Kalimantan Selatan
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
Total Views: 72819 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 10 of 15 | ‹ First  < 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 > 

hymunk - 22/01/2011 04:54 PM
#181
Wajidi, Pembelajar Sejarah Lokal
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Oleh M Syaifullah

Wajidi mengeluarkan sejumlah dokumen dalam sebuah amplop di Kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, di Banjarmasin. ”Ini sejumlah bahan terkait Pangeran Hidayatullah dari Kerajaan Banjar, Kalsel. Ketokohan beliau ini menarik untuk didalami sehingga bisa dinilai patut tidaknya tokoh ini mendapat gelar pahlawan nasional,” katanya.

Peneliti Madya bidang sejarah dan arkeologi tersebut sudah melakoni pekerjaan mencari atau menerima bahan-bahan sejarah perjuangan rakyat dan kebudayaan Kalsel selama 18 tahun.

Dia memulainya ketika diterima sebagai staf Bidang Permuseuman dan Kepurbakalaan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel tahun 1993. Saat itu, dia baru setahun lulus sebagai sarjana Jurusan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin (1992).

Ketekunan mengkaji sejarah lokal dan budaya Banjar makin serius karena sejak tahun 2001 dia menjadi peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Daerah Provinsi Kalsel. Dia kini merupakan salah satu peneliti sejarah lokal yang cukup produktif di Kalsel.

Di lembaga itu, Wajidi tidak hanya membuat laporan atau makalah karena bertugas sebagai peneliti. ”Saya juga berusaha membuat buku dengan harapan masyarakat Kalsel lebih banyak mengenal sejarah daerahnya, khususnya di kalangan muda,” katanya.

Wajidi merasa prihatin, bahan sejarah lokal di Kalsel masih minim tersedia di perpustakaan sekolah-sekolah. Sehubungan dengan itu, Wajidi sudah menerbitkan lima buku terkait sejarah lokal dan budaya Banjar.

Meskipun cukup banyak menerbitkan buku sejarah dan budaya lokal, Wajidi menyatakan dia bukanlah sejarawan atau budayawan. ”Saya bukanlah ahli. Saya lebih tepat sebagai seorang pembelajar sejarah dan budaya lokal. Sebagian hasil pembelajaran itu saya tuangkan lewat buku,” ujarnya.

Perang kemerdekaan

Wajidi lebih memilih penulisan sejarah kontemporer atau dikenal sejarah sezaman. Ia lebih banyak mendalami sejarah lokal, seperti perang kemerdekaan, mulai masa penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, dan masa kemerdekaan. Dia memilih sejarah lokal karena sebagian para pelaku atau keluarganya masih hidup. Sebagian dokumentasi juga masih disimpan oleh keluarga mereka.

Selain membukukan sejarah lokal, katanya, Wajidi kini juga berupaya mengumpulkan foto-foto masa lalu. Dia berharap pemerintah provinsi memfasilitasi penyelamatan foto-foto perjuangan rakyat Kalsel pada masa lalu. ”Foto milik Kantor LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia) Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang dipamerkan tahun 1995, misalnya, memperlihatkan seorang pejuang terkapar bersimbah darah akibat terjangan peluru Belanda. Foto itu sangat dramatis dan menceritakan betapa beratnya perjuangan mereka,” katanya.

Mengutip pendapat Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Kalsel Bambang Subiyakto, buku sejarah lokal yang ditulis Wajidi, yakni Proklamasi Kesetiaan kepada Republik (2007), patut diapresiasi. Sebab, perjuangan di Kalsel, yakni perjuangan menolak negara federal di daerah dan Proklamasi 17 Mei 1949, berdirinya Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) Divisi IV Pertahanan Kalimantan itu selama ini belum dianggap penting dalam sejarah perjuangan nasional. Ini dinilai kurang adil.

Sementara itu, dalam buku Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942, Wajidi juga ingin menyampaikan nasionalisme bangsa Indonesia tidak akan terwujud tanpa mengedepankan dinamika aktivis organisasi pergerakan di daerah pada masa itu.

Sesuai kemampuan

Dalam menulis buku, Wajidi tidak melakukannya secara khusus. ”Buku yang terakhir sebenarnya mulai dia tulis tahun 2003 dan baru diterbitkan 2007. Hal ini karena tidak ada dana khusus untuk itu. Wajidi meneliti dan mengumpulkan bahan perlahan-lahan, sesuai dengan kemampuannya,” ujar Bambang.

Wajidi juga tidak menawarkan tulisannya ke penerbit dan kemudian menerima royalti setelah buku diterbitkan dan dijual. Ia menerbitkan buku dengan modal sendiri. ”Kalau buku pada umumnya dicetak lebih dari 1.000 eksemplar, saya menerbitkan sesuai kemampuan dana tersedia, misalnya cukup 200 atau 500 buku,” katanya.

Bagi Wajidi, kemampuan menulis tidak datang dengan sendirinya. Sejak kuliah di FKIP Unlam tahun 1989, dia sering menulis artikel di beberapa surat kabar di Kalsel. ”Tidak semua artikel yang saya kirim dimuat, banyak juga yang ditolak. Tetapi, itu tidak membuat saya berhenti menulis,” katanya.

Kemampuannya menulis semakin terasah setelah mengikuti berbagai lomba penulisan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Tahun 1991-2009, ada tujuh lomba penulisan yang ia menangi, mulai juara I hingga III. ”Sebagian hadiah dari lomba penulisan itu juga menjadi modal saya untuk membuat buku dan tentu juga membangun rumah,” kata Wajidi.

Mengumpulkan koran, dokumen, dan foto-foto lama, menemui tokoh-tokoh masa lalu atau menemui keluarga dan teman-teman para tokoh itu, sampai kini tetap dilakukan Wajidi.

”Dengan bahan dari merekalah berbagai tulisan atau buku-buku itu bisa saya tulis. Secara materi, sejarah memang tidak memberikan kekayaan, tetapi muatannya memberikan guru kehidupan yang amat berharga bagi generasi mendatang,” tuturnya.

WAJIDI

• Lahir: Pagat, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel

• Jabatan: Peneliti Muda Bidang Ilmu Sejarah dan Arkeologi pada Balitbangda Provinsi Kalsel

• Pendidikan terakhir: S-1 Pendidikan Sejarah FKIP Unlam Banjarmasin (1992)

• Karya buku: 1. Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942, Pustaka Banua, Banjarmasin (2007) 2. Proklamasi Kesetiaan Kepada Republik, Pustaka Banua, Banjarmasin (2007) 3. Artum Artha, Sastrawan, Wartawan, dan Budayawan Kalimantan Selatan, Debut Press, Yogyakarta (2008) 4. Glosarium Sejarah Lokal Kalimantan Selatan Periode 1900-1950, Debut Press, Yogyakarta (2008) 5. Mozaik Sejarah dan Kebudayaan Kalimantan Selatan, Sebuah Catatan Ringan, Debut Press, Yogyakarta (2008)

• Penghargaan (antara lain): - Pemenang II Lomba Karya Tulis Ilmiah Bidang Pendidikan Tingkat Universitas Lambung Mangkurat (1991) - Pemenang II LKT Tingkat Nasional Dwidasawarsa Taman Mini Indonesia Indah (1995) - Pemenang I LKT Peringatan Hari AIDS Internasional Tingkat Provinsi Kalsel (2000) - Pemenang I Lomba Penulisan Jurnalistik Tingkat Nasional Pendidikan Usia Dini pada Peringatan Hari Anak Nasional (2005) - Pemenang III Lomba Penulisan Kebencanaan Tingkat Nasional oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi-BPPT (2009)

sumber :
http://cetak.kompas.com
hymunk - 22/01/2011 05:20 PM
#182
Bakhtiar Sanderta, Penjaga Identitas Kesenian Rakyat Banjar
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Oleh M SYAIFULLAH

Jalannya perlahan saat menyambut tamu di rumahnya. Bakhtiar Sanderta, seniman Banjar ini usianya sudah 69 tahun, tetapi pemikiran dan usahanya melestarikan seni pertunjukan tradisional belum berhenti. Januari 2008 dia menjadi salah satu dari 27 seniman tradisi Indonesia yang menerima penghargaan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Pria kelahiran Awayan, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, ini bulan lalu menerima kabar dari pejabat Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Kalsel yang menyebutkan bahwa dia salah satu dari 27 seniman tradisi Indonesia penerima penghargaan Maestro Seniman Tradisi dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

"Saya hanya diberi kabar lisan adanya penghargaan itu. Saya berterima kasih kalau memang itu (penghargaan) ada. Setidaknya upaya kita menjaga keberadaan seni pertunjukan rakyat Banjar tak sia-sia," ucapnya.

Bakhtiar menjadi salah satu rujukan seniman yang belajar memainkan seni pertunjukan Banjar. Dia tergolong produktif membuat
naskah drama. Karya itu sebagai buah pergaulannya dengan para seniman tradisi yang secara intensif dia lakukan sejak 20 tahun terakhir. Ia juga memiliki sedikitnya 30 naskah drama kesenian Banjar klasik. "Para seniman itu sudah banyak yang meninggal. Kalaupun ada, tak banyak yang bermain lagi karena usia lanjut. Dari persahabatan dengan mereka, saya menuliskan naskah cerita yang mereka mainkan. Selama ini mereka bermain tanpa naskah, kepandaian itu mereka dapat dari berguru secara lisan dan langsung," katanya.

Bakhtiar mewarisi darah seni dari ayahnya, Hasan (almarhum), seorang seniman madihin, seni bertutur berisi pesan moral dan humor
dengan iringan alat musik perkusi yang disebut terbang.

Sedari masa kecil hingga sekarang ia terlibat langsung dengan seni pertunjukan rakyat. Sebagai pegawai negeri sipil pada 1974,
Bakhtiar ditempatkan sebagai tenaga teknis kesenian pada Kantor Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel. Di posisi ini ia tak hanya bertugas mendokumentasi seni pertunjukan rakyat itu, tetapi juga ikut bermain. "Wayang gong (wayang orang) Banjar dan mamanda (teater rakyat khas Banjar) sebagai seni teater kolektif tradisional memerlukan banyak orang. Saya sering ikut bermain untuk melengkapi. Istilah mereka sebagai bon, pemain cabutan. Saya tak pilih-pilih lakon, diberi peran apa pun, termasuk menjadi khadam (pelayan), saya laksanakan. Ibarat penelitian, saya membuat naskah setelah observasi partisipan," ceritanya.

Makin dalam

Keterlibatannya pada seni pertunjukan rakyat Banjar makin dalam setelah ia menjadi penilik kebudayaan. Di sisi lain karier PNS-nya
pun terus "menanjak". Setelah menjadi Kepala Seksi Kebudayaan Dinas P dan K Kota Banjarmasin, dia dipindah ke Kanwil P dan K Kalsel sebagai Kepala Seksi Bina Program Kebudayaan. Pembuatan naskah paling intensif dia lakukan saat menjadi Kepala Taman Budaya Banjarmasin.

Hasilnya, kata pria yang tinggal di Kompleks Kayu Tangi II, Banjarmasin, ini, kesenian Banjar seperti wayang gong dan mamanda
sampai sekarang bisa dipelajari oleh siapa pun tanpa harus berguru langsung atau ikut pertunjukan dari kampung ke kampung Bakhtiar juga berusaha mendokumentasikan kesenian tradisi Banjar lainnya, seperti madihin, kuda gepang carita (semacam kudang lumping yang membawakan cerita pewayangan), dan lamut (seni bertutur yang mengisahkan pesan moral dan percintaan dari negeri seribu satu malam), yang dibawakan dengan diiringi alat musik terbang.

Maka, para peneliti seni, baik dari dalam maupun luar Kalsel, mendatangi Bakhtiar untuk mempelajari naskah kesenian rakyat.
Beberapa perkumpulan seni pun memainkan karyanya, seperti pada mamanda.

Taman Budaya Kalsel pada akhir 2007 memainkan karyanya bersama karya tari dan lagu ciptaan Anang Ardiansyah serta Adjim Arijadi dalam pertunjukan Ansamble Drama, Lagu, dan Tari Tiga Seniman Kalsel. Naskah seni lamut miliknya juga ditampilkan pada Gebyar Festival Sastra Nusantara di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pertengahan 2007.

Bakhtiar tak hanya menulis naskah dan mendokumentasikan kesenian rakyat, tetapi ia pun pandai bermain, antara lain dalam wayang gong, mamanda, dan lamut. Semua itu tak didapatkannya dari pendidikan formal. "Ini terbentuk dari tempat lahir saya di Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan. Di sana kesenian itu menjadi hiburan yang hidup di masyarakat. Warga menggelar kesenian tak hanya saat pesta perkimpoian, tetapi juga setiap kali petani panen," tuturnya.

Semasa orkes Melayu populer, kesenian rakyat masih bertahan. Bahkan, orkes dan kesenian rakyat digelar bersamaan. Kesenian rakyat kehilangan gaung dan makin jarang dimainkan setelah masuk televisi. "Tahun 1940 sampai 1970-an kesenian rakyat masih ditunggu kehadirannya di setiap kampung. Sejak kecil saya suka menonton pertunjukan kesenian itu," kenang Bakhtiar yang berguru kepada beberapa seniman kesenian rakyat.

Ketika ia belajar di Sekolah Guru B di Amuntai, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Utara, misalnya, Bakhtiar belajar lamut kepada Suikat, guru seni lamut. Sedangkan mamanda dia pelajari dari seorang guru di Gambah Dalam, Kecamatan Kandangan, Hulu Sungai Selatan. Ia juga belajar wayang gong dengan menjadi anak buah Dalang Tulur dari Kampung Barikin, Hulu Sungai Tengah.

Tahun 1960 Bakhtiar belajar di Sekolah Pendidikan Guru A di Banjarmasin. Di sini ia bergabung dengan perkumpulan kesenian Perpekindo pimpinan Amir Hasan Bondan. Dua tahun kemudian ia dipercaya memimpin perkumpulan itu.

Pada 1969 ia mendirikan Teater Banjarmasin, dan namanya pun dikenal kalangan seniman Banjar di Kalsel. "Teater Banjarmasin" menjadi wadah para seniman tradisi berkumpul dan tampil bersama."

Ketika itu banyak seniman yang madam (merantau) ke Banjarmasin akibat desakan ekonomi. Teater Banjarmasin menjadi hidup. Setidaknya setiap ada anggota yang menikahkan anaknya, mereka menyumbangkan pertunjukan salah satu kesenian tradisional. "Kesenian rakyat kian terpuruk karena tak banyak lagi ruang untuk memunculkannya."

Ia sadar, kesenian rakyat bertahan bila masyarakat peduli untuk melestarikannya. Naskah yang telah dikumpulkan Bakhtiar bisa menjadi pegangan untuk menjaga identitas kesenian Banjar. Namun, lanjutnya, agar bisa diterima zaman, mereka yang berminat harus dapat berimprovisasi dan mengemasnya sedemikian rupa hingga menarik untuk ditonton.

Ia juga berharap naskah kesenian rakyat Banjar yang sudah dikumpulkannya selama ini bisa dibukukan sebagai pegangan generasi
mendatang. "Ini bukan untuk kepentingan pribadi saya," ujar Bakhtiar yang bersama HM Thaha menerbitkan buku Pantun, Madihin dan Lamut (2000)

Drs H Bakhtiar Sanderta, maestro seni tradisi asal Kalsel, telah berpulang ke rahmatullah Kamis malam Jumat, pukul 20.00 Wita (6 Maret 2008). Budayawan asal Awayan, Kabupaten Balangan, Kalsel yang juga pegiat mamanda ini meninggal dunia dalam usia sekitar 69 tahun.


Biodata

* Nama: Bakhtiar Sanderta
* Lahir: Awayan, Kabupaten Balangan, 4 Juli 1939
* Istri: Astiah
* Anak :
- Lesti Arbainah
- Arif Budiman
- Misdamayanti
- Rudi Nugraha
- Mainawaty
* Pendidikan:
- SD Negeri Awayan, 1958
- Sekolah Guru B Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, 1960
- Sekolah Guru A Banjarmasin, 1964
- Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung
Mangkurat, jurusan Bimbingan Penyuluhan, 1984
* Riwayat Organisasi/Pekerjaan:
- Pendiri Teater Banjarmasin, 1969
- Wakil Ketua Dewan Kesenian Provinsi Kalsel
- Wakil Ketua Bidang Kesenian Lembaga Budaya Banjar
- Penilik Kebudayaan pada Kantor Wilayah P dan K Kalsel
- Kepala Seksi Kebudayaan Kantor Pendidikan dan Kebudayaan
Kotamadya Banjarmasin
- Kepala Seksi Bina Program Kesenian pada Kanwil Depdibud Kalsel
- Kepala Taman Budaya Kalsel
- Pengajar pada Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Banjarmasin

sumber :
http://bubuhanbanjar-bakisah.blogspot.com
http://nasional.kompas.com/read/2008/09/08/22124021/penjaga.identitas.kesenian.rakyat.banjar
hymunk - 22/01/2011 07:51 PM
#183
Eksistensi Pengrajin Logam Nagara
Nagara merupakan salah satu wilayah yang berada di Kalimantan Selatan, tepatnya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Wilayah ini terkenal sebagai pusat perajin alat-alat logam di Kalimantan sejak ratusan tahun silam. Tidak ada angka tahun pasti yang menyebutkan kapan teknik pengolahan alat besi mulai dikenal di Nagara.

Tapi yang pasti aktifitas pembuatan alat-alat logam masih berlangsung di nagara sampai sekarang. Menurut cerita, perajin logam nagara mendapatkan ilmunya dari perajin logam dari Cina yang di datangkan langsung oleh Mpu Jatmika pada masa kerajaan Dipa.

Waktu itu perajin-perajin logam perunggu/kuningan dari Cina membuat sepasang patung perunggu untuk diletakkan di dalam Candi. Yang mana akhirnya Kerakaan Dipa kekuasaannya di pindah ke Nagara Daha (sampai sekarang). Perajin Nagara secara turun-temurun sekitar 8 generasi (sekitar 400 tahun yang lalu).

Spoiler for industri logam nagara
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Pekerjaan sebagai perajin logam telah ditekuni oleh pengrajin ini menarik sekali apabila kita mau mengkaji keberadaan perajin logam di Nagara yang sampai sekarang masih mampu bertahan, masih mampu memproduksi barang-barang logam dan masih mampu menunjukkan eksistensinya, meskipun sekarang ini arus globalisasi dengan teknologi yang serba modern telah semakin mengikis keingintahuan dan membentuk jiwa manusia yang instant, yang tidak lagi mempunyai jiwa untuk mempertahankan budaya dan hasil budaya local masyararat itu sendiri.

Spoiler for industri logam nagara
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Bagaimana pengolahan logam yang dilakukan oleh perajin Nagara, alat-alat apa saja yang dihasilkan dan apa yang menyebabkan sampai saat ini perajin logam dari Nagara tetap mampu bertahan ? Masyarakat kita memiliki kemampuan dan intelegensi dalam mengolah sesuatu dari alam sekitar menjadi hasil karya yang sangat berharga. Dan kita nikmati melalui keindahan-keindahan hasil budaya di wilayah kita.

Dalam catatan perjalanan Boeke kepedalaman Kalimantan tahun1879 disebutkan bahwa Nagara adalah kota yang aktifitas penduduknya sangat sibuk dengan kegiatan pembuatan alat-alat besi seperti pedang dan klewang. Selain itu Nagara juga dikenal sebagai Produsen gerabah, batu bara dan perahu besar yang terbuat dari kayu besi atau ulin. Ada beberapa teknik dalam pembuatan alat-alat logam, dimana dikenal dua teknik dasar yaitu teknik tempa dan teknik cetak. Teknik cetak adalah pengolahan logam dengan melalui proses peleburan sampai pada titik lebur tertentu kemudian di tuang dan di buat ke dalam cetakan sesuai dengan bentuk yang diinginkan.

Ada 2 jenis teknik cetak logam, yakni teknik cetak langsung dan teknik tidak cetak langsung. Sedangkan teknik tempa merupakan teknik pembuatan alat logam dengan menggunakan alat dasar pemukul besar sebagai penempa dan bara api untuk memanaskan logam yang akan di tempa tanpa proses peleburan.

Spoiler for industri logam nagara
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Aktifitas pembuatan alat-alat besi dengan system tempa dilakukan dibalai, yaitu bangunan kecil tanpa dinding dengan atap rumbia atau seng, biasanya berada di belakang atau di depan rumah. Dalam proses pembuatan alat-alat logam tradisional ( Pande Besi), alat yang digunakan adalah : pompa udara atau puputan (ububan) tetapi saat ini para perajin banyak yang menggunakan blower, kemudian ada perapian, landasan berbagai jenis palu, penjepit, besi untuk pembengkok, pahat besi, tempat penyepuhan, tangguk untuk mengayak arang, pengarik arang dan besi logo/ cap.

Ada beberapa tahap dalam pembuatan alat-alat besi dengan system tempa yaitu : tahap pertama, besi dipotong-potong sesuai dengan ukuran dengan ditimbang, kemudian tahap pembentukan alat, dimana besi yang telah dipotong di baker dalam perapen, diambil dengan sasapit kemudian di tempa diatas landasan besi menggunakan penggodam. Yang terakhir adalah tahap finishing yaitu pemeberian Cap, digerenda dan disepuh. Perajin mempunyai cara tersendiri untuk membuat alat besi terutama kapang dan parang, supaya awet yaitu pembakaran besi jangan sampai merah, kemudian di tempa supaya pori-pori besi lebih rapat / tidak membengkak.

Untuk saat ini alat-alat yang dihasilkan oleh perajin logam telah banyak mengalami modifikasi dan perkembangan seiring dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Sementara itu produksi linggis, cangkul, dan sabit mulai berkurang, mungkin itu karena dipengaruhi semakin berkurangnya jumlah lahan pertanian. Memang semakin majunya zaman, perubahan dalam teknologi pun tidak dapat dihindari. Oleh karenanya selalu menyesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Pengrajin Nagara semakin membuktikan bahwa dengan kemampuan dan ketekunan, pengrajin logam bisa menghasilkan benda-benda yang berguna bagi umat manusia.

Keberadaan daerah Nagara sebagai produsen peralatan dari bahan logam sudah dikenal sejak ratusan tahun silam. Sampai sekarang aktifitas pembuatan alat-alat logam seperti perhiasan, alat-alat rumah tangga, dan peralatan kerja dari bahan emas, perak, tembaga, besi, nikel, dll, baik itu menggunakan teknik tempa maupun teknik cor. Teknik tempa terkonsentrasi di desa tumbukan banyu dan sungai pinana kecamatan Daha Utara, sedangkan untuk teknik cor terkonsentrrasi di desa Panggandingan kecamatan Daha Utara.

Jenis alat-alat logam yang diproduksi selalu berubah dari waktu-kewaktu, tergantung pada tuntutan zaman dan kebutuhan pasar. Fenomena ini tentunya menarik untuk dikaji lebih jauh lagi karena bagaimana pun juga eksistensi pengrajin logam yang mampu bertahan sampai saat ini menjadikan daerah nagara mempunyai nilai budaya, nilai ekonomis yang bisa dimanfaatkan lebih baik lagi.

Oleh : Erina Marsiana
Sumber :
http://www.facebook.com/album.php?aid=21818&id=1817418243
http://historycommunity.wordpress.com/2009/04/03/eksistensi-pengrajin-logam-nagara/
hymunk - 22/01/2011 08:37 PM
#184
Amir Hasan Bondan, “PERASAAN BANDJAR TOTOK”
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Amir Hasan Bondan. Nama lengkapnya Amir Hasan Kiai Bondan, mengikutsertakan nama ayahnya: Kiai Bondan. Ia dilahirkan di Marabahan pada tanggal 10 Februari 1882. Termasuk putera Banjar pertama yang memasuki sekolah Europese Lagere School (ELS) tahun 1893, kemudian melanjutkan ke STOVIA namun tidak tamat.

Amir Hasan Bondan salah seorang pendiri Seri Budiman (1910) sebuah organisasi lokal beranggotakan para pangreh praja dan pedagang yang bertujuan mempererat hubungan silaturahmi sesama anggotanya, mempropagandakan pentingnya pengajaran dari Barat, persatuan kaum pedagang dan pertanian. Bersama-sama dengan dr. Rusma, Gusti Citra, Kumala Ajaib, Mas Abi dan Abdullah, ia mendirikan organisasi Srie tahun 1923. Organisasi Srie mempunyai Taman Bacaan (Het Leesgezelschap) dan majalah mingguan Malam Djoema’at yang ia pimpin bersama Saleh Bal’ala. Dalam majalah ini para anggota Srie mengadakan rubrik tulisan tersendiri. Haluan dan isi tulisan mereka mula-mulanya bertemakan keagamaan, lambat laun isinya mengarah kepada kebangsaan.

Menyambut proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 ia aktif dalam kepengurusan PRI (Pemuda Republik Indonesia) yang diketuai Pangeran Musa Ardikesuma.

Sebagai seorang tokoh pergerakan, budayawan dan wartawan maka Amir Hasan Bondan sering menulis di media cetak. Bukunya berjudul “Suluh Sedjarah Kalimantan” terbitan Fadjar Banjarmasin tahun 1953, merupakan buku yang “wajib” dijadikan rujukan bagi siapa saja yang ingin menulis sejarah dan kebudayaan Banjar.

Dalam menulis sejarah Kesultanan Banjar dia masih sempat mendengar langsung silsilah raja-raja Banjar dari Pangeran Hidayatullah dari tempat pengasingannya di Cianjur. Ia banyak menyumbangkan koleksi sejarah dan budaya Banjar pada Museum Lambung Mangkurat yang terletak di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Bermula dari Museum Borneo yang didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1907 di Banjarmasin. Akibat masuknya penjajahan Jepang, Museum Borneo berakhir dan dilanjutkan pencetusannya oleh Gubernur Milono dengan didirikannya Museum Kalimantan pada tanggal 22 Desember 1955. Separuh dari koleksi museum ini merupakan kepunyaan Kiai Amir Hasan Bondan sebagai salah satu Bapak Pioneer Museum.

Diantara tulisan Hasan Bondan yang menarik adalah yang pernah terbit di surat kabar Indonesia Merdeka edisi Nomor 99 Tahun ke VII, Sabtu 28 April 1951 berjudul “Pers di Kalimantan”, isinya menceritakan sekilas perkembangan pergerakan tahun 1920-an. Tulisannya itu berasal dari tulisan sebelumnya yang pernah terbit dalam majalah yang ia pimpin yakni majalah Malam Djoema’at tanggal 24 November 1927 dengan judul “Perasaan Bandjar Totok”:

“Saja ini seringkali berlajar pulang balik ke tanah Djawa berdagang barang makanan dan dan barang palen.Di segenap pasar dan desa banyak kenalan orang2 Djawa dan Madura dan saja kerapkali nonton orang gaderingan, politik buat kemadjuan bangsa. Di Djawa petjah kabar, tuan besar Djenderal sudah mengeluarkan perintah sama amtenar2 supaja djangan membesarkan diri. Pendeknja supaja orang2 Kantoran mau berbitjara pandjang sama orang Kampung, suka mengenal rakjat……………………..

Tempo saja pulang di Bandjarmasin, kenapa saja kebetulan ada membatja Koran Malam Djum’at. Di dlm koran saja ada batja matjam2 karangan buah pikiran anak Bandjar. Di antara karangan2 jg sudah saja batja, jang menarik hati benar2 jaitu: I. Tuan besar Djenderal bermaksud supaja orang2 jg makan gadjih sama Kompeni dan bangsa Belanda supaja suka mengenal rakjat dan suka berbitjara sama tetuha2 kampung……………………………
(Tjotjok sadja kabar Djawa sama Borneo. Lamun begitu koran2 di Borneo tidak kalah lawan koran2 di Djawa. Sama2 hangat bunji kabarannja) ……………………….

Di Djawa di kampung banjak sekolah matjam2, laki2 perempuan kerotjosan bisa basa Belanda-Inggeris. Di rumah kuting-kutingan koran di tangan. Djadi dalam hati saja, kalu sama bersekolah, tida ada lainnja Djawa sama Bandjar.
Sekarang Borneo mau madju, tapi bagaimana kalau sekolah sedikit. Tiap tahun banjak anak Bandjar tidak bisa dapat tempat di sekolah2. Pasal ini, anak Bandjar jang nekat2 dan sekolah tinggi djangan berdiam diri sadja, sunji burinik. Saja liat di Djawa jg djadi pengurus, semua orang Djawa jang pintar2; rakjat berdiri di belakang si pintar. Mustahil di Bandjar tida ada org pintar jg suka beraksi buat memadjukan negeri.
Lamun anak Bandjar jang berdiploma kagum, siap lagi jg diharap2 buat ke muka. Orang kampung kebanjakan ada sadja hati mau turut madju, tetapi kepala kawan tida bergerak.

Adapun pasal meadakan sekolah perempuan, lamun orang besar tida lekas memulainja, kita kerdjakan sendiri. Orang kampung harus rami2 membantu uang derma dan jg pintar djadi pengurusnja. Dan lagi kalau les derma sudah didjalankan, diharap djuga saudagar2 Bandjar buka tangan, djangan engken mengeluarkan uang derma, sebab itu amal memadjukan bangsa sendiri kaum perempuan….

sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Amir_Hasan_Kiai_Bondan
http://bubuhanbanjar.wordpress.com/2010/03/27/perasaan-bandjar-totok%E2%80%9D-amir-hasan-bondan/
hymunk - 02/02/2011 07:37 PM
#185
Kampung wisata alalak selatan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Kampung wisata merupakan merupakan program yang digagas oleh pemerintah pusat sebagai salah satu upaya untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja melalui konsolidasi program-program pemberdayaan masyarakat yang berada di bawah kewenangan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata melalui lembaga PNPM Mandiri.

Program pengembangan potensi pariwisata ini dimulai pada tahun 2009 dengan tujuan utamanya guna meningkatkan pendapatan masyarakat. Sekaligus mempromosikan Kelurahan Alalak Selatan sebagai salah satu tujuan wisata khas dengan keunikan pasar terapungnya bagi wisatawan yang berkunjung di Kota Banjarmasin.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Kelurahan Alalak Selatan dengan potensi andalannya objek wisata Pasar Terapung termasuk daerah Kesultanan Banjar. Dan salah satu kampung tua selain kampung Kuin sebagai cikal bakal Kota Banjarmasin.


SEJARAH KAMPUNG ALALAK SELATAN

Kampung Alalak Selatan pada mulanya hanyalah sebuah wilayah delta pertemuan 4 buah sungai kecil yang berhutan rawa yang bermuara ke Sungai Barito. Penduduknya terdiri dari para pendatang dari Melayu Pontianak, penduduk dari ‘pahuluan’ (sebutan bag masyarakat dari Hulu Sungai) yaitu Kandangan dan Amuntai, Uluh Barito atau orang Dayak Bakumpai, Bugis, China, Arab dan pendatang dari Daha atau Negara. Komunitas-komunitas tersebut kemudian bercampur baur, berinteraksi, kimpoi mawin dan membentuk masyarakat baru yang kemudian disebut sebagai Orang Alalak. Dimana asal nama Alalak adalah dari bahasa Arab yaitu Al-Alaq yang artinya segumpal/menggumpal/menyatu.

Kampung Alalak menjadi ramai didatangi penduduk dari berbagai daerah. Apalagi keberadaan Pasar Terapung yang merupakan pusat perekonomian masyarakat saat itu masih berkembang pesat. Ditambah lagi, sejak dahulu merupakan pusat industri kayu atau hasil hutan.

Secara administratif pemerintahan diawali sekitar 1950-an yang wilayahnya meliputi Kelurahan Alalak Selatan, Kelurahan Alalak Tengah dan Kelurahan Alalak Utara saat ini menjadi sebuah desa/kampung yang diberi nama Desa Alalak Besar. Dimana kepala pemerintahan saat itu dipimpin oleh seorang Pembakal yang bernama Pembakal Fasi.

Pada tahun 1960-an Desa Alalak Besar dimekarkan menjadi 3 desa yaitu Desa Alalak Selatan, Desa Alalak Tengah dan Desa Alalak Selatan dan dipimpin pemimpin wilyaha yang disebut ‘pembakal dipilih secara langsung oleh masyarakat desa. Terakhir, sekitar tahun 1980-an baru ditetapkan sebagai Kelurahan Alalak Selatan.


OBYEK WISATA KAMPUNG WISATA ALALAK SELATAN

Obyek wisata andalan yang terdapat di Kampung Wisata ini adalah Pasar Terapung. Di pasar tradisional ini wisatawan dapat melihat secara langsung bagaimana proses interaksi sosial antara pedagang dan pembeli dilakukan yang telah dijalani secara turun-temurun. Atau langsung membeli atau menikmati jajanan khas masyarakat Banjarmasin, dari sayur-mayur, buah-buahan segar, kuliner, hingga barang cindera mata lainnya yang sehari-hari diperdagangkan di pasar yang menjadi ikon wisata kota seribu sungai Banjarmasin ini.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Selain itu, di Kampung Wisata Alalak Selatan ini juga dapat mengunjungi objek wisata ziarah ke Makam Tumenggung Ronggo Ibrahim Surya Kesuma Bin Bayan Aji, seorang keturunan dari Sultan Abdurrasyid Sulu Mindanao Filipina yang menetap dan dikeramatkan karena budi baiknya terhadap masyarakat Alalak Selatan .

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Setelah menikmati uniknya Pasar Terapung, para wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke objek wisata hutan alami Pulau Kembang dan Pulau Kaget yang terletak di tengah-tengah Sungai Barito, yang dikenal sebagai habitat kera dan bekantan yang dilindungi.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

CINDARAMATA KAMPUNG WISATA ALALAK SELATAN
Selain dapat menikmati panorama dan suasana khas pasar terapung, wisatawan juga dapat membeli berbagai souvenir unik di kios souvenir Kampung Wisata atau langsung ke tempat produksi atau kelompok pengrajin, yang tentunya akan menjadi kenangan ketika berwisata di Kampung Wisata Alalak Selatan.

Adapun souvenir tersebut antara lain berupa;
- Tanggui hias (tutup kepala tradisional masyarakat lokal).
- Miniatur jukung (perahu tradisional).
- Gantungan kunci
- T-Shirt
- Kain sasirangan
- dll.
Juga dapat menikmati wisata kuliner kue dan makanan tradisional di warung terapung, rumah makan atau membeli langsung kepada masyarakat pembuatnya. Beberapa makanan/masakan dan kue tradisional tersebut antara lain :
- Aneka masakan khas Banjar (seperti; masak
habang, nasi kuning, lontong, dll)
- Kue bingka
- Amparan tatak
- dll.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Selain itu juga wisatawan dapat menikmati kesyakralan dan dapat melakukan penelitian Syair Lamut yang merupakan seni sastra lisan Banjar yang unik.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

AKSES MENUJU KAMPUNG WISATA ALALAK SELATAN
Kampung Wisata Alalak Selatan dapat dicapai dengan kendaraan bermotor (sepeda motor dan mobil) atau melalui sungai dengan kelotok, speedboat atau kapal, dengan jarak tempuh dari atau ke :
a. Ibu Kota Kecamatan : 1 Km
b. Kota Banjarmasin/Ibu Kota Provinsi : 7 Km

Spoiler for kampung wisata alalak selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


SEKRETARIAT /INFORMATION CENTER :
Jl. Alalak Selatan RT. 02 Samping Dermaga Wisata Pasar Terapung Kel. Alalak Selatan Kec. Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin - Kalimantan Selatan (South Kalimantan) - Indonesia
Kode Pos : 70126
Email : [email]aahym_suhu95@ymail.com[/email]
Facebook : Wisata Pasar Terapung
Telp./HP : 081351451407 – 05117082644
Website/Blog : http://www.aahymblog*Forbidden*

sumber :
http://www.aahymblog*Forbidden*/2011/02/welcome-to-kampung-wisata-alalak.html
http://www.facebook.com/album.php?aid=31987&id=132257746829682
hymunk - 16/02/2011 09:11 AM
#186
Baayun Maulid di Masjid Syuhada Pelaihari Kab.Tanah Laut
Spoiler for baayun maulid
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for baayun maulid
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
hymunk - 16/02/2011 09:32 PM
#187
Sarunai (Alat Musik Tiup Tradisional daerah Kalimantan Selatan)
Spoiler for sarunai
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Sarunai adalah nama alat musik tiup tradisional daerah Kalimantan Selatan. Penamaan alat ini menurut ucapan Bahasa Banjar, yaitu berasal bahasa Indonesia serunai. Sarunai yang terdapat di daerah Kalimantan ada yang terbuat dari kayu dan ada pula dari paring (sejenis bambu).

Apabila sarunai tersebut dibuat dari kayu, maka kayu yang digunakan haruslah keras dan liat. sedangkan yang dibuat dari bahan paring, maka yang paling baik adalah jenis paring tali.

Spoiler for sarunai
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Bentuk sarunai dari kayu pada bagian depannya menyerupai corong terompet. Badan tengahnya seperti suling berlobang lima buah dan tengahnya agak sedikit cembung. di bagian ujung atau tempat meniup bentuknya bundar mengecil. untuk mencegah agar mulut tidak terlalu bebas bergerak pada waktu meniup, maka dibuatkan penahannya dari tempurung kelapa yang berbentuk seperti kumis.

Spoiler for sarunai
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Sarunai yang bahannya dari paring tali bentuk badannya datar. Bagian tengahnya memiliki lobang lima buah dan dibawahnya satu lobang. Corong bagian depan yang disebut kepala sarunai bundar bentuknya. pada ujung badan atau tempat meniup dibuatkan ilat (lidah bunyi) dari daun nyiur atau bulu ayam. Bagian ujung bawah dekat mulut sarunai itu dibuat bertatah-tatah (bertingkat-tingkat), fungsinya hanyalah sebagai penambah keindahan bentuk sarunai.

Fungsi dan kegunaan sarunai ini adalah alat pengiring tarian, pertunjukan pencak silat (kuntau), hiburan rakyat, permainan tradisional dan lain-lain.

Spoiler for sarunai

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Sarunai terdiri dari bagian badan sarunai, penahan mulut berbentuk kumis dan bagian depan yang bentuknya seperti corong terompet. apabila mau digunakan dipasang barasuk atau bersambung.

Spoiler for sarunai
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Untuk memainkan alat ini cukup mudah caranya. ilat atau lidah bunyi alat tersebut dimasukkan ke dalam mulut, kemudian ditiup, sementara jari tangan kiri dan kanan menutup dan membuka lobang nadanya yang lima sesuai dengan irama yang dikehendaki.


sumber :
Syarifuddin R. dkk, Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Selatan, Depdikbud, 1988, Banjarmasin
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1340160671691&set=t.1505903375#!/album.php?aid=2036586&id=1461 404684
http://www.facebook.com/album.php?aid=10537&id=100000622896290
hymunk - 16/02/2011 10:12 PM
#188
Babun (Alat Kesenian Kalimantan Selatan)
Babun, penamaan alat musik ini tidaklah diketahui secara pasti asal usulnya, karena nama babun tidak ada persamaan dengan istilah lain dalam Bahasa Banjar maupun bahasa Dayak Bukit di Kalsel. Babun telah lama ada dan dikenal masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Bahan untuk pembuatannya terdiri dari kayu, kulit dan rotan. Kayu sebagai bahan utama digunakan untuk rangka atau Karungkung. Jenis kayu yang digunakan adalah kayu Jingah, Kayu Rajawali dan kayu Balangiran terkadang juga ada yang terbuat dari batang kelapa.

Rongga babun terdiri dua tampuk (mulut gandang). Tampuk ini tidak sama besarnya. tampuk yang agak kecil biasanya ditutupi dengan kulit binatang yang agak tipis misalnya kulit kambing sedangkan tampuk satunya lagi menggunakan kulit sapi/kerbau. Rotan digunakan sebagai tali peregang membran.

Bagian-bagian dari Babun ;
- Rangka atau karungkung
- Tampuk yang agak kecil disebut pang (rumpiang) kadang juga disebut
pamantil, Tampuk yang agak besar disebut bam (pembaduk)
- Bingkai penggulung kulit
- Bingkai tempat memasukkan tali peregang (rajut)
- Tali peregang atau tali rajut
- Alat peregang yang terbuat dari kulit sapi/kelit kambing dan atau bisa
juga dari rotan yang dianyam
- Lobang udara atau disebut luang angin

Babun yang terdapat di Kalsel ada tiga macam, yaitu babun katingan, babun biasa dan babun basar. Babun digunakan hampir disemua permainan dan musik tradisional.

Spoiler for babun
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


sumber :
Syarifuddin R. dkk, Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Selatan, Depdikbud, 1988, Banjarmasin
http://www.facebook.com/album.php?aid=10537&id=100000622896290
http://www.facebook.com/album.php?aid=13749&id=100001755504326
hymunk - 16/02/2011 10:37 PM
#189
Gambus
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Gambus merupakan alat musik yang berasal dari Arabia dengan nama aslinya gapuz. Di Kalsel alat ini telah lama dikenal, alat ini dapat dikatakan sudah menjadi alat musik tradisional daerah kalsel karena banyak dibuat dan dikembangkan masyarakat suku banjar yang beragama Islam.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Bahan yang digunakan dari jenis kayu yang ringan, liat dan kuat biasanya kayu halaban dan rawali. Bentuk kotak suaranya datar di bagian atas dan cembung di bagian bawah. wadah gema gambus terbuat dari triplek dengan lobang-lobang kecil. Bagian tangkai tempat penyetem tali melengkung dengan putaran tali sebanyak tujuh buah.


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Gambus berfungsi menghibur atau mengiringi suatu tarian japin, pesta-pesta perkimpoian , perayaan hari besar Islam dan keramaian rakyat.


sumber :
Syarifuddin R. dkk, Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Selatan, Depdikbud, 1988, Banjarmasin
http://algembira.blogspot.com
hymunk - 19/02/2011 12:16 PM
#190
Halusnya Gerabah Negara, HSS
Pembuatan gerabah terletak di Desa Bayanan tidak jauh dari Pasar Nagara, pengunjung bisa menyaksikan setiap tahapan pembuatan dengan peralatan sederhana atau bahkan pengunjung bisa memcoba ikut untuk pembuatannya. Pengrajin biasanya membuat bermacam-macam bentuk Tembikar dan yang terkenal adalah Dapur Nagara.

Spoiler for gerabah Nagara
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Tak ada yang istimewa di pagi itu. Pun dengan aktivitas di Desa Bayanan, Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan (HSS). Warganya sibuk menyiapkan bahan untuk pembuatan gerabah.

Seperti yang dilihat BPost di rumah Rosita. Pada saat sinar matahari mulai memanasi bumi, ibu tiga anak itu sudah berpeluh mengayak pasir. Butiran pasir itu nantinya dicampur dengan tanah liat.

Begitu kelar, dia tidak istirahat, namun langsung mengambil gundukan tanah liat di sudut rumah. Tanah liat itu dipindahkannya ke tempat lebih luas, ditaburi pasir halus lalu disiram air. Biar lebih tercampur, campuran tanah liat dan pasir diinjak-injak. Sesekali 'adonan' itu dibolak-balik dengan menggunakan tangan.

Tak ingin mengganggu kesibukannya, BPost beralih ke rumah lain. Di rumah Idup, terlihat pemandangan serupa. Hanya saja, campuran sudah 'terbentuk'. Dia lalu duduk di depan tembikar yang bisa diputar sesuai keinginan.

Adonan pun diambil sedikit-sedikit, diletakkan di atas tembikar lalu dibentuk menjadi semacam wadah. Dengan terampil kedua tangannya mengolah adonan itu menjadi gerabah yang bisa mendatangkan rezeki. Hanya dalam hitungan belasan menit gerabah 'mentah' itu selesai dikerjakan.

Spoiler for gerabah Negara
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Gerabah yang sudah berbentuk itu kemudian dikumpulkan di luar untuk dijemur hingga kering. Biasanya proses penjemuran ini berlangsung selama tiga hari, meski juga harus melihat kondisi cuaca. Setelah itu proses pembakara dilakukan. "Biasanya sekali bakar ada tiga ratus hingga empat ratus gerabah," ucap Idup.

Proses belum selesai. Setelah pembakaran, dilakukan proses pewarnaan. "Tetapi ada juga yang tidak perlu diwarnai seperti peralatan dapur," ujarnya.

Para perajin di Desa Bayanan, biasanya tidak menjalankan sendiri seluruh proses itu. Ada yang khusus menangani pembuatan gerabah, tapi ada juga yang spesial membakar gerabah.Seperti yang dilakoni Sabran. Setiap hari dia membeli gerabah 'mentah' dari perajin lalu dibakar dan dijualnya.

Lain lagi dengan Amat. Dia khusus membuat tungku. Sehari mampu membikin 25 hingga 40 tungku. "Hasil usaha ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga," katanya.

Bagi konsumen, gerabah produk Desa Bayanan lebih dikenal dengan sebutan Gerabah Negara (Negara, ibu kota Daha Selatan). Desa Bayanan dan Negara pun terkenal sebagai kawasan Gerabah sebagaimana Kasongan, Bantul, DIY. Gerabah Negara dikenal tahan lama. "Tekstur tanah liatnya beda dengan tanah liat di daerah lain," ujar Rosita.

Penggunaan tanah liat pun tidak sembarangan. Untuk menghasilkan gerabah yang berkualitas baik, tanah liat yang diambil dari kedalaman satu sentimeter. "Semua perajin di sini menggunakan bahan yang sama, hanya model yang berbeda. Semua tergantung kreativitas dan pesanan pembeli. Namun, tentu saja harga gerabah pesanan jauh lebih mahal tergantung kerumitan model serta besar kecilnya gerabah itu," tegasnya.

Soal pemasaran, ada dua cara yang dilakukan para perajin. Selain memasarkan sendiri, ada juga yang melalui jalur pelanggan yang datang dari berbagai daerah di Kalsel dan Kalteng. Bahkan, sesekali dari Kaltim. "Harganya bervariasi dari ribuan hingga ratusan ribu tergantung model, ukuran dan kehalusan gerabah," katanya.

Kepala Disprindagkop dan UKM HSS Ainani Basyuri juga menyatakan kerajinan gerabah di Desa Bayanan memiliki prospek cerah. "Mestipun rata rata yang bekerja warga setempat namun ini kerajinan ini membuka lahan kerja bagi sekitar 300 orang. Untuk lebih mempromosikan, kami sering ikutkan ke pameran kerajinan," ucapnya.

sumber :
http://forum.banjarmasinpost.co.id/
http://ayojepret.blogspot.com/
hymunk - 19/02/2011 12:24 PM
#191
Musik Panting, Kesenian Musik Tradisional Kalimantan Selatan
Panting merupakan kesenian asli daerah Kalimantan Selatan. Pada awalnya musik Panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan. Panting merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gambus Arab tetapi ukurannya lebih kecil.

Pada waktu dulu musik panting hanya dimainkan secara perorangan atau secara solo. Karena semakin majunya perkembangan zaman dan musik Panting akan lebih menarik jika dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya, maka musik panting sekarang ini dimainkan dengan alat-alat musik seperti babun, gong,dan biola dan pemainnya juga terdiri dari beberapa orang.

Nama musik panting berasal dari nama alat musik itu sendiri, karena pada musik Panting yang terkenal alat musiknya dan yang sangat berperan adalah Panting, sehingga musik tersebut dinamai musik panting.

Spoiler for musik panting
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Di masa awal dan tahap perkembangannya, “Panting” hanya memiliki tiga buah tali.atau senar. Dimana masing-masing senar punya fungsi tersendiri. Tali pertama disebut pangalik. Yaitu tali yang dibunyikan untuk penyisip nyanyian atau melodi.

Tali kedua, disebut panggundah atau pangguda yang digunakan sebagai penyusun lagu atau paningkah. Sedang tali ketiga disebut agur yang berfungsi sebagai bass.

Tali “Panting” pada masa lalu dibuat dari haduk hanau (ijuk), serat nenas, serat kulit kayu bikat, benang mesin, atau benang sinali.

Tapi sekarang, karena lebih mudah didapatkan, ditambah lagi dengan bunyinya yang jauh lebih merdu, benang nilon tampak lebih banyak digunakan. Atau, ada pula yang menggunakan tali kawat dengan empat bentangan pada badan “Panting”.

Spoiler for musik panting
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Musik Panting mempunyai fungsi sebagai :

* Sebagai hiburan, karena musiknya dan syair-syairnya yang kadang-kadang jenaka dan dapat menghibur orang banyak. Oleh karena itu, musik panting sering digunakan pada acara perkimpoian.

* Sebagai sarana pendidikan, karena didalam musik Panting syainya berisi tentang nasihat-nasihat dan petuah.

* Sebagai musik yang memiliki nilai-nilai agama, karena musik-musiknya mengandung unsur-unsur agama.

* Untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama warga masyarakat.

* Sebagai kesenian musik tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan.

Spoiler for musik panting
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Menurut cara penyajiannya Panting termasuk jenis musik ansambel campuran. Karena terdiri dari berbagai jenis alat musik. Dalam pertunjukan musik Panting, biasanya jumlah pantingnya sebanyak 3 buah dan ditambah alat-alat musik lainnya. Musik panting disebut juga dengan nama japin apabila penyajiannnya diiringi dengan tarian.

Musik panting disajikan dengan lagu-lagu yang biasanya bersyair pantun. Pantun tersebut berisi nasihat ataupun pantun petuah, dan pantun jenaka. Lagu yang dinyanyikan monotor, yang artinya musik tersebut dinyanyikan tanpa ada reff.

Pemain musik Panting memainkan musik tersebut dengan cara duduk, para pemain laki-laki duduk dengan bersila, sedangkan pemain perempuan duduk dengan bertelimpuh.

Para pemain musik Panting pada umumnya mengenakan pakaian Banjar. Yang laki-laki mengenakan peci sebagai tutup kepala sedangkan pemain perempuan menggunakan kerudung.

Spoiler for musik panting
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Alat-alat musik Panting terdiri dari :

* Panting, alat musik yang berbentuk seperti gabus Arab tetapi lebih kecil dan memiliki senar. Panting dimainkan dengan cara dipetik.

* Babun, alat musik yang terbuat dari kayu berbentuk bulat, ditengahnya terdapat lubang, dan di sisi kanan dan kirinya dilapisi dengan kulit yang berasal dari kulit kambing. Babun dimainkan dengan cara dipukul.

* Gong, biasanya terbuat dari aluminium berbentuk bulat dan ditengahnya terdapat benjolan berbentuk bulat. Gong dimainkan dengan cara dipukul.

* Biola, sejenis alat gesek.

* Suling bambu, dimainkan dengan cara ditiup.

* Ketipak, bentuknya mirip tarbang tetapi ukurannya lebih kecil, dan kedua sisinya dilapisi dengan kulit.

* Tamburin, alat musik pukul yang terbuat dari logam tipis dan biasanya masyarakat Banjar menyebut tamburin dengan nama guguncai.

sumber :
http://banuakita.wordpress.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Musik_Panting
hymunk - 21/02/2011 11:35 AM
#192
Itik Panggang Tanpa Tulang, Kuliner dari Amuntai
Amuntai adalah ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara. Pada zaman Hindia Belanda dahulu dipakai sebagai nama kawedanan/Distrik Amuntai (Amoenthaij) dan juga pernah dipakai sebagai nama kabupatennya yaitu Kabupaten Amuntai. Dahulu kota Amuntai adalah sebuah kecamatan utuh hingga dimekarkan menjadi 3 kecamatan, yakni Amuntai Selatan, Amuntai Tengah dan Amuntai Utara

Di kecamatan Amuntai Tengah-lah pusat pemerintahan dan perdagangan kabupaten Hulu Sungai Utara yang ditandai dengan adanya kantor bupati, kantor-kantor dinas pemkab Hulu Sungai Utara, sentra perdagangan, dan sarana/prasarana lainnya dan Amuntai Tengah merupakan kecamatan dengan penduduk terpadat di kabupaten Hulu Sungai Utara.

Semua kota mempunyai keunikan dan kekhasan nya sendiri, begitu pula dengan kota amuntai ini. Dikota ini terdapat hewan khas, yaitu “itik mamar” (di kenal dengan sebutan itik alabio) dan ”Kerbau Rawa”.

Kedua binatang ini dijadikan maskot kota amuntai, bahkan di kota amuntai terdapat dua ekor patung itik yang sangat besar dan dua ekor patung kerbau.


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Satu lagi kalau kita berkunjung kekota ini. Yaitu jangan lupa untukmenyantap itik panggang . Itik panggang merupakan makanan favorit dikota ini. Tidak jarang orang dari luar kota berkunjung ketempat ini hanya unuk menyantap itik panggang khas kota amuntai.

Spoiler for itik panggang tanpa tulang
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Walaupun didaerah lain terdapat rumah makan yang menyediakan itik panggang, namun rasa itik panggang kota amuntai lebih lezat dan nikmat, harganya pun tidak terlalu merogoh kocek kita dalam-dalam.

sumber ;
http://www.hulusungaiutara.go.id
hymunk - 12/03/2011 08:06 AM
#193
Lumma, Alat Musik Tradisional Kalimantan Selatan
Alat musik membranofon tradisional ini kadang-kadang disebut juga dengan lumba. Penamaan alat ini berdasarkan istilah daerah di sekitar yang berada di pedalaman kalimantan selatan.

Bahan yang digunakan adalah kayu, kulit dan rotan. Bentuknya seperti ketipung kecil. Kayu yang digunakan sebagai bahan adalah kayu Puruwadi dan Karawali. Kulitnya digunakan dari kulit menjangan (kijang). Pada lumma hanya satu sisi tampuknya yang ditutup kulit. Cara memainkannya dengan menggunakan alat pemukul (stick) yang dibuat dari kayu keras.

Lumma/Lumba ini berfungsi sebagai pembantu babun mengatur ritme dan digunakan dalam berbagai upacara adat terutama di pedalaman daerah Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Hulu Sungai Utara

Spoiler for lumma/lumba

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



sumber :
Syarifuddin R. dkk, Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Selatan, Depdikbud, 1988, Banjarmasin
hymunk - 12/03/2011 08:19 AM
#194
Kacapi, Salah satu bagian musik Tradisional Kalsel
Spoiler for Kacapi
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Kacapi atau Kecapi..telah menjadi bagian musik tradisional di Kalsel. Alat musik ini juga terdapat di daerah lainnya di Indonesia

Bahan kayu yang digunakan jenis kayu yang sifatnya keras dan liat, tali atau dawainya diambil dari akar pohon yang disebut unus (sejenis tali ijuk enau)

Memainkan alat musik kecapi ini dilakukan dengan duduk bersila di lantai balai adat karena berfungsi sebagai melodi utama dalam iringan tarian upacara adat maka dilaksanakan dengan duduk bersila di lantai.

Pada perkembangannya sekarang ini digunakan untuk mengiringi lagu-lagu yang bersifat hiburan. Sehingga bentuk dan bahan yang digunakan untuk membuat alat inipun mengalami perubahan.

sumber :
Syarifuddin R. dkk, Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Selatan, Depdikbud, 1988, Banjarmasin
hymunk - 12/03/2011 08:50 AM
#195
Kalengkupak, Alat Musik Tradisional Kalsel
Alat yang disebut Kalengkupak ini merupakan alat musik tradisional Kalsel. kalengkupak dikenal pula dengan nama salong bambu. Di Jawa dan Bali disebut calung.

Asal usul kalengkupak tidaklah diketahui dengan pasti. Menurut keterangan alat musik ini telah lama ada sebagai pengganti kangkanong, karena kangkanong dengan bahan kuningan sulit diperoleh untuk mengatasi hal tersebut masyarakat setempat membuat kalengkupak

Spoiler for Kalengkupak
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Bahannya dari paring tamiang. Bentuk bambu yang dijadikan bagian alat ini dibuat sama dengan angklung yaitu terdiri dari satu ruas. Kalengkupak terdiri dari 5 potong bambu yang dirangkai dengan menggunakan tali rotan atau ijuk

Cara memainkannya cukup sederhana. kalengkupak digantung pada sebuah dinding dan dipukul dengan dua buah tongkap pemukul.

Dalam permainannya alat musik kalengkupak tidak berdiri sendiri tapi masih dilengkapi dengan alat musik lain seperti agung, babun, lumma (lumba-lumba) dan kacapi.


sumber :
Syarifuddin R. dkk, Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Selatan, Depdikbud, 1988, Banjarmasin
hymunk - 12/03/2011 10:26 PM
#196
Tarbang,
Spoiler for tarbang
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



Alat musik tarbang ini sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat kalimantan Selatan. Dalam bahasa daerah banjar alat ini kadang disebut terbang. Tarbang di Kalimantan selatan ada beberapa macam, yaitu tarbang sinoman hadrah, tarbang pamadihinan, tarbang palamutan dan tarbang mauludan atau tarbang ampat

Bahan utama pembuatan tarbang ini adalah kayu, kulit binatang dan tembaga atau seng. Kayu yang sering digunakan untuk membuat badan tarbang ini adalah kayu nangka dan kayu jingah.

Perkembangan dan persebaran alat musik tarbang sejalan dengan perkembangan Islam di Kalimantan Selatan

sumber :
Syarifuddin R. dkk, Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Selatan, Depdikbud, 1988, Banjarmasin
hymunk - 18/03/2011 08:48 AM
#197
Mappanretasi Upacara Adat Bugis Pagatan
Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Bugis Pagatan, bahwa setelah berhasil mendapatkan kesuksesan biasanya akan dirayakan dalam bentuk syukuran. Sehingga acara syukuran ini dapat kita temui dalam kehidupan masyarakat Bugis baik petani (Paggalung) ada acara Mappanre Galung, warga petani kebun (Paddare) ada acara Mappanre Dare, maupun nelayan (Pattasi) ada acara Mappanretasi. Acara tersebut dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang didapatkan untuk memenuhi kesejahteraan, sekaligus juga acara syukuran ini dijadikan sarana menjalin hubungan silaturrahim antara sesama dalam lingkungan sosial.

Peradaban Bugis Pagatan telah mewarnai ragam budaya di Bumi Banjar bahkan telah menjadi khasana budaya di Kalimantan Selatan, sebagai khasana budaya Kalimantan Selatan yang mempunyai potensi wisata budaya kiranya perlu perhatian pemerintah. Sebab ada kengenderungan budaya bugis Pagatan mulai memudar dari kehidupan generasi penerusnya akibat derasnya pengaruh budaya asing di era globalisasi ini.

Spoiler for mapparentasi
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


BUDAYA MAPPANRETASI
1. Pengertian Mappanretasi.
Mappanretasi adalah suatu acara ritual ungkapan rasa syukur nelayan Bugis Pagatan kepada Tuhan atas kesejahteraan yang didapatkan melalui hasil tangkapan ikan dilaut oleh nelayan. Acara ini dilaksanakan setiap tahun sekali pada bulan April mana kala Musim Ikan atau Musim Barat sudah mulai berahir. Pelaksanaan acara ritual styukuran Mappanretasi berlangsung ditengah laut dipimpin oleh sandro, digiring dan diikuti oleh kapal-kapal para nelayan. Setelah acara ritual syukuran dilaut selesai kemudian rumbongan sandro kembali kedarat untuk menjalin silaturrahim dengan para undangan yang hadir, sekalgus menerima ucapan selamat atas terlaksananya upacara Mappanretasi dari para undangan.
Selanjutnya penyelenggaraan Mappanretasi tidak saja menyajikan acara ritual syukuran Mappanrertasi, juga diadakan berbagai pegelaran atraksi budaya daerah baik atraksi budaya bugis Pagatan maupun budaya etnis suku bangsa lain yang ada di Kabupaten Tanah Bumbu.

2. Kapan pertama kali Mappanrettasi
Tidak ada catatan yang dapat dijadikan bukti sejarah tentang kapan pertama kali acara Mappanretasi dilaksanakan. Namun yang pasti bahwa acara ini dilakukan setiap tahun sekali oleh masyarakat nelayan Bugis Pagatan, adapun waktu pelaksanaannya setiap bulan april dimana masa tertsebut kegiatan nelayan dilaut sudah mulai berkurang atau dengan kata lain musim ikan (Musim Barat Oktober-April) sudah berahir dan menunggu musim ikan tahun depan.
Pada masa pemerintahan Lasuke (1920-1955) Kepala Kampoeng Pejala penyelenggaraan Mappanretasi setiap tahun selalu memotong kerbau untuk disuguhkan kepada siapapun orang yang berkunjung menghadiri Mappanretasi. Rumah Lasuke dan rumah-rumah para ponggawa terbuka untuk siapapun, demikian juga perahu-perahu nelayan dipenuhi makanan yang akan disuguhkan bagi pengunjung yang berkenanan naik menumpang diatas perahu mengikuti acara ritual Mappanretasi.
Pada tahun 1960-1980 masa kejayaan masyarakat nelayan di Pagatan, setiap penyelenggaraan Mappaneretasi juga digelar berbagai pertunjukan baik itu perlombaan perahu nelayan maupun hiburan pada malam-malam menjelang pelaksaan Mappanretasi. Selanjutnya acara sukses digelar sehingga menarik perhatian pemerintah khususnya petugas pegawai perikanan yaitu Bapak Sukmaraga kemudian Bapak Masguel untuk meningkatkan penyelenggaraan Mappanretasi lebih terorganisasi. Oleh karena itu Mappanretasi kemudian ditetapkan waktunya yaitu 6 April bertepatan dengan hari Nelayan Nasional, kemudian penyelengaraan Mappanretasi digelar berbagai acara sebelumnya hingga hari puncak, maka dari itu kemudian penyelenggaraan Mappanretasi dikenal dengan nama Pesta Laut Mappanretasi.

Spoiler for mappanretasi

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


3. Prosesi Mappanretasi.
a. Penetapan waktu Mappanretasi.
Sesepuh Nelayan atau pemangku adat mengadakan pertemuan dengan melibatkan para Ponggawa, Pua Sandro dan Pua Imang untuk bermusyawarah untuk bermufakat mempersiapkan penyelenggaraan dan menetapkan waktu mappanretasi, acara ini berlangsung dikediaman Pambakala Kampoeng sekarang rumah Kepala Desa Wirittasi atau disekretarat Lembaga Adat Mappanretasi.

b. Pelaku Mappanretasi.
Dalam penyelenggaraan Mappanretasi ada dua unsur kepanitian ada yang sifatnya umum dan khusus. Panitia umum adalah menyiapkan penyelenggaraan pegelaran atraksi budaya Mappanretasi, sedangkan panitia khusus seksi Penata Adat mempersiapkan pelaksanaaan acara ritual syukuran Mappanretasi.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Adapun mereka yang mempunyai peranan pada acara syukuran Mappanretasi, yaitu :
1. Pua Sandro, yang terdiri dari tiga orang berpakaian kuning tugasnya adalah memimpin berlangsung acara ritual Mappanretasi di laut.
2. Sesepuh Adat adalah para Kepala Desa di empat desa pesisir Pantai Pagatan yaitu Gusungnge, Wirittasi, Juku Eja, dan Pejala selaku pihak pelaksana Mappanretasi.
3. Penggowa, Juru Mudi dan Jurubatu yang mempersiapan pasilitas baik biaya penyelenggaraan maupun memandu sandro untuk sampai pada titik acara Mappenretasi dilaut.
4. Ibu-ibu nelayan juga turut ambil bagian untuk mendampingi Pua Sandro. Tugas mempersiapkan segala macam keperluan acara ritual mappanretasi kemudian mengaturnya sedemikian rupa.
5. Sepasang pengantin adat Bugis.
6. Sejumlah penari mappakaraja.
7. Penata Adat sebagai pemandu acara.


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

- Rangkaian acara Mappanretasi.
1. Acara pemberangkatan Rombongan Sandro dari rumah Kepala Kampoeng menuju panggung adat tempat berkumpulnya para undangan, diarak dengan menggunakan perahu Pejala dipandu oleh Juru Mudi dan Juru Batu.
2. Pua Sandro tiba didermaga panggung adat disambut oleh Sesepuh nelayan para ponggwa kemudian segera naik kepanggung adat untuk mengambil perlengakapan acara ritual Mappanretasi. Disini dilaksanakan acara penyerahan olo sandro dari sesepuh adat kepada sandro.
3. Selanjutnya Sandro segera turun kelaut membawa olo sandro diiringi Sesepuh Adat, Ponggawa, Juru Mudi, Juru Batu, dan Para Undangan dengan menggunakan perahu pejala melaju ketengah laut untuk melaksanakakan acara ritual Mappanretasi.
4. Upacara inti Mappanretasi berlangsung dilaut ditandai dengan pemotongan ayam hitam (Manu Tolasi) kemudian darahnya ditaburkan didalam air laut sekitar perahu sandro berlabuh. Setelah diadakan acara doa bersama menandai selesainya prosesi acara ritual Mappanretasi.


sumber :
http://bakarasancity.weebly.com
http://faisalbatennie.blogspot.com
Menelusuri Sejarah Masyarakat Bugis Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu
Menelusuri Sejarah Masyarakat Bugis Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu (2-Habis)
hymunk - 31/03/2011 08:56 AM
#198
Kerajaan Nan Sarunai
Quote:
Original Posted By TuaGila
Bukti-bukti Keberadaan Kerajaan Nan Sarunai

Sejauh ini belum banyak referensi yang bersifat ilmiah dan secara proporsional menjelaskan tentang riwayat Kerajaan Nan Sarunai mengingat usia kerajaan ini yang sudah sangat tua. Sumber-sumber yang digunakan selama ini adalah cerita tutur yang termaktub dalam Hikayat Banjar. Sejarah Indonesia pada umumnya dalam menjelaskan suatu negara tradisional sangat bertumpu pada historiografi tradisional, seperti babad, hikayat, atau cerita rakyat. Historiografi tradisional mempunyai ciri-ciri yang menonjol dan saling berkaitan, yaitu etnosentrisme, rajasentrisme, dan antroposentrisme (Sartono Kartodirdjo, 1993:7). Informasi yang diperoleh dari Hikayat Banjar ditandai oleh sifat-sifat mistis, legendaris, dan tidak ada unsur waktu dalam urutan ceritanya (Idehams, eds.,2003). Hikayat Banjar adalah manuskrip tua yang telah lama dikenal di Kalimantan Selatan sejak zaman Kesultanan Banjar. Hikayat yang juga dikenal dengan sebutan Tutur Candi dan Sejarah Lambung Mangkurat ini mengisahkan tentang sejarah raja-raja Banjar dan Kota Waringin di Kalimantan Selatan. Bagian akhir dari Hikayat Banjar adalah bertarikh 1663 M atau masa-masa setelahnya. Hikayat Banjar masih diyakini oleh sebagian besar masyarakat Banjar hingga saat ini (www.semestaindonesia.com).

Hikayat Banjar ditulis sepanjang 4.787 baris atau 120 halaman. Namun, sebagian besar isi dari hikayat ini lebih banyak menceritakan tentang kerajaan-kerajaan setelah era Kerajaan Nan Sarunai, yakni Kerajaan Negara Dipa, Kerajaan Daha, dan Kesultanan Banjar. Riwayat Nan Sarunai sangat sedikit disinggung, terutama menjelang keruntuhannya. Kisah tentang Kerajaan Nan Sarunai dalam Hikayat Banjar lebih menyerupai tradisi lisan, yakni nyanyian Suku Dayak Maanyan (wadian) yang kemudian ditransformasikan secara turun temurun. Tradisi lisan orang Dayak Maanyan mengisahkan bahwa mereka sudah memiliki negara suku bernama Nan Sarunai (MZ Arifin Anis, 1994). Nyanyian wadian menceritakan peristiwa tragis tentang runtuhnya Kerajaan Nan Sarunai akibat serangan dari Kerajaan Majapahit pada sekitar abad ke-13 (Ideham, eds., 2007:16).

Menurut Johannes Jacobus Ras (1968), Hikayat Banjar terbagi menjadi dua versi. Versi pertama merupakan versi yang telah diubah dan disusun pada masa Kesultanan Banjar yang secara definitif telah memeluk agama Islam, sedangkan versi kedua dianggap sebagai versi yang berasal dari Negara Dipa yang memeluk agama Hindu (Ras, 1968:238). Dari analisis Ras ini dapat ditarik kesimpulan bahwa penjelasan mengenai sejarah Kerajaan Nan Sarunai dalam Hikayat Banjar memang hanya mendapat porsi yang sedikit karena, Negara Dipa, yang banyak dibahas dalam Hikayat Banjar versi kedua, baru muncul setelah era Kerajaan Nan Sarunai berakhir.

Kerajaan Nan Sarunai adalah suatu pemerintahan purba yang diperkirakan sudah eksis sejak zaman Sebelum Masehi. Salah satu bukti adalah ditemukannya peninggalan arkeologis yang diduga kuat berasal dari zaman di mana Kerajaan Nan Sarunai masih eksis. Jejak arkeologis Nan Sarunai di masa purba itu adalah sebuah candi yang ditemukan di Amuntai. Amuntai adalah salah satu tempat yang sangat mungkin menjadi tempat bermukim orang-orang Suku Dayak Maanyan yang kemudian mendirikan peradaban Kerajaan Nan Sarunai. Pada tahun 1996, dilakukan pengujian terhadap candi tersebut. Hasil penyelidikan itu cukup mengejutkan karena hasil pengujian terhadap sampel arang candi yang ditemukan di Amuntai tersebut menghasilkan kisaran angka tahun antara 242 hingga 226 Sebelum Masehi (Kusmartono & Widianto, 1998:19-20). Jika penelitian ini benar adanya, maka usia Kerajaan Nan Sarunai jauh lebih tua dibandingkan dengan Kerajaan Kutai Martapura di Kalimantan Timur (berdiri pada abad ke-5 M) yang selama ini diyakini sebagai kerajaan tertua di nusantara.

Berdasarkan hasil penelitian tentang pengujian terhadap sampel arang candi yang ditemukan di Amuntai menghasilkan angka kisaran tahun 242-226 SM, maka dapat disimpulkan bahwa usia Kerajaan Nan Sarunai sangat panjang karena kerajaan ini runtuh pada tahun 1362 M. Akan tetapi, perlu dicermati lagi bahwa kendati Kerajaan Nan Sarunai diperkirakan sudah ada sejak zaman Sebelum Masehi, namun yang dimaksud dengan kerajaan pada masa itu kemungkinan besar masih berbentuk sangat sederhana.

Pusat pemerintahan Kerajaan Nan Serunai diduga beberapa kali perpindahan di sekitar Kabupaten Hulu Sungai dan Kabupaten Tabalong saat ini, namun masih di seputaran Sungai Tabalong. Selain di Pulau Hujung Tanah, leluhur etnis Maanyan konon pernah bermukim di tempat yang bernama Margoni, yakni sebuah tempat yang selalu diliputi awan. Tempat yang dimaksud mungkin simbolisasi dari negeri khayangan atau setidak-tidaknya negeri di atas gunung (Sutopo Ukip, 2008). Dengan arti kiasan itu juga bisa dilihat kemungkinan bahwa yang dimaksud nenek moyang Suku Dayak Maanyan adalah dewa-dewa yang bersemayam di tempat yang selalu diliputi awan alias khayangan.

Dalam artikel berjudul “Pangeran Samudra dari Dayak Maanyan?” yang ditulis oleh Noorselly Ngabut atau yang lebih dikenal dengan nama Babe Kuden disebutkan, orang-orang Suku Dayak Manyaan sempat menetap di sebuah tempat yang bernama Pupur Purumatung (Babe Kuden, dalam Banjarmasin Post, 21 September 2005). Semua anggota kelompok etnis Suku Maanyan tinggal dan menjadi satu di tempat ini. Masih menurut Babe Kuden, pusat pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai pernah berlokasi di daerah yang bernama Lili Kumeah. Konon, Lili Kumeah didirikan oleh Datu Sialing dan Damung Gamiluk Langit yang memimpin anggota masyarakat etnis Maanyan atau warga Kerajaan Nan Sarunai. (Babe Kuden, dalam Banjarmasin Post, 21 September 2005).

Isen Mulang Petehku


https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=361178205&postcount=259
hymunk - 31/03/2011 08:57 AM
#199

Quote:
Original Posted By TuaGila
Sejarah Kerajaan Nan Sarunai terkait erat dengan kehidupan orang-orang Suku Dayak Maanyan, salah satu sub Suku Dayak tertua di tanah Borneo. Kerajaan Nan Sarunai adalah pemerintahan purba yang muncul dan berkembang di wilayah yang sekarang termasuk dalam daerah administratif Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia, tepatnya di antara wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tabalong. Kerajaan Nan Sarunai merupakan bagian awal dari riwayat panjang Kesultanan Banjar, salah satu pemerintahan kerajaan terbesar yang pernah ada di Kalimantan Selatan.

Sejarah

Suku Banjar adalah salah satu suku bangsa terbesar yang mendiami wilayah Kalimantan Selatan. Namun, identitas warga asli Kalimantan Selatan masih menjadi perdebatan, sebab wilayah ini ditempati oleh bermacam-macam orang dari berbagai suku bangsa. Identitas Urang Banjar (orang Banjar) yang asli Melayu ataukah Urang Dayak (orang Dayak) menjadi tema perdebatan masyarakat mengenai asal-usul masyarakat Banjar (Yusuf Hidayat, dalam Jurnal Sosiologi Universitas Airlangga, 2006). Istilah Urang Banjar dimaksudkan untuk menyebut mayoritas penduduk yang mendiami sebagian besar daerah di Provinsi Kalimantan Selatan, meskipun tidak semua warga Kalimantan Selatan beretnis Banjar asli.

Dalam buku Urang Banjar dalam Sejarah, A. Gazali Usman (1989) mencoba memberikan jalan tengah atas ketidaksepahaman yang terjadi antara orang Melayu dan orang Dayak tersebut. Menurut penelitian Usman, yang disebut sebagai Urang Banjar setidaknya terdiri dari etnis Melayu sebagai etnis yang dominan dan ditambah unsur orang-orang Suku Dayak, termasuk Suku Dayak Maanyan (Usman, 1989:1).

Suku Dayak Maanyan, Pendiri Kerajaan Nan Sarunai
Suku Banjar pernah mempunyai pemerintahan bernama Kesultanan Banjar yang berdiri sejak tahun 1526 Masehi. Kesultanan ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang karena diawali dari masa yang jauh sebelum masuknya pengaruh Islam yang ditandai dengan berdirinya Candi Laras dan Candi Agung pada masa Hindu-Budha (Bani Noor Muchamad, et.al., 2006:106). Kesultanan Banjar merupakan babak akhir dari rangkaian riwayat sejumlah kerajaan di Kalimantan Selatan pada masa-masa sebelumnya. Pemerintahan yang pertama kali menjadi cikal-bakal Kesultanan Banjar adalah Kerajaan Nan Sarunai. Kerajaan purba yang dikelola oleh orang-orang Suku Dayak Maanyan ini disebutkan dengan nama yang berbeda-beda. Selain Nan Sarunai, nama-nama lain yang juga diyakini sebagai nama kerajaan ini adalah Kerajaan Kuripan, Kerajaan Tanjungpuri, dan Kerajaan Tabalong. Nama Kerajaan Tabalong disertakan karena kerajaan ini terletak di tepi Sungai Tabalong. Sungai Tabalong adalah anak sungai Bahan, sedangkan Sungai Bahan adalah anak Sungai Barito yang bermuara ke Laut Jawa.

Selain itu, muncul pendapat berbeda yang menyatakan bahwa Kerajaan Tanjungpuri berbeda dengan Kerajaan Nan Sarunai. Pendapat ini meyakini bahwa Kerajaan Tanjungpuri bukan pemerintahan yang dikelola oleh Suku Dayak Maanyan, melainkan oleh orang-orang Melayu Palembang yang merupakan pelarian dari Kerajaan Sriwijaya (Suriansyah Ideham, eds., 2007:17). Versi yang satu ini juga menyebutkan bahwa Kerajaan Nan Serunai dan Kerajaan Tanjungpuri berada dalam lingkup ruang dan waktu yang sama. Kerajaan Nan Serunai berpusat di Amuntai, sedangkan Kerajaan Tanjungpuri beribukota di Tanjung.

Keyakinan bahwa pusat Kerajaan Nan Sarunai terletak di Amuntai ditegaskan oleh Alfred Hudson dalam penelitiannya yang bertajuk “The Paju Epat Maanyan in Historical Perspective” (Hudson dalam Indonesia, 4 Oktober 1967:26). Berdasarkan pembagian wilayah administratif Provinsi Kalimantan Selatan pada masa sekarang, kedua tempat itu tidak berada di kabupaten yang sama meskipun lokasi Amuntai dan Tanjung berdekatan dan sama-sama terletak di tepi Sungai Tabalong. Amuntai termasuk dalam wilayah Kabupaten Hulu Utara, sedangkan Tanjung berada di Kabupaten Tabalong.

Nama Sarunai sendiri dimaknai dengan arti “sangat termasyhur” (Ideham, eds., 2003). Penamaan ini bisa jadi mengacu pada kemasyhuran Suku Dayak Maanyan di masa silam, di mana mereka terkenal sebagai kaum pelaut yang tangguh, bahkan mampu berlayar hingga ke Madagaskar di Afrika. Selain itu, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa nama Sarunai berasal dari kata “serunai” yakni alat musik sejenis seruling yang mempunyai tujuh buah lubang. Alat musik ini sering dimainkan orang-orang Suku Dayak Maanyan untuk mengiringi tari-tarian dan nyanyi-nyanyian. Konon, Raja dan rakyat Kerajaan Nan Sarunai sangat gemar menari dan menyanyi. Sebenarnya istilah lengkapnya adalah Nan Sarunai. Kata “nan” diduga berasal dari bahasa Melayu yang kemudian dalam lidah orang Maanyan dilafalkan hanya dengan ucapan Sarunai saja. Dengan demikian, nama “Nan Sarunai” berarti sebuah kerajaan di mana raja dan rakyatnya gemar bermain musik (Sutopo Ukip, 2008).

Periodesasi pemerintahan yang muncul dan berkembang di Asia Tenggara pada umumnya terjadi dalam tiga fase, yaitu negara suku, negara awal, dan negara kerajaan (Vida Pervaya Rusianti Kusmartono, 2002:1). Kerajaan Nan Sarunai memainkan peranan penting pada fase negara suku dalam konteks sejarah Banjar. Negara suku atau negara etnik mengandaikan bahwa rakyat di pemerintahan itu hanya terdiri dari satu etnik dan tatanannya diatur oleh tradisi yang ditransformasikan dari nenek moyang ke generasi berikutnya (M. Suriansyah Ideham, eds., 2003). Penempatan Kerajaan Nan Sarunai ke dalam fase negara suku dirasa tepat karena kerajaan ini merupakan pemerintahan purba yang dikelola oleh orang-orang dengan karakter yang masih berlingkup kesukuan, yakni Suku Dayak Maanyan. Selain itu, keberadaan Kerajaan Nan Sarunai dapat dikatakan sebagai fondasi awal dalam menyokong berdirinya beberapa pemerintahan pada masa berikutnya, yaitu Kerajaan Negara Dipa, Kerajaan Daha, hingga Kesultanan Banjar. Dengan kata lain, Kerajaan Nan Sarunai adalah mukadimah yang mengawali mata rantai perjalanan sejarah Banjar di Kalimantan Selatan.

Suku Dayak Maanyan, pendiri Kerajaan Nan Sarunai, adalah salah satu sub Suku Dayak tertua di Borneo. Suku Dayak Maanyan termasuk dalam rumpun Ot Danum yang juga dikenal dengan nama Dayak Ngaju. Pada awalnya, orang-orang Suku Dayak Maanyan menetap di tepi Sungai Barito bagian timur (sekarang menjadi Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah). Oleh karena itu, orang-orang Suku Dayak Maanyan mendapat sebutan Kelompok Barito Timur. Orang-orang Suku Dayak Maanyan adalah kaum pelaut yang tangguh. Pada sekitar tahun 600 Masehi, orang-orang Suku Dayak Maanyan diduga pernah berlayar hingga ke Madagaskar, sebuah pulau di pesisir timur Afrika. Pencapaian luar biasa yang berhasil dilakukan Suku Dayak Maanyan ini seperti yang ditulis oleh Hudson yang menyebutkan bahwa ada persamaan antara bahasa orang Madagaskar dengan bahasa orang Maanyan (Hudson dalam Indonesia, 4 Oktober 1967:17).

Ketangguhan melaut orang-orang Suku Dayak Maanyan lama-kelamaan mulai berkurang karena terjadi proses pendangkalan di lingkungan maritim tempat mereka hidup. Areal pesisir yang selama ini menjadi lingkungan mereka sehari-hari mengalami penyurutan dan perlahan-lahan berubah menjadi daratan sehingga orang-orang Dayak Maanyan kehilangan budaya maritim yang dulu mereka miliki. Pada zaman purba, wilayah Kalimantan bagian tengah masih berwujud sebuah teluk besar. Fenomena pendangkalan ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya migrasi yang dilakukan oleh orang-orang Dayak Maanyan. Daerah tujuan para imigran Suku Dayak Maanyan adalah di tempat yang dalam Hikayat Banjar disebut dengan nama Pulau Hujung Tanah. Sedangkan Negarakrtagama karya pujangga Majapahit, Mpu Prapanca, yang ditulis pada tahun 1365 M, menyebut tempat itu sebagai Tanjung Negara (http://banjarcyber.tripod.com). Terdapat dua lokasi di masa sekarang yang diperkirakan merupakan bekas wilayah Pulau Hujung Tanah, yakni Amuntai dan Tanjung, yang keduanya terletak tidak jauh dari Pegunungan Meratus yang memang dikisahkan membentang di timur Pulau Hujung Tanah, tempat di mana Kerajaan Nan Sarunai berdiri.

Orang-orang Suku Dayak Maanyan adalah golongan Dayak Mongoloid yang merupakan gelombang migrasi orang-orang Dayak pertama ke wilayah Kalimantan Selatan. Peradaban Suku Dayak Maanyan dibuktikan dengan ditemukannya fosil-fosil manusia purba di Gua Batu Babi di Kabupaten Tabalong (Tajuddin Noor Ganie, 2009). Penelitian tentang “Ekskavasi Situs Gua Babi Tahap V Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan” yang dilakukan oleh Harry Widianto dan Handini (1999/2000) menyebutkan bahwa banyak sekali peninggalan bersejarah yang ditemukan di Gua Babi, antara lain berupa artefak batu, tulang, komponen tubuh manusia, dan cangkang moluska (Widianto & Handini, dalam Laporan Penelitan Arkeologi Banjarmasin, 1999/2000).

Isen Mulang Petehku


https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=361178056&postcount=258
hymunk - 31/03/2011 08:58 AM
#200

Quote:
Original Posted By TuaGila
Keruntuhan Kerajaan Nan Sarunai
Dalam perjalanan sejarahnya yang sangat panjang, Kerajaan Nan Sarunai mengalami suatu masa penting di mana orang-orang Maanyan berinteraksi dengan orang-orang Melayu Palembang yang datang dari Kerajaan Sriwijaya. Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada awal abad ke-11 di mana Sriwjaya mulai menuai keruntuhannya akibat serangan dari Kerajaan Cola (India). Menurut Paul Michel Munoz (2006), antara tahun 1079-1088 M, pusat Kerajaan Sriwijaya telah berrgeser dari Palembang ke Jambi. (Munoz, 2006:165-167). Ekspedisi Cola telah melemahkan Palembang, dan Jambi telah menggantikannya sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya meskipun kekuatan dan kebesarannya sudah jauh menurun. Pada masa-masa menjelang keruntuhan Kerajaan Sriwijaya itulah orang-orang Melayu Palembang beramai-ramai menyelamatkan diri. Mereka tercerai-berai ke berbagai tempat, salah satunya tiba di daerah di sekitar Sungai Tabalong tempat di mana orang-orang Maanyan menjalani kehidupan di bawah panji-panji Kerajaan Nan Serunai.

Orang-orang Melayu Palembang itu kemudian ikut menetap di dekat wilayah kekuasaan Kerajaan Nan Serunai, dan terjadilah pembauran di antara mereka. Kedatangan kaum imigran dari Sriwijaya ini ditegaskan oleh Alfani Daud (1997) yang menyebutkan bahwa penduduk asli sebagian wilayah Kalimantan Selatan diduga berintikan penduduk asal Sumatra, tepatnya Palembang, yang membangun tanah baru di kawasan ini dan banyak di antaranya yang kemudian bercampur dengan suku bangsa yang terlebih dulu datang, yang tidak lain adalah orang-orang Maanyan (Daud, 1997:44). Perpaduan inilah yang diduga menurunkan orang-orang Suku Banjar. Sejak zaman prasejarah, suku bangsa yang tinggal di Kalimantan memang sudah memiliki ciri-ciri yang menunjukkan identitas mereka sebagai suku bangsa ras Melayu atau Malayan Mongoloid (Dwi Putro Sulaksono, 2008:2).

Kerajaan Nan Sarunai ketika itu sudah menjadi negara yang makmur. Kebesaran Kerajaan Nan Sarunai disebabkan karena kegemilangan mereka dalam bidang perdagangan di mana Kerajaan Nan Sarunai telah menjalin hubungan perniagaan dengan negeri-negeri lain, termasuk Indragiri, Majapahit, Bugis, bahkan hingga Madagaskar. Lili Kumeah berkembang menjadi tempat permukiman yang ramai. Teluk Sarunai menjadi tempat persinggahan yang ramai bagi perahu dagang yang datang dari berbagai penjuru. Lili Kumeah semakin pesar perkembangannya hingga akhirnya menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai yang gilang-gemilang (Ganie, 2009).

Kejayaan yang diraih Kerajaan Nan Sarunai tersebut justru membuat Majapahit tergiur untuk menaklukannya. Tajuddin Noor Ganie (2009) menyebutkan bahwa pada tahun 1355 M, Raja Majapahit, Hayam Wuruk, memerintahkan Empu Jatmika memimpin armada perang untuk menyerbu Kerajaan Nan Sarunai. Pada tahun 1355 itu, pasukan Empu Jatmika berhasil menaklukan Kerajaan Nan Sarunai dan menjadikannya sebagai bagian dari Majapahit. Peristiwa ini diabadikan oleh para seniman lokal dalam tutur wadian atau puisi ratapan yang dilisankan dalam bahasa Maanyan. Para seniman lokal mengenang keruntuhan Kerajaan Nan Sabunai sebagai peristiwa “Usak Jawa” atau “Penyerangan oleh Kerajaan Jawa” (Ganie, 2009).Tentang runtuhnya Kerajaan Nan Sarunai, Fridolin Ukur menyebutnya sebagai sebuah kerajaan orang Dayak Maanyan yang rusak oleh Jawa (Ukur, 1977:46).

Setelah penyerangan oleh Kerajaan Majapahit itulah riwayat Kerajaan Nan Sarunai berakhir. Empu Jatmika sendiri kemudian mendirikan kerajaan baru di atas tanah Nan Sarunai, yaitu pemerintahan bercorak Hindu yang diberi nama Kerajaan Negara Dipa, meski Empu Jatmika tidak pernah menjadi Raja Negara Dipa secara resmi. Sementara itu, setelah Kerajaan Nan Sarunai runtuh, Suku Dayak Maanyan masih mempunyai tokoh panutan, yakni Putri Junjung Buih, anak sulung dari raja terakhir Kerajaan Nan Sarunai (Ganie, 2009). Pada akhirnya, Putri Junjung Buih menikah dengan Pangeran Suryanata, anak laki-laki Raja Hayam Wuruk yang kemudian bertahta sebagai penguasa Kerajaan Negara Dipa.

Di sisi lain, banyak warga Kerajaan Nan Sarunai yang terpaksa melarikan diri karena serangan Majapahit. Akibat eksodus massal tersebut, Suku Dayak Maanyan terpecah dan tersebar menjadi tujuh suku kecil, yaitu: (1) Maanyan Siung yang bermukim di Telang, Paju Epat, dan Buntok, (2) Maanyan Patai yang berdiam di aliran Sungai Patai, (3) Maanyan Paku yang berdomisili di wilayah Tampa, (4) Maanyan Paju X yang menetap di sepankang aliran sungai Karau dan Barito, (5) Maanyan Paju Epat yang menghuni aliran Sungai Dayu, dan (7) Maanyan yang tinggal di wilayah Bintang Karang, Tumpang Murung, Dusun Timur, Tamiang Layang, Belawa, Tupangan Daka, dan Barito (Hudson, dalam Indonesia, 4 Oktober 1967:26).

Silsilah Raja-raja
Sejarah Kerajaan Nan Sarunai yang sangat panjang ternyata tidak diimbangi dengan referensi data yang valid, termasuk informasi mengenai silsilah raja-rajanya. Dari berbagai sumber yang ditemukan, hanya sekelumit saja yang menyinggung nama orang-orang yang diperkirakan pernah menjadi kepala pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai. Noorselly Ngabut alias Babe Kuden hanya berhasil menemukan dua orang saja dari sekian banyak raja yang pernah memimpin Kerajaan Nan Sarunai.

Dalam tulisannya, Babe Kuden menyebut nama Datu Sialing dan Datu Gamiluk Langit. Kedua orang ini diduga pernah berperan sebagai pemimpin Suku Dayak Manyaan sekaligus raja Kerajaan Nan Sarunai. Namun, belum diketahui apakah mereka berdua memerintah secara bersama-sama atau bergantian. Informasi yang paling jelas adalah bahwa Datu Sialing dan Datu Gamiluk Langit adalah dua orang yang memimpin sekelompok anggota masyarakat etnis Maanyan untuk mencari tempat pemukiman baru yang lebih menjanjikan sebagai tempat penghidupan (Babe Kuden, dalam Banjarmasin Post, 21 September 2005). Akhirnya, mereka mendirikan pusat pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai di sebuah tempat yang bernama Lili Kumeah.

Sementara itu, Sutopo Ukip dalam artikelnya yang diberi judul “Balai Adat Jadi Lambang Persaudaraan Orang Maanyan, Banjar, dan Madagaskar”, dituliskan bahwa pada tahun 1309 M, terdapat seorang raja yang memimpin Kerajaan Nan Serunai, bernama Raden Japutra Layar yang memerintah pada kurun 1309-1329 M. Gelar raden yang disandang sang raja berasal dari Kerajaan Majapahit, karena Japutra Layar sebelum menjadi Raja Nan Sarunai adalah seorang pedagang yang sering bergaul dengan para bangsawan dari Majapahit (Sutopo Ukip, 2008).

Ukip meyakini bahwa Raden Japutra Layar adalah raja pertama Kerajaan Nan Sarunai. Keyakinan Ukip ini mungkin didasarkan pada pola, sistem, dan struktur pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai yang sudah menjadi jauh lebih baik dibandingkan masa-masa sebelumnya. Seperti diketahui, Kerajaan Nan Sarunai adalah pemerintahan yang dikelola oleh orang-orang Suku Dayak Maanyan dan diduga sudah eksis pada kisaran waktu antara 242 hingga 226 Sebelum Masehi sehingga diperkirakan sistem pemerintahannya, termasuk dalam hal kepemimpinan, belum terorganisir dengan baik. Masih menurut Ukip, penerus Raden Japutra Layar sebagai pemimpin Kerajaan Nan Sarunai adalah Raden Neno (1329-1349) dan kemudian Raden Anyan (1349-1355). Raden Anyan, bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas, adalah raja terakhir Kerajaan Nan Sarunai sebelum riwayat kerajaan ini tamat akibat serangan dari Kerajaan Majapahit.

Isen Mulang Petehku


https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=361178363&postcount=260

NANSARUNAI USAK JAWA

syair pertama

Nansarunai takam rome usak Jawa
Ngamang talam takam lulun unggah Gurun

Nansarunai takam galis kuta apui
Ngamang talam takam jarah sia tutung

Nansarunai takam wadik jari danau
Ngamang talam takam wandui janang luyu

Hang manguntur takam galis em'me angang
Kuda langun takam jarah mangalongkong

Suni sowong kala tumpuk tanan olun
Wayo wotak alang gumi Punei Lului

syair kedua

Batang Nyi'ai ka'i hawi tamurayo
Telang nyilu ne'o jaku taleng uan

Anak nanyo ka'i hawi nganyak kaleh
Bunsu lungai ne'o jaku ngisor runsa

Ngunu ngugah pasong teka watang tenga
Hamen bingkang kilit iwo pakun monok

Muru pitip Nansarunai ngunu hulet mengalungkung
Ngamang talam takam tantau nuruk nungkai

Hang manguntur takam kala harek jatuh
Kudalangun takam alang rakeh riwo

Hang manguntur takam kala buka payung
Kudalangun takam alang bangun tang'ngui

Jam'mu ahung takam kawan rum'ung rama
Luwai hewo padu ipah bawai wahai

sumber : http://bahasamaanyan.blogspot.com/2008/08/nansarunai-usak-jawa.html
Majapahit Penjajah dari Jawa (Nan Sarunai Usak Jawa)

WADIAN DADAS (Sebuah Kearifan Lokal)
Page 10 of 15 | ‹ First  < 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 > 
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan