bersosialisasi. Alhamdulillah kita beruntung menemukan segerombolan Banteng yang sedang berkumpul disekitar kawasan tersebut.

Perjalanan kita lanjutkan menuju pulau Panaitan, seluas 17.000 hectar kesebuah Pos Ranger yang terletak di-Legon Butun (S6.859722-E105.308611) dan tak seorang Rangerpun yang nampak.

Kita memutuskan untuk menyusuri pulau Panaitan melalui Karang Jajar, sebuah deretan karang yang berjajar yang cukup cantik, tetapi udara berkabut sehingga hasil foto tidak maksimal.

Kita berhenti disebuah lagoon yang tenang dan cantik, namanya Legon Kadam (S6.725556-E105.414722). Saya tidak begitu mengetahui bagaimana Komar dan para awak perahu mempersiapkannya, tetapi makan siang berupa nasi atau mie, lalapan dan goreng kering ikan hasil tangkapan beberapa menit yang lalu, kenikmatannya akan teringat lama sekali. Kita duduk-duduk ngobrol, minum air kelapa sambil menikmati pemandangan Logon Kadam, dimana dari kejauhan nampak para kijang bercanda ria dipantainya. Tiba-tiba saja, terlelap tidur .

Sewaktu terbangun, waktu sudah agak sore dan awanpun sudah agak hitam menandakan akan hujan dan kita langsung memutuskan kembali ke-Taman Jaya. Dalam perjalanan, kita melihat ada life-vest/alat pelampung yang mengapung ditengah laut dan diatasnya ada saegerombolan kepiting yang memanfaatkannya untuk juga ikut mengapung.

Untuk bisa melihat Badak (Javan Rhinoceros), sangat tidak mudah dan kita harus menembus hutan Ujung Kulon (which nearly impenetrable) dengan berjalan kaki dari Ujung Jaya kedaerah Cikesik, Cigenter and Cibunar. Saya sangat menghormati usia saya, maka saya memutuskan untuk tidak men-challenge usia saya tersebut.

Spoiler for UK
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for UK
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for UK
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for UK
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for UK
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for UK
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 15/01/2010 04:52 PM
#85

Alas Purwo, Tak Cuma Berselancar

Alas Purwo di ujung Tenggara Pulau Jawa, bukan cuma tersohor sebagai salah satu lokasi surfing terbaik di dunia. Tapi juga menyimpan beragam pesona lain. Daya tarik alam dan penghuninya tidak kalah dibandingkan dengan Taman Nasional Ujungkulon yang berada di ujung paling barat Jawa. Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), khususnya Pantai Plengkung sudah lama menjadi surga bagi peselancar mancanegara, karena ombaknya sangat besar. Banyak sudah julukan fantastis yang diberikan oleh para peselancar dunia terhadap tempat ini. Para penggila gulungan ombak asal Jepang, misalnya menjuluki pantai ini The Seven Giant Wave Wonder, karena kerap ditemui ombak raksasa datang susul menyusul sebanyak tujuh lapis.

Julukan itu tak berlebihan, sebab panjang gelombang di pantai ini mencapai dua km dengan tinggi empat sampai enam meter dalam interval lima menit. Oleh karena itu kerap digunakan sebagai lokasi kompetisi surving tingkat internasional, antara lain pada tahun 1996, 1997, dan 2001. Menurut beberapa peselancar, selain di Plengkung, cuma Hawaii, Australia, dan Afrika Selatan saja yang memiliki ombak dasyat seperti itu Sedangkan ombak laut di Kepulauan Fiji dan Peru masih dibawah empat tempat tersebut.

Dengan tujuh lapis ombak besar itu, Plengkung memang bukan lokasi yang tepat bagi para peselancar pemula. Tapi tak perlu cemas, pemandangan alam Plengkung sangat menawan lengkap dengan hamparan pasir putih, menjadikannya juga ideal untuk rekreasi pantai. Kita yang bukan peselancar andal atau sekadar pelancong, bisa berjemur sepuasnya.

Menjelang sore hari, di saat air laut pasang-surut, kita dapat menyaksikan karang-karang yang membentuk kolam-kolam berisi berbagai mahluk hidup laut di salah satu bagian pantainya. Seketika itu pula kita dapat melihat aksi sekelompok burung laut yang merubungi kolam-kolam karang itu untuk menyantap isinya. Tak lama kemudian, kita dapat menikmati suguhan pemandangan eksotik berupa matahari tenggelam ke peraduan, jatuh dalam pelukan teluk. Tapi kalau memang penasaran ingin mencoba berselancar, ayunkan kaki ke Pantai Parang Ireng hingga Batu Lawang karena karakterstik gelombang perairannya tidak seganas Plengkung.

Lain halnya dengan peselancar Australia dan Amerika Serikat, mereka menyebut Plengkung, G-Land yang merupakan singkatan dari pelabuhan Grajagan, yakni tempat berlabuhnya kapal-kapal yang dipakai para turis mancanegara untuk mencapai Plengkung. Sebutan G-land juga berarti karena Plengkung yang berada di Teluk Grajagan menyerupai huruf G. Atau bisa juga diartikan karena letak Plengkung berada tidak jauh dari hamparan hutan hujan tropis yang terlihat selalu hijau atau Green Land.

Umumnya para peselancar mancanegara ke Plengkung memilih lewat laut dengan menyewa perahu motor nelayan di Grajagan. Meskipun perahu motor harus berjuang melewati celah yang dinamai Pintu Air yang berbahaya dan telah mengkandaskan beberapa perahu hingga menelan korban, namun waktu tempuhnya lebih singkat daripada lewat darat yang jaraknya 24 km dari pintu masuk Pasaranyar.

Biasanya para turis berdatangan saat musim surfing, yakni Juli, Agustus, dan September untuk menjajal kedasyatan tujuh gelombang berlapis. Selepas Oktober, nelayan pun tidak ada yang berani melewati celah Pintu Air karena terlalu berisiko. Peselancar yang datang ke Plengkung, kebanyakan pria dari Australia, Amerika Serikat, Brasil, dan Jepang.

Masih belum puas bermain-main dengan laut dan pantai, coba saja bersnorkling dan diving di sekitar pantai Perpat, Slengrong, dan Tanjung Pasir. Di sana pantainya agak landai, lengkap dengan aneka terumbu karang dan beragam ikan hias. Atau ke Danau Segoro Anak yang tenang lengkap dengan hutan bakaunya untuk memancing ikan, berlayar, bersampan, berenang, ski air, dan mengamati tingkah laku aneka burung migran yang datang dari Australia sekitar bulan Oktober-Desember. Ada sekitar 16 jenis burung yang transit di sekitar danau ini, antara lain cekakak suci (Halcyon chloris/Todirhampus sanctus), burung kirik-kirik laut (Merops philippinus), trinil pantai (Actitis hypoleucos), dan trinil semak (Tringa glareola).

Kalau fisik masih kuat, coba saja junggle track atau menelusuri setapak di hutan mulai dari Rowo Bendo, Ngagelan, Segoro Anak hingga Cungur. Atau rute lainnya dari Trianggulasi, Pancur sampai ke Plengkung. Wisata jalan kaki ini melewati hutan yang masih asri dan kerap dilalui aneka satwa seolah kita berada di alam liar.

Mau yang lebih santai? datang saja ke Sadengan, 7 km atau sekitar 15 menit dari Trianggulasi. Tempat ini merupakan padang pengembalaan satwa liar seperti banteng, kijang, rusa, kancil, dan babi hutan bahkan sesekali terlihat merak. Di tepian savana ini ada watching tower atau menara pengintai yang terbuat dari kayu untuk mempermudah wisatawan menikmati atraksi beragam hewan asyik merumput.

Trianggulasi-Sadengan merupakan jalur trail wisata. Pada pagi hari, di sepanjang jalan ini kita bisa melakukan bird watching atau pengamatan burung karena kawasannya banyak dijumpai pepohonan besar yang kerap disinggahi aneka burung, antara lain beo dan cucak hijau.

Kegiatan lain yang tak kalah menarik, mengabadikan pemandangan lewat bidikan kamera. Di TNAP ini begitu banyak panorama alam indah, unik, dan asri berupa pantai, hutan tropis dataran rendah, bukit ijo royo-royo, yang sayang kalau tidak dipotret. Misalnya, di Pantai Trianggulasi, 13 Km dari pintu masuk Pasaranyar terdapat pantai pasir putih dengan formasi hutan pantai untuk kegiatan wisata bahari, berkemah. Di tempat ini kita bisa menjepret pesona sunset yang menawan.

Di kawasan Pancur - Parang Ireng - Plengkung kita bisa mengabadikan beragam lukisan alam menarik antara lain sumber air Pancur, formasi karang hitam, dan hamparan pasir gotri sepanjang delapan km. Pasir tersebut berwarna kuning, berbentuk bulat dan berdiameter sekitar 2,5 mm. Sedangkan di Sunglon Omblo, kita bisa mengabadikan pesona sirkulasi pasang surut air laut dan tumbuhan khas payaunya.

Ingin memotret penyu, lanjutkan perjalanan ke Pantai Ngagelan yang terletak 6 Km atau sekitar 25 menit ke arah barat dari Trianggulasi. Di sana terdapat tempat penetasan telur penyu atau breeding turtle dan pemeliharaan anak penyu atau tukik sekaligus tempat pusat penelitian yang sering dimanfaatkan oleh mahasiswa. Ada sedikitnya tiga jenis penyu yang langka dan dilindungi seperti penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu hijau (Chelonia mydas). Biasanya mereka mendarat, bertelur, dan menetas di pantai selatan taman nasional ini pads bulan April sampai Oktober.

Selain itu kita bisa memotret tumbuhan khas dan endemik kawasan ini yaitu sawo kecik (Manilkara kauki) dan bambu manggong (Gigantochloa manggong). Tumbuhan lainnya ketapang (Terminalia cattapa), nyamplung (Calophyllum inophyllum), kepuh (Sterculia foetida), dan 13 jenis bambu. Tak ketinggalan beberapa satwa liarnya seperti lutung budeng (Trachypithecus auratus auratus), banteng (Bos javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), burung merak (Pavo muticus), ayam hutan (callus gallus), rusa (Cervus timorensis russa), atau kalau beruntung bisa memotret macan tutul (Panthera pardus melas), dan kucing bakau (Prionailurus bengalensis javanensis).


bersambung........


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 15/01/2010 04:53 PM
#86

Masyarakat yang tinggal di sekitar TNAP hingga kini masih menjalani adat-istiadat khas "Blambangan". Mereka percaya kalau Hutan Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram, dan meyakini bahwa di hutannya masih tersimpan Keris Pusaka Sumelang Gandring. Oleh karenanya, pada saat-saat tertentu seperti 1 Syuro, bulan purnama, dan bulan mati, banyak dijumpai para penikmat olah kebathinan yang melakukan meditasi atau melaksanakan upacara religius.

Salah satu lokasi semedhi yang paling terkenal di TNAP adalah Goa Istana yang terletak arah timur dari Pantai Pancur sejauh dua km. Konon Bung Karno dipercaya pernah bertapa di goa yang dihuni kelelawar itu. Goa Padepokan, Putri, dan Basori juga kerap didatangi peziarah. Di dalamnya terdapat bangunan menyerupai makam.

Selain beberapa gua yang dianggap keramat oleh penduduk setempat, masih ada puluhan gua besar dan kecil lain di TNAP, seperti Gua Jepang di Tanjung Sembulungan yang terjal dan berhutan lebat. Konon di dalam gua buatan bernilai sejarah ini terdapat peralatan perang, berupa dua buah meriam sepanjang 6 meter. Yang agak menyeramkan Gua Macan di Tanjung Bringinan. Bentuk gua alami ini menyerupai tengkorak raksasa yang sedang menatap lautan, letaknya di tebing karang terjal. Untuk menikmati gua, khususnya yang alami dan belum atau jarang dijamah orang, tentu kita harus menyiapkan peralatan caving memadai dan tetap waspada, mengingat gua tersebut kerap menjadi sarang kelompok hewan ajag Jawa, predator yang diduga suka menyantap banteng betina.

Di TNAP, kita juga bisa menyaksikan sekaligus memotret jalannya upacara umat Hindu yaitu Pagerwesi. Upacara yang diadakan setiap jangka waktu 210 hari ini terdiri dari tiga prosesi yakni Palemahan, Pawongan, dan Kayangan. Dalam acara tersebut, air yang digunakan diambil dari tiga sumber air dari Kucur, Pancur, dan Air Laut yang merupakan pertemuan air suci dari gunung dan laut. Kemudian air tersebut diarak dengan diiringi alunan gamelan khas Hindu ke Pura Luhur Giri Salaka yang berada di Rowobendo, 10 Km dari pintu masuk Pasaranyar.

Sekarang sudah tahu bukan, kalau di TNAP kita bukan cuma bisa surving di Plengkung dengan tujuh lapis ombak besarnya. Tapi juga bisa melakukan beragam kegiatan menarik dan menantang lainnya, baik yang bernuansa alam, petualangan, penelitian maupun budaya. Jadi, rasanya pantas kalau kawasan konservasi ini dijadikan objek kunjungan ekowisata Anda berikutnya.

Spoiler for alas purwo
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for alas purwo
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for alas porwu
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for alas purwo
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for alas purwo
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 15/01/2010 04:58 PM
#87

Pulau Nusakambangan

Sebagai salah satu rutan (rumah tahanan) untuk para napi dengan kasus berat, nama Nusakambangan lebih banyak mempunyai konotasi yang menyeramkan. Namun setelah melihat langsung berbagai potensi wisata pulau tersebut tak ada alasan untuk mengatakan tentang kengerian pulau ini. Setelah melakukan perjalanan darat yang cukup melelahkan, yang ditempuh dari Jakarta selama kurang lebih delapan jam sampailah kami di Cilacap. Perjalanan tidak semulus yang dibayangkan, memasuki Indramayu sampai dengan kota Brebes kita harus berhati-hati karena jalanan berlubang sana-sini dan rata-rata memiliki lubang yang dalam. Setelah goyang kanan dan goyang kiri, akhirnya mobil yang membawa rombongan kami mengalami pecah ban karena tidak bisa menghindari lubang yang menganga menjelang Brebes.

Merasakan lubang-lubang di Pantura yang mengocok perut perjalanan mulai berubah ketika mulai memasuki Kota Bumiayu. Pemandangan hijau di kanan kiri jalan dengan latar belakang Gunung Slamet yang menjulang tinggi dengan udara yang sejuk membuat pikiran dan hati menjadi segar. Selepas Bumiayu kemudian mengambil arah Cilacap melalui Wangon. Sepanjang perjalanan menuju Wangon pun banyak melalui hijaunya hamparan sawah dengan latar belakang Gunung Slamet. Baru kemudian menjelang memasuki Kota Cilacap hawa panas pantai mulai terasa.

Tujuan pertama ketika memasuki Kota Cilacap adalah mencari rumah makan untuk sekedar beristirahat dan meluruskan kaki. Beberapa saat kemudian Mbak Hesti salah satu rekan kami di Cilacap yang membantu proses perijinan untuk memasuki Pulau Nusakambangan pun datang. Setelah berbincang sebentar untuk melakukan koordinasi rombongan pun siap melakukan perjalanan ke Pulau Nusakambangan. Ternyata Pulau Nusakambangan hanya berjarak beberapa ratus meter dari Cilacap yang dipisahkan oleh laut, sehingga dengan jelas terlihat dari Cilacap. Sambi menunggu kapal feri yang akan mengangkut mobil rombongan kami mengamati birunya air laut di sekitar pantai yang relatif bersih.

Beberapa saat kemudian datanglah kapal feri, satu persatu penumpang dan mobil pun masuk. Kapal feri ini lumayan besar, bisa mengangkut sekitar 100-an orang dan 4 mobil ukuran minibus. Hanya butuh waktu sekitar lima menit untuk menyeberang ke Pulau Nusakambangan. Mobil yang kami tumpangi pun melaju ke darat dan bersiap diri untuk melakukan perjalanan keliling Pulau Nusakambangan. Ketika ada diatas kapal feri, Mbak Hesti, Pemandu kami sempat berpesan, “ Kalau ada pengunjung datang biasanya datang para napi yang akan menawarkan batu-batu akik, Kalau mau beli ya silakan, tidak juga nggak apa-apa,”. Benar saja, baru saja parkir mobil, beberapa napi mendekat dan menawarkan batu akik yang dibawanya. Akhirnya kita membeli beberapa batu akik sebagai penghargaan terhadap mereka dengan harga antara lima ribu sampai sepuluh ribu.

Goa Pasir adalah tempat pertama yang kami lintasi yang berjarak paling dekat dengan pantai. Goa pasir adalah sebuah gua yang tercipta secara alami dengan kedalaman hanya beberapa puluh meter dan di dalamnya hanya berisi pasir. Ketika akan memfoto Goa tersebut, tiba-tiba pemandu kami melarang, karena goa ini dianggap goa keramat, terkadang apa yang kita foto tidak sesuai dengan objek yang ada, alias ada penampakan lain. Goa ini tampak menyatu dengan tanaman merambat sekitar, sehingga bagi pengunjung mungkin tidak tahu kalau itu sebuah goa jika tidak ditunjukkan.

Perjalanan kami teruskan ke dalam pulau, dan goa kedua yang kami singgahi adalah Goa Ratu. Di tempat ini, tampak beberapa napi yang menunggu pengunjung, baik yang menjadi pemandu di Goa Ratu ataupun yang sekedar menawarkan batu akik. Setelah memarkir mobil dibawah, kami berjalan keatas yang berjarak kurang lebih seratus meteran dari tempat parkir mobil. Atmo, salah satu dari napi yang menjadi pemandu kami pun telah menyiapkan lampu petromax sebagai alat penerang untuk masuk ke gua. Sisi-sisi gua yang gelap dan kotor ternyata tidak mengurangi keindahan alami dari stalaktit dan stalakmit goa ini. Semakin ke dalam ternyata semakin bagus, namun kami hanya bernai memasuki goa sedalam lima puluh meteran, karena kalau lebih dalam dari itu kita harus memakai tabung oksigen.

Semakin ke dalam hutannya semakin lebat, dibeberpa ruas jalan kami ketemu dengan para napi yang membawa alat pembersih dan beberapa petugas yang sedang melakukan kontrol. Kami sempat kaget, ternyata di dalam Pulau Nusakambangan ada komplek perumahan untuk para pegawai rutan Nusakambangan. Layaknya sebuah perumahan , rumah-rumah ini terletak di kanan kiri jalan yang membelah Pulau Nusakambangan. Dan para penduduk pun bersikap ramah terhadap para pengunjung, mereka dengan senang hati menerima kita jika mau mampir. Dan akhirnya sampailah kami di salah satu ujung Pulau Nusakambangan.

Dari atas bukit terlihat jelas laut biru dengan buih ombak yang putih diterpa oleh angin pantai yang sepoi-sepoi. Memasuki gerbang pantai ini, beberapa napi pun menawarkan batu akik, namun setelah kami beritahu kalau sudah membeli di pelabuhan dan Goa Ratu mereka pun mengerti. Pantai perpisahan adalah nama tempat ini, ketika saya tanya kepada pemandu, “Kenapa dinamakan Pantai Perpisahan ,” ? ternyata pemandunya pun tidak tahu. Pantai Perpisahan adalah pantai yang sangat indah dengan laut yang biru dan bersih, dan tak jauh dari pantai ke arah laut terdapat batu karang dan diatasnya terdapat patung yang berbentuk pisau commando dan menancap ke tanah. Ternyata itu adalah sebuah perlambang kalau pantai ini adalah pantai yang berbahaya untuk mandi. Walaupun pantai ini sangat indah, namun tetap menimpan misteri dengan keindahannya itu.

Ternyata masih ada satu pantai lagi setelah Pantai Perpisahan, yaitu Pantai Pasir Putih yang harus kita tempuh sekitar satu jam lagi dari Pantai Perpisahan dengan berjalan kaki. Menurut pemandu kami pantai ini adalah sebuah pantai landai dengan pasir putih dan laut yang sangat bersih. Karena waktu sudah menjelang sore, kami hanya melakukan perjalanan di Pantai Perpisahan saja dan kembali lagi ke pelabuhan untuk kembali ke Cilacap.

Spoiler for nusakambangan
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for nusakambangan
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for nusakambangan
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for nusakambangan
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 15/01/2010 05:03 PM
#88

Gunung Puntang

Daerah Bandung Selatan ternyata mempunyai sebuah objek wisata bersejarah yang cukup unik di Gunung Puntang. Bila anda sudah bosan berkunjung ke Ciwidey yang terkenal dengan objek wisata Kawah Putih dan Situ Patenggang-nya, dan andapun telah jenuh berkunjung ke Pengalengan, tidak ada salahnya mencoba berkunjung kekawasan ini. Gunung Puntang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan Malabar. Di kawasan ini terdapat bumi perkemahan yang dikelola oleh pihak Perhutani. Udara yang sejuk pada ketinggian 1290 m, sungai yang jernih ditambah dengan paduan pohon pinus yang tumbuh alami, memberikan kedamaian tersendiri saat berada di lokasi. Keindahan panorama sekitar kawasan ini sudah bisa dinikmati sepanjang perjalanan semenjak dari persimpangan jalan Banjaran-Pangalengan dan jalan Gunung Puntang. Saat tiba di gerbang Perhutani, sempatkan waktu berhenti sejenak untuk melihat hamparan Plato (lempengan) Bandung dari ketinggian. Kabarnya, di musim penghujan, area Malabar merupakan salah satu daerah konsentrasi hujan.

Untuk masuk ke areal perkemahan, dikenakan biaya yang relatif murah. Tiket perorangan 4000 rupiah per hari, sewa lahan per 3 orang 2500 rupiah, sepeda motor 1000 rupiah, sedan/minibus 3000 rupiah sedangkan bus/truk 5000 rupiah. Selain berkemah, aktifitas-aktifitas outdoor seperti forest tracking atau sekedar main air di kali yang jernih dapat menjadi pilihan bagi pengunjung. Sebuah air terjun dengan ketinggian sekitar 100 meter dapat menjadi target alternatif dengan cara melakukan perjalanan selama 2 jam menembus hutan. Untuk mencapai lokasi Curug Siliwangi ini, sebaiknya menggunakan jasa pemandu arah setempat agar tidak tersesat.

Lahan perkemahan yang ada di kawasan ini cukup nyaman. Sudah tersedia fasilitas MCK (sayang, kurang terurus), rumah kecil milik perhutani (cabin) yang bisa disewa (cukup mewah untuk ukuran “anak gunung”), dan yang paling penting, beberapa warung juga tersedia! Bahkan fasilitas listrik juga sudah masuk.

Tidak hanya menawarkan wisata alam yang menyejukkan hati, dikawasan ini terdapat sebuah objek wisata sejarah peninggalan bangsa Belanda yang cukup unik. Pada tahun 1923 area ini merupakan suatu lokasi yang sangat terkenal di dunia karena terdapat sebuah stasiun pemancar radio Malabar yang dirintis oleh Dr. de Groot. Sebuah pemancar radio yang sangat fenomenal dikarenakan antena yang digunakan untuk memancarkan sinyal radio memiliki panjang 2Km, membentang diantara gunung Malabar dan Halimun dengan ketinggian dari dasar lembah mencapai 500 meter. Sulit untuk dibayangkan bagaimana cara mereka membangun dengan menggunakan teknologi yang ada pada masa tersebut.

Pada bagian dasar lembah, dahulu terdapat suatu bangunan yang cukup besar yang berfungsi sebagai stasiun pemancar guna mendukung komunikasi ke negeri Belanda yang berjarak 12000 km. Uniknya, mereka bisa mendapatkan lokasi yang sangat ideal, karena arah propagasi struktur antena tersebut memang menuju negara Kincir Angin terebut. Terlebih tempat ini cukup tersembunyi.

Uniknya, stasiun ini adalah murni pemancar, sedangkan penerimanya ada di Padalarang (15km) dan Rancaekek (18km). Hebohnya lagi, karena teknologinya masih boros energi, Belanda membangun PLTA di Dago, PLTU di Dayeuh kolot, dan PLTA di Pangalengan, lengkap dengan jaringan distribusinya hanya untuk memenuhi kebutuhan si pemancar ! Pemancar ini antara lain masih menggunakan teknologi kuno yaitu busur listrik (Poulsen) untuk membangkitkan ribuan kilowat gelombang radio dengan panjang gelombang 20 km s/d 7,5 km.

Bagi yang tertarik dengan sejarah stasiun radio Malabar ini, dapat mendownload ulasannya pada majalah tahun 1925 berbahasa Jerman di http://www.xs4all.nl/ . Sedangkan foto-foto antiknya bisa dilihat di http://home.luna.nl/~arjan-muil/radio/history/malabar/malabar1.html

Gedung radio pemancar ini bentuknya sangat cantik di masa itu. Sayangnya, saat ini bangunan tersebut hanya tersisa beberapa potong tembok saja, dikarena struktur bangunannya yang terbuat dari separuh kayu dan separuh tembok. Selain sepotong sisa bangunan tadi, ada juga sisa struktur dinding kolam yang saat ini dikenal dengan nama Kolam Cinta. Konon ada kepercayaan, jika sejoli berpacaran di lokasi ini akan membawa dampak bagi kelangsungan hubungan mereka. Kalau mau mendaki, sisa-sisa antena juga masih bisa dilihat dilereng gunung.

Selain bangunan utama berupa stasiun radio pemancar, pada area Gunung Puntang ini dahulunya juga terdapat perkampungan yang dihuni oleh awak stasiun pemancara dengan fasilitas yang cukup lengkap. Perkampungan yang dikenal dengan Kampung radio (Radio Dorf) ini juga dilengkapi rumah-rumah dinas petugas, lapangan tenis, bahkan konon gedung bioskop juga tersedia di masa tersebut.

Sebuah gua peninggalan Belanda juga bisa ditemukan disini dan bisa ditelusuri dengan mudah meskipun bagian dasar gua cenderung becek pada bagian dalamnya. Mulut gua ini cukup tersembunyi diantara lekukan tanah yang bila diperhatikan secara sekilas mirip dengan wajah harimau.

Kembali ke masa sekarang, pada area Gunung Puntang terdapat sebuah fasilitas rekreasi yang tidak kalah menarik. Fasilitas milik swasta ini berupa taman (namanya :Bougenvile) yang di dalamya terdapat 3 villa, 2 kolam renang, tempat bermain anak dan lokasi ini dialiri beberapa stream sungai kecil yang sangat jernih airnya. Kolam renang yang ada meperoleh pasukan air langsung dari mata air yang mengalir terus menerus sehingga selalu jernih, dingin dan bebas kaporit \)

Untuk masuk ke lokasi ini kita harus juga membeli tiket masuk dan parkir mobil. Vila-vila yang ada bisa disewa dengan tarif dari 700 ribu sampai 800 ribu rupaih. Jika berminat untuk menyewa seluruh lokasi beserta semua fasilitas yang ada dikenakan biaya sebesar 4 juta rupiah sehari.

Sebenarnya Bandung selatan menyimpan banyak potensi wisata sejenis, tapi sayang, pamornya kalah dengan Bandung Utara, apalagi untuk mencapainya umumnya melewai daerah Dayeuhkolot yang terkenal langganan banjir…. Saran saya, coba lewat Cimahi menuju Soreang. Sampai jumpa .

Spoiler for puntang
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for puntang
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for puntang
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for puntang
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
astriddita - 16/01/2010 04:15 PM
#89

Bos TS, cuma saran aja.. Kalo di page one dibuat list/index tempat-tempatnya, kayaknya bakalan bagus banget deh.. biar gampang kalo mau nyari referensi..

Cuma saran aja.. Btw makasih banget infonya..
ghostbungker - 16/01/2010 05:07 PM
#90

bro kadal..makasih banget infonya..saya akhir tahun ini ato paling lama awal tahun depan bakalan mo toring buat keliling jawa (doakan jadi..hehehe) saya mau start dari surabaya terus ke barat lewat jalur selatan dan balik lewat jalur selatan..ada saran ga saya mesti lewat mana aja. setiap kota saya saya lewati pengin cari spot yang bagus juga. saya ingin adventure ke tempat object wisata yang orang masih jarang tahu. sekalian sama traficnya bagaimana..saya rencana toring naek motor. jadi ini sekalian ngenalin wisata yang ada di jawa...mungkin misi selanjutnya ke bali dan lombok..terimakasihiloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 18/01/2010 11:52 AM
#91

Quote:
Original Posted By astriddita
Bos TS, cuma saran aja.. Kalo di page one dibuat list/index tempat-tempatnya, kayaknya bakalan bagus banget deh.. biar gampang kalo mau nyari referensi..

Cuma saran aja.. Btw makasih banget infonya..

makasih saran nya gan....nnt ane buatin indeks nya deh...kiss
Quote:
Original Posted By ghostbungker
bro kadal..makasih banget infonya..saya akhir tahun ini ato paling lama awal tahun depan bakalan mo toring buat keliling jawa (doakan jadi..hehehe) saya mau start dari surabaya terus ke barat lewat jalur selatan dan balik lewat jalur selatan..ada saran ga saya mesti lewat mana aja. setiap kota saya saya lewati pengin cari spot yang bagus juga. saya ingin adventure ke tempat object wisata yang orang masih jarang tahu. sekalian sama traficnya bagaimana..saya rencana toring naek motor. jadi ini sekalian ngenalin wisata yang ada di jawa...mungkin misi selanjutnya ke bali dan lombok..terimakasihiloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia


wow....ikut dong om...
kadalxburik - 18/01/2010 11:58 AM
#92

Melepas Penat di Hamparan Abu Vulkanik

Lereng Gunung Merapi (2.914 m) yang beberapa waktu lalu masih menimbulkan kecemasan kini mulai menawarkan keceriaan. Di antara tumpukan material abu vulkanik, senyum warga tampak merekah seiring dengan bergairahnya aktivitas wisata di sana. Dusun Kaliadem adalah salah satu pintu wisata penting di lereng Merapi. Dusun yang terletak di Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, itu merupakan dusun yang mengalami kerusakan terparah akibat limpasan material awan panas Merapi.
Awan panas yang semula menjadi ancaman bagi warga kini justru menjadi "modal" yang diberikan alam untuk menghidupkan denyut wisata. Dengan tiket seharga Rp 5.000 per orang, wisatawan bisa menyaksikan langsung kondisi daerah yang terhantam material bersuhu tidak kurang dari 200 derajat Celsius pada 14 Juni lalu itu.

"Kami menyediakan pemandu yang akan menemani wisatawan selama berkeliling di Dusun Kaliadem, serta untuk membantu wisatawan meninggalkan lokasi bila aktivitas Merapi sewaktu–waktu meningkat. Jasa pemandu ini sudah termasuk harga tiket masuk," ungkap Nartukiyo, Ketua Karang Taruna Merapi, Desa Umbulharjo.

Pemandu di Kaliadem adalah pemuda setempat yang tergabung dalam Karang Taruna Desa Umbulharjo dan Kepuharjo.

Sebelum terkena awan panas, Kaliadem juga dikenal sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Kabupaten Sleman. Ketika itu wisatawan bisa menikmati hawa sejuk di lereng gunung, lengkap dengan pemandangan Merapi serta jajanan pasar yang tersedia di warung–warung.

Kini gambaran itu jadi sejarah. Material awan panas—yang sekarang berwarna putih kelabu dan sudah membeku—telah merusak seluruh warung yang ada di sana. Abu juga menyelimuti dan mengeringkan pohon–pohon yang dulu adalah perindang di kawasan wisata Kaliadem. Hampir seluruh pohon yang berada di sekitar itu terkena limpasan material awan panas: mati dan roboh.

Alur Kali Gendol yang bersisian dengan Dusun Kaliadem juga terisi material vulkanik. Kali Gendol ini merupakan aliran utama awan panas dan guguran lava pijar dalam erupsi Merapi tahun ini.

Dari total 8,7 juta meter kubik material yang dikeluarkan selama erupsi beberapa waktu lalu, sekitar 5,7 juta di antaranya masuk ke Kali Gendol dan sebagian kecil melimpas ke Kaliadem. Sekitar 3 juta meter kubik material lainnya masuk ke Kali Krasak di sektor barat daya, atau perbatasan Kabupaten Sleman dan Magelang. Sebagian dataran di Dusun Kaliadem ikut longsor bersama material awan panas.

Di Kaliadem juga kita bisa menyaksikan bungker Kaliadem yang sempat menewaskan dua relawan saat awan panas mengalir dari ketinggian dengan jarak luncur hingga 7 kilometer itu. Bungker yang terletak sekitar 6 kilometer dari puncak Merapi dan berada di bawah permukaan tanah tersebut kini seluruhnya tertimbun material vulkanik. Pengunjung bisa mengintip kondisi di dalam bungker lewat celah pintu yang sengaja dibuka.

Dusun Kaliadem, sekitar 27 kilometer arah utara dari Kota Yogyakarta, semula belum dapat didatangi kendaraan bermotor karena jalan menuju dusun tersebut tertutup. Seminggu sebelum tempat wisata dibuka, warga, tim SAR, serta pemerintah membersihkan aspal jalan dari timbunan abu vulkanik.

Kini jalan menuju dusun itu dapat ditempuh dengan bus, mobil, atau sepeda motor dari dua arah, yakni dari Dusun Ngrakah, Desa Umbulharjo, serta dari Dusun Jambu, Desa Kepuharjo. Karena jalan menanjak, sebelum berkunjung ke tempat itu sebaiknya pastikan kendaraan dalam kondisi prima.

Untuk kenyamanan berwisata, pengunjung sebaiknya juga memakai celana panjang dan sepatu yang nyaman.

Warga desa selaku pengelola daerah wisata menyediakan fasilitas masker bagi pengunjung yang telah membeli tiket.

Juru kunci

Di sebelah selatan Kaliadem, tepatnya di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, terdapat rumah juru kunci Merapi, Mbah Maridjan. Rumah kediaman abdi dalem Keraton Yogyakarta yang bertugas "menjaga" Gunung Merapi ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki melewati jalan setapak atau dengan melintasi jalan aspal di sisi barat Kaliadem.

Di rumah juru kunci ini wisatawan bisa menikmati minuman hangat serta makanan ringan yang dijual di warung–warung sembari melepas lelah.

Wisatawan yang masih ingin menjelajah alam bisa melanjutkan perjalanan ke Tuk Pitu, yang juga terletak di Kinahrejo. Sesuai dengan namanya, Tuk Pitu merupakan tujuh mata air. Pengunjung yang memercayai kekuatan magis sering memanfaatkan mata air ini untuk kegiatan spiritual.

Wisatawan rombongan bisa juga melakukan kegiatan alam terbuka di sejumlah bumi perkemahan, seperti Wonogondang dan Sinolewah. Kegiatan alam seperti outbond, trekking, tur keliling desa menggunakan kereta kelinci, mengunjungi petani jamur kuping dan sayur mayur, atau olahraga off road merupakan alternatif yang mungkin dilakukan di lereng Merapi.

Dari bumi perkemahan itu wisatawan bisa juga menikmati pemandangan puncak Merapi sambil menghangatkan badan di sekitar api unggun. Selain di bumi perkemahan, pengunjung Kaliadem juga bisa bermalam di puluhan penginapan kelas melati milik warga.

Penggemar permainan perang–perangan juga bisa mengikuti paintball game di Babusa Paintball, di Jalan Cangkringan Kilometer 5. Penggemar golf pun bisa menyalurkan hobinya di Merapi Golf yang berlatar belakang Gunung Merapi.

Kaliurang

Setelah puas mengunjungi kawasan wisata di Kecamatan Cangkringan, wisatawan bisa melanjutkan rekreasi ke kawasan Kaliurang, Pakem, yang terletak di barat Cangkringan. Kawasan wisata yang dikenal dengan makanan khas jadah–tempe itu bisa dicapai dalam waktu 10 menit dari Kaliadem.

Kaliurang menawarkan berbagai jenis wisata, antara lain wisata budaya dan sejarah yang disajikan di Museum Ullen Sentalu. Anak–anak juga bisa berwisata di Taman Bermain Kaliurang. Penggemar trekking bisa mengunjungi Hotel Vogels yang menyediakan kegiatan alam bebas. Pengelola Vogels menyediakan paket perjalanan mendaki bukit untuk menikmati Gunung Merapi dari dekat. Para petualang alam menyukai paket ini karena bisa lebih intim merasakan atmosfer Merapi.

Sejumlah vila di Kaliurang ini menjadi pilihan untuk mengadakan kegiatan berkelompok dalam jangka waktu yang relatif panjang. Wisatawan yang hendak menginap bisa memilih sejumlah hotel dan penginapan yang tersebar di seluruh Kaliurang.

Di barat Kaliurang, tepatnya di Dusun Kemirikebo dan Nganggring, Desa Girikerto, Kecamatan Turi, terdapat peternakan kambing etawa. Sejumlah kelompok masyarakat juga mengolah susu segar dari kambing etawa ini menjadi susu bubuk atau karamel susu kambing.

Hampir di seluruh wilayah Kecamatan Turi terdapat perkebunan salak. Pengunjung yang ingin menikmati suasana kebun salak bisa mendatangi sejumlah tempat wisata yang disediakan, antara lain perkebunan salak organik Si Cantik yang terletak di Dusun Kenteng, Desa Wonokerto, Turi. Hampir setiap saat ada saja panen salak di lereng Merapi sektor barat daya ini.

Spoiler for merapi
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for merapi
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for merapi
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


[spoiler=merapi][IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 18/01/2010 12:03 PM
#93

Gua Selomangleng

Gua Selomangleng merupakan objek wisata populer di Kabupaten Kediri. Dinamakan Selomangleng dikarenakan lokasinya yang berada di lereng bukit >(Jawa=Selo=Batu, Mangleng=Miring), kira-kira 40 meter dari tanah terendah di kawasan. Gua ini terbentuk dari batu andesit hitam yang berukuran cukup besar, sehingga nampak cukup menyolok dari kejauhan. Sepintas tidak ada yang istimewa di gua batu ini, keunikan baru terlihat begitu mendekati pintu gua. Beberapa meter dibawah mulut gua terdapat beberapa bongkahan batu yang berserakan. Sebagian diantaranya terdapat pahatan, menandakan bahwa tempat ini sudah pernah disentuh manusia. Berbagai corak relief menghiasai dinding luar gua, diantaranya ada yang berbentuk manusia.

Melongok kedalam gua, suasana gelap gulita dan aroma dupa yang cukup menyengat datang menyambut pengunjung. Tidak heran bila ada beberapa pengunjung yang takut atau berfikir panjang sebelum memutuskan untuk memasukinya. Kesan mistis terasa kental sekali saaat berada didalamnya. Beberapa pengunjung nampak buru-buru keluar setelah tidak lama memasuki ruang karena, dikarenakan tidak kuat dengan aroma dupa yang menyengat.

Gua yang terbuat dari batuan andesit ini menjadikannya kedap air. Tidak ada stalagtit maupun stalagmit yang umum dijumpai pada gua-gua alam. Terdapat tiga ruangan dalam gua, dari pintu masuk kita akan tiba di ruanagan utama yang tidak begitu lebar dengan sebuah pintu kecil disisi kiri dan kanan untuk menuju ruangan lain dari dalam gua.

Didalam gua ini banyak sekali dijumpai relief yang menghiasi dinding gua. Diperlukan penerangan tambahan untuk bisa melihatnya dengan jelas. Saya sendiri menggunakan sinar lampu dari telepon genggam yang kebetulan bisa difungsikan sebagai lampu penerangan (senter). Pada dasar lantai banyak sekali ditemukan bunga-bunga sesajen berwarna merah dan kuning yang masih segar. Suatu pertanda bahwa tempat ini cukup sering digunakan untuk mengasingkan diri, bertapa atau tirakat bagi kalangan masyarakat tertentu.

Memasuki ruangan sebelah kiri dari pintu masuk gua, pengunjung mesti sedikit merangkak dikarenakan ukuran pintunya yang cukup kecil. Ketika mencoba memasuki ruangan tersebut, praktis cahaya yang ada semakin minim dikarenakan tidak adanya penerangan pada ruang tersebut. Ditambah ruangannya yang kecil dengan atap yang rendah sehingga kesan sempit dan sumpek mendominasi suasana dalam ruangan tersebut. Sulit kali untuk melihat apa saja yang ada di dalam ruangan tersebut. Ketika mencoba menelusuri dinding gua dengan penerangan dari telpon genggam, barulah terlihat bahwa bagian dalam gua tersebut juga memiliki relief-relief yang senada dengan bagian luar gua.

Berbeda dengan ruang sebelah kiri gua, pada sisi kanan gua, terdapat relief pada bagain atas dari pintu masuk. Mirip dengan relief yang sering menghiasi bagian atas dari pintu masuk candi. Ruangan ini sedikit lebih lebar dari sisi kiri. Pada dinding gua, terdapat bagian yang menonjol dengan cerukan kecil dibagian bawahnya, membentuk tungku. Sebatang dupa yang masih menyala nampak berada didalam tungku tersebut, menebarkan aroma menyengat yang memenuhi seluruh ruangan. Relief-rleief yang ada masih bisa terlihat cukup jelas untuk dinikmati.

Dari cerita yang beredar, Gua Selomangleng dulu pernah digunakan oleh Dewi Kilisuci sebagai tempat pertapaan. Dewi Kilisuci adalah putri mahkota Raja Erlangga yang menolak menerima tahata kerajaan yang diwariskan kepadanya, dan lebih memilih menjauhkan diri dari kehidupan dunia dengan cara melakukan tapabrata di Gua Selomangleng.

Terlepas dari gelap dan pengapnya suasana dalam gua, objek wisata Gua Selomangleng patut dikunjungi saat anda berada di Kediri. Tak jauh dari lokasi gua ini juga terdapat museum purbakala yang bisa dikunjungi dan banyak sekali menyimpan benda-benda arkeologi berupa patung/arca.

Spoiler for selomangleng
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for selomangleng
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for selomangleng
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for selomangleng
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 18/01/2010 12:07 PM
#94

Candi Sukuh

Bentuk candi ini yang berupa trapezium memang tak lazim seperti umumnya candi-candi lain di Indonesia. Sekilas tampak menyerupai bangunan suku Maya di Meksiko atau suku Inca di Peru. Candi ini juga tergolong kontroversial karena adanya obyek-obyek lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas.
Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu yakni di dukuh Berjo, desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.

Situs candi Sukuh ditemukan kembali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Kemudian setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, yang berwarganegara Belanda melakukan penelitian. Lalu pada tahun 1928, pemugaran dimulai.

Candi Sukuh dibangun dalam tiga susunan trap (teras), dimana semakin kebelakang semakin tinggi. Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada gapura ini ada sebuah candrasangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Dilantai dasar dari gapura ini terdapat relief yang menggambarkan phallus berhadapan dengan vagina. Sepintas memang nampak porno, tetapi tidak demikian maksud si pembuat. Sebab tidakmungkin di tempat suci yang merupakan tempat peribadahan terdapat lambang-lambang yang porno. Relief ini mengandung makna yang mendalam. Relief ini mirip lingga-yoni dalam agama Hindu yang melambangkan Dewa Syiwa dengan istrinya (Parwati). Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja di pahat di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”.

Pada teras kedua juga terdapat gapura namun kondisinya kini telah rusak. Di kanan dan kiri gapura yang biasanya terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala, didapati pula, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Namun pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jadi jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir duapuluh tahun dengan gapura di teras pertama !

Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.

Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masing sering dipergunakan untuk bersembahyang.

Dengan struktur bangunan seperti ini boleh dibilang Candi Sukuh dikatakan menyalahi pola dari buku arsitektur Hindu Wastu Widya. Di dalam buku itu diterangkan bahwa bentuk candhi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengahnya, dan yang ditengah itulah tempat yang paling suci. Sedangkan ikwal Candi Sukuh ternyata menyimpang dari aturan-aturan itu, hal tersebut bukanlah suatu yang mengherankan, sebab ketika Candi Sukuh dibuat, era kejayaan Hindu sudah memudar, dan mengalami pasang surut, sehingga kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi yaitu kebudayaan prahistori jaman Megalithic, sehingga mau tak mau budaya-budaya asli bangsa Indonesia tersebut ikut mewarnai dan memberi ciri pada candhi Sukuh ini. Karena trap ketiga ini trap paling suci, maka maklumlah bila ada banyak petilasan. Seperti halnya trap pertama dan kedua, pelataran trap ketiga ini juga dibagi dua oleh jalan setapa yang terbuat dari batu. Jalan batu di tengah pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada di “bangunan suci” prasejarah jaman Megalithic.

Di sebelah selatan jalan batu, di pada pelataran terdapat fragmen batu yang melukiskan cerita Sudamala. Sudamala adalah salah satu 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil “ngruwat” Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya. Sadewa berhasil “ngruwat” Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang bidadari.di kayangan dengan nama bethari Uma Sudamala maknanya ialah yang telah berhasil membebaskan kutukan atau yang telah berhasil “ngruwat”.Adapun Cerita Sudamala diambil dari buku Kidung Sudamala.

Pada lokasi ini terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian Tirta Amerta yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti. Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari Tirta Amerta.

Secara keseluruhan, mengunjungi objek wisata Candi Sukuh memberikan pandangan baru akan bentuk candi maupun relief2-nya yang tidak lazim seperti layaknya candi-candi lain di pulau jawa. Tentunya hal ini merupakan bukti yang menunjukkan akan kekayaan budaya bangsa Indonesia

Spoiler for sukuh
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for sukuh
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for sukuh
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for sukuh
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 18/01/2010 12:16 PM
#95

Gua Maharani

Hanya berjarak kurang lebih 200 meter dari pantai Laut Jawa yang berada di kawasan wisata pantai Tanujung Kodok (sekarang telah berubah nama menjadi kawasan Wisata Bahari Lamongan), Gua Istana Maharani merupakan salah satu objek wisata gua yang cukup terkenal di Indonesia.


Lokasi Gua Istana Maharani sangat strategis sebagai tempat wisata untuk santai istirahat dalam perjalanan wisata budaya ziarah makam Walisongo di sepanjang pantai utara Pulaua Jawa. Disebelah timur Gua Istana Maharani terdapat makam Sunana Drajat sedangkan di selatan gua kurang lebih 1,5 km terdapat situs makam Sunan Sendang Duwur yang berada pada gunung Amitunon, tempat pembakaran mayat si zaman Majapahit dan Singosari.

Dengan luas yang tidak seberapa besar yakni +/- 2500 m2, dibutuhkan waktu kurang lebih setengah jam untuk mengitarinya dengan mengikuti tangga dan jalan setapak yang dibangun didalam gua dan terbuat dari semen. Pada bagian atas gua telah dibuatkan jalan angin berupa blower kipas angin yang menembus batu setebal lima meter. Berbagai lampu sorot warna-warni memperkuat dan memperjelas sisi-sisi gua ini yang memang penuh dengan berbagai bentuk maupun ornamen dari bebatuan stalagtit/stalagmit. Ornamen bebatuan stalagtit/stalagmit tersebut cukup unik, ada yang berbentuk mirip singgasana raja ada pula yang mirip flora/fauna. Total ada puluhan nama yang mewakili sekelompok tertentu dari batuan gua.

Gua Istana Maharani ini ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang kuli batu bernama Sugeng tatkala mengali batuan fosfat ditempat kerjanya. Pada hari Kamis 6 Agustus 1992, tatkala rekan-rekan kerjanya telah mulai istirahat siang karena kelelahan,Sugeng tetap bekerja tanpa suatu firasat apapun. Tiba-tiba saja ujung linggisnya menembus sebuah dinding dimana terdapat rongga besar didalamnya. Sugen bersama teman-temannya dengan gemetar memasuki gua yang masih perawan ini dengan penerangan lampu senter. Decak kagum menyelimuti hati para pekerja harian itu ketika mereka berada dalam rongga tanah berkapur yang ternayat amat luas dan penuh dengan keindahan bebatuan stalagtit dan stalakmit yang menakjubkan. Dari pantulan lampu senter terlihat gemerlap kilauan bintik-bintik putih terang bak intan berlian memantul ke wajah. Itulah kerlap kerlip batu kapur di langit-langit di lantai dan di-dinding gua, terkena sinar dari luar lewat pintu gua yang baru dibuat oleh sugeng dan kawan-kawannya.

Dua hari mereka merahasiakan penemuan gua ini namun setelah itu bocor juga berita adanya guaindah di akwasan Tanjung Kodok. Pada saat itu juga mandor Sunyoto segera melapor kepada Camat Paciran dan diteruskan ke Pemerintah Kabupaten Dati II Lamongan tentang penemuan gua indah oleh pekerjanya. Masyarakatpun mulai berbondong-bondong memasuki gua untuk melihat kecantikan isi gua dengan bantuan lampu penerangan petromak. Namun sayangnya banyak pengunjung yang merusak ujung-ujung stalaktit untuk dibawa pulang. Untuk pengamanan sementara, maka dibuatkan pintu berjeruji besi pada awal minggu ke dua setelah penemuan gua ini.

Keunikan terjadi saat pemberian nama gua ini. Banyak orang saling mengusulkan nama untuk gua yang baru ditemukan baik dari pejabat maupun dari masyarakat. Akhirnya oleh Bupati Lamongan di beri nama Gua Istana Maharani, yang merupakan pemberian nama dari istri Sunyoto, berdasarkan mimpi yang diperolehnya sebelum gua itu ditemukan. Kabarnya, sehari sebelum tanggal 6 Agustus 1992, Ny Sunyoto bermimpi bahwa direlung batu did epan gua baru tempat kerja suaminya ini terlihat seorang wanita canik memakai mahkota warna-warni. Mahkota wanita cantik ini bercahaya kemilau berlapis emas bertahtakan intan-berlian, bermotifkan bunga mawar dan dahlia. Ketika Ny Sunyoto terbagun dalam keheningan malam, merasakan ada bisikan bahwa dia baru saja melihat mahkota indah milik seorang Ratu yang disebut Maharani. Sang Ratu bermahkota indah ini tampak dalam relung didepan pintu gua yang akhrinya menjadi kenyataan.

Nama Maharani atau Istana Maharani sangat cocok ditetapkan,sebab di dalam gua ini terdapat banyak kenyataannya. Kondisi dalam gua, bak istana dimana terdapat seonggok bebatuan stalgamit di pelataran gua yang mirip mahkota Raja Puteri (Ratu Maharani). Ruangan Gua Istana Maharani dipenuhi pilar-pilar penyangga dan langit-langit berukir. Sungguh sangat mempesona jika telah masuk gua istana Maharani secara phisik

Spoiler for maharani
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for maharani
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for maharani
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for maharani
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
KewZ - 19/01/2010 09:53 AM
#96

nice thread ts..
tapi kalo bisa dibikin per kelompok donk..
misal tempat wisata dibali..
sebutin list2nya..
biar ga susah bacanya..
jadi kaskuser makin enak deh..
thx gan
wazirtjp - 19/01/2010 01:54 PM
#97

kalo yg belitung juga bagus mas..ane juga punya referensi foto2 belitung..kalo mau pm ane aja..tq..biar thread nya tambah keren..salam kenal dari forum sebelah..
kadalxburik - 19/01/2010 02:29 PM
#98

Quote:
Original Posted By KewZ
nice thread ts..
tapi kalo bisa dibikin per kelompok donk..
misal tempat wisata dibali..
sebutin list2nya..
biar ga susah bacanya..
jadi kaskuser makin enak deh..
thx gan

thanks gan atas saran nya....kiss
Quote:
Original Posted By wazirtjp
kalo yg belitung juga bagus mas..ane juga punya referensi foto2 belitung..kalo mau pm ane aja..tq..biar thread nya tambah keren..salam kenal dari forum sebelah..


salam kenal juga gan shakehand2

kalo mau nambahin langsung posting disini juga gak apa2 gan...ilovekaskus
kadalxburik - 19/01/2010 02:39 PM
#99

Petualangan Tanpa Tembang di Gua Kiskendo

"Singgah-singgah kala singgah/Tan suminggah durgakala sumingkir/Singa sirah, singa suku/Singa tan kasat mata/Singa tenggak, singa wulu, singa bahu/Kabeh padha sumingkira/Ing telenge jala nidhi"

Babahe menyanyikan tembang macapat itu dengan gaya pangkur, ketika kami melangkah beberapa meter, setelah melewati pintu Gua Kampret atau Gua Lawa di kompleks Gua Kiskendo, Desa Guwo, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal. Lirik tembang itu berisi mantra penolak bala.
Ya, sepanjang perjalanan menelusuri gua itu tak henti-henti dia menembang. Perasaan takut dan lelah pun nyaris tak terasa. Bahkan, Babahe bilang merasa beroleh energi tambahan ketika melantunkan bait demi bait itu berulang-ulang, terus-menerus.

Lorong gua berisi stalagmit dan stalaktit. Basah dan licin. Kami melepas alas kaki, sebelum memasuki gua. Batu-batu itu tak runcing dan tajam. Jadi, kemungkinan kecil kaki kami lecet atau luka karena tergores.

Kami, 16 orang, semula cuma berniat jalan-jalan, sekadar mengisi waktu luang pada hari libur. Tak sepenuhnya tepat menyebut diri petualang atau penjelajah gua karena persiapan tak maksimal. Peralatan dan logistik kami terbatas. Cuma dua lampu senter kecil yang sebenarnya korek api serta lima obor bambu dan air minum mineral dua botol kecil dan satu botol besar. Dan, semua itu untuk 16 orang.

Bekal kemampuan penelusuran gua pun nyaris kami tak punyai. Modal kami cuma semangat dan rasa penasaran. Ya, seperti apa sih rasanya berada di dalam gua ratusan meter dalam kegelapan, dalam keheningan, jauh dari hiruk pikuk duniawi? Kami penasaran. Kami ingin tahu apa sesungguhnya isi gua itu dan apa yang ada di ujung lorong gua, jauh di kedalaman bumi.

Seperti umumnya pada gua-gua penuh kelelawar, di Gua Kampret, kami menjumpai kelelawar beterbangan. Kelelawar itu barangkali terusik oleh kehadiran kami. Meski, sebenarnya, kami lebih senang menyatakan kelelawar itu mengucapkan selamat datang.

Kelelawar-kelelawar yang beterbangan di dalam kegelapan gua itu tak tampak jelas di mata. Namun kepakan sayap, cericit, bau kotoran binatang itu jelas terasa. Apalagi sesekali ada di antara kami tertabrak mereka. Bayang-bayang, kepakan sayap, dan kesiur angin akibat kemunculan binatang itu terus menyertai kami sampai beberapa lama. Ketika atap gua makin rendah, hingga mesti berjongkok, merangkak, atau merayap, baru kami menyadari kehadiran kelelewar itu terasa makin jauh di belakang.

Lekukan Bergelombang

Selangkah demi selangkah kami maju. Tak terasa kami sudah menyusuri lorong gua sejauh kurang lebih 250 meter. Dada kami menyesak karena kadar oksigen berkurang. Apalagi lorong gua dipenuhi asap obor yang kami nyalakan.

Kami memutuskan memadamkan beberapa obor, sehingga tinggal dua obor yang menyala. Lontaran-lontaran lelucon di antara kami melenyap. Kami, sadar atau tidak, makin jeli mencermati keadaan gua.

Lorong gua terdiri atas lekukan-lekukan yang bergelombang. Di medan-medan tertentu kami mendapati ruang cukup longgar, 2,5 meter dengan ketinggian 180 sentimeter. Namun tak jarang kami harus merayap seperti reptil lantaran jarak antara lantai dan atap gua tinggal 30 sentimeter.

Kami membagi obor, satu di depan rombongan dan satu di tengah. Dalam perjalanan berikutnya, obor di depan secara estafet diserahkan ke personel di belakang. Begitu seterusnya.

Menit-menit terakhir, tujuh orang di barisan depan yang berpenerangan obor pertama menghadapi medan terberat. Ya, mereka harus menyusuri jarak sejauh 50 meter dengan merayap. Akhirnya kami memutuskan cuma lima orang - Kuncung, Pak Pi, Kesed, Bendot, dan Dono - yang berada di depan untuk melintasi trek itu dan melihat kemungkinan menembus gua lebih jauh. Dua orang - saya dan Topeng - mundur, bergabung dengan Babahe, Mbah Ri, Hardi, Kondom, Dodik, Mamik, Monyong, Kasmadi, dan Capung.

Kelima orang yang mampu melewati medan terberat ternyata menghadapi hambatan: air. Ya, di ujung lorong ada kolam air atau kedung dengan dinding mengadang.

Mereka harus menyelam jika ingin menjajaki kemungkinan meneruskan perjalanan. Namun tiba-tiba Kuncung berseru bahwa obor di depan mati. Padahal, korek yang mereka bawa basah. Mereka butuh obor pengganti atau senter. Kami meminta mereka kembali. Tak ada di antara kami sanggup merayap 50 meter untuk membawakan obor bagi mereka.

Untung, Dono yang membawa handycam dengan cerdas memanfaatkan cahaya kamera itu sehingga rombongan pembawa obor di depan mampu menerobos kembali medan paling berat. Dan, kembali bergabung dengan kami.

Mereka menyatakan 50 meter lagi, setelah melewati kedung, sangat mungkin lorong gua kembali bisa kami susuri. Namun, entah sampai kapan, entah sampai seberapa jauh.

Lele Putih

Kuncung bercerita melihat seekor lele putih seukuran botol teh terus-menerus mengikuti mereka. Itulah, antara lain, yang membuat mereka berlima memutuskan kembali. Dasar amatir, begitu bersepakat kembali, mereka berlima saling mendahului untuk bisa bergabung lagi dengan kami di belakang.

Kami lega setelah semua lengkap berkumpul di bagian gua terlebar dan memutuskan segera keluar dari Gua Kampret. Saat itulah baru saya sadari, selama dihinggapi ketegangan memilih meneruskan atau segera keluar, Babahe tak lagi menembang.

Di luar, di taman parkir kompleks Gua Kiskendo, saat beristirahat sembari menikmati teh hangat di sebuah warung, kami memperoleh informasi dari tukang parkir sekaligus penjaga taman bahwa lele di dalam gua itu memang putih. Mungkin karena tak pernah terkena sinar matahari. "Saya sering menembaki lele itu dan mengambilnya," katanya. "Di gua itu, selain lele dan kelelawar, ada ular kobra. Namun ular itu tak mengganggu selama tidak diganggu," sambung dia.

Blaik! Kalau sejak awal tahu di gua itu ada ular, tentu kami tak bakal masuk. Apalagi bulan ini, di berbagai kawasan acap terjadi banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan puting beliung.

Semestinya kondisi alam itu saja sudah jadi perhitungan bagi kami untuk tak menelusuri gua.

Apalagi gua yang memiliki aliran sungai. Ya, di Gua Kampret kami menjumpai air keluar dari dinding-dinding gua. Tak begitu jernih. Barangkali karena beberapa hari sebelumnya hujan amat lebat.

Di mulut gua, arus air cukup deras dari aliran sungai. Bila hujan turun, kemungkinan air itu bisa meluap dan masuk ke dalam gua. Syukurlah, saat itu cuaca cerah dan kami bisa kembali ke rumah tanpa kekurangan sesuatu pun, kecuali sedikit lecet-lecet di kaki. Syukurlah!

Dan Subali, dan Sugriwo? Ah, tak kami temui (kerangka) mereka di sana. Karena, kisah pertempuran Subali melawan Lembusura-Mahesasura memang tak benar-benar terjadi di sana bukan?

Spoiler for kiskendo
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for kiskendo
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for kiskendo
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 19/01/2010 02:45 PM
#100

Gua Jatijajar

Gua Jatijajar merupakan salah satu objek primadona di Kabupaten Kebumen. Gua ini membentang sepanjang +/- 250 meter dengan lebar rata-rata 25 meter dengan ketinggian 15 meter, sehingga memudahkan bagi pengunjung untuk memasukinya. Didalam gua ini masih terdapat sungai bawah yang masih aktif dan juga terdapat empat buah sendang yakni: kantil, mawar, jombor dan puser bumi. Sendang Kantil dan Mawar dipercayai dapat menjadikan awet muda bagi siapa saja yang mau membasuh mukanya dengan air yang ada pada kedua sendang tersebut.
Untuk menikmati isi dari Gua Jatijajar ini, tidaklah membutuhkan keahlian tinggi dan mesti dilengkapi dengan peralatan caving yang lengkap. Didalam gua ini telah dipasang berbagai lampu warna-warni yang akan menambah kesan tersendiri saat menikmatinya. Tidak hanya instalasi penerangan, didalam gua ini juga telah diisi dengan berbagai patung seukuran manusia yang menceritakan kisah Raden Kamandaka atau yang lebih dikenal dengan kisah Lutung Kasarung.
Patung-patung ini berwarna putih bersih dan diletakkan berkelompok-kelompok pada berbagai sudut gua mewakili suatu fragmen cerita. Sayangnya tidak adanya brosur yang lengkap pada objek ini mengakibatkan pengunjung yang tidak mengetahui cerita Lutung Kasarung, kurang bisa menikmati atau mengerti tentang fragmen apa yang sedang diceritakan oleh patung-patung tersebut. Ada baiknya saat menikmati isi gua ini, pengunjung didampingi dengan pemandu wisata sehingga bisa tahu dan menikmati isi gua secara lebih lengkap.

Didalam gua juga telah dibuatkan jalur jalan yang terbuat dari semen. Pada bagian jalan yang menurun maupun mendaki juga telah dibuatkan anak tangga lengkap dengan pegangannya yang terbuat dari besi. Disisi kiri dan kanan jalan pada jarak tertentu juga telah dipasang lampu penenrangan, yang kesemuanya ini tentunya akan semakin memudahkan pengunjung untuk menjelajah seluruh isi gua. Gua ini juga masih memiliki banyak lubang keluar pada bagian atasnya, sinar matahari yang menerobos masuk kedalam gua memberikan kesan indah tersendiri saat dinikmati.

Bebatuan stalagtit dan stalagmit yang ada pada gua ini cukup menarik, diantaranya bahkan masih aktif untuk terus tumbuh. Hal ini ditandai dengan masih adanya air yang mengalir dan menetes pada ujung-ujungnya. Namun secara pribadi saya merasa keberadaan patung-patung yang ada pada gua ini, sedikit tidaknya memalingkan pengunjung untuk menikmati corak atau ornamen dari bebatuan yang ada. Permainan cahaya dari penerangan yang ada semestinya diatur sedemikian rupa sehingga bisa menambah kesan indah akan ornamen batu yang ada.

Pada sisi lain di bagian luar dari Gua Jatijajar, pengunjung akan menjumpai sebuah patung dinosaurus berwarna hijau berukuran besar dengan mulutnya yang menganga lebar. Dari dalam mulut tersebut mengalir air dengan derasnya, dimana air tersebut berasal dari sungai bawah tanah yang ada didalam/bawah gua jatijajar. Air tersebut mengalir keluar dari mulut patung dinosaurus menuju aliran sungai besar dimana pengunjung terutama anak kecil banyak memanfaatkannya sebagai sarana permainan air. Dimusim penghujan, air sungai tersebut mengalir sangat deras sekali bahkan bisa meluap dan menggenangi dasar Gua Jatijajar.

Sebenarnya di kawasan objek wisata ini juga terdapat gua lain yakni Gua Dempok, Titikan dan Intan. Sayangnya fasilitas yang ada didalam gua tidaklah selengkap seperti apa yang ada di Gua Jatijajar, sehingga sedikit sekali orang yang berminat untuk menelusurinya. Prasarana dan sarana yang ada di sekitar objek wisata juga telah cukup banyak, termasuk diantaranya sarana angkutan umum berupa bis berukuran sedang yang siap mengantar penumpang semenjak dari tepi jalan utama pantai selatan (pansel) Kebumen - Yogyakarta, hingga menuju lokasi objek wisata gua alam, Jatijajar.

Spoiler for jati jajar
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for jati jajar
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for jati jajar
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
Page 5 of 27 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 >  Last ›
Home > LOEKELOE > TRAVELLERS > Domestik > Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)