Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > ##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2
Total Views: 200386 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 296 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

IneMBohay - 30/06/2010 09:50 AM
#41

Quote:
Original Posted By pria3istri
soal biaya sandangan relatif mbak, tergantung bahan dan kualitas deder/ukir dan mendaknya.
utk mewarangi... kalo di jkt 50 an ya, kalo di solokarta sekitar 25 an.

omong2 brp lama tdk terawat itu ? sayang sekali pesinya sampe uda ada yg patah, untung cuma pesinya bukan wilahnya.

kalo saya pribadi utk nyuci dilakukan sendiri biar pusakanya seneng di "elus2" hahahaha..., kalo mewarangi baru diserahkan ke org lain soalnya anak msh kecil2 jadi takut kalo warangan2 nya di utik2 bisa berabe


sejak eyang kakung meninggal 12tahun yg lalu g ada yg merawatnya \(.....
n baru aja sy ambil dari eyang putri \).....
kmren khodamnya sempat ngamuk" dikamar eyang putri g mau ikut kejkt \)..
alhamdulillah skrg udh g ganggu eyang putri lgi....kmren cuma sempat sy kasi minyak khusus buat keris \).......
sawo kecik - 30/06/2010 10:16 AM
#42

Quote:
Original Posted By deoloit
wew Jangkung .... dapaur kesukaan saya kanjeng ....
Tempa nya sae , menu special pake Kuning telur ...
Matur suhun Kanjeng sampun berbagi PIc , saged kagem reff kawula ...


saya juga suka Ki Deo, trims Ki MH...
deoloit - 30/06/2010 10:19 AM
#43

Quote:
Original Posted By IneMBohay
sejak eyang kakung meninggal 12tahun yg lalu g ada yg merawatnya \(.....
n baru aja sy ambil dari eyang putri \).....
kmren khodamnya sempat ngamuk" dikamar eyang putri g mau ikut kejkt \)..
alhamdulillah skrg udh g ganggu eyang putri lgi....kmren cuma sempat sy kasi minyak khusus buat keris \).......


kalau menurut saya nih yahh ...
selama niat kita baik dan bersih untuk merawat itu keris daripada dibiarkan terbengkalai di kampung, sang 'khodam ' pasti akan seneng juga ...
kakek dan nenek pasti akan rela lila legawa kalau penerusnya mau merawatnya .
Jangan Khawatir sang Khodam akan ngamuk , justru kita yang masih jangkep ( Raga dan sukma ) yang harus mereka takuti bukan mereka menakuti kita ,
Dan kembalikan semua kekuatan atas yang maha Kuasa Yaitu TUhan .
Intinya selama Nita kita baik dan bersih Untuk merawat jangan khawatir Khodam akan marah atau mengamuk , mereka justru akan seneng kok ada yang mau merawat dan membersihkan serta menjaga agar tiddak makin korosi.

salam
sambernyowo77 - 30/06/2010 10:27 AM
#44

oooooooo...bahasa gaulnya ditayuh??? enjih2..matur sembanuwun mas pria perkasa(3 istri perkasa bngt.. D bercanda)nah itu mas,nembungnya pusaka di makam kakek yang sudah lm meninggal.nah begitu nembung, dikasih spintas bayangan kerisnya.langsung ja cerita ma bapak saya langsung dkasi kerisnya.tapi bapak saya ga tau cara ngrumatnya dan yang tahu cuma embahmu(kakek).nah makanya saya bingung mau tanya sapa hehehehehe...
untuk puasa mutih dan dibacain skaligus ditaruh dibawah bantal sudah pernah om.hammer:hammernohope:cd:cd.mungkin sayanya ga peka ya omor belum waktunya tahu.
mundarang - 30/06/2010 12:07 PM
#45

[QUOTE=mmhidayat;237623948]Salam sejahtera rekan2 semua....
Bagus jika sudah banyak lembaran yang ditorehkan pada thread ini. Sangat menarik untuk disimak dan semoga banyak manfaatnya.

Mengawali lembaran baru saya posting keris dengan wrangka Jogjakarta Pakualaman. Wrangka ini berbeda dengan wrangka gayaman Jogja pada umumnya karena ada paduan antara Jogja - Solo (perhatikan lengkung bagian belakang wrangka yang seperti Gayaman Solo). Wrangka orisinil buatan lama dengan pendok & mendak jene (emas) juga buatan lama.

Salaam,
MH.

terima kasih mas sharing gambarnya....saya pernah ketemu warangka serupa, dan sampai kemaren saya masih bingung itu gaya mana. sekarang sudah jelas . makasih.
sukotjo1805 - 30/06/2010 04:03 PM
#46

Quote:
Original Posted By mmhidayat
Salam sejahtera rekan2 semua....
Bagus jika sudah banyak lembaran yang ditorehkan pada thread ini. Sangat menarik untuk disimak dan semoga banyak manfaatnya.

Mengawali lembaran baru saya posting keris dengan wrangka Jogjakarta Pakualaman. Wrangka ini berbeda dengan wrangka gayaman Jogja pada umumnya karena ada paduan antara Jogja - Solo (perhatikan lengkung bagian belakang wrangka yang seperti Gayaman Solo). Wrangka orisinil buatan lama dengan pendok & mendak jene (emas) juga buatan lama.

Salaam,
MH.

##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2


Kajeng MH ....... salim rumiyin shakehand2

Menawi mboten lepat menika salah satunggal pusaka saking dalem Puro Pakualam, ...

Nyuwun Duka menawi lepat .... linux2:
IneMBohay - 30/06/2010 04:37 PM
#47

Quote:
Original Posted By mmhidayat
Salam sejahtera rekan2 semua....
Bagus jika sudah banyak lembaran yang ditorehkan pada thread ini. Sangat menarik untuk disimak dan semoga banyak manfaatnya.

Mengawali lembaran baru saya posting keris dengan wrangka Jogjakarta Pakualaman. Wrangka ini berbeda dengan wrangka gayaman Jogja pada umumnya karena ada paduan antara Jogja - Solo (perhatikan lengkung bagian belakang wrangka yang seperti Gayaman Solo). Wrangka orisinil buatan lama dengan pendok & mendak jene (emas) juga buatan lama.

Salaam,
MH.

##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2


mirip salah satu yg saya punya....sygnya tidak terawat n udh mulai ga karuan warangkanya \(

##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2
Joe Timothy - 30/06/2010 08:09 PM
#48

Permisi Para Sesepuh.... ini saya mau share aja, kalau ada yang salah mohon diralat aja maklum Newbie. semoga berkenan....
Pedang Sunduk
Tangguh Mataram
Pamor ngulit Semangka
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2
Keris
Tangguh Mataram
Pamor Kelengan
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2
Keris
Tangguh Majapahit
Pamor Nunggak Semi dan Pulo Tirto
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2
s.piningit - 30/06/2010 09:40 PM
#49
Nderek Tanglet
Quote:
Original Posted By timun suri
Sist,

Ditempat mas to biaya service rangka rata2 50 rbu ( tergantung rusaknya).
Mewarangi 50 rbu
buat deder baru 75-100 rbu, biasanya sudah dikasih mendak ( tergantung Bahan )
No kontak mas to sudah saya kirim via messege

salam
TS


KI TS
Kalau boleh saya minta juga nomor kontaknya, orang yg bisa mewarangi keris/tosan aji
soalnya saya ada beberapa keris yang berkarat
maklum ngak bisa mewaranggi
dan saya juga tingal di jakarta

matur sembah nuwun sak derengipun
roistiawan - 30/06/2010 10:45 PM
#50

Quote:
Original Posted By mmhidayat
Salam sejahtera rekan2 semua....
Bagus jika sudah banyak lembaran yang ditorehkan pada thread ini. Sangat menarik untuk disimak dan semoga banyak manfaatnya.

Mengawali lembaran baru saya posting keris dengan wrangka Jogjakarta Pakualaman. Wrangka ini berbeda dengan wrangka gayaman Jogja pada umumnya karena ada paduan antara Jogja - Solo (perhatikan lengkung bagian belakang wrangka yang seperti Gayaman Solo). Wrangka orisinil buatan lama dengan pendok & mendak jene (emas) juga buatan lama.

Salaam,
MH.

Spoiler for 1
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2

Spoiler for 2
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2

Spoiler for 3
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2


wah tubbbb,,makasih buat ilmunya kanjeng MH
roistiawan - 30/06/2010 10:50 PM
#51

Quote:
Original Posted By IneMBohay
mirip salah satu yg saya punya....sygnya tidak terawat n udh mulai ga karuan warangkanya \(

Spoiler for 1
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2


iya mirip ki,,sama2 kerisnya,,tapi kalu lihat dapurnya kok sepertinya beda jauh ya
roistiawan - 30/06/2010 10:53 PM
#52

Quote:
Original Posted By deoloit
kalau menurut saya nih yahh ...
selama niat kita baik dan bersih untuk merawat itu keris daripada dibiarkan terbengkalai di kampung, sang 'khodam ' pasti akan seneng juga ...
kakek dan nenek pasti akan rela lila legawa kalau penerusnya mau merawatnya .
Jangan Khawatir sang Khodam akan ngamuk , justru kita yang masih jangkep ( Raga dan sukma ) yang harus mereka takuti bukan mereka menakuti kita ,
Dan kembalikan semua kekuatan atas yang maha Kuasa Yaitu TUhan .
Intinya selama Nita kita baik dan bersih Untuk merawat jangan khawatir Khodam akan marah atau mengamuk , mereka justru akan seneng kok ada yang mau merawat dan membersihkan serta menjaga agar tiddak makin korosi.

salam


wah setuju banget ma ki deo kalo yang ini,,kita manusia seharusnya tidak takut karena semua daya hanya milik Tuhan,,tp bukan berarti juga kita sebagai manusia lalu sombong dan jumawa karena merasa sebagai makhluk paling mulia,,
roistiawan - 30/06/2010 10:59 PM
#53

Quote:
Original Posted By Joe Timothy
Permisi Para Sesepuh.... ini saya mau share aja, kalau ada yang salah mohon diralat aja maklum Newbie. semoga berkenan....
Pedang Sunduk
Tangguh Mataram
Pamor ngulit Semangka

Keris
Tangguh Mataram
Pamor Kelengan
Spoiler for 1
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2



wah kelengannya ki,,,genit:genit:
deoloit - 01/07/2010 09:48 AM
#54

Tangguh Majapahit
Pamor Nunggak Semi dan Pulo Tirto
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2
##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2[/QUOTE]


menurut saya yang masih NUbie saya agak ragu maja Tus atau bukan ...
dengan Kembang kacang yang masih kokok dan agak jatuh
ditambah ricikan pendukung ( greneng Yang masih wutuh )
Serta Trap Pamor di sor soran ... kemungkinan tidak sesepuh Maja , Mohon maaf bila salah
crdsa9 - 01/07/2010 09:58 AM
#55
GGggrggrgrgrggrgrr....
Punyaku kok gak ada yang ngomentari toooooooooo.....????
what's wrong with meee...????

di klik ajahhhh....

##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2

ilovekaskus
deoloit - 01/07/2010 10:18 AM
#56

Rangkuman yang lumayan bagus dari Tread lalu.... yang mudah dimengerti bagi Nubie seperti saya ....

Dalam budaya perkerisan ada sejumlah istilah yang terdengar asing bagi orang awam.. Pemahaman akan istilah-istilah ini akan sangat berguna dalam proses mendalami pengetahuan mengenai keris. Istilah dalam dunia keris, khususnya di Pulau Jawa, yang sering dipakai: angsar, dapur, pamor, perabot, tangguh, tanjeg, dan lain sebagainya.
Di bawah ini adalah uraian singkat yang disusun secara alfabetik mengenai istilah perkerisan. Istilah ini lazim digunakan di Pulau Jawa dan Madura, tetapi dimengerti dan kadang kala juga digunakan di daerah lainnya, seperti Sulawesi, Sumatra, dan bahkan di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Keris Bima, Nusa Tenggara Barat. Keris ini diduga milik keluarga bangsawan tinggi, sarung dan hulunya berlapis emas.

Angsar
adalah daya kesaktian yang dipercaya oleh sebagian orang terdapat pada sebilah keris. Daya kesaktian atau daya gaib itu tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan oleh orang yang percaya. Angsar dapat berpengaruh baik atau posistif, bisa pula sebaliknya.
Pada dasarnya, semua keris ber-angsar baik. Tetapi kadang-kadang, angsar yang baik itu belum tentu cocok bagi setiap orang. Misalnya, keris yang angsar-nya baik untuk seorang prajurit, hampir pasti tidak cocok bila dimiliki oleh seorang pedagang. Keris yang angsar-nya baik untuk seorang pemimpin yang punya banyak anak buah, tidak sesuai bagi pegawai berpangkat rendah.
Guna mengetahui angsar keris, diperlukan ilmu tanjeg. Sedangkan untuk mengetahui cocok dan tidaknya seseorang dengan angsar sebuah keris, diperlukan ilmu tayuh.

Dapur
Adalah istilah yang digunakan untuk menyebut nama bentuk atau type bilah keris. Dengan menyebut nama dapur keris, orang yang telah paham akan langsung tahu, bentuk keris yang seperti apa yang dimaksud. Misalnya, seseorang mengatakan: "Keris itu ber-dapur Tilam Upih", maka yang mendengar langsung tahu, bahwa keris yang dimaksud adalah keris lurus, bukan keris yang memakai luk. Lain lagi kalau disebut dapur-nya Sabuk Inten, maka itu pasti keris yang ber-luk sebelas.
Dunia perkerisan di masyarakat suku bangsa Jawa mengenal lebih dari 145 macam dapur keris. Namun dari jumlah itu, yang dianggap sebagai dapur keris yang baku atau mengikuti pakem hanya sekitar 120 macam saja. Serat Centini, salah satu sumber tertulis, yang dapat dianggap sebagai pedoman dapur keris yang pakem memuat rincian jumlah dapur keris sbb:
Keris lurus ada 40 macam dapur. Keris luk tiga ada 11 macam. Keris luk lima ada 12 macam. Keris luk tujuh ada 8 macam. Keris luk sembilan ada 13 macam. Keris luk sebelas ada 10 macam. Keris luk tigabelas ada 11 macam. Keris luk limabelas ada 3 macam. Keris luk tujuhbelas ada 2 macam. Keris luk sembilan belas, sampai luk duapuluh sembilan masing-masing ada semacam.
Namun, menurut manuskrip Sejarah Empu, karya Pangeran Wijil, jumlah dapur yang dianggap pakem lebih banyak lagi. Catatan itu menunjukkan dapur keris lurus ada 44 macam, yang luk tiga ada 13 macam, luk sebelas ada 10 macam, luk tigabelas ada11 macam, luk limabelas ada 6 macam, luk tujuhbelas ada 2 macam, luk sembilanbelas sampai luk duapuluh sembilan ada dua macam, dan luk tigapuluh lima ada semacam.
Jumlah dapur yang dikenal sampai dengan dekade tahun 1990-an, lebih banyak lagi.

Luk
Istilah ini digunakan untuk bilah keris yang tidak lurus, tetapi berkelok atau berlekuk. Luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Hitungannya mulai dari luk tiga, sampai luk tigabelas. Itu keris yang normal. Jika luknya lebih dari 13, dianggap sebagai keris yang tidak normal, dan disebut keris kalawijan atau palawijan.
Jumlah luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Selain itu, irama luk keris dibagi menjadi tiga golongan. Pertama, luk yang kemba atau samar. Kedua, luk yang sedeng atau sedang. Dan ketiga, luk yang rengkol -- yakni yang irama luknya tegas.

Luk keris. Angka-angka menunjukkan bilangan jumlah luknya.

Mas kimpoi
Dalam dunia perkerisan adalah pembayaran sejumlah uang atau barang lain, sebagai syarat transaksi atau pemindahan hak milik atas sebilah keris, pedang, atau tombak. Dengan kata yang sederhana, mas kimpoi atau mahar adalah harga.
Istilah mas kimpoi atau mahar ini timbul karena dalam masyarakat perkerisan terdapat kepercayaan bahwa isi sebilah keris harus cocok atau jodoh dengan pemiliknya. Jika isi keris itu jodoh, si pemilik akan mendapat keberuntungan, sedangkan kalau tidak maka kesialan yang akan diperoleh. Dunia perkerisan juga mengenal istilah melamar, bilamana seseorang berminat hendak membeli sebuah keris.
Mendak
adalah sebutan bagi cincin keris, yang berlaku di Pulau Jawa, Bali, dan Madura. Di daerah lain biasanya digunakan istilah cincin keris. Mendak hampir selalu dibuat dari bahan logam: emas, perak, kuningan, atau tembaga. Banyak di antaranya yang dipermewah dengan intan atau berlian. Pada zaman dulu ada juga mendak yang dibuat dari besi berpamor.
Selain sebagai hiasan kemewahan, mendak juga berfungsi sebagai pembatas antara bagian hulu keris atau ukiran dengan bagian warangka.

Pamor
Pamor dalam dunia perkerisan memiliki 3 (tiga) macam pengertian. Yang pertama menyangkut bahan pembuatannya; misalnya: pamor meteorit, pamor Luwu, pamor nikel, dan pamor sanak. Pengertian yang kedua menyangkut soal bentuk gambaran atau pola bentuknya. Misalnya: pamor Ngulit Semangka, Beras Wutah, Ri Wader, Adeg, dan sebagainya. Ketiga, menyangkut soal teknik pembuatannya, misalnya: pamor mlumah, pamor miring, dan pamor puntiran.
Dua macam pamor yang tergolong jenis pamor miring.
Selain itu, ditinjau dari niat sang empu, pola pamor yang terjadi masih dibagi lagi menjadi dua golongan. Kalau sang empu membuat pamor keris tanpa merekayasa polanya, maka pola pamor yang terjadi disebut pamor tiban. Orang akan menganggap bentuk pola pamor itu terjadi karena anugerah Tuhan. Sebaliknya, jika sang empu lebih dulu membuat rekayasa pla pamornya, disebut pamor rekan [rékan berasal dari kata réka = rekayasa]. Contoh pamor tiban, misalnya: Beras wutah, Ngulit Semangka, Pulo Tirta. Contoh pamor rekan, misalnya: Udan Mas, Ron Genduru, Blarak Sinered, dan Untu Walang.
Keris dapur Sepang. Pamornya Wos Wutah yang tergolong jenis pamor mlumah.
Ada lagi yang disebut pamor titipan atau pamor ceblokan, yakni pamor yang disusulkan pembuatannya, setelah bilah keris selesai 90 persen. Pola pamor itu disusulkan pada akhir proses pembuatan keris. Contohnya, pamor Kul Buntet, Batu Lapak, dll.
Pamor Kul Buntet yang tergolong pamor titipanPamor Batu Lapak

Pendok
berfungsi sebagai pelindung atau pelapis gandar, yaitu bagian warangka keris yang terbuat dari kayu lunak. Namun fungsi pelindung itu kemudian beralih menjadi sarana penampil kemewahan. Pendok yang sederhana biasanya terbuat dari kuningan atau tembaga, tetapi yang mewah terbuat dari perak atau emas bertatah intan berlian.
Bentuk pendok ada beberapa macam, yakni pendok bunton, blewehan, slorok, dan topengan.

Perabot
Dalam dunia perkerisan, asesoris bilah keris disebut perabot keris. Perlengkapan atau asesoris itu meliputi warangka atau sarung keris, ukiran atau hulu keris, mendak atau cincin keris, selut atau pedongkok, dan pendok atau logam pelapis warangka.

Ricikan
Adalah bagian-bagian atau komponen bilah keris atau tombak. Masing-masing ricikan keris ada namanya. Dalam dunia perkerisan soal ricikan ini penting, karena sangat erat kaitannya dengan soal dapur dan tangguh keris.Sebilah keris ber-dapur Jalak Sangu Tumpeng tanda-tandanya adalah berbilah lurus, memakai gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil. Gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil, adalah komponen keris yang disebut ricikan..

Selut
seperti mendak, terbuat dari emas atau perak, bertatahkan permata. Tetapi fungsi selut terbatas hanya sebagai hiasan yang menampilkan kemewahan. Dilihat dari bentuk dan ukurannya, selut terbagi menjadi dua jenis, yaitu selut njeruk pecel yang ukurannya kecil, dan selut njeruk keprok yang lebih besar.
Sebagai catatan; pada tahun 2001, selut nyeruk keprok yang bermata berlian harganya dapat mencapai lebih dari Rp. 20 juta!Karena dianggap terlalu menampilkan kemewahan, tidak setiap orang mau mengenakan keris dengan hiasan selut.Selut gaya Surakarta, jenis njeruk keprok

Tangguh
Tangguh arti harfiahnya adalah perkiraan atau taksiran. Dalam dunia perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris, perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya. Karena hanya merupakan perkiraan, me-nangguh keris bisa saja salah atau keliru. Kalau sebilah keris disebut tangguh Blambangan, padahal sebenarnya tangguh Majapahit, orang akan memaklumi kekeliruan tersebut, karena bentuk keris dari kedua tangguh itu memang mirip. Tetapi jika sebuah keris buatan baru di-tangguh keris Jenggala, maka jelas ia bukan seorang ahli tangguh yang baik.
Walaupun sebuah perkiraan, tidak sembarang orang bisa menentukan tangguh keris. Untuk itu ia perlu belajar dari seorang ahli tangguh, dan mengamati secara cermat ribuan bilah keris. Ia juga harus memiliki photographic memory yang kuat.
deoloit - 01/07/2010 10:19 AM
#57

Quote:
Original Posted By crdsa9
Punyaku kok gak ada yang ngomentari toooooooooo.....????
what's wrong with meee...????

di klik ajahhhh....

##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2

ilovekaskus



Menurut saya yang masih belum ngerti banget masalah keris ,
Saya lebih menduga keris km , keris Baru ( walaupun mungkin ga baru banget , bs aja bikinan era tahun 70-80 an)
MOhon maaf bila salah
deoloit - 01/07/2010 10:21 AM
#58

Lanjutan rangkuman :
Tanjeg
adalah perkiraan manfaat atau tuah keris, tombak, atau tosan aji lainnya. Sebagian pecinta keris percaya bahwa keris memiliki 'isi' yang disebut angsar. Kegunaan atau manfaat angsar keris ini banyak macamnya. Ada yang menambah rasa percaya diri, ada yang membuat lebih luwes dalam pergaulan, ada yang membuat nasihatnya di dengar orang. Untuk mengetahui segala manfaat angsar itu, diperlukan ilmu tanjeg. Dalam dunia perkerisan, ilmu tanjeg termasuk esoteri keris.

Tayuh
Merupakan perkiraan tentang cocok atau tidaknya, angsar sebilah keris dengan (calon) pemiliknya. Sebelum memutuskan, apakah keris itu akan dibeli (dibayar mas kawinnya), si peminat biasanya terlebih dulu akan me- tayuh atas keris itu. Tujuannya untuk mengetahui, apakah keris itu cocok atau berjodoh dengan dirinya.

Ukiran
Kata ukiran dalam dunia perkerisan adalah gagang atau hilt. Berbeda artinya dari kata 'ukiran' dalam bahasa Indonesia yang padanannya ialah carved atau engraved. Gagang keris di Bali disebut danganan, di Madura disebut landheyan, di Surakarta disebut jejeran, di Yogyakarta disebut deder. Sedangkan daerah lain di Indonesia dan Malaysia, Singapura, serta Brunei Darussalam disebut hulu keris.

Ukiran gaya Surakarta wanda Maraseba
Javakeris memakai istilah ukiran dan hulu keris mengingat semua daerah itu juga mengenal dan memahamiarti kata ukiran dalam perkerisan. Bentuk ukiran atau hulu keris di setiap daerah berbeda satu sama lain.
Warangka
Atau sarung keris kebanyakan terbuat dari kayu yang berserat dan bertekstur indah. Namun di beberapa daerah ada juga warangka keris yang dibuat dari gading, tanduk kerbau, dan bahkan dari fosil binatang purba. Warangka keris selalu dibuat indah dan sering kali juga mewah. Itulah sebabnya, warangka juga dapat digunakan untuk memperlihatkan status sosial ekonomi pemiliknya.
Bentuk warangka keris berbeda antara satu daerah dengan lainnya. Bahkan pada satu daerah seringkali terdapat beberapa macam bentuk warangka. Perbedaan bentuk warangka ini membuat orang mudah membedakan, sekaligus mengenali keris-keris yang berasal dari Bali, Palembang, Riau, Madura, Jawa, Bugis, Bima, atau Malaysia.

Berikut adalah jenis-jenis warangka dari berbagai daerah perkerisan:

Warangka Surakarta
Biasanya terbuat dari kayu cendana wangi atau cendana Sumbawa (sandalwood - Santalum Album L.) Pilihan kedua adalah kayu trembalo, setelah itu kayu timaha pelet.
Warangka ladrang terbagi menjadi empat wanda utama, yaitu Ladrang Kasatriyan, Ladrang Kadipaten, Ladrang Capu, dan Ladrang Kacir. Dua wanda yang terakhir sudah jarang dibuat, sehingga kini menjadi langka.
Warangka ladrang adalah jenis warangka yang dikenakan untuk menghadiri suatu upacara, pesta, dan si pemakai tidak sedang melaksanakan suatu tugas. Bila dibandingkan pada pakaian militer, warangka ladrang tergolong Pakaian Dinas Upacara (PDU).

Ladrang Kadipaten

Selain ladrang, di Surakarta juga ada warangka gayaman, yang dikenakan pada saat orang sedang melakukan suatu tugas. Misalnya, sedang menjadi panitia pernikahan, sedang menabuh gamelan, atau sedang mendalang. Prajurit keraton yang sedang bertugas selalu mengenakan keris dengan warangka gayaman.
Warangka gayaman Surakarta juga ada beberapa jenis, di antaranya: Gayaman Gandon, Gayaman Pelokan, Gayaman Ladrang, Gayaman Bancigan, Gayaman Wayang.
Jenis warangka yang ketiga adalah warangka Sandang Walikat. Bentuknya sederhana dan tidak gampang rusak. Warangka jenis inilah yang digunakan manakala seseorang membawa (bukan mengenakan) sebilah keris dalam perjalanan.
Warangka Sandang Walikat
Warangka Yogyakarta
Warangka branggah Yogyakarta terbuat dari kayu kemuningBentuk warangka di Yogyakarta mirip dengan Surakarta, hanya ukurannya agak lebih kecil, gayanya lebih singset. Yang bentuknya serupa dengan warangka ladrang, di Yogyakarta disebut branggah. Kayu pembuat warangka branggah di Yogyakarta adalah kayu trembalo dan timaha. Sebenarnya penggunaan warangka branggah di Yogyakarta sama dengan warangka ladrang di Surakarta, tetapi beberapa dekade ini norma itu sudah tidak terlalu ketat di masyarakat.
Jenis bentuk warangka Yogyakarta lainnya adalah gayaman. Dulu ada lebih kurang delapan jenis warangka gayaman, tetapi kini hanya dua jenis wanda warangka yang populer, yakni gayaman ngabehan dan gayaman banaran. Warangka gayaman dikenakan pada saat seseorang tidak sedang mengikuti suatu upacara.
Jenis bentuk warangka yang ketiga adalah sandang walikat, yang boleh dibilang sama bentuknya dengan sandang walikat gaya Surakarta.
deoloit - 01/07/2010 10:26 AM
#59

MAKNA DESIGN KERIS
PULANG GENI merupakan salah satu dapur keris yang populer dan banyak dikenal karena memiliki padan nama dengan pusaka Arjuna. Pulang Geni bermakna Ratus atau Dupa atau juga Kemenyan. Bahwa manusia hidup harus berusaha memiliki nama harum dengan berperilaku yang baik, suka tolong menolong dan mengisi hidupnya dengan hal-hal atau aktifitas yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Dengan berkelakuan yang baik dan selalu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak, tentu namanya akan selalu dikenang walaupun orang tersebut sudah meninggal. Oleh karena itu, Keris dapur Pulang Geni umumnya banyak dimiliki oleh para pahlawan atau pejuang.
KIDANG SOKA memiliki makna Kijang yang berduka. Bahwa hidup manusia akan selalu ada Duka, tetapi manusia diingatkan agar tidak terlalu larut dalam duka yang dialaminya. Kehidupan masih terus berjalan dan harus terus dilalui dengan semangat hidup yang tinggi. Keris ini memang memiliki ciri garap sebagaimana keris tangguh Majapahit. Tetapi melihat pada penerapan pamor serta besinya, tidak masuk dikategorikan sebagai keris yang dibuat pada jaman Majapahit. Oleh karena itu, dalam pengistilahan perkerisan dikatakan sebagai keris Putran atau Yasan yang diperkirakan dibuat pada jaman Mataram. Kembang Kacang Pogog semacam ini umumnya disebut Ngirung Buto.
SABUK INTEN, merupakan salah satu dapur keris yang melambangkan kemakmuran dan atau kemewahan. Dari aspek filosofi, dapur Sabuk Inten melambangkan kemegahan dan kemewahan yang dimiliki oleh para pemilik modal, pengusaha atau pedagang pada jaman dahulu. Keris Sabuk Inten ini menjadi terkenal, selain karena legendanya, juga karena adanya cerita silat yang sangat populer berjudul Naga Sasra Sabuk Inten karangan Sabuk Inten karangan S.H. Mintardja pada tahun 1970-an.
NAGA SASRA adalah salah satu nama Dapur Keris Luk 13 dengan Gandik berbentuk kepala Naga yang badannya menjulur mengikuti sampai ke hampir pucuk bilah. Salah satu Dapur Keris yang paling terkenal walaupun jarang sekali dijumpai adanya keris Naga Sasra Tangguh tua. Umumnya keris dapur Naga Sasra dihiasi dengan kinatah emas sehingga penampilannya terkesan indah dan lebih berwibawa. Keris ini memiliki gaya seperti umumnya keris Mataram Senopaten yang bentuk bilahnya ramping seperti keris Majapahit, tetapi besi dan penerapan pamor serta gaya pada wadidhangnya menunjukkan ciri Mataram Senopaten. Sepertinya berasal dari era Majapahit akhir atau bisa juga awal era Mataram Senopaten (akhir abad ke 15 sampai awal abad ke 16). Keris ini dulunya memiliki kinatah Kamarogan yang karena perjalanan waktu, akhirnya kinatah emas tersebut hilang terkelupas. Tetapi secara keseluruhan, terutama bilah masih bisa dikatakan utuh. Keris Dapur Naga Sasra berarti Ular yang jumlahnya seribu (beribu-ribu) dan juga dikenal sebagai keris dapur Sisik Sewu. Dalam budaya Jawa, Naga diibaratkan sebagai Penjaga. Oleh karena itu banyak kita temui pada pintu sebuah Candi ataupun hiasan lainnya yang dibuat pada jaman dahulu. Selain Penjaga, Naga juga diibaratkan memiliki wibawa yang tinggi. Oleh karena itu, Keris dengan dapur Naga Sasra memiliki nilai yang lebih tinggi daripada keris lainnya.
SENGKELAT, adalah salah satu keris dari jaman Mataram Sultan Agung (sekitar awal abad ke 17). Dapur Keris ini adalah Sengkelat. Pamor keris sangat rapat, padat dan halus. Ukuran lebar bilah lebih lebar dari keris Majapahit, tetapi lebih ramping daripada keris Mataram era Sultan Agung pada umumnya. Panjang bilah 38 Cm, yang berarti lebih panjang dari Keris Sengkelat Tangguh Mataram Sultan Agung umumnya. Bentuk Luk nya lebih rengkol dan dalam dari pada keris era Sultan Agung pada umumnya. Gonjo yang digunakan adalah Gonjo Wulung (tanpa pamor) dengan bentuk Sirah Cecak runcing dan panjang dengan buntut urang yang nguceng mati. Kembang Kacang Nggelung Wayang. Jalennya pendek dengan Lambe Gajah yang lebih panjang dari Jalen. Sogokan tidak terlalu dalam dengan Janur yang tipis tetapi tegas sampai ke pangkal bilah. Wrangka keris ini menggunakan gaya Surakarta yang terbuat dari Kayu Cendana.
RAGA PASUNG, atau Rangga Pasung memiliki makna sesuatu yang dijadikan sebagai Upeti. Dalam hidup di dunia, sesungguhnya hidup dan diri manusia ini telah diupetikan kepada Tuhan YME. Dalam arti bahwa hidup manusia ini sesungguhnya telah diperuntukkan untuk beribadah, menyembah kepada Tuhan YME. Dan karena itu kita manusia harus ingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini sesungguhnya semu dan kesemuanya adalah milik Tuhan YME.
BETHOK BROJOL, adalah keris dari tangguh Tua juga. Keris semacam ini umumnya ditemui pada tangguh Tua seperti Kediri/Singosari atau Majapahit. Dikatakan Bethok Brojol karena bentuknya yang pendek dan sederhana tanpa ricikan kecuali Pijetan sepeti keris dapur Brojol.
PUTHUT KEMBAR, oleh banyak kalangan awam disebut sebagai Keris Umphyang. Padahal sesungguhnya Umphyang adalah nama seorang mPu, bukan nama dapur keris. Juga ada keris dapur Puthut Kembar yang pada bilahnya terdapat rajah dalam aksara Jawa kuno yang tertulis “Umpyang Jimbe”. Ini juga merupakan keris buatan baru, mengingat tidak ada sama sekali dalam sejarah perkerisan dimana sang mPu menuliskan namanya pada bilah keris sebagai Label atau “trade mark” dirinya. Ini merupakan kekeliruan yang bisa merusak pemahaman terhadap budaya perkerisan. Puthut, dalam terminologi Jawa bermakna Cantrik, atau orang yang membantu atau menjadi murid dari seorang Pandhita / mPu pada jaman dahulu. Bentuk Puthut ini konon berasal dari legenda tentang cantrik atau santri yang diminta untuk menjaga sebilah pusaka oleh sang Pandhita. Juga diminta untuk terus berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Bentuk orang menggunakan Gelungan di atas kepala, menunjukkan adat menyanggul rambut pada jaman dahulu. Bentuk wajah, walau samar tetapi masih terlihat jelas guratannya. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa dapur Puthut mulanya dibuat oleh mPu Umpyang yang hidup pada era Pajang awal. Tetapi inipun masih belum bisa dibuktikan secara ilmiah karena tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah.
Pajang, dalam buku Negara Kertagama yang ditulis pada jaman Majapahit, disebutkan adanya Pajang pada jaman tersebut. Oleh karena itu, sangat sulit untuk mengidentifikasi, apakah keris dengan besi Majapahit tetapi juga ada ciri keris Pajang bisa dikatakan tangguh Pajang – Majapahit, yang berarti keris buatan Pajang pada era Majapahit akhir (?).
Keris Lurus SUMELANG, dalam bahasa Jawa bermakna kekhawatiran atau kecemasan terhadap sesuatu. Sedangkan Gandring memiliki arti setia atau kesetiaan yang juga bermakna pengabdian. Dengan demikian, Sumelang Gandring memiliki makna sebagai bentuk dari sebuah kecemasan atas ketidaksetiaan akibat adanya perubahan. Ricikan keris ini antara lain : gandik polos, sogokan satu di bagian depan dan umumnya dangkal dan sempit, serta sraweyan dan tingil. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa keris dapur Sumelang Gandring termasuk keris dapur yang langka atau jarang ditemui walau banyak dikenal di masyarakat perkerisan. (Ensiklopedia Keris : 445-446). Konon salah satu pusaka kerajaan Majapahit ada yang bernama Kanjeng Kyai
Sumelang Gandring. Pusaka ini hilang dari Gedhong Pusaka Keraton. Lalu Raja menugaskan mPu Supo Mandangi untuk mencari kembali pusaka yang hilang tersebut. Dari sinilah berawal tutur mengenai nama mPu Pitrang yang tidak lain juga adalah mPu Supo Mandrangi. (baca : Ensiklopedia Keris : 343-345).

TILAM UPIH, dalam terminologi Jawa bermakna tikar yang terbuat dari anyaman daun untuk tidur. Diistilahkan untuk menunjukkan ketenteraman keluarga atau rumah tangga. Oleh karena itu banyak sekali pusaka keluarga yang diberikan secara turun-temurun dalam dapur tilam Upih. Ini menunjukkan adanya harapan dari para sesepuh keluarga agar anak-cucunya nanti bisa memperoleh ketenteraman dan kesejahteraan dalam hidup berumah tangga.
Sedangkan Pamor ini dinamakan UDAN MAS TIBAN. Ini karena terlihat dari penerapan pamor yang seperti tidak direncanakan sebelumnya oleh si mPu. Berbeda dengan kebanyakan Udan Mas Rekan yang bulatannya sangat rapi dan teratur, Udan Mas Tiban ini bulatannya kurang begitu teratur tetapi masih tersusun dalam pola 2-1-2. Pada tahun 1930-an, yang dimaksud dengan pamor Udan Mas adalah Pamor Udan Mas Tiban yang pembuatannya tidak direncanakan oleh sang mPu (bukan pamor rekan). Ini dikarenakan pamor Udan Mas yang rekan dicurigai sebagai pamor buatan (rekan). Tetapi toh juga banyak keris pamor udan mas rekan yang juga merupakan pembawaan dari jaman dahulu.
Oleh banyak kalangan, keris dengan Pamor Udan Mas dianggap memiliki tuah untuk memudahkan pemiliknya mendapatkan rejeki. Dengan rejeki yang cukup,diharapkan seseorang bisa membina rumah tangga dan keluarga lebih baik dan sejahtera.Lar GangSir konon merupakan kepanjangan dari GeLAR AgeMan SIRo yang memiliki makna bahwa Gelar atau jabatan dan pangkat di dunia ini hanyalah sebuah ageman atau pakaian. Suatu saat tentu akan ditanggalkan. Karena itu jika kita memiliki jabatan/pangkat atau kekayaan, maka janganlah kita SOMBONG dan TAKABUR (Jawa = Ojo Dumeh).
Jangan mentang-mentang memiliki kekuasaan, pangkat dan jabatan atau kekayaan, maka kita bisa seenaknya sendiri sesuai keinginan kita tanpa memikirkan kepentingan orang lain.

MOhon maaf Ilmu copy Paste , Tapi Tidak ada salahnya ditularkan dengan sedulur lainya
deoloit - 01/07/2010 10:31 AM
#60

MERAWAT KERIS: Usaha Konservasi Budaya dan Peninggalan Sejarah

Disarikan dari berbagai sumber oleh: R. Pramoedya Wardhana Soendoro, ST

Keris membutuhkan perawatan yang baik dan teratur agar kelestarian dan keindahannya tetap terjaga

Teknologi pembuatan keris adalah suatu teknologi pengolahan material peninggalan sejarah yang sangat tinggi nilainya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana para empu jaman dahulu menemukan cara pembuatan senjata dengan memanfaatkan sifat-sifat paduan logam yang berbeda. Menempanya berlapis sehingga menjadi satu kesatuan dalam bentuk senjata yang memiliki keunggulan sifat-sifat fisika sekaligus keindahan wujud yang memukau.

Tidak juga pernah diketahui asal muasal penggunaan batu meteorit / batu pamor sebagai salah satu bahan pembuat keris. Yang jelas meteorit, yang banyak mengandung Titanium, Nikel, bahkan Uranium, tidak hanya berfungsi sebagai peningkat estetika saja, tetapi juga meningkatkan kualitas material keris.

Saat ini, keris telah diakui oleh UNESCO sebagai Adikarya Peninggalan Sejarah. Bangsa Melayu, dari Patani-Thailand sampai ke Sulawesi-Indonesia, sebagai pewaris adikarya kebudayaan tersebut, seharusnya berbangga atas pengakuan dunia internasional terhadap karya nenek moyangnya tersebut. Namun kebanggaan tersebut tentunya harus disertai usaha-usaha konservasi atas budaya dan bukti-bukti sejarahnya.

Usaha konservasi atas budaya & bukti-bukti sejarahnya antara lain dapat dilakukan dengan mempelajari serta mengaplikasikan pengetahuan yang benar dan logis dalam merawat keris. Tidak hanya melaksanakan kebiasaan turun temurun yang kadang terkait dengan mitos-mitos dan ritus-ritus yang tidak logis dan malah dapat merusak fisik keris itu sendiri.

Memandikan dan mewarangi keris tidak dimaksudkan untuk menyembah atau mengagungkannya namun lebih kepada perawatan atas fisik benda bernilai sejarah tersebut dan melestarikan budaya atau cara tradisional dalam proses perawatan itu sendiri.

Adapun budaya yang bersifat tahayul dan syirik seperti mempercayai kekuatan supranatural yang terdapat pada sebuah benda kuno yang kemudian dianggap dan dijadikan pusaka, memberikan persembahan sesaji atau caos dahar kepada benda tersebut dengan harapan benda tersebut akan memberikan pertolongan kepada pemiliknya, seyogianya ditinggalkan.

Karena tidak sewajarnya kita manusia, makhluk berakal ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling tinggi derajatnya, meminta pertolongan kepada suatu benda ciptaan manusia. Tidak ada yang patut disembah dan dimintai pertolongan selain Tuhan Yang Maha Pencipta. Sesungguhnyalah benda2 tersebut yang “membutuhkan pertolongan” kita. Karena tanpa perawatan kita benda2 bersejarah tersebut akan musnah dimakan waktu.

Jadi suatu benda kuno menjadi pusaka bukan karena kekuatan supranaturalnya. Namun karena benda tersebut adalah peninggalan nenek moyang yang menjadi bukti sejarah, pencapaian dan kejayaan budaya bangsa kita di masa lalu. Sehingga menjadi suatu kebanggaan bangsa di masa kini.

Bukti tersebut patut dan wajib dilestarikan agar kita tidak kehilangan akar sejarah dan budaya sebagai suatu bangsa. Itulah yang dimaksudkan sebagai makna pusaka dalam konteks intelektual.

Dalam budaya Jawa dikenal beberapa cara atau rangkaian upacara dalam rangka mencuci dan mewarangi pusaka. Ada yang sederhana, ada pula yang penuh dengan rangkaian ritus yang diperlengkap dengan puluhan macam sesajen seperti yang dilaksanakan oleh pihak kraton Solo dan Jogja setiap bulan Suro (Muharram).

Yang akan diuraikan di bawah ini adalah cara mencuci dan mewarangi keris secara tradisional. Namun hanya menekankan pada hal-hal yang bersifat krusial dan fungsional saja. Tidak yang bersifat simbolik atau bernuansa supranatural.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut,

1. Lepaskan keris dari warangka dan ukirannya

Untuk melepaskan pesi dari ukiran, putar ukiran ke arah yang lebih ringan putarannya sambil ditarik / dicabut.

2. Rendam keris dengan air kelapa hijau semalaman lalu bilas dengan air sampai bersih

Saat merendam keris pastikan seluruh bagiannya terendam air kelapa. Air Kelapa Hijau bersifat asam lemah dan bermanfaat untuk melepaskan kotoran, kerak, dan mempermudah lepasnya karat yang terbentuk dipermukaan keris. Karena sifat asamnya yang lemah diperlukan perendaman semalaman agar betul2 meresap dan dapat melepaskan kotoran terutama yang terdapat di pori2 logam. Sifat itu pula yang membuatnya relatif aman untuk keris.

3. Gosok permukaan keris dengan irisan jeruk nipis sampai bersih / putih mengkilap

Menggosoknya jangan terlalu keras / kasar. Dapat pula digosok menggunakan sikat gigi yang halus dengan arah gosokan searah bila ada kerak / karat yang membandel. Boleh juga ditambah air perasan buah pace / mengkudu yang sudah matang. Lalu bilas dengan air bersih yang mengalir.

Jeruk Nipis sifat asamnya agak kuat, persentuhan dengan logam keris dalam jangka waktu yang lama dapat merusak logam keris. Digunakan untuk membersihkan keris dari karat, buah jeruk nipis diiris 4-6 bagian dan digosok2 pada permukaan keris. Hasilnya kotoran dan karat akan terlepas dan permukaan keris akan kelihatan putih mengilap. Proses ini disebut Mutihke’.

Air Perasan Buah Pace fungsinya hampir sama seperti air perasan jeruk nipis, namun karena airnya lebih banyak membuat pengerjaan lebih mudah. Teksturnya yang lunak membuatnya mudah hancur bila digosok2kan ke permukaan logam sehingga fungsi jeruk nipis tak tergantikan sepenuhnya.

4. Cuci keris sampai bersih dengan buah lerak / sabun lerak

Saat mencuci, gosok keris perlahan dan searah dengan sikat gigi yang halus. Bila ada kotoran di celah2nya, congkel dengan tusuk gigi. Bilas dengan air bersih sampai kotoran2 (ampas jeruk dan pace) hilang. Bila kotoran2 yang bersifat asam itu sampai tertinggal maka dapat merusak keris karena bersifat korosif.

Buah Lerak berfungsi sebagai sabun alami yang lembut dan tidak merusak besi, tidak seperti detergen yang bersifat keras. Saat ini banyak dijual sabun lerak cair siap pakai sebagai sabun pencuci batik tulis namun bila ingin menggunakannya, pilih yang tidak diberi campuran zat kimia tambahan.

5. Keringkan sampai betul2 kering dengan menekan2 bilah keris dengan kain bersih

Boleh diusap lembut dengan kain bersih yang menyerap air. Dalam proses mengeringkan, keris jangan sampai terkena tangan telanjang lagi. Karena minyak / lemak yang ada ditangan dapat menempel di bilah keris yang sudah bersih dan menimbulkan karat.

6. Olesi keris dengan cairan warangan menggunakan kuas secara tipis dan merata (prosesnya disebut Marangi)

Warangan adalah hasil tambang yang berbentuk kristal dan secara alamiah mengandung arsenikum dalam kadar relatif rendah. Warangan terbaik yang dikenal berasal dari Tiongkok. Pada masa dahulu kala banyak digunakan untuk racun tikus.

Arsenikum murni dikenal sebagai zat beracun yang dapat mematikan. Namun beberapa obat2an tertentu ada yang mengandung arsenikum dengan persentase yang rendah. Dengan demikian tidak hanya sebagai racun, arsenikum juga memiliki manfaat sebagai obat dalam kadar dan pada persenyawaan dengan zat, tertentu.

Fungsi cairan warangan adalah untuk menciptakan reaksi kimia antara besi dan larutan warangan pada permukaan bilah. Reaksi tersebut menghasilkan senyawa oksida besi - arsenik berupa lapisan tipis yang berfungsi sebagai anti karat pada permukaan bilah keris.

Selain sebagai anti karat, lapisan tersebut juga menimbulkan warna kontras yang indah pada permukaan bilah. Hal ini disebabkan reaksi kimia hanya terjadi pada bagian bilah yang mengandung besi. Gelap terangnya permukaan suatu logam akibat reaksi tersebut tergantung dari tingginya kandungan besi dalam logam tersebut. Seperti diketahui keris, tombak, dan pedang yang berkualitas baik biasanya dibuat dari minimum 3 jenis lempengan besi-baja ditambah 1 lempengan nikel atau meteorit (berkadar besi sangat rendah atau bahkan tidak mengandung besi) yang ditempa berlapis lipat berulang kali menjadi satu kesatuan (nglereh). Akibatnya lipatan2 besi yang berbeda komposisi kimianya memunculkan kontras yang berbeda setelah pewarangan. Sedangkan garis2 lipatan nikel / meteorit yang tidak bereaksi terhadap warangan menimbulkan garis2 putih yang kadang mengkilap seperti krom. Kesemuanya itu membentuk gambaran / pola pada permukaan keris yang dikenal sebagai Pamor.

Marangi keris tidak dimaksudkan untuk meracuni bilah keris tersebut sehingga akan mematikan bila tergores olehnya. Persentase arsenikum dalam kristal warangan relatif rendah, apalagi dalam aplikasinya kristal warangan dilarutkan dahulu dalam air perasan jeruk nipis yang banyak sekali (+/- 1gr serbuk warangan dalam 250ml air perasan jeruk nipis). Dengan demikian kadar arsenikum yang akan menempel di bilah keris rendah sekali kadarnya. Walaupun demikian kehati-hatian dalam menangani sebilah keris tetaplah diperlukan.

Bersambung
Page 3 of 296 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > ##[ Budaya ] :"DISKUSI Seputar KERIS DAN TOSAN AJI"## - Part 2