Kalimantan Selatan
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
Total Views: 72819 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 2 of 15 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

hymunk - 08/06/2010 08:38 PM
#21
Seni tradisional banjar
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Kultur budaya yang berkembang di Banjarmasin sangat banyak hubungannya dengan sungai, rawa dan danau, disamping pegunungan. Tumbuhan dan binatang yang menghuni daerah ini sangat banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan mereka. Kebutuhan hidup mereka yang mendiami wilayah ini dengan memanfaatkan alam lingkungan dengan hasil benda-benda budaya yang disesuaikan. hampir segenap kehidupan mereka serba relegius. Disamping itu, masyarakatnya juga agraris, pedagang dengan dukungan teknologi yang sebagian besar masih tradisional.

Ikatan kekerabatanmulai longgar dibanding dengan masa yang lalu, orientasi kehidupan kekerabatan lebih mengarah kepada intelektual dan keagamaan. Emosi keagamaan masih jelas nampak pada kehidupan seluruh suku bangsa yang berada di Kalimantan Selatan.

Urang Banjar mengembangkan sistem budaya, sistem sosial dan material budaya yang berkaitan dengan relegi, melalui berbagai proses adaptasi, akulturasi dan assimilasi. Sehingga nampak terjadinya pembauran dalam aspek-aspek budaya. Meskipun demikian pandangan atau pengaruh Islam lebih dominan dalam kehidupan budaya Banjar, hampir identik dengan Islam, terutama sekali dengan pandangan yang berkaitan dengan ke Tuhanan (Tauhid), meskipun dalam kehidupan sehari-hari masih ada unsur budaya asal, Hindu dan Budha.

Seni ukir dan arsitektur tradisional Banjar nampak sekali pembauran budaya, demikian pula alat rumah tangga, transport, Tari, Nyayian dsb.

Masyarakat Banjar telah mengenal berbagai jenis dan bentuk kesenian, baik Seni Klasik, Seni Rakyat, maupun Seni Religius Kesenian yang menjadi milik masyarakat Banjar seperti :

Teater Tradisi / Teater Rakyat
Antara lain Mamanda, Wayang Gung, Abdul Mulk Loba, Kuda Gepang, Cerita Damarwulan, Tantayungan, Wayang Kulit, Teater Tutur.

Seni Musik
Antara lain Kuriding, Karung-karung Panting, Kintunglit, Bumbung, Suling Bambu, Musik Tiup, Salung Ulin, Kateng Kupak.

Sinoman Hadrah dan Rudat
Sinoman Hadrah dan Rudat bersumber daripada budaya yang dibawa oleh pedagang dan penda’wah Islam dari Arab dan Parsi dan berkembang campur menjadi kebudayaan pada masyarakat pantai pesisir Kalimantan Selatan hingga Timur.
Puja dan puji untuk Tuhan serta Rasul Muhammad SAW mengisi syair dan pantun yang dilagukan bersahutan dalam qasidah yang merdu, dilindungi oleh payung (merupakan lambang keagungan dalam kehidupan tradisional di Indonesia) ubur-ubur, dalam gerakan yang dinamis.

Seni Tari

a. Tari Tradisi : Balian, Gantar, Bakanjar, Babangai
b. Tari Klasik : Baksa Kambang, Topeng, Radap Rahayu
c. Tari Rakyat : Japin Sisit, Tirik Lalan, Gambut, Kuda Gepang, Rudat dll

imagetarian surup dari Tanbu (MB)

Seni Sastra
Antara lain Kuriding, Karung-karung Panting, Kintunglit, Bumbung, Suling Bambu, Musik Tiup, Salung Ulin, Kateng Kupak.

a. Syair : Hikayat, Sejarah, Keagamaan

b. Pantun : Biasa, Kilat, Bakait
Seni Rupa
Antara lain Ornamen, Topeng dan Patung.

Keterampilan
Maayam dinding palupuh, maulah atap, wantilan, maulah gula habang, maulah dodol kandangan, maulah apam barabai, maulah sasapu ijuk, manggangan, maulah wadai, maulah urung katupat, maaym janur banjar, dll(sumb: situs her’s Site)

Suku Banjar mengembangkan seni dan budaya yang cukup lengkap, walaupun pengembangannya belum maksimal, meliputi berbagai bidang seni budaya.

‘Seni Tari’ Seni Tari suku Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari yang dikembangkan di lingkungan istana (kraton), dan seni tari yang dikembangkan oleh rakyat. Seni tari kraton ditandai dengan nama “Baksa” yang berasal dari bahasa Jawa (beksan) yang menandakan kehalusan gerak dalam tata tarinya. Tari-tari ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu, semenjak zaman hindu, namun gerakan dan busananya telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Contohnya, gerakan-gerakan tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan adab islam mengalami sedikit perubahan. Seni tari daerah Banjar yang terkenal misalnya :

Tari Baksa Kembang, dalam penyambutan tamu agung.
Tari Baksa Panah
Tari Baksa Dadap
Tari Baksa Lilin
Tari Baksa Tameng
Tari Radap Rahayu, dalam upacara perkimpoian
Tari Kuda Kepang
Tari Japin/Jepen
Tari Tirik
Tari Gandut
Tarian Banjar lainnya

sumber : http://hasanzainuddin.wordpress.com/seni-banjar/
hymunk - 08/06/2010 08:54 PM
#22
Ikan Lokal Kalimantan Selatan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

1. Klasifikasi
Secara taksonomi dan sistematis Weber dan Beaufort (1922), direvisi oleh
Ng dan Lim di dalam Kottelat et al (1993), mengklasifikasikan ikan
Gabus dalam :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Labyrinthychy
Family : Channidae
Genus : Channa
Spesies : Channa striata (Kottelat el al, 1993)
Synonim : Ophiocephalus striatus (Weber dan Beaufort, 1922)
Nama Inggris : Head snake
Nama Indonesia : Ikan Gabus
Nama Daerah : Haruan (Kalimantan Selatan).
2. Morfologi Ikan “Haruan”
Kottelat et al (1993) mengemukakan bahwa ikan ini disirip
punggungnya terdapat 38 – 43 jari-jari lemah, sirip dubur mempunyai 23
– 27 jari-jari lemah, terdapat 52 – 57 sisik pada gurat sisi; panjang total
maksimum yang pernah diketahui adalah 90 cm. Sisi badan mempunyai
pita warna berbentuk “V”, mengarah kebagian atas umumnys tidak jelas
pada ikan dewasa; ada 4 – 5 sisik antara gurat sisi dan pangkal jari-jari
sirip punggung bagian depan.
3. Penyebaran dan Habitat
Penyebaran ikan ini berada di lingkungan Sunda, Sulawesi, Lesser Sunda,
Maluku, India, Indochina, Srilangka, Philiphina dan China (Kottelat, et
al 1993). Di Kalimantan Selatan terdapat hampir disemua jenis perairan
umum (rawa monoton, rawa pasang surut, sungai kecil dan waduk).
Habitat ikan ini di lahan basah Sungai Negara Kal-Sel dan sungai-sungai
kecil, danau dan rawa (Chairuddin, 1990).

Beberapa jenis ikan lokal ekonomis yang sangat digemari oleh masyarakat
Banjar (dalam kaitan dengan budaya masyarakat Banjar) adalah Ikan Gabus
(Channa = Ophiocephalus striatus) dengan nama umum “murrel” atau “snake
head” (Weber dan Beaufort, 1922 dirivisi oleh Ng dan Lim di dalam Kottelat
et al, 1993). Nama daerah untuk ikan ini adalah “haruan”. Ikan ini menjadi
bahan utama untuk makanan yang dikenal dengan nama “ketupat
kandangan”, tidak menjadi makanan “ketupat kandangan” kalau tidak
menggunakan ikan “haruan”. Jenis makanan ini sangat digemari oleh
masyarakat Banjar.
Karakteristik khas jenis ikan “haruan” adalah kemampuannya bertahan pada
kondisi perairan yang ekstrim sepert i : kandungan oksigen yang rendah, pH
rendah dan tidak memerlukan air yang mengalir. Karakteristik yang demikian
dimiliki oleh perairan rawa sehngga hanya beberapa jenis ikan introduksi saja
yang mampu mengadaptasinya selebihnya adalah jenis-jenis ikan lokal.

Provinsi Kalimantan Selatan, memiliki hamparan rawa yang luas, serta sungai-sungai membelah berbagai wilayah ini sehingga memungkinkan aneka ikan lokal berkembang biak dan terdapat puluhan bahran ratusan spiciesikan lokal di wilayah ini.
Ikan lokal yang paling populer di wilayah Kalsel, adalah haruan (gabus), papuyu (betok) bakut (betutu), lais, sapat siam, sapat biasa, biawan, patung, pentet (lele), tauman, kihung, mihau, karandang, kapar, kalatau, tutumbuk banir, timah-timah, bangkinangan, julung-julung, marangan, dan ikan walut.
Semua ikan yang disebut di atas umumnya hidup dan berkembang di rawa-rawa kawasan lahan berambut, atau lahan lebak yang terlihat hamparan luas, seperti di kawasan Danau Panggang, Babirik, Alabio, Mahang, Amuntai, serta kawasan lainnya.
Sementara sungai-sungai yang membelah Kalsel, seperti Sungai Balangan, sungai Amandit, Sungai Tabalong, Sungai Martapura, Sungai Riam Kanan, Sungai Riam Kiwa, Sungai Nagara dan sungai-sungai yang lain mengandung spicies ikan sungai.
Ikan-ikan sungai yang terdata seperti jelawat, baung, sanggang, barahmata, kelabau, pipih (belida), patin, puyau, mangki, sanggiringan, adungan, tapah, tangara, kalui, tilan, sisili, dan iwak junu.
Sedangkan di perairan air payau hingga air asin di muara sungai arah ke laut, dikenal dengan ikan lundu, bandeng, sandilang, utik, menangin, telang, tanggiri, gulama, kakap, panting, puput, pare, sutung, dan sebagainya.

sumber :
http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/09145/untung_bijaksana.pdf
http://hasanzainuddin.wordpress.com/ikan-lokal-kalsel/
hymunk - 08/06/2010 09:02 PM
#23
Tanaman Khas Kalsel
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

1. Kayu Ulin

Keberadaan jenis kayu khas Kalimantan yang disebut kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri) belakangan ini kian langka dan sulit diperoleh di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel).
Padahal keberadaan kayu tersebut banyak dicari masyarakat khususnya untuk bahan bangunan rumah, kantor, gedung, serta bangunan lainnya
Di Kalsel berdasarkan keterangan yang ia peroleh kayu ulin tersebut, berasal dari tebangan lama di wilayah Kabupaten Tanah Laut, Tanah Bumbu, serta Kabupaten Kotabaru atau wlayah pesisir Timur Kalsel.
Berdasarkan catatan, kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan. Jenis ini dikenal dengan nama daerah ulin, bulian, bulian rambai, onglen, belian, tabulin dan telian.

Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter sampai 120 cm, bertekstur sangat keras serta dapat tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m.

Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi bangunan berupa tiang bangunan, atap kayu (sirap), papan lantai, kosen pintu dan jendela, bahan untuk banguan jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan lain yang memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat.

Ulin ternyata tak sekadar bernilai ekonomis tinggi dari nilai kayunya. Lebih dari itu, kayu khas hutan tropis di Kalimantan bernama latin eusideroxylon zwagery ini juga dapat dijadikan sebagai pohon obat.

Manfaat ganda kayu ulin tersebut diutarakan Staf Ahli Bidang Ekonomi Menhut Ir Indriastuti MS. “Ulin termasuk jenis tanaman obat,” ungkapnya di hadapan kalangan pejabat Dinas Kehutanan Tala dan peserta Sosialisasi Penguatan Kelembagaan Kelompoktani Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), Rabu (16/7)di Kalsel.

Indriastuti menyebutkan, ada tiga jenis bagian dari kayu ulin yang bisa dimanfaatkan untuk obat-obatan yaitu daun muda, esktrak biji, dan buahnya.

sumber :
http://hasanzainuddin.wordpress.com/tanaman-khas-kalsel/
http://www.vivaborneo.com/saatnya-melindungi-kayu-ulin.htm
hymunk - 08/06/2010 09:12 PM
#24

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


2. Kayu Galam

Ekosistem hutan galam yang unik di Kalimantan Selatan hingga kini makin menipis dan terus terancam konversi lahan untuk pertanian dan permukiman. Padahal, kayu galam merupakan komoditas penting di Kalsel untuk bahan utama fondasi rumah di lahan rawa-rawa.

Di Kecamatan Gambut dan Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, misalnya, yang dulu identik dengan hutan gambut yang ditumbuhi kayu galam kini sudah hampir tidak ditemukan lagi. Areal terbuka di hutan gambut dan rawa-rawa telah membuat daerah tersebut selalu terbakar jika kemarau dan selalu tergenang banjir jika musim hujan.

Hingga kini eksploitasi kayu galam di hutan-hutan rawa-rawa dan gambut terus berlangsung marak karena galam merupakan satu-satunya kayu yang andal untuk dibuat fondasi di daerah berair.

“Musim hujan dan banjir seperti ini justru dimanfaatkan warga untuk menebang kayu galam dari hutan. Mereka memanfaatkan ketinggian air banjir untuk menarik kayu dari hutan ke sungai,” ujar Suhariyono, warga Kuripan Barito Kuala.

Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Barito Kuala Iwan Hernawan menjelaskan, galam merupakan komoditas penting Kabupaten Barito Kuala dan hingga kini Barito Kuala masih menjadi produsen utama. Namun, dia akui kini kayu galam mulai langka. “Sekarang susah untuk mencari galam ukuran besar dan lurus,” ujarnya.

Persebaran dan Sifat

Galam ( Melaleuca cajuputi ) merupakan tumbuhan yang bisa mencapai tinggi 40 m dan diameter setinggi dada sekitar 35 cm. Tumbuhan ini tumbuh di rawa air tawar dan di daratan tergenang musiman di tepi laut. Penyebarannya ada di Myanmar, Thailand, Indochina, Malaka, Indonesia, Papua New Guinca, Australia

Karena tumbuh di hutan rawa kayu galam toleran terhadap tanah asam dan salinitas. Tumbuhan ini merupakan pohon lapisan bawah di hutan rawa primer tetapi akan tumbuh mencolok setelah pembakaran berulang. Pembakaran/kebakaran lahan sangat menguntungkan bagi galam, karena akan memicu pelepasan biji dan buah, menciptakan lingkungan yang cocok untuk perkecambahan dan mematikan tumbuhan yang menjadi pesaing galam.

Kegunaan

Pohon dapat dimanfaatkan sebagai peneduh jalan kayunya termasuk dalam kelas awet III dan kelas kuat II digunakan untuk kayu bakar, tiang pancang kecil, tiang bangunan, sumber bahan baku industri pengolahan kayu. Kulit kayu dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengisap nanah pada luka atau dibuat ekstrak untuk mengobati rasa lesu, susah tidur. Apabila ditambah damar, kulit kayu dapat dimanfaatkan sebagai bahan penambal perahu .

Daun-daun menghasilkan minyak kayu putih yang dapat digunakan sebagai obat gosok untuk mengobati rematik, nyeri pada tulang dan syaraf, radang usus, perut kembung, diare, radang kulit, eksim, sakit kepala, sakit gigi dan sesak nafas .

Bunga merupakan sumber penghasil madu dan buah kering berfungsi sebagai pengganti merica hitam. Buah dan biji yang dikenal sebagai merica bolong dipergunakan oleh orang Jawa dan Bali sebagai bahan jamu untuk mengobati penyakit lambung.

Wilayah propinsi Kalsel akan akan sumber plasma nutfah dan dianggap sebagai tempat asal dari berbagai tumbuhan seperti :
1. Durian ( Duriospesi )
2. Kasturi ( Mangifera Delmiana )
3. Rambutan ( Nephelium Lappocum )

Hutan Daratan rendah dan tinggi didominasi oleh spesies :
1. Meranti (Dipterocorpus Spesi )
2. Hopea ( Hopea spesia )
3. Ulin ( Eusideroxlyon )
4. Kempos ( Komposia Spesi )
5. Damar ( Agathis bornensis )
6. Sindor ( Sindora Spesi )

Didaerah hutan tanah bergambut pepohonan utamanya meliputi :
1. Ramin ( Gonostylus Bancadud )
2. Jeluntung ( Dura Spesi )
3. Ebony ( Displyros Spesi )

Didaerah hutan rawa dibagian barat Kalimantan Selatan banyak ditemui
1. Xylopia Spesi :
2. Tarantang ( Comnaperma Spesi )
4. Nipah ( Nipahfruitcans )

Didaerah hutan air payau banyak terdapat :
1. Bakau ( Rhizospora spesi )
2. Prapat ( Soneratia spesi )
3. Api – Api ( Avicenia spesi )
4. Bruguira spesi

Dua spesi rotan yaitu spesi dan Daemonorps adalah tanaman memanjat terpenting. Tanaman memanjat lainnya adalah ficus spesi. Diatas pohon-pohon besar di dalam hutan terdapat berbagai anggrek. (Sumber: Dishut Kalsel)

sumber :
http://dishutkalsel.org/index.php?option=com_content&task=view&id=122&Itemid=142
http://hasanzainuddin.wordpress.com/tanaman-khas-kalsel/
hymunk - 08/06/2010 09:24 PM
#25
Buah langka Khas Kalimantan yang ada di Kalsel
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



Papaken (Durio kutujensis) Papaken yang mempunyai nama lain yaitu lai, tergolong durian yang berumur genjah, pada umur 5 tahun kerabat durian ini sudah mulai berbuah. Pertumbuhan tanaman tidak terlalu tinggi. Buah berbentuk bulat, berwarna hijau sampai hijau kekuningan. Kulit buah yang masak berduri agak lunak dan mudah dibelah. Rasa daging buahnya manis dan empuk, berwarna kuning emas dan beraroma kurang menyengat, kurang alkoholik. Biji berwarna kuning kecoklat-coklatan. Karena populasinya dialam sudah berkurang, tanaman ini tergolong dari 40 jenis tumbuhan langka di Indonesia yang harus dilindungi, yang termasuk katagori rawan.

Mantuala (Durio, sp).
campuran, berumah satu. Buah tergolong buah buni, berbentuk buat sampai bulat memanjang, daging buah berwana kuning muda sampai jingga, ada yang berserabut dan tidak. Biji batu berdinding tebal. Kerabat durian ini dicirikan dengan adanya lekukan pada tiap sekat (katup) buahnya. Daging buah berwarna jingga, tebal, manis, beraroma kurang menyengat, kurang alkoholik, berbiji coklat. Buah yang muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kuning muda kalau sudah masak.
Kuwini (Mangifera odorata).
Kelompok mangefera jenis ini dicirikan dengan aromanya yang menusuk. Buah berbentuk bulat memanjang, berukuran agak besar, berat/buah dapat mencapai 400 gram. Daging buah berwarna kuning, manis dan agak berserat. Kulit buah berwarna hijau,buah yang masak dicirikan dengan daging buahnya yang lunak dan aromanya yang menusuk.

Kuweni Anjir, adalah salah satu jenis kuwini yang khas, dengan rasa yang manis, dapat beradaptasi di lahan rawa pasang surut, lebih tahan terhadap penggerek buah.
Hambawang (Mangifera foetida)
Kelompok dari magifera ini dicirikan dengan kulit buahnya yang tebal, dan mengandung getah. Kulit buah berwarna hijau kekuningan, berbintik hitam dan kadang ditemui getah hitam yang mengering dikulit. Daging buah berwarna kuning, dengan rasa dari masam sampai manis, daging buah berserat. Jenis hambawang lainnya adalah hambawang putar yang dicirikan dengan bentuk buahnya yang bulat, berukuran agak kecil daging buah dengan biji dapat dipisahkan dengan cara diiris sekeliling buah dan diputar.
Kasturi (Mangifera casturi Kosterm/ Mangifera casturi Delmiana).
Kelompok mangifera ini dicirikan dengan aroma yang khas. Buah berukuran kecil dengan berat/buahnya mencapai 50- 75 gram, berbentuk bulat sampai bulat agak memanjang. Kulit buah muda berwarna hijau, kalau matang berangsur-angsur menjadi ungu. Daging buah berwarna jingga dengan rasa manis yang khas. Kasturi mempunyai wilayah penyebaran yang sempit (Kalimantan), dan tergolong dari 200 jenis tumbuhan langka di Indonesia yang harus dilestarikan. Kasturi diabadikan sebagai maskot flora Kalimantan Selatan.
Kasturi rawa-rawa/Asam rawa-rawa (Mangifera sp)
Tanaman yang mirip dengan kasturi ini dibedakan oleh bentuk buah yang agak memanjang. Rasa dan aromanya yang khas, manis, tidak begitu menusuk dan tidak berserat. Kulit buah bagian pangkal berwarna hijau, bagian ujung berwarna ungu.
Kasturi palipisan (Mangifera sp).
Mempunyai buah yang lebih besar dibanding Kelompok kasturi lainnya, berat/buah dapat mencapai lebih dari 100 gram. Warna daging buah jingga, agak berserat, padat, dengan rasa manis. Buah muda berwarna hijau, buah yang masak dicirikan dengan warna ungu pada ujung buah.

Kasturi cuban(Mangifera sp).
Kerabat kasturi ini dicirikan dengan bentuk buahnya yang bundar, dengan ukuran lebih kecil dibanding kelompok kasturi lainnya. Berat buah antara 40 – 75 gram. Daging buah berwarna kuning,lunak, agak berserat. Rasa buahnya manis asam yang segar.
Binjai manis (Mangefera kemanga)
Kerabat ini mempunyai rasa manis dan aroma yang khas. Daun bulat telur
memanjang, tebal dan liat berukuran agak besar, dengan tulang daun yang tidaktampak. Bunga kecil, dalam karangan bunga berbentuk malai, warna putih. Buah berbentuk lonjong, daging buah putih, lunak, warna kulit buah hijau. Buah yang masak dicirikan dengan daging buah yang lunak dan timbulnya aroma khas. Biji besar, berwarna ungu. Binjai yang manis ini dikenal pula dengan nama daerah kalimantan binjai wanyi.

Binjai masam (Mangefera kemanga)
Binjai ini dicirikan dengan raba daging buahnya masam ini yang masam. Warna kulit buah yang matang bervariasi ada yang cokelat, cokelat kemerahan dan hijau.

Tarap(Artocarpus odoratissimus). Kerabat ini mempunyai daerah penyebaran yang sempit. Buah berbentuk bulat, berduri lunak dan panjang, Kulit buah hijau dan keras sewaktu muda, berangsur- angsur coklat kekuningan dan lunak kalau
sudah masak. Daging buah berwarna putih, lunak dan manis. Biji berwarna putih,
berukuran kecil. Daun ber ukuran besar. Kulit batang bergetah.
Kopuan(Artocarpus lanceifolia)
Kerabat ini mirip dengan tarap, yang membedakan hanya warna daging buahnya yang jingga dan duri buahnya yang pendek dan agak keras.

Cempedak(Artocarpus intgra)

Kerabat ini dicirikan dengan daunnya yang berbulu banyak dan lebih panjang dibanding nangka. Bunga tersusun dalam tandan. Kulit buahnya tidak kasar, dengan bentuk buah yang bundar memanjang. Aroma buahnya sangat khas dan menusuk, daging buah melekat pada biji, agak tipis, lembek ber serat, berwarna kuning dan rasanya manis.
Manggis, Rambutan, Jeruk siam, Langsat, Ketapi, Ramania, rambai, sawo pancukan (nam-nam) dan buah mentega, Srikaya, kalangkala. Tanaman rawa Kalimantan.
hymunk - 08/06/2010 09:26 PM
#26

Spoiler for mundar
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



Mundar/bundar (Garcinia forbesii).
Buah mundar berwarna merah cerah, berbentuk bundar, berkulit buah yang tipis dan lunak. Daging buah berwarna putih, dengan rasa manis, semakin dekat kebiji akan terasa asam segar. Berat/buah 40-60 gram. Biji
berukuran kecil, pipih dengan berat 0,2 gram. Bundar berbuah lebih produktif di banding manggis. Sepanjang ranting muncul buah berkelompok 2 sampai 7 butir
Ketapi suntul (Sandoricum koetjape Merr)
Dicirikan dengan buah yang berbentuk bulat dengan pangkal meruncing,
ukuran lebih kecil dan rasa yang manis.
Ketapi masam (Sandoricum koetjape Merr)
Buah bulat dengan pangkal meruncing, berukuran besar, dengan rasa
masam.
langgsat roko ( Lansium sp)
Dicirikan dengan buah berbentuk bundar, berkulit sangat tebal, berbiji besar, daging buah tipis dengan rasa masam. Langsat roko ini mempunyai nilai ekonomis yang rendah.
Selat (Lansium sp)
Dicirikan denagn buah berbentuk bundar, kulit buah agak tebal dibanding langsat biasa. Warna kulit kuning muda. Daging buah putih bening dengan rasa manis menyengat.
Ramania
Ramania(Gandaria) tergolong kedalam divisio Spermatophyta, Sub Divisio Angiospermae, Klas Dicotyledoneae Ordo Anacardiales, Famili Anacardiaceae, Genus Bouea dan Spisies Bouea macrophylla.

Tergolong kedalam tanaman keras/tahunan (paranual), berupa pohon (arbor), tinggi 10-20 m. Daun tunggal, duduk daun berhadapan, bentu memanjang, liat seperti kertas, tepi rata, bertangkai 1-2,5 cm. Bunga kecil, dalam karangan bunga berbentuk malai, ukuran 4-10 cm. Tiap karangan ada 2 jenis bunga, jantan dan berkelamin ganda. Tangkai bunga pendek, kelopak 5 buah, kuning, tenda bunga panjangnya 1,2- 2,5 cm. Bakal buah tersembunyi, beruang satu, berbakal biji tunggal. Buah berbuntuk buni, bulat, berdaging, mengandung air, berwarna kuning. Kulit buah halus, berwarna kuning. Biji berwarna ungu.

Rambutan Garuda (Nephelium Lappaceum)
Rambutan yang adaptif di lahan rawa ini, mempunyai Keunggulan rasanya yang manis, buahnya yang besar ( 50,40 Gram/buah), daging
buah yang tebal (0,65 cm), berbiji kecil ( 2,45 gram), dan sangat ngelotok.
Rambutan Antalagi (Nephelium Lappaceum)
Buah dari rambutan Antalagi ini berukuran sedang (26,38 gram/biji), rasa manis, dengan ketebalan daging buah sedang (0,40 cm). Warna buah merah agak kuning, dengan bulu jarang. Rambutan Ini dapat beradaptasi dengan baik pada lahan rawa pasang surut dan rawa lebak.
Rambutan Sibatuk. (Nephelium Lappaceum)
Rambutan ini mempunyai rasa yang sangat manis, daging buah berair. Buah berwarna merah dengan ketebalan daging buah sedang (0,45 cm). Cukup adaptif untuk lahan rawa pasang surut dan lebak.
Rambutan Sitimbul. (Nephelium Lappaceum).
Buah berwarna merah, daging buah tebal (0,675 cm), dengan rasa yang sangat manis, dengan biji yang kecil (1,8 gram). Rambutan ini juga adaptif untuk lahan rawa pasang surut dan lebak. Kerabat-kerabat rambutan yang dikoleksi di Kebun Percobaan Banjarbaru adalah : maritam, siwau, pitanak, mata kucing dan babuku.

Maritam (Nephelium mutabile)
Kerabat rambutan yang satu ini mempunyai daun yang lebih kecil di banding rambutan (panjang 12,0 cm, lebar 4,4 cm) Buah tidak mempunyai rambut , dengan kulit buah yang tebal, berupa tonjolan-tonjolan dengan ujung yang meruncing. Warna buah muda hijau, berangsur-angsur menjadi merah tua kalau masak. Daging buah tebal, ada yang mudah dikelupas dari biji ada yang tidak., dengan rasa agak masam sampai manis

Siwau ( Nephelium sp)
Kerabat rambutan ini juga berbentuk pohon, daunnya majemuk dengan ukuran lebih kecil dibanding rambutan (panjang 9,0 cm, lebar3,5 cm). Buahnya kecil, berwarna merah, daging buah tipis, dengan rasa agak manis sampai manis.

Pitanak (Nephelium sp)
Kerabat rambutan ini berbentuk pohon, yang ketinggiannya dapat mencapai 20 meter. Daun lebih besar di banding rambutan, permukaan daun mengkilat Buah berbentuk bulat, tanpa rambut. Daging buah tipis, dengan rasa manis. Daging buah sukar dilepas dari bijinya.
Mata kucing (Nephelium malaiense)
Tanaman ini dapat mencapai ketinggian sampai 20 meter. Daun majemuk, bentuk anak daun memanjang, lebih kecil dibanding rambutan ( panjang 13 cm, lebar 4,0 cm). Buah berbentuk bulat, kecil, berwarna kuning, tanpa rambut, rasanya manis. Bijinya berwarna coklat kemerahan.
Babuku (Nephelium sp).
Kerabat rambutan ini, mempunyai buah yang mirip dengan buah mata kucing, tapi ukurannya lebih besar. Mempunyai daun majemuk yang juga lebih besar dibanding mata kucing.
Srikaya
Srikaya tergolong kedalam divisio Spermatophyta, Sub Divisio Angiospermae, Klas Dicotyledoneae, Ordo Annonales, Famili Annonaceae, Genus Annona, Spesies Annona squamosa L.
Buah ini tergolong kedalam tanaman perdu/ pohon, tinggi 2-7 m. Daun berbentuk elliptis,
tepi rata. Bunga 1-2 berhadapan atau di samping daun. Buah majemuk, berbentuk bola. Kulitnya seperti sisik. Daging buah matang lembik, lepas bersama kulit buahnya, putih, manis. Biji hitam mengkilat.
Kandungan vitamin C 35-42 mg/100 g.

Mentega
Buah mentega (bisbol) tergolong kedalam divisio Spermatophyta, Sub Divisio Angiospermae, Klas Dicotyledoneae, Ordo Ebenales, Famili Ebenaceae, Genus Diospyros dan Spisies Diospyros philippensis Desr.Gurke / Diospyros blancoi A.DC / Diospyros discarlon.
Buah ini kedalam tanaman keras/ tahunan (paranual), berupa pohon (arbor), tinggi 7-15 m, berumah dua. Tajuk dan kanopinya rimbun, berbentuk bulat, kadang- kadang hampir menyerupai kerucut. Daun tunggal, duduk berseling. Helaian daun berbentuk bulat memanjang, tepi rata, seperti kulit. Bunga berwarna putih kekuningan, bau semerbak. Buah berbentuk bulat, dengan bulu halus seperti beludru, buah masak berbau tajam. Daging buah berwarna kuning muda, manis, kering dan menyegarkan. Biji berwarna coklat. Ada 2 jenis buah mentega yang ditemukan di Kalimantan, yang berwarna kuning dan berwarna merah.
Kandungan gizi
Setiap 100 gram bagian yang dimakan mengandung 83,0-84,3 g air, 2,8 g protein, 0,2 g lemak, 11,8 g karbohidrat, 1,8 g serat, 0,4-0,6 abu, 46 mg Kalsium, 1,8 mg Phospor, 0,6 mg besi, 35 IU vitamin A, 0,02 mg Thiamin, 0,03 mg Riboflavin dan Niacin, 18 mg vitamin C, dan rata-rata energi yang dihasilkan adalah 332 kJ/100g.
Rambai
Rambai tergolong kedalam divisio Spermatophyta, Sub Divisio Angiospermae, Klas Dicotyledoneae, Ordo Euphorbiales, Famili Euphorbiaceae, Genus Baccaurea dan Spisies Baccaurea mutleana.
Buah ini tergolong kedalam tanaman keras/tahunan (paranual), berupa pohon (arbor), tinggi 10 -20 m. Daun tunggal, bentuk memanjang. Buah lebat, bertangkai, berbentuk bulat, kulit buah berwarna putih kecoklatan. Daging buah berwarna putih bening, berair, dengan rasa manis. Biji gepeng, kecil yang lengkat dengan daging buah. Tanaman rambai cukup adaptif di lahan rawa, baik rawa pasang surut maupun lebak.
Kacapuri
Kerabat manggis ini berupa pohon, tinggi 6-20 meter. Daun tunggal, permukaan licin mengkilat. Bentuk buah bundar, buah muda berwarna hijau, berangsur-angsur kekuningan kalau matang. Kulit buah keras, tebal. Daging buah putih, transparan, tipis, dengan rasa manis kecut. Biji keras,coklat kehitaman, mengkilat.

sumber : http://hasanzainuddin.wordpress.com/buah-khas-kalsel/
hymunk - 08/06/2010 09:44 PM
#27
Sasirangan, Kain Khas Etnis Banjar di Kalsel
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



Kain sasirangan adalah sejenis kain yang diberi gambar dengan corak dan warna tertentu yang sudah dipolakan secara tradisional menurut citarasa budaya yang khas etnis Banjar di Kalsel.

Secara etimologis istilah Sasirangan bukanlah kata benda sebagaimana yang dikesankan oleh pengertian di atas, tapi adalah kata kerja. Sa artinya satu dan sirang artinya jelujur. Ini berarti sasirangan artinya dibuat menjadi satu jelujur.
Kain sasirangan memang identik dengan kain yang diberi gambar dengan corak warna-warm berbentuk garis-garis jelujur yang memanjang dari bawah ke atas (vertikal). Sungguhpun demikian, istilah sasirangan sudah disepakati secara social budaya (arbitrer) kepada benda berbentuk kain (kata benda).
Pada mulanya kain sasirangan disebut kain langgundi, yakni kain tenun berwana kuning. Ketika Empu Jatmika berkuasa sebagai raja di Kerajaan Negara Dipa pada tahun 1355-1362. Kain langgundi merupakan kain yang digunakan secara luas sebagai bahan untuk membuat busana harian oleh segenap warga negara Kerajaan Negara Dipa.

Hikayat Banjar memaparkan secara tersirat bahwa di kawasan yang sekarang ini dikenal sebagai pusat kota Amuntai banyak berdiam para pengrajin kain langgundi. Keterampilan membuat kain langgundi ketika itu tidak hanya dikuasai oleh para wanita yang sudah tua saja, tetapi juga dikuasai oleh para wanita yang masih gadis belia. Paparan ini menyiratkan bahwa kain langgundi ketika itu memiliki pangsa pasar yang besar. Jika tidak, maka sudah barang tentu tidak bakal banyak warga negara Kerajaan Negara Dipa yang menekuninya sebagai pekerjaan utama.
Bukti bahwa di kota Amuntai ketika itu banyak berdiam para pembuat kain langgundi adalah paparan tentang keberhasilan Lambung Mangkurat memenuhi permintaan Putri Junjung Buih sebagai syarat kesediaannya untuk dijadikan raja putri di Kerajaan Negara Dipa.
Menurut Hikayat Banjar, Putri Junjung Buih ketika itu meminta Lambung Mangkurat membuatkan sebuah mahligai megah yang harus selesai dikerjakan dalam tempo satu hari oleh 40 orang tukang pria yang masih bujangan. Selain itu, Putri Junjung Buih juga meminta Lambung Mangkurat membuatkan sehelai kain langgundi yang selesai ditenun dan dihiasi dalam tempo satu hari oleh 40 orang wanita yang masih perawan.
Semua permintaan Putri Junjung Buih itu dapat clipenuhi dengan mudah oleh Lambung Mangkurat. Paparan ini menyiratkan bahwa di kota Amuntai ketika itu banyak berdiam para tukang pria yang masih bujang, dan para penenun wanita yang masih perawan. Jika tidak, maka sudah barang tentu Lambung Mangkurat tidak akan mampu memenuhi semua permintaan Putri Junjung Buih.
Pada hari yang telah disepakati, naiklah Putri Junjung Buih ke alam manusia meninggalkan tempat persemayamannya selama ini yang terletak di dasar Sungai Tabalong. Ketika itulah warga negara Kerajaan Negara Dipa melihat Putri Junjung Buih tampil dengan anggunnya. Pakaian kebesaran yang dikenakannya ketika itu tidak lain adalah kain langgundi warna kuning basil tenuman 40 orang penenun wanita yang masih perawan (Ras, 1968 : Baris 725-735, Hikajat Bandjar)

sumber :
http://banjarmasinbungas.site50.net/?p=186
http://h4dy4.blogspot.com/2009/06/kekuatan-magis-dibalik-warna-kain.html
hymunk - 08/06/2010 10:10 PM
#28
Busana Adat Pengantin Banjar,Kalimantan Selatan
Perkawinan adat Banjar dipengaruhi oleh unsur dalam agama Islam, dalam perkawinan Banjar nampak jelas begitu besar penghormatan terhadap posisi wanita. Hal itu merupakan penerapan dari ajaran Islam yang mengemukakan ungkapan “surga itu dibawah telapak kaki ibu” dan kalimat “wanita itu adalah tiang negara”. Acara demi acara yang dilaksanakan semuanya berpusat di tempat atau di rumah pihak calon mempelai wanita, pihak dari keluarga laki-laki yang datang menghormati kepada keluarga mempelai wanita.

Urutan proses yang umum terjadi di kalangan keluarga calon pengantin adalah:

1. Basusuluh (mencari informasi secara diam-diam mengenai riwayat keluarga calon mempelai. Mencari informasi ini bisa melalui berbagai macam cara dan dilakukan secara cerdik)
2. Batatakun (mencari informasi definitif, pencarian ini lebih terbuka melalui kedua pihak keluarga)
3. Badatang (meminang)
4. Maatar Patalian ( memberikan barang-barang antaran kepada pihak mempelai wanita, berupa barang kebutuhan sehari-hari dan perlengkapan kamar tidur)
5. Nikah (ikatan resmi menurut agama)
6. Batatai (proses akhir dari perkawinan Banjar, upacara bersanding/pesta perkawinan)

Ditambah berbagai proses lainnya yang semuanya dilakukan di kediaman mempelai wanita. Karena perkawinan merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup, maka keluarga kedua mempelai berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan kesan dan keistimewaan serta fasilitas kepada kedua mempelai, mereka dilayani bagai seorang raja dan ratu sehingga sering diberi julukan Raja Sahari (raja satu hari)


1. Busana Adat Pengantin Banjar Baamar Galung Pancaran Matahari

Spoiler for Baamar Galung Pancaran Matahari
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


2. Busana Adat Pengantin Banjar Baamar Galung Modifikasi

Spoiler for Baamar Galung Modifikasi
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


3. Busana Adat Pengantin Banjar Babajukun Galung Pacinan

Spoiler for Babajukun Galung Pacinan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


4. Busana Adat Pengantin Banjar Bagajah Gamuling Baular Lulut

Spoiler for Bagajah Gamuling Baular Lulut
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


sumber :
http://kerajaanbanjar.wordpress.com/2007/03/14/sekilas-proses-perkawinan-adat-banjar/
http://ainun.yolasite.com/job/hasil-layout-an-majalah-pesona-edisi-visit-kalsel-year-2009-rubrik-busa na-adat
hymunk - 08/06/2010 10:38 PM
#29
Daftar Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan.
ic70.picturetrail.com/VOL1802/10971155/19845605/322040562.jpg&t=1&h=194&w=259&usg=__iIA8pjSM-36ulWRB3 cgQ2y7G5_o=" border="0" alt="Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan" >/



Mulai dari 1945-1957 gubernur mengepalai provinsi Kalimantan

1. Ir. Pangeran Muhammad Noor dari 2 September 1945 s/d 1950
2. dr. Murjani dari 14 Agustus 1950 s/d 1953
3. Mas Subarjo dari 1953 s/d 1955
4. Raden Tumenggung Arya Milono dari 1955 s/d 1957

Selanjutnya tahun 1957 sebutan provinsi Kalimantan menjadi Provinsi Kalimantan Selatan.
1.Syarkawi 1957 1959
2.Maksid 1959 1963
3.Abu Jahid Bastomi 1963 1963
4.Aberani Sulaiman 1963 1968
5.Jamani 1968 1970
6.Subarjo Sosroroyo 1970 1980
7.Mistar Cokrokusumo 1980 1984
8.Muhammad Said 1984 1995
9.Gusti Hasan Aman 1995 2000
10.Sjachriel Darham 2000 Maret 2005
11.Tursandi Alwi Maret 2005 5 Agustus 2005 (Penjabat Gubernur)
12.Rudy Ariffin 5 Agustus 2005 s/d sekarang

sumber : wikimedia
hymunk - 08/06/2010 11:14 PM
#30
Filosofi Rumah Adat Banjar
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Jenis-jenis Rumah Adat Banjar

1. Rumah Bubungan Tinggi
2. Rumah Gajah Baliku
3. Rumah Gajah Manyusu
4. Rumah Balai Laki
5. Rumah Balai Bini
6. Rumah Palimbangan
7. Rumah Palimasan (Rumah Gajah
8. Rumah Anjung Surung (Rumah Cacak Burung)
9. Rumah Tadah Alas
10. Rumah Lanting
11. Rumah Joglo Gudang

Sejarah dan Perkembangan Rumah Adat Banjar
Rumah adat Banjar, biasa disebut juga dengan Rumah Bubungan Tinggi karena bentuk pada bagian atapnya yang begitu lancip dengan sudut 45º.

Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian memeluk agama Islam, dan mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah dengan gelar Panembahan Batu Habang.

Sebelum memeluk agama Islam Sultan Suriansyah tersebut menganut agama Hindu. Ia memimpin Kerajaan Banjar pada tahun 1596–1620.

Pemisahan jenis dan bentuk rumah Banjar sesuai dengan filsafat dan religi yang bersumber pada kepercayaan Kaharingan pada suku Dayak bahwa alam semesta yang terbagi menjadi 2 bagian, yaitu alam atas dan alam bawah.Rumah Bubungan Tinggi merupakan lambang mikrokosmos dalam makrokosmos yang besar.Penghuni seakan-akan tinggal di bagian dunia tengah yang diapit oleh dunia atas dan dunia bawah. Di rumah mereka hidup dalam keluarga besar, sedang kesatuan dari dunia atas dan dunia bawah melambangkan Mahatala dan Jata (suami dan isteri).
rumah Bubungan Tinggi melambangkan berpadunya Dunia Atas dan Dunia Bawah

Dwitunggal Semesta

Pada peradaban agraris, rumah dianggap keramat karena dianggap sebagai tempat bersemayam secara ghaib oleh para dewata seperti pada rumah Balai suku Dayak Bukit yang berfungsi sebagai rumah ritual. Pada masa Kerajaan Negara Dipa sosok nenek moyang diwujudkan dalam bentuk patung pria dan wanita yang disembah dan ditempatkan dalam istana. Pemujaan arwah nenek moyang yang berwujud pemujaan Maharaja Suryanata dan Puteri Junjung Buih merupakan simbol perkimpoian (persatuan) alam atas dan alam bawah Kosmogoni Kaharingan-Hindu. Suryanata sebagai manifestasi dewa Matahari (Surya) dari unsur kepercayaan Kaharingan-Hindu, matahari yang menjadi orientasi karena terbit dari ufuk timur (orient) selalu dinantikan kehadirannya sebagai sumber kehidupan, sedangkan Puteri Junjung Buih berupa lambang air, sekaligus lambang kesuburan tanah berfungsi sebagai Dewi Sri di Jawa. Pada masa tumbuhnya kerajaan Hindu, istana raja merupakan citra kekuasaan bahkan dianggap ungkapan berkat dewata sebagai pengejawantahan lambang Kosmos Makro ke dalam Kosmos Mikro. Puteri Junjung Buih sebagai perlambang "dunia Bawah" sedangkan Pangeran Suryanata perlambang "dunia atas". Pada arsitektur Rumah Bubungan Tinggi pengaruh unsur-unsur tersebut masih dapat ditemukan. Bentuk ukiran naga yang tersamar/didestilir (bananagaan) melambangkan "alam bawah" sedangkan ukiran burung enggang melambangkan "alam atas".

Pohon Hayat

Wujud bentuk rumah Banjar Bubungan Tinggi dengan atapnya yang menjulang ke atas merupakan citra dasar dari sebuah "pohon hayat" yang merupakan lambang kosmis. Pohon Hayat merupakan pencerminan dimensi-dimensi dari satu kesatuan semesta. Ukiran tumbuh-tumbuhan yang subur pada Tawing Halat (Seketeng) merupakan perwujudan filosofi "pohon kehidupan" yang oleh orang Dayak disebut Batang Garing dalam kepercayaan Kaharingan yang pernah dahulu berkembang dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan pada periode sebelumnya.

Payung

Wujud bentuk rumah Banjar Bubungan Tinggi dengan atapnya yang menjulang ke atas merupakan sebuah citra dasar sebuah payung yang menunjukkan suatu orientasi kekuasaan ke atas. Payung juga menjadi perlambang kebangsawanan yang biasa menggunakan "payung kuning" sebagai perangkat kerajaan. Payung kuning sebagai tanda-tanda kemartabatan kerajaan Banjar diberikan kepada para pejabat kerajaan di suatu daerah.

Simetris

Wujud bentuk rumah Banjar Bubungan Tinggi yang simetris, terlihat pada bentuk sayap bangunan atau anjung yang terdiri atas Anjung Kanan dan Anjung Kiwa. Hal ini berkaitan dengan filosofi simetris (seimbang) dalam pemerintahan Kerajaan Banjar, yang membagi kementerian, menjadi Mantri Panganan (Kelompok Menteri Kanan) dan Mantri Pangiwa (Kelompok Menteri Kiri), masing-masing terdiri atas 4 menteri, Mantri Panganan bergelar 'Patih' dan Mantri Pangiwa bergelar 'Sang', tiap-tiang menteri memiliki pasukan masing-masing. KOnsep simetris ini tercermin pada rumah bubungan tinggi.

sumber :
http://kibagus-homedesign.blogspot.com/2009/08/rumah-adat-banjar.html
http://melayuonline.com/ind/news/read/1430
http://bataviase.co.id/node/173064
http://www.wahana-budaya-indonesia.com/index.php?option=com_content&view=article&id=850%3Afilosofi-ru mah-adat-banjar&catid=91%3Aarsitektur-tradisional&Itemid=68&lang=id
hymunk - 10/06/2010 12:09 AM
#31
Panting, Musik Khas Banjar
Spoiler for pa sarbai
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Mengenai kapan lahirnya musik “Panting”, sampai sekarang belum didapatkan data tertulis. Tapi, menurut tuturan lisan yang berkembang di pedesaan dan kampung-kampung di Kalimantan Selatan, musik “Panting” sudah ada sebelum zaman penjajahan. Atau lebih kurang pada abad ke-18. Pada masa itu, musik “Panting” digunakan untuk mengiringi tarian Japen dan Gandut.

Dalam periode tersebut, musik “Panting” diiringi dengan istrumen lain seperti babun, gong, suling, dan rebab. Tapi setelah biola masuk ke Kerajaan Banjar, maka kedudukan rebab digantikan oleh biola.

Di masa awal dan tahap perkembangannya, “Panting” hanya memiliki tiga buah tali.atau senar. Dimana masing-masing senar punya fungsi tersendiri. Tali pertama disebut pangalik. Yaitu tali yang dibunyikan untuk penyisip nyanyian atau melodi.

Tali kedua, disebut panggundah atau pangguda yang digunakan sebagai penyusun lagu atau paningkah. Sedang tali ketiga disebut agur yang berfungsi sebagai bass.

Tali “Panting” pada masa lalu dibuat dari haduk hanau (ijuk), serat nenas, serat kulit kayu bikat, benang mesin, atau benang sinali.

Tapi sekarang, karena lebih mudah didapatkan, ditambah lagi dengan bunyinya yang jauh lebih merdu, benang nilon tampak lebih banyak digunakan. Atau, ada pula yang menggunakan tali kawat dengan empat bentangan pada badan “Panting”.

SEJARAH SINGKAT KESENIAN MUSIK PANTING MENURUT AW. SYARBAINI DI DESA BARIKIN KEC. HARUYAN KAB. HST

1. A.W. Syarbaini pada tahun 1969 mengenal dan mempelajari kesenian Musik Tradisional Bajapin
2. Pada tahun 1973 membentuk kasenian tradisional bajapin tersebut dengan alat yang sangat sederhana yang terdiri :
a. Panting
b. Babun
c. Gong
3. Setelah itu pada tahun 1976 musik bajapin ditampilkan dalam bentuk sajian musik, yakni musiknya saja tanpa mengiringi tarian japin dengan membawakan lagu-lagu melayu banjar pahuluan.
4. Pada tanggal 15 November 1977 khususnya di desa Barikin musik bajapin tersebut kembali ditampilkan dalam bentuk acara resipsi perkimpoian dan pada waktu itulah diberi nama Musik Panting, dalam acara tersebut telah hadir beberapa orang tokoh seniman Kalimantan Selatan yang ikut menyaksikan pagelaran musik panting tersebut, antara lain :
a.Yustan Azidin
b. Marsudi, BA
c. H. Anang Ardiansyah
d. Drs. H. Bahtiar Sanderta

Menurut Yustan Azidin karena kesenian ini alat utamanya adalah panting maka dari itulah musik tersebut alangkah baiknya diberi nama ” Musik Panting ”

Bentuk Panting dan Ukiran :

~*~ Ukiran kepala :
- Karuang Bulik
- Simbangan Laut
- Naga Salimburan
- Putri Bungsu
- Putri Kurung
- dll.

~*~ Bentuk Badan
- Mayang Bungkus
- Mayang Bunting
- Mayang Maurai

Karuang Bulik, Simbangan Laut dan Naga Salimburan yang terukir di ujung atau kepala Panting itu dibelainya. Perlahan. Itu dilakukannya sebelum mengangkat dan meletakkan alat musik tradional sebentuk gitar itu kepangkuannya. Sebelum dawai dipetik, tangan kanannya terlebih dahulu mengusap badan Panting yang berukirkan Mayang Bungkus, Mayang Bunting dan Mayang Maurai.

Dan, melantunlah dentingan irama Panting. Syahdu dan merdu. Terkadang lembut, terkadang rancak. Mempesona ditelinga hingga tak terasa kepala mengangguk dan badan ikut bergoyang mengikuti irama.

Sarbai atau Syarbaini, panggilan Abdul Wahab Syarbaini, dikenal sebagai seniman tradisional Banjar yang serba bisa. Uniknya, dengan kepandaian itu, ia memilih menghidupkan Desa Barikin, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Tanah kelahirannya itu dijadikan kampung budaya Banjar.

Desa Barikin terletak sekitar 135 kilometer utara Kota Banjarmasin, ibu kota Kalimantan Selatan. Kampung itu sebelumnya dikenal sebagai tempat persinggahan para bangsawan Kerajaan Dipa pada abad ke-14. Kini Barikin menjadi kampung seniman tradisional Banjar.

Aspek budaya terasa kental di kampung Barikin lewat keberadaan sanggar seni tradisional Ading Bestari, yang dipimpin Sarbai. Di sini kesenian tradisional Banjar yang semakin jarang dimainkan dan hampir punah, seperti wayang kulit Banjar, wayang gung (gong) atau wayang orang, tari topeng, kuda gepang, seni tari dan musik bajapin, dan musik panting, dipertunjukkan.

Upaya pelestarian seni tradisional Banjar itu melibatkan nyaris semua warga kampung. ”Saya memegang pesan leluhur agar melestarikan kesenian yang hidup di kampung ini. Sebab, dengan kesenian itu, hubungan keluarga semakin erat,” katanya.

Ading Bastari membawahi beberapa grup kesenian. Untuk warga yang menyukai wayang kulit, misalnya, tergabung dalam Panji Sukma. Mereka yang suka tari topeng di grup Panji Sumirang, anggota wayang gung di Antaboga, dan R Brantasena untuk pemain kuda gepang. Tiap grup beranggota 14-35 orang.

Syarbaini tak hanya memimpin sanggar, ia juga bermain dalam hampir semua grup tersebut. Pada wayang kulit, ia sebagai dalang, dan di wayang gung dia menjadi Hanoman.

”Saya belajar semua seni itu sejak kelas empat SD, tahun 1967. Saya belajar dari para seniman di sini, termasuk Saya, orangtua saya, yang mahir memainkan gamelan banjar,” katanya.

Kondisi kampung yang sarat kegiatan kesenian sejak lama itu membuat Desa Barikin menjadi salah satu rujukan bagi mereka yang ingin belajar kesenian tradisional. Orang pun bisa belajar dari satu jenis seni ke berbagai jenis seni lainnya.

sumber :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=221497583728
http://www.facebook.com/note.php?note_id=220709498728
http://myrasta.wordpress.com/2009/10/13/nasib-sang-seniman-itu/
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/07/04175944/sarbai.dan.kampung.budaya
hymunk - 10/06/2010 12:39 AM
#32
Foto-foto BANDJARMASIN TEMPO DOELOE..
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Sebagian besar warga suku Banjar hidup di sepanjang daerah aliran Sungai Barito, sehingga keberadaan jukung mempunyai arti penting.

Kendaraan air ini sangat diandalkan warga sebagai alat transportasi untuk berbagai aktivitas. Seiring perkembangan zaman, posisi jukung dan perahu tambangan mulai tergantikan perahu bermotor (klotok).Bahkan industri pembuatan jukung yang mengandalkan kayu bulat berdiameter besar sudah tidak ada lagi karena semakin hilangnya hutan di wilayah Kalimantan Selatan.Industri perahu, yang masih bertahan seperti di Pulau Se-wangi, Barito Kuala, dan Hulu Sungai Tengah, mengandalkan pasokan kayu berbentuk papan dari Kalimantan Tengah.

Sumber Terkait :
*KITLV / Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies, Leiden.
*Troopen Museum, Amsterdam.
http://ceritadayak.blogspot.com/2010/02/perahu-tambangan-tambah-koleksi-museum.html
http://www.facebook.com/group.php?gid=212120365493
http://www.facebook.com/album.php?aid=2027703&id=1529725636
http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:CyUXE0mIId0J:www.indie-indonesie.nl/content/documents/paper s-urban%2520history/Bambang%2520Subiyakto2.pdf+perahu+tambangan+banjarmasin&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid= ADGEESg3orKbcJ97hjcSuBRL_KbqZa5P1ULKJJAhoAPoVabyLIGr5ioOK68xFhgi1x_ubqwV4H1Lz5ot2fj03K2PmZnWvH0eEkxU0 PIVPe9W6zWzFkibict1_QmnLkGeLRCcfaD9HYhM&sig=AHIEtbTs-0LYm7r8385Zf6obgjw2bp6XGw
ofikzzz - 10/06/2010 06:24 PM
#33
Madihin
Ulun Umpat menambahi ....
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Madihin (berasal dari kata madah dalam bahasa Arab yang berarti "nasihat", tapi bisa juga berarti "pujian") adalah sebuah genre puisi dari suku Banjar. Puisi rakyat anonim bergenre Madihin ini cuma ada di kalangan etnis Banjar di Kalsel saja. Sehubungan dengan itu, definisi Madihin dengan sendirinya tidak dapat dirumuskan dengan cara mengadopsinya dari khasanah di luar folklor Banjar.

Tajuddin Noor Ganie (2006) mendefinisikan Madihin dengan rumusan sebagai berikut : puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklor Banjar di Kalsel.


Bentuk fisik


Masih menurut Ganie (2006), Madihin merupakan pengembangan lebih lanjut dari pantun berkait. Setiap barisnya dibentuk dengan jumlah kata minimal 4 buah. Jumlah baris dalam satu baitnya minimal 4 baris. Pola formulaik persajakannya merujuk kepada pola sajak akhir vertikal a/a/a/a, a/a/b/b atau a/b/a/b. Semua baris dalam setiap baitnya berstatus isi (tidak ada yang berstatus sampiran sebagaimana halnya dalam pantun Banjar) dan semua baitnya saling berkaitan secara tematis.

Madihin merupakan genre/jenis puisi rakyat anonim berbahasa Banjar yang bertipe hiburan. Madihin dituturkan di depan publik dengan cara dihapalkan (tidak boleh membaca teks) oleh 1 orang, 2 orang, atau 4 orang seniman Madihin (bahasa Banjar Pamadihinan). Anggraini Antemas (dalam Majalah Warnasari Jakarta, 1981) memperkirakan tradisi penuturan Madihin (bahasa Banjar : Bamadihinan) sudah ada sejak masuknya agama Islam ke wilayah Kerajaan Banjar pada tahun 1526.


Status Sosial dan Sistim Mata Pencaharian Pamadihinan


Madihin dituturkan sebagai hiburan rakyat untuk memeriahkan malam hiburan rakyat (bahasa Banjar Bakarasmin) yang digelar dalam rangka memperintai hari-hari besar kenegaraan, kedaerahan, keagamaan, kampanye partai politik, khitanan, menghibur tamu agung, menyambut kelahiran anak, pasar malam, penyuluhan, perkimpoian, pesta adat, pesta panen, saprah amal, upacara tolak bala, dan upacara adat membayar hajat (kaul, atau nazar).

Orang yang menekuni profesi sebagai seniman penutur Madihin disebut Pamadihinan. Pamadihinan merupakan seniman penghibur rakyat yang bekerja mencari nafkah secara mandiri, baik secara perorangan maupun secara berkelompok.

Setidak-tidaknya ada 6 kriteria profesional yang harus dipenuhi oleh seorang Pamadihinan, yakni : (1) terampil dalam hal mengolah kata sesuai dengan tuntutan struktur bentuk fisik Madihin yang sudah dibakukan secara sterotipe, (2) terampil dalam hal mengolah tema dan amanat (bentuk mental) Madihin yang dituturkannya, (3) terampil dalam hal olah vokal ketika menuturkan Madihin secara hapalan (tanpa teks) di depan publik, (4) terampil dalam hal mengolah lagu ketika menuturkan Madihin, (5) terampil dalam hal mengolah musik penggiring penuturan Madihin (menabuh gendang Madihin), dan (6) terampil dalam hal mengatur keserasian penampilan ketika menuturkan Madihin di depan publik.

Tradisi Bamadihinan masih tetap lestari hingga sekarang ini. Selain dipertunjukkan secara langsung di hadapan publik, Madihin juga disiarkan melalui stasiun radio swasta yang ada di berbagai kota besar di Kalsel. Hampir semua stasiun radio swasta menyiarkan Madihin satu kali dalam seminggu, bahkan ada yang setiap hari. Situasinya menjadi semakin bertambah semarak saja karena dalam satu tahun diselenggarakan beberapa kali lomba Madihin di tingkat kota, kabupaten, dan provinsi dengan hadiah uang bernilai jutaan rupiah.

Tidak hanya di Kalsel, Madihin juga menjadi sarana hiburan alternatif yang banyak diminati orang, terutama sekali di pusat-pusat pemukiman etnis Banjar di luar daerah atau bahkan di luar negeri. Namanya juga tetap Madihin. Rupa-rupanya, orang Banjar yang pergi merantau ke luar daerah atau ke luar negeri tidak hanya membawa serta keterampilannya dalam bercocok tanam, bertukang, berniaga, berdakwah, bersilat lidah (berdiplomasi), berkuntaw (seni bela diri), bergulat, berloncat indah, berenang, main catur, dan bernegoisasi (menjadi calo atau makelar), tetapi juga membawa serta keterampilannya bamadihinan (baca berkesenian).

Para Pamadihinan yang menekuni pekerjaan ini secara profesional dapat hidup mapan. Permintaan untuk tampil di depan publik relatif tinggi frekwensinya dan honor yang mereka terima dari para penanggap cukup besar, yakni antara 500 ribu sampai 1 juta rupiah. Beberapa orang di antaranya bahkan mendapat rezeki nomplok yang cukup besar karena ada sejumlah perusahaan kaset, VCD, dan DVD di kota Banjarmasin yang tertarik untuk menerbitkan rekaman Madihin mereka. Hasil penjualan kaset, VCD, dan DVD tersebut ternyata sangatlah besar.

Pada zaman dahulu kala, ketika etnis Banjar di Kalsel masih belum begitu akrab dengan sistem ekonomi uang, imbalan jasa bagi seorang Pamadihinan diberikan dalam bentuk natura (bahasa Banjar : Pinduduk). Pinduduk terdiri dari sebilah jarum dan segumpal benang, selain itu juga berupa barang-barang hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan.


Keberadaan Madihin di Luar Daerah Kalsel


Madihin tidak hanya disukai oleh para peminat domestik di daerah Kalsel saja, tetapi juga oleh para peminat yang tinggal di berbagai kota besar di tanah air kita. Salah seorang di antaranya adalah Pak Harto, Presiden RI di era Orde Baru ini pernah begitu terkesan dengan pertunjukan Madihin humor yang dituturkan oleh pasangan Pamadihinan dari kota Banjarmasin Jon Tralala dan Hendra. Saking terkesannya, beliau ketika itu berkenan memberikan hadiah berupa ongkos naik haji plus (ONH Plus) kepada Jon Tralala. Selain Jhon Tralala dan Hendra, di daerah Kalsel banyak sekali bermukim Pamadihinan terkenal, antara lain : Mat Nyarang dan Masnah pasangan Pamadihinan yang paling senior di kota Martapura), Rasyidi dan Rohana(Tanjung), Imberan dan Timah (Amuntai), Nafiah dan Mastura Kandangan), Khair dan Nurmah (Kandangan), Utuh Syahiban Banjarmasin), Syahrani (Banjarmasin), dan Sudirman(Banjarbaru). Madihin mewakili Kalimantan Timur pada Festival Budaya Melayu.


Datu Madihin, Pulung Madihin, dan Aruh Madihin


Pada zaman dahulu kala, Pamadihinan termasuk profesi yang lekat dengan dunia mistik, karena para pengemban profesinya harus melengkapi dirinya dengan tunjangan kekuatan supranatural yang disebut Pulung. Pulung ini konon diberikan oleh seorang tokoh gaib yang tidak kasat mata yang mereka sapa dengan sebutan hormat Datu Madihin.

Pulung difungsikan sebagai kekuatan supranatural yang dapat memperkuat atau mempertajam kemampuan kreatif seorang Pamadihinan. Berkat tunjangan Pulung inilah seorang Pamadihinan akan dapat mengembangkan bakat alam dan kemampuan intelektualitas kesenimanannya hingga ke tingkat yang paling kreatif (mumpuni). Faktor Pulung inilah yang membuat tidak semua orang Banjar di Kalsel dapat menekuni profesi sebagai Pamadihinan, karena Pulung hanya diberikan oleh Datu Madihin kepada para Pamadihinan yang secara genetika masih mempunyai hubungan darah dengannya (hubungan nepotisme).

Datu Madihin yang menjadi sumber asal-usul Pulung diyakini sebagai seorang tokoh mistis yang bersemayam di Alam Banjuran Purwa Sari, alam pantheon yang tidak kasat mata, tempat tinggal para dewa kesenian rakyat dalam konsep kosmologi tradisonal etnis Banjar di Kalsel. Datu Madihin diyakini sebagai orang pertama yang secara geneologis menjadi cikal bakal keberadaan Madihin di kalangan etnis Banjar di Kalsel.

Konon, Pulung harus diperbarui setiap tahun sekali, jika tidak, tuah magisnya akan hilang tak berbekas. Proses pembaruan Pulung dilakukan dalam sebuah ritus adat yang disebut Aruh Madihin. Aruh Madihin dilakukan pada setiap bulan Rabiul Awal atau Zulhijah. Menurut Saleh dkk (1978:131), Datu Madihin diundang dengan cara membakar dupa dan memberinya sajen berupa nasi ketan, gula kelapa, 3 biji telur ayam kampung, dan minyak likat baboreh. Jika Datu Madihin berkenan memenuhi undangan, maka Pamadihinan yang mengundangnya akan kesurupan selama beberapa saat. Pada saat kesurupan, Pamadihinan yang bersangkutan akan menuturkan syair-syair Madihin yang diajarkan secara gaib oleh Datu Madihin yang menyurupinya ketika itu. Sebaliknya, jika Pamadihinan yang bersangkutan tidak kunjung kesurupan sampai dupa yang dibakarnya habis semua, maka hal itu merupakan pertanda mandatnya sebagai Pamadihinan telah dicabut oleh Datu Madihin. Tidak ada pilihan bagi Pamadihinan yang bersangkutan, kecuali mundur teratur secara sukarela dari panggung pertunjukan Madihin
implys - 10/06/2010 11:38 PM
#34

hymunk - 11/06/2010 09:44 AM
#35
Inventarisasi Arsitektur Banjar, Mengenal 11 Macam Rumah Urang Banua
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Setiap Tipe Menunjukkan Kasta Siapa Pemiliknya

Seorang Dosen Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru, menaruh perhatian khusus terhadap arsitektur Banjar yang semakin tergerus zaman. Setelah melakukan survey dan kajian selama hampir empat tahun, ia pun mengumpulkan sebelas tipe rumah Banjar yang masih tersisa.

Budian Noor, Banjarbaru
Pakhri Anhar, pria kelahiran Alabio tahun 1960 ini adalah alumni Fakultas Teknik Arsitektur UGM (1986) dan Magister (S2) pada Program Studi Arsitektur Pasca Sarjana ITB (1996). Sejak 1989 hingga sekarang ia adalah dosen Arsitekur Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat.
Sebagai orang Banjar yang berkecimpung di dunia arsitektur, ia pun merasa punya tanggungjawab keilmuan, untuk melestarikan kekayaan budaya banua. Untuk itu, Pakhri dibantu timnya, melakukan survey dan kajian sejak tahun 2006, sehingga tersusunlah sebuah buku “Inventarisasi Arsitektur Banjar” yang terbit di bulan Februari 2010 lalu.
“Dalam konteks arsitektur bangunan, bangunan yang didirikan oleh generasi terdahulu dipandang oleh masyarakat umum sebagai arsitektur tradisional,” ujar Fakhri ketika ditemui Radar Banjarmasin di rumahnya di Kawasan Jl Karet, Loktabat Utara, Banjarbaru, Minggu (6/6) kemarin.
Padahal pada masa itu, bangunan yang didirikan tersebut dianggap sebagai bangunan paling modern pada saat itu. Karena itu, secara teoritis menurut pembantu Dekan I Bidang Akademik FT Unlam ini, lebih tepat disebut Arsitektur Vernakular, yaitu hasil karya secara turun temurun dari seluruh lapisan masyarakat dalam batas teritorial tertentu.
“Arsitektur vernakular dapat menjadi artefak, jejak cerita masa lalu suatu masyarakat,” ujarnya.
Sebagai salah satu wujud arsitektur vernakular di tanah air, arsitektur banjar ini juga memiliki keunikan yang sesuai dengan kondisi alam dan lingkungan masyarakatnya. Bentuknya yang khas, tata ruang yang unik, serta ornamennya yang memberikan makna yang dalam, memberikan penekanan yang spesifik pada kekhasan arsitektur banjar ini.
“Di sisi lain, kondisi arsitektur banjar semakin memprihatinkan, karena bahan bangunannya mudah lapuk di makan usia, dan akan segera hilang karena kelapukannya itu, meskipun terbuat dari kayu ulin yang tahan hingga ratusan tahun,” ujarnya.
Atas dasar kondisi ini, upaya inventarisasi pun dilakukan, karena ia khawatir, 20 -30 tahun yang akan datang, arsitektur banjar hanya tinggal cerita, karena tidak ada lagi bangunan yang wujud.
“Sebab dari sekian banyak rumah banjar yang kami temukan, rata-rata dalam kondisi memprihatinkan, karena sebagian pemiliknya tidak memiliki kemampuan untuk merawat dengan baik, ditempati pemiliknya yang sudah lanjut usia,” ujarnya.
Seharusnya menurut Pakhri, pemerintah turun tangan untuk melakukan pengawetan. Paling tidak satu rumah untuk representasi setiap tipe yang ada.
Sebelas tipe rumah Banjar sebagaimana disebut budayawan Syamsiar Seman yang dimuat dalam buku inventarisasi rumah Banjar tersebut, ditemukan di sejumlah daerah, diantaranya Marabahan, Banjarmasin, Martapura dan Banjarbaru.
Sebelas tipe rumah Banjar tersebut adalah rumah adat tipe bubungan tinggi, gajah baliku, gajah manyusu, balai laki, balai bini, palimasan, palimbangan, cacak burung/anjung surung, tadah alas, joglo dan rumah lanting.
Pada masa Kerajaan Banjar, masing-masing tipe rumah ini merepresentasikan siapa pemiliknya. Misalnya, tipe Bubungan Tinggi diperuntukkan untuk raja dan pangeran Kerajaan Banjar. Sedangkan gajah baliku, merupakan tempat hunian bagi saudara Sultan Banjar dan Balai Laki adalah hunian bagi punggawa mantra dan prajurit pengawal keamanan Sultan Banjar.
Namun, sejak dihapuskannya Kerajaan Banjar pada tanggal 11 Juni 1860 oleh Pemerintah Belanda, hirarki dan tata aturan kepemilikan rumah adat tidak lagi menjadi acuan baku dalam pembangunannya.
“Masyarakat yang memiliki kemampuan finansial dapat saja membangun tempat tinggalnya dengan bentuk rumah adat yang diinginkannya,” ujarnya.
Karena itu, berdasarkan hasil inventarisasi terhadap rumah Banjar yang tersisa, kebanyakan dibangun oleh pedagang, petani kaya atau pendulang intan. Seiring dengan itu, terjadi penyesuaian-penyesuaian terhadap bangunan, ornamen dan besar bangunan.
“Saya yakin rumah bubungan tinggi yang asli ukurannya besar-besar, tapi yang tersisa sekarang rata-rata sekitar 8 x 20 meter, sesuai dengan kemampuan financial yang membangun,” ujarnya. (bersambung)

sumber : http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/59/874
hymunk - 11/06/2010 09:55 AM
#36
Inventarisasi Arsitektur Banjar, Mengenal 11 Macam Rumah Urang Banua (2)
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Desakralisasi Bubungan Tinggi, Tidak Hanya untuk Sultan

Rumah Bubungan Tinggi merupakan rumah adat Banjar yang mempunyai tingkatan tertinggi dari seluruh tipe rumah adat Banjar yang ada. Rumah Bubungan Tinggi berfungsi sebagai tempat tinggal Sultan Banjar.

Menurut Syamsiar Seman (2001) mempunyai ciri-ciri, bangunan besar memanjang lurus ke depan sebagai bangunan induk, serta memiliki tiang-tiang yang tinggi. Bagian bangunan yang tampak seperti menempel pada bagian kiri dan kanan agak ke belakang disebut Anjung, dalam istilah Banjar konstruksi ini disebut “pisang sasikat“ (pisang sesisir, Red).
Sesuai namanya, atap pada rumah bubungan tinggi melancip dengan membentuk sudut kemiringan sekitar 45 derajat. Kemudian ada bagian atap yang memanjang ke depan disebut Sindang Langit dan bagian atap yang menurun ke belakang disebut Hambin Awan.
"Dari beberapa tipe rumah banjar, perbedaan yang tampak memang dari sisi bentuk atap," ujar Pakhri Anhar, Dosen Arsitektur di Fakultas Teknik Univesitas Lambung Mangkurat.
Sedangkan ruang yang menjadi ciri khas rumah bubungan tinggi mulai dari palatar, panampik kacil dan panampik basar sebagai ruang untuk menerima tamu, palidangan sebagai ruang keluarga, anjung kanan dan anjung kiwa sebagai ruang privasi, panampik bawah dan paling belakang padapuran.
Kemudian dalam perjalanannya, rumah bubungan tinggi tidak hanya dibangun untuk kediaman Sultan, desakralisasi bentuk ini terjadi setelah kerajaan Banjar runtuh. Fenomena tersebut dapat dilihat dari beberapa rumah Banjar yang dibangun pada akhir abad ke 19. Rumah bubungan tinggi rata-rata dibangun oleh masyarakat dari beberapa golongan masyarakat seperti saudagar, kepala Qadi, kepala distrik dan keturunan kerajaan Banjar.
"Bubungan tinggi yang semula hanya sebagai tempat tinggal Sultan Banjar, dibangun oleh masyarakat biasa yang mampu. Pedagang, petani kaya dan tokoh masyarakat," ujar Pakhri.
Hal tersebut diatas dapat kita lihat pada beberapa varian rumah Bubungan Tinggi yang ada di beberapa tempat. Seperti rumah Bubungan Tinggi Keramat Baru dibangun pada tahun 1882 oleh H Hasyim. Ia bukan dari keluarga Banjar. Demikian juga rumah Bubungan Tinggi di Keraton yang bangun pada tahun 1850 oleh H Sa’aludin. Ia dikenal seorang kepala Qadi (sekarang setingkat kepala Kantor Urusan Agama Islam).
Contoh lain, rumah bubungan tinggi yang ada di Sungai Jingah, dibangun oleh penduduk setempat yang masih keluarga Raja Banjar. Rumah ini dibangun tahun 1891. Sedangkan rumah bubungan tinggi di Cempaka (150 tahun) dibangun seorang pedagang intan.
Melihat berbagai varian rumah bubungan tinggi yang masih eksis, tampak arsitektur rumah bubungan tinggi mengalami perubahan. Seiring dengan perkembangan kebudayaan masyarakat Banjar, penataan dan kebutuhan ruang.
Namun perubahan pada aspek ruang tidak terlalu signifikan. Ruang-ruang pokok seperti palatar, panampik basar, palidangan, anjung dan panampik bawah dalam rumah bubungan tinggi tetap dipertahankan.
Sementara itu, struktur bangunan rumah bubungan tinggi, secara umum terdiri dari kaki bangunan, badan bangunan (rangka dan dinding) serta kepala bangunan (atap). Bahan dominan rumah Banjar adalah kayu ulin yang tahan hingga ratusan tahun. Mulai dari tiang, papan untuk dinding, daun pintu, jendela, sampai atap pun terbuat dari sirap, ulin yang dipotong tipis.
"Untuk pondasi, rumah bubungan tinggi memiliki kaki-kaki yang tinggi," ujarnya.
Kondisi ini menurut Pakhri, sesuai dengan kondisi alam Kalsel yang kebanyakan tanah rawa, kemudian juga berfungsi untuk mengurangi kelembaban di bagian dalam rumah, sehingga rumah lebih tahan lama. "Udara di dalam rumah juga terasa lebih sejuk," tambahnya.
Kekhasan juga bisa di lihat pada bagian pintu, dimana pintu tidak menggunakan engsel, tapi menggunakan sistem jalu-jalu, pada sistem ini di kedua ujung pintu atas dan bawah, dibuat poros. Poros tersebut dipasang ke lubang yang dibuat di rangka bawah dan atas pintu. Untuk dibagian bawah, pada dasar lubang ditempatkan koin (mata uang) perak atau tembaga sebagai landasan untuk berputarnya poros. Pintu rumah banjar biasanya terdiri dari dua daun pintu. Sementara di bagian jendela, juga terdiri dari dua daun jendela dan untuk pengamanan, dibuat jerajak yang biasanya berjumlah ganjil.
"Jumlah ganjil ini sesuai dengan filosofi warga banjar yang meyakini angka ganjil lebih baik," ujarnya.
Sementara itu, jika melihat lebih detail pada ornamen rumah banjar bubungan tinggi, maka kita akan menyaksikan sebuah karya seni yang tinggi. "Ornamen terlihat mulai dari kandang rasi, dahi lawang, tawing halat (dinding batas), sampai hiasan-hiasan di bagian atap, seperti layang-layang, pilis atap, rumbai pilis atap dan jurai palatar," ujar Pakhri.
Ornamen-ornamen ini, berbentuk pahatan ukiran yang bermotif flora, fauna dan kaligrafi. Namun yang paling banyak adalah motif flora dan kaligrafi, sesuai dengan kondisi sosial keagamaan masyarakat Banjar yang mayoritas Islam. Sayangnya, karena minimnya aspek pemeliharaan, sebagian ornamen rumah bubungan tinggi ini sudah tidak ditemukan lagi, karena rusak. (bersambung)

sumber : http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/59/949
hymunk - 11/06/2010 09:58 AM
#37
Inventarisasi Arsitektur Banjar, Mengenal 11 Macam Rumah Urang Banua (3)
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Gajah Baliku untuk Saudara Sultan

Jika rumah bubungan tinggi untuk kediaman Sultan Banjar, maka bagi para saudara Sultan Banjar disediakan rumah adat tipe gajah baliku dan rumah adat gajah manyusu untuk para keturunan pertama Sultan.

Secara fisik, rumah adat banjar tipe gajah baliku mempunyai bentuk yang mirip dengan tipe Bubungan Tinggi. Perbedaan kedua rumah ini terletak pada atap bagian depan bangunan. Atap pada rumah Gajah Baliku berbentuk pelana dan pada ujungnya berbentuk piramida.
"Rumah tipe ini memiliki teras depan yang didukung oleh empat buah tiang yang bertumpu di atas tanah. Konstruksi bubungan (atap, Red) depannyamenyerupai kepala gajah sehingga dinamakan Gajah Baliku," terang Pakhri Anar, Dosen Arsitektur Unlam, penulis buku Inventarisasi Arsitektur Banjar.
Seiring dengan perkembangan masyarakat, rumah Gajah Baliku juga mengalami perubahan. Perubahan salah satunya terjadi dari segi kepemilikan. Rumah Gajah Baliku tidak hanya dimiliki oleh golongan saudara sultan Banjar, namun juga dimiliki oleh golongan pedagang.
Salah satu rumah gajah baliku yang terjaga keasliannya adalah rumah yang merupakan salah satu benda cagar budaya ini tidak mengalami perubahan dari segi tata ruang. Susunan ruang pada rumah ini terdiri atas palatar, panampik basar, palidangan, anjung, panampik bawah dan padapuran serta terdapat karawat, ruangan di belakang padapuran yang sekarang berfungsi sebagai gudang barang.
Sementara itu, rumah adat Gajah Manyusu yang sebenarnya diperuntukkan untuk keturunan pertama Sultan Banjar, juga dibangun oleh golongan masyarakat lain yang mampu, seperti rumah gajah manyusu di Jln Panglima Wangkang Marabahan, Batola yang dibangun oleh Bukhasan, seorang petani sekitar tahun 1938.
Kekhasan gajah manyusu, adalah pada bentuk atap pelana yang agak tumpul dan ornamen pada bagian tawing layar atau tampuk bubungan. Biasanya dihias dengan ornamen yang sederhana, dengan bentuk-bentuk simetris. (bin/bersambung)

sumber : http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/59/1035
hymunk - 11/06/2010 10:02 AM
#38
Inventarisasi Arsitektur Banjar, Mengenal 11 Macam Rumah Urang Banua (4)
Pemilik Pertahankan Bentuk Muka Rumah Adat

Empat tipe rumah banjar berikut, masih diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki posisi dalam Kerajaan Banjar. Yakni tipe rumah Balai Bini, Balai Laki, Palimasan dan Palimbangan.

Balai bini merupakan rumah adat yang dipergunakan para putri atau keluarga raja pihak wanita sebagai tempat tinggal. Ciri khas masyarakat Banjar yang kental akan budaya sungai turut serta mempengaruhi orientasi bangunan yang menghadap ke arah sungai.
Menurut Samsiar Seman (2001), ciri-ciri rumah Balai Bini antara lain, rumah ditopang oleh tiang dan tongkat yang tinggi, masih memiliki Anjung Kiwa dan Anjung Kanan yang menempel dengan konstruksi pisang sasikat. Bubungan atap memanjang sepanjang rumah. Pada ujung depannya berbentuk limas seperti piramida. Teras depan disokong empat tiang panjang yang bertumpu diatas tanah. Bubungan atap bagian belakang juga berbentuk limas seperti piramida.
Secara umum, tata ruang pada rumah Balai Bini memiliki pola tata ruang yang sama dengan rumah adat Banjar lainnya. yakni terdiri dari palatar, panampik basar, palidangan, padapuran, anjung kiwa dan anjung kanan.
"Pada perkembangannya, kebanyakan rumah Balai Bini memiliki perkembangan pada tata ruangnya. Terutama pada arah belakang rumah," ujar Pakhri Anhar, penulis buku Inventarisasi Arsitektur Banjar.
Seperti Rumah Balai Bini di Jalan 9 November No. 39 RT. IX, Kelurahan Banua Anyar, dibangun oleh Sainudin tahun 1828. Dari segi tata ruang. Oleh karena kebutuhan ruang tambahan, pemilik menambah ruang pada bagian belakang. Ruang-ruang tersebut dipakai sebagai kamar, gudang, dapur tambahan dan KM/WC.
"Perubahan di bagian belakang rumah ini, juga banyak kami temui di rumah banjar lain yang masih tersisa, pemilik cenderung mempertahankan keaslian rumah di bagian depan," ujar Pakhri.
Sementara itu, rumah adat banjar tipe Balai Laki, dikenal sebagai tempat tinggal bagi para punggawa mantri dan prajurit pengawal keamanan Kesultanan Banjar. Cirinya bentuk bangunan agak ramping, memanjang dari arah depan hingga ke belakang. Memiliki anjung kiwa dan anjung kanan agak kecil pada posisi bangunan induk agak ke belakang.
Diantara rumah tipe balai laki yang masih bisa ditemui, terletak di kelurahan Pasayangan Barat RT. II RW. I. Rumah yang dibangun HM Nazir, seorang pedagang di tahun 1911 ini, mengalami perubahan dari segi pola perletakan dan kebutuhan ruang. Rumah Balai Laki ini dibagi atas badan utama dan paviliun di kedua sisi bangunan. Pada bagian utama (tengah) dianalogikan sebagai palatar, panampik basar dan palidangan, sedangkan pada bagian paviliun dianalogikan sebagai anjung. Faktor yang membedakan rumah ini dengan rumah adat Banjar lainnya adalah rumah ini sudah dibuat bertingkat pada bagian anjung. Selain itu, motif hias di rumah ini juga tidak hanya diambil dari kebudayaan Banjar dan Islam, tetapi pada aspek ragam hias sudah masuk pengaruh budaya Barat (khususnya budaya Belanda karena merupakan penjajah pada saat itu).
Selanjutnya, tipe Palimasan, pada masa kerajaan Banjar, palimasan merupakan rumah adat yang biasanya digunakan bendaharawan Kesultanan Banjar. Rumah ini dipergunakan untuk menyimpan emas dan perak. Bentuk Palimasan cenderung lebih sederhana dibandingkan dengan rumah Banjar tipe lainnya. Bubungan depan seperti limas menyebabkan rumah ini dinamakan Palimasan.
Salah satu tipe rumah palimasan bisa ditemui di Jln Sungai Jingah RT II No 129 Banjarmasin, rumah ini didirikan tahun 1831 M oleh Datu Anggah, seorang pedagang rotan dan kayu damar.
Ada lagi rumah adat tipe palimbangan, yang merupakan salah satu rumah adat Banjar yang berfungsi sebagai hunian para ulama dan tokoh agama Islam. Rumah ini bentuknya besar dan lebar yang memanjang ke belakang, sehingga membentuk segi empat panjang. Tongkat-tongkat pendukung bangunan rumah tidak terlalu tinggi. Bangunan ini mirip dengan Palimasan.
Seperti rumah adat Banjar lainnya, rumah Palimbangan juga merupakan rumah panggung, namun tiang dan tongkatnya tidak terlalu tinggi, seperti yang nampak pada rumah di Kelurahan Kuin Selatan. Tinggi tongkat hanya sekitar 1 meter dari permukaan tanah. Namun, seperti kebanyakan rumah banjar yang tersisa, dibangun tidak sesuai dengan fungsi awalnya. Seperti rumah tipe palimbangan di Jln Kuin Selatan RT VII No 7, Banjar Utara, Banjarmasin yang sudah berumur sekitar 170 tahun, juga dibangun oleh seorang pedagang, H Arsyad. (bin/bersambung)

sumber : http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/59/1077
hymunk - 11/06/2010 10:03 AM
#39
Inventarisasi Arsitektur Banjar, Mengenal 11 Macam Rumah Urang Banua (5-Habis)
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Rumah Rakyat Banjar Berorientasi ke Sungai

Dari sebelas tipe rumah Banjar, empat diantaranya merupakan tipe hunian untuk masyarakat kebanyakan, yakni tipe cacak burung/anjung surung, tadah alas, joglo dan rumah lanting.

Tipe pertama hunian untuk rakyat Banjar adalah Cacak Burung atau Anjung Surung. Sampai sekarang Anjung Surung merupakan hunian rakyat biasa seperti petani dan pedagang. Nama ‘Cacak Burung’ berarti tanda tambah. Sesuai dengan namanya tersebut, denahnya rumah adat ini persis dengan tanda tambah.
Menurut Syamsiar Seman (2001), rumah tipe ini tidak terlalu panjang namun cukup besar. Memiliki Anjung Kiwa dan Anjung Kanan yang menyilang pada bangunan rumah dengan bentuk atap perisai dan berbentuk seperti limas. Bubungan atap berbentuk pelana pada bagian depan dan belakang. Pada bagian ini terpasang jamang (mahkota bubungan) dan tawing layar (tampuk bubungan).
Sesuai dengan fungsinya rumah Cacak Burung bisa didirikan oleh golongan manapun. Seperti rumah adat Banjar lainnya, rumah Cacak Burung atau Anjung Surung di bangun pada tepian sungai.
"Pada beberapa varian, rumah Cacak Burung dibangun agak menjauh dari tepi sungai, namun tetap dengan orientasi sungai," ujar Pakhri Anhar, Dosen Arsitektur Fakultas Teknik Unlam.
Seperti salah satu varian rumah Cacak Burung yang terletak di Jalan HM Cokrokusumo, No 117 Blok B, Kelurahan Cempaka, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru.
Rumah yang didirikan tahun 1928 M tersebut, awalnya H Abdul Karim seorang pedagang intan dan sekarang dihuni H Asmuni, cucu dari H Abdul Karim, juga seorang pedagang intan.
"Secara sepintas rumah ini menghadap jalan raya yang ada di depannya. Namun jika ditelusuri lebih jauh, terdapat sungai di depan rumah adat ini walaupun jaraknya agak jauh. Orientasi rumah diarahkan pada sungai sehingga bangunan menghadap ke arah Barat," terang Pakhri.
Tipe berikutnya adalah tipe hunian bagi rakyat jelata, seperti petani dan pedagang kecil, yakni rumah tadah alas. Bangunan ini memiliki atap tumpang di depan yang membedakan dengan bangunan yang lainnya. Rumah ini juga memiliki anjung pada samping kiri dan kanannya. Namun bentuk bangunan agak ramping dan tidak begitu panjang.
Salah satu rumah banjar tipe ini, terdapat di Desa Pesayangan Utara RT V RW II No 4, Martapura. Rumah yang tidak diketahui jelas kapan didirikan ini, sekarang menjadi asrama santri. Bangunan ini juga berorientasi ke arah sungai dan jalan yang ada di depannya.
Adapun rumah tipe joglo, ternyata juga eksis menjadi hunian rakyat Banjar, namun lebih spesifik rumah yang memiliki kemiripan dengan rumah joglo di Jawa ini, menurut sejarahnya banyak dihuni warga keturunan Cina yang berprofesi sebagai pedagang, sehingga rumah ini juga disebut rumah gudang.
Perbedaan rumah tipe joglo di Banjar dan di jawa adalah pada pucuk bubungan rumah Joglo Banjar lebih tumpul daripada joglo Jawa, serta Joglo Banjar memiliki konstruksi panggung sedangkan Joglo Jawa tidak.
Pada perkembangan selanjutnya, rumah Joglo lebih dikenal dengan rumah gudang tempat penyimpanan barang dagangan. "Makanya, kontruksi tongkat pada rumah Joglo dibuat kokoh," tambah Pembantu Dekan I Bidang Akademik FT Unlam ini.
Para pedagang Banjar mulai menggunakan rumah ini sebagai tempat penyimpanan barang dagangan mereka. Rumah Joglo tidak lagi identik dengan masyarakat pendatang (Cina).
Rumah ini mulai dibangun para pedagang Banjar. Hal ini dapat kita lihat dari rumah Joglo yang berada di Marabahan dan Sungai Jingah.
Rumah Joglo Marabahan RT VII dibangun oleh H Abdul Syukur seorang pedagang dari Muara Teweh. Pada rumah Joglo Marabahan RT IX dibangun oleh seorang pedagang yang bernama H. Yaqub. Demikian juga pada rumah Joglo Sungai Jingah yang dibangun oleh Datu Acah yang juga seorang pedagang. Hal ini memperlihatkan suatu perubahan persepsi masyarakat tentang keberadaan rumah Joglo pada masa tersebut. Rumah Joglo tidak lagi identik dengan pedagang Cina, tetapi terjadi suatu proses generalisasi bahwa rumah Joglo tersebut menjadi rumah atau tempat penyimpanan barang para pedagang Banjar.
Terakhir adalah Rumah Lanting, pada masa lalu Rumah Lanting memiliki peranan penting bagi masyarakat yang mendiaminya, karena transportasi ke daerah lain melewati sungai. Aktivitas ekonomi dan sosial budaya banyak dilakukan melalui sungai. Aktivitas ekonomi dan sosial budaya banyak dilakukan melalui sungai.
Bentuk Rumah Lanting cenderung sederhana, berbentuk segi empat panjang dengan ukuran sekitar 5 x 3 meter dengan konstruksi bubungan berbentuk atap pelana.
Sesuai namanya, rumah tipe ini dibangun di atas pelampung. Di atas pelampung disusun susuk dan gelagar ulin kemudian lantai papan untuk bangunan rumahnya. Pada bagian belakang terdapat dapur gantung untuk memasak. Fasitas ruangnya hanya dua, yaitu ruang keluarga yang berfungsi juga sebagai ruang tamu dan kamar tidur. Di depan lawang (pintu) terdapat titian yang menghubungkan lanting dengan pantai daratan.
Pada kiri kanan lanting terdapat tali kawat besar yang ujungnya terikat pada batang kayu atau tunggul ulin. Tali pengikat ini harus 2 pada sebelah hulu dan sebelah hilir, karena sungai mengalami pasang dan surut.
Sistem pondasi rumah lanting dibedakan menjadi dua yaitu menggunakan drum atau pelampung dan tiga batang kayu. Di atas pelampung atau kayu tersebut disusun balok dan gelagar ulin dan kemudian barulah dipasang papan lantai.
Papan untuk dinding dipasang secara horizontal sedangkan bahan yang digunakan disesuaikan dengan keinginan pemilik.
Pada awalnya rumah lanting dibangun oleh para nelayan, namun sekarang banyak penduduk kota yang membangunnya dengan alasan keterbatasan lahan yang tersedia di darat. Rumah lanting tidak hanya dijadikan sebagai tempat hunian, tetapi ada juga yang digunakan sebagai tempat berdagang. (bin)

sumber : http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/59/1152
hymunk - 11/06/2010 11:29 AM
#40
Eksotika Ornamen Tradisional Banjar
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Ornamen sebagai suatu aspek seni rupa telah menga lami perkembangan yang cukup maju dalam budaya tradisional orang Banjar. Ornamen sebagai ragam hias banyak ditemukan di rumah-rumah adat Banjar dan karya seni ini ternyata tak hanya sebagai hiasan tetapi juga sar filosofi.

Ornamen dalam arsitektur tradisional Banjar dikenal dengan istilah Tatah yang berbentuk Tatah surut (ukiran berupa relief), Tatah Babuku (ukiran dalam bentuk tiga dimensi) dan Tatah Baluang (ukiran berlubang).

Dalam buku Arsitektur Tradisional Banjar Kalimantan Selatan, Drs H Syamsiar Seman, mengatakan, dalam sebuah rumah adat Banjar terutama tipe bubungan tinggi, gajah baliku dan palimbangan terdapat dua belas bagian bangunan yang diberi ornamen khas.

Pertama, pucuk bubungan berbentuk lancip yang disebut layang-layang. Layang-layang dalam jumlah yang ganjil (lima) dengan ukiran motif tumbuhan paku alai, bogam, tombak atau keris.

Pada rumah tipe palimasan ornamen berbentuk sungkul dengan motif anak catur, piramida dan bulan bintang. Ukiran jamang sebagai mahkota bubungan terdapat pada rumah adat tipe palimbangan, balai laki, balai bini dan cacak burung. Jamang dalam bentuk simetris ini biasanya bermotif anak catur dengan kiri kanan bermotif paku alai, halilipan atau babalungan ayam.

Kedua, tawing layar atau tampuk bubungan (penutup kuda-kuda). Terutama terdapat pada rumah adat Banjar tipe palimbangan, balai laki dan cacak burung (anjung surung) yang memiliki bubungan atap pelana dengan puncak depan yang tajam. Karena ruangannya terbatas, hiasannya pun tak banyak. Umumnya berupa bundaran yang diapit segitiga dalam komposisi dedaunan. Ornamen di sini selalu dalam komposisi simetris.

Ketiga, pilis atau papilis (listplank). Terdapat pada tumbukan kasau yang sekaligus menjadi penutup ujung kasau bubungan tersebut. Juga pada banturan (di bawah cucuran atap) serta pada batis tawing (kaki dinding) bagian luar. Banyak motif digunakan antara lain rincung gagatas, pucuk rabung, tali bapintal, dadaunan, dalam berbagai kreasi, kumbang bagantung (distiril), paku alai, kulat karikit, gagalangan, i-itikan, sarang wanyi, kambang cangkih, teratai, gigi haruan dan lainnya.

Keempat, tangga. Pada puncak tangga terdapat ornament buah nenas. Adapula motif kembang melati yang belum mekar, tongkol daun pakis, belimbing, manggis, payung atau bulan sabit. Pada panapih tangga biasanya terdapat motif tali bapintal, dadaunan, buang mingkudu dan sulur-suluran. Pada pagar tangga digunakan ukiran tali bapintal atau garis geometris, pada kisi-kisi pagar tangga digunakan motif bunga melati, galang bakait, anak catur, motif huruf S dan berbagai motif campuran.

Kelima, palatar (teras). Bagian depan rumah yang mendapat sentuhan ukiran pada jurai samping kiri dan kanan atas, batis tawing dan kandang rasi. Ornamen pada jurai bisasnya mengambil motif hiris gagatas, pucuk rabung, daun paku atau sarang wanyi. Pada batis tawing bermotif dadaunan, sulur- suluran atau buah mingkudu.

Keenam, lawang (pintu). Bagian-bagian lawang yang diberi ornamen adalah dahi lawang (bagian atas pintu, semacam ventilasi), berukiran tali bapintal dalam bentuk lingkaran bulat telur. Komposisi bagiannya dilengkapi dengan motif suluruluran dan bunga-bungaan dengan kaligrafi Arab antara lain bertulis Laa ilaaha illallah, Muhammadarrasulullah, Allah dan Muhammad.

Kemudian jurai lawang (ornamen mirip tirai terbuka), berbentuk setengah lingkaran atau bulan sabit dengan kombinasi tali bapintal, sulur-suluran, bunga-bunga dan kaligrafi Arab. Tulisan dengan bentuk berganda atau berpantulan dengan komposisi dapat dibaca dari arah kiri ke kanan dan arah kanan ke kiri.

Selanjutnya, daun lawang (daun pintu), selalu menempatkan motif tali bapintal, baik pada pinggiran kusen pintu, maupun hiasan bagian dalam, tali bapintal pada bagian dalam dalam bentuk bulat telur atau hiris gagatas. Keempat sudut daun lawang banyak ornament bermotif pancar matahari dengan kombinasi dedaunan, di antaranya motif daun jaruju.

Ketujuh, lalungkang (jendela). Umumnya menempatkan ornamen sederhana pada dahi atau pula daun lalungkang berupa tatah bakurawang dengan motif bulan penuh, bulan sahiris, bulan bintang, bintang sudut lima, daun jalukap atau daun jaruju.

Kedelapan, watun. Sebagai sarana pinggir lantai terbuka yang diberi ornamen pada panapih yaitu dinding watun tersebut. Ornamen biasanya untuk panapih watun sambutan, watun jajakan dan watun langkahan yang ada pada ruangan panampik kacil, panampik tangah dan panampik basar. Terdapat ukiran dengan motif tali bapintal, sulur-suluran, dadaunan, kambang taratai, kacapiring, kananga, kambang matahari, buah-buahan dan lainnya.

Kembilan, tataban. Terletak di sepanjang kaki dinding bagian dalam ruang panampik basar. Ukiran di situ adalah pada panapih tataban tersebut. Umumnya sepanjang tataban tersebut mempergunakan ornamen dengan motif tali bapintal pada posisi pinggir. Motif lain pada dedaunan dan sulur-suluran dalam ujud kecil sepanjang jalur tataban tersebut.

Kesepuluh, tawing halat (dinding pembatas). Ornamen di dua daun pintu kembar ini harus seimbang dengan ragam hias. Biasanya motif tali bapintal tak ketinggal, buah dan dedaunan dengan kombinasi kaligrafi Arab.

Kesebelas, sampukan balok (pertemuan balok). Rumah adat Banjar tidak mengenal plafon, sehingga tampak adanya pertemuan dua balok pada bagian atas. Ukiran bermotif dedaunan dan garis-garis geometris.

Keduabelas, gantungan lampu. Balok rentang yang ada di atas pada posisi tengah dipasang pangkal tali untuk gantungan lampu. Sekeliling pangkal gantungan diberi ukiran bermotif dedaunan dan bunga dalam komposisi lingkaran berbentuk relief. (dea)

sumber : http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/4463/eksotika-ornamen-tradisional-banjar
Page 2 of 15 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan