BUKU new
Home > CASCISCUS > BUKU new > ===> Markas Pembaca Buku Tereliye <===
Total Views: 12816 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 5 of 16 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 >  Last ›

lunaqua - 23/05/2011 10:10 PM
#81

Quote:
Original Posted By daninoviandi
0h iya,yg blakang aljihad itu ya?D

om ruly katanya pengen pinjem HSD tuh D

nanti lah kpn2 k krw,haturnuhun shakehand2===> Markas Pembaca Buku Tereliye <===


boleh...sila mau diambil dimana ntar..pm aja ya, kang lokasi dan jamnya..

D...he eh..belakang al jihad...
daninoviandi - 24/05/2011 09:19 PM
#82

Quote:
Original Posted By lunaqua
boleh...sila mau diambil dimana ntar..pm aja ya, kang lokasi dan jamnya..

D...he eh..belakang al jihad...

sip, tar dikabar2in ya om beer:
ci3d - 26/05/2011 01:06 PM
#83

weitsss.. ada buku baru bang tere!!
ayahku (bukan) pembohong...
pengen bacaaaa...
mahomaho
kaCalm - 01/06/2011 10:48 AM
#84

wah telat bgt nih, ane baru tau ada trit tentang tere-liye

pertama ane baca RTDW ane langsung jatuh cinta gan,

ane ud baca 9 dari 14 novelny yg ud terbit,
mulai dari RTDW - HSD - BBS - SBR - DAUN - MBDA - PUKAT - Mimpi2 - Ayahku

dari smw novelny ane plg suka HSD,
lainny bagus2 juga RTDW, BBS, SBR hampir segrid sama HSD
yg kurang menurut ane si Daun (terutama tokoh tania), mungkin krn krg suka model cinta-cintaan ky gt, tp pesan n penulisanny bagus,

btw, Sang Penandai mau rilis ulang gan, bulan Juni ini.
marpple - 02/06/2011 09:19 AM
#85

Bulai Mei lalu, akhirnya berhasil menamatkan dua serial anak Mamak, Pukat dan Eliana, agak telat sih yah malu: soalnya juga baru dapat bukunya dua bulan yang lalu, semenjak baca serial anak Mamak yang pertama, Burlian, cerita nya makin lama makin bagus dan sarat makna. Jadi, gak sabar nungguin Amelia, buku penentu, pembuka sekaligus penutup.
nadineafr - 03/06/2011 11:48 PM
#86

wah tadi ane baru nyelesain baca "Bidadari-Bidadari Surga". bagus banget itu buku bener2 memotivasi dan ngajarin kita untuk mensyukuri hidup. :2thumbup
novel lain Tere Liye yang udah ane baca itu "Hafalan Sholat Delisa" sama "Moga Bunda Disayang Allah"
wajib baca tuh gan ceritanya mengharukan banget :mewek
silentrazgriz - 06/06/2011 01:01 AM
#87

ayahku (bukan) pembohong..
:2thumbup: gan..
harus cpet2 baca.. \) bnyk motivasi2 di dlmnya.. sm endingnya bener2 mengharukan..
kaCalm - 08/06/2011 11:57 PM
#88

baru selesai baca Sang Penandai

cerita petualangan seru, yg terkadang menyedihkan ketika Jim teringat Nayla-nya. tp knapa endingnya harus mati, stelah ia akhirnya bisa berdamai dgn masa lalu.

Sepertinya saya setuju klo endingny diganti lebih hepy.
Bulan juni ini nunggu versi rerilisny dgn ending baruny, hhe
chicsmilez - 15/06/2011 11:48 AM
#89

gw udh pernah baca yang the gogons.. bagusss ceritanya.. ga ngebosenin:thumbup
kaCalm - 17/06/2011 03:05 AM
#90

Quote:
Original Posted By chicsmilez
gw udh pernah baca yang the gogons.. bagusss ceritanya.. ga ngebosenin:thumbup


ada ebooknya g gan? malus
ane pengen baca tapi susah nyari bukunya
HaruRRF - 17/06/2011 10:38 AM
#91

ibu ane suka bgt gan sama buku2nya tereliye
kemaren dulu pernah girang di gramed garagara nemu pukat
kalo ane baru pernah baca moga bunda di sayang Allah (ane nangis bacanya gan) dan hafalan shalat delisa (ini juga sedih bgt).terus ane baca yang gogons tapi berenti ditengah krn rasanya kurang .... sregg sama ane dibanding buku2 yg laen.

eh sang penandai juga bukunya tereliye? bingungs
ane selama ini liatdi perpus sekolah tuhbuku tapi gataukalo tereliye yg nulis -__-
aaammmnnn - 17/06/2011 11:16 AM
#92

gan, ane udah dapet yang eliana D

ceritanya dia emang bagus2 deh thumbup:
lalalili.put - 05/08/2011 01:04 PM
#93

Baru baca HSD-Moga Bunda Di Sayang Allah-Eliana-Rembulan Tenggelam Di Wajahmu-Bidadari Bidadari Surga..
Semuanya berhasil bikin gw netesin air mata..
Salut buat Bang Tere yang produktif bikin novel bermutu..:2thumbup:2thumbup
Semoga pembacanya ga sekedar baca, tapi juga mengaplikasikan pesan moral yang terselip disetiap bukunya.. Aamiin..
lycantrophs - 08/08/2011 12:01 AM
#94

Beli Sang Penandai dulu waktu kelas 1 SMA.

Ceritanya keren banget.. :2thumbup

Sebelumnya gw pikir itu buku terjemahan.. D
yamboo - 10/08/2011 11:32 AM
#95

gw uda baca semua karya, kecuali yang no 1-3 dan no 9. Belum sempat aja.

Oya, ada buku baru yang judulnya "Ayahku (bukan) Pembohong" kok belum masuk update gan.
Laikensor - 10/08/2011 03:35 PM
#96

wah ada tritnya ya :matabelo
ane kemaren baru beli yg bidadari bidadari surga hammer: kemaren hammer:
alietha - 23/08/2011 12:23 AM
#97

Sang Penandai?
wah ane ketinggalan ya hammer:
besok nyari ke Gramed deh :ngacir
lunaqua - 23/08/2011 10:07 AM
#98

update info rilis yang diambil dari postingan fb Tere Liye,

Quote:

mengingat banyak sekali yg bertanya hal yg sama (dan sdh sy jawab berkali2, tetap nanya juga), berikut sy tuliskan daftar rilis buku2 tere-liye. saran sy, kalau kalian masih menemukan pertanyaan yg sama, kalian bantu jawab, hitung2 saling membantu sama lain. semua jadwal masih bisa berubah, insya Allah.

--November 2011 : Sunset Bersama Rosie, Mahaka Publishing (rerilis)

--Januari/Februari 2012 : Abang Borno & Kakak Mei, Gramedia Pustaka Utama

--April/Mei 2012 : Amelia, Buku ke-1 Serial Anak2 Mamak, Penerbit Republika

Miniseri 'serial anak2 mamak', menurut konfirmasi dr tim yg bikin, insya Allah tayang liburan Desember 2011, jika ratingnya bagus, disusul tahap 2-nya liburan Juni/Juli 2012.

Film 'hafalan shalat delisa', nah, yg ini susah sekali dipastikan kapan, mungkin masih butuh 6-12 bulan lagi. kalau sdh dlm bentuk miniseri/film, sy tdk ikut terlibat banyak lagi, berbeda dgn menulis buku, naskahnya jadi, prosesnya sdh bisa terlihat, edit, cetak, rilis. di doakan saja lancar, dan bersabar, karena dalam urusan menunggu, trik terbaiknya, sepanjang belum jadi, maka mari menyibukkan dgn pekerjaan lain, seperti naskah2 baru, tulisan2 baru.

Tommy paling cepat disambung kembali bulan september, saat ini sy kehilangan mood melanjutkannya--karena dunia nyata, ternyata lebih 'sadis' dari cerita tommy, padahal bagian pertemuan dgn putra mahkota adalah bagian pertemuan dgn politisi, mafia anggaran, dsbgnya. \(
daninoviandi - 25/08/2011 08:51 AM
#99

Menunggu Moga Bunda disayang Allah \)

Quote:
Original Posted By lunaqua
update info rilis yang diambil dari postingan fb Tere Liye,



om luna,ngobrol dong di lounge..malu:
===> Markas Pembaca Buku Tereliye <===
lunaqua - 25/08/2011 09:11 AM
#100

Quote:
Original Posted By daninoviandi
Menunggu Moga Bunda disayang Allah \)



om luna,ngobrol dong di lounge..malu:
===> Markas Pembaca Buku Tereliye <===


mau pinjam yang ane, kang?

lounge yang mana nih? RK atau Serapium? D

selamat ya, udah jadi bapak... Razqa Milza Danendra

biar gak OOT, sedikit spoiler dari buku Amelia

Quote:


nyonya hong (amelia, buku ke-1 serial anak-anak mamak)

oleh Darwis Tere Liye pada 17 Agustus 2011 jam 14:03

'Nyonya Hong, Nyonya Hong." Aku berteriak sambil menahan geli, memegangi perut.
Chuck menyikut lenganku, melotot, 'Jangan tertawa, kau nanti diomelin, tahu."
Apa salahnya? Aku balas melotot, ini lucu sekali, bukan? Sejak keluarga ini pindah ke kampung, seluruh penduduk ramai bisik-bisik bercerita--mengalahkan saat dulu Samsurat dibilang bisa menebak nomor buntut SDSB. Awalnya bisik-bisik senang. Selalu menyenangkan punya tetangga baru, seperti saat Ibu Bidan yang baik-hati itu, penduduk kampung menyapa, mengucapkan selamat datang, semoga kerasan di kampung yang apa adanya dan penuh keterbatasan. Sayangnya, seminggu lewat, percakapan tentang keluarga baru ini mulai sumbang.
'Aku sapa, oi, mereka cuma melengos.' Itu keluh Pendi di balai-balai bambu.
'Mungkin saja mereka tidak lihat kau, Pendi.' Wak Burhan menyahut.
'Apanya yang tidak lihat, Wak. Saya berpapasan di jalan setapak menuju sungai. Mereka mau mandi, saya pulang. Lebar jalan setapak itu hanya muat satu orang, kita harus menepi bergantian, mana mungkin tidak lihat?'
'Ah, aku saja sering tidak lihat kau kalau lagi duduk malam-malam di sini. padahal kau persis di depan jidatku.' Itu celetuk Wak Lihan, tertawa. Penduduk yang sedang santai menghabiskan malam di balai-balai bambu ikut tertawa. Pendi merengut kesal--dia memang berkulit hitam, sering jadi bahan gurauan.
'atau mungkin karena kau tidak memanggilnya dengan nyonya, pendi? mana mau dia menoleh.'
'enak saja, aku bahkan sudah memanggilnya lebih hebat, 'yang mulia ratu'.' pendi tidak terima, mulai berlebihan.
'nah, kan, tetap saja kau tidak memanggilnya nyonya.'
'tapi apa kau bilang tadi, Pendi? mereka mandi ke sungai? oi, bukankah beberapa hari lalu mereka mengomel di balai kampung, bilang tidak akan mandi di sungai, nanti gatal-lah, nanti kurapan-lah.' Wak Burhan memotong tawa.
'mereka terpaksa mandi di sungai, Wak. macam tidak tahu saja, musim kemarau sekarang semua sumur kering. mau mereka tidak mandi-mandi? berminggu2? bahkan gengsi bisa dikalahkan oleh urusan mandi, Wak.' pemuda lain yang menjawab, yang lain mengangguk-angguk setuju.
urusan ini memang sedikit rumit.
'hentikan kalimat kau Amel.' Mamak memotongku di suatu malam, 'tidak pantas kau menyebut-nyebut kejelekan orang lain di meja makan kita.'
'tapi Mak, memang demikian. mereka sombong sekali.' aku tidak terima, menoleh pada bapak, 'benar demikian, kan, pak? anak-anaknya juga tdk mau berteman di sekolahan, langsung pulang. tidak pernah main bersama kami.'
'mungkin mereka sibuk, Amel.' bapak tersenyum, 'dan mamak kau benar, berhentilah membicarakan orang lain.'
aku menggerutu dalam hati. coba kalau di meja makan malam ini ada kak burlian, kak pukat dan kak eli, mereka bisa mendukungku--tp sejak kak burlian berangkat ke jakarta, naik kereta terus naik pesawat, sekolah dibayari teman Jepangnya itu, terus kak pukat dan kak eli juga berangkat ke kota kabupaten, aku selalu makan malam bertiga saja dengan mamak dan bapak.
'atau jangan2 karena mereka kaya ya, Mak, makanya tidak mau bergaul dengan kita?' aku nyeletuk setelah diam sejenak, menyisakan suara sendok dan garpu.
'Amel, kau kusuruh mencuci piring selama seminggu kalau terus membicarakan mereka, hah.' Mamak menyergah dari seberang meja, marah.
aku menelan ludah, buru-buru menunduk, menghabiskan isi piring.

***
'Nyonya Hooong. Nyonya Hooong.' aku berseru lebih kencang, dua kali teriakanku barusan sepertinya mubazir, pintu depan rumah panggung yang kami datangi masih terkunci.
'coba kau dengar, chuck, hoooong, itu kan mirip seperti suara klakson kereta, bukan?' aku balas menyikut chuck norris, menahan tawa lagi, 'dan oi, masa' kita disuruh memanggil nyonya segala? ini lucu sekali.'
chuck norris mengabaikan ekspresi wajahku, menunjuk ke depan, terdengar suara langkah di dalam sana mendekati kami. pintu rumah dibuka.
'kalian mau apa?' suara tegas itu langsung bertanya.
'eh, eh, selamat siang, nyonya hong.' aku menyeringai, mendongak.
'siang.' perempuan separuh baya, tinggi, rambut keriting menjawab pendek, 'kalian mau apa?'
'eh, saya disuruh Mamak meminjam mangkok gulai, Nyonya Hong.' aku mengutarakan maksud tujuan. aduh, mengeluh dalam hati, alangkah keliru cara berpikir mamak. sudah tahu keluarga baru ini sombong, kenapa aku tadi disuruh meminjam mangkok segala. pasti akan ditolak.
'memangnya di rumah kau tidak ada mangkok?'
betul, kan, jawabannya malah terdengar menyakitkan--seperti yang sering dibicarakan penduduk.
'eh, ada nyonya.'
'lantas kenapa harus meminjam punya kami?'
aku menggaruk rambut yang tidak gatal, chuck norris mengkerut di sebelahku. aku juga tidak tahu kenapa mamak menyuruhku meminjam mangkok. padahal aku sedang senang karena bapak baru pulang dari kota kabupaten, dari rumah koh acong, pulang membawa banyak oleh-ole.
'kata mamak, kata mamak, mangkok gulai kami kurang besar. jadilah mamak menyuruhku ke sini.' aku memasang wajah serba-salah, sedikit nelangsa. mamak pasti marah kalau aku pulang dengan tangan kosong.
'bisa, jadi bisa pinjam mangkok gulainya, Nyonya Hong?' aku takut-takut mengulang permintaan barusan.
wanita separuh baya itu menyelidik, mendengus, balik kanan.
aku menoleh chuck norris. dia mengangkat bahu, tidak mengerti. eh, kami jadi diberikan pinjaman atau tidak? masa' hanya begitu saja reaksinya? beruntung, sebelum aku memutuskan ikut balik kanan, menuruni anak tangga, nyonya hong kembali dari belakang, membawa mangkok.
'jangan sampai pecah.' menjulurukan kasar.
'iya, nyonya. tidak akan.'
'tergores sedikit saja, kau harus ganti. bilang mamak kau.' berkata serius.
'iya, nyonya.' aku menelan ludah.
jadilah kami kembali ke rumah, sambil berjingkat membawa mangkok gulai itu, seperti membawa bendera merah-putih pas upacara hari senin.
***
'nyonya hooong. nyonya hoooong.' aku berteriak lagi.
'kau berteriak berisik sekali, amel.' chuck norris yang berdiri di sebelahku menutup kuping.
aku tertawa kecil, 'namanya juga berteriak, kan? pasti kencang.'
'tapi kan tidak perlu pula seperti jadi komandan upacara.'
aku tidak menjawab, menunjuk ke depan dengan ujung bibir, terdengar suara langkah kaki, pintu dibuka.
'ada apalagi, hah?' perempuan separuh baya, tinggi dan kurus itu menatap kesal. setengah jam terakhir aku sudah dua kali berteriak2 di depan rumahnya.
'eh, eh, ini mangkok gulainya, nyonya hong.' aku takut-takut menjulurkan tangan.
'maaf, tidak sempat di cuci. karena, eh, karena sebenarnya mamak tadi menyuruh meminjam mangkok agar kami punya tempat utk mengirimkan makanan. bapak baru pulang dari kota, dikasih bungkusan mie ayam lezat oleh koh acong. kata mamak, kalau pakai mangkok di rumah terlalu kecil, nanti tidak cukup utk keluarga nyonya hong, jadi amel disuruh meminjam mangkok. tidak apa kan ya? mangkoknya tdk rusak kok. nanti kalau nyonya hong sudah pindahkan, amel bisa bantu cuci biar bersih.' aku menyeringai.
adalah setengah menit perempuan tinggi kurus itu terdiam. dan setelah aku dan chuck norris juga ikutan bingung bagaimana urusan ini kalau nyonya hong menolak mie ayam ini, terpaksa harus dibawa pulang, perempuan setengah baya itu akhirnya mengangguk, senyumnya tipis sekali, menerima mangkok dari tanganku, lantas berkata, 'silahkan masuk dulu. namamu amel, bukan? ayo, masuk, ajak teman kau, jangan ragu-ragu. ada minuman dingin di dalam.'
aku ingat sekali, waktu kecil, mamak selalu mengoceh tentang keteguhan hati dalam berbuat baik. pagi, siang, malam, selalu mengoceh seperti radio rusak--belum lagi marah-marahnya, dan sialnya karena tinggal aku sendirian di rumah, akulah sansak yang terus diocehi mamak. tapi aku tahu, mamak tidak pernah berhenti dengan ocehan, dia memberikan teladan yang tiada tara dengan perbuatan.
setengah jam di rumah nyonya hong, bukan saja aku dan chuck norris pulang dengan membawa minuman kotak dingin yang keren--jaman itu mana ada anak kampung minum beginian, chuck norris malah sengaja menyimpannya berbulan2, sayang diminum, bukan hanya itu, melainkan seminggu kemudian, bisik-bisik suram tetangga tentang keluarga itu mulai mencair. kecuali ya soal itu, sembunyi2 mentertawakan panggilang yang diwajibkan nyonya hong untuk dia bagi seluruh penduduk kampung, 'panggil saya nyonya, nyonya hong, kalian dengar, pakai nyonya. sy tdk akan menanggapi jika tdk dipanggil seperti itu. titik'

sumbernya
Page 5 of 16 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 >  Last ›
Home > CASCISCUS > BUKU new > ===> Markas Pembaca Buku Tereliye <===