MOVIES
Home > LOEKELOE > MOVIES > [Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part 2
Total Views: 448311 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 7 of 500 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 >  Last ›

bwindotcom - 26/11/2010 11:03 PM
#121

Quote:
Original Posted By hadi18nof
haduh.....cd....

jadi pngen nonton jg.....genit:



[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

nih gan.....baru film indo terbaik.....

smua konflik jadi satu....kecuali konflik perang.....


waduh hammer: gambarnya dispoiler juga ngakak
JonaP_1st - 26/11/2010 11:11 PM
#122

Quote:
Original Posted By hadi18nof
haduh.....cd....

jadi pngen nonton jg.....genit:

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

nih gan.....baru film indo terbaik.....

smua konflik jadi satu....kecuali konflik perang.....


gw jadi inget waktu nonton nih film dulu..

si bang dedi nyoba ngangkat realita yg sebenarnya, cuma sayang pas di eksekusi plot sama scriptnya jadi terlalu keliatan maksa

tapi dari segi teknikal sih dah termasuk lebih bagus dari rata" film indo yang ada..
LuciferScream - 26/11/2010 11:12 PM
#123
666
Quote:
Original Posted By bwindotcom
Boy A

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Masa lalu itu emang sulit dilupakan. Jack punya kenangan buruk antar dia & sahabat nya. Tetapi rahasia masa lalu itu emang sulit dilupakan, apalagi jika rahasia masa lalunya itu adalah berbuat tindakan kriminal. Jack berupaya menghapus masa lalunya itu, namun itu tidak mudah keluar dari masa lalunya.



btw katie lyons, nice tits D wowcantik

Rate :7,5/10


banyak BBnya nih pelem nohope: akting c jack juga aneh bgt dahh D
bwindotcom - 26/11/2010 11:40 PM
#124

Quote:
Original Posted By LuciferScream
banyak BBnya nih pelem nohope: akting c jack juga aneh bgt dahh D


ah kagak p BBnya cuman pas scene mandi be2 di bathtub ngakak, overall ceritanya juga lumayan kok p
Hafilova - 26/11/2010 11:53 PM
#125

Tangled / Rapunzel (2010)
[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

" They're taking adventure to new lengths "

Story: Pada zaman dahulu kala, seberkas titik cahaya kecil matahari jatuh ke bumi dan kemudian menjelma menjadi sekuntum bunga ajaib berwarna emas yang dipercaya memiliki kekuatan magis untuk menyembuhkan penyakit apa saja. Seorang penyihir wanita bernama Gothel (Donna Murphy) kemudian menemukan dan menggunakan bunga ajaib tersebut secara diam-diam untuk membuat dirinya tetap awet muda. Ratusan tahun kemudian seorang ratu yang tengah mengandung putri pertamanya sedang sakit keras, dan hanya bunga emas ajaib itulah yang satu-satunya mampu menyembuhkan sang ratu. Para pengawal kerajaan berhasil mengambil bunga tersebut dari tangan Gothel dan memberikannya kepada sang Ratu.

Ratu yang berhasil sembuh kemudian melahirkan seorang anak perempuan bernama Rapunzel, bayi cantik yang rupanya telah mewariskan kekuatan ajaib bunga tersebut dalam rambut emasnya. Namun kebahagian sang Ratu tidak bertahan lama. Suatu malam Gothel yang marah kemudian menculik Rapunzel kecil dan menyekapnya di sebuah menara tersembunyi hingga 18 tahun kemudian tanpa sengaja seorang pencuri muda, Flynn Rider (Zachary Levy) yang sedang melarikan diri dari kejaran tentara kerajaan tanpa segaja menemukan tempat persembunyian Gothel dan Rapunzel (Mandy Moore), dan dari sinilah kisah petualangan sang putri hilang pun dimulai.......


Review: Walt Disney dulu mungkin berbeda dengan Walt Disney sekarang. Jika pada masanya perusahaan animasi yang berdiri sejak tahun 1929 ini mampu berdiri kuat dengan kemampuannya sendiri dalam menghasilkan animasi-animasi 2D berkualitas tinggi yang kebanyakan mengadaptasi dengan gaya mereka sendiri kisah-kisah dongeng klasik populer seperti Snow White, Pinnochio, The Little Mermaid, Beauty and The Beast hingga Alladin. Dan kini seiring dengan berkembangnya jaman tampaknya standar orang untuk menikmati animasi perlahan-lahan sudah mulai berubah, baik dari segi tema maupun teknis. Dongeng-dongeng klasik mulai ditinggalkan dan animasi 2D tampak menjadi barang usang dengan semakin populernya animasi-animasi berbasis Computer-Generated Imagery (CGI) yang secara tidak langsung membuat Walt Disney Pictures mulai kehilangan daya 'magis'nya sampai-sampai mereka harus mengandalkan kekuatan Pixar untuk dapat terus eksis di belantika peranimasian yang semakin kejam.

Tahun 2009 lalu tampaknya menjadi momen penting bagi Walt Disney Animation Studios untuk back to basic dan menunjukan jati diri mereka sebenarnya. Ya, The Princess and the Frog yang bisa dibilang cukup sukses secara komersial dan banyak mendapatkan pujian rupanya membuat Disney Studios semakin percaya diri untuk menbangkitkan kembali kejayaan mereka dulu melalui animasi-animasi berbasis dongeng klasik musikal, dan kali ini Rapunzel yang notabene merupakan adaptasi dari dongeng klasik populer Jerman buah karya Brothers Grimm mendapatkan kesempatannya untuk dapat bersanding dengan kisah-kisah fairytale Disney lainnya. Rapunzel, yang juga berjudul Tangled di kawasan Amerika ini merupakan film ke-50 dari seri animasi klasik Walt Disney dan juga film dongeng pertama Disney yang menggunakan format CGI.

Dan sepertinya perjuangan Disney untuk mengembalikan kejayaannya dulu melalu Rapunzel ini bisa dibilang berbuah manis. Di sutradrai oleh Nathan Greno dan Byron Howard yang pernah sukses menghadirkan Bolt 2008 lalu, ditambah sentuhan 'magis' dari para animator-animatornya dalam menghasilkan lingkungan bermain yang indah dan karakter-karakter yang lovable serta didukung kemampuan Dan Fogelman memodifikasi dongeng buatan Brothers Grimm dengan sangat baik tanpa harus merusak kisah aslinya membuat Rapunzel dengan mudah dicintai. Jalinan kisah yang bersahabat, menghibur dan tentu berisi pesan moral kental jelas menjadikannya dapat 'disantap' oleh semua umur dan kalangan. Ya, meskipun berbasis CGI namun kesan klasik seperti yang pernah dihadirkan dalam karya-karya dongeng Disney tempo dulu tetap terasa dalam setiap adegan-adegannya, termasuk tidak lupa seperi biasanya menghadirkan karakter-karakter pendamping yang sangat menghibur, seperti kehadiran Pascal si Bunglon peliharan Rapunzel yang loyal dan kuda kerjaan bernama Maximus yang bagi saya menjadi karakter terlucu yang di sini.

Tidak lengkap rasanya aroma klasik dongeng satu ini jika tidak didukung dengan lantunan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh karakter-karakternya, walaupun harus disayangkan komposer langganan Disney, Alan Menken kali ini sepertinya kurang berhasil menghadirkan lagu-lagu yang memorable dalam ingatan penontonya, seperti yang pernah dihasilkannya dalam animasi-animasi Disney lainnya seperti soundtrack Beauty and the Beast dan Aladdin yang bahkan sampai menggondol Oscar untuk soundtrack terbaik.

Walaupun Disney sebenarnya jarang memasang nama-nama besar untuk mengisi suara para karakternya, namun dipasanganya duet Mandy Moore dan Zachary Levi terbilang membawa pengaruh positif. Keduanya sukses membawakan karakter suara Rapunzel dan Flynn Rider dengan Chemistry yang dibangun dengan cukup baik sepanjang film.

Overall, Bagi siapa saja yang pernah tumbuh bersama karya-karya klasik Disney bisa dipastikan dengan mudah akan langsung jatuh cinta kepada Rapuzel / Tangled, apalagi kisah putri dengan rambut sepanjang 70 kaki ini mampu dikemas dengan sangat baik, bersahabat dan menghibur plus balutan animasi dengan kualitas jempolan menjadikan Rapunzel cukup pantas untuk disejajarakan dengan animasi klasik terbaik Disney lainnya. Walaupun sedikit disayangkan penggunaan efek 3Dnya tampak tidak terlalu berpengaruh besar disini.

8/10
gwinarto - 27/11/2010 12:24 AM
#126

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
GUN SIZE MATTERS

5/5

film 2 menitan yan super duper fun

dengan bintang orbitan youtube CMIIW : freddie wong


LANJUT............

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
TIME CRISIS
film 2 menitan based on the mesin koinan
3.5/5
starring freddie wong again


LANJUT..........
[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
LIGHT WARFARE
film(masih)2menitan action dengan permainan cahaya yang wow
5/5
starring masih freddie wong
ChaerinLeadah - 27/11/2010 05:51 AM
#127

Quote:
Original Posted By bagusxfantasy
Borat atau bruno ngakak


udah semuanya gan :nohope , Borat berbusa:
rroommoonn - 27/11/2010 08:04 AM
#128

No country for old men (2007)

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Berkisah tentang seorang pria ( Josh Brolin )yang menemukan sebuah tas berisi uang jutaan dollar, di sebuah TKP aksi tembak menembak di gurun, seorang psikopat ( javier bardem ) memburunya untuk mengambil kembali uang tersebut. Tommy Lee Jones memerankan seorang sheriff, yg akan pensiun, berusaha mengejar sang psikopat.
Memang ceritanya tidaklah seperti peran tommy lee jones di film the fugitive, dimana ia melakukan aksi cat and mouse dgn harrison ford, namun ane rasa film ini lebih berkisah tentang prinsip hidup manusia.

nilai ane : 88%

BTW, josh brolin n Tommy lee jones akan kembali bekerjasama dalam Men in Black 3, dimana josh akan memerankan agent K saat muda
Celest - 27/11/2010 09:40 AM
#129

Quote:
Original Posted By ChaerinLeadah
Nggilani gan film-nya.. :nohope

Film Komedi yang bagus apa ya?
Pengen nonton komedi bermutu.


Kalau yang agak baruan (era 2000-an), aku suka Offside-nya Jafar Panahi, C.R.A.Z.Y., Tournee apa lagi ya? Itu aja yang terlintas langsung di kepala. Inget-inget lagi dulu....
angrynerdrock - 27/11/2010 11:38 AM
#130

Quote:
Original Posted By ChaerinLeadah
Nggilani gan film-nya.. :nohope

Film Komedi yang bagus apa ya?
Pengen nonton komedi bermutu.


[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Clerks gan?

film yang sangat keren sekali buat saya ini mah ngakaks
kalo agan suka dialog dan cerita, dan kurang peduli sama gambar, mungkin ini bisa di coba kalo blm pernah D
ramirezhate - 27/11/2010 12:08 PM
#131

JIFFEST 2010: Waiting For Superman

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

"One of the saddest days of my life was when my mother told me Superman did not exist. I was like what do you mean he’s not real. And she thought I was crying because it’s like Santa Clause is not real and I was crying because there was no one coming with enough power to save us" ~ Geoffrey Canada

Setelah memproyeksikan isu global warming dengan apik, lengkap dengan jabaran fakta-fakta yang sangat tidak menyenangkan dalam “An Inconvenient Truth”, film dokumenter tahun 2006 yang disutradarai oleh Davis Guggenheim tersebut laksana “pecut” bagi siapa saja yang menontonnya untuk segera bertindak menyelamatkan planet bumi, siapapun anda, dari pemerintah sampai orang biasa seperti saya. Berbeda dengan dokumenter yang juga sukses memperoleh penghargaan Oscar untuk kategori film dokumenter terbaik ini, “Waiting For Superman” tidak lagi berbicara soal isu yang menceramahi dunia secara global, kali ini Guggenheim kembali menyambangi koridor-koridor sekolah di Amerika Serikat, seperti apa yang dilakukannya di tahun 2001 lewat film dokumenter “The First Year”, sekedar untuk mengingatkan negara adidaya tersebut bahwa sistem pendidikan mereka yang pernah punya predikat sebagai negara dengan tingkat kualitas pendidikan yang tinggi, sekarang sedang menggerogoti masa depan anak-anak.

Sistem tersebut telah gagal berdaptasi dengan dunia di sekitarnya, Amerika sepertinya masih terlena dengan predikat pendidikannya yang prestius di masa lalu, sampai akhirnya mengorbankan benih-benih kecil yang sedang tumbuh menggapai cita-citanya. Sistem yang dibuat beberapa dekade lalu tersebut kini makin terlihat sangat-sangat tua dan memang perlu ada seorang “superman” untuk memperbaiki itu semua, apalagi dengan kenyataan dalam urusan pendidikan Amerika tidak lagi nomor satu. Amerika seperti orang yang berpura-pura buta dan tuli, tidak lagi peduli karena menganggap sistem mereka baik-baik saja, tapi bagaimana bisa baik-baik saja ketika posisi prestisius mereka sekarang direbut oleh negara-negara lain. Dengan narasi yang begitu dalam, kuat dan terlihat kompleks, Guggenheim membuka satu-persatu letak sumber kegagalan sistem pendidikan Amerika, seperti birokrasi yang terlalu kaku dan berbelit-belit, belum lagi banyaknya lembaga dan institusi negara yang terlibat dalam sistem yang mengendalikan bagaimana cara mereka mengedukasi anak-anak mereka.

Berbagai standar yang mengatur sistem pendidikan pun justru menjadi bumerang ketika standar-standar kuno tersebut kini hanya menjadi penyebab terbatasnya ruang bagi sistem pendidikan untuk berubah. Guggenheim pun tidak lupa mempermasalahkan perserikatan guru yang seakan menutup gerbang sistem pendidikan tersebut untuk keluar mencari solusinya, karena mereka terjebak dalam aturan yang sudah membuat mereka nyaman selama ini, untuk apa bersusah payah keluar dari “comfort zone”. Satu contoh aturan itu adalah adanya sebuah kontrak kerja panjang yang membuat seorang guru berlabel “bad” punya tameng untuk membuat mereka tidak dipecat. Sistem tidak bisa memilah-milah kinerja antara guru yang baik dan tidak baik, mau mengajar dengan kualitas tinggi atau hanya membaca koran di kelas tanpa peduli dengan murid-muridnya, mereka toh tetap akan digaji. Bahkan seorang guru yang kedapatan melanggar kode etik pengajar, dengan tenang bisa duduk di ruang yang disebut oleh Guggenheim sebagai “rubber room”, disini para guru dengan santai sambil tidur atau bermain kartu menunggu dengan sabar kasus mereka diselesaikan, bisa berbulan-bulan, bisa sepanjang tahun, tetapi masih tetap akan digaji. Amerika sudah membuang-buang uang begitu banyak namun dengan hasil yang tidak sebanding dengan apa yang sudah mereka keluarkan, mubajir.

“Waiting For Superman” tidak hanya menyajikan fakta-fakta dan statistik-statistik yang bisa dibilang sangat mengganggu, seperti catatan di salah-satu negara bagian di Illinois, dimana satu diantara 57 dokter kehilangan lisensi medisnya, lalu satu dari 97 pengacara juga kehilangan pekerjaannya, sedangkan hanya satu diantara 2500 guru yang kehilangan hak mengajarnya, ini semua lagi-lagi berkat aturan tak tersentuh dari perserikatan guru. Guggenheim juga tidak melupakan untuk mendekatkan kita dengan orang-orang yang “tercekik” secara langsung dengan sistem pendidikan yang semerawut tersebut, mereka adalah para orang tua dan tentu saja anak-anak mereka. Ketika kita sudah dibuat kenyang dengan berbagai fakta pahit yang “menghibur” rasa penasaran kita tentang sistem edukasi di Amerika, dokumenter ini juga memotret mereka yang tidak beruntung, mereka yang terpaksa berjalan jauh dengan kaki-kaki mereka yang tak pernah menyerah hanya untuk mendapat edukasi terbaik. Disinilah Guggenheim berhasil menyentil dengan keras emosi saya lewat wajah anak-anak lugu yang berjuang demi pendidikan berkualitas, “berjudi” untuk sekolah terbaik, berharap mereka sangat-sangat beruntung.

Anthony, seorang anak dari Washington yang duduk di kelas 5 diasuh oleh sang nenek, mendaftar di Seed School dan harus bersaing dengan 64 anak lainnya untuk 24 kursi yang tersedia. Sekolah negeri ini adalah pilihan yang tepat karena memiliki reputasi lulusan terbaik dimana 9 dari 10 siswanya berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi. Francisco, seorang bocah kelas satu berumur sekitar 6 tahun berasal dari Bronx, harus rela bersaing dengan 792 pendaftar hanya untuk 40 kursi yang disediakan oleh sekolah Harlem Success Academy. Bianca yang tahun ini akan memulai sekolah taman kanak-kanak, mendaftar di sekolah yang sama, untuk mendapat 35 kursi, dia harus bersaing dengan 767 anak lainnya yang juga ikut mendaftar. Daisy, seorang gadis cilik lugu kelas lima yang memiliki cita-cita menjadi seorang dokter karena ingin menolong orang yang memerlukannya, terpaksa harus bersaing dengan 135 pendaftar untuk 10 kursi di sekolah Kipp LA Prep. Terakhir ada Emily, kelas 8 dan tinggal di Silicon Valley, yang berharap bisa diterima di sekolah yang lebih baik untuk memperbaiki kekurangannya di bidang studi matematika.

Ketika Amerika berjuang untuk merangkak naik dari ranking 25 untuk matematika dan 21 untuk sains, dengan 30 negara maju lainnya. Anthony dan teman-temannya juga sedang berjuang mendapatkan sekolah yang mereka inginkan, untuk masa depan yang terbaik. Keadaan ekonomi orang tua yang bisa dibilang tidak seberuntung orang lain, membuat mereka hanya bermodalkan keberuntungan untuk bisa masuk sekolah tersebut. Masa depan mereka ditentukan oleh bola-bola berangka, jalan mereka menuju pendidikan yang terbaik ditentukan oleh meja lotre. Sebuah kenyataan yang mengejutkan saya, saat tahu bagaimana cara sekolah-sekolah ini menyeleksi anak-anak yang mendaftar, puluhan bahkan ratusan kursi berjejer penuh dengan orang tua yang berharap nama atau nomor yang mereka pegang di tangan terpanggil. Apakah Daisy termasuk dari 10 anak yang beruntung bisa masuk Kipp LA Prep? nasib mereka tidak berada di tangan Guggenheim, tapi ketika bola-bola berangka tersebut jatuh, Guggenheim berhasil mengingatkan saya betapa berharganya sebuah pendidikan dan betapa beruntungnya mereka yang masih bisa mencicipi bangku sekolah, ketika anak-anak lainnya justru masih harus menunggu keberuntungan mereka demi menapaki masa depan.

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
ChaerinLeadah - 27/11/2010 03:40 PM
#132

Quote:
Original Posted By angrynerdrock
[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Clerks gan?

film yang sangat keren sekali buat saya ini mah ngakaks
kalo agan suka dialog dan cerita, dan kurang peduli sama gambar, mungkin ini bisa di coba kalo blm pernah D


Semua yang ditawarin di sini kok g ada di Video Ezy ya? Tahun berapa sih filmnya?
gwinarto - 27/11/2010 03:53 PM
#133

Quote:
Original Posted By ChaerinLeadah
Semua yang ditawarin di sini kok g ada di Video Ezy ya? Tahun berapa sih filmnya?


hehehehe WELCOME TO OUR WORLD
yuliusman - 27/11/2010 04:11 PM
#134

nubie mo numpang review malu:

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Story:

Menceritakan kisah tentang beberapa orang bayi, di beberapa negara yang berbeda kultur dan budayanya. Dimulai dari saat bayi tersebut berada di perut ibunya sampai proses lahirnya, mulai belajar melihat, merangkak dan berbicara bahasa planet D
Overall menurut gw film ini biasa aja, kayak documenter gitu o
Recommended buat mereka yg menyukai anak kecil/bayi imut-imut gitu seperti gw o
Gw paling suka sama Mari, apalagi adegan dia maen sendiri truz kesel n guling-guling ga jelas gara-gara mainan ngakaks

Rating: 7.5/10
bagung_jakar - 27/11/2010 04:32 PM
#135

Cinco (2010)
[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

film horror pinoy ke-3 yg gw tonton D tp yg ini modelnya mirip phobia 2 (anthology 5 cerita)
aktingnya lumayan bagus, tp cuma utk para aktor utamanya aja, selain itu lebay semua nohope:
cerita biasa aja, sintog kurang bagus, shocking moment .... ada tp sdikit nohope:
tp cerita pertama lumayan lucu koq o

msh mendingan feng-shui deh D

6/10
Hafilova - 27/11/2010 04:51 PM
#136

Quote:
Original Posted By yuliusman
nubie mo numpang review malu:

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Story:

Menceritakan kisah tentang beberapa orang bayi, di beberapa negara yang berbeda kultur dan budayanya. Dimulai dari saat bayi tersebut berada di perut ibunya sampai proses lahirnya, mulai belajar melihat, merangkak dan berbicara bahasa planet D
Overall menurut gw film ini biasa aja, kayak documenter gitu o
Recommended buat mereka yg menyukai anak kecil/bayi imut-imut gitu seperti gw o
Gw paling suka sama Mari, apalagi adegan dia maen sendiri truz kesel n guling-guling ga jelas gara-gara mainan ngakaks

Rating: 7.5/10
ini mah bukan kayak lagi, tp emang dokumenter o[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2
yuliusman - 27/11/2010 04:56 PM
#137

Quote:
Original Posted By Hafilova
ini mah bukan kayak lagi, tp emang dokumenter o[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2


emang dokumenter yah om hehe ;)
tinah040896 - 27/11/2010 05:13 PM
#138

Speed Scandal

[Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part  2

Yaa tipe2 film yg awal2nya kocak dan menuju ending sedihnya ganahan.
Nangis berkali2 ntn ini. Ceritanya mirip sm The Game Plan, tp lbh bagus menurut gw D 8,5/10
lightyear - 27/11/2010 06:46 PM
#139

Quote:
Original Posted By freesky2347
oh my god ternyata ada pelem nya toh the grapes of wrath

novel nya itu favorite gw banget,

slalu mengingatkan gw kalo dgusur dari tanah kelahiran itu adalah sesuatu yang menyakitkan sekali, i understand it very well

ho oh p

Quote:
Original Posted By ok pc
i was born but... !!

itu sih udah list dari lama om, tapi karena gak ada koneksi jadi gak bisa donlot-donlot malu:
hyperion_lynx - 27/11/2010 06:59 PM
#140

Review: Unstoppable (2010)

Dalam sebuah kerjasama yang lebih low profile dari kerjasama yang dilakukan oleh Martin Scorsese dengan Leonardo DiCaprio dalam film manapun, sutradara, Tony Scott, kembali merilis sebuah film action yang menggunakan kereta api sebagai latar belakang cerita yang sekaligus menandai kali kelima dirinya bekerjasama dengan aktor, Denzel Washington. Sama seperti The Taking of Pelham 1 2 3 (2009), Unstoppable juga mendapatkan garis besar jalan ceritanya dari sebuah kisah nyata. Dengan jalan cerita yang ditawarkan oleh penulis naskah, Mark Bomback (Race to Witch Mountain, 2009), Unstoppable memang bukanlah sebuah film yang dapat dibanggakan dari sisi ceritanya. Namun dengan pengemasan yang apik dari sang sutradara dan para pemerannya, film ini berhasil menjelma menjadi sebuah film action ringan dengan intensitas yang cukup menegangkan.

Berdasarkan insiden kereta api Crazy Eight yang terjadi di Ohio, Amerika Serikat, pada tahun 2001, Unstoppable mengisahkan mengenai sebuah kereta api pengangkut barang yang secara tidak sengaja berjalan dengan kecepatan penuh dengan tanpa kehadiran kendali siapapun diatasnya. Jika kereta appi tersebut tidak mengangku barang apapun diatasnya, mungkin mudah bagi para petugas untuk mengamankannya. Permasalahannya, kereta api tersebut membawa beberapa tangki yang berisi zat kimia yang berbahaya dan diperkirakan akan mampu menimbulkan musibah besar jika kereta api tersebut bertabrakan atau hancur ketika sedang berada di daerah yang berpenduduk padat.

Tentu saja, akan ada tokoh protagonis yang diperkenalkan dan dipersiapkan untuk menyelamatkan kereta api tersebut. Mereka adalah dua mekanik kereta api, Frank Barnes (Denzel Washington) dan Will Colson (Chris Pine). Frank dan Will sebenarnya baru saja berkenalan: Will baru menjadi dan mengenal mesin selama 4 bulan sedangkan Frank adalah seorang senior yang telah banyak makan asam garam dunia mesin kereta api selama 28 tahun – dan sedang menghadapi masa pensiunnya. Keduanya tentu saja tidak mengharapkan untuk terlibat dalam sebuah kejadian yang dapat mengancam kehidupan mereka. Namun ketika kereta api yang berjalan tanpa kendali tersebut hampir saja berjalan dan membunuh mereka, keduanya kemudian memutuskan untuk melakukan apapun agar kereta api tersebut dapat dihentikan.

Persoalan yang ditawarkan sangat mudah, bukan? Kedua karakter, Frank dan Will, bukan menghadapi sekelompok teroris yang berniat menghancurkan sebuah negara serta bukan menghadapi ancaman bencana alam yang akan memusnahkan kehidupan di Bumi. Mereka menghadapi sebuah kereta api yang berjalan tanpa kendali dan diharuskan untuk menghentikannya. Sangat sederhana. Namun tentu saja, jika hal tersebut dapat dilakukan dengan sangat mudah tanpa adanya hambatan apapun, Unstoppable kemungkinan besar akan berakhir secara datar di menit ke-30 film tersebut berjalan.

Apa yang diberikan oleh sutradara Tony Scott lewat Unstoppable adalah murni sebuah film action berkadar hiburan semata dengan tingkat dramatisasi yang terkadang terkesan terlalu berlebihan ketika penonton menyadari mengenai apa masalah utama yang sedang dihadapkan pada mereka. Dengan durasi cerita sepanjang 98 menit, Tony Scott kemudian mengemas cerita film ini dari berbagai sudut pandang cerita dan karakter. Hal ini dilakukan dengan sangat baik oleh Scott dan menyebabkan Unstoppable mampu berjalan dengan sangat baik serta dengan intensitas cerita yang terjaga dari menit ke menit.

Keunggulan utama dari Unstoppable adalah kemampuan Scott untuk menyusun adegan demi adegan action dengan sangat baik, khususnya di 30 menit terakhir film ini, dimana Unstoppable berhasil meningkatkan ketegangan ceritanya yang semenjak awal berjalan dengan tingkat yang menengah sehingga menjadi sebuah film dengan tingkat ketegangan yang sangat mendebarkan. Untuk menambah ‘kekompleksitasan’ cerita, Scott kemudian berusaha mengenalkan kepribadian kedua karakter utama film ini kepada para penonton serta menambah beberapa konflik pribadi yang sedang mereka hadapi. Bukan sebuah hal yang cukup penting untuk diletakkan di tengah-tengah jalan cerita, namun baik Washington maupun Pine mampu menerjemahkan bagian drama tersebut dengan sangat baik sehingga, setidaknya, bagian drama tersebut masih mampu menjadi bagian yang cukup dapat dinikmati daripada hanya terkesan menjadi tempelan adegan belaka.

Departemen akting mungkin bukanlah bagian yang paling diutamakan dari film-film semacam Unstoppable. Walau begitu, bukan berarati para jajaran pemeran Unstoppable tidak berusaha dengan baik untuk menghidupkan karakter mereka. Kedua aktor utama, Denzel Washington dan Chris Pine, bermain dengan cukup meyakinkan. Aktris Rosario Dawson, yang berperan menjadi salah satu karakter pendukung di film ini, juga memberikan daya akting yang cukup mampu mencuri perhatian, walaupun karakternya di sepanjang cerita tidak berada di lokasi yang sama dengan dua karakter utama yang mendominasi jalan cerita.

Walau sama sekali tidak menawarkan sebuah petualangan baru di dalam jalan ceritanya, Tony Scott ternyata mampu mengemas Unstoppable menjadi sebuah tayangan action dengan tingkat ketegangan yang sangat terjaga dengan baik. Naskah ceritanya memang bukanlah bagian terbaik dari film ini – berisi terlalu banyak sub-plot cerita yang kurang terlalu penting dan sepertinya diletakkan untuk menutupi kekurangpadatan plot cerita utamanya. Namun, deretan adegan action yang disediakan Scott, khususnya di 30 menit akhir film ini berhasil menjadikan Unstoppable terlihat sangat berkelas. Para jajaran pemerannya, Denzel Washington, Chris Pine dan Rosario Dawson, juga mampu menghidupkan karakter mereka dengan baik dan menjadikan Unstoppable sebagai sebuah film action dengan tingkat ketegangan yang cukup menghibur.

Rating: 3.5 / 5
Page 7 of 500 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 >  Last ›
Home > LOEKELOE > MOVIES > [Rejuvenated Again] The Last Movie You Just Saw - Bad Or Good - Part 2