Domestik
Home > LOEKELOE > TRAVELLERS > Domestik > +++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)
Total Views: 34426 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 2 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

kadalxburik - 15/01/2010 08:41 PM
#21

Mie Baso Akung

"Belum berwisata kuliner di Bandung kalo belum ke Akung", itu yang pernah dikatakan teman saya mengomentari salah satu ikon kuliner di kota Bandung ini. Saya sendiri pertama kali mengenal Mie Baso Akung ketika masih SMA, masih berlokasi di daerah GOR Saparua dan menempati bangunan semi permanen.
Zaman saya kuliah, tiba-tiba saya kehilangan Akung yang ternyata pindah ke Jl. Lodaya 123 dan menempati rumah yang tentunya lebih baik dari lokasi sebelumnya. Kalau datang pada jam makan siang atau hari libur, mungkin anda harus bersabar untuk menunggu mendapatkan meja, saking penuhnya tempat ini. Sebenarnya apa saja sih yang bisa kita nikmati di tempat ini?

Mie Yamin Baso Ceker, mie yamin ini diracik khusus sehingga bumbunya benar-benar merata ke seluruh mie sebelum sampai ke meja kita. Bisa memesan Yamin Manis, Sedang atau Asin, sesuai selera. Dan bagi yang tidak mempunyai usus yang panjang atau lambung yang cukup besar, saya sarankan untuk memesan 1/2 porsi saja, sudah sangat cukup koq.

Karena jika kita satu porsi mie ini membutuhkan ruangan yang cukup besar di perut kita. Sebagai pendamping, tersedia pilihan variasi BPTSC (Baso - Pangsit - Tahu - Siomay - Ceker) yang disajikan dalam kuah dengan aroma yang "mengundang". Harganya bervariasi, yang paling mahal Rp. 19.500 (satu porsi mie + BPTSC), sedangkan untuk yang saya pesan sesuai gambar di atas harus ditebus senilai Rp. 12.500 (1.2 porsi mie + BC/Baso Ceker)

Pangsit Tahu Siomay, buat yang tidak terlalu gemar mie bisa "nambul" pendampingnya saja, mulai dari yang paling lengkap BPTSC. Kulit pangsitnya sangat lembut ditambah dengan isinya yang mantap patut anda coba, ditambah dengan tahu putih yang diisi dengan adonan baso dan siomay yang nendang, benar-benar bisa menghangatkan udara kota Bandung. Apalagi ditambah dengan sentuhan sambal & kecap... Hmmm... Harga: Rp 14.500,-

Es Teler Durian, sebenernya favorit dessert dari tempat makan ini adalah Es Durian, tapi karena saya bukan maniak durian, maka saya pesan es teler durian aja. Kelapa muda, agar-agar, kolang-kaling dan tentu saja buah durian merupakan campuran dari minuman segar ini. Duriannya sendiri berbentuk gelondongan utuh, tidak dilumerkan seperti di Es Durian Ganti Nan Lamo di Padang. Tapi kalau anda datang di atas jam 2 siang, jangan terlalu berharap dapat menikmati es durian ini, biasanya sudah habis. Harga: Rp. 11.000,-

Jadi, lengkapilah wisata kuliner di kota Bandung anda dengan mencicipi Mie Baso Akung. Tapi jangan datang ke tempat ini hari Jumat karena tutup.

Mie Baso AKUNG
Jl. Lodaya No.123 Bandung
Telp. (022) 7314746

Spoiler for akung
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for akung
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for akung
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for akung
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 15/01/2010 08:49 PM
#22

Pecel Mbok Sadur

Pecel Mbok Sadur adalah salah satu kuliner asli Semarang yang sudah eksis sekitar 4 dasawarsa lebih. Mungkin malah sekitar 50 tahun. Jualan pecel Mbok Sadur dimulai di gang kecil yang bernama Gandekan di Jl. Mataram. Jalan kecil ini menyebabkan pemakan setia pecel sedep ini harus rela jalan kaki sekitar 200m, dari Jl. Mataram masuk ke gang kecil ini, terutama jika jam makan siang. Mobil kecil dan menengah masih bisa masuk ke dalam gang kecil ini dan parkir di dekat tempat jualan pecel, tapi hanya terbatas maksimal 5 mobil sudah penuh sekali jalan kecil itu.

Mbok Sadur memulai jualan pecelnya agak ke tengah lebih dekat ke Jl. Mataram jika dibandingkan tempat permanen yang ada sekarang. Berjualan di bawah pohon, dengan tampilan yang persis seperti dalam foto. Saya masih 'menangi' si Mbok Sadur yang jualan. Diperkenalkan pertama kali oleh Papa waktu saya masih kecil, makan siang di sini, dan seterusnya jadi ketagihan sampai sekarang. Jika sedang ke Semarang kurang lengkap rasanya tanpa mampir dan makan di sini.

Jaman itu yang paling mengesankan saya adalah setiap tamu yang makan di bawah pohon itu disuguhkan minuman air dingin dalam cangkir stainless steel kuno. Ini kesan yang paling mendalam sampai sekarang. Walaupun memang disediakan juga minuman standard pendamping pecel mak nyus ini.

Sekarang pecel ini sudah diteruskan oleh cucu-cucu Mbok Sadur dan berkembang menjadi 3 cabang, yaitu di tempat asal di Gandekan, kemudian di Jl. Gajah Mada dan kalau tidak salah di Simpang Lima.

Hidangan lengkap pecel yang saya makan siang itu didampingi dengan sate usus yang dilepas dari sunduknya, ditambah bantal 2 buah, sedikit mie goreng 'kampung', kerupuk karak/gendar dan disiram dengan sambel pecel. Apa itu bantal? Bantal sebenarnya adalah gorengan yang mirip martabak, atau saya bilang memang martabak dalam ukuran kecil. Rajangan sayur dibungkus tepung dan dibentuk kotak digoreng renyah menjadi pendamping wajib sajian pecel Mbok Sadur ini.

Berbagai pendamping lainnya digelar dengan royal dan menggoda sekali. Sate usus, sate kulit, telor pindang, perkedel kentang, tempe goreng, telor ceplok, rempeyek kacang, rempeyek teri, mentho, dan sajian lain yang sungguh generous digelar di depan mata.

Sajian pecel Mbok Sadur ini memang sangat nikmat menjadi menu makan siang di Semarang yang panas, dan ditutup dengan segelas es teh tawar. Sungguh ngangeni dan membuat saya kembali dan kembali lagi setiap kali ke Semarang......

Dari nenek sampai dengan cucu, tetap setia dari Semarang 'meceli' lidah orang Semarang dan sekitarnya, membuat kangen kawula di mancanegara.....

Terima kasih Mamak Presiden, AsMods, KoKiers – KoKoers.....

bon appetite.....mecel yuuuukkk......

Spoiler for pecel
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for pecel
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for pecel
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 18/01/2010 12:22 PM
#23

Berburu Semanggi Suroboyo

Berbicara makanan khas di Surabaya memang tidak ada habisnya. Begitu banyak penjaja makanan yang bertebaran disudut-sudut tempat dan salah satu makanan khas yang keberadaannya makin langka dikota Pahlawan ini adalah Semanggi Suroboyo. Seperti apakah jajanan ini?
'Semanggi Suroboyo, Lontong Balap Wonokromo.....'

penggalan syair lagu yang mempertegas salah satu ikon makanan khas di Kota Surabaya adalah Semanggi. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, makanan yang berbahan baku daun semanggi ini mulai sulit ditemui. Jika pun masih ada, itu berkat segelintir orang yang masih peduli memperdagangkan. Walaupun ini adalah makanan khas Surabaya yang populer, tapi bisa dibilang cukup sulit untuk mendapatkannya karena sudah jarang.

Di Surabaya, Semanggi kebanyakan diproduksi oleh masyarakat sekitar daerah Benowo. Semanggi adalah sekelompok tanaman paku air (Hydropterides) dari marga (Marsilea) yang di Indonesia mudah ditemukan di sekitar pematang sawah atau tepian saluran irigasi. Secara morfologi bentuk tumbuhan ini sangat khas, karena bentuk daunnya yang menyerupai payung yang tersusun dari empat kelopak anak daun yang berhadapan.

Bagi yang tidak tahu makanan Semanggi tentunya akan heran ketika pertama kali menyantapnya dan mungkin akan terkesan kotor. Sekilas model penyajiannya tak jauh beda dengan Pecel dan sambal kental diatasnya.

Makanan khas Surabaya yang disajikan pada piring yang terbuat dari daun pisang atau disebut 'pincuk' ini terdiri dari beberapa sayur seperti daun semanggi, kecambah dan disiram dengan bumbu ketela rambat beserta sambal cabe rawit yang pedas. Untuk menikmatinya, akan semakin mantap jika dimakan dengan krupuk puli yaitu krupuk yang dibuat dari beras.

Keberadaan makanan Semanggi yang makin hari makin tenggelam dan langka, tak menyurutkan niat LeZAT untuk berburu Semanggi di beberapa tempat. Berikut beberapa tempat penjual semanggi yang sempat LeZAT temui:

Penjual Semanggi gendongan

Para penjual Semanggi kebanyakan adalah wanita paruh baya keatas. Mereka menjajakan Semanggi ke seluruh pelosok kota Surabaya dengan menggendong di punggung dan berjalan kaki. Pada pagi hari, para penjual Semanggi berkumpul di perempatan Sendangbulu, dekat perumahan Bukit Palma. Mereka menunggu jemputan dari angkutan yang setia mengantarkan mereka ke pelosok kota Surabaya.

Jadi jika Anda lagi puter-puter kota Surabaya dan melihat ibu dengan bakul yang digendong di belakang dengan tumpukan krupuk puli maka dialah sang penjual semanggi Suroboyo.

Seperti yang dijumpai LeZAT di sekitar kawasan Diponegoro dekat pemberhentian bis. Sebuah angkutan umum berhenti, tampak beberapa wanita paruh baya itu dengan berpakaian kebaya dan berjarit beranjak turun. Di depannya terdapat bakul tempat dagangannya dan tak lupa krupuk puli dalam kantung plastik yang cukup besar.

Sunarti atau mak Ati, demikian dia dipanggil hanyalah seorang pedagang Semanggi pada umumnya. Sudah hampir 20 tahun ia berjualan Semanggi secara keliling dengan rute sekitar kawasan Diponegoro, Genteng dan sekitarnya. Memang tiap hari Mak Ati menjajakan Semanggi tidak menetap tempatnya. "Biasanya saya paling sering berhenti sebentar di kantor-kantor atau sekolahan, ya...lumayan dapatnya", tuturnya.

Dengan gendongan Semanggi yang berada di punggung, dalam sehari Mak Ati bisa menjual Semanggi sebanyak antara 50 sampai 80 pincuk dengan harga perporsi 3.500 rupiah. "Ya... tergantung rame sepinya pembeli, kalau rame ya rejeki saya dan bisa pulang cepat. Tapi kalau jualan saya sepi, ya musti keliling-keliling, kadang sampai larut malam", ujar Mak Ati yang tinggalnya di daerah Kandangan.

Hampir semua pedagang Semanggi gendongan ini menawarkan harga Semanggi yang relatif terjangkau, dengan rasa yang cukup nikmat. Untuk penyajiannya seperti pada umumnya, namun seporsi sayur Semanggi ditambah sayuran kangkung atau daun lembayung (daun ubi), lalu sambal dan krupuk puli lebar.

Gerai Semanggi Top Suroboyo (STS)

Ingin menikmati Semanggi, namun sulit menemukan penjual Semanggi gendongan, ini tak jadi soal. Kita bisa menikmati Semanggi Top Surabaya (STS) di sebuah gerai tempat makan. STS memang belum membuka kedai sendiri. Hampir selama 13 tahun ini, STS berjualan di Rumah Makan Antariksa di Jl Diponegoro.

Sumarni, 27 th, penjual Semanggi STS yang sempat dijumpai LeZAT saat mengikuti even Festival Jajanan Surabaya menceritakan awal berjualan Semanggi ini karena suka makan Semanggi. "Saya suka Semanggi. Selain khas Surabaya, makanan ini bergizi dan berserat. Selain itu dari nenek hngga ibu saya juga berjualan Semanggi, jadi saya ikutan saja. Kebanyakan pembeli memuji sambal Semanggi di sini cukup sedap rasanya dan resepnya saya peroleh dari nenek saya", tuturnya.

Untuk mendapatkan Semanggi segar, setiap dua atau tiga hari sekali, warga kawasan Jelidro, Sambikerep ini pergi ke Kandangan, Benowo. "Satu kali kulakan, saya ambil lima timba. Untuk harga satu timbanya cukup murah kok. Dan begitu matang semanggi-semanggi ini saya jual seharga 8.500 rupiah per porsinya. Itu sudah lengkap dengan sambal dan krupuk", lanjut Suwarni yang tak mau menyebutkan harga semanggi segar.

Menikmati Semanggi di hotel berbintang

Makanan khas ini selain dapat ditemui dari pedagang keliling, pujasera ternyata ada juga lho di hotel berbintang tepatnya di Hotel Surabaya Plaza. Dengan membidik kalangan menengah, sajian Semanggi di hotel ini laris juga dipesan tamu. Tidak hanya para tamu yang menginap di hotel saja yang bisa menikmati, tapi dibuka untuk umum bagi siapa saja yang ingin menikmati Semanggi.

'Sudah hampir 2 tahun ini, kami menyajikan Semanggi makanan khas Surabaya yang keberadaannya hampir punah. Banyak orang bilang untuk menikmati Semanggi itu susah mencari tempatnya. Nah, Hotel Surabaya Plaza selain ingin melestarikan ragam makanan tradisional tersebut juga untuk memanjakan mereka yang ingin menikmati Semanggi", jelas Feby Kumalasari selaku Public Relation hotel tersebut.

Untuk menikmati Semanggi ditawarkan seharga 10.000 rupiah per porsi. Anda bisa bertandang dari jam 12 siang hingga jam 6 sore setiap hari. 'Semanggi ini memang paling cocok dinikmati saat siang hari. Yang membuat Semanggi ini sedap dinikmati itu tergantung dari campuran bumbu yang digunakan, seperti bawang putih ataupun petis udangnya", jelas Chef Ana sambil meracik Semanggi.

Spoiler for semanggi
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for semanggi
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for semanggi
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for semanggi
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 18/01/2010 12:32 PM
#24

Warso Farm

Berkunjung kelokasi perkebunan durian ini, kecuali anda datang dalam rombongan khusus, tidaklah di pungut biaya. Anda bebas keluar-masuk ke areal perkebunan seluas kurang lebih 15 hektar ini bersama keluarga, untuk melihat berbagai jenis durian yang ditanam disana. Kurang lebih ada 800 batang pohon tersebar di berbagai tempat dengan durian jenis monthong mendominasi perkebunan ini.
Jika anda berniat untuk berkunjung sambil menikmati durian secara langsung dari kebun ini, panen raya adalah saat yang tepat. Bulan Desember hingga Mei merupakan masa panen durian dengan puncak panen berada di bulan Januari hingga Maret. Kunjungan saya di bulan Agustus lalu, cenderung hanya bisa melihat pucuk-pucuk bunga durian yang banyak tersebar di batang pohonnya.

Beberapa pohon memang masih menyisakan satu-dua buah durian, namun tentunya pemandangan akan jauh berbeda bila saat panen raya anda berkunjung ke lokasi ini. Dari jumlah putik bunga yang tersebar di tiap batang pohon durian saja sudah mampu memberikan gambaran bagaimana "heboh"-nya nanti, bila saat panen raya tiba. Ibarat, kemana mata memandang disitulah pengunjung akan melihat buah durian yang bergelantung menggoda selera. Tidak usah kuatir anda akan kejatuhan buah durian saat berada lokasi, dikarenakan buah durian yang sekiranya berbahaya bagi pengunjung telah diikat dengan tali.

Untuk menikmati durian yang ada di perkebunan ini, telah disediakan saung khusus yang berada didalam perkebunan maupun yang dibagian luar. Pengunjung bisa menikmati buah durian yang dipetiknya disaung ini, tentunya perlu ditimbang terlebih dahulu untuk menentukan harganya. Harga yang dipatok untuk tiap kilogram durian adalah sebesar 30.000/kg.

Sebuah harga yang cukup mahal, mengingat harga perkilo untuk durian monthong diluaran berkisar dibawah 20.000-an. Namun hal tersebut tidak menyurutkan para penggemar durian untuk datang dan menyantap durian yang ada diperkebunan ini. Mungkin, menikmati durian hasil pilihan sendiri bersama sesama penggemar fanatik buah durian, memberi suasana yang berbeda dan lebih utama dibandingkan harga yang ditawarkan.

Berbagai varietas durian ditanam di perkebunan ini. Sebutlah petruk, lai, simas, kaniau, hepe, tunan, sukun, citokong, cane dan bakul, ikut meramaikan pepohonan yang ada, dengan durian tipe monthong (thailand) yang merupakan variatas utama dan terbanyak. Kabarnya durian varietas simas merupakan jenis durian yang disukai oleh Bung Karno. Perkebunan ini sendiri mulai disiapkan sejak tahun 1980 dan baru mulai tahun 1990 ditanami dengan berbagai varietas buah durian.

Tak tanggung-tanggung, agar bisa lebih serius dalam mengelola kebun durian ini, Soewarso pemiliknya, memilih untuk tinggal didalam perkebunan. Kini, apa yang dirintisnya telah menjadi rujukan bagi banyak orang lain, baik didalam negeri maupun macanegara, dalam hal pengembangan tanaman durian.

Untuk mencapai lokasi perkebunan ini terdapat dua pilihan jalan. Anda bisa melalui Kota Bogor untuk kemudian naik angkutan kota jalur 03 jurusan Ramayana-Cihideung. Dari lokasi akhir angkutan umum ini, dengan sedikit berjalan kaki, anda akan sampai ke Warso Farm yang ditandai dengan patung durian berukuran sangat besar. Atau, anda bisa menempuh jalur keluar pintu tol Ciawi kearah Sukabumi. Dipertigaan Caringin anda tinggal belok kiri dan menyusuri satu-satunya jalan beraspal yang ada hingga kelokasi tujuan.

Apapun pilihan anda, kedua jalur tersebut bisa dilalui oleh berbagai tipe jenis kendaraan. Jalan beraspal yang mulus memungkinkan kendaraan bergardan rendah (sedan) bisa melalui-nya dengan mudah. Jadi jika anda adalah penggemar fanatik buah durian, Warso Farm adalah suatu tempat yang harus anda kunjungi

Spoiler for warso farm
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for warso farm
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for warso farm
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for warso farm
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for warso farm
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 18/01/2010 12:38 PM
#25

Sensasi Pinggir Kali Krasak

Jika Anda mengarungi jalan negara antara kota Yogyakarta dan Magelang, sesampai di perbatasan Provinsi DI Yogyakarta-Jawa Tengah atau tepatnya menjelang Kali Krasak, Anda perlu mengurangi kecepatan. Arahkan mobil ke jalan kabupaten yang terletak bersebelahan dengan jalan negara tadi. Setelah 300-an meter bergerak, beloklah ke kanan. Setelah persis berada di bawah Jembatan Krasak, majulah sedikit dan parkir mobil Anda di situ. Tengok ke sebelah kiri, cari deretan warung bercat hijau. Masuk ke dalam, ambil tempat yang kosong, dan pesan makanan spesial: brongkos!

Karena bercat hijau itulah, pemilik warung (suami-istri Padmosudarmo) menamai warungnya Warung Ijo. Padmosudarmo sendiri sudah lama meninggal. Istrinya, Sumarti Padmosudarmo, yang meneruskan usaha rumahan ini, meninggal pada 22 Mei 2008 dalam usia 84 tahun karena tua.

Semula Warung Ijo berada di sisi jalan (lama) Yogyakarta-Magelang. Namun, pada tahun 1970-an, sebagian jalan di atas Jembatan Krasak tertimbun lahar dingin Gunung Merapi. Pemerintah kemudian membangun jembatan baru sekaligus meninggikan jalan lama sekitar enam meter.

Akibat pembangunan ini, Warung Ijo pun ”tenggelam” di bawah talut Jembatan Krasak. Namun, menurut kesaksian warga sekitar, justru karena ”tenggelam” itulah nama Warung Ijo malah berkibar-kibar karena banyak pekerja pembangunan jembatan yang makan di Warung Ijo sekaligus mengabarkan secara getok tular enaknya masakan setempat.

Generasi kedua

Warung Ijo yang dirintis Padmosudarmo mulai tahun 1950 atau 58 tahun silam baru saja mengalami regenerasi. Kini pengelolaan ditangani Ny Enny Nugroho (43), perempuan asal pesisir utara Jawa Tengah, yang juga istri anak angkat Padmosudarmo, Nugroho.

Sehari-hari Nugroho berprofesi sebagai Kepala Dusun Kromodangsan, Desa Lumbungrejo, Kecamatan Tempel, Sleman, Yogyakarta. Dusun Kromodangsan bersebelahan dengan Dusun Ngepos tempat Warung Ijo berlokasi.

Meski beralih komando, cita rasa Warung Ijo tetap sama. Ini membuat Nursalim, warga Temanggung, Jawa Tengah, masih setia menyambangi warung itu nyaris setiap hari Minggu. Jarak Temanggung-Sleman lebih dari 40 kilometer. Toh demikian, karyawan kantor pemerintah tersebut tak segan menempuh perjalanan itu menggunakan sepeda motor butut.

”Saya selalu makan siang di sini...,” tutur Nursalim. Selain menyantap di tempat menu favorit nasi brongkos, ia masih membawa pulang dua bungkus untuk istri dan anak.

Sekadar menyebut nama, penggemar nasi brongkos produk Warung Ijo lainnya adalah Gatot Marsono, pensiunan karyawan Pemda DI Yogyakarta. Meski di sekitar rumahnya di Umbulharjo, Kota Yogyakarta, juga banyak ditemukan warung dengan menu brongkos, tetapi, kata dia, ”tak seenak brongkos Warung Ijo”.

Di mana enaknya? ”Tak bisa dirinci lewat kata-kata. Harus datang sendiri dan nikmati...,” kata bapak satu anak yang kini sering mengisi siaran berbahasa Jawa di radio dan televisi lokal.

Warung Ijo tak pernah sepi pembeli, padahal letaknya nyempil. Di sana hanya ditemukan tempat duduk dan meja kayu sederhana dengan posisi melingkar. Saat jam makan siang, peminat antre sebelum bisa duduk di bangku dan memesan makanan.

Dari usaha rumahan itu, sekurangnya 10 orang memperoleh penghidupan, tujuh orang membantu di dapur dan tiga orang menyajikan masakan ke pelanggan. Keseluruhan dari mereka masih memiliki hubungan kekerabatan dengan almarhum Padmosudarmo.

Menu lain

Warung Ijo juga menyediakan menu lain, seperti terik, sop, pecel, dan nasi rames. Namun, menurut Enny Nugroho, brongkos tetap favorit dan andalan. ”Setelah lima orang memesan nasi brongkos, baru orang keenam memesan nasi pecel atau nasi rames,” tutur Enny.

Untuk keperluan brongkos saja, sehari dibutuhkan 25 kilogram daging sapi, sedangkan beras mencapai 30-an kilogram. Padahal, warung hanya buka selama delapan jam sejak pukul 06.30 pagi.

”Pintu warung belum dibuka kadang sudah ada penggemar menunggu. Ya, saya bilang, kalau bersedia sabar, silakan...,” ujar Enny sambil meladeni pesanan nasi brongkos ditambah telur ceplok, bihun goreng, dan krecek.

Untuk nasi plus berbagai jenis lauk tersebut, ibu tiga anak itu memasang harga Rp 14.000 per porsi. Apabila hanya brongkos, cukup menyediakan Rp 10.000. Harga itu sudah naik Rp 500 per porsi seiring perubahan harga bahan bakar minyak sejak beberapa waktu lalu.

Santan

Bumbu brongkos mirip rawon, hanya saja diberi santan. ”Yang terlibat di dalamnya”, antara lain, adalah (bumbu halus) bawang merah, bawah putih, ketumbar, kemiri, kunyit, cabai, dan keluak. Bahan yang perlu disiapkan terdiri atas kacang merah, tahu, santan, serai, lengkuas, daun jeruk, gula merah, irisan daging, dan minyak untuk menumis.

Bumbu halus ditumis sampai harum bersama serai, lengkuas, daun jeruk, dan jahe. Tuangkan santan dan air. Masak sampai mendidih sambil diaduk. Masukkan kacang merah, kentang, tahu, garam, dan gula merah. Masak sampai kuah mengental.

Brongkos Warung Ijo hanya diberi irisan daging. Ini tak seperti brongkos Bu Pujo di Tembarak, Temanggung, yang diberi irisan kikil. Karena itu, pilihan daging atau kikil berpulang kepada konsumen.

Cita Rasa Keluak

Rasa enak brongkos terletak pada salah satu bagian bumbu yang disebut keluak. Kecuali brongkos, jenis makanan Jawa yang juga ”dicampuri” keluak adalah rawon, makanan paling populer di Jawa Timur.

Karena menggunakan keluak itulah, baik brongkos maupun rawon sama-sama berwarna agak kehitaman. Malah, karena hitamnya itu, rawon sering disebut sebagai black soup atau sop hitam.

Keluak yang menimbulkan warna hitam pada brongkos (dan juga rawon) ditimbulkan oleh daging buah keluak. Keluak berasal dari biji buah pohon kepayang.

Dari dua jenis masakan yang menggunakan keluak, yaitu brongkos dan rawon, yang lebih dikenal masyarakat luas, utamanya di Jatim dan Jateng, adalah rawon.

Namun, karena ketenarannya yang sedikit di bawah rawon itulah, warung makan yang masih menyediakan brongkos justru dicari banyak orang. Contohnya adalah Warung Ijo di bawah Jembatan Krasak, Sleman, tersebut.

Meski demikian, menurut Ny Sri Lestari (66), adik Ny Padmosudarmo yang sehari-hari membantu memasak di Warung Ijo, jika penggunaan keluak tidak pas, bisa membuat brongkos terasa pahit.

”Di sini sulitnya memasak brongkos. Apalagi, kalau memperoleh keluak yang sudah kering, rasanya menjadi tidak karu-karuan,” tutur Sri Lestari, pemilik jam terbang tertinggi di Warung Ijo.

Keluak disetor pedagang asal pedalaman Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, setengah bulan sekali. Agar memberi cita rasa pas, keluak terlebih dulu disortir. Yang dinilai kering dan berjamur dibuang. Adapun yang bisa memberi rasa brongkos nglundi disimpan.

Kunci mengapa brongkos di Warung Ijo dirasa pas di lidah adalah juga berkat bahan bakar pengolah yang tidak menggunakan minyak tanah atau gas, melainkan kayu bakar dan arang kayu. Sejak Warung Ijo dibuka lebih dari setengah abad yang lalu, hanya dua jenis bahan bakar itulah yang dikenal.

Spoiler for warung ijo
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for warung ijo
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for warung ijo
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for warung ijo
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 18/01/2010 12:42 PM
#26

Front Pemangsa Sate (Klathak)

Jika Anda penggemar sate kambing, marilah bersekutu dengan panji baru: Front Pemangsa Sate. Dan segeralah ”rame-rame” menyerbu Pasar Jejeran, Wonokromo, Pleret, Jalan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Di situ Anda akan menemui aliansi kelezatan dan gurihnya bakaran daging wedhus gembel alias domba gimbal yang cuma berbumbu garam—populer dengan sebutan sate klathak. Jadi, meskipun pakai label ”front”, ini tak ada urusan dengan kekerasan. Paling banter cuma berurusan dengan remasan. ”Biar empuk setelah dipotong-potong, dagingnya lalu saya remas-remas pakai tangan biar garamnya merata. Setelah itu baru ditusuki pakai ini,” tutur Kang Bari yang bernama lengkap Sobari, 31 tahun, sambil menunjuk bekas jeruji sepeda yang biasanya ditusuki enam atau tujuh keratan daging.

Ada yang bilang, kelezatannya tak kalah dengan lamb chop olahan hotel bintang lima yang pakai daging domba impor. Atau dalam istilah Ayu Utami, sastrawan kondang yang saban ke Yogya tak pernah absen menyantap sate klathak, ”Rasanya lumer di mulut. Segalanya tepat dan sempurna. Dagingnya segar, bumbunya minimal, panasnya baru dari api, dan kedainya tanpa kosmetik. Unik dan uuuenak banget.”

Berbeda dengan sate pada umumnya, sate klathak memang sangat minimalis. Jika umumnya sajian sate kambing dilengkapi bumbu kacang atau kecap, irisan tomat, rajangan brambang, cabai, dan kubis, sate klathak tampil lugu. Sepertinya, sudah sangat yakin akan kelezatannya. Seporsi cuma berisi dua tusuk. Disajikan begitu saja, masih lengkap dengan tusukan jeruji sepanjang 30 cm. Tanpa hiasan, tanpa manipulasi. Bisa disantap sebagai nyamikan melengkapi wedang teh nasgithel (panas, legi, kental). Atau sebagai makanan utama yang biasanya dengan nasi yang disiram kuah gulai.

Selain penulis Ayu Utami dan Danarto, banyak pesohor lain yang mendoyani sate Kang Bari. Dia menyebut beberapa nama: Didi Petet, Dedy Mizwar, Wulan Guritno, Mira Lesmana, Riri Riza, Tora Sudiro, Komeng, Trie Utami, Rieke Dyah Pitaloka, Nano, dan Ratna Riantiarno.

Populernya sate klathak, seperti jamaknya terjadi di negeri ini, selalu melahirkan epigon-epigon yang menguntit sebuah kreasi. Kebanyakan penjual sate kambing (juga tongseng dan gulai) di sepanjang Jalan Imogiri Timur yang jumlahnya hampir seratus warung selalu menyediakan menu ini. Ada yang menyerupai olahan Kang Bari, tetapi tidak sedikit yang sudah dikembangkan, misalnya ditambah merica sehingga jadi rada pedas seperti yang dilakukan Pak Untung, pemilik kedai di daerah utara pasar.

”Di sini pun, kalau ada yang minta pedas, ya saya tambahi merica. Kalau mau manis, pas meremas dagingnya saya tambahi kecap,” ujar bapak satu anak ini seraya menerangkan, gagasan membuat sate klathak diinspirasi masa kecilnya yang doyan makan emprit bakar.

Dia berkisah, dulu sering berburu burung emprit. Jika buruan didapat, biasanya sang emprit dikuliti, dibuang jeroannya, lalu hanya ditaburi garam, langsung dibakar. ”Biasanya emprit ditusuk pakai jeruji payung. Cuma dibakar begitu saja, kok rasanya enak,” kenangnya. Rasanya gurih banget. Selain itu, orang di desanya juga punya kegemaran makan klathak-melinjo, yaitu buah melinjo yang dibakar. Rasanya juga gurih. Dari yang serba gurih lantaran proses pembakaran dengan logam itulah, Kang Bari menamai kreasinya dengan nama camilan yang sudah beken sebelumnya: Klathak!

Kambing gemuk

Saban hari setidaknya Kang Bari menghabiskan 20 kilogram daging kambing. Itu didapatnya dari dua wedhus gembel yang disembelihnya sendiri. ”Kalau bukan jenis gembel, baunya prengus,” terang Kang Bari yang sekali belanja langsung beli 10 ekor di Desa Banyakan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul.

Jadi, bisalah dibayangkan, sudah berapa ribu kambing yang disembelihnya jika Kang Bari memulai bikin sate klathak sejak 1995. Apalagi jika dihitung sejak zaman leluhurnya. Kang Bari adalah generasi ketiga.

”Dulu, sebelum tahun 1945, kakek saya, Mbah Ambyah, juga jualan di sekitar pasar sini. Di bawah pohon waru, hanya dengan satu meja dan dua lincak. Yang dijual tongseng singkong dan tongseng tahu. Daging kambingnya cuma sedikit. He-he-he.., waktu itu kan tidak semua orang bisa makan daging,” kenang anak keempat dari sepuluh bersaudara ini sambil meneruskan, ”Lalu dilanjutkan ayah saya dan saya membantu bikin minuman.”

Begitulah, setelah Pak Wakidi, ayahnya, lengser keprabon, warisan takhta sate-tongseng gantian diduduki Kang Bari, sementara Jono, 27 tahun, adiknya yang nomor enam, jadi pembuat minuman. ”Sekarang Jono buka warung sendiri. Juga jualan sate klathak dengan resep yang sama. Tempatnya di sana tuh,” ujar Kang Bari sambil menunjuk sisi selatan pasar.

”Getih kami ini kan getih sate,” ujarnya bercanda. Maksudnya, dari puluhan penjual sate-tongseng di kawasan Pasar Jejeran umumnya masih punya hubungan famili dengan dirinya. Dia menyebut sejumlah nama yang berprofesi serupa dirinya: Pak Lik Yabini, Ibu Choiriyah, Pak Pong, Bu Jazim, Pak Lik Sijam, Kang Keru, Kang Salam, dan Kang Ci’un.

Yang pantas dibanggakan, meski medan bisnisnya sama, mereka tetap rukun sentosa. Persaingan tidak menyebabkan lahirnya intrik dan saling menjatuhkan. Apalagi memuntahkan kekerasan.

Karena itu, jika FPS, Front Pemangsa Sate (Klathak), ingin meningkatkan kadar kolesterol dan menyempurnakan kecerdasan lidahnya, jangan gentar menyerbu front sate-tongseng di kawasan Pasar Jejeran. Inilah penyerbuan yang dibenarkan. Karena setiap serbuan pasti akan disambut kelezatan kuliner kelas kampung, dan itu berarti rezeki bagi mereka yang menggantungkan hidup pada sate klathak.

Selamat menyerbu! Ini front memang berbeda.***

Legitnya Tongseng Kicik

Kalau di jagat politik ada dwitunggal Soekarno-Hatta atau SBY-JK, di jagat kuliner ada tritunggal: sate-tongseng-gulai. Ketiga menu ini selalu tampil bareng. Jika sebuah kedai berani memproklamasikan jualan sate kambing, bisa dipastikan sekaligus jualan tongseng dan gulai. Soalnya trio menu ini memang saling melengkapi. Untuk memasak tongseng dibutuhkan kuah gulai.

”Lha kalau menyembelih kambing hanya untuk dibikin sate thok, ya rugi. Nanti jeroan, iga, kaskus, buntut dan kepalanya ndak bisa dimanfatkan. Makanya dibuat gulai,” kata Kang Bari yang menyerahkan tugas pembuatan gulai kepada Bu Alfiah, 55 tahun, ibu kandungnya.

Kang Bari mengungkap rahasia dapur, ”Gulai itu bumbunya paling banyak. Kurang lebih ada 29 macam, antara lain santan kelapa, gula jawa, cengkeh, jinten, kapulaga, garam, brambang, bawang, salam, laos, kemiri, tumbar, kayu manis, cabe merah, dan lain-lain.”

Bisa dibilang, kualitas gulai inilah yang membedakan rasa tongseng dari setiap warung sate. Ada yang memanjakan santan sehingga kuahnya kental, sehingga jika dibikin tongseng terasa lebih legit. Ada yang cenderung pedas dan asin. Ada yang encer. Nah, gulai olahan The Bari Family ini tergolong rada kental. Selain cocok menjadi kuah tongseng, juga bisa dibuat menu lain, kicik namanya. Cara bikinnya, daging kambing ditumis sama seperti tongseng. Tapi kuahnya dibiarkan menguap sampai agak kering. Yang tersisa tinggal daging dengan kuah sangat kental seperti gulali. Rasanya lebih manis dan asin. ”Harga seporsi kicik sama dengan sate klathak, hanya sepuluh ribu,” kata Kang Bari.

Jadi, jika kelak tongseng kicik juga jadi sasaran serbuan Front Pemangsa Sate (Klathak), naga-naganya tritunggal ”sate-tongseng-gulai” akan segera menjelma jadi ”catur-tunggal”: sate-tongseng-gulai plus kicik. Sebuah kombinasi anyar yang bakal mewarnai warung sate di Yogyakarta.

Spoiler for sate
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for sate
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for sate
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for sate
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 18/01/2010 12:45 PM
#27

Ikan Kuah Pala Banda yang Membisukan

Kekayaan kuliner di Pulau Banda, Maluku, seperti sup ikan kuah pala, ikan bakar, ulang-ulang, dan bekasang, menambah daya tarik pariwisata selain keindahan alam bawah air. Kata-kata sebenarnya tak cukup untuk menggambarkan kenikmatan sop ikan kuah pala, kuliner asli masyarakat Kepulauan Banda di Maluku.
Saat menyeruput kuah yang gurih, sedikit pedas bercampur asam pala, kata-kata menguap meninggalkan lidah mengecap sensasi kelezatan. Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, yang terkenal karena keindahan taman lautnya juga memiliki koleksi warisan kuliner yang lezat. Kami mencoba masakan ulang-ulang, sambal bekasang, dan sop ikan kuah pala. Buah pala rempah-rempah itulah yang menarik bangsa Eropa datang ke Banda pada awal abad ke-17.

Di meja makan disajikan pula urap daun pepaya dan ikan bakar. Minuman bisa variatif tergantung selera. Santapan khas Banda itu bisa dipesan di rumah makan Namasawar milik Fauziah Baadila di dekat Pelabuhan Naira. Masakan khas itu tidak disajikan setiap hari dan harus dipesan terlebih dahulu, misal untuk makan malam harus dipesan sejak siang hari.

Santap malam kami buka dengan ulang-ulang yang menyegarkan. Ini adalah campuran sayuran segar kangkung, kacang panjang, terong, tauge, wortel, dan mentimun. Sayuran tersebut dicampur dengan bumbu terasi, cabai ulek, kenari tumbuk, serta sedikit cuka dan garam. Bumbu dicampur dengan sayur saat akan disajikan supaya kesegaran sayuran lebih terasa.

Ulang-ulang menggugah selera makan karena segar bercampur gurih kenari tumbuk dan sedikit rasa asam. Kesegaran sayur-sayuran mengobati lelah setelah seharian snorkeling di Laut Banda.

Ulang-ulang juga cocok disantap dengan nasi, daun pepaya, dan ikan bakar yang dicelup sambal bekasang yang dibuat dari daging ikan cakalang tumbuk. Kombinasi menu itu menghadirkan sensasi khas Banda: kesegaran sayur, gurih ikan laut dan rasa asam pedas rempah-rempah.

Sambal ”bekasang”

Sambal bekasang melengkapi sensasi pedas menggigit lidah. Lidah juga digelitik rasa asam jeruk limau dalam sambal bekasang. Asam limau selain untuk menghilangkan aroma amis ikan juga merangsang air liur agar santap tambah nikmat. Daging lembut ikan kerapu bakar dicelup dalam sambal bekasang cukup untuk menghabiskan satu bakul nasi.

Sambal bekasang istimewa karena pembuatannya membutuhkan waktu satu minggu. Untuk membuat bekasang dibutuhkan ikan cakalang yang digiling halus. Daging giling dicampur dengan garam dan diungkep selama satu minggu dan jadilah bekasang. Untuk membaut sambal bagi dua orang, cukup satu sendok adonan bekasang diulek bersama cabai sesuai selera dan perasan jeruk limau. Sambal biasanya ditambahi irisan bawang merah, tomat, dan sedikit minyak goreng supaya sedap dan gurih.

Jika lidah mulai bosan dengan sensasi bekasang, satu sendok ulang-ulang cukup mengembalikan selera makan.

Sup ikan

Sup ikan bisa disantap sebagai pembuka, tetapi kami menyantapnya sebagai penutup. Kuah pala yang menjadi kuah sop terasa sangat segar. Ada sedikit rasa asam bercampur pedas. Rasa pedasnya beda dari cabai karena ini pedas pala yang halus dan hangatnya menjalar hingga ke lambung. Sensasi rasa itu berasal dari irisan daging pembungkus biji pala dalam kuah sup.

Perut yang semula mulai kenyang menjadi nyaman oleh kehangatan pala dan rasa lapar pun kembali menjalar. Sensasi ini di luar dugaan hingga satu ekor ikan kakap merah yang berdaging lembut tersisa tulangnya saja.

”Wow... ini enak sekali sampai kita terdiam. Aku akan merekomendasikan masakan ini ke teman-temanku yang akan ke Banda,” ujar Paul Symon, kawan dari Inggris, memecah kebisuan diiringi tawa kami berdua.

Kenikmatan sup ikan kuah pala ini, menurut Fauziah, sudah dikenal sejak zaman nenek moyang. Bahkan saking lezatnya, sup ikan kuah pala selalu disajikan untuk para petinggi tentara Belanda yang datang ke Banda. Tradisi santap itu berlangsung hingga bangsa Eropa angkat kaki dari Banda.

”Kami sebenarnya punya banyak masakan khas, tetapi yang paling terkenal sup kuah pala,” ujar Fauziah.

Aneka menu kuliner Banda masih dipertahankan oleh masyarakatnya, tetapi jarang ditemui di rumah makan. Masakan khas Banda masih disajikan di rumah-rumah untuk konsumsi pribadi. Rumah makan di Naira juga tidak semuanya menyajikan masakan ini. Di buku menu makanan pun tidak terdaftar.

Kami bisa menikmati makanan khas Banda itu karena terlebih dahulu bertanya tentang makanan khas Banda ke pemilik rumah makan Namasawar.

Kuliner di Banda perlu lebih dikenalkan untuk melengkapi daya tarik pariwisata. Masakan khas Banda dengan kekuatan pada kesegaran ikan, sayuran, dan rempah-rempah bisa memikat para penikmat wisata kuliner.

Sensasi kelezatanya tidak akan terlupakan karena hanya bisa ditemui di pulau kecil di tengah Laut Banda yang berpalung dalam. Jika tertarik merasakan sensasi kuah pala, berkunjunglah ke Banda.

Resep Sup Ikan Kuah Pala

Sup ikan kuah pala pengolahannya sebenarnya mudah dan bumbunya sederhana. Kendala utama mungkin buah pala yang jarang dijumpai di pasar di luar Maluku.

Langkah pertama adalah memilih ikan segar yang akan dibuat sup. Paling mantap ikan laut seperti kerapu dan kakap merah yang dagingnya lembut dan menyerap bumbu. Setelah ikan dibersihkan dan siap diolah, siapkan bumbu, yaitu bawang merah, laos, cabai merah, dan terasi. Bumbu- bumbu diulek hingga halus.

Langkah selanjutnya merebus air, setelah mendidih masukkan bumbu-bumbu. Kemudian ikan dimasukkan bersama irisan tipis-tipis daging pembungkus biji pala. Tambahkan sedikit garam dan serai tumbuk untuk rasa dan aroma segar. Angkat setelah ikan dan buah pala matang.

Untuk variasi hidangan bisa disajikan daun pepaya yang dihilangkan rasa pahitnya. Caranya, daun pepaya direbus menggunakan air tanah liat. Setelah direbus, daun pepaya dibersihkan dan diiris-iris halus. Siapkan bumbu bawang putih, bawang merah, cabai, dan terasi kemudian digiling halus.

Daun pepaya dan bumbu ditumis di atas api kecil, tambahkan garam, kenari giling, dan setengah gelas air. Daun pepaya dibolak-balik hingga matang dan sajikan bersama sup ikan kuah pala, sambal bekasang, ulang-ulang, dan ikan bakar.

Spoiler for banda
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for banda
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for banda
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 19/01/2010 03:29 PM
#28

Ikan, Kelapa, dan Ubi Kayu

Ikan terbang harus hati-hati jika lewat perairan Mandar. Jika tidak bisa lolos dari jaring nelayan di perairan Sulawesi Barat ini, bisa-bisa mereka ditangkap dan kemudian dijual sebagai ikan asap di Somba, Kecamatan Sendana. Orang Mandar terbiasa menyebut ikan terbang sebagai tui-tuing, sementara orang Bugis-Makassar ada yang menyebutnya tuing-tuing.
Dalam penelusuran lewat internet, penelitian Dr Ir Syamsu Alam Ali MS dan Ir Andi Parenrengi MSc dari Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin pada tahun 2006 antara lain menyatakan, ikan terbang (Hirundichthys oxycephalus) merupakan sumber daya laut ekonomis penting di Selat Makassar (sekitar perairan Parepare dan Polewali-Mamasa) dan Laut Flores (sekitar perairan Takalar dan Bulukumba).

Kelompok ikan terbang Takalar dan Bulukumba di Laut Flores serta kelompok ikan terbang Parepare dan Polewali Mamasa di Selat Makassar masing-masing merupakan subpopulasi yang berbeda.

Seorang kawan yang pernah tinggal di Makassar menyebutkan, ikan terbang termasuk ikan yang dilindungi. Wallahualam kebenarannya. Apa pun, jajaran warung makan di kawasan Somba masih siap melayani pengunjung yang mencari ikan terbang.

Diawali satu warung makan pada awal tahun 2000-an, kini sekitar 40 pedagang membuka warung makan ikan asap. Somba termasuk wilayah Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene. Letaknya persis di pinggiran jalan trans-Sulawesi, sekitar 19 kilometer dari pusat kota Majene ke utara menuju Mamuju, sekitar 60 kilometer atau dari pusat kota Polewali Mandar.

Gampang saja menemukan Somba sekalipun tidak ada petunjuk khusus. Jika deretan warung makan penuh dengan kepulan asap, bisa jadi itulah Somba. Warung makan di Somba sangat sederhana, semipermanen saja. Kebanyakan hanya separuh terbuat dari tembok dan selebihnya ditutup papan atau anyaman bambu. Warung makan di sisi tepi pantai lebih sederhana lagi karena dibangun menyerupai rumah panggung dengan ”sebelah kaki” tertanam di pasir pantai.

Pengasapan

Sesuai nama, cara memasaknya dengan pengasapan. Ikan terbang yang telah dicuci kemudian ditata di atas pelepah daun kelapa di atas tungku berbahan bakar kayu kering yang biasa dipungut dari pinggir pantai.

Namanya ikan asap, cara memasaknya betul-betul dengan pengasapan. Jika muncul bunga, segera air dicipratkan untuk memadamkan bunga api. Menurut Darmiati (40-an), pengasapan itu membuat daging ikan terbang lebih gurih dan sedap.

Ikan asap sebaiknya dihidangkan saat hangat. Begitu kulit ikan terbang yang kecoklatan dilolos, kita segera menemukan daging yang empuk. Hampir seperti ikan bolu (bandeng), hanya saja duri ikan terbang lebih sedikit. Pokoknya mantap.

Wajar saja jika Arkamullah, warga Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, selalu menikmati ikan asap jika lewat di Somba. ”Kalau asal ikan asap, di pasar juga banyak,” kata Arkamullah.

Pengunjung kebanyakan memang pelintas jalur barat Sulawesi. Letak Somba relatif strategis, tepat di tengah keletihan saat berkendara di tepian pantai yang panas.

Seiring dengan pembentukan Sulawesi Barat, jalur lintas barat semakin ramai sehingga pengunjung diharapkan lebih banyak dari Majene dan Polewali Mandar ke Mamuju atau sebaliknya. Bahkan jika ada hajatan besar pemerintahan di Mamuju, hampir bisa dipastikan pengunjung warung ikan asap akan lebih banyak ketimbang biasanya.

Lengkap

Makan ikan terbang asap tak akan lengkap tanpa mencocol sambal mentah. Bahan utamanya cukup cabai, tomat, dan bawang. Ditambah sedikit minyak, maka jadilah.

Jika ikan saja tak mengenyangkan, ada penganan karbohidrat tinggi tersedia di meja. Jepa adalah makanan khas Mandar. Bentuknya lempengan bundar dari parutan ubi kayu dan kelapa yang dimasak di atas kuali tanah. Cara pembuatannya nyaris sama seperti pembuatan serabi. Namun, untuk membuat jepa ada tutup yang ditekan untuk memadatkan adonan.

Hanya saja, hati-hati untuk yang baru pertama kali menyantap jepa karena bisa langsung terasa memadat di perut begitu digelontor air minum.

Alternatif lain yang tidak kalah mengenyangkan adalah sokkol lameayu dari parutan ubi kayu, kelapa, dan kacang hijau, dibungkus daun pisang, disusun menyerupai piramida tambun, kemudian dikukus. Ada juga buras, semacam lontong-beras, dan gogos, terbuat dari ketan dan dipanggang.

Di Somba ikan terbang asap dihargai Rp 5.000 per piring, terdiri atas tujuh ekor. Menurut Darmiati, saat ini harga ikan terbang mentah dalam kisaran Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per 100 ekor.

Sementara harga penganan ”pelengkap” dalam setahun terakhir tak banyak berubah. Jepa dihargai Rp 1.500 per 3 lempeng, buras dan sokkol lameayu Rp 1.000 per biji, dan gogos yang termahal pun Rp 2.000 per biji.

Sekadar pengingat: biasanya warung baru buka di atas pukul 10.00. Sayangnya keberadaan warung makan di Somba memang sedemikian ”bersahaja”. Para pedagangnya terkesan pasrah dengan kondisi sekitar. Jika tidak rajin-rajin mengipas, bisa-bisa ikan asap di meja dirubung lalat duluan.

Waduh….

Ikan, Kelapa, dan Ubi Kayu

Hasil alam yang menentukan apa yang akan dimakan masyarakat setempat. Oleh karena itu, di daerah pesisir Sulawesi makanan andalan selalu menggunakan ikan sebagai bahan utama. Seolah-olah tidak lengkap rasanya bersantap tanpa kehadiran beragam olahan ikan di meja makan.

Wilayah Sulawesi, terutama di daerah pantai, juga kaya dengan kelapa. Tidak aneh pula jika makanan yang disajikan pun biasanya menggunakan kelapa, bisa kelapa parut atau santannya yang dipergunakan.

Selain ikan dan kelapa, ubi kayu yang gampang tumbuh di mana saja juga menjadi bahan utama makanan orang Mandar. Jepa dan sokkol lameayu adalah salah satu contoh (baca juga ”Ikan Terbang Mendarat di Somba”). Di luar itu orang Majene juga punya penganan khas lain. Pupu’ namanya. Bentuknya berupa lempengan segitiga, berbau harum, dan gurih rasanya.

Menurut Rahaniah, warga Majene, kota yang terbiasa menerima pesanan pembuatan pupu’, bahan utama adalah ikan cakalang dan kelapa. Cara membuatnya, ikan cakalang diasap dan kemudian dagingnya dilolosi. Setelah bersih dari kulit dan duri, daging cakalang ditumbuk halus. Setelah itu daging ikan cakalang ditambah dengan parutan kelapa. Sebaskom besar daging ikan cakalang biasanya butuh parutan 30 butir kelapa.

Untuk penyedap, tambahkan bumbu seperti garam, bawang, merica, cabai, dan lengkuas. Bahan itu kemudian dibentuk menjadi lempeng segitiga bersisi sekitar 5 cm. Langkah terakhir adalah menggorengnya dalam minyak kelapa. Rahaniah biasa menjual pupu’ dengan harga rata-rata Rp 700 per potong.

Pupu’ biasanya disantap sebagai lauk teman makan nasi. Pupu’ menjadi makanan wajib di hajatan besar di daerah Majene dan sekitarnya. Pupu’ bisa tahan sampai empat hari, jadi cukuplah jika hendak dijadikan oleh-oleh.

Spoiler for ikan terbang
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for ikan terbang
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for ikan terbang
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 19/01/2010 03:33 PM
#29

Dendeng Batokok dari Muara Kalaban

Irisan daging tipis kering berlumur minyak kelapa menyebarkan bau harum yang merangsang nafsu makan. Dengan teman nasi, aneka sayur, dan sambal, lidah ini diajak menari mengikuti kelezatan dendeng batokok dari Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.
Memang ada sejumlah rumah makan di Sumatera Barat yang menyajikan menu dendeng batokok, tetapi Rumah Makan Dendeng Batokok milik Ny Ermis (66) di daerah Muara Kalaban, Kecamatan Silungkang, sekitar 5 kilometer sebelum pusat Kota Sawahlunto, ini merupakan salah satu yang tertua dan mempertahankan kekhasan rasa dendeng.

Seperti di rumah makan masakan Minang pada umumnya, dendeng batokok dihidangkan bersama aneka pilihan lauk, seperti gulai ikan, ayam goreng, dan telur.

Pengunjung yang memburu dendeng biasanya langsung meraih sepiring kecil daging yang sudah ditokok dan berlumur minyak kelapa dari Talawi, salah satu daerah di Sawahlunto yang terkenal sebagai penghasil kelapa.

”Aih, rasa dendeng di sini khas dan beda dibandingkan dengan dendeng batokok lain. Aroma dari minyak serta daging panggang yang kering itu bikin rasa enak,” kata Ingka, warga Kota Padang, yang menjadi salah satu pelanggan Rumah Makan Dendeng Batokok.

Kerenyahan dendeng semakin terasa karena daging yang sudah kering kembali dibakar di atas bara kayu atau tempurung kelapa. Saat disajikan, daging dalam keadaan hangat dan tetap renyah ketika digigit.

Warisan kakek

Kenikmatan menyantap dendeng hari ini berasal dari resep dan cara pengolahan yang diwariskan turun-temurun. Sejak kecil, Ermis kerap melihat kakeknya, Sailun, memasak dendeng batokok. Almarhum Sailun sempat mempunyai kedai nasi yang menjajakan dendeng batokok di depan Stasiun Muara Kalaban, sekitar tahun 1945.

”Saya baru berumur 3 tahun waktu Kakek jualan dendeng batokok. Jadi, resep dan cara memasak dari Kakek juga belum saya ingat. Baru ketika hendak menjajakan dendeng batokok, saya berguru cara memasak dendeng ke kakek dan mamak (paman) saya,” kenang Ermis, yang berhasil menghidupi empat anaknya dari dendeng.

Rumah Makan Dendeng Batokok yang ada saat ini merupakan pengembangan dari kedai yang berdiri sejak tahun 1965. Dari satu kedai ketika itu, sudah berkembang menjadi dua pada hari ini.

Menu dendeng batokok lahir dari kebutuhan menghidupi keluarga. Persaingan usaha kedai nasi membuat Ermis harus memikirkan menu khas yang belum dimiliki kedai lain.

”Ketika itu, tahun 1965, PRRI sedang meletus. Niat saya melanjutkan sekolah ke Padang tidak bisa karena hari sedang perang. Jadilah warung dendeng batokok ini yang saya tekuni,” papar Ermis.

Berawal dari kegagalan berangkat ke Padang itulah Ermis memilih menikah dengan Ridwan tahun 1959. Ridwan sebenarnya sudah membuka kedai nasi sebelum menikah dengan Ermis, tetapi belum menyediakan menu dendeng batokok. Ide menyajikan menu dendeng batokok berasal dari Ermis.

Ermis dan Ridwan lalu merintis kedai nasi dendeng batokok. Waktu itu, menu yang ditawarkan belum seberagam saat ini, tetapi dendeng batokok sudah menjadi idola dan dicari orang.

”Sampai sekarang ada saja orang yang datang dan langsung bertanya, ’Ada dendeng, Bu?’ Pelanggan mencari dendeng batokok karena memang itu menu yang khas,” papar Ermis yang mempekerjakan 10 karyawan.

Dipertahankan

Kendati zaman telah berganti, resep dendeng batokok masih tetap dipertahankan. Salah satunya, tetap mempertahankan daging tanpa lemak. Kenaikan harga juga tidak menjadikan Ermis mengurangi bumbu.

Permintaan yang tinggi membuat Ermis menghabiskan sedikitnya 20 kilogram daging sapi untuk dua hari. Saat liburan panjang, kebutuhan daging bisa mencapai 100 kilogram per minggu.

”Daripada bertaruh menghasilkan dendeng yang kurang lamak (enak), lebih baik saya tetap memakai bumbu seperti yang diwariskan kakek saya. Itu sudah pasti lamak,” ucap Ermis sambil mengacungkan jempol tangan.

Karena kualitas dipertahankan, Ermis sering mendapat pesanan dari pelanggan di luar kota. Sebuah rumah makan di Jakarta bahkan menjadi langganan dendeng batokok Ny Ermis, sekitar 600 potong sebulan. Ny Mufidah Jusuf Kalla juga pernah membawa 200 potong setelah mencicipi rasa dendeng batokok di rumah Wali Kota Sawahlunto Amran Nur.

Kawan-kawan yang hendak berangkat beribadah haji juga kerap menjadikan dendeng batokok sebagai lauk cadangan. Dengan pengeringan yang sempurna, Ermis menjamin dendengnya jauh dari cendawan sehingga bisa bertahan lama.

Bebas menikmati

Tiap orang punya cara menikmati dendeng batokok. Ada yang senang menyantap dendeng batokok saja, ada pula yang senang meramu dendeng dengan aneka sayur.

”Saya lebih suka menyantap dendeng dan nasi saja. Yang tidak boleh ketinggalan adalah minyak di dendeng itu yang membuat rasa lebih nikmat,” kata Nof.

Sedangkan Tata, warga Jakarta, menyukai daging yang disantap dengan sayur terung atau gulai nangka. ”Minyak kelapanya tidak boleh ketinggalan,” kata Tata, yang selalu menyempatkan diri mampir ke kedai Dendeng Batokok di Muara Kalaban itu.

Mereka yang senang rasa pedas bisa menambahkan sambal, bisa sambal dari cabai merah yang dihaluskan betul, atau sambal cabai hijau yang rasanya khas.

Sepotong dendeng batokok dijual relatif murah dibandingkan dengan rasanya, yakni Rp 7.000, dan kedai siap menerima pelanggan sejak pukul 07.00 hingga 22.00.

Aroma Asap dan Minyak Kelapa

Dendeng batokok terbuat dari daging sapi pilihan, biasanya bagian yang digunakan adalah bagian panggul sapi yang tidak berlemak. Lemak pada daging sapi memang dihindari untuk mendapatkan dendeng berkualitas baik.

Daging sapi yang sudah dibersihkan kemudian diiris tipis memanjang sesuai ukuran daging. Begitu tipisnya irisan daging, Ermis mengaku sempat merasa takut tangan akan ikut teriris ketika pertama kali belajar membuat dendeng. Usai dipotong tipis, daging direndam dalam campuran bumbu selama lima jam agar bumbu benar-benar merasuk.

Daging berbumbu itu kemudian diasapi. Beralaskan anyaman bambu yang renggang, potongan daging yang masih panjang-panjang itu disusun. Anyaman bambu kemudian digantung sekitar satu meter di atas tungku yang digunakan memasak aneka makanan di kedai, seperti nasi, sayur, sambal, atau air.

Asap dari proses memasak inilah yang kemudian mengasapi daging hingga daging kering benar. Waktu untuk sangai atau mengasapi ini juga tidak singkat, yakni sampai 10 jam.

”Kalau dikeringkan di bawah sinar matahari, hasilnya tidak begitu baik karena tingkat kekeringan daging belum maksimal. Beda dengan sangai. Karena itu, saya tetap memakai proses sangai kendati agak lama,” papar Ermis yang masih ikut turun ke dapur untuk memasak.

Daging yang sudah kering kemudian diangkat. Setelah itu, dimulailah proses menokok atau memipihkan daging. Daging yang sudah ditokok mempunyai bentuk sangat pipih, tetapi padat.

Setelah itu, daging diiris-iris sesuai ukuran untuk dijual. Daging yang sudah ditokok dibakar kembali. Kali ini, daging dimasukkan ke api dengan memakai alat pemanggang dari kawat. Proses pemanggangan terakhir ini tidak terlalu lama karena fungsinya lebih untuk menghangatkan daging kembali sebelum disantap.

Sebelum dihidangkan, dendeng batokok ini disiram dengan minyak kelapa yang dibuat juga oleh masyarakat Sawahlunto. Campuran minyak kelapa dan dendeng batokok menjadi kemewahan rasa yang terjangkau kantong. Lamaknyo....

Spoiler for dendeng batokok
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for dendeng batokok
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for dendeng batokok
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 20/01/2010 07:05 PM
#30

Makannya Sate Ambal, Minumnya Legen

Setelah puas berkeliling menyambangi pantai-pantai di Gombong Selatan, pastilah perut ini menuntut hak untuk diisi. Dari sekian banyak makanan khas di sana mungkin sate ambal adalah salah satu alternatif yang bisa dicoba. Sate ambal ini mempunyai bumbu khas dan cita rasa tersendiri. Lezatnya hingga tusuk terakhir dan sulit untuk dilupakan.
Sebenarnya harga sate ini biasa saja. Daging kambing yang dipotong kecil-kecil kemudian dibakar seperti layaknya sate madura. Tapi kenikmatannya mungkin bisa di katakan agak aneh. Bumbunya terasa agak lain, seperti khas citarasa Jawa Tengah yang agak manis-manis sedikit. Dan terasa lebih enak bila memakannya dengan ketupat, yang dijual juga oleh penjual sate.

Apalagi bila kita sempat membeli emping melinjo yang merupakan salah satu jajanan khas daerah Gombong. Emping ini terbuat dari bahan buah pohon melinjo. Buah yang biasanya digunakan sebagai salah satu bahan sayur asem ini, dihancurkan sampai membentuk lingkaran. Kemudian emping tersebut dikeringkan dan digoreng untuk setelahnya dijual.

Menyantap emping sebagai makanan tambahan saat menikmati sate ambal menimbulkan sensasi tersendiri juga. Rasa manis yang timbul dari bumbu sate, teradu dengan rasa agak pahit yang keluar dari emping. Nah, bisa Anda bayangkan sendiri jadinya.

Haus pasti timbul setelah makan. Yang paling pas untuk situasi seperti itu adalah minuman dingin dan manis, mungkin sebuah tawaran menarik yang tak bisa ditolak. Bila Anda sekalian ingin tercebur dalam aroma Jawa Tengah, pilih saja minuman legen sebagai teman minum Anda.

Legen, yang berasal dari kata legi (bahasa Jawa Tengah, yang berarti manis) memang bukan isapan jempol rasa gulanya. Manis segar yang timbul dari dalamnya, mungkin karena minuman ini diambil dari sari pohon kelapa. Ternyata banyak penduduk daerah Gombong yang mencari nafkah dengan menderes kelapa.

Tiap pagi mereka panjati pohon kelapa, ditaruhnya penampung yang terbuat dari bambu, didiamkan selama satu hari. Sore hari mereka memanennya. Banyak juga penjual minuman ini disepanjang jalan menuju gua Jatijajar dan gua Petruk. Hawa panas yang timbul karena daerah panas perbukitan kapur terasa langsung terobati bila meminum legen ini dingin-dingin.

Keramik dan Tikar Pandan

Selain pantai, gua, makanan dan minuman nikmatnya. Ternyata daerah Kabupaten Kebumen ini juga menyimpan keindahan ukiran keramik dan anyaman daun pandan yang patut dijadikan souvenir.

Seperti desa Grenggeng, yang ada 3 km dari kota Karang Anyar. Desa itu menawarkan keindahan anyaman pandan seperti dompet, tas, kipas, topi, tempat tembakau, tatakan gelas, tikar dan lainya yang rasanya sayang bila dilewatkan. Aksesori yang ada rasanya patut bila dijadikan bahan oleh-oleh.

Atau kita lebih memilih membeli keramik terukir sebagai buah tangan. Para pecinta keramik bisa mencari tambahan koleksi barunya di pusat keramik di desa Jatisari. Desa tersebut terletak di 6 km timur kota Kebumen.

Spoiler for sate ambal
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for sate ambal
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for sate ambal
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for sate ambal
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 20/01/2010 07:13 PM
#31

Lontong Tuyuhan, Gurih dan Pedas

Lontong opor ayam telah ada bersama masyarakat Indonesia sejak lama. Tiap daerah menciptakan variasi rasa dan seleranya masing-masing, tak terkecuali lontong tuyuhan, masakan khas Desa Tuyuhan.
Sajian lontong dari desa di Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, ini mirip dengan lontong opor ayam. Bedanya, kuah santan lebih kental dan pedas, menonjolkan perpaduan rasa kemiri dan cabe rawit.

Masakan itu dijumpai hampir di seluruh daerah Rembang. Namun, yang cita rasa dan suasananya khas hanya di Pusat Penjualan Lontong Tuyuhan di Desa Tuyuhan.

Disebut lontong tuyuhan karena masakan itu berasal dari Desa Tuyuhan. Konon, resep lontong ini diwariskan turun-temurun para leluhur Desa Tuyuhan.

Penjual lontong tuyuhan yang di kompleks wisata kuliner Pusat Penjualan Lontong Tuyuham adalah Munzeri (51). Dia mengatakan, resep lontong tuyuhan diturunkan kepada kaum perempuan Desa Tuyuhan. Tak heran jika kaum pria hanya tahu cara memasak, tetapi tidak dapat memasaknya. Seolah-olah mereka ditakdirkan untuk menjual saja.

Kekhasan lontong tuyuhan dimulai dari bentuk lontongnya, yaitu berbungkus daun pisang dengan bentuk kerucut segitiga.

Adapun cara memasak opor ayam hampir sama dengan memasak opor ayam umumnya. Bumbu-bumbu yang dibutuhkan pun mirip, antara lain bawang merah, bawang putih, lengkuas, kemiri, ketumbar, kencur, pala, dan kunyit.

Agar mendapatkan kekhasan pada rasa, bumbu itu masih ditambah cabai merah yang ditumis sampai layu dan jahe. Dan rasa pedas ini memang terasa menonjok, berpadu dengan rasa gurih santan kental.

Sebagai peningkat aroma, ditambahkan pula salam dan serai. Masukkan santan encer, garam secukupnya, dan ayam hingga matang. Berikutnya, tuangkan santan kental dan masak sampai mendidih.

”Untuk menambah gurihnya opor ayam, bisa ditambahkan taburan irisan bawang merah goreng,” kata Munzeri.

Air Tuyuhan

Hartono (72), warga Desa Sumbergirang, Kecamatan Lasem, mengaku menjadi langganan Munzeri sejak Munzeri berjualan keliling. Selain terkesan dengan bentuk dan kegurihan lontong, ia sangat menyukai rasa daging ayamnya.

”Dagingnya empuk, tidak alot. Jika dipisahkan dari kuah, daging itu tetap gurih karena bumbu-bumbu kuah meresap di dalamnya,” ujar Hartono yang datang seminggu tiga kali.

Munzeri menggunakan daging ayam kampung. Setiap hari, ia menghabiskan 10-12 ekor.

Daging itu dimasak berbarengan dengan bumbu-bumbu, termasuk tambahan cabai merah yang ditumis sampai layu. Aroma kuah yang memadukan daun salam dan serai semakin menambah cita rasa lontong tuyuhan.

Menurut Munzeri, generasi ketiga penerus penjual lontong tuyuhan pertama, Mbah Latmin, cita rasa lontong tuyuhan tidak terlepas dari kepercayaan para penjualnya. Mereka meyakini lontong hanya akan terasa enak jika dimasak dengan air Desa Tuyuhan.

Hal itu diperkuat dengan pernyataan sejumlah pelanggan. ”Kalau tidak dimasak dengan air Desa Tuyuhan, rasanya lain,” kata Ny Barudin (42), pelanggan Munzeri dari Desa Gedungmulyo, Kecamatan Lasem.

Bila kita membeli lontong tuyuhan, penjual biasanya akan menawarkan potongan ayam opor menggunakan istilah yang populer di sana, seperti gending, sempol, mentok, dan rongkong, biasa terlontar dari mulut warga Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Gending merupakan sebutan untuk paha atas ayam, sempol untuk paha bawah, mentok untuk dada, dan rongkong untuk leher. Kata-kata yang terlahir sejak beberapa dekade itu kini digunakan para penjual lontong tuyuhan saat menawarkan potongan ayam dagangannya.

Angkring

Rata-rata para penjual lontong di Pusat Penjualan Lontong Tuyuhan berdagang sejak pukul 12.00 hingga 20.00, khusus warung Lontong Tuyuhan Munzeri tutup pukul 16.00.

Warung milik Munzeri, seperti layaknya rata-rata warung lontong tuyuhan lain, bangkunya berupa dingklik atau kursi panjang terbuat dari kayu dan mejanya pun dari kayu yang bertaplak plastik berornamen bunga.

Tempat meracik lontong berbentuk angkringan pikul dari bambu dan rotan. Hal ini menambah kesan khas lontong tuyuhan.

Sebelum menetap di sana, Munzeri memikul angkringan itu keliling kota Lasem. ”Kalau malam, saya meletakkan lampu teplok. Tak lupa saya membawa kendi air minum untuk pembeli di tepi-tepi jalan. Karena sudah menetap, lampu dan kendi itu tidak saya gunakan lagi,” kata Munzeri yang berjualan lontong tuyuhan sejak 31 tahun lalu.

Sejak 1977 hingga 1990, ia meneruskan tradisi Mbah Latmin menjual lontong keliling kota Lasem. Waktu itu, harga seporsi lontong Rp 50, sekarang Rp 5.000.

Seiring dengan bertambahnya pelanggan dan prakarsa Pemerintah Kabupaten Rembang memusatkan penjualan lontong tuyuhan, Munzeri mulai berjualan menetap. Usia yang mulai senja juga menjadi alasan dia berjualan di Pusat Penjualan Lontong Tuyuhan.

Menikmati Lontong Tuyuhan

Masakan lontong tuyuhan ditemukan di seluruh Rembang, Jawa Tengah, tetapi cita rasa dan suasana yang khas bisa didapat di Pusat Penjualan Lontong Tuyuhan di Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Rembang.

Pusat penjualan itu memadukan wisata kuliner dan alam pedesaan. Selain dapat menyantap lontong tuyuhan, pengunjung juga dimanjakan dengan pemandangan desa dan pegunungan Lasem yang tidak banyak tercemar polusi kendaraan.

Rata-rata penjual lontong tuyuhan di Pusat Penjualan Lontong Tuyuhan berdagang sejak pukul 12.00 hingga 20.00, khusus warung Lontong Tuyuhan Munzeri, pedagang terlama di kompleks itu, tutup pukul 16.00.

Lokasi wisata kuliner itu terletak sekitar tiga kilometer dari kota Lasem, kota kecamatan di Kabupaten Rembang. Sesampai di pertigaan kota di kompleks Masjid Agung Lasem, belok ke kanan ke arah selatan menyusuri Jalan Raya Lasem-Pamotan.

Setelah sampai di pertigaan BRI Jolotundo, belok ke kanan ke arah barat menyusuri Jalan Lasem-Sulang. Seusai menempuh jarak sekitar dua kilometer, tengoklah ke kanan jalan. Akan tampak warung-warung permanen yang tertata rapi di sekeliling perkebunan tebu.

Di tempat itu ada dua penjual lontong Tuyuhan yang ternama, yaitu Munzeri dan Sabit. Munzeri adalah penjual terlama di kompleks wisata kuliner itu.

Jadi, bila Anda kebetulan mampir ke Rembang, jangan lupa untuk mampir di sana menikmati lontong tayuhan. Mudah-mudahan Anda akan ketagihan.

Spoiler for lontong tuyuhan
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for lontong tuyuhan
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 20/01/2010 07:27 PM
#32

Cita Rasa India di Kampung Keling

Siapa pun yang pernah berkunjung ke Medan pasti tahu nama Kampung Keling, wilayah di jantung Kota Medan yang sejak masa penjajahan Belanda banyak dihuni warga keturunan India. Di sinilah surga masakan khas India. Salah satu tempat makan yang paling banyak dikunjungi adalah Rumah Makan Cahaya Baru yang dikelola pasangan suami–istri Anthony Selliah dan Yacoba bersama anak dan menantu mereka, Ronald Amalraj dan Madu Malini.

Rumah makan yang didirikan 12 tahun lalu ini terletak di Jalan Tengku Cik Dik Tiro, jalan yang membujur memotong kawasan Kampung Keling. Setiap tukang parkir di kawasan ini tahu betul jika diminta menunjukkan lokasinya.

Begitu masuk ke dalam rumah makan, suasana ala India langsung terasa melalui dekorasi di dinding dan aroma masakan yang langsung tercium di hidung.

"Masakan kami memang banyak menggunakan rempah. Bau harumnya jadi sangat menyengat," ujar Yacoba yang bersama suaminya adalah generasi ketiga leluhur mereka, suku Tamil di India Selatan, yang telah menetap lama di Medan.

Tepat waktu makan siang saat saya pertama kali datang ke sana dan menu yang cocok adalah nasi briyani kambing plus teh tarik. Nasi briyani, makanan khas orang India bagian selatan, memang menu istimewa rumah makan itu.

"Orang di utara lebih banyak memakan roti, meski di selatan juga ada pula yang makan roti, tetapi rotinya berbeda dari yang di utara," ujar Yacoba.

Kalau melihat bentuknya, nasi briyani mirip seperti nasi goreng, tetapi tidak ada proses goreng menggoreng dalam membuat nasi briyani.

Sebelum membuat nasi briyani, terlebih dulu semua bumbu dan rempah yang diperlukan, seperti ketumbar, cabe kering, jintan halus dan kasar, bawang putih, bawang merah, jahe dan kunyit dimasak bersama daging kambing, ayam atau sayuran, tergantung jenis nasi briyaninya.

"Semua dimasak setengah matang. Saat memasak bumbu, kami juga memasukkan yoghurt agar daging terasa empuk. Setelah itu baru dimasukkan beras dan air. Kalau sudah tanak nasinya, kami masukan minyak sapi agar nasi harum dan tidak keras saat dingin," ujar Yacoba.

Minyak sapi adalah pengganti mentega. Minyak ini dibuat dari olahan kepala sapi yang didinginkan di pendingin lemari es lalu disarikan lemaknya. "Jika menggunakan mentega, nasi briyani bisa terasa keras kalau sudah dingin," kata Yacoba.

Untuk yang vegetarian, campuran nasi briyani adalah sayuran seperti bunga kol, wortel, buncis, dan kacang–kacangan. Banyak pengunjung vegetarian menikmati masakan Rumah Makan Cahaya Baru.

Biasanya, nasi briyani disajikan bersama sambar atau dalca dan pajri nanas. Sambar bentuknya mirip bumbu kari, tetapi bahan dasarnya adalah kacang hijau. Sementara pajri nanas adalah suwiran buah nanas yang dimasak dengan gula dan cabai. Rasanya mirip manisan.

Berbagai jenis roti

Bila ingin serasa betul–betul di India, coba juga berbagai jenis roti. Ada roti khas India bagian selatan disebut dosei, dan roti khas India Utara seperti chapati, naan, dan tanduri.

Dosei terbuat dari tepung beras. Adonannya dicampur kacang ulenthe, kacang khas Tamil yang bisa menggembungkan adonan. Bentuk ulenthe mirip kacang hijau tak berkulit. "Jadi, tidak perlu soda kue untuk menggembungkan adonan," kata Yacoba.

Menikmati dosei harus dengan saus cathni yang terbuat dari kelapa, kacang tanah, cabai, bawang, dan sedikit jahe. Dosei juga biasa dimakan bersama sambar. Ada berbagai macam dosei, yang dicampur telur, daging kambing, ayam, atau sayuran. Ada juga yang polos; rasanya tawar, tetapi terasa nikmat bila dimakan bersama cathni dan sambar.

Roti khas India Utara berbeda bahannya. Chapati dan naan terbuat dari tepung roti biasa. "Naan biasa dimasak dengan menempelkan di pinggiran guci tanah liat yang dipanaskan, sementara chapati dimasak di kuali rata," ujar Yacoba.

Sementara tanduri adalah jenis roti dari tepung gandum. "Orang India Utara memang sering membuat roti dari tepung gandum. Berbeda dengan di Selatan yang sering menggunakan tepung beras," kata Anthony.

Tiga jenis roti khas India Utara ini biasa dimakan bersama daal, sejenis kuah dari kacang hijau dan dibumbui bawang merah, bawang putih, sedikit jahe, cabai, dan tepung kunyit. Untuk menguatkan aromanya, daal biasa ditaburi daun ketumbar. Rasanya gurih luar biasa.

Cita rasa India akan semakin lengkap bila kita juga menikmati teh tarik yang pembuatannya khas. Teh bercampur susu kental diaduk–aduk sambil dipindahkan dari satu wadah ke wadah lainnya dengan gerakan seperti menarik. Kalau sudah ahli, tarikan cairan teh bercampur susu kental ini tak akan tumpah meski gerakan tarikannya memanjang. "Kalau belum ahli ya pasti tumpah," ujar Yacoba.

Memang bukan hanya sekadar kari dan roti cane yang ada di rumah makan yang buka pukul 10.00–22.00 ini. Tersedia juga berbagai jenis menu khas India dari ikan, udang, daging kambing atau ayam.

Spoiler for kampung keling
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for kampung keling
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for lampung keling
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for kampung keling
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for kampung keling
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
n3n3 - 20/01/2010 10:10 PM
#33

Walo lokasi warungnya di bali tp makanan yg disajikan citarasa jawa ada juga chinese foodnya...
tempatnya nyaman free hot spot lagi trus harga murah tapi rasanya mantab seperti nama warungnya....WARUNG MANTAB
ane paling suka ama pecelnya bumbunya uenak tenan apalg isi pecelnya gak seperti pada umumnya....misalnya labu siam, kenikir, kecipir, genjer dan sayuran yg seperti pecel lain juga satu porsinya cuma 6.000 gan.....
lingkаrаnbiru - 21/01/2010 03:16 AM
#34

tuh tempat kulinernya diindex dong di page one.
Biar gampang milih & ngekliknya ngakak
kadalxburik - 21/01/2010 01:19 PM
#35

Quote:
Original Posted By n3n3
Walo lokasi warungnya di bali tp makanan yg disajikan citarasa jawa ada juga chinese foodnya...
tempatnya nyaman free hot spot lagi trus harga murah tapi rasanya mantab seperti nama warungnya....WARUNG MANTAB
ane paling suka ama pecelnya bumbunya uenak tenan apalg isi pecelnya gak seperti pada umumnya....misalnya labu siam, kenikir, kecipir, genjer dan sayuran yg seperti pecel lain juga satu porsinya cuma 6.000 gan.....

thanks share nya gan
Quote:
Original Posted By lingkа
tuh tempat kulinernya diindex dong di page one.
Biar gampang milih & ngekliknya ngakak


ok gan...nnt ane buatin indeks....tp belajar dl buat indeks di kakskus...malu
kadalxburik - 21/01/2010 01:25 PM
#36

Nikmatnya Cakalang Asar

Makanan tradisional di Kota Ambon konon kabarnya enak–enak. Pertama, karena ikan yang menjadi bahan baku utamanya selalu segar karena diambil dari laut di depan rumah. Kedua, gara–gara banyak tante–tante yang membeli bahan baku di pasar begitu cerewetnya. Jadi, daripada diomeli, para pedagang memilih untuk selektif menyediakan makanan jualannya. Impian akan makanan Ambon yang enak–enak itu terbentur kenyataan saat tiba di kota itu, Senin sore. "Wah, seng ada lae (tidak ada lagi) sore begini Nona.... Yang banyak cuma warung padang," kata David, tukang ojek dengan lagu kalimat meninggi.

Putar–putar Kota Ambon selama setengah jam, diantar David yang antusias mencarikan warung tradisional, masih tampak puing–puing sisa kerusuhan dan pos–pos keamanan. "Kita orang cuma mau cari hidup sekarang," kata David tanpa ditanya.

David, yang berharap banyak turis datang, tanpa diminta malamnya membawakan sebungkus bagea kenari—dodol sagu dicampur kenari—tanpa meminta bayaran. Keesokan harinya, pagi–pagi, sebuah pesan singkat ia kirimkan: warung yang menjual makanan tradisional Ambon buka pukul 10.00–16.00.

Malam itu, rombongan wartawan yang baru saja mencoba penerbangan perdana Batavia Air diundang Ketua Badan Pengurus Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Maluku Andre Sitanala untuk mencicipi lezatnya ikan laut Ambon di Restoran Aneka Sari, di daerah Urimesing. Di atas meja terhidang ikan kerapu, ikan bubara, ikan lema, ikan kakap, dan ikan baronang, yang semuanya dibakar.

Ikan laut segar yang terasa manis itu menjadi semakin lezat gara–gara sambal colo–colo yang diberikan sepiring kecil untuk setiap orang. Sambal yang terbuat dari air jeruk nipis dengan cabai, tomat, garam, bawang merah, dan daun kemangi ini membuat semua tamu makan dengan lahap. Cemplungkan saja potongan ikan yang kenyal saking segarnya ke dalam sambal itu, taruh di atas nasi hangat, semua pun diam, berkonsentrasi menikmati makan malam. Apalagi ditemani jus gandaria—buah setempat yang berbuah setahun sekali—yang rasanya manis–asam, malam itu semua asyik menikmati hidangan di hadapannya.

Dimasak sendiri

Keesokan harinya, seorang warga yang berulang tahun mengundang Kompas datang ke rumahnya. Rupanya, makanan tradisional kebanyakan masih dimasak sendiri oleh warga. Tidak heran, tidak banyak restoran yang menyediakannya. "Kalau mau makan makanan khas Ambon, adanya di rumah...," begitu tawaran Wellem.

Di atas meja telah terhidang sepiring kohu–kohu yang bentuknya mirip urap. Di sampingnya ada ketela dan singkong rebus, teman setia untuk dimakan dengan kohu–kohu. Kohu–kohu ini lagi–lagi berbahan dasar cabikan ikan tongkol yang dicampur dengan parutan kelapa mengkal yang disangrai hingga kering, serta taoge pendek, terung, kacang panjang mentah, serta perasan air jeruk nipis, bawang merah, cabai rawit, dan kemangi.

Hidangan ini menjadi lauk yang paling mantap dimakan pakai tangan dengan singkong rebus. Rasa ikan segarnya dipadukan dengan asamnya jeruk dan segarnya sayur–mayur yang tidak dimasak.

Di samping kohu–kohu ada ikan cakalang asar yang berwarna coklat–hitam mengilat. Konon, semakin mengilat, semakin baik kualitasnya. Ikan cakalang asar alias ikan tongkol yang diasap ini dimakan lagi–lagi dengan sambal colo–colo yang artinya celup–celup. Tanpa pakai nasi pun ikan asar dengan colo–colo ini sudah sangat lezat digado. Apalagi kalau daging ikan dicocolkan dan dimakan dengan irisan cabai dalam sambal, rasanya yang pedas–pedas asam membuat mulut berdecap–decap.

"Makan sambil duduk dengan keluarga, keringatan, sambil kepedasan... Wahhh... mantap," kata Yopie yang asyik menggado cakalang asar dengan colo–colo sambil duduk angkat kaki di sudut ruangan.

Silakan seruput

Pulang dari sana, di Hotel Mutiara yang asri telah tersedia semeja hidangan makanan Maluku. Pasangan Andre dan Reita yang menjadi tuan rumah memeragakan cara menyantap papeda yang khas itu. Kalau soal bentuknya, bubur sagu untuk papeda ini tidak lain tidak bukan ya... lem sagu. Biasanya diambil dari mangkok tidak dengan sendok, tetapi memakai garpu atau lidi untuk melilit–lilitkan "lem" ini dan memindahkan ke piring.

Malam itu papeda disajikan bercampur dengan kuah ikan kuning yang terbuat dari ikan tongkol berbumbu kunyit dan jeruk nipis. Kuah yang berasa asam itu membanjiri bubur sagu. Dari semuanya, paling unik cara makan papeda, yaitu diseruput langsung dari piring tanpa menggunakan sendok.

Papeda ini juga biasanya dimakan pagi–pagi saat sarapan dan paling enak dihidangkan panas–panas. Selain dengan kuah ikan kuning, papeda bisa dimakan dengan sayur bunga pepaya yang pahit–pahit pedas itu, atau dengan lauk lainnya.

Di warung–warung yang menjual makanan tradisional, harga makanan relatif murah. Seporsi papeda, misalnya, bisa diperoleh dengan harga Rp 500–Rp 1.000 per satu sendok besar. Setelah itu, mau dipadankan dengan menu apa, tinggal tunjuk ke panci–panci yang berderet di atas meja. Habis itu, tinggal makan pisang ambon yang kalau di Ambon namanya jadi pisang meja karena harus selalu ada di atas meja

Spoiler for cakalang asar
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for cakalang asar
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for cakalang asar
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for cakalang asar
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 21/01/2010 01:28 PM
#37

Soto Ayam Pak No, Jangan Ngaku ke Semarang Kalau Belum Nyoba...

Kota Semarang, ibukota Jawa Tengah itu, ternyaya menyimpan potensi wisata kuliner yang 'membuat ngiler' juga. Banyak tempat makan yang selama ini tidak terekspose, ternyata ketika dicoba, rasanya lebih dahsyat dibanding yang sudah terkenal duluan. Beruntung penulis punya kesempatan keliling kota yang katanya cukup panas itu.
Alhasil, beberapa tempat yang sempat penulis dengar, langsung saya sambangi dan harus dicoba. Salah satu yang "menganggu" adalah Soto Pak No di Jalan Sukun, Banyumanik Semarang. Konon, penjual soto yang mengawali jualannya dengan warung kecil ini, kini sukses mengembangkan tempatnya lebih besar.

Tempatnya termasuk strategis, karena berada di ujung jalan tol menuju arah Solo atau Jogjakarta. Daerahnya masuk wilayah Srondol Wetan. Kalau dari arah Solo, sebelum masuk tol kita belok ke kanan di Jalan SUkun tadi. Gampang lokasinya.

Oh ya, Soto di Semarang, sebenarnya nyaris sama dengan Soto Kudus. Disajikan dalam mangkok kecil antara nasi dan kuah dicampur, meski sekarna juga menyediakan nasi yang dipisah. Porsinya memang tidak terlalu besar, itulah kenapa penulis selalu menghabiskan mininal dua mangkok sampai benar-benar merasa kenyang.

Pun di Soto Pak No. Sekedar informasi saja, di Semarang, nyaris semua soto menggunakan nama Pak No. Usut punya usut, ternyata karena Pak No yang awal sukses, semua yang memulai belakangan ngedompleng namanya. Padahal mungkin nama aslinya ada yang Yono, Jono, Tono, Pono, Sono atau Gino. Toh akhirnya semua bisa eksis. Tinggal kita saja pinter-pinter milih. Soto Pak No Banyumanik ini, termasuk keluarga yang asli. Mereka buka di Jalan Sukun ini mulai awal tahun 90-an.

Masuk di warng Soto ini, terasa sekali suasana jawa yang ramah dan santai. Pelayannya berbaju batik menyapa dengan bahasa Jawa. Saya memesan Soto [hanya ada Soto ayam kampung saja], penulis juga minta Es Teh [kalau di Jawa Tengah, Es Teh itu artinya sudah pakai gula, beda dengan Jakarta].

Soto datang dengan tambahan ciri khas lainnya, Sate Kerang, Sate Ayam Bumbu dan Sate Telor, ditambah tempe goreng. Tenang saja, tidak ada istilah menunggu terlalu lama, meski pengunjung sedang penuh sekalipun. Di depan penulis, sederet mobil berplat nomor B [Jakarta], AB [Solo], AD [Jogjakarta] dan R [Banyumas], selain H [Semarang].

Soto Pak No dihidangkan dalam mangkok berisi nasi, bihun, taoge, irisan telor rebus, bawang daun, dan daging ayam. Tentu dilengkapi kuah soto yang gurih. Sebagai temannya, Anda bisa menambahkan sate ayam, sate kerang, sate telur puyuh, tahu, tempe, serta perkedel kentang.

Bumbu kuah sotonya terasa sekali. Panasnya pas, dan kita tidak perlu tunggu lama untuk menyantapnya. Ambil sate kerang yang bumbu manis pedasnya [dominan manis sih], langsung nempel di lidah. Mulut 'ngap-ngap' ngerasain soto yang panas-panas tapi nggak mau berhenti menyuapnya. Percaya deh, tidak cukup satu mangkok untuk benar-benar merasakan enaknya Soto Pak No ini. Tambah satu mangkok lagi deh.

Warung Soto PAK NO ini buka mulai jam 7 pagi, ketika orang mulai beraktivitas, sampai jam 9-10an malam. Soal harga relatif murahlah, Soto dengan harga Rp 4000-an plus sate sekitar Rp 2000-an, rasanya masih bisa terjangkau kantong-kantong kita.

Buat yang nggak suka soto atau Teh Manis, tenang saja, Pak No juga menyediakan menu lain seperti ayam goreng kampung [yang juga nendang rasanya]. Untuk minum, standar sih, ada es campur dan minuman ringan lainnya.

Spoiler for soto
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for soto
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]



iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
kadalxburik - 21/01/2010 01:32 PM
#38

Perut Kenyang, Hati Senang

Karena dikelilingi oleh lautan, orang pasti akan langsung berasumsi bahwa Bangka dan Belitung adalah surga makanan laut alias seafood. Think again, karena percaya atau tidak, seafood adalah makanan mewah di daerah ini. Bangka dan Belitung memang lebih banyak mengirimkan hasil lautnya untuk produk ekspor daripada mengkonsumsinya sendiri. Tak heran bila penduduk Bangka dan Belitung harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk dapat menikmati hasil laut mereka. Namun, bukan hanya makanan laut, sayuran segar juga barang yang langka di sini. Wajar saja, penduduknya memang lebih memilih untuk menjadi penambang timah daripada petani.

Tapi tenang, jangan langsung patah hati dan urung datang ke Bangka Belitung karena bingung soal makanan. Walau seafood harganya cukup mahal, namun di sini Anda dapat menemukan berbagai makanan olahan dari hasil lautnya yang kaya. Belum lagi makanan-makanan khas Bangka yang biasa Anda temui di Ibukota Jakarta, kini dapat ditemui langsung di daerah aslinya, tentunya dengan rasa yang asli pula.

Kemplang Sana Kemplang Sini

Kemplang adalah kerupuk berbentuk bulat pipih yang terbuat dari ikan, kulit ikan, cumi atau udang dan kemudian dimakan bersama sambal. Bayangkan rasanya yang asin dan gurih, bercampur pedas kecut dari sambalnya. Nikmat! Cemilan yang sulit berhenti dikunyah.

Untuk membuat kemplang, mula-mula daging ikan dihaluskan lalu dicampur dengan sagu matang. Kemudian adonan diremas dan dibanting-banting hingga menyatu, sampai padat dan mengeras, lalu dijemur dan dikeringkan beberapa hari, sebelum digoreng dan dijual. Konon, teknik pembuatan adonan ini sangat sulit dan memiliki andil besar terhadap kelezatannya.

Kemplang dapat ditemui dengan mudah di berbagai tempat penjualan oleh-oleh diBangka dan Belitung. Salah satu yang direkomendasikan adalah kemplang Pak Supardi di daerah Belinyu. Di sini, Anda dapat menemukan kemplang yang dapat langsung disantap, maupun yang belum digoreng. Harganya berkisar antara Rp.5.000-Rp.20.000.

Kemplang Supardi
Jl. Gajah Mada No. 104
Belinyu, Bangka

Toko LCK
Jl.Jend.Sudirman No. 30
Pangkal Pinang, Bangka

Terasi dan Kawan-Kawannya

Selain kemplang, Bangka Belitung juga terkenal karena berbagai terasinya. Terasi Bangka dan Belitung memang tiada dua. Terasi di kedua pulau ini dijual dalam bentuk padat kering dan basah. Packaging yang sederhana sama sekali tidak merepresentasikan rasanya yang luar biasa. Selain terasi, beberapa hasil taut lainnya, yang biasa menjadi menu di dalam hidangan Tionghoa dan diakui memiliki khasiat tertentu, seperti sirip ikan hiu dan tripang, juga dapat ditemukan dengan cukup mudah, walau harganya tetap mahal. Contohnya saja, sirip ikan hiu diberi harga Rp.400.000,- per ons dan tripang seharga Rp.1.900.000,- per kg.

Cai Cai
JI. Pasar Ikan No. 123
Tanjung Pandan, Belitung

Otak-Otak 'nendang' di Pangkal Pinang

Otak-otak adalah salah satu penganan favorit yang terbuat dari ikan dan tepung sagu, dibungkus daun pisang dan dipanggang hingga matang, lalu dimakan bersama saus kacang, ditambah sambal secukupnya.

Walau penjualnya dapat ditemukan dengan cukup mudah di Bangka, namun Pangkal Pinang punya satu restoran yang merupakan tempat favorit untuk menikmatinya.

Si pemilik memanggang otak-otaknya di muka toko dan otomatis membuat siapapun yang lewat tergiur dengan aromanya. Dengan harga satuan Rp.1.000,- Santi (nama restoran, bukan pemiliknya), dalam sehari dapat menjual hingga ratusan otak-otak. Tidak sedikit pula yang membawanya pulang untuk oleh-oleh.

Santi
JI. Mesjid Jamik No. 10
Pangkal Pinang

Lempah Kuning Kesayangan Bangka Belitung

Ini dia makanan kebanggaan Bangka Belitung dengan bumbu kuningnya yang khas. Lempah kuning adalah hidangan berkuah asam yang dimasak bersama daun kedondong. Hasilnya? Kuah dengan rasa kecut yang menyegarkan! Ditambah sambal terasi dan nasi panas yang mengepul, pasti membuat ketagihan. Ikan (atau hanya kepalanya), daging sapi dan rusuk sapi adalah beberapa bahan yang biasanya dibuat dan disajikan sebagai lempah kuning. Anda dapat dengan mudah menemui cara pengolahan ini di rumah-rumah makan.

The Authentic Mi Bangka

Satu makanan yang jadi target must eat adalah Mi Bangka yang otentik. Selama ini, jarang yang pernah melihat wujud asli hidangan itu di tanah kelahirannya. Dan di Pangkal Pinang-lah akhirnya the legendary mi Bangka asli, atau Mi Awen, berhasil dilahap. Mi dengan daging babi , disajikan panas-panas dengan aroma yang menggoda. Semangkok mi porsinya cukup besar dan mengenyangkan.

Sedangkan penjualnya 'bersarang' di rumah mungil di salah satu sudut Pangkal Pinang. Bersiaplah untuk antri dan menunggu bila jam makan siang tiba. Langganan yang seabrek, ditambah ruangan yang sempit, mewajibkan Anda mengelus dada dan sabar menanti. Tapi, for a bowl of delicious authentic Bangka noodle, it's worth the wait!

Mi Awen
Kampung Bintang No.250
Pangkal Pinang, Bangka

Martabak Bangka Asli Seasli-aslinya

Satu lagi makanan khan Bangka yang tersebar di sudut-sudut Jakarta dan kota besar lainnya. Siapa yang tak pernah ngemil martabak sebagai `teman' nongkrong sambil begadang, atau ngebungkusin 1 porsi untuk calon mertua? Martabak memang penganan yang bersahabat dan ngangenin. Dan di Bangka, Anda dapat menemukan martabak dengan mudah. Salah satunya mangkal di dekat pasar Pangkal Pinang.

Di sini, hanya ada satu pilihan isi. Kacang dicampur wijen. Harga yang diberikan pun sangat bersahabat dengan kantong. Seporsi hanya Rp.6.000,-. Peringatan dini untuk Anda, kalau Anda tidak terlalu suka manis, segera angkat suara dan beritahukan si penjual. Because they really mean it when they say 'martabak manis'!

For the Seafood Cravers

Bagi para pencinta seafood, jika Anda masih penasaran dengan hidangan hasil laut Pulau Bangka dan Belitung, inilah rekomendasi terbaik bagi lidah. Karena tetap wajib hukumnya untuk makan seafood saat berada di daerah yang pesona lautnya begitu mempesona!

Tersembunyi di salah satu gang di Pangkal Pinang, restoran ini sudah cukup lama jadi favorit pencinta seafood. Berawal dari bangunan sederhana dan dimotori oleh para jago masak hidangan Cina, kini resto ini telah berada di sebuah bangunan dengan dinding-dinding kokoh. Kini menyandang predikat `one of the best', Restaurant Sea Food Kampung Bintang memiliki staf handal yang fasih menerangkan tiap detil dalam menunya. Beberapa yang patut dicoba adalah Ikan Jebung Bakar, Lokan Saus Padang dan Ikan Lempah Kuning.

Restaurant Seafood Kampung Bintang
Kelurahan Bintang Dalam RT 012 No. 93
Pangkal Pinang, Bangka

Nirwana Cafe & Restaurant

Nirwana Cafe & Restaurant Restoran ini dapat Anda temui di dalam Tanjung Pesona Beach Resort. Menspesialisasikan diri pada hidangan laut, cumi dan ikan bakarnya patut dicoba. Apalagi setelah dicocol dengan sambalnya. Lezat! Bangunan bergaya panggung dengan konsep ruangan open air membuat pengalaman makan jadi semakin menyenangkan.

Nirwana Cafe & Restaurant
JI. Pantai Rebo, Sungailiat, Bangka

Pandan Laut

Ini dia resto favorit Belitung. Untuk seafood, Pandan Laut menyediakan hidangan-hidangan yang menggugah selera. Terletak bersebelahan dengan Hotel Pondok Impian, para tamu hotel tak perlu pergi jauh untuk mengisi perut. Ikan, cumi, udang atau kerang dapat Anda nikmati di sini. Tinggal pilih sesuai selera.

Pandan Laut
JI. Pattimura
Tanjungpandan, Belitung

Spoiler for babel
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for babel
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for babel
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for babel
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
bindutz - 25/01/2010 06:38 PM
#39

the best.. i ever see..!!
kadalxburik - 26/01/2010 01:35 PM
#40

Pedas "Semriwing" Megono Pekalongan

Dua mobil dan tiga sepeda motor tampak rapi terpakir berjajar di depan warung di tepi Jalan Dokter Wahidin, tepat di seberang Panti Asuhan Muhammadiyah, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, April lalu. Sinar lampu neon menerangi warung kaki lima dengan dua meja dan empat kursi panjang itu. Sepintas, suasana di dalam warung kaki lima ini tampak biasa dan sama dengan suasana warung kaki lima di Kota Pekalongan yang menyajikan menu nasi megono. Tetapi, suasana berbeda ketika tiba saat menyantap sepiring nasi megono hangat dengan lauk tempe goreng dan semangkuk garang asem sapi.

"Mau minum apa?" tanya Inung, pemilik warung kepada kami.

"Dua teh panas manis."

Inung segera meletakkan dua gelas besar berisi gula pasir dan sendok untuk mengaduk. Kami sempat kebingungan saat menerima dua gelas kosong tanpa air teh panas seperti pesanan kami.

"Air tehnya dapat dituang sendiri, ini teko tehnya. Silakan menikmati," ujar Inung menjelaskan arti gelas berisi gula dan sendok.

Sepiring nasi megono dengan sotong saus hitam dan semangkuk garang asem sapi hangat sungguh nikmat disantap kala hujan mulai membasahi Kota Pekalongan malam itu. Kawan saya memilih menyantap nasi megono dengan tempe goreng kering panas yang baru selesai digoreng dan dihidangkan di atas meja kami.

"Wah, ternyata begini ya rasa megono di warung ini. Pedas semriwing," ujar teman itu.

Rasa semriwing yang dimaksud adalah seperti rasa pedas menyejukkan saat mengulum permen rasa mint. Megono yang kami santap di Warung Berkah Bu Inung terasa sekali kekuatan rempahnya yang membuat semriwing pangkal tenggorokan kami.

Tampilan nasi megono di situ sangat sederhana. Taburan di atas nasi putih itu berwarna coklat muda kemerah–merahan, serupa dengan warna daging buah nangka muda yang telah dimasak.

"Bumbu yang dihaluskan untuk megono adalah bawang merah, bawang putih, cabai rawit, ketumbar, jintan, lengkuas, dan kemiri, lalu dicampur irisan bawang merah, cabai merah besar, daun salam, parutan kelapa muda, cacahan nangka muda, dan bunga kecombrang, lalu dikukus," kata Inung. Pantas saja rasanya semriwing.

Yang berkuah dan kering

Di warung ini kami juga mencicipi acar bumbu kuning yang juga kaya rempah. Acar terdiri dari irisan timun, kubis, wortel berbalut bumbu kunyit, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, merica, dan cuka.

Umumnya, pengunjung warung megono Bu Inung atau dulu dikenal dengan Warung Makan Bu Hajah Luwiyah ini menyukai dua macam penyajian nasi megono, yakni megono berkuah dan megono keringan.

Untuk penyuka makanan berkuah dapat menyantap nasi megono dengan semangkok garang asem sapi atau opor ayam, otot sapi masak tauco, sotong saus hitam, maupun rendang. Menu garang asem sapi di warung ini termasuk spesial karena memakai daging iga sapi.

Garang asem pekalongan, baik rasa maupun tampilannya berbeda dibandingkan dengan garang asem umumnya. Tampilan garang asem pekalongan serupa dengan rawon, masakan khas Jawa Timur, tetapi rasa asam lebih mendominasi.

Garang asem pekalongan diolah dari cabai rawit, keluwak, cabai hijau, cabai merah besar, dan tomat hijau. Daging sapi yang dimasak dengan aneka rempah itu langsung direbus di panci, bukan dibungkus daun pisang seperti garang asem umumnya.

Menurut Inung, warung makan berusia 35 tahun yang buka mulai lepas magrib hingga sekitar pukul 22.30 itu menghabiskan dua ayam kampung, satu setengah kilogram daging iga sapi, dan dua kilogram nangka muda.

Pembeli bukan hanya warga Pekalongan, tetapi juga pelancong dari Jakarta, Semarang, dan wilayah sekitar Pekalongan, khususnya mereka yang melewati Kota Pekalongan pada malam hari.

Seperti rumah sendiri

Suasana makan seperti di rumah sendiri terasa sekali di warung makan kaki lima ini. Pengunjung leluasa menambah teh dari teko yang disediakan di atas meja, tempe dan tahu goreng panas juga selalu disajikan di atas meja sehingga pembeli dapat menyantapnya dalam keadaan hangat.

Harga makanan di warung ini juga tidak memberatkan kantong. Seporsi nasi megono dengan tempe atau tahu goreng harganya Rp 2.000–Rp 2.500. Sementara bila ditambah aneka lauk berkuah, seperti garang asem sapi dan sepotong sotong, cukup mengeluarkan Rp 4.500–Rp 5.000.

Sebenarnya, nyaris semua warung dan rumah makan di Pekalongan selalu menyediakan megono dalam daftar menu masakannya karena megono adalah masakan khas Pekalongan. Tetapi, rasa megono berbeda–beda di tiap tempat, ada yang pedas dan ada juga yang tidak pedas. Lauk–pauk yang menyertai juga berbeda–beda.

Di Warung Makan Pak Bon di Jalan H Agus Salim, Kota Pekalongan, nasi megono dapat dinikmati dengan lauk sambal goreng srimping (kerang putih pipih). Garang asem di warung ini terdiri dari daging sapi, otot, lemak, dan kaskus sapi.

Bagi penggemar nasi megono dan masakan olahan kambing, Warung Makan Nasi Uwet Haji Zarkasi di Jalan Sulawesi menyediakan jeroan dan daging kambing berkuah.

Spoiler for megono
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for megono
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for megono
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


Spoiler for megono
[IMG]+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)[/IMG]


iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
Page 2 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > LOEKELOE > TRAVELLERS > Domestik > +++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)