Kalimantan Selatan
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
Total Views: 72819 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 7 of 15 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 >  Last ›

hymunk - 28/10/2010 11:08 PM
#121
Danau Riam Kanan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Danau Riam Kanan merupakan Danau yang berada di bagian dari Taman Hutan Raya Sultan Adam yang berlokasi di Desa Aranio, Kecamatan Aranio Banjar . Berjarak sekitar 65 km dari Kota Banjarmasin. Pegunungan Meratus yang indah dan hijau mengelilingi Danau Riam Kanan yang luasnya 8000 hektar. Pulau Pinus yang terletak di tengah danau merupakan tempat-tempat ideal untuk berekreasi keluarga sambil menikmati kedamaian alam. Air danau yang jernih dan tenang sangatlah ideal pula untuk bertamasya air, berenang, maupun memancing.Mata pencaharian utama penduduk sekitar danau riam kanan adalah bertambak ikan, mereka tinggal diatas rumah lanting atau rumah yang mengapung diatas air, bantalan rumah ini dibuat dari drum-drum bekas ataupun dari kayu-kayu jenis terapung lainnya. Jika kita mengarungi danau ini kita akan melihat rumah-rumah lanting. Waktu yang baik mengarungi danau dengan berperahu adalah pagi hari disana matahari tidak terlalu menyengat dan mata kita tidak dibuat silau dengan pantulannya diatas air.

Sumber:kandangan-city.co.cc
Read more: http://www.wisatanesia.com/2010/09/danau-riam-kanan.html
hymunk - 28/10/2010 11:09 PM
#122
Pasar Terapung Lok Baintan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Pasar Terapung Lok Baintan berada di Sungai Martapura. kabupaten Banjar Kegiatannya hampir sama dengan Pasar Terapung yang ada di tepi Sungai Barito dengan Pasar Terapung Muara Kuin dan yang membedakannya hanya para pedagang menggunakan topi yang disebut Tanggui. Lokasi Pasar Terapung Lok Baintan bisa dicapai dengan menggunakan klotok (kayu kapal/perahu bermotor) pada sekitar satu jam, atau dapat di dicapai dengan naik mobil dan sepeda motor dari batas kota.Di lokasi ini, rutinitas orang Banjar yang bertukar (barter) sayuran, buah-buahan, kue, minum dan berbagai jenis makanan serta keperluan sehari-hari lain. Pembeli bisa membeli komoditas ini di atas kapal (perahu) mereka atau dari dermaga kecil disetiap halaman ke belakang rumah warga di sepanjang pesisir sungai.Pasar terbuka dari 05,00 sampai 07,00 pagi hari. Selain itu, cara khas hidup warga setempat mengapungkan rumah adalah juga objek yang sangat menarik untuk dilihat dan dinikmati..Wisata Indonesia Surga Dunia

Read more: http://www.wisatanesia.com/2010/09/pasar-terapung-lok-baintan.html
hymunk - 08/11/2010 12:07 PM
#123
Alam Roh, Basis yang Dilupakan
Spoiler for monumen perjuangan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Merah putih lusuh. Pinggirannya mulai sobek termakan usia, tidak mampu lagi berkibar. Bentangannya pun terhalang ranting pohon.


Denny Susanto

TIANG bendera dari kayu ulin dengan sambungan batang gaharu setinggi 8 meter masih berdiri tegak di antara belukar dan pohon-pohon rawa.

Merah Putih lusuh yang pinggirannya mulai sobek termakan usia tidak mampu lagi berkibar. Bentangannya terhalang oleh ranting-ranting pohon.

Oleh masyarakat, lokasi tiang di Desa Paku Alam, Kecamatan Sei Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, tersebut diberi julukan Alam Roh, markas perjuangan dan pelarian gerilyawan.

Di sana untuk pertama kalinya di bumi Kalimantan, Sang Saka Merah Putih berkibar. Waktunya bersamaan dengan pendeklarasian kemerdekaan di Divisi IV Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Pertahanan Kalimantan. Sekitar 5.000 pejuang berkumpul dan mengikuti upacara pengibaran bendera waktu itu.

"Disebut alam roh karena wilayah itu dulunya basis pertahanan dan tempat makam para pejuang dari zaman penjajahan Belanda hingga perang kemerdekaan," tutur Haji Ismail, juru kunci Alam Roh.

Lelaki berusia 90 tahun itu termasuk salah seorang pelaku sejarah yang ikut merasakan pahit getirnya berjuang melawan penjajah.

Ribuan pejuang yang terbagi-bagi dalam kelompok perlawanan di bawah komando Hasan Basry (kini berstatus pahlawan nasional), Daeng Lajeda, Kapten Mulyono, dan Ibnu Hajar di pedalaman Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menjadikan Desa Paku Alam sebagai markas besar perjuangan.

Di kawasan hutan yang kemudian disebut Alam Roh itu, pejuang berbagai daerah bertemu, berkoordinasi, merencanakan penyerbuan, termasuk bersembunyi dari kejaran penjajah.

"Warga turut membantu perjuangan dengan menyediakan bahan makanan. Di sini juga sebagian warga membuat senjata rakitan," ucap Kai (kakek) Ismail bersemangat, sesekali terbatuk karena kondisi kesehatannya menurun.

Dengan segala keterbatasan, pejuang kemerdekaan yang hanya berbekal bambu runcing dan bedil rakitan menyerbu ke arah konvoi dan pertahanan Belanda di Benteng Tatas, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kini kawasan benteng sudah berubah menjadi Masjid Sabi-lal Muhtadin dan Korem 101/ Antasari.

Alam Roh dipercaya punya keterkaitan dengan sesuatu yang gaib. Kawasan hutan berjarak sekitar 6 kilometer dari tepian Sungai Martapura dan pasar terapung Lok Baintan ini kabarnya diberi pagar gaib di keempat sudutnya sehingga mata penjajah tidak dapat me-nembusnya. Hingga kini mitos tersebut masih dipercayai masyarakat.

Terbengkalai

Tidak seperti namanya yang sudah kesohor, kondisi Alam Roh sekarang justru memprihatinkan. Tidak ada perhatian pemerintah tertuju ke tempat yang mengabadikan jerih payah serta pengorbanan pejuang kemerdekaan.

Pemerintah daerah sekadar melengkapi kawasan itu dengan monumen proklamasi sederhana di bibir sungai. Adapun lokasi sesungguhnya di Alam Roh sama sekali tidak tersentuh penanda. "Seharusnya, monumen itu dibangun di Alam Roh sebagai bentuk penghargaan bagi pejuang," cetus Kai Ismail menumpahkan kekecewaannya.

Selain telah berubah menjadi hutan, lokasi di sekitar tiang bendera dipenuhi lubang galian warga setempat. Penggalian masih terkait dengan mitos bahwa ada harta karun berupa intan milik pejuang yang terkubur di areal itu.

Beberapa warga juga menerobos kawasan itu dengan maksud mengambil tiang bendera dari kayu gaharu yang kini harganya mahal.

"Pemerintah harus segera menyelamatkan kawasan bersejarah ini. Bila perlu, jadikan sebuah kawasan wisata dengan membangun monumen," kata Khaidir Rahman, Wakil Ketua Komunitas Jurnalis Pena Hijau Indonesia.

Khaidir menambahkan, banyak pejabat daerah pun tidak mengetahui keberadaan dan sejarah kawasan itu. (N-4)denny susanto mediaindonesia.com

sumber :
http://www.facebook.com/album.php?aid=27533&id=1711418822
http://dennymedia.wordpress.com/2010/08/10/pahlawan-terlupakan/
hymunk - 08/11/2010 12:59 PM
#124
Banjarmasin 0 km
Sangat jarang yang tau akan letak dimana titik 0 Km Kota Banjarmasin..bahkan warga banjarmasin sendiri..

Letaknya tepat di depan Kantor Gubernur Kalimantan Selatan, lokasi ini sering sekali dijadikan tempat berbagai acara baik even budaya maupun lainnya..

Pada sore hari biasanya dijadikan tempat untuk melepas lelah dan bersantai bagi warga banjarmasin..

Spoiler for Banjarmasin 0 Km


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



sumber foto ;
http://pohijopati.wordpress.com
wikimedia.org
hymunk - 10/11/2010 05:41 AM
#125
Permainan Tradisional Dakuan (Congklak)
Spoiler for dakuan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



Congklak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan.

Nama congkak di berbagai daerah
Di Kalimantan Selatan permainan ini lebih dikenal dengan nama Dakuan dan congklak ini juga dikenal di beberapa daerah di Sumatera dengan kebudayaan Melayu. Di Jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama congkak, dakon, dhakon atau dhakonan. Selain itu di Lampung permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban sedangkan di Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan nama Mokaotan, Maggaleceng,Aggalacang dan Nogarata. Dalam bahasa Inggris, permainan ini disebut Mancala.

Permainan congklak

Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congkak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congkak atau buah congkak. Umumnya papan congkak terbuat dari kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congkak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain.


Pada awal permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lobang yang akan diambil dan meletakkan satu ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya. Bila biji habis di lobang kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bisa habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lobang kecil di sisinya. bila habis di lubang kecil di sisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lobang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa.

Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat diambil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak.

sumber :
http://www.facebook.com/notes/banjarmasin-kota-bungas/congklak-dakuan/155439644498749
hymunk - 13/11/2010 08:47 AM
#126
Kekerabatan suku banjar
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


KEKERABATAN SUKU BANJAR
Seperti sistem kekerabatan umumnya, masyarakat Banjar mengenal istilah-istilah tertentu sebagai panggilan dalam keluarga. Skema di atas berpusat dari ULUN sebagai penyebutnya.

Bagi ULUN juga terdapat panggilan untuk saudara dari ayah atau ibu, saudara tertua disebut Julak, saudara kedua disebut Gulu, saudara berikutnya disebut Tuha, saudara tengah dari ayah dan ibu disebut Angah, dan yang lainnya biasa disebut Pakacil (paman) dan Makacil (bibi), sedangkan termuda disebut Busu. Untuk memanggil saudara dari kai dan nini sama saja, begitu pula untuk saudara datu.

Disamping istilah di atas masih ada pula sebutan lainnya, yaitu:
• minantu (suami / isteri dari anak ULUN)
• pawarangan (ayah / ibu dari minantu)
• mintuha (ayah / ibu dari suami / isteri ULUN)
• mintuha lambung (saudara mintuha dari ULUN)
• sabungkut (orang yang satu Datu dengan ULUN)
• mamarina (sebutan umum untuk saudara ayah/ibu dari ULUN)
• kamanakan (anaknya kakak / adik dari ULUN)
• sapupu sakali (anak mamarina dari ULUN)
• maruai (isteri sama isteri bersaudara)
• ipar (saudara dari isteri / suami dari ULUN)
• panjulaknya (saudara tertua dari ULUN)
• pambusunya (saudara terkecil dari ULUN)
• badangsanak (saudara kandung)

Untuk memanggil orang yang seumur boleh dipanggil ikam, boleh juga menggunakan kata aku untuk menunjuk diri sendiri. Sedangkan untuk menghormati atau memanggil yang lebih tua digunakan kata pian, dan kata ulun untuk menunjuk diri sendiri.

Sumber:
http://www.facebook.com/album.php?aid=17941&id=100000934425182
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Banjar
hymunk - 14/11/2010 03:58 PM
#127
Kamus Bahasa Banjar
Bahasa Banjar (BB) berwujud dalam 3 Komunitas besar yaitu Bahasa Banjar Kuala, Bahasa Banjar Pahuluan dan Bahasa Melayu yang terangkum dalam berbagai dialek. Tanjung, Kelua, Amuntai, Barabai, Kandangan, Banjarmasin, Baarito Kuala. Sebahagian besar perkataan dalam Bahasa Banjar adalah sama dengan Bahasa Melayu, begitu juga dengan awalan seperti di, ber, ter, men, meng, dan akhiran seperti kan, an dan sebagainya. Perbedaan yang nyata hanyalah dari segi sebutan. Bahasa Banjar menggunakan a bagi menggantikan e (pepet) seperti kalihatan(kelihatan), handak(hendak) dsb. Jika hujung ayat, bunyi a dan u menjadi a' dan u' iaitu dengan bunyi k yang lembut. Bahasa Banjar juga menggunakan awalan 'ber' , 'ter' , 'me, men, meng' yang ditukar menjadi 'ba', 'ta', 'ma' seperti 'bersedih' disebut 'basadih', 'memberi' disebut 'mambari' , sementara akhiran 'kan' kadangkala disebut 'akan' contohnya 'mendengarkan' jadi 'mandangarakan'.

Kalau kita perhatikan pembicara-pembicara BB,maka dengan mudah kita mengedintifikasi adanya variasi-variasi dalam pengucapan ataupun perbedaan-perbedaan kosa kata satu kelompok dengan kelompok suku banjar lainnya,dan perbedaan itu disebut sebagai dialek dari BB yang bisa dibedakan antara dua dialek besar yaitu : (1) dialek Bahasa Banjar Kuala(disingkat BK);(2)dialek Bahasa Banjar Hulu sungai (disingkat BH).Dialek BK umumnya dipakai oleh penduduk "asli" sekitar kota banjarmasin,Martapura,dan Pelaihari,sedangkan dialek BH adalah BB yang dipakai oleh penduduk di daerah Hulu sungai umumnya yaitu daerah-daerah kabupatn Tapin,Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Utara serta Tabalong.Pemakai BH ini jauh lebih luas dan masih menunjukan beberapa variasi subdialek lagi yang oleh Den Hamer disebut dengan istilah dialek lokal yaitu seperti Amuntai,Alabio,Kalua,Kandangan,Tanjung,,bahkan Den Hamer cenderung berpendapat bahwa bahasa yang dipakai oleh "orang bukit" yaitu penduduk pedalaman pegunungan Meratus merupakan salah satu subdialek nya bisa dipetakan secara cermat dan tepat.

Bahasa Banjar juga mengenal tingkatan bahasa (Jawa: unggah-ungguh), tetapi hanya untuk kata ganti orang.

• unda, sorang = aku ; nyawa = kamu >— (agak kasar)
• aku, diyaku = aku ; ikam, kawu = kamu >— (netral, sepadan)
• ulun = saya ; (sam)piyan / (an)dika = anda >—(halus)
untuk kata ganti orang ke-3 (dia)
• inya, iya, didia = dia >—(netral,sepadan)
• sidin = beliau >—(halus)

Bilangan
• asa (satu)
• dua (dua)
• talu (tiga)
• ampat (empat)
• lima (lima)
• anam (enam)
• pitu (tujuh)
• walu (delapan)
• sanga (sembilan)
• sapuluh (sepuluh)
• sawalas (sebelas)
• pitungwalas (tujuhbelas)
• salawi (dua lima)
• talungpuluh (tigapuluh)
• anampuluh (enampuluh)
• walungpuluh (delapanpuluh)
• saratus (seratus)
• saribu (seribu)
• sajuta (sejuta)
(Bilangan angka dalam bahasa Banjar mirip bilangan dalam bahasa Jawa Kuno)

Bahasa Banjar dan Tata Bahasa banjar :

http://wapedia.mobi/id/Bahasa_Banjar
http://tatabahasabanjar.blogspot.com/

kamus Bahasa Banjar bisa dilihat di :
http://bahasabanjar.net/kamus/download.html
http://www.tabalongkab.go.id/kbb/kamus.htm
http://www.urangbanua.com/download/Kamus Bahasa Banjar.pdf
http://www.scribd.com/doc/21577055/Kamus-Bahasa-Banjar
hymunk - 20/11/2010 06:34 AM
#128
Gamelan Banjar
Gamelan Banjar merupakan perangkat gamelan yang berkembang di kalangan Suku Banjar di Kalimantan Selatan. Perangkat gamelan ini mempunyai suara yang khas, tidak menyerupai gamelan Jawa, Sunda, maupun Bali.

Perangkat Gamelan Banjar

Dalam perkembangannya, terdapat dua versi Gamelan Banjar yaitu, versi keraton dan versi rakyatan.

Gamelan Banjar versi keraton, perangkat instrumennya :

1. babun
2. gendang dua
3. rebab
4. gambang
5. selentem
6. ketuk
7. dawu
8. sarun 1
9. sarun 2
10. sarun 3
11. seruling
12. kanung
13. kangsi
14. gong besar
15. gong kecil

Spoiler for Gamelan Banjar versi Keraton koleksi Museum Lambung Mangkurat
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Gamelan Banjar versi rakyatan, perangkat instrumennya :

1. babun
2. dawu
3. sarun
4. sarantam
5. kanung
6. kangsi
7. gong besar
8. gong kecil

Spoiler for Gamelan Banjar versi Rakyatan koleksi Museum Lambung Mangkurat


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Berdasarkan pemaparan instrumen pada kedua versi Gamelan Banjar tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa Gamelan Banjar versi keraton memiliki instrumen yang lebih banyak daripada Gamelan Banjar versi rakyatan. Ada delapan instrumen yang sama, dan pada versi keraton memiliki lima instrumen yang tidak dimiliki versi rakyatan yaitu pada instrumen gendang dua, rebab, gambang, ketuk, dan seruling.

Sejarah Gamelan Banjar

Gamelan Banjar keberadaannya sudah ada sejak zaman Kerajaan Negara Dipa pada abad ke-14 yang dibawa oleh Pangeran Suryanta ke Kalimantan Selatan bersamaan dengan kesenian Wayang Kulit Banjar dan senjata keris sebagai hadiah Kerajaan Majapahit. Pada masa itu masyarakat Kalimantan Selatan dianjurkan untuk meniru budaya Jawa. Pasca runtuhnya Kerajaan Negara Daha (1526), ada beberapa pemuka adat yang mengajarkan seni gamelan dan seni lainnya kepada masyarakat yaitu :

1. Datu Taruna sebagai penabuh gamelan
2. Datu Taya sebagai dalang wayang kulit
3. Datu Putih sebagai penari topeng

Masa Pangeran Hidayatulla, penabuh-penabuh gamelan disuruh belajar menabuh gamelan di keraton Solo. Hal tersebut yang menyebabkan adanya persamaan pada Gamelan Banjar dengan Gamelan Jawa baik dari segi instrumen maupun teknik permainannya.

Fungsi Gamelan Banjar

Dalam perkembangannya, Gamelan Banjar dapat berfungsi sebagai sebuah perangkat gamelan yang berdiri sendiri (instrumentalia seperti yang dikatakan Hastanto) dan dapat juga berfungsi sebagai perangkat gamelan untuk mengiringi jenis kesenian pertunjukan lainnya. Jenis kesenian yang diiringi dengan Gamelan Banjar diantaranya adalah seni tari, kuda gipang, topeng Banjar, dan wayang Banjar baik itu wayang kulit maupun wayang gung (wayang orang).

Pementasan seni pertunjukan yang diiringi oleh Gamelan Banjar kerap dipergunakan pada acara-acara seremonial dan sakral. Hal tersebut biasanya dapat dilihat pada jenis sesajen yang dipergunakan. Selain itu, dapat juga bersifat profan yang dipertunjukan untuk hajatan pada perkimpoian maupun sebagai sebuah tontonan hiburan.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Spoiler for link download



sumber :
http://id.wikipedia.org/
http://blog.isi-dps.ac.id/indrasadguna/?p=6
http://www.facebook.com/profile.php?id=1243315744
http://www.facebook.com/photos.php?id=1243315744
Yuzacky - 20/11/2010 10:24 AM
#129
Share Tempat Wisata di kota Baru,
[SIZE="6"]Permisi Gan Ane Sekedar Share Aja
Tentang Objek Wisata Yang ada Di Kalimantan Selatan
Tepatnya Di Kota Baru[/SIZE]

Quote:
Jangan batabig batabig ya gan
Tapi kalau berkenan :toast :toast ya gan


Quote:
[CENTER]
Spoiler for Bukti Kalo kagak Repost
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Berikut Lokasi wisata di Kota Baru Yang sayang bila agan Lewatkan Jika berkunjung ke Kalimantan Selatan

Quote:
Kota Baru
Spoiler for Lokasi Kota Baru
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


1.Pantai Sarangtiung
Quote:

Sarang tiung adalah salah satu pantai yang berada di area Kota laut yang beribukota kotabaru.
Menikmati perjalanan ke sarang tiung membuat saya teingat akan lagu tentang kota baru "kota baru gunungnya bamega"
ternyata kota ini memnag indahdan unik, jarang sekali saya menemukan 2 keajaiban alam hidup berdampingan,
pantai di sebelah kiri dan bukit disebelah kanan. Dingin dan panas yang berdampingan.

Pantai sarang tiung indah untuk dipandang mata, walaupun belum terawat karena masih di temukan sampah di pasirnya,
pasirnya tidak terlalu putih dan berkesan kelabu dengan tekstur pasir yang unik tapi airnya jangan ditanya karena airnya sanat jernih,
bebas polusi dan tanpa gelombang.

Raga ini pun tidak kuasa untuk menolak godaan laut.

Spoiler for Pantai sarang Tiung
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for Pantai sarang Tiung2
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



2.Pulau Laut
Quote:
Pulau Laut adalah sebuah pulau terbesar di Kalimantan,
terletak di pesisir timur atau tepatnya di bagian enggara pulau Kalimantan.
Untuk ukuran Indonesia pulau ini merupakan pulau kecil karena dalam peta Indonesia hampir tidak terlihat,
secara administratif memiliki 6 buah kecamatan dan 74 desa dan 4 kelurahan
yang di dalamnya terdapat Ibukota kabupaten Kotabaru tepatnya di bagian utara Pulau Laut.
Dari data tahun 2005 jumlah penduduk di Pulau Laut berjumlah 127.665 jiwa
atau separuh lebih dari total seluruh jumlah penduduk Kabupaten Kotabaru yang berjumlah 256.946 jiwa yang tersebar di 20 kecamatan.
Pulau dengan luas ± 1.873,36 km2, ini secara langsung merupakan penyangga daratan bagian pesisir timur - selatan
dengan demikian bisa di statement kan pada analisis sementara bahwa eksistensi Pulau Laut secara sederhana saja dari sisi environment adalah turut sebagai penyangga abrasi pantai teritorial daratan dari sisi pesisir wilayah sebelah tenggara pulau besar Kalimantan.
Dengan demikian keunggulan komparatif dari sisi lingkungan, Pulau Laut turut memberikan kontribusi terhadap keberadaan gigis garis pantai di wilayah Pulau Kalimantan dari sisi sebelah tenggara.

Spoiler for Pulau Laut
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for Terumbu Karang
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



3.Pantai Gedambaan
Quote:
Pantai Gedambaan menawarkan keindahan yang dapat memberikan kepuasan batin kepada para pengunjungnya.
Selain pasir pantainya berwarna putih yang berkilauan tertimpa sinar matahari,
pemandangan alamnya juga akan menghipnotis para pengunjung sehingga betah berlama-lama di pantai ini.
Dari pantai ini, para pengunjung dapat menyaksikan sunrise dan sunset dengan panorama air laut yang berkilauan.
Dengan keindahan tersebut, pantai ini menjadi pantai (Ge)dambaan siapa saja yang akan dan pernah mengunjunginya.

Pada hari Ahad dan atau pada musim libur,
ribuan pengunjung baik dari Kalimantan Selatan sendiri atau dari luar Kalimantan akan memadati lokasi wisata ini.
Pada hari-hari libur ratusan bahkan ribuan kendaraan baik angkutan umum maupun kendaraan pribadi akan memadati kawasan pantai ini.

Untuk menjaga kebersihan obyek wisata ini, tiap pekan dikerahkan karyawan pemkab setempat secara bergiliran untuk melakukan aksi bersih-bersih.
Selain itu, fasilitas penunjang seperti: tempat istirahat, akuarium besar, taman buah dan bunga, cermin seribu bayangan, sirkuit mini, ruang wahana fisika, studio rekaman mini dan camping ground akan segera diadakan.
Juga akan dibangun game stations yang akan diisi tempat bowling dan beberapa sarana olahraga lainnya.

Spoiler for Pantai Gedambaan
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for matahari tenggelam
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for Pantai Gedambaan1
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for Pantai Gedambaan2
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for Pantai Gedambaan3
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
hymunk - 22/11/2010 12:09 PM
#130
Mister Tukul : Jalan-Jalan Ke Banjarmasin

[youtube]6YU-B78jEbA&feature=related[/youtube]

[youtube]0fWdfjWoCMM&feature=related[/youtube]

[youtube]9WCv5fbzLiU&feature=related[/youtube]

[youtube]JC7fFL3etOc&feature=related[/youtube]

[youtube]mhRx7S8e8yY&feature=related[/youtube]

[youtube]bNrchMTtatA[/youtube]
wal ai - 25/11/2010 09:12 PM
#131
Makalah tentang Banua Banjar
wal ai - 25/11/2010 09:44 PM
#132
Visit South Kalimantan
[youtube]z8y4Y7YaNhg[/youtube]

[youtube]IiUQTz9ywmw[/youtube]

[youtube]DohjYgPXgeA[/youtube]

[youtube]vJ6NUDmaUpM[/youtube]
wal ai - 25/11/2010 10:03 PM
#133
Rumah Banjar
wal ai - 25/11/2010 10:13 PM
#134
Syamsiar Seman, Menjaga Budaya Banjar Lewat Buku
Spoiler for Syamsiar Seman
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan



Menjaga Budaya Banjar Lewat Buku
Selasa, 21 April 2009 | 02:25 WIB

Oleh M Syaifullah

Rumah Syamsiar Seman di Jalan Anggrek 2 Kebun Bunga, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, bisa dikatakan sederhana. Ruang tamu tempat tinggal penulis yang menggeluti budaya Banjar di Kalsel dalam 33 tahun terakhir ini bersahaja. Di ruangan ini hanya ada satu set meja lengkap dengan kursi tamu.

Hal yang membedakan rumah Syamsiar dengan rumah lain di sekitarnya adalah adanya lemari kaca berisi sekitar 50 buku. Buku-buku itu bukan koleksi perpustakaan pribadi, melainkan buah karya si empunya rumah yang menggeluti budaya Banjar.

”Setiap tahun rata-rata saya membuat satu sampai dua buku terkait budaya Banjar,” katanya.

Bagi kalangan peneliti budaya, arsitek, teknik sipil, hingga mahasiswa yang berminat mendalami arsitektur, seni ukir, dan rumah adat Banjar, nama Syamsiar-lah yang menjadi rujukan utama.

Pria kelahiran Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel, ini awalnya dikenal karena menerbitkan dua buku yang khusus membahas rumah adat dan arsitektur Banjar. Kedua buku itu adalah Rumah Adat Banjar terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1982) serta Arsitektur Tradisional Banjar Kalimantan Selatan (2001) yang dibuatnya bersama Ir H Irhamna dari Ikatan Arsitek Kalsel.

Selain memiliki kekhasan dalam seni arsitek dan seni ukir, masyarakat Banjar juga memiliki tradisi lisan yang kuat. Namun, tradisi lisan tersebut terancam punah karena sedikit sekali yang sudah dibukukan.

Tradisi lisan Banjar lebih banyak dilestarikan secara turun-temurun. ”Saya berusaha menjaga budaya Banjar dengan membuat buku dari tradisi lisan yang berkembang,” katanya.

Beberapa kalangan menyebut Syamsiar sebagai budayawan atau pemerhati budaya Banjar. Tentang hal ini dia berkata, ”Ah, itu kan mereka yang memberikan julukan.”

Akan tetapi, julukan itu terasa pantas disandang Syamsiar Seman. Sebab, hingga saat ini, penerima penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesia Jakarta (1999) dan Borneo Award (2000) itu adalah salah satu penulis lokal yang paling produktif.

Untuk cerita rakyat, misalnya, Syamsiar telah menghasilkan lebih dari 12 judul buku. Terkait dengan pantun dan peribahasa Banjar, ada tiga buku.

Selain itu, ia juga membuat tiga jilid buku Lancar Basa Banjar yang menjadi buku pegangan sekolah dasar di Kalsel. Masih ada lagi tiga buku karya Syamsiar tentang Islam dan budaya Banjar.

Dia juga menulis buku tentang beberapa tokoh semasa Kerajaan Banjar dan saat kemerdekaan, di antaranya Hassan Basry, Bapak Gerilya Kalimantan, yang diterbitkan Lembaga Studi Perjuangan dan Kepahlawanan Kalsel (1999).

Tulisan tangan

Syamsiar sudah menekuni dunia tulis-menulis sejak duduk di kelas II SMP di Barabai. Tulisan pertamanya adalah cerita rakyat, Batu Benawa di Barabai, dimuat di majalah Kunang-Kunang terbitan Balai Pustaka (1952).

”Saya tidak diberi honor untuk tulisan itu, tetapi dikirimi buku Siti Nurbaya dan majalah yang memuat tulisan saya. Itulah yang membuat saya terus menulis,” katanya.

Sebelum usia 40 tahun, Syamsiar tak mengkhususkan diri menulis buku tentang budaya Banjar. Dia justru lebih banyak menulis cerita pendek, puisi, dan pantun. Selain media lokal, beberapa tulisannya pada kurun tahun 1955–1986 juga dimuat sejumlah surat kabar dan majalah di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.

Syamsiar sedikitnya sudah menulis 78 puisi, 146 cerpen, 9 naskah drama, 6 lagu nasional dan daerah, 327 artikel, 58 makalah tentang budaya Banjar, dan sekitar 50 buku terkait arsitektur, seni, dan cerita rakyat Banjar.

”Sebagian tulisan itu saya buat dengan tulisan tangan,” katanya.

Di usia lanjut, Syamsiar masih membuat buku dengan tulisan tangan. Tulisan tangan itu dia serahkan kepada penerbit untuk diketik ulang, kemudian dibukukan. Dia tak memilih penerbit di Jawa, tetapi penerbit lokal di Banjarmasin, mengingat besarnya biaya untuk itu. Dia beruntung karena selalu ada penerbit lokal yang mau menerbitkan karyanya dengan cetakan di bawah 1.000 eksemplar.

”Saya menerbitkan buku-buku itu dengan modal sendiri. Paling banyak setiap cetak sekitar 500 eksemplar. Kalau habis, baru dicetak lagi. Alhamdulillah, dari buku-buku inilah rezeki datang,” ungkapnya.

Dulu, untuk memasarkan buku-buku itu, Syamsiar harus mendatangi satu per satu toko buku di Banjarmasin. Kini, toko buku besar seperti Gramedia di Banjarmasin secara rutin mengambil buku-buku budaya Banjar itu.

”Saya ikut senang. Ini berarti semakin banyak generasi muda di Kalsel yang mau mempelajari budaya lewat buku,” ucapnya.

Buah observasi

Buku-buku karya Syamsiar bukanlah hasil riset mendalam seperti yang dilakukan para peneliti. Buku-buku itu hasil observasi dan wawancara langsung dengan obyek yang ditulisnya.

Kepandaian menulis guru SD dan dosen di beberapa universitas di Banjarmasin ini terasah karena ia pernah menjadi wartawan. Syamsiar menjadi wartawan setelah mendapat kursus wartawan Pro Patria Yogyakarta selama 10 bulan pada 1956. Dia lalu bergabung dengan beberapa surat kabar dan majalah lokal.

Pengalamannya di dunia wartawan hingga tahun 1989 antara lain menjadi reporter Masyarakat Baru di Samarinda, koresponden Sinar Islam di Jakarta, koresponden Suara Pemuda Medan, dan menulis untuk majalah Pembina di Surabaya.

Syamsiar juga pernah menjadi wartawan Suara Kalimantan, wakil redaksi pada majalah mingguan Waja Sampai Kaputing, wakil pimpinan majalah seni dan budaya Bandarmasih, dan pemimpin redaksi pada buletin Keluarga Berencana di Banjarmasin.

”Saya sekarang sedang menyusun buku terkait makanan tradisional Banjar. Sedikitnya ada 41 macam kue khas yang ada di Banjar. Informasi itu saya dapatkan dari mendatangi beberapa warung yang menjual wadai (kue) Banjar. Sambil nongkrong di warung, saya bisa mendapatkan bahan-bahan untuk tulisan,” katanya.

Bagi sebagian orang, apa yang dilakukan Syamsiar itu tampak sederhana. Namun dia berkeyakinan, dengan observasi langsung justru dia bisa memperkaya informasi tentang budaya yang akan ditulisnya.

Data Diri

• Nama: Syamsiar Seman • Lahir: Barabai, Kalimantan Selatan, 1 April 1936 • Profesi: Penulis budaya Banjar • Pendidikan: Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), Banjarmasin • Pengalaman Kerja:- Guru sekolah rakyat sampai kepala sekolah dasar - Pegawai Kantor Gubernur Kalsel (1963-1974)- Eselon III BKKBN Kalsel (pensiun 1992)- Dosen Luar Biasa Fakultas Sospol Unlam (1977-1979), Fakultas - Dakwah IAIN Antasari (1979-1988), dan beberapa perguruan tinggi - swasta di Banjarmasin- Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Negara pada Institut Administrasi - Bina Banua (1982-1985) • Organisasi:- Sekretaris Dewan Kesenian Daerah Kalsel (1971-1977)- Ketua Badan Koordinasi Kesenian Indonesia Kalsel (1978-1980)- Anggota Pengurus Kesenian Daerah Kalsel (1994-kini)- Anggota Lembaga Budaya Banjar Kalsel (1997-kini) • Penghargaan:- Penghargaan Sastra dari Gubernur Kalsel (1977)- Penghargaan Windu Kencana Jakarta (1984)- Penghargaan Tanda Kehormatan Satyalencana Karya Satya Kelas III - dari Presiden (1989)- Penghargaan Tanda Kesetiaan Dwi Kencana Jakarta (1990)- Penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesia (1999)- Borneo Award (2000)

sumber :
http://www.facebook.com/album.php?aid=43691&id=1792884277
http://oase.kompas.com/read/2009/04/21/02253555/Menjaga.Budaya.Banjar.Lewat.Buku
wal ai - 25/11/2010 10:56 PM
#135
Batamat Al Qur'an
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Acara Batamat Al Qur'an


Batamat Al Qur'an adalah sebuah tradisi agamis yang telah lama dipertahankan oleh masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan. Suku Banjar, terkenal dengan masyarakatnya yang sangat agamis, sehingga seluruh sendi kehidupan mereka selalu berlandaskan keagamaan. Batamat Al Qura'an merupakan salah satu tradisi agamis yang dilaksanakan ketika seseorang telah mengkhatamkan membaca Al Qur’an.

Setiap daerah di Kalimantan Selatan memiliki cara-cara tersendiri dalam melaksanakan tradisi batamat Al Qur’an. Terdapat perbedaan pada waktu pelaksanaan, perangkat yang digunakan dan tata cara pelaksanaan. Sebagian masyarakat melaksanakan batamat Al Qur’an pada saat acara pernikahan atau perkimpoian. Biasanya mempelai (pengantin) yang melakukan batamat Al Qur’an. Tapi ada juga masyarakat yang melakukan pada bulan-bulan tertentu misalnyaBulan Mulud (Rabiul Awal), Namun semuanya merujuk pada kegiatan utama yaitu membaca Al Qur’an pada bagian akhir (Juz Amma).
Di Desa Simpang Mahar, Kecamatan Batu Benawa, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, tradisi batamat Al Qur’an biasanya dilaksanakan pada saat merayakan Hari Raya Iedul Fitri atau Iedul Adha. Lazimnya dilaksanakan pada hari raya tiga hari atau empat hari (hari ketiga atau keempat lebaran) dengan tempat di Masjid Al Amin, Simpang Mahar. Batamat Al Qur’an dapat diikuti oleh siapa pun baik anak-anak maupun sudah dewasa. Tapi pada umumnya yang mengikuti adalah anak-anak yang telah mekhatamkan membaca Al Qur’an yang mereka lakukan setiap malam.
Pada saat lebaran kemaren, telah dilakukan acara Batamat Al Qur’an di Simpang Mahar pada saat hari raya tiga hari (hari ketiga lebaran). Sebanyak 15 anak mengikuti kegiatan ini, rata-rata berumur 10 – 12 tahun. Persiapan yang dilakukan adalah kostum dan perangkat yang mengikuti sang “pengkhatam”. Kostum bagi anak laki-laki adalah baju gamis (jubah khas timur tengah) lengkap dengan sorban dan patah kangkung yang dipakai di kepala. Sedangkan bagi anak perempuan memakai baju sejenis jubah berenda dan bulang yang dipakai di kepala. Kostum ini adalah pakaian yang biasa dipakai jemaah haji ketika mereka pulang ke kampung halaman.
Selain kostum, juga disiapkan payung yang dibuat dari pelepah rumbia atau bambu. Payung diberi hiasan kertas warna-warni dan adakalanya tiang payung adalah bambu yang berisi telur rebus yang telah matang. Selain itu juga disiapkan balai (miniatur masjid) yang dibuat dari pelepah rumbia, yang diberi hiasan dengan kertas warna-warni. Di dalam balai ditempatkan ketan putih dan ketan merah, telur, dan makan-makanan kecil yang digantung. Untuk menambah semarak balai, maka juga ditancapkan beberapa bendera dari kertas dan uang. Balai disangga dengan dua potong pelepah rumbia agar dapat di usung ketika prosesi arak-arakan.
Prosesi dimulai saat anak keluar dari rumah untuk menuju masjid. Ketika di muka pintu, sang anak akan disambut dengan shalawat yang diiringi dengan lemparan baras kuning(beras kuning) bercampur uang koin ke halaman rumah. Anak-anak lain yang sudah menunggu di halaman rumah, akan memperebutkan uang koin yang dilemparkan tersebut. Selanjutnya sang anak akan diarak sambil dipayungi beserta rombongan lain menuju masjid. Di bagian depan arak-arakan, sang “pengkhatam” berjalan sambil dipayungi diiringi oleh balai yang diusung di belakangnya masing-masing.

Kemeriahan akan terasa lagi ketika rombongan arak-arakan ini tiba di masjid. Mereka akan disambut dengan shalawat dan hamburan baras kuning. Acara batamat Al Qur’an dilaksanakan di dalam masjid, sedangkan balai yang dibawa dari rumah di tempatkan di halaman masjid.
Hal yang unik dan ditunggu-tunggu para kerabat dan masyarakat yang berhadir pada acara tersebut adalah saat-saat memperebutkan semua makanan dan uang yang ditempatkan di dalam balai. Saking berharapnya, setiap anak (tak terkecuali yang dewasa) sudah mengelilingi balai ketika diturunkan di halaman masjid. Setiap orang siap-siap menjulurkan tangannya ke arah makanan dan bendera uang yang siap terlepas dari balai. Jika salah seorang sudah memulai mencabut bendera uang dengan tiba-tiba, maka serentak anak-anak dan orang tua berebut tanpa dapat dicegah lagi. Mereka akan memperebutkan semua makanan, ketan, telur, makanan ringan, bendera kertas, yang menjadi target utama biasanya adalah bendera uang dalam bentuk seribuan. Kadang-kadang saking ramainya, beberapa balai akan hancur akibat terhimpit, bahkan bisa-bisa sampai tertindih.
Perebutan makanan dan bendera balai, biasanya terjadi pada saat pembacaan Surah Al Fiil. Entah apa hubungannya dengan bunyi ayat yang dibaca, namun pada bacaan “Alam tarakaii fafa ‘ala ...”, maka sontak mereka yang telah siap dengan tangan menjulur akan menarik dan mengambil semua makanan dan bendera yang ada pada balai. Kalau dalam bahasa Banjar, “tarakai” artinya adalah rusak atau hancur, maka apakah ini terkait dengan rusaknya atau hancurnya balai akibat saling berebut.
Pembacaan Al Qur’an diteruskan secara bergantian oleh “pengkhatam”, sampai pada Surah AN Naas, kemudian dilanjutkan lagi dengan membaca Surah Al Fatihah di bagian depan Al Qur’an. Hal ini dimaksudkan agar membaca Al Qur’an terus-menerus dilakukan walaupun telah mengkhatamkan Al Qur’an. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa khatam Al Qur’an, dan selanjutnya masyarakat yang hadir dipersilakan untuk mendatangi rumah yang memiliki hajat untuk menyantap hidangan yang disediakan, tentunya hidangan khas Banjar, seperti soto Banjar, nasi sop, masak habang, ataupun masakan lainnya. Tidak ketinggalan ketan putih dan ketan merah.
Inilah sekilas tradisi Batamat Al Qur’an yang setiap tahun selalu diadakan masyarakat Simpang Mahar di Hulu Sungai Tengah.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Anak-anak diarak menuju Masjid Al Amin

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Balai yang mengiringi arak-arakan.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Balai yang sudah rakai

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Acara Batamat Al Qur'an

sumber : http://bumibanjar.blogspot.com
hymunk - 27/11/2010 10:35 PM
#136
Link Lagu2 Banjar...
hymunk - 04/12/2010 07:45 AM
#137
Naga Banjar
Menurut budaya Kalimantan, alam semesta merupakan perwujudan "Dwitunggal Semesta" yaitu alam atas yang dikuasai oleh Mahatala atau Pohotara, yang disimbolkan enggang (burung), sedangkan alam bawah dikuasai oleh Jata atau Juata yang disimbolkan sebagai naga (reptil). Alam atas bersifat panas (maskulin) sedangkan alam bawah bersifat dingin (feminim). Manusia hidup diantara keduanya.

Dalam budaya Banjar, alam bawah merupakan milik Puteri Junjung Buih sedangkan alam atas milik Pangeran Suryanata. Setelah berkembangnya agama Islam, maka oleh suku Banjar alam atas dianggap dikuasai oleh Nabi Daud, sedangkan alam bawah dikuasai oleh Nabi Khidir Dalam arsitektur rumah Banjar, makhluk naga dan burung enggang diwujudkan dalam bentuk ukiran, tetapi sebagai budaya yang tumbuh di bawah pengaruh agama Islam yang tidak memperkenankan membuat ukiran makhluk bernyawa, maka bentuk-bentuk makhluk bernyawa tersebut disamarkan atau didistilir dalam bentuk ukiran tumbuhan.

Kepala Naga Padudusan, digunakan sebagai sampung perahu mengambil air untuk mandi badudus di ulak banyu (pusaran air)

Spoiler for Kepala Naga Badudus
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Naga Badudung adalah suatu bentuk naga yang dibuat dari kayu dengan leher tegak, kepala datar, mulut menganga, mata melotot dan lidah menjulur.

Patung serupa sampai saat ini masih banyak disimpan oleh beberapa kelompok masyarakat di Hulu Sungai, dan dirawat secara berkala atau pada waktu tertentu 'diberi' kembang.

Naga tersebut diletakkan di samping pelaminan pengantin, dipasang pada haluan perahu yang membawa pengantin, dibuatkan badan dalam upacara bananagaan (di Banua Halat, Tapin, dalam upacara Baayun Mulud), dipercaya di Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Selatan bahwa air siraman naga tersebut dapat menyembuhkan penyakit.

Dalam upacara perkimpoian, naga dianggap sebagai penolak bala, yang bisa menawarkan gangguan alam (angin ribut dan hujan lebat) dan simbol pengharapan agar mempelai tidak mendapat halangan dalam bahtera rumah tangga.

Spoiler for Naga di sisi pelaminan pengantin
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Sampung Kepala Naga Gambir Sawit adalah merupakan 'kepala' dari haluan perahu yang berbentuk patung kepala naga. Kepala haluan perahu dalam bahasa Banjar disebut sampung. Sampung Kepala Naga Gambir Sawit dipasang pada haluan perahu yang khusus dipergunakan membawa pembesar atau menteri Kerajaan Banjar. Bahan dari kayu dengan hiasan berupa pilin, daun, sulur, bunga, naga kecil dan tali pengikat 'kepala'.

Spoiler for Kepala Naga Gambir Sawit
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Spoiler for Naga Gambir Sawit

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Cerita Naga dalam Folklor Banjar
LEGENDA BALAHINDANG (PELANGI) DAN SUNGAI TAPIN (PERTEMPURAN SI RINTIK DAN SI RIBUT)

sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Sampung_Kepala_Naga_Gambir_Sawit
http://id.wikipedia.org/wiki/Naga_Badudung
sumber : http://www.facebook.com/album.php?aid=2436&id=100001232178317
hymunk - 05/12/2010 08:17 AM
#138
Wayang Kulit Banjar
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Indonesia memang sangat kaya akan keragaman seni dan budaya. Masing-masing daerahnya, memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri.

Seni dan budaya yang sangat beragam tersebut, merupakan salah satu aset yang sangat berharga. Selain mencerminkan sebuah peradaban, juga mencerminkan karakter sebuah bangsa.

Seperti halnya di daerah Jawa, ternyata Kalsel juga memiliki seni pertunjukkan wayang kulit yang dikenal dengan nama wayang kulit Banjar.

Wayang kulit Banjar ini berkembang di Banjarmasin, tepatnya pada masa kepemimpinan Sultan Suriansyah. Saat itu, Sultan meminta bantuan dari kerajaan Demak ketika hendak berperang, dengan perjanjian apabila menang dalam perang, maka akan menganut Islam bersama dengan rakyatnya.

Kemudian Sultan berhasil menang dalam perang tersebut. Sesuai janjinya, maka Sultan dan juga rakyatnya menganut Islam. Dan akhirnya, raja Demak saat itu memberikan hadiah berupa satu set perlengkapan wayang.

Termasuk peralatan musik gamelan yang digunakan untuk mengiringi pertunjukkan wayang tersebut, sebagai media untuk menyebarkan Islam di Kalsel.

Semenjak saat itulah, kesenian wayang kulit Banjar mulai berkembang dalam masyarakat Banjar untuk menyiarkan ajaran Islam di berbagai penjuru Kalsel.

Peralatan yang digunakan dalam pertunjukkan wayang kulit Banjar ini tak jauh berbeda dengan wayang kulit di Jawa. Antara lain menggunakan wayang dan lampu minyak, yang disebut balencong.

Musik penggiring yang digunakan untuk pertunjukkan wayang kulit Banjar adalah musik gamelan Banjar atau dikenal dengan istilah karawitan.

Dan jenis nadanya adalah selendro. Selanjutnya, tokoh dalam wayang kulit Banjar, kadang-kadang ada yang sama dengan nama tokoh wayang Jawa.

Umumnya juga wayang kulit Banjar pergelarannya dilakukan semalam suntuk hingga menjelang salat subuh. Namun bisa juga ditampilkan hanya sekitar sekitar 60 hingga 75 menit pada acara tertentu.

Misalnya acara-acara seremonial yang dihadiri oleh pejabatpejabat penting sehingga pertunjukkannya dipersingkat. Meski memiliki banyak kesamaan, namun ada juga beberapa perbedaan antara wayang kulit dari daerah Jawa dengan wayang kulit Banjar.

Perbedaannya, antara lain ada pada bahasa dan juga ukuran wayangnya. Pada wayang kulit Banjar selalu menggunakan bahasa Banjar dan juga ukuran wayangnya relatif lebih kecil.

Selain itu, dari sekian banyak wayang yang digunakan, ada salah satu wayang yang ada dalam wayang kulit Banjar, namun tidak ada dalam wayang kulit Jawa. Wayang tersebut dinamakan wayang aduan. Biasanya digunakan untuk tokoh-tokoh anak raja yang sedang melakukan sayembara.


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Media Sampaikan Pesan

Seorang tokoh seniman Kalsel, AW Sarbaini mengatakan, pertunjukkan wayang kulit Banjar bisa ditampilkan pada beberapa acara seperti, perkimpoian, sunatan, dan juga sebuah hajatan.

Dia menambahkan, untuk pertunjukkan pada acara perkimpoian bisa dilakukan malam sebelum pernikahan, atau yang disebut walam wawayun. Dan bisa juga dilakukan malan hari usai melakukan resepsi pernikahan, atau yang disebut malam panganten.

"Wayang kulit Banjar biasanya ditampilkan pada acara pernikahan, sunatan, dan juga hajatan," ujar pendiri Sanggar Seni Tradisional Ading Bastari di Barikin ini.

Menurutnya, untuk acara pernikahan, pertunjukkannya bisa dilakukan pada walam wawayun, untuk menghibur tukang kawah (tukang masak nasi), dan tukang pendiri tenda. "Atau pada malam pangantennya," tambahnya.

Sesuai perkembangan zaman, cerita yang dipentaskan dalam wayang kulit Banjar saat ini dibagi menjadi dua. Ada yang ceritanya, sesuai dengan aslinya atau pakemnya. Misalnya cerita mahabrata dan lain sebagainya dan juga cerita yang dibuat sendiri oleh dalangnya.

Ada cerita yang dipentaskan sesuai dengan pakem aslinya, seperti mahabrata. Namun ada juga yang lebih dinamis ceritanya, dan dibuat sendiri oleh dalangnya, untuk menyesuaikan dengan lingkungan.

"Kadang-kadang ada saja warga yang ingin dibawakan sebuah cerita yang berkaitan dengan isu-isu terhangat, yang sedang terjadi di sekitarnya," ujar Sarbaini.

Wayang kulit Banjar, juga dapat dijadikan sebagai sebuah media untuk menyampaikan pesan-pesan, yang berkaitan dengan kehidupan, pergaulan, dan juga lingkungan bagi para penontonnya. Dalam pertunjukkannya, juga ada mengandung unsur pendidikan.

"Pertunjukkan wayang kulit Banjar, merupakan media untuk menyampaikan pesan-pesan moral. Misalnya, bagaimana cara yang muda ketika berhadapan dengan yang lebih tua, dan sebaliknya," ujar pria yang pertama kali mengembangkan musik panting di Kalsel ini.

sumber :
http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/2010/12/5/65949/inilah-kelebihan-wayang-kulit-banjar
http://www.museumwayang.com/Wayang%20Kulit%20Banjar.html
hymunk - 14/12/2010 11:21 PM
#139
Mamanda (Theater Tradisional Banjar)
Spoiler for mamanda
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Jika di pulau Jawa ada kesenian Ludruk, Lenong dan Ketoprak, di bumi Kalimantan ada pula kesenian serupa yang selama ratusan tahun turut memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia. Seni pementasan ini terkenal dengan sebutan Mamanda.Dibanding dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip dengan lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup.

Spoiler for mamanda
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Bedanya, Kesenian lenong kini lebih mengikuti zaman ketimbang Mamanda yang monoton pada alur cerita kerajaan. Sebab pada kesenian Mamanda tokoh-tokoh yang dimainkan adalah tokoh baku seperti Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Wazir, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam (Badut/ajudan), Permaisuri dan Sandut (Putri).

Spoiler for mamanda
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Tokoh-tokoh ini wajib ada dalam setiap Pementasan. Agar tidak ketinggalan, tokoh-tokoh Mamanda sering pula ditambah dengan tokoh-tokoh lain seperti Raja dari Negeri Seberang, Perompak, Jin, Kompeni dan tokoh-tokoh tambahan lain guna memperkaya cerita.

Disinyalir istilah Mamanda digunakan karena didalam lakonnya, para pemain seperti Wazir, Menteri, dan Mangkubumi dipanggil dengan sebutan pamanda atau mamanda oleh Sang Raja. Mamanda secara etimologis terdiri dari kata “mama” (mamarina) yang berarti paman dalam bahasa banjar dan “nda” yang berarti terhormat. Jadi mamanda berarti paman yang terhormat. Yaitu “sapaan” kepada paman yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan.

Spoiler for mamanda
Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Seni drama tradisional Mamanda ini sangat populer di kalangan masyarakat kalimantan pada umumnya. Bahkan, beberapa waktu silam seni lakon Mamanda rutin menghiasi layar kaca sebelum hadirnya saluran televisi swasta yang turut menyaingi acara televisi lokal. Tak heran kesenian ini sudah mulai jarang dipentaskan.

Dialog Mamanda lebih kepada improvisasi pemainnya. Sehingga spontanitas yang terjadi lebih segar tanpa ada naskah yang mengikat. Namun, alur cerita Mamanda masih tetap dikedepankan. Disini Mamanda dapat dimainkan dengan naskah yang utuh atau inti ceritanya saja.

Asal muasal Mamanda adalah kesenian Badamuluk yang dibawa rombongan Abdoel Moeloek dari Malaka tahun 1897. Dulunya di Kalimantan Selatan bernama Komedi Indra Bangsawan. Persinggungan kesenian lokal di Banjar dengan Komedi Indra Bangsawan melahirkan bentuk kesenian baru yang disebut sebagai Ba Abdoel Moeloek atau lebih tenar dengan Badamuluk. Kesenian ini hingga saat ini lebih dikenal dengan sebutan mamanda.

Bermula dari kedatangan rombongan bangsawan Malaka (1897 M) yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa di Tanah Banjar, kesenian ini dipopulerkan dan disambut hangat oleh masyarakat Banjar. Setelah beradaptasi, teater ini melahirkan sebuah teater baru bernama “ Mamanda “.

Spoiler for mamanda

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


Mamanda mempunyai dua aliran. Pertama : Aliran Batang Banyu. Yang hidup di pesisir sungai daerah Hulu Sungai yaitu di Margasari, disebut juga Mamanda Periuk. Kedua : Aliran Tubau bermula tahun 1937 M. Aliran ini hidup di daerah Tubau Rantau. Sering dipentaskan di daerah daratan. Aliran ini disebut juga Mamanda Batubau. Berkembang di Tanah Banjar.

Pertunjukkan Mamanda memilikii nilai budaya yang sangat tinggi, disamping sebagai media hiburan. Selain itu, Mamanda juga berfungsi sebagai media pendidikan bagi masyarakat. Cerita yang disajikan dapat berupa kisah-kisah terdahulu, keteladanan, kritik sosial, nilai-nilai budaya dan sebagainya.(Ufik/Dari Berbagai Sumber)

sumber :
http://www.vivaborneo.com/mamanda-seni-pementasan-pulau-kalimantan.htm
http://www.bamegaku.com/2010/11/mamanda-di-tengah-arus-zaman.html
http://teatermamanda.blogspot.com/2008/10/sekilas-mengenal-teater-tradisional.html
hymunk - 14/12/2010 11:54 PM
#140
Badudus Raja Muda Kesultanan Banjar
Penobatan sang raja digelar dalam acara budaya di Mahligai Sultan Adam, Martapura, Minggu (12/12). Rangkaian prosesi sudah dilakukan sejak Rabu (8/12). Jumat (10/12), Khairul dan 14 tokoh Banjar yang bakal dianugerahi gelar pangeran menjalani ritual badudus (mandi-mandi) di halaman Mahligai Sultan Adam.

Ritual Badudus Pangeran Khairul Saleh dimulai dengan doa selamat yang dipimpin oleh KH. Anang Jazaouly Seman. Selepas doa, hadirin yang mengikuti prosesi awal pada Ritual Badudus ini dipersilakan menyantap penganan khas Banjar, antara lain wajik dan bubur merah-putih.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Diiringi musik gamelan, Khairul yang mengenakan pakaian serbakuning serta mahkota beruntai melati berjalan pelan diapit ulama kharismatik KH M Djazouly Seman (Abah Anang) dan sang istri, Hj Raudhatul Jannah. Putri Khairul, Gusti Rima berjalan di depan sembari menaburkan beras kuning menuju balai-balai tempat pelaksanaan badudus.

Tempat Badudus merupakan tempat upacara yang berbentuk segi empat dengan diapit oleh empat tiang (sudut) yang dihiasi pohon tebu beratap kain berwarna kuning. Di tempat ini telah disediakan perlengkapan Badudus yang disebut piduduk dan sasangan. Perlengkapan yang termasuk ke dalam piduduk dan sasangan, yaitu: beras putih bersih (melambangkan citra rizki yang halal), lading (pisau) yang tajam dan berhulu padat (melambangkan citra yang wibawa, kharismatik, dan berpegang pada keyakinan yang teguh), nyiur dan gula habang (melambangkan lemak manis, bahasa, dan tata laku persaudaraan), telur ayam kampung (melambangkan harapan kekuatan generasi), serta jarum dan benang (melambangkan kesediaan untuk menelusuri masa depan). Prosesi Ritual Badudus terdiri dari prosesi melulur, keramas, kemudian dikubui atau diguyur air bunga, diguyur air doa, diguyur air mayang mengurai, ditepuk mayang bungkus (disiramkan ke atas kepala), dan terakhir dibilas air bersih.


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Empat belas calon pangeran yang juga mengenakan pakaian serbakuning mengiringi di belakang. Mereka antara lain Pemimpun Umum BPost, HG Rusdi Effendi, HG Chairinsyah, HG Abidinsyah, KHG Wardiansyah, HG Merdekansyah, Gt Ibrahim, Gt Mas'adi, HG Darma Kusuma, Gt Ainul Yakin dari Pangkalanbun dan Gt Firdauzi Noor (cucu Ir PM Noor).

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Prosesi badudus pun dimulai. Khairul yang telah duduk di balai-balai dilepas mahkotanya oleh Abah Anang. Kemudian, ibunda Khairul, Hj Kartinah mengguyurkan air dari guci ke tubuh putranya itu. Air itu berasal dari tujuh sumber mata air yang memiliki keterkaitan sejarah dalam perjalanan kesultanan Banjar.


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Selain itu, di dalamnya juga terdapat bermacam bunga seperti mawar, melati, cempaka, mayang dan beberapa daun seperti daun penolak bala, daun linjuang dan daun jaruju. Di empat sudut balai-balai berdiri manisan kuning, tibarau, batang bambu kuning dan payung di atasnya. Semua itu, memiliki makna tersendiri.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Badudus dilanjutkan Abah Anang lalu tetuha masyarakat yakni Suriansyah Idham (Ketua Lembaga Adat Banjar), Gt Perbatasari, Gt Antasari, Gt Nurdin, Gt Majid, Gt Thamrin, Gt Ermas dan Gt Nasrun.


Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Prosesi dilanjutkan mengalirkan air kelapa gading ke atas geger mayang (bunga pohon pinang) yang telah dipukul kemudian dikucurkan ke tubuh Khairul Saleh. Proses ini, dilakukan oleh Hj Kartinah. Setelah itu badudus dilakukan terhadap 14 bangsawan. Prosesi itu mengukuhkan gelar pangeran bagi mereka.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Kemudian, Khairul dan 14 pangeran mengikuti prosesi bercermin diri dan tapung tawar di salah satu ruang. Di ruang itu terdapat 41 macam makanan tradiasional

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan

Prosesi bercermin ini ditandai adanya cermin dan lilin wanyi. Khairul memegang cermin kecil serta lilin menyala di depannya. Selanjutnya, cermin ini diputar sebanyak tujuh kali mengitari tubuhnya. Setelah itu, cermin dan lilin ini pun dipegang secara bergantian oleh para pangeran dan diputar sebanyak tujuh kali pula. Acara diakhiri tapung tawar.

Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan


"Makna prosesi itu adalah selalu melakukan intropeksi diri menggunakan penerang. Menggunakan cermin sebagai simbol melihat pa yang telah dilakukan. Sedangkan makna tujuh kali adalah tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi serta tujuh kali mengelilingi Kabah atau Baitulah," katanya.

Hal senada dikatakan Khairul. Dia mengatakan prosesi itu hanya acara budaya untuk menumbuhkan kearifan lokal, bukan untuk kepentingan politik. Kalaupun tidak lagi menjadi kepala daerah, dia akan menjadi raja muda yang posisinya seperti ketua lembaga adat atau organisasi lain.

Selain sebagai pembersihan jiwa sebelum penerimaan gelar, ritual Badudus juga bisa dilakukan untuk peralihan status gadis yang menikah (pengantin). dan Badudus tian mandaring (hamil pertama). Ritual Badudus bertujuan untuk membentengi diri dari berbagai masalah kejiwaan, yaitu gangguan yang datang dari luar dan dari dalam diri manusia jelas tokoh budaya Banjar, H. Adjim Arijadi. Adat budaya ini disebut juga sebagai mandi-mandi atau bapapai yang didasari atas kebersihan lahir dan batin

sumber foto :
http://www.facebook.com/album.php?aid=31947&id=100000909974255
http://www.facebook.com/album.php?aid=51232&id=100000173821868

sumber :
http://www.wisatamelayu.com/id/news.php?a=ZURIUFQvVw%3D%3D=
http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/2010/12/11/66680/sang-ibu-mandikan-khairul
Page 7 of 15 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan