Domestik
Home > LOEKELOE > TRAVELLERS > Domestik > Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)
Total Views: 91926 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 6 of 27 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 >  Last ›

kadalxburik - 19/01/2010 02:49 PM
#101

Rawa Pening

Taman Wisata RawaPening terdapat di daerah ambarawa, untuk dapat masuk kesana. Jalan menunju Rawa Pening ini terdapat di jalan Raya Semarang – Salatiga ambarawa kabupaten semarang. Keindahan rawa pening dapat anda nikmati pada saat pagi hari, karena Tempat Wisata rawa pening ini menawarkan keindahan danau tersebut.
Loket dibuka pukul 8.30 sd 21.00 pada pagi hari anda dapat berekreasi bersama keluarga ditaman rawa pening, karena memang desain taman yang asri ditaman rawa pening sangat cocok untuk rekreasi bersama keluarga, selain menikmati keindahan Danau dirawa pening.

Anda dapat menyewa perahu yang telah disediakan di dermaga danau, anda bisa berkeliling danau dan melihat banyaknya eceng gondok dan kehidupan nelayan dirawa pening tersebut. Untuk menyewa perahu yang berkapasitas 10 sd 15 orang ini anda dapat menyewanya seharga Rp 25.000/jam, jadi untuk menghemat lebih baik anda menunggu orang lagi yang ingin menaiki perahu ntersebut. Pada malam hari banyak orang yang datang kewisata rawa pening ini untuk menikmati sajian ikan bakar, karena diareal luar taman banyak terdapat kedai dan rumah makan tradisional yang banyak menyediakan Ikan Gurame bakar.

Bagi anda yang hobi memotret/fotografi, keindahan rawa pening ini sangatlah unik. Terutama dipagi hari pada saat sunrise, sangat disarankan anda datang ketaman rawa pening pada jam 5.00 pagi pada saat sunrise. Dan menunggu didermaga tepi danau untuk memotret keindahan panorama danau rawa pening, konon suasana pagi dirawa pening sangat misterius dan mistis. Dan sangat indah untuk diabadikan lewat sebuah kamera, menjelang pagi anda dapat melanjutkan hunting anda dengan menaiki kapal yang disewakan didermaga, biasanya pada saat pagi para nelayan sedang aktif menjala dan mencari ikan didanau yang banyak terdapat eceng gondok tersebut, danau rawa pening ini sangatlah luas. Kalau anda lupa waktu mungkin tidak akan terasa matahari tepat diatas. Selain musium kereta di ambarawa, tidak ada salahnya anda mampir ke taman Wisata Rawa Pening ini.

Spoiler for rawa pening
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for rawa pening
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for rawa pening
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 19/01/2010 02:55 PM
#102

Lawu, Gunung Indah Penuh Cerita Sejarah


Terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, Lawu memiliki panorama alam yang indah. Banyak wisatawan minat khusus yang mendakinya. Gunung ini pun kerap disambangi para peziarah karena menyimpan obyek-obyek sakral bersejarah. Tempat sakral di sekitar Gunung Lawu terutama petilasan-petilasan Raden Brawijaya seperti Pertapaan Raden Brawijaya, dan Cengkup (rumah kecil yang ditengah-tengahnya terdapat kuburan). Konon nisan yang ada di Cengkup itu adalah Petilasan Prabu Brawijaya, bekas Raja Majapahit yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Lawu. Cangkup dan tempat pertapaan Raden Brawijaya ini terletak di Hargo Dalem, puncak tertinggi kedua Gunung Lawu.

Di gunung berketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini memang menyimpan berbagai peninggalan sejarah kerajaan Majapahit seperti, Candi Ceto, Candi Sukuh yang merupakan peninggalan Raden Brawijaya selama dalam pelariannya.

Gunung Lawu adalah gunung yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar terutama penduduk yang tinggal di kaki gunung. Tidak heran bila pada bulan-bulan tertenu seperti bulan Syuro penanggalan Jawa, gunung ini ramai didatangi oleh para peziarah terutama yang datang dari daerah sekitar kaki Gunung Lawu seperti daerah Tawamangun, Karanganyar, Semarang, Madiun, Nganjuk, dan sebagainya.

Mereka sengaja datang dari jauh dengan maksud terutama meminta keselamatan dan serta kesejahteraan hidup di dunia. Lokasi yang dikunjungi para peziarah terutama tempat yang dianggap keramat seperti petilasan Raden Brawijaya yang dikenal oleh mereka dengan sebutan Sunan Lawu. Selain itu Sendang Derajat, Telaga Kuning, dsb.

Peninggalan-peninggalan besejarah itu menjadi salah satu saksi sejarah bahwa bangsa kita sejak dahulu berbudaya tinggi oleh karenanya patut dilestarikan karena memberi nilai lebih pada gunung ini.

Di puncak Gunung Lawu ini, menurut cerita yang berkembang di masyarakat yang tinggal di kaki, bahwa Raden Brawijaya lari ke Gunung lawu untuk menghindari kejaran pasukan Demak yang dipimpin oleh putranya yang bernama Raden Patah, serta dari kejaran pasukan Adipati Cepu yang menaruh dendam lama kepada Raden Brawijaya. Konon Raden Brawijaya meninggal di puncak Gunung Lawu ini dibuktikan dengan adanya Cengkup serta petilasan-petilasannya di puncak Gunung Hargo Dalem dengan ketinggian 3.148 mdpl.

Menurut kisah, setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit, muncul kerajaan Islam yang berkembang cukup pesat yaitu Kerajaan Demak yang dipimpin oleh seorang raja bernama Raden Patah, masih merupakan putra Raden Brawijaya. Beliau menjadikan Kerajaan Demak menjadi kerajaan besar di Jawa. Pada saat itu Raden Patah bermaksud mengajak ayahnya yaitu Raden Brawijaya memeluk agama Islam, akan tetapi Raden Brawijaya menolak ajakan anaknya untuk memeluk ajaran yang dianut Raden Patah.

Raden Brawijaya tidak ingin berperang dengan anaknya sendiri dan kemudian Raden Brawijaya melarikan diri. Penolakan ayahnya untuk memeluk agama Islam membuat Raden Brawijaya terus dikejar-kejar oleh pasukan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah. Untuk menghindari kejaran pasukan Demak, Raden Brawijaya melarikan diri ke daerah Karanganyar.

Disini Raden Brawijaya sempat mendirikan sebuah candi yang diberi nama Candi Sukuh yang terletak di Dusun Sukuh Desa Berjo Karanganyar. Tetapi belum juga merampungkan candinya, Raden Brawijaya keburu ketahuan oleh pasukan Demak, pasukan Demak dan pengikut-pengikut Raden Patah terus mengejarnya sehingga Raden Brawijaya harus meninggalkan Karanganyar dan meninggalkan sebuah candi yang belum rampung.

Kemudian Raden Brawijaya melarikan diri menuju kearah timur dari Candi Sukuh. Di tempat persembunyiannya, Raden Brawijaya sempat pula mcndirikan sebuah Candi, tetapi sayang tempat persembunyian Raden Brawijaya akhirnya diketahui oleh Pasukan Demak. Raden Brawijaya melarikan diri lagi dengan meninggalkan sebuah candi yang sampai sekarang dikenal masyarakat dengan sebutan Candi Ceto. karena merasa dirinya telah aman dari kejaran Pasukan Demak, Raden Brawijaya sejenak beristirahat akan tetapi malapetaka selanjutnya datang lagi kali ini pengejaran bukan dilakukan oleh Pasukan Demak tetapi dilakukan oleh pasukan Cepu yang mendengar bahwa Raden Brawijaya yang merupakan Raja Majapahit bermusuhan dengan kerajaan Cepu masuk wilayahnya sehingga dendam lama pun timbul.

Pasukan Cepu yang dipimpin oleh Adipati Cepu bermaksud menangkap Raden Brawijaya hidup atau mati. Kali ini Raden Brawijaya lari ke arah puncak Gunung Lawu menghindari kejaran Pasukan Cepu tapi tak satu pun dari pasukan Cepu yang berhasil menangkap Raden Brawijava yang lari ke arah puncak Gunung Lawu melalui hutan belantara.

Didalam persembunyian di Puncak Gunung Lawu, Raden Brawijaya merasa kesal dengan ulah Pasukan Cepu lalu ia mengeluarkan sumpatan kepada Adipati Cepu yang konon isinya jika ada orang-orang dari daerah Cepu atau dari keturunan langsung Adipati Cepu naik ke Gunung Lawu, maka nasibnya akan celaka atau mati di Gunung Lawu. Dan katanya bahwa sumpatan dari Raden Brawijaya ini sampai sekarang tuahnya masih diikuti oleh orang-orang dari daerah Cepu terutama keturunan Adipati Cepu yang ingin mendaki ke Gunung Lawu, mereka masih merasa takut jika melanggarnya.

bersambung.........

iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 19/01/2010 02:56 PM
#103

Sendang Panguripan & Drajat

Tempat yang sering didatangi oleh para peziarah selain tempat yang ada di puncak Hargo Dalem dan Hargo Dumilah adalah Sendang Panguripan dan Sendang Drajat. Konon di Sendang Panguripan memiliki kekuatan supernatural. Di Sendang Panguripan ini sumber airnya sering dimanfaatkan oleh para peziarah untuk mencari kehidupan. Mereka percaya sumber air yang ada di sana, airnya pernah dimanfaatkan oleh Raden Brawijaya ketika mendaki Gunung Lawu dan sampai sekarang masyarakat percaya bahwa air yang digunakan oleh Raden Brawijaya di Sendang Panguripan sangat berkhasiat.

Sama seperti Sendang Panguripan di Sendang Drajat pun airnya sering dimanfaatkan oleh para peziarah. Konon airnya memiliki kekuatan supernatural untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Disamping kaya dengan sejarah dan misteri Kerajaan Majapahit, Gunung Lawu juga kaya akan berbagai obyek wisata alam seperti objek wisata alam Tawangmangu dengan air terjun Grojogan Sewu, Telaga Sarangan dengan keindahan danaunya yang begitu memesona, Candi Ceto dan Candi Sukuh yang merupakan Candi yang dibuat oleh Raden Brawijaya selama dalam pelarian, serta tidak kalah menariknya adalah wisata alam mendaki Gunung Lawu.

Berbagai fasilitas menuju Puncak Gunung Lawu tersedia dengan baik. Untuk mendaki Gunung Lawu terdapat beberapa rute Pendakian seperti Cemoro kandang, Cemoro Sewu, Ceto, dan Jogorogo yang memasuki wilayah Ngawi Jawa Timur. Tetapi disarankan untuk melalui jalur Cemoro Kandang. Kalau melalui Cemoro Kandang waktu yang dibutuhkan sekitar 9 sampai 10 jam perjalanan pendakian, dan untuk turun dibutuhkan waktu sekitar 5 sampai 6 jam.

Jika melewati Cemoro Kandang terlebih dahulu kita akan melewati beberapa rute pendakian seperti Pos pendakian Cemoro Kandang, Taman Sari Bawah, Taman Sari Atas, Parang Gupito, Jurang Pangarif-ngarif, Ondorante, Cokro Srengenge yang termasuk Pos IV serta Pos terakhir yaitu Pos V. Di sini terdapat pertigaan, kalau berbelok ke kanan kita akan menuju Puncak Hargo Dumilah yang merupakan puncak tertinggi dengan ketinggian 3.265 meter dpl, dan jika lurus kita akan menuju Puncak Hargo Dalem 3.148 meter dpl.

Dari puncak Gunung Lawu kita akan disuguhi peristiwa alam matahari terbit yang indah. Bila memandang kearah Barat akan tampak terlihat puncak Gunung Merapi, Merbabu. Dan kalau melihat ke arah Timur akan terlihat keindahan Puncak Gunung Kelud, Butak, dan Gunung Wilis yang membentuk lukisan alam menawan. Jika ingin mendaki menuju Puncak Gunung Lawu tidak terlalu ramai sebaiknya pada hari Senin sampai Jumat.

Beberapa jenis burung bisa ditemui di kawasan Gunung Lawu, sepcrti Burung Anis, Perjak, Kaca Mata, dan Burung Kerak. Tumbuhannya antara lain Cemara gunung, Bunga Eidelweiss, Cantigi, pohon karet hutan, Beringin, Rustania, dan Puspa. Bunga Eidelweiss tumbuh subur terutama di lembah dan lereng Gunung Lawu, mulai dari jalur antara Pos IV dan Pos V.

Sampai sekarang ekosistem tumbuhan dan binatang yang hidup di kawasan Gunung Lawu masih terjaga dengan baik karena masyarakat yang tinggal di kaki Gunung merasa takut jika hutannya dirusak, maka penguasa Lawu yakni Sunan Lawu yang tak lain adalah Sang Prabu Brawijaya, akan marah besar.

Tips Perjalanan

Untuk menuju ke Gunung Lawu sudah tersedia sarana transportasi dengan baik, jika kita menuju Gunung Lawu dari arah Kota Solo kita bisa menggunakan bus menuju Tawangmangu yang memiliki hawa udara yang sejuk sama seperti kita berada di Lembang, Bandung. Ongkosnya yang cukup murah Rp 3.500. Dibutuhkan waktu sekitar 2 jam, dari terminal Tawangmangu yang masuk kedaerah Kabupaten Karanganyar.

Dilanjutkan dengan kendaraan Colt menuju Sarangan berhenti di Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu dengan ongkos Rp 3.000. Tiket masuk menuju pos pendakian Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu Rp 2.500 per orang, sudah termasuk asuransi Wana Arta. Atau kita bisa menuju jalur lainnya yaitu Jogorogo dan Ceto tetapi jalurnya lebih panjang oleh karenanya diperlukan persiapan yang matang, baik fisik maupun mental.

Gunung Lawu lewat Solo dari Solo menuju Tawangmangu sekitar 60 km ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dengan bus. Tawangmangu-Cemorokandang sekitar 1 jam perjalanan dengan angkutan pedesaan. Cemorokandang menuju puncak Lawu dapat ditempuh sekitar 10 jam perjalanan pendakian. Kalau ingin pendakian tidak terlalu ramai sebaiknya melakukan pendakian pada hari senin-jumat.

Perlangkapan pendakian yang harus dibawa terutama makanan yang cukup, tenda, jaket hangat, dsb. Serta meminta ijin pendakian di Pos Cemorokandang.

Spoiler for lawu
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for lawu
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for lawu
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
girizz24boo - 19/01/2010 03:53 PM
#104

Nambah-nambah referensi ga...iloveindonesiailovekaskusiloveindonesia
kadalxburik - 20/01/2010 06:36 PM
#105

Berkah Kawah Ijen

Dengan jumlah gunung berapi yang tak kurang dari 240 buah, gelar "Ring of Fire" memang pas untuk negeri kita. Meskipun tidak semua gunung tersebut aktif. Karena sebagian tergolong gunung "tidur". Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa ujung timur Pulau Jawa, nyaris seluruhnya diliputi gunung berapi, baik yang masih aktif maupun tidak. Ada sekitar enam buah gunung berapi yang sering disebut sebagai Dataran Tinggi Ijen, atau Kaldera Ijen. Karena bentuknya seperti kawah raksasa.

Ijen, Merapi, Suket dan Raung adalah beberapa gunung utama di seputar Kaldera Ijen. Dengan lebar 20 km, kaldera ini merupakan yang terbesar di negara kita dan mengalahkan kaldera Bromo yang tersohor itu.

Namun karena lokasinya agak tersembunyi dan belum banyak potensi yang dikembangkan, daerah ini terbilang kurang populer. Padahal pesona di kawasan ini cukup cantik, seperti yang bisa kita lihat di Gunung Ijen. Bila Anda menyeberangi Selat Bali dari Banyuwangi ke Gilimanuk, akan terlihat gunung menjulang tinggi. Itulah Gunung Merapi dan Gunung Ijen.

Uniknya, di puncak Gunung Ijen ada sebuah kawah yang terisi air sehingga membentuk danau. Memiliki dinding setinggi 200m. jari-jari sekitar satu km dan kedalaman kurang lebih 175 meter, danau ini disebut-sebut sebagai danau asam terbesar di dunia.

Kawah Ijen terakhir kali meletus pada tahun 1952 dan sampai saat ini masih banyak mengeluarkan sulfur atau belerang. Para penduduk sekitar, memanfaatkan sumber mineral yang menjadi tambang belerang ini sebagai mata pencaharian. Mungkin kita sering mendengar atau melihat penambang pasir di kaki gunung berapi seperti yang terjadi di Gunung Merapi di Yogyakarta. Tapi untuk pertambangan belerang, mungkin inilah rata-satunya tambang belerang yang masih tradisional di dunia. Gas belerang yang terpancar persis di tepi danau, setelah melalui proses sublimasi berubah menjadi cair dan akhirnya berubah menjadi bongkahan belerang.

Sebuah Perjuangan Berat
Aktivitas di tempat yang kami sebut "ground zero" inilah, yang sangat menarik sekaligus berbahaya. Sebab gas belerang terus keluar tanpa henti. Jika tanpa sengaja menghirup udara bercampur belerang, kita bisa tersedak dan sulit bernapas. Kerongkongan tercekat, batuk-batuk dan mulut kita pun terasa asam pahit. Ironisnya, penduduk yang menjadi penambang di sini, bekerja secara bergantian selama 24 jam nonstop! Tercatat sekitar 200 orang menggantungkan hidupnya dari sini.

Bongkahan yang telah mengeras tadi, selanjutnya dipikul ke luar kawah dengan memakai keranjang bambu. Setiap orang membawa beban sekitar 50 hingga 150 kg, dengan upah sekitar Rp 400/kg. Gawatnya, mereka harus membawa pikulan seberat ini sambil mendaki dinding kawah yang sangat terjal setinggi 200 meter!

Setelah tiba di bibir kawah, para pemikul ini masih harus membawanya ke pos penimbangan tiga kilometer berikutnya! Tentu saja, ini adalah sebuah perjuangan hidup yang tidak mudah. Oleh karenanya jarang ada penambang (khususnya pemikul) yang bisa bekerja selama dua hari berturut-turut. Keberadaan penambang belerang ini, bisa menjadi cerita tersendiri jika Anda mengunjungi Ijen.

Kelelahan yang Terbayar
Perlu kami ingatkan pula, bahwa jalan menuju lokasi ground zero, cukup sulit dan berbahaya. Tidak dianjurkan bagi Anda yang takut pada ketinggian atau sedang dalam kondisi kurang fit. Untuk bisa mencapai Kawah Ijen, kita harus menempuh jalan setapak selebar tiga meter, sejauh tiga kilometer dari Pal Tuding (sekitar 50 km dari Bondowoso), sekitar 2,5 jam lamanya! Waktu terbaik untuk mengunjungi Ijen adalah pada saat musim kemarau.

Dan pada saat akhir pekan, biasanya Ijen cukup ramai dikunjungi wisatawan lokal dari daerah sekitarnya. Usahakan berangkat subuh sehingga bisa mencapai puncak pada saat matahari terbit.

Persis sebelum mencapai bibir kawah, kita bisa menikmati keindahan matahari terbit. Warna air kawah yang hijau, sangat kontras dengan dinding kawah yang berwarna kecoklatan. Wah... semua rasa lelah, rasanya terbayar sudah!

Lewat tengah hari, sebaiknya bergegas meninggalkan lokasi. Karena, sama seperti cuaca di gunung pada umumnya, kabut tebal akan mulai datang menyelimuti. Meskipun jalanan yang dilalui tetap terlihat. namun faktor keselamatan tetap harus dijaga.

Untuk akomodasi, Anda bisa menyewa pondok yang ada di Pal Tuding atau bisa juga di beberapa guesthouse perkebunan kopi yang ada di sekitarnya. Ijen View, hotel bintang tiga yang terdapat di Bondowoso juga bisa menjadi alternatif menarik.

Meskipun sebelumnya Anda harus menempuh perjalanan selama dua jam untuk mencapai Pal Tuding. Selain itu, perkebunan kopi juga banyak terdapat di kaki Ijen. Sehingga bagi Anda penggemar berat kopi, bisa langsung menyeruput nikmatnya kopi asli Dataran Tinggi Ijen di salah satu cafe yang terdapat di sini. Sungguh nikmat!

Itulah Ijen. Selain menawarkan pemandangan yang menawan. Ijen juga memberi berkah bagi penduduk sekitarnya.

Spoiler for ijen
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for ijen
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for ijen
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 20/01/2010 06:45 PM
#106

Wisata Hutan Lindung Gunung Salak

Wisata ke alam terbuka memang selalu dipenuhi kejutan. Ada saja pengalaman yang bisa dipetik. Tak peduli pahit atau manis, semuanya akan membekas di dalam dada. Apalagi bila dinikmati bersama keluarga. Sebuah memori manis yang amat sayang dibuang begitu saja.
Coba saja tengok keluarga Howard Utomo. Keluarga harmonis ini tampak menikmati setiap ”kejutan” dalam Birdwatching di Hutan Lindung Gunung Salak. Acara wisata keluarga dan remaja ini merupakan agenda outing Sahabat Burung Indonesia (SBI). Sebuah kelompok pemerhati burung di bawah naungan BirdLife Indonesia.

Dalam acara itu keluarga Howard tak menyangka bisa ikut jadi saksi. Lewat bantuan binokuler, mata mereka tertumbuk pada sebuah pemandangan langka. Berjumpa elang jawa (Spizaetus bartelsi) di alam terbuka.

”Ya jelas bangga dong. Kita sekeluarga bisa terlibat langsung melihat elang jawa. Apalagi kabarnya burung ini termasuk jenis yang langka,” sebut Howard Utomo, sang kepala keluarga. Memang inilah kali pertama persentuhan keluarga Howard dengan elang jawa di alam aslinya. Biasanya, mereka melihat burung pemangsa ini lewat bahan bacaan dan televisi.

Letupan kegembiraan bersua elang jawa bukan jadi milik keluarga Howard semata tapi menular hingga seluruh peserta wisata unik ini. Mereka bersorak kegirangan mendapat suguhan langka itu. ”Sebuah kejutan yang patut disyukuri,” begitu kata mereka. Alhasil semangat kian terpacu untuk mengamati jenis satwa lainnya.

Itu semua bisa terjadi berkat kejelian beberapa peserta. Saat beristirahat di lapangan parkir proyek panas bumi milik Unocal Geothermal of Indonesia, Ltd (UGI) mata mereka menangkap dua bayangan hitam. Melayang-layang memanfaatkan udara panas di angkasa. Setelah diselidiki, ternyata betul kedua burung itu adalah elang jawa.
Selain mengamati elang jawa, binokuler mereka berhasil menangkap sosok cica-koreng jawa (Megalurus palustris), laying-layang batu (Hirundo tahitica) dan elang-ular bido (Spilornis cheela). Burung-burung itu wira-wiri terbang melintasi karpet hijau perkebunan teh di batas gerbang UGI ini.

Tetap Waspada
Perjalanan wisata kali ini bukan cuma berbuah kenangan manis, tapi tergolong unik. Betapa tidak, kita harus tetap waspada terhadap ancaman serangan gas H2S saat mengintip satwa di Awibengkok ini. Gas yang baunya amat merangsang itu termasuk jenis yang berbahaya. Bila terhirup, ia bisa merenggut nyawa dalam sekejap. Wajar saja, proyek panas bumi ini memang tak bisa dilepaskan dari gas ini.

”Bila berkadar di bawah 10 ppm (part per million), gas ini masih tercium bau seperti telur busuk. Namun di atas angka itu, ia tak lagi tercium. Karena sudah berhasil merusak sistem saraf penciuman kita,” terang Dede Rhamdani, Support Facility Superviser, UGI saat menyambut kedatangan rombongan.
Namun Dede menjamin keamanan tiap peserta. Sebab mereka akan selalu didampingi oleh staf lapangan UGI. Dan juga dibekali gas detektor yang canggih. Detektor ini akan berbunyi secara otomatis saat kandungan H2S di udara sekitar melewati angka 10 ppm.

Meski terkesan berbahaya, namun kawasan Awibengkok ini amat menarik dijelajahi. Keragaman hayatinya cukup tinggi. Juga kaya satwa yang tercatat sebagai warga ”asli” hutan lindung itu. Menurut catatan BirdLife Indonesia, Awibengkok dihuni sekitar 127 jenis burung. Tujuh di antaranya endemik, macam elang jawa tadi.

Jenis-Jenis Satwa
Saat dilakukan pengamatan di beberapa areal, berhasil dijumpai srigunting kelabu (Dicrurus leucophaeus), opior jawa (Lophozosterops javanicus), sepah gunung (Pericrocotus miniatus), layang-layang batu, walet palem (Cypsiurus balasiensis), burung cabe jawa (Dicaeum trochileum), burung cabe gunung (Dicaeum sanguinolentum), cucak rawa (Pynonotus zeylanicus), poksai kuda (Garrulax rufifrons), gelatik munguk {Sitta azurea), puyuh gonggong jawa (Arborophila javanica), kutilang gunung (Pynonotus bimaculatus) dan masih banyak lagi.

Lokasi yang paling nyaman untuk melakukan pengamatan adalah sekitar areal sumur Awibengkok 12. Di sini, ada celah terbuka yang nyaman untuk menikmati lansekap tajuk hutan secara lapang. Kadang-kadang beberapa jenis juga bisa terlihat. Begitu juga di Awibengkok 13. Letak sumur ini lebih tinggi dari jalan aspal. Pak Awang, staf lapangan yang menemani sempat bilang,” Kalau cuacanya lagi bagus, kita bisa lihat Pelabuhan Ratu. Bahkan bisa sampai lihat garis pantainya.”

Tomie Dono dari BirdLife Indonesia bercerita, ia sempat melihat raja udang di sekitar Awibengkok 5 beberapa waktu silam. Di sekitar daerah itu, kata Tomie, ada sungai yang sering dikunjungi raja udang. Biasanya burung ini terlihat sedang mencari makan. Untuk mencapai sungai itu, kita harus berjalan sedikit ke atas. Cukup terjal tebing yang harus dilewati. ”Daerah ini jarang dilewati orang. Selain sumurnya sudah tak beroperasi lagi, di sini cukup seram lokasinya,” sebut Pak Awang yang sudah bekerja sembilan belas tahun di proyek ini. Ada arca (patung) yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar. Soal kebenarannya, coba saja buktikan sendiri.

Macan Tutul
Kawasan Awibengkok juga masih menyimpan cukup banyak macan tutul (Phantera pardus). Populasi pastinya memang sulit didapat. Belum ada penelitian untuk itu. Tapi menurut cerita Pak Awang, para pekerja UGI sering bertemu macan ini. ada yang melintas di malam hari, jalan-jalan di sekitar areal sumur. Bahkan salah seorang staf sempat mengabadikan macan tutul yang sedang tiduran di atas pipa uap.

Berjalan-jalan di areal kantor operasi proyek juga enak. Di dekat dining room (ruang makan) Anda bisa mengintip tingkah surili (Presbitys comata). Saat pagi hari, surili bergelantungan di percabangan pohon sembari ngemil pucuk pakis muda atau daun muda lainnya. ”Itu sebabnya surili ini disebut Grizzled leaf monkey. Habis lebih banyak makan daun muda dibanding buah, biji atau bunga,” tutur Yok Yok Hadiprakarsa dari Klub Indonesia Hijau disela-sela pengamatan.

Surili hidup di hutan primer dan sekunder yang tersebar di Jawa Barat. Terutama di beberapa taman nasional, cagar alam dan hutan lindung. Badan surili dewasa dari kepala sampai punggungg berwama hitam keabuan. Panjang ekornya sekitar 56 - 72 cm.

Primata lainnya yang bisa dilihat adalah lutung jawa (Trachypithecus auratus), dan owa jawa (Hylobates moloch). Owa jawa termasuk primata endemik tanah Jawa. ”Owa ini juga bisa kita lihat di gunung Gede, Ujung Kulon, Halimun, Leuweung Sancang dan Gunung Simpang,” kata Yok Yok. Untuk membedakan owa dari surili, katanya, caranya gampang saja. Lihat baik-baik, Owa tak punya ekor. Dan seluruh mukanya hitam.

Saat malam tiba, beberapa peserta mencoba peruntungannya. Mereka berhasrat mengintip tingkah macan tutul di balik keremangan malam. Malam itu cuaca sudah mendukung. Tak ada tanda-tanda hujan. Bintang bertaburan memenuhi angkasa. Berdasar informasi, mereka berjalan menuju sumur Awibengkok 8. Di sekitar sumur ini macan tutul itu membuat sarang.

Di sela-sela perjalanan, musang seringkali terlihat melintas di jalan. Berlari-lari sembari cari makan. Ada juga kucing hutan. Tapi alangkah beruntungnya bila Anda bisa berjumpa keluarga macan tutul. Regu Patroli keamanan UGI beberapa kali berpapasan dengan keluarga ini. Untuk mengintip mamalia besar ini memang dibutuhkan kesabaran tinggi. Plus uluran tangan sang dewi fortuna. Jadi banyaklah berdoa. Tentu bila berhasil, kenangan manis dari Awibengkok makin terasa lengkap. Selamat mencoba.

Spoiler for salak
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for salak
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for salak
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for salak
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 20/01/2010 06:49 PM
#107

Air Terjun Maribaya

Maribaya berasal dari nama seorang perempuan sangat cantik yang menjadi sumber kehebohan bagi kaum laki-laki. Saking terpesona oleh kecantikannya, pemuda-pemuda di kampungya sering cekcok sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi pertumpahan darah.
Itulah gambaran keindahan Maribaya tempo dulu. Karena keindahan dan kenyamanan wilayah itu, lokasi pemandian air hangat itu diabadikan dengan nama Maribaya. Keelokan pemandangan disertai desiran air terjun digambarkan bagai seorang gadis cantik jelita yang membuat setiap pemuda bertekuk lutut. Namun, apakah objek wisata Maribaya saat ini masih seperti dulu yang membuat setiap orang ingin menyambanginya ?

Sejak mulai dikembangkan tahun 1835 oleh Eyang Raksa Dinata, ayah Maribaya, lokasi objek wisata itu berhasil mengubah kehidupan Eyang Raksa Dinata yang sebelumnya hidup miskin menjadi berkecukupan. Banyak orang yang berkunjung ke tempat tersebut. Mereka tidak hanya datang untuk berekreasi menghirup udara segar alam pengunungan dan perbukitan, tetapi banyak juga yang berobat dengan cara berendam di air hangat.

Eyang Raksa Dinata yang sebenarnya hanya ingin menghindari pertumpahan darah di kampungnya, malah mendapat berkah kekayaan setelah mengelola sumber air panas mineral yang dapat dipergunakan untuk pengobatan itu. Keluarga Maribaya memperoleh penghasilan dari para pengunjung yang datang berduyun-duyun.

Malam pukul dua dini hari, kendaraan roda empat yang saya gunakan melintas perlahan diantara dinginnya bumi parahyangan. Susana yang sedikit gerimis dan berkabut, semakin memaksa mata saya untuk selalu awas meneliti setiap kelokan yang ada diantara perbukitan. Maribaya, itulah arah kemana kendaraan ini hendak dituju. Saat itu memang bukan waktu yang tepat untuk berkunjung, meskipun satpam penjaga mengatakan bahwa wisata maribaya buka 24 jam, tentunya gelapnya malam akan menjadikan sebagian pesona yang ada disana tidak bisa dinikmati. Tak apalah, setidaknya saya masih bisa berendam air hangat untuk relaksasi menghilangkan keletihan setelah berkendara selama kurang lebih 3 jam dari Jakarta. Esok pagi, saat mentari kembali menuaikan tugasnya toh saya masih bisa menikmatinya dengan semangkuk bakso panas.

Maribaya memang merupakan salah satu objek wisata andalan bagi pemda Kabupaten Bandung. Objek wisata ini dulu terkenal dengan pemandaian air panasnya, namun belakangan ini jadi tenggelam setelah objek wisata pemadian air panas Sari Ater - Subang di buka. Lokasi wisata Sari Ater jauh lebih strategis karena berada di jalan raya Bandung-Subang. Pengunjung tak perlu repot-repot sengaja masuk ke jalur wisata dan melewati Pasar Lembang yang semrawut, seperti jika hendak mengunjungi Maribaya.

Selain sebagai tempat wisata pemandian air panas, dilokasi ini juga terdapat air terjun yang cukup besar. Curug Omas, dengan ketinggian kurang lebih 30 meter nampaknya juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung kesana. Adanya fasilitas dua jembatan pengamat dari sisi bagian atas dan bawah juga memberikan kemudahan bagi pengunjung untuk bisa lebih leluasa menikmati air terjun tanpa perlu takut menjadi basah.

Pengunjung bisa juga "bermalas-malasan" di areal sekitar air terjun sambil tiduran diatas tikar yang disewakan oleh penjaja cilik. Penjaja cilik itu juga dengan sigap membantu memesankan makanan yang diinginkan pengunung kepada penjual makanan yang berada di sekitar. Udara yang dingin dan pepohonan yang rindang ditambah pula dengan gemuruh suara air terjun dari kejauhan, menjadikan objek wisata ini ramai dikunjungi dihari-hari libur atau akhir pekan.Sekelompok anak muda saat itu tampak bersenda gurau dibawah sebuah limpahan air terjun. Beberapa pose "konyol" nampak jelas mengiringi saat dilakukan pengambilan gambar oleh salah seorang rekannya. Baju yang basah terkena biasan air terjun, malah semakin mengeraskan sara tawa dan senda guaru mereka D

Disudut lain tampak sekelompok pengunjung tengah asik memberi makan kepada kera liar yang ada pada lokasi wisata ini. Kera-kera tersebut terkadang cukup berani untuk mendekati pengunjung, mengharapkan lemparan makanan dan saling berebutan dengan kera lainnya. Jerit anak kecil yang berteriak kegirangan melihat polah kera-kera tersebut menambah ramai suasan yang ada. Namun ada pula yang tampak bersembunyi dibalik kaki orang tuanya ketika seekor kera mencoba mendekati.

Secara keseluruhan, dari pengamatan saya, objek wisata Maribaya nampaknya lebih banyak dikunjungi sebagai objek wisata air terjun daripada objek wisata pemandian air panas. Memang masih terdapat pengunjung yang memanfaatkan air panas yang ada di objek wisata ini sebagai salah satu pengobatan alternatif terhadap beberapa jenis penyakit, namun bila dilihat secara sekilas, pengunjung yang datang cenderung lebih menikmati pesona air terjun atau bersantai-santai dibawah rindangnya pepohonan.

Spoiler for maribaya
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for maribaya
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for maribaya
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for maribaya
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 21/01/2010 12:50 PM
#108

Candi Bajangratu

Masih dalam rangkaian jalan jalan di kawasan Trowulan, kawasan yang banyak sekali menyimpan sejarah dari Negeri Sang Penakluk. Tidak dapat dipungkiri jika kita melihat jauh kebelakang tentang Kerajaan Majapahit, nenek moyang kita pernah dihormati dan disegani di muka bumi ini.


Kali ini "Mumun" saya mengarah ke arah selatan sejauh 200 meter dari jalan raya Mojokerto Jombang, kemudian sampai diperempatan Dukuh Ngliguk, "mumun" saya berbelok ke arak timur sejauh 3 km, nah sampailah kita di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Disini kita akan menjumpai Candi yang merupakan salah satu gapura di jaman keemasan Majapahit, Candi Bajangratu atau Gapura Bajangratu.

Mengutif dari buku Drs I.G. Bagus L Arnawa, dilihat dari bentuknya gapura atau candi ini merupakan bangunan pintu gerbang tipe “paduraksa” yaitu gapura yang memiliki atap. Secara keseluruhan candi ini terbuat dari Batu Bata Merah, kecuali lantai tangga serta ambang pintu yang dibuat dari batu andesit. Bangunan ini berukuran panjang 11,5 m dan lebar 10,5 m, tingginya 16,5 m dan lebar lorong pintu masuk 1,4 m.

Sejenak bila kita melihat candi ini, secara vertikal dapat dibagi tiga bagian yaitu kaki, tubuh, dan atap. Selain itu gapura mempunyai sayap dan pagar tembok di kedua sisinya. Pada bagian kaki gapura ada hiasan yang mengambarkan cerita “Sri Tanjung”, di bagian tubuh diatas ambang pintu ada hiasan kala dengan hiasan sulur suluran, dan bagian atapnya terdapat hiasan berupa kepala kala diapit singa, relief matahari, naga berkaki, kepala garuda, dan reliaef bermata satu atau monocle cyclops. Fungsi relief sebagai pelindung dan penolak mara bahaya. Pada sayap kanan ada relief cerita ramayana dan pahatan binatang bertelinga panjang.

Candi Bajangratu diduga sebagai pintu masuk ke sebuah bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara pada tahun Saka 1250 atau tahun 1328 Masehi. Bajangratu sendiri dalam bahasa jawa kuno berarti kecil, naik tahta menjadi raja waktu masih kecil, dan konon itu terjadi pada Raja Jayanegara.

Pendirian Candi Bajangratu sendiri tidak diketahui dengan pasti, namun berdasarkan relief yang terdapat di bangunan, diperkirakan candi ini dibangun pada abad 13 – 14, dan selesai dipugar pada tahun 1992.

Lokasi berdirinya Candi Bajangratu ini letaknya relatif jauh (2 km) dari dari pusat kanal perairan Majapahit di sebelah timur,saat ini berada di dusun Kraton, desa Temon 0,7 km dekat dari candi Tikus. Alasan pemilihan lokasi ini, mungkin untuk memperoleh ketenangan dan kedekatan dengan alam namun masih terkontrol, yakni dengan bukti adanya kanal melintang di sebelah depan candi berjarak kurang lebih 200 meter yg langsung menuju bagian tengah sistem kanal Majapahit, menunjukkan hubungan erat dengan daerah pusat kota Majapahit.

Keberadaan candi ini juga tak lepas dari sebuah kepercayaan yang masih melekat dibenak masyarakat setempat. Adalah suatu pamali bagi seorang pejabat pemerintahan untuk melintasi atau memasuki pintu gerbang Candi Bajangratu ini, karena dipercayai hal tersebut bisa memberikan nasib buruk. Boleh percaya atau tidak, namun mungkin ada baiknya untuk dicoba

Spoiler for bajangratu
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for bajangratu
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for bajangratu
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 21/01/2010 12:54 PM
#109

Candi Tikus

Masih dalam lanjutan cerita saya jalan jalan di Negeri Sang Penakluk. Kurang lebih 500 meter ke arah tenggara dari Candi Bajangratu (S007.56852-E 112.39827), kita akan menemui Candi Tikus (S007.57199-E 112.40314).
Sejak ditemukan pertama kalinya pada tahun 1914, kemudian sampai dilakukan pemugaran sekitar tahun 1983 - 1986, candi Tikus secara administratif terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, telah banyak mengundang perhatian para pakar sejarah kuno dan arkeologi untuk menentukan makna dan fungsi dari bangunan itu, baik dari segi arsitektural maupun ditinjau dari segi religius.

Konon, nama Candi Tikus diberikan lantaran ketika dilakukan pembongkaran pada tahun 1914, oleh Bupati Mojokerto R.A.A Kromojoyo Adinegoro, disekitar candi itu pernah menjadi sarang tikus, dan hama tikus ini menyerang desa disekitarnya, setelah dilakukan pengejaran kawanan tikus itu selalu masuk ke gundukan tanah, yang setelah dibongkar ditemukan sebuah bangunan terbuat dari bahan bata merah dan denah persegi empat dengan ukuran 29,5 m x 28,25 m.

Mengutip dari buku karangan Drs I.G. Bagus L Arnawa, secara pasti tidak diketahui kapan candi Tikus ini didirikan karena tidak ada sumber sejarah yang memberitakan tentang pendirian candi ini. Dalam kitab Nagarakertagama yang ditulis oleh Prapanca pada tahun 1365 M (yang telah diakui oleh para pakar sebagai suatu sumber sejarah yang cukup lengkap memuat tentang kerajaan Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk), tidak disebutkan tentang eksistensi candi ini.

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa serangkaian penelitian yang ditujukan guna mencari dan menentukan saat dibangunnya candi Tikus ini lantas manjadi tidak bisa dilaksanakan. Setidaknya, berdasarkan kajian arsitektural, diperoleh gambaran perbedaan dalam hal penggunaan bahan baku candi, yaitu bata merah.

Adanya perbedaan penggunaan bata merah (baik perbedaan kualitas maupun kuantitasnya), memberikan indikasi tentang tahapan pembangunan candi Tikus. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para arkeolog, terbukti bahwa bata merah yang berukuran lebih besar berusia lebih tua dibandingkan dengan bata merah yang berukuran lebih kecil. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selama masa berdiri dan berfungsinya, candi Tikus pernah mengalami dua tahap pembangunan. Pembangunan tahap pertama dilakukan dengan mempergunakan batu bata merah yang berukuran lebih besar sebagai bahan bakunya, sedangkan pembangunan tahap kedua dilakukan dengan mempergunakan bata merah yang berukuran lebih kecil.

Lain halnya dengan pendapat yang dikemukankan oleh N.J. Krom lewat buku "sakti"-nya yang berjudul Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kunst II (Pengantar Kesenian Hindu Jawa). Dengan memperhatikan bahan dan gaya seni dari saluran air, pakar sejarah kesenian Jawa kuno berkebangsaan Belanda itu berasumsi bahwa ada dua tahap pembangunan candi Tikus.

Tahap pertama, saluran airnya terbuat dari bata merah dan memperlihatkan bentuknya yang kaku. Sedangkan tahap kedua saluran airnya terbuat dari batu andesit dan memperlihatkan bentuknya yang lebih dinamis serta dibuat pada masa keemasan Majapahit. Ini berarti pula bahwa menurut Krom, candi Tikus telah berdiri sebelum kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasannya, yaitu pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 - 1380).

Sementara itu, ketika dilakukan pemugaran pada tahun 1984/1985, berhasil disingkap sisi tenggara bangunan candi Tikus. Kaki bangunan yang terdapat di sisi tersebut, menunjukan perbedaan ukuran bata merah yang dipergunakan sebagai bahan bakunya. Hal ini semakin memperkuat dugaan mengenai dua tahap pembangunan candi tersebut. Kaki bangunan tahap pertama yang tersusun dari bata merah yang berukuran besar, tampak ditutup oleh kaki bangunan tahap kedua yang tersusun dari bata merah yang berukuran lebih kecil. Kapan secara pasti pembangunan tahap pertama dan kedua ini dilakukan, belum jelas benar.

Adanya tangga yang menurun di sebelah utara, memberi kesan bahwa bangunan candi Tikus ini memang sengaja dibuat dibawah permukaan tanah. Tangga menurun disebelah utara itu, sekaligus merupakan petunjuk bahwa bangunan memiliki arah hadap ke utara. Dua buah kolam berbentuk persegi empat yang berukuran 3,5 x, 2 m dengan kedalaman 1,5 m, mengapit tangga masuk. Masing-masing kolam tersebut dilengkapi dengan tiga buah pancuran air yang berbentuk bunga padma (teratai) dan terbuat dari bahan batu andesit.

Pada sisi selatan teras terbawah terdapat sebuah bangunan berdenah persegi empat dengan ukuran 7,65 m x 7,65 m. Bangunan ini dianggap sebagai bangunan utama dari candi Tikus yang dilengkapi dengan 17 buah pancuran air yang berbentuk bunga padma dan makara. Pada bangunan induk tersebut, terdapat sebuah menara dan dikelilingi oleh 8 buah menara yang berukuran lebih kecil.

Susunan menara yang demikian itu telah menarik perhatian seorang Belanda yang bernama A.J. Bernet Kempers yang mengaitkannya dengan konsepsi religi. Dalam bukunya yang berjudul Ancient Indonesia Art, ia yang telah banyak berjasa dalam menyingkap masa pengaruh agama Hindu - Budha di Indonesia lewat kajian candi-candi yang mengatakan bahwa candi Tikus merupakan replika dari gunung Meru.

Gunung meru merupakan gunung suci yang dianggap sebagai pusat alam semesta yang mempunyai suatu landasan kosmogoni yaitu kepercayaan akan harus adanya suatu keserasian antara dunia dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos). Menurut konsepsi Hindu, alam semesta terdiri atas suatu benua pusat yang bernama Jambudwipa yang dikelilingi oleh tujuh lautan dan tujuh daratan dan semuanya dibatasi oleh suatu pegunungan tinggi. Jadi Sangat mungkin Candi Tikus merupakan sebuah petirtaan yang disucikan oleh pemeluk Hindu dan Budha, dan juga sebagai pengatur debit air di jaman Majapahit.

Selain berfungsi sebagai pengatur debit air di kota, letaknya yang diluar kota itu memberi kesan bahwa sebelum masuk kota, air harus disucikan terlebih dahulu di candi Tikus. Dalam hal ini, jika bentuk bangunan candi Tikus dianggap sebagai manifestasi dari gunung Meru, maka setiap air yang keluar dari bangunan induk ini dipercaya sebagai air suci (amerta). Tak heran, bila kemudian air yang keluar dari candi Tikus juga dipercaya memiliki kekuatan magis untuk memenuhi harapan rakyat agar hasil pertanian mereka berlipat ganda dan terhindar dari kesulitan-kesulitan yang merugikan

Spoiler for tikus
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for tikus
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for tikus
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for tikus
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 21/01/2010 12:57 PM
#110

Taman Nasional Baluran

Taman Nasional Baluran dapat dicapai dari Surabaya, dengan menyusur pantai utara jawa timur kearah timur, meliwati kota: Pasuruan, Probolinggo, Situbondo dan setelah Banyuputih, menuju keselatan (jangan terus ketimur kedesa Bilik) dan sebelum desa Wongsorejo, pada (S007.921850 - E114.387667) belok kekiri menuju Visitor Center (S007.920333 - E114.388017).

Pengunjung harus membayar biaya masuk sebesar Rp 6.000.- per mobil dan Rp 2.500.- per orang. Ada dua tempat penginapan (guest house) di-Bekol (S007.838217 - E114.439150) dan dibagian pantai di-Bama (S007.844667 - E114.459633).

Jalan menuju lokasi Bekol kecil dan beraspal tipis tetapi masih layak untuk mobil sedan, sebaiknya SUV atau Kijang. Masalah utama yang klasik dinegara kita ini, sebagaimana yang sering kita rasakan adalah kita bisa membangun tetapi kurang trampil dalam memelihara apa yang telah dibangun. Menurut keterangan pengawas hutan, banyak sekali naturalist (atau enthusiast naturalist), birds watcher dari manca negara, bahkan researchers yang datang kesana, jadi taman nasional ini boleh dibilang sudah mendunia namanya, sebaiknya sarana dan prasarananya ditata dengan baik pula. Pantai Baha juga konon merupakan pantai yang baik untuk surfing, tetapi fasilitasnya yang membuat orang enggan datang kesana, karena sangat tidak memadai.

Di-Bama fasilitasnya cukup memprihatinkan kalau tidak mau dikatakan menyedihkan, sebaiknya kalau mau menginap di-Bekol saja. Disitu ada guest house dengan 2 kamar dengan fasilitas yang sangat "basic", dengan harga Rp 35.000.- per kepala, dilengkapi dengan toliet jongkok dan bak mandi (gebyar-gebyur) dan kamarnya dijamin bocor kalau hujan dan kita disibukkan me-reposisi letak tempat tidur supaya tidak kebasahan. Ruang tamu ternyata lebih bebas dari bocor, sehingga tidur disofa panjang lebih tidak dipusingkan oleh bocornya air hujan. Kompor gas bisa disewa dan sebaiknya membawa makanan sendiri karena tidak ada fasilitas untuk makan, disamping jangan lupa membawa baik penyemprot nyamuk maupun cream anti nyamuk. Para pengawas sangat ramah-ramah dan bersedia mengantar kita kemanapun kita mau, dengan catatan fisik cukup memadai.

Udaranya "steamy" dengan humidity mungkin 99 persen, yang menyebabkan keringat bercucuran tak henti-henti, seperti kehujanan. Karena musin penghujan, maka tetumbuhan dan air sangat berlimpah-ruah, sehingga para penghuni taman seperti Banteng dan Kerbau Liar memilih masuk kepedalaman taman dari pada bertatap muka dengan para pengunjung. Beberapa kelompok Rusa, Merak, Ayam Hutan dan beburungan lainnya bisa dinikmati. Pagi jam 5 menuju obversation tower/penara pengawas dan indahnya minta ampun sehingga sejenak kita melupakan hal-hal yang "basic" dan bocor-bocor diguest house. Keterangan yang diberikan oleh para pengawas hutan, predator utama ditaman nasional itu adalah Anjing Hutan (Ajak) yang bertanggung jawab atas menurunnya populasi baik Banteng, Kerbau Liar maupun Rusa.

Spoiler for baluran
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for baluran
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for baluran
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for baluran
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
ramtay - 21/01/2010 01:04 PM
#111

bagooos gan buat refrensi para wisatawan domestik nih! iloveindonesia
n3n3 - 21/01/2010 02:07 PM
#112

mantab gan referensinya....
toraja juga tempat yang asyik loh buat liburan budayanya...alamnya...dan permainan yg lain2 jg hehe...apalg sore2 sambil minum kopinya wuih...nikmat gan

iloveindonesia ilovekaskus iloveindonesia
jerry_90 - 22/01/2010 04:36 PM
#113

lengkap banget gan.. mantapp !! beer:
mentokk - 22/01/2010 04:37 PM
#114

Quote:
Original Posted By kadalxburik
Rawa Pening

Taman Wisata RawaPening terdapat di daerah ambarawa, untuk dapat masuk kesana. Jalan menunju Rawa Pening ini terdapat di jalan Raya Semarang – Salatiga ambarawa kabupaten semarang. Keindahan rawa pening dapat anda nikmati pada saat pagi hari, karena Tempat Wisata rawa pening ini menawarkan keindahan danau tersebut.
Loket dibuka pukul 8.30 sd 21.00 pada pagi hari anda dapat berekreasi bersama keluarga ditaman rawa pening, karena memang desain taman yang asri ditaman rawa pening sangat cocok untuk rekreasi bersama keluarga, selain menikmati keindahan Danau dirawa pening.

Anda dapat menyewa perahu yang telah disediakan di dermaga danau, anda bisa berkeliling danau dan melihat banyaknya eceng gondok dan kehidupan nelayan dirawa pening tersebut. Untuk menyewa perahu yang berkapasitas 10 sd 15 orang ini anda dapat menyewanya seharga Rp 25.000/jam, jadi untuk menghemat lebih baik anda menunggu orang lagi yang ingin menaiki perahu ntersebut. Pada malam hari banyak orang yang datang kewisata rawa pening ini untuk menikmati sajian ikan bakar, karena diareal luar taman banyak terdapat kedai dan rumah makan tradisional yang banyak menyediakan Ikan Gurame bakar.

Bagi anda yang hobi memotret/fotografi, keindahan rawa pening ini sangatlah unik. Terutama dipagi hari pada saat sunrise, sangat disarankan anda datang ketaman rawa pening pada jam 5.00 pagi pada saat sunrise. Dan menunggu didermaga tepi danau untuk memotret keindahan panorama danau rawa pening, konon suasana pagi dirawa pening sangat misterius dan mistis. Dan sangat indah untuk diabadikan lewat sebuah kamera, menjelang pagi anda dapat melanjutkan hunting anda dengan menaiki kapal yang disewakan didermaga, biasanya pada saat pagi para nelayan sedang aktif menjala dan mencari ikan didanau yang banyak terdapat eceng gondok tersebut, danau rawa pening ini sangatlah luas. Kalau anda lupa waktu mungkin tidak akan terasa matahari tepat diatas. Selain musium kereta di ambarawa, tidak ada salahnya anda mampir ke taman Wisata Rawa Pening ini.

Spoiler for rawa pening
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for rawa pening
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for rawa pening
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


deket rumah ane tu gan...
nice inpo gan... iloveindonesia
iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 25/01/2010 05:10 PM
#115

Curug Orok Garut

Curug Orok ? Sempat bingung juga saya ketika membaca nama objek wisata ini dari situs pemda garut. "Orok" yang berarti bayi digabungkan dengan Curug yang berarti air terjun, apakah hal itu berarti air terun yang ada berukuran kecil, sehingga pantas disebut Curug Orok ? Sepotong foto yang menggambarkan objek wisata ini pada di situs tersebut, malah semakin menambah rasa penasaran saya karena terlihat cukup menarik untuk di kunjungi.

Sepulang dari objek wisata Telaga Bodas, kendaraanpun saya pacu menuju ke lokasi Curug Orok. Jalan mulus dan berliku mengitari daerah pegunungan tampak menarik sekali karena berada di antara kawasan kebuh teh. Kendaraanpun bisa melaju dengan tenang, berbeda jauh sekali kondisinya bila dibandingkan jalan menuju objek wisata Telaga Bodas. Sesekali kami bertanya pada penduduk setempat untuk mengetahui secara lebih pasti lokasi Curug Orok, mengingat kordinat GPS yang saya punyai hanyalah sampai level kecamatan saja . Hampir saja objek wisata ini terlewati kalau saja secara tidak sengaja saya menoleh ke sisi kiri jalan untuk membaca sebuah tulisan yang terdapat pada sebuah gapura berwarna jingga-kuning menyolok. Rupanya lokasi curug berada di bagian bawah jalan, dan untuk menuju kelokasi tersebut mesti melalui jalan berbatu melintasi areal kebun teh.

Kurang lebih 100 meter dari gerbang tersebut sampailah kami disebuah lokasi yang terletak ditepi bukit. Dari area parkir, tampak garis biru membentang di kejauhan yang ternyata merupakan laut selatan dari pulau Jawa. Sinar matahari sore terhalang perbukitan yang berada di sisi barat. Kunjungan di sore hari, hampir menjelang maghrib dan usai turun hujan mengakibatkan tidak ada lagi aktivitas apapun di objek wisata ini. Beberapa kios penjual makanan dan cindera mata yang nampak berjajar disekitar area parkir dan jalan setapak menuju air terjun tampak sudah pada "tutup toko" semua, menambah kesan sunyi-senyap saat itu.

Suara air terjun yang berada di bawah area parkir, terdengar cukup jelas. Dari sela-sela pepohonan di atas bukit kami bisa melihat Curug Orok yang ternyata menurut saya cantik sekali. Putihnya curah air terjun dikombinasikan dengan dedaunan berwarna hijau segar-basah karena hujan, mampu memberikan pemandangan yang menyegarkan. Beberapa air terjun kecil nampak mengalir diantara bebatuan dan rindangnya pepohonan yang ada di sekitar air terjun utama. Begitu rapi dan teraturnya, sekilas nampak seperti miniatur taman yang banyak dijumpai di taman-taman kota maupun taman penghias rumah-rumah mewah.

Menelusuri jalan setapak menurun mendekati air terjun, nampaknya mesti dilakukan dengan sedikit berhati-hati karena kondisi jalan yang menjadi licin akibat diguyur hujan. Sesampainya di depan air terjun, nampak jelas bahwa ukuran air terjun utama tidak lah se-"orok" namanya, namun memiliki ketinggian +/- 20 meter dengan debit air yang cukup deras pula. Beberapa air terjun "tambahan" yang berada disekitarnya memiliki ukuran yang jauh lebih kecil dan hanya berupa kucuran air disela-sela pepohonan yang tumbuh subur dan lebat di dinding air terjun.

Berbeda jauh dengan kondisi air terjun yang tampak menarik untuk dikunjungi, sarana atau fasilitas umun yang ada di sekitar lokasi tampak "mengenaskan". Toilet umum yang berada dekat dengan air terjun nampak sekali tidak terawat dan berkesan "asal ada" saja. Atap genting yang ada hanya tinggal beberapa buah saja yang masih menempel di kerangka atapnya. Lingkungan sekitar juga nampak sedikit kotor oleh sampah-sampah palstik dan kardus yang dibiarkan saja tergeletak di bagian pinggir. Belum lagi ulah para "grafiti" yang dengan seenaknya meninggalkan jejak tulisan di bebatuan. Duuuh.. kenapa ya hal itu mesti mereka lakukan mencari pengakuan identitas diri

Kolam penampungan air terjun yang ada dilokasi tidaklah terlalu lebar/besar, namun mestinya cukup dalam juga bila melihat derasnya limpahan air dari atas yang nampaknya cukup mampu menggerus tanah dibawah kolam. Berhubung hari sudah semakin gelap, tidak mungkin rasanya bagi kami untuk bermain-main air sejenak atau sekedar mengukur kedalaman kolam penampungan air tersebut. Tidak adanya sarana penerangan dilokasi tentunya akan membawa resiko tersendiri buat kami bila hari sudah terlanjur gelap sedangkan jalan ke area parkir yang terletak dibagian atas, sama sekali tidak ada penerangan dan licin karena hujan. Tak ada alternatif lain kecuali segera balik ke kendaraan dan berjalan pulang.

Dalam perjalanan pulang, sempat memperoleh pemandangan unik ketika sebuah gunung dengan bagian atasnya yang tertutup awan mirip selimut putih, sementara disisi kanannya sebuah pelangi dengan bentuk setengah lingkaran nampak jelas menaungi gunung. Sayang saat akan memotret sinar matahari sudah semakin redup, sehingga tidak berhasil memperoleh timing yang tepat karena waktunya singkat sekali

Iseng sebelum artikel ini dibuat, saya menyempatkan diri untuk mencari tahu melalui internet, latar belakang penamaan Curug Orok. Dari sebuah artikel koran online, saya mendapati bahwa penamaan curug tersebut didasari karena seringnya ditemukan bayi meninggal di lokasi tersebut. Bahkan bagi penduduk setempat penemuan mayat bayi biasanya terjadi dua bulan sekali, dan karena dasar itu pula air terjun tersebut "akrab" dijuluki Curug Orok

Spoiler for orok
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for orok
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 25/01/2010 05:28 PM
#116

Air Terjun Coban Talun

Tidak ada dalam rencana sebelumnya untuk berkunjung ke lokasi air terjun Coban Talun. Papan penunjuk objek wisata ini saya jumpai, tatkala dalam perjalanan pulang dari objek wisata Coban Rondo menuju objek wisata air panas Cangar. Berhubung jam ditangan masih menunjukkan pukul 14:30, sepertinya nggak ada salahnya untuk mampir sejenak, sekedar mencari tahu seperti apa objek wisata ini.

Kondisi jalan menunju lokasi sudah bukan berupa aspal mulus, melainkan jalan berbatu namun menurut perkiraan saya masih cukup aman untuk dilewati kendaraan roda empat bergardan rendah. Setelah melewati gerbang lokasi wisata, kondisi jalan berganti menjadi jalan tanah dan pengunjung bisa memarkirkan kendaraannya di berbagai sudut areal parkir yang beralaskan rumput.

Selain objek wisata air terjun dilokasi ini, terdapat pula objek wisata lain berupa gua jepang. Sayang sekali ketika saya mencoba cari-cari lokasi gua tersebut belum berhasil menemukan mengingat minimnya papan penunjuk jalan. Akhirnya engingat waktu sudah semakin sore, saya putuskan untuk langsung menuju lokasi air terjun saja.

Dari lokasi parkiran, diperlukan jalan kaki kurang lebih 1 km, melintasi hutan dan sungai yang ternyata merupakan bagian atas dari air terjun. Air terjun itu sendiri terletak didasar tebing sungai dan untuk mencapainya harus melewati sebuah jalan tanah berkelok-kelok disisi tebing. Kondisi jalan setapak tersebut cukup curam dan karena hanya terbuat dari tanah maka bisa dipastikan akan sangat licin saat hujan tiba. Beberapa bagian jalan malah sudah hilang trap/undakan tangga tanahnya, berubah menjadi lereng tanah curam yang membutuhkan perhatian ekstra agar tidak tergelincir atau terperosok saat melintasinya.

Sesampainya didasar tebing, berbagai batu besar berwarna putih nampak mendominasi isi sungai. Dasar air terjun yang ada letaknya tersembunyi dibalik bongkahan batu besar. Perlu perjuangan tersendiri untuk melewati batu-batu besar tersebut, mengingat terkadang jarak antara batu-batu tersebut dipisahkan oleh tebing batu yang meskipun tidak tinggi namun cukup curam untuk dilompati.

Tiba didasar air terjun, saya melihat bahwa kolam penampungan limpahan airnya tidaklah dalam. Padahal ketinggian air terjun Coban Talun cukup tinggi, menurut taksiran saya sekitar 50 meter. namun debit air yang tidak begitu besar mungkin menjadi alasan mengapa kolam penampungan limpahan airnya tidaklah dalam. Kekurangan ini tentunya menjadi suatu kelebihan karena anak-anak bisa bermain air dengan leluasa di kolam penampungan tersebut. Air jernih dan dingin mengalir di sungai yang dangkal, memang cukup mengundang anak-anak untuk bermain-main.

Namun membawa anak-anak kelokasi ini, merupakan hal yang perlu dipertimbangkan lagi, dikarenakan curam dan kondisi jalan tebingnya yang tidak bagus akan menjadi hambatan tersendiri, terutama saat perjalanan baliknya. Dengan kondisi jalan yang bisa dibilang buruk tersebut effort untuk mendaki jadi lebih sulit, bahkan tak jarang pendakian dilakukan dengan jalan merangkak agar tidak tergelincir. Sehingga bila membawa anak-anak dikuatirkan akan mengalami kerepotan untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan anak-anak saat mendaki tebing tersebut dalam perjalanan balik ke lokasi parkir.

Secara keseluruhan tidak ada yang istimewa di lokasi wisata ini. Nampaknya hanya mereka yang senang berkemah atau pecinta alam yang cocok datang kelokasi ini dikarenakan medannya yang cukup sulit untuk bisa dibilang sebagai wisata keluarga. Pembenahan kondisi jalan menuju air terjun nampaknya mutlak perlu segera dilakukan bila ingin meningkatkan jumlah pengunjung. Bila hal itu dilakukan, setidaknya itu akan memudahkan bagi pengunjung untuk mendatangi lokasi air terjun tanpa merasa was-was tergelincir saat menaiki/menuruni tebing.

Spoiler for coban talun
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for coban talun
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for coban talun
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 25/01/2010 05:32 PM
#117

Bledug Kuwu

Alam indonesia kita sangatlah kaya akan keanekaragaman alam dan budaya, banyak sekali tempat-tempat wisata yang ada di Indonesia ini yang tidak banyak orang tahu, salah satunya adalah Tempat Wisata Bledug Kuwu yang ada didaerah Purwodadi Jawa Tengah. Tempat wisata yang satu ini sangatlah unik, sangat berbeda dengan tempat wisata-wisata lainnya, tempat wisata ini bernama Bledug Kuwu.

Jika di Amerika Serikat kita dapat menjumpai SALT LAKE (padang garam) yang berasal dari dangkalan laut kemudian berubah menjadi daratan luas, dan pada saat ini daratan tersebut sering digunakan sebagai ajang pengujian kendaraan tercepat didunia. Lain halnya dengan dangkalan laut yang terdapat di Indonesia, sekaligus merupakan keajaiban alam yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain, namanya bledug kuwu, letaknya disamping desa kluwu, kecamatan kradenan kabupaten grobogan, juga karena suaranay yang secara periodik meletupkan bunyi bledug(seperti meriam yang terdengar dari kejauhan)dari gelembung lumpur bersamaan dengan keluarnya asap, gas dan air garam. Melalui proses tersebut menjadikan daratan bledug yang dulunya berada didasar laut, sekarang menjadi daratan yang mempunyai ketinggian kurang lebih 53m dari permukaan laut. Luas arealnya 45Ha dengan suhu minimum 31derajat celcius.

Untuk melalui Tempat Wisata Bledug kuwu ini kita harus menempuh jalan darat, dari semarang melalu purwodadi sampai ke desa Kluwu. Selama perjalanan kita disuguhi banyak sekali pemandangan alam yang sangat indah, hamparan sawah yang hijau dan langit yang biru. Pemandangan bukit-bukit yang begitu indah, sehingga perjalanan untuk menuju tempat wisata ini tidaklah terasa membosankan. Karena mata kita sangat segar karena memandang pemandangan alam yang serba hijau dan indah.

Sesampai di Bledug Kuwu, ada perbedaan yang sangat mencolok. Selama perjalanan kita disuguhi oleh pemandangan alam yang indah dan subur, tetapi sangat bertolak belakang dengan Bledug Kuwu. Daerah yang sangat tandus, panas, dan tidak subur. Tetapi ini menjadikannya sangat indah, dua sisi yang berbeda. Selain menikmati keindahan wisata Bledug Kuwu, ternyata disana banyak sekali penduduk desa yang mencari nafkahnya dari Bledug Kuwu sebagai petani garam. Dari sumber air garam bledug kuwu, petani garam mengolahnya hingga menjadi garam dapur. Kemashyuran rasa garam gledug kuwu pernah tercatat dalam sejarah keraton surakarta. Hal ini dapat dibuktikan melalui berbagai keterangan dari masyarakat sekitarnya. Didaerah ini terdapat gunungan-gunungan kecil yang puncaknya mengeluarkan lumpur berwarna kekuning kuningan.

Bledug Kuwu mempunyai keistimewaan tersendiri, apabila dilihat dari peta geologi Dr AJ Panekoek, bahwasanya tanah-tanah yang ada bledugnya adalah jenis Aluvial Plains(tanah endapatan atau tanah mengendap) bersamaan dengan meletupnya bledug, keluarlah uap, gas dan air garam. Suara bledug terjadi karena muntahnya kawah yang berupa lumpurdengan warna kelabu atau kelabu kehitam hitaman, tetapi kalau dicampur dengan air maka akan menjadi putih. Apabila diendapkan air endapan bledug kuwu adalah tanah kapur dan tepat sekali apabila disitu dulunya laut kemudian menjadi daratan, karena erosi dari gunung kapur sudah tentu tanah endapannya mengandung kapur.

Sebagaimana obyek-obyek wisata alam lainnya di tanah air, obyek wisata Bledhug Kuwu juga memiliki legenda yang cukup memikat yang melatar-belakangi kemunculannya.

Dikisahkan, pada sekitar abad ke-7 Masehi, daerah Grobogan termasuk dalam wilayah Kerajaan Medang Kamolan yang diperintah oleh Dinasti Sanjaya/Syailendra. Salah seorang raja dari dinasti ini adalah Dewata Cengkar, seorang yang konon amat gemar makan daging manusia. Karena kesukaan raja yang aneh tersebut, membuat rakyat merasa ketakutan. Mereka tidak ingin menjadi santapan sang raja yang haus darah itu. Berbagai cara dilakukan untuk melawan sang raja, tetapi semuanya sia-sia saja. Tak ada yang bisa mengalahkan kesaktian sang raja.

Beberapa waktu kemudian, muncullah Ajisaka, seorang pengembara, yang merasa prihatin dengan penderitaan yang dialami oleh rakyat. Ajisaka pun kemudian berusaha untuk menghentikan kebiasaan sang raja. Dengan disaksikan oleh ribuan pasang mata, Ajisaka pun menantang adu kesaktian dengan sang raja. Banyak orang yang menyangsikan kemampuan Ajisaka, mengingat tubuhnya yang kecil. Namun apa pun, masyarakat tetap menaruh harapan kepada Ajisaka.

Sang raja yang menerima tantangan Ajisaka hanya terbahak-bahak. Raja pun menawarkan, kalau seandainya Ajisaka mampu mengalahkannya, maka Ajisaka berhak memperoleh hadiah berupa separuh wilayah kerajaan. Sebaliknya, jika Ajisaka kalah, maka raja akan memakan tubuh Ajisaka.

Ajisaka pun menyanggupi semua tawaran sang raja. Adapun permintaan terakhir Ajisaka kepada sang raja adalah, jika dia kalah dan tubuhnya dimakan oleh sang raja, Ajisaka memohon agar tulang-tulangnya nanti ditanam dalam tanah seukuran lebar ikat kepalanya.

Tentu saja sang raja segera mengiyakan dan sama sekali tidak menduga bahwa ikat kepala Ajisaka itu adalah ikat kepala yang mengandung kesaktian. Ajisaka segera melepas ikat kepalanya dan kemudian menggelarnya di atas tanah. Ajaib, ikat kepala itu berubah menjadi melebar. Raja Dewata Cengkar menggeser tempat berdirinya. Hal itu berlangsung terus seiring dengan makin mebelarnya ikat kepala Ajisaka, sampai akhirnya Dewata Cengkar tercebur di Laut Selatan. Namun Dewata Cengkar tidak mati, sebaliknya, tubuhnya menjelma menjadi bajul (buaya) putih. Sepeninggal Dewata Cengkar, rakyat kemudian menobatkan Ajisaka sebagai raja di Medang Kamolan.

Pada saat Ajisaka memerintah Medang Kamolan, muncullah seekor naga yang mengaku bernama Jaka Linglung. Menurut pengakuannya, dia adalah anak Ajisaka dan saat itu sedang mencari ayahnya.

Melihat wujudnya, Ajisaka menolak untuk mengakuinya sebagai anak. Ajisaka pun berusaha menyingkirkan sang naga, tetapi dengan cara yang amat halus. Kepada sang naga, Ajisaka mengatakan akan mengakuinya sebagai anak, jika naga itu berhasil membunuh buaya putih jelmaan Dewata Cengkar di Laut Selatan.

Terdorong keinginan untuk diakui sebagai anak, Jaka Linglung pun menyanggupi permintaan Ajisaka untuk membunuh Dewata Cengkar. Jaka Linglung pun segera berangkat. Oleh Ajisaka, Jaka Linglung tidak diperkenankan melalui jalan darat agar tidak mengganggu ketenteraman penduduk. Sebaliknya, Ajisaka mengharuskan Jaka Linglung agar berangkat ke Laut Selatan lewat dalam tanah.

Singkatnya, Jaka Linglung pun sampai di Laut Selatan dan berhasil membunuh Dewata Cengkar. Sebagaimana berangkatnya, kembalinya ke Medang Kamolan pun Jaka Linglung melalui dalam tanah. Dan sebagai bukti bahwa dia telah berhasil sampai di Laut Selatan serta membunuh Dewata Cengkar, Jaka Linglung tak lupa membawa seikat rumput grinting wulung dan air laut yang terasa asin.

Beberapa kali Jaka Linglung mencoba muncul ke permukaan, karena mengira telah sampai di tempat yang dituju. Kali pertama dia muncul di Desa Ngembak (kini wilayah Kecamatan Kota Purwodadi), kemudian di Jono (Kecamatan Tawangharjo), kemudian di Grabagan, Crewek, dan terakhir di Kuwu (ketiganya masuk Kecamatan Kradenan). Di Kuwu inilah, konon Jaka Linglung sempat melepas lelah. Dan tempat munculnya inilah yang kini diyakini menjadi asal muasal munculnya Bledhug Kuwu.

Spoiler for kuwu
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for kuwu
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for kuwu
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 25/01/2010 05:38 PM
#118

The City of Sam Poo

Salah satu pelabuhan terpenting di zaman kolonial, ia masih memikat dalam pesona jejak-jejak kisah masa lalu. Tetap merupakan kota pelabuhan yang sangat berperan di Nusantara, Ibukota Propinsi Jawa Tengah ini kini dikenal sebagal pusat masyarakat keturunan Cina terbesar di Indonesia. Inilah Semarang. Kalau bertanya tentang asal usul nama area perkotaan seluas 373,67 km2 ini, Anda akan mendapat dua `versi' yang amat berbeda, tergantung pada siapa Anda bertanya. Penduduk asli Jawa bercerita tentang paduan pohon asem dan arang yang membentuk kata 'Semarang'. Sementara masyarakat etnis Cina akan berkisah tentang seorang admiral dari dataran Cina yang datang berkunjung ke kota ini, Admiral Chen Ho.

Konon, sang admiral memberinya nama `Sam Poo Lang', yang artinya the city of Sam Poo atau kotanya Sam Poo. Versi mana yang benar tidak pernab jadi masalah. Ragam perbedaan unik di kota cantik ini justru makin menjadi daya tarik yang unik.

Sejarah Sang kota Merah

Sejarah Semarang sebenarnya berawal pada abad ke-9. Area yang tadinya bernama Bergota ini kemudian menjadi kawasan pemukiman, di mana didirikan sebuah sekolah dan asrama Islam oleh seorang keturunan Arab, Kyai Pandan Arang, pada akhir abad ke-15. Setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga. Kerajaan Pajang yang saat itu dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya, menobatkan Kyai Pandan Arang sebagai bupati kawasan ini tanggal 2 Mei 1547. Maka secara politis maupun kultural, hari inipun diperingati sebagai hari jadi Kota Semarang.

Waktu berlalu, tahun 1678 kota ini diserahkan ke tangan Dutch East-India Company (VOC) sebagai pembayaran atas hutang-hutang Sunan Amangkurat II. Namun baru pada tahun 1705 Semarang secara resmi jatuh dalam kekuasaan Belanda, ketika Susuhunan Pakubuwono I memberikan hak-hak perdagangan ekstensif pada VOC untuk membersihkan hutang-hutang Kerajaan Mataram. Sejak itu, VOC membangun kawasan ini dan menjadikannya salah satu pusat perdagangan yang esensial dan vibrant di masa penjajahan.

Namun pada era 1920-an, Semarang mendapatkan predikat lain, 'Kota Merah'. Reputasi ini diperoleh, karena entah mengapa, Semarang dijadikan pusat para kaum nasionalis dan leftist yang kontroversial. Reputasi yang kian lekat dengan didirikannya Partai Komunis Indonesia di kota ini. Baru setelah meletusnya peristiwa G30S PKI, predikat ini lambat laun terkikis. Semarang pun kembali berbenah dan siap menyuguhkan berbagai fakta sejarah panjangnya sebagai atraksi wisata.

Dari Outstadt Sampai Chinatown

Perjalanan ke Semarang di era modern ini bagai melangkah dalam kapsul yang membawa diri tersedot arus waktu ke masa lalu. Bangunan-bangunan tua masih berjajar angkuh sepanjang kawasan yang kini tersohor dengan nama Kota Lama (Outstadt), memberikan atmosfir khas zaman penjajahan Belanda. Gedung-gedung berarsitektur kolonial, seperti Gereja Blenduk di Jl. Jend. Suprapto, gedung PT. Perkebunan XV Persero di JI. Mpu Tantular dan gedung Kantor Pos yang berlokasi tak jauh dari Jembatan Berok adalah saksi bisu tragedi maupun kejayaan kota ini.

Pada pedagang yang menghuni kios-kios kecil sepanjang kanal, baik di sisi kiri manpun kanan Jembatan Berok, juga menawarkan pemandangan unik yang seakan 'diimpor' dari masa lalu. Dari tukang pijit lesehan, praktisioner pengobatan tradisional Cina, kedai jajan dan warung kopi, hingga kios penjual pulsa isi ulang kartu ponsel, semua bisa ditemukan di sini. Tak jauh dari Kota Lama, sebuah kawasan historis lainnya dapat pula dikunjungi. Kawasan Pecinan Semarang yang melintasi Jl. KH. Wahid Hasyim dan bercabang-cabang hingga ke gang-gang kecil, seperti Gg. Pinggir, Gg. Warung dan Gg. Lombok, meriah tak ubahnya set sebuah film silat. Beberapa klenteng menyembul di antara kedai-kedai makanan Cina yang menebarkan aroma harum, mengundang selera.

Urusan makanan memang juga menjadi salah satu keunggulan Kota Semarang. Tak sebatas Chinese food saja, segala gaya makanan ada di sini. Salah satu pusatnya adalah Kawasan Simpang Lima. Jantung kota yang dipenuhi shopping centers, gedung-gedung perkantoran dan hotel-hotel berbintang ini adalah pusat jajanan yang tak pernah lengang dari pagi hingga malam! Bahkan di akhir pekan, mulai Sabtu malam sampai Minggu pagi. semua jalan seputar Simpang Lima ditutup dan dijadikan area 'pasar kaget' yang menjual segala hal. You name it! Semua ada, bahkan juga tanaman langka dengan harga-harga miring. Termasuk atraksi tari-tarian dan hiburan lainya.

The Legendary Lawang Sewu

Simpang Lima juga merupakan lokasi berdirinya dua buah bangunan megah. Lawang Sewu yang legendaris dan Mesjid Raya Baiturrahman yang terletak di sisi barat alun-alun. Kedua bangunan ini sekarang menjadi incaran para pencinta arsitekur, seni dan fotografi. Lawang Sewu sendiri, yang sayangnya kini lebih terkenal sebagai tempat ajang uji nyali karena konon bangunannya dihuni hantu-hantu masa lalu. sesungguhnya merupakan awal mula berdirinya industri kereta api di Indonesia. Walau VOC menempatkan pusat pemerintahannya di Jakarta, pembangunan jalur kereta api justru dimulai dari Semarang, dengan layanan rute pertama dari Semarang ke Tanggung yang resmi mengangkut penumpang umum pada 19 Juli 1868.

Jalur ini kemudian diperpanjang hingga bisa melayani penumpang sampai Jogjakarta. Dua arsitek, Prof. Jacob K. Klinkhamer dan B.J. Oudang, ditunjuk untuk membangun kantor perusahaan kereta api Belanda yang bernama NV Nederlandsch Indische Spoorweg
Mastshuppij (NIS), dan Lawang Sewu pun berdiri hingga kini.

Lawang Sewu juga memiliki nilai sejarah perjuangan kemerdekaan. Pada tanggal 14 sampai 19 Agustus 1945, puluhan pejuang muda yang tergabung dalam Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) gugur dalam pertempuran melawan Belanda. Lima di antaranya lalu dikebumikan di halaman Lawang Sewu. Peristiwa berdarah yang dikenal sebagai 'pertempuran lima hari' ini kemudian diperingati dengan didirikannya Tugu Muda di kawasan Simpang Lima.

Wisata Ziarah yang Meriah

Selain bangunan-bangunan bersejarah, pusat-pusat peribadahan masyarakat Cina Semarang juga menyajikan beragam kisah unik. Yang paling terkenal dan kerap dikaitkan dengan nama Kota Semarang adalah Klenteng Sam Poo Kong di wilayah Gedung Batu. Inilah salah satu kompleks religius tertua di Indonesia yang menjadi simbol eksistensi dan kelestarian Chinese heritage yang semarak di Semarang. Setiap tahun, kompleks yang kini telah direnovasi dan ditambahkan beberapa bangunan baru untuk memperlancar pengelolaannya, merupakan lokasi penyelenggaraan peringatan kedatangan Admiral Chen Ho di tanah Jawa. Bahkan, perayaan 600 tahun kedatangan sang admiral tahun lalu, diadakan dalam tema kolosal yang sangat megah. Dimulai dengan sembahyang bersama, acara ini dimeriahkan pula dengan kesenian Barongsay, Liong-Samsi, beragam pentas seni, pesta lampion dan pesta kembang api, serta bazaar. Sebuah warisan luhur vang patut dipertahankan dan dilestarikan sepanjang masa.

Kini, sebuah bangunan baru turut meramaikan daftar tujuan wisata ziarah di Semarang. Berdiri megah diatas bukit, di tepi jalan utama ke arah Ungaran. Pagoda Avalokitesvara, juga dikenal dengan nama Pagoda Metta Karuna yang berarti loving kindness, baru-baru ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto.

Pagoda yang terdiri dari 7 tingkat ini menjadi 'kediaman' dari sekitar 30 patung pemujaan yang cantik dan sangat menawan. Sebuah patung berukuran raksasa mendiami rongga tengahnya yang menjulang tinggi, dikelilingi gunungan buah-buahan dan bunga sebagai persembahan. Benar-benar unik! Pagoda setinggi 45 m inipun sekarang menjadi landmark terbaru kota yang kian lama kian menawan ini. Inilah Semarang.

Spoiler for semarang
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for semarang
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for semarang
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for semarang
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 27/01/2010 12:55 PM
#119

Debur Air Terjun di Lereng Gunung Wilis

Walau berada di ketinggian, kawasan wisata air terjun di lereng Gunung Wilis mudah dijangkau. Hotel juga tersedia. Tunggu apa lagi? Gunung Wilis bisa jadi tak sekondang Gunung Bromo. Padahal, Gunung Wilis yang membentang di empat wilayah kabupaten yakni Kabupaten Nganjuk, Kediri, Madiun, dan Ponorogo, memiliki panorama alam yang tak kalah menakjubkan.

Anda yang suka pada panorama air terjun, bersiaplah untuk terpesona. Betapa tidak, beberapa air terjun dengan panorama yang memukau di sekelilingnya, bisa ditemui di sisi timur Gunung Wilis ini. Ada air terjun Sedudo, Roro Kuning, Pacoban Ngunut, Pacoban Coban, serta air terjun Ngleyangan. Semua air terjun itu tampil dengan wajah asli-alami. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk memang sengaja membiarkan kondisinya seperti itu. Tujuannya tak lain, agak objek wisata andalan kabupaten ini tampak alami. Kalaupun selama ini Pemkab sempat melakukan pembangunan secara fisik, hal itu hanya bangunan fasilitas pendukung saja.

Di antara beberapa air terjun itu, air terjun Sedudo yang paling dikenal masyarakat secara luas. Air terjun ini berada di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan atau 33 km arah selatan Nganjuk. Ketinggian air terjun ini mencapai sekitar 200 meter. Dengan ketinggian seperti ini, maka jika dilihat dari bawah, air terjun ini terlihat seperti butiran-butiran es berwarna putih yang meluncur ke bawah. Indah sekali, bukan? Tak hanya panorama alam. Air terjun Sedudo juga merupakan objek wisata budaya. Setiap bulan Muharram (Sura), upacara ritual mandi Sedudo selalu digelar di sini. Upacara yang difasilitasi oleh Pemkab ini menyedot kedatangan ribuan orang, yang bukan saja berasal dari Nganjuk, tapi juga daerah-daerah lain.

Ada mitos yang sangat lekat dengan tradisi mandi Sedudo ini, yakni siapapun yang mandi di kolam air terjun Sedudo, akan awet muda. Tak heran, setiap bulan Sura, air terjun Sedudo selalu disesaki pengunjung yang ingin mandi di sana. Lokasi objek wisata ini sangat mudah dijangkau. Jalan dari kota Nganjuk hingga ke kawasan wisata ini, beraspal mulus. Hanya saja, karena lokasinya di gunung, jalan menuju air terjun Sedudo cenderung menanjak, naik-turun, dan berkelok-kelok. Kondisi jalan seperti ini tentu sulit untuk dilewati oleh kendaraan jenis bus. Karena itu, bila berniat ke air terjun Sedudo, sebaiknya gunakan kendaraan roda empat non bus.

Panorama cantik air terjun Sedudo tak semestinya Anda nikmati hanya dalam waktu sekejap. Jadi, jika Anda punya waktu, sempatkan untuk menginap. Jangan khawatir, tersedia hotel di sana. Hotel Wisata Karya, demikian nama yang dibangun oleh Pemkab Nganjuk ini. Hotel ini dibangun di atas bukit yang dikelilingi pohon pinus dan cengkeh. Dari hotel, mata Anda bisa leluasa menjelajahi keindahan panorama Gunung Wilis. Tarif kamarnya juga cukup terjangkau, yakni Rp 70 ribu - Rp 200 ribu per kamar. Ingin menikmati panorama alam sembari berolahraga? Mudah sekali Anda lakukan di sini. Sebab, hotel ini menyediakan lapangan tenis. Atau, Anda bisa joging di pagi hari di sekitar air terjun sembari menghirup hawa segar. Alangkah nikmatnya!

Bagaimana dengan urusan oleh-oleh? Tak perlu pusing. Karena berada di gunung, maka oleh-oleh yang bisa Anda pulang pun khas dari daerah dataran tinggi, yakni buah-buahan dan sayur-sayuran. Di Sawahan, sebuah tempat tak jauh dari Sedudo, Anda bisa dengan gampang membeli pisang, jeruk, durian, dan lain-lain. Di pinggir jalan antara Sawahan hingga Sedodo, banyak kios sederhana yang menjajakan buah-buahan ini. Selain berkualitas baik, harga buah-buahan itu juga tidak mahal karena dijual langsung oleh petani.

Air terjun Roro Kuning
Puas dengan air terjun Sedudo, lanjutkan petualangan indah ini ke air terjun Roro Kuning. Berada di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, air terjun Roro Kuning berpotensi besar untuk menjadi kawasan wisata andalan. Menyadari hal itu, Pemkab Nganjuk terus mengembangkannya dengan membangun sejumlah sarana penunjang.Kawasan wisata ini terletak sekitar 30 km arah selatan Nganjuk. Jalan menuju ke sana juga sudah beraspal, dan bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat non bus. Namun, banyak pengunjung yang memilih menggunakan kendaraan roda dua.

Seperti halnya air terjun Sedudo, air terjun ini juga masih sangat alami. Tertarik oleh kealamian itu, banyak kelompok pecinta alam yang melakukan kegiatan di sini, semisal perkemahan atau pendakian. Pendakian biasanya dilakukan dari air terjun Roro Kuning menuju air terjun Pacoban Ngunut yang berjarak sekitar 4 km. Pramuka dari berbagai sekolah pun kerap menggelar perkemahan di tempat ini.

Selain keindahan alam, air terjun Roro Kuning juga memiliki nilai sejarah. Di sekitar lokasi ini terdapat monumen perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Monumen ini dibangun untuk mengenang perjuangan Jenderal Sudirman saat memimpin perang gerilya melawan Belanda pada tahun 1949. Selain menumen, di tempat ini juga terdapat sebuah rumah sangat sederhana yang pada masa perjuangan dahulu sempat ditempati Pak Dirman selama satu minggu. Karena itulah selain menikmati keindahan alam, pengunjung air terjun Roro Kuning juga bisa sekaligus mengenang perjuangan Panglima Besar Sudirman.

Spoiler for air terjun
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for air terjun
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 27/01/2010 01:03 PM
#120

Pulau Biawak, "Perawan Cantik" dari Utara

Berbeda dengan kawasan selatan, wilayah laut utara Jawa tak identik dengan wisata. Kalaupun ada titik-titik yang dijadikan tempat wisata, pemandangan yang ditawarkan tetap tak seindah kawasan laut selatan. Seperti itu juga kondisi wisata laut di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Pesisir Indramayu tidak memberikan tawaran serupa pantai di Kabupaten Sukabumi atau Garut yang sama-sama termasuk wilayah Jawa Barat. Bahkan, pesisir sering kali merupakan daerah kantong-kantong kemiskinan yang ditandai dengan rumah-rumah dan lingkungan yang kumuh.



Namun, kunjungilah Pulau Biawak. Pesona alam merupakan anugerah Tuhan bagi pulau yang berjarak sekitar 40 kilometer dari pantai utara Indramayu ini. Airnya bening dan pasirnya putih seperti kebanyakan pantai di kawasan selatan. Daratan seluas 120 hektar ini juga kaya dengan tanaman bakau yang hijau dan rapat dipandang dari ketinggian.

Sedikitnya ada dua nama lain yang lazim digunakan untuk menyebut Pulau Biawak, yakni Pulau Rakit dan Pulau Menyawak. Karena itu, Anda tak perlu berdebat ketika orang menyebut nama selain Pulau Biawak. Petugas menara suar yang tinggal di sana, Slamet Riyanto, mengatakan, sebelumnya ada lagi sebutan untuk Pulau Biawak, yakni Pulau Bompyis, yang merupakan nama warisan penjajah Belanda. "Kalau tidak salah, nama Pulau Rakit diubah menjadi Pulau Biawak pada tahun 1980-an," kata Slamet yang bertugas di sana bersama seorang temannya.

Tulisan nama Bompyis masih tersisa pada papan di ruangan genset—alat yang bisa menghasilkan listrik. Genset itu digunakan untuk penerangan permukiman petugas dan, terutama, untuk menyalakan lampu suar. Lampu penunjuk arah bagi para pelaut itu terletak pada menara setinggi 65 meter. Bangunan tersebut juga merupakan "warisan" Belanda, yakni dibangun pada tahun 1872. Di bagian dalam menara, yang berbentuk silinder, terdapat tangga memutar dengan keseluruhan anak tangga berjumlah 240. Butuh keberanian untuk menaiki tangga tersebut. Namun, jika berhasil mengalahkan rasa takut dalam diri Anda, di puncak menara Anda akan menemukan pemandangan hutan bakau dan laut yang memesona.

Habitat biawak

Sesuai dengan namanya, pulau ini merupakan habitat biawak (Varanus salvator). Konon reptilia itu sudah ada sejak pulau tersebut didatangi manusia pada lebih dari satu abad yang lalu. Belum ada penghitungan yang memberikan data pasti tentang jumlah binatang itu. Namun, jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan ekor. Mereka hidup di rawa-rawa dan semak-semak hutan bakau yang keberadaannya mendominasi daratan itu.

Biawak-biawak tersebut tidak jinak. Namun, "mereka tidak menyerang kalau tidak kita ganggu," kata Dulrokhim (61), nelayan Indramayu yang tengah berada di sana. Dulrokhim menambahkan, biawak biasanya juga mampir ke kawasan rumah penjaga menara suar, terutama saat ada nelayan yang singgah membawa ikan. "Mungkin bau amis ikan itu yang mengundang mereka datang," kata Dulrokhim. Meski tidak jinak, lanjutnya, ada beberapa biawak yang tak segera lari kalau didekati. "Mungkin sudah terbiasa. Jadi, tidak takut lagi terhadap manusia," kata Dulrokhim lagi.

Saat kunjungan Kompas awal November lalu, ada beberapa biawak yang keluar dari kerimbunan hutan bakau. Seekor di antaranya bahkan cukup besar, panjangnya sekitar 1,5 meter. Tubuhnya dibalut kulit warna coklat kehitaman dan dipenuhi bintik-bintik kuning. Menurut Dulrokhim, hanya biawak jenis itu yang sering ia jumpai. Namun, tak hanya biawak yang merupakan kekayaan fauna lingkungan Pulau Biawak. Banyak juga burung yang melintasi angkasa pulau tersebut, antara lain cangak laut (Ardea sumatrana), trinil pantai (Bubulcus ibis), dan burung udang biru (Alcedo Caerulenscens).

Lautnya yang bening juga merupakan surga bagi ratusan jenis biota laut dengan bentuk dan warna yang indah. Kondisi terumbu karang pada kedalaman tiga meter masih cukup bagus. Berdasarkan data di Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, terdapat 95 jenis ikan yang mewakili 30 famili, antara lain ikan zebra (Dendrichirus zebra), kupu-kupu (Chaetodon chrysurus), dan merakan (Pterois valiteus). Dengan menyelam, ikan-ikan cantik itu dapat dilihat mulai dari kedalaman lebih kurang satu meter. Sayangnya, pada tahun 2004 keindahan ini pernah tercemar oleh lapisan minyak mentah. Tidak diketahui dari mana asal minyak mentah tersebut. Diduga, bahan pencemar itu berasal dari kapal tanker yang sering melintasi kawasan perairan Indramayu. "Waktu itu, terumbu karang banyak yang mati," kata Kepala Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai Indramayu Koko Sudeswara.

Pulau Gosong

Selain Pulau Biawak, kawasan ini juga menawarkan kecantikan Pulau Gosong dan Pulai Candikian. Pulau Gosong berjarak tempuh sekitar setengah jam dari Pulau Biawak. Pulau Candikian juga berjarak 30 menit dari Pulau Biawak. Berbeda dengan Pulau Biawak, kedua pulau ini tak berpenghuni. Bahkan, Pulau Gosong yang sebenarnya lebih luas dari Pulau Biawak hanya tersisa beberapa meter persegi. Pulau itu sering digunakan untuk bertapa dengan tujuan mencari kekayaan dan sejenisnya. Pulau ini "hilang" akibat pengerukan untuk pembangunan Pertamina Unit Pengolahan VI Balongan Exor I sekitar tahun 1980-an.

Melihat potensi alamnya, kawasan ini bisa memuaskan para pemburu kenikmatan wisata. Pulau cantik itu saat ini benar-benar masih perawan. Untuk perjalanan sekitar empat jam dari Indramayu ke lokasi itu, misalnya, belum tersedia perahu khusus. Kalaupun menyewa, pengunjung harus merogoh kocek sekitar Rp 750.000 untuk perahu nelayan berkapasitas sekitar sepuluh orang. Selain itu, juga belum ada dermaga yang memudahkan pengunjung mencapai bibir pantai saat air pasang. Selain itu, juga belum ada rumah-rumah peristirahatan yang bisa disewa wisatawan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Indramayu Abdul Hakim mengatakan, Pemerintah Kabupaten kesulitan mengembangkan kawasan itu. Terutama, katanya, tidak ada daya tarik wisata lain yang bisa ditawarkan sebagai pendamping Pulau Biawak. Selain itu, kawasan tersebut benar-benar belum tersentuh sehingga investor pasti enggan mengingat besarnya biaya yang harus ditanamkan. Meski demikian, lanjutnya, Pemerintah Kabupaten Indramayu sudah berencana menggarap potensi itu. Saat ini telah tersedia anggaran Rp 1,6 miliar dari APBN dan Rp 375 juta dari APBD II. "Pemerintah provinsi juga telah membantu saat identifikasi potensi," kata Hakim.

Ia berharap, setelah pemerintah membuka "isolasi", investor akan tertarik mengembangkan Pulau Biawak. "Tentunya dengan rambu-rambu yang akan membatasi upaya komersialisasi agar tetap terjaga untuk konservasi," kata Hakim lagi. Pemerintah Kabupaten Indramayu, katanya, telah menyiapkan peraturan daerah untuk itu.

Spoiler for pulau biawak
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for pulau biawak
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for pulau biawak
[IMG]Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
Page 6 of 27 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 >  Last ›
Home > LOEKELOE > TRAVELLERS > Domestik > Kumpulan Tempat Wisata Di Indonesia (Update Trus)