MOVIES
Home > LOEKELOE > MOVIES > [Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part 2
Total Views: 448311 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 16 of 500 | ‹ First  < 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 >  Last ›

sirius.jack - 01/12/2010 06:03 PM
#301

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Drama cerdas dengan kota Bruges sebagai landscapenya

Plot: 2 orang pembunuh bayaran, Ray dan Ken, dikirim ke kota Bruges, Belgia, karena Ray tidak sengaja membunuh seorang anak kecil ketika menjalankan tugas membunuh seorang pastor atas perintah Harry. Masalah makin rumit karena Harry menugaskan Ken untuk membunuh Ray yang sedang depresi berat atas tindakan yang di luar keinginannya. Namun membunuh partner sendiri tidak semudah yang dibayangkan karena faktor emosi yang menyelimuti Ken, sementara Harry sudah tidak sabar ingin Ken melenyapkan Ray secepat mungkin.

Critic Consensus: Plot yang dibangun pada awalnya memang sederhana. Motif awal Ken dan Ray membunuh juga cukup simpel, hanya demi uang. Namun cerita simpel tersebut berubah menjadi rumit dan dibuat dengan flow yang enak dinikmati. Masalah demi masalah yang kemudian mengikuti mereka di kota Bruges yang indah dan penuh dengan bangunan tua zaman pertengahan menjadi landscape yang pas untuk background cerita yang mulai menanjak. Brendan Gleeson sebagai Ken dengan apik memandu penonton menyusuri tempat-tempat bersejarah di kota Bruges. Sementara Colin Farell sebagai Ray yang tidak terlalu menyukai kota Bruges pada awalnya, mulai menikmati kota Bruges bersamaan dengan kehadiran pencuri wanita yang kemudian dikencaninya. Brilian pantas disematkan pada permainan Colin Farell yang sangat menjiwai peran Ray yang labil dan bad boy. Mungkin bisa disebut salah satu permainan terbaiknya pasca Tigerland. Memang film ini bakalan tidak dinimkmati semua orang yang mengharapkan full action package seperti pada posternya, namun akan sangat berasa bagi mereka yang menyukai drama dengan karakter mendalam seperti sajian yang satu ini.....Bravo Farell!!!

Cerita: 8
Pemain: 8.5
Ending: 8
Overall: 8
gwinarto - 01/12/2010 06:21 PM
#302

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
2/5

crita penculikan biasa.......serasa nnt ftv hongkong.....lempeng jaya



[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

4/5

bagoss.......crita munculnya hero baru di gotham......ceritanya berbobot gak kayak straigt to video sebelumnya
ootoy - 01/12/2010 06:25 PM
#303
capac ada yang pake bahasa jawa ngga?
[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
21

yang judi,,yang judi,,

ni sebuah pilm yang bagus buat di liat,,
berceritakan sekelompok remaja cerdas yang mau nyari duit dengan ngebobol kasino

ane kasih nilai 8/10 deh
buat ide na
ramirezhate - 01/12/2010 08:27 PM
#304

JIFFEST 2010: Bal (Honey)

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

"Dreams are not told aloud" [B]~ Yakup[/B]

Lewat “Bal” atau Honey dalam judul berbahasa Inggris, Semih Kaplanoglu menutup trilogi Yusuf-nya yang ia mulai di tahun 2007, jika pada Yumurta (Egg) Semih bercerita tentang kehidupan Yusuf dewasa yang kembali ke kampung halamannya, lalu disusul dengan Sut (Milk) di tahun 2008 yang menceritakan Yusuf yang baru saja lulus SMA, kali ini Semih mengajak penonton menengok Yusuf kecil yang baru berumur 6 tahun. Keunikan sutradara asal Turki ini sudah terlihat dari bagaimana dia menyusun triloginya, menceritakan tahap demi tahap kehidupan Yusuf dengan cara mundur ke belakang. Ada yang menarik setiap saat saya menonton film-film yang berasal dari Turki, apapun genre filmnya, entah itu komedi atau drama, para filmmakernya selalu berhasil memanfaatkan keindahan lanskap Turki, pegunungan-pegunungan di daerah pedesaan atau kota Istambul yang megah. Seakan film-film tersebut sudah sepakat dari awal untuk “mengeksploitasi” apa yang dimiliki negaranya, memperkenalkan pada dunia dan mengundang penonton untuk datang ke Turki tidak hanya melalui medium film tetapi juga kapan-kapan pergi mengunjungi negara yang kaya akan sejarah masa lampau tersebut.

Yah film terkadang bisa dimanfaatkan juga sebagai “media promosi” pariwisata negara bersangkutan, apakah disini (baca: Indonesia) sudah maksimal memanfaatkan film-film-nya sebagai ajang pamer keindahan alam beserta isinya? saya singkirkan dulu pertanyaan tersebut dan menjawabnya dilain kesempatan, karena saya akan mengajak kalian melihat apa yang ditawarkan oleh Semih dalam Honey, film yang juga sudah berhasil membawa pulang piala bergengsi Golden Bear, sebagai film terbaik di Berlin International Film Festival ke-60. Jika saya sebelumnya sempat menyinggung keindahan dalam film-film Turki, Honey juga tidak melupakan menampilkan keindahan alam tersebut walau filmnya sendiri bisa dibilang berselimutkan kemuraman, agak depresif, dan menyorot kehidupan dengan bahasa-bahasa simbol. Walau memiliki gaya bercerita yang berbeda dari film-film Turki yang selama ini saya tonton—mungkin hanya Uc Maymun saja yang punya nuansa serupa dilihat dari sisi film tersebut yang sama-sama menggambarkan kehidupan secara kelam dan depresif—namun Semih mampu mengemas semua itu masih dalam koridor “film yang masih bisa dinikmati”.

Honey menegaskan apa yang tertera pada judulnya, memang melibatkan madu, seorang petani madu Yakup (Erdal Besikcioglu) harus bertaruh dengan nyawa setiap hari untuk memanen setiap potongan madu dari sarang lebah buatannya sendiri yang ditempatkan di atas pohon. Apa yang dikerjakan Yakup tidaklah mudah, dia harus memanjat pohon demi pohon untuk “menitipkan” sarang lebah yang terbuat dari kayu, hal yang sama dilakukan ayah satu orang anak ini ketika dia akan mengambil madunya. Sesekali Yakup tidak lupa mengajak anak semata wayangnya Yusuf (Bora Altas), memperkenalkan anak berumur 6 tahun tersebut dengan pekerjaan sang ayah sekaligus membiarkan dia akrab dengan hutan dan isinya. Yusuf sangat dekat dengan ayahnya, sering bertanya tentang bunga yang dia temui di hutan, saling melempar kata-kata lewat bisikan lugu, sampai merawat dengan lembut ketika ayahnya tiba-tiba sakit. Begitulah tingkah pola Yusuf ketika berhadapan dengan ayahnya, begitu enerjik, semangat, selalu penasaran, petualang sejati, dan yang paling penting adalah tingkat percaya dirinya yang tinggi.

Anehnya Yusuf akan berubah 180 derajat ketika berada di depan orang-orang selain sang ayah, termasuk ibunya sendiri, Yusuf merapat-rapat mulutnya dan menjadi anak paling pendiam. Ketika ibunya, Zehra (Tulin Ozen), menyuruh Yusuf meminum susunya, anak ini diam saja karena dia memang tidak suka dengan susu, barulah ketika ayahnya dengan baik hati menghabiskan susu tersebut, kita akan melihat lagi Yusuf yang bisa tersenyum. Di sekolah pun, Yusuf menutup dirinya dari teman-temannya, tidak pernah bergaul dan bermain, hanya bisa melihat dari balik jendela ketika semua temannya bermain diluar. Jika Yusuf pandai membaca dihadapan ayahnya, kepercayaan dirinya hilang begitu saja bagai sari bunga yang tertiup angin ketika gurunya disekolah menyuruhnya membaca. Di depan teman-teman dan guru, Yusuf berubah menjadi anak yang terbata-bata ketika dia membaca. Tapi ada satu sifat asli Yusuf yang tidak pudar yaitu semangatnya, walau ada kalanya terlihat licik, Yusuf selalu ingin bisa berhasil membaca dan mendapat pujian dari sang guru, termasuk mendapat pin penghargaan yang diberikan gurunya bagi siapa saja yang sanggup membaca dengan lancar di kelas.

Seperti halnya Yusuf yang terbata-bata ketika membaca di dalam kelasnya, Honey juga dikemas oleh Semih dengan gaya bercerita yang bisa dibilang bergerak lamban. Namun bercermin pada mimik wajah menggemaskan Yusuf ketika mengeluarkan satu-persatu huruf dari mulutnya, film ini juga menceritakan satu-persatu bagian cerita dengan begitu “menggemaskan” walau dengan alur yang lambat. Kita akan selalu diajak penasaran dan terenyuh melihat akting Bora Altas sebagai Yusuf, apa yang akan dilakukan bocah imut ini—seperti pada saat mengumpulkan pekerjaan rumah—selalu saja misterius. Atlas pun secara mengejutkan dapat menggiring penontonnya untuk tetap terus bersamanya dan tentunya pada filmnya sendiri, karena misal pun penonton tidak bisa menikmati apa yang sudah disajikan Semih, setidaknya performa-tingkah-laku Atlas yang minimalis dan unpredictable ini bisa menghibur siapa saja. Tidak hanya menghibur dengan kelucuan dia ketika (misalnya) berbicara dengan keledai tetapi juga menghibur hati pada saat Yusuf memperlihatkan bahwa dirinya memang malaikat kecil, dengan hal-hal sederhana seperti meminum susu yang dia benci hanya untuk menghibur ibunya atau memberikan mainan favoritnya kepada temannya.

Honey juga sebenarnya dirangkai dari cerita sederhana yang ditulis oleh Orcun Koksal dan juga Semih Kaplanoglu, menceritakan bagaimana seorang bocah yang berjalan ke sekolah ditemani burung ini, melihat dunia yang sedang berputar dari sudut pandangnya sendiri dan mencicipi kehidupan masa kecilnya dengan caranya sendiri. Didampingi oleh sinematografi yang begitu apik, indah, nan menawan (thanks to Baris Ozbicer), melahap film ini jadi makin nikmat. Apalah artinya alurnya yang lambat ketika saya justru tidak merasakan durasi 103 menit, karena film ini toh pintar mengajak bermain puzzle. Yup saya diajak untuk mengumpulkan potongan-potongan cerita yang hilang, karena Semih tidak memberikan kita satu cerita yang utuh secara langsung. Ketika saya bertanya mana Ibu Yusuf? Apakah ia tinggal berdua dengan ayahnya saja? Semih baru bisa menjawab pertanyaan tersebut 20 menit kemudian.

Begitu juga dengan puzzle mengenai perjalanan Yusuf ke sekolah, letak rumah Yakup dan keluarganya, dan potongan-potongan yang disembunyikan perihal hubungan antara keluarga, Yusuf dengan ayahnya, Yusuf dengan ibunya dan juga suami dengan istrinya. Semih dengan cemerlang bisa menjawab satu persatu pertanyaan dan rasa penasaran saya, untuk nantinya saya dengan mudah mengisi ruang kosong dalam puzzle tersebut. Bergulirnya Honey dari menit ke menitnya merupakan perjalanan menarik dengan satu lagi keunikannya dalam hal mengisi film ini dengan percakapan yang minim, sepertinya setiap karakternya berbicara lewat raut wajah. Yusuf cukup tersenyum untuk mengatakan kepada penonton bahwa dia sedang senang. Seimbang dengan para karakternya yang “pelit” berbicara, film ini juga sepi lagu-lagu yang biasanya dialunkan untuk upayanya mendramatisir sebuah adegan atau membangkitkan mood tertentu. Honey justru lebih memilih untuk membisikkan telinga kita dengan suara-suara alam, perbincangan angin dengan dedaunan, dan nyanyian penghuni hutan. Kesunyian adalah pedamping sejati saat Honey menapaki ceritanya, namun ramai akan pesan-pesan kehidupannya yang simbolik.

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
morgue - 01/12/2010 08:37 PM
#305

Quote:
Original Posted By ChaerinLeadah
Please.. ane bener2 buang duit buat nonton vampire bugil..


haha, kenapa juga nonton vampire suck di bioskop gan, udah tahu film film katyak gitu pasti ancur, hahaha D
hyperion_lynx - 01/12/2010 09:28 PM
#306

Review: Scott Pilgrim vs. the World (2010)

Scott Pilgrim vs. the World memang tidak menawarkan sesuatu yang baru di dalam jalan ceritanya: seorang pria jatuh cinta dengan seorang wanita, sang wanita menolak karena memiliki masa lalu yang kurang menyenangkan, dan sang pria kemudian berjuang dan melakukan apa saja untuk dapat memenangkan hati sang wanita. Tentu saja, sutradara asal Inggris, Edgar Wright, yang sebelumnya sukses dengan Shaun of the Dead (2004) dan Hot Fuzz (2007), tidak akan menceritakan film ini dengan cara yang biasa dan membosankan. Lewat pilihan grafis yang berwarna dan sangat memukau, Wright menjadikan Scott Pilgrim vs. the World menjadi sebuah tontonan yang cukup dapat dinikmati.

Bersama penulis naskah, Michael Bacall, Wright mengadaptasi jalan cerita Scott Pilgrim vs. the World dari seri novel grafis, Scott Pilgrim, karya Bryan Lee O’Malley. Berlatar belakang tempat di Toronto, Kanada, film ini berfokus pada kehidupan seorang pemuda bernama Scott Pilgrim (Michael Cera), seorang basis dari sebuah band bernama Sex Bob-omb. Setelah diputuskan secara sepihak oleh pacarnya, Envy Adams (Brie Larson), Scott kini mulai mengencani teman satu sekolahnya, Knives Chau (Ellen Wong). Kisah cinta Scott dan Knives sendiri kemudian mendapatkan hambatan ketika Scott mengenal seorang gadis asal Amerika Serikat, Ramona Flowers (Mary Elizabeth Winstead), yang selama ini ternyata telah lama dikenalnya lewat mimpi-mimpi yang ia alami.

Walaupun pada awalnya tidak begitu tertarik dengan Scott, namun lama-kelamaan Ramona mulai jatuh hati dengan Scott. Namun, untuk mendapatkan Ramona, Scott ternyata harus menghadapi masa lalu Ramona yang berupa tujuh orang mantan kekasihnya yang siap untuk melawan Scott agar ia gagal dalam mendapatkan Ramona. Disamping harus menghadapi ketujuh mantan kekasih Ramona, Scott juga harus menghadapi Knives, yang baru diputuskannya, ketika sang mantan kekasihnya tersebut ternyata masih belum dapat menerima kenyataan bahwa ia telah diputuskan oleh Scott.

Kisah yang sederhana, namun di satu sisi, Edgar Wright berhasil menjadikan Scott Pilgrim vs. the World sebagai sebuah kisah yang dapat terhubung dengan baik kepada setiap penontonnya, khususnya para penonton muda. Kekuatan utama film ini ada pada kelihaian Wright untuk melengkapi kesederhanaan jalan cerita Scott Pilgrim vs. the World dengan tampilan visual yang sangat memukau. Untuk menampilkan berbagai adegan laga antara Scott dengan ketujuh mantan kekasih Ramona, Wright menggunakan perpaduan visualisasi a la video game sekaligus novel grafis. Hal ini terbukti berhasil. Dengan warna-warna terang yang dipilihkan oleh Wright, Scott Pilgrim vs. the World menjadi sebuah film yang sangat menarik.

Tentu saja, tampilan yang indah tidak begitu saja dapat menutupi berbagai kelemahan yang terdapat di dalam naskah cerita film ini. Yang paling utama adalah masalah minimnya karakterisasi yang dilakukan Wright terhadap setiap karakter yang ada di dalam jalan cerita film ini. Wright terlihat terlalu berfokus pada kisah pertarungan antara Scott dengan para mantan kekasih Ramona sehingga tidak sama sekali tidak memberikan kesempatan pada karakter-karakter yang ada untuk diperkenalkan secara emosional kepada setiap penontonnya, termasuk karakter Scott Pilgrim sendiri. Ini menyebabkan keterikatan antara penonton dengan para karakter yang ada di dalam jalan cerita sangat minimal dan membuat mereka menjadi mudah untuk dilupakan.

Kisah utama film ini, pada dasarnya, adalah mengenai kisah Scott yang berusaha untuk memenangkan hati Ramona dengan mencoba untuk menghadapi berbagai kisah masa lalunya yang sepertinya mencoba menghalangi hubungan mereka. Ide untuk menampilkan hal tersebut dalam bentuk pertarungan a la video game sebenarnya cukup cerdas, namun Wright sayangnya terlalu berfokus pada penampilan visual film ini daripada kisah romansa antara Scott dan Ramona itu sendiri. Setelah beberapa saat, perjuangan Scott yang pada awalnya terlihat menarik perlahan mulai terasa membosankan untuk diikuti.

Namun, rasanya tidak ada masalah yang lebih besar daripada masalah yang terjadi akibat kebosanan yang timbul ketika melihat Michael Cera masih memainkan peran yang sama seperti peran-peran yang ia tampilkan di seluruh karirnya. Sebagai Scott Pilgrim, Cera masih terlihat seperti seorang pria lugu dan kikuk yang pernah diperlihatkannya pada Superbad (2007), Juno (2007), Nick & Norah’s Infinite Playlist (2008), Year One (2009) dan Youth in Revolt (2010) — masih dengan aksen yang sama, cara berbicara bergumam yang sama dan tingkah laku yang sama.

Di luar Cera, para jajaran pemeran film ini cukup mampu tampil sangat menarik. Kieran Culkin, yang berperan sebagai Wallace, teman sekamar Scott Pilgrim yang gay, mampu mencuri perhatian di setiap kehadirannya di dalam jalan cerita. Hal yang sama juga mampu dilakukan Anna Kendrick, yang berperan sebagai adik Scott, Stacey Pilgrim, yang walaupun mendapat waktu tampil yang minimal, namun tetap berhasil menghidupkan jalan cerita. Kekuatan lain film ini juga datang dari musik-musik pilihan Nigel Godrich yang mampu mengisi setiap adegan dengan sangat baik.

Tampilan visual yang sangat mengagumkan – lewat visualisasi yang dirupakan seperti sebuah pertarungan di dalam video game – memang menjadi keunggulan utama Scott Pilgrim vs. the World. Wright dengan sangat baik menonjolkan keunggulan ini dan membuat film ini terlihat menarik. Di sisi lain, tidak akan ada yang dapat menyangkal bahwa jalan cerita Scott Pilgrim vs. the World berjalan terlalu sederhana serta tanpa adanya ikatan emosional yang datang dari setiap karakternya. Karena jalan cerita yang dangkal ini pula, beberapa orang akan mengalami kebosanan, khususnya pada 30 menit sebelum kisah film ini berakhir. Masih dapat dinikmati, namun seharusnya dapat tampil lebih baik lagi.

Rating: 3 / 5
LuciferScream - 01/12/2010 10:09 PM
#307
666
[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
dari awal sampe pertengahan gw suka filmnya, tapi makin kemari makin bikin gw bosen.

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
sorry guys, not my cup of blood

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
efeknya mantep, sisanya sucks. terutama tokoh utamanya yg berakting mirip aktor sinetron cinta kamila nohope:

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
yip yip...
bwindotcom - 01/12/2010 11:00 PM
#308

Role Models

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Tentang 2 orang sahabat (Danny & Wheeler) yang bekerja di sebuah perusahaan minuman energi. Karena mereka berkelahi dengan sopir derek truk, Danny & Wheeler di hukum. Mereka lebih memilih program sayang anak bernama Big Brother dari pada berada dipenjara. Alhasil mereka pun di tugasi berpasangan dengan anak dari program tsb sampai masa hukuman mereka berakhir.


Rate : 7/10
Hafilova - 02/12/2010 12:07 AM
#309

Kidnapper / Bang fei (2010)
[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

‘parent will do anything for their children’,… ‘when their children are happy, they are happy, when their children cry, they cry’….’a child with no parents is called orphan, there is a name for that, but a parent with no child is not called anything, not even qualified to be given a name to be respected’

Story: Ah Huat (Christopher Lee) mungkin bukanlah sosok orangtua ideal, ia hanya duda yang hidupnya pas-pasan dengan bekerja sebagai seorang supir taksi, namun jangan ragukan bagaimana ia mencintai putra semata wayangnya, Wei Siang (Jerald Tan), ya, Ah huat sangat menyangi putranya itu, semuanya terlihat disaat Wei Siang menjadi korban salah culik yang dilakukan oleh residifis bernama Ah Hu (Jack Lim) yang kemudian meminta uang tebusan sebesar S$1,000,000 dalam waktu 36 jam atau Ah Huat akan kehilangan Wei Siang. Maka dimulailah kisah perjuangan seorang ayah yang rela melakukan dan mengorbakan segalanya untuk menyelamatkan putra tercintanya.........


Review: Kidnapper bisa dibilang adalah film ambius dari sebuah negara kecil bernama Singapore. Mencoba mengusung premis menarik tentang penculikan dan hubungan ayah anak, film drama thriller besutan Kelvin Tong ini sebenarnya memiliki potensi untuk bisa tampil jauh lebih baik jika tidak membiarkan dirinya terjebak dalam plot yang terlalu bertele-tele dan penuh dengan momen serba kebetulan ala sinetron-sinetron Indonesia. Bahkan sejak awal saja Kidnapper sudah melalukan sebuah kesalahan fatal disaat sang penculik dengan bodohnya tetap menculik anak yang salah, bahkan anehnya setelah ia mengetahui bahwa yang diculiknya hanyalah anak seorang supir taksi sang penculik dengan percaya dirinya tetap saja meneruskan usahanya untuk meminta tebusan dalam jumlah besar yang jelas tidak mungkin di miliki dalam waktu hanya 36 jam untuk seorang yang bekerja sebagai supir taksi.

Ya, apa mau dikata, meskipun dimulai dengan berantakan, toh saya tetap harus melanjutkan film ini hingga habis karena sudah terlanjur penasaran dengan bagaimana nasib sang anak. Untung saja selanjutnya ternyata not so bad. Beberapa adegan tersaji cukup menarik dan menegangkan dengan tempo naik turun, plus beberapa momen melodrama yang (seharusnya) mengaharukan, namun tetap saja harus diakui adegan-adegan tersebut terkesan terlalu lebay atau berlebih-lebihan dalam penggarapannya sehingga cukup menganggu kenyamanan menonton. Jika ada satu hal yang bisa dibanggakan dalam Kidnapper mungkin adalah akting dari para pemain-pemainnya, khususnya penampilan kuat dari Christopher Lee yang mendominasi hampir keseluruhan film dengan aktingnya yang kuat.

Overall, Kidnapper sebenarnya tidak terlalu buruk untuk ukuran drama thriller penculikan, apalagi mengingat film yang hanya berbiaya 1,5 juta dollar ini mampu menyampaikan pesan tentang kasih sayang seorang ayah dengan cukup baik lengkap dengan elemen-elemen mengangakan dan melodrama yang sayangnya digarap terlalu berlebihan.

6,5/10
m4rk3zo - 02/12/2010 12:15 AM
#310

situasinya ndak amn to gan
hakeemjuiceboy - 02/12/2010 12:31 AM
#311

Quote:
Original Posted By comANDRE
karena babies udah keburu turun, akhirnya tadi nonton rapunzel / tangled o

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

setelah gagal di film The Princess and the frog tahun kemarin, kali ini disney strikes back!

ingat bagaimana animasi klasik disney dulu terkenal dengan kehalusannya?
nah kali ini mereka menggabungkannya dengan CGI 3D!

menambah daftar panjang Disney Princesses, kali ini giliran Rapunzel dari cerita Grimm bersaudara diangkat ke animasi layar lebar (walaupun sebelumnya sempet muncul di shrek sebagai figuran)

dengan alur cerita mirip2 aladdin/ snow white/ sleeping beauty, tapi prince charming diganti dengan tokoh pencuri ganteng, Flynn Rider

dan kalo shrek punya donkey, rapunzel punya maximus, si kuda gila D
lalu juga ada Pascal seekor bunglon imut yang lucu
duet 2 hewan lucu ini menambahkan kesegaran dalam film Rapunzel,
dijamin ngakak sepanjang film D
dan mandy moore pas banget ngisi suara si putri Rapunzel, terutama pas bagian nyanyinya genit:

film ini bener-bener menyajikan best of both worlds, antara animasi klasik khas disney dipadukan dengan animasi cgi 3D.

5/5 dari gw,

cucok buat hiburan wiken ini bersama keluarga \)


sependapat dah sama agan yg satu ini, brusan nonton itu juga soalnya D

THE BEST 3D ANIMATION MOVIE I'VE EVER SEEN:
1. Toy Story 3D
2. Legend Of The Guardians
3. RAPUNZEL

ga heran kalo imdb pun ngasi rating 8.3/10 untuk film animasi ini
cuma kalo saya ngasi rating: 9/10!

film yg 3D nya ga perlu diragukan lagi, mantap!
Full of comedy, inspiration, and romance
paling saya suka ya bagian komedi (bikin ngakak sumpah!) sama bagian romantisnya, aduuuh sampe segedung kedenger suara, "aaaww....."
n.e.V.e.r.landz - 02/12/2010 08:04 AM
#312

wah mantap'' semua gan
iloveindonesia
Celest - 02/12/2010 10:10 AM
#313

Quote:
Original Posted By ramirezhate
JIFFEST 2010: Bal (Honey)

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

"Dreams are not told aloud" [B]~ Yakup[/B]

Film yang paling kusuka tahun 2010 ini. Udah nonton semua bagian triloginya juga.
skung - 02/12/2010 10:15 AM
#314

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

bagus, tp ngga sebagus yang pertama ... 7.5/10

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

cukup bagus but nothing special ... 6.5/10
newginafets - 02/12/2010 11:09 AM
#315

Sedihnya ada yg gak suka Cinema Paradiso \(
morsh88 - 02/12/2010 11:56 AM
#316

Quote:
Original Posted By newginafets
Sedihnya ada yg gak suka Cinema Paradiso \(


ikutan sedih deh \(
aerorun3 - 02/12/2010 12:00 PM
#317

Quote:
Original Posted By newginafets
Sedihnya ada yg gak suka Cinema Paradiso \(


Mana om?[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
hyperion_lynx - 02/12/2010 12:38 PM
#318

Review: Monsters (2010)

Kesuksesan luar biasa Cloverfield (2008) dan District 9 (2009) ternyata mampu membuat sebuah standar tersendiri dalam proses pembuatan film, khususnya terhadap film-film ber-genre science fiction yang menggunakan makhluk extraterrestrial sebagai bagian dari penceritaannya. Para pembuat film ini, mampu belajar banyak bahwa dengan dana yang ‘seadanya,’ mereka mampu memaksimalkan penceritaan, termasuk dengan tetap menyediakan special effects yang tentunya tidak dapat dipandang sebelah mata begitu saja. Namun, tentu saja, dengan standar kualitas tinggi yang telah ‘diterapkan’ oleh kedua film tersebut, film-film science fiction dengan bujet kecil yang dirilis setelah Cloverfield dan District 9 mau tidak mau harus menerima untuk dibandingkan dengan kedua film tersebut.

Di tahun 2010, sutradara asal Inggris, Gareth Edwards, kembali membuktikan bahwa dana yang seadanya tidak akan menghalangi proses kreativitas dalam menghasilkan kualitas terbaik sebuah film. Dengan dana yang tidak mencapai US$500.000, Edwards menghasilkan Monsters, sebuah film science fiction yang lagi-lagi mengekspos mengenai penyerangan makhluk luar angkasa asing ke Bumi, lengkap dengan special effects yang sangat meyakinkan, dan ditambah dengan kemampuan akting para pemerannya, menjadikan film tersebut sebagai sebuah pencapaian yang cukup dapat dibanggakan.

Konflik cerita sendiri bermulai ketika kapal luar angkasa NASA secara tidak sengaja jatuh di wilayah Meksiko. Bukan masalah yang terlalu besar sebenarnya, jika pesawat tersebut tidak membawa sampel kehidupan makhluk luar angkasa. Jatuhnya sampel kehidupan makhluk luar angkasa tersebut ternyata berdampak fatal dengan membuat berbagai makhluk yang menyerupai alien hidup tersebar di atas permukaan Bumi. Penyebaran ini telah menyebabkan sebagian wilayah perbatasan Amerika Serikat-Meksiko menjadi wilayah yang dikarantina pemerintah karena telah dikuasai makhluk asing tersebut.

Dua tokoh protagonis kemudian diperkenalkan melalui Andrew (Scoot McNairy), seorang fotojurnalis, yang ditugaskan pemimpinnya untuk menjemput putrinya, Samantha (Whitney Able), dari Meksiko untuk kembali ke Amerika Serikat. Pada awalnya, perjalanan berjalan lancar ketika Andrew berhasil membelikan tiket kepulangan Samantha ke Amerika Serikat. Sialnya, ketika waktu keberangkatan, Andrew malah menghilangkan paspor dan tiket Samantha, yang menyebabkan Samantha tidak dapat berangkat. Mau tidak mau, karena perbatasan akan segera ditutup dan kemungkinan akan dibuka kembali pada enam bulan ke depan, Andrew dan Samantha terpaksa memilih jalur darat untuk kembali ke Amerika Serikat. Jelas saja, berbagai halangan siap menghadang mereka, khususnya ketika keduanya harus melewati daerah yang dikarantina karena merupakan satu-satunya jalur darat yang ada untuk mencapai Amerika Serikat.

Harus diakui, dengan dana yang terbatas, Gareth Edwards mampu menampilkan special effects yang terlihat meyakinkan untuk menggambarkan berbagai makhluk asing yang berlalu lalang dalam menyerang Bumi. Special effects dalam menampilkan berbagai makhluk asing ini, serta dalam menampilkan berbagai adegan aksi yang terjadi di sepanjang jalan cerita, dibuat dengan tampilan yang sangat mewah sehingga dipastikan tidak ada seorangpun yang percaya bahwa Edwards menggarap special effects untuk Monsters melalui teknologi sederhana yang ada di rumahnya.

Tidak hanya melulu mengutamakan tampilan special effects, Edwards juga berhasil dalam menggarap jalan cerita yang cukup menarik untuk diikuti. Seperti halnya District 9 ataupun Avatar (2009), Monsters merupakan sebuah film science fiction yang menyediakan jalinan kisah romansa antara karakternya dengan porsi yang cukup besar. Sayangnya, tidak seperti District 9, kisah romansa yang dihadirkan oleh Edwards di Monsters harus diakui berjalan kurang terlalu menggigit, entah itu karena Monsters terlalu berfokus pada kisah kehidupan Bumi yang sedang berada dalam kekuasaan para alien atau memang karena kisah percintaan antara Andrew dan Samantha berjalan datar tanpa adanya faktor yang terlalu istimewa dari kisah romansa tersebut.

Chemistry yang tercipta antara kedua pemeran utamanya, Scoot McNairy dan Whitney Able, juga terasa sangat minimal. Kedua pemeran tersebut lebih condong untuk menghidupkan karakter yang mereka perankan daripada berupaya untuk membuat tampilan hubungan mereka berdua terlihat menyentuh dan nyata. Karakter keduanya yang tidak terlalu simpatik juga membuat Monsters berlalu dengan cepat tanpa adanya kesan yang berarti dari kisah kehidupan dua karakter tersebut. Sangat disayangkan ketika Edwards terlihat mampu menghidupkan karakter-karakter alien secara nyata, namun gagal dalam ‘memanusiakan’ karakter-karakter manusia dan membuat mereka justru menjadi kurang dapat begitu disukai.

Berbeda dengan film-film science fiction lainnya, Monsters lebih cenderung mengutamakan kisah drama perjalanan antara kedua tokoh utamanya daripada kisah fiksi mengenai makhluk luar angkasa yang menyerang Bumi dan meletakkannya ‘hampir’ hanya menjadi latar belakang cerita. Sayangnya, dari segi visual, justru latar belakang makhluk asing itu yang terlihat menonjol jika dibandingkan dengan kisah romansa para karakternya, dimana kisah tersebut berjalan terlalu datar dengan karakter-karakter yang tidak terlalu menarik simpati untuk disimak kisahnya. Mereka yang memang mampu menyelami aliran kisah drama Monsters kemungkinan besar dapat menikmati film ini dengan baik. Namun secara keseluruhan, Monsters masih terlihat terlalu datar untuk dianggap sebagai sebuah film yang dapat menawarkan sesuatu yang berbeda.

Rating: 3.5 / 5
JonaP_1st - 02/12/2010 02:02 PM
#319

Frozen (2010)

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

good script and screenplay, green knows how to optimized its budget without giving them too much blood and gore. and i love how the characters show a strong relatioships between them. but still. this film its not for everyone, some people will find it too boring..

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
morgue - 02/12/2010 05:10 PM
#320

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

3/5

instalment ketiga, si jacob makin mirip homo, dan bella makin ngeselin plus labil, untung tertutup sama spesial efeknya yang udah lumayan gak norak lagi plus lagu lagu soundtracknya yang makin mantep, yep, cuman itu yang bikin film ini mau gw tonton, oiya dan pertanyaan besar nih di benak gw dari awal tahu twilight, kapan si edward ML ma si bella??? gw nunggu2 loh genit:
Page 16 of 500 | ‹ First  < 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 >  Last ›
Home > LOEKELOE > MOVIES > [Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part 2