Kalimantan Selatan
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
Total Views: 72819 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 5 of 15 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 >  Last ›

augustav - 22/10/2010 10:47 AM
#81

Balai Amas dan Batu Beranak

Informasi Umum Propinsi Kalimantan SelatanInformasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan SelatanInformasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Asal mula cerita Balai Amas (Balai Emas) dan Batu Beranak ini merupakan sebuah tempat berdirinya pohon Ulin yang sangat besar.
Dahulu kala, disebuah pohon Ulin yang sangat besar ini hidup seekor burung Garuda yang setiap waktu kerjaannya memakan anak bayi yang masih di dalam ayunan. Karena semakin lama semakin meresahkan, para penduduk kampung bersepakat untuk memikirkan cara bagaimana menyingkirkan burung Garuda tersebut. Pohon Ulin itu mempunyai 6 x 6 meter.
Berbagai macam peralatan dicobakan untuk menebang pohon ulin tersebut tetapi tidak satupun yang mampu menggores batang kayunya. Akhirnya ada seorang tetuha kampung setempat mencoba menumbangkan pohon tersebut dengan sebilah pisau. Dikorek perlahan-lahan akar pohon ulin tersebut dengan hanya menggunakan sebilah pisau kecil tidak disangka-sangka pohon Ulin raksasa inipun roboh bersama burung Garuda di atasnya. Konon, saking tinggi dan besarnya pohon Ulin ini pucuknya sampai roboh ke daerah Marabahan, Barito Kuala (± 50 km dari Banjarmasin, ± 200 km dari Kandangan), sehingga nama daerah itu disebut Marabahan yang berarti tempat rabah (roboh) pohon Ulin tadi.
Setelah keadaan aman, bekas tumbuh pohon Ulin tadi dibuat sebuah balai. Di balai inilah sejak dulu diadakan berbagai macam selamatan dan acara adat setiap tahunnya.
Di kampung ini juga ada dua buah tempat yang diyakini penduduk memiliki kesaktian, yaitu Batu Beranak.
Tempat batu beranak ini asalnya tidak ada apa-apa, tiba-tiba bermunculan batu-batu memenuhi tempat tersebut sehingga oleh penduduk setempat diberi gelar Batu Beranak. Konon, ukuran batu yang ada disini bisa tumbuh berkembang sampai akhirnya melahirkan batu kecil di sekelilingnya, begitu seterusnya seperti siklus hidup manusia.
Pernah ada yang iseng-iseng mencoba mengukur batu tersebut, setiap hari Jumat batu yang sama diukur dan menurut keterangan para saksi batu yang diukur tersebut memang terus bertambah ukurannya. Pernah juga ada orang yang mengambil untuk dibawa pulang ternyata beberapa hari kemudian batunya hilang setelah diperiksa batu yang sama kembali ke tempatnya semula.
Demikian sekilas oleh-oleh cerita dari kampung dan memperkenalkan tempat yang diyakini masyarakat setempat sebagai tempat berkeramat sebagai bagian dari kekayaan budaya Banjar.
Bagi yang penasaran, silakan untuk mengunjungi dua tempat tersebut. Pisau yang digunakan untuk merobohkan pohon Ulin tadi masih disimpan secara turun temurun oleh penduduk kampung, bila berkunjung ke sana bisa mencari informasi lebih lanjut.

Sumber :Di sini...
augustav - 22/10/2010 10:52 AM
#82

Wisata Religius
Di Hulu Sungai Selatan



Masjid Baangkat

Informasi Umum Propinsi Kalimantan SelatanInformasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Mesjid Su’ada atau Mesjid baangkat didirikan oleh Al Allamah Syekh H. Abbas dan Al Allamah Syekh H. Said bin Al Allamah Syekh H. Sa’dudin pada tanggal 28 Zulhijjah 1328 H bersamaan dengan tahun 1908 M yang terletak di desa Wasah Hilir Kecamatan Simpur yang jaraknya ± 7 km dari kota Kandangan. Masjid ini didirikan di atas tanah wakaf milik Mirun bin Udin dan Asmail bin Abdullah seluas 1047,25 m persegi.
Bentuk bangunan induk masjid su’ada yakni persegi empat, bertingkat tiga, mempunyai loteng menutup gawang/puncah dan petala/petaka yang megah. Semua itu memunyai makna tertentu sebagai berikut:
a. Tingkat pertama mengandung makna Syariat
b. Tingkat kedua mengandung makna Thariqat
c. Tingkat ketiga mengandung makna Hakikat
d. Loteng mengandung makna Ma’rifat
e. Petala/petaka yang megah berkilauan yang dihiasi oleh cabang-cabang yang sdang berbunga dan berbuah melambangkan kesempurnaan Ma’rifat.
Banyak peristiwa yang terjadi seolah-olah aneh, tidak rasional tapi nyata ketika akan dan sedang dalam pembangunan masjid tersebut, seperti angin topan bertiup luar biasa keras dan derasnya yang menyebabkan sebatang pohon asam yang besar telah condong sekali akan menmpa rumah Al Allamah Syekh H. M. Said (pendiri masjid Su’ada). Dilihat kejadian ini, Al Allamah tersebut mendekati pohon tersebut dan mendorongnya dengan berlawanan arah, maka dengan pertolongan Allah SWT angin topan yang dahsyat itu berbalik arah sehingga pohon asam ini tumbang dan selamatlah ulama tersebut.
Kejadian lain yakni salah satu tiang utama masjid kurang panjang ± 10 cm, sehingga mengalami kesulitan untuk pendirian bangunan masjid. Dengan izin Allah, keesokkan harinya tiang tersebut menjadi bertambah panjang sesuai kebutuhan. Peristiwa lainnya, yakni ditengah perjalanan antara Kalumpang dan Negara, rombongan Al Allamah Syekh H. M. Said kehabisan ikan untuk makan, tiba-tiba seekor ikan besar melompat ke perahu mereka dan akhirnya mereka mempunyai ikan untuk makan bersama. Kejadian lainnya yakni rombongan tersebut pada malam hari di perahu tidak bisa tidur karena kenyamukan, tiba-tiba dengan pertolongan Allah SWT, ternyata nyamuk tersebut menghilang, sehingga rombongan Al Allamah Syekh H. M. Said dapat tidur.

Sumber : Di sini...
augustav - 22/10/2010 10:55 AM
#83

Makam Datu Taniran

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Jika anda berwisata ke bumi antaludin, maka mampirlah di makam Al Allamah Syekh H. Sa’dudin (H.M Thayib) di Taniran Kecamatan angkinang yang jaraknya ± 8 km dari kota Kandangan. Beliau merupakan buyut dari pengarang kitab Sabilal Muhtadin, Datu Kelampayan Syekh Maulana H.Muhammad Arsyad Al Banjari. Nama sebenarnya Datu Taniran adalah H Sa’duddin. Beliau dilahirkan di Dalam Pagar Martapura pada 1774, dan meninggal pada 1856 di Kampung Taniran --sekarang masuk Kecamatan Angkinang. Taniran, tempat H Sa’duddin menyiarkan Agama Islam selama hidupnya sekitar 45 tahun.
Beliau termasuk salah seorang wali Allah SWT yang sepanjang hidupnya digunakan untuk da’wah agama Islam guna menegakkan kalimat Tauhid agar manusia selamat dunia dan akhirat. Untuk lebih jelasnya mengenai keadaan beliau dimasa hidupnya dapat dipelajari melalui biografi atau manakib beliau.
Makam/kubah Datu Taniran ini merupakan makam yang paling sering dan banyak dikunjungi orang, jika dibandingkan dengan makam/kubah lainya yang terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Sumber :Di sini....
augustav - 22/10/2010 11:12 AM
#84

Cerita Rakyat Asal Usul Gunung Batu Bini dan Gunung Batu Laki
Spoiler for Gn. Batu Bini diliat dari Gn. Batu Laki
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Urang tuha bahari selalu punya cerita legenda yang mengisahkan tempat-tempat terkenal atau orang hebat salah satunya adalah cerita rakyat (forklore) tentang gunung batu bini dan batu laki.
Pegunungan Meratus merupakan kawasan hutan alami yang terletak di Propinsi Kalimantan Selatan. Pegunungan ini membentang dari arah Selatan di Kabupaten Tanah Laut hingga ke Utara dekat perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, luasnya diperkirakan lebih dari satu juta hektar. Di sebelah Barat Pegunungan Meratus tersebut terdapat dua buah gunung yang dikenal dengan Gunung Batu Bini dan Gunung Batu Laki. Menurut cerita masyarakat di sekitarnya, keberadaan kedua gunung tersebut dikaitkan dengan sebuah peristiwa yang pernah terjadi di daerah itu. Konon, kedua gunung tersebut berasal dari dua penggalan perahu layar milik seorang anak durhaka yang bernama si Angui. Karena sumpah sakti seorang ibu menjadikan si Angui, istri, beserta seluruh harta kekayaannya, berubah menjadi batu. Kemudian kedua batu tersebut berubah menjadi dua buah gunung yang mirip dengan bentuk sebuah perahu yang terpotong dua. Peristiwa itu dikemas dalam sebuah cerita rakyat yang dikenal dengan cerita Batu Bini Batu Laki. Bagaimana si Angui bisa durhaka terhadap ibunya, sehingga ia disumpah menjadi batu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita berikut ini.
Alkisah pada zaman dahulu kala, daerah yang terletak di sebelah Barat lereng Pegunungan Meratus pernah digengangi air yang dalam. Hanya ada satu daratan yang tidak digenangi air. Daratan itu dihuni oleh sekelompok masyarakat. Di salah satu rumah penduduk, tinggallah seorang janda tua bernama Diang Ingsun dengan anak laki-lakinya bernama si Angui. Keluarga kecil ini hidup dari hasil hutan dan dan sungai. Setiap hari Diang Ingsun mencari ikan di sungai dibantu oleh anak tunggalnya, si Angui. Mereka juga mengumpulkan umbi-umbian untuk dimakan. Jika ada sisa, mereka menjualnya kepada penduduk yang membutuhkan untuk ditukar dengan beras.
Si Angui masih tergolong anak-anak. Ia selalu duduk di dalam jukung menyertai ke mana saja ibunya pergi. Si Angui dan ibunya menjalani hidupnya penuh keprihatinan. Waktu terus berjalan, tak terasa si Angui tumbuh menjadi dewasa. Ibunya pun semakin tua. Mereka masih tekun bekerja. Kini, si Angui tidak hanya membantu ibunya menangkap ikan. Ia juga setiap hari ke hutan mengumpulkan rotan untuk dijual ke pedagang yang datang ke kampungnya. Sebelum rotan itu dijual, terlebih dahulu ia bersihkan lalu diikatnya dengan rapi. Apa pun yang ia kerjakan, ia selalu teringat dengan pesan ibunya sejak ia masih kecil: jika mengerjakan sesuatu hendaklah selalu bersih dan rapi.
Suatu hari, merapatlah sebuah jung yang besar di pelabuhan kampung Angui. Jung itu membawa berbagai barang dagangan untuk ditukar dengan bilah-bilah rotan, damar, dan lilin yang dihasilkan oleh penduduk di daerah itu. Si Angui turut pula menyerahkan sejumlah rotan miliknya untuk ditukarkan dengan garam, beras dan gula merah. Tanpa disadari, ternyata salah seorang awak jung yang berpenampilan rapi memerhatikannya dari kejauhan. Dia adalah pemilik jung itu. Tak lama, dia pun memerintahkan anak buahnya agar si Angui datang menghadap kepadanya. Anak buah itu pun menghampiri Angui. “Permisi anak muda! Saya diperintahkan oleh juragan saya memanggil kamu untuk menghadap kepadanya,” sapa anak buah itu sambil menunjuk ke arah juragannya. Angui pun menoleh ke arah pemilik jung. Ketika mata Angui tertuju kepadanya, pemilik jung pun tersenyum dan mengangguk-angguk, sebagai tanda bahwa ia benar-benar memanggil si Angui. Setelah merasa yakin, Angui pun segera menghadap kepada pemilik jung itu. “Hai anak muda! Siapa namamu?” tanya si pemilik perahu. “Penduduk kampung di sini memanggilku Angui, Tuan!” jawab Angui malu-malu. “Begini Angui. Aku sangat tertarik dengan bilah-bilah rotanmu. Batangnya cukup tua dan kering. Ikatannya pun bersih dan rapi,” ujar si pemilik jung memuji rotan si Angui. Angui hanya tersenyum dan bersikap hormat, lalu berkata, “Walaupun ibu saya tidak berpengetahuan luas, ia selalu mengingatkan agar saya berbuat dan bekerja dengan bersih dan rapi.”
Mendengar keterangan Angui, si pemilik jung merasa bahwa Angui adalah anak yang cekatan dan terampil bekerja. Tanpa pikir panjang, ia pun berniat mengajaknya untuk berlayar. “Hai, Angui! Jika kamu tidak keberatan, maukah kamu ikut berlayar bersamaku?” tanya si pemilik perahu. Si Angui sangat senang mendengar ajakan itu. “Wah...saya senang sekali, Tuan! Tapi, sebelumnya saya harus meminta persetujuan ibu saya terlebih dahulu,” jawab Angui menanggapi ajakan itu. “Baiklah, Angui. Besok pagi saya tunggu kamu di jung ini, kita pergi berlayar bersama-sama,” ucap si pemilik kapal. Setelah itu, si Angui segera pulang ke rumahnya untuk menyampaikan berita tersebut kepada ibunya.
Sesampainya di rumah, Angui pun langsung menceritakannya kepada ibunya. “Ibu, tadi saya bertemu dengan si pemilik jung dagang di pelabuhan. Ia mengajakku pergi berlayar bersamanya. Bagaimana menurut ibu?” tanya Angui dengan hati-hati. “Ibu ingin melihat kamu berhasil, Nak! Ibu tidak keberatan jika kamu turut berlayar,” ibunya memberi izin dengan tulus. “Tapi, jika kamu sudah berhasil, cepatlah pulang! Ibu hanya tinggal sendirian. Ibu tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu, Anakku. Cepatlah kembali!” pinta ibunya. Mendengar jawaban ibunya, Angui gembira bukan kepalang. “Terima kasih, Bu. Saya akan selalu mengingat pesan ibu. Doakan saya berhasil ya, Bu!” seru Angui sambil memeluk ibunya. “Besok pagi-pagi sekali, persiapkan segala keperluanmu, Nak! seru ibunya. Si Angui mengangguk-angguk dengan senang. Namun, tiba-tiba ia ingat sesuatu, ayam jago yang telah dipeliharanya sejak kecil. “Ibu, tolong jaga dan rawat baik-baik ayam jagoku, ya! Biarlah ayam itu tidak saya bawa agar Ibu selalu ingat kepada saya,” pinta Angui kepada ibunya. “Tentu, Anakku. Saya akan merawatnya dengan baik sampai kamu kembali,” jawab Ibu Angui.
Keesokan harinya, Angui pun berangkat ke pelabuhan diantar ibunya. “Ibu, Angui berangkat dulu. Jaga kesehatan ya, bu! Angui segera kembali jika sudah berhasil,” ujar Angui memberi harapan seraya mencium tangan ibunya. “Ya, naiklah segera ke jung. Sebentar lagi jungnya berangkat. Hati-hati ya, Nak! Jangan lupa pesan Ibu. Cepatlah kembali!” seru Ibu Angui sambil melambaikan tangan. Tak berapa lama, berangkatlah jung dagang itu bersama Angui. Jung itu pun semakin jauh mengarungi air sungai yang dalam itu. Dari kejauhan tampak seorang perempuan tua di pelabuhan yang sedang melambaikan tangan tak henti-hentinya. Di atas jung, Angui pun membalas lambaian itu. Angui mengetahui bahwa perempuan tua itu adalah ibu kandungnya yang sangat dicintainya. Sejak di atas jung hingga menjauh dari pelabuhan, pandangan Angui tidak pernah lepas tertuju kepada ibunya. Ia merasa berat berpisah dengan ibunya. “Maafkan Angui, Ibu. Angui meninggalkan Ibu seorang diri. Tapi, ini demi kebaikan kita,” ucap Angui meneteskan air mata.
Sudah bertahun-tahun si Angui ikut bekerja pada si pemilik perahu. Angui senantiasa mengingat pesan ibunya. Setiap pekerjaan yang diberikan kepada bosnya, diselesaikannya dengan rapi dan bersih. Karena kecekatan dan ketelatenannya dalam bekerja, si Angui pun dinikahkan dengan anak si pemilik perahu yang sudah tua itu. Tak lama sesudah menikah, si pemilik perahu pun meninggal dunia. Seluruh harta kekayaannya diwarisi oleh si Angui bersama istrinya. Maka, terkenallah si Angui dan istrinya sebagai saudagar yang kaya-raya. Karena merasa sudah berhasil, Angui pun teringat dengan pesan ibunya. Ia pun berniat untuk menjenguk ibunya yang tinggal jauh di kampung. Niat baik tersebut disambut baik oleh istrinya dengan penuh harapan. “Kaka, jadikan pelayaran ini sebagai kunjungan pertama ke rumah mertuaku,” ujar istrinya. “Baiklah, Adingku. Perintahkan anak buah jung menyiapkan jung yang paling besar dan barang-barang yang akan kita bawa,” jawab si Angui setuju. Setelah itu, diperintahkannya seluruh anak buahnya untuk menyiapkan seluruh keperluan selama pelayaran. Tak lupa pula mereka membawa berbagai macam barang mewah untuk dihadiahkan kepada ibu Angui. Setelah semuanya siap, jung Angui pun berangkat.
augustav - 22/10/2010 11:12 AM
#85

Beberapa hari kemudian, berlabuhlah jung yang megah itu di pelabuhan kampung Angui. Orang-orang terkagum-kagum melihat kemegahan kapal itu. Banyak orang yang bertanya-tanya, siapa gerangan pemilik kapal itu dan apa keperluan mereka datang ke tempat itu. Rasa penasaran mereka hilang, ketika Angui dan istrinya keluar dan berdiri di anjungan. Beberapa orang yang hadir di pelabuhan itu mengenal ciri-ciri sosok si Angui. “Hei, lihat laki-laki yang berdiri di anjungan bersama seorang wanita. Sepertinya dia itu si Angui. Coba perhatikan! Tahi lalat di atas pelupuk mata kanannya, itu kan ciri khas si Angui,” seru seorang yang sudah agak berumur. Semua yang hadir mengalihkan perhatiannya kepada laki-laki itu. “Ya, benar. Dia adalah si Angui, anak Diang Ingsun. Aku akan segera memberi tahu ibunya,” ujar penduduk lainnya. Belum beranjak dari tempatnya, tiba-tiba sejumlah anak-anak menghambur berlarian menuju rumah nenek tua itu, ibu si Angui, untuk menyampaikan berita itu. “Nek...Angui pulang...! Angui pulang...!Anguiiii Pulaaang...! teriak anak-anak tersebut di luar gubuk ibu Angui.
Mendengar teriakan itu, Diang Ingsun segera keluar dari gubuknya. Ia seakan tidak percaya dengan berita yang ada. Ia kemudian mendekati anak-anak itu. “Wahai, cucu-cucuku! Jangan membuat nenek kaget! Apa benar yang kalian katakan itu?” tanyanya terpatah-patah. “Benar, Neeek...,” sahut anak-anak serempak. “Jung Angui ada di pelabuhan!” tambah mereka. “Baiklah! Nenek segera ke sana,” ujar Diang Ingsun. Setelah anak-anak tersebut kembali ke pelabuhan, nenek itu pun masuk ke gubuknya. “Penampilanku sudah setua ini barangkali si Angui sudah tidak bisa mengenalku lagi. Aku juga sudah tidak kuat berjalan ke pelabuhan. Biarlah aku menaiki jukung rumpung ini. Aku akan berkayuh sekuatku. Mungkin ia memang tidak mengenaliku, tapi jukung ini akan mengingatkannya kepada masa kanak-kanaknya. Dulu, ia sering tiduran di jukung ini ketika aku sedang menangkap ikan,” gumam Diang Ingsun. Ia juga tidak lupa membawa ayam jago milik si Angui. “Ayam jago yang berumur panjang ini barangkali akan mengingatkan si Angui kepada pesannya beberapa tahun lalu. Sebelum berangkat berlayar, ia berpesan kepadaku untuk selalu merawat ayam ini hingga ia kembali,” Diang Ingsan kembali bergumam.
Berangkatlah nenek itu ke pelabuhan dengan jukung rumpungnya. Seekor ayam jantan bertengger di bagian depan jukungnya. Sesampainya di pelabuhan, terdengarlah suara teriakan dari para pengunjung yang ada di pelabuhan, “Diang Ingsun datang...Diang Ingsun datang...! Mendengar suara ribut-ribut di pelabuhan, si Angui dan istrinya melongok ke bawah. Mereka melihat sebuah jukung rumpung berhadapan dengan anjungan jungnya. “Siapa orang tua bersampan itu, Kaka?” tanya istri Angui. “Entahlah, Adingku,” jawab si Angui singkat.
“Angui..., Anakku! Ini ibumu, Nak...!” teriak Diang Ingsun dari dalam jukungnya. “Kaka, benarkah yang dikatakan perempuan tua itu?” tanya istrinya. “Bukan. Perempuan tua itu bukan ibuku,” bantah Angui kepada istrinya. “Ibuku tidak semiskin dan serenta itu!” tambah Angui. “Angui, ini ibu, Nak...!” nenek renta itu berseru. Dari atas jungnya yang megah, si Angui berucap, “Hai, perempuan tua, jangan mengaku-aku! Ibuku tidak seburuk kamu penampilannya!”
“Angui, Anakku! Engkau boleh tidak mengenali ibumu ini. Ayam jago kesayanganmu sengaja Ibu bawa untuk mengingatkanmu, Nak! seru ibunya mengiba. “Tidak mungkin ayam jagoku berusia setua itu. Jangan mengada-ada, wahai perempuan tua pendusta!” bentak si Angui. Si Angui mulai berkeringat dingin. Ia sangat malu kalau rahasianya terbongkar di hadapan istrinya. “Jukung ini adalah alat yang dulu kita gunakan untuk mencari ikan. Apakah kamu lupa, Anakku?” tanya ibunya lebih nyaring. Pertanyaan itu membuat si Angui semakin geram. “Persetan dengan jukung rumpung itu!” balas si Angui. Kemudian, ia memerintahkan seluruh anak buahnya untuk meninggalkan pelabuhan. “Angkat jangkar dan lepaskan semua tali. Kita pergi dari sini. Aku muak melihat perempuan miskin itu!” seru si Angui. Istrinya yang baik hati merasa iba terhadap nenek itu. “Kakaaa...kalau memang perempuan tua itu ibu kandungmu, tidak mengapa. Ading akan menerimanya dengan senang hati. Kita harus bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa, karena Kaka masih dipertemukan dengan ibu yang pernah mengandung, melahirkan, dan membesarkanmu. Turunlah Kaka, rangkullah dia...! pinta istrinya mengiba kepada si Angui. Mendengar permintaan istrinya, si Angui tetap saja berkeras hati tidak mau mengakui ibu kandungnya sendiri. “Sudah kukatakan, aku tidak memiliki orang tua seburuk itu. Tua renta itu hanya mengada-ada! bantah si Angui.
Tak lama kemudian, jung pun bergerak perlahan-lahan meninggalkan pelabuhan. Si Angui menarik paksa tangan istrinya agar masuk ke dalam kamar. Hatinya sakit, karena rasa malu yang sangat. Akal sehatnya benar-benar sudah tertutup hingga ia tega mengingkari kenyataan bahwa perempuan tua itu adalah ibu kandungnya sendiri. Demikian pula perempuan tua yang malang itu. Hatinya hancur berkeping-keping dibentak dan dicaci-maki, bahkan diingkari sebagai ibu oleh anak kandungnya sendiri. Karena itu, ia menjadi putus asa. Sambil menangis, ia berdoa, “Wahai, Tuhan Yang Mahakuasa. Jika si pemilik perahu itu memang si Angui, anak kandung yang pernah kukandung sembilan bulan sepuluh hari di dalam rahimku, celakakanlah dia karena telah berani menghina ibu kandungnya ini! Dengan kekuasaan-Mu, biar jasad dan semua kekayaannya menjadi batu! Dia anak durhaka...!” kutuk Diang Ingsun.
Baru saja doa itu diucapkan, tiba-tiba hujan turun dengan deras, disertai angin kencang. Suara guntur bergemuruh, menggelegar bersahut-sahutan. Air laut pun bergejolak dengan dahsyatnya. Jung yang ditumpangi si Angui dan seluruh isinya, terombang-ambing oleh gelombang air laut itu. Hempasan gelombang yang dahsyat itu membelah jung itu menjadi dua bagian. Satu bagian berisi istri si Angui beserta dayangnya, satu bagian lagi dihuni oleh si Angui beserta anak buah jung dan segala harta kekayaannya. Dari dalam jung terdengar suara teriakan si Angui memanggil-mangggil ibunya dan meminta maaf. “Ibu..., Ibu..., maafkan aku, Bu! Aku memang anakmu! Aku tidak akan mengulangi lagi!” Istri Angui pun turut berteriak meminta maaf. Namun, teriakan mereka tidak dihiraukan oleh Diang Ingsun. Ia terus mengayuh jukungnya menjauhi pelabuhan.
Si Angui sangat menyesali perbuatannya. Sayang, nasi sudah menjadi bubur. Bencana pun tak terelakkan. Kapal yang besar dan megah itu tenggelam ke dasar laut. Ketika air laut yang sempat menggenangi daratan rendah pelabuhan di kampung si Angui berubah surut dan menjadi daratan, menyembullah potongan-potongan kapal yang sudah berwujud batu. Potongan kapal yang berisi istri Angui berubah menjadi gunung batu yang kemudian disebut Gunung Batu Bini, sedangkan potongan kapal yang berisi Angui setelah menjadi batu disebut Gunung Batu Laki. Tiang layarnya mencuat dan kemudian tumbuh menjadi pohon yang tinggi di puncak Gunung Batu Laki. Sementara Diang Ingsun menjelma menjadi menjadi burung elang mangkung berwarna hitam. Penduduk setempat sering melihat burung itu hinggap di Gunung Batu Laki. Bila hari panas, burung elang itu selalu berkulik-kulik, “Bulik...! bulik...! buliiiik...!”

Sumber : Di sini...
hymunk - 24/10/2010 09:35 PM
#86
Jadri, Bertahan dengan Topeng Wayang Banjar
JADRI, SENIMAN TOPENG WAYANG BANJAR oleh M Syaifullah

Spoiler for JADRI seniman topeng

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Diiringi tetabuhan gamelan Banjar, seorang lelaki berperut buncit, badan agak bungkuk, dan rambut beruban, layaknya sosok seorang kakek tua, terlihat lincah melakoni gerak dan perilaku Semar, tokoh punakawan dari para ksatria dalam dunia pewayangan. Uniknya, Semar yang ini mengisap rokok dari pipa. Ia juga tak muncul bersama Bagong, Petruk, dan Gareng.

Tokoh Semar ini muncul sendirian. Pada kalung di dadanya tertulis "Samar", untuk menyebut tokoh Semar dalam bahasa Banjar. Ia menjadi salah satu pusat perhatian di Kampung Banjar pada Festival Budaya Pasar Terapung 2008 di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel), Banjarmasin, Sabtu (21/6).

Sebagian orang menduga, tampilnya Semar adalah bagian dari suguhan kesenian asal Jawa yang ikut berpartisipasi pada festival itu. Padahal, suku Banjar di Kalsel pun telah lama mengenal kesenian wayang.

Wayang Banjar sudah menjadi bagian seni daerah setempat yang dibawakan dalam bahasa Banjar. Maka, dalam berbagai acara seremonial dan pesta perkimpoian, kesenian, seperti wayang kulit Banjar, wayang gong Banjar, kuda gepang (kuda lumping), tarian topeng Banjar kerap
ditampilkan.

Tokoh wayang Banjar itu dimainkan seorang dalang bernama Jadri. Dialah pedalang dari Kampung Matang Asam, Desa Tambarangan, Kecamatan Taping Selatan, Kabupaten Tapin, Kalsel. "Saya bukan penari topeng Banjar, tetapi memainkan wayang Banjar memakai topeng," katanya merendah.

Padahal, Jadri patut disebut sebagai seniman seni tradisional wayang Banjar. Dia salah satu dari sedikit dalang wayang Banjar yang masih bertahan di Kabupaten Tapin. Kalau pedalang lain memainkan wayang kulit Banjar, ia justru tak melakukannya. Selain bermain topeng wayang Banjar, ia juga membuat sendiri topeng dan perangkat gamelannya.

Langsung mencontoh

Di Kabupaten Tapin, yang terletak sekitar 113 kilometer utara Banjarmasin itu, lelaki ini dikenal sebagai tokoh topeng wayang Banjar dari Tambarangan. Kepandaian itu didapatkan bukan dari belajar pada para dalang senior, tetapi karena ia senang menonton wayang Banjar.

Ketertarikan itu terus diperdalam Jadri setelah ia bisa membuat sendiri topeng wayang Banjar secara otodidak. Dia menjadi dalang sekaligus perajin topeng wayang yang andal dari Kabupaten Tapin.

Topeng yang dibuatnya bukan dengan menggambar pada bagian kayu yang akan dipahat, atau mencontoh gambar topeng wayang yang ada. Topeng buatan Jadri seperti "hidup" karena ia langsung mencontoh pada para tokoh wayang kulit Banjar.

Ketekunannya membuat topeng dimulai sejak tahun 1995. Sekitar 20 tokoh wayang sudah dibuat topengnya. Ia tak menjual topeng tersebut. Topeng itu dipakai sendiri atau dipinjamkan kepada dalang lain. Di sini ada kepercayaan, tak sembarang orang bisa memakainya. Biasanya topeng hanya dipakai para dalang dan keturunannya.

"Saya juga menerima pesanan topeng, tetapi bukan topeng wayang," kata Jadri tentang topeng pesanan yang dijual seharga Rp 25.000-Rp 100.000 per buah itu.

Berbeda dengan topeng untuk tarian topeng Banjar atau papantulan yang hanya menutup wajah, topeng karya Jadri yangterbuat dari kayu pelantan ini dibuat utuh berbentuk satu kepala. Itulah yang membuat topengnya terasa "hidup" saat dimainkan. Pada bagian mulut misalnya, bisa digerakkan hingga berkesan topeng itu berbicara.

"Kalau saya mengerjakannyasetiap hari, satu topeng bisa selesai dalam tiga hari," kata Jadri yang memperkirakan bakat berkeseniannya berasal dari sang ayah, Sadri, seorang dalang.

Menggendong pengantin

Jadri, yang sehari-hari menjadi petani, mulai serius menekuni topeng wayang Banjar pada tahun 2004. Ketika itu, ceritanya, mulai ada lagi permintaan untuk tampil di kampung-kampung di Kabupaten Tapin. Kebanyakan permintaan itu berasal dari keluarga yang mengadakan pesta
perkimpoian.

Kesenian topeng wayang Banjar tak hanya menampilkan Jadri sebagai pemain. Dalam setiap pergelaran terlibat pula 40 orang lain. Mereka terdiri dari pemain topeng wayang dan para penabuh gamelan Banjar.

"Kalau tidak semua pemain bisa berkumpul, setidaknya harus ada 25 orang," katanya.

Topeng wayang Banjar biasanya membawakan cerita Ramayana, seperti penculikan "Dewi Sinta" dan episode lainnya. Puncak dari aruh bakimpoian (pesta perkimpoian) itulah yang biasanya ditunggu-tunggu penonton, yakni kehadiran tokoh Samar sambil menggendong pengantin putri untuk diantar ke pelaminan.

"Pada sebagian kampung di Kabupaten Tapin, pengusung pengantin putri yang dilakukan oleh Samar seperti suatu keharusan. Sebab, kalau tidak dilakukan, kadang-kadang ada saja pengantin yang bisa kesurupan," kata Jadri.

Padahal, ujar Jadri, dia tidak memainkan topeng wayang Banjar seperti dalam proses ritual yang sakral. Hal yang dia maksudkan adalah keharusan menyediakan sejumlah piduduk (sesajen), sebelum topeng wayang Banjar dimainkan.

"Saya hanya percaya kesenian ini bagian dari perangkat ritual kerajaan masa lalu di daerah kami. Tentu saja ada sebagian dariwarga yang menikah itu adalah keturunan mereka. Kemungkinan, hubungan inilah yang membuat topeng wayang Banjar sampai sekarang ada saja yang meminta untuk dimainkan," katanya.

Di Kabupaten Tapin dan beberapa kabupaten di Kalsel, tradisi mengusung pengantin (penganten bausung) menjadi bagian prosesi perkimpoian yang masih bertahan. Selain dilakukan pemain topeng wayang Banjar, bisa juga dilakukan warga setempat dengan iringan penari Kuda
Gipang menuju pelaminan.

Selain itu, dalam tradisi baayun (tradisi mengayun anak), ditampilkan pula ritual wayang atau topeng seperti baayun wayang, yakni anak yang diayun oleh dalang sambil memegang wayang. Hal yang sama juga dilakukan pada anak yang melakukan baayun topeng. Sebagian masyarakat Banjar tetap mempertahankan ritual baayun wayang atau baayun topeng tersebut.

Dalam sebulan, ungkap Jadri, rata-rata ia memainkan kesenian ini 10 kali, terutama untuk pengantin bausung. "Kalau wayang kulit Banjar dimainkan semalam suntuk, kami memainkannya justru pada siang hari," ujarnya.

Jadri berusaha mempertahankan kesenian ini karena sebagian dari pedalang wayang Banjar di Kabupaten Tapin sudah berumur lanjut.

"Kami (para pedalang yang berusia lebih muda) saling bekerja sama. Ini tidak hanya dalam berkesenian, tetapi juga untuk pinjam-meminjam perangkat wayang. Misalnya, wayang kulit atau topeng wayang milik saya bisa dipinjam dalang yang lain. Dalam waktu yang berbeda, saya yang meminjam perangkat tetabuhan milik dalang lain," kata Jadri.

Cara tersebut terbukti ampuh. Selain bisa melestarikan kesenian tradisional, mereka pun bisa mengatasi masalah keterbatasan perangkat kesenian yang dimiliki para pelakunya.

BIODATA

* Nama : Jadri
* Kelahiran : Tambarangan, Kecamatan Taping Selatan, Kabupaten Tapin,
Kalimantan Selatan, tahun 1965
* Profesi : Dalang topeng wayang Banjar
* Keahlian :
- Perajin topeng wayang Banjar
- Perajin wayang kulit Banjar
- Perajin pembuat saron

* Pengalaman antara lain:
- Utusan Kesenian Daerah Kabupaten Tapin dalam Festival Budaya Pasar Terapung 2008 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

sumber : http://nasional.kompas.com/read/2009/01/07/03131352/jadri.bertahan.dengan.topeng.wayang.banjar
hymunk - 24/10/2010 09:46 PM
#87
Topeng Caritera Banjar
Pertunjukan Group Topeng Caritera Banjar,Putera Riba Muning..dari Matang Asam Kec.Tambarangan..Kab. Tapin (Rantau)..
Lokasi: Tungkap, Binuang..

Spoiler for Topeng Caritera Banjar
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1376380738653&set=a.1429817874548.57780.1505903375&ref=fbx_alb um#!/album.php?aid=57780&id=1505903375&page=3
hymunk - 24/10/2010 09:51 PM
#88
Usung Jinggung
Prosesi arak-arakan pengantin dalam masyarakat Banjar cukup beragam dan salah satunya adalah Usung Jinggung (pengantin diusung).

Spoiler for usung jinggung

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Dalam rangkaian upacara perkimpoian orang Banjar terdapat prosesi arak-arakan pengantin yang disebut maarak pengantin. usung-jinggung.jpgDalam tradisi masyarakat Banjar jika mempelai pria dan wanita telah selesai dirias dan siap untuk disandingkan, maka pengantin pria segera dibawa menuju kediaman mempelai wanita. Pengantin pria dengan diiringi rombongan pengantar pengantin dan diikuti pula kesenian Sinoman Hadrah atau Kuda Gipang dibawa berjalan kaki. Jarak untuk berjalan kaki tersebut, biasanya ditentukan batasnya agar tidak terlalu kelelahan. Sepanjang jalan yang dilalui dan pada tempat-tempat tertentu dilakukan atraksi sinoman hadrah yang dilakukan dengan gerakan-gerakan badan diikuti pukulan tarbang dan syair-syair lagu penuh syukur dan keceriaan.

Spoiler for usung jinggung

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Pada masa dahulu tidak hanya mempelai pria yang diarak, tetapi mempelai wanita juga ikut dalam perarakan. Jika ada kesepakatan tentang arak-arakan kedua mempelai, biasanya mempelai wanita menunggu di tengah perjalanan antara rumah mempelai pria dan rumah mempelai wanita. Kemudian dari tempat pertemuan tersebut kedua mempelai diarak dan dipertontonkan kepada masyarakat dengan melakukan usung jinggung berjalan menuju kediaman mempelai wanita sebelum duduk bersanding di pelaminan. Tetapi ada pula mempelai wanita cukup menyambut kedatangan mempelai pria di depan pintu rumah kediaman dan duduk sebentar di pelaminan kemudian diteruskan dengan usung jinggung di depan masyarakat yang menyaksikan upacara perkimpoian.

Usung jinggung dalam maarak pengantin ini harus dilakukan oleh mereka yang mahir, karena selain dituntut tenaga yang kuat harus pula pandai baiigal (menari). Pengusung pengantin dalam usung jinggung yang disebut pausungan ini menari-nari mengikuti irama musik galanjur agar penonton yang menyaksikan terhibur. Dengan demikian usung jinggung ini selain sebagai media untuk memperkenalkan kedua mempelai kepada masyarakat, juga dalam usaha memeriahkan suasana hari perkimpoian yang sacral dan penuh kenangan.

sumber :
http://www.flickr.com/photos/cotz/
http://kerajaanbanjar.wordpress.com/2007/02/25/usung-jinggung/
hymunk - 24/10/2010 10:05 PM
#89
Sinoman Hadrah
Sinoman Hadrah bersumber daripada budaya yang dibawa oleh pedagang dan penda’wah Islam dari Arab dan Parsi dan berkembang campur menjadi kebudayaan pada masyarakat pantai pesisir Kalimantan Selatan hingga Timur.

Spoiler for sinoman hadrah
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Puja dan puji untuk Tuhan serta Rasul Muhammad SAW mengisi syair dan pantun yang dilagukan bersahutan dalam qasidah yang merdu, dilindungi oleh payung (merupakan lambang keagungan dalam kehidupan tradisional di Indonesia) ubur-ubur, dalam gerakan yang dinamis.
hymunk - 24/10/2010 10:23 PM
#90
Kuriding,Alat Musik Tradisional Kalimantan Selatan
Kuriding adalah sebuah alat musik khas Kalimantan Selatan. Kuriding dimainkan oleh seniman dari etnis Bakumpai maupun Banjar. Kuriding dibuat dari enau atau kayu mirip ulin yang hanya ada di daerah Muara Teweh, Barito Utara.

Spoiler for kuriding
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Cara memainkan Kuriding adalah tangan kiri memegang tali pendek melingkar yang menahan bilah kayu itu agar menempelkan di mulut. Tangan kanan menarik-narik tali panjang yang diikat pada ujung bilah sebelahnya. Terdengar seperti suara angin menderu-deru, diiringi bunyi menghentak-hentak berirama teratur.

Spoiler for kuriding
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Deru angin itu muncul dari tiupan mulut pemain Kuriding, sedangkan bunyi menghentak-hentak dari tarikan tangan kanan.

Spoiler for kuriding
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Alat musik Kuriding diketahui melalui lagu Ampat Lima yang salah satu liriknya adalah "ampat si ampat lima ka ai, Kuriding patah,.." tapi jarang ada yang melihat bentuk alat itu apalagi orang memainkannya.

sumber :
http://baritobasin.wordpress.com/2010/04/13/generasi-kuriding-patah/
http://id.wikipedia.org/wiki/Kuriding
http://www.facebook.com/note.php?note_id=395026731817#!/photo.php?fbid=396116753050&set=o.39502673181 7
hymunk - 24/10/2010 11:37 PM
#91
Theater Tradisional Damarwulan
Damarwulan, berkembang di Kalsel sekitar tahun 1800 an, dan dikembangkan oleh salah seorang seniman saat itu, yang bernama Gusti Amir.
Pada zaman dahulu, Gusti Amir, bersama rekan-rekannya melakukan latihan drama ini pada malam hari, ditemani oleh sinar bulan. Kemudian mereka menambah penerangan dengan getah damar yang dibakar, sehingga mereka menamakannya Damarwulan.

Spoiler for Damarwulan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Dalam teater damarwulan ini, tokoh-tokoh yang dimainkan hampir mirip dengan tokoh-tokoh wayang. Seperti Minak Djinggo, Minak Sugeno dan lain sebagainya.

Spoiler for Damarwulan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Namun, jika dalam dunia wayang tokoh utamanya adalah Arjuna, maka dalam damarwulan, yang menjadi tokoh utamanya bernama Damarwulan.

Sama halnya dalam pergelaran wayang, dalam damarwulan ini, juga ada salah seorang yang akan berperan sebagai seorang dalang, yang mengatur alur ceritanya, namun dalam bahasa Banjar.

Dalam mementaskan damarwulan ini, aktor yang ditampilkan lumayan banyak, disesuaikan dengan naskah cerita yang ingin dipentaskan.

Namun aktor yang diperlukan, minimal sekitar 15 orang. Ditambah lagi dengan beberapa orang pemain musik, karena saat dipentaskan damarwulan ini selalu diiringi dengan musik gamelan.

Busana yang dikenakan untuk pementasan adalah busana khusus, yang didesain layaknya pakaian zaman kerajaan, lengkap dengan hiasan seperti mahkota, atau yang disebut ketopong.

Menariknya, sebelum pentas, orang-orang yang terlibat dalam pementasannya selalu mengadakan ritual khusus, yang salah satu tujuannya adalah agar pementasan berjalan lancar.

Seperti yang disampaikan oleh pendiri sanggar Junjungan Naga Pusaka, Gusti Djaelani Arif.

Spoiler for gusti djaelani arif
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
Gusti Djaelani Arif


Keturunan langsung dari Gusti Amir ini, mengatakan setiap kali mengadakan pementasan, selalu mengadakan ritual khusus seperti mempersiapkan kue 41 macam khas Banjar dan tapung tawar.

"Ritual ini, tujuannya agar saat pentas berjalan lancar, dan aktor maupun orang yang terlibat di dalamnya terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan," ujarnya.

Gusti Djaelani juga mengatakan, biasanya damarwulan ini ditampilkan pada saat menyambut kedatangan tamu, pesta perkimpoian, dan lain sebagainya.

Cerita atau naskah yang ada dalam damarwulan ini lumayan panjang. Tidak heran jika dahulu saat dipentaskan, memerlukan waktu minimal sekitar enam jam.

Saat ini kesenian Damarwulan hanya tersisa satu grup, yaitu sanggar Junjungan Naga Pusaka, yang dipimpin oleh Gusti Djaelani.

Damarwulan sudah sangat jarang ditampilkan. Meskipun ada juga, intensitasnya tidak seperti seni-seni yang lainnya. Padahal, kesenian ini sudah sangat langka dan terancam punah.

Meski usianya sudah 78 tahun, Djaelani tetap bersemangat untuk selalu melestarikan aset berharga seni dan budaya masyarakat Banjar ini.

Untuk melindungi damarwulan dari kepunahan, salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh Djaelani, di antaranya mementaskannya p- pada saat pernikahan cucu-cucunya.

Spoiler for Damarwulan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


"Dahulu damarwulan ini sangat memasyarakat, hampir setiap bulan pasti selalu ada pementasannya," ujarnya.

"Sekarang ini sudah sangat jarang ditampilkan, makanya saya mementaskannya pada saat pernikahan cucu-cucu atau keluarga. Dan sudah dua kali saya lakukan. Tujuannya agar kesenian ini tidak punah," tambah pensiunan TNI ini.

Anggota grup damarwulan yang dipimpin oleh Djaelani ini, tidak lain adalah anggota keluarganya sendiri. Sehingga dengan bantuan merekalah damarwulan masih bisa bertahan hingga saat ini, dan bisa tampil di halaman balaikota, pada perayaan hari jadi Kota Banjarmasin yang ke-484.

Djaelani mengatakan, agar kesenian ini tidak punah, maka perlu adanya perhatian serius dari pemerintah, baik di tingkat kota atau provinsi.

"Di Banjarmasin atau Kalsel, cuma kami yang tersisa mementaskan damarwulan ini. Jadi kiranya pemerintah bisa benar- benar memperhatikan, agar kesenian ini tidak punah," ujarnya.

sumber :
http://banjarmasinpost.co.id/read/artikel/2010/10/23/60571/ada-ritual-khusus-sebelum-pentas
http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/2010/9/30/57712/damarwulan-meriahkan-balai-kota
hymunk - 24/10/2010 11:59 PM
#92
Apam Barabai
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Apam barabai nangini tamasuk wadai nang khas dari barabai nang di diulah dari galapung baras IR42, karana baras janis nang ini nang cucuk gasan bahan pambuatannya jar orang tu baras karau, mun baras lambi kada baik kaina kada mapau kamirannya. salain itu bahan nang digunakan adalah gula habang dari puhun hanau nang masih banyak tumbuh di daerah kabupaten Hulu sungai tengah, selain itu jua ditambah lawan tapai gumbili nang sudah di param (permentasi) lawan ragi. satalah semunya'an bahan nangini dicampur lalu di aduk dan di tampa-tampa supaya bahannya marata tacampur, imbah nangintu di gana'akan samalaman.

Spoiler for apam barabai
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


setelah kamiran mapau lalu di sumap sampai masak, apam barabai nangini mangguna'akan tuangan daun dadap lawan di ulah tipis tipis, apam nangini tamasuk tahan lawas kada lakas basi lawan rasanya manis nang kaya acil nang maulahnya (bagayaan ja cil lah). apam barabai nangini tamasuk wadai nang mandapat parhatian husus dari pemerintah kabupaten hulu sungai tengah, dengan diulahan pasar yang diberi nama pasar apam. tapi sadikit disayangkan wayah hini kualitas apam barabai kada dijaga, mungkin handak mahimat biaya pambuatannya supaya haraganya kawa murah dengan menggunakan pemanias buatan, tapi malah marusak cita rasanya nang khas.

saat ini apam nang masih asli dapat di tamui (sapangatahuan ulun) di daerah simpang 4 bulau. apamnya kandal-kandal lawan rasanya manis dan gurih. jar urang rasa kada ka barabai mun kada marasai atau mambawa uleh-uleh apam nangini.


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Apam barabai yang selama ini dikenal sebagai salah satu ciri kue khas kota barabai. Maka tidak salah kalau sekarang kota barabai memiliki pasar khusus menjual penganan khas ini. Tapatnya dipasar apam samping terminal karamat barabai. Sejak tahun 2002 Pemerintah daerah kabupaten hulu sungai tengah membuat pasar ini dengan membangun kios-kios jualan dan merelokasi para pedagang apam yang selama ini berjualan di dalam pasar baru barabai. Ke tempat yang sekarang menjadi kawasan pasar apam barabai. Keberadaan pasar ini sangat bermanfaat bagi para pembeli terutama dari luar daerah apalagi yang menggunakan angkutan umum. Karena semua angkutan umum yang melewati kota barabai diharuskan masuk ke terminal ini. Kue ini sering dicari pembeli terutama dari luar kota yang melewati kota barabai sebagai panganan yang akan dimakan selama berada dalam perjalanan, juga sebagai oleh-oleh dari barabai. Karena rasanya yang khas dan daya tahan kue ini yang lumayan lama hingga 24 jam. Jadi tidak heran banyak pembeli yang membeli kue ini sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke luar daerah hingga luar propinsi seperti samarinda Kalimantan timur atau daerah muara teweh di Kalimantan tengah.

sumber :
http://sahrudin.wordpress.com
http://murakatabjb.wordpress.com/
http://incubator.wikimedia.org/wiki/Wp/bjn/Apam_Barabai
edagang-pasar-apam-barabai-dengan-tempat-yang-representatif&catid=18pariwisata&Itemid=68" >target="_blank"http://www.hulusungaitengahkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1280 pedagang-pasar-apam-barabai-dengan-tempat-yang-representatif&catid=18pariwisata&Itemid=68
hymunk - 25/10/2010 12:13 AM
#93
Dodol Kandangan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Dodol kandangan terbuat yang bahan utamanya dari beras ketan dan gula aren, jenis dodol yang ditawarkan sangat beragam ada yang masih berbentuk beras ketan yang di sebut wajik, yang terbuat dr pisang yang di sebut rimpi, yang mirip dodol tetapi bahan yang di tonjolkannya kelapa muda yang di parut adalah kasirat, dan masih banyak lagi yang lainnya, setiap 1 bungkus dodol di hargai Rp.2.000,-.

Semoga saja beberapa tahun kedepan kemasan ,rasa dan promosi dodol Kandangan dari pengusaha dodol dan pemerintah daerah lebih baik agar makanan khas daerah Kalimantan Selatan ini menjadi terkenal dan disukai disemua daerah di Indonesia.


sumber : http://www.wnk-art.co.cc/2010/05/dodol-kandangan-kalimantan-selatan.html
hymunk - 25/10/2010 12:45 AM
#94
Busana Adat Pengantin Banjar,Kalimantan Selatan
Perkimpoian adat Banjar dipengaruhi oleh unsur dalam agama Islam, dalam perkimpoian Banjar nampak jelas begitu besar penghormatan terhadap posisi wanita. Hal itu merupakan penerapan dari ajaran Islam yang mengemukakan ungkapan “surga itu dibawah telapak kaki ibu” dan kalimat “wanita itu adalah tiang negara”. Acara demi acara yang dilaksanakan semuanya berpusat di tempat atau di rumah pihak calon mempelai wanita, pihak dari keluarga laki-laki yang datang menghormati kepada keluarga mempelai wanita.

Urutan proses yang umum terjadi di kalangan keluarga calon pengantin adalah:

1. Basusuluh (mencari informasi secara diam-diam mengenai riwayat keluarga calon mempelai. Mencari informasi ini bisa melalui berbagai macam cara dan dilakukan secara cerdik)
2. Batatakun (mencari informasi definitif, pencarian ini lebih terbuka melalui kedua pihak keluarga)
3. Badatang (meminang)
4. Maatar Patalian ( memberikan barang-barang antaran kepada pihak mempelai wanita, berupa barang kebutuhan sehari-hari dan perlengkapan kamar tidur)
5. Nikah (ikatan resmi menurut agama)
6. Batatai (proses akhir dari perkimpoian Banjar, upacara bersanding/pesta perkimpoian)

Ditambah berbagai proses lainnya yang semuanya dilakukan di kediaman mempelai wanita. Karena perkimpoian merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup, maka keluarga kedua mempelai berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan kesan dan keistimewaan serta fasilitas kepada kedua mempelai, mereka dilayani bagai seorang raja dan ratu sehingga sering diberi julukan Raja Sahari (raja satu hari)


1. Busana Adat Pengantin Banjar Baamar Galung Pancaran Matahari

Spoiler for Baamar Galung Pancaran Matahari
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


2. Busana Adat Pengantin Banjar Baamar Galung Modifikasi

Spoiler for Baamar Galung Modifikasi
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


3. Busana Adat Pengantin Banjar Babajukun Galung Pacinan

Spoiler for Babajukun Galung Pacinan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


4. Busana Adat Pengantin Banjar Bagajah Gamuling Baular Lulut

Spoiler for Bagajah Gamuling Baular Lulut
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


sumber :
http://kerajaanbanjar.wordpress.com/2007/03/14/sekilas-proses-perkimpoian-adat-banjar/
http://ainun.yolasite.com/job/hasil-layout-an-majalah-pesona-edisi-visit-kalsel-year-2009-rubrik-busa na-adat
hymunk - 25/10/2010 12:16 PM
#95
Haliling..
Lawas kada bulik ka banua (Pagat Barabai) rasa kaganangan lawan makanan urang bahari. Banyak jua kalumpanan ngarannya apalagi cara maulahnya atawa manggawinya. Tapi ada nang kada suah kalumpanan: ”iwak haliling” ngarannya. Haliling tu sabangsa siput di banyu pahumaan, kulaan kalimbuai, atawa gondang jar bubuhan Banjar kuala. kabulujuran di balakang rumah ada pahumaan banih, mamanjang matan Pagat Hulu sampai ka Aluan Mati, Aluan Sumur, Bandang, Libaru, sampai Kahakan.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Wayah maunjun dahulu lamun kada bapakulih iwak papuyu, sapat, haruan atawa kulacingan, maka antuk tatap haja ada isinya karna hibak awan haliling nang diputiki atawa diipi-i di banyu sala-sala banih.
Kasimpulannya makan tatap haja baiwak, walau iwaknya iwak haliling…
Sampai di rumah, haliling dirandam di banyu agar inya bahira atawa mangaluarakan lumpur. Tapi amun kada sabar handak makan iwak haliling, maka paraya-ah dirandam, langsung haja hujung burit karungkungnya nang curing nitu dikatipi lawan lading bapandal di atas papan dadamparan. Karungkungnya ditatak supaya daging isinya kawa kaluar wayah kaina dikucup lawan muntung. Tangan kiwa maingkuti haliling, tangan kanan maingkuti lading. Krek..krek…krek…jar bunyi ujung burit karungkung haliling nang ditatak awan lading.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Imbah tuntung mangitipi, haliling tu dibuat ka dalam bakul purun dan di hunjah-hunjah di dalam banyu agar tahi lawan lumpurnya hilangan dan halilingnya barasih atawa kalihatan mancarunung.
Imbahitu, haliling dijarang di dalam panci sampai manggurak banyunya. Parahi santan nyiur. Sasapi awan bawang habang mantah. Sasapi jua awan lumbuk ganal nang anum atawa lumbuk ganal nang habang (tasarah haja). Buati daun pandan atawa pudak sacukupnya. Tambah uyah saparlunya, gula sacukupnya, atau vetsin lamun handak jua. Bisa jua dibuati acan sadikit. Rasai dahulu banyu kuahnya, pas haja kah di ilat? Amun sudah asa nyaman di ilat, kuah santannya manggurak dan halilingnya masak, bangkit ha. Buat ka mangkuk atawa piring. Lamun handak parahi ja kuah santannya awan buah limau purut atawa limau nipis. Kambuh kuahnya ka nasi, ambil halilingnya dan kucup….jangan a-asaan mangucup, mun kada daging halilingnya kada kaluar atawa masuk ka munntung, jangan mangucup sambil kapala basarusup ka dalam gumbang atawa tajau kaina bunyi kucupan batambah nyaring, jangan supan kadangaran urang karna di kampung urang-urang makan haliling jua.Cup…cup…daging halililing masuk ka dalam muntung. Mun taumpat jua anak haliling tasulum ta ka dalam muntung, buang haja, karna imbahanu haliling nang ganal bahintaluan atawa baanakan dalam paparutannya. Damintu jua amun tasulum kulipaknya, jangan jua dimakan buang haja. Tapi jangan mambuang kulipak haliling ka lantai kaina tajajak atawa marikit di talapak batis, lamun kulipak marikit di batis, labaram, kaina sambahiyang kada sah marga banyu pa uduan kada rasap ka kulit batis.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Cup..cup..cup… umai nyamannya, lih…..jangan takutan habis…banyak haja haliling di pahumaan… mun handak isuk putiki ha pulang. Biar maipi-i atawa mutiki di pahumaan urang, pakacil ampun pahumaan mahija-akan haja atawa cakada manangati. Amun bapadah jua, palingan sidin baucap, “ambil ha!”. Kaitu pang, di kampung ngarannya saraba babarian; saraba maihlasakan. Lain di kuta, saraba manukar…


sumber : http://bubuhanbanjar.wordpress.com/2010/07/18/gangan-haliling-umai-nyamannya/
hymunk - 25/10/2010 07:15 PM
#96
Amplang Kotabaru
Amplang ini terbuat dari campuran ikan tengiri, tepung, telur, gula dan garam, lalu diberi bumbu khusus. Bumbunya biasa, seperti merica, bawang, dan sedikit daun jeruk. Hanya saja, takaran dan cara mencampurnya bisa berbeda.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Daging ikan yang sudah halus dicampur adonan tepung yang sudah dicampur bawang putih, bawang merah, garam, penyedap rasa, air, telur dan tepung kanji.

Bila daging ikan sudah bercampur, adonan dibentuk memanjang dengan ukuran 20 sentimeter dan diameter 10 sentimeter. Kemudian, dimasukannya ke panci untuk direbus selama 2,5 jam. Adonan yang telah mengeras didinginkan, sebelum dipotong.

"Memang prosesnya terlihat mudah, tapi panjang sekali. Belum lagi proses penjemuran. Kendalanya, saat ini hujan sering turun,"
Untuk penjemuran diperlukan waktu dua sampai tiga hari, kemudian digoreng, sebelum dijual kerupuk dan amplang itu dimasukan ke dalam kemasan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Boleh dikatakan kenikmatan amplang sudah mendunia. Tak sedikit kaum ekspatriat di Kalimantan yang membawanya sebagai oleh-oleh. Sayang, khusus di Banua, para pengusaha amplang belum sampai merambah dunia internasional sebagai pangsa pasarnya.

INDUSTRI kecil yang memproduksi amplang memiliki potensi tersu berkembang. Buktinya, banyak industri rumahan amplang yang terus beroperasi meski sudah berusia belasan tahun.

Memang, ada kendala yang digadapi para bagi pemilik usaha kecil menengah (UKM) itu. Mereka terkendala pasokan bahan baku ikan tenggiri. Tenggiri merupakan bahan utama pembuatan amplang. Akan terasa aneh, jika aroma ikan itu tidak tercium dan terasa kala sebutir amplang masuk ke mulut pemakannya.

"Prospeknya sangat menjanjikan. Tapi sayang tidak didukung dengan bahan baku yang ada. Padahal daerah pemasarannya sudah lumayan. Sudah ke luar Kalsel," kata Kasi Teknologi Produksi, Dinas Koperasi, UKM dan Industri Kotabaru, Maslansyah.

Untuk mengantisipasi kendala pasokan bahan baku itu, Pemkab Kotabaru berjanji untuk memperluas pemasaran dan menyempurnakan kemasan agar konsumen lebih tertarik membelinya. "Kita sudah siapkan kemasan dari almuniun foil dan alat pres. Memang akan berpengaruh pada harga tetapi daya tahan dan kualitas amplang lebih terjamin," ucapnya.

sumber :
http://sijaka.wordpress.com/2009/08/10/ukm-binaan-telkom-meraihkan-expo-2009/
http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/2010/8/15/53404/gurihnya-kerupuk-amplang-kotabaru
http://www.banjarmasinpost.co.id/printnews/artikel/32837
hymunk - 25/10/2010 07:28 PM
#97
Tapai Gambut
Siapa tak kenal Gambut, kecamatan di Kabupaten Banjar, Kalsel. Nasi itik Gambut telah tersohor ke mana-mana. Manisnya tapai Gambut juga telah menjadi trade mark kedua untuk daerah penyangga Banjarmasin itu. Tapi jangan harap tapai banyak dijajakan di warung-warung di sana. Kenapa? Inilah ceritanya.

Kumandang azan Subuh baru saja usai pagi itu. Hawa dingin masih menusuk membuat siapa pun malas memulai aktivitas. Namun tidak demikian dengan Muhammad Aini (58), warga Jalan Pematang Panjang, Kelurahan Gambut, Kabupaten Banjar.

Usai menunaikan Salat Subuh, Sabtu (10/7), dia langsung sigap. Tapai singkong yang telah dikemas, dia susun di rak yang telah dipasangnya di jok sepeda motor. Setelah semua kemasan tapai terusun rapi, kemudian rak itu dia ikat kuat menggunakan karet bekas ban dalam mobil di ke sepeda motornya.

Tak lama berselang, dia pun meluncur dengan membawa barang dagangannya itu. Tujuannya pagi itu adalah kawasan Landasan Ulin dan Banjarbaru.

Tak jauh dari rumah Aini, Siti Rahma (30), sibuk memasak beras ketan untuk bahan tapai. Setelah masak, dia campur dengan serbuk daun katuk sebagai pewarna. Proses selanjutnya, pemberian ragi untuk proses fermentasi yang memakan waktu dua hari.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Pagi itu, Siti memasak dua blek empat liter (44 liter) beras ketan. Dengan bahan sebanyak itu, dia bisa menghasilkan 2.200 butir tapai ketan. "Kita kerja mulai habis Subuh sampai sore sebelum Magrib, mulai dari memasak hingga mengemas dalam kemasan. Dua hari kemudian setelah masak, tapai kita antar ke pelanggan mulai pagi," kata Siti.

Itulah sebagian gambaran aktivitas harian warga di Kelurahan Gambut, khususnya di Jalan Pematang Panjang. Hampir seluruh warga, menjadi pengrajin tapai, baik dari singkong atau beras ketan.

Tak heran, jika menyebut nama tapai, hampir semua warga terutama wilayah di Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura, menaruh nama Gambut di belakangnya. Tapai Gambut, demikian sebutan warga untuk menyebut penganan berasa manis itu.

Kepala Kelurahan Gambut, Ediyani Fitri, membenarkan jika tapai Gambut telah menjadi trade mark industri rumahan warganya. "Sudah puluhan tahun lalu masyarakat Gambut khususnya di wilayah Jalan Pematang Panjang memproduksi tapai. Keterampilan membuat itu (tapai) sudah menjadi ciri khas warga kami," kata Ediyani bangga.

Malah berkat tapai pula, predikat juara satu kelompok tani se-Kabupaten Banjar mereka raih. "Baru 5 Juli (2010), hadiah ini (juara satu) kami peroleh. Ini salah satu hasil yang kita capai dari memproduksi tapai Gambut. Kita berharap usaha tapai Gambut terus berkembang dan dikenal masyarakat hingga ke luar daerah," kata Ketua Kelompok Tani Budi Kencana, Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS), RT 02 Kelurahan Gambut, Hamsah.

Apa yang membuat tapai Gambut demikian digemari? Ternyata kuncinya, para pengrajin taat terhadap pakem yang ada. Mereka hanya memakai bahan pilihan dan cara mengolah sesuai resep yang mereka dapat secara turun temurun selama puluhan tahun.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

"Untuk gumbili (singkong) misalnya, kita hanya mendatangkan dari daerah Bati Bati. Karena sejak dulu sudah terjamin kualitasnya," jelas Hamsah, perempuan yang mengaku berusia 70 tahun namun masih tampak energik itu.

Menariknya, meski dikenal sebagai sentra tapai, tak mudah mendapatkan penganan itu dijual di warung-warung kampung itu. "Di sini hanya tempat mengolah (tapai). Kalau bisa jangan dijual di kampung sendiri. Kita juga sudah enek dengan tapai olahan sendiri," kata Ediyani sambil terkekeh.

sumber :
http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/2010/7/11/49868/tapai-gambut-memang-nomor-satu
http://hasanzainuddin.wordpress.com/
hymunk - 25/10/2010 08:04 PM
#98
Katupat Kandangan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Masakan Katupat Kandangan, adalah makanan khas urang Banjar (Kalimantan Selatan) yang berasal dari Kota Kandangan. Ciri makanan ini adalah ketupat yang dibelah-belah lalu disajikan ke dalam piring atau mangkok baru diberi kuah yang terbuat dari air santan yang kental, serta harus menggunakan lauk ikan haruan (gabus) baik kepala, ekor, atau daging tengah, atau jeruan ikan (parut dicampur telur ikan haruan).


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Bagi lidah orang Banjar, katupat kandangan merupakan makanan disukai, terutama untuk sarapan pagi makanya warung makanan Katupat Kandangan menyebar dimanha-mana baik di kota Banjarmasin sendiri, maupun di kota asal masakan tersebut yakni Kandangan.

Di Banjarmasin, warung Ketupat Kandangan bisa dijumpai di sekitar jalan Pangeran Antasari (Jalan Jati) di sini warung yang menjual makanan khas ini ada yang buka siang hari tetapi yang peling banyak buka malam hari.


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Selain di Jalan Jati, warung katupat kandangan juga ada di Jalan Pasar Lama, jalan S Parman, jalan teluk Dalam, Jalan A Yani dan beberapa tempat lainnya.,

Bagi orang Kandangan menyantap makanan ini harus menggunakan tangan, karena kalau menggunakan sendok dinilai kurang lezat.

Spoiler for katupat kandangan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Langkah-langkah pembuatan Katupat Kandangan :
Beras dicuci sampai bersih lalu ditiriskan
Pucuk daun kelapa dianyam berbentuk segi empat kemudian diisi dengan beras kurang lebih 2/3 bagian
Panaskan air dalam panci, lalu masukkan yang sudah berisi beras tersebut, kedalamannya sampai tenggelam
Biarkan ± 1 jam (airnya sudah agak kering) berarti sudah menjadi ketupat (masak) lalu diangkat dan didinginkan

Bahan :
* 6 buah ketupat, dipotong-potong
* 750 gram ikan gabus segar, dibuang kepalanya
* 1 sendok teh asam jawa
* 1 sendok teh garam
* 1 sendok teh air jeruk nipis
* 5 lembar daun jeruk, disobek-sobek
* 2 batang serai, dimemarkan
* 1.500 ml santan dari 1 butir kelapa
* 6 sendok makan minyak untuk menumis

Bumbu halus :
* 10 butir bawang merah
* 4 siung bawang putih
* 3 butir kemiri
* 1/2 sendok teh ketumbar
* 1 cm jahe
* 3 cm kunyit
* 1/4 sendok teh merica
* 1/2 sendok teh terasi
* 4 3/4 sendok teh garam
* 1 cm lengkuas
* 1/8 sendok teh jintan
* 2 sendok teh gula pasir

Bahan sambal :
* 5 buah cabai merah
* 2 buah cabai rawit
* 1/2 sendok teh terasi goreng
* 1 buah tomat
* 1/2 sendok teh garam
* 1/4 sendok teh merica
* 2 sendok makan minyak untuk menumis

Cara membuat :
1. Lumuri ikan dengan asam jawa, garam, dan air jeruk nipis.
2. Diamkan 45 menit.
3. Panggang ikan di bara api sampai matang.
4. Tumis bumbu halus, daun jeruk, dan serai sampai matang.
5. Tuang santan lalu didihkan.
6. Masukkan ikan gabus. Rebus sampai bumbu meresap.
7. Sajikan dengan ketupat.
8. Sambal, goreng cabai, terasi, bawang merah, dan tomat sampai harum.
9. Angkat lalu tambahkan garam, dan merica. Haluskan.
10. Sajikan dengan ketupat kandangan.

sumber :
http://deka.blog.niwakarya.com/2008/10/30/katupat-kandangan/
http://deborneo15.wordpress.com/2010/03/21/ketupat-kandangan/
hymunk - 25/10/2010 08:33 PM
#99
Ikan Papuyu
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Papuyu / Pupuyu (Bahasa Indonesia:Betok) adalah ngaran sejenis iwak nang umumnya hidup liar di banyu hambar/tawar. Iwak nangini jua disambat dalam beberapa ngaran lain nangkaya bethok atawa bethik (Jw.), puyu (Mly.). Dalam bahasa Inggris dipinandui sebagai climbing gouramy atawa climbing perch, marga kabisaannya banaik ka daratan. Ngaran ilmiahnya adalah Anabas testudineus (Bloch, 1792).

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

A. Klasifikasi
Ikan Papuyu sebenarnya sudah lama dikenal masyarakat Indonesia dibeberapa daerah. Dalam bahasa-bahasa daerah ikan ini juga dinamakan ikan Betik (Jawa dan Sunda), Papuyu (Kalimantan Selatan), Puyu (Malaya dan Kalimantan Timur), Puyu-puyu (Padang), Puyo-puyo (Bintan), geteh-geteh (Manado), dan kusang (Danau Matanua). Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai climbing gouramy atau climbing perch, merujuk pada kemampuannya memanjat ke daratan. Nama ilmiahnya adalah Anabas testudineus (Bloch, 1792).
Menurut Saanin (1984), Ikan Papuyu diklasifikasikan sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Labyrinthici
Famili : Anabantidae
Genus : Anabas
Species : Anabas testudineus Bloch

B. Morfologi
Menurut Djuhanda (1981), tanda-tanda utama ikan Papuyu adalah bentuk lonjong lebih ke belakang pipih. Kepala besar dan mulut tidak dapat disembulkan. Semua badan kepalanya bersisik kasar dan besar-besar. Jari-jari keras dari sirip perut dapat digerakan untuk berjalan pada permukaan lumpur yang kering. Badan berwarna coklat agak hitam kehiaju-hijauan .
1. Ikan yang umumnya berukuran kecil, panjang hingga sekitar 25 cm, namun kebanyakan lebih kecil. Berkepala besar dan bersisik keras kaku.
2. Sisi atas tubuh (dorsal) gelap kehitaman agak kecoklatan atau kehijauan. Sisi samping (lateral) kekuningan, terutama di sebelah bawah, dengan garis-garis gelap melintang yang samar dan tak beraturan. Sebuah bintik hitam (terkadang tak jelas kelihatan) terdapat di ujung belakang tutup insang.
3. Sisi belakang tutup insang bergerigi tajam seperti duri.

C. Daerah Penyebaran
Ikan ini menyebar luas, mulai dari India, Cina hingga Asia Tenggara dan Kepulauan Nusantara di sebelah barat Garis Wallace Daerah penyebaran ikan Papuyu di Indonesia meliputi Sumatera, Nias, Bintan, Sulawesi, Bangka, Sumbawa, Pati, Ambon, Jawa, Bacau, Halmahera, Kalimantan, dan Madura.

D. Kebiasaan/Behaviour
Dalam keadaan normal, sebagaimana ikan umumnya, betok bernafas dalam air dengan insang. Akan tetapi seperti ikan gabus dan lele, betok juga memiliki kemampuan untuk mengambil oksigen langsung dari udara. Ikan ini memiliki organ labirin (labyrinth organ) di kepalanya, yang memungkinkan hal itu. Alat ini sangat berguna manakala ikan mengalami kekeringan dan harus berpindah ke tempat lain yang masih berair. Betok mampu merayap naik dan berjalan di daratan dengan menggunakan tutup insang yang dapat dimegarkan, dan berlaku sebagai semacam ‘kaki depan’. Namun tentu saja ikan ini tidak dapat terlalu lama bertahan di daratan, dan harus mendapatkan air dalam beberapa jam atau ia akan mati.
E. Habitat
Ikan Papuyu ditemukan di rawa-rawa, sawah, sungai kecil dan parit-parit, juga pada kolam-kolam yang mendapatkan air banjir atau berhubungan dengan saluran air terbuka. Ikan Papuyu dapat tumbuh normal pada perairan dengan kisaran pH antara 4 – 8. Ikan Papuyu tahan terhadap kekeringan dan terkadang kuat hidup sampai satu minggu tanpa air atau tinggal dalam lumpur sedikit berair selama 1 – 2 bulan.
F. Makanan
Ikan Papuyu adalah golongan ikan pemakan segala (omnivora), oleh karena itu mudah diberikan makanan tambahan atau buatan.Menurut Mudjiman (1985), jumlah makanan yang dikonsumsi oleh ikan secara umum berkisar antara 3 – 6 % dari total berat ikan. Namun jumlah makanan itu dapat berubah-ubah tergantung pada suhu lingkungannya. Ikan ini memangsa aneka serangga dan hewan-hewan air yang berukuran kecil.
G. Pertumbuhan
Arifin (1991), menyatakan bahwa pertumbuhan dapat dikatakan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat didalam waktu tertentu. Pertambahan ukuran ini karena adanya proses hayati yang terus menerus terjadi didalam tubuh organisme. Kecepatan pertumbuhan sangat tergantung kepada jumlah makanan yang diberikan, ruang, suhu, kedalaman air, kandungan oksigen dalam air, dan parameter kualitas air lainnya. Makanan yang didapat oleh ikan terutama di manfaatkan untuk pergerakan, memulihkan organ tubuh yang rusak, setelah itu kelebihan makanan yang didapatkan digunakan untuk pertumbuhan (Asmawi, 1986). Pertumbuhan ikan Papuyu di alam dapat mencapai ukuran >200 gram per ekor dalam 1 tahun, sedangkan pertumbuhan dalam lingkungan budidaya (kolam, fishpen/jaring tancap) mencapai kisaran 70 - 100 gram per ekor selama 1 tahun
H. Reproduksi
Ikan Papuyu berkembangbiak dengan cara induk betina mengeluarkan telur yang dibuahi induk jantan dengan mengeluarkan sperma. Pembuahan terjadi diluar dengan cara tubuh induk jantan menjepit tubuh induk betina sambil mengeluarkan telur dan sperma

I. Telur
Telur ikan Papuyu berbentuk bulat berwarna bening kekuningan dengan sifat mengapung di air. 1 ekor induk papuyu dapat memproduksi telur sebanyak 15.000 – 30.000 tergantung berat dari ikan tersebut
J. Larva
Larva ikan Papuyu berukuran panjang < 1 mm berwarna bening dengan bintik mata hitam. Pada umur 1 hari larva akan diam mengapung di permukaan air atau menempel pada substrat, setelah umur 1 hari larva mulai berenang aktif

sumber :
http://ikan-betok.blogspot.com/
http://bjn.wikipedia.org/wiki/Papuyu
http://s-fd.blogspot.com/2010/01/biologi-ikan-papuyu.html
http://agussyarifhanafie.blogspot.com/2009/04/blog-post_3948.html
http://hasanzainuddin.wordpress.com/wisata-kuliner-balangan/papuyu-basanga/
hymunk - 25/10/2010 08:35 PM
#100
Ikan Haruan
Ikan Haruan adalah ikan khas yang sangat digemari masyarakat Kalimantan Selatan. Bahkan ikan ini menjadi “pendamping wajib” masakan ketupat Kandangan. Bukan ketupat Kandangan namanya, kalau lauknya tidak menggunakan ikan Haruan.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Ikan Haruan adalah sejenis ikan buas yang hidup di air tawar. Kalau di Jawa dikenal dengan sebutan Kutuk/Gabus, orang Betawi menyebutnya Kocolan, tetangga kita Malaysia mengenalnya dengan nama aruan atau haruan. Sedangkan tetangga jauuuuuuh kita yaitu Inggris, memanggil ikan Haruan ini dengan berbagai nama, seperti common snakehead, snakehead murrel, chevron snakehead, striped snakehead dan juga aruan. Sedangkan nama ilmiahnya adalah Channa striata.

Spoiler for haruan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Dinamakan Snake head, mungkin karena kepala ikan Haruan berkepala besar agak gepeng mirip kepala ular dengan sisik-sisik besar di atas kepala. Tubuh bulat gilig memanjang, seperti peluru kendali. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor membulat di ujungnya. Biasanya dijumpai di danau, rawa, sungai, dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Ikan Haruan ini memangsa aneka ikan kecil-kecil, serangga, dan berbagai hewan air lain termasuk berudu dan kodok.

Mungkin kamu pernah menemui ikan Haruan terbawa banjir ke parit-parit di sekitar rumah, atau memasuki kolam-kolam pemeliharaan ikan dan menjadi hama yang memangsa ikan-ikan peliharaan di sana. Jika sawah, kolam atau parit mengering, ikan ini akan berupaya pindah ke tempat lain, atau bila terpaksa, akan mengubur diri di dalam lumpur hingga tempat itu kembali berair. Oleh sebab itu ikan ini sering kali ditemui ‘berjalan’ di daratan, khususnya di malam hari di musim kemarau, mencari tempat lain yang masih berair. Fenomena ini adalah karena gabus memiliki kemampuan bernapas langsung dari udara, dengan menggunakan semacam organ labirin (seperti pada ikan lele atau betok) namun lebih primitif.

Salah satu kerabat dekat gabus adalah ikan Toman (Channa micropeltes), yang panjang tubuhnya dapat melebihi 1 m dan beratnya lebih dari 5 kg.

Di Kalimantan Selatan, ikan Haruan ini mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Biasanya ikan ini diasinkan terlebih dahulu sebelum diperdagangkan antar pulau. Haruan asin merupakan salah satu ikan kering yang cukup mahal harganya.

Untuk ikan Haruan segar, kebanyakan dijual dalam keadaan hidup, juga merupakan sumber protein yang sangat tinggi yaitu Albumin. Albumin diperlukan tubuh manusia setiap hari, terutama dalam proses penyembuhan luka-luka. Bahkan, di daerah pedesaan, anak laki-laki pasca dikhitan selalu dianjurkan mengonsumsi ikan sejenis itu untuk mempercepat proses penyembuhan. Caranya, daging ikan tersebut dikukus atau di-steam sehingga memperoleh filtrate, yang dijadikan menu ekstra bagi penderita hipoalbumin dan luka.

aneka produk dengan bahan Ikan Haruan yang fotonya saya dapatkan dari google



Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Selain itu, menurut Prof Madya Dr. Saringat Baie (beliau adalah orang pertama yang menghasilkan tablet obat luka dari ikan Haruan), Ikan Haruan juga mengandung asam amino dan lemak yang dapat menyembuhkan luka dalam perut serta amat baik untuk mengobati penyakit gastrik.

Menurut penelitian, Ikan gabus atau iwak haruan mengandung kadar protein tinggi dan sangat bagus bagi :

1. Penderita Kurang Protein Dalam Darah atau dikenal dengan istilah hipoalbuminemia
2. Penderita HIV/ AIDS
3. Dikonsumsi untuk memenuhi Gizi bagi Balita utk mendukung pertumbuhan
4. Penyembuhan Penderita Luka
5. Penderita Post Operatif atau bagi orang yang selesai menjalani operasi
6. Status Gizi penderita tuberkulosis
7. Proses penyembuhan pada stroke
8. Kadar albumin, hemoglobin dan status gizi lansia
9. Serta Proses penyembuhan pada penderita luka bakar

Syaratnya, Haruan tersebut harus Haruan liar dan bukan Haruan yang dibudidayakan.


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Bahan :

1 kg Ikan Haruan Besar (boleh juga diganti dengan Ikan Toman)
½ kg santan

Bumbu :

Kemiri (kaminting) 3 biji
Bawang merah (bawang habang) 3 biji
Bawang putih 1 siung
Daun serai (serai) 1 batang
Kunyit (janar) 1 ruas jari
Laos (laus) 1 ruas jari
Kencur (kancur) 2 ruas jari
Jahe (tipakan) 1 ruas jari
Ketumbar (katumbar) 1sendok makan
Terasi (acan) secukupnya
Garam (uyah) secukupnya

Cara membuat :

1. Semua bumbu diulek sampai halus.
2. Ikan Haruan/Toman dibersihkan, kemudian direbus sampai masak, lalu didinginkan dan buang tulangnya.
3. Campur bumbu, ikan Haruan dan santan, kemudian aduk sampai daging ikannya hancur di atas api sedang.
4. Jika sudah tercium bau harum dari bumbu, berarti masakan sudah matang.

sumber :
foto2 : google.com
http://abonikangabus.blogspot.com/2009/10/abon-ikan-gabus.html
http://deborneo15.wordpress.com/2010/03/23/iwak-rabuk-haruan-abon-ikan-haruan/
Page 5 of 15 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan