Kalimantan Selatan
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
Total Views: 72819 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 15 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

hymunk - 11/06/2010 08:30 PM
#41
Lagu Banjar

[youtube]F3-E8yu56Co[/youtube]


Lagu Banjar adalah lagu-lagu berbahasa Banjar. Menurut seniman/ pencipta lagu-lagu Banjar yaitu H. Anang Ardiansyah (67 tahun) dilihat daerah perkembangannya lagu-lagu (pantun) berirama khas Banjar di Kalimantan Selatan terbagi menjadi 3 yaitu pantun yang berkembang di tepian sungai, pantun yang berkembang di daratan dan pantun yang berkembang di pesisir pantai.

Jenis-jenis pantun (lagu) tersebut antara lain :

* Lagu (Pantun) Rantauan yaitu lagu-lagu yang berkembang di sepanjang tepian sungai khususnya di daerah Banjar Kuala. Ciri-ciri lagu ini beralun-alun dan bergelombang-gelombang seperti gelombang sungai dan seperti orang yang meratapi nasib. Perbedaan lagu Rantauan dengan lagu Pasisiran, misalnya pada lagu Rantauan mangancang meratapi nasib (melengking tinggi sambil meratapi nasib), sedangkan lagu Pasisiran mangancang tapi ba-arti (melengking tinggi memiliki tujuan tertentu)
* Lagu (Pantun) Pandahan yaitu lagu-lagu Japin yang berasal dari Hulu Sungai (Banjar Hulu) yaitu dari Kota Rantau sampai Tanjung. Lagu ini disebut juga Lagu Tirik, karena dinyanyikan ketika urang ma-irik banih (orang yang sedang memisahkan bulir-bulir padi dengan tangkainya dengan cara diinjak-injak ketika panen). Lagu ini dinyanyikan sambil baturai (bersahut-sahutan, berbalas), dimana kata akhir sebuah bait dipakai lagi menjadi awal bait yang selanjutnya, contohnya lagu Paris Barantai ciptaan H. Anang Ardiansyah.
* Lagu (Pantun) Pasisiran yaitu lagu yang berkembang di daerah pesisiran Kota Baru (Sigam), yang dinyanyikan melengking-lengking dengan nada tinggi (karena ada sedikit pengaruh Bugis). Contohnya, lagu Japin Sigam yang mengiringi tari Japin Sigam. Lagu yang bernuansa pasisiran lainnya yaitu lagu Intan Marikit ciptaan Agit Kursani.

Ketiga jenis tersebut di atas merupakan jenis lagu-lagu Musik Panting. Pada musik panting yang asli di daerah Banjar di pakai tiga jenis alat musik saja yaitu panting (gambus), babun (gendang) dan agung (gong). Di daerah rantauan yang berbau Arab-Indonesia ditambahan alat musik kaprak. Dan ada pula yang menambahkan tamborin. Lagu Pandahan di Hulu Sungai menggunakan babun (gendang) sebagai unsur yang dominan, juga terdapat rebab dan terbang. Penambahan babun yang bunyinya menghentak-hentak sangat sesuai karena sering dipakai sebagai pengiring ba-kuntau (silat). Sedangkan Lagu Pasisiran ditambahkan biola (pengaruh Arab), karena fungsinya sebagai pengiring tarian Japin (Zafin) dengan hentakan kaki yang khas (kapincalan). Dari sinilah adanya unsur biola pada musik panting.

Sebagai pungkala (patron) dalam mengambil penciptaan jenis lagu Banjar dari 3 macam irama (cengkok):

* Dundam yaitu lagu-lagu yang agak sedih, seperti orang manggarunum (bergumam) tetapi dinyanyikan, misalnya menyanyikan lagu ketika mengayun anak dalam ayunan (menidurkan). Jenis ini juga dipakai sebagai nyanyian yang bercerita sejarah seperti kisah Putri Junjung Buih yang menyayat hati. Contoh irama dundam adalah lagu Tatangis ciptaan Hamiedan AC.
* Madihin yaitu lagu-lagu pada kesenian madihin. Contoh lagu irama madihin adalah lagu Dayuhan wan Intingan ciptaan H. Anang Ardiansyah
* Lamut yaitu lagu-lagu pada kesenian ba-lamut.

Lagu Ampar-Ampar Pisang ciptaan Thamrin, tapi dirilis oleh Hamiedan AC dan lagu Paris Barantai ciptaan H. Anang Ardiansyah merupakan dua lagu yang menjadi kiblat dalam mencipta lagu daerah Banjar. Hal ini karena kedua lagu inilah yang pertama kali direkam dan dikenal banyak orang.

sumber : http://id.wikibooks.org/wiki/Lagu_Banjar


[youtube]3vjTzBZZieo[/youtube]



(mohon maaf buat pencipta lagu ini...saya mencantumkan link lagu2 anda hanya sekedar berbagi dengan kawan2 yang mungkin ingin mengoleksinya sebagai obat pelipur lara kala jauh dari kampung halaman)

[B]Beberapa Link lagu2 banjar yang bisa di download..[/B]

http://www.misshacker.com/music/lagu-banjar-h-anang-a-paris-barantai_26beed.html
http://beemp3.com/download.php?file=5766734&song=Paris+barantai
http://www.index-of-mp3.com/get-download-kambang_goyang.html
http://www.indowebster.com/Khaidir_Ali_Kuta_Martapura.html
http://www.indowebster.com/Khaidir_Ali_Diang_Kakamban_Kuning.html
http://www.indowebster.com/Khaidir_Ali_Ading_Sayang.html
http://www.indowebster.com/Khaidir_Ali_Badatang.html
http://www.indowebster.com/Khaidir_Ali_Kada_Kasampaian.html
http://www.indowebster.com/Khaidir_Ali_Kamana_Hilangnya.html
http://www.indowebster.com/Khaidir_Ali_Gingsi__1.html
http://www.indowebster.com/Khaidir_Ali_Jimat_Japang__1.html
http://www.indowebster.com/AHamid_Janda_Partugal.html
http://www.indowebster.com/AHamid_Kapala_Pusing.html
http://www.indowebster.com/AHamid_Marotet.html
http://www.indowebster.com/Topi_Miring_original_version.html
http://www.indowebster.com/Bagagawilan.html
http://www.indowebster.com/Manuntun_Wayang.html
http://www.indowebster.com/Ading_Manis.html
http://www.indowebster.com/Arif_Maulana_Mascot_Banua_Banjar.html
http://www.indowebster.com/AHamid_Siti_Ropeah.html
http://www.indowebster.com/AHamid_Siti_Ropeah_Klip.html
http://www.indowebster.com/Khaidir_Ali_Jimat_Japang.html
http://www.indowebster.com/Khaidir_Ali_Gingsi.html
http://www.indowebster.com/John_Tralala_Kisah_Palui.html
http://www.indowebster.com/Mamadihinan.html
http://www.indowebster.com/Orkes_Rindang_Banua_Nasib_Tambangan__1.html
http://www.indowebster.com/Syamsudin_Chandra_Nasib_Tambangan.html
http://www.indowebster.com/Mila_Karmila_Ampat_Lima.html

kumpulan lagu2 banjar..

http://asyd.blogspot.com/2009/12/download-lagu-banjar.html
http://banjarmp3.tripod.com/lagu.html
http://mp3laguindonesia.com/download/lagu-banjar-mp3.html
http://www.mp3raid.com/music/lagu_banjar.html
http://www.bomb-mp3.com/index.php?search=lagu+banjar
hymunk - 12/06/2010 11:17 PM
#42
Pelabuhan Trisakti
Spoiler for Pelabuhan Trisakti
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



Pelabuhan Trisakti berada di wilayah Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Terbagi atas Pelabuhan penumpang dan pelabuhan barang (export, import, dan lokal).
Keberadaan Pelabuhan Banjarmasin telah dikenal sejak abad XIV dan letak
pelabuhannya ditepi Sungai Barito dengan nama Marapian, kemudian
berpindah ke Marabahan dan berpindah lagi ke sungai Martapura dengan
nama Pelabuhan Martapura.
Pada tahun 1925 dikeluarkan beslit Gubernur Jenderal No. 19 tanggal 25
Nopember 1925 yang kemudian diperbaiki dengan beslit No. 14 tanggal 17
Oktober 1938 Staatblad No. 616/1938 pengukuhan pengelolaan Pelabuhan
Martapura (Lama).
Pada tahun 1961 mulai dibangun Pelabuhan Trisakti di Sungai Barito,
mengingat daya tampung Pelabuhan Martapura (Lama) tidak memadai lagi.
Pada tanggal 10 September 1965 diresmikan pemakaian Pelabuhan baru
dengan nama Pelabuhan Trisakti Banjarmasin atau disebut Pelabuhan
Banjarmasin.

sumber narasi :
http://www.dephub.go.id/files/media/file/25%20pelabuhan/Banjarmasin.pdf

sumber foto :
http://asinamura.multiply.com/photos/album/14/Pelabuhan_Trisakti_-_Banjarmasin
http://kabarbanua.blogspot.com/2009/04/pelabuhan-trisakti.html
hymunk - 12/06/2010 11:22 PM
#43
Masjid Sultan Suriansyah
Spoiler for Masjid Sultan Suriansyah
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



Masjid Sultan Suriansyah adalah sebuah masjid bersejarah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara, Banjarmasin, kawasan yang dikenal sebagai Banjar Lama merupakan situs ibukota Kesultanan Banjar yang pertama kali. Masjid ini letaknya berdekatan dengan komplek makam Sultan Suriansyah dan di seberangnya terdapat sungai kuin.

Bentuk arsitektur dengan konstruksi panggung dan beratap tumpang, merupakan masjid bergaya tradisional Banjar. Masjid bergaya tradisional Banjar pada bagian mihrabnya memiliki atap sendiri terpisah dengan bangunan induk. Masjid ini didirikan di tepi sungai Kuin.

Bentuk bangunan masjid Panggung dan atap tumpang tiga yang diberi hiasan sungkul dan Jamang. Bangunan masjid ini berukuran 26,1 x 22,6 m diatas tanah berukuran 30 x 25 meter. Pemugaran pertama masjid ini pada tahun 1976 oleh Kodam X Lambung Mangkurat dan yang kedua tahun 1978. Setelah pembangunan yang kedua inilah bangunan ini ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya yang dilndungi undang-undang. Masjid Sultan Suriansyah berlokasi di Kuin Utara, kota Banjarmasin.

Masjid ini merupakan situs Kesultanan Banjar. Masjid ini juga berdekatan langsung dengan komplek makam Sultan Suriansyah. Kekunoan masjid ini dapat dilihat pada 2 buah inskripsi yang tertulis pada bidang berbentuk segi delapan berukuran 50 cm x 50 cm yakni pada dua daun pintu Lawang Agung. Kedua inskripsi ini menunjukan hari senin 10 Sya’ban 1159 telah berlangsung pembuatan Lawang Agung(renovasi masjid) oleh Kiai Demang Astungkara pada masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I (1734 -1759).

Masjid dengan arsitektur kuno ini masih kokoh berdiri hingga sekarang, didalamnya kita bisa melihat ornamen-ornamen khas banjar. Didalam masjid juga terdapat sebuah Mimbar Kuno yang masih digunakan oleh khatib untuk khutbah Jum’at. Walaupun tidak terlalu besar, masjid Sultan Suriansyah adalah saksi bisu perkembangan Kota Banjarmasin dari masa ke masa.


sumber foto :
http://www.facebook.com/album.php?aid=2040897&id=1003230454&op=18

http://wisatabanjarmasin.com/home/index.php?option=com_content&view=article&id=67%3Amesjidsultansuria nsyah&catid=39%3Areligius&Itemid=85&lang=in

sumber narasi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Sultan_Suriansyah
http://wisatasejarah.wordpress.com/2009/09/11/masjid-sultan-suriansyah/
hymunk - 13/06/2010 12:11 AM
#44
Komplek makam sultan suriansyah
Spoiler for Komplek Makam Sultan Suriansyah
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


KOMPLEK MAKAM SULTAN SURIANSYAH adalah sebuah kompleks pemakaman yang terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Sultan Suriansyah adalah raja Kerajaan Banjar ke-1 yang memeluk agama Islam. Sewaktu kecil ia bernama Raden Samudera, setelah diangkat menjadi raja namanya menjadi Pangeran Samudera dan setelah memeluk Islam namanya menjadi Sultan Suriansyah. Gelar lainnya adalah Panembahan atau Susuhunan Batu Habang.

Sultan Suriansyah berasal dari keturunan raja-raja Kerajaan Negara Daha. Ia adalah Raja Banjar pertama yang memeluk Islam, dan sejak beliaulah agama Islam menjadi agama resmi dan berkembang pesat di Kalimantan Selatan. Untuk pelaksanaan dan penyiaran agama Islam beliau membangun sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Sultan Suriansyah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid itu terletak tidak jauh dari komplek pemakaman ini.

Menurut sarjana Belanda J.C. Noorlander bahwa berdasarkan nisan makam, maka umur kuburan dapat dihitung sejak lebih kurang tahun 1550, berarti Sultan Suriansyah meninggal pada tahun 1550, sehingga itu dianggap sebagai masa akhir pemerintahannya. Ia bergelar Susuhunan Batu Habang.

Masa pemerintahan Sultan Suriansyah berlangsung sekitar tahun 1526-1546. Sehubungan dengan hal ini juga dapat menetapkan bahwa hari jadi kota Banjarmasin jatuh pada tanggal 24 September 1526.

Selain Sultan Suriansyah, di komplek pemakaman ini juga dikebumikan tokoh-tokoh kerajaan Banjar lainnya, yaitu: Ratu Intan Sari, Sultan Rahmatullah, Sultan Hidayatullah, Makam Syeh Maulana Syarif Hidayatullah Al Idrus (Khatib Dayan), Patih Kuin, Patih Masih, Senopati Antakusuma, Syekh Abdul Malik, Haji Sa'anah, Pangeran Ahmad, Pangeran Muhammad, Sayyid Ahmad Idrus, Gusti Muhammad Arsyad, Kiai Datu Bukasim, Anak Tionghoa Muslim.

Tokoh-tokoh yang dimakamkan
* Sultan Suriansyah
Sultan Suriansyah berasal dari keturunan raja-raja Kerajaan Negara Daha. Ia merupakan Raja Banjar pertama yang memeluk Islam, dan sejak beliaulah agama Islam berkembang resmi dan pesat di Kalimantan Selatan. Untuk pelaksanaan dan penyiaran agama Islam beliau membangun sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Sultan Suriansyah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Menurut sarjana Belanda J.C. Noorlander bahwa berdasarkan nisan makam, maka umur kuburan dapat dihitung sejak lebih kurang tahun 1550, berarti Sultan Suriansyah meninggal pada tahun 1550, sehingga itu dianggap sebagai masa akhir pemerintahannya. Ia bergelar Susuhunan Batu Habang.
Menurut M. Idwar Saleh bahwa masa pemerintahan Sultan Suriansyah berlangsung sekitar tahun 1526-1550. Sehubungan dengan hal ini juga dapat menetapkan bahwa hari jadi kota Banjarmasin jatuh pada tanggal 24 September 1526.

* Ratu Intan Sari
Ratu Intan Sari atau Puteri Galuh adalah ibu kandung Sultan Suriansyah. Ketika itu Raden Samudera baru berumur 7 tahun dengan tiada diketahui ayahnya Raden Manteri Jaya menghilang, maka tinggallah Raden Samudera bersama ibunya. Pada masa itu Maharaja Sukarama, raja Negara Daha berwasiat agar Raden Samudera sebagai penggantinya ketika ia mangkat. Tatkala itu pula Raden Samudera menjadi terancam keselamatannya, berhubung kedua pamannya tidak mau menerima wasiat, yaitu Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung, karena kedua orang ini sebenarnya kemenakan Sukarama. Ratu Intan Sari khawatir, lalu Raden Samudera dilarikan ke Banjar Masih dan akhirnya dipelihara oleh Patih Masih dan Patih Kuin. Setelah sekitar 14 tahun kemudian mereka mengangkatnya menjadi raja (berdirinya kerajaan Banjar Masih/Banjarmasin). Ratu Intan Sari meninggal pada awal abad ke-16.

* Sultan Rahmatullah
Sultan Rahmatullah putera Sultan Suriansyah, beliau raja Banjar ke-2 yang bergelar Susuhunan Batu Putih. Masa pemerintahannya tahun 1550-1570.
* Sultan Hidayatullah
Sultan Hidayatullah, raja Banjar ke-3, cucu Sultan Suriansyah. Ia bergelar Susuhunan Batu Irang. Masa pemerintahannya tahun 1570-1595. Ia senang memperdalam syiar agama Islam. Pembangunan masjid dan langgar (surau) telah banyak didirikan dan berkembang pesat hingga ke pelosok perkampungan.

* Khatib Dayan
Pada tahun 1521 datanglah seorang tokoh ulama besar dari Kerajaan Demak bernama Khatib Dayan ke Banjar Masih untuk mengislamkan Raden Samudera beserta sejumlah kerabat istana, sesuai dengan janji semasa pertentangan antara Kerajaan Negara Daha dengan Kerajaan Banjar Masih. Khatib Dayan merupakan keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon, Jawa Barat. Ia menyampaikan syiar-syiar Islam dengan kitab pegangan Surat Layang Kalimah Sada di dalam bahasa Jawa. Ia seorang ulama dan pahlawan yang telah mengembangkan dan menyebarkan agama Islam di Kerajaan Banjar sampai akhir hayatnya.

* Patih Kuin
Patih Kuin adalah adik kandung Patih Masih. Ia memimpin di daerah Kuin. Ketika itu ia telah menemukan Raden Samudera dan memeliharanya sebagai anak angkat. Pada masa beliau keadaan negerinya aman dan makmur serta hubungan dengan Jawa sangat akrab dan baik. Ia meninggal pada awal abad ke-16.

* Patih Masih
Patih Masih adalah seorang pemimpin orang-orang Melayu yang sangat bijaksana, berani dan sakti. Ia memimpin di daerah Banjar Masih secara turun temurun. Ia keturunan Patih Simbar Laut yang menjabat Sang Panimba Segara, salah satu anggota Manteri Ampat. Ia meninggal sekitar awal abad ke-16.

* Senopati Antakusuma
Senopati Antakusuma adalah cucu Sultan Suriansyah. Ia seorang panglima perang di Kerajaan Banjar dan sangat pemberani yang diberi gelar Hulubalang Kerajaan. Ia meninggal pada awal abad ke-16.

* Syekh Abdul Malik
Syekh Abdul Malik atau Haji Batu merupakan seorang ulama besar di Kerajaan Banjar pada masa pemerintahan Sultan Rahmatullah. Ia meninggal pada tahun 1640.

* Haji Sa'anah
Wan Sa'anah berasal dari keturunan Kerajaan Brunei Darussalam. Ia menikah dengan Datu Buna cucu Kiai Marta Sura, seorang menteri di Kerajaan Banjar. Semasa hidupnya Wan Sa'anah senang mengaji Al-Qur'an dan mengajarkan tentang keislaman seperti ilmu tauhid dan sebagainya. Ia meninggal pada tahun 1825.

* Pangeran Ahmad
Pangeran Ahmad merupakan seorang senopati Kerajaan Banjar di masa Sultan Rahmatullah, yang diberi tugas sebagai punggawa atau pengatur hulubalang jaga. Ia sangat disayangi raja dan dipercaya. Ia meninggal pada tahun 1630.

* Pangeran Muhammad
Pangeran Muhammad adalah adik kandung Pangeran Ahmad, juga sebagai senopati Kearton di masa Sultan Hidayatullah I. Ia meninggal pada tahun 1645.

* Sayyid Ahmad Iderus
Sayyid Ahmad Iderus adalah seorang ulama dari Mekkah yang datang ke Kerajaan Banjar bersama-sama Haji Batu (Syekh Abdul Malik). Ia menyampaikan syiar-syiar agama Islam dan berdakwah di tiap-tiap masjid dan langgar (surau). Ia meninggal pada tahun 1681.

* Gusti Muhammad Arsyad
Gusti Muhammad Arsyad putera dari Pangeran Muhammad Said. Ia meneruskan perjuangan kakeknya Pangeran Pangeran Antasari melawan penjajah Belanda. Ia kena tipu Belanda, hingga diasingkan ke Cianjur beserta anak buahnya, setelah meletus perang dunia, ia dipulangkan ke Banjarmasin. Ia meninggal pada thaun 1938.

* Kiai Datu Bukasim
Kiai Datu Bukasim merupakan seorang menteri di Kerajaan Banjar. Ia keturunan Kiai Marta Sura, yang menjabat Sang Panimba Segara (salah satu jabatan menteri). Ia meninggal pada tahun 1681.

* Anak Tionghoa Muslim
Pada permulaan abad ke-18, seorang Tionghoa datang berdagang ke Banjarmasin. Ia berdiam di Kuin Cerucuk dan masuk Islam sebagai muallaf. Tatkala itu anaknya bermain-main di tepi sungai, hingga jatuh terbawa arus sampai ke Ujung Panti. Atas mufakat tetua di daerah Kuin, mayat anak itu dimakamkan di dalam komplek makam Sultan Suriansyah.

Lokasi: Kuin Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia

sumber : http://www.facebook.com/album.php?aid=2041497&id=1003230454&op=12
hymunk - 13/06/2010 12:27 AM
#45
Museum Wasaka (Waja Sampai Kaputing)
Spoiler for Museum Waja Sampai Kaputing

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Museum Wasaka (Waja Sampai Kaputing) adalah salah satu museum yang terdapat di Kalimantan Selatan. Museum yang bangunannya berarsitektur rumah tradisional Banjar tipe ‘Bubungan Tinggi’ ini, adalah museum sejarah perjuangan rakyat Banjar dalam perang merebut kemerdekaan. Dalam museum yang diresmikan pada 10 November 1991 ini terdapat lebih dari 400 benda-benda bersejarah, khususnya yang digunakan pejuang Banjar di masa revolusi fisik tahun 1945 – 1949, seperti tombak, mandau, senapan, mortir, dll.

Museum ini terletak di Jalan Sultan Adam, Komplek H. Andir, Kampung Kenanga Ulu RT 14, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara. Tepatnya di tepian sungai, berdampingan dengan sebuah jembatan besi yang kokoh dan panjang, yakni Jembatan 17 Mei atau yang biasa disebut Jembatan Banua Anyar.

Nama “Waja Sampai Kaputing” (WaSaKa) diambil dari motto perjuangan rakyat Kalimantan Selatan. Terjemahan harfiahnya adalah ”Baja Sampai Keujung” yang bermakna rakyat Banjarmasin tangguh luar-dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Lokasi: Kampung Kenanga, Kelurahan Sungai Jingah, Banjarmasin Utara, Kalimantan Selatan, Indonesia.

sumber : http://www.facebook.com/album.php?aid=2041575&id=1003230454&op=12
hymunk - 13/06/2010 12:49 AM
#46
Pasar Terapung Muara Kuin
Spoiler for pasar terapung kuin
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah shalat Subuh sampai selepas pukul 07:00 pagi. Matahari terbit memantulkan cahaya di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak-anak sungainya.

Suasana dan kegiatan pasar
Dengan menyaksikan panoramanya, wisatawan seakan-akan sedang tamasya. Jukung-jukung dengan sarat muatan barang dagangan sayur mayur, buah-buahan, segala jenis ikan dan berbagai kebutuhan rumah tangga tersedia di pasar terapung. Ketika matahari mulai muncul berangsur-angsur pasar pun mulai menyepi, sang pedagang pun mulai beranjak meninggalkan pasar terapung membawa hasil yang diperoleh dengan kepuasan.

Suasana pasar terapung yang unik dan khas adalah berdesak-desakan antara perahu besar dan kecil saling mencari pembeli dan penjual yang selalu berseliweran kian kemari dan selalu oleng dimainkan gelombang sungai Barito. Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pada pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung atau pembagian pedagang bersarkan barang dagangan.

Para pedagang wanita yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri atau tetangganya disebut dukuh, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk, sesuatu yang unik dan langka.

Potensi wisata

Obyek wisata ini sering dianggap sebagai daya tarik yang fantastik, Banjarmasin bagaikan Venesia di Timur Dunia, karena keduanya memiliki potensi wisata sungai. Namun kedua kota berbeda alam dan latar belakang budayanya. Di Banjarmasin masih banyak ditemui di sepanjang sungai rumah-rumah terapung yang disebut rumah lanting, yang selalu oleng dimainkan gelombang.

Daerah Kuin merupakan tipe permukiman yang berada di sepanjang aliran sungai (waterfront village) yang memiliki beberapa daya tarik pariwisata, baik berupa wisata alam, wisata budaya maupun wisata budaya. Kehidupan masyarakatnya erat dengan kehidupan sungai seperti pasar terapung, perkampungan tepian sungai dengan arsitektur tradisionalnya. Hilir mudiknya aneka perahu tradisional dengan beraneka muatan merupakan atraksi yang menarik bagi wisatawan, bahkan diharapkan dapat dikembangkan menjadi desa wisata sehingga dapat menjadi pembentuk citra dalam promosi kepariwisataan Kalimantan Selatan. Masih di kawasan yang sama wisatawan dapat pula mengunjungi Masjid Sultan Suriansyah dan Komplek Makam Sultan Suriansyah, pulau Kembang, pulau Kaget dan pulau Bakut. Di Kuin juga terdapat kerajinan ukiran untuk ornamen rumah Banjar.

Kini pasar terapung Kuin dipastikan menyusul punah berganti dengan pasar darat. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Kuin harus menelan kekecewaan karena tidak menjumpai adanya geliat eksotisme pasar di atas air.

Kepunahan pasar tradisional di daerah "seribu sungai" ini dipicu oleh kemaruk budaya darat serta ditunjang dengan pembangunan daerah yang selalu berorientasi kedaratan. Jalur-jalur sungai dan kanal musnah tergantikan dengan kemudahan jalan darat. Masyarakat yang dulu banyak memiliki jukung, sekarang telah bangga memiliki sepeda motor atau mobil.

sumber :
http://google.com
http://flickr.com
http://fotokalipaksi.files.wordpress.com
http://www.banjarmasinkota.go.id/skpd/7/12.html
hymunk - 13/06/2010 01:18 AM
#47
Masjid Sabilal Muhtadin
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Sabilal Muhtadin, nama pilihan untuk Mesjid Raya Banjarmasin ini, adalah sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap Ulama Besar alm. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary (1710 — 1812 M) yang selama hidup-nya memperdalam dan mengembangkan agama Islam di Kerajaan Banjar atau Kalimantan Selatan sekarang ini.
Ulama Besar ini tidak saja dikenal di seluruh Nusantara, akan tetapi dikenal dan dihormati meliwati batas negerinya sampai ke Malaka, Filipina, Bombay, Mekkah, Madinah, Istambul dan Mesir.

Bangunan fisik
Mesjid Raya Sabilal Muhtadin ini di-bangun di atas tanah yang luasnya 100.000 M2, letaknya ditengah-tengah kota Banjarmasin, yang sebelumnya adalah Kompiek Asrama Tentara Tatas. Pada waktu zaman kolonialisme Belanda tempat ini dikenal dengan Fort Tatas atau Benteng Tatas. Bangunan Mesjid terbagi atas Bangunan Utama dan Menara; bangunan utama luasnya 5250 M2, yaitu ruang tempat ibadah 3250 M2, ruang bagian dalam yang sebagian berlantai dua, luasnya 2000 M2. Menara mesjid terdiri atas 1
menara-besar yang tingginya 45 M, dan 4 menara-kecil, yang tingginya masing-masing 21 M. Pada bagian atas bangunan-utama terdapat kubah-besar dengan garis tengah 38 M, terbuat dari bahan aluminium sheet Kalcolour ber-warna emas yang ditopang oleh susunan kerangka baja. Dan kubah menara-kecil garis-tengahnya 5 dan 6 M.
Kemudian seperti biasanya yang ter dapat pada setiap mesjid-raya, maka pada Mesjid Raya Sabilal Muhtadin ini juga, kita dapati hiasan Kaligrafi bertuliskan ayat-ayat Al-Qur'an dan As-maul Husna, yaitu 99 nama untuk Ke-agungan Tuhan serta nama-nama 4 Khalifah Utama dalam Islam. Kaligrafi itu seluruhnya dibentuk dari bahan tembaga yang dihitamkan dengan pe-milihan bentuk tulisan-arab (kaligrafi) yang ditangani secara cermat dan tepat, maksudnya tentu tiada lain adalah upaya menampilkan bobot ataupun
makna yang tersirat dari ayat-ayat suci itu sendiri. Demikian juga pada pintu, krawang dan railing, keseluruh annya dibuat dari bahan tembaga de ngan bentuk relief berdasarkan seni ragam hias yang banyak terdapat di daerah Kalimantan.
Dinding serta lantai bangunan, menara dan turap plaza, juga sebagian dari kolam, keseluruhannya berlapiskan marmer; ruang tempat mengambil air wudhu, dinding dan lantainya dilapis dengan porselein, sedang untuk plaza keseluruhannya dilapis dengan keramik. Seluruh bangunan Mesjid Raya ini, dengan luas seperti disebut di atas, pada bagian dalam dan halaman bangunan, dapat menampung jemaah sebanyak 15.000 orang, yaitu 7.500 pada bagian dalam dan 7.500 pada bagian halaman bangunan.

sumber :
http://www.facebook.com/album.php?aid=2041777&id=1003230454&op=6
http://www.facebook.com/notes.php?id=91157411502

http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:-q-ifJkhTewJ:idb2.wikispaces.com/file/view/Masjid%2BRaya%2B Sabilal%2BMuhtadin.pdf+Masjid+Sabilal+Muhtadin&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESgCLCvP-84nz-mazyfLxCb19 rKVYakX8J4WM-hQxAL7fi5vhR0He8fbzyOEIdl0K8IFnYgJN4dbZmKK2NlIuYXe5O-ZBisFQc2ttH07x1tLfKrujOwdgH756HdVdy ev1rC1ZZ3n&sig=AHIEtbTsrRpB9ZWE98EF5PjpH-UR3Ls2ew
hymunk - 13/06/2010 01:29 AM
#48
Jembatan Barito
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Jembatan Barito adalah jembatan yang membelah Sungai Barito di Kabupaten Barito Kuala (dekat Kota Banjarmasin), Kalimantan Selatan, Indonesia. Jembatan ini memiliki panjang 1.082 meter yang melintasi Sungai Barito selebar 800 meter dan pulau kecil (Pulau Bakut) selebar 200 meter. Jembatan ini terdiri dari jembatan utama sepanjang 902 meter, dan jembatan pendekat 180 meter, dengan lebar 10,37 meter. Ketinggian ruang bebas jembatan utama 15 - 18 meter, sehingga bisa digunakan untuk lalu lintas perairan.

Jembatan ini pertama kali diresmikan pada tahun 1997 oleh Presiden Soeharto.

sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Jembatan_Barito
hymunk - 13/06/2010 01:39 AM
#49
Pulau Kembang
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Pulau Kembang adalah sebuah delta yang terletak di tengah sungai Barito yang termasuk di dalam wilayah administratif kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, provinsi Kalimantan Selatan. Pulau Kembang terletak di sebelah barat Kota Banjarmasin. Pulau Kembang ditetapkan sebagai hutan wisata berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 788/Kptsum12/1976 dengan luas 60 Ha.

Pulau Kembang merupakan habitat bagi kera ekor panjang (monyet) dan beberapa jenis burung. Kawasan pulau Kembang juga merupakan salah satu obyek wisata yang berada di dalam kawasan hutan di Kabupaten Barito Kuala.

Di dalam kawasan hutan wisata ini terdapat altar yang diperuntukkan sebagai tempat meletakkan sesaji bagi " penjaga" pulau Kembang yang dilambangkan dengan dua buah arca berwujud kera berwarna putih (Hanoman), oleh masyarakat dari etnis Tionghoa-Indonesia yang mempunyai kaul atau nazar tertentu. Seekor kambing jantan yang tanduknya dilapisi emas biasanya dilepaskan ke dalam hutan pulau Kembang apabila sebuah permohonan berhasil atau terkabul.

Kenapa disebut Pulau Kembang, konon katanya Pulau yang merupakan delta dari sungai Barito ini hanya berupa tumpukan tanah biasa dan lama berkembang terus dengan semakin banyak tanahnya dan kemudian ditumbuhi tumbuhan sehingga terus berkembang, sehingga nama delta tersebut menjadi Pulau Kembang.

sumber :
http://jalanjalanterus.wordpress.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Kembang
hymunk - 13/06/2010 01:55 AM
#50
Taman Maskot
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Taman yang terletak di Jl. Djok Mentaya ini merupakan taman yang telah menjadi paru-paru kota Banjarmasin. Diberi nama Taman Maskot karena di taman ini terdapat patung kera Bekantan yang menjadi maskot kota Banjarmasin. Selain itu di taman ini juga terdapat pohon Kasturi, sejenis pohon yang mempunyai buah seperti mangga yang berbau harum dan rasannya manis yang khas. Apabila kita memasuki taman melalui pintu gerbang utama, anda akan di sambut oleh patung kera Bekantan sebesar tubuh orang dewasa yang tepat menghadap pintu gerbang. Kemudian kurang lebih berjarak 5 meter di belakangnya terdapat juga sebuah tugu berbentuk segi empat dengan tinggi kurang lebih 300 cm,di atas tugu tersebut berdiri sebuah patung pohon yang pada cabang-cabangnya terdapat patung-patung kera yang seakan-akan sedang bergelantungan.

Di dalam taman, kita dapat menghirup udara bebas yang segar karena banyak terdapat pepohonan yang berfungsi menyaring udara. Pepohonan tersebut diantaranya adalah beringin, kasturi, mangga, kelapa gaging, kelapa sawit dan lain-lain. Walaupun areanya tidak begitu luas, taman yang dulunya juga berfungsi sebagai kebun binatang ini juga dijadikan sebagai taman percontohan Kalimantan Selatan. Taman Maskot merupakan tempat yang cocok bagi keluarga anda untuk bersantai dengan keluarga, disini juga disediakan fasilitas bermain untuk anak-anak. Jadi bagi anda yang ingin melepas lelah sambil memanjakan anak anda dengan permainan yang seru, Taman Maskot bisa jadi pilihan yang menarik dan murah karena tidak ada biaya yang dipungut ketika masuk ke tempat ini.

Lokasi :
Jl. Djok Mentaya di samping Komplek Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

Sumber : http://www.banjarmasinbox.com/tempat-seru/hiburan-keluarga/taman-maskot-di-banjarmasin/
hymunk - 13/06/2010 02:08 AM
#51
Taman Siring Sungai Martapura
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Taman Siring Sungai Martapura berada di pinggir Sungai Martapura, tepatnya diseberang Kompleks Mesjid Raya Sabilal Muhtadin Jl. Jendral Sudirman Banjarmaasin. Taman Siring Sungai Martapura dibangun pada tahun 2004 . Hal ini membuat objek wisata ini, bisa menjadi pilihan yang tepat bagi anda untuk bersantai dan bercengkrama dengan keluarga atau sesama teman.

Kota Banjarmasin yang identik dengan Kota Seribu Sungai rasanya tidak lengkap anda kunjungi jika tidak sempat ke Taman Siring Sungai Martapura. Dengan akses yang mudah dan tanpa biaya masuk, tempat ini layak masuk dalam daftar tempat yang harus dikunjungi ketika di Banjarmasin.

Pada Akhir pekan, tempat ini cukup ramai dikunjungi oleh warga Banjarmasin. Baik hanya sekedar untuk bersantai atau hanya sekedar menikmati angin sepoi-sepoi di sore hari. Tempat ini juga dijadikan tempat hang out bagi para muda – mudi Banjarmasin.

Walaupun di Taman Siring Sungai Martapura disediakan bangku-bangku kecil saja untuk menambah kenyamanan para yang berkunjung kemari.

sumber :
http://wisatabanjarmasin.com/home/index.php?option=com_content&view=article&id=71&Itemid=87&lang=in
hymunk - 13/06/2010 08:56 PM
#52
Link Seni dan Budaya Kalimantan Selatan
Religi

Tuan Guru H.M. Zaini Abdul Ghani Al-Banjari (Guru Ijai)
Sajak "Saraba Ampat" Karya Syech Abdul Jalil / Datu Sanggul pada abad 18 M di Banjar Kalimantan Selatan
Datu Sanggul dan Kitab Barencong...
Silsilah Kitab Barencong...


Sejarah


Surat Wasiat Sultan Adam kepada Pr.Hidayatullah

DAHSYATNYA PERANG SABIL URANG BANJAR
Salah satu peristiwa Perang Banjar.......

Sultan Hidayatullah Memaklumatkan Perang Jihad Fisabilillah

HARAM MANYARAH !!!
Potret Banua (Jaman Kolonial)
HIKAYAT DAYAK & BANJAR VERSI URANG BANUA
Hikayat Banjar sebagai Sastra Sejarah
Penelitian-Penelitian terhadap Hikayat Banjar
Mitos-Mitos dalam Hikayat Banjar..
Pembangunan PLTA Riam Kanan
sejarah dan nilai tradisional: Mengapa Perlu Proklamasi 17 Mei 1949
BENTENG GUNUNG MADANG
Kesultanan Banjar,lebih tua 600 tahun dibandingkan dengan Kerajaan KUTAI MARTAPURA-KALTIM.(versi wikipedia)
DARI ZAMAN MEGALITIK – TANJUNG PURI – CANDI LARAS SAMPAI PANGLIMA BATUR


Kesenian

ASAL MULA MUSIK PANTING
Alat musik tradional Panting
Sarbai dan Kampung Budaya
Idrus, Pelestari Seni Tradisi Kalimantan..
Generasi Kuriding (Patah)...
Hidup dari Wayang Kulit Banjar..
Wayang Purwa Banjar
NASIB KESENIAN TRADISIONAL WAYANG GUNG BANJAR
SAJUMPUT TENTANG SASTRA BANJAR ‘ LAMUT ‘
SAKILARAN TENTANG SASTRA BANJAR ‘ MADIHIN
Sekilas Mengenal Teater Tradisional Kalsel “ Mamanda “
Anang Ardiansyah Cipta 115 Lagu Daerah Banjar
MUSIK KENTUNG ( MUSIK TRADISIONAL BANJAR)
SEJARAH DAN PERANAN MUSIK PANTING


Budaya

Kamus Bahasa Banjar (Kalimantan Selatan)
KBB II DAN PENGALAMAN KEBANJARAN
BANGGA BUDAYA MELALUI KAOS
Bakumpai : Dayak dan Muslim
Mayang Digantung, Orang Halus Diundang
Balogo
Urang Banjar Banyak Tidak Kenal Budaya Leluhur...
Penjaga Identitas Kesenian Rakyat Banjar.

Catatan Kongres Kebudayaan Banjar II
Maningau Kongres Budaya Banjar II
Catatan Kongres Kebudayaan Banjar II
Obrolan ringan; Kongres Budaya Banjar...!!!???




Obyek Wisata

PASAR TERAPUNG
POTENSI PARIWISATA ALAM KALSEL
Pantai Takisung
Pasar Terapung (Floating Market), Muara Kuin Banjarmasin

Lainnya

Nasalis Larvatus
specimen bekantan

Kuliner khas Banjar
Buah khas kalsel
KULINER
Buku potong, lipat dan tempel..Rumat Adat Bubungan Tinggi
Menyelusuri Tepian Pulau Kaget
gasan malancari bahasa banjar Kalimantan Selatan klasik


Video



Gelar Budaya Nusantara 2009
Banjarmasin's traditional cloth
Banjarmasin Floating Market - Kalimantan Selatan
Selamat Datang ke Kalsel (Kalimantan Selatan)
Instument Panting_ampar ampar pisang
Instrument" Banjar_Alahai Sayang
Film Indie "Habar Matan Yogya"

Instrument Musik Panting Banjar_Ampat Lima

Sanggar Musik Panting Dendang Banua Yogyakarta_Rindu-rindu Live
Amas mirah [HQ]
Amas Mirah
Madihin Kesenian BANJAR JOHN TRALALA DI SUNGAI BULUH
Video wayang Banjar
Pasar Terapung Banjarmasin 1
Pasar Terapung Banjarmasin 3
Pasar Terapung Banjarmasin 4 [HQ]
Instrument Musik Panting Banjar_Baras Kuning
Manuntut janji [HQ]
Radja "Paris Barantai"
Kumpulan Video Mamanda
KAMBANG GOYANG- H. Anang Ardiansyah
PANGERAN SURIANSYAH- H.Anang Ardiansyah
Tirik - DANDAMAN BANUA - Emilia Agus - Lagu Banjar Kalimantan Selatan
hymunk - 21/06/2010 11:44 PM
#53
Masjid Sabilal Muhtadin
Masjid Kebanggan warga Kalimantan Selatan

Spoiler for Masjid sabilal muhtadin
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for Masjid sabilal muhtadin
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



sumber :http://www.flickr.com/photos/cotz/
hymunk - 21/06/2010 11:51 PM
#54
Klenteng
Klenteng di ujung jalan veteran, Kota Banjarmasin.
Alamat : jalan Niaga No.45 Banjarmasin , Kalimantan Selatan . Indonesia.

Spoiler for klenteng
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


sumber : http://www.flickr.com/photos/cotz/
hymunk - 22/06/2010 11:51 PM
#55
Gedung Sultan Suriansyah
Gedung Sultan Suriansyah (sering disebut gedung susu) penamaan gedung ini sebagai penghargaan atas jasa Pahlawan dari Kalimantan Selatan Sultan Suriansyah

digunakan untuk berbagai even baik seni budaya maupun acara lainnya

Spoiler for tampak luar
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for ukiran tatah kerawang pada salah satu bagian gedung
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for panggung
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for bagian dalam
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


sumber :
wikipedia
http://merthayasa.wordpress.com/2009/04/
hymunk - 23/06/2010 12:43 AM
#56
Kesenian Dayak (Naik Manau dan Balian Bulat)
Suku Dayak memiliki upacara balian bulat. Tradisi balian ini dibuat menjadi suatu atraksi kesenian yang disebut Tari Tandik Balian

Spoiler for Balian Bulat
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



Spoiler for Naik Manau
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Naik Manau = Merupakan Keterampilan yang dimiliki Suku Dayak pedalaman Kalimantan Selatan menaiki sejenis Rotan yang ukurannya cukup besar memiliki banyak duri yang sangat tajam yang disebut Rotan Manau

Jumat, 23 Februari 2007 01:10

Tanjung, BPost
Pemerintah Kabupaten Tabalong harus segera memerhatikan pengembangan dan pembinaan kesenian khas suku Dayak, karena kekayaan budaya ini terancam punah.

Keturunan suku dayak yang masih kuat memegang tradisi sulit ditemukan. Kalaupun ada, mereka umumnya masih tinggal di pedalaman yang sulit dijangkau.

Sementara warga dayak yang bermukim di kota umumnya kurang menguasai budaya asli moyangnya.

Kebanyakan generasi mudanya pun lebih memilih bekerja di sektor formal dari pada menjadi penerus kesenian di bawah binaan Dinas Pariwisata. Kasubdin Objek dan Daya Tarik Wisata Tabalong, Zain Ramali, menyatakan, kesulitan utama pihaknya kesulitan mencari tokoh dayak yang bisa mengajarkan seni dayak asli.

Kesenian itu seperti tari balian bulat, panjat manau serta kegiatan ritual lainnya. "Keterbatasan ekonomi membuat masyarakat adat sering enggan dibina.

Mereka lebih mengedepankan berladang atau bertani untuk menghidupi keluarganya," katanya.

Kalaupun saat ini masih bertahan, mereka yang menguasai kesenian adat terbatas tetuha adat. Mengatasi ancaman kepunahan itu, pemkab setempat berencana memasukkan kesenian dan budaya Dayak ke mata pelajaran lokal di sekolah.

Bahkan, Dinas Pariwisata juga akan digabung ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, agar pembinaan kesenian lebih optimal. Saat ini pariwisata tergabung dengan Dinas Perhubungan, menjadi Dishubpar.

Ketua Kerukunan Warga Dayak Tanjung, Dermi Uly tidak menepis sulitnya pengembangan budaya adat moyangnya itu. Pergeseran sistem dan prinsip hidup yang dianut, dari kaharingan menjadi umat beragama salah satu penyebabnya.

Namun ia berharap pemerintah bisa menyelamatkan budaya leluhur yang bersifat kesenian, seperti tarian atau ritual adat yang umum.

"Kita tidak bisa membendung perubahan itu. Tapi sebenarnya masih ada komunitas yang melestarikan seperti lembaga kesenian dayak di Warukin dan Upao. Jadi pemerintah tinggal membantu dana pengembangannya," tambahnya. nda

sumber :
http://www.facebook.com/album.php?aid=26643&id=1811612812&op=6
http://www.facebook.com/album.php?aid=26468&id=1811612812&op=6
http://klipingadat.blogspot.com/2007_03_01_archive.html
hymunk - 23/06/2010 01:10 AM
#57

hymunk - 23/06/2010 09:56 AM
#58
Al Mukarram Syekh M Zaini Abdul Ghani
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Tak terasa kini, genap lima tahun sudah ulama kharismatik Martapura, Al Mukarram Syekh M Zaini Abdul Ghani wafat. Tepatnya, 5 Rajab 1426 H atau 10 Agustus 2005 silam. Pada momentum haul ke-5 inilah diharapkan masyarakat Banjar dapat merefleksikan kembali jasa dan kiprah ulama yang akrab disapa Guru Sekumpul ini.

Ulama kelahiran Martapura 11 Februari 1942, merupakan tokoh kharismatik dalam berdakwah dan menyebarkan syiar Islam di Kalsel. Guru Sekumpul juga masih zuriat atau keturunan dari ulama besar Banjar, Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang disebut Datu Kelampayan.

Kegiatan pengajian atau majelis taklim yang dilakukan Guru Sekumpul selalu dibanjiri ribuan jemaah dari berbagai kota. Namanya dikenal di kalangan luas, baik pejabat pemerintahan, politisi, militer, dan seniman. Beberapa tokoh yang pernah mengunjungi kediamannya, antara lain KH Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, hingga Aa Gym.

Banyak kenangan tentang sosok beliau yang tentunya membekas di hati umat Muslim. Sudah sepatutnya kita yang merasakan kedekatan bathiniah terhadap Guru Sekumpul senantiasa merenung. Sudah sejauh mana usaha kita dalam meneladani sikap maupun perbuatan beliau saat ini?

Sudah selayaknya, momentum haul Guru Sekumpul dimaknai dengan kegiatan akbar dengan spirit menumbuhkan jiwa-jiwa ulama yang menjadi tuntunan dan tauladan bagi masyarakat. Bukan sosok yang terlena oleh arus dominasi politik praktis, hingga lupa, bahwa sisi keulamaannya perlahan terkikis oleh nuansa kehidupan duniawi.

Sesungguhnya negeri ini membutuhkan sosok ulama seperti Guru Sekumpul yang kedekatannya dengan masyarakat nyaris tanpa “tabir birokrasi” yang terlalu berbelit-belit, layaknya psikolog dengan pasiennya yang membutuhkan sekedar spirit dan sugesti untuk merubah kondisi jiwa yang sakit.

Kita pun menantikan sosok ulama yang revolusioner, yang bukan hanya sekedar mengajarkan kita isi kandungan kitab kuning, atau pesan-pesan suci agama, melainkan bagaimana menunjukkan jalan ke arah perbaikan umat.

Guru-guru ‘Alimul’allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abdul Ghani, antara lain adalah:

1. Di tingkat Ibtida adalah: Guru Abdul Mu’az, Guru Sulaiman, Guru Muh. Zein, Guru H. Abdul. Hamid Husin, Guru H. Mahalli, Guru H. Rafi’i, Guru Syahran, Guru H. Husin Dakhlan, Guru H. Salman Yusuf

2. Di tingkat Tsanawiyah adalah: ‘Alimul Fadhil H. Sya’rani’Arif, ‘Alimul Fadhil H, Husin Qadri, ‘Alimul Fadhil H. Salilm Ma’ruf, ‘Alimul Fadhil H. Seman Mulya, ‘Alimul Fadhil H. Salman Jalil.

3. Guru di bidang Tajwid ialah: ‘Alimul Fadhil H. Sya’rani ‘Arif, ‘Alimul Fadhil Al Hafizh H. Nashrun Thahir, ‘Al-Alim H. Aini Kandangan.

4. Guru Khusus adalah: ‘Alimul’allamah H. Muhammad Syarwani Abdan Bangil, ‘Alimul’allamah Asy Syekh As Sayyid Muhammad Amin Qutby. Sanad sanad dalam berbagai bidang ilmu dan Thariqat, antara lain diterima dari:
Kyai Falak Bogor (Abah Falak), ‘Alimul’allamah Asy-Syekh Muhammad Yasin Padang (Mekkah), ‘Alimul’allamah Asy-Syekh Hasan Masysyath, ‘Alimul’allamah Asy- Syekh Isma’il Yamani dan ‘Alimul’allamah Asy-Syekh Abdul Qadir Al-Baar.

5. Guru pertama secara Ruhani ialah: ‘Alimul ‘allamah Ali Junaidi (Berau) bin ‘Alimul Fadhil Qadhi H. Muhammad Amin bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad, dan ‘Alimul ‘allamah H. Muhammad Syarwani Abdan (Bangil). Kemudian ‘Alimullailamah H. Muhammad Syarwani Abdan menyerahkan kepada Kyai Falak Bogor dan seterusnya Kyai Falak menyerahkan kepada ‘Alimul’allamah Asy-Syekh As-Sayyid Muhammad Amin Qutby, kemudian beliau menyerahkan kepada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang selanjutnya langsung dipimpin oleh Rasulullah Saw. Atas petunjuk ‘Alimul’allamah Ali Junaidi, beliau dianjurkan untuk belajar kepada ‘Alimul Fadhil H. Muhammad (Gadung Rantau) bin ‘Alimul Fadhil H. Salman Farisi bin ‘Allimul’allamah Qadhi H. Mahmud bin Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad, untuk mengenal masalah Nur Muhammad; maka dengan demikian di antara guru beliau tentang Nur Muhammad antara lain adalah ‘Alimul Fadhil H. M. Muhammad tersebut di atas.

WASIAT KH.ZAINI GHANI AL BANJARI- GURU SEKUMPUL
1. Menghormati Ulama.
2. Baik Sangka Terhadap Muslimin.
3. Murah diri.
4. Manis Harta.
5. Manis Muka.
6. Jangan Menyakiti Orang.
7. Memaafkan Kesalahan Orang.
8. Jangan Bermusuh-musuhan.
9. Jangan Thoma.
10. Berpegang Kepada Allah Ta’ala kabul segala hajat.
11. Yakin Keselamatan itu ada pada yang benar.
12. Jangan merasa baik dari pada orang lain.
13. Tiap-tiap orang iri, dengki atau adu asah jangan dilayani serahkan saja pada Allah Ta’ala.

sumber :
http://taufik79.wordpress.com/2010/06/15/momentum-haul-refleksi-wasiat-guru-sekumpul/
http://hasanzainuddin.wordpress.com/perkembangan-agama-islam-di-kalsel/
http://aanmuslim.blogspot.com/2010/06/wasiat-khzaini-ghani-al-banjari-guru.html
hymunk - 23/06/2010 10:08 AM
#59
KH. Muhammad Syarwani Abdan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Kecintaan warga Banjar terhadap ulama kharismatik Banua Almukarram KH. Muhammad Syarwani Abdan atau yang lebih akrab disapa dengan Guru Bangil memang sangat luar biasa. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya puluhan ribu jemaah yang memadati komplek Pondok Pesantren Datu Kalampayan di Jln. Mujair Kampung Kauman Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Saat mengikuti Peringatan Haul (hari wafat) ke 20 ulama kelahiran Martapura tersebut.

Ribuan kaum Muslimin dari berbagai daerah yang ada di wilayah Indonesia khususnya warga masyarakat dari Provinsi Kalimantan Selatan dan Kabupaten Banjar termasuk dari Malaysia dan Hadral Maut Yaman nampak memadati komplek pengajian Pondok Pesantren Datu Kelampayan, kehadiran mereka adalah untuk mengikuti acara peringatan Haul ke 20 tokoh agama Kota Martapura Almarhum Al- Alimul Allamah KH. Syarwani Abdan atau juga dikenal dengan nama Guru Bangil yang dilaksanakan pada, Minggu (15/2) di komplek pengajian tersebut.
Selain para Habaib dan ulama serta tokoh agama dan masyarakat dari berbagai daerah dan luar negeri. Pada acara Haulan tersebut juga juga dihadiri oleh beberapa pejabat penting di daerah Seperti Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Banjar, Bupati Pasuruan, serta Bupati Tapin.

Dalam Manaqib yang dibacakan oleh salah satu keturunan KH. Syarwani Abdan menyebutkan, pada usia muda, setelah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darussalam Martapura KH. Syarwani Abdan bermukim di Bangil untuk menuntut ilmu agama kepada ulama-ulama yang berada di wilayah tersebu, diantaranya KH. Muhdar Gondang Bangil, KH. Bajuri Bangil, KH. Ahmad Jufri pasuruan serta KH. Abu Hasan Wetan Alun Bangil.

Pada usia 16 tahun, KH. Muhammad Syarwani Abdan berangkat ke Tanah Suci Mekkah guna meneruskan menuntut ilmu bersama saudara sepupunya yang bernama Al-Alimul Allamah KH.Sya’rani Arif dengan bimbingan dan pengawasan penuh dari paman beliau Al-Alimul Allamah KH.Muhammad Kasyful Anwar.

Selama menuntut ilmu di Kota Mekkah KH. Syarwani Abdan belajar dengan berbagai para ulama yang ada di kota tersebut seperti Sekh Sayyid Muhammad Amin Al-Kutbi, Sekh Sayyid Ali- Almaliki, Sekh Umar Hamdan, Sekh Muhammad Alwi, Sekh Hasan Masy’syat, Sekh Abdullah Al-Bukhari Sekh Saifullah Ad-Dakistani, Sekh Syafii Kedah, Sekh Sulaiman Ambon serta Sekh Ahyat Bogor.

Dengan Berkat Taufik dan Hidayah dari Allah SWT melalui kecerdasan dan kepintaran yang dimilikinya, hanya dalam beberapa tahun menuntut ilmu di kota Mekkah KH. Syarwani Abdan dan KH. Sya’rani Arif dikenal oleh para teman seangkatan serta para guru-gurunya sebagai santri yang cerdas dan pandai serta tawadu dalam menuntut ilmu serta taat terhadap guru-gurunya, dengan alasan tersebut kedua orang tersebut yakni KH. Syarwani Abdan dan KH. Sya’rani Arif dikenal dengan sebutan Dua Mutiara dari Banjar.

Setelah 10 tahun menuntut ilmu di Kota Mekkah KH. Syarwani Abdan dan KH. Sya’rani Arif pulang ke Indoensia. Saat berada di Tanah Air, KH. Syarwani Abdan menggelar pengajian majlis ta’lim di rumah dan mengajar di pondok pesantren Darussalam Martapura, sedangkan di Bangil ia juga menggelar pengajian untuk kalangan umum dan khusus juga untuk para kalangan alim ulama di kota Bangil.

Dan pada tahun 1970 KH. Syarwani Abdan mendirikan sebuah pondok pesantren di wilayah Bangil yang diberi nama Pondok Pesantren Datu Kelampayan, KH. Syarwani Abdan wafat pada tanggal 11 September 1989 sekitar pukul 19.00 WIB dalam usia 76 tahun dan beliau dimakamkan di Bangil.

Sementara itu, selain mengikuti kegiatan Haul KH. Syarwani Abdan yang ke 20, para jamaah dari kabupaten Banjar yang dimpim oleh Wakil Bupati Banjar KH. Muhammad Hatim juga menyempatkan diri utuk berkunjung ke beberapa Habaib dan Tokoh Ulama yang ada di daerah Jawa Timur. Selain itu para rombongan tersebut juga melakukan ziarah ke maqam beberapa Sunan yang ada di wilayah Jawa Timur seperti maqam Sunan Giri dan Sunan Ampel.

Sumber :
http://zuljamalie.blogdetik.com/2009/07/13/guru-bangil-al-banjari/
http://ipmaba.wordpress.com/2009/02/17/haul-ke-19-guru-almukarram-kh-muhammad-syarwani-abdan-bangil/
hymunk - 23/06/2010 10:24 AM
#60
Datu Sanggul
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



Alloh jadikan saraba ampat
Syariat thoriqot hakikat makrifat
Manjadi satu di dalam kholwat
Rasa nyamannya tiada tersurat

Menurut riwayat, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari pernah bertemu dengan Datu Sanggul sewaktu masih menuntut ilmu di Mekkah. Dalam beberapa kali pertemuan tersebut, keduanya kemudian sharing dan diskusi masalah ilmu ketuhanan. Hasil dari diskusi mereka tersebut kemudian ditulis dalam sebuah kitab yang oleh orang Banjar dinamakan kitab Barencong. Siapakah Datu Sanggul?

Berdasarkan tutur lisan yang berkembang dalam masyarakat dan beberapa catatan dari beberapa orang penulis buku, sepengetahuan penulis setidaknya ada tiga versi yang menjelaskan tentang sosok dan kiprah Datu Sanggul.

Versi Pertama menyatakan bahwa Datu Sanggul adalah putra asli Banjar. Kehadirannya menjadi penting dan lebih dikenal sejarah lewat lisan dan berita Syekh Muhammad. Arsyad yang bertemu dengannya ketika beliau masih belajar di Mekkah. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Datu Sanggul pernah berbagi ilmu dengan Syekh Muhammad Arsyad dan melahirkan satu kitab yang disebut dengan kitab Barencong yang isinya menguraikan tentang ilmu tasawuf atau rahasia-rahasia ketuhanan dan sampai sekarang masih menjadi bahan perdebatan serta diragukan keberadaannya, karena tidak pernah ditemukan naskahnya. Namun walaupun demikian pengertian dari kitab Barencong itu sendiri dapat kita tinjau dan pahami dari dua sisi, yakni pemahaman secara tersurat dan secara tersirat. Secara tersurat boleh jadi kitab tersebut memang ada, berbentuk seperti umumnya sebuah buku dan ditulis bersama sebagai suatu konsensus keilmuan oleh Syekh Muhammad Arsyad dan Datu Sanggul (hal ini menggambarkan adanya pengakuan dari Syekh Muhammad Arsyad akan ketinggian ilmu tasawuf Datu Sanggul).

Kemudian secara tersirat dapat pula dipahami bahwa maksud kitab Barencong tersebut adalah simbol dari pemahaman ketuhanan Syekh Muhammad Arsyad yang mendasarkan tasawufnya dari langit turun ke bumi dan simbol pemahamanan tasawuf Datu Sanggul dari bumi naik ke langit. Maksudnya kalau Syekh Muhammad Arsyad belajar ilmu ketuhanan dan tasawuf berdasarkan ayat-ayat Alquran yang telah diwahyukan kepada Nabi Saw dan tergambar dalam Shirah hidup beliau, sahabat dan orang-orang sholeh sedangkan Datu Sanggul mengenal hakikat Tuhan berdasarkan apa-apa yang telah diciptakan-Nya (alam), sehingga dari pemahaman terhadap alam itulah menyampaikannya kepada kebenaran sejati yakni Allah, karena memang pada alam dan bahkan pada diri manusia terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi mereka yang mentafakurinya. Dengan kata lain ilmu tasawuf Datu Sanggul adalah ilmu laduni yang telah dikaruniakan oleh Allah kepadanya. Karena itulah orang yang ingin mempelajari ilmu tasawuf pada dasarnya harus menggabungkan dua sumber acuan pokok, yakni berdasarkan wahyu (qauliyah) dan berdasarkan ayat-ayatNya “tanda-tanda” (qauniyah) yang terpampang jelas pada alam atau makhluk ciptaanNya.

Versi Kedua, menurut Zafri Zamzam (1974) Datu Sanggul yang dikenal pula sebagai Datu Muning adalah ulama yang aktif berdakwah di daerah bagian selatan Banjarmasin (Rantau dan sekitarnya), ia giat mengusahakan/memberi tiang-tiang kayu besi bagi orang-orang yang mendirikan masjid, sehingga pokok kayu ulin besar bekas tebangan Datu Sanggul di Kampung Pungguh (Kabupaten Barito Utara) dan pancangan tiang ulin di pedalaman Kampung Dayak Batung (Kabupaten Hulu Sungai Selatan) serta makam beliau yang panjang di Kampung Tatakan (Kabupaten Tapin) masih dikenal hingga sekarang. Salah satu karya spektakulernya yang masih dikenang hingga kini adalah membuat tatalan atau tatakan kayu menjadi soko guru masjid desa Tatakan, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga ketika membuat soko guru dari tatalan kayu untuk masjid Demak. Tidak ada yang tahu siapa nama asli tokoh ini, sebutan Datu Sanggul adalah nama yang diberikan oleh Syekh Muhammad Arsyad ketika beliau menjawab tidak memakai ilmu atau bacaan tertentu, kecuali “hanya menjaga keluar masuknya nafas, kapan ia masuk dan kapan ia keluar”, sehingga dapat secara rutin pulang pergi sholat ke Masjidil Haram setiap hari Jumat.

Versi ketiga, berdasarkan buku yang disusun oleh H.M. Marwan (2000) menjelaskan bahwa nama asli Datu Sanggul adalah Syekh Abdus Samad, ia berasal dari Aceh (versi lain menyebutkan dari Hadramaut dan dari Palembang). Sebelumnya Datu Sanggul sudah menuntut ilmu di Banten dan di Palembang, ia menjadi murid ketiga dari Datu Suban yang merupakan mahaguru para datu yang ahli agama dan mendalami ilmu Tasawuf asal Pantai Jati Munggu Karikil, Muning Tatakan Rantau. Informasi lain yang berkembang juga ada yang menyatakan bahwa nama asli Datu Sanggul adalah Ahmad Sirajul Huda atau Syekh Jalil. Datu Sanggul atau Syekh Abdus Samad satu-satunya murid yang dipercaya oleh Datu Suban untuk menerima kitab yang terkenal dengan sebutan kitab Barincong, beliau juga dianggap memiliki ilmu kewalian, sehingga teristimewa di antara ketigabelas orang murid Datu Suban.

Datu Sanggul lebih muda wafat, yakni di tahun pertama kedatangan Syekh Muhammad Arsyad di Tanah Banjar. Berkat keterangan Syekh Muhammad Arsyad-lah identitas kealiman dan ketinggian ilmu Datu Sanggul terkuak serta diketahui oleh masyarakat luas, sehingga mereka yang asalnya menganggap “Sang Datu” sebagai orang yang tidak pernah shalat Jumat sehingga tidak layak untuk dimandikan, pada akhirnya berbalik menjadi hormat setelah diberitakan oleh Syekh Muhammad Arsyad sosok Datu Sanggul yang sebenarnya.

Banyak cerita yang lisan yang beredar di masyarakat berkenaan dengan keramat Datu Sanggul. Diceritakan bahwa Kampung Tatakan pernah dilanda Banjir, akibat hujan lebat, sehingga jalan-jalan di Kampung tergenang oleh air. Pas ketika hari Jumat, biasanya orang kalau mengambil air wudhu di sungai yang mengalir, dengan duduk di batang. Tetapi ketika Datu Sanggul datang dan berwudhu dalam penglihatan orang-orang di masjid beliau menceburkan diri ke sungai, tetapi anehnya ketika naik, badan beliau tidak basah.

Jamaah Masjid juga pernah menyaksikan ketika shalat, dalam beberapa menit tubuh Datu Sanggul melayang di udara dan hilang dari pandangan orang banyak. Riwayat juga ada menceritakan tentang berpindah-pindahnya kuburan dari Datu Sanggul dari beberapa tempat, sampai yang terakhir di Tatakan.

Berdasarkan paparan di atas menjadi satu catatan penting, untuk menggagas kembali penelitian sejarah yang mengungkapkan riwayat hidup tokoh sentral masyarakat Tapin ini secara detail, guna melengkapi dan memperkaya khazanah tulisan-tulisan yang sudah ada mengenai riwayat hidup, sejarah perjuangan dan kiprah beliau di Bumi Kalimantan, seperti “Riwayat Datu Sanggul dan Datu-Datu” oleh sejarawan Banjar Drs. H. A. Gazali Usman, atau pula “Manakib Datu Sanggul”, oleh H.M. Marwan. Tenut saja, agar generasi yang hidup di masa sekarang dan masa mendatang tidak pangling terhadap sejarah dan tokoh yang menjadi “maskot” daerah mereka. Dalam artian bukan maksud untuk mengagung-agungkan apalagi mengkultuskan mereka, tetapi untuk mengikuti jejak hidup, perjuangan dan akhlak postif sesuai prinsip ajaran agama yang telah ditorehkannya. Wallahua’lam

sumber ;
http://rifafreedom.wordpress.com/2008/08/27/datu-sanggul-dan-kitab-barencong/

sajak saraba ampat karya datu sanggul :
http://www.huttaqi.com/artikel.php?id_isi=185&id_ttl=41&flag=0
Page 3 of 15 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan