BUKU new
Home > CASCISCUS > BUKU new > Review Novel The Catcher in The Rye
Total Views: 4075 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 6 of 6 |  < 1 2 3 4 5 6

daninoviandi - 31/08/2012 12:00 PM
#101

Quote:
Original Posted By milan1
http://en.wikipedia.org/wiki/Bildungsroman
genre sastra yang berfokus pada pertumbuhan psikologis dan moral dari protagonis dari pemuda sampai dewasa (datang usia), [2] dan di mana perubahan karakter demikian sangat penting.

gangguan psikologis kan si holden, temennya aja nyaranin dia di analis bapaknya yg ahli psikoanalisis D

dari search google image, keyword phoebe catcher in the rye

mungkin ada yg anggapnya mirip dengan karakter phoebe
http://cangorgun.wordpress.com/2009/01/14/character-list/

analisis karakter yg cocok
http://tributefromdistrict12-.tumblr.com/tagged/the+catcher+in+the+rye+dream+cast

http://tributefromdistrict12-.tumblr.com/tagged/the+catcher+in+the+rye+dream+cast/page/2

iya emang, tapi dia menolak buat dites, malah ngebalikin:"lo pernah gak dites ama bapak lo?" hammer:
Quote:
Original Posted By vidavacia
temen gw bilang si holden manic depressive (bipolar). ah, masak sih? perasaan dia gak pernah kena mood swing: tiba2 girang kena euphoria, tiba2 depresi? yg gw inget cuma dia marah2 mulu D


pernah juga sih dia seneng, kalo lagi ngebayangin pembunuhan kayanya seneng D
*ngebayangin doang*
slashgear29 - 31/08/2012 12:51 PM
#102

Quote:
Original Posted By milan1

Spoiler for phoebe
Review Novel The Catcher in The Rye
Review Novel The Catcher in The Rye
Review Novel The Catcher in The Rye
punya ade kya gini mah ane juga mau wowcantik


hahaha gw banget nih, entah kenapa setiap si Holden lagi ngomongin Phoebe gw selalu kepikiran Chloe Moretz
vidavacia - 31/08/2012 01:51 PM
#103

Quote:
Original Posted By daninoviandi
iya emang, tapi dia menolak buat dites, malah ngebalikin:"lo pernah gak dites ama bapak lo?" hammer:


pernah juga sih dia seneng, kalo lagi ngebayangin pembunuhan kayanya seneng D
*ngebayangin doang*


senengnya biasa aja kan, gak sampe manic? dan seinget gw dia gak pernah kena episode depresi gitu, yg sampe down banget pengen bunuh diri?

kalopun dia emang ada kelainan jiwa, kayaknya lebih ke kemarahan itu. bukan bipolar. imho. siapa anak psikologi di sini? p
ifanema - 01/09/2012 02:18 AM
#104

gak ada link ebook-nya!!!

Spoiler for Koq bisa


ane nyari link ebook-nya malah nemuin ini Gan...

Review Novel The Catcher in The Rye Review Novel The Catcher in The Rye

click the cover Diary of A Wimpy Kid for details >== betterbooktitles


Pasti ada alasannya Gan!!??
Mohon pencerahannya...
slashgear29 - 01/09/2012 03:48 AM
#105

Quote:
Original Posted By ifanema
gak ada link ebook-nya!!!

Spoiler for Koq bisa


ane nyari link ebook-nya malah nemuin ini Gan...

Review Novel The Catcher in The Rye Review Novel The Catcher in The Rye

click the cover Diary of A Wimpy Kid for details >== betterbooktitles


Pasti ada alasannya Gan!!??
Mohon pencerahannya...


mungkin karena isinya sama2 tentang anak/remaja yg memandang orang dewasa dengan sedikit skeptis :sotoy:
ifanema - 12/09/2012 06:48 AM
#106

Novel ini pernah di mention di Ruang Baca Koran T*mpo
edisi Desember 2005
Review Novel The Catcher in The Rye

Quote:
Review Catcher In The Rye oleh Bagus Takwin
Spoiler for Copas aja ya Gan

The Catcher in the Rye dan Dunia Batin Pembunuh

Mark David Chapman memegang buku itu saat menembakkan peluru ke arah musisi legendaris, John Lennon.
John Warnock Hinckley, Jr., pelaku percobaan pembunuhan terhadap Presiden Ronald Reagan dilaporkan memiliki obsesi terhadap buku tersebut.

Bagus Takwin
Dosen Psikologi Universitas Indonesia

Bagaimana sebuah buku bisa mempengaruhi pembacanya untuk membunuh? Pertanyaan ini sering dikaitkan dengan buku The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger yang diduga punya pengaruh signifikan terhadap perilaku agresi beberapa pelaku pembunuhan. Mark David Chapman memegang buku itu saat menembakkan peluru ke arah musisi legendaris, John Lennon. John Warnock Hinckley, Jr., pelaku percobaan pembunuhan terhadap Presiden Ronald Reagan dilaporkan memiliki obsesi terhadap buku tersebut. Bahkan ada sebuah teori ekstrim yang menyatakan bahwa buku itu merupakan alat yang digunakan oleh FBI dan CIA untuk mengontrol pikiran. Benarkah The Catcher in the Rye memiliki pengaruh sekuat itu?

Pengaruh sebuah buku terhadap pembacanya bergantung pada pemaknaan yang dilakukan si pembaca. Di sisi lain, pemaknaan pembaca juga dipengaruhi oleh isi buku dan situasi yang melingkupi pada saat pembacaan berlangsung. Interaksi pembaca dengan buku, dilingkupi oleh situasi sekitarnya akan menghasilkan makna tertentu pada diri pembaca. Pemaknaan juga dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian pembaca. Artinya pengaruh satu buku berbeda-beda terhadap satu pembaca dan pembaca lainnya. Dengan kerangka pikiran ini, dapat ditelusuri seluk-beluk pengaruh The Catcher in the Rye terhadap pembaca yang melakukan pembunuhan. Saya ajak Anda untuk mencermati Mark David Chapman dan John Warnock Hinckley, Jr. yang sering diasosiasikan dengan buku Salinger yang legendaris itu.

Mark David Chapman memiliki latar belakang psikologis yang labil; beberapa kali ganti gaya hidup, kecanduan obat bius, merasa lahir kembali sebagai penganut Kristiani yang kuat dan pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Di usia 25 tahun, Chapman masih menampilkan emosi yang setara dengan anak 15 tahun. Dari pengakuannya, di masa kecil ia punya kota imajiner bernama “Little People” dan walikota di sana. Dalam khayalan itu, jika ada orang yang tak sepaham dengannya, ia akan menghukum orang itu dengan siksaan. Di sini sudah tampak sifat otoritarian pada dirinya sejak kecil. Chapman pernah menjadi pengagum The Beatles, khususnya John Lennon, dan menjadi pecandu obat bius pada usia 14 tahun. Lalu menyadari bahwa kecanduannya itu salah dan The Beatles adalah penyebabnya. Setelah melakukan konversi keyakinan, ia menyaksikan Lennon memberikan pernyataan kontroversial bahwa The Beatles lebih popular daripada Yesus, disusul dengan lagunya Imagine yang mengandung kalimat “Imagine There’s No Heaven”.

Bagi Chapman, ucapan-ucapan Lennon itu menyerang Agama Kristen dan identitas Kristianinya. Keinginan untuk membunuh dedengkot Lennon tumbuh sejak itu dalam diri Chapman. Di usia 25 tahun, Chapman meninggalkan keyakinan Kristianinya dan mengganti Injil dengan The Catcher in the Rye. Ia melakukan ritual-ritual seperti yang dilakukan tokoh utama buku itu, Holden Caufield, menghabiskan beberapa hari di New York tanpa tujuan yang jelas sebelum saatnya membunuh Lennon. Sifat-sifat antisosial Holden Caufield dijadikan model bagi dirinya.

John Warnock Hinckley, Jr. juga memiliki latar belakang masalah psikologi. Ia mengalami banyak kegagalan mencapai apa ia inginkan, contohnya gagal menjadi penulis lagu. Selain itu, ia memandang dirinya selalu dirundung sial yang menjadi alasan dari setiap kegagalannya. Setelah menonton film Taxi Driver di tahun 1976, ia mengalami obsesi terhadap Jodie Foster. Obsesi itu membawanya kepada perilaku kompulsif mendekati Jodie Foster, menulis surat, puisi, bahkan merencanakan membajak sebuah pesawat untuk menarik perhatian aktris dambaannya. Ia juga merencanakan pembunuhan Presiden Jimmy Carter tetapi gagal karena keburu tertangkap. Akhirnya, masih dalam rangka menarik perhatian gadis yang jadi obsesinya, Hinckley berhasil menembakkan peluru ke arah Presiden Ronald Reagan dan melukainya. Setelah tertangkap, diketahui bahwa Hinckley juga terobsesi pada buku The Catcher in the Rye dan terpengaruh cara pikir antisosial Holden Caufield.

Jelas, Chapman memiliki latar belakang psikologis yang memungkinkannya jadi pembunuh; kontak dengan realitas yang tak stabil, sifat otoritarian, obsesif dan terhambat secara emosional. Hinckley pun memiliki karakteristik psikologis yang umumnya dimiliki oleh para pembunuh; sistem keyakinan yang tertutup ditandai dengan obsesi terhadap satu hal yang tak dapat digantikan dengan hal lain, penggunaan cara-cara yang tak lazim, mengabaikan nilai dan norma sosial, serta penghalalan segala cara demi mencapai tujuan.

Apa hubungan kepribadian dua pelaku pembunuhan itu dengan The Catcher in the Rye? Buku dengan tokoh Holden Caufield itu memberi model bagi keduanya untuk menampilkan diri. Bahkan dapat dikatakan memberikan “legitimasi sosial” atas “kelainan-kelainan” yang ditampilkan keduanya. “Dunia mental” tertutup dan sempit yang ditinggali Chapman dan Hinckley hanya mengizinkan orang lain yang sepaham untuk masuk. Mereka menjaga dunia itu sedemikian rupa, menyeleksinya dengan ketat. Saat bertemu dengan Holden Caufield, seorang tokoh imajiner yang dipersepsi memiliki banyak kesamaan dengan mereka, keduanya merasa mendapat tambahan teman, mendapat “penguatan sosial”, dan menggeneralisasi penguatan itu ke kehidupan sosial konkret yang lebih luas. Dengan kepribadian keduanya, pemaknaan terhadap isi buku Salinger itu, terutama terhadap tokoh utamanya, memberikan semacam kelengkapan identitas yang mereka bina selama ini, identitas bahwa mereka berhak atas apa yang mereka inginkan: dunia yang lebih bersih dalam bayangan Chapman, cinta kasih dari orang yang dicintai pada Hinckley.

Penegasan, penguatan dan kelengkapan identitas itu bisa didapat dari membaca The Catcher in the Rye karena buku ini memiliki daya yang memikat pembacanya. Karakter egosentrik Holden Caufield, rincian pikiran yang lancar dan konkret, pilihan kata informal dan urakan, kemarahan membludak, isu-isu sosial yang relevan dengan keseharian, serta kecerdasan Holden membongkar keburukan dan kemunafikan di sekitarnya merupakan daya tarik persuasif. Bagi pembaca dengan latar kepribadian seperti Chapman dan Hinckley, daya tarik itu ditambah dengan kesamaan ciri, minat, nasib dan gejolak psikologis mereka dengan sang tokoh utama. Jadilah, Holden Caufield sebagai model sekaligus pendorong untuk mewujudkan obsesi mereka.

Saya pikir, kekuatan buku The Catcher in the Rye terletak pada ketajamannya, kemampuannya secara rinci mengungkapkan dunia batin tokoh utamanya dan menggugah pembaca untuk masuk ke dalam cerita, langsung bertemu dengan sang tokoh yang terkesan konkret. Kekuatan novel ini bukan pada kemampuannya mempengaruhi untuk membunuh. Seperti sebuah pisau yang baik, ketajaman buku ini bisa dimaknai sebagai alat bantu untuk memotong makanan dalam proses memasak oleh seorang koki atau menjadi alat membunuh oleh seorang pembunuh.

Spoiler for Curcol

Ane punya sisipan-nya yang edisi ini.
Sayangnya Sisipan Ruang Baca dah gak diadaian sama KT.
ifanema - 13/10/2012 03:28 PM
#107

Nemu quote yang cocok untuk Novel ini...
===============================






BOOKS CAN BE DANGEROUS
[SIZE="4"]THE BEST ONE SHOULD BE LABELED
"THIS COULD CHANGE YOUR LIFE"[/SIZE]

~ Helen Exley ~
ifanema - 13/10/2012 03:31 PM
#108

dopost
daninoviandi - 14/10/2012 06:25 PM
#109

Quote:
Original Posted By ifanema
Nemu quote yang cocok untuk Novel ini...
===============================






BOOKS CAN BE DANGEROUS
[SIZE="4"]THE BEST ONE SHOULD BE LABELED
"THIS COULD CHANGE YOUR LIFE"[/SIZE]

~ Helen Exley ~

hammer:
menurut gw sih gak segitunya ah buku ini hammer:
ifanema - 14/10/2012 10:29 PM
#110

Quote:
Original Posted By daninoviandi
hammer:
menurut gw sih gak segitunya ah buku ini hammer:


yeah... at least for some people...

dan bukan gw sih...

#sotoy *belumbaca*_______ngacir:
Page 6 of 6 |  < 1 2 3 4 5 6
Home > CASCISCUS > BUKU new > Review Novel The Catcher in The Rye