Saham
Home > CASCISCUS > BUSINESS BOARD > Forex/Option/Saham dan Derivatifnya > Saham > Company Analysis, The Heart of Stock Fundamental Analysis
Total Views: 136304 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 4 of 139 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›

dunkz - 14/07/2010 10:39 PM
#61

Quote:
Original Posted By salep99
wah kebetulan nih ada trit begini..nubi dalam hal saham..kebetulan tugas akhir ane menyinggung ini\)

gan ane mau nanya, sebenernya pengaruh DER tuh gimana ya ke penilaian harga saham..misal kalo DER nya tinggi/rendah..
confused:confused:malu:


DER itu lebih berpengaruh pada kekuatan perusahaan. semakin tinggi DER berarti semakin tinggi proporsi utang dalam modal. DER yang tinggi akan berpotensi mempersulit perusahaan ketika revenue anjlok (misalnya saat krisis).

Utang yang jatuh tempo mungkin bisa ditambal dengan utang baru, namun bun ga dari utang yang akan menggerus laba perusahaan.
salep99 - 14/07/2010 11:12 PM
#62

Quote:
Original Posted By dunkz
DER itu lebih berpengaruh pada kekuatan perusahaan. semakin tinggi DER berarti semakin tinggi proporsi utang dalam modal. DER yang tinggi akan berpotensi mempersulit perusahaan ketika revenue anjlok (misalnya saat krisis).

Utang yang jatuh tempo mungkin bisa ditambal dengan utang baru, namun bun ga dari utang yang akan menggerus laba perusahaan.


hmm,,trus gan , kalo der tinggi bisa juga menaikkan harga saham kanconfused:confused:?? brarti kalo der tinggi, kan itu dana dr pihak ke3, jd kalo dana2 tersebut bisa digunakan secara efeisien, otomatis efekna terhadap dividen..jd ntarnya bs menarik minat para investor , dan berpengaruh ke harga saham..
sorry bahasa ane kacau gan,,bingung

btw, thx pencerahannya ganbeer:
dunkz - 14/07/2010 11:48 PM
#63

Quote:
Original Posted By salep99
hmm,,trus gan , kalo der tinggi bisa juga menaikkan harga saham kanconfused:confused:?? brarti kalo der tinggi, kan itu dana dr pihak ke3, jd kalo dana2 tersebut bisa digunakan secara efeisien, otomatis efekna terhadap dividen..jd ntarnya bs menarik minat para investor , dan berpengaruh ke harga saham..
sorry bahasa ane kacau gan,,bingung

btw, thx pencerahannya ganbeer:


Secara umum, ketika bisnis lagi bagus, utang akan menjadi leverage yang dapat meningkatkan laba perusahaan. Akan tetapi utang yang berlebihan akan menjadi bumerang ketika kondisi bisnis memburuk.
handyputranto - 15/07/2010 03:12 PM
#64

nanya gan, BBTN kan aset bank di Indo yang paling kecil yah. nomer 10 kalo ga salah. hanya menguasai 2% pangsa pasar. kenapa saham nya naik trus yah gan? emang kinerja nya bagus ya gan?
BbMatt - 15/07/2010 03:41 PM
#65

suhu dunkz bahas soal LSIPdong. cos ha& #65362;ga valuasi ᦆ 8;y kl itungan 2288;ane bnr sesu ai dengan meʍ 64;ode ben grah&# 65345;m yg suhu aj ;arin, harga A 367;ajar nya 11.& #65298;80 dengan Eᦄ 8;S =524 (2009 5289;.

brati kl di ʍ 56;iat harga ha&# 65362;i ini yg 750 ;0 maka udah A 348;iskon sekita& #65362; +- 30%
ya. 
harga yg cukʍ 65;p menarik bu&# 65345;t mid term y ;a bro ?
dunkz - 15/07/2010 04:23 PM
#66

Quote:
Original Posted By BbMatt
suhu dunkz bahas soal LSIPdong. cos ha& #65362;ga valuasi ᦆ 8;y kl itungan 2288;ane bnr sesu ai dengan meʍ 64;ode ben grah&# 65345;m yg suhu aj ;arin, harga A 367;ajar nya 11.& #65298;80 dengan Eᦄ 8;S =524 (2009 5289;.

brati kl di ʍ 56;iat harga ha&# 65362;i ini yg 750 ;0 maka udah A 348;iskon sekita& #65362; +- 30%
ya. 
harga yg cukʍ 65;p menarik bu&# 65345;t mid term y ;a bro ?


Sebenarnya untuk saham komoditas harus lebih hati-hati valuasinya karena labanya sangat bergantung pada harga komoditasnya, dalam hal ini CPO. Tetapi kalau benar berarti LSIP cukup potensial bro.
SmartME - 15/07/2010 05:38 PM
#67
Valuasi
Bro Dunkz, ini bro yang di portalreksadana atau bukan ya ? \)
Btw, topiknya sangat menarik dan tulisan2 bro dunkz menambah wawasan saya. Thanks a lot bro, sy juga pesan satu seat untuk belajar.
dunkz - 15/07/2010 06:21 PM
#68

Quote:
Original Posted By handyputranto
nanya gan, BBTN kan aset bank di Indo yang paling kecil yah. nomer 10 kalo ga salah. hanya menguasai 2% pangsa pasar. kenapa saham nya naik trus yah gan? emang kinerja nya bagus ya gan?


BBTN diterawang dulu ya gan \)

Quote:
Original Posted By SmartME
Bro Dunkz, ini bro yang di portalreksadana atau bukan ya ? \)
Btw, topiknya sangat menarik dan tulisan2 bro dunkz menambah wawasan saya. Thanks a lot bro, sy juga pesan satu seat untuk belajar.


iya bro. sama kok.
BbMatt - 15/07/2010 07:02 PM
#69

really like this threat. keep post bro dunkz \)

bro dunkz, itu kan telkom lg mau rubah core bisnis nya ya dr fix line ke sewa menara bnr ga ya ? nah trus itu kl kata si WB kan sepanjang ga menyimpang dr arah core bisnis nya ga gitu masalah. nah kl menurut bro gimana prospek telkom kedepan nya ?
mengingat margin perusahaan telkom cukup kecil krn persaingan nya ya. dah gitu dy termasuk perusahaan teknologi dimana bag ini di jauhi oleh si WB dengan alesan ga bisa prediksi prospek masa depan nya. iloveindonesia
dunkz - 15/07/2010 09:19 PM
#70
Memilih Saham ala Benjamin Graham (Bagian 2)
Gemerlapnya bursa saham seringkali bisa membuat orang terlena. Secara alamiah manusia akan merasa lebih nyaman jika mengikuti pendapat bersama. Sayangnya di bursa saham, kebersamaan seringkali dapat menjerumuskan kita ke jurang terdalam. Euforia saham dot.com di Amerika Serikat pada akhir tahun ’90-an adalah hasil dari kesalahan penerjemahan kolektif yang menyebabkan malapetaka bagi sebagian besar pesertanya. Hal yang mirip terjadi pada saat depresi besar melanda dunia pada tahun 1929. Para pelaku pasar sudah ’lupa’ bahwa harga saham tidak selamanya bisa naik, terlebih jika tidak ditopang oleh kondisi fundamental yang kuat. Di sinilah valuasi saham kita akan menjadi pijakan untuk dapat bersikap rasional di tengah hiruk pikuknya bursa saham.

Di luar dugaan saya, metode valuasi yang dipergunakan sangatlah sederhana, terlebih jika kita bandingkan dengan proses screening yang dilakukannya untuk mencari saham-saham berfundamental kokoh. Graham berargumen bahwa ia berusaha menggunakan formula yang sederhana dan bertujuan mendapatkan hasil yang mendekati hasil perhitungan dengan metode yang lebih kompleks.

Satu hal yang sangat penting adalah valuasi baru dapat dilakukan apabila suatu saham telah lolos dari screening seperti yang saya paparkan di artikel sebelumnya.

Formula yang digunakan Graham adalah sebagai berikut (Security Analysis, 1962):

V = EPS x (8.5 + 2G)

Di mana:

V = Nilai intrinsik saham (harga wajar saham)
EPS = Earning per Share
8.5 = P/E wajar untuk perusahaan yang tidak tumbuh labanya
G = tingkat pertumbuhan laba jangka panjang (7 -10 tahun)

Formula ini akan menghasilkan valuasi yang sangat agresif karena perusahaan yang tingkat pertumbuhan labanya 15% akan memiliki nilai wajar 38.5 x EPS. Walaupun Graham menekankan perlunya margin of safety (selisih antara harga pasar dengan harga wajarnya), formula tersebut tetap terasa sangat agresif. Graham merekomendasikan margin of safety sebesar 50% yang berarti perusahaan seperti contoh di atas layak untuk dibeli jika harganya adalah 19.25 x EPS (dengan kata lain P/E ratio-nya adalah 19.25). Akan sangat mudah untuk mencari saham-saham dengan P/E ratio sebesar itu dan agak meragukan jika saham dengan P/E ratio setinggi itu disebut dengan value stock.

Graham tampaknya menyadari kelemahan formula tersebut dan pada tahun 1974 ia merevisinya menjadi:

V = EPS x (8.5 + 2G) x (4.4/AAA)

Modifikasi tersebut menambahkan 4.4 yang merepresentasikan risk-free rate dan AAA yang merepresentasikan kupon (bunga) dari obligasi korporat berkualitas tinggi.

Kembali pada perusahaan pada pembahasan sebelumnya. Jika kupon obligasi berkualitas tinggi adalah sekitar 10%, maka harga wajarnya menjadi (8.5 + 2×15) x (4.4/10) x EPS = 16.94 x EPS. Dengan margin of safety sebesar 50% maka saham tersebut layak dibeli pada harga 8.47 x EPS. Terlihat bahwa formula yang direvisi tersebut memberikan hasil yang lebih valid dibandingkan sebelumnya.

Komentar Saya:

4.4 → Nilai 4.4 yang merepresentasikan risk-free rate harus disesuaikan agar dapat diterapkan di Indonesia. Instrumen risk free-rate yang dapat digunakan adalah BI rate yang saat ini adalah 6.5%.

G → Kita harus sangat berhati-hati dalam memprediksikan pertumbuhan laba jangka panjang suatu perusahaan. Sangat sulit untuk mempertahankan pertumbuhan laba jangka panjang sebesar 15% secara konsisten (walaupun bukan berarti tidak ada).
Penawaran dari saya untuk modifikasi formula valuasi Graham untuk Indonesia adalah sebagai berikut:

V = EPS x (8.5 + 2G) x (6.5/AAA)

Contoh kasus 1: saham PT. Unilever (UNVR).

EPS = 399.769

G = 17.53 (saya mendapatkan nilai ini dari reuters) pada bagian long term growth rate. Karena nilainya terlalu tinggi saya turunkan menjadi 15 saja.

AAA = 11.625% (Obligasi Bank Ekspor Indonesia IV Tahun 2009 Seri B)

Dengan data yang ada tersebut maka harga wajar saham Unilever adalah sebagai berikut:

V = 399.769 x (8.5 + 2×15) x (6.5/11.625) = 8,893

Dengan margin of safety 50%, level aman untuk membeli saham UNVR adalah 4,446.
Nilai ini jauh di bawah harga saham UNVR saat ini, yaitu 15,800 yang merepresentasikan P/E ratio sebesar 39.52. Sangat tinggi, bahkan untuk saham di Indonesia.

Contoh kasus 2: saham PT. Adira Multi Finance (ADMF).

EPS = 399.769

G = 32.10 (saya agak kurang nyaman dengan nilai ini dan melakukan ‘downgrade’ menjadi 15)

AAA = 11.625% (Obligasi Bank Ekspor Indonesia IV Tahun 2009 Seri B)

Dengan data yang ada tersebut maka harga wajar saham ADMF adalah sebagai berikut:

V = 1,212.4 x (8.5 + 2×15) x (6.5/11.625) = 26,099

Dengan margin of safety 50%, level aman untuk membeli saham ADMF adalah 13,050. Harga saham ADMF saat ini adalah 9,150.

Jelas terlihat bahwa saham ADMF cukup menarik untuk dibeli pada level harga saat ini.

Demikian yang dapat disampaikan mengenai metode valuasi Graham. Tentu saja metode valuasi sudah jauh berkembang saat ini. Walaupun begitu, konsep mengenai valuasi ini dengan kesederhanaannya dapat menghindarkan kita dari pembelian saham yang harganya terlalu mahal.
dunkz - 15/07/2010 11:22 PM
#71
Sekilas Mengenai BBTN
Bank Tabungan Negara (BTN) yang mulai melantai di bursa pada tahun 2009 dengan kode BBTN selama ini dikenal sebagai penyalur kredit perumahan. Berdasarkan laporan tahunan tahun 2009, market share BBTN untuk kredit perumahan adalah 25,6%. Satu hal lagi yang mengukuhkan BBTN sebagai penyalur kredit perumahan adalah penguasaan pasar sebesar 97% untuk kredit perumahan bersubsidi. Subsidi untuk kredit perumahan diberikan dalam bentuk keringanan pembayaran uang muka serta pemberian bunga yang lebih rendah daripada bunga untuk kredit komersial.

Setelah sekian lama bermain di market segment menengah ke bawah, mulai tahun 2010 BBTN mulai memperluas market segmen sampai dengan menengah ke atas. Langkah BBTN ini perlu kita pantau karena saat ini pemain di level menengah ke atas dikuasai oleh pemain-pemain besar seperti BCA, Danamon, dan Bank Mandiri. Tidak akan semudah itu BBTN menembus segmen market tersebut.

Satu hal lagi yang perlu dicermati adalah dibukanya keran untuk penyaluran kredit perumahan bersubsidi yang berpotensi mengancam posisi BBTN. Kita lihat saja bagaimana perkembangannya ke depan.

Berikut adalah cuplikan kinerja BBTN selama 5 tahun terakhir:
Company Analysis, The Heart of Stock Fundamental Analysis

Selama 5 tahun terakhir, terlihat bahwa terjadi kenaikan pendapatan bunga kecuali pada tahun 2007. Saya masih bisa mentoleransi hal tersebut karena pada tahun-tahun setelahnya pendapatan bunganya kembali naik dengan mantap.

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah adanya tren penurunan ROE. Walaupun pada tahun 2009 BBTN melakukan IPO yang menambah ekuitasnya, penurunan yang konstan ini belum terjawab. ROE tahun 2009 sebesar 18.27% menjadi lampu kuning. Biasanya saya mematok ROE minimal 20% untuk investasi.

LDR (Loan to Deposit Ratio) BBTN terbilang cukup tinggi (rata-rata di atas 100% selama 5 tahun terakhir). Meskipun bisa mendongkrak kinerjanya, di sisi lain tingginya LDR ini juga meningkatkan risiko operasional BBTN.

Jika kita mengabaikan penurunan laba bersih pada tahun 2006, didapatkan growth rata-rata BBTN adalah 10.35%. Dengan harga saat ini di level 1,820 dan EPS tahun 2009 sebesar 76 (PER = 23.95x), maka didapatkan PEG ratio = 23.95/10.35 = 2.31. Biasanya PEG maksimum yang bisa saya toleransi adalah 1 sehingga PEG BBTN ini terlihat sangat tinggi.

Kesimpulan: Untuk saat ini saya masih belum berminat pada BBTN. BBTN harus mampu mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sehingga dapat memperbaiki kinerjanya.

Disclaimer is on.
dunkz - 15/07/2010 11:41 PM
#72

Quote:
Original Posted By BbMatt
really like this threat. keep post bro dunkz \)

bro dunkz, itu kan telkom lg mau rubah core bisnis nya ya dr fix line ke sewa menara bnr ga ya ? nah trus itu kl kata si WB kan sepanjang ga menyimpang dr arah core bisnis nya ga gitu masalah. nah kl menurut bro gimana prospek telkom kedepan nya ?
mengingat margin perusahaan telkom cukup kecil krn persaingan nya ya. dah gitu dy termasuk perusahaan teknologi dimana bag ini di jauhi oleh si WB dengan alesan ga bisa prediksi prospek masa depan nya. iloveindonesia


Let me see ya. Coba saya cek lagi.
dunkz - 15/07/2010 11:55 PM
#73

Quote:
Original Posted By devangel
bro dunkz setelah lihat analisa tentang PGAS, data2 seperti bidang usaha, supplier, adanya potensi defisit gas, pangsa pasar sepertinya koq gak semua ada di LK ? ada source lain untuk dapat informasi fundamental seperti ini ya ?


Coba cek di laporan tahunannya gan.
Laporan Tahunan PGAS 2009
BbMatt - 16/07/2010 05:32 PM
#74

Quote:
Original Posted By dunkz
Let me see ya. Coba saya cek lagi.


thanks suhu. iloveindonesia
chenxiaolong - 17/07/2010 12:08 AM
#75
Nice Thread Gan....
Nice Thread Gan....

Banyak dapet Ilmu dari Agan.

Tetap Fokus, Tetap Disiplin dan Tetap Sabar,
XLiloveindonesia
BbMatt - 18/07/2010 12:20 AM
#76

bro dunkz mau nanya dong, or kl ada yg bisa jawab boleh tolong di jelasin

td ane lg cb ngikutin tentang valuasi saham PGAS.

nah pada step dimana return yg di hendaki.

ane coba itung yg 18.15.14.13 semua nya betul.
tapi pas ituung yg 30% itu kok beda jauh ma suhu punya ya ? ato mang ada rumusan laen.

hitungan ane seperti ini untuk return 30%
2,014 10,899.00 1.3000 8,384
2,013 8,383.85 1.3000 6,449
2,012 6,449.11 1.3000 4,961
2,011 4,960.86 1.3000 3,816
2,010 3,816.04 1.3000 2,935

nsh kl di hitungan ane, dapet nya 2935. kl suhu kok bisa 3875 ?
thanks.
ane salah di mana ya ?
jimmy.junaidi - 18/07/2010 05:01 PM
#77

Quote:
Original Posted By dunkz

Contoh kasus 2: saham PT. Adira Multi Finance (ADMF).

EPS = 399.769

G = 32.10 (saya agak kurang nyaman dengan nilai ini dan melakukan ‘downgrade’ menjadi 15)

AAA = 11.625% (Obligasi Bank Ekspor Indonesia IV Tahun 2009 Seri B)

Dengan data yang ada tersebut maka harga wajar saham ADMF adalah sebagai berikut:

V = 1,212.4 x (8.5 + 2×15) x (6.5/11.625) = 26,099

Dengan margin of safety 50%, level aman untuk membeli saham ADMF adalah 13,050. Harga saham ADMF saat ini adalah 9,150.

Jelas terlihat bahwa saham ADMF cukup menarik untuk dibeli pada level harga saat ini.

Demikian yang dapat disampaikan mengenai metode valuasi Graham. Tentu saja metode valuasi sudah jauh berkembang saat ini. Walaupun begitu, konsep mengenai valuasi ini dengan kesederhanaannya dapat menghindarkan kita dari pembelian saham yang harganya terlalu mahal.


Numpang pendapat ya gan..
Soal Adira, memang betul growth nya bagus dan valuasi masih sangat murah..
Tapi agan coba cari tahu deh, BCA udah keluarin BCA finance mulai sejak sekitar awal tahun ini..
Kalo yang namanya perusahaan murni leasing dengan unit leasing bank, sudah psti bank yang menang.
Borrowing cost lebih murah, bunga lebih murah.
Apalagi nasabah bank jumlahnya juga sangat banyak.
Saya pernah punya ADMF gan, sejak harga 4000, waktu itu belum ada cerita BCA Finance. Kemudian keluar cerita BCA Finance.
Saya tunggu LK Q1 2010 nya dulu. Ternyata kelihatan banget tuh efeknya BCA Finance di LK nya. Ya saya jual deh.
Valuasi secara hitungan memang murah, tapi kalo dipertimbangkan dari segala aspek, mungkin sudah tidak jadi murah lagi deh gan.. Atau murah mungkin saja mempertimbangkan Deviden Yield yang bisa besar.. Tapi sampai kapan bisa ngasi deviden banyak? Saya nggak yakin 5 tahun lagi ADMF masih sebesar ini..


Kalo menurut saya ya gan, analisa fundamental itu harus juga melihat keadaan sekitar, dan juga meneliti LK nya juga.. Karena perusahaan selalu mengikutkan semuanya di LK tapi, pasti ada yang disembunyikan.
Kalo di LK Q1 2010 cuma dilihat EPSnya, emang gak kelihatan sih. Tapi di lihat bagian lain, baru kelihatan efeknya BCA Finance...

Cuma pendapat saja gan.. Hehehehe.. iloveindonesia
dunkz - 18/07/2010 09:05 PM
#78

Quote:
Original Posted By jimmy.junaidi
Numpang pendapat ya gan..
Soal Adira, memang betul growth nya bagus dan valuasi masih sangat murah..
Tapi agan coba cari tahu deh, BCA udah keluarin BCA finance mulai sejak sekitar awal tahun ini..
Kalo yang namanya perusahaan murni leasing dengan unit leasing bank, sudah psti bank yang menang.
Borrowing cost lebih murah, bunga lebih murah.
Apalagi nasabah bank jumlahnya juga sangat banyak.
Saya pernah punya ADMF gan, sejak harga 4000, waktu itu belum ada cerita BCA Finance. Kemudian keluar cerita BCA Finance.
Saya tunggu LK Q1 2010 nya dulu. Ternyata kelihatan banget tuh efeknya BCA Finance di LK nya. Ya saya jual deh.
Valuasi secara hitungan memang murah, tapi kalo dipertimbangkan dari segala aspek, mungkin sudah tidak jadi murah lagi deh gan.. Atau murah mungkin saja mempertimbangkan Deviden Yield yang bisa besar.. Tapi sampai kapan bisa ngasi deviden banyak? Saya nggak yakin 5 tahun lagi ADMF masih sebesar ini..


Kalo menurut saya ya gan, analisa fundamental itu harus juga melihat keadaan sekitar, dan juga meneliti LK nya juga.. Karena perusahaan selalu mengikutkan semuanya di LK tapi, pasti ada yang disembunyikan.
Kalo di LK Q1 2010 cuma dilihat EPSnya, emang gak kelihatan sih. Tapi di lihat bagian lain, baru kelihatan efeknya BCA Finance...

Cuma pendapat saja gan.. Hehehehe.. iloveindonesia


Wah tks gan infonya.
Setau saya ADMF sebagian besar sudah dimiliki oleh BDMN. Kinerjanya so far so good.

Pertanyaannya: Kalau memang leasing keluaran bank lebih baik, knp BDMN berusaha mengakuisisi ADMF dan bukannya bikin perush leasing sendiri?

Btw, boleh di share di sini gan efek dari adanya bca finance?
propassive - 18/07/2010 09:37 PM
#79

gan thx bwat ilmu na... masi newbie di soal ginian ni,, jd thread anda membantu bgt... ane rate 5* yailovekaskus
hutanlebat - 18/07/2010 11:22 PM
#80

Quote:
Original Posted By dunkz
Wah tks gan infonya.
Setau saya ADMF sebagian besar sudah dimiliki oleh BDMN. Kinerjanya so far so good.

Pertanyaannya: Kalau memang leasing keluaran bank lebih baik, knp BDMN berusaha mengakuisisi ADMF dan bukannya bikin perush leasing sendiri?

Btw, boleh di share di sini gan efek dari adanya bca finance?


Betul Gan, 95% dimiliki oleh Danamon yg baru ditingkatkan di tahun lalu dari sebelumnya 75%.

Bro Dunkz, tanya nih. Terus kalo tahun 2009 laba adira kan 1,2 T, sedangkan laba danamon sekitar 1,5 T, itu sudah termasuk konsolidasi dari profit ADMF lom yah ?

thx
Page 4 of 139 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›
Home > CASCISCUS > BUSINESS BOARD > Forex/Option/Saham dan Derivatifnya > Saham > Company Analysis, The Heart of Stock Fundamental Analysis