MOVIES
Home > LOEKELOE > MOVIES > [Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part 2
Total Views: 448311 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 4 of 500 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›

sirius.jack - 26/11/2010 10:40 AM
#61

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Plot: Dunia sihir semakin gawat dan tidak terkendali akibat ulah Voldie dan kawan-kawan. Harry, Ron dan Hermione yang seharusnya berada di Hogwarts untuk menyelesaikan tahun terakhir mereka, akhirnya harus mengemban tugas berat dari Albus Dumbledore mencari horcrux yang tersisa untuk dihancurkan. Di sisi lain, Voldie sangat terobsesi mencari tongkat The Elder Wand yang sangat berbahaya untuk membunuh Harry. Maka petualangan 3 sekawan kita dalam mencari horcrux berujung pada Relikui Kematian yang salah satunya merupakan The Elder Wand.

Critic Consensus: Lagi-lagi Harry Potter dan bla bla bla. Mereka yang bukan fans pasti akan berkata demikian. Sementara para fans pasti dengan setia menunggu aksi-aksi di dunia sihir tersebut dengan rela mengantri di gedung bioskop. Dan Warner Bros tampaknya cukup serakah dalam membaca keinginan pasar tersebut dengan membagi seri terakhir ini menjadi 2, Part I dan Part II dengan alasan tidak ingin kehilangan momen terbaik di dalam buku akibat membundel 1 buku tebal ke dalam film berdurasi 2.5 jam saja. Maka David Yates kembali ditunjuk menjadi komandan film ini untuk ketiga kalinya. Memang di sini Yates benar-benar menunjukan tajinya setelah seri ke-5 tampil biasa saja dan seri ke-6 cukup mengalami peningkatan dari segi kualitas. Untuk seri 7 Part I ini, Yates patut diacungi jempol. Cerita yang menawan, karakter-karakter yang sangat hidup, intrik-intrik antar karakter yang sangat terbangun, setting kelam yang dahsyat serta tidak lupa adegan-adegan breathtaking yang dibangun dengan sinematografi cadas dan CGI yang superb. Alur lambat yang dibangun di pertengahan film tidak mengganggu penonton merasa boring. Justru Yates sanggup membangun emosi penonton dan merasakan amarah, kesedihan, perasaan suka cita serta cinta yang dibangun dalam karakter Harry, Ron dan Hermione lewat adegan-adegan lambat tersebut. Hal itu juga tidak lain dari akibat permainan brilian yang ditampilkan Radclife, Grint dan Watson. Karakter dan permainan mereka semakin dewasa dan matang. Ditambah cast-cast superstar Britania Raya yang melengkapi film ini. Akting-akting menawan para bintang tersebut sangat terasa walau beberapa dari mereka rela hanya untuk tampil untuk beberapa adegan. Yates pun tidak lupa menampilkan hal-hal remeh tampak tidak penting yang justru ditampilkan dengan sangat touching melengkapi cerita yang tidak hanya melulu membahas misi pencarian horcrux. Gurauan-gurauan Ron yang mengundang senyum, tangisan-tangisan Hermione serta bagaimana Ginny meminta tolong Harry untuk menaikan resleting gaun Ginny yang terbuka. Khusus untuk Hermione dan Ginny, karakter mereka ditampilkan dengan dewasa dan cukup hot. Apalagi wajah cantik Watson yang selalu terpampang dilayar dengan busana sexy dan trendi yang selalu melekat menjadi poin plus yang tidak bisa ditawar lagi. Jangan lupa juga adegan topless Watson sambil berciuman hot dengan Radclife. Tidak salah jika Watson untuk tahun-tahun berikut akan menjadi simbol hot idaman bagi para batangan. Score yang dihadirkan pun sangat berkelas dan sanggup membangun emosi. Terutama ketika Hermione menghapus memori ingatan akan dirinya terhadap kedua orang tuanya. Overall, seri 7 Part I ini menjadi salah satu sajian terbaik dari seri-seri Potter. Tidak sabar rasanya menanti Part II dan berharap minimal kualitasnya setara dengan Part I ini, bahkan lebih. Best scene? Adegan ketika Harry dan Hermione berdansa di tenda dengan alunan musik yang asik,,,,Absolutelly very very touching scene!!!

Overall: 9

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
morgue - 26/11/2010 10:40 AM
#62

Quote:
Original Posted By mangotrees
shakehand2Ane ikut gan..hahha menurut ane action-nya BERLEBIHAN terlalu canggih! Ratenya sama deh ikut sama aganmalu Gak demen film yg ending-nya gantungthink:


shakehand
bwindotcom - 26/11/2010 11:10 AM
#63

New in Town
[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Not good enough, agak agak membosankan ceritanya hammer:

Rate : 6,5/10
lightyear - 26/11/2010 11:26 AM
#64

Tokyo Twilight

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

simple story yet great
jadi pengen nonton film Ozu yang lain o

4 / 5


The Grapes of Wrath

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

sebuah keluarga petani yang diusir dari tanahnya sendiri
kemudian mereka pergi ke negara bagian lain untuk mencari pekerjaan baru. tapi nyatanya tidak hanya mereka yang membutuhkan pekerjaan

4 / 5
donpunk - 26/11/2010 11:36 AM
#65
Human Centipede (First Sequence)
[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Review:
Termasuk genre film tentang 'Mad Scientist', sudah terlalu banyak dibuat, tapi jujur yang satu ini dari segi originalitas boleh diacungi jempol. Ceritanya tentang mantan dokter yg khusus bedah pemisahan kembar siam, yang jadi gila. Punya niat untuk buat makhluk baru, lipan yang dibuat dari tiga orang manusia dengan cara menggabungkan sistem pencernaan tiga org tersebut menjadi satu sistem gastric. Caranya dengan menjahit anus org yg paling depan ke mulut org di belakangnya. Film nya ga penting dan cukup 'disturbing' buat saya. Nyesel nonton film ini. Untuk itu saya kasih rate:

2.5/10 >--- hanya untuk segi originalitasnya aja...
Celest - 26/11/2010 12:09 PM
#66

Applaus

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Sutradara: Martin Pieter Zandvliet
Pemain: Paprika Steen, Michael Falch, Otto Leonardo Steen Rieks, Noel Koch-Søfeldt, Lars Brygmann, Johanne Dam, Michael Kastrupsen, Uffe Rørbæk Madsen, Sara-Marie Maltha, Malou Reymann, Shanti Roney, Annette Rossing, Henriette Rossing, Nanna Tange

Tahun Rilis: 2009
Judul Internasional: Applause

Djenar Maesa Ayu, dalam cerpennya Saya adalah Seorang Alkoholik!, pernah memberikan gambaran tentang betapa kacaunya kehidupan seorang alkoholik. Tidak jelas arah tujuan. Tidak berpangkal, juga tidak berujung. Hanya berputar-putar di satu tempat yang tidak tentu. Applaus, film dari Denmark, mencoba menggambarkan betapa rumitnya usaha seorang wanita alkoholik untuk terbebas dari rotasi alkohol sekaligus mencoba mendapatkan kembali keluarganya.

Thea (Paprika Steen) adalah seorang aktris panggung, seorang wanita, dan seorang ibu. Sebagai seorang wanita, Thea sudah gagal (atau hancur). Thea seorang alkoholik, hidupnya sangat tidak teratur, dan pernikahannya sudah bubar sejak 18 bulan yang lalu. Sebagai ibu, Thea pun sudah sangat gagal. Sikap alkoholik Thea membuatnya menjadi sosok yang tidak baik bahkan bagi kedua putranya sendiri. Tidak heran Thea tidak bisa bertemu dengan mereka sejak perceraian. Sebagai aktris panggung, Thea menang. Bahkan ketika memerankan tokoh Martha, wanita yang agresif, depresif, dan terluka, dalam drama Who's Afraid of Virginia Woolf? (pernah difilmkan di tahun 1966), Thea tetap mendapat tepukan.

Sebagai seorang ibu, jelas Thea merindukan kedua putranya. Thea menjalani rehabilitasi, dan Thea sudah merasa pulih dari kecanduan alkohol. Untuk itu, Thea menemui mantan suaminya, Christian (Michael Falch), untuk meminta izin bertemu dengan kedua putranya. Christian, yang selain merasa ibu tentu juga tahu perasaan Thea, mengizinkan mantan istrinya tersebut bertemu sebentar. Rindu juga candu, dan Thea merasa bertemu sebentar tidak cukup mengobati. Sayangnya Christian merasa belum yakin Thea benar-benar sembuh, sehingga kedua anaknya aman ditinggalkan bersamanya.

Secara tidak langsung, tokoh Martha yang diperankan Thea berhubungan dengan kehidupan nyatanya sendiir. Keduanya sama-sama wanita yang sedang kacau, sedang hancur, dan sedang bermasalah dengan prianya. Martha menjadi cerminan diri bagi Thea sendiri.

Sebuah character driven film adalah ajang yang tepat bagi seorang aktris/aktor untuk membuktikan kualitasnya, dan Paprika Steen sadar akan hal itu. Di film ini, Paprika Steen memerankan tokoh yang sangat kompleks, yang pastinya bakal jadi incaran aktris wanita manapun yang mau membuktikan aktingnya. Paprika Steen memerankan tokohnya dengan sanagt detil, luar dan dalam. Aktris Denmark ini sangat berhasil menggambarkan kehidupan bar Thea, kehidupan panggungnya, dan usaha Thea merapikan kembali puin-puin kehidupannya. Menurut saya, ini lah penampilan pemeran wanita terbaik di 2009 lalu. Sandra Bullock? Boleh lewat. Kalau Anda menikmati intensitas penampilan Gena Rowlands di A Woman Under the Influence, kemungkinan besar bakal menikmati penampilan superb Paprika Steen di Applaus.
Celest - 26/11/2010 12:11 PM
#67

Moszkva tér

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Sutradara: Ferenc Török
Pemain: Gábor Karalyos, Erzsi Pápai, Eszter Balla, Vilmos Csatlós, Simon Szabó, András Réthelyi, Bence Jávor, Zsolt Kovács, Ilona Béres, Imre Csuja, Zsanna Éry-Kovács, Fanni Halmi, Dávid Szanitter, Péter Kovács, János Nemes

Tahun Rilis: 2001
Judul Internasional: Moscow Square

1989 adalah tahun yang penting bagi sejarah Hungaria. Tahun tersebut adalah setahun seusai turunnya jabatan János Kádár, seketaris negara Hungaria dari partai Komunis. Tahun tersebut adalah tahun jatuhnya Komunisme di Hungaria (juga di negara-negara lain di Eropa). Saya sama sekali kurang paham (bahkan benar-benar tidak paham) dengan sejarah politik Hungaria, maka dari itu saya tidak akan menjabarkan lebih detil soal politik-politikan ini. Yang pasti Moscow Square adalah film yang sangat menarik. Ya, film ini berbau politik, tapi hanya sebagai setting. Secara keseluruhan film ini lebih kepada potret kehidupan bebas remaja di era jatuhnya komunisme Hungaria itu.

Moscow Square menyuguhkan cerita yang sangat menarik, bahkan salah satu film tentang remaja dan pendidikan yang paling menarik di dekade belakang. Sekalipun 1989 adalah tahun yang penting bagi Hungaria, Petya (Gábor Karalyos) dan Kigler (Vilmos Csatlós), dua sahabat sama sekali tidak ambil pusing soal tetek-bengek politik. Mereka tipikal remaja yang tidak mau dipusingkan oleh persoalan semcam itu (agak mengiatkan pada saya sendiri karena saya agak bosan menonton berita soal perpolitikan-perpolitikan Indonesia). Keduanya tipe-tipe remaja yang berjiwa bebas. Mereka bergaul dengan geng mereka, berpesta, mabuk, seks, dan melakukan tindakan-tindakan konyol ala pemuda-pemuda setipe mereka.

Petya dan Kigler masih duduk di bangku SMA. Dan tahun 1989 adalah tahun terakhir mereka di SMA, yang artinya mereka akan lulus di tahun tersebut. Masalah mulai muncul ketika perubahan sistem komunis menjadi sistem pasca-komunis memengaruhi pendidikan mereka. Perubahan ini mempunyai dampak jelas bagi kelulusan mereka, ada yang baik dan ada yang buruk. Berbagai usaha mereka lakukan demi kelulusan (sekalipun keduanya bukan pelajar yang teladan, tentu mereka juga menginginkan kelulusan), mulai dari mendapatkan bocoran soal ujian, sampai nyontek dan membuat catatan kecil. Bahkan salah satu guru mereka membantu.

Moscow Square ditampilkan dari sudut pandang Petya. Petya adalah sosok yang lebih sensitif , semetara Kigler adalah sosok yang lebih bebas-lepas. Keduanya merupakan kombinasi umum untuk film setipe ini, dan digambarkan dengan sempurna oleh Gábor Karalyos dan Vilmos Csatlós. Petya mempunyai bakat melukis, dan membuat tiket kereta palsu. Mereka menjual tiket palsu untuk mendapatkan uang tambahan. Selain potret kehidupan bebas keduanya dan masalah pendidikan yang mereka hadapi, film ini juga menampilkan situasi (baca: “situasi” bukan “masalah”) personal masing-masing. Kigler adalah putra seorang dealer mobil yang sama bebasnya dengan anaknya. Sementara Petya hanya tinggal bersama neneknya. Situasi ini juga digambarkan dengan cukup tepat, terutama hubungan Petya dan neneknya yang menurut saya sangat ber-chemistry. Dan ya, ada kisah cinta juga antara Petya dan Zsófi (Eszter Bella), teman sekelasnya yang menurut saya mirip dengan Arumi Bachsin (tapi yang di film Hungaria ini lebih cantik).

Secara politikal dan historikal, Moscow Square mungkin berusaha menggambarkan keletihan dan kebingungan kamu pemuda (generasi muda) di masa transisi dari era komunis menajad pasca-komunis tersebut. Setipe dengan Goodbye, Lenin! Untuk urusan transisi tersebut, saya boleh bilang Moscow Square lebih menarik ketimbang Goodbye, Lenin! Berbeda dengan Goodbye Lenin!, yang merupakan tragicomedy dengan plot yang tersusun rumit, Moscow Square sama sekali tidak terasa berklimaks. Film ini lebih mirip slide show dari pengalaman-pengalaman Petya dan Kigler dari mulai menjelang masa ujian hingga pasca ujian. Dan ya, pertunjukan pengalaman demi pengalaman sangat berhasil memberikan gambaran naturalistik tentang kedua remaja ini. Moscow Square bisa jadi tontonan yang menarik bagi para mahasiswa ilmu sosial tentang pengaruh transfomasi zaman.

Lantas bagaimana dengan penonton yang kosong sama sekali perihal komunisme Hungaria? Saya rasa Moscow Square tetap bisa dinikmati. Saya sendiri buktinya. Pada dasarnya film ini menunjukkan tentang betapa bebasnya kehidupan Petya dan Kigler sebagai remaja, betapa tidak peduli dan tidak mau tahunya mereka tentang sistem, aturan, bahkan situasi sekitar. Dan pada akhirnya, mereka sedikit belajar untuk tahu. Saya sendiri bisa melihat beberapa cerminan diri saya ketika masih duduk di bangku SMA. Masalah soal bocoran itu misalnya, membuat contekan, bahkan meminta bantuan guru ketika ujian, dan berbagai kecurangan lainnya. Saya ingat, ketika UAN SMA, ada beberapa guru yang dengan baik memberikan bantuan secara diam-diam. Apakah hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu pun sistem yang tidak ada berlubang? Apakah itu akibat dari perubahan zaman? Atau memang pada dasarnya sistem itu sendiri memang dibuat untuk dilanggar?
Celest - 26/11/2010 12:16 PM
#68

Elephant

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Sutradara: Gus Van Sant
Pemain: Alex Frost, Eric Deulen, John Robinson, Timothy Bottoms, Matt Malloy, Elias McConnell, Nathan Tyson, Carrie Finklea, Kristen Hicks, Brittany Mountain, Jordan Taylor, Nicole George, Alicia Miles, Bennie Dixon

Tahun Rilis: 2003

Elephant adalah sebuah film yang patut dipuji karena keberaniannya, apalagi mengingat film ini diproduksi oleh Hollywood. Pujian tersebut terutama ditujukan pada keberanian Gus Van Sant menyuguhkan tontonan non-naratif, non-linear, dan tidak biasa. Gus Van Sant mengemas Elephant dengan adegan-adegan stylish yang tidak wajar, slow-paced, multiple pointview, dan yang paling patut disoroti adalah long take yang sangat berani sekaligus berisiko. Kenapa berani? Dari segi komersial, berani karena penyuguhan Elephant yang tidak biasa ini bisa saja berakibat kejenuhan bagi tipe penonton mainstream yang tidak sabaran. Dari segi sinematik dan artistik, berani karena menyughkan sebuah tema yang rentan dengan cara yang rentan pula.

Elephant adalah salah satu film yang menyajikan sebuah cerita fiksi yang didasarkan pada tragedi pembantaian Columbine High School di tahun 1999, yang dilakukan oleh dua orang siswa: Eric Harris dan Dylan Klebold. Aksi keduanya menewaskan 12 siswa, 1 guru, dan diakhiri dengan aksi bunuh diri masing-masing. Elephant menggambarkan tragedi pembunuhan tersebut dengan cara yang stylish dan cenderung artistik. Film ini mengikuti kegiatan beberapa siswa di sekolah pada hari-H pembunuhan: seorang siswa yang punya masalah dengan ayahnya yang alkoholik, seorang siswa dengan hobi fotografi, seorang atlit dan pacarnya, seorang siswi nerdy, seorang siswi anggota Gay-Straight Alliance, tiga gossip girl, seorang siswa kulit hitam, dan dua siswa pelaku pembantaian tersebut.

Dengan cara yang aneh dan jauh dari sentuhan diktat mainstream Hollywood, kamera Gus Van Sant membuntuti kegiatan beberapa siswa tersebut. Nyaris setengah durasi awal dihabiskan untuk adegan-adegan long take tentang siswa tersebut secara bergantian: berjalan di koridor sekolah, ngobrol satu sama lain, kantin, berganti seragam, dan lain-lain. Pada dasarnya adegan-adegan tersebut tidak terlalu berhubungan dengan inti utama Elephant. Dan sebagian penonton mungkin bakal merasa adegan-adegan tersebut bodoh dan mubazir. Tapi sebenarnya, saya menangkap, adegan-adegan long take ini sebenarnya ditujukan untuk memanipulasi kesadaran dan persepsi penonton. Dengan cara yang aneh juga, long take ini, entah bagaimana, seakan-akan juga ditujukan untuk memanipulasi timeline dalam cerita.

Dari segi dialog, Elephant bisa disebut film minim dialog. Ada sebuah gagasan bahwa dialog verbal di dalam sebuah film umumnya ditujukan untuk menghibur penontonnya. Maka minimnya dialog dalam Elephant memang bukan ditujukan untuk menghibur penontonnya, tapi ditujukan untuk memberikan sebuah gambaran lifelike. Dan ketika dialog muncul dalam Elephant, ketimbang dialog verbal, dialog tersebut lebih berupa persepsi tidak langsung dari pengucapnya. Dengan cara ini, Gus Van Sant mencoba menginformasikan realita di dalam tokohnya melalui sisi artistik (sinematografi, gaya minimalis, dan kerja kamera yang artistik), ketimbang tokoh tersebut menginformasikan langsung secara verbal.

Ketika sudah dihdapkan pada kasus pembantaiannya, Gus Van Sant lagi-lagi menantang persepsi penontonnya. Dalam salah satu wawancara, Gus Van Sant bahkan membebaskan penontonnya untuk menerjemahkan Elephant sesuai persepsi masing-masing. Mulanya, tepat ketika usai menonton film ini, yang saya tangkap dari Elephant adalah sebuah film yang menghadirkan nuansa realisme hari ketika pembantaian berlangsung. Adegan-adegan long take dari berbagai sudut pandang itu mulanya saya artikan sebagai media pembangunan mood dan pameran sisi artistik. Berhasil memang. Sederhana seperti itu. Tapi saya merasa tidak puas dengan penerjemahaan saya. Terlebih karena gaya artistik Gus Van Sant yang sangat sublime dan pertanyaan tentang kenapa Gus Van Sant lebih memofokuskan filmnya pada “akibat” ketimbang “sebab.” Kedua poin itu memancing rasa penasaran lebih jauh tentang makna filmnya. Saya rasa pasti ada makna lain yang lebih dalam yang bisa dipetik dari Elephant, sampai-sampai film ini pantas memenangkan Palme d'Or di Festival Film Cannes.

Lantas saya bertanya pada Google tentang makna judul film ini, membaca esai Susan Klebold tentang pembantaian yang dilakukan putranya, membaca kisah seputar pembantaian Columbine High School di tahun 1999, dan tentunya sedikit menghubung-hubungkan dengan pengetahuan yang pernah saya dapatkan di Psikologi UNDIP (FYI. dulu saya pernah kuliah setahun di Psikologi UNDIP sebelum memutuskan untuk ikut SNMPTN lagi dan pindah ke Teknik Kimia UNS). Menurut Gus Van Sant, judul Elephant ini diambil dari idiom “Elephant in the Room.” Menurut Wikipedia, idiom ini bermakna sebagai sesuatu yang sangat penting yang seringkali terabaikan (sengaja atau tidak), karena umumnya orang lebih mementingkan isu-isu yang lebih kecil dan cenderung tidak terlalu relevan. Hal ini sesuai dengan apa yang diutarakan Susan Klebold dalam esainya. Sesuai dengan judulnya, “I will never know why,” esai tersebut kurang lebih berisi tentang sisi yang terabaikan (tidak tertangkap) oleh Susan Klebold tentang kenapa putranya bisa melakukan tindakan keji seperti itu.

Di dalam esainya Susan Klebold menulis:

“Yes, he had filled notebook pages with his private thoughts and feelings, repeatedly expressing profound alienation. But we'd never seen those notebooks. And yes, he'd written a school paper about a man in a black trenchcoat who brutally murders nine students. But we'd never seen that paper.”

Lalu beberapa paragraf selanjutnya:

“Still, Dylan's participation in the massacre was impossible for me to accept until I began to connect it to his own death. Once I saw his journals, it was clear to me that Dylan entered the school with the intention of dying there. And so, in order to understand what he might have been thinking, I started to learn all I could about suicide.”

Saya rasa itu lah yang ingin disampaikan Gus Van Sant dalam Elephant (sesuai dengan judulnya). Alex (Alex Frost) dan Eric (Eric Deulen), dan tindakan mereka, dalam Elephant adalah perwujudan dari “elephant in the room.” Di awal-awal Gus Van Sant menunjukkan kegiatan normal beberapa siswa sampai akhirnya, tanpa memperingati penonton terlibih dahulu, dua dari mereka melakukan pembantaian di sekolah. Gus Van Sant jelas tidak bermain dengan metoda “sebab-akibat” yang seringkali digunakan Hollywood dalam film-film kriminal seperti ini. Dibantu dengan kekuatan artistik film ini, Gus Van Sant hanya menampilkan “akibat” (saya lebih suka menyebutnya “efek”) tampa benar-benar memberikan “motif” yang jelas. Tindakan ekstrim bisa terjadi kapan saja di mana saja dan seringnya tanpa kita sadari tanda-tandanya, bukan?

Bersambung ke postingan bawah....
Celest - 26/11/2010 12:17 PM
#69

Motif (“sebab”) adalah salah satu hal yang menarik dari Elephant, terutama karena film ini sendiri sama sekali tidak memberikan motif yang kuat atas pembantaian tersebut. Bisa saja dikatakan Alex melakukan pembantaian karena bullying yang dirasakannya di sekolah, seperti yang ditunjukkan di salah satu adegan ketika Alex dilempari (semacam) permen karet secara diam-diam di dalam kelas. Atau, ada sebuah adegan ketika Alex dan Eric menunjukkan ketertarikan pada Adolf Hitler, bisa saja ini menunjukkan sisi psikologis, ketidaksesuaian nilai sosial, dan minimnya empati dari kedua tokoh tersebut. Dua poin tersebut cukup sesuai dengan kasus yang jadi inspirasi film ini. Berbagai debat seputar motif Dylan dan Eric dalam kasus pembantaian Columbine High School sudah dilakukan, dan pada kasus ini, sayangnya, tidak bisa ditarik kesimpulan yang benar-benar tepat. Simpelnya karena kedua pelaku melakukan aksi bunuh diri di akhir pembantaian. Motif-motif yang jadi kemungkinan antara lain: iklim sosial sekolah, bullying, goth subculture, perwujudan Neo-Nazi, kemungkinan psikopatologis, hingga musik (pop culture).

Sama seperti kasus sebenarnya, Elephant tidak benar-benar menegaskan salah satu atau keduanya sebagai motif. Sebagian besar yang diperlihatkan dalam Elephant hanyalah “sebab,” atau efek, dari kompetisi postmodern dalam wadah sekolahan. Bicara tentang kompetisi postmodern sekolahan, tentu saya harus menelaah ulang kembali tiap-tiap tokoh yang dihadirkan dalam Elephant–karena tokoh-tokoh tersebut bisa saja ditujukan (atau diartikan) sebagai perwakilan dari kode-kode sosial yang ada. Kompetisi sosial di sekolahan ini bahkan sudah hadir sebagai sebuah paradoks yang tidak dapat dinegosiasi lagi. Ada siswa yang mampu selamat dari kompetisi ini (sebut saja: Elias, Nathan, John, dan Carrie), ada juga siswa yang sayangnya tidak mampu selamat dari kompetisi ini (sebut saja: Alex, Eric, dan Michelle).

Kompetisi ini bisa berdampak macam-macam, baik bagi pemenang maupun yang kalah. Dampak tersebut bisa berupa kebosanan sosial, kegelisahan sosial, hingga anarkisme. Dari tokoh Michelle saya mendapatkan efek berupa kegelisahan. Sedangkan dari Elias, si fotografer, saya menangkap dampak kebosanan. Ada Acadia, gadis yang merupakan anggota Gay-Straight Alliance. Ingat, orientasi seksual (subkultur LGBT) juga merupakan bagian dari kompetisi. Di awal film, ada adegan Elias memotret dua pasangan punk. Dalam kasus ini, punk bisa diartikan sebagai sebuah subkultur, bisa juga diartikan dari sisi fashion–karena fashion juga merupakan poin dalam kompetisi tersebut, dan punk bisa dijadikan salah satu cara untuk selamat. Dan bicara soal fashion sebagai bagian dari kompetisi, tiga gossip girl (Brittany, Jordan, dan Nicole) bisa dijadikan sebagai simbolismenya. Brittanny, Jordan, dan Nicole, ketiganya menggosip, mengumpat, dan diakhiri dengan adegan bulimia di toilet sekolah–hal tersebut merupakan upaya untuk bertahan dalam kompetisi postmodern di sekolahan tersebut. Nathan dan Carrie, dua pasangan sempurna di film ini, adalah wujud dari pemenang nyata kompetisi. Ketika Nathan melintasi ketiga gossip girl, salah satu dari mereka berseru, “He's so cute!” Lalu salah satu berkomentar, “Did she see you?” (ditujukan pada Carrie, paca Nathan), lalu dilanjutkan, “She hit a girl last time for that.” Hal tersebut menegaskan kompetisi postmodern tersebut. Dari sisi Nathan, menjadi pemenang ternyata bisa juga menimbulkan efek kebosanan. Sebagai bayarannya, tidak heran para atlit, siswa-siswa populer, top, dan terkenal seringkali melakukan bullying (sebagai pelarian dari kebosanan).

Motif yang dilakukan Leopold dan Loeb, mahasiswa yang melakukan pembunuhan hanya untuk membuktikan bahwa mereka mampu melakukan “the perfect crime,” bisa saja diartikan sebagai efek anarkis dari kebosanan. Dan untuk kasus Alex dan Eric, pelaku pembantaian dalam film ini, apa saja bisa dijadikan motif: kebosanan sosial ataupun kegelisahan sosial. Kegelisahan bisa diambil sebagai alasan mengingat tindakan bullying yang dirasakan Alex. Dan kebosanan pun bisa dijadikan sudut pandang lain melihat gambaran kegiatan sehari-hari yang dilakukan Alex dan Eric. Lagi-lagi, Gus Van Sant tidak benar-benar menegaskan yang mana yang paling berpengaruh. Yang benar-benar pasti, hasil akhirnya adalah sebuah tanggapan anarkis yang datang dari Alex dan Eric.
mangotrees - 26/11/2010 12:53 PM
#70
Wajib punya
The Karate Kid
[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Ini review Blitz:
Dre Parker (Jaden Smith) yang berusia 12 tahun harus pindah dari Detroit ke Cina bersama ibunya (Taraji P. Henson). Dre kemudian jatuh cinta dengan teman sekelas bernama Mei Ying, namun perbedaan budaya membuat hubungan mereka tampak mustahil. Lebih buruk lagi, perasaan Dre tersebut berbuah permusuhan dengan pengganggu kelas bernama Cheng. Tanpa teman di negeri asing, Dre berteman dengan petugas kebersihan bernama Mr Han (Jackie Chan), yang diam-diam ternyata memiliki kemahiran kung fu. Kala Han mengajarkan Dre kungfu bukan hanya tentang pukulan, tapi kematangan, saat itu juga Dre menyadari bahwa ia harus menghadapi Cheng dan kelompoknya.

Nilainya: 5/5
Spoiler for Ini review ane
Gak bapak gak anak dua2nya kerennncool: Pemain utamanya itu anaknya Will Smith namanya Jaden Smith..n ada Jackie Chan wohoo. Kebayang kan dijamin keren deh. Latar belakang ni film di China. Si Dre Parker (Jaden Smith) terpaksa harus pindah dari Detroit ke China. Tinggal di semacem rumah susun yg sederhana, semuanya serba rusak. Disini Jackie Chan ceritanya jadi semacem pengurus gedung merangkap2 teknisi tukang benerin ini itu.

Nah, baru juga sampe, Dre jalan-jalan..eh kepincut sama Mei Yingmalu: Gak taunya, si Mei Ying ini pacarnya anak2 senior sok jago di daerah sana (emang beneran jago sih kungfunya).

Habislah Dre babak belur dapet tendangan ciat ciet ciat kungfu china. Runyamnya lagi, mereka semua satu sekolah ternyata, n si Mei Ying itu murid kebanggaan sekolahnya dimana dia seorang pemain biola profesional. Setelah jadi bulan2an beberapa lama sama genk ni si anak2 jago kungfu yg badannya gede2. Dia akhirnya penasaran ikutin n ngintip ke tempat belajar mereka (FYI ternyata perguruan kungfu raksasa dengan guru yg super kejem). *anak murid sendiri bisa diajarin pukul musuh yg udah jatoh whattt!!????mads Maksudnya dia sih kalo memungkinkan dia juga mau belajar kungfu. Batal deh belajarnya, nyalinya ciut...

Nah berhubung si Dre ini juga anaknya rada nyolot n super berani, dia ngerjain mereka di jalanan. Keliahatan donk sama ini anak2, Dre dikejar pontang panting, dipojokin n dipukulin sampe hampir mati. Jeng jeng jeng muncullah Mr.Han (Jackie Chan) yg ternyata dia jago kungfu. Nah sejak itu Dre ngikutin terus minta diajarin kungfu.

Ternyata Mr.Han punya background suram. Dre bukannya diajarin kungfu. setiap hari cuma disuruh lepas pasang jaket aja di lapangan, gak boleh berenti sampe malem. Trus Mr.Han nya benerin mobil deh asik sendiri.

Gak nyangka ternyata buka lepas pasang jaket itu jadi gerakan kungfu super basic dari semua ilmu kungfu nantinya.

Sekian....biar penasaraniloveindonesia


-----------------------------------------------------------------------

Lanjut.............ngacir:

The Experiment : Perilaku Agresif dalam Penjara Buatan
[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

This is such a great movie:2thumbup Nah ini film sebenernya aslinya dari Jerman, tapi dibuat ulang sama Paul Scheuring creatornya Prison BreakD jadilah film Amerika.

Dimulai dari keadaan ekonomi yg gak memungkinkan, sekelompok orang mendaftar kan diri melalui iklan di koran, bahwa ada lowongan sebagai subject test. Test nya itu dibilang legal,tidak berbahaya, dan yg berhasil bertahan sampai finish dapat reward hadiah cash yg sangat besar $14,000 . Yg mendaftar motivasinya macem2, ada yg karena memang dari ekonomi lemah ngajar uangnya aja, ada yg mau tau krn suka tantangan, ada juga yg buat inspirasi bikin komik hueh?hammer:

Sekelompok orang ini bener2 berasal dari background yg beda, lingkungan yg beda, sifat dan latar belakang psikologis yg beragam. Mereka semua diinterview, dan ditest pakai semacam simulasi, disuruh nonton adegan sadis2 dan gambar acak terus menerus selama beberapa saat di dalam kapsul (ruangan kecil tertutup) lalu dipantau kerja otak dan denyut jantungnya.

Mereka kemudian yg diterima dikabarin diminta siap2 untuk dijemput ke semacam pengasingan, untuk mulai eksperimennya. Pada hari H, mereka semua naik seperti bis buat narapidana beneran. Dibawa keluar kota, sampai ke bangunan kuno kyk benteng tahanan jaman dulu. Tapi ternyata di dalamnya sudah full sistem canggih, full cctv. Yang terdiri dari beberapa sel, dan ruang sipir untuk monitoring aktivitas napi. Nah waktu selesai interview tahap awal, mereka ada dibagi 2 kelompok. Kelompok pertama jadi sipir dan kelompok kedua jadi tahanan.

Tugasnya simple, mereka harus hidup seperti di dunia penjara umumnya. Ikut peraturan yg dibikin cuma ada beberapa list, dan dilarang melakukan kekerasan. Kalau dari list aturan ada yg dilanggar dan ada tindak kekerasan, maka lampu merah akan menyala dan experimen batal. Mereka semua pulang dengan tangan kosong, alias gak membawa uang hadiah sepeser pun.

Spoiler for jgn dibuka kalo gak mau tau!
Tapi dasar manusia, sifat dasar pasti akan keluar kalau didesak. Yang tadinya orang taat beragama dan penakut bisa berubah jadi sadis. Akhirnya terjadilah tindak abusive di dalam sana. Nah apakah lampu merah menyala atau tidak? Tindak abusive seperti apa sih yg terjadi? Nonton sendiri aja deh biar seru;)




Spoiler for Intip-intip gambar
[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2 [Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2


Rating: 4/5

>>Btw , Habis ntn ini rasanya seperti habis ntn Shutter Island, sama2 ttg film thriller psikologisgila:
ok pc - 26/11/2010 12:56 PM
#71

Quote:
Original Posted By yukiyuki
iya 70an mereka pacaran n make heroin sebanyak2nya. Beda ya Garrel 80-an dan 90-an sama 70-an. Di 70an dia terkenal sama faham Cinema Povera-nya yang bikin film sbg kanvas kayak pelukis alias ga banyak dialog


pantes di solitude juga ikut mejeng.. di Regular lovers juga ada lagunya Nico nyempil..gw rasa pas bikin la cicatrice intérieure juga pada mabok bareng itu D

belom pernah nonton film Garrel yang 90's ama 80's.. tapi beda banget film2 dia yang baru ama yang dulu..
mangotrees - 26/11/2010 02:05 PM
#72
Minta info dunk
Ada yang udah nonton UNSTOPPABLE atau THE PRESENCE belum? Bagusan mana yah?bingung

Spoiler for gambarnya
[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2 [Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
freesky2347 - 26/11/2010 02:08 PM
#73

Quote:
Original Posted By lightyear
Tokyo Twilight

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

simple story yet great
jadi pengen nonton film Ozu yang lain o

4 / 5


The Grapes of Wrath

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

sebuah keluarga petani yang diusir dari tanahnya sendiri
kemudian mereka pergi ke negara bagian lain untuk mencari pekerjaan baru. tapi nyatanya tidak hanya mereka yang membutuhkan pekerjaan

4 / 5

oh my god ternyata ada pelem nya toh the grapes of wrath

novel nya itu favorite gw banget,

slalu mengingatkan gw kalo dgusur dari tanah kelahiran itu adalah sesuatu yang menyakitkan sekali, i understand it very well



The Social Network

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

7,5/10

meskipun ocehan nya si mark banyak yang gak gw ngerti tapi this movie quite entertaining, karakterisasi pemeran nya ok banget gak kacangan

dan lagi mark is not an asshole, he is just trying so hard to beD

sbuah ironi di akhir ktika dia sendiri malah most likely susah banget makes a friend with someone
second_symphony - 26/11/2010 02:29 PM
#74

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Fight Back To School 1

iseng2 nonton ulang ini..
emang kocak bgt deh si stephen chow.. haha
comANDRE - 26/11/2010 02:55 PM
#75

Quote:
Original Posted By sirius.jack
Khusus untuk Hermione dan Ginny, karakter mereka ditampilkan dengan dewasa dan cukup hot. Apalagi wajah cantik Watson yang selalu terpampang dilayar dengan busana sexy dan trendi yang selalu melekat menjadi poin plus yang tidak bisa ditawar lagi. Jangan lupa juga adegan topless Watson sambil berciuman hot dengan Radclife.


gw yang tadinya emoh nonton seri HP, tiba-tiba jadi pengen nonton malu:
luffyy - 26/11/2010 03:01 PM
#76

The Kids Are All Right

Aktingnya bagus2 kalo ga mao dibilang luar biasa, khususzon untuk Julainne Moore, oscar sudah hampir dipastikan ada ditangan, hanya tinggal tunggu waktu untk menggenggamnya sajathumbup:o

7/10

NB: Akting Julianne Moore paling mantap pas di bar restoran sama Annette Bening dan bilang…..
Spoiler for
01:02:41,450 >-- 01:02:44,076
"Are you even attracted
to me anymore?"


matabelo:
[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
hendieze - 26/11/2010 03:20 PM
#77

ane rate buat 9 souls..
masih bnyk bagian yg membingungkan..
morsh10 - 26/11/2010 03:25 PM
#78

Man of Vendetta (2010)

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Seorang penculik anak meminta tebusan lalu bertemu untuk melakukan transaksi. Ternyata sang penculik menyadari adanya campur tangan polisi sehingga penculik itu kabur dan anaknya tidak kembali. 8 tahun kemudian, sang ayah sudah menganggap anaknya meninggal, namun tidak dengan ibunya yg terus menerus mencari keberadaaan anaknya setiap hari selama 8 tahun. Hingga akhirnya sang penculik mengontak si ayah.

Thriller dari korea, kayaknya korea pinter banget buat film beginian D
Mantab dah thumbup: thanks om gwin rikumennya p

Spoiler for "rada kurang sreg *spoiler*"

rada kurang sreg waktu di akhir ketemu ma penjahatnya, berantemnya gitu doang, terus matinya juga gitu aja. Tapi endingnya di penjara sih bagus, sakit sedih \(
ok pc - 26/11/2010 04:00 PM
#79

Quote:
Original Posted By lightyear
Tokyo Twilight

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

simple story yet great
jadi pengen nonton film Ozu yang lain o

4 / 5


i was born but... !!
Milos - 26/11/2010 04:01 PM
#80

Unstoppable

Another fun ride thrown by Mr. Tony Scott.
I'm fully thrilled & excited with this movie through the whole films
walau kadang sebagian gambar keliatan kayak di syut dari handycam HD
tapi ga gitu ganggu...
Mark Bomback shows us once again that he is one talented scriptwriter

score: 7,7/10

OOT dikit...
pas ane cek kulkas ternyata di trit yg kemaren ada yg ngirim ijo2 ke ane
ternyata TS yang ngirim... pas banget di ultah ane... jadi terharu malus

thanks yaaaa...
Page 4 of 500 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›
Home > LOEKELOE > MOVIES > [Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part 2