CINTA INDONESIAKU
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...
Total Views: 15004 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 4 of 10 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›

Indraa63 - 20/04/2010 11:43 AM
#61
Jam Gadang Dikonservasi
Spoiler for Jam gadang
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...

Tengara atau ikon Kota Bukittinggi yang terlihat gagah, ternyata rapuh. Gempa yang menggoyang Sumatera Barat di awal Maret tiga tahun silam dengan kekuatan 6,4 Skala Richter menghasilkan beberapa kerusakan pada “Big Ben” –nya Sumatera Barat ini.

Dari hasil penelitian awal Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar ditemukan adanya kerusakan struktural yaitu retakan yang terjadi pada dinding tingkat satu bagian atas, sedangkan pada dinding tingkat dua dan tiga terjadi keretakan pada bagian atas dan bawah.

Selain itu lapisan plester di beberapa bagian dinding terkelupas. “Beberapa kaca jendela pecah, ada juga yang hilang. Kaca penggantinya tidak mengikuti motif asli, motif kotak dan ceplok bunga,” ujar Kepala Pokja Dokumentasi, Publikasi, dan Pengembangan BP3 Batusangkar, Teguh Hidayat, beberapa waktu lalu dalam Sosialisasi Rehabilitasi Jam Gadang di Bukittinggi.

Di luar itu, BP3 Batusangkar juga menilai, kusen kayu pada Jam Gadang sudah lapuk dan rapuh, belum lagi warna cat yang sudah memudar, dan kondisi mesin jam yang tidak terawat. “Itu ditambah pemasangan jaringan listrik yang tidak teratur, lampu sorot menempel pada bangunan, speaker di tingkat lima menempel pada bangunan. Dengan kondisi ini semua, kita perlu segera memugar Jam Gadang supaya kalau ada gempa lagi, bangunan ini aman,” tandasnya.

Dalam rangka menyelamatkan Jam Gadang. salah satu pusaka Indonesia korban gempa, Badan Pelestari Pusaka Indonesia (BPPI) yang bekerjasama dengan pemerintah Belanda turun tangan di Bukittinggi. Mereka membantu pemerintah kota melakukan apa yang disebut penyelamatan pusaka pasca bencana (heritage emergency response post disaster).

Program ini baru mulai ketika tsunami menyapu Aceh dan Nias. Kemudian gempa besar mengguncang Yogyakarta, berlanjut dua gempa besar di Sumatera Barat.
Bukittinggi bersama Aceh, Nias, Yogyakarta, Padang, Pariaman, dan Batusangkar menjadi kota-kota yang masuk dalam program heritage emergency tadi.

Sosialisasi pemugaran Jam Gadang yang digelar BPPI dan pemerintah Belanda sebenarnya semacam “permisi” atau “kulo nuwun” pada pemerintah kota karena pemugaran dilakukan oleh pihak dari luar Bukittinggi. Pasalnya seperti yang dipaparkan Teguh, belum ada sumber daya manusia di bidang pelestarian benda cagar budaya (BCB) di daerah otonom. Demikian pula tenaga teknis bidang pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan BCB. “Pemahaman dan apresiasi terhadap BCB dan proses pelestarian juga masih kurang,” imbuhnya.

Masalah tersebut di atas masih ditambah dengan anggaran pelestarian yang sangat minim karena belum jadi satu kepentingan. Maka jangan heran jika di banyak daerah otonom, termasuk Bukittinggi, belum ada penetapan BCB dan belum ada regulasi dalam bentuk peraturan daerah (perda).

Dari fakta tersebut di atas maka wajar jika sebuah program rehabilitasi pusaka pasca bencana perlu disosialisasikan pada warga setempat. Alasannya, minimnya pemahaman tentang pentingnya pelestarian. Jika ada pun, pastinya sangat beragam. “Memang dalam hal rehabilitasi Jam Gadang persepsi harus sama antarwarga. Karena yang mengerjakan BPPI bersama Belanda. Kita sendiri tidak mungkin melakukan itu karena tidak ada dana. Itu kan mahal sekali, tidak bisa dengan APBD,” ujar Wali Kota Bukittinggi Ismet Amzis.

Persoalan pelestarian BCB, dalam hal ini Jam Gadang, kemudian akan bergeser pula pada persoalan pengaturan lalulintas di kawasan yang menjadi BCB atau di kawasan di mana ada BCB. Seperti yang lazim pada kawasan bersejarah di seluruh dunia, kawasan BCB biasanya terlarang untuk kendaraan bermotor. Maka dalam kasus Jam Gadang, BPPI merekomendasikan agar tak ada kendaraan motor yang diperbolehkan melintas di kawasan tersebut. “Menjaga supaya getarannya tidak menambah rusak kondisi Jam Gadang,” ujar Direktur Eksekutif BPPI Catrini Kubontubuh.

Tentu saja rekomendasi tersebut agak membuat Wali Kota Bukittinggi terkejut. “Kita akan ikuti rekomendasi BPPI tapi mungkin tidak bisa sekarang. Dan tidak bisa dilarang sama sekali. Mungkin hanya kendaraan dengan beban yang berat yang tidak boleh lewat di situ,” jawab Ismet.
Yasz Ramone - 24/04/2010 11:46 AM
#62

Quote:
Original Posted By Indraa63
Spoiler for Jam gadang
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...

Tengara atau ikon Kota Bukittinggi yang terlihat gagah, ternyata rapuh. Gempa yang menggoyang Sumatera Barat di awal Maret tiga tahun silam dengan kekuatan 6,4 Skala Richter menghasilkan beberapa kerusakan pada “Big Ben” –nya Sumatera Barat ini.

Dari hasil penelitian awal Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar ditemukan adanya kerusakan struktural yaitu retakan yang terjadi pada dinding tingkat satu bagian atas, sedangkan pada dinding tingkat dua dan tiga terjadi keretakan pada bagian atas dan bawah.

Selain itu lapisan plester di beberapa bagian dinding terkelupas. “Beberapa kaca jendela pecah, ada juga yang hilang. Kaca penggantinya tidak mengikuti motif asli, motif kotak dan ceplok bunga,” ujar Kepala Pokja Dokumentasi, Publikasi, dan Pengembangan BP3 Batusangkar, Teguh Hidayat, beberapa waktu lalu dalam Sosialisasi Rehabilitasi Jam Gadang di Bukittinggi.

Di luar itu, BP3 Batusangkar juga menilai, kusen kayu pada Jam Gadang sudah lapuk dan rapuh, belum lagi warna cat yang sudah memudar, dan kondisi mesin jam yang tidak terawat. “Itu ditambah pemasangan jaringan listrik yang tidak teratur, lampu sorot menempel pada bangunan, speaker di tingkat lima menempel pada bangunan. Dengan kondisi ini semua, kita perlu segera memugar Jam Gadang supaya kalau ada gempa lagi, bangunan ini aman,” tandasnya.

Dalam rangka menyelamatkan Jam Gadang. salah satu pusaka Indonesia korban gempa, Badan Pelestari Pusaka Indonesia (BPPI) yang bekerjasama dengan pemerintah Belanda turun tangan di Bukittinggi. Mereka membantu pemerintah kota melakukan apa yang disebut penyelamatan pusaka pasca bencana (heritage emergency response post disaster).

Program ini baru mulai ketika tsunami menyapu Aceh dan Nias. Kemudian gempa besar mengguncang Yogyakarta, berlanjut dua gempa besar di Sumatera Barat.
Bukittinggi bersama Aceh, Nias, Yogyakarta, Padang, Pariaman, dan Batusangkar menjadi kota-kota yang masuk dalam program heritage emergency tadi.

Sosialisasi pemugaran Jam Gadang yang digelar BPPI dan pemerintah Belanda sebenarnya semacam “permisi” atau “kulo nuwun” pada pemerintah kota karena pemugaran dilakukan oleh pihak dari luar Bukittinggi. Pasalnya seperti yang dipaparkan Teguh, belum ada sumber daya manusia di bidang pelestarian benda cagar budaya (BCB) di daerah otonom. Demikian pula tenaga teknis bidang pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan BCB. “Pemahaman dan apresiasi terhadap BCB dan proses pelestarian juga masih kurang,” imbuhnya.

Masalah tersebut di atas masih ditambah dengan anggaran pelestarian yang sangat minim karena belum jadi satu kepentingan. Maka jangan heran jika di banyak daerah otonom, termasuk Bukittinggi, belum ada penetapan BCB dan belum ada regulasi dalam bentuk peraturan daerah (perda).

Dari fakta tersebut di atas maka wajar jika sebuah program rehabilitasi pusaka pasca bencana perlu disosialisasikan pada warga setempat. Alasannya, minimnya pemahaman tentang pentingnya pelestarian. Jika ada pun, pastinya sangat beragam. “Memang dalam hal rehabilitasi Jam Gadang persepsi harus sama antarwarga. Karena yang mengerjakan BPPI bersama Belanda. Kita sendiri tidak mungkin melakukan itu karena tidak ada dana. Itu kan mahal sekali, tidak bisa dengan APBD,” ujar Wali Kota Bukittinggi Ismet Amzis.

Persoalan pelestarian BCB, dalam hal ini Jam Gadang, kemudian akan bergeser pula pada persoalan pengaturan lalulintas di kawasan yang menjadi BCB atau di kawasan di mana ada BCB. Seperti yang lazim pada kawasan bersejarah di seluruh dunia, kawasan BCB biasanya terlarang untuk kendaraan bermotor. Maka dalam kasus Jam Gadang, BPPI merekomendasikan agar tak ada kendaraan motor yang diperbolehkan melintas di kawasan tersebut. “Menjaga supaya getarannya tidak menambah rusak kondisi Jam Gadang,” ujar Direktur Eksekutif BPPI Catrini Kubontubuh.

Tentu saja rekomendasi tersebut agak membuat Wali Kota Bukittinggi terkejut. “Kita akan ikuti rekomendasi BPPI tapi mungkin tidak bisa sekarang. Dan tidak bisa dilarang sama sekali. Mungkin hanya kendaraan dengan beban yang berat yang tidak boleh lewat di situ,” jawab Ismet.



mas indra,,, foto jadul nya yang mana?? o
Yasz Ramone - 29/04/2010 10:50 AM
#63

Spoiler for sumber


Iklan iklan jaman dulu
Spoiler for iklan

Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...

Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...

Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...

Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...
Yasz Ramone - 29/04/2010 11:17 AM
#64

gaya mahasiswa jadoel D

Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...
Escapistmadchen - 29/04/2010 04:29 PM
#65

wow keren banget. masih pada lengang. sma 3 & 5 sama dago beda banget. ckckck keren.
Escapistmadchen - 29/04/2010 04:36 PM
#66

wow keren banget. masih pada lengang. sma 3 & 5 sama dago beda banget. ckckck keren.
e-New - 29/04/2010 05:25 PM
#67

Quote:
Original Posted By Yasz Ramone
gaya mahasiswa jadoel D

Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...

wuih... matabelo:

saya masih ada loh foto jaman SD.. masih chuby bener.. dengan gaya rambut botak tapi di depan di sisain malu:
Quote:
Original Posted By Escapistmadchen
wow keren banget. masih pada lengang. sma 3 & 5 sama dago beda banget. ckckck keren.


dolbi o
Escapistmadchen - 29/04/2010 06:40 PM
#68

Quote:
Original Posted By e-New
wuih... matabelo:

saya masih ada loh foto jaman SD.. masih chuby bener.. dengan gaya rambut botak tapi di depan di sisain malu:


dolbi o


dolbi?
kanciltengil - 29/04/2010 07:50 PM
#69

keren. thumbup:

dahulu.indonesia tampak bersih dan rapi.

iloveindonesiailoveindonesia
Yasz Ramone - 30/04/2010 12:41 AM
#70

Quote:
Original Posted By e-New
wuih... matabelo:

saya masih ada loh foto jaman SD.. masih chuby bener.. dengan gaya rambut botak tapi di depan di sisain malu:


dolbi o


mana dong mod...tampilin o o o
penasaran juga nih...

wah ada yang dolbi (Dopost)
jongjava7 - 30/04/2010 11:35 PM
#71

hebat....

jd teringat masa2 dulu...
iloveindonesia
Escapistmadchen - 02/05/2010 08:51 AM
#72

Quote:
Original Posted By Yasz Ramone
mana dong mod...tampilin o o o
penasaran juga nih...

wah ada yang dolbi (Dopost)


ooooo saya gak tau gan D
greatsamin - 02/05/2010 02:37 PM
#73
Jakarta Jadoel
Spoiler for Hayam Wuruk (1948) dan Gajahmada (1950)
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel... Hayam Wuruk (1948)
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel... Gajahmada (1950)
Pada 1619, Coen membangun daerah utara, yang di Jakarta masa kini kita sebut sebagai daerah KOTA yaitu Pelabuhan Pasar Ikan, Kalibesar, Glodok, Jln. Hayam Wuruk dan Gajah Mada.
Kanal Molenvliet (sekarang adalah sungai yang membelah Jl. Gajah Mada dan Jl. Hayam Wuruk) dibangun pada tahun 1648 oleh seorang Kapten Tionghoa bernama Phoa Bing Ham. Kanal itu menjadi penghubung antara Batavia lama dan baru. Rumah-rumah saudagar kaya banyak menghiasi sepanjang kanal tersebut. Beberapa diantaranya adalah Hotel Des Indes (sekarang komplek pertokoan Duta Merlin), Hotel Marine (yang sempat menjadi toko Eigen Hulp dan sekarang menjadi pintu gerbang gedung BTN), Hotel Ernst (diratakan dengan tanah pada thn 1922 dan sekarang menjadi Hotel Melati ).


Spoiler for Harmoni
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel... Harmoni (1954)
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel... Gedung Harmoni (1810)
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel... Harmoni (.....)
Suatu hari pada tahun 1815, di depan kanal di kawasan Harmoni, seperangkat kunci dilemparkan oleh Raffles ke dalam kanal. Itulah tanda diresmikannya Harmonie Society, sebuah tempat dansa elite Belanda yang tertua di Asia dan juga terdapat perpustakaan Batavian Society of Arts and Sciences.
Mengapa harus melempar kunci ?
Pelemparan kunci merupakan simbil bahwa pintu Harmoni selalu terbuka bagi yang ingin mereguk khazanah seni dan pengetahuan.
Tapi sangatlah disayangkan bahwa satu setengah abad kemudian di zaman Orde Baru - bangunan itu menjadi terbuka dalam artian yang sesungguhnya yaitu rata tanah dan menjelma menjadi pelataran parkir Istana Negara, taman dan juga lapangan tenis bagi Sekretariat Negara.
Salah seorang tokoh konservasi bangunan tua di Jakarta merasakan kekesalan yang memuncak saat mengetahui bahwa alasan pemerintah pada thn 1985 membongkar Gedung Harmoni Society karena dianggap bahwa gedung tersebut telah menghina bangsa Indonesia.


Spoiler for Jatinegara
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel... Jatinegara (1955)
Nama Jatinegara diambil dari Jatina Nagara yang berarti simbol perlawanan Kesultanan Banten terhadap kolonial Belanda saat itu.
Pada abad ke-17, daerah ini merupakan pemukiman para pangeran kesultanan Banten. Di tahun 1661, Cornelis Senen, seorang guru agama Kristen yang berasal dari Banda, Maluku, membeli tanah di daerah aliran sungai Ciliwung. Sebagai guru dan kepala kampung, Cornelis Senen diberi gelar Meester.
Semenjak dibangunnya Jalan raya Daendels, tanah yang dimiliki oleh Cornelis Senen secara partikelir ini berkembang pesat menjadi pemukiman dan pasar yang ramai[3]. Hingga kini masyarakat menyebutnya dengan Meester Cornelis atau Mester.
Pada abad ke-19, Meester Cornelis merupakan kota satelit (gemeente) Batavia yang terkemuka. Meester Cornelis juga merupakan ibu kota dari kawedanan Jatinegara yang melingkupi Bekasi, Cikarang, Matraman, dan Kebayoran. Pada tanggal 1 Januari 1936, pemerintah kolonial menggabungkan wilayah Jatinegara ke dalam bagian kota Batavia.


Spoiler for Gedung Kesenian Jakarta
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...
Gedung Kesenian Jakarta merupakan bangunan tua peninggalan bersejarah pemerintah Belanda yang hingga sekarang masih berdiri kokoh di Jakarta Pusat.
Gedung ini adalah sebuah bangunan bergaya neo-renaisance yang dibangun tahun 1821 di Weltevreden adalah gedung kesenian disebut sebagai Theater Schouwburg Weltevreden dikenal juga sebagai Gedung Komedi.
Ide munculnya gedung ini berasal dari Gubernur Jenderal Belanda, Daendels. Kemudian direalisasikan oleh Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814.
Untuk penerangan digunakan lilin dan minyak tanah dan kemudian pada tahun 1864 digunakan lampu gas. Pada tahun 1882 lampu listrik mulai digunakan untuk penerangan dalam gedung.


Spoiler for Tanah Abang
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...
Pasar tersebut telah ada sejak 1735.
Pasar Tanah Abang merupakan pusat perdagangan tekstil utama ke berbagai wilayah di Indonesia dan juga Asia serta dunia.


Spoiler for Katedral
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...
Gereja Katedral Jakarta (De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming) diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu.
Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Provicaris Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta.
Katedral yang kita kenal sekarang sesungguhnya bukanlah gedung gereja yang asli di tempat itu, karena Katedral yang asli diresmikan pada Februari 1810, namun pada 27 Juli 1826 gedung Gereja itu terbakar bersama 180 rumah penduduk di sekitarnya. Lalu pada tanggal 31 Mei 1890 dalam cuaca yang cerah, Gereja itu pun sempat roboh.


Spoiler for Stasiun Tanjung Priok
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel... Stasiun Tanjung Priok (1885)
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel... Stasiun Tanjung Priok 1930
Keberadaan Stasiun Tanjung Priok tidak dapat dipisahkan dengan ramainya pelabuhan Tanjung Priok yang merupakan pelabuhan kebanggan masa Hindia Belanda itu, dan bahkan berperan sebagai pintu gerbang kota Batavia serta Hindia Belanda.
Stasiun Tanjung Priok menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan Batavia yang berada di selatan. Alasan pembangunan ini karena pada masa lalu wilayah Tanjung Priok sebagian besar adalah hutan dan rawa-rawa yang berbahaya sehingga dibutuhkan sarana transportasi yang aman pada saat itu (kereta api). Pada akhir abad ke-19, pelabuhan Jakarta yang semula berada di daerah sekitar Pasar Ikan tidak lagi memadai, dan Belanda membangun fasilitas pelabuhan baru di Tanjung Priok.
Stasiun ini dibangun tepatnya pada tahun 1914 pada masa Gubernur Jendral A.F.W. Idenburg (1909-1916). Untuk menyelesaikan stasiun ini, diperlukan sekitar 1.700 tenaga kerja dan 130 di antaranya adalah pekerja berbangsa Eropa.


Spoiler for Stasiun Kota
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...
nama lain untuk Stasiun Jakarta Kota ini yakni Batavia Zuid yang berarti Stasiun Batavia Selatan. Nama ini muncul karena pada akhir abad ke-19, Batavia sudah memiliki lebih dari dua stasiun kereta api. Satunya adalah Batavia Noord (Batavia Utara) yang terletak di sebelah selatan Museum Sejarah Jakarta sekarang.
Batavia Zuid, awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian ditutup pada tahun 1926 untuk renovasi menjadi bangunan yang kini ada. Selama stasiun ini dibangun, kereta api-kereta api menggunakan stasiun Batavia Noord.
Di balik kemegahan stasiun ini, tersebutlah nama seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung 8 September 1882 yaitu Frans Johan Louwrens Ghijsels. Bersama teman-temannya seperti Hein von Essen dan F. Stolts, lelaki yang menamatkan pendidikan arsitekturnya di Delft itu mendirikan biro arsitektur Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA). Karya biro ini bisa dilihat dari gedung Departemen Perhubungan Laut di Medan Merdeka Timur, Rumah Sakit PELNI di Petamburan yang keduanya di Jakarta dan Rumah Sakit Panti Rapih di Yogyakarta.


Spoiler for Museum Fatahilah
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...
Gedung ini dulu adalah Stadhuis atau Balai Kota, yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal Johan Van Hoorn. Bangunan balaikota itu serupa dengan Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.


Spoiler for Lain-lain
[spoiler=Peta Batavia 1897]Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...

Spoiler for Toko Buku Pertama di Batavia
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...

Spoiler for Tanjung Priok 1935
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...

Spoiler for Pintu Air 1950
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...

Spoiler for Kramat Raya 1955
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...

Spoiler for Menteng Raya 1955
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...
[/spoiler]
Yasz Ramone - 03/05/2010 10:00 AM
#74

foto nya berbau Djadoel kisanak...
ntar di upload lagi ya shakehand
Yasz Ramone - 03/05/2010 10:10 AM
#75

Nampak seorang mandor Jepang sedang mengatur pekerja Romusha

Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...
Yasz Ramone - 03/05/2010 10:18 AM
#76

Pose Mahasiswa STOVIA

Angkatan 1911
Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...

Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...

Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...

Tjoba Kisanak bandingken dengan mahasiswa djaman sekarang??
Yasz Ramone - 04/05/2010 12:22 PM
#77

edisi perdana majalah Bobo taun 1974
Liat tuh harganya berapa?

Spoiler for edisi1

Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...


Spoiler for edisi2

Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...


Spoiler for edisi3

Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...


Spoiler for edisi4

Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...
Yasz Ramone - 04/05/2010 12:58 PM
#78

reserved to update
shakehand
wayy - 09/05/2010 10:21 AM
#79

keren, gan. serasa kembali ke masa lalu. btw, dago tuh? lain banget sama sekarang! ckck.. ilovekaskus
Yasz Ramone - 09/05/2010 01:01 PM
#80

Quote:
Original Posted By wayy
keren, gan. serasa kembali ke masa lalu. btw, dago tuh? lain banget sama sekarang! ckck.. ilovekaskus


iya dago o
masih asri banyak pohon


sekarang mah ... beuh... beuh... beuh
Page 4 of 10 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Tempat Para Penikmat Foto Foto DJadoel...