Kalimantan Selatan
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
Total Views: 72819 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 4 of 15 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›

hymunk - 23/06/2010 10:54 AM
#61
Datu kandang haji: Maskot kota balangan
Spoiler for makam Datu Kandang Haji
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



Makam Datu Kandang Haji terletak di Desa teluk bayur Kecamatan Juai , Kurang lebih 20 Km dari ibukota Kabupaten Balangan. Obyek ini merupakan Wisata relegius, dimana Datu Kandang Haji merupakan Tokoh penyebar Agama Islam di Kabupaten Balangan

DATU KANDANG HAJI: MASKOT KOTA BALANGAN

Oleh Zulfa Jamalie

Setidaknya ada dua faktor utama kenapa tulisan ini ingin saya hadirkan ke tengah pembaca. Pertama, hampir di seluruh daerah kabupaten di propinsi Kalimantan Selatan (memiliki) dan pernah melahirkan tokoh-tokoh besar yang berjasa terhadap perkembangan Islam. Mereka merupakan maskot daerah yang patut diteladani keilmuan, sejarah hidup, dan perjuangannya dalam membumikan ajaran Islam. Sebutlah misalnya Khatib Dayyan dan Datu Anggah Amin (Banjarmasin), Datu Abdussamad Bakumpai (Batola), Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Abdul Wahab Bugis dan lain-lain (Martapura), Syekh Ahmad Nawawi Panjaratan (Tanah Laut), Syekh Muhammad Arsyad Lamak (Tanah Bumbu), Datu Sanggul, Datu Suban dan lain-lain (Tapin-Rantau), Datu Taniran, Habib Negara, Datu Kubah Dingin, dan lain-lain (HSS), Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari (Tabalong), dan sebagainya. Sebagian di antara tokoh-tokoh dimaksud telah ditulis oleh para penulis tentang riwayat hidup dan perjuangan mereka secara singkat. Bahkan, melalui kajian literatur dan wawancara dengan beberapa orang nara sumber, saya juga telah menulis secara singkat riwayat beberapa orang tokoh tersebut dalam buku Perjuangan Tokoh Membumikan Islam di Tanah Banjar. Ada pula yang masih dalam proses penelitian dan pengayaan. Karena itu saya merasa perlu menghadirkan sosok Datu Kandang Haji (walaupun singkat) untuk dijadikan sebagai maskot daerah Kabupaten Balangan yang belum begitu banyak dikenal orang, apalagi terpublikasi secara luas.

Kedua, Sejarah permulaan masuk dan perkembangan dakwah Islam di Kalimantan Selatan tidak bisa lepas dari jasa, peranan dan perjuangan dari para ulama dan tokoh-tokoh Islam yang hidup pada masa dahulu. Karena berkat jasa dan perjuangan merekalah Islam berkembang dan menjadi pegangan hidup masyarakat Banjar hingga sekarang. Di samping itu kehadiran mereka di Bumi Kalimantan telah menjadikan daerah ini kaya dengan khazanah-khazanah intelektual Islam, sehingga dalam catatan sejarah pernah menjadi pusat studi Islam yang banyak menghasilkan karya-karya keagamaan dan sastra, selain Palembang dan Aceh (Karel S. Steenbrink, 1985: 5). Tetapi, menurut Azyumardi Azra, (1998: 251) perkembangan Islam Kalimantan Selatan masih belum ditelaah secara memadai, jikapun ada, kebanyakannya hanya terpusat pada masalah-masalah kapan, bagaimana, dan darimana Islam memasuki wilayah ini, hampir tidak ada pembahasan mengenai pertumbuhan lembaga-lembaga Islam dan tradisi keilmuan di kalangan penduduk Muslimnya.

Untuk menyahut dua faktor di atas, diperlukan kajian dan penelitian yang terus-menerus, intensif, dan komprehensif terhadap sejarah hidup, pemikiran, dan perjuangan para tokoh yang telah berjasa besar mengisi ruang khazanah intelektual dan peradaban di Bumi Kalimantan. Memang, menjadikan sejarah hidup dan perjuangan para tokoh, yang hidup zaman dahulu, zaman di mana tradisi menulis belum berkembang, bukanlah perkara yang mudah. Apalagi untuk melacak secara tuntas sejarah hidup dan perjuangan mereka, karena minimnya data dan dokumentasi yang ada.

Secara khusus, berkenaan dengan Datu Kandang Haji, saya berkeyakinan, jasa dan peranan beliau dalam menyebarkan Islam, terutama di daerah Paringin dan sekitarnya sangat besar. Dalam buku Zafri Zamzam (1974: 4) ditulis secara singkat kiprah dakwah Datu Kandang Haji. “Datu Kandang Haji adalah salah seorang dari dua orang datu (satunya lagi Datu Sanggul dibagian Selatan Banjarmasin, Tatakan Rantau dan sekitarnya) yang aktif berdakwah, mengajar masyarakat mengaji Alquran dan menghidupkan pelaksanaan shalat Jumat di bagian Utara Banjarmasin (Paringin dan sekitarnya). Beliau wafat dengan meninggalkan Alquran tulisan tangan, sepasang terompah, dan tongkat untuk berkhutbah. Makam beliau terletak di samping masjid yang didirikannya di Paringin (Kabupaten Balangan sekarang)”.

Berita yang disampaikan Zafry Zamzam sangat singkat, namun dari situ kita bisa menangkap beberapa kesimpulan penting berkenaan dengan aktivitas Datu Kandang Haji.

Pertama, Datu Kandang Haji hidup sezaman dengan Datu Sanggul (Rantau) yang wafat pada tahun 1772 M, karena itu, besar kemungkinan Datu Kandang Haji hidup di era tahun 1760-an dan tahun-tahun sebelumnya.

Kedua, Datu Kandang Haji aktif menyebarkan Islam di Paringin dan sekitarnya, beliau menyebarkan dan mengajarkan Islam kepada masyarakat Paringin, mengajar mereka mengaji atau membaca Alquran, membimbing kegiatan keagamaan masyarakat (terutama khutbah Jumat), menyalin Alquran, serta memotivasi masyarakat untuk melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan baik, beliau juga menjadi pelopor bagi masyarakat untuk melaksanakan kewajiban shalat Jumat. Shalat Jumat sendiri pada waktu itu tidak hanya sekadar kewajiban agama, tetapi juga diwajibkan oleh negara, karena itu jika ada yang tidak shalat Jumat, maka mereka akan dikenakan denda.

Ketiga, Datu Kandang Haji adalah ulama yang bertanggung jawab terhadap penyebaran dan pengajaran Islam kepada masyarakat, khususnya wilayah bagian Utara Banjarmasin, yakni Paringin dan sekitarnya ketika itu, karena untuk dakwah di Banjarmasin, martapura, dan sekitarnya sudah diisi oleh ulama kerajaan sedangkan bagian Selatan yakni Tatakan Rantau dan sekitarnya sudah diisi oleh Datu Sanggul.

Keempat, pelaksanaan kegiatan keagamaan yang dipelopori oleh Datu Kandang Haji pada waktu itu tentu saja masih dalam bentuknya yang sederhana, namun walau demikian diyakini bahwa dakwah beliau cukup berhasil, sehingga masyarakat Paringin termasuk kelompok masyarakat yang sudah lama mengenal agama Islam.

Masih banyak hal lain yang perlu diungkap dalam sejarah hidup dan perjuangan Datu Kandang Haji dalam menyebarkan dan mengajarkan Islam, termasuk hubungannya dengan berbagai tokoh penyebar Islam di daerah lainnya. Guna mengungkap secara lebih jelas tentang sejarah hidup beliau saya telah melakukan penelitian awal secara mandiri, terutama dalam melacak sumber lisan dan cerita rakyat (folklore) yang berkembang di tengah masyarakat Paringin. Mudah-mudahan mendapat perhatian dan sokongan dari Pemerintah Kabupaten Balangan guna mengangkat sejarah hidup seorang tokoh yang merupakan maskot Kabupaten Balangan.(sumb:rumah Banjar)

sumber :
http://pariwisatabalangan.blogspot.com/2010_06_01_archive.html
http://balangansukses.blogspot.com/2010/02/datu-kandang-haji-maskot-kota-balangan.html
Padaringan - 09/07/2010 01:27 AM
#62

GANGAN PALIAT KHAS KAB. TABALONG

Spoiler for gangan paliat
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Kalimantan selatan merupakan daerah yang mempunyai kebudayaan yang beraneka ragam, mulai dari kesenian, makanan, pakaian, kesenian, bahasa, mata pencaharian, dan sebagainya yang berbeda dan mungkun saja tidak dimiliki oleh daerah lain yang ada di Kalimantan selatan.Kalimantan selatan khususnya daerah Tabalong mempunyai makanan khas yang tidak kita jumpai didaerah lain yang ada diKalimantan selatan ini.

Salah satu masakan khas urang tabalong yaitu GANGAN PALIAT. Gangan paliat dijadikan sebagai masakan khas urang Tabalong, dimana asal masakan yang sesungguhnya ini dari desa KELUA.
Gangan paliat dibuat dengan bahan utamanya adalah ikan baung, dengan rempah-rempah seperti garam, gula, dan penyedap rasa lainnya.Bumbunya bawang merah, jahe, kemiri, dan kunyit, bumbu dihaluskan, kemudian ditumis dengan sedikit minyak sampai menimbulkan bau harun yang khas dari bumbu tadi.
Masukkan ikan baung yang sudah dibersihkan kemudian masukkan santan kental yang sudah disiapkan.Didalam penghidangan, biasanya gangan paliat ditambahi dengan lalapan yang terdiri atas kacang panjang, daun singkong, dan sambal terasi.

Didalam gangan paliat yang ikan utamanya adalah ikan baung, bisa juga digantikan dengan IKAN GABUS, IKAN TAUMAN bahkan bisa juga diganti dengan udang. Gangan paliat merupakan hasil dari sebuah ide , dan untuk menjadikan masakan tersebut menjadi ciri makanan khas daerah. Ide masakan ini bisa bermacam-macam tergantung pada kreativitas dari sipembuat masakan ini.

Tidak hanya gangan paliat saja yang terkenal di Kalimantan selatan, masih banyak lagi makanan yang menjdi ciri khas daerah, seperti ketupat Kandangan, apam barabai, dan itik panggang dari Amuntai.
Contoh- contoh masakan diatas belum seberapanya, masih banyak lagi masakan khas dari daerah Kalimantan selatan. Pada gangan paliat penyajiannya pun beraneka ragam, di desa Kelua sendiri warung yang khusus menjual masakan ini bukanya dari jam 10.00, dan masih jarang sekali dijual oleh urang banjar, dan biasanya dijual dipasar-pasar tradisional, seperti yang ada dipasar murung pudak dan hanya dijual pada hari minggu saja.


sumber: http://urangwayau.blogdetik..com/kuliner/
hymunk - 09/07/2010 08:37 AM
#63
Gangan Paliat
Spoiler for gangan paliat

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan




Masakan khas Kalua yang bahan dasarnya didominasi oleh santan (air kelapa yang sudah diparut), berikut bawang, kemiri, kunyit dkk. Selain ikan patin, ikan baung ataupun udang merupakan lauk utama dalam masakan ini.

Kata Paliat diambil dari nama desa di Kecamatan Kelua dan di desa itulah asal muasal ditemukan jenis makanan tradisional yang terbuat dari santan kental dan bumbu kunyit bercampur jeruk purut yang nikmat dan segar, sehingga diberi nama dengan sebutan gangan Paliat. Masakan gangan Paliat dengan rasa yang khas hanya didapati di daerah Tabalong pada hari-hari pasaran, seperti di Pasar Mabuun Murung Pudak setiap hari Sabtu, lalu di Pasar Kelua pada hari Kamis. Sementara pedagang warung masakan gangan Paliat pada umumnya merupakan warga Desa Paliat Kelua.

Dijelaskan Ny Mariam Zainudin, untuk membuat ganan Paliat tidak terlalu sulit. Begitu pula untuk mendapatkan bumbu atau rempah-rempah yang menjadi kebutuhan pokok pembuatan makanan khas Tabalong. “Bumbu-bumbu mudah didapatkan karena dijual umum di pasar maupun di warung-warung,” imbuhnya.

Cara pertama pembuatan masakan gangan Paliat adalah menyiapkan peralatan dan bumbu-bumbu seperti kunyit, kemiri, laos, serai dan lombok merah. “Setelah semuanya siap barulah dilakukan peracikan bumbu. Potong kecil-kecil kunyit dan laos lalu disangrai hingga kering. Kemudian diulek kunyit dan laos yang telah disangrai tadi bersama kemiri dan lombok merah hingga halus. Berikutnya direbus hingga matang dan masukkan serai,” ujar warga Desa Paliat RT 2 No 79 Kelua.

Sebagia langkah kedua adalah membuat gangan Paliat dengan bahan ikan basah dari sungai atau laut sebanyak 1 kg, bumbu 20 gr, santan kental 1 lter, jeruk purut 3 biji, bawang merah 25 gr, asam jawa yang sudah diperas sebanyak 100 cc, ditambah penyedap rasa dan garam secukupnya. Cara membuatnya yaitu ikan dipotong sesuai kebutuhan, lalu dicuci dengan jeruk purut hingga bersih. Rebus santan hingga mendidih dan masukkan bumbu beserta ikan plus bawang merah yang sudah dirajang. Setelah itu diaduk sampai merata, biarkan mendidih lagi. Barulah setelah mendidih diangkat lalu peras dengan jeruk purut. “Nah, makanan Paliat sudah bisa disajikan,” tandasnya, sembari mempersilakan Radar Banjarmasin mencicipi gangan Paliat yang disajikan hangat-hangat. (day)

sumber : http://rayaridhati.blogspot.com/2010/03/sabtu-9-oktober-2004-gangan-paliat.html
hymunk - 21/07/2010 08:50 PM
#64
Festival Pasar Terapung 2010
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Festival Budaya Pasar Terapung 2010..25 s/d 27 September 2010 Saatnya berkunjung Ke Kalimantan Selatan 25-27 September 2010..Pameran Produk Budaya & Kerajinan Daerah, Kompoeng Banjar, Kuliner Khas Kalsel, Atraksi Budaya/Adat Banjar, Permainan Tradisional, Parade Budaya Daerah dan Pagelaran Budaya Sungai..Kenali Budayamu Cintai Negerimu...Kami tunggu kedatangan anda di Kalimantan Selatan


BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pesta budaya Banjar bakal kembali menyapa warga banua. Dalam gelaran yang didukung sepenuhnya Banjarmasin Post Group itu, bakal menampilkan beragam budaya banjar seperti festival pasar terapung.

Dalam rapat persiapan kegiatan yang digelar di ruang rapat Haram Manyarah kompleks pemprov Kalsel, Selasa (6/7/2010), dipimpin langsung Asisten bidang pembangunan, Fitri Rifani.

Hadir dalam rapat tersebut, antara lain pemimpin umum BPost Group HG Rusdi Effendi AR, Kadiparsenibud Kalsel Bihman Mulyansyah, Kadisparsenibud kota Banjarmasin Hesly Junianto, perwakilan perbankan, Asita maupun para pelaku bisnis perhotelan.

Selain festival pasar terapung yang menjadi andalan utama, kegiatan yang bakal digelar 25 September di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman itu juga bakal dimeriahkan dengan kampung banjar serta sejumlah kegiatan dan permainan khas banua seperti bagasing.

"Semoga kegiatan tersebut akan menjadi daya tarik bagi wisatawan asing maupun domestik untuk berbondong-bondong ke Kalsel," kata Fitri Rifani.

Bagi dia, kegiatan yang sudah digelar sebelumnya termasuk yang diprakarsai BPost Group seperti festival perahu hias juga menjadi bagian dan penunjang kegiatan tersebut.

Kemudian, aneka makan dan wadai (kue has banjar) juga bakal menghiasi kampung banjar tersebut. Termasuk aneka kesenian seperti musik panting, mamanda juga bakal menghibur para warga.

Hal senada dikatakan HG Rusdi Effendi AR. Festival budaya tersebut harus benar-benar digarap secara serius, dengan harapan bisa mengangkat kesenian khas banua ini ke kancah nasional maupun luar negeri.

"Untuk bisa mewujudkan hal itu kuncinya harus serius biar kegiatannya sukses. Kalau hanya sekedar menggelar, lebih baik tidak dilaksanakan saja," tegasnya.

(choiruman)

sumber :
http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/2010/7/6/49350/festival-pasar-terapung-kembali-hadir
WawanGaruru - 25/07/2010 04:39 PM
#65
Fungsi Magis Kain Sasirangan
Ulun ada sedikit info nah soal sasirangan. Boleh lo paman. Dberhubung Trit ulun sudah di close.

Sasirangan Kain khas Banjarmasin

Kain sasirangan adalah sejenis kain yang diberi gambar dengan corak dan warna tertentu yang sudah dipolakan secara tradisional menurut citarasa budaya yang khas etnis Banjar di Kalsel.

Secara etimologis istilah sasirangan bukanlah kata benda sebagaimana yang dikesankan oleh pengertian di atas, tapi adalah kata kerja. Sa artinya satu dan sirang artinya jelujur. Ini berarti sasirangan artinya dibuat menjadi satu jelujur.

Kain sasirangan memang identik dengan kain yang diberi gambar dengan corak warna-warni berbentuk garis-garis jelujur yang memanjang dari bawah ke atas (vertikal). Sungguhpun demikian, istilah sasirangan sudah disepakati secara sosial budaya (arbitrer) kepada benda berbentuk kain (kata benda).

Pada mulanya kain sasirangan disebut kain langgundi, yakni kain tenun berwana kuning. Ketika Empu Jatmika berkuasa sebagai raja di raja di Kerajaan Negara Dipa pada tahun 1355-1362, kain langgundi merupakan kain yang digunakan secara luas sebagai bahan untuk membuat busana harian oleh segenap warga negara Kerajaan Negara Dipa.

Hikayat Banjar memaparkan secara tersirat bahwa di kawasan yang sekarang ini dikenal sebagai pusat kota Amuntai banyak berdiam para pengrajin kain langgundi. Keterampilan membuat kain langgundi ketika itu tidak hanya dikuasai oleh para wanita yang sudah tua saja, tetapi juga dikuasai oleh para wanita yang masih gadis belia. Paparan ini menyiratkan bahwa kain langgundi ketika itu memiliki pangsa pasar yang besar. Jika tidak, maka sudah barang tentu tidak bakal banyak warga negara Kerajaan Negara Dipa yang menekuninya sebagai pekerjaan utama.

Bukti bahwa di kota Amuntai ketika itu banyak berdiam para pembuat kain langgundi adalah paparan tentang keberhasilan Lambung Mangkurat memenuhi permintaan Putri Junjung Buih sebagai syarat kesediaannya untuk dijadikan raja putri di Kerajaan Negara Dipa.

Menurut Hikayat Banjar, Putri Junjung Buih ketika itu meminta Lambung Mangkurat membuatkan sebuah mahligai megah yang harus selesai dikerjakan dalam tempo satu hari oleh 40 orang tukang pria yang masih bujangan. Selain itu, Putri Junjung Buih juga meminta Lambung Mangkurat membuatkan sehelai kain langgundi yang selesai ditenun dan dihiasi dalam tempo satu hari oleh 40 orang wanita yang masih perawan.

Semua permintaan Putri Junjung Buih itu dapat dipenuhi dengan mudah oleh Lambung Mangkurat. Paparan ini menyiratkan bahwa di kota Amuntai ketika itu banyak berdiam para tukang pria yang masih bujang, dan para penenun wanita yang masih perawan. Jika tidak, maka sudah barang tentu Lambung Mangkurat tidak akan mampu memenuhi semua permintaan Putri Junjung Buih.

Pada hari yang telah disepakati, naiklah Putri Junjung Buih ke alam manusia meninggalkan tempat persemayamannya selama ini yang terletak di dasar Sungai Tabalong. Ketika itulah warga negara Kerajaan Negara Dipa melihat Putri Junjung Buih tampil dengan anggunnya. Pakaian kebesaran yang dikenakannya ketika itu tidak lain adalah kain langgundi warna kuning hasil tenunan 40 orang penenun wanita yang masih perawan (Ras, 1968 : Baris 725-735, Hikajat Bandjar)

Merujuk kepada paparan yang ada di dalam Hikayat Banjar (selesai ditulis tahun 1635), kain langgundi sebagai cikal bakal kain sasirangan sudah dikenal orang sejak tahun 1365 M. Namun, sudah barang tentu kain langgundi yang dibuat pada kurun-kurun waktu dimaksud sudah tidak mungkin ditemukan lagi artefaknya.

Menurut laporan Wulan (2006), kain sasirangan yang paling tua berusia sekitar 300 tahun. Kain sasirangan ini dimiliki oleh Ibu Ida Fitriah Kusuma salah seorang warga kota Banjarmasin (Tulah Mata Picak Tangan Tengkong, SKH Mata Banua Banjarmasin, Senin, 13 November 2006, hal 1 bersambung ke hal 13).

Konon, sejak Putri Junjung Buih mengenakan kain langgundi, maka sejak itu pula, warga negara Kerajaan Negara Dipa tidak berani lagi mengenakan kain langgundi. Mereka khawatir akan kualat karena terkena tulah Putri Junjung Buih yang sejak itu menjadi raja putri junjungan mereka. Akibatnya, para pengrajin kain langgundi tidak lagi membuatnya, karena pangsa pasarnya memang sudah tidak ada lagi.

Meskipun demikian, kain langgundi ternyata tidaklah punah sama sekali. Beberapa orang warga negara Kerajaan Negara Dipa masih tetap membuatnya. Kali ini kain langgundi dibuat bukan untuk dijadikan sebagai bahan pembuat busana harian, tetapi sebagai bahan pembuat busana khusus bagi mereka yang mengidap penyakit pingitan. Penyakit pingitan adalah penyakit yang diyakini sebagai penyakit yang berasal dari ulah para arwah leluhur yang tinggal di alam roh (alam barzah).

Menurut keyakinan yang sudah berurat berakar di kalangan etnis Banjar di Kalsel, konon para arwah leluhur itu secara berkala akan menuntut anak, cucu, buyut, intah, piat keturunannya untuk mengenakan kain langgundi. Begitulah, setiap satu, tiga, lima, dan tujuh tahun anak, cucu, buyut, intah, piat keturunannya akan jatuh sakit akibat terkena penyakit pingitan. Tidak ada obat lain yang dapat menyembuhkannya dari penyakit pingitan itu kecuali mengenakan kain langgundi.

Kain langgundi yang dipergunakan sebagai sarana pelengkap dalam terapi pengobatan alternatif itu dibuat dalam berbagai bentuk sesuai dengan keperluan, seperti sarung (tapih bahalai), bebat (babat), selendang (kakamban), dan ikat kepala (laung). Corak dan warna gambar kain langgundi sangatlah beragam (tidak melulu bercorak getas dan berwarna dasar kuning saja), karena setiap jenis penyakit pingitan menuntut adanya kain langgundi dengan corak dan warna gambar tertentu yang saling berbeda-beda. Sejak dipergunakan sebagai sarana pelengkap dalam terapi pengobatan alternatif inilah kain langgundi lebih dikenal sebagai kain sasirangan. Nama ini berkaitan dengan cara pembuatan, yakni disirang (kain yang dijelujur dengan cara dijahit kemudian dicelup ke dalam zat pewarna).

Berkaitan dengan bentuk (corak dan warna gambar), makna (corak dan warna gambar), dan fungsi kain sasirangan di atas, maka ini berarti sejak awal sudah menyandang fungsi sosial kultural, atau diberi fungsi sosial kultural sebagai tanda simbolik yang mengandung makna-makna semiotik tertentu yang khas etnis Banjar Banjar di Kalsel. Paling tidak, kain sasirangan merupakan tanda simbolik bahwa para pemakainya sedang mengidap suatu penyakit dan sekarang ini sedang menjalani terapi pengobatan alternatif.

Pada zaman dahulu kala, orang sudah mengetahui jenis penyakit yang diderita seseorang dari genre/jenis bentuk kain sasirangan yang dikenakannya, yakni :

1. Sarung sasirangan (tapih bahalai) dikenakan sebagai selimut untuk mengobati penyakit demam atau gatal-gatal

2. Bebat sasirangan (babat) yang dililitkan di perut dimaksudkan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit diare, disentri, kolera, dan sebenar jenis penyakit perut lainnya

3. Selendang sasirangan (kakamban) yang dililitkan di kepala atau disampirkan sebagai penutup kepala dimaksudkan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit kepala sebelah (migrain).

4. Ikat kepala sasirangan (laung) yang dililitkan di kepala dimaksudkan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit kepala sebelah (migrain).

Fungsi kain sasirangan sebagai tanda simbolik pada kasus di atas tidak berbeda dengan fungsi tanda simbolik yang melekat pada pakaian dinas yang dikenakan oleh para PNS, anggota polisi, anggota ABRI, dan para aparatur negara yang berseragam lainnya.

Beberapa buah rumah sakit swasta di kota Banjarmasin sudah sejak lama menyediakan busana harian khusus yang diseragamkan bagi para pasien yang sedang menjalani rawat inap. Mungkin, akan lebih menarik jika di kemudian hari ada rumah sakit swasta atau milik pemerintah di kota Banjarmasin memberikan busana harian khusus yang dibuat dari kain sasirangan.

Kain ini telah diakui oleh pemerintah melalui Dirjen HAKI Departemen Hukum dan HAM RI beberapa motif sasirangan sebagai berikut :
1. Iris Pudak
2. Kambang Raja
3. Bayam Raja
4. Kulit Kurikit
5. Ombak Sinapur Karang
6. Bintang Bahambur
7. Sari Gading
8. Kulit Kayu
9. Naga Balimbur
10. Jajumputan
11. Turun Dayang
12. Kambang Tampuk Manggis
13. Daun Jaruju
14. Kangkung Kaombakan
15. Sisik Tanggiling
16. Kambang Tanjung
Padahal motif sasirangan mencapai ratusan namun yang baru diakui oleh pemerintah baru 16 motif.
Berbagai macam produk sasirangan seperti :
a. Baju Pria dan Wanita
b. Jas Pria dan Wanita
c. Kopiah
d. Selendang
e. Horden
f. Taplak Meja
g. Sarung dll

Sumber : TKP
wal ai - 27/07/2010 09:39 PM
#66
Budaya Banjar Siap Dihidupkan
Budaya Banjar Siap Dihidupkan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

MARTAPURA, KOMPAS.com--Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar, Kalimantan Selatan, menyatakan kesiapannya menghidupkan kembali budaya Kesultanan Banjar yang tenggelam sejak zaman penjajahan dahulu.

"Untuk mengawali langkah tersebut, Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar (LAKKB) akan menggelar musyawarah tinggi adat dengan mengusung tema ’Memangku Adat, Menjemput Zaman’ pada 24 Juli 2010 di Banjarmasin," kata Ketua Panitia Pelaksana Musyawarah Tinggi Adat Gusti Abidinsyah, di Martapura, Kamis.

Ia mengatakan musyawarah itu juga sebagai bentuk kepedulian juriat (keturunan) untuk membangkitkan kembali kesultanan Banjar dan adat istiadat yang dulu dimusnahkan kaum penjajah.

"Kegiatan tersebut bukan hanya diisi musyawarah tinggi adat, tetapi juga pelantikan pemangku-pemangku adat di seluruh Kalimantan Selatan (Kalsel) serta pelantikan pengurus LAKKB," katanya.

Pada acara tersebut juga diundang para tokoh masyarakat Kalimantan, budayawan, dan akademisi.

Menurut dia, musyawarah tinggi adat diselenggarakan karena perkembangan jaman sekarang budaya keraton masa lampau atau budaya adat Banjar mulai luntur sehingga perlu kembali diapresiasi sebagai bentuk gerakan budaya yang mengarah kepada pelestarian budaya.

"Melalui kegiatan itu diharapkan mampu mengangkat dan melestarikan budaya Kesultanan Banjar namun bukan hanya untuk para keturunan tetapi pelestarian budaya Kesultanan Banjar bagi seluruh masyarakat Banjar dan Kalsel umumnya," ujar dia.

Ia mengatakan, melalui kegiatan tersebut selain diharapkan mampu membangkitkan sejarah dan budaya Kesultanan Banjar juga mengingatkan keturunan dan generasi penerus terhadap beratnya perjuangan leluhur mengusir penjajah jaman dulu.

Dikatakan, sejak 2004 lalu, keturunan kesultanan Banjar mendapat tempat dan menjadi salah satu bagian dalam Forum Silaturrahmi Keraton se Nusantara (FKSN) dan bulan Juni 2010 dibentuk FKSN wilayah Kalimantan Selatan dengan Ketua yang dipercayakan kepada Gusti Khairul Saleh.

Mengenai LAKKB, ia menjelaskan, pembentukannya bernaung payung hukum yakni Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 2007 tentang pedoman fasilitas organisasi kemasyarakatan bidang kebudayaan, keraton dan lembaga adat dalam pelestarian dan pengembangan budaya daerah.

"Peraturan itu menjadi dasar pembentukan LAKKB yang berfungsi membudayakan kembali kesultanan Banjar atau dikenal dengan istilah mengangkat batang kayu yang tenggelam atau menghidupkan kembali nilai-nilai luhur kearifan masa lampau Kesultanan Banjar dalam kehidupan masyarakat sekarang," jelasnya.

Namun, ia menekankan, upaya menghidupkan kembali kesultanan Banjar bukan berarti menghidupkan sistem feodalisme masa lampau tetapi hanya dijadikan upaya untuk menggali, melestarikan dan mengenalkan kembali nilai-nilai kearifan dan budaya Kesultanan Banjar.

"Bagi Kota Martapura, upaya ini sangat dibutuhkan karena pada masanya pusat Kesultanan Banjar berkembang di kawasan Martapura sehingga para keturunan harus bersatu untuk menghidupkan budaya yang sudah ditinggalkan cukup lama," katanya.

Ketua FKSN Kalsel, Gusti Khairul Saleh, membenarkan rencana diselenggarakannya musyawarah tinggi adat oleh LAKKB yang rencananya dihadiri seluruh pemangaku adat Banjar se-Kalimantan Selatan.

sumber :
http://oase.kompas.com/read/2010/07/23/03433895/Budaya.Banjar.Siap.Dihidupkan
http://hasanzainuddin.wordpress.com/budaya-banjar/attachment/141/
wal ai - 27/07/2010 10:10 PM
#67
Pegunungan Meratus dan Loksado Yang Tetap Menawan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Pegunungan Meratus merupakan kawasan hutan alami yang tersisa di Propinsi Kalimantan Selatan, letaknya membentang dari arah Tenggara sampai Utara berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Timur dan luasnya diperkirakan lebih dari sejuta hektar. Seperti umumnya kawasan pegunungan, kawasan ini termasuk ekosistem yang ringkih (fragile ecosystem) dan juga merupakan ecological sensitive area, dimana menuntut ekstra hati-hati dalam pembangunan kawasan pegunungan (Lihat Article 13 CBD - Convention on Biological Diversity) tentang Ekosistem Pegunungan dan sustainable mountain development).

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Lansekap Pegunungan Meratus berupa daerah berbukit-bukit yang sangat beragam dari sedang-terjal-sangat terjal dan beragam pula formasi ekosistem yang membentuknya. Sebagian kawasannya masih ditutupi oleh hutan alami, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi yang didominasi oleh formasi hutan campuran dipterocarpaceae perbukitan bawah-atas dan hutan hujan pegunungan. Secara administratif, kawasan ini berada pada 10 dari 13 wilayah Kabupaten di Propinsi Kalimantan Selatan.


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Formasi vegetasi utama di Pegunungan Meratus adalah hutan perbukitan campuran Dipterocarpaceae (Hill Mixed Dipterocarps) dan dilanjutkan dengan formasi hutan pegunungan bawah dimana merupakan kesatuan yang mendukung keragaman jenis mamalia (Payne, 1985), dan merupakan habitat penting bagi jenis-jenis flora yang dilindungi dan endemik, seperti; beberapa jenis Tengkawang (Shorea amplexicaulis, Shorea mecistopteryx, dan Shorea pinanga. (lihat Newman et. al., 1999), berbagai jenis anggrek, diantaranya adalah Arachnis breviscapa, Calanthe crenulata, Dendrobium olivaceum, Grammatophyllum speciosum, Paphiopedilum lowii, dan Paphiopedilum supardii (lihat Chan et.al., 1994). Berdasarkan ketinggian dari permukaan laut sebagian besar kelompok Hutan Lindung Pegunungan Meratus dapat dikelompokan sebagai hutan pegunungan bawah (Lower montane tropical rain forets) (Whitemore 1984 dalam Whitten, 1997). Berdasarkan hasil survei mikro pada tahun 1984 (Badan Intag, 1984), jenis pohon pohon yang dominan adalah : Meranti putih (Shorea spp), Meranti merah (Shorea spp), Agathis (Agathis spp), Kanari (Canarium dandiculatum BI), Kempas (Koompassia sp), Belatung (Quercus sp), Durian (Durio sp), Gerunggang (Croloxylon arborescen BI), Nyatoh (Palaquium spp), dan Medang (Litsea sp).

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Berbicara tentang Pegunungan Meratus, kita tentunya tidak akan melewatkan sebuah kawasan yang sudah cukup dikenal baik lokal maupun regional yaitu Loksado. Loksado sebagai salah satu area yang masuk dalam kawasan Pegunungan Meratus merupakan area yang kaya dengan sumber daya alam, 12 jenis tumbuhan endemik ada di daerah ini, dua diantaranya adalah keluarga palmae dan Satu jenis lagi yang sangat diminati oleh pihak Botanical Garden Edinburgh Inggris adalah Rhododendron alborugosum. Sampai saat ini belum diketahui kenapa tanaman ini sangat dicari oleh pihak tersebut. Sembilan jenis endemik lainnya adalah Lahung (Durio dulcis), Damar merah (Shorea beccariana, S. parvistipulata), Pitun (Shorea myrionerva), Damar (Shorea obscura, S. rugosa), Tengkawang (Shorea stenoptera), Resak (Vatica enderti) dan Binturung (Artocarpus lanceifolius). Kesembilan jenis ini hanya ada di pulau Kalimantan. Sedangkan untuk khazanah satwa, pada kawasan ini tidak kurang dari 31 jenis mamalia, 95 jenis avifauna, 46 jenis kupu-kupu, 24 jenis harpetofauna, dan 37 jenis ikan .

Loksado merupakan sebuah kecamatan yang berada di sekitar Pegunungan Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
Kota Kandangan merupakan ibukota HSS.Selain dianugerahi alam yg cantik, Kandangan juga memiliki pesona kuliner yg sangat terkenal yakni Dodol Kandangan & Ketupat Kandangan.

Loksado didiami oleh suku Dayak Meratus juga suku Banjar.Mereka hidup berdampingan secara damai, walopun banyak perbedaan yang mereka miliki.Itulah uniknya Indonesia tak terkecuali di Bumi Kalimantan.

sumber :
foto2 : hasil googling
http://www.ychi.org/index.php?option=com_content&task=view&id=116&Itemid=1
http://www.indobackpacker.com/2009/01/loksado-yang-tetap-menawan/
http://kalimantanku.blogspot.com/2009/06/aruh-ganal-dayak-meratus-di-loksado.html
sininja - 31/07/2010 10:13 AM
#68
Duta Wisata Barito Kuala, dari Nanang Galuh menjadi Atak Diang
Pemilihan Duta Wisata Di Barito Kuala, lazimnya disebut dengan Pemilihan Atak dan Diang. Kegiatan ini mirip-mirip dengan Pemilihan Abang None Jakarta, Cak Ning Jawa Timur atau Nanang Galuh Kalimantan Selatan.
Atak dan Diang di Kabupaten Barito Kuala awalnya hanya undangan bebas, siapa saja boleh ikut. Di bawah tahun 2008, kegiatan ini masih bernama Pemilihan Nanang Galuh (sebagaimana lazimnya yang di laksanakan seluruh Kab/Kota se-Kalsel). Namun sejak 2008, acara ini mnjadi Pemilihan Atak dan Diang. Pada masa nanang galuh, pelajar SMA sangat antusias jika dapat kesempatan, namun sekarang sudah menjadi agenda wajib 17 kecamatan di batola, biasanya perwakilan kecamatan ada yang masih sekolah, mahasiswa bahkan sebagian menurunkan PNS nya untuk mengikuti kegiatan ini.
Mengapa harus dirubah menjadi Atak Diang? hal ini tidak lepas dari sejarah dan budaya Barito Kuala, khususnya orang marabahan bahwa disini terdapat suku Dayak Bakumpai. Suku Dayak Bakumpai biasanya mendiami daerah hilir sungai atau pesisir sungai barito. Bahasa Bakumpai adalah termasuk dalam bahasa dayak, namun agak berbeda jika dibanding dengan bahasa yang digunakan suku dayak pedalaman. Bahasa Bakumpai marabahan masih dapat dimengerti oleh masyarakat Kapuas Kalimantan Tengah, namun jika lebih kedalam misalnya Puruk Cahu dan lainnya maka akan terjadi roaming alias kurang nyambung. Berkaca dari kenyataan bahwa masyarakat marabahan jaman dulu lebih ke-bakumpai-an dari pada ke-banjar-an maka Nanag Galuh pun akhirnya diganti dengan Atak Diang.
Pada dasarnya, kegiatan ini (pemilihan nanang galuh atau atak diang) sama-sama bertujuan untuk memilih putra putri daerah yang dapat diandalkan sebagai duta wisata, mampu memperkenalkan daerah dan keunikan daerah ini di hadapan masyarakat, baik dalam negeri maupun luar negeri. Pun sebenarnya, setiap Juara Atak dan Diang akan beradu dengan Nanang Galuh dari 12 kab/kota lain se-Kalimantan Selatan untuk menjadi Nanang dan Galuh Kalsel.
Dalam seleksi atak dan diang, ada sesi wawancara dan sesi penampilan.hal-hal yang menjadi penilaian dalam tes wawancara adalah : Pengetahuan Umum (daerah, nasional dan Internasional), Kepariwisataan dan Budaya (pariwisata batola, pandangan dan harapan terhadap kepariwisataan batola), dan kemampuan Bahasa Inggris (sebagai modal komunikasi global). Sedangkan dalam sesi penampilan adalah : Kemampuan Modeling (berjalan di catwalk), Kemampuan memperkenalkan diri, serta keterampilan dalam kesenian (kebiasaannya yang ditampilkan adalah : menari, berpantun, menyanyi maupun berpidato dalam bahasa asing).
Pada malam final, diadakan layaknya pemilihan putri indonesia dan sejenisnya. Kegiatan diawali dengan Parade di catwalk oleh masing-masinng pasangan (penilaian modeling), kemudian perkenalan diri (penilaian komunikasi), mengambil undian pertanyaan dan menjawab secara langsung (penilaian pengetahuan) dan dilanjutkan dengan menampilkan keterampilan (penilaian keterampilan). Dalam malam final ini busana yang digunakan adalah BATIK. kenapa bukan SASIRANGAN? karena menurut sejarahnya sasirangan baru muncul sekitar abad XII sampai abad ke XIV pada masa kerajaan Dipa, sementara BATIK sdh dikenal masyarakat Bakumpai jauh sebelum itu. Selain ini, kemampuan berbahasa yang wajib dimiliki oleh finalis adalah : Bahasa Indonesia, Bahasa Banjar, Bahasa Inggris (atau lainnya) dan juga BAHASA BAKUMPAI. inilah yang membedakan finalis nanang galuh dan atak diang.
Dengan demikian didapatkan pasangan Atak dan Diang yang benar-benar memiliki BBB alias Brain, Behavior dan Beautifull.
Beberapa dokumentasi yang menggambarkan kegiatan Atak dan Diang Barito Kuala 2010 (yang kebetulan salah satu kaskuser menjadi finalis dan finis di nomor 4 alias harapan I wkakwakwkaw)

Beberapa momen yang sempat terdokumentasi

Spoiler for finalis yang lolos seleksi.sininja ke 3 dari kiri

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for tamu special nanang galuh kalsel 2009, nanang galuh bjb, hst, juga ada miss kalimantan selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for para atak di kursi kebesaran amsing-masing, kaskuser ke 3 dari kiri

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for diang-diang nan cantik jelita

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for foto bersama unsur musipda batola

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for foto sama bupati dan istri,kaskuser ke 4 dari kanan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for saatnya ane narsis1

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for saatnya ane narsis2

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for saatnya ane narsis3

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for saatnya ane narsis4

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


sumber : pengalaman sendiri, google, dan baritokualakab.go.id
semoga bermanfaat untuk menambah informasi.
hymunk - 14/08/2010 01:59 AM
#69
Gusti Jamhar Akbar, Tokoh Seni Lamut
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Gusti Jamhar Akbar (lahir di Alalak, Kalimantan Selatan, 7 November 1942; umur 67 tahun) adalah seniman Indonesia, khususnya dalam bidang seni bertutur, yakni Lamut[1].

Dialah seniman yang sampai sekarang setia balamut (memainkan seni lamut). Jamhar menjadi pelamutan (orang yang menyampaikan cerita lamut) sejak umur 10 tahun. Ia menekuni kesenian ini selama 54 tahun. Kepandaian balamut dia dapatkan karena sejak kecil selalu diajak bapaknya bermain lamut.

Dalam keluarga Jamhar, kesenian ini diwariskan secara turun-temurun. Dia adalah keturunan keempat. Pertama kesenian lamut dikuasai oleh datunya (buyut), Raden Ngabe Jayanegara dari Yogyakarta. Raden Ngabe belajar lamut saat menjadi utusan Kerajaan Banjar yang bertugas di Amuntai, kini ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Utara[1].

Masa keemasan Jamhar mulai tahun 1960-an hingga 1985-an. Saat itu, setiap kali ia memainkan lamut, penonton berdesakan. Mereka tak beranjak semalam suntuk mendengarkan kisahnya. Pada masa itu hampir setiap malam ia diundang warga untuk balamut. Undangan tak hanya di Kalsel, tetapi dia berlamut sampai ke Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota di Kalimantan Tengah.

Pada masa itu Jamhar hanya bisa istirahat pada malam jumat. Cerita lamut yang dibawakan Jamhar bisa dimainkan bersambung selama 27 malam. Cerita dia kembangkan berdasarkan perjalanan hidupnya.

Belakangan ia hanya balamut untuk satu malam, selama sekitar lima jam. Dalam balamut, ia sisipkan pesan moral, kritik, dan saran. "Kini yang mengundang lamut sudah jarang, sebulan paling banyak tiga," tutur pelamutan yang pernah menerima honor Rp 1 juta setiap sekali main ini.

Di Banjarmasin, selain Jamhar, Gusti Nafsiah yang tinggal di Kampung Melayu juga bermain teater tutur ini. Nafsiah pernah ikut dengan Jamhar sebelum bermain sendiri.

Seni lamut bisa dikatakan bernasib malang karena kini di ambang punah. Satu per satu pelamutan meninggal dunia, sementara proses pewarisan dan regenerasi kesenian itu mandek. Seni berkisah itu juga semakin ditinggalkan karena generasi muda tak lagi tertarik memainkannya. Karena itulah, meski sudah tua, Jamhar terus memainkan lamut di Radio Republik Indonesia (RRI) Banjarmasin, setiap Jumat malam. Kegiatan ini ia jalani dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya, Jamhar juga balamut di Radio Nirwana, Banjarmasin, selama enam tahun.

Jamhar mengibaratkan lamut sebagai anak tiri yang tersisihkan. Pada 1982 di Kalsel ada 112 pelamutan. Kala itu, Jamhar, yang berusia 40 tahun, termasuk pelamutan muda. Kini, tak ada organisasi atau lembaga yang peduli kepada lamut, apalagi membina munculnya pelamutan baru.

Lamut semakin meredup seiring masuknya berbagai musik modern. "Lamut makin ditinggalkan orang setelah karaoke sampai ke desa-desa. Di Banjarmasin hanya saya dan Gusti Nafsiah. Salah satu anak saya masih malu memainkannya," ucapnya. "Hanya satu-dua jam saya balamut. Warga harus tahu lamut masih ada. Kesenian ini sangat berharga bagi Kalsel," kata Jamhar yang mendapat honor siaran Rp 350.000 per bulan.

Kehidupan pribadi

Kehidupan Kai Jamhar, panggilan Gusti Jamhar Akbar, memang sederhana. Pria berbadan kurus ini tinggal di permukiman padat. Untuk sampai ke rumahnya di Gang Mujahid Aman, Kelurahan Alalak Selatan, Kecamatan Banjar Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, orang harus jalan perlahan karena hanya bisa dilewati satu sepeda motor.

Di rumah kayu itu tak ada meja makan. Jamhar menerima tamu dengan duduk di lantai di ruang tamu. Maklum, kursi tamu plastik yang tersedia hanya dua. Di ruang itu terpasang foto Raden Rosmono, bapaknya, serta tiga piagam penghargaan yang diterima Jamhar. Kondisi yang kontras dengan peran besarnya dalam pelestarian kesenian tradisional Kalsel.

Lamut juga digemari warga keturunan Tionghoa di Banjarmasin. Mereka kerap minta lamut dimainkan saat hendak sembahyang di Pulau Kembang di tengah Sungai Barito di Banjarmasin.

"Mereka gemar mendengar cerita Bujang Maluwala karena ada kisah perkawinan dengan orang China," kata Jamhar yang beristri keturunan China dan penggemar lamut juga.

*

Kebakaran menjelang akhir 2009 di Gang Mujahid Aman, Kelurahan Alalak Selatan, Kecamatan Banjar Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu menghanguskan rumah dan harta benda keluarga Gusti Jamhar Akbar, maestro seni tradisional lamut. Dari sumbangan berbagai organisasi kemasyarakatan, instansi, dan dermawan, Jamhar membangun kembali rumah di tepi Sungai Barito itu, tempat ia hidup bersama istri, Ko Liang Chin, dan enam anak.

Bencana itu telah menghanguskan Pakem Lamut, kitab yang diwarisi Jamhar secara turun-temurun. Tapi dia sudah hafal isi kitab setebal 500 halaman itu, sehingga mampu menuliskannya kembali. Lelaki kelahiran Alalak pada 1942 itu menulis tiga salinannya, yang dia bagikan ke Museum Kalimantan di Banjarbaru, Sanggar Budaya Banjarmasin, dan Gusti Pansurna, anaknya selaku ahli waris lamut.

Lamut merupakan seni bertutur yang dibawakan dengan iringan musik terbang besar yang mengisahkan kehidupan Prabu Awang Selenong, raja di Palimbangan, dan para keturunannya, yakni Raja Bungsu, selanjutnya Raja Kasanmandi, Bujang Maulana, Bujang Busur, Bujang Jaya, dan Bang Bang Teja Aria. Menurut Jamhar, tokoh utama dalam cerita bertutur ini adalah Paman Lamut, lelaki berbadan pendek, gemuk, dan baik budi pekertinya, mirip punakawan dalam pewa yangan. Tokoh lain adalah Panglima Jaga Labai Buranta, Anglung, Angsina, Raja Kasanmadi, dan Raja Bungsu.

Syairnya berupa pantun, seperti: Kasanmandi gunung diguyang/kecil mulik, lamaknya sedang/rabah rimbunai, rambutnya panjang/ibu ramanya terlalu sayang//Kasanmandi yang ayu bang bang/elok rupanya, rambutnya panjang/babini balum, hanyarlah bujang/ibu ramanya terlalu sayang. Bila ditampilkan utuh, pertunjukan lamut akan berlangsung 28 hari.

Lamut ada dua jenis: lamut biasa untuk hiburan dan la mut tatamba yang disertai hundang-hundang (memanggil penghuni alam gaib) untuk pengobatan. Pertunjukan lamut tatamba dilengkapi sesajen berupa 43 jenis makanan dan buah kelapa.

Kemunculan kesenian ini berawal saat pedagang Cina pemilik kapal dagang Bintang Tse Cay mendarat di Amuntai (kini ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Utara) pada 1618. Raden Ngabe Jayanegara, datuk Jamhar, mendengar nya nyian lamut berbahasa Cina di kapal itu dan tertarik. Sang pedagang lantas menerjemahkannya ke dalam bahasa Melayu dan memberikannya kepada Raden Ngabe.

Sejak itu, Raden Ngabe suka melantunkannya. Ketika musik hadrah masuk kawasan itu, lamut pun dilantunkan dengan terbang. Lamut makin berkembang setelah masyarakat memintanya dimainkan setiap panen. Nama " lamut" konon berasal dari bahasa Arab, laamauta (tidak mati). Raden Ngabe mewariskan tradisi lamut secara turun-temurun hingga ke Jamhar.

Masa keemasan lamut terjadi pada 1960-1980-an. Pertunjukan Jamhar pasti disesaki penonton, yang betah mende ngarkannya semalam suntuk. Dulu Jamhar hanya bisa libur pada Jumat, tapi kini dia harus menunggu order yang mulai sepi. Dia menetapkan tarif Rp 1 juta untuk lamut hiburan dan Rp 1,5 juta untuk lamut tatamba. Jamhar sempat berpikir untuk pensiun dari lamut karena, menurut dia, la mut hanyalah cerita yang tak pasti kebenarannya. "Ini hanya kisah orang bahari," katanya. Tapi ia tetap tak bisa menolak permintaan orang untuk balamut.

Khaidir Rahman (Banjarmasin)



sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Gusti_Jamhar_Akbar
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/08/02/LYR/mbm.20100802.LYR134216.id.html
ingridaerhiana - 21/08/2010 02:39 PM
#70
eksotika pantai pagatan tanah bumbu
sore aga semuaakiss
sambil nunggu buka puasa..agan aga simakk neh ada info menarik dari tempat orang tua ane mengadu nasib (meski bukan tanah kelahiran )ngakakmalu

tepatnya Di Provinsi Kalimantan Selatan, disini terdapat satu kabupaten yang namanya cukup unik, yaitu Kabupaten Tanah Bumbu yang resmi berdiri sejak tahun 2003 berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2003.(maseh sangat belia ya ganmaho ) Dinamakan Tanah Bumbu, karena pada zaman dahulu daerah ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil pala dan rempah-rempah di Indonesia. Konon, pusatnya waktu itu adalah daerah di sekitar Batulicin dan Pagatan. Dewasa ini, kabupaten yang persis terletak di ujung tenggara Pulau Kalimantan ini terkenal dengan hasil tambangnya, terutama batu bara.Namun, sesungguhnya terdapat satu asosiasi lagi bila orang menyebut Tanah Bumbu, yaitu tempat wisata pantai yang eksotik'' imdahh banget gan..cuma sayag pantai ini maseh kjurangb dapat perhatia pemerintah setempat....
sayang skali,,,
neh ane kasi fotonya dahhh

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

nahh agan agan yang berminat bisa langsug dateng kesini nih...

dijamin gag bakalan ngecewain....ngakak

semoga bermanfaat
iloveindonesia
hymunk - 26/08/2010 01:09 PM
#71
Surat Wasiat dan Keris Abu Gagang,,
Spoiler for surat wasiat dan keris abu gagang
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Pangeran Yusuf Isnendar Cevi adalah pemegang Surat Wasiat dan Keris Abu Gagang yang merupakan peninggalan dari Sultan Adam..Beliau merupakan keturunan Pangeran Hidayatullah yang saat ini bermukin di cikampek jawa barat

Spoiler for peninggalan kesultanan banjar
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Berbagai Benda Peninggalan Kesultanan Banjar yang ada pada Pangeran Yusuf

Spoiler for setempel pangeran hidayatullah
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Stempel Pangeran Hidayatullah..


Surat Wasiat dan Keris Abu Gagang,,
Bismillaahirrahmaanirrahim.
Surat Wasiat ini masih tersimpan baik, memiliki perjalanan sejarah yang panjang, dan mungkin tidak sembarang orang bisa memegangnya/menyimpannya. (Wallahualam bishawab)
Surat wasiat Sultan Adam ini intinya adalah pengaturan suksesi tahta Kesultanan Banjar kepada cucunya Pangeran hidayatullah. Dibuat pada tanggal 12 Shafar 1259 H, atau 14 Maret 1843 M, 14 tahun sebelum Sultan Adam Wafat (usia Pr Hidayat ~ 21 thn). Kenapa kepada cucunya ? saya kurang tahu pasti, yang pasti karena anak beliau Sultan Muda Abdurrahman wafat dan Pr. Hidayatullah adalah anak dari Sultan Muda Abdurrahman, kemungkinan terbesar cucunya tersebut memiliki perangai yang baik, sampai2 Sultan Adam menaruh hormat terhadap Pr. Hidayatullah.
Agar tidak terjadi perselisihan, Sultan Adam dengan bijak segera membuat Surat Wasiat Suksesi Kesultanan Banjar karena wafatnya anak beliau sebagai putra mahkota. Hal ini mencegah terjadi perebutan kekuasaan sesama anak-anak beliau maupun cucu-cucunya.
Sesudah Wafatnya Sultan Adam tahun1857 M , surat wasiat tersebut dibacakan oleh Mufti Kesultanan Banjar Haji Jamaluddin. Maka di nobatkanlah Pr. Hidayatullah sebagai Sultan, Raja Banjar dengan gelar Al-sulthan Hidayatullah Al-watsiqubillah.
Sepeninggal Sultan Hidayatullah tahun 1904, surat wasiat ini kemudian dipegang oleh putra beliau Pr. Alibasyah, kemudian oleh kakekku Pr. Sadibasyah (beliau sempat melegalisir keabsahan surat wasiat tersebut tahun 1974) dan selanjutnya oleh Ibunda Ratu Yus Roostianah Arma (disahkan dengan saksi dari adik-adiknya kakek dan putra - putrinya kakek).
Selanjutnya Surat wasiat tersebut yang memegang adalah saya, Pr. Yusuf Isnendar (Cevi), sesuai amanat Ibunda ketika sakit (akan tetapi saat itu kesadaran ibunda sunguh baik) dan amanat itu menjelang kepergiannya ke hadirat Ilahi tgl 10 Maret 2008. (disaksikan pula oleh Abah dan kakak-kakakku).
Ini adalah alih aksara kedalam huruf latin dari surat wasiat. Surat wasiat ditulis dalam tulisan ArabMelayu/Arab Banjar. ( Lihat Foto Surat Wasiat )


Bismillahirrahmannirrahim
Asyhadualla illahhaillallah naik saksi aku tiada Tuhan lain yang disembah denngan se-benar2nya hanya Allah. Wa asyhaduanna Muhammaddarrasulullah naik saksi aku Nabi Muhammad itu se-benar2nya pesuruh Allah Ta'alla.
Dan kemudian dari pada itu aku menyaksikan kepada dua orang baik2 yang memegang hukum agama Islam yang pertama Mufti Haji Jamaluddin yang kedua pengulu Haji Mahmut serta aku adalah didalam tetap ibadahku dan sempurna ingatanku.
Maka adalah aku memberi kepada cucuku Andarun bernama Pangeran Hidayatullah suatu desa namanya Riyam Kanan maka adalah perwatasann tersebut dibawah ini , mulai di Muha Bincau terus di Teluk Sanggar dan Pamandian Walanda dan Jawa dan terus digunung Rungging terus digunung Kupang terus di gunung Rundam dan terus di Kepalamandin dan Padang Basar terus dipasiraman gunung Pamaton terus digunung Damar terus di Junggur dari Junggur terus di kala'an terus digunung Hakung dari Hakung terus digunung Baratus, itulah perwatasan yang didarat.
Adapun perwatasan yang di dipinggir sungai besar maka adalah yang tersebut dibawah ini, mulai diteluk Simarak terus diseberang Pakan Jati terus seberang Lok Tunggul terus seberang Danau Salak naik kedaratnya Batu Tiris terus Abirau terus di Padang Kancur dan Mandiwarah menyebalah gunung Tunggul Buta terus kepeda Pahalatan Riyam Kanan dan Riyam Kiwa dan tamunih yaitu Kusan.
Kemudian aku memberi keris namanya Abu Gagang kepada cucuku.
Kemudian lagi aku memberi suatu desa namanya Margasari dan Muhara Marampiyau dan terus di Pabaungan kahulunya Muhara Papandayan terus kepada desa Batang Kulur dan desa Balimau dan desa Rantau dan desa Banua Padang terus kahulunya Banua Tapin.
Demikianlah yang berikan kepada cucuku adanya.
Syahdan maka adalah pemberianku yang tersebut didalam surat kepada cucuku andarun Hidayatullah hingga turun temurun anak cucunya cucuku andarun Hidayatullah serta barang siapa ada yang maharu biru maka yaitu aku yiada ridho dunia akhirat.
Kemudian aku memberi tahu kepada sekalian anak cucuku dan sekalian raja-raja yang lain dan sekalian hamba rakyatku semuanya mesti me-rajakan kepada cucuku andarun Hidayatullah ini buat ganti anakku Abdurrahman adanya.
Tertulis kepada hari Isnain tanggal 12 bulan Shaffar 1259
Syahid mufti Haji Jamaluddin, Syahid pengulu Haji Mahmut.


sumber : http://www.facebook.com/photo.php?pid=269927&id=100000635787941&ref=fbx_album
hymunk - 11/09/2010 08:17 AM
#72
Syair Sejarah Kerajaan Negara Dipa
Bermula kalam kami tuliskan
Segenap pikiran dicurahkan
Untuk menyusun syair kesejarahan
Merangkai kejadian secara berurutan

Adapun nama syair yang dituliskan
Kerajaan Negaradipa di Kalimantan Selatan
Sebagai bahan pengetahuan
Untuk Saudara, Kawan sekalian

Walaupun bukti sejarah Kalimantan Selatan
Tidak berupa benda bertuliskan
Namun bekas kerajaan dapat dibuktikan
Menurut penelitian para sejarawan

Bekas kerajaan yang dapat disebutkan
Seperti Candi Agung bukti peninggalan
Letaknya di Amuntai sudah dipastikan
Pemugarannya pun sudah dilakukan

Mangkubumi saudagar kaya
Kerabat raja yang bijaksana
Berputra seorang elok rupanya
Empu Jatmika konon namanya

Empu Jatmika terus bertambah usianya
Hingga dewasa menjadi cendikia
Dikimpoikan dengan Sira Manguntur namanya
Putri cantik pandai bertutur kata

Empu Mandastana dan Lambung Mangkurat
Kakak beradik tampan gagah muda belia
Itulah namanya putra Empu Jatmika
Sama elok sama tampan sama pandainya

Karena sudah keadaan
Sakitlah Mangkubumi yang dipertuan
Hamba sahaya semua bersedih menaruh kasihan
Kemudian semua sanak famili dikumpulkan

Saudagar Mangkubumi yang dipertuan
Sakitnya bertambah tidak tertahan
Selalu dijaga seluruh handai taulan
Dari hari berganti bulan

Setelah Mangkubumi merasa tidak kuat bertahan
Saatnya dunia yang fana harus ditinggalkan
Nafas terengah air mata mengalir perlahan
Lemah tak berdaya sekujur badan

Empu Jatmika dan kedua putranya
Duduk bersimpuh bersama ibunya
Membelai mencium tangan ayahanda
Duduk terpekur membaca doa

Lalu berkata Mangkubumi tercinta
Meninggalkan amanat kepada anakda
Hadirin mendengar dengan hikmatnya
Diterimalah wasiat oleh anak cucunya

Adapun amanat yang ditinggalkannya
Kepada anaknya Empu Jatmika
Tersusun bunyi kata-katanya
Harus kerjakan diingat pula

Wahai anakku Empu Jatmika
Serta cucuku Empu Mandastana
Lambung Mangkurat duduk beserta
Sira Manguntur dan neneknya Sitira

Jika aku sudah tak ada lagi
Meninggalkan dunia yang fana ini
Pertama-tama jagalah diri
Martabat keluarga dijunjung tinggi

Kedua pula janganlah kikir
Bersikaplah adil tak boleh mungkir
Hormatilah pula setiap orang pakir
Setiap tindakan harus dipikir

Selain itu sebagai ketiga
Sesudah aku meninggalkan dunia
Hendaklah turut dan kerjakan segera
Pergilah anakda dari negeri kita

Sebabnya itu wahai anakku tersayang
Di negeri Keling negeri kita sekarang
Banyaklah orang sebagai penghalang
Yang iri dengki selalu datang

Karena aku wahai anakda
Adalah orang yang kaya raya
Arif pula dan bijaksana
Lembaga adat dan tata kerama

Itulah sebabnya dengarkan petuahku
Memberi amanat kepada anakku
Tinggalkan negeri cari yang baru
Tandanya bertanah panas harum berbau

Untuk menyatakan kehendak yang dalam
Galilah tanah itu di tengah malam
Ambil sekepal lalu digenggam
Semoga datang pertanda tenteram

Jika digenggam terasa panas
Harum baunya cukup keras
Itulah tanda rahmat datang dari atas
Makmur sentosa rakyat tidaklah cemas

Hendaklah anakda tinggal disana
Janganlah ragu mendirikan istana
Terhindar segala musuh dan bahaya
Perdagangan ramai makmur sentosa

Jika tanah harum baunya
Tetapi sangat dingin rasanya
Itulah tanda kurang kemakmurannya
Buruk dan baik seimbang adanya

Jika tanah berbau busuk
Tambah pula dingin terasa menusuk
Itulah tanda huru hara akibat buruk
Negeri bakal jatuh terpuruk

Pun pula segala derita
Kesukaran selalu tiada putus-putusnya
Janganlah suka tinggal disana
Buruklah nanti hidup anakda

Sekalian yang hadir berduka cita
Tambah pula Empu Jatmika
Meratap menangis beriba-iba
Ditinggalkan ayahanda yang sangat tercinta

Empu Jatmika dan ibu Sitira
Empu Mandastana dan Lambung Mangkurat dua bersaudara
Pilu di dada tiada terkira
Ingat amanat paduka ayahanda

Dari hari berganti bulan
Siang dan malam tidak terlupakan
Amanat almarhum ayahanda tuan
Yang harus segera dilaksanakan

Alangkah sedih pilu di badan
Empu Jatmika keluarganya sekalian
Negeri Keling tempat kelahiran
Harus segera mesti ditinggalkan

Di suatu hari di awal bulan
Empu Jatmika yang dipertuan
Minta menghadap Hulubalang sekalian
Hamba sahaya tidak ketinggalan

Sanak keluarga juga dikumpulkan
Semuanya hadir tiada yang ketinggalan
Datang menghadap dalam kerapatan
Mendengarkan apa yang harus diputuskan

Maka berkatalah Empu Jatmika
Kepada Hulu Balang Penganan Pengiwa
Arya Magatsari, Tumenggung Tatahjiwa
Wiramartas guru bahasa

Empu Jatmika mulai menerangkan
Maksud dan tujuan dalam kerapatan
Apa yang kurang boleh ditambahkan
Segala pendapat kita simpulkan

Segala kesimpulan permusyawaratan
Dijadikan dalam satu keputusan
Harus segera dikerjakan
Agar tercapai semua tujuan

Keputusan rapat dibacakan
Kepada hadirin yang mendengarkan
Negeri Keling harus segera ditinggalkan
Siapkan semua alat perlengkapan

Semua keluarga diberitahukan
Kumpulkan semua harta kekayaan
Janganlah sedih janganlah duka
Sudah kehendak Yang Maha Kuasa

Empu Jatmika dengan kedua putra
Sira Manguntur dengan ibunya Sitira
Menumpangi kapal si Prabayaksa
Kapal besar pimpinan armada

Kapal layar si Prabayaksa
Kapal pelopor sekalian armada
Dipimpin oleh Kepala Nahoda
Wiramartas yang bijaksana

Hulubalang Penganan Pengiwa
Arya Megatsari, Tumenggung Tatah Jiwa
Tetap mengawal Empu Jatmika
Serta sekalian keluarga

Waktu berangkat sudahlah tiba
Di ampat belas bulan, bulan ketiga
Armada siap nahoda siaga
Menunggu perintah kepala nahoda

Armada bertolak layar dikembangkan
Angin bertiup dari selatan
Negeri Keling sudah ditinggalkan
Tak tampak lagi dalam penglihatan

Kapal besar Si Prabayaksa
Kapal pelopor sekalian armada
Tampak anggun lagi perkasa
Melaju di lautan dengan cepatnya

Armada beriringan dengan gagahnya
Lautan lepas tujuannya
Ombak melanda silih berganti
Namun nahoda tetap pegang kendali

Empu Mandastana yang muda belia
Lambung Mangkurat dengan neneknya Sitira
Duduk berpikir-pikir di dalam dada
Kemanakah gerangan tujuan kita

Di suatu pagi yang amat cerah
Di hari baik di bulan indah
Matahari pun timbul baru sepenggalah
Lautan tenang sangatlah indah

Seorang nahoda penjaga haluan
Tiba-tiba berteriak memberitahukan
Itu daratan hijau membentang kelihatan
Hatinya gembira tiada tertahankan

Sebagaimana amanat ayahanda
Ketika hendak meninggal dunia
Empu Jatmika terus bekerja
Menggali tanah di malam buta

Tanah diambil sekepal lalu digenggamnya
Ternyata sangat dingin rasanya
Berbau sengal jelas tak ada harumnya
Alamat negeri huru-hara adanya

Amanat ayahanda kiranya nyata
Tanah digali sangat dingin rasanya
Berbau busuk alamat huru-hara
Sedih hatinya Empu Jatmika

(bersambung)

sumber : http://kerajaanbanjar.com
hymunk - 15/09/2010 10:51 PM
#73
Perang Meriam Karbit di Kalimantan Selatan
Tradisi ini digelar setiap tahun pada Perayaan Idul Fitri, Puluhan Meriam yang terbuat dari batang Phon Aren / HANAU.....menghabiskan Ratusan Kilogram KARBIT (Kalsium karbida), dimulai pada malam pertama lebaran sampai besok harinya.

Spoiler for duaaaar...
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for waaaaww...
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan




Meriam Karbit panjang 5-7 meter..pohon enau ,kelapa dan pinang jumlah 54 buah konsumsi karbit 500gram per tembakan.
lokasi Desa Palajau kecamatan Pandawan Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan...event tahunan biaya sekitar 25-30 jt,diperlukan sekitar 1 ton karbit untuk satu malam.
di bungkus anyaman bambu supaya tdk pecah...biaya per meriam sekitar 450rb..event ini bisa menyedot pengunjung ribuan biasanya terkendala dengan lokasi yg tdk bisa menampung...biasanya penonton harus menggunakan penutup telinga supaya aman....

Spoiler for duaaaar...
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for duaaaar...
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for duaaaar...
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for duaaaar...
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



Merayakan Lebaran dengan Perang Meriam Karbit
Terdengar Sampai Puluhan Kilometer, yang Jantungan Mengungsi

Tradisi Batampur (perang, Red) meriam karbit Palajau sudah berlangsung selama 30 tahun lebih. Even tahunan yang menjadi even wisata saat malam lebaran ini, digelar secara swadaya oleh masyarakat setempat, tanpa campur tangan pemerintah.
Menariknya, adu nyaring meriam karbit yang selongsongnya terbuat dari pohon aren ini, berlangsung selama 12 jam. Jadi semalaman, dentuman meriam yang bisa terdengar hingga jarak sepuluh kilometer ini, silih berganti.
Suaranya begitu memekakkan telinga, bahkan ketika sebuah meriam ditembakkan, tanah dalam radius beberapa meter di sekitarnya bergetar. Tapi rupanya, inilah yang menjadi daya tarik pengunjung, seperti diakui Ari, warga Jalan Ulama, Kota Barabai. “Saya sudah menunggu-nunggu malam ini, bahkan saya mengajak teman dari Marabahan, untuk menyaksikan menonton batampur meriam karbit,” ujarnya.
Bukti bahwa even ini diminati, juga bisa dilihat dari banyaknya pengunjung yang ingin melihat dari dekat aksi meriam-meriam tersebut. Lokasi di sekitar lapangan tempat dijejernya meriam karbit disesaki manusia, bahkan ruas jalan menuju tempat ini terlihat macet hingga empat kilometer.

Bila meriam siap diledakkan, obor yang akan digunakan untuk menyulutnya terlebih dahulu diangkat tinggi-tinggi. Para pengunjung pun siap-siap untuk menutup telinga.
Ahmad Kursani, Ketua Panitia Gabungan Budaya Batampur Meriam Karbit yang terdiri dari Desa Palaju, Pandawan, Bulian, Rasau, Palas dan Banua Asam membeberkan, kegiatan ini murni menarik minat pengunjung, untuk melihat langsung kegiatan even yang sudah mentradisi tersebut. Sebulan sebelum acara digelar, panitia sudah mengumumkan melalui brosur dan radio lokal.
Warga yang ingin berpartisipasi dalam even ini pun harus menyiapkan sendiri selongsong meriamnya.
“Ada yang membuatnya dari pohon enau (aren, Red), ada juga yang menggunakan pipa besi yang memiliki diameter 50 centimeter, kalau panjangnya ada yang sampai 14 meter,” ujarnya.
Untuk batang aren, proses yang dilalui untuk sampai menjadi sebuah meriam cukup panjang. Paling cepat perlu waktu tiga hari untuk menyiapkannya dan bisa menghabiskan biaya Rp500 ribu untuk membuat satu meriam.


[youtube]YMOK0gxNCrg[/youtube]


[youtube]Y0FDhlRRH6A[/youtube]


“Mulanya pohon enau dibelah, kemudian bagian tengahnya dibolongi dan selanjutnya disatukan lagi,” terang Kursani.
Setelah disatukan, sambungan antara kedua belah batang aren ini harus betul-betul rapat, karena itu bagian sambungan diberi dempul. Lalu diikat lagi dengan lilitan tali bambu, agar sambungan betul-betul kuat.
Dekat pangkal meriam, disediakan lubang kecil untuk memasukkan karbit dan air. Setelah air dan karbit dimasukkan, lubang itu biasanya ditutup terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian dibuka dan ketika disulut dengan api, bummm, meriam pun meledak.
Agar meriam bisa terus diledakkan selama 12 jam, panitia pun menyiapkan 1,2 ton karbit dan air bersih sekitar 20 ribu liter.
“Kalau dari sisi jumlah, meriamnya tahun ini lebih sedikit, rekornya pada tahun 2003 lalu, diikuti sekitar 120 meriam. Tapi dari sisi penonton, tahun ini sangat banyak,” ujar Kursani.
Sementara itu, disinggung mengenai efek bunyi ledakan yang bisa berbahaya, menurut Kursani, warga di enam desa terdekat bersepakat, apabila ada kerusakan, akan diganti oleh panitia.
“Sementara itu, mereka yang sakit, jantungan atau orang-orang yang lanjut usia, sementara diungsikan ke rumah keluarga yang jaraknya cukup jauh,” tandasnya.

sumber :
http://www.youtube.com/
http://www.radarbanjarmasin.co.id
http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs319.snc4/41289_1275380583368_1795578144_530601_1765131_ n.jpg
http://www.facebook.com/album.php?aid=34048&id=100000569460976
hymunk - 20/09/2010 07:12 PM
#74
ragam seni budaya kalimantan selatan
Spoiler for sinoman hadrah


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for mamanda


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for bagasing

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for pasar terapung
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for musik panting
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for kurung-kurung
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for penari baksa kembang


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for penari radap rahayu
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
hymunk - 22/09/2010 11:11 PM
#75
Asal Usul Kota Banjarmasin
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Pada zaman dahulu berdirilah sebuah kerajaan bernama Nagara Daha. Kerajaan itu didirikan Putri Kalungsu bersama putranya, Raden Sari Kaburangan alias Sekar Sungsang yang bergelar Panji Agung Maharaja Sari Kaburangan. Konon, Sekar Sungsang seorang penganut Syiwa. la mendirikan candi dan lingga terbesar di Kalimantan Selatan. Candi yang didirikan itu bernama Candi Laras. Pengganti Sekar Sungsang adalah Maharaja Sukarama. Pada masa pemerintahannya, pergolakan berlangsung terus-menerus. Walaupun Maharaja Sukarama mengamanatkan agar cucunya, Pangeran Samudera, kelak menggantikan tahta, Pangeran Mangkubumi-lah yang naik takhta.

Kerajaan tidak hentinya mengalami kekacauan karena perebutan kekuasaan. Konon, siapa pun menduduki takhta akan merasa tidak aman dari rongrongan. Pangeran Mangkubumi akhirnya terbunuh dalam suatu usaha perebutan kekuasaan. Sejak itu, Pangeran Tumenggung menjadi penguasa kerajaan.

Pewaris kerajaan yang sah, Pangeran Samudera, pasti tidak aman jika tetap tinggal dalam Lingkungan kerajaan. Atas bantuan patih Kerajaan Nagara Daha, Pangeran Samudera melarikan diri. Ia menyamar dan hidup di daerah sepi di sekitar muara Sungai Barito. Dari Muara Bahan, bandar utama Nagara Daha, mengikuti aliran sungai hingga ke muara Sungai Barito, terdapat kampung-kampung yang berbanjar-banjar atau berderet-deret melintasi tepi-tepi sungai. Kampung-kampung itu adalah Balandean, Sarapat, Muhur, Tamban, Kuin, Balitung, dan Banjar.

Di antara kampung-kampung itu, Banjar-lah yang paling bagus letaknya. Kampung Banjar dibentuk oleh lima aliran sungai yang muaranya bertemu di Sungai Kuin.

Karena letaknya yang bagus, kampung Banjar kemudian berkembang menjadi bandar, kota perdagangan yang ramai dikunjungi kapal-kapal dagang dari berbagai negeri. Bandar itu di bawah kekuasaan seorang patih yang biasa disebut Patih Masih. Bandar itu juga dikenal dengan nama Bandar Masih.

Patih Masih mengetahui bahwa Pangeran Samudera, pemegang hak atas Nagara Daha yang sah, ada di wilayahnya. Kemudian, ia mengajak Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung, dan Patih Kuin untuk berunding. Mereka bersepakat mencari Pangeran Samudera di tempat persembunyiannya untuk dinobatkan menjadi raja, memenuhi wasiat Maharaja Sukarama.

Dengan diangkatnya Pangeran Samudera menjadi raja dan Bandar Masih sebagai pusat kerajaan sekaligus bandar perdagangan, semakin terdesaklah kedudukan Pangeran Tumenggung. Apalagi para patih tidak mengakuinya lagi sebagai raja yang sah. Mereka pun tidak rela menyerahkan upeti kepada Pangeran Tumenggung di Nagara Daha.

Pangeran Tumenggung tidak tinggal diam menghadapi keadaan itu. Tentara dan armada diturunkannya ke Sungai Barito sehingga terjadilah pertempuran besar-besaran. Peperangan berlanjut terus, belum ada kepastian pihak mana yang menang. Patih menyarankan kepada Pangeran Samudera agar minta bantuan ke Demak. Konon menurut Patih Masih, saat itu Demak menjadi penakluk kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa dan menjadi kerajaan terkuat setelah Majapahit.

Pangeran Samudera pun mengirim Patih Balit ke Demak. Demak setuju nnemberikan bantuan, asalkan Pangeran Samudera setuju dengan syarat yang mereka ajukan, yaitu mau memeluk agama Islam. Pangeran Samudera bersedia menerima syarat itu. Kemudian, sebuah armada besar pun pergi menyerang pusat Kerajaan Nagara Daha. Armada besar itu terdiri atas tentara Demak dan sekutunya dari seluruh Kalimantan, yang membantu Pangeran Samudera dan para patih pendukungnya. Kontak senjata pertama terjadi di Sangiang Gantung. Pangeran Tumenggung berhasil dipukul mundur dan bertahan di muara Sungai Amandit dan Alai. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Panji-panji Pangeran Samudera, Tatunggul Wulung Wanara Putih, semakin banyak berkibar di tempat-tempat taklukannya.

Hati Arya Terenggana, Patih Nagara Dipa, sedih melihat demikian banyak korban rakyat jelata dari kedua belah pihak. Ia mengusulkan kepada Pangeran Tumenggung suatu cara untuk mempercepat selesainya peperangan, yakni melalui perang tanding atau duel antara kedua raja yang bertikai. Cara itu diusulkan untuk menghindari semakin banyaknya korban di kedua belah pihak. Pihak yang kalah harus mengakui kedaulatan pihak yang menang. Usul Arya Terenggana ini diterima kedua belah pihak.

Pangeran Tumenggung dan Pangeran Samudera naik sebuah perahu yang disebut talangkasan. Perahu-perahu itu dikemudikan oleh panglima kedua, belah pihak. Kedua pangeran itu memakai pakaian perang serta membawa parang, sumpitan, keris, dan perisai atau telabang.

Pangeran Samudera Asal Mula Nama Kota BanjarmasinMereka saling berhadapan di Sungai Parit Basar. Pangeran Tumenggung dengan nafsu angkaranya ingin membunuh Pangeran Samudera. Sebaliknya, Pangeran Samudera tidak tega berkelahi melawan pamannya. Pangeran Samudera mempersilakan pamannya untuk membunuhnya. Ia rela mati di tangan orang tua yang pada dasarnya tetap diakui sebagai pamannya.

Akhirnya, luluh juga hati Pangeran Tumenggung. Kesadarannya muncul. la mampu menatap Pangeran Samudera bukan sebagai musuh, tetapi sebagai keponakannya yang di dalam tubuhnya mengalir darahnya sendiri. Pangeran Tumenggung melemparkan senjatanya. Kemudian, Pangeran Samudera dipeluk. Mereka bertangis-tangisan.

Dengan hati tulus, Pangeran Tumenggung menyerahkan kekuasaan kepada Pangeran Samudera. Artinya, Nagara Daha ada di tangan Pangeran Samudera. Akan tetapi, Pangeran Samudera bertekad menjadikan Bandar Masih atau Banjar Masih sebagai pusat pemerintahan sebab bandar itu lebih dekat dengan muara Sungai Barito yang telah berkembang menjadi kota perdagangan. Tidak hanya itu, rakyat Nagara Daha pun dibawa ke Bandar Masih atau Banjar Masih. Pangeran Tumenggung diberi daerah kekuasaan di Batang Alai dengan seribu orang penduduk sebagai rakyatnya. Nagara Daha pun menjadi daerah kosong.

Sebagai seorang raja yang beragama Islam, Pangeran Samudera mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah. Hari kemenangan Pangeran Samudera atau Sultan Suriansyah, 24 September 1526, dijadikan hari jadi kota Banjar Masih atau Bandar Masih.

Karena setiap kemarau landang (panjang) air menjadi masin (asin), lama-kelamaan nama Bandar Masih atau Banjar Masih menjadi Banjarmasin.

Akhirnya, Sultan Suriansyah pun meninggal. Makamnya sampai sekarang terpelihara dengan baik dan ramai dikunjungi orang. Letaknya di Kuin Utara, di pinggir Sungai Kuin, Kecamatan Banjar Utara, Kota Madya Daerah Tingkat II Banjarmasin.

Setiap tanggal 24 September Wali Kota Madya Banjarmasin dan para pejabat berziarah ke makam itu untuk memperingati kemenangan Sultan Suriansyah atas Pangeran Tumenggung. Sultan Suriansyah adalah sultan atau raja Banjar pertama yang beragama Islam.

sumber : http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/asal-usul-kota-banjarmasin.html
hymunk - 06/10/2010 11:24 AM
#76
Jujuran
Indonesia memang negeri dengan 1001 budaya yang berada dari ujung sabang sampai meraoke. Dan budaya itu bisa berbeda dari satu daerah dan daerah lain. Bahkan dalam satu daerah terdapat beberapa budaya yang berbeda. Termasuk didalamnya tata cara dalam sebuah perkawinan..

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

“Dan mengenai besarnya jujuran tergantung dari orang tua perempuan dan status keluarga perempuan, semakin tinggi status sosialnya ya, biasanya jujurannya semakin tinggi. dan mempunyai nilai prestisius dari sebuah keluarga”

Dalam adat kawin Banjar ada satu syarat yang harus dipenuhi oleh calon pengantin pria, yaitu Jujuran. Biasanya Jujuran ini berbentuk uang tunai. Zaman dahulu Jujuran adalah f. 4,- (empat rupiah atau empat Gulden) sebagai syarat sah nikah mengikut agama Islam.

Jujuran bisa diminta kembali apabila dalam hal perkawinan terjadi kegagalan (sang istri belum atau tidak mau dicampuri suami) sehingga Jujuran harus dikembalikan sepenuhnya. Apabila pihak pria mencerai istrinya (kegagalan dalam perkawinan), Jujuran tersebut dianggap hilang

Mahalnya Jujuran bagi seorang gadis ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain:
- kemampuan orang tua si gadis di bidang ekonomi/orang tua si gadis orang terpandang
- kecantikan si gadis
- karena memang dikehendaki orang tua si gadis demi ongkos perkawinan dan bekal hidup bagi mempelai

Dalam kebiasaan masyarakat Banjar, Jujuran ini ikut menentukan berhasil atau tidaknya acara perkawinan nantinya. Pernah ditemui cerita batalnya perkawinan akibat pihak pria tidak bisa memenuhi permintaan besarnya Jujuran atau terjadi kesalahpahaman dengan besarnya Jujuran. Di masyarakat umum jumlah Jujuran bisa juga diambil patokan dari besarnya Jujuran kebanyakan orang di daerah tersebut.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Orang luar daerah biasanya salah paham dengan konsep Jujuran Urang Banjar, sehingga sering disebut seperti ‘jual anak’. Kebanyakan uang Jujuran digunakan untuk meriahnya acara perkawinan dengan berbagai adat yang menyertainya serta untuk membeli perlengkapan rumah tangga bagi mempelai di kehidupan yang akan dijalani, selain faktor yang telah disebutkan diatas.

Kalo diliat dari sisi positifnya, itu mungkin untuk mengetahui sejauh mana pria sebagai suami berkomitmen untuk menyejahterakan rumah tangganya...

sumber narasi :
http://kerajaanbanjar.com
sumber foto :
http://hees-di-leuweung.blogspot.com
hymunk - 10/10/2010 12:54 AM
#77
Gunung Kentawan
Spoiler for Gunung Kentawan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Cagar Alam Gunung Kentawan terletak di Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Kawasan konservasi ini menempati lahan seluas 257,9 hektar. Diresmikan sebagai cagar alam berdasarkan Mentan No. 109/Kpts/Um/2/79, 10 Februari 1979.

CAGAR ALAM GUNUNG KENTAWAN
1. STATUS
Berdasarkan SK.Menteri Kehutanan Nomor.336/Kpts-II/1999 tanggal 24 Mei 1999.Luas 257,90 Ha

2. FISIK

Secara geografis terletak pada 2° -2° 41’ LS dan 115° 29’-115° 31’ BT
Berlokasi di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Propinsi Kalimantan Selatan

Ketinggian : 50 – 120 m.dpl
Topografi : Lereng bergelombang s/d sangat curam
Iklim :Tipe A Curah Hujan : 2.621 mm/tahun
Tanah : Podsolik merah kuning,latosol,litosol

Flora :
Beberapa jenis vegetasi diantaranya : Kariwaya (Ficus indicata) Damar batu (Vatica bancana) Barui laki (Hibiscus sp.) Loa (Ficus variegata) Kemiri (Aleurites moluccana) Damar Putih (Hopea ferrugenia) Kayu tahun (Shorea sandakanensis) Surian (Toona suren) Natu (Palaquium xanthochymum) Ulin (Eusideroxylon zwageri) Kujajing (Ficus sp.)

8 jenis bambu : paring banar, paring tali, bubuh,
haur, lirik, tamiyang, kalai dan batung.
28 jenis anggrek diantaranya :
A. lukut batu (Catteleya sp.) A. paikat (Eria regida) A. tunjuk (Dendrobium sp.). A. bawang (Onsidium sp.)

Fauna :
16 jenis mamalia diantaranya : Bekantan (Nasatis larvantus) Owa-owa (Hylobates muelleri) Hirangan/lutung (Presbytis cristata) Bangkui (Presbytis rubicunda) Monyet ekor panjang (Macaca fascilcularis) Landak (Hystrix brachyura) Kijang (Muntiacus muntjak) Tringgiling (Manis javanica) Pelanduk (Tragulus javanicus) Kucing hutan (Felis bengalensis)

53 jenis aves diantaranya : Pecuk ular (Anhina
melanogaster) Rangkong (Bhuceros rhinoceros) Raja udang (Halicon chloris) Kasumba (Harpactres kasumba) Sikatan/Kipasan (Rhipudura javanica)

7 Jenis reptilia antara lain: Ular sanca (Phyton repticulatus) Ular cobra (Naja sp.) Ular daun (Trimorosorus) Kadal (Varanus salvador) Bidawang (Amyda amboinensis)

sumber :
http://www.ditjenphka.go.id/

foto :
http://www.facebook.com/album.php?aid=2056757&id=1012750144
hymunk - 21/10/2010 02:58 PM
#78
Wayang Kulit Banjar
Kesenian wayang kulit di Indonesia antara lain dapat ditemui di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, dan Kalimantan Selatan. Wayang kulit di Kalimantan Selatan dinamakan Wayang Kulit Banjar, karena pendukung kesenian ini adalah etnis Banjar. Secara fisik ukuran wayang kulit Banjar lebih kecil dibanding wayang kulit Jawa. Atau lebih mendekati ukuran wayang kulit Bali.

Spoiler for wayang banjar
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Ritme gamelan yang mengiringi wayang kulit Banjar cenderung cepat dan keras, sehingga berbeda jika dibanding dengan musik gamelan Jawa. Wayang kulit Banjar juga tidak mengenal waranggana (para wanita yang membantu menyanyikan lagu atau gending) yang ada dalam pementasan wayang kulit di Jawa.
Gamelan wayang kulit Banjar umumnya terbuat dari besi, berbeda dengan gamelan wayang kulit Jawa yang rata-rata terbuat dari logam perunggu. Di tahun 1900 musik gamelan Selendro lengkap seperti gamelan Jawa masih berkembang, terutama pewaris keluarga istana yaitu keluarga gusti-gusti. Menurut Sarbaini (seniman/budayawan), di tahun 1990 di Barikin adalah tempat peleburan besi gangsa membuat gamelan Selendro, tapi tidak diberi kuningan. Ketika itu sudah berkembang gamelan Banjar mini yakni yang dibuat dari baja dan besi yang terdiri dari sarun satu, sarun dua (sarantam), kanung, dan dawu serta agung kecil dan agung besar, ditambah dengan kangsi, gendang atau babun terdiri dari babun besar dan babun kecil. Babun besar untuk iringan wayang kulit dan wayang gung, sedangkan babun kecil untuk selingan iringan tembang dan tarian baksa atau topeng.Di Kalimantan Selatan, penonton wayan kulit masih dominan berada di belakang kelir (tenda) sehingga yang mereka tonton adalah bayang-bayang dari wayang tersebut. Hal ini agak berbeda dengan wayang kulit Jawa yang mana kebanyakan penontonnya menonton langsng dari atas panggung.

Dalam buku Urang Banjar dan Kebudayaannya (2005) disebutkan bahwa bentuk kesenian wayang di Indonesia berinduk pada kebudayaan asli Jawa, meskipun cerita yang ditampilkan disadur dari pengaruh kebudayaan Hindu. Bentuk kesenian wayang tertua adalah wayang Purwa. Dari wayang purwa ini berkembang menjadi jenis-jenis wayang di Kalimantan Selatan.
Dalam Hikayat Banjar tertulis bahwa seni wayang sudah mulai tumbuh di kerajaan Negara Dipa seperti; bawayang gung, manopeng, bawayang gadongan, bawayang purwa, babaksan dan sebagainya. Merupakan kesenian yang biasa dipertunjukan di kerajaan Negara Dipa.
Mengenai asal usul wayang telah banyak dibicarakan di kalangan ilmuwan. Dr. J.L.A. Brandes berpendapat bahwa wayang termasuk dalam 10 unsur kebudayaan yang telah ada di Nusantara sebelum masuknya kebudayaan Hindu. Saking tuanya usia pertumbuhan seni pertunjukan wayang tak heran bila wayang telah mendarah daging di kalangan masyarakat dan begitu kuat pengaruh wayang melekat dalam alam pikiran masyarakat.
Berhubungan dengan seni pertunjukan wayang, ada yang beranggapan bahwa pada mulanya pertunjukan wayang oleh sebagian masyarakat dijadikan semacam pertunjukan upacara yang lazim disebut Syamanisme. Namun di kemudian hari, wayang dipertunjukkan untuk mengisi upacara manjagai (menunggu pengantin) sesudah upacara perkimpoia. Maka pada malam harinya diadakanlah pertunjukan kesenian, seperti Mamanda, Wayang Gong, Rudat, Wayang Kulit dan acara Bakisah (kisah yang dibawakan penutur cerita). Biasanya acara bajagaan pengantin ini berlangsung selama tiga malam.
Dalam pewayangan, peran dalang sangat penting sebagai penghubungan dengan arwah nenek moyang. Berdasarkan penelitian, kebanyakan suku-suku di kepulauan nusantara memang memiliki kebiasaaan melakukan upacara Syaman.
Tidak heran apabila suku Banjar dengan teater wayang pun merupakan kegiatan upacara, dimana penyajian wayang Banjar diadakan pada malam hari dianggap roh-roh nenek moyang berkelana, disamping wayang Banjar lebih menekankan penyajiannya pada penonton melalui bayang-bayang.

Spoiler for wayang banjar
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Menurut Gunadi (2006) pada masyarakat Banjar dikenal beberapa jenis wayang berdasarkan niat dari pementasannya, seperti Wayang Karasmin yakni untuk hiburan atau keramaian, Wayang Tahun yang dipentaskan setelah selesai panen padi sebagai tanda syukur, dan Wayang Tatamba yang diselenggarakan karena sang dalang telah berhasil menyembuhkan sakit seseorang.
Selain itu adapula pertunjukkan wayang Banjar yang berkaitan dengan spiritual yakni Wayang Sampir. Pementasan Wayang Sampir terkait dengan hajatan/nazar. Dalam penyajian wayang upacara ini, dalang bertindak sebagai pemimpin upacara yang memiliki kemampuan dalam mengusir roh-roh jahat yang sering mengganggu ketenteraman manusia.
Untuk mengusir roh-roh jahat tersebut yang punya hajatan harus menyiapkan sajian 41 macam kue tradisional Banjar, juga menyajikan piduduk terdiri dari; beras ketan, gula habang, nyiur (kelapa), benang-jarum dan duit recehan yang dimasukkan dalam ancak dan digantungkan dipanggung pegelaran wayang.
Upacara wayang sampir dilakukan malam pada malam hari setelah diadakan upacara mengantar sesajen. Pimpinan upacara wayang sampir ini adalah seorang dalang yang mengidentifikasikan dirinya sebagai Semar dan selanjutnya menyebut dirinya Bapakku Dalang. Dalang inilah dalam upacara tersebut memainkan wayang kulit sambil diiringi bunyi gamelan yang dimainkan oleh sekelompok penabuh. Dalam acara ini Bapakku Dalang memanggil (mengundang) Batara Kala beserta penghuni alam gaib lainnya.
Upacara wayang sampir ini ditekankan kepada penghormatan dan pemberian sesajen kepada para makhluk gaib. Pada acara ini disampaikan juga penghormatan kepada Sang Pencipta Akhirat, para Malaikat, para Nabi-nabi, para Wali, dan para keramat.
Selain itu diundang untuk hadir dalam upacara itu para Datu, para pahlawan, para dewa, para Batara, Jin-jin, Hantu-hantu, Kuyang-kuyang, para Bidadari, para penghuni candi, penghuni gunung, penunggu pulau, penunggu danau dan tidak ketinggalan pula seluruh punduduk desa sekitarnya.
Dalam dialog antara Bapakku Dalang dengan Batara Kala (Sangkala), bahwa mereka itu semua dipanggil dan diundang untuk menyaksikan hiburan dan menyantap sesajen yang telah disediakan, dengan satu permintaan agar keluarga Datu Taruna dan penduduk desa mereka jangan lagi diganggu. Setelah itu menurut penuturan Bapakku Dalang, Sang Batara Kala didudukkan di punggung nyiur gading (punggung Bapakku Dalang) untuk menonton pertunjukan Wayang semalam suntuk.
Wayang sampir ini masih tetap eksis pada daerah-daerah tertentu seperti di Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah. Jelaslah di sini teater wayang Banjar (sampir) adalah warisan kesenian zaman para Hindu. Artinya kehadiran wayang Banjar di daerah Kalimantan Selatan jauh sebelum zaman kerajaan Islam di Banjarmasin. Mengingat wayang Banjar datangnya dari Jawa, dalam hal ini kerajaan Negara Dipa Amuntai mengikuti tradisi Jawa (Majapahit), dimana sekitar tahun 1300 sampai dengan tahun 1400 masehi Majapahit yang Hindu telah melebarkan kekuasaannya termasuk Borneo (Kalimantan) dan tidak ketinggalan dalam menjalankan misi keagamaan melalui media pertunjukan wayang. Jadi dapat diperkirakan awal masuknya wayang kulit ke kerajaan Negara Dipa sekitar abad ke-14.
Mengenai tokoh awal yang mengembangkan wayang Banjar belum diperoleh data dan informasi yang akurat. Teater wayang kulit Banjar terus berproses dari zaman kerajaan Negara Dipa ke kerajaan di Negara Daha, hingga terbentuknya kerajaan Islam Banjarmasin.
Baru dalam masa kerajaan Islam Banjarmasin, kesenian teater wayang kulit Banjar dengan warna lokal, mendapat minat yang bagus dari masyarakat Banjar. Karena sebelum Islam, penyajiannya meniru pada apa yang disajikan oleh dalang Jawa. Datu Taya yang melakukan adaptasi cerita wayang kulit dan menjadikan seni pertunjukan khas teater wayang kulit Banjar dan punya kelainan dengan wayang kulit Jawa baik bentuk wayangnya, lagu gemelan penggiring maupun cara memainkannya benar-benar mempunyai nilai-nilai krusial dan esensial.

Wayang kulit Banjar terbuat dari bahan baku kulit binatang yang dibikin oleh ahli tatah sungging wayang, diantaranya Tarmidzi (Hulu Sungai Tengah) yang berguru dari Dalang Tulur. Selain membuat wayang kulit, Tarmidzi juga membuat tatahan/ukirtan wayang pada Tutujah yakni alat untuk membuat lubang dalam menanam padi atau biji-bijian.
Cerita atau lakon dalam pertunjukan seni teater wayang kulit Banjar dikenal dengan lakon “carang” atau bukan cerita pakam (pakem) tapi sumber cerita dari Mahabharata, dalam perlakonan selalu membawa misi perilaku karakter yang baik dan yang jahat dalam aksi laku simbolik. Teknis penyajian dengan lakon carangan adalah penyajian wayang kulit Banjar yang berfungsi sebagai tontonan.
Dalam pertunjukan wayang kulit Banjar, bahasa yang digunakan adalah bahasa Banjar. Ada kecenderungan jika dalam pergelaran wayang kulit menggunakan bahasa Indonesia maka terasa seperti ada aspek seni yang hilang. Hal ini menyiratkan betapa erat hubungan bahasa Banjar dengan kesenian tradsionalnya.
Menurut Dalang Dimansyah sebagaimana dikutip dari Gunadi (2006), kejayaan pementasan wayang kulit Banjar di Kalimantan Selatan terjadi pada tahun 1970-1990-an. Dan juga pada masa itulah masa kejayaan bagi ahli tatah sungging, Tarmidzi, karena banyak pesanan pembuatan wayang dari para dalang atau dari daerah lain di luar Kalimantan Selatan. Setelah tahun 1990-an permintaan pementasan wayang mulai turun secara drastis, dan pembuatan wayang juga terhenti. Sepinya permintaan pementasan wayang mengakibatkan para dalang harus mencari usaha alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Entah sampai kapan mereka bertahan?

sumber :
http://bubuhanbanjar.wordpress.com/2010/08/18/wayang-kulit-banjar/
augustav - 22/10/2010 10:40 AM
#79

Wisata Sejarah dan Budaya
di Hulu Sungai Selatan

Nagara
Nagara merupakan kota kecil yang ditempati Sungai Nagara (cabang Sungai Barito) dan sering meluap. Karena itu, rumah penduduk di tenpat ini umumnya adalah rumah yang dibangun di atas tiang-tiang tinggi. Pada saat musim hujan, hampir seluruh bagian kota tertutupair kecuali jalan yang sengaja dibuat tinggi, namun pada puncak musim hujan, permukaan jalan juga tertutup air sehingga Nagara berubah menjadi semacam “Kota Air”.
Menurut catatan sejarah, Nagara yang terletak tidak jauh dari kota Kandangan, merupakan ibukota dari kerajaan pertama di Kalimantan Selatan bernama Nagara Dipa sebelum dipindahkan oleh Pangeran Samudera ke Bandarmasih yang kemudian berkembang menjadi Kota Banjarmasin saat ini. Nagara juga menjadi pusat kerajinan senjata tajam seperti pedang, golok dan keris. Para pengrajin ditempat ini mampu menghasilkan berbagai jenis senjata tajam seperti Mandau dengan bentuk yang indah dilengkapi dengan sarungnya.
Mandau adalah pedang tradisional suku Dayak yang dibuat di Desa Hadirau dan Tumbukan Banyu. Pembuatannya memnggunakan peralatan sederhana dan diselesaikan sekelompok pengrajin dan Mandau hanya di buat untuk hiasan. Tapi adapula Mandau yang khas dibuat sendiri oleh ahlinya dan pedang ini dipercayai memiliki kekuatan magis yang diisi melalui upacara ritual.
Pembuatan gerabah terletak di Desa Bayanan tidak jauh dari Pasar Nagara, pengunjung bisa menyaksikan setiap tahapan pembuatan dengan peralatan sederhana atau bahkan pengunjung bisa memcoba ikut untuk pembuatannya. Pengrajin biasanya membuat bermacam-macam bentuk Tembikar dan yang terkenal adalah Dapur Nagara atau Anglo.

Situs amuk Hantarukung (Makam Tumpang Talu)

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Amuk Hantarukung salah satu momen sejarah yang mengingatkan warga Kalsel terutama Hulu Sungai Selatan Kandangan, tentang kegigihan perjuangan rakyat setempat yang dimotori Bukhari dan kawan-kawan melawan penjajah Belanda.
Semangat Amuk Hantarukung dalas batapung tali salawar dalas balangsar dada tak mau dijajah ini.

SEJARAH AMUK HANTARUKUNG
Bukhari dari Hantarukung (lahir : 1850 di Hantarukung, Simpur, Hulu Sungai Selatan, wafat : 19 September 1899 di Hantarukung, Simpur, Hulu Sungai Selatan). Bukhari adalah salah seorang pejuang Perang Banjar yang memimpin perlawanan rakyat yang disebut Amuk Hantarukung yang terjadi di masa Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari. Ayah Bukhari bernama Manggir dan ibu bernama Bariah kelahiran desa Hantarukung, dalam wilayah Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Bukhari dilahirkan sekitar tahun 1850 dan semasa mudanya mengembara ke Puruk Cahu (Murung Raya, Kalimantan Tengah) mengikuti pamannya Kasim yang menjadi panakawan (asisten) dari Sultan Muhammad Seman. Sejak itu Sultan Muhammad Seman menjadikan Bukhari sebagai panakawan (asisten) Sultan, dan Bukhari ikut berjuang di daerah Puruk Cahu, Kalimantan Tengah.
Bukhari seorang yang setia mengabdikan dirinya. Ia orang yang dipercaya sebagai Pemayung Sultan. Ia dikenal di kalangan istana sebagai seorang yang mempunyai ilmu kesaktian dan kekebalan. Bahkan tersiar berita bahwa dengan ilmunya itu kalau ia tewas dapat hidup kembali. Ilmu ini diajarkan kepada siapa yang menjadi pendukungnya. Adanya kelebihan-kelebihan Bukhari tersebut, menyebabkan dia dan adiknya bernama Santar mendapat tugas untuk menyusun dan memperkuat barisan perlawanan rakyat terhadap Belanda di daerah Banua Lima, Kalimantan Selatan.
Menyusun Kekuatan Rakyat.
Dengan membawa surat resmi dari Sultan Muhammad Seman, Bukhari dan adiknya Santar datang ke desa Hantarukung untuk menyusun suatu pemberontakan rakyat terhadap pemerintah Belanda. Kedatangan Bukhari diterima hangat oleh penduduk desa Hantarukung. Dengan bantuan Pangerak Yuya, Bukhari berhasil mengorganisir kekuatan rakyat untuk melawan Belanda. Sebanyak 25 orang penduduk telah menyatakan diri sebagai pengikutnya, dan di bawah pimpinan Bukhari dan Santar siap untuk melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda. Gerakan Bukhari ini bahkan kemudian mendapat dukungan selain penduduk Hantarukung, juga penduduk kampung Hamparaya dan Ulin. Sehubungan dengan itu alasan perlawanan yang dikemukakan bahwa penduduk dari tiga kampung itu tidak bersedia lagi melakukan kerja rodi . Sikap penduduk dan tindakan Pangerak Yuya yang tidak mau menurunkan kuli (penduduk) untuk menggali garis antara Amandit-Negara tersebut, kemudian dilaporkan oleh Pambakal Imat kepada Kiai (gelar kepala distrik), karena yang bersangkutan sedang tidak ada di tempat, Pambakal melaporkan kepada Controleur Belanda di kota Kandangan.
Perlawanan Rakyat 18 September 1899
Penguasa Belanda di Kandangan sangat marah mendengar berita itu pada tanggal 18 September 1899 berangkatlah rombongan penguasa Belanda yang terdiri dari Controleur Adsenarpont Domes dan Adspirant K. Wehonleschen beserta 5 orang Indonesia (opas dan pambakal) yang setia kepada Belanda. Dengan menaiki kereta kuda dan diikuti yang lainnya Controleur Adsenerpont Domes ke desa Hantarukung menemui Pangerak Yuya. Pangerak yang telah bekerja sama dengan Bukhari untuk melawan pemerintah Belanda ini ketika dipanggil oleh Controleur keluar dari rumahnya dengan tombak dan parang tanpa sarung. Setelah terjadi tanya jawab mengenai mengapa penduduk tidak mengerjakan lagi gerakan menggali garis Amandit-Negara, tiba-tiba muncul ratusan penduduk di bawah pimpinan Bukhari dan Santar sambil mengucapkan shalawat nabi maju ke arah Controleur dengan senjata tombak, serapang (trisula) dan lain-lainnya.
Dalam peristiwa itu telah terbunuh tuan Controleur Domes dan Adspirant Wehonleshen serta seorang anak emasnya. Sementara 4 orang lainnya dapat melarikan diri. Mereka itu antara lain opas Dalau dan Kiai Negara (kepala Distrik Negara). Peristiwa tanggal 18 September 1899 ini terkenal dengan Pemberontakan Amuk Hantarukung yang dipelopori oleh Bukhari, seorang yang secara resmi diperintahkan oleh Sultan Muhammad Seman dengan mengirimkan ke desa asal kelahirannya Hantarukung.
Perlawanan Rakyat 19 September 1899.
Peristiwa 18 September 1899 dengan terbunuhnya Controleur dan Adspirant Belanda segera sampai kepada pejabat-pejabat Belanda di kota Kandangan. Kemarahan pihak Belanda tidak dapat terbendung lagi. Besok harinya pada hari Senin tanggal 19 September 1899 sekitar pukul 13.00 siang hari pasukan Belanda datang untuk mengadakan pembalasan terhadap penduduk. Serangan pembalasan tersebut dipimpin oleh Kiai Jamjam putera daerah sendiri, dengan diperkuat oleh 2 Kompi serdadu Belanda bersenjata lengkap. Penduduk desa Hantarukung telah menyadari pula peristiwa yang akan terjadi. Beratus-ratus penduduk di bawah pimpinan Bukhari, Santar dan Pengerak Yuya siap dengan senjata mereka di pinggiran hutan dan keliling danau menanti kedatangan pasukan Belanda. Ketika sampai di desa Hantarukung di suatu awang persawahan, melihat keadaan sepi, Kapten Belanda melepaskan tembakan peringatan agar penduduk menyerah. Pada waktu itulah Bukhari bersama-sama Haji Matamin dan Landuk tampil dengan senjata terhunus maju menyerbu musuh sambil mengucapkan Allahu Akbar berulang-ulang. Tindakan Bukhari tersebut diikuti para pengikutnya yang sudah siap untuk berperang, pertempuran sengit terjadi. Bukhari, Haji Matamin dan Landuk dan Pengerak Yuya gugur di tembus peluru Belanda. Melihat pemimpin-pemimpin mereka terbunuh penduduk lari menyelamatkan diri. Dalam peristiwa 2 hari di Hantarukung tersebut telah terbunuh masing-masing di pihak Belanda adalah Controleur Domes, Adspirant Wehonleschen dan seorang pembantunya. Sementara dari pihak penduduk telah gugur : Bukhari, Haji Matamin, Landuk, Pangerak Yuya.
Penangkapan Penduduk oleh Belanda
Peristiwa ini berlanjut dengan terjadinya pembersihan secara kejam oleh Belanda terhadap penduduk yang terlibat terutama penduduk di desa Hantarukung, Hamparaya, Ulin, Wasah Hilir dan Simpur. Penangkapan segera dijalankan oleh militer Belanda. Mereka yang ditangkapi tersebut berjumlah 23 orang yakni : Hala, Hair, Bain, Idir, Sahintul, H. Sanadin, Fakih, Unin, Mayasin, Atma, Alas, Tanang, Tasin, Bulat, Sudin, Matasin, Yasin, Usin, Sahinin, Unan, Saal, Lasan dan Atmin. Selanjutnya yang mati di dalam penjara adalah : Hala, Hair, Bain, dan Idir. Sedangkan yang mati digantung adalah : Sahitul, H. Sanaddin, Fakih, Unin, Mayasin, Atma, Alas, Tanang dan Tasin. Mereka yang dibuang keluar daerah adalah: Bulat, Suddin, Matasin, Yasin, Sahinin, Unan, Saal, Lasan, Atnin, dan Santar. Jenazah Bukhari, Landuk dan Matamin dimakamkan di Kampung Perincahan, Kecamatan Kandangan, Hulu Sungai Selatan yang dikenal dengan makam Tumpang Talu. Sedangkan sembilan orang dihukum gantung oleh Belanda tersebut dimakamkan di kuburan Bawah Tandui di Kampung Hantarukung di Kecamatan Simpur, Hulu Sungai Selatan.

Rumah bersejarah Durian Rabung

Rumah bersejarah ini terletak di desa Durian Rabung Kecamatan Padang Batung, berjarak sekitar 8 Km dari kota Kandangan. Rumah ini milik H.Abdul Kadir (Kai Jabus) yang digunakan sebagai tempat Rapat Pimpinan Markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Kadang-kadang Bapak Gerilya Kalimantan Brigjen H. Hassan Basry beristirahat di rumah ini.
Kondisi rumah besejarah ini sukup memprihatinkan dan secara bertahap telah direnovasi baik oleh Pemda Hulu Sungai Selatan maupun Pemda Propinsi Kalimantan Selatan tanpa merubah bentuk dantata ruang. Di halaman bagian depan rumah bersejarah ini telah dibangun Tugu Peringatan peristiwa Rapat Pimpinan markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.

Sumber : Di sini...
augustav - 22/10/2010 10:43 AM
#80

Benteng Madang

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Jika anda jalan-jalan ke kecamatan Padang Batung sebalah utara akan bertemu dengan sebuah desa yang bernama Madang dengan dataran cukup tinggi menyerupai sebuah gunung. Dataran tinggi tersebut kemudian di tata dan dibuat oleh Tumenggung Antaluddin atas permintaan dari Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman kemudian dijadikan benteng pertahanan pasukan Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman dalam menghadapi serangan serdadu Belanda.
Tercatat ada lima kali serangan yang dilakukan oleh serdadu belanda dan semuanya dapat dikalahkan oleh pasukan Pangeran Hadayatullah dan Demang Lehman. Serangan-serangan serdadu Belanda dilakukan pada tanggal 3,4,13,18 dan 22 september 1860. Pada serangan yang keempat tanggal 18 September 1860, pasukan infantry serdadu bgelanda yang dipimpin oleh Kapten Koch dihajar habis-habisan oleh pasukan Pangeran Hidayatullah dan Demang lehman, sehingga banyak serdadu Belanda yang tewas termasuk Kapten Koch.
Saat ini Benteng Madang telah ditata dan direnovasi oleh Pemda HSS dengan anak tangga lebih dari 400 buah dan dapat dijelajahi dengan menggunakan mobil dengan jarak ± 8 Km dari Kota Kandangan.
Riwayat Benteng Madang
Tumenggung Antaluddin adalah seorang panglima perang dalam Perang Banjar dengan pusat perjuangan di kawasan Gunung Madang di kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.
Pada masa itu Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman meminta kepada Tumenggung Antaluddin untuk membuat benteng pertahanan di Gunung Madang. Pasukan Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman dan pasukan Tumenggung Antaluddin terkumpul di sekitar benteng ini pada bulan September 1860.
Pertempuran Gunung Madang 3 September 1860.
Persiapan benteng pertahanan di Gunung Madang ini diketahui oleh Belanda sehingga datanglah serangan pasukan Belanda secara mendadak pada 3 September 1860, sementara benteng belum selesai dibangun. Serdadu Belanda menyelusuri kampung Karang Jawa dan Ambarai dan langsung menuju Gunung Madang. Serdadu Belanda terkejut, ketika baru mendekati bukit itu serangan mendadak menyebabkan beberapa serdadu Belanda tewas. Sekali lagi serdadu Belanda mendekati bukit tetapi sebelum sampai serangan gencar menyambutnya, sehingga tentara Belanda mundur kembali ke benteng Amawang.
Pertempuran Gunung Madang 4 September 1860
Keesokan harinya tanggal 4 September 1860 pasukan infantri dari batalyon ke-13 mengadakan serangan kedua kalinya. Serdadu Belanda ini dilengkapi dengan mortir dan berpuluh-puluh orang perantaian untuk membawa perlengkapan perang dan dijadikannya umpan dalam pertempuran. Serdadu Belanda melemparkan 3 biji granat tetapi tidak berbunyi, dan disambut dengan tembakan dari dalam benteng Gunung Madang. Di dalam benteng Gunung Madang terdapat pula beberapa orang perantaian yang lari memihak pasukan Pangeran Hidayatullah ketika terjadi pertempuran di Pantai Hambawang yang terjadi sebelumnya. Ketika Letnan de Brauw dan Sersan de Vries menaiki kaki Gunung Madang, dia hanya diikuti serdadu bangsa Eropah sedangkan serdadu bangsa bumiputera membangkang tidak ikut bertempur Letnan de Brauw kena tembak di pahanya, dan 9 orang serdadu Eropah terkapar kena tembak dari arah dalam benteng. Setelah Letnan de Brauw kena tembak, serdadu Belanda mundur dan kembali ke benteng di Amawang. Serangan ketiga dilakukan beberapa hari kemudian setelah Belanda memperoleh bantuan dari Banjarmasin dan Amuntai.
Pertempuran Gunung Madang 13 September 1860.
Pada tanggal 13 September 1860 Belanda melakukan kembali serangannya terhadap benteng Gunung Madang. Serangan ini dipimpin oleh Kapten Koch dengan perlengkapan meriam dan mortir. Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin mempersiapkan menunggu serangan Belanda sedangkan Pangeran Hidayatullah mengatur strategi untuk menghadapinya. Pertempuran ini terjadi dalam jarak dekat, tetapi Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin dengan gagah berani menghadapinya. Ketika bunyi senapan dan meriam bergema, tiba-tiba roda meriamnya hancur kena tembakan. Kapten Koch mempertimbangkan untuk mundur kembali ke benteng Amawang. Kegagalan serangan Kapten Koch ini tersebar sampai ke Banjarmasin, sehingga G.M. Verspyck memerintahkan Mayor Schuak menyiapkan pasukan infantri dari batalyon ke 13 yang terdiri dari 91 opsir bangsa Eropah.
Pertempuran Gunung Madang 18 September 1860
Pada tanggal 18 September 1860 Mayor Schuak membawa pasukan dengan dibantu Kapten Koch menyerang Gunung Madang. Belanda membawa sebuah howitser, sebuah meriam berat dan mortir. Menjelang pukul 11.00 siang hari Demang Lehman memulai menyambut serdadu Belanda dengan tembakan. G.M. Verspyck yang berani mendekati benteng dengan pasukannya, kena tembak oleh anak buah Tumenggung Antaluddin, akhirnya mengundurkan diri membawa korban. Selanjutnya Kapten Koch memerintahkan memajukan meriam. Dengan jitu peluru mengenai serdadu pembawa meriam itu, dan jatuh terguling. Setelah pasukan meriam gagal, dilanjutkan dengan pasukan infantri mendapat giliran maju. Kapten Koch yang memimpin pasukan infantri maju, kena tembak di dadanya dan jatuh tersungkur. Dengan jatuhnya Kapten Koch tersebut serdadu Belanda menjadi bingung dan kehilangan komando. Mereka dengan bergegas menggotong mayat Koch dan berlari meninggalkan medan pertempuran, langsung mengundurkan diri kembali ke benteng Amawang. Setelah serangan keempat ini gagal, Belanda mempersiapkan kembali untuk penyerangan yang kelima Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin juga mempersiapkan siasat apa yang diambil untuk menghadapi serangan secara besar-besaran keluar dan tidak terpusat bertahan dalam benteng saja. Demang Lehman mendapat bantuan dari Kiai Cakra Wati pejuang wanita yang selalu menunggang kuda yang berasal dari daerah Gunung Pamaton (Distrik Riam Kanan).
Pertempuran Gunung Madang 22 September 1860
Serangan kelima terjadi pada tanggal 22 September 1860. Belanda mempersiapkan dengan teliti, belajar dari kegagalan empat kali penyerangannya. Belanda mempersiapkan mendirikan bivak-bivak dan perlindungan pasukan penembak meriam dengan sistem pengepungan benteng Gunung Madang. Pertempuran baru terjadi keesokan harinya dengan tembakan meriam dan lemparan granat. Pada pagi hari itu pertempuran tidak begitu seru, tetapi menjelang pukul 11.00 malam hari, tiba-tiba Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin mengadakan serangan besar-besaran dengan meriam dan senapan. Tembakan itu terus menerus bersahutan sampai menjelang subuh. Karena serangan yang gencar itu Belanda kehilangan komando apalagi malam hari yang gelap gulita. Pasukan Belanda kocar-kacir. Situasi yang tegang ini dipergunakan Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin beserta pasukannya keluar benteng dan menyebar keluar meninggalkan benteng, dan selanjutnya berpencar. Kiai Cakrawati meneruskan perjalanan ke Gunung Pamaton yang kemudian terlibat pula dalam pertempuran di Gunung Pamaton. Alangkah kecewanya Belanda ketika dengan hati-hati memasuki benteng untuk menghancurkan kekuatan Demang Lehman dan pasukannya ternyata benteng sudah kosong, hanya ditemukan satu orang mayat yang ditinggalkan.

Sumber : Di sini...
Page 4 of 15 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan