Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > [share] Renungan - RAHASIA FILSAFAT KEJAWEN
Total Views: 12819 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 8 of 12 | ‹ First  < 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 > 

zeth - 24/02/2011 11:38 PM
#141

Quote:
Original Posted By andrea7
terima kasih sudah diingatkan, Mbah.. \)


Ingat apa,ya?
andrea7 - 25/02/2011 12:01 AM
#142

Quote:
Original Posted By zeth
Ingat apa,ya?


soal ke "suwung"an..p
juga yang ini :
Quote:
Original Posted By zeth
...
Mendalami kejawen di tuntut suatu usaha pengikisan rasa EGO, penasaran, iri, dengki dan semua yang menutup rahsa.

Jadi, alangkah percumah nya, jika agan-agan semua mengaku mendalami kejawen dan mengerti tentang arti kehidupan dalam dunia jawa...tetapi masih terikat oleh intrik-intrik dan semua kekotoran hati dalam kehidupan sehari-hari.
permenmolor - 26/02/2011 08:33 PM
#143

cuman mau share aja o ..... maap sama TS kalo saya salah alamat postingan lagi beer: .... sebab jujur aja saya ga bisa membedakan mana yang filsahat hidup, mana yang filsafat umum, mana yg filsafat agama, mana yang filsafat kejawen malu: .... abis saya ga mampu membendakan filsafat apa pun dengan filsafat kehidupan... \(

"suro sudiro jayaning kang rat, siuh brasto ulah cekaping darmastuti"

artinya :
nafsu yg menggelora seolah olah tidak ada yang bisa mengalahkan bahkan seperti akan bisa menggenggam/menguasai dunia, akan bisa dihilangkan dengan cara berbuat baik sedikit demi sedikit dalam waktu yang terus menerus

bisa juga diartikan sebagai berikut :
segala tidakan buruk dapat dapat dikurangi secara perlahan sampai sampai (mungkin hilang sama sekali) dengan cara mengikisnya dengan cara berbuat baik sedikit demi sedikit

..... emmmmmm opo to maksud te...... \(

kurang lebih maksudnya begini genit:

contoh 1 :
amatilah anak balita.... lihatlah sebenarnya kita berjalan diatas dua kaki itu merupakan proses belajar, mulai melihat orang lain berjalan, dilatih orang sekitar, menunggu struktur tulang kita kuat agar mampu berdiri..... cuman karena sudah dilakukan bertaun tahun kadang kita lupa bagai mana sakitnya ketika kita masih bayi belajar jalan..... bahkan kita pun sampai sampai malas berjalan lagi sebab bosen dan ga pingin capek, padahal kita sekarang malah bisa lari kesana kemari sambil lompat lompat.....malu:

contoh 2 :
waktu dulu.... waktu masih kecil kan buta huruf tuh......... akhir belajar menghapal bentuk huruf, belajar menulis, belajar mengeja....... nah pada akhirnya kita sekarang kan lupa bagaimana dulu sulitnya belajar nulis dan membanca.... kenapa sebab perilaku tersebut diulang ulang dan di biasakan setiap hari

dan buanyak lagi contoh contoh yang lainnya ( males ngetik :Peace\)

seperti itulah kehebatan dari rutinitas, bila dilakukan berulang ulang akan membentuk kita menjadi sesuatu yang berbeda dari sebelumnya....

maka dikatakan dalam pepatah jawa diatas, "ulah cekaping darmastuti", jadi yang di ulang ulang itu adalah sesuatu yang harus menuju ke arah kebaikan atau kemanfaatan...... bila tidak hehehehehehe ga tau deh jadinya apaan D

jadi, sebenarnya kata kata "suro sudiro jayaning kang rat, siuh brasto ulah cekaping darmastuti" adalah sebuah kata kata yang berlaku umum, atau semua orang pasti mengalaminya... tapi ya itu, entah sadar atau tidak Peace:

........................... tapi saya juga heran kenapa kata kata mutiara jawa tersebut lebih populer disingkat dengan " suro diro jayang ning rat, lebur dening pangastuti" >---- yang artinya "segala tidakan angkara murka yg menguasai jagat pasti kalah dengan kebaikan"

padahal coba deh direnungkan baik baik, artinya sudah sauaaaaaaangat beda jauh dari arti sebelum di singkat..... maka ga heran jaman sekarang banyak yang tidak bisa menempatkan atau membedakan mana yang sabar dan mana yang goblok, mana musibah mana yang berkah dan lain sebaginya malu: ................. oleh sebab itu ga salah juga, sekarang banyak orang bingung dan was was...... sebab ketidak tauan pasti menyebabkan kebingungan, kebingungan menyebabkan rasa kuatir, kuatir menyebabkan was was, was was menyebabkan kecurigaan yang berlebihan...... akhirnya kalo begitu terus, terus terusan atau jadi rutinitas, maka hilang lah rasa percaya, isine salah paham, berujung pertengkaran, trus gebuk gebukan, trus benjut... trus ... ters no dewe aku wegah hehehehehehehe D

trus, jadi maksudnya apa ? ga ada maksudnya, wong di awal sudah saya tulisi cuman share aja hihihihihihi ..... namaya juga share kan ga ada maksudnya.... kalo nyuruh baru ada yang dituju atau ada maksudnya ... ya kan ????? Peace:
zeth - 26/02/2011 10:31 PM
#144

Quote:
Original Posted By permenmolor
cuman mau share aja o ..... maap sama TS kalo saya salah alamat postingan lagi beer: .... sebab jujur aja saya ga bisa membedakan mana yang filsahat hidup, mana yang filsafat umum, mana yg filsafat agama, mana yang filsafat kejawen malu: .... abis saya ga mampu membendakan filsafat apa pun dengan filsafat kehidupan... \(

"suro sudiro jayaning kang rat, siuh brasto ulah cekaping darmastuti"

artinya :
nafsu yg menggelora seolah olah tidak ada yang bisa mengalahkan bahkan seperti akan bisa menggenggam/menguasai dunia, akan bisa dihilangkan dengan cara berbuat baik sedikit demi sedikit dalam waktu yang terus menerus

bisa juga diartikan sebagai berikut :
segala tidakan buruk dapat dapat dikurangi secara perlahan sampai sampai (mungkin hilang sama sekali) dengan cara mengikisnya dengan cara berbuat baik sedikit demi sedikit


........................... tapi saya juga heran kenapa kata kata mutiara jawa tersebut lebih populer disingkat dengan " suro diro jayang ning rat, lebur dening pangastuti" >---- yang artinya "segala tidakan angkara murka yg menguasai jagat pasti kalah dengan kebaikan"


Postingan yang menarik..tapi nuwun sewu,mbah Molor.. kok ada kerancuannya,ya.
Membaca kedua Filsafat (1 nya yang sudah disingkat) diatas..dan membandingkan dengan filsafat di bawah ini (saya ambil dari "warungku")

..kok malah Filsafat yg paling atas, mempunyai makna yg sama dengan filsafat yang sudah disingkat?

“suro sudiro jayaning kang rat, siuh brasto ulah cekaping darmastuti” yang artinya kekuatan kejahatan akan musnah dengan sebuah perilaku kebaikan yang terus menerus….

Mohon pencerahannya...matur sembah nuwun
permenmolor - 27/02/2011 12:12 AM
#145

Quote:
Original Posted By zeth
Postingan yang menarik..tapi nuwun sewu,mbah Molor.. kok ada kerancuannya,ya.
Membaca kedua Filsafat (1 nya yang sudah disingkat) diatas..dan membandingkan dengan filsafat di bawah ini (saya ambil dari "warungku")

..kok malah Filsafat yg paling atas, mempunyai makna yg sama dengan filsafat yang sudah disingkat?

“suro sudiro jayaning kang rat, siuh brasto ulah cekaping darmastuti” yang artinya kekuatan kejahatan akan musnah dengan sebuah perilaku kebaikan yang terus menerus….

Mohon pencerahannya...matur sembah nuwun


walah.... malih isin akyu..... o wong saya ga kerja di PLN atau di perusahaan lampu kok kangmas e

persamaan kata kangmas e.....

pengetahuan yang salah mengakibatkan >----- cara berpikir yang salah ----
cara berpikir yang salah mengakibatkan >---- pemikiran / memori yang salah ----
pemikiran yang salah mengakibatkan >------ tidak bisa mengendalikan nafsu----
nafsu yang tak tekendalikan mengakibatkan >----- ego yang tidak memiliki batasan --------
ego yang super kelewatan mengakibatkan >----- pemaksaan kehendak ---
pemaksaan kehendak ke pada orang lain mengakibatkan >----- penjajahan -----
didalam penjajahan >---- terjadi penindasan-----
penindasan mengakibatkan >----------------- tindak kesewenang wenangan ---
nama lain kesewenang wenangan >------ adalah angkara murka atau kejahatan

............... hehehehe tapi saya tau koq kangmas e sudah tau tentang hal itu, jane sing ditakoke lak ...... "apa kejahatan pasti kalah dengan kebaikan ?" ya ga kang mas e ???

padahal njenengan dewe lak yo ngerti, kadang baik buruk itu sangat sulit untuk membedakan..... Peace: hehehehe

sekarang saya bukannya bisa menjawab dengan baik dan benar .... ini cuman penemu aja koq mbah e zeth....

kejahatan (kita) pasti bisa dikikis sedikit demi sediki oleh sebuah perilaku kebaikan (kita) walau pun itu sedikit demi sedikit (sing dimaksudkan dengan kata "cukup") sing penting terus meneruuuuuuuuus.......

jadi menurut pengertian saya saat ini..... ga ada nama nya walik grembyang jahat langsung kalah sama baik,..... wowcantik

semuanya tak ada yang langsung, bagaimana pun cepatnya tetap harus melewati proses..... tidak ada mak gubrak jadi, walaupun itu sulap sendiri, sepersekian detik harus lewat proses..... beer: atau malah yg sering sudah persiapan sebelumnya ;) heheheheheh

yang ada adalah, sebuah kerja keras untuk terus menerus membendung dan menggerus perilaku buruk dengan perilaku yang baik...... sehingga menjadi kebiasaan untuk mejadi lebih baik / lebih pantas (nek nyilih ucapan ne mario teguh Peace:hihihihihi) ... nek ga salah sih ngono hlo kangmas e..... namanya juga kalo ga salah o kalo salah ya mohon dipersori o
zeth - 27/02/2011 12:37 AM
#146

Quote:
Original Posted By permenmolor
walah.... malih isin akyu..... o wong saya ga kerja di PLN atau di perusahaan lampu kok kangmas e

persamaan kata kangmas e.....

pengetahuan yang salah mengakibatkan >----- cara berpikir yang salah ----
cara berpikir yang salah mengakibatkan >---- pemikiran / memori yang salah ----
pemikiran yang salah mengakibatkan >------ tidak bisa mengendalikan nafsu----
nafsu yang tak tekendalikan mengakibatkan >----- ego yang tidak memiliki batasan --------
ego yang super kelewatan mengakibatkan >----- pemaksaan kehendak ---
pemaksaan kehendak ke pada orang lain mengakibatkan >----- penjajahan -----
didalam penjajahan >---- terjadi penindasan-----
penindasan mengakibatkan >----------------- tindak kesewenang wenangan ---
nama lain kesewenang wenangan >------ adalah angkara murka atau kejahatan

............... hehehehe tapi saya tau koq kangmas e sudah tau tentang hal itu, jane sing ditakoke lak ...... "apa kejahatan pasti kalah dengan kebaikan ?" ya ga kang mas e ???

padahal njenengan dewe lak yo ngerti, kadang baik buruk itu sangat sulit untuk membedakan..... Peace: hehehehe

sekarang saya bukannya bisa menjawab dengan baik dan benar .... ini cuman penemu aja koq mbah e zeth....

kejahatan (kita) pasti bisa dikikis sedikit demi sediki oleh sebuah perilaku kebaikan (kita) walau pun itu sedikit demi sedikit (sing dimaksudkan dengan kata "cukup") sing penting terus meneruuuuuuuuus.......

jadi menurut pengertian saya saat ini..... ga ada nama nya walik grembyang jahat langsung kalah sama baik,..... wowcantik

semuanya tak ada yang langsung, bagaimana pun cepatnya tetap harus melewati proses..... tidak ada mak gubrak jadi, walaupun itu sulap sendiri, sepersekian detik harus lewat proses..... beer: atau malah yg sering sudah persiapan sebelumnya ;) heheheheheh

yang ada adalah, sebuah kerja keras untuk terus menerus membendung dan menggerus perilaku buruk dengan perilaku yang baik...... sehingga menjadi kebiasaan untuk mejadi lebih baik / lebih pantas (nek nyilih ucapan ne mario teguh Peace:hihihihihi) ... nek ga salah sih ngono hlo kangmas e..... namanya juga kalo ga salah o kalo salah ya mohon dipersori o


Heheh..menanggapi postingan sampeyan,mbah..sebetulnya yang merusak manusia itu adalah PAMRIH.

Nah, pamrih itu seperti apa, tidak setiap orang mampu mengindentifikasi. Kadang orang dengan mudah mengartikan pamrih itu, tetapi secara tidak sadar terjebak oleh perspektif subyektif yang berangkat dari kepentingan dirinya sendiri untuk melakukan pembenaran atas segala tindakannya.
Untuk itu penting dikemukakan bentuk-bentuk pamrih yang dibagi dalam tiga bentuk nafsu dalam perspektif KEJAWEN :

Nafsu selalu ingin menjadi orang pertama, yakni; nafsu golek menange dhewe; selalu ingin menangnya sendiri.
Nafsu selalu menganggap dirinya selalu benar; nafsu golek benere dhewe.
Nafsu selalu mementingkan kebutuhannya sendiri; nafsu golek butuhe dhewe. Kelakuan buruk seperti ini disebut juga sebagai aji mumpung. Misalnya mumpung berkuasa, lantas melakukan korupsi, tanpa peduli dengan nasib orang lain yang tertindas.

Opo maneh Pamrih dalam kekancan..nyedhaki wong mung mergane duwe maksud tertentu.
Menjilat pejabat untuk mendapat jabatan yg enak, menjilat orang kaya biar kecipratan angpau lebih, dan masih banyak pamrih2 lainnya.

Semuanya itu mengikis ketulusan dalam hati kita, menutup rahsa. Karena mempelajari KEJAWEN, bukan semata belajar ritual2 Jawa tetapi lebih pada belajar mengenai filsafat hidup (falsafah) ala Jawa.
usmar.ismail - 27/02/2011 04:07 PM
#147

thanks gan atas pencerahannya ....shakehand2
kerincing.wesi - 03/03/2011 09:55 PM
#148

ijin menyimak di sini......salam kenalshakehand2

semoga trit ini sebagai peringatan dan penggugah untuk kita semuanya....
dan untuk orang2 yang telah melupakan ajaran nenek moyangnya sendiri....

salut buat kang TS....iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia
zeth - 03/03/2011 11:54 PM
#149

Quote:
Original Posted By kerincing.wesi
ijin menyimak di sini......salam kenalshakehand2

semoga trit ini sebagai peringatan dan penggugah untuk kita semuanya....
dan untuk orang2 yang telah melupakan ajaran nenek moyangnya sendiri....

salut buat kang TS....iloveindonesiailoveindonesiailoveindonesia


Salam kenal juga,gan

shakehand2
kerincing.wesi - 04/03/2011 07:49 PM
#150

Quote:
Original Posted By zeth
Salam kenal juga,gan

shakehand2


ijin untuk menunggu pembabaran selanjutnya.....silahkan puh....kiss
Dai Nippon - 01/04/2011 11:35 AM
#151

gan tanya

kepercayaan kejawen itu sejarah nya sudah ada pra hindu atau agama hindu yang transformasi ke nilai islam atau gimana

masih bingungs,mohon penjelasan nya shakehand
zeth - 01/04/2011 08:02 PM
#152

Quote:
Original Posted By Dai Nippon
gan tanya

kepercayaan kejawen itu sejarah nya sudah ada pra hindu atau agama hindu yang transformasi ke nilai islam atau gimana

masih bingungs,mohon penjelasan nya shakehand


Kejawen itu sudah ada sejak pra-Hindu,gan. Dan flexible karena kamudian ada masa Kejawen Hindu, dan juga Kejawen Islam.
Dai Nippon - 01/04/2011 09:27 PM
#153

Quote:
Original Posted By zeth
Kejawen itu sudah ada sejak pra-Hindu,gan. Dan flexible karena kamudian ada masa Kejawen Hindu, dan juga Kejawen Islam.

shakehand2,jadi ga ada pegangan standar (kitab suci/tata cara ritual,dan mantra universal)nya y gan.artinya apakah
kejawen hindu doanya mirip weda,kejawen islam mirip quran
hindu ke sang hyang ,islam ke allah ???? bingung
klo gitu ibadah nya jadi ga bisa bergabmbung donk gan satu ma yg laen ??? ato gimana gan[share] Renungan - RAHASIA FILSAFAT KEJAWEN
zeth - 02/04/2011 12:45 AM
#154

Quote:
Original Posted By Dai Nippon
shakehand2,jadi ga ada pegangan standar (kitab suci/tata cara ritual,dan mantra universal)nya y gan.artinya apakah
kejawen hindu doanya mirip weda,kejawen islam mirip quran
hindu ke sang hyang ,islam ke allah ???? bingung
klo gitu ibadah nya jadi ga bisa bergabmbung donk gan satu ma yg laen ??? ato gimana gan[share] Renungan - RAHASIA FILSAFAT KEJAWEN


Hehehe..kejawen itu universal,gan.
Pandangan hidup yang bukan merupakan suatu agama, tetapi suatu pandangan hidup dalam arti yang luas, yang meliputi pandangan terhadap Tuhan dan alam semesta ciptaanNYA beserta posisi dan peranan manusia di dalamnya. Ini meliputi pula pandangan terhadap segala aspek kehidupan manusia, termasuk pula pandangan terhadap kebudayaan manusia beserta agama-agama yang ada.
Dai Nippon - 02/04/2011 10:51 AM
#155

Quote:
Original Posted By zeth
Hehehe..kejawen itu universal,gan.
Pandangan hidup yang bukan merupakan suatu agama, tetapi suatu pandangan hidup dalam arti yang luas, yang meliputi pandangan terhadap Tuhan dan alam semesta ciptaanNYA beserta posisi dan peranan manusia di dalamnya. Ini meliputi pula pandangan terhadap segala aspek kehidupan manusia, termasuk pula pandangan terhadap kebudayaan manusia beserta agama-agama yang ada.

salah tangkep gan,g kira kejawen hindu n islam ga universal n dipisahin krena yang satu nginduk ke islam yang satu ke hindu,ternyata pandangan kejawen yang nyatuin paham kejawen islam n kejawen hindu,\)

yang masih bingung knapa dibedain nama nya sih gan,jadi seolah2, 2 paham yang beda,apa bedanya kejawen hindu n islam ,klo ternyata isi nya sama ???,mohon dijelaskan
zeth - 02/04/2011 12:22 PM
#156

Quote:
Original Posted By Dai Nippon
salah tangkep gan,g kira kejawen hindu n islam ga universal n dipisahin krena yang satu nginduk ke islam yang satu ke hindu,ternyata pandangan kejawen yang nyatuin paham kejawen islam n kejawen hindu,\)

yang masih bingung knapa dibedain nama nya sih gan,jadi seolah2, 2 paham yang beda,apa bedanya kejawen hindu n islam ,klo ternyata isi nya sama ???,mohon dijelaskan


Kejawen adalah ajaran hidup menuju kesempurnaan yang meliputi sopan santun, tata cara, adat istiadat..dan juga dalam segi spiritualitas. Untuk itu bisa dimasuki oleh semua unsur2 kepercayaan atau agama.
Falsafah kejawen memandang suatu makna terdalam dari sifat hakekat Tuhan yang Maha Adil, yang memiliki konsekuensi bahwa wahyu bukanlah hak atau monopoli suku, ras, golongan, atau bangsa tertentu.
Dai Nippon - 02/04/2011 12:33 PM
#157

Quote:
Original Posted By zeth
Kejawen adalah ajaran hidup menuju kesempurnaan yang meliputi sopan santun, tata cara, adat istiadat..dan juga dalam segi spiritualitas. Untuk itu bisa dimasuki oleh semua unsur2 kepercayaan atau agama.
Falsafah kejawen memandang suatu makna terdalam dari sifat hakekat Tuhan yang Maha Adil, yang memiliki konsekuensi bahwa wahyu bukanlah hak atau monopoli suku, ras, golongan, atau bangsa tertentu.

yoooooo wisss:thumbup
P3ll1 - 08/04/2011 03:52 PM
#158

mantaf mas, yo ngene kie sing kudune disinau ni karo cah2 nom penerus generasi bangsa....
bendool - 08/04/2011 05:35 PM
#159

Quote:
Original Posted By zeth
WAHYU PURBA

Anugrah tersebut dalam terminologi Kejawen dikenal istilah Wahyu Purba. Kata Purba, menurut kamus Purwadarminta mempunyai arti memelihara. Wahyu Purba mempunyai pengertian, Dewa Wisnu atau sama hakekatnya dengan kebenaran Illahiah, adalah bersifat memelihara. Ini suatu pelajaran hidup yang mengandung “rumus Tuhan” bahwa di dalam kehidupan alam semesta dengan segala isinya termasuk juga manusia, semua dipelihara oleh kebenaran sejati, yakni kebenaran Illahi. Di mana kehidupan alam semesta dan manusia akan mengalami keselarasan, keselamatan, ketenteraman, kebahagiaan dan kesejahteraan apabila nilai kebenaran bisa dihayati dan ditegakkan dengan baik dan benar.

Walaupun manusia percaya bahwa hidup ini dipelihara oleh kebenaran Illahi atau kebenaran Tuhan, masih juga terdapat ketidakbenaran dan kejahatan yang dapat menimbulkan kekacauan dan mengganggu keselarasan, kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan. Semua itu terjadi sebagai akibat “kenekadan” manusia melakukan pelanggaran hukum kebenaran. Untuk memelihara ketenteraman dan kesejahteraan dunia maka dewa Wisnu turun ke dunia menitis pada Prabu Arjunawijaya (Arjunasasrabahu) raja Negara Maespati, dan kepada Ramawijaya, raja Negara Ayodya.

WAHYU DYATMIKA

Barang siapa yang berhasil membangun harmonisasi dan sinergi atau keselarasan energi antara “jagad kecil” yang ada di dalam diri pribadi (inner world) dengan “jagad raya” disebut sebagai orang yang sudah memperoleh wahyu dyatmika. Dyatmika berarti batin, atau hati, wahyu dyatmika artinya wahyu Tuhan yang diterima seseorang untuk memiliki daya linuwih meliputi daya cipta, daya rasa, dan daya karsa yang disebut sebagai prana. Prana dalam terminologi Jawa berbeda dengan perguruan tenaga prana sebagaimana dikenal masyarakat sebagai seni bela diri dan olah tenaga dalam.

HUBUNGAN MANTRA DENGAN PRINSIP KESELARASAN

Mantra adalah Teknologi Kuno

Perlu kita tegaskan lagi bahwa mantra BUKANLAH DOA, akan tetapi merupakan sejenis SENJATA atau ALAT berujud kata-kata atau kalimat sebagai “teknologi spiritual” tingkat tinggi hasil karya leluhur nusantara di masa silam. Mantra dibuat melalui tahapan spiritual yang tidak mudah, bentuknya laku prihatin, perilaku utama dan maneges kepada Tuhan, yang ditempuh dengan cara tidak ringan. Hasilnya beragam, secara garis besar ada dua jenis mantra (baca; senjata) yakni;

1. Khusus menurut fungsinya; hanya dapat digunakan untuk keperluan tertentu misalnya menaklukkan musuh di medan perang. Atau diperuntukkan sebagai alat “medis” sebagai mantra untuk penyembuhan.

2. Mantra khusus menurut sifatnya; dibagi dua; pertama, mantra yang hanya dapat BEKERJA jika digunakan untuk hal-hal sifatnya baik saja. Mantra jenis ini tidak dapat disalahgunakan untuk hal-hal buruk oleh si pemakai. Mantra jenis ini paling sering digunakan di lingkungan kraton sebagai salah satu tradisi turun temurun. Kedua; mantra yang bersifat umum, bebas digunakan untuk acara dan keperluan apa saja tergantung kemauan si pemakai. Ibarat pisau dapat digunakan sebagai alat bedah operasi, alat memasak, atau disalahgunakan untuk mencelakai orang. Namun mantra jenis ini setiap penyalahgunaannya pasti memiliki konsekuensi yang berat berupa karma atau hukuman Tuhan yang dirasakan langsung maupun kelak setelah ajal.

Citra Buruk Karena Pemahaman Yang Salah Kaprah

Terdapat pula kesalahan memaknai mantra secara simpang siur; di mana mantra dianggap sebagai hal yang selalu berhubungan dengan setan/makhluk halus dan bersifat negatif/hitam. Misalnya lafald komat-kamit yang diucapkan seorang dukun santet, itu bukanlah sejenis mantra, namun password atau kata kunci, atau kode isyarat berupa kata-kata untuk memanggil sekutunya yakni sejenis jin, “setan” atau makhluk gaib sebagai pesuruh agar mencelakai korbannya. Perlu saya luruskan bahwa yang demikian ini, bukan termasuk mantra. Lalu apakah substansi dari mantra itu sendiri ? Baiklah, berikut ini kami berusaha mendeskripsikan kronologi dan proses bagaimana mantra (teknologi kuno) dapat diciptakan oleh manusia zaman dulu yang banyak dicap menganut faham religi primitif.

Hamemayu Hayuning Bawono & RAT, serta Pangruwating Diyu

Di atas telah saya singgung sedikit mengenai PRANA, sebagai sinergisme dan harmonisasi energi vertikal-horisontal, mikro-makro kosmos, inner wolrd dengan alam semesta, jagad kecil dengan jagad besar. Mantra merupakan salah satu bentuk pendayagunaan prana. Khusus untuk mantra umum, agar supaya siapapun yang memanfaatkan mantra umum tidak menyalahgunakannya untuk hal-hal yang negatif, ajaran Jawa menekankan keharusan eling dan waspada.

Sikap eling dan waspada akan memelihara seseorang dalam mendayagunakan prana yang berwujud mantra yang dimanfaatkan untuk kebaikan hidup bersama menggapai ketentraman dan kesejahteraan. Yang paling utama bilamana semua jenis mantra ditujukan sebagai upaya untuk keselarasan dan harmonisasi alam semesta dalam dimensi horisontal dan vertikal dengan Yang Transenden.

Mantra adalah salah satu bentuk pencapaian dalam pergumulan laku spiritual “Sastra Jendra” sedangkan tujuannya yang mulia menjadi makna di balik “Hamemayu hayuning Rat, hamemayu hayuning bawono, lan pangruwating diyu” (lihat posting; “Puncak Ilmu Kejawen”). Menjadi satu kalimat dalam falsafah Jawa tingkat tinggi yakni “Sastra jendra, hayuning Rat, pangruwating diyu”. Yang tidak lain untuk menyebut pencapaian spiritual dalam konteks kemanunggalan diri dengan alam semesta (Hamemayu hayuning Bawono).

Dalam rangka panembahan pribadi dimanifestasikan budi pekerti luhur (Hangawula kawulaning Gusti/Pangruwating diyu), keduanya BERPANGKAL dan BERUJUNG pada panembahan kepada Tuhan Yang Maha Tunggal (Hamemayu hayuning Rat). Dengan kata lain budi pekerti membangun dua dimensi jagad, yakni; jagad kecil (pribadi) dan jagad besar manembah kepada Tuhan YME.

Bentuk panembahan dalam pada tingkat tata lahir (sembah raga/syariat) dimanifestasikan dalam berbagai kearifan budaya yang menampilkan berbagai keindahan tradisi misalnya; upacara ruwat bumi seperti garebeg, suran, nyadranan, apitan dan sebagainya. Atau berbagai upacara kidungan, ritual gamelan, bedhaya ketawang, dan seterusnya. Intinya adalah rasa kebersamaan dalam manembah pada tingkat tata batin (sembah jiwa), menyatukan kekuatan hidup atau prana kehidupan untuk mewujudkan mantra-agung (mahamantra) yakni sastra jendra yang berfungsi membangun keseimbangan (balancing) dan keselarasan (harmonic) antara aura spiritual manunsia dengan aura spiritual jagad raya seisinya.

Tujuan utama dari balancing dan harmonic jelas sekali jauh dari tuduhan subyektif musrik maupun bid’ah, jelas ia sebagai bentuk konkritisasi doa untuk mohon keselamatan bagi alam semesta dan seluruh isinya.

Sayang sekali, zaman semakin berubah, perilaku budi daya yang memiliki nilai kearifan (wisdom) yang tinggi, telah banyak ditinggalkan orang Jawa sendiri. Alasannya demi mikul duwur mendhem jero falsafah dan budaya asing. Atau takut oleh tuduhan-tuduhan subyektif, yang hanya berdasar prasangka buruk (su’udhon), dan tidak berdasarkan metode ilmiah maupun informasi lengkap dan jelas. Sebuah nasib yang tragis ! Tradisi yang masih dapat dijalankan pun akhirnya hilang nilai kesakralannya. Grebeg, suran, sadranan, apitan telah melenceng dari nilai luhur yang sesungguhnya yakni menyatukan prana kehidupan. Sebaliknya tradisi tersebut hanya sekedar menjadi tontonan murahan, menjadi kebiasaan yang diulang-ulang (custom), pemerintah melestarikan tardisi hanya karena bermotif materialistis laku dijual, dan menjadi daya tarik turis asing karena mungkin dianggap aneh dan lucu saja. Seaneh dan selucu cara bangsa ini memandang dan memahaminya.

Itulah, wujud “sejati” wong Jawa kang kajawan (ilang jawane), rib-iriban. Manusia telah menjadi seteru Tuhan, karena telah melanggar rumus (hukum) kodratulah, yakni harmonisasi dan keseimbangan alam semesta. Rusaknya prinsip keseimbangan alam semesta berakibat fatal dan kini dapat kita rasakan dan saksikan sendiri; hujan salah musim, jadwal musim kemarau-penghujan tidak disiplin, kekeringan, kebakaran, banjir, tanah longsor, elevasi suhu bumi, distorsi cuaca, hutan gundul, sungai banyak kering, satwa liar semakin langka dan mengalami kepunahan. Distorsi musim mengakibatkan gagal panen, hama tanaman, wabah penyakit aneh-aneh (pagebluk), serangan hawa panas dan hawa dingin secara ekstrim.

Semoga ini bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua. Rahayu..rahayu



Injih maturnuwun, ilovekaskusiloveindonesia
zeth - 24/04/2011 06:12 PM
#160

Quote:
Original Posted By bendool
Injih maturnuwun, ilovekaskusiloveindonesia


Sami-sami..semoga tidak hanya dibaca, tetapi dihayati dan diterapkan pada kehidupan sehari-hari.

shakehand2
Page 8 of 12 | ‹ First  < 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 > 
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > [share] Renungan - RAHASIA FILSAFAT KEJAWEN