Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > [share] Renungan - RAHASIA FILSAFAT KEJAWEN
Total Views: 12819 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 5 of 12 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 >  Last ›

demang wirosobo - 26/01/2011 11:37 AM
#81

Quote:
Original Posted By zeth
Teknik Meditasi

Untuk mempraktikan meditasi, pertama-tama anda harus menemukan satu tempat yang tenang, bersih dan nyaman. Perlu juga mencari lokasi yang memiliki taste natural agar memiliki perasaan menyatu dengan alam. Misalnya di dalam kamar pribadi, bisa juga sambil mendengarkan instrumentasi musik natural dan lembut.
Anda dapat juga melakukan meditasi di luar rumah pada saat rembulan bersinar terang, suara gemericik air sungai, hembusan angin sepoi. Lingkungan semacam itu membantu menenangkan pikiran dan menselaraskan frekuensi inner world dengan frekuensi alam semesta. Jika meditasi dilakukan di alam terbuka hendaknya Anda lakukan dengan posisi duduk agar kewaspadaan tetap terjaga.

Adapun langkah-langkah dalam meditasi adalah sebagai berikut :

1. Duduk bersila dan lakukan posisi punggung yang tegak dengan posisi tubuh keseluruhan terasa rilek, tidak kaku dan membuat cape. Jangan bungkuk atau bersandar, karena posisi itu memungkinkan anda terlelap dalam tidur. Sedangkan tujuan meditasi bukanlah untuk menidurkan diri, melainkan untuk membangun kesadaran setinggi-tingginya.

2. Berusahalah mengosongkan pikiran, dalam arti membuang semua pikiran-pikiran negatif dan rasa cemas yang mengganggu anda setiap saat. Tahan pikiran anda dalam keadaan tenang dan terkendali selama anda melakukan meditasi.

3. Kirimkan sinyal sugesti ke alam bawah sadar anda bahwa diri anda dapat merasakan dan menyaksikan hal-hal yang jasad tidak bisa merasakan dan saksikan. Dalam keadaan tetap rileks, namun cermat, tajam dan waspada.

4. Pusatkan perhatian pikiran dan perasaan anda terhadap irama keluar masuknya nafas anda. Pasang kelima panca indera anda agar dapat merasakan dan mendengarkan nafas anda ketika nafas keluar dan masuk ke dalam paru-paru dipompa oleh jantung anda. Karena di dalam nafas anda terdapat atma atau energi pemberi kehidupan.

5. Apa yang anda bayangkan atau sugestikan dalam setiap nafas masuk dan keluar ? Pada saat menarik nafas ke dalam tubuh, rasakan suatu energi yang berwarna putih, bening, dan bersih. Dan pada saat menghembuskan nafas keluar dari tubuh bayangkan suatu energi berwarna kehitaman dan kotor. Energi putih dan bersih akan membangkitkan suatu energi kehidupan yang menyehatkan jasmani dan rohani anda. Rasakan energi atma itu masuk ke dalam tubuh dan meresap ke dalam setiap sel-sel tanpa kecuali. Energi putih akan membersihkan dan menguras segala macam kotoran dan penyakit yang ada di dalam tubuh anda. Setelah itu sugestikan di dalam bawah sadar anda dengan membayangkan nafas keluar membawa segala macam kotoran dan penyakit dari dalam tubuh anda, sehingga energi berubah warna menjadi pekat kehitaman.
Energi atma termasuk membersihkan penyakit stres, depresi, kecemasan, yang tersembunyi di dalam tubuh dan pikiran anda menjadi lepas bebas tanpa beban lagi. Biarkan perasaan cemas, ketakutan, kekhawatiran dan keraguan anda pergi meninggalkan jasmani dan rohani anda.

6. Kelemahan yang sering terjadi biasanya pikiran anda secara liar berkelana, seolah sulit sekali digenggam dalam satu titik pusat perhatian, yakni memusatkan konsentrasi/perhatian kepada keluar masuknya nafas anda. Mulailah lagi mensugesti dan membayangkan dalam setiap hela nafas anda. Nafas masuk membayangkan keadaan alam yang penuh ketenangan, penuh cinta-kasih, segar, sejuk, nyaman. Semua itu terasa memasuki ke dalam tubuh anda dengan digerakkan oleh jantung.

7. Nah, dari rangkaian olah meditasi di atas yang paling utama anda jaga adalah sikap sabar dan telaten, jangan terburu-buru atau tergesa ingin merasakan sesuatu yang menakjubkan. Anda harus tetap ingat bawa tugas utama Anda adalah menjaga konsentrasi untuk selalu memperhatikan nafas keluar masuk, dan merasakan gerak gerik darah anda yang mengalir ke seluruh penjuru tubuh anda.

8. Sesi latihan ini dilakukan antara 11 hingga 17 menit. Lama-kelamaan latihan meditasi ditingkatkan waktunya menjadi lebih lama. Setelah dapat melakukan konsentrasi secara baik dan benar dengan konsentrasi nafas, selanjutkan anda dapat mengisi pada aspek spiritualnya. Sehingga banyak pula yang menggunakan suatu mantra atau doa untuk semedi. Namun demikian, doa atau mantra pada hakekatnya hanyalah alat untuk memperkuat mental atau aspek batiniah/rohaniah saja.

Meditasi Mantra

Terdapat berbagai macam teknik meditasi. Salah satu yang termasuk paling populer, efektif dan mudah, dikenal sebagai Meditasi Mantra. Meditasi ini menggunakan suatu mantra, untuk mencapai tujuan meditasi dibuka melalui vibrasi suara transendental. Istilah mantra berasal dari bahasa sanskerta terdiri dari dua suku kata yakni man artinya manas atau benak (batin) disebut juga magie, dan tra artinya membebaskan.

Mantra dapat dikatakan suatu frequensi suara suci yang membebaskan pikiran dari kegelisahan dan imajinasi. Mantra diucapkan pada saat seseorang akan memulai olah meditasi


recsel:thumbup
rhamadz - 29/01/2011 11:32 PM
#82

ambil kopi+rokok ijin ikut nimbrung gan
zeth - 30/01/2011 09:32 AM
#83

Quote:
Original Posted By demang wirosobo
recsel:thumbup


Hahaha..maturnuwun Ki Demang..maaf, lama ndak niliki trit ini.

Quote:
Original Posted By rhamadz
ambil kopi+rokok ijin ikut nimbrung gan


Monggo..sing penak lenggahe
zeth - 30/01/2011 09:52 AM
#84
Semedi
PENGERTIAN SEMEDI

Semadi atau semedi adalah menghilangkan kehidupan jasad agar supaya seseorang dapat merasakan rahsaning gesang atau kehidupan sukma. Dengan sarana mengolah rasa disebut sirnaning papan lan tulis. Yakni jumeneng rasa jati yang benar-benar nyata, pasti dan weruh tanpa tuduh (menyaksikan sendiri tanpa referensi), atau menyaksikan “sesuatu” tanpa melibatkan badan wadag (akal-budi/ rasio/ pikiran/ imajinasi/mata-wadag). Keberhasilannya dengan cara meredam gejolak nafsu jasadiah, dan dengan mengolah gerak-gerik anggota badan.

Kehidupan jasad memiliki kesadaran yang rendah, sementara itu kehidupan sukma memiliki kesadaran yang tinggi. Kesadaran jasadiah sifatnya rentan oleh pengaruh nafsu-nafsu, di mana pikirannya terganggu oleh imajinasi rasio. Dalam kehidupan sukma itulah terletak kesadaran yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kesadaran jasad. Dapat digambarkan sukmanya keluar dari badan wadag atau jasad. Dalam kondisi demikian kesadaran jasadiah tidak lagi bisa mendominasi dan memanipulasi kesadaran batin. Kesadaran sejati yang ada pada kehidupan sukma akan membersihkan batin dari segala polusi dan imajinasi rasio dan nafsu-nafsu negatif. Pemahaman ini merupakan gambaran dari lampahan Sri Kresna di Dwarawati atau sang Arjuna yang meraga sukma. Untuk kita perhatikan semua, bawa cerita ini sekedar dijadikan sebagai perlambang atau kiasan yang memudahkan pemahaman akan hakekat dari semedi. Adapaun tujuan melakukan semedi tidak lain untuk mengetahui alam kajaten atau kwahana kesejatian, yang sungguh-sungguh nyata dan ada di luar nalar atau akal budi kita.


SEMEDI & KESADARAN BATIN

Dalam upaya semedi dapat terjadi kegagalan dan keberhasilan. Kegagalan biasa terjadi dalam awal-awal latihan semadi namun lama kelamaan kita akan menemukan irama atau “frekuensi” yang dirasakan sangat “ajaib”. Bagi yang berhasil melakukan semadi pun ada dua kemungkinan yang berbeda tataran keberhasilannya. Kemungkinan yang pertama, meskipun berhasil dalam semedi namun seseorang belum mencapai puncak kesempurnaan semedi. Raga telah berhasil “dimatikan” sehingga yang terasa hanya getaran dahsyat dalam rasa. Getaran itu bersumber dari pusat kehidupan (atma) yang terletak pada susuhing angin/jantung, lalu menjalar ke seluruh “badan”. Bukan “badan” jasadiah semata, namun getaran itu terletak dalam badan halus/metafisik. Bila dirasakan sepintas lalu seolah badan wadag lah yang bergetar. Getaran berbeda dengan rasa gemetaran. Jika dikonotasikan sebagai prana ia sama-sama bersumber dari getaran rasa sejati. Bagi pelaku semedi yang masih berada pada tingkat ini hendaknya jangan merasa pesimistis karena tetap bisa merasakan berbagai keajaiban yang akan terjadi dalam wahana kesadaran semedi. Misalnya muncul bayangan atau gambaran gaib yang dapat menjelaskan sesuatu rahasia alam atau sebagai pralampita yang dapat menjadi petunjuk akurat dan tepat terhadap pelaku semadi. Kemungkinan kedua, pelaku semedi dapat mencapai tataran sempurna atau kesempurnaan. Parameter kesempurnaan terjadi bilaman sukmanya benar-benar lepas dari badan wadagnya sendiri. Sukma dapat melanglang ke dalam buana gaib, menjelajah dalam ruang-ruang gaib yang berada di luar akal budi (jasad) yang menemukan kesadaran tinggi. Inilah yang disebut rahasia meraga sukma. Namun bagi yang berhasil meraih kesempurnaan dalam semedi –yang bermuara pada kejadian raga sukma– hal ini menjadi nilai tambah yang sangat bermanfaat. Meraga sukma bermanfaat besar untuk memperoleh kesadaran tinggi untuk memahami being dalam eksistensi noumena atau eksistensi di alam gaib. Tentu saja kejadian ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang yang selalu dahaga dunia spiritual. Karena pelaku semedi akan memperoleh kesadaran tinggi dan dapat mengetahui hal-hal yang orang lain tidak ketahui/sadari. Mengapa kesadaran tinggi diidamkan kebanyakan orang, tidak lain karena kemuliaan hidup yang sejati menuntut adanya kesadaran tinggi terlebih dulu. Tidak menjadi masalah bila kesadaran tinggi kita berasal dari referensi orang lain, kitab suci, maupun buku pedoman. Hanya saja bila kita merasakan sendiri pengalaman gaib secara langsung akan menjadikan sebagi pengalaman hidup yang sangat sensasional dan berharga. Hal ini bukan lah iming-iming namun sungguh apa adanya.


KUNCI KEBERHASILAN

Kesadaran sejati atau kesadaran batin dapat dicapai oleh siapapun tanpa tergantung agama dan ajarannya, asalkan seseorang mampu memerdekakan diri dari hegemoni kekuasaan nafsu negatif yang bercokol dalam jasadnya sendiri. Ibaratnya nafsu adalah kulit yang harus dikupas agar kita dapat menikmati daging buahnya. Nafsu jasadiah seumpama cadar bagi mata batin, bila dibuka cadarnya maka mata batin akan dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan semua eksistensi gaib akan dapat dilihat dengan jelas. Pengendalian hawa nafsu bukanlah hal mudah ia perlu latihan terus menerus dengan kesabaran dan ketulusan. Tanpa bekal itu akan sulit mencapai tataran kesempurnaan dalam olah semedi. Dalam olah semedi pun harus dilakukan dengan rajin, sabar, ulet dan telaten jangan mudah menyerah dan cepat bosan. Biasanya jika sudah merasakan keberhasilan awal lantas akan menjadi ketagihan untuk lebih giat melatih diri. Dua langkah utama yang menentukan keberhasilan yakni : mengendalikan nafsu, membersihkan hati dan batin dalam perbuatan sehari-hari dan rajin olah badan dalam tatacara semedi.


Teori Merubah Frekuensi

Kesadaran jasad jika diumpamakan sebagai gelombang AM radio, kejernihan dan kejelasan suaranya teramat rentan terjadi distorsi akibat gangguan kondisi cuaca alam yang buruk. Gelombang AM diumpamakan sebagai kesadaran jasad atau akal budi, sementara cuaca alam yang buruk seumpama gangguan imajinasi akal-budi dan nafsu. Artinya kesadaran ragawi atau jasad mudah sekali terkena tipu daya “setan” dalam hal ini nafsu dan imajinasi kita sendiri. Lain halnya dengan kesadaran rahsa sejati, diumpamakan gelombang FM radio. Suaranya jernih, bersih dan jelas. Gelombang FM juga tidak terpengaruh oleh cuaca alam yang buruk. Sekalipun terjadi angin ribut, hujan lebat dan guntur tidak akan menjadi gangguan kejernihan suara. Karena gelombang FM terpisah dan berbeda dari gelombang cuaca buruk. Ia berada dalam koridor frekuensi yang terpisah dari berbagai gelombang cuaca alam. Artinya, kesadaran rasa sejati terpisah dan tidak terpengaruh oleh imajinasi akal budi dan nafsu-nafsu negatif. Tugas semedi adalah mengalihkan gelombang atau frekuensi kita dari frekuensi AM ke FM. Dari kesadaran ragawi/jasad ke kesadaram rasa sejati (rasa pangrasa/indera ke-enam). Kelebihannya adalah dapat menangkap sinyal dari frekuensi rendah hingga yg paling tinggi sekalipun. Segala yang tadinya rahasia dan tertutup oleh nafsu dan rasio menjadi tersingkap semuanya tampak jelas.


SEMEDI ; RADIO TRANSISTOR

Cara lebih mudah membayangkan fungsi olah semedi, saya mengambil analogi seumpamanya kita merubah diri kita menjadi radio transistor. Sebenarnya dalam ruang udara terdapat banyak sekali berbagai macam gelombang suara dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Contohnya antara lain suara jangkrik sawah yang tidak bisa masuk jika direkam dengan pita kaset biasa. Atau suara kelelawar yang memiliki suara ultrasonik yang frekuensinya sangat tinggi sehingga tidak bisa ditangkap dengan telinga manusia. Begitu pula suara ikan paus yang dapat memancarkan gelombang suara sangat jauh namun sulit ditangkap telinga manusia pula. Begitu juga gelombang suara yang dipancarkan antena transmisi stasiun radio tidak akan bisa ditangkap oleh telinga manusia sebelum dirubah dengan alat bernama radio transistor yang berfungsi merubah gelombang suara menjadi berfrekuensi yang sepadan dengan daya tangkap kuping manusia. Sebelum dirubah oleh alat elektronik radio transistor, gelombang suara bagaikan suara eksistensi gaib. Nah analogi ini menjelaskan bila semedi ibaratnya merubah diri kita menjadi “radio transistor” yang dapat menangkap gelombang suara menjadi bunyi-bunyian. Artinya semedi merupakan sarana agar supaya kita dapat mendengar dan menangkap frekuensi yang terdapat di alam gaib. Dapat pula diistilahkan kita sedang menselaraskan antara “frekuensi jasad” kita dengan frekuensi gaib. Sebenarnya yang diselaraskan bukan frekuensi jasadnya dengan frekuensi gaib melainkan pindah chanel dari frekuensi “AM” ke frekuensi “FM”. Ke mana kita musti beli frekuensi FM ? Tidak perlu repot, karena di dalam setiap diri manusia telah terdapat frekuensi “FM” bawaan lahir yang sepadan/sinergis dengan “frekuensi” alam gaib, yakni frekuensi yang dimiliki rahsa sejati (rasa pangrasa). Tidak hanya manusia bahkan binatang malah lebih tajam “indera keenam” nya ketimbang manusia karena binatang tidak memiliki hawa nafsu. Kita dapat mencermati dari ayam, anjing, angsa dan binatang lainnya yang memiliki frekuensi sepadan dengan dimensi gaib. Binatang-binatang tersebut sering berlari ketakutan dikejar sesuatu yang tidak tampak oleh mata wadag.
zeth - 30/01/2011 09:56 AM
#85

TATA CARA SEMEDI

Semadi atau semedi, artinya sarasa = rasa tunggal = maligining rasa = rasa jati = rasa pangrasa. Disebut pula dengan maladihening, mesu budi, manekung, puja brata, tarak brata, dan masih banyak lagi istilahnya. Pada intinya olah semedi melibatkan dua kegiatan, pertama yakni ;
SOLAH atau perilaku anggota badan dalam upaya “menidurkan” atau “mematikan” anggota raga untuk merasakan hidupnya rasa sejati.
Kedua yakni BAWA atau perilaku batin, dengan cara mengolah rasa agar mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi lagi. Atau menghidupkan batin kita yakni merasakan atma (energi hidup) dalam sukma sejati. Agar tidak rancu perlu saya tegaskan perbedaan antara sukma sejati dengan rasa sejati yakni ; sukma sejati dapat dilihat wujudnya, sedangkan rasa sejati hanya bisa dirasakan sebagai energi atma/ hidup/ kayun/ kayu/ chayu. Sukma sejati adalah roh/ruh/ruhulah sementara rasa sejati adalah sir/sirulah. Terdapat banyak sekali tatacara semedi, misalnya sembari duduk bersila, bisa juga sembari baringan atau merebahkan badan. Berikut ini penjabarkan tata cara semedi sambil membaringkan badan.

1. Carilah tempat yang nyaman, tenang, dan aman agar konsentrasi anda tidak terganggu oleh suasana lingkungan sekitar. Jangan melakukan semedi di tempat yang berbahaya misalnya tepi sungai, tepi jurang atau di antara semak belukar. Hal ini untuk menghindari resiko jatuh terperosok termasuk terjadinya serangan binatang buas, serangga berbisa dsb. Bisa pula di lakukan di dalam rumah atau kamar tidur anda. Carilah waktu watu saat yang tenang biasanya setelah beranjak larut malam. Keheningan suasana atau suara alam yang lembut justru justru sangat membantu dalam menciptakan konsentrasi. Setelah menemukan tempat yang tepat lalu baringkan badan anda.

2. Posisi badan telentang menghadap ke atas, seperti mau tidur. Jangan ada anggota badan yang posisinya kurang nyaman. Seluruh anggota badan “jatuh” menempel di pembaringan tanpa ada penahanan sedikitpun. Seluruh otot dan syaraf harus rileks tidak tegang.

3. Tangan sedekap atau sedakep (sedeku) dengan posisi lengan atas tetap menempel di lantai/tempat berbaring sementara lengan bawah diletakkan di atas dada. Jari-jari tangan saling mengunci. Atau bisa juga agar lebih rileks, tangan diluruskan ke bawah (arah kaki), kedua telapak tangan menempel di paha kiri kanan sebelah luar.

4. Mata terpejam seakan anda sedang bersiap menidurkan diri. Bola mata tidak boleh bergerak-gerak, tahan dalam posisi pejam dan bola mata diam tidak bergerak, disebut meleng.

5. Kaki lurus rileks telapak kaki kanan ditumpang di atas telapak kaki kiri disebut sedakep kaki tunggal, disebut saluku.

Posisi dan langkah-langkah di atas bertujuan untuk menghentikan daya cipta meliputi imajinasi, angan, pikiran, kemauan, gagasan. Selain itu olah pasamaden sebagai upaya menutup aliran panca indera yakni indera perasa, pendengaran, dan penglihatan. Selanjutnya samadi atau semedi seyogyanya diimbangi dengan perilaku sehari-hari dengan mengurangi makan, minum, tidur dan lain sebagainya.
Semedi merupakan salah satu cara meraih kemuliaan hidup, secara keseluruhan terdapat tujuh macam tahapan atau tingkatan “laku” yang harus dikerjakan apabila ingin mencapai tataran hidup yang sempurna, yakni :

1. Tapaning Jasad
Sopan santun dan mawas diri. Dalam olah semedi dengan cara mengendalikan / menghentikan daya gerak anggota tubuh atau kegiatannya.
2. Tapaning Budi
Menghindari angan-angan dan prasangka yang buruk. Dalam olah semedi dengan bersikap positif thinking agar pikiran menjadi bersih dan dapat membentangkan pandangan seluas-luasnya. Namun jangan biarkan imajinasi menguasai rasio anda.
3. Tapaning Hawa Nafsu
Rela, legowo, menerima apa adanya (qonaah), sabar dan ikhlas. Jangan menyakiti hati sesama. Sabar menghadapi gangguan dan godaan dari dalam dan luar. Tidak suka iri hati dan dendam. Kuat lara wirang atau dipermalukan. Dalam olah semedi dengan cara sikap tidak buru-buru, sumeleh, mengalir apa adanya.
4. Tapaning Sukma
Menenangkan jiwa dan selalu jujur pada diri sendiri dan orang lain. Bersikap dermawan. Perbuatan lahir batinnya selalu diarahkan pada kebaikan. Tanpa pamrih semua hanya netepi sifating Zat. Dalam olah semedi harus bersikap pasrah, bersandar hanya kepada Hyang Widhi. Tidak memaksa diri mencapai hasil. Namun lebih mengutamakan prosesnya yang benar dan tepat.
5.Tapaning Rahsa
Perilaku yang utama, luhur budi pekertinya. Tidak takut bila menderita, dan kuat laku prihatin. Tidak suka mengurusi (intervensi) hal yang bukan kewenangannya. Selalu mawas diri dan giat mencari ilmu hakekat. Dalam olah semedi indera perasa jasad dimatikan diganti dengan rasa pangrasa. Merasakan getaran indera ke-enam, atau rahsa sejati.
6.Tapaning Cahya
Menjaga kesucian lahir batin. Dalam olah semedi, selalu terkonsentrasi pada cahya di pangkal hidung antara kedua mata atau papasu.
7. Tapaning gesang
Selalu eling dan waspada serta mempunyai daya memahami sesuatu secara tepat. Jangan sampai kabur atau samar karena kepalsuan “kulit”. Olah semedi hendaknya selalu ditujukan untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan pribadi dan orang lain. Berusaha berjuang sekuat tenaga secara berhati-hati, kearah kesempurnaan hidup, manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yakni target Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu sebagai kunci untuk memahami isi Rasa Jati, untuk mencapai sesuatu yang luhur. Maka dalam meraih kemuliaan hidup mutlak diperlukan sinkronisasi antara perbuatan lahir dan batinnya (solah dan bawa).
zeth - 30/01/2011 10:01 AM
#86

PATRAPING NETRA

Konsentrasi mata difokuskan pada satu titik yakni pangkal hidung, letaknya di antara ke dua belah mata, diisitilahkan papasu. Kedua belah mata terpejam, namun manik mata memandang ke arah papasu. Di situ bisa langsung tampak ada cahaya atau sinar mencorong/terang mencolok biasanya berwarna putih kekuningan. Bila cahaya di papasu belum muncul dan masih tampak gelap gulita anda harus bersabar, tunggu beberapa saat hingga cahya muncul sedikit demi sedikit lalu berubah menjadi semakin terang bahkan bisa sangat menyilaukan. Bila posisi di atas sudah bisa anda lakukan dengan rileks, selanjutnya giliran menata nafas anda. Setelah dibarengi olah nafas yang rilek anda tinggal konsentrasikan mata pada arah papasu. Lama-kelamaan cahaya kuning terang semu keputihan semakin terang, pusatkan konsentrasi pada cahaya tersebut. Tunggu dengan sabar dan rilek hingga akan muncul gambaran seperti lorong. Tugas anda bergerak mengikuti lorong tersebut dengan perasaan. Pergerakan dikomando oleh kareping rahsa, yakni kehendak rasa sejati. Nantinya lorong akan seperti berkelok melengkung-lengkung namun bukan menikung tajam. Lorong itu akan berujung pada wahana ruang yang sangat terang benderang. Anda seolah masuk ke dalam ruang yang sangat luas dan sulit digambarkan eksotisnya. Itulah ruang gaib.

Pada tahapan ini belum terjadi raga sukma. Peristiwa ini, kesadaran kita hanyalah sebatas berada di antara dunia wadag dengan dunia meta yang gaib. Dengan menggunakan mata batin kita menyaksikan eksistensi gaib melalui “jendela” dimensi gaib. Artinya sukma anda belum memasuki alam gaib. Namun kesadaran batin kita bagaikan energi telekinetik bisa menjelajah ke tempat atau lokasi yang kita inginkan. Di analogikan penglihatan batin kita berubah fungsi sebagaimana alat periskop yang dimiliki kapal selam. Jika diumpamakan kesadaran jasad kita bagaikan berada di dalam kapal selam yang pandangannya sangat terbatas pada obyek yang ada di sekeliling kita dalam jarak yang sangat pendek. Maka mata batin bagaikan alat periskop yang bisa digunakan untuk melihat ada apa di atas permukaan air.

Pada saat semedi minimal orang akan mendapatkan semacam ilham atau wisik yang dapat menjadi petunjuk untuk mengambil keputusan atau apa yang harus dilakukan dan dihindari. Bila latihan olah semedi dilakukan dengan telaten, lama-kelamaan akan mencapai tahap selanjutnya dimana sukma akan keluar dari badan wadag. Pada tahap ini anda akan merasakan keanehan-keanehan ;

1. Merasakan seolah badan kita tidak bernafas dan indera perasa tidak merasakan sesuatu apapun, namun kita sadar bahwa diri kita tetap lah hidup.
2. Pada tahap ini kadang terdengar suara-suara (gaib) yang terdengar asing dan aneh. Suara-suara tersebut berasal dari dimensi lain. Karena kesadaran anda telah berada di ambang batas antara dunia wadag dengan dunia gaib. Suara-suara tersebut bukanlah sengaja mengganggu justru menunjukkan bila anda sudah mulai berhasil merubah diri anda menjadi “radio transistor”. Nah, pada tahap ini terkadang anda dapat menangkap petunjuk, sasmita, pralampita yang berasal dari para leluhur. Anda juga tidak perlu khawatir digoda setan/makhluk halus/hantu/demit/jin dsb, karena langkah semedi anda yang mematikan nafsu ragawi sudah cukup menguatkan mental dan batin anda, dan menjadi pagar gaib yang cukup kokoh.
3. Melihat badan kita sendiri dari luar tubuh. Biasanya kita melihat diri kita seolah sedang tertidur pulas, atau sedang duduk bersila sesuai dengan posisi sewaktu kita melakukan semedi.
4. Bila sudah terjadi posisi demikian, anda janganlah panik atau takut, tetap kendalikan semuanya melalui kehendak rasa anda sendiri. Misalnya anda ingin menjauh dari tubuh atau ingin menyatu kembali dengan tubuh semua perintah di bawah kendali sang rasa sejati, yakni kehendak rasa.
5. Antara sukma anda dengan badan wadag bagaikan mengandung energi magnet yang saling tarik menarik. Bila anda berkehendak ingin kembali masuk ke tubuh seketika akan terasa ada energi kuat yang menyedot sukma ke dalam badan wadag. Energi tersebut saya identifikasi sebagai nyawa. Bedanya dengan orang yang meninggal dunia, nyawa sebagai daya perekat sudah tidak ada lagi. Dapat diumpamakan “lem perekat” antara sukma dengan badan wadag sudah hilang, sehingga terjadi pelepasan/perpisahan kekal antara sukma dengan badan wadag.
6. Selama badan anda sehat wal afiat tidak perlu khawatir kelepasan..  karena eksistensi nyawa itu prinsipnya tergantung dari kondisi kesehatan atau performance badan anda sendiri. Bila sukma anda berkelana tidak akan terjadi kematian selama nyawa masih bekerja sebagai “lem perekat” atau penghubung antara sukma dengan jasad. Untuk memudahkan pemahaman raga sukma dapat saya contohkan dengan orang yang sedang main layang-layang. Layang-layang diibaratkan sukma sejati kita, tali layang-layang adalah nyawanya, dan orang yang memainkan layang-layang adalah badan wadagnya. Antara layang-layang dengan seseorang yang memainkan masih tetap terhubung oleh tali layang-layang tersebut.
7. Bila anda merasa sukma sudah berada di luar tubuh hendaknya melatih untuk bepergian dalam jarak dekat dulu, baru kemudian semakin lama semakin jauh. Karena bila anda langsung berjalan jauh, terkadang mengalami kesulitan untuk kembali ke badan. Seumpama orang sedang berjalan menyusuri hutan belantara yang belum anda kenali seluk beluknya serta lupa jalan pulangnya. Hal ini sangat berbahaya, karena dalam tahap awal badan wadag anda belum kuat ditinggal sukma sejati terlalu lama. Persendian akan terasa kaku-kaku, peredaran darah tidak lancar dan tekanan darah (HB) nya bisa drop. Resiko ini yang dapat berakibat terjadi kematian.

OLAH NAFAS

Selanjutnya mulai menata irama nafas khusus diperlukan dalam olah semedi. Nafas ditarik dalam-dalam, jangan tergesa dan kasar, lakukan dengan cara yang lembut, namun kuat dan sepanjang-panjangnya nafas hingga habis. Rasakan nafas mulai memenuhi puser kemudian semakin penuh naik hingga ke dada terasa penuh sesak lalu rasakan semakin naik hingga ke cethak atau langit-langit mulut, terus naik lagi hingga ke ubun-ubun kepala. Proses masuknya nafas memenuhi puser hingga ke ubun-ubun dilakukan dalam sekali tarikan nafas. Memakan waktu antara 4-7 detik. Atau dalam hitungan normal dari angka ke 1 hingga ke 7.

Setelah nafas mencapai ubun-ubun tahan sebentar dalam hitungan 7 detik lalu keluarkan nafas melalui mulut dalam hitungan 4 atau dalam waktu 4 detik. Prinsipnya jumlah tarikan nafas harus selalu lebih besar dibanding keluarnya nafas.

SASTRA CETHA

Rasakan pula saat menahan nafas di ubun-ubun, pada awalnya terasa ringan lalu semakin lama semakin berat, jika sudah terasa berat sekali kemudian lepaskan pelan-pelan seolah menurunkan beban yang mudah pecah. Beban itu sesungguhnya pergerakan rasa jati ada pula yang menyebut sebagai tenaga dalam yang terkonsentrasi. Olah nafas demikian disebut sastra cetha; sastra adalah empaning kawruh, atau kiasan sebagai umpan ilmu. Cetha adalah antebing swara cethak. Cethak adalah langit-langit mulut tempat keluarnya bunyi. Mengapa disebut sastra cetha, yakni untuk menggambarkan olah nafas yang ditarik hingga ke ubun-ubun. Nafas bisa mencapai ubun-ubun bila cethak ditutup rapat sehingga tidak lebih dulu gembos melalui mulut. Bila nafas tidak ditahan dengan cethak hanya akan mengikuti jalannya nafas yang wajar dengan sendirinya. Nafas tidak dapat mencapai ubun-ubun hanya sampai di cethak langsung turun lagi.
zeth - 30/01/2011 10:08 AM
#87

DAIWAN

Daiwan atau dawan artinya mengatur keluar masuk nafas yang panjang, rileks dan penuh kesabaran, tidak kemrungsung, buru-buru. Daiwan berarti pula panjang tanpa ujung, langgeng atau abadi. Maksudnya adalah sarana hidup kita yang langgeng berada di dalam nafas kita. Nafas adalah keluar masuknya angin dalam badan seiring dengan keketeg panglampahing rah/roh. Bila kedua unsur tersebut (nafas dan roh) berhenti bekerja dinamakan mati yakni rusaknya badan wadag lalu kembali kembali ke asalnya. Maka nafas yang selalu keluar masuk badan hendaknya dipanjangkan sepanjangnya agar kita memperoleh energi kehidupan lebih panjang lagi.

Keluar masuknya nafas benar-benar dirasakan adanya energi hidup (atma/chayu/kayu/kayun) sembari mengucap mantra dalam hati/batin saja. Mengucap “hu” pada saat nafas ditarik dari puser ke arah ubun-ubun. Lalu mengucap “ya” pada saat keluarnya nafas yakni turunnya nafas dari ubun-ubun ke arah pusar. Naik turunnya nafas tadi melewati dada dan cethak. Nah, disebut sastra cetha karena pada saat mengucapkan kedua mantra hu – ya dibarengi dengan pengendalian buka tutupnya cethak untuk menahan dan melepas nafas.

Setelah masuknya Islam ke nusantara, terjadi beberapa anasir seperti dalam wirid naqshabandiyah SSJ mantra hu – ya dirubah bunyi menjadi hu – allah. Namun kemudian terdapat mazab lain di luar mazabnya SSJ, dan melakukan modifikasi mantra hu – allah menjadi haillah – haillallah, dikenal sebagai wirit satariyah. Perbedaannya, dalam tradisi satariyah ini tidak dilakukan menahan nafas, melainkan hanya bernafas seperti biasanya.

Apapun kata dan bahasa yang digunakan dalam mantra toh tidak ada pengaruh dalam keberhasilan semedi. Letak keberhasilan semedi bukan pada ucapan, namun bagaimana kita harus memahami dan menghayati makna hakekat dari hu – ya, hu – allah, maupun hailah – hailallah. Jangan terjebak oleh rangkaian kata-katanya namun konsentrasi harus di fokuskan kepada getaran Zat Mahamulia. Hu atau ha atau a atau the berarti “sesuatu”, yakni menggambarkan sesuatu yang paling dan maha, tidak lain adalah eksistensi Zat tertinggi yang tanpa nama sebagai tingkat pemahaman akan tataran hakekat Zat.


TRIPANDURAT

Satu kegiatan olah nafas dinamakan sastra cetha yakni sekali kegiatan menarik/menyedot nafas melalui hidung lalu di tahan, selanjutnya dilepas lagi lewat mulut. Setiap kegiatan olah sastra cetha, tidak perlu dilakukan terus menerus dalam waktu yang lama tanpa putus. Sebaliknya dilakukan saja secara wajar misalnya 3 kali melakukan olah sastra cetha kemudia istirahat sejenak lalu dimulai lagi. Tiga kali melakukan olah sastra cetha disebut tripandurat. Tri ; tiga, pandu ; suci, rat ; jagad/ badan. Maksudnya tiga kali melakukan olah sastra cetha dapat menghasilkan persentuhan antara makhluk dengan Sang Pencipta atau tumameng ing ngabyantaraning yang Mahasuci, bertempat di dalam ubun-ubun atau suhunan yakni ingkang dipun suwuni.

Naik dan turunnya nafas dinamakan wahana paworing kawula-Gusti. Pada saat nafas di tarik mencapai ubun-ubun atau suhunan lantas ditahan, nafas berhenti sejenak. Posisi yang demikian dinamakan ; kita jumeneng Gusti, bila nafas sudah diturunkan kembali ke pusar (sembari nafas keluar perlahan lewat mulut) kita kembali dinamakan sebagai kawula. Sampai pada penjabaran ini jangan sampai para pembaca keliru memahami. Adapun yang dimaksud manunggaling kawula-gusti bukanlah nafas kita, melainkan daya cipta. Olah semedi harus membentangkan atau merentangkan keluar masuknya nafas agar menjadi panjang. Sembari mengheningkan dan membeningkan mata, karena mata kita berasal dari rasa pangrasa atau indera ke-enam.

Begitu seterusnya hingga merasakan kemajuan-kemajuan. Ukuran kemajuan dalam latihan olah nafas bilamana mampu menahan nafas lebih lama lagi dari sebelumnya dan kuat melakukan latihan olah nafas dalam waktu yang semakin lama pula. Dengan kata lain jam terbangnya semakin tinggi.

Adapun olah semedi dapat dilakukan sepanjang masa, pada saat duduk, berdiri, berjalan, maupun saat bekerja. Namun cara yang dapat ditempuh cukup mengucap mantra hu – ya dalam setiap hela nafas keluar masuk. Tidak perlu diucap dengan lisan lebih utama ucapan mantra selalu terpatri di dalam hati menyambung koneksi antara diri sejati dengan Ilahi.

MANFAAT SEMEDI

Olah pasamaden atau ulah semedi sangat bermanfaat untuk kesehatan lahir batin, dan menjadi sarana belajar mengetahui hal-hal yang tersimpan di dalam rahasia gaib. Sehingga disebut pula sebagai sastra jendra hayungrat pangruwating diyu.
Sastra = empaning kawruh, jendra = harja-endra, harja = raharja, endra = ratu/dewa, yu = rahayu/wilujeng, ningrat = jagad/tempat/badan. Maknanya ; intisari ilmu pengetahuan sejati yang berguna untuk membangun kesadaran dan keselamatan, kesejahteraan, dan ketentraman.
Pangruwating diyu = menjaga diri dari diyu. Diyu = raksasa/denawa/asura/buta atau sifat raksasa bodoh, angkara murka dan gemar menganiaya, yakni sifat-sifat kebalikan dari dewa, sebagai lambang segala sesuatu yang baik. Maknanya ; olah semedi yang dapat menyirnakan segala hal yang buruk/jahat, gangguan, dan segala marabahaya.

Dari pengertian sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu mengandung makna yang mendalam yakni; siapapun yang tidak enggan melakukan olah semedi akan memperoleh berbagai kebaikan, dapat mengendalikan nafsu negatif, hatinya bersih, batin dan nuraninya tajam, naluri dan instinknya menjadi semakin kuat, memiliki sense of human, kepekaan sosial, kepekaan indera keenam (rahsa sejati). Bila badan sedang sakit atau dirasa tidak enak, akan menjadi sirna sakitnya. Sifat temperamental menjadi sopan santun, sabar, belas kasih dan lapang dada. Gemar bohong berubah menjadi jujur. Yang bodoh menjadi pinter. Yang sudah pinter menjadi pinter sekali. Hasil dari olah semedi dapat dikiaskan sebagai berikut ; yang sudra menjadi waesia, yang waesia menjadi satria, yang satria menjadi brahmana, yang brahmana menjadi berbadan braja berjiwa bethara.
Seperti halnya berbagai perguruan ilmu “tenaga dalam” sudah membuktikan manfaat olah semedi (pernafasan) ini terutama dalam menjaga stamina dan kesehatan. Jika badan sehat, stamina bagus, maka jasad tidak mudah rusak, berarti dapat menghabiskan usia yang digariskan tuhan, dan tentu saja tidak terjadi “kematian prematur” akibat human error, kecerobohan dan mismanajemen dalam menjalani kehidupan ini.

“sawarnaning kapiawon tuwin saliring godha rencana, bebaya pakewed punapa kemawon, ingkang tuwuh saking cidraning manah pribadi, punika sedaya sirna lebur dening pangastuti ulah semedi, inggih amesu cipta, mesu budi, maladihening, ulah pasamaden, sedaya punika namung kangge amurmeng pandulu paworing kawula kalawan gusti. Makaten ugi sedaya sawarnining bebaya ingkang medal saking pandameling tiyang sanes, sanadyan ugi kewan ingkang wantun angganggu damel, temtu ketaman ing wilalat, peksi miber ingkang ngungkuli temtu pejah sirna kuwandhanipun. Punapa dene tumrap sasamining titah ingkang nedya anglawan, angremehaken tuwin angluhuri kamenangan dateng sasaminipun, temtu boten badhe kalampahan. Salagi saweg purun papandengan kemawon sampun tamtu badanipun gemeter lolos otot bebayunipun. Inggih margi saking kaungkulan perbawa ingkang tansah sumunar gumawang purbawisesanipun kadosdene wimbaning purnama sada”.

Karena itu dalam kaitannya dengan olah asamaden, Ilmu Sastra Jendra disebut pula sebagai ilmu atau pengetahuan tentang rahasia seluruh semesta alam beserta perkembangannya. Manfaat Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ialah tatacara, jalan atau cara untuk mencapai kemuliaan dan kesempurnaan hidup yang sejati.
teoriburam - 30/01/2011 06:01 PM
#88

Ijin nyimak gan...

dulu, pas ane umur 19/20 taon ane dikasih seseorang sebuah wirid kejawen, pdhl ane gak minta. katanya sih untuk penyatuan pikiran dan hati biar satu jalan.

katanya, jaman dulu, lelakunya dengan kedua telapak tangan saling menempel seperti orang bertapa dan melakukan meditasi seperti yang mbah sebutkan di atas.

tapi untuk saya katanya gak perlu ngelakuin meditasi demikian, cukup dibaca dan dihayati aja...
patihdjelantik - 30/01/2011 08:52 PM
#89

kalo meditasi itu juga konsentrasi, tujuannya untuk menghayati kan Mbah??
andrea7 - 30/01/2011 09:31 PM
#90

weleh udah nambah aja.. hammer:
patihdjelantik - 30/01/2011 09:49 PM
#91

Quote:
Original Posted By andrea7
weleh udah nambah aja.. hammer:

nambah apa kurang bingungs
rora vee - 30/01/2011 10:15 PM
#92

mas zeth pancen oye.

buk marek duyu ahkiss
zeth - 31/01/2011 09:14 AM
#93

Quote:
Original Posted By patihdjelantik
kalo meditasi itu juga konsentrasi, tujuannya untuk menghayati kan Mbah??


Meditasi itu sebuah laku setelah kita menghayati apa yg kita pelajari, Bli.
dharmawartha - 31/01/2011 12:08 PM
#94

Quote:
Original Posted By zeth
Meditasi itu sebuah laku setelah kita menghayati apa yg kita pelajari, Bli.

berarti kita hayati dulu... kemudian baru meditasi... saya pikir, kita meditasi dulu untuk bisa lebih menhayati... kebalik ya ternyata malu:
jebalkober - 31/01/2011 01:19 PM
#95

Quote:
Mengucap “hu” pada saat nafas ditarik dari puser ke arah ubun-ubun. Lalu mengucap “ya” pada saat keluarnya nafas yakni turunnya nafas dari ubun-ubun ke arah pusar.


pertanyaan I :
ditarik disini maksudnya gimana ya,
nafas ditarik dari puser ke arah ubun-ubun ?
newbie masih bingung neh. bingung

mohon penjelasannya gan.

pertanyaan II :
apakah pencapaian semedi tertinggi adalah meraga sukma ?

mohon pencerahannya sesepuh zeth.
zeth - 31/01/2011 01:33 PM
#96

Quote:
Original Posted By dharmawartha
berarti kita hayati dulu... kemudian baru meditasi... saya pikir, kita meditasi dulu untuk bisa lebih menhayati... kebalik ya ternyata malu:


Heheheh..seperti juga dalam kehidupan beragama,bli.
Kita menghapalkan semua doa dan ayat2 suci, melakukan ritual sembahyang..tetapi kalau semuanya dilakukan tanpa memakai "rasa" tentu saja tidak ada gunanya. Karena semua yg dilakukan itu hanya hapalan saja.

Seperti juga kata seorang sahabat;

"kita beli tivi baru, yang kita hapalin hanya manual booknya saja, tanpa menyentuh tivi tersebut..ya, jelas kita ndak bisa nonton siaran tivi".
atau;
" tivi baru tsb kita utak atik tanpa lihat buku manualnya..kan malah semua programnya bisa berubah"

Jadi, semuanya harus sinkron, antara pikiran dan rasa. Setelah itu kita baru bisa mencari frekwensi kearah "manunggaling kawulo Gusti".
zeth - 31/01/2011 01:41 PM
#97

Quote:
Original Posted By jebalkober
pertanyaan I :
ditarik disini maksudnya gimana ya,
nafas ditarik dari puser ke arah ubun-ubun ?
newbie masih bingung neh. bingung

mohon penjelasannya gan.

pertanyaan II :
apakah pencapaian semedi tertinggi adalah meraga sukma ?

mohon pencerahannya sesepuh zeth.


Jawaban untuk pertanyaan 1;
Harus di coba,mas..cobalah bernafas dengan (istilahnya) paru2 ruang bawah..yang dalam istilah cina; Chi. dan jepang; Ki.
Jalan nafas dengan cara itu akan naik sendiri ke ubun2,kok.

jawaban pertanyaan 2;

Meraga sukma hanyalah sebuah bonus yang di dapat. Bisa di perdalam lebih lanjut kalau memang menginginkan untuk mempelajari itu.
Tetapi manfaat yg utama dalam bersemedi adalah untuk memperbaiki "SIH" anda.
Arti gampangnya, SIH adalah..rasa cinta kasih yang murni tanpa disertai sesuatu maksud tertentu.
Jadi semuanya kembali ke jatidiri kita masing2.

ps; sebutan sesepuh malah bikin saya ndak nyaman,mas..hihihihi, saya hanya "wong kabur kanginan"

shakehand
PluT0 - 31/01/2011 01:47 PM
#98

ayo mbah zethh.... gek ndang mbabar.. "sastra gending".
Tapi via jowo ae... ojo sing boso monco... \)
patihdjelantik - 31/01/2011 02:22 PM
#99

Quote:
Original Posted By zeth
Heheheh..seperti juga dalam kehidupan beragama,bli.
Kita menghapalkan semua doa dan ayat2 suci, melakukan ritual sembahyang..tetapi kalau semuanya dilakukan tanpa memakai "rasa" tentu saja tidak ada gunanya. Karena semua yg dilakukan itu hanya hapalan saja.

Seperti juga kata seorang sahabat;

"kita beli tivi baru, yang kita hapalin hanya manual booknya saja, tanpa menyentuh tivi tersebut..ya, jelas kita ndak bisa nonton siaran tivi".
atau;
" tivi baru tsb kita utak atik tanpa lihat buku manualnya..kan malah semua programnya bisa berubah"

Jadi, semuanya harus sinkron, antara pikiran dan rasa. Setelah itu kita baru bisa mencari frekwensi kearah "manunggaling kawulo Gusti".

ok Mbah :2thumbup
mengerti army:
shakehand salim dulu sama sesepuh gadungan Peace:
zeth - 31/01/2011 02:37 PM
#100

Quote:
Original Posted By PluT0
ayo mbah zethh.... gek ndang mbabar.. "sastra gending".
Tapi via jowo ae... ojo sing boso monco... \)


Cipta lan Ripta

Rasa pangrasa upami
Yekti dingin rasanira
Pangrasa kari ananane
Kang cipta kalawan ripta
Sayekti dingin cipta Kang Ripta gendingipun
Kang nembah lan kang sinembah

Umpamane jalu lawan estri
Jan saresmi jroning rokhmat pada
Pranyata iku tandane
Tuhu suhuning kawruh
Ing pamoring anyar lan kadim
Dat lawan sipatira
Sastra - gendingipun
Kang rasa lawan pangrasa
Estri pria pamornya kapurba wening
Atetep - tinetapan

Gang brangta mangusweng gending
Kang setengah perebutan
Kang ahli gending padudon
Lawan ingkang ahli sastra
Arebut kaluhuran
Iku wong tuna ing ngelmi
Tan ana gelem kasoran

Eling-eling kang samya mangudi-nalar
Aywa kongsi nemahi
Kadrojoging tekad
Lah pada den prayitna
Sayekti ambebayani
Luwih agawat
Watgading trang ing urip

Lamun aja pada padudon ing karsa
iki siriking ngelmi
Yen durung kaduga
Luwung mendel kewala
Anging kasilna kang titi
Marang ngulama
Myang pra sujaning budi
Page 5 of 12 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > [share] Renungan - RAHASIA FILSAFAT KEJAWEN