Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Nilai-nilai Islam dalam Pewayangan & Sejarah Wayang (no SARA)
Total Views: 8485 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 7 |  < 1 2 3 4 5 6 7 > 

prabuanom - 15/05/2010 09:28 PM
#41

Quote:
Original Posted By hydrochepalus
hehehe ane dah tau gan ketiganya..
klo boleh ane tambah lagi... Rama Parasu atau Rama Bargawa sepertinya juga nunggak sami...
coba de agan benerin klo gw salah...

Feodalisme adalah struktur pendelegasian kekuasaan sosiopolitik yang dijalankan kalangan bangsawan/monarki untuk mengendalikan berbagai wilayah yang diklaimnya melalui kerja sama dengan pemimpin-pemimpin lokal sebagai mitra. Dalam pengertian yang asli, struktur ini disematkan oleh sejarawan pada sistem politik di Eropa pada Abad Pertengahan, yang menempatkan kalangan kesatria dan kelas bangsawan lainnya (vassal) sebagai penguasa kawasan atau hak tertentu (disebut fief atau, dalam bahasa Latin, feodum) yang ditunjuk oleh monarki (biasanya raja atau lord).
Istilah feodalisme sendiri dipakai sejak abad ke-17 dan oleh pelakunya sendiri tidak pernah dipakai. Semenjak tahun 1960-an, para sejarawan memperluas penggunaan istilah ini dengan memasukkan pula aspek kehidupan sosial para pekerja lahan di lahan yang dikuasai oleh tuan tanah, sehingga muncul istilah "masyarakat feodal".(dr wikipedia)
jawa banget kan...


hahahahaha ga ngerti dah, tapi yg jelas bagi saya akan terkesan negatif kalo jawa dibilang feodalisme. karena kalo artinya seperti yg ditulis diatas maka ga cuma jawa yg feodal, arab juga feodal karena dipimpin oleh kalifah kalifah dan amir amir selama berabad abad. kecenderunganya adalah pengertianya feodal jaman demokrasi saja yg dipelintir. negara mana sih yg ga pernah kenal feodalism?daerah mana yg ga ada kerajaanya?hehehhee D

rama bergawa saya belum pernah denger secara langsung pemutaran wayangnya. karena ga begitu demen dengan ramayana. tapi kemungkinan sih iya. karena rama bergawa memang turun sebagai salah satu titisan wisnu untuk menumpas kejahatan feodalism, karena terlalu banyak kesatria jadi terlalu banyak perang maka satria ahirnya di berantas oleh rama bergawa hhehehe D

tokoh lain yg ga pernah bahasa alus adalah sokasrana adiknya sumantri, lalu pamanya gatotkaca kala bndana. dua duanya berbentuk "bajang"
jolodoro - 16/05/2010 10:54 PM
#42
indonesia dalam lakon pewayangan
gan iki neng indonesia lakone lagi wahyu mahkutarama pas lagi gara gara... iloveindonesia
ButoGalak - 16/05/2010 11:43 PM
#43

Quote:
Original Posted By jolodoro
gan iki neng indonesia lakone lagi wahyu mahkutarama pas lagi gara gara... iloveindonesia


ho oh mbah D ngomong2 nenggalanya mana mbah? kalo udah pensiun di museumkan aja nenggala nya ato buat buka usaha las karbit ngakak Peace:
jolodoro - 17/05/2010 09:01 AM
#44

Quote:
Original Posted By ButoGalak
ho oh mbah D ngomong2 nenggalanya mana mbah? kalo udah pensiun di museumkan aja nenggala nya ato buat buka usaha las karbit ngakak Peace:


ahahahhaha lagi go gawe emping nenggalane....
prabuanom - 17/05/2010 01:09 PM
#45

derek tepang mbah jolodoro shakehand
hydrochepalus - 17/05/2010 05:19 PM
#46

Quote:
Original Posted By jolodoro
ahahahhaha lagi go gawe emping nenggalane....


nenggoloe gawe nuthuki emping mbah?
hydrochepalus - 17/05/2010 05:23 PM
#47

Quote:
Original Posted By prabuanom
hahahahaha ga ngerti dah, tapi yg jelas bagi saya akan terkesan negatif kalo jawa dibilang feodalisme. karena kalo artinya seperti yg ditulis diatas maka ga cuma jawa yg feodal, arab juga feodal karena dipimpin oleh kalifah kalifah dan amir amir selama berabad abad. kecenderunganya adalah pengertianya feodal jaman demokrasi saja yg dipelintir. negara mana sih yg ga pernah kenal feodalism?daerah mana yg ga ada kerajaanya?hehehhee D

rama bergawa saya belum pernah denger secara langsung pemutaran wayangnya. karena ga begitu demen dengan ramayana. tapi kemungkinan sih iya. karena rama bergawa memang turun sebagai salah satu titisan wisnu untuk menumpas kejahatan feodalism, karena terlalu banyak kesatria jadi terlalu banyak perang maka satria ahirnya di berantas oleh rama bergawa hhehehe D

tokoh lain yg ga pernah bahasa alus adalah sokasrana adiknya sumantri, lalu pamanya gatotkaca kala bndana. dua duanya berbentuk "bajang"


hehehe iya gan...
sukrasana ama kala bendana kayaknya emang nunggak sami...
kayaknya enak yah jadi rama bargawa... manusia yg diberi kekebalan dari dosa..
walaupun membunuh ibunya sendiri tetep tidak berdosa...
hydrochepalus - 17/05/2010 05:26 PM
#48

Quote:
Original Posted By ButoGalak
santai aja bos , ane juga muslim kok walaupun kadang2 atheis Peace:

didalam islam memang tidak disebutkan secara jelas adanya reinkarnasi atau menitis tapi bukan berabrti tidak ada D

kalo misalnya kita ketitisan roh leluhur maka bisa jadi kita tahu atau bisa jadi tidak tahu, mau tau apa ndak itu tidak menjadi soal bagi leluhur, yg penting jiwa2 dan semangatnya bisa ditularkan ke anak cucu walaupun lewat alam gaib.....

kalo boleh ane saranin kita open minded aja gan.....kalo masih close minded agak2 susah membahas folosofi2 wayang.....lagipula yg keliatannya berlawanana/ berseberangan bisa jadi malah sangat bersinergi.......


memang pd prinsipnya klo ingin belajar sesuatu sebelumnya kita harus open minded terlebih dahulu...
membebaskan pikiran untuk menerima ide-ide baru..
thx gan dah ngingetin..
prabuanom - 17/05/2010 09:10 PM
#49

Quote:
Original Posted By hydrochepalus
hehehe iya gan...
sukrasana ama kala bendana kayaknya emang nunggak sami...
kayaknya enak yah jadi rama bargawa... manusia yg diberi kekebalan dari dosa..
walaupun membunuh ibunya sendiri tetep tidak berdosa...


hehehehe nggeh mbah D
tapi kan ada tujuanya, toh setelah dibunuh dihidupkan lg oleh ayahnya D
karmasakti - 19/05/2010 03:45 PM
#50

ikut nyundul Gansup2:sup2:

Nilai Islam dalam dunia wayang di Indonesia tidak lepas dari usaha dakwah para ulama (walisongo) pada waktu itu. Jadi wayang untuk dakwah Islam. Karena wayang sudah menjadi tontonan favorit rakyat pada waktu itu. Karena berusaha menyebarkan nilai-nilai islam, wayang banyak mengalami gubahan sana-sini. Seperti bentuk wayang Kulit jawa, ini sudah melalui gubahan yang mengadaptasi nilai islam yang melarang untuk menggambar makhluk hidup. Tapi seiring berjalannya waktu nilai Islam dan fungsi dakwah dalam wayang sudah terkikis, menjadi hanya sekedar tontonan. Apalagi sekarang wayang malah kebanyakan dangdutannya daripada wayangnya.(mohon koreksi kalau ada yang salah)...
prabuanom - 19/05/2010 04:35 PM
#51

Quote:
Original Posted By karmasakti
ikut nyundul Gansup2:sup2:

Nilai Islam dalam dunia wayang di Indonesia tidak lepas dari usaha dakwah para ulama (walisongo) pada waktu itu. Jadi wayang untuk dakwah Islam. Karena wayang sudah menjadi tontonan favorit rakyat pada waktu itu. Karena berusaha menyebarkan nilai-nilai islam, wayang banyak mengalami gubahan sana-sini. Seperti bentuk wayang Kulit jawa, ini sudah melalui gubahan yang mengadaptasi nilai islam yang melarang untuk menggambar makhluk hidup. Tapi seiring berjalannya waktu nilai Islam dan fungsi dakwah dalam wayang sudah terkikis, menjadi hanya sekedar tontonan. Apalagi sekarang wayang malah kebanyakan dangdutannya daripada wayangnya.(mohon koreksi kalau ada yang salah)...


memang banyak unsur music baru termasuk dangdutan yg masuk dalam pagelaran pewayangan. tp ga sampe jd lebih banyak dangdutnya. paling ya sejam dua jam pas masuk fase goro goro
karmasakti - 20/05/2010 09:27 AM
#52

Quote:
Original Posted By prabuanom
justru ini lho cerita wayang yg asli buatan sunan kalijaga. yg sunan kalijaga ketemu puntadewa dan mengajarkan jamus kalimasada. yg adalah sahadat. yg pada ahirnya adalah pensahadatan puntadewa D

kalo versi asli pandawa seda kan dikatakan puntadewa masuk surga beserta seekor anjing. anjing ini jelmaan dewa. hehehee ada anjing sebagai tokoh pendamping puntadewa masuk surga, pastinya tentu di anulir dalam kisah wayang islam kan gan? \)



Kalau dalam Islam ada juga anjing masuk surga. Kisah Ashabul kahfi. Anjing ini setia menemani orang2 beriman. Dalam Quran ada dalam surat Al-Kahfi
Kalau kisah Pandawa Swarga yang saya ingat, anjingnya penjelmaan Batara Dharma, Anjing ini dilarang masuk oleh Batara Indra tapi Yudhistira lebih memilih tidak masuk surga karena anjingnya begitu setia. Kemudia Anjing itu berubah menjadi Batara Dharma. Jadi anjingnya tidak masuk surga.
prabuanom - 20/05/2010 01:40 PM
#53

Quote:
Original Posted By karmasakti
Kalau dalam Islam ada juga anjing masuk surga. Kisah Ashabul kahfi. Anjing ini setia menemani orang2 beriman. Dalam Quran ada dalam surat Al-Kahfi
Kalau kisah Pandawa Swarga yang saya ingat, anjingnya penjelmaan Batara Dharma, Anjing ini dilarang masuk oleh Batara Indra tapi Yudhistira lebih memilih tidak masuk surga karena anjingnya begitu setia. Kemudia Anjing itu berubah menjadi Batara Dharma. Jadi anjingnya tidak masuk surga.


hehehhee bisa dibilang demikian, tp kan kita tahu neh, bahwa anjing itu najis dalam kaca mata islam. sangat jarang orang yg bahas qitmir, anjing yg diceritakan masuk surga karena menjaga ashabul kahfi. akan jd rancu tentunya mas....kalo misal dibilang mati kok disertai doggy dll...\)
terus juga tidak tercipta benang merah dari sahadat yg dibawa prabu puntadewa sebagai jamus kalimasada. maka dibuatlah sebuah kisah dimana prabu diberi umur panjang disuruh mencari arti jamus kalimasada dan baru berhasil naek sorga setelah ketemu sunan kalijaga yg mengartikan jamus kalimasada alias ya sahadat D
ButoGalak - 20/05/2010 01:46 PM
#54

Quote:
Original Posted By prabuanom
hehehhee bisa dibilang demikian, tp kan kita tahu neh, bahwa anjing itu najis dalam kaca mata islam. sangat jarang orang yg bahas qitmir, anjing yg diceritakan masuk surga karena menjaga ashabul kahfi. akan jd rancu tentunya mas....kalo misal dibilang mati kok disertai doggy dll...\)
terus juga tidak tercipta benang merah dari sahadat yg dibawa prabu puntadewa sebagai jamus kalimasada. maka dibuatlah sebuah kisah dimana prabu diberi umur panjang disuruh mencari arti jamus kalimasada dan baru berhasil naek sorga setelah ketemu sunan kalijaga yg mengartikan jamus kalimasada alias ya sahadat D


kalo kebanyakan kita memang mengartikan kalimasada sebagai kalimat syahadat, tapi kalo ane malah cenderung ke kalimat husada atau kalimat penyembuh, kalimat itu asal akata bhs arab, husada dari bahasa jawa yg artinya penyembuh.....kalima husada itu ya mungkin mirip2 ngelmu sastra jendra pangruwating diyu, sastra jendra itu ngelmu misteri alam semesta.... D
prabuanom - 20/05/2010 02:01 PM
#55

Quote:
Original Posted By ButoGalak
kalo kebanyakan kita memang mengartikan kalimasada sebagai kalimat syahadat, tapi kalo ane malah cenderung ke kalimat husada atau kalimat penyembuh, kalimat itu asal akata bhs arab, husada dari bahasa jawa yg artinya penyembuh.....kalima husada itu ya mungkin mirip2 ngelmu sastra jendra pangruwating diyu, sastra jendra itu ngelmu misteri alam semesta.... D


ada yg pernah bahas bahwa sebenernya kalimasada itu untuk membangkitkan orang mati, jadi kaya mantra yg ada hubunganya dengan dewi kali. tapi entah kok dewi kali jadi berteman dengan puntadewa?saya jd agak penasaran juga mbah \)
ButoGalak - 20/05/2010 02:07 PM
#56

Quote:
Original Posted By prabuanom
ada yg pernah bahas bahwa sebenernya kalimasada itu untuk membangkitkan orang mati, jadi kaya mantra yg ada hubunganya dengan dewi kali. tapi entah kok dewi kali jadi berteman dengan puntadewa?saya jd agak penasaran juga mbah \)


kalo kalimasada wah ane kurang tahu mbah, kalo sastra jendra itu sebuah ngelmu sepuh yg konon katanya menurut sesepuh di sebuah blognya, ginjal yg sudah disumbangkan kepada tantenya ketika tantenya mau meninggal dibalikin lagi ke yg punya dan ajaib kembali lagi spt sedia kala tanpa operasi D
prabuanom - 20/05/2010 02:46 PM
#57

Quote:
Original Posted By ButoGalak
kalo kalimasada wah ane kurang tahu mbah, kalo sastra jendra itu sebuah ngelmu sepuh yg konon katanya menurut sesepuh di sebuah blognya, ginjal yg sudah disumbangkan kepada tantenya ketika tantenya mau meninggal dibalikin lagi ke yg punya dan ajaib kembali lagi spt sedia kala tanpa operasi D


sastra jendra pangruwating diyu itu bukan ilmu yg diajarkan ayah rahwana pada ibu rahwana?yg karena ga nerimanya bhatara guru masuk ke wadag ayah rahwana dan dewi uma masuk ke wadag ibu rahwana lalu mereka bersetubuh dan menghasilkan 4 anak. rahwana, kumbakarna, sarpakenaka, wibisana.
ajaran yg konon bisa menggedor langit. sehingga dewa dewi jd takut?tp saya bingung, inti ajaran itu apa mbah?sibabarkan dong shakehand
javanewbie - 20/05/2010 03:33 PM
#58

ane d pacitan gan, kota kecil di jatim,
dari dulu kalo ada pagelaran wayang, ki dalang selalu berkata

Dalang = Ngudhal-udhal barang sing ilang (mencari barang yang hilang). Yang hilang adalah :
Wayang = WAjib e sembahYANG ( sembahyang wajib)
Wayang di mainkan dengan dasar kain MORI
Moro = Limo sing di uri uri (5 hal yang dijaga, solat wajib 5 waktu)

nice thread gan
ButoGalak - 20/05/2010 04:08 PM
#59
sekilas tentang sastra jendra
sebenarnya ini masuk ke tritnya mbah hawkman di forsprit, karena bisa jadi pembahasannya "tidak sesuai" syariat, tapi sesuai dengan hakekat Peace: ...biar lebih gampang ane ambil dari blog sesepuh mas sabdo


Sebelum membahas tentang ngelmu sastra jendra saya bermaksud sedikit mengulas secara “ontologis dan epistemologis” agar supaya kita lebih mudah memahami apa sejatinya ngelmu sastra jendra. Di antara para pembaca yang budiman barangkali bertanya-tanya, apakah yang dimaksudkan dengan pendekatan rasionalisme dan apapula yang dimaksud dengan pendekatan emphirisisme dalam tradisi memperoleh pengetahuan, dan bagaimana cara kita untuk mengenali dan membedakan di antara keduanya?

Untuk membedakannya, kita bisa melihat apakah objek yang dibahas itu adalah sesuatu yang bisa dilihat ataukah sesuatu yang menjadi objek pembahasan itu tidak bisa terlihat. Jika objek dari pokok bahasan itu bisa dilihat seperti objek biologi, kimia, fisika dan lain-lain maka kita menyebutnya dengan ilmu emphirisme. Sementara jika objeknya tidak bisa terlihat seperti fildafat, bahasa, matematika, agama kita menyebutnya dengan ilmu rasionalisme. Jikalau kita sudah bisa mengenali mana persoalan ilmu yang disebut dengan emphirisisme dan mana yang disebut dengan rasionalisme maka apakah yang menjadi pembeda di antara keduanya ? Bagaimana persoalan pengetahuan dari sudut pandang orang-orang emphiris dan bagaimana pula dari sudut pandang orang-orang rasional? Jawaban sederhananya ; adalah terletak pada penekanan fungsi akal. Menurut orang-orang emphiris tidak ada satupun di alam semesta ini yang masuk akal kalau sesuatu itu tidak bisa dilihat dan dialami. Fungsi akal pada persoalan ini persis seperti fungsi cermin, yaitu hanya menerima bayangan yang masuk lalu kemudian memantulkannya lagi. Dengan memahami persoalan fungsi akal ini maka menurut kaum emphiris manusia itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang mereka usahakan dan karena itulah maka semua orang akhirnya memiliki takaran pengetahuan yang berbeda-beda karena berangkat dari pengalaman olah akal yang berbeda-beda pula. Sedangkan menurut kaum rasional justru sebaliknya. Menurut pendapat mereka fungsi akal justru untuk mengingat-ingat kembali (recalling) apa-apa yang sudah ada di dalam akal itu sendiri. Jadi tidak benar kalau akal mendapatkan pengetahuan dari indra dan pengalaman karena sesungguhnya pengetahuan manusia itu sudah melekat pada dirinya sendiri jauh-jauh hari sebelum mereka terlahir ke planet bumi ini. Karena fungsi akal adalah untuk recalling atau mengingat-ingat kembali, maka dengan sendirinya semua orang sesungguhnya mempunyai potensi pengetahuan yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada kemampuan recalling masing-masing individu.

Ilmu Spiritual yang Metodis dan Ilmiah

Sastra jendra, merupakan ngelmu yang diperoleh melalui perpaduan antara metode olah batin, pendekatan emphirisisme dan rasionalisme. Ketiga pendekatan tersebut harus matching, sinambung dan sepadan. Untuk itu sastra jendra bukanlah ngelmu yang hanya sekedar jarene atau katanya. Dapat dikatakan Ngelmu sastra jendra diperoleh sebagai hasil dari olah batin yang gentur dilakukan dalam waktu yang lama sehingga membuahkan hasil berupa pengalaman batin dan pengalaman lahir. Bahkan ngelmu sastra jendra merupakan ilmu rahasia “langit” yang berhasil diproses agar “membumi”. Dengan demikian dalam kawruh sastra jendra, tidak ada lagi kegaiban yang tidak masuk akal. Segala yang gaib justru sangat masuk akal, bisa diterima oleh logika penalaran. Artinya, otak kiri sudah berhubungan erat dengan otak kanan. Otak kanan sudah pernah menerima noumena (“fenomena gaib”) yang diterima oleh mata batin maupun wadag. Bagi yang belum bisa memahami gaib secara akal, atau masih menganggap gaib sebagai sesuatu yang irasional, hal itu menandakan ia belum berhasil melewati proses demi proses ngelmu Sastra Jendra secara tuntas.

Pada awalnya untuk mendapatkan ngelmu Sastra Jendra ditempuh melalui metode olah batin yang berat dan panjang. Untuk memperoleh Ngelmu sastra jendra, seseorang tidak hanya cukup yakin saja. Tetapi harus bisa membuktikan sendiri, dengan menyaksikan, mengalami dan merasakan sendiri fakta di balik rahasia alam wadag maupun di “alam” gaib. Dalam metode atau pendekatan ngelmu satra jendra, kebenaran bukanlah sekedar postulat, aksioma, argumentasi rasional, apalagi sekedar keyakinan saja. Kebenaran sekalipun bersifat gaib dan dalam ranah idealitas, tetap harus bisa dibuktikan secara “ontologis” dan “epistemologis” atau obyek dan subyek ilmu. Oleh sebab itu, dalam tradisi ngelmu sastra jendra pengalaman gaib bukan lagi pengalaman batin yang bersifat subyektif, melainkan pengalaman yang bersifat obyektif dapat dibuktikan oleh orang lain yang memiliki kemampuan olah batin yang sama. Apabila pengalaman gaib dikatakan subyektif hal itu karena kenyataan bahwa hanya sedikit orang-orang yang sungguh-sungguh bisa membuktikan dan mempunyai pengalaman gaib tersebut. Secara epistemologis, metode pembuktian dilakukan oleh beberapa orang yang sama-sama mampu merambah ke dalam dimensi gaib untuk melakukan pembuktian bahkan tidak menutup kemungkinan menemukan suatu “hipotesis” baru. Hasil dari pembuktian itu lalu diambil suatu kesimpulan yang dirumuskan sebagai sebuah rumus-rumus yang berlaku di alam kegaiban. Misalnya; seperti kisah keajaiban yang pernah saya posting dalam “Kunci Merubah Kodrat” bahwa organ tubuh manusia yang “disimpan” di dalam dimensi atau alam kehidupan sejati (alam kelanggengan) tidak akan rusak atau busuk, karena di sono tidak ada rumus kerusakan sebagaimana di mercapada atau bumi. Merca adalah panas atau rusak, pada adalah tempat atau papan. Segala sesuatu yang ada di mercapada berarti akan terkena rumus kerusakan. Rumus ini tidak berlaku di alam kelanggengan atau alam kehidupan sejati. Rumus ini dapat digunakan untuk menjelaskan peristiwa “aneh” (sebut saja mukjizat) di mana seorang anak angkat yang menghibahkan ginjalnya untuk ditransplantasi kepada ibu angkatnya selama lebih kurang 15 tahun lamanya hingga wafat dalam kondisi baik dan sehat. Setelah beberapa tahun sejak ibu angkatnya wafat, ginjal itu benar-benar kembali ke dalam perut anak angkat yang menghibahkannya dulu, dan tetap berfungsi secara normal lagi. Peristiwa mukjizat tersebut TIDAK terjadi sekonyong-konyong, ujug-ujug, dan bukannya peristiwa yang tidak bisa dijelaskan prosesnya. Melalui ngelmu sastra jendra, peristiwa itu dapat dijelaskan secara rasional oleh orang lain dan secara emphiris oleh ybs (anak angkat tersebut). Maka dari itu ngelmu sastra jendra bisa disebut sebagai ilmu spiritual (gaib) yang ilmiah. Dapat dilakukan verifikasi (uji kebenaran) atas hipotesa-hipotesanya oleh banyak orang terutama yang mampu membuktikan. Hanya saja, kelemahan ngelmu sastra jendra yang memverifikasi hipotesis haruslah seseorang yang sudah berkompeten, mahir dalam berinteraksi dengan dimensi gaib. Tak cukup hanya melalui disiplin ilmu pengetahuan saja. Kelemahan metode ini selain sangat terbatas orang yang bisa menguji atau memverifikasi kebenarannya, juga orang yang mengaku bisa menguji harus terseleksi hingga lulus uji terlebih dahulu. Sebab bukan tidak mungkin orang tersebut masih rancu dalam memahami gaib. Kerancuan yang disebabkan oleh adanya polutan yang bernama ilusi, imajinasi, dan fantasi hal-hal gaib atau dogma yang mengendap di alam bawah sadarnya yang sewaktu-waktu bisa muncul seolah gambaran gaib. Sebaliknya, yang menseleksi juga harus diseleksi terlebih dahulu. Hal itu dapat dilakukan apabila semakin banyak orang waskita yang mampu berinteraksi dengan gaib secara bersama-sama melakukan uji kebenaran dan dilakukan sejujur-jujurnya. Orang-orang seperti ini jarang kita temukan di zaman sekarang di mana kesadaran kosmos telah terampas oleh kesadaran semu dogma, termasuk pula yang semata-mata mengandalkan daya analisa otak kiri yang limited. Namun masih ada secercah harapan, dengan hadirnya anak-anak kristal, yang jauh lebih cermat dan matang dari anak-anak indigo serta kawula muda bangsa yang kini tampak semakin bersemangat untuk belajar mempertajam batin. Sedikit orang waskita yang memiliki ketajaman batin bukan berarti merupakan takdir atau garis hidup dan bakat alamiah. Bagi saya pribadi, setiap orang memiliki “software” yang kurang lebih sama, sehingga semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mempertajam mata batinnya asal saja mau mengolahnya dengan sungguh-sungguh.
ButoGalak - 20/05/2010 04:10 PM
#60
lanjutan sastra jendra
Lebih lanjut tentang metode memperoleh ngelmu sastra jendra, secara ontologis ia memiliki obyek penelitian yang bersifat gaib maupun wadag (tanda-tanda/bahasa alam) tetapi apa sesungguhnya yang terjadi masih sangat rahasia. Namun sekali lagi, kegaiban bukan berarti tidak bisa dilihat dan dialami secara emphiris, tidak pula melulu hanya dibahas dengan pendekatan rasionalisme. Hanya saja walaupun obyek gaib (noumena) benar-benar ada, namun belum tentu langsung bisa dilihat secara wadag oleh setiap orang. Bagi orang yang bisa melihat, menyaksikan dan merasakan sendiri obyek gaib, hal itu merupakan sebuah pengalaman emphiris yang biasa-biasa saja. Gaib bukan lagi sekedar bisa dijabarkan melalui pendekatan idealisme-rasionalisme, namun juga dengan mudah dapat diketahui dan dalami secara emphirisisme. Semua tergantung pribadi masing-masing apakah ada kemauan atau tidak. Dengan metode itulah Ngelmu sastra Jendra lahir dari orang-orang waskita di zaman dahulu. Ngelmu Sastra Jendra tak ubahnya “pisau analisa” yang mampu mengupas rahasia di dalam NOUMENA atau gejala-gejala yang ada di dimensi gaib, apalagi hakekat dan rahasia di balik FENOMENA atau gejala-gejala yang ada di dimensi wadag.

Antara Keyakinanisme dengan Spiritualisme

Lantas di mana posisi keyakinan dalam hal ini ? Tentu saja keyakinan tidak memiliki metode ilmiah sebagaimana Ngelmu Sastra Jendra. Keyakinan melimputi dua kutub yakni; yakin untuk meyakini adanya sesuatu atau pun yakin untuk meyakini tiadanya sesuatu. Kedua kutub keyakinan tersebut sama-sama hanya butuh pengakuan subyektif saja untuk sekedar meyakini saja! Asas utama kedua kutub keyakinan itu adalah sikap percaya tanpa perlu membuktikan melalui pengalaman batiniah, emphiris dan rasional. Nah, ngelmu sastra jendra bisa digunakan untuk membuktikan sekaligus menguatkan dua macam kutub keyakinan dengan cara membuktikan apakah sesuatu yang diyakini atau tidak diyakininya benar adanya. Dengan cara berusaha untuk mengalami dan menyaksikan paling tidak merasakannya, sehingga tidak hanya sekedar yakin, tetapi menjadi hak atau kesadarannya akan adanya kebenaran sejati. Meskipun demikian kedua kutub keyakinan mempunyai kekuatan yang dahsyat untuk menopang mental seseorang. Sebaliknya, kelemahan dari kedua kutub keyakinan tersebut masing-masing dapat terpatri secara kuat dalam benak, menyingkirkan kemampuan nalar dan batin untuk memahaminya secara rasional dan secara esensial (hakekat). Bahkan dua kutub keyakinan dapat menjadi lebih kuat daripada pengalaman emphiris dan pengetahuan rasionalitas. Karena kedua keyakinan (sengaja) bertumpu pada sesuatu yang teramat jauh dari jangkauan rasionalisme dan emphrisisme itu sendiri. Jika kita mau jujur, pada saat keyakinan adanya sesuatu atau keyakinan akan tiadanya sesuatu kita serap dengan nalar dengan tanpa disertai olah batin untuk sekedar merasakan bahkan melihat atau mengalami sendiri, nyaris tak ada bedanya pada saat nalar kita menikmati sebuah imajinasi, mitologi, legenda dan dongeng. Dan masing-masing pemegang sikap keyakinan untuk yakin adanya sesuatu dan keyakinan untuk menolak adanya sesuatu, keduanya memiliki kecenderungan yang sama yakni, menganggap bahwa keyakinan dirinyalah yang paling benar sementara ia sulit membuktikannya sendiri.

Sementara itu kesadaran spiritual (ketuhanan) lebih cenderung memahami kehidupan ini secara bijak dan arif. Ia sadar bahwa jalan menggapai spiritualitas adalah beribu bahkan bermilyar cara yang tiada batasan jumlahnya. Ibarat bilangan berapapun jika dibagi nol (0) ketemunya adalah bilangan tak terbatas. Atau sejatine ora ono opo-opo, sing ono kuwi dudu. Manusia bisa manembah kepada Gusti Yang Maha Tunggal (suatu episentrum dari segala episentrum zat energi yang maha dahsyat atau energi hidup yang menghidupkan) dengan sebanyak nafasnya. Bagaikan aktifitas menghirup udara bisa kita hitung, berapa kali dalam sehari, dan dilakukan oleh berapa banyak orang. Tetapi udara itu sendiri merupakan suatu zat yang tak bisa dihitung. Sikap manembah berarti menselaraskan zat yang ada dalam diri kita dengan zat maha dahsyat tersebut. Lebih lanjut soal spiritualisme, bahwa nilai-nilai spiritual akan tumbuh dengan sendirinya seiring-sejalan dengan makin banyaknya pengalaman demi pengalaman batin dan lahir yang individu alami sendiri. Maka spiritualisme berakar pada suatu pengalaman batin, dan tak dapat disangkal dan ditolak bahwa kecenderungan setiap individu adalah bersentuhan dengan suatu pengalaman batin. Bagi yang mau mencermatinya, tentu akan mendapatkan pengetahuan spiritual, sebaliknya akan mengabaikan pengalaman batin tersebut bagai angin berlalu begitu saja tanpa bekas.

Kebimbangan ; Pertarungan Nurani dengan Nalar

Terkadang nurani merasakan adanya kejanggalan atas sesuatu yang kita yakini atau pun yang tidak kita yakini selama ini. Hingga timbul keraguan yang sangat bergolak di dalam sanubari. Hal itu wajar karena apa yang diyakini atau tidak diyakini merupakan sesuatu yang belum pernah dilihat dan dialami sendiri, sehingga “keimanan” sangat rentan bergoyah. Kebimbangan demi kebimbangan muncul saat terjadi pemberontakan nurani terhadap pola pikir yang selama ini hanya menyerap ilmu melalui doktrin semata. Termasuk di dalamnya manakala anda akan melakukan sesuatu keputusan yang membuat bimbang. Hal ini menunjukkan adanya daya tarik menarik antara getaran nurani dengan pertimbangan nalar anda sendiri. Bila kekuatan keduanya berimbang akibatnya kebimbangan itu muncul, yang disertai keraguan, dan ketidakpuasan terhadap apa yang anda yakini ataupun yang tidak anda yakini selama ini.

Nalar kita yang sudah terpola (mind-setting) oleh doktrin keyakinan sejak kanak-kanak, biasanya nalar tersebut dengan sekuat tenaga akan segera mencegah kesadaran nurani yang sedang menggeliat, dengan buru-buru mendefinisikan geliat nurani itu sebagai bentuk gangguan mahluk halus. Kesadaran indoktrinasi bagaikan “lingkaran setan”. Kesadaran indoktrinasi meretas nilai-nilai doktrin yang baru. Nalar yang sudah terdoktrin cenderung mendoktrin kesadaran kita, dengan cara meyakin-yakinkan diri kita atas suatu dalih bahwa keyakinan merupakan wilayah yang tabu untuk disentuh dan dijabarkan di depan publik. Atau ditekankan suatu konsep bahwa “hanya tuhan saja yang paling berhak mengetahui segala sesuatu yang gaib”. Walau kenyataannya banyak sekali manusia yang berkesempatan merasakan, mengalami dan menyaksikan suatu noumena di alam kegaiban. Dalam titik kulminasi terjadi extreme ignorance, atau kesalahan yang fatal, di mana nalar yang terindoktrinasi berusaha membunuh setiap getaran nurani. Nalar dengan serta-merta menjatuhkan vonis bahwa kebimbangan dan keraguan terhadap suatu keyakinan bukan datang dari nurani, melainkan wujud nyata “bisikan setan” yang bertujuan menggoyahkan keimanan seseorang. Nalar kita mampu bekerja secara otoriter, artinya tidak berperan secara dinamis melalui prinsip dialektika, dialog imbal balik, atau kontemplasi mendalam dalam memahami kehidupan ini. Tabiat nalar yang otoriter justru melahirkan dehumanisme, mencetak karakter pribadi yang tumpul mata batinnya. Alam bawah sadar yang merangkum nilai doktrinasi sejak kecil menciptakan akal fikiran yang sangat terpola dan menjadi kaku, tertutup, serta anti toleran (sikap fanatisme).

Sudah menjadi hukum alam semesta bahwa kehidupan ini bersifat dinamis, walau seringkali memakan waktu teramat panjang dan terlambat. Bisa jadi lambat laun kekuatan nurani memenangkan pertarungannya dengan kekuatan nalar yang terindoktrinasi. Dalam falsafah Jawa dikenal rumus-rumusnya misalnya becik ketitik, ala ketara. Sepadan dengan peribahasa berikut; serapat-rapatnya menyimpan bangkai, toh akhirnya tercium baunya juga. Barangkali tahun 2012 di mana daya magnetik galaktika melemah, gravitasi bumi kendur, menyebabkan banyak orang mengalami penurunan gelombang otak, ibarat melakukan meditasi secara massal. Lereming pancadriya, tinarbuka ing waksita. Bisa jadi saat itu kelak menjadi momentum terbukanya kesadaran nurani yang lebih dalam lagi bagi banyak orang. Bila tahun 2012 dianggap sebagai saat kiamat tiba, saya memahaminya sebagai kiamatnya kesadaran semu yang melekat dalam nilai-nilai doktrin, sekaligus merupakan awal lahirnya suatu kesadaran baru, yakni kesadaran sejati berada di relung sanubari kita. Sementara yang gagal lolos seleksi alam, berarti pula pertarungan dimenangkan oleh kekuatan doktrin yang cenderung kontraversi dengan dinamika alam semesta. Kegagalan itu beresiko melahirkan kepribadian mudah stress, gampang bingung, sikap fatalis, hingga gangguan kejiwaan. Ujung-ujungnya adalah sikap ekstrim sebagaimana sikap-sikap radikal.

Sampai kapan nalar kita mampu mencegah pemberontakan kekuatan nurani? Sejak zaman dulu manusia terjebak oleh pola pikir yang menyangka bahwa kedua macam kutub keyakinan tersebut selalu dikaitkan dengan kekuatan yang transenden (berada di luar diri manusia), yang memiliki hukum sebab akibat fantastis. Kebaikan menghasilkan surga, keburukan menyebabkan neraka. Surga neraka pun terjadinya kelak pada waktu yang tak seorangpun tahu kapan akan terjadi sehingga banyak orang cenderung bersantai-santai. Saya kira “surga-neraka” sudah ada sejak saat kita hidup di bumi ini yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Hari pembalasan/hukum karma pun tak perlu dinanti kelak, karena telah terjadi pembalasan tiap hari, yang terangkum dalam mekanisme hukum sebab akibat. Hari ini adalah buah dari apa yang kita lakukan di waktu yang telah berlalu.
Page 3 of 7 |  < 1 2 3 4 5 6 7 > 
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Nilai-nilai Islam dalam Pewayangan & Sejarah Wayang (no SARA)