Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > [share] Renungan - RAHASIA FILSAFAT KEJAWEN
Total Views: 12819 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 12 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

andrea7 - 08/12/2010 12:33 PM
#41

Quote:
Original Posted By newyorkarto
heheh gak tahan utk urun rembug ....wayang memang selain penuh filsafat juga penuh dengan perlambang dan contoh contoh kehidupan yang sarat makna .... bima dan nagagini hardcore/ sadomacism [familier dng kata ini ? wakakkaka beda dgn KDRT loh yaa Peace:] bayangkan pada jaman dahulu kala leluhur kita sudah menggambarkan adegan kamasutra yang seperti ini ?? ada lagi srikandi yang tomboy [versi india wandu] trus tokoh batara ismoyo yang mengeja wantah jadi kyai semar yang gender nya bias ... laki2 bukan wanita juga bukan ... sementara mgnkin bagi bangsa lain masih tabu sedangkan leleuhur kita sudah mengangkat tema ini dlm cerita pewayangan, ..so benang merahnya cerita pewayangan dgn keadaan sos bud masyarakat kita sekarang ini dilihat dari sisi filsafat2nya? ......monggo poro sesepuh dipun babaraken .... kulo tak ngelar kloso dhemes ten pojokan kemawon .... hehehhePeace:


PS: mugi-mugi mangke kangmas zeth lan poro pinisepuh purun/kerso mbahas babakan filsafat kejawen ingkang wonten ten pewayangan pada chapter2 berikutnya.


*ndesel-ndesel* geser sithik Mas.., aku juga mau nunggu babaran..
nek dewekan sok terdistorsi jeh Mas..wkwwkwk...linux2:
zeth - 08/12/2010 03:41 PM
#42

Quote:
Original Posted By andrea7
*ndesel-ndesel* geser sithik Mas.., aku juga mau nunggu babaran..
nek dewekan sok terdistorsi jeh Mas..wkwwkwk...linux2:


Pun wancine babaran,to?
godeatgod - 08/12/2010 05:52 PM
#43

Wangun tenan,mbah. :2thumbup
Gelo aku lagi moco saiki... malus
andrea7 - 08/12/2010 05:57 PM
#44

Quote:
Original Posted By zeth
Pun wancine babaran,to?


Nggih jeh Mbah.., pun telat pitung taun jeh niki le nggembol... hammer:




nah to.., wis terdistorsi maning.. kagets: hammer:
zeth - 08/12/2010 06:00 PM
#45

Quote:
Original Posted By godeatgod
Wangun tenan,mbah. :2thumbup
Gelo aku lagi moco saiki... malus


Sip..gan.
Lebih baik terlambat daripada gelo



:2thumbup
demang wirosobo - 14/12/2010 03:12 PM
#46

Quote:
Original Posted By zeth
Dalam literatur dan kaidah kebudayaan Jawa tidak ditemukan adanya pakem dalam kalimah doa serta tata cara baku menyembah Tuhan. Dalam budaya Jawa dipahami bahwa Tuhan Maha Universal dan kekuasaanNya tiada terbatas. Pun dalam kejawen, karena bukan lah agama, maka dalam falsafah kejawen yang ada hanyalah wujud “laku spiritual” dalam tataran batiniahnya, dan “laku ritual” dalam tataran lahiriahnya.

Laku ritual merupakan simbolisasi dan kristalisasi dari laku spiritual. Ambil contoh misalnya mantra, sesaji, laku sesirih (menghindari laku pantangan) serta laku semedi atau meditasi. Banyak kalangan yang tidak memahami asal usul dan makna dari semua itu, lantas begitu saja timbul suatu asumsi bahwa mantra sama halnya dengan doa. Sedangkan sesaji, laku sesirih dan laku semedi dipersepsikan sama maknanya dengan ritual menyembah Tuhan. Asumsi dan persepsi ini salah besar.

Menurut para pengamat, kaum akademisi dan budayawan, ada suatu unsur kesengajaan untuk mempersepsikan dan mengasumsikan secara tidak tepat dan melenceng dari makna yang sesungguhnya. Semoga hal itu bukan termasuk upaya politisasi sistem kepercayaan, untuk mendestruksi budaya Jawa yang sudah “mbalung sungsum” di kalangan suku Jawa, dengan harapan supaya terjadi loncatan paradigma kearifan lokal kepada paradigma asing yang secara naratif menjamin surga.

Awal dari penggeseran dilakukan oleh bangsa asing yang akan menjalankan praktik imperialisme dan kolonialisme di bumi nusantara sejak ratusan tahun silam. Baiklah, terlepas dari semua anggapan, asumsi maupun persepsi di atas ada baiknya dikemukakan wacana yang mampu mengembalikan persepsi dan asumsi terhadap ajaran kejawen sebagaimana makna yang sesungguhnya.

Setidaknya, kejawen dapat menjadi monumen sejarah yang akan dikenang dan dikenal oleh generasi penerus bangsa ini. Agar menumbuhkan semangat berkarya dan nasionalisme di kalangan generasi muda. Di samping itu ada kebanggaan tersendiri, sekalipun zaman sekarang dianggap remeh namun setidaknya nenek moyang bangsa Indonesia pernah membuktikan kemampuan menghasilkan karya-karya agung bernilai tinggi

MELURUSKAN MAKNA

Mantra tidaklah sama maknanya dengan doa. Bila doa merupakan permohonan kepada Tuhan YME, sedangkan mantra itu umpama menarik picu senapan yang bernama daya hidup. Daya hidup manusia pemberian Tuhan Yang Mahakuasa. Pemberian sesaji, laku sesirih (mencegah) dan laku semedi memiliki makna tatacara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan kehidupan yang benar, baik dan tepat. Yakni menjalankan hidup dengan mengikuti kaidah “memayu hayuning bawana”.

Daya kehidupan manusia menjadi faktor adanya aura magis (gelombang elektromagnetik) yang melingkupi badan manusia. Aura magis memiliki sifatnya masing-masing karena perbedaan esensi dari unsur-unsur yang membangun menjadi jasad manusia. Unsur-unsur tersebut berasal dari bumi, langit, cahya dan teja yang keadaannya selalu dinamis sepanjang masa. Untuk menjabarkan hubungan antara sifat-sifat dan esensi dari unsur-unsur jasad tersebut lahirlah ilmu Jawa yang bertujuan untuk menandai perbedaan aura magis berdasarkan weton dan wuku.

Aura magis dalam diri manusia dengan aura alam semesta terdapat kaitan erat. Yakni gelombang energi yang saling mempengaruhi secara kosmis-magis. Dinamika energi yang saling mempengaruhi mempunyai dua kemungkinan yakni pertama; bersifat saling berkaitan secara kohesif dan menyatu (sinergi) dalam wadah keharmonisan, kedua; energi yang saling tolak-menolak (adesif). Laku sesirih (meredam segala nafsu) dan semedi (olah batin) merupakan sebuah upaya harmonisasi dengan cara mensinergikan aura magis mikrokosmos dalam kehidupan manusia (inner world) dengan aurora alam semesta makrokosmos (lihat juga dalam posting “Sejatinya Guru Sejati”). Agar tercipta suatu hubungan transenden yang harmonis dalam dimensi vertikal (pancer) antara manusia dengan Tuhan dan hubungan horisontal yakni manusia sebagai jagad kecil dengan jagad besar alam semesta.

PRINSIP KESEIMBANGAN, KESELARASAN & HARMONISASI

Sesaji atau sajen jika dipandang dari perspektif agama Abrahamisme, kadang dianggap berkonotasi negatif, sebagai biang kemusyrikan (penyekutuan Tuhan). Tapi benarkah manusia menyekutukan dan menduakan Tuhan melalui upacara sesaji ini ? Seyogyanya jangan lah terjebak oleh keterbatasan akal-budi dan nafsu golek menange dewe (cari menangnya sendiri) dan golek benere dewe (cari benernya sendiri).

Maksud sesaji sebenarnya merupakan suatu upaya harmonisasi, melalui jalan spiritual yang kreatif untuk menselaraskan dan menghubungkan antara daya aura magis manusia, dengan seluruh ciptaan Tuhan yang saling berdampingan di dunia ini, khususnya kekuatan alam maupun makhluk gaib.

Dengan kata lain sesaji merupakan harmonisasi manusia dalam dimensi horisontal terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Harmonisasi diartikan sebagai kesadaran manusia. Sekalipun manusia dianggap (menganggap diri) sebagai makhluk paling mulia, namun tidak ada alasan untuk mentang-mentang merasa diri paling mulia di antara makhluk lainnya. Karena kemuliaan manusia tergantung dari cara memanfaatkan akal-budi dalam diri kita sendiri. Bila akal-budi digunakan untuk kejahatan, maka kemuliaan manusia menjadi bangkrut, masih lebih hina sekalipun dibanding dengan binatang paling hina.

HARMONI & KESELARASAN MERUPAKAN WAHYU TUHAN

Dalam konteks kebudayaan Jawa, wahyu diartikan sebagai sebuah konsep yang mengandung pengertian suatu karunia Tuhan yang diperoleh manusia secara gaib. Wahyu juga tidak dapat dicari, tetapi hanya diberikan oleh Tuhan, sedangkan manusia hanya dapat melakukan upaya dengan melakukan mesu raga dan mesu jiwa dengan jalan tirakat, bersemadi, bertapa, maladihening, dan berbagai jalan lain yang berkonotasi melakukan laku batin.

Tapi tidak setiap kegiatan laku batin itu akan mendapatkan wahyu, selain atas kehendak atau anugrah Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan wahyu menurut kamus Purwadarminta mempunyai pengertian suatu petunjuk Tuhan atau ajaran Tuhan yang perwujudannya bisa dalam bentuk mimpi, ilham dan sebagainya. Dalam konteks budaya Jawa, wahyu dipandang sebagai anugrah Tuhan yang sekaligus membuktikan bahwa Tuhan bersifat universal, Mahaluas tanpa batas, dan Tuhan yang Mahakasih tidak akan melakukan pilih kasih dalam menorehkan wahyu bagi siapa saja yang Tuhan kehendaki.

Falsafah Jawa memandang suatu makna terdalam dari sifat hakekat Tuhan yang Maha Adil, yang memiliki konsekuensi bahwa wahyu bukanlah hak atau monopoli suku, ras, golongan, atau bangsa tertentu.

Mekanisme kehidupan di alam semesta adalah bersifat dinamis. Dinamika kehidupan berada dalam pola hubungan yang mengikuti prinsip-prinsip keharmonisan, keseimbangan, atau keselarasan (sinergi) jagad raya seisinya. Dinamika dan pola hubungan demikian sudah menjadi hukum atau rumus Tuhan Yang Maha Memelihara sebagai ANUGRAH terindah kepada semua wujud ciptaanNYA, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa.


iloveindonesia......recsel paparan yang menarik Gan ....................
zeth - 14/12/2010 03:26 PM
#47

Quote:
Original Posted By demang wirosobo
iloveindonesia......recsel paparan yang menarik Gan ....................


Maturnuwun,Ki

shakehand


iloveindonesia
demang wirosobo - 14/12/2010 03:55 PM
#48

Entah kenapa, generasi sekarang tidak mengenal lagi budaya maupun tradisi budaya leluhurnya.
jika kita mau napak tilas, leluhur kita banyak mewariskan alat (entah dalam bentuk mantraman, Puja brata, Pusaka wejangan) bagi anak cucunya untuk menghadapi tantangan Zaman...
akan tetapi sayang ... sekali Generasi sekarang seakan acuh terhadap itu semua, ...iloveindonesia
zeth - 14/12/2010 04:18 PM
#49

Quote:
Original Posted By demang wirosobo
Entah kenapa, generasi sekarang tidak mengenal lagi budaya maupun tradisi budaya leluhurnya.
jika kita mau napak tilas, leluhur kita banyak mewariskan alat (entah dalam bentuk mantraman, Puja brata, Pusaka wejangan) bagi anak cucunya untuk menghadapi tantangan Zaman...
akan tetapi sayang ... sekali Generasi sekarang seakan acuh terhadap itu semua, ...iloveindonesia


Bukan salah dari generasi mudanya,Ki. Tapi dari "bagian atas". Justru generasi mudanyalah yang di jadikan bodoh.
Selama ini tidak ada program2 yang memacu kebanggan kita atas budaya.
Lihat saja di tivi..sinetron2. Aktor yang melakukan peran jahat, pasti berpakaian seperti pakaian tradisional, berunsur klenik,dll
Bahkan Penataran P4, yang memacu kita bangga atas dasar negara kitapun sekarang di hilangkan
demang wirosobo - 14/12/2010 05:00 PM
#50

Quote:
Original Posted By zeth
Bukan salah dari generasi mudanya,Ki. Tapi dari "bagian atas". Justru generasi mudanyalah yang di jadikan bodoh.
Selama ini tidak ada program2 yang memacu kebanggan kita atas budaya.
Lihat saja di tivi..sinetron2. Aktor yang melakukan peran jahat, pasti berpakaian seperti pakaian tradisional, berunsur klenik,dll
Bahkan Penataran P4, yang memacu kita bangga atas dasar negara kitapun sekarang di hilangkan


betul Mz Zeth, Sinetron dan tayangan TV kita banyak berfihak pada Budaya Asing, sedangkan orang nusantara yang berpakaian Lokal dianggap sesat, antagonis,... perilaku jahat ...terus yang berpakaian putih putih simnol kebaikan ..apakah seperti itu ..jangan jangan selama ini tayangan di TV hanya terjebak pada Formalitas Luar (mengutamakan kulit) daripada isi .... ilovekaskus
zeth - 14/12/2010 05:18 PM
#51

Quote:
Original Posted By demang wirosobo
betul Mz Zeth, Sinetron dan tayangan TV kita banyak berfihak pada Budaya Asing, sedangkan orang nusantara yang berpakaian Lokal dianggap sesat, antagonis,... perilaku jahat ...terus yang berpakaian putih putih simnol kebaikan ..apakah seperti itu ..jangan jangan selama ini tayangan di TV hanya terjebak pada Formalitas Luar (mengutamakan kulit) daripada isi .... ilovekaskus


Nah, karena program2 yang salah seperti itulah..mindset generasi muda pun jadi keliru. Mereka menjauhi budayanya sendiri..karena di pandang adalah sesat,musryik,dll
demang wirosobo - 23/12/2010 07:48 AM
#52
Pewangi ruangan moderen
Ketika 6 tahun silam, hasil diskusi dengan teman teman Dinas Lingkungan Hidup,
bahwa pewangi/ pengharum tubuh. Pewangi ruangan modern dari model Spray, yang digantung dll ternyata membahayakan bagi kelangsungan Lapisan Ozon,
berbeda dengan ajaran leluhur kita, mereka menggunakan pewangi ruangan dengan membakar dupa, Kayu wangi (gaharu, cendana) dll, yang lebih aman untuk manusia maupun keberlangsungan ekosistem lingkungan hidup manusia.ilovekaskus
ButoGalak - 23/12/2010 08:29 AM
#53

Quote:
Original Posted By zeth
Nah, karena program2 yang salah seperti itulah..mindset generasi muda pun jadi keliru. Mereka menjauhi budayanya sendiri..karena di pandang adalah sesat,musryik,dll


salim mbah shakehand

padahal di arab sono juga kenal dgn menyan lho, kok yg lokal2 yg "harus" dimusyrikan....kalo saya pribadi lebih baik dicap musyrik tapi memayu hayuningrat ketimbang muslim tapi suka merusak dan berwatak brangasan Peace:
demang wirosobo - 23/12/2010 10:36 AM
#54

Quote:
Original Posted By ButoGalak
salim mbah shakehand

padahal di arab sono juga kenal dgn menyan lho, kok yg lokal2 yg "harus" dimusyrikan....kalo saya pribadi lebih baik dicap musyrik tapi memayu hayuningrat ketimbang muslim tapi suka merusak dan berwatak brangasan Peace:


betul bro...mending dianggap MUSYRIK akan tetapi bisa bermanfaat buat lingkungan dan alam sekitar (rahmatan lil alamin) daripada merasa Muslim akan tetapi selalu bikin Onar dan kerusakan.
jadi inget sewaktu rame rame dikampung bikin jembatan kecil masuk gang, duch ....yang mau kerjabakti malah kaum abangan ...... yang notabene jarang ke masjid ...
justru (mf) kaum santri ..... pada ngeloyor pergi ....padahal mereka yang banyak menggunakan jembatan itu.ilovekaskus
demang wirosobo - 23/12/2010 11:12 AM
#55
Kegagalan kehidupan beragama
ketika ghirah(semangat) keagamaan muncul dikalangan agama mayoritas yang dulu sewaktu rezim orde baru mereka yang Vokal dengan mengatas namakan agama banyak dibungkam oleh pemerintah orde baru.kini setelah orde baru tersebut tumbang, mereka yang selama ini dibungkam merasa mempunyai angin segar, mereka banyak berkoar koar baik melalui Media Cetak (terbit majalah majalah keagamaan maupun Tabloid) atau media elektronik, akan tetapi Ghirah (semarak) keagamaan, tak diimbangi dengan mengisi kejiwaan (bathin) sehingga yang ada hanyak gebyar atau penggalangan massa arus bawah dengan mengatasnamakan agama,
padahal dalam agama sendiri terdapat dua sisi yang harus dibangun, dhohir-bathin, jasmani-rokhani sehingga terwujud MANUSIA INDONESIA YANG SEUTUHNYA ,
akan tetapi yang ada justru penggalangan massa dan pengkaburan pemahaman tetang nilai nilai agama hingga akhirnya yang ada justru main gebuk ,main seruduk main Hakim atau menjudge orang lain jika tak sepaham
bahkan Maaf euforia keagamaan (yang sempit) ini melanda generasi Muda,
sehingga yang ada mereka lebih menghormati para pemuka agama dan manut-nunut tanpa berfikir kritis. (dari kalangan etnis tertentu) yang diklaim masih ada ikatan DNA atau masih Trah atau Dinasti (keturunan) dari Founding Father (nabi, dll) dari agamanya,
banyak orang beragama (euforia keagamaan) akan tetapi mereka gagal dalam pencapaian spiritual.iloveindonesia
demang wirosobo - 23/12/2010 11:20 AM
#56
Membakar wewangian
membakar wewangian menurut nenek moyang selain bernilai mistis, juga mempunyai keuntungan sebagai terapi relaksasi bahkan bisa meredakan stress
bahkan wewangian tertentu mampu menyadarkan orang histeris karena sesuatu baik ditinggal orang yang dicintai ataupun histeris karena sebab lain
so ...banyak ritual keagamaan maupun ritual tertentu yang mensaratkan didahului dengan membakar wewangian sebab untuk menciptakan kondisi ketenangan, kekhusukkan bahkan membangkitkan sesuatu dalam kejiawaan seseorang ilovekaskus
demang wirosobo - 23/12/2010 11:25 AM
#57

ketika seseorang mengolah bathinnya dengan melakukan puasa mutih atau puasa Ngebleng untuk meredakan rasa lemas coba untuk menghirup aroma wewangian baik dari dupa, maupun kayu gaharu atau yang lainnya, dri wewwangian tersebut tubuh akan terasa segar. iloveindonesia
demang wirosobo - 23/12/2010 11:46 AM
#58
Puasa mutih bermanfaat untuk kesehatan
makanan modern memunculkan aneka variasi penyakit modern didalam tubuh, salah satu cara menguras racun (toksin) dalam tubuh dengan cara melakukan Puasa mutih, konon ajaran puasa mutih ini mampu menguras racun dalm tubuh, membersihkan lambung, ilovekaskus
zeth - 23/12/2010 03:38 PM
#59

Makasih atas masukan2nya,Ki Demang..saya tambahin ya.

Pengertian Meditasi
Meditasi lebih mudah dipahami sebagai olah raga, dalam hal ini nafas dan pikiranlah yang diolah. Meditasi dilakukan dengan jalan memusatkan konsentrasi atau perhatian pada suatu hal saja, dalam dalam hal ini respirasi atau jalan keluar-masuknya nafas anda sendiri. Meditasi dapat dipahami sebagai olah yang melibatkan dua unsur yakni olah raga sembari melakukan pengolahan jiwa. Agar supaya berhasil dalam bermeditasi hendaknya melibatkan ketenangan hati dan batin, serta pengendalian atas aktivitas ragawi yakni pikiran dan emosi. Tidak kalah pentingnya untuk meditasi, harus didukung oleh suasana yang nyaman, hening, syahdu, dan tenteram.

Meditasi Tidak Berhubungan Dengan Agama
Pada prinsipnya proses meditasi sebagai salah satu jalan mengenali diri sendiri secara metodis dan ilmiah. Meditasi bukanlah ajaran agama tertentu melainkan ada dalam semua tradisi-tradisi agama besar dunia. Meditasi terdapat pula dalam berbagai kebudayaan dan ajaran suatu masyarakat. Dilakukan dengan berbagai macam metode atau tata cara. Tujuan utama meditasi adalah sebagai sarana mengenali jati diri lebih mendalam yang berhubungan dengan roh atau spirit, jiwa atau soul. Dalam lingkup spiritualis memandang bahwa jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati (audaimona) berawal dari suatu pengetahuan tentang inner world, substansi “dunia” yang ada dalam diri pribadi (jagad kecil) atau jati diri. Para pemikir dan spiritualis barat-timur sepakat bahwa satu-satunya jalan untuk mengetahui diri kita yang terdalam adalah dengan cara sains meditasi. Sebagai tradisi spiritual yang paling kuno dan paling sistematis berkembang sejalan perkembangan peradaban manusia. Sementara itu meditasi dapat dilakukan dengan berbagai macam metode.

Flash Back
Sepanjang sejarah peradaban manusia telah melakukan berbagai tradisi meditasi yang dikelola secara baik dan sitematis. Awal mula tradisi meditasi dimulai sejak masa sebelum masehi. Beranjak dari berbagai pertanyaan filosofis tentang self, atau diri pribadi sebagai berikut :
1. Siapa dan apa aku/self sesungguhnya ?
2. Apa arti terdalam kehidupan dalam diri ?
3. Apakah dunia yang tampak di sekitarku, dan yang kuanggap demikian nyata, adalah satu-satunya realitas ada sebagai fenomena ?
4. Atau apakah ada sesuatu yang lebih besar secara tak terbatas di luar diri, sebagai noumena yang transenden ?
Sebagai upaya menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan filosofis di atas, manusia cenderung melangkah ke dalam tradisi spiritual. Sepanjang peradaban dan sains manusia, pencarian jati diri akhirnya berhasil menemukan suatu tata cara melalui proses meditasi. Proses tersebut selanjutnya semakin berkembang dalam masyarakat luas tidak hanya dilakukan oleh orang-orang berkecimpung dalam tradisi spiritual saja. Sebab meditasi mempunyai banyak manfaat yang bisa ditawarkan kepada setiap orang tanpa tergantung apa agamanya.

Manfaat Meditasi
Asalkan praktek meditasi dilakukan secara tekun, sabar, tepat dan benar, beberapa manfaat yang bersifat instan dapat dialami oleh pelaku meditasi secara langsung, antara lain sebagai berikut :
1. Meditasi yang benar akan membawa anda dalam suatu pengalaman unik dan berbagai pengalaman yang menakjubkan sering terjadi di alami dalam dunia inner world (jagad alit). Anda lama-kelamaan semakin menemukan siapa sesungguhnya yang ada di dalam diri sejati.
2. Timbulnya perasaan bersatu dengan suatu energi dahsyat. Lazimnya energi itulah yang diidentifikasi sebagai atma, energi hidup yang kekal bersumber dari yang transenden (Tuhan). Pada level ini meditasi dapat dipahami sebagai upaya memanjangkan atau memaksimalkan usia manusia. dalam sebuah tesis dilakukan penelitian terhadap orang-orang yang rajin melakukan kegiatan meditasi, didapatkan hasil yang menggembirakan bahwa pelaku meditasi rata-rata memperoleh kualitas hidup yang lebih baik, mencakup kesehatan, ketentraman, dan kebahagiaan. Dengan sendirinya tingkat harapan hidup menjadi relatif lebih besar.
3. Tujuan paling utama meditasi adalah upaya mengenali jati diri. Dalam diri manusia dipahami sebagai bentuk jagad kecil yang merepresentasikan keadaan jagad besar yang sesunggunya. Bila seseorang sudah mengenali jati diri, diharapkan dapat memahami apa yang terjadi dalam alam semesta sehingga seseorang dapat bersikap arif dan bijaksana sehingga dapat meraih kehidupan yang lebih berkualitas.
andrea7 - 23/12/2010 04:30 PM
#60

Meditasi yang tepat dan benar seperti apa Mbah?? hammer:

hiks.., dikasi tau dunks Mbah Zeth.. matabelo:
Page 3 of 12 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > [share] Renungan - RAHASIA FILSAFAT KEJAWEN